<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556</id><updated>2012-01-01T02:45:58.177-08:00</updated><title type='text'>El Trinitas Indonesia</title><subtitle type='html'>Blog integrative-holistic services HANS MIDAS SIMANJUNTAK</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>97</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-8833331535900501014</id><published>2009-12-13T03:39:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T03:52:51.989-08:00</updated><title type='text'>Apa Hikmah, Makna Natal bagi Anda Tahun Ini ?</title><content type='html'>Rekan ytk, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu yang ditanya pada saya, maka saya tanggapi demikian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merefleksi, turut menjalani sikon kekinian yg ada dlm kehidupan kita bersama sekarang. Baik bagi kita yang hidup di kota2 besar megapolitan, daerah pinggiran remote area, pedesaan dan wilayah pesisir. Barangkali sudah saatnya momentumnya, mungkin ada yang perlu diubah dari kita. Terutama menyangkut mindset memperingati merayakan Natal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang relevan sebagai hikmah, makna Natal bagi saya adalah perlunya perubahan: &lt;br /&gt;"Dari mindset kultur komersialisasi entertainment selebrasi Natal serba gemerlap dan mungkin wah.., kini makin dpt kita arahkan bersama kpd mindset baru dlm bentuk kesemarakan kesadaran spiritualitas, lingkungan, moral kebersihan hati pikiran, keadilan hukum dan kesetia-kawanan sosial".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya hemat saya adalah realitas manifestasi kasih Kristus bagi kita.&lt;br /&gt;bagi umat manusia, bagi bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dan jika ada pada kita atau antara kita sdh jalani..berjalan ke arah itu , layaklah kita syukuri dan apresiasi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tksh, Salam persaudaran kasih Natal (Minggu Adv III) .&lt;br /&gt;HMS :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komen-komen lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Anne Paparang &lt;br /&gt;Date: Sunday, November 22, 2009, 9:07 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Natal tahun ini?&lt;br /&gt;Bagi saya, hikmah Natal tahun ini adalah di sekitar pewartaan, pemberitaan.&lt;br /&gt;Kita tau yang pertama kali lebih dulu tau berita kelahiran Yesus adalah kalangan khalayak warga biasa. Para gembala, para warga biasa di sekitar kandang. Bukan diberitakan oleh para kalangan intelek, kalangan the haves atau eksklusif macam imam-imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, walau diwartakan oleh kalangan warga biasa, beritanya faktual, fakta kebenaran. Natal kali ini, sdh perlu betul2 dikembangkan pola dan gaya pewartaan oleh kalangan warga biasa. Mungkin dpt diistilahkan "civilian journalism" atau "citizen journalism".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ada wadahnya, diberi wadah yg tepat.&lt;br /&gt;tksih dan salam / AP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Niken Nababan&lt;br /&gt;Date: Monday, December 14, 2009, 9:07 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Natal bagi saya??&lt;br /&gt;Mengajar dan mengingatkan untuk selalu rendah hati,&lt;br /&gt;sebab Yesus sendiri memulai, menjalani dan mengakhiri kehidupan-Nya di dunia ini dengan cara yang paling hina di antara manusia dalam konteks waktu itu.&lt;br /&gt;Yaitu, mengosongkan diri-Nya menjadi 'hamba' bagi semua orang,&lt;br /&gt;datang untuk melayani dan bukan dilayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam kasih.&lt;br /&gt;nn. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Debbie Sianturi&lt;br /&gt;Date: Sunday, November 22, 2009, 2:26 PM&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makna Natal?&lt;br /&gt;Saya setuju.... semakin sederhana dan semakin bisa prihatin dan turut merasakan penderitaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Sederhana bagi setiap orang bisa diartikan berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debbie S. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: ronny ms &lt;br /&gt;Date: Sunday, November 22, 2009, 3:11 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Rekans,&lt;br /&gt;Kalau bagi saya.&lt;br /&gt;Hikmah, makna Natal tahun ini, adalah harapan akan lahirnya...&lt;br /&gt;sebuah gerakan kesadaran bersama di kalangan yang menyebut diri Kristen untuk hidup lebih simple/sederhana di tengah kekomplexan hidup.&lt;br /&gt;Salam makna Natal.&lt;br /&gt;RM &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-8833331535900501014?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/8833331535900501014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/12/apa-hikmah-makna-natal-bagi-anda-tahun.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8833331535900501014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8833331535900501014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/12/apa-hikmah-makna-natal-bagi-anda-tahun.html' title='Apa Hikmah, Makna Natal bagi Anda Tahun Ini ?'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-2873134651173071216</id><published>2009-12-09T03:53:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T04:14:53.541-08:00</updated><title type='text'>Bersih dari Korupsi: tanda Pertobatan &amp; gaya hidup Kristiani.</title><content type='html'>Rekan2 ytk, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, 9 Desember 2009 hari Anti Korupsi Sedunia. &lt;br /&gt;Mari kita rayakan bersama "Hari Raya" Anti Korupsi. Maka setiap ungkapan, ekspresi, cara dan inovasi dari kita setiap warga elemen anak bangsa dalam merayakan hari raya ini dengan aman, damai dan transformatif, kiranya patut untuk dihargai. Demi bersihnya 'udara' serta 'nafas' kita dari pengap, kotor dan tidak sehatnya lingkungan pekerjaan, usaha, pelayanan dan kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika iman dan spiritualitas Islam (spt yang biasa kita dengar) mengajarkan "Kebersihan adalah sebagian dari Iman", maka iman dan spiritualitas Kristiani mengajarkan kita "Kebersihan adalah tanda pertobatan dan gaya hidup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman dan spiritualitas Kristiani sangat mengajarkan akan pentingnya hati bersih, niat dan tindakan bersih, hidup bersih. Bersih dari tindakan, niat dan pikiran korupsi. Corruptive mind. Pertobatan, repentance is a must. Bersihkanlah aku seluruhnya.. ., kata raja Daud.&lt;br /&gt;Tahirkanlah aku.. Bersihkanlah aku dengan hisop, maka aku jadi tahir.. basuhlah aku shg aku jd lebih bersih.. lebih putih dari salju! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya pertobatan diri sendiri, tapi pertobatan kolektif.&lt;br /&gt;Pertobatan nasional. eperti yang telah dilakukan oleh bangsa bukan Israel (Niniwe) di era profetis Yunus. Ini menjadi persembahan, dedikasi, yang semestinya dilakukan terus menerus oleh tiap orang Kristiani percaya. Menjadi gaya hidup, lifestyle!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah hari ini jadi momentum baru. jaman baru.&lt;br /&gt;era dimulainya, Indonesia bersih.&lt;br /&gt;Generasi (baru) bersih.&lt;br /&gt;gereja Bersih.&lt;br /&gt;pengusaha bersih&lt;br /&gt;politik negara pemerintahan bersih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibersihkan terus dan terus.., menjadi tahir dengan hisop!&lt;br /&gt;Bersih dari Korupsi: telah mjd tanda pertobatan &amp; gaya hidup kristiani kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam bersih dari Korupsi,&lt;br /&gt;HMS :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komen-komen: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompilasi emails tanggapan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- ----&lt;br /&gt;From SM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Daltur,kelihatannya anda atau saya salah mengartikan tulisan anda dalam menyikapi pidato RI 1 yg mengatakan Pemerintah akan menjadikan di Republik ini 0 korupsi,Dimanapun di dunia ini keadaan Ideal itu tidak akan mungkin ada dan yang penting menurut saya Tindakan yang Benar,Keras, Konsisten dan memenuhi rasa keadilan itu yang perlu dan masih mungkin diterapkan di Republik ini,harapan ini perlu didorong pertama dari diri kita dan alumni-alumni Persekutuan Kampus,Gbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sent from my BlackBerry®&lt;br /&gt;powered by Sinyal Kuat INDOSAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;From: DR &lt;br /&gt;Date: Wed, 9 Dec 2009 10:47:22&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;Apa ya artinya negara bersih dari korupsi?&lt;br /&gt;Apakah artinya sama sekali tak ada korupsi disegala bidang dan lapisan?&lt;br /&gt;&gt; Mungkinkah?  Atau Apakah artinya selalu ada tindakan hukum yang tegas terhadap mereka yang korupsi?&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;Negara mayoritas kristen manakah yang tidak ada korupsinya? Amrik??&lt;br /&gt;Inggris??&lt;br /&gt;Media membuktikan ada saja orang2 yang melakukan bentuk2 tertentu dari&lt;br /&gt;korupsi.&lt;br /&gt;Dan mereka diadili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara China sangat tegas dalam menindak koruptor.  Dan hukumannya berat.&lt;br /&gt;Apakah karena di China ada pertobatan nasional atau adanya penegakan hukum yang tegas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just a reflection.&lt;br /&gt;Daltur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: H Sig. &lt;br /&gt;Date: Thu, December 9. 2009 11:22 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin..! Saya yakin Tuhan pasti bukan jalan meskipun harus berani tampil beda dengan hidup jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus meragukan (band. : "Kalau.... kalau...") akan berkat yang Tuhan akan limpahkan bagi setiap anak-anakNya. Ia menerbitkan matahari dan memberi hujan baik pada orang baik maupun orang jahat.  Bunga di ladang saja Ia hiasi terlebih kita akan diberikan apa yang kita perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam integritas,&lt;br /&gt;^hit&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;------------ ----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: DS&lt;br /&gt;Thu, 10 December, 2009 14:56:27 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu hal juga yang perlu diingat oleh para koruptor-wan dan koruptor-wati bahwa Tuhan tidak tidur dan Tuhan tidak mati. Matanya mengawasi seluruh muka bumi. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Benih korupsi ditabur, yang tumbuh mendatangkan panen malapetaka. Benih kejujuran ditabur dan mendatangkan panen damai sejahtera. Puji Tuhan kalau kita diberikan kemauan dan kemampuan untuk hidup jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;From: Sangihe Willy&lt;br /&gt;Date: Tue, December 11, 2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eeh bapak...kita himbau juga para saudagar, usaha, orang2 bisnis makelar dan yang punya duit:&lt;br /&gt;MARI JANGAN RUSAK DIRI KITA.. MERUSAK DIRI ORANG LAIN SERTA KARIR KERJAANNYA DENGAN UANG KITA.. DENGAN DUIT KITA&lt;br /&gt;ya  pAK, stop korupsi&lt;br /&gt;Salam merah putih&lt;br /&gt;willy&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Gurman wrote:&lt;br /&gt;Date: December 10, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hangat,&lt;br /&gt;Terima kasih pak pendeta untuk tulisan ini.Â  Kiranya gaya gereja yang terlalu mudah "mengucap syukur"Â  semakin kritis. Jika kritis, maka waktu persidangan, tidak ada ucapan bahwa dana itu di bagi-bagi ke gereja.Â  Lagi pula, untuk apa sih korupsi?.Â  &lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Toh, kebutuhan kita tercukupiÂ  kok. Terlalu kenyang juga kagak enak. Kalau bayak rumah dan harta lain, kita kuatir juga kena gempa. Semakin banyak harta makin tinggi kekuatiran?.&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&gt; Menurutku sih, kita kembali ke doa bapa kami aja.&lt;br /&gt;&gt; Terima kasih,&lt;br /&gt;&gt; Gurman&lt;br /&gt;------------ ------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Surya &lt;br /&gt;Date: Wed, December 9, 2009 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Amin bang, kita bergerak, dunia pasti ikut bergerak, karena kita ada utk mengubah dunia. Amin&lt;br /&gt;Sent from my BlackBerry®&lt;br /&gt;powered by Sinyal Kuat INDOSAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;From: Sangihe Willy  &lt;br /&gt;Date; Wed, December 9, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eeh.. Samua bisa diatur... atau kita orang bilang TAU SAMA TAU (TST) itu yg MUSTI DISTOP, BEROBAHLAH..&lt;br /&gt;Itu tau sama tau, biasa antara orang bisnis makelar dengan  orang2 pihak instansi yg pegang wewenang atau ijin-ijin, sertifikasi, surat rekomendasi dan laen-laen.&lt;br /&gt;ADA KEBUTUHAN, ADA JUAL-BELI.&lt;br /&gt;TAPI MASALAHNYA, SEMUA JUAL BELI INI ILEGAL DAN HASIL JUALAN MASUK KANTONG SENDIRI DAN SETORAN KE ATASAN ATO BOSS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam merah putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Indra Cool &lt;br /&gt;Date: Wednesday, December 9, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi fellas..&lt;br /&gt;Heuheuheu... di kita sih pragmatisme diartikan laen. tujuan bisa diatur (kayak bank century itu tuh).. proses atawa cara juga yach.. makanya banyak makelar (makaler apa aja ada di kita.. makanya disebut "apa yang loe mau gue adain.." gitu semboyannya, heuheu.)&lt;br /&gt;Nilai agama juga sukanya hanya simbol doang di tempat kerja. Ada salib, ada tasbeh, ada mukena, ada sajadah, ada langgar and so on.. tapi kinerja ya tetep aja... (memble yach..).&lt;br /&gt;manajemennya? manajemen 'semua bisa diatur" kalee yach.. disingkat manajemen SBD&lt;br /&gt;wakakak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: hosny K  wrote:&lt;br /&gt;Date: December 9, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar sebagai pertimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di work place, memang nilai pragmatisme historisnya diwakili oleh mazhab sekuler management by objective (MBO). penganjurnya Amerika, filsofnya juga Amerika didukung oleh teknologi tinggi amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang, jepang dikenal dgn mazhab management by process (MBP) tercermin dalam konsep bekerja mereka, total quality control atau pengembangannya total quality management (TQM). Nilai2 religi bangsa jepang (Shinto/budha) misal yang mengedepankan nilai kesatuan kerja -- work unity, dsjensnya ) secara tidak langsung.., berikut mentalitas etika kerja mereka, terkandung dlm MBP dan TQM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana konsep dan filosofi manajemen bangsa Indonesia?&lt;br /&gt;bgmn konsep religi islam? konsep religi kristiani?&lt;br /&gt;brngkali masih agak sulit untuk memberi batasan pendefinisian dan penilaian untuk Indonesia, meski mgkn bukan brarti tdk bisa::&lt;br /&gt;tkssh/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hosny k&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- -&lt;br /&gt;From: Ingrid Permatasari&lt;br /&gt;Date: December 9, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembersihan itu, spt dikatakan, selalu dimulai dari 'rumah allah' ya......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Harry B &lt;br /&gt;Date; December 9, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawansku, aliteias,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tertarik..., bukan hanya lembaga negara harus bersih dari korupsi.&lt;br /&gt;tapi Gereja pun sdh saatnya bersih, bersih dari Korupsi.&lt;br /&gt;tujuannya: pencegahan terjadinya kebocoran kerugian uang lembaga atau institusi akibattindak kecurangan, pemaksaan (halus atau kasar) atau pendeknya, korupsi !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau begitu.., Gereja bersih dari Korupsi?.&lt;br /&gt;itu berarti: seluruh penghasilan pendeta dan staf (sebesar apapun, atau sekecil apapun), harus dipotong pajak penghasilan sesuai aturan hukum yang berlaku. Tdk mungkin pejabat/pekerja gereja hanya taat pd Surga di atas, tapi tdk taat pada aturan pajak dan petugas pajak negara.&lt;br /&gt;Bukan hanya penghasilan pendeta, tapi perpuluhan, kolekte, realisasi janji iman dlsb pastinya dikenakan potongan pajak sebagai pemasukan Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu berarti pengeluaran layak untuk dicatat, dan terkendali pencatatan akuntansinya. dipertanggung- jawabkan secara transparan ke seluruh jemaat, demi akuntabilitas pendeta/pejabat gereja sendiri scr official di depan jemaat, selanjutnya ke publik luas (yg mendengar ttg perkembangan Gereja tsb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti Gereja yang punya unit-unit bisnis dan harta/aset2 baik harta bergerak maupun tidak bergerak (tanah, gedung, center, dll), pastinya mempertanggung- jawabkannya sesuai aturan UU Gereja yg berlaku; membuat laporan konsolidasi keuangan secara teratur dan bertanggung- jawab demi akuntabilitas di hadapan jemaat, selanjutnya di hadapan publik secara legal dan hukum perundang2an yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti, pimpinan Gereja endorong pengawas harta gereja, akuntan publik, tim audit independen untuk melakukan verifikasi berikut penyelidikan2 bila terjadi penyimpangan2 terkait penggunaan keuangan (spt uang sidang, uang rapat, uang perjalanan pejabat gereja, dll), secara legal menyangkut pengaturan harta gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam damai dan anti-korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry B++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- -----&lt;br /&gt;From: HL&lt;br /&gt;Date: December 10, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepertinya susah berbisnis dengan sesama orang Kristen, kenapa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kalau main bersih, jadi nggak dapat tambahan dari vendor (supplier) yang orang kristen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalau main bersih kemungkinan besar tidak pernah dapat project, sementara biaya operasional kantor, gaji, dan kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi. Kalau tujuannya hanya bersih tetapi tidak mendapat project, siapa menanggung costnya. Tetap bertahan? pakai apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sesama kristen nanti jadi ketahuan nggak bersihnya... .jadi hindari saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terus gimana dong jadinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ------------ --------- --------&lt;br /&gt;From: Kur Mks &lt;br /&gt;Date: December 10, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaa..., main bersih, main fair, paling enak. sperti pd permainan sepakbola saja khan.&lt;br /&gt;namun mesti diakhiri dengan tercetaknya gol-gol indah.&lt;br /&gt;so, sekedar main cantik saja tidak cukup.&lt;br /&gt;Main bersih, fair dan gol-gol tercetak secara terencanalah yg diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika saja semua yg menyebut diri kristen saja di NKRI, yg tinggal di indonesia, cari rejeki di tanah nusantara, mau saja komitmen main bersih (bersih dr korupsi, suap, sogok, peras, kuras, kongkalikong, hanky panky dst..),.... mau komit main fair (baca: main scr legal, etis, tdk naive dan vulgar) maka pasti maju, sejahtera dan kayalah setiap keluarga di bangsa ini. salam fairness dan bersih. K&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ -------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: H.Sig&lt;br /&gt;Ini komitmenku:&lt;br /&gt;Mulai hari ini bersih dari korupsi waktu!&lt;br /&gt;Salam perjuangan,&lt;br /&gt;^hit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;From: A. Sy&lt;br /&gt;Date: December 10, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya betul Mas Hit. harus yakin, ga kalo kalo (dr dulu ya kalo terus..)&lt;br /&gt;mulainya jg dr diri kita dan lingkungan terdekat kita yo.&lt;br /&gt;anak2, suami, kelg besar, komunitas, lingk kerjaan smpe deh ke pejabat2&lt;br /&gt;dan hartawan/ salam dr mergangsang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;From: DS&lt;br /&gt;Date: December 10, 2009&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Satu hal juga yang perlu diingat oleh para koruptor-wan dan koruptor-wati bahwa Tuhan tidak tidur dan Tuhan tidak mati. Matanya mengawasi seluruh muka bumi. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Benih korupsi ditabur, yang tumbuh mendatangkan panen malapetaka. Benih kejujuran ditabur dan mendatangkan panen damai sejahtera. Puji Tuhan kalau kita diberikan kemauan dan kemampuan untuk hidup jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;From: Hans Midas Simanjuntak&lt;br /&gt;Date: Friday, December 11, 2009, 9:20 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih ya untuk tanggapan/respons rekan sekaitan topik ini.&lt;br /&gt;(kompilasi mails tanggapan slngkapnya sy sertakan di bawah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, harapan saya, dan mdh2an jd harapan kita semua, bersih dari korupsi jadi tanda yg nampak d terasa dr perubahan kesadaran &amp; mindset kita bersama. Selain melalui pendekatan 'justice for truth' lewat hukum dan upaya politik, ini jd gerakan kultural yg  dinuansa dikawal oleh kesadaran bersama berbasis kepekaan spiritualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja dari kita yang ada disini, dari individu kelg di rumah2 tangga, lalu media.. pengelola acara/program televisi, pembikin sinetron, film,.. kemudian guru2 pendidik rohaniawan tetua adat. tokoh sipil, para boss manajer superintenden atasan2 perusahaan.. ., mau tahu dan mampu secara bersama nyebarkan pesan2 inti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kekayaan harta jabatan, kemapanan kenyaman fana terbatas.. bukan (lagi) mrpk top-priority dan tujuan final untuk dikejar dlm hidup &amp; kehidupan di planet ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja kita dpt menjelaskan mell sistim 'gethok tular' (word of mouth communication) bahwa top-priorities dlm kesempatan hidup di dunia yg nga boleh diabaikan, adalah pentingnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kerja keras dan berjuang (striving, surviving, fighting)&lt;br /&gt;- Belajar.. jd pembelajar aktif spanjang hayat, spanjang tempat (dengar, pikir, menimbang, bicara, nulis, kasih argumen, dst)&lt;br /&gt;- Kejujuran dan bersihnya hati, kepikiran&lt;br /&gt;- Mindset fairness, adil di pikiran.. sportif dlm tindakan, yi dlm self development, dlm hidup kebersamaan dgn orang lain d orang banyak&lt;br /&gt;- Disiplin, fokus dlm meraih standard. raih keterampilan, pengetahuan, wawasan, kompetensi dan reliance (kemandirian) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya sgt yakin mdh2an rekan jg begitu. bhw jagat2 spt dunia profesi, dunia usaha d jasa, politik birokrasi instansi, ranah hukum pastinya akan lebih cepat bersih dari virus bencana korupsi. Peran gereja, masy dan bangsa jd lebih baik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan kultural bernuansa kesadaran dan spiritualitas ini, boleh jadi mjd budaya lokal terbaharui di antero pnjuru tanah air, jd suatu budaya nasional baru dr indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tksh dan salam bg kita semua.&lt;br /&gt;HMS :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;From: Hasudungan Limbong&lt;br /&gt;Date: Friday, December 11, 2009, 11:31 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih  bang Hans telah mempreview.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pikiran saya sederhana saja, kita datang dari berbagai latar belakang dan pengalaman yang berbeda, kitapun menyadari bahwa sesungguhnya karena anugerah Allah lah kita mendapat pengampunan dari kehidupan kita yang telah mati karena dosa, sebagaimana efesus 2.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang, bagaimana secara bersama-sama kita membentuk suatu kegerakan (yang tidak harus digembor-gemborkan) untuk membentuk suatu RANTAI KEJUJURAN. Dari rantai kejujuran ini kita akan bersinergi, boleh sesama pebisnis yg sama bidangnya saling membentuk rantai kejujuran, kemudian antara pebisnis yang berbeda product membentuk lagi rantai kejujuran, antara customer dan supplier membentuk rantai kejujuran. Antara pelayan publik dan sesama pelayan publik membentuk rantai kejujuran dan antara pelayan publik dan publik juga membentuk rantai kejujuran. Antara masyarakat dan polisi membentuk rantai kejujuran. Saya percaya kegerakan ini akan menjadi dahsyat dan menjadi "WINNING TOGETHER"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mari kita mulai sekarang! Saya tawarkan, saya sebagai supplier diantaranya untuk machinary, valves, fabrikasi, dll  dan distributor produk IT mencari patner maupun customer yang mau menerapkan RANTAI KEJUJURAN! Ada yang berminat? Silakan hubungi saya, untuk segera kita action daripada terus mendiskusikan tanpa konklusi...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya teringat kepada seorang pengkhotbah terkenal mengatakan "Konklusi tanpa Diskusi adalah otoriter, Diskusi tanpa konklusi adalah membingungkan"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan seorang pengkhotbah terkenal lain mengatakan banyak yang tergerak tetapi tidak bergerak.&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita tidak sekedar hanya tergerak saja dan tidak bergerak, tetapi tergerak dan bergerak!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam kegerakan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;HL&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-2873134651173071216?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/2873134651173071216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/12/bersih-dari-korupsi-tanda-pertobatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/2873134651173071216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/2873134651173071216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/12/bersih-dari-korupsi-tanda-pertobatan.html' title='Bersih dari Korupsi: tanda Pertobatan &amp; gaya hidup Kristiani.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-1179797594573867376</id><published>2009-10-28T10:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-31T10:19:25.232-07:00</updated><title type='text'>Salam "Soempah Pemoeda" 2009</title><content type='html'>Pemuda, perannya menjadi sangat penting dan strategis pada hari-hari ini. Sama halnya dengan waktu founding-fathers bangsa dan pemimpin2 kristen  indonesia senior kita eksis pada periode2 awal Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda (dan juga remaja) menjadi suara (yang mewakili) masa depan Indonesia.&lt;br /&gt;Suara yang saya boleh sebut: suara kemandirian. Suara perjuangan menuju kemandirian bangsa, gereja tubuh Kristus, society. Yang pada gilirannya benar-benar mengarahkan kita selanjutnya kepada makna kedaulatan (sovereignty) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda, dekat dengan teknologi. Aplikasi teknologi. Dekat dengan kreativitas dan inovasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekat dengan kondisi. Kondisi kebugaran suatu bangsa (freshness of the nation).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda sehat, sehatlah bangsa. Pemuda sakit, maka sakitlah bangsa.&lt;br /&gt;Pemuda, mesti diakui menjadi salah satu pihak, komunitas, society yang paling dekat dengan Demokrasi, gerak demokrasi. Maka, di tangan pemuda pula Demokrasi dapat berproses berkembang jauh lebih baik dan lebih semarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda juga yang diharap menjadi penerus jati diri bangsa. Pemuda sangat erat mengait dengan budaya. Budaya lokal, budaya nasional, budaya mengglobal.&lt;br /&gt;Pemuda, penjaga tradisi bangsa, keindonesiaan. Pemelihara tradisi gereja, christianity traditions dalam arti luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, hari-hari ini, Pemuda tidak dapat lagi hanya menjadi bagian marjinal dari tubuh bangsa, gereja tubuh Kristus, dari society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda, suara pemuda wajib kita dengar!&lt;br /&gt;Wajiblah pemimpin2 di sektor publik, privat maupun masyarakat sipil untuk mendengarnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Pemuda bersatu, maka bersatulah bangsa, gereja, civil society.&lt;br /&gt;Bila Pemuda bangkit mentransformasi diri dan maju, maka akan demikianlah suatu Bangsa dan Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda. Suara yang pasti dan akan terus mewakili masa depan bangsa dan gereja.&lt;br /&gt;Maka, tidak heran meski banyak kaum yang telah bertambah tahun usia&lt;br /&gt;ingin tetap bersama pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Pemuda, mari segenap kita, merajut masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Soempah Pemoeda 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 Oktober 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-1179797594573867376?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/1179797594573867376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/10/salam-soempah-pemoeda-2009.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1179797594573867376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1179797594573867376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/10/salam-soempah-pemoeda-2009.html' title='Salam &quot;Soempah Pemoeda&quot; 2009'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-6854979440206065357</id><published>2009-10-14T18:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-14T18:49:06.360-07:00</updated><title type='text'>Resensi "The Indonesian Dream": Meraih Mimpi dalam Bingkai Retak</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Tulisan dari Dr Victor Silaen, telah dimuat pada Harian Seputar Indonesia, Minggu 11/10/2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGIAN orang mungkin akan langsung berkata bahwa ”mimpi Indonesia” merupakan sesuatu yang asing dan jarang terdengar atau dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, mereka mungkin akan bertanya: apakah Indonesia punya mimpi? Jawabannya ”punya”,dan itu tertulis di dalam Pembukaan UUD 45, yakni ”Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur” dan ”yang sejahtera, cerdas, dan yang berperan serta di tengah pergaulan internasional”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait itu mungkin kita setuju bahwa sebagian dari mimpi itu kini sudah tercapai yakni merdeka,berdaulat, bersatu,dan berperan serta secara aktif di tengah pergaulan internasional. Tetapi adil dan makmur, sejahtera, cerdas, agaknya masih jauh dari kenyataan. Inilah persoalan besar kita.Menurut Elwin Tobing, penulis buku ini, persatuan merupakan prasyarat untuk meraih mimpi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, persatuan itulah yang kini menjadi masalah karena Indonesia dewasa ini adalah Indonesia yang rapuh. Bagaimana mungkin Indonesia dapat menjadi bangsa yang unggul jika rakyatnya tidak dapat dipersatukan? Secara teritorial Indonesia mungkin akan terus bersatu, namun ikatan-ikatan sosial politik yang mempersatukan rakyatnya yang beraneka ragam selama ini perlahan kian melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebinekaan Indonesia kini mulai retak di sana-sini. Ini bukan saja membuat Indonesia menjadi bangsa yang sulit maju, bahkan juga terancam disintegrasi (hlm 69). Kalau kita tak mau Indonesia menjadi ”negara gagal”, perubahan paradigma di tengah proses pembangunan bangsa ini ke depan diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun bangsa yang kompetitif, tak bisa tidak, setiap warga di negara ini harus dibentuk menjadi individuindividu yang kompetitif pula. Untuk itu setiap orang harus memiliki pikiran yang kritis, sementara kebudayaan masyarakat juga harus mendukung terciptanya iklim yang kompetitif tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya? Ilmu pengetahuan harus dikuasai dan inovasi-inovasi harus digencarkan. Namun, hal itu hanya bisa dicapai jika ada kondisi di mana masyarakat selalu ”lapar” akan pengetahuan dan terobsesi untuk maju dalam pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elwin Tobing,seorang warga negara Indonesia yang kini menjadi dosen bidang ekonomi di Universitas Azusa Pasific, California, Amerika Serikat itu, juga menyoroti faktor lain yang menyebabkan Indonesia sulit maju yakni mentalitas sebagian besar rakyat Indonesia yang selalu menganggap diri sebagai korban dari negaranegara maju maupun paham neolib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentalitas seperti ini jelas harus dibuang jauh-jauh, diganti dengan optimisme dan keyakinan diri bahwa kita juga bisa. Selain pada kenyataannya kita tak mungkin menghindar dari keniscayaan berinteraksi dengan negara-negara lain, maju atau mundurnya negara kita terletak di tangan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elwin menekankan perlunya kita bekerja keras membangun toleransi beragama. Bagaimanapun, menurut dia, agama tetap penting dan bahkan merupakan faktor deterministik di dalam kehidupan kita. Karena itulah tak mungkin kita mengabaikannya begitu saja atau menganggapnya tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Indonesia adalah bangsa yang sangat religius.Untuk itulah diperlukan perubahan paradigma dalam beragama dan dalam melakukan dialog antarumat beragama, di samping juga perlu merumuskan ulang orientasi pendidikan agama di semua lembaga pendidikan (hlm 100-124).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait itu patut disyukuri bahwa Indonesia kini telah menjadi negara demokratis secara prosedural dan struktural. Hal ini tentu dapat menjadi modal untuk membangun demokrasi di ranah budaya, yang meniscayakan bukan saja diakui dan dihayatinya kebebasan, tetapi juga toleransi karena bertumbuhnya kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara wajar, juga kesetaraan dan nilai-nilai lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu,ada modal sosial yang harus dibangun. Itulah nilai ”trust” (kepercayaan) yang kian menghilang dari kehidupan kita di tengah kebersamaan (hlm 126-143). Boleh jadi menghilangnya ”trust” dikarenakan ”distrust” (kecurigaan) telah sekian lama menguasai hati dan pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika bingkai yang merekat kebersamaan kita selama ini mulai retak di sana-sini. Buku ini terdiri atas tiga bagian, yang masing-masingnya terdiri atas beberapa bab. Bagian Pertama berjudul ”A United Nation”,memaparkan fakta-fakta dan gambarangambaran tentang situasi dan kondisi bangsa Indonesia dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab Keenam,yang mengakhiri bagian ini, seakan mengajak kita untuk mengevaluasi sekaligus menyadari bahwa Indonesia kini tengah di ambang bahaya kolaps karena menguatnya intoleransi beragama. Bagian Kedua berjudul ”A Democratic Nation”, membahas tentang perkembangan yang berhasil dicapai Indonesia dalam demokrasi dan demokratisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, politik semakin modern, namun distrustsemakin menguat di tengah kehidupan bermasyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa tingkat keanekaragaman bangsa Indonesia yang sangat tinggi juga turut menyumbang menguatnya ketidakpercayaan sosial tersebut. Bagian Ketiga berjudul ”A Confident and Competitive Nation”, menguraikan tentang hal-hal yang penting dan perlu dilakukan ke depan demi menjadikan Indonesia bangsa yang unggul dan kompetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya,buku ini menekankan perlunya perubahan-perubahan mendasar yang harus dilakukan jika Indonesia mau menjadi bangsa yang unggul dan kompetitif.Untuk itu,selain hal-hal yang telah disebut di atas, diperlukan perubahan dalam nilai-nilai yang kita hayati selama ini. Di sinilah signifikansinya membahas kebudayaan kita sebagai bangsa Indonesia.Persoalan nya, sudahkah kita memiliki ”kebudayaan nasional” yang betulbetul telah dijadikan pedoman oleh seluruh rakyat Indonesia? (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Victor Silaen,&lt;br /&gt;Dosen Fisipol UKI        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan HMS di milis Aliteia (14 Oct 2009):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi konseptualnya TID ini, bagus sekali Lae Victor.&lt;br /&gt;Membawa semangat dan optimistik kita bahwa TID bukan sekedar khayalan atau The Dreaming Indonesian, tapi betul2 upaya "karsa karya dan rasa" bersama menjadikan bangsa ini, bangsa pemenang - bukan bangsa kalahan  pencundang.atau selalu terpuruk dlm segala kelemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih. JBU&lt;br /&gt;HMS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;anggapan kembali VS (15 Oct 2009):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Lae Hans. Semoga semua kita bisa menjadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;Victor Silaen&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-6854979440206065357?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/6854979440206065357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/10/resensi-indonesian-dream-meraih-mimpi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6854979440206065357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6854979440206065357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/10/resensi-indonesian-dream-meraih-mimpi.html' title='Resensi &quot;The Indonesian Dream&quot;: Meraih Mimpi dalam Bingkai Retak'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-7233496572963259570</id><published>2009-02-24T04:51:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T04:55:08.201-08:00</updated><title type='text'>Antara Demokrasi dan Tradisi.</title><content type='html'>Rekans terkasih, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya tulis ini, merupakan tanggapan umum dari topik interaksi diskusi yang berkembang di milis doakan hkpb minggu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorotan saya kali ini, adalah mengenai dua hal: Antara Demokrasi dan Tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi sbg suatu gerak (motion) dan salah satu cara  (a way) guna mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan bermasyarakat dan bernegara, tak dapat dinafikan telah berkembang di masyarakat bangsa kita, tak terkecuali pengarunya dlm kehidupan gereja, berjemaat. Pengamatan saya, demokrasi kini sdg memasuki tahap survival untuk menemukan bentuknya dan kematangannya yang pas di negeri kita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, Tradisi entah itu dlm bentuk tradisi Gereja atau tradisi Habatahon (Kebatakan) tak dapat disangkal masih, tetap menunjukkan eksistensinya yang khas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah demokrasi sbg suatu proses dan gerak (motion) di masyarakat kita harus serta merta meniadakan tradisi? Atau dlm bahasa yg lebih lugas, haruskah demokrasi bertumbuh dan kembang dgn cara melabrak tradisi yang masih eksis ada?  Di pihak lain, kita juga perlu bertanya apakah tradisi juga bersikap serta merta tidak memerlukan demokrasi dan proses demokratisasi di dalamnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog dan dialektika komunikasi mgkn masih terus berlangsung. Mungkin sulit menemukan ujungnya. Namun, barangkali ada satu pencerahan yang kita harapkan.  Bahwa antara Demokrasi dan Tradisi tidak mesti harus saling melabrak atau meniadakan. Tetapi bagaimana antar keduanya dapat saling isi-mengisi, mutual respect. Demokrasi membutuhkan tradisi sbg basis atau dasar utk melangkah berkembang ke arah liberty, kemajuan, kesejahteraan. Sebaliknya, tradisi pun butuh senantiasa di democratized, sekaligus di modernized. Agar dpt mengalami transformasi secara dinamis &amp; seimbang, dinamis serta rasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-7233496572963259570?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/7233496572963259570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/02/antara-demokrasi-dan-tradisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7233496572963259570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7233496572963259570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/02/antara-demokrasi-dan-tradisi.html' title='Antara Demokrasi dan Tradisi.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-4104047970789796582</id><published>2009-01-01T21:08:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T04:19:30.371-08:00</updated><title type='text'>Meski banyak tantangan.., kita mengimani "Have a very blessed year 2009".</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_odkxR7cxObs/SV39cw8SfAI/AAAAAAAAAVw/MS7Hul6UmYU/s1600-h/year+2009.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 179px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_odkxR7cxObs/SV39cw8SfAI/AAAAAAAAAVw/MS7Hul6UmYU/s320/year+2009.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286660208218766338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear saudara2 terkasih,   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara personal dan keluarga saya ingin mengucapkan &lt;strong&gt;Selamat Natal dan Tahun Baru bagi rekan2 sekalian. Have a very blessed year 2009 ! &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun jika kita mengamati mengikuti perkembangan sejak 2008 bahkan ke belakang faktanya tidak mudah. Berbagai tantangan kelemahan problema krisis yg sdh dan harus dihadapi oleh Dunia global khususnya Indonesia/NKRI dan Dunia kristen Indonesia, lokal-nasional, kerap menghadang. Namun, semua itu tidak menyurutkan kita utk terus melangkah dlm kuasa dan penyertaan Tuhan kita. Mengubah problema kelemahan tantangan menjadi peluang utk menciptakan kasih dan keadilan, transformasi dan kemajuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terinspirasi dari pernyataan Paulus rasul Kristus di jamannya ketika berada di Efesus, meskipun pada masa itu demikian banyak tantangan dan para penentang, ia tetap memiliki iman dan pengharapan yg kokoh dengan menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;But I will tarry in Ephesus until Pentacost. For a great and effective door has opened to me, and there are many adversaries". (Tetapi aku akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta, sebab disini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang. &lt;/em&gt; 1 Korintus 16: 8-9. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini bisa jadi resolusi kita bersama, jika berkenan, kiranya ada sesuatu atau beberapa hal berarti dan berdampak yang dapat kita buat bersama utk kita persembahkan kpd Tuhan Gembala orang percaya, Maha berkuasa atas dunia, atas indonesia. Sesuatu yg bernilai "strategis", "benar" dan "baik/besar" sbg kontribusi kita bersama, &lt;strong&gt;satu bagi kemaslahatan/kemajuan Indonesia NKRI yang kita cintai..., &lt;/strong&gt;dan &lt;strong&gt;satu lagi bagi kemaslahatan/kemajuan dunia Kekristenan di persada indonesia ini.   &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dgn amanat Ibrani 12: 1 Mari kita tinggalkan dan tanggalkan yg dibelakang, dimensi waktu masa lalu (2008 ke belakang)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"So let us lay aside every weight and the sin which so easily ensnares us, and let us run with endurance the race that is set before us".  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mari kita jejakkan dimensi waktu=tahun yg baru 2009 dgn mengenergisasi amanat Filipi 3: 13-14..   &lt;em&gt;"Brethren, I do not count myself to have apprehended, but one thing I do, forgetting those things which are behind and reaching forward to those things which are ahead.  I press towards the goal for the prize of the upward call of God in Christ Jesus".  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari saudara2 rekan sekalian, kita sama-sama jejakkan &lt;em&gt;"space and time" &lt;/em&gt;2009 dlm kuasa pengharapan, iman dan kasih. Tuhan beserta kita! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalom.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-4104047970789796582?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/4104047970789796582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/01/meski-banyak-tantangan-kita-mengimani.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4104047970789796582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4104047970789796582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2009/01/meski-banyak-tantangan-kita-mengimani.html' title='Meski banyak tantangan.., kita mengimani &quot;Have a very blessed year 2009&quot;.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_odkxR7cxObs/SV39cw8SfAI/AAAAAAAAAVw/MS7Hul6UmYU/s72-c/year+2009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-7551205574141261262</id><published>2008-11-20T10:13:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T04:31:34.906-08:00</updated><title type='text'>Gelombang PHK, Perlunya Pembalikan Paradigma Kebijakan, 10 Langkah Terobosan!</title><content type='html'>Dear readers, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kutipkan tulisan, ulasan Harry mengenai antisipasi yg seharusnya dilakukan Indonesia menyikapi dampak krisis keuangan global yang sudah mulai dirasakan di negeri ini. Antara lain, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai dilakukan di bulan-bulan ini oleh sejumlah pabrik dan industri manufaktur di Jawa, Kalbar dan Sumatera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian ulasannya, silakan disimak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawansku,  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sy sependapat dgn rekan robert.hizkia di salah satu milis (aliteia) dan ekonom Faisal Basri bbrp waktu lalu. Bahwa yg pastinya akan terkena imbas krisis keuangan global sangat keras di negeri ini, adalah tentu Sektor Keuangan sendiri (pasar saham, pasar uang, valas), Sektor Perbankan yg link dgn pasar internasional serta Sektor2 Riil Modern di perkotaan (sub sektor Properti, Mall, Manufaktur, Perdagangan Kendaraan dgn BBM, Hypermart dsjns) trtm kota-kota besar di pulau Jawa, sbgn Bali dan sektor2 Riil Modern di Indonesia Bag Barat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang relatif tidak terkena imbas plg tidak jelas-jelas ada di 4 sektor:  Kalau di pulau Jawa dan Indonesia Bag Barat.  (&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Sektor2 Tradisional di pedesaan, daerah pegunungan dan pesisir (Agro, Perikanan dll) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Sektor UKM, koperasi dan microfinance yg "standing alone" tdk link internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Sektor Paska-Modern: spt bidang Seni Budaya Kreatif yg sgt dicari oleh internasional, Musik Indonesia kontemporer, Desain kreatif, dll.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Kalau di Indonesia Bag Timur, hampir seluruh sektor (Perkebunan, Agro, Perikanan, Industri, Perdagangan dll), boleh dikatakan relatif tidak terkena imbas, bahkan utk Komoditi2 yg booming, dpt mendapt berkah dari menguatnya dollar AS serta melemahnya nilai rupiah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, langkah nyata yg bisa/hrs dilakukan bersama harus berdasar atas pembalikan paradigma Kebijakan politik-ekonomi scr drastis di tengah krisis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meliputi 10 langkah terobosan (dari hasil kajian yg selama ini dilakukan), yaitu:   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berantas KKN dan Suap, tidak boleh berhenti sedikitpun oleh KPK dan Tipikor dll; tdk dpt tdk kian hari harus terus galak, tanpa kompromi, termasuk bagi mereka yg sdg "tiarap" sekarang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Korban puluhan ribuan PHK dan tenaga2 mandiri (profesional dan semi pro) segera disosialisasi utk beralih pekerjaan/usaha dari Sektor Modern Riil ke 4 Sektor diatas. Dengan tujuan ekspor sdh waktunya diarahkan kpd negara2 non-AS dan non-Eropa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penciptaan lapangan kerja/penyerapan TK bersifat taktis emerjensi melalui pencairan cepat dana2 APBN/APBD di bid infrastruktur, penyaluran kredit UMKM dll trtm di luar Jawa dan Indonesia Bag Timur, dgn melibatkan slrh korban PHK, generasi muda dan para lulusan sekolah/PT.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Spt yg dilakukan India, Thailand dan China, Pemerintah harus turun tangan melindungi ke-4 sektor diatas melalui putusan Kebijakan dan Perundang-undangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dgn peraturan dan undang2 pula, Pemerintah "memaksa" agar dana2 para pengusaha/pedagang indonesia yg selama ini parkir di luar negeri hasil transaksi perdagangan dlm bentuk US dollar, agar dialokasikan ke dalam negeri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sosialisasi dan ketegasan setiap Warga Negara tidak memborong dollar, pengetatan semua item biaya, memakai barang2 produk dalam negeri, pengurangan seluruh pemakaian komponen produk dari LN (impor), kewajiban Pajak bagi produk booming, dst.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Peran LSM, LPSM, societas, asosiasi sipil, media yg akurat berimbang dan bertanggung- jawab dan peran2 sejenisnya diperkuat utk penguatan kohesivitas lokal dan nasional. Termasuk antar hubungan antar Ormas, Partai dan kelp2 politik dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pembiayaan seluruh proses demokratisasi dan Pemilu 2009 dan pilkada2 dilakukan reduksi penghematan nyata, tanpa menghilangkan substansi. 9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu.  10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu.  10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai (Harry B ++).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang telah disampaikan ini, saya kira sangat mendesak menjadi fokus perhatian dan "urgent plan" Pemerintah dan seluruh elemen bangsa yang mencintai bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberkati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-7551205574141261262?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/7551205574141261262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/dear-readers-saya-kutipkan-tulisan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7551205574141261262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7551205574141261262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/dear-readers-saya-kutipkan-tulisan.html' title='Gelombang PHK, Perlunya Pembalikan Paradigma Kebijakan, 10 Langkah Terobosan!'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-7175347183909416287</id><published>2008-11-12T03:35:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T03:40:02.218-08:00</updated><title type='text'>Sharing Awal: Pendirian Sebuah Universitas Kristen di Kalabahi, NTT</title><content type='html'>Sahabat terkasih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, ada beberapa rekan dari elemen Bakti Nusa Connections juga bergabung di forum milis yang bernama Aliteia. Namun, ada juga yang tidak bisa berkoneksi, a.l. oleh karena keterbatasan akses internet, dll. Nah.. dengan beberapa orang yang tidak bisa bergabung inilah, saya baru saja melakukan koordinasi lapangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sharing awalnya begini. Sudah sejak beberapa tahun lalu sebenarnya, di NTT tepatnya di Kalabahi Alor, teman-teman ini sdh menggumuli, punya visi dan mimpi, dan mulai merencanakan lebih telaten bagi berdirinya sebuah Universitas Kristen yg diharap di kemudian hari dapat menjadi salah satu &lt;em&gt;center of excellent &lt;/em&gt;bidang pendidikan tinggi di wilayah NTT.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal 2008, visi, mimpi dan perencanaan tsb telah menunjukkan hasil yang nyata, baik di tingkat policy dan di lapangan (tingkat implementasi). Sebuah Universitas Kristen telah berhasil diretas, dan telah didesain secara bertahap untuk 5 fakultas, yang kesemuanya disesuaikan dengan kebutuhan yg dirasakan untuk kemajuan wilayah-wilayah di NTT.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut desain organisasi yang telah disepakati sejak awal, Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini berada sepenuhnya di bawah naungan lembaga Gereja, dalam hal ini Gereja Klasis GMIT Timor. Berdasarkan potensi, tantangan, kekhasan, peluang dan prospek ke depan, ckp banyak penilaian bahwa Gereja Klasis ini sesungguhnya kelak dpt ditingkatkan secara bertahap menjadi Gereja bertingkat Sinode di Kalabahi NTT.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertalian dgn sharing saya ini, support berupa 4 D (Doa, Daya, Dana dan Dukungan moril akses knowledge skills good will dll) dari segenap members Aliteia, akaan sangat dibutuhkan bagi kehadiran Universitas Kristen ini. Support perlu diberikan bagi teman-teman dalam tim yang telah berjuang dan bekerja keras bagi berdirinya Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap rekan2 sahabat sekalian yg punya visi dan passion di bidang &lt;em&gt;higher education&lt;/em&gt;, kiranya dpt mendukung usaha sangat nyata ini, dalam bentuk-bentuk berupa fasilitasi, support kemitraan, lecture activities atau apapun namanya yg lebih riel.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menjadi sharing dan informasi awal bagi kita sekalian, sebelum saya/kami dapat mensharekan secara lebih lengkap tahap-tahap perkembangan yg sedang dilakukan baik di tingkat kebijakan/policy maupun di tingkat implementasinya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam karya kasih nyata,  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMS :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-7175347183909416287?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/7175347183909416287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/sharing-awal-pendirian-sebuah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7175347183909416287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7175347183909416287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/sharing-awal-pendirian-sebuah.html' title='Sharing Awal: Pendirian Sebuah Universitas Kristen di Kalabahi, NTT'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-3113215984806888634</id><published>2008-11-11T03:32:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T03:35:37.346-08:00</updated><title type='text'>Start From Reality. Dan Bukan Diri Kita Sendiri Yang Mengucapkannya.</title><content type='html'>Start from the reality. &lt;br /&gt;From reality to ideal statue.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita yg tak dpt kita tolak, sbgmn threads yl terkait, peran DPD dan DPR, masih relatif banyak yg harus dibenahi di bid/pentas politik &amp; state.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya dlm hal posisi peran DPD dalam sistem ketata-negaraan, tapi juga peran fungsi dan moralitas DPR, bahkan juga di tubuh birokrasi pemerintahan kita. Sebagai mana peran Media, TV dan multi media, sikon DPD, DPR dan birokrasi.. ini semua sebenarnya mjd cermin faktual keadaan riel negara dan masyarakat jg di tingkat praksis, yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sabang sampai merauke.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itulah ekspektasi kita bersama, baik sbg Indonesia maupun sbg kristen warga, mari kita hands-on dgn elemen bangsa lainnya, utk memberi kapasitas penguatan bersama, upaya pembenahan2 dan kritisi yg terukur, agar lembaga2 diatas makin tahun makin betul2 mjd institusi yg terhormat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "terhormat" bukan saja hanya dlm tataran ucapan atau sapaan diri sendiri, atau kalangan sendiri di lingkungan kelembagaan Terhormat disini, kita artikulasikan kembali, mengandung pengertian: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tidak menjadi tempat/lahan komersialisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tidak menjadi "menara gading". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak menjadi ketertutupan sbg sebuah budaya. (transparency lah yg seharusnya mjd kebudayaan baru NKRI ke depan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tidak menjadi "caucus" utk melakukan pembohongan publik, dan atau rekayasa licik atau "regulatory game" (permainan hukum/undang2/ peraturan) yg dilakukan hanya segilintir orang utk mengelabui/memperda yai kepentingan umum/banyak orang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;em&gt;Last but not least, &lt;/em&gt;Tidak lagi menjadi sarang Korupsi/KKN dan suap-menyuap, yg berakhir di kursi pengadilan dan penjara.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ke-5 artikulasi terhadap realita di atas, maka marilah kita di Aliteia turut memperjuangkan bersama ke arah ideal statue, sesuai harapan begitu banyak orang sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ingin mjd bangsa yang terhormat. Masyarakat yang terhormat. Kristen terhormat. Dan bukan diri kita sendiri, bukan Indonesia sendiri, bukan orang kristen sendiri.., yang mengucapkannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;HMS :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-3113215984806888634?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/3113215984806888634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/start-from-reality-dan-bukan-diri-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3113215984806888634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3113215984806888634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/start-from-reality-dan-bukan-diri-kita.html' title='Start From Reality. Dan Bukan Diri Kita Sendiri Yang Mengucapkannya.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-7206237752331552753</id><published>2008-11-10T03:28:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T03:32:05.960-08:00</updated><title type='text'>Mari Kita Bersama "Memancar Keluar" (Garami Terangi Bidang/Pentas Politik).</title><content type='html'>Kita patut bersyukur. Ckp banyak teman-teman di masy Aliteia ini sdg meretas perjuangan baik melalui mell keaktifan di Parpol-Parpol dan sdg berjuang maju sbg Caleg DPR/D, maupun melalui jalur DPD di propinsi2.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk jalur DPD, saya mendengar klu tidak salah ada sekitar 19-21 propinsi dari 33 propinsi (57-63%) terdapat ada 1 orang atau lbh dari 1 org warga masy Kristen/Katolik yang telah masuk dlm bursa pencalonan Anggota DPD (Senator Propinsi) utk Pemilu 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yg perlu disyukuri. Meskipun, harapannya jk boleh di seluruh 33 propinsi seyogianya ada warga masy Kristen/Katolik min. 1 orang masuk sbg calon DPD. Mudah2an mjd doa dan upaya kita, di Pemilu 2014 hal ini dpt direalisasikan!  Sebab itu, sy mengencourage teman2 disini yg mgkn punya minat dan passion mjd calon DPD/anggota DPD, boleh mempersiapkan diri sejak sekarang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan khusus berkenaan dgn DPD bds posting yg sy baca dan ikuti minggu ini, sy mengucapkan sekali lagi selamat berjuang kpd bro Rekan Victor Silaen (DPD Prop DKI Jakarta), rekan Hasudungan Limbong (DPD Prop Sumsel) dan rekan Gabarel Sinaga (DPD Prop Sumut). Ada satu lagi, suami dari rekanita kita Dr Indira J Simbolon, yu Bro Sumurung Samosir, juga menjadi calon DPD untuk Prop. Sumatera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai leaders/calon Leaders di Pentas Politik, spt di postingan sy sebelumnya sekaitan dgn Pemilu di AS, sy melihat bulan-bulan ini kedepan dan jg waktu2 selanjutnya brngkali akan mjd semacam 'Examination Periods (Periode2 Pengujian)" yg harus dilampaui oleh anda-anda sekalian. Mengutip ungkapan nabi Daniel, pengujian juga berpadu-padan dgn proses purifikasi (Pemurnian) dlm banyak hal (visi, niat, pikiran hati, dll). Reformator Luther mengatakan doa 50% faktor keberhasilan. Sisanya 50% lagi tentu, harus dilakukan dgn upaya, keuletan, team-work dan kerja keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga harapan sy utk teman2 yg aktif di kepengurusan Parpol dan sbgn besarnya masuk pula dlm bursa pencalonan Aleg DPR/D mendatang.  Maka, mgkn tdk berlebihan bila saya berharap bilamana semua rekan2 sy yg ada di masy Aliteia ini, para leaders di berbagai daerah, di jakarta, dan di LN, with your people and networking tentunya, marilah kita dukung sepenuhnya rekan-rekan kita ini dgn apa yg mgkn ada pada kita (terliput 4 D: Doa, Daya, Dana, Dukungan moril, akses, suara, dll)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah mungkin waktunya, harapannya kita scr bersama dpt memancar keluar, outword looking, utk tugas mendukung lebih serius dan lebih total teman-teman kita yg diharap bisa mampu nantinya menggarami dan menerangi pentas politik kenegaraan termasuk berharap di birokrasi juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hasil finalnya, kita sadari itu mjd urusannya Tuhan. Namun dgn berbagai doa dan upaya kita, kita berharap agar terjadi kemajuan, dampak riel dan transformatif, utk kemajuan Indonesia khususnya fokus kita kali ini di bidang atau pentas politik.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, Selamat Hari Pahlawan !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God bless you all, God restore Indonesia.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, HMS :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-7206237752331552753?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/7206237752331552753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/mari-kita-bersama-memancar-keluar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7206237752331552753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7206237752331552753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/mari-kita-bersama-memancar-keluar.html' title='Mari Kita Bersama &quot;Memancar Keluar&quot; (Garami Terangi Bidang/Pentas Politik).'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-5994289927855909764</id><published>2008-11-08T03:51:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T04:21:14.373-08:00</updated><title type='text'>Seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi.</title><content type='html'>Ulasan di bawah adalah tanggapan saya seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi, dengan Bro Andry Pakan dan Sis Anne di forum milis Aliteia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian isinnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik apa yg anda wacanakan seputar misi holistik kristen dan transformasi. Perkenankan sy ikut menanggapi, line by line khususnya quote dari bro Andry. tks.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andry Pakan: &lt;br /&gt;Tentang mengurangi wacana di sekitar misi yang holistik atau transformasi yang tidak diikuti langkah konkrit, begini : Saya menggunakan kata "menerobos (keluar dari tembok-2 Kristen)" karena dari pengamatan saya, gereja terlalu berpusat kedalam, walaupun masih berwacana tentang misi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMS: &lt;br /&gt;Mungkin ada benarnya, apa yg anda katakan bhw umumya gereja2 dan kekristenan di Indonesia dewasa ini mash ckp banyak yg terlalu berpusat ke dalam (urusan intern belaka). Pola pandang Inward Looking. Istilah bro Harry Borneo, gereja masa kini sibuk dgn urusannya sendiri-sendiri. Ada kesan, ingin maju sendiri-sendiri (tapi apakah benar maju?). Kecendrungan hanya ini berorientasi pd kepentingan kalangan sendiri. Sibuk dgn urusan pembangunan gedung gereja, sibuk hanya dgn hal-hal spiritual sakral saja: ibadah, kebaktian dll menafikan hal-hal yg profan. Sibuk dgn masalah perbedaan2 (a.l doktrin), masalah funding, kesejahteraan pengerja gereja dan masalah "perpecahan2" internal yg sebenarnya mgkn "tidak perlu", dll.  Akibatnya, tantangan dan permasalahan yg jauh lebih besar yg dihadapi Gereja dan Kekristenan dewasa ini, utamanya menyangkut eksistensi di tengah masyarakat lokal-nasional, bangsa dan negara, dari Sabang sampai Merauke jadi cendrung terabaikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sejatinya Kekristenan di indonesia, spt Kekristenan mula-mula, harusnya berpikir ke luar, meliat keluar, mengantisipasi keluar. Pola pandang Outward Looking. Dilakukan semustinya dgn derap bersama, alignment, spirit kebersamaan. Istilah yg srg digunakan para misionaris dari luar yg saya kenal: "Harus berpendar keluar, bersinar ke luar, memancar keluar". Ini sebenarnya makna inti Kekristenan/gereja yg misioner. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kalau mau berperan lebih total, harus ada perubahan cara pandang yg mendasar. Perubahan paradigma. Perlu ada gerakan pemahaman kembali, interpretasi kembali arti Misi. Baik secara historis, spt yg disampaikan a.l. oleh David Bosch, maupun pengertian misi dalam pemaknaan lebih kontemporer, dan sesuai konteks lokal, nasional dan global.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andry Pakan: &lt;br /&gt;Melayani ke pelosok-2 yang penduduknya beragama Kristen, juga disebut misi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMS: &lt;br /&gt;Ini menurut sy tidak mjd problem, sepanjang pemahaman kita seluruh penduduk yg telah beragama Kristen, belum sekuat yg kita perkirakan (dalam hal iman, cara pandang misioner, kepemimpinan misi, pemaknaan akan arti persembahan dan atau konsekrasi, dll). Di kalangan gereja Protestan old line churches/main line churches, dikenal istilah Reevanggelisasi. Di kalangan profan entrepreneurship, dikenal istilah Reinventing. Di bidang engineering, dikenal istilah Reengineering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaknaan Amanat Kristus "Pergilah ke Seluruh Dunia (Mrk 16), Dunia yg dimaksud tidak hanya diartikan Dunia dalam pengertian Geografis, tapi juga dpt diartikan dlm 3pengertian berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dunia dalam pengertian dunia Profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dunia dalam pengertian dunia Domain/Spheres Kehidupan (Spiritual, Sosial, Politik, Tradisi Budaya, Pendidikan, Ekonomi, Riset, Media, dst, dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Dunia dlm pengertian Dunia gereja Masa lalu, gereja Masa kini dan gereja Masa yg akan datang, sesuai dgn zeitgeist atau garis waktu/garis jaman.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah kata Misi (Mission) di masa kini, pun pula Misi Holistik (Whollistic Mission/Holistic Mission) juga nampaknya tidak lagi mjd klaim sepenuhnya milik orang Kristen, dunia Kristen atau Gereja (walau berawal sejarah dari histori dunia Kekristenan, ingat istilah Missio-Dei). Namun, telah menjadi pemaknaan Universal. Seluruh dunia, seluruh lembaga sekuler, seluruh agama dan kepercayaan, dan organisasi (Negara, Bisnis, LSM, Parpol, lembaga Pelayanan Agama: Kristen, Hindu, Budha, dan sebagian Islam dlsb) sekarang memakai istilah Misi dan Holistic Mission ini, terutama dlm pengungkapannya Visi Misi Beliefs Platform Strategi organisasinya.  Jadi kita memaknai arti Misi dan Misi Holistik itu dlm konteks sekarang, harus dlm view yg lebih luas, tidak terll sempit memaknainya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andry Pakan: &lt;br /&gt;Sepengatahuan saya, implementasi misi holistik yang sering diwacanakan di gereja/para gereja belumlah memuaskan. Karakteristik masyarakat Nusantara yang sudah begitu banyak berubah tidak mendapat perhatian yang seyogianya patut mendapat perhatian untuk menyesuaikan pola &amp; strategi misi yang tepat. Dulu, masyrakat/suku- 2didominisai oleh pandangan animisme &amp; Hindu, sekarang Islam.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMS: &lt;br /&gt;Sependapat dgn hal ini. Jika memakai konteks abad 18-19 benar, dulu animisme &amp; Hindu, sekarang Islam. Utk konteks abad ke-21, mmg tidak dpt dipukul rata demikian. Utk daerah2 mayoritas Kristen, konfigurasinya adalah Kristen yg mgkn perlu dilakukan pembangunan paradigma, cara pandang dan mindset Misi yg perlu direformasi terus menerus (Ecclesia reformata semper reformanda est secundu Verbum Dei?” (”the reformed Church must be always reforming according to the God's Words"). Berikutnya di daerah mayoritas Kristen masih ckp banyak dijumpai eksis suku2 terabaikan di dalamnya, dan kelp2 masy yg mengalami smacam "shock budaya" akibat pergeseran drastis dari budaya lokal pra modern langsung menuju budaya postmodern (tanpa sentuhan modernisasi terlalu intens), akibat perkembangan teknologi informasi dan globalisasi yg demikian cepat. Dan terakhir tantangan atau rambahan misi dakwah dan syiar Islam. Pola strategi dan misi di tempat ini mmg mjd unik dan berbeda. Lain halnya dengan pola strategi dan misi di daerah-daerah yang jelas2 mayoritas penduduknya Islam. Keduanya, spt yg telah disampaikan sis Anne, mjd sama penting utk dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi, utk pola dan strategi misi ke Luar Negeri, utk pemenuhan Amanat Kristus pergi ke seluruh dunia, dunia dalam pengertian geografis... Cepat atau lambat hal ini pun harus dilakukan Kekristenan dan Gereja. Melakukan tugas misi ke Afrika misalnya, Timur Tengah, Israel, Asia Tengah, Pakistan, India, RRC, Korut, Jepang, Asia Timur lainnya, Oceania, Amerika Latin bahkan ke Eropa dan Amerika. Semua mjd tugas sama penting utk dijalankan Kekristenan Indonesia, baik di masa kini maupun di masa-masa yad.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andry Pakan: &lt;br /&gt;Dulu, para misionaris sebelum datang ke Nusantara melakukan persiapan-2 yang matang dengan mempelajari karakteristik masyarakat animist, Hindu. Misal, dalam hal penguasaan bahasa, adat/budaya dan berbagai hal yang spesifik dari suatu suku. Sekarang, berapa banyak gereja dan para gereja mempelajari Islam dan karakteristik masyarakat islami? Berapa banyak gereja yang mengajak jemaatnya untuk mengenal ajaran Islam sebagai bekal untuk berinteraksi setiap hari?. Mengucapkan 'assalamualaikum' saja kita alergi bukan? Akibatnya, tidak banyak jiwa-jiwa baru yang dituai oleh gereja-2. Gereja atau para gereja yang patut  dinilai melakukan misi dalam arti yang sebenarnya dapat dibuktikan oleh adanya anggota baru usia dewasa yang sebelumnya non Kristen di gereja tsb yang menjadi anggota bukan karena menikah dengan anggota gereja tsb. Tanpa  kehadiran orang-orang yang demikian, pada dasarnya gereja tsb tidak melakukan misi, walaupun setiap tahun malaksanakan program 'bulan misi', 'pelatihan tenaga misi', dlsb.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMS: &lt;br /&gt;Menurut saya, bila Kekristenan warga masy Krsiten di Indonesia ingin "powerful" dalam kesaksian dan misinya, sudah harus membagi diri, menurut visi, beban, potensi, karunia, resources, natur passionate yg ada pada mereka masing-masing. Bersiap utk pergi ke Dunia, baik dlm pengertian Geografis, Profesi, Spheres maupun ekspektasi Gereja masa Kini ke prospek Gereja masa datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana dari umat Kristen yg harus diperlengkapi (to be equipped), harus menyiapkan diri di dalam pola strategi dan misi ke-3 bagian, yakni "terjun" dlm kesaksian dan pelayanan di:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Daerah-daerah mayoritas Kristen utk misi perkuatan "kembali", continually reforming gereja2 kekristenan scr integratif-holistik, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Daerah-daerah mayoritas Islam utk misi membangun jembatan komunikasi dan kedekatan serta Kabar Baik, dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Daerah-daerah di Luar Negeri - Misi antar Bangsa antar Negara, utk memenuhi misi pencapaian sampai ke Ujung-Ujung Bumi, sebelum Tuhan datang kembali. Ini harus menjadi "Visi Besar" dan sekaligus "Misi Besar" yg harus disiapkan semua Gereja2.. Kekristen di Indonesia sejak masa sekarang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andry Pakan: &lt;br /&gt;Seandainya dilakukan riset yang memadai tentang urgensi misi bagi gereja-2 dan aktivitas misi gereja-2 di Indonesia, mungkin hasilnya memprihatinkan. Seorang kawan yang mengkhususkan dirinya melakukan PI pribadi ke masy. Muslim Sunda mengalami dua kali penolakan dari gereja. Yang pertama, ketika dia membawa beberapa petobat baru ke gereja dimana dia menjadi anggota, gereja tsb menolak menerima petobat-2 baru tsb. Kemudian dia ke gereja yang lain dalam wilayah yang sama, dia juga mengalami penolakan. Mengapa gereja-2 tsb menolak? Takut, takut terhadap reaksi masy. setempat, inilah tipikal gereja yang tidak peduli terhadap misi dan tipikal gereja yang cari aman.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMS: &lt;br /&gt;Seperti yg telah saya sampaikan diatas, menjadi sangat urgen upaya pembalikan paradigma, transformasi mindset. Dan ini butuh upaya memperlengkapi scr lebih seksama terutama dlm hal Pola pandang Outword Looking dan Kepemimpinan Misi. Tentu harus disertai dgn contoh-contoh dan keteladanan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andry Pakan: &lt;br /&gt;Kemudian, lihatlah HKBP, gereja suku dan gereja terbesar di Asia (?), berapa orang sih anggota HKBP di seluruh dunia yang non Batak dan/atau yang ex non Kristen?. Demikian juga dengan gereja suku yang lain, seperti gereja Toraja. Pengaruh adat dalam kehidupan sehari-hari dari anggota-2 kedua gereja tsb masih cukup kental bahkan dominan. Sejarahwan kondang dari UI, Dr. Ong Hok Ham (salah eja?) alm, mengungkapkan keheranannya terhadap orang-orang Batak di perantauan. Dari pengamatannya dia berkesimpulan, orang-2 Batak (pria &amp; wanita) adalah tipikal pekerja keras dalam profesi apapun. Tetapi, mengapa tidak banyak yang kaya (hidup pas-pas an), dikemanakan penghasilan yang pasti jauh melebihi kebutuhan hidup sehari-hari? . Dr. Ong menjawab : "high culture cost". Seandainya Dr. Ong melakukan riset di masyarakat Toraja yang 90% lebih penduduknya beragama Kristen, dia akan menemukan hal yang sama, ongkos budaya telah menguras harta benda yang dengan susah payah dikumpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini saya berkesimpulan, misi yang holistik yang berakibat kepada terjadinya transformasi secara utuh kehidupan orang-2 yang dilayani  tidak berhasil sepenuhnya dilakukan oleh para misionaris yang ke Tapanuli dan yang ke Toraja. Walaupun tidak sedikit sekolah-2 yang dibuka oleh para misionaris sebagai implementasi misi yang holistik, dan sekolah-2 tsb telah sangat berjasa dalam mencerdaskan warga kedua suku tsb , tetapi semua pelayanan tsb belum dapat membuat orang Batak dan Toraja  yang Kristen melepaskan diri dari dominasi adat istiadat. Kalau Toraja yang usia Kristennya jauh lebih muda dibanding Batak, mungkin masih bisa berdalih, "kami kan belum terlalu lama menjadi orang Kristen, beda dengan gereja-2 Batak yang sudah lebih 100 th. menerima Injil." Tapi, kalau meperhatikan apa yang ada dalam gereja Toraja sekarang, sampai Tuhan Yesus datang pun tetap saja adat mendominasi kehidupan jemaat. Mengapa? Tidak /belum ada terobosan (salah satunya semacam fatwa) dari institusi gereja yang patut diperhitungkan dapat "menggiring" jemaat hidup secara Kristen yang utuh.Ada beberapa anggota gereja Toraja yang melakukan terobosan secara pribadi dengan menititp pesan kepada anak-2nya agar supaya kalau dia meninggal pemakamannya tidak dilakukan berdasarkan aturan-2adat yang salah satunya harus mengorbankan puluhan ekor kerbau dan babi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMS: &lt;br /&gt;Ini menjadi tugas bersama kita Warga Masy Kristen tmsk Aliteia, bukan hanya jadi tugas pengerja atau petinggi HKBP dan Gereja Toraja utk terus menerus Reforming, transformasi mindset. Kita harus melihatnya ini sbg tantangan yg positif bagi kemajuan bersama, bukan sbg aspek kelemahan yg negatif. Apa yg diungkap oleh Ong Hok Ham, mungkin ada benarnya sbg high culture cost, tapi juga saya melihat tidak sepenuhnya benar. Nilai-nilai budaya lokal, kearifan lokal, tidak seluruhnya keliru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran nilai Kebudayaan (Culture), tidak serta merta "apple to apple" utk diperbandingkan dgn nilai cost atau high cost dalam prinsip Ekonomi. Ong meliatnya dari segi Ekonomi. Jika orang Budaya disuru meliat pola behavior komunitas Ekonomi/pebisnis, juga akan mengatakan mereka ini minim budaya, miskin nilai-nilai Keutamaan kultur. Sama saja. Lebih baik kita meliat segi positif hubungan antara Sosial-Ekonomi dan Budaya. Demikian juga sebaliknya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andry Pakan: &lt;br /&gt;Berbicara tentang misi yang holistik, terhadap petobat-2  baru sekarang ini perlu sekali diperhatikan hidupnya. Kita ketahui bahwa kalau seorang Islam meninggalkan agamanya, dia akan dikucilkan, bahkan tidak sedikit yang dikejar-kejar dan diancam dibunuh. Misi yang holistik juga hemat saya, tidak harus dimulai dengan pemberitaan Injil secara verbal terlebih dahulu, tetapi mungkin pelayanan lain yang menyangkut kehidupan sehari-hari dari objek yang dilayani. Bisa berupa pelayanan kesehatan, pemberdayaan kehidupan ekonomi masyarakat, pendidikan , dlsb. Kemudian, pada saat yang tepat, Injil yang diberitakan harus menyentuh/mempengar uhi seluruh aspek hidup orang-orang yang dilayani, termasuk kebiasaan-2 yang dianggap baik sebagai wujud ketaatan kepada leluhur (adat istiadat yang tidak sesuai dengan prinsip-2 Alkitab). Kalau ini terjadi barulah dapat dikatakan Injil telah mentransformasi secara utuh kehidupan seseorang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMS: &lt;br /&gt;Secara historis, apa yg bro sampaikan ini sudah mulai ckp banyak disadari dan mulai dilakukan oleh ckp banyak kalangan Kristen. Saya dan bersama-sama dengan teman-teman lain (ada sebagian di milis ini), sdh menyadari sejak kami lulus dari perguruan tinggi di masa lalu. Sebab itu kami katakan, bentuk kongkrit sangat kongkrit, holistik mission atau apapun namanya (christian resource center, dsjnsnya) ini, sbg "A Tribute for The Nation". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa majalah, tmsk majalah DIA Pkts, di edisi-edisi tahun 1986-1987 saya sdh ungkapkan dan presentasikan panjang lebar mengenai Pola Pewartaan yang Membangun Jembatan Komunikasi dan Kedekatan trtm dgn saudara-saudara2 kita yg berlainan agama. Berikut hasil-hasil yg bisa dicapai. Spt contoh pengalaman di daerah2 pelayanan Bugis Makassar Selayar dan Mandar (mayoritas Islam dan sinkretis Mukdi Akbar), di Bali (mayoritas Hindu), di Bengkulu (mayoritas Islam), di Sulawesi bagian Timur (utk daerah2 mayoritas Islam), dll. Upaya program Entrepreneurship sosial, UKM, microfinance, Comm. Dev (kesehatan, pendidikan), Pertanian, dll boleh disebut sbg Pre Evangelism utk menyuburkan tanah-tanah bagi upaya tabur benih Kabar Baik. Membangun jembatan, membangun relasi, membangun kedekatan dgn umat yang berbeda keyakinan Agama. Hasil-hasil di beberapa daerah ini dan banyak daerah lainnya, saya kira, telah menunjukkan hasil yang ckp baik. Tentu perlu ditingkatkan lagi utk tantangan2 hari ini dan masa yad.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ini mjd tugas kita bersama, agar bilamana dari rekan2 Kristiani kita di manapun, belum menyadari akan tantangan yg sdg kita hadapi sekarang, belum menyadari akan signifikansi penting..esensi dari Misi, Misi Holistik dan Transformasi, mulai saat ini dapat lebih terbuka bagi suatu perubahan dan kemajuan bersama.  Sekali lagi ini menjadi tugas kita bersama! Kiranya Tuhan akan terus menyertai dan memimpin kita menjadi Orang Kristen, warga gereja, warga Masy Kristen yang Misioner.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam HMS :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-5994289927855909764?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/5994289927855909764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/seputar-pelayanan-misi-holistik-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5994289927855909764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5994289927855909764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/seputar-pelayanan-misi-holistik-dan.html' title='Seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-5118244141817506224</id><published>2008-11-04T03:42:00.000-08:00</published><updated>2008-11-21T03:45:25.775-08:00</updated><title type='text'>Periode Pengujian Kepemimpinan Sedang Ditapaki.</title><content type='html'>Dear sahabat, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru pulang dua hari lalu lewat penugasan El-Trinitas Ministry dari kamp Kepemimpinan Gereja (Christian Leadership), dengan mengambil lokasi di Cibodas Bogor Jawa Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti yg saya sampaikan, adalah Kepimpinan dlm masa sekarang, memasuki periode pengujian &lt;em&gt;(examination periods)&lt;/em&gt; baik utk ranah Kekristenan maupun ranah Dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama telah terpilih. McCain menanggapi kemenangan Obama dalam pidatonya, saya nilai luar biasa. Patut dicontoh oleh seluruh leaders dan calon leaders di negeri ini. Juga Obama. Tidak pongah. Dalam postingan sy sebelumnya, saya mencoba melontarkan evaluasi preferensi thd keduanya, terutama dlm 3 hal: kebenaran, etika dan manfaat kebaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Amerika, bagi dunia, bagi Indonesia, apa yang dikemukakan keduanya menyangkut kebenaran dan etika, terasa masih dpt diperdebatkan. Khusus soal isu menyangkut etika, mmg sy melihat ada perbedaan evaluasi kritis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal aborsi dan sex same marriage, McCain meninjaunya dari segi etika, sdg Obama lebih kepada pragmatisme politik utk menarik suara. Khusus untuk tema aborsi, spt halnya dgn isu lainnya spt hukuman mati, euthanasia dsjsnya, dari segi Etika Kristen, di kalangan Kristen tms para teolog sendiri mmg faktualnya pendapat terbelah: ada yg Pro-Life dan ada pula yang Pro-Choice. Semua sama-sama punya alasan, yg ckp panjang utk dibahas di forum ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Obama saya evaluasi bukan dlm hal 2 hal pertama, kebenaran dan etika. Tapi justru dalam aspek manfaat kebaikan. Mayoritas Americans, dan juga mgkn dunia, punya ekspektasi manfaat kebaikan yg diperoleh bila vote Obama akan lebih besar dibandingkan vote McCain. Itu saja. Mengenai ekspektasi manfaat kebaikan itu akan mampu direalisasikan oleh Obama, waktulah yang akan menilai dan mengujinya. Yg terpenting adalah periode pengujian berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, rasa salut kita harus kita berikan kpd keduanya: Obama dan McCain, dan yg paling terutama adalah kpd bangsa Amerika, yang telah memberi pelajaran berharga bagi kita. Keputusan pilihan yg saya nilai ckp berani telah ditunjukkan bangsa Amerika dlm memilih pemimpinnya.  Ya, pada masa sekarang dan ke depan ini, periode pengujian kepemimpinan (examination periods) bagi leaders dan calon2 leaders, sdg ditapaki.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, HMS :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-5118244141817506224?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/5118244141817506224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/periode-pengujian-kepemimpinan-sedang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5118244141817506224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5118244141817506224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/11/periode-pengujian-kepemimpinan-sedang.html' title='Periode Pengujian Kepemimpinan Sedang Ditapaki.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-4119770847287323221</id><published>2008-10-28T04:01:00.000-07:00</published><updated>2008-11-21T04:09:28.498-08:00</updated><title type='text'>Perspektif Saya dalam Menyikapi Perdebatan yang Sangat Tajam.</title><content type='html'>Salam hangat dan damai kepada kita semua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, saya ingin mengucapkan kepada kita semua warga Indonesia/NKRI: "Selamat Hari Sumpah Pemuda 80 Tahun (1928-2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema ulasan saya ini adalah menyangkut bagaimana perspektif saya dalam menyikapi suatu diskursus ataupun perbedaan yang sangat tajam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Dalam berbagai kesempatan interaksi dan komunikasi baik di dunia maya maupun dunia riel, kadang kita bisa berbeda, terutama yg sy soroti adalah dalam hal fokus perhatian dan prioritas bahasan. Tak hanya dalam mengupas suatu topik atau isu tertentu. Khusus dlm kaitan dgn threads perdebatan, mungkin saja kita bisa beda dlm fokus perhatian dan prioritas itu dlm menyikapi subyek2 bahasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan yg mungkin ada yang perlu kita pikir dan pahami adalah, kita barangkali punya hasrat yg sama agar kita beserta teman-teman kristen indonesia anak bangsa khususnya disini, bisa punya sikap kritis, cerdas, sekaligus berkesadaran thd berbagai sumber informasi yg masuk ke dalam hati, otak dan pikiran kita.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau fokus perhatian dan prioritas saya dalam perdebatan yang menjurus tajam, yg bisa saya ungkapkan adalah bagaimana agar seluruh pihak yang terlibat, dapat secara bersama-sama "spooring" atau "aligned" mjd suatu movement bersama - yg lebih terarah dan terorganisir - dlm rangka melakukan transformasi bertahap bagi kemajuan bangsa dan anak bangsa di Indonesia (bahkan dimana pun). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang2 fokus yg diharapkan diretas dewasa ini, adalah lewat program2 riel yg berfokus pada: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Sosial, pendidikan dan media/budaya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Ekbis dan teknologi, dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Politik dan kebangsaan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus di salah satu bidang fokus (3) Politik dan kebangsaan, ada harapan saya dan mungkin teman-teman lain juga, bagi terbentuknya semacam pusat kajian, bahasan-bahasan diskusi dan publikasi. Diskusi dan perdebatan di bidang ini, tentu bisa kemungkinannya kelak menjadi cikal bakal terwujudnya harapan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak hanya bidang fokus ini. Bidang fokus lain, yi program riel di bidang (1) Sosial, pendidikan dan media, serta (2) Ekbis dan teknologi juga mjd fokus perhatian sy dan mgkn teman-teman lainnya juga.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilapun ada perdebatan khususnya terkait bidang 3 yi bid Politik dan kebangsaan di suatu forum, sy kira merupakan hal yang normal, lumrah dan wajar-wajar saja. Namun yg menjadi harapan saya dan fokus perhatian saya (mungkin juga sbgn teman-teman lainnya), agar semangat kesatuan (unity) utk pencapain allignment secara bersama, tetap bisa terjaga. Karena hakekatnya, kita ingin dipanggil dalam tugas transformasi dan kemajuan bangsa &amp; anak bangsa ini, untuk bersatu, ditengah kepelbagaian perbedaan2 yg kita punya. Bukan utk bercerai, atau tercerai berai. Saya sadari memang utk mencapai atau memelihara kesatuan (rohani dan jiwani) ditengah berbagai perbedaan yg memiliki kesenjangan ckp tinggi, tidaklah mudah, namun bukan merupakan hal yang mustahil, jika kita mau berupaya bersama serta mengandalkan Dia dlm antero eksistensi kita.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibilang kita semua mgkn banyak berbeda, ya mungkin iya ya. Misal dlm aspek latar belakang pendidikan, mgkn tingkat kedewasaan iman, sifat/karakter, ltr blakang keluarga, usia, gender, disiplin ilmu, pikiran, perasaan, kehendak, wawasan, style, cara berkomunikasi, denominasi atau aliran, school of thoughts, partisan dan non partisan, kepentingan, perspektif, preferensi, garis ideologi sekalipun, dst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mgkn yg kita perlukan selain bisa terus berbeda, selayaknya kita juga punya upaya utk mencari kesamaan2 shg dpt terus berelasi, beraliansi dlm suatu alliance. Kita sebenarnya sudah punya kesamaan2: satu Tuhan, Kristus yg satu. Diharapkan juga memiliki kesamaan dlm visi, misi dan platform sbgmn yg telah diinfo mengenai perjuangan pelayanan, juga dlm hal Christian values yg kita anut bersama, dimana nilai2 itu sebenarnya juga bersifat universal.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen berelasi dan beraliansi dlm suatu aliansi dalm berbagai perbedaan sy kira menjadi hal utama dan penting mjd fokus perhatian. Saling mengenal secara personal, komunal dan sosial, membangun komunikasi yg positif, pemahaman dan saling pengertian mjd sangat penting disini. Utk mencapai satu maksud dan tujuan disertai upaya2 yg lebih kongkrit dan mgkn lbh terorganisir. Agar mencapai hal ini, maka spanjang kita mampu, maka kita akan berusaha seoptimal mungkin, agar tidak satupun dari para anggota yg berelasi atau beraliansi mengalami bentuk relasi dan komunikasi yg tercederai bahkan rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memulihkannya, mgkn akan memakan waktu yg cukup lama.  Pemikir, filsuf Barat utk era transisi Modern dan Postmodern, Jurgen Habermas menawarkan pola rasionalitas komunikasi, utk solusi menjembatani hubungan komunikasi dan relasi yg ckp sulit utk "diselamatkan". Namun, saya mungkin melihatnya tidak hanya melalui bentuk rasionalitas komunikasi, boleh dilakukan. Tapi juga melalui spiritualitas komunikasi, dan bisa juga lewat kulturalitas komunikasi. Dlm bahasa kristiani spiritualitas komunikasi srg disebut sbg Agape komunikasi. Agape atau Agapao', yg sering diterjemahkan sbg Divine Love, mengandung elemen yg sangat vital. Ada nilai kebenaran (truth, alithea) disitu, ada nilai anugerah, kasih karunia (grace), ada nilai welas asih (mercy). Agape juga meliput to give and take, to forgive, segi etika moral, dignitas dan berkeadilan dst. Menyangkut semua hal dlm diri manusia: pikiran, perasaan, will, intuisi, naluri kepekaan sosial, toleransi, kesatuan hati sekaligus niat (tmsk niat tampil beda), hati nurani, dst. Proses kedewasaan dan pendewasaaan manusia2 kristiani scr bersama akan mengarahkan kpd semua elemen2 vital ini utk dimiliki, tanpa terkecuali.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulturalitas komunikasi dpt ditempuh sbg contoh lewat pemahaman kesamaan kultur, termasuk identitas dan kepribadian. Seperti kesamaan sbg anak bangsa, sbg sesama pengikut Kristus, sbg indonesia. Maka karena itulah, tepat dikatakan bila aliansi ini dinamakan aliansi kristen indonesia anak bangsa, sbg dasar platform dan wawasan kulturalnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penjelasan umum dan mgkn ckp strategis yang dapat saya utarakan dlm kesempatan ini. Kiranya Kristus, gembala agung dan Tuhan kita senantiasa yg membimbing dan memimpin kita semua!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Agape, HMS :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-4119770847287323221?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/4119770847287323221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/10/perspektif-saya-dalam-menyikapi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4119770847287323221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4119770847287323221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/10/perspektif-saya-dalam-menyikapi.html' title='Perspektif Saya dalam Menyikapi Perdebatan yang Sangat Tajam.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-4446592864404998285</id><published>2008-09-19T04:30:00.000-07:00</published><updated>2008-09-21T04:40:56.091-07:00</updated><title type='text'>Lagu Rohani Kristen: Tujuan Glorifikasi atau Komersialisasi/Materialisasi?</title><content type='html'>Tulisan ini saya buat sekaitan dengan sharing diskusi perihal &lt;strong&gt;"Menyanyikan Lagu Rohani Kristen: Tujuan Glorifikasi atau Komersialisasi/Materialisasi Kebutuhan Dasar? (kasus: "Ngamen Lagu Rohani di Bis Kota")&lt;/strong&gt; di mailing list Alumni PMK-IPB beberapa hari yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Motif Tujuan Ideal. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Motif tujuan ideal lagu pujian rohani Kristen dilantunkan adalah utk mengagungkan nama Tuhan, tujuan GLORIFIKASI hanya kepada Dia. Sekaligus mampu membawa orang yang mendengar menjadi lebih dekat dalam hubungan dengan Tuhan. Memuji dan menyembah Tuhan secara spiritual sejatinya merupakan kebutuhan rohani dari setiap orang Kristiani utk pertumbuhan dan kedewasaan rohaninya. Idealnya pujian rohani tsb dilantunkan dalam suasana peribadahan baik pribadi, jemaat/gereja maupun acara kerohanian di aras publik. Jika kemudian pujian rohani dinyanyikan dalam bentuk kaset, CD, DVD, pertunjukan band atau vocal group, tayangan TV dll lalu disebar-luaskan scr komersial untuk mereka yang akhirnya merasa diberkati atas kehadiran lagu pujian tsb, bisa disebut sebagai segi KOMERSIALISASI dari lagu pujian tadi, itu secara ideal dpt dinilai sebagai DAMPAK yang diterima oleh si penyanyi, arranger atau produser lagu pujian tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Realita yang Sering Muncul. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Realita yang sering dihadapi adalah lagu pujian rohani Kristen dilantunkan barangkali bukan sepenuhnya yang utama (ideal) untuk tujuan GLORIFIKASI. Tapi lebih cendrung untuk tujuan KOMERSIALISASI atau bahkan MATERIALISASI memenuhi kebutuhan dasar bagi yang membawakannya. Tujuan2 seperti ini yang menjadi nomor satu. Meski yang tau motif sejati tersebut adalah hanya Tuhan dan diri si penyanyi ybs. Orang lain atau publik hanya dapat menilai dari segi fenomena yang muncul semata (sikap menghakimi sebaiknya bisa dihindari). Jika motif yang dialami dan dihadapi si penyanyi atau pemusik atau pihak lainnya lebih kepada tujuan KOMERSIALISASI atau bahkan MATERIALISASI kebutuhan (dasar), dalam melantunkan lagu pujian rohani, itu harus diteliti lagi mengapa fenomena itu muncul dan apa penyebabnya. Mungkin kebutuhan yang dirasakan oleh si penyanyi/pemusik atau pihak lainnya terkait karena sulitnya mendapat akses pekerjaan atau sumber2 dana (fund raising), dan realita itu lebih besar dihadapi ketimbang untuk memenuhi kebutuhannya secara spiritual yakni memuji serta menyembah Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perlunya Opsi-Opsi Alternatif.&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Kalau hal ini yang dialami, maka perlu diberikan opsi-opsi atau cara2 yang lebih baik dan benar bagaimana dpt mencukupi kebutuhan material dan dana finansial yang dirasakan. Adakah cara2 yang  bisa ditempuh (tentu yang lebih etis, lebih tepat dan lebih baik) agar tidak hanya sekedar bermotif atau bertujuan mengkomersialisasi atau mematerialisasi demi kebutuhan dasar atas lagu pujian rohani? Opsi-opsi ini perlu didialogkan, jika antar umat Kristiani berhasrat ingin saling bermitra dan membantu untuk mencari opsi solusi terbaik, demi menggapai tujuan ideal melantunkan lagu pujian rohani kristiani bisa tercapai yakni tujuan GLORIFIKASI hanya bagi Tuhan semata.  Realita yang dihadapi oleh masyarakat sekarang pada umumnya seringkali adalah tiadanya atau kurang tersedianya opsi lebih tepat dan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan materinya sehari-hari atau dana finansial tertentu bagi satu kegiatan yang akan dijalankan. Mungkin juga itu dikarenakan masih kurangnya kreativitas ide, merasa dan berpikir hanya melalui ide atau jalan keluar seperti itu yang dimiliki utk memenuhi kebutuhan materi dan dana finansial yg dihadapi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat, kepedulian, pencerahan ide dan aksi nyata memang sangat diperlukan waktu sekarang. &lt;em&gt;Be blessed and be the channels of God's blessing for others! &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-4446592864404998285?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/4446592864404998285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/09/lagu-pujian-kristen-tujuan-glorifikasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4446592864404998285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4446592864404998285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/09/lagu-pujian-kristen-tujuan-glorifikasi.html' title='Lagu Rohani Kristen: Tujuan Glorifikasi atau Komersialisasi/Materialisasi?'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-1818761834629353519</id><published>2008-06-01T02:13:00.000-07:00</published><updated>2008-11-23T07:27:45.222-08:00</updated><title type='text'>Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler! (Refleksi dr suatu Pemikiran Holistis).</title><content type='html'>&lt;em&gt;Informasi dari Transforma Sarana Media.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Edisi 15, 1 Mei 2008 (TSM-14). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler! &lt;/strong&gt;Refleksi dari &lt;strong&gt;Suatu Pemikiran Holistis. &lt;/strong&gt;Oleh: Hans Midas Simanjuntak* )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengantar. &lt;/strong&gt;Seringkali banyak pihak di Indonesia dan luar negeri, termasuk di kalangan politisi dan aparatus Negara masih terkesan bingung atau "gamang" untuk mengartikan serta menterjemahkan, apa sesungguhnya konsepsi yang dimaksud NKRI didefinisikan sebagai "Bukan Negara Agama" dan "Bukan Negara Sekuler". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di pihak lain, masih cukup banyak kalangan yang ingin mengupayakan agar Indonesia memutuskan saja untuk memilih salah satunya, menjadi Negara Agama sepenuhnya, atau menjadi Negara Sekuler sepenuhnya. Tentunya tujuannya agar menghindari terjadinya kebingungan atau kegamangan terus menerus, dari generasi kepada generasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi yang dipakai seharusnya adalah sejarah historis dari negeri yang disebut Indonesia sendiri, berikut apa yang telah dikonsepsikan oleh founding fathers republik bapak ibu pendiri bangsa ini, berikut para pemikir bangsa serta pengembang keindonesiaan yang lahir sesudahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sesungguhnya, Indonesia itu Bukan Negara Agama!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Bukan berideologi agama Islam Syariah, berideologi Barat, bahkan bukan juga berideologi Kristen dst).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dewasa ini orang di Indonesia dan di LN mendengar kata atau istilah "Negara Agama", maka konotasi banyak pihak akan segera kepada pengertian Negara berlandaskan Ideologi Agama tertentu, entah itu Syariat Islam (Islam), ideologi kristen (katolik dan atau protestan) dan lain-lain. Selain para konseptor/aktor intelektual dan para pendukung Syariah'isme Islam yang terasa sangat ekspansif hari ini dan konseptor Perda Injil (kristen) di Manokwari, saya kira masih sangat banyak kalangan di negeri ini - "silent majority" - yang tidak menghendaki negara ini menjadi negara agama (baik berideologi Islam Syariah, kristen, dst). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sesungguhnya, Indonesia itu Juga Bukan Negara Sekuler! &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, banyak juga kalangan di Indonesia dan LN jika mendengar kata atau istilah "Negara Sekuler", maka yang terbayang di benaknya adalah Negara yang berlandaskan ideologi Sekularisme yang umum berlaku di Barat (AS, Eropa Barat). Faham ideologi ini tidak menghendaki negara ikut campur dalam urusan agama, demikian juga sebaliknya agama tidak mengintervensi permasalahan yang menjadi persoalan negara. Ada pemisahan secara tegas. Konsekuensinya semua bentuk pendidikan, hukum, politik, moral HAM dan keadilan semuanya berlandaskan asas kebebasan atau liberalisme, yang bebas dari pengaruh agama manapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak mungkin kalangan terutama yang dipengaruhi oleh sistem pendidikan Barat, termasuk kalangan umat kristen, yang setuju jika Indonesia menjadi negara sekuler saja, sama seperti Barat. Yang bebas dari embel2 agama, bebas dari simbol2 primordial agama. Namun sesungguhnya pada sisi yang berlawanan, banyak juga kalangan di Indonesia terutama dari kalangan masyarakat yang masih kental sisi relijiusnya (baik Islam, maupun kristen), yang tidak setuju jika Indonesia dijurukan menjadi Negara Sekuler sepenuhnya, apalagi seperti di Barat yang dikenal sudah banyak meninggalkan nilai-nilai relijinya demi suatu kebebasan yang bukan lagi bermakna kebebasan yang hakiki, melainkan kebebasan yang menjuruskan umat dan warga negara kepada dekadensi moral, "kekeringan elan spiritual" serta "kegamangan sosial" baru seperti terjadi di AS negara2 Eropa dan negara industri baru (NIC's) di Asia seperti sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, Indonesia yang Bukan Negara Agama dan Bukan Negara Sekuler itu, pengertian dan konsepsi jelasnya bagaimana?&lt;br /&gt;Untuk menjawab ini, semua pihak sudah seharusnya tidak memakai referensi atau acuan: pertama, yang berasal dari Timur Tengah/Arab (konsepsi peradaban Islam) - meskipun selalu dan selalu diklaim Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, walaupun masih menyisakan tanya apa benar klaim sebagai yang terbesar di dunia betul-betul merepresentasikan "keumatan" Islam yang sebenarnya. Kedua, konsepsi atau acuan yang melulu berasal dari Barat (AS dan Eropa), yang mungkin masih banyak kalangan yang pro-Barat begitu percaya bahwa kemajuan yang telah diraih oleh Barat di bidang teknologi, ekonomi, pendidikan dll akan sangat cocok bila dapat diterapkan di Indonesia dengan segala kesamaan2 dan perbedaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang penting adalah, referensi yang paling utama dipakai seharusnya adalah sejarah historis dari negeri yang disebut Indonesia sendiri, berikut apa yang telah dikonsepsikan oleh founding fathers republik bapak ibu pendiri bangsa ini, yang kemudian dilanjutkan oleh para pemikir bangsa serta gerakan pemikiran keindonesiaan yang lahir sesudahnya. Tentu dengan tidak menafikan semua referensi atau kerangka acuan yang berasal dari luar seperti konsepsi pemikiran peradaban Islam, Judaisme, pemikiran peradaban Barat, peradaban Rusia dan Eropa Timur, peradaban Timur India, Iran dan Oriental (Tiongkok/China, Taiwan, Korea) bahkan Afrika dan Amerika Latin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas, dari berbagai pengamatan dan telusuran kembali nilai-nilai historis founding- fathers dan perkembangan wacana dialektis kenegaraan indonesia, kita dapat mengartikan bahwa yang disebut Indonesia "Bukan Negara Agama dan Bukan pula Negara Sekuler" paling tidak meliputi 8 Pengertian Negara dari sebuah negara yang dinamakan Indonesia -- sejak dulu, hari ini dan untuk yang akan datang, yakni sbb: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Indonesia adalah &lt;em&gt;Negara Berfalsafah (Philosophical State&lt;/em&gt;), bukan negara agama dan bukan sekuler. Falsafah negara ini adalah falsafah Pancasila. Ideologinya (ideological nation) pun bukan ideologi agama (entah Islam Syariah atau kristen/katolik atau lain2) atau ideologi sekuler (dari Barat: AS/Eropa, Oriental dll), tapi ideologi Pancasila (ideology of Pancasila). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Falsafah dan ideologi Pancasila&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara historis, sebenarnya sudah sangat jelas isi falsafah dan ideologi Pancasila. Yang dibutuhkan sekarang termasuk bagi generasi muda, adalah proses internalisasi dari falsafah dan ideologi ini, agar menjadi menjadi perdoman dalam hidup berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. &lt;br /&gt;a. Ketuhanan (spiritual, bukan agama atau ideologi agama tertentu), mengakui keragaman dalam keyakinan atau berTuhan di tengah kehidupan individu, komunitas dan masyarakat. &lt;br /&gt;b. Humanis/kemanusiaan berbasis lokal-nasional- global. &lt;br /&gt;c. persatuan Nasionalis indonesia, bingkai nasionalisme menjadi sangat penting dan perlu untuk penyatuan visi berbangsa, bernegara dan bermasyarakat secara bersama. &lt;br /&gt;d. Demokrasi yang plural dalam kerangka nasionalisme Indonesia, melalui sistem permusyawaratan (i.e. MPR) dan perwakilan (i.e. DPR/DPRD dan DPD). &lt;br /&gt;e. Keadilan sosial, yang sekaligus berciri sosialis berkeadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Indonesia adalah &lt;em&gt;Negara Berbudaya (Cultural State). &lt;/em&gt;Negara yang memiliki kebudayaannya sendiri yang bersifat unik dan khas, ditengah ragamnya jenis kebudyaaan di dunia, yakni kebudayaan dengan kepribadian/ jati diri Nusantara. Semua cipta dan cita rasa, postulasi, peralatan dan produk-produk kebudayaan yang dihasilkan negara, adalah berbasiskan kebudayaan serta jati diri Nusantara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Indonesia adalah &lt;em&gt;Negara Pendidikan (Educational State), &lt;/em&gt;yang berupaya terus menerus untuk mencerdaskan bangsanya, seluruh warganya, sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945, dengan penerapan Sistem Pendidikan yang berasas pada kepribadian jati diri kultur bangsa Indonesia sendiri, berdasar konteks daerah, budaya dan sikon seluruh daerah di Indonesia, dengan tidak menafikan pentingnya pembelajaran hal-hal positif yang berasal dari luar (sistem pendidikan Barat/AS, Jepang, Oriental, Eropa/Belanda, sistem pendidikan Pesantren/Ponpes (Islam), pembelajaran pola Biara Katolik/Kristen, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Indonesia adalah &lt;em&gt;Negara Sosial (Social State), &lt;/em&gt;yang berjuang untuk terus mempertahankan semangat solidaritas dan kesetia-kawanan sosial dan pelestarian lingkungan (alam). Upaya peningkatan kesejahteraan lahir-batin dari seluruh rakyat tanah tumpah Indonesia, terutama bagi kalangan2 marjinal spt kesejahteraan dan hak para buruh, guru, anak, kaum perempuan, nelayan, petani, kaum minoritas suku-suku terasing perlindungan budaya lokal, dan sejenisnya. Sehingga dengan demikian dapat tercipta bukan sekadar pemerataan tapi semangat kesetaraan (ekualitas) yang berdampak kepada peningkatan kemajuan secara bertahap dalam aspek kuantitas dan kualitas bangsa secara keseluruhan dan tetap terpeliharanya kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan hidup di bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Indonesia adalah &lt;em&gt;Negara Ekonomi (Economical State).&lt;/em&gt; Negara yang mengembangkan sendiri sistem-ekonominya sendiri, dengan prinsip berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), dengan nilai2 kerakyatan, keadilan dan kejuangan kewirausahaan, baik kewirausahaan sosial maupun ekonomi; Tidak serta merta hanya tau menadah tangan, meminta bantuan dari Luar Negeri, investor, kontraktor dan mitra asing pihak luar. Namun juga mampu mengembangkan kemampuan teknologi dan manajemen-knowledge nya sendiri guna mengelola sumber daya alam yang dimiliki menjadi sumber kesejahteraan bagi hajat hidup orang banyak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Indonesia adalah &lt;em&gt;Negara Politik (Political State), &lt;/em&gt;yang bercirikan politik bebas-aktif, dimana Indonesia wajib turut-serta baik ke dalam maupun ke luar untuk menjalankan kebijakan politik yang netral, independen sekaligus aktif terutama dalam mengupayakan perdamaian dunia. Tidak memihak baik ke kutub Barat, Timur, peradaban Islam (Timur Tengah), Afrika ataupun Latin Amerika. Namun, bisa mengimpartasi hal-hal positif dari itu semua untuk peningkatan kesadaran berpolitik serta kebijakan politik yang diambil di berbagai lini kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Indonesia adalah &lt;em&gt;Negara Hukum (Lawful State), &lt;/em&gt;yang mendasari seluruh perangkat hukum dan penegakkannya berdasarkan sistem hukum Indonesia dengan ciri Indonesia. Bukan semata sistem hukum warisan kolonial Belanda, bukan sistem hukum Syariah'isme Islam dan bukan pula sistem hukum Liberalisme Barat atau yang umum berlaku di negara2 Persemakmuran (Commonwealth Laws). Indonesia harus mampu menciptakan Sistem Hukumnya sendiri secara Nasional yang sesuai dengan kebutuhan, konteks dan falsafah 5 sila dalam Pancasila (Spiritual, Humanis, Unity/Nasionalisme, Demokrasi Plural, Sosialis berkeadilan) . Secara sistem hukum, hukum Pancasila lebih condong kepada pola sistem hukum yang sebagaimana berlaku di Negara Demokrasi Sosialis guna mewujudkan Keadilan seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Indonesia adalah &lt;em&gt;Negara Demokrasi (Democratical State), &lt;/em&gt;yang menjunjung asas sosialisme, HAM yang berkeadilan demi kemandirian, kemajuan dan kesejahteraan bangsa; yang berlandaskan demokrasi Pancasila, demokrasi sosialis dan humanis; dan prinsip serta nilai2 yang bisa berlaku lokal-nasional dan global. Tercapaikan keamanan, perdamaian, toleransi, kesetaraan dan keadilan berdasar dari falsafat dan kepribadian/ budaya bangsa, keberdikarian nasional pelaku ekonomi, dst, adalah tujuan dari proses demokratisasi yang sedang berlangsung sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian tinjauan reflektif dari suatu pemikiran holistis dari pemahaman Indonesia sebagai satu negara yang Bukan Negara Agama, dan juga Bukan Negara Sekuler, yang kembali banyak diwacanakan dan diperdebatkan akhir-akhir ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BN/1 Mei 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonymous said... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata benar lagi untuk Indonesia yang toleran. Kebencian kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas turut didukung negara sebagai alat untuk melakukan intimidasi terhadap berbagai kepentingan politik terselubung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia telah hancur dari dalam dirinya. Hanya Indonesia negara yang menganggap dirinya demokratis yang memiliki Peraturan dalam bentuk Syariat yang tak pernah tercantum dalam kesepakatan yang telah dibangun para Founding Father. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia hanya sebuah negara yang tak mengenal dirinya sebagai negara, tetapi dia mengenal dirinya sebagai tempat para pemilik kekuatan bercokol. Ibarat "katak dalam tempurung". Jagonya di dalam, diluar seperti cacing kepanasan. Lihat saja kondisi sekarang ini. Indonesia dihempas oleh krisis global yang selalu dianggap oleh yang mengaku dirinya pakar "tidak apa-apa". Tapi apa yang terjadi? Rakyat miskin yang hancur lebur karena fundamental ekonomi mereka terpuruk, terseret oleh kepentingan elite yang tak punya moral dan otak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik rakyat membangun kekuatan untuk memecah negara ini, agar negara ini tidak terlalu besar untuk memikirkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;October 13, 2008 1:57 AM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-1818761834629353519?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/1818761834629353519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/05/indonesia-bukan-negara-agama-bukan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1818761834629353519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1818761834629353519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/05/indonesia-bukan-negara-agama-bukan.html' title='Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler! (Refleksi dr suatu Pemikiran Holistis).'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-3841054687114062337</id><published>2008-05-01T01:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-01T02:23:15.647-07:00</updated><title type='text'>1 Mei 2008: Selamat hari kenaikan Tuhan Kita, Yesus Kristus!</title><content type='html'>Saudara/i yang terkasih di dalam Kristus, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selamat hari kenaikan Tuhan Kita, Yesus Kristus! &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Biarlah dengan kenaikan Tuhan kita ke Sorga, akan meningkatkan serta menaikkan pula kesadaran dan pemahaman kita akan segenap persoalan dan berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita, yang dihadapi kekristenan dan bangsa ini; disertai keyakinan bahwa akan semakin kuat pula iman, pengharapan dan kasih kita kepada Dia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia, Kristus, yang telah naik ke Sorga akan datang kembali pula (ke bumi) dengan cara yang sama. Bagi Dialah segala kemuliaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;God bless you all!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-3841054687114062337?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/3841054687114062337/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/05/1-mei-2008-selamat-hari-kenaikan-tuhan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3841054687114062337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3841054687114062337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/05/1-mei-2008-selamat-hari-kenaikan-tuhan.html' title='1 Mei 2008: Selamat hari kenaikan Tuhan Kita, Yesus Kristus!'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-408758177570788379</id><published>2008-03-23T02:40:00.000-07:00</published><updated>2008-03-26T03:09:22.575-07:00</updated><title type='text'>Paskah 2008: New Leadership for Body of Christ and New Indonesia!</title><content type='html'>Selamat Paskah 2008! &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Because He lives, we can together face tomorrow!!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyambut hari raya Paskah, hari kebangkitan Kristus Yesus Tuhan tahun ini, sengaja saya memasukkan artikel tulisan dari team Teleia Resource Center (TRC)Indonesia, yang dimuat pada group milist "Aliteia" (forum Aliansi Kristen Indonesia Anak bangsa) beberapa hari yang lalu. Barangkali ini dapat dipakai sebagai renungan kita terkait wacana dan ekspektasi "New Leadership for Body of Christ and New Indonesia". Saya sertakan juga beberapa tanggapan ataupun komentar dari rekan-rekan di milist tersebut. Menurut saya, signifikansi untuk konteks sekarang dan hari ke depan dari ekpektasi akan kebutuhan gereja2 tubuh kristus dlm kesaksian di tengah2 pergumulan masyarakat, bangsa dan negara tercinta ini, sangatlah relevan. Sangat logis, expectable dan tidak ilusif dibuat-buat utk dipersiapkan, didoakan dan diperjuangkan bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga berguna! Tuhan memberkati kita!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Paskah 2008: Kepemimpinan Baru di Tengah Umat Pilihan Allah Pengikut Kristus di Indonesia. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;strong&gt;Teleia Resource Center (TRC) Indonesia. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai makna Paskah dalam kaitan dengan perkembangan dan kehidupan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, menjadi relevan untuk didoakan, dibicarakan dan digumulkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai dasar perenungan, kita perlu memahami makna peristiwa Paskah dalam Alkitab baik di PL maupun di PB. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; di PL kita tidak bisa lepas dari peristiwa keluarnya umat pilihan Allah bangsa Israel kuno di bawah kepemimpinan Musa dan Harun yang betul-betul eksis, keluar hijrah dari tanah perbudakan di Mesir di bawah penindasan Firaun. Lewat kepemimpinan Musa dan Harun itulah, umat pilihan dipimpin dituntun dari tanah Mesir selama 40 tahun di padang gurun dan kemudian lewat kepemimpinan Yosua umat Israel mereka akhirnya berhasil masuk Tanah Perjanjian Kanaan, yang penuh susu dan madu.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua, &lt;/strong&gt;di PB sbg peristiwa klimaks 2000 tahun yang lalu, Kristus sbg tokoh sentral sang Messias yang telah ditunggu-tunggu, telah menderita sengsara taat sampai mati di kayu salib Golgota kemudian bangkit pada hari yang ketiga demi mengalahkan kuasa maut, dosa dan Iblis; untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya dari hukuman dosa. Kristus telah bangkit dan menang! Lahirlah gereja pertama, yaitu Umat Pilihan Allah imamat rajani, yang kudus, memberitakan Injil Tuhan, yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Allah yang ajaib. Lalu, selanjutnya lewat kepemimpinan para Rasul dan generasi pemimpin selanjutnya, umat pilihan Allah tubuh Kristus tersebut dipimpin untuk terus bertumbuh serta berkembang menjadi garam dan terang dunia, mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung-ujung bumi termasuk lewat berbagai peran zending dan misionaris, Injil dikumandangkan sampai ke Indonesia dan membuahkan orang-orang percaya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia. Sejak jaman kolonial Belanda sampai jaman kini, yang telah berlangsung ratusan tahun, untuk sejumlah generasi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari kedua momen Paskah di atas (PL dan PB) yang bisa dimaknai, sesungguhnya apa relevansinya bagi kehidupan dan perkembangan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia masa sekarang dan ke depan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1) Berita injil telah masuk ke Indonesia/bumi Nusantara selama ratusan tahun hingga sekarang ini, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, NTT, Papua dll. Lewat utusan zending atau misi dari Eropa, Amerika maupun dari negeri sendiri. Dari generasi ke generasi, telah eksis yang boleh dinamakan Umat Pilihan Allah pengikut Kristus, tubuh Kristus, yang ada di berbagai denominasi, aliran, kelembagaan formal dan non-formal dll melewati batas suku-suku, etnis, golongan, kepercayaan, dst. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(2) Tak dapat disangkal, bahwa sejalan dengan perkembangan pasang-surut gereja, pemerintahan dan rakyat di Nusantara/Indonesia ,  Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Kalau tidak ingin mengatakan, di dalam kesukacitaan mengikut Kristus telah secara riel mengalami bentuk2 penjajahan, penindasan, penyesahan, kemiskinan dan keterpurukan yang belum kunjung berhenti di berbagai aspek kehidupan (spiritual, pendidikan, kesehatan/gizi buruk, kebebasan beribadah, masalah sosial, ekonomi, budaya, bencana alam, dll). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(3)  Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia meyakini bahwa Allah tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya. Kristus tetap hadir sebagai Tuhan dan Juruselamat. Seperti halnya umat Israel di Mesir di jaman PL, Allah pasti mendengar keluh kesah yang dialami Umat PilihanNya di Indonesia. Allah pasti memiliki rencanaNya yang maha baik dan agung untuk Umat PilihanNya di Indonesia, yakni membawanya ke "Tanah Perjanjian Kanaan" lewat berbagai masa pembentukan dan penempaan guna menuju tempat atau posisi kehidupan yang berkualitas, penuh kemenangan, maju dalam kesatuan (seperti doa Tuhan Yesus "supaya mereka menjadi satu"), berkelimpahan dan berkesejahteraan (shalom).  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(4) Namun, yang menjadi permasalahan adalah untuk membawa Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia menuju "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan", Umat PilihanNya di Indonesia belum memiliki seorang pemimpin seperti Musa di PL atau para Rasul dan generasi pemimpin pilihanNya lainnya di PB, yang dimampukan untuk mempersatukan serta mempertautkan seluruh Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia. Pemimpin yang mampu berdiri di atas semua golongan, denominasi, berbagai aliran yang ada serta suku-suku, etnis dan golongan. Tercatat kini lebih dari 900 denominasi, aliran dan kelembagaan Kristen yang ada di Indonesia. Belum yang tidak tercatat atau tidak sempat didata. Maka, sudah sangat dirasakan dibutuhkan pada masa sekarang munculnya pemimpin atau pemimpin-pemimpin seperti "Musa dan Harun di PL" dan "Para Rasul di PB" untuk membawa keluar (hijrah) Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia dari kehidupan kolektif yang terjajah, tertindas, miskin dan terpuruk dalam berbagai aspek kehidupan seperti sekarang. Yang menyiapkan Umat Pilihan Allah di Indonesia siap masuk ke "Tanah Perjanjian Kanaan". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(5) Sepanjang sejarah Injil, pelayanan dan kesaksian Umat Pilihan Allah di Nusantara atau Indonesia; sejak jaman kolonial Belanda, jaman pergerakan nasional, revolusi kemerdekaan, jaman Orla, Orba/Soeharto sampai era Reformasi sekarang, memang tercatat banyak pemimpin Kristen yang telah muncul. Sebut saja, dari era Joseph Kam di Maluku, Nommensen di Tanah Batak, lalu di aras pemerintahan dan gereja seperti Dr J Leimena, Letjen Simatupang, JI Kasimo, Pdt Justin Sihombing, Mgr Leo Sukoto, Pdt SAE Nababan, Pdt Eka Dharmaputera, Pdt Soelarso Sopater, Pdt. Petrus Octavianus, Pdt Stephen Tong, Pdt Jeremia Rim, Pdt Yakob Nahuway, Pdt Yewangoe, J Parapak, Dr Iman Santoso, Pdt Jusuf Rony, Pdt Niko Nyotorahardjo, Pdt Daniel Alexander, Pdt Ruyandi Hutasoit, Pdt Petrus Agung dst. sampai pemimpin atau menyebut diri sebagai pemimpin dalam generasi yang lebih muda. Namun, harus diakui bahwa nama-nama pemimpin seperti di atas umumnya masih terbatas atau dibatasi tembok organisasi, asosiasi persekutuan, aliran, denominasi, batas ranah gereja dan sekuler/pemerintah, dsb. Belum muncul hingga sekarang ini, pemimpin atau pemimpin-pemimpin Umat PilihanNya di Indonesia yang betul-betul diutus Allah sekaligus bisa diakui diterima keberadaannya sbg pemimpin oleh segenap warga, unsur, denominasi, aliran, suku2, golongan, etnis dan bahasa dari Umat Pilihan pengikut Kristus di seluruh persada Indonesia.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(6) Maka, munculnya pemimpin atau pemimpin2 baru dari segenap Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang diutus Allah dan diterima oleh segenap kalangan Umat PilihanNya di Indonesia, yang mampu berdiri di atas semua golongan denominasi dan aliran yang ada (Katolik, Ortodoks Timur, Lutheran, Calvinis, Injili, Baptis, Pentakosta, Bethel, Karismatik dan non-denominasional lainnya). Mampu melewati tembok-tembok organisasi atau perhimpunan macam KWI, PGI, PGLII, PGPI, GGBI, KGBI, Bala Keselamatan, GBI, dst. Pemimpin baru yang seperti inilah yang barangkali sangat dibutuhkan untuk menuntun dan memimpin Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia, dalam roh kesatuan dan kebersamaan, berhasil memasuki "Tanah Perjanjian Kanaan" dan "Ujung-ujung Bumi" sebagai gambaran Umat Pilihan yang berkemenangan berkemajuan dan berkesejahteraan bebas dari keterpurukan. Sebagai dampak positipnya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia juga berhasil menerangi dan menggarami seluruh persada Nusantara/indonesia , dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain pula di dunia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(7) Pertanyaan berikutnya adalah kapan bilamanakah pemimpin baru seperti itu akan muncul di tengah Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia? Maka, semua memang harus didoakan dan digumulkan. Sebab, bila pemimpin yang benar-benar diutus Allah sekaligus bisa diterima oleh semua denominasi, golongan dan aliran dalam tubuh Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia saja belum ada (belum muncul), bagaimanakah Umat PilihanNya di Indonesia akan atau dapat tahu kemana arah tujuan mereka akan dibawa atau dipimpin berhijrah? Dimanakah "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" atau "Ujung-Ujung Bumi" itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk relevansi Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, dimanakah sesungguhnya "letak" atau "posisi" Tanah Perjanjian Kanaan yang akan dituju? Di Sorgakah atau di Bumi sebagaimana dinyatakan dalam kesaksian Kisah Rasul: "Ujung-Ujung Bumi?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika sudah muncul Pemimpin dari Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang benar-benar diutus Allah dan legitimate dalam pemandangan Umat PilihanNya ini, tentu pertanyaan tentang "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" bagi Umat Pilihan di Indnesia bisa akan serta-merta dijawab oleh si Pemimpin Baru tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selamat Paskah! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Teleia Resources Center (TRC)&lt;br /&gt;22 Maret 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beberapa komentar atas tulisan ini: &lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;medi Aob &lt;medi_aob@yahoo. com&gt; wrote:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;saya ckp setuju tuh..&lt;br /&gt;udah saatnya mmg brgkali tubuh kristus pengikut yesus as a whole &lt;br /&gt;di bangsa or republik ini jaman gene en ke dpn&lt;br /&gt;perlu banget didoain digumulkan munculnya &lt;br /&gt;tokoh2 pemimpin tubuh kristus baru &lt;br /&gt;yg sebisanya lbh acceptable secara rohani dan mgkn politis jg&lt;br /&gt;bs lbh diterima oleh sgala kalangan umat agama kristen &lt;br /&gt;(dari seluruh denom dr katolik, protestan, injili, pentakosta ampe karismatik)&lt;br /&gt;en acceptable juga di domain negara&lt;br /&gt;melebihi peran yg dulu2 mgkn udah dijalankan ama j leimena, tb simatupang,&lt;br /&gt;pdt eka darmaputera, pdt petrus octavianus, dll di jaman mereka&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;faktanye kan, pemimpin2 (pdt maupun non-pdt, dr kalangan gereja ato &lt;br /&gt;negara/non gereja) yg kt punya ampe skrg ini&lt;br /&gt;brgkali blom seperti yg diharapkan oleh seluruh kalangan &lt;br /&gt;tubuh kristus pengikut yesus dr slrh aliran, denom, dlsb di bangsa ini &lt;br /&gt;as a whole..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sangihe Willy &lt;sangihe.willy@ yahoo.com&gt; wrote:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya Bung, supaya bisa satu suara begitu Bung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;medi Aob &lt;medi_aob@yahoo. com&gt; wrote:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;iya lah bung.&lt;br /&gt;utk tantangan skrg slrh umat tubuh kristus pengikut yesus&lt;br /&gt;nurut sy perlu skale ke luar satu suara lebeh solid&lt;br /&gt;trtm dlm ngadepin pihak pemerintah or negara&lt;br /&gt;ngadepin pihak2 dr luar ato dalem yg &lt;br /&gt;ingin katakanlah "menyerang" kepentingan, ajaran yesus&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;yg ada skrg kan&lt;br /&gt;misal pendeta ato tokoh bragama kristen A, B ato C&lt;br /&gt;ketokohan ato kepemimpinannya msh dipertanyakan legitimasinya&lt;br /&gt;di semua kalangan umat tubuh kristus pengikut kristus as a whole&lt;br /&gt;kan kalo bicara lebeh condong utk kepentingan organisasinya &lt;br /&gt;ato perhimpunan organisasi2nya belaka&lt;br /&gt;(misal kepntingan utk PGI doank, kepentingan PLGII doang, GBI doank,&lt;br /&gt;perhimpunan karismatik doank dst)&lt;br /&gt;kalo begini kan gimana mao keluar satu suara mbulet&lt;br /&gt;suara masih tersekat-sekat di batasi tembok kepentingan perhimpunan&lt;br /&gt;organisasi2nya msg2&lt;br /&gt;belum ada yg di ranah negara bisa keterima&lt;br /&gt;di ranah seluruh gereja aliran dan ajaran kristiani pun diterima&lt;br /&gt;coba aja cari, sdh ada or sdh muncul nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Rama VD &lt;rama.vandalung@ yahoo.com&gt; wrote:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lho disebut saja deh tokoh-tokoh sekarang, Bung Medi&lt;br /&gt;Kalau ketokohan seperti Pdt Alex Abraham, Pdt Ruyandi, Letjen HBL Mantiri apa belum atau tidak aspiratif Pak?  Atau mungkin kepemimpinan seperti Pdt Dr I Wayan Mastra dari Bali pak, belum bisa jadi representasi kita semua? Pdt Gilbert Lumoindong, pendeta yang dari NTT itu.. Pdt Dr Yewangoe misalnya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;Rama VD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;medi Aob &lt;medi_aob@yahoo. com&gt; wrote:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;belum lah brother rama&lt;br /&gt;nama2 yg brohter sebut itu kalo nurut saya &lt;br /&gt;belum 'menyuarakan' ato jd 'penyambung lidah' (pake istilah bk neh)&lt;br /&gt;hati nurani (roh, rohani en kebutuhan politikal) dari seluruh kalangan &lt;br /&gt;tubuh kristus universal di bangsa ini&lt;br /&gt;masih berkutat pd kepentingan dhewek nya doank euy..&lt;br /&gt;sorry neh&lt;br /&gt;nurut saya belum lah brother...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;pendapat balik TRC sendiri gimana neh...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Trc Indonesia &lt;trc.indonesia@ yahoo.com&gt; wrote:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Dari berbagai hasil penelusuran kami di dalam kalangan umat Kristus scr umum di banyak daerah, denominasi, etnis, suku dll, scr umum mengakui bahwa realitanya selama 10-20 tahun terakhir telah terjadi krisis kepemimpinan dalam dunia kristen sendiri di tengah bangsa ini. Ekspektasinya sebenarnya tidak muluk-muluk, bagaimana untuk era kini dan yad, baik untuk ranah spiritual-injil- agama-teologi- gereja maupun ranah pengabdian negara/politik- budaya-sosek- society-techno- creativity- lingkungan) , diharapkan boleh/bisa muncul "New Leadership for Christ's body and New Indonesia" yang takut akan Tuhan dari kalangan umat Kristus generasi pelanjut. Pemimpin-pemimpin umat Kristus yang boleh/bisa diterima (acceptabilitynya tinggi) oleh banyak kalangan yang lebih luas dibanding leaders di kalangan umat yang dulu-dulu, oleh banyak kalangan dari berbagai aliran denom sub denom etnis suku yg ada di negeri ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemimpin umat Kristus, baik scr individu maupun kolektif yg memiliki daya kohesif yg besar, tdk hanya mampu diterima di dalam kandang, tembok, kotak (box), komunitas atau streamnya sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam kami,  &lt;br /&gt;TRC.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-408758177570788379?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/408758177570788379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/03/selamat-paskah-2008-because-he-lives-we.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/408758177570788379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/408758177570788379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/03/selamat-paskah-2008-because-he-lives-we.html' title='Paskah 2008: New Leadership for Body of Christ and New Indonesia!'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-6506690438200175561</id><published>2008-03-06T02:33:00.000-08:00</published><updated>2008-03-26T02:39:34.401-07:00</updated><title type='text'>Sharing Umum Saya/Kami tentang Papua Sekarang.</title><content type='html'>Ini sharing umum saya/kami tentang Papua sekarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Base camp misi pelayanan saya/kami - El Trinitas Ministry Indonesia/Lembaga Pintu Gerbang Timur Indonesia (Eastern Gate, Indonesia) sejak 2005 ada di Papua. Saya kerap beberapa kali ada dan tinggal di Papua dalam rangka misi pelayanan. &lt;br /&gt;Kadang tinggal di beberapa daerah Papua sampai 4 minggu-1 bulan, tiap kali kunjungan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam interaksi kami, kami berusaha "mendengar" suara (mudah2an suara hati ya) ckp banyak elemen2 pihak-pihak yang ada di Papua sekarang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tujuan misi pelayanan kami adalah untuk pemberdayaan gereja, lembaga, komunitas dan masyarakat Papua ("Go East Mission") --  sesungguhnya juga untuk pemberdayaan "kantong-kantong Kekristenan" lainnya spt di Maluku, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa &amp; Bali yang kami yakini merupakan fakta yang sudah harus dijalankan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Papua dalam pandangan kami adalah pintu gerbang timur Indonesia sebagai pijakan penting bagi pemulihan/bangkitnya negeri ini. Pertama, bagi Papua sendiri. Kedua, bagi Indonesia tercinta. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Situasi umum (menurut pandangan kami) ttg Gereja-Gereja di Papua sendiri.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada gereja khususnya yg non-katolik yang masih betul2 independen thd intervensi Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Tapi tak sedikit juga gereja-gereja yang katakanlah sudah "terkooptasi" dgn kepentingan Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Terkait dgn dana tentunya. Dana Otsus Papua. Karena yg menjadi majelis pimpinan gereja2 dan "penyokong" dana gereja adalah mayoritas para birokrat Pemda, kaum profesi perusahaan/pengusaha papua. Sehingga suara gereja2 demikian ini cendrung sama suaranya dgn yang disuarakan dgn Pemerintah/Pemda dan kaum profesi perusahaan/pengusaha tmsk TNC/MNC (korporasi global) di papua. Gereja keuskupan katolik spt misalnya di Agatz, Sorong, Merauke, relatif masih lebih indenpenden di banding gereja2 yang non-katolik. Ada relatif sedikit pendeta yang tidak/belum terjun praktis dalam parpol. Tapi kian hari lebih banyak jumlah pendeta kristen dari gereja-gereja di papua yang terjun praktis aktif di parpol. Paling banyak tersebar turut politik praktis di PDI-P, Golkar, Demokrat, PDS, dst. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Situasi umum Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 di Papua&lt;/strong&gt;Di Jayapura, Merauke, Sorong dll secara umum relatif semakin tidak banyak menurut kami yang masih yakin terhadap peran gereja di papua untuk mampu lebih signifikan dan independen menyuarakan suara Gereja, yang niscaya berbeda dgn apa yang disuarakan oleh Pemerintah/Pemda papua dan kaum profesi/perusahaan. Secara heuristik, cukup banyak dari mereka yang memilih berpandangan Sekularis, bahkan menurut kami ckp banyak juga yang mengaku kembali kepada kepercayaan tradisional mereka - kepercayaan orang Papua kpd leluhur mereka. Sebagian lagi membangun persekutuan2 (doa) kristen sendiri di luar/di samping Gereja. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Situasi umum Pemda2 Birokrasi di Papua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Relatif sangat sibuk juga dgn pengelolaan dana otsus yg diberikan Pemerintah Pusat. Sesuai amanat SBY, penyaluran dana otsus selain disalurkan melalui birokrasi pemerintah/Pemda2, disalurkan juga melalui lembaga-lembaga keagamaan. Melalui mayoritas gereja-gereja non-katolik di wilayah Papua bgn utara, dan mayoritas lewat gereja-gereja katolik di wilayah Papua bgn selatan. Ckp besar juga dana disalurkan kpd lembaga2 islam seperti yg dilakukan di Merauke, Sorong, dll. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Situasi umum perusahaan2 TMC/MNC di Papua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Umumnya kegiatan penambangan dan ekspoitasi kayu hutan (contoh: kayu gaharu papua)terus dilakukan, spt Tangguh Project/Bintuni, Freeport/Timika, Korindo kayu Korea di Merauke, dll meskipun berbagai kritikan terus bermunculan dari pelaku2 LSM/NGO lokal, nasional yg didukung oleh LSM/NGO internasional terutama yg bergerak di bidang pemberdayaan sosial, filantropis dan pelestarian lingkungan. Program2 community development coba diterapkan oleh perusahaan TMC/MNC Papua itu. Ada yg antara lain menerapkan konsep "Enterprises Resource Development Center" (EDRC) oleh perusahaan British Petroleum di Bintuni, namun konsep itu nampaknya tidak semudah yang dipikirkan atau direncanakan. Beberapa aktivis LSM sosial-ekonomi dan social workers yang cendrung mau kooperatif - LSM/NGO pro kebijakan TMC/MNC (bukan LSM/NGO independen yg boleh disebut masih memiliki idealisme sbg LSM) coba untuk terus direkrut oleh perusahaan TMC/MNC ini. Namun, apa yang telah diretas dgn konsep sejenis EDRC ini masih saja relatif belum dapat memenuhi ekspektasi ckp banyak elemen-elemen masyarakat lokal di Papua, antara lain LSM/NGO yg tidak pro kebijakan TMC/MNC dan relatif mayoritas Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 dan masyarakat lokal indigenous di Papua. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Situasi umum Masyarakat asli Papua sendiri. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagian sudah bersekolah bahkan sampai PT (spt di Uncen, Univ/sekolah2 tinggi di Merauke, Manokwari, dll), namun masih relatif sangat banyak yang belum mau bersekolah. Yang hidup dengan "meramu" (hidup primitive hanya tergantung langsung dari hutan, sungai dan pantai) masih sangat banyak bersebaran. Anak-anak asli papua untuk di asrama kan, dibiasakan dgn pola hidup asrama, pun sangat sulit. Jumlah asrama pun masih minim. Lebih suka hidup "melanglang" di hutan, di pantai laut, di pinggiran sungai, dll. Ini dijumpai banyak sekali di Merauke, Boven Digul, Mappi, Pantai Kasuari, Peg Bintang, Kaymana, Nabire, dst. Kehidupan yang tidak mau sekolah, kesehatan sangat minim spt ini, menjadikan anak2 Papua juga masih sangat terikat dgn kebiasaan "ngelem", minum/mabok, makan pinang dan membuangnya sembarangan, tawuran massal/perkelahian massal, perang antar suku, hidup seks bebas ala tradisional (menyebar HIV Aids), kebiasaan mencuri juga, malas dan hanya mau minta2 sama orang, dll. Hidup dgn alat musik tifa di rumah2 adat mereka, merupakan pemandangan biasa. Sebagai contoh saja, untuk kalangan gereja katolik semisal di Asmat/Agatz belum ada satu orang pun anak asli papua yang mampu ditahbiskan jadi pastor orang asli sampai tahun 2008 ini di era abad 21 ini. Koteka masih ckp banyak ditemui di Pantai Kasuari, Wamena, Peg Bintang, Atsy, dll, yang akrab dgn kehidupan sungai2 panjang melintasi papua dan sarat dgn buaya. &lt;br /&gt;Sangat banyak jumlah sub-etnis di Papua. Tahun 2008 tercatat ada sekitar 251 sub etnis/suku-suku yang berbeda bahasa, dialek dan jenis2 tari2annya di seluruh Papua. Yang menyatukan bahasa mereka, apalagi kalau bukan bahasa melayu indonesia khas papua. Seperti kata-kata: "mo pi mana", "so pi apa", dll. Secara adat dan budaya lokal, sebagian kepentingan mereka relatif terwakili lewat wadah Majelis Rakyat Papua (MRP).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Situasi umum Masyarakat Pendatang.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Paling banyak berasal dari Makassar, Jawa, Bugis, Buton, Toraja, Tual Maluku, Sulut dan akhir2 ini dari sebagian lagi Tionghoa/Cina, Bali dan Batak. Paling banyak sebagai pengusaha dari skala kecil dan sedang, birokrasi Pemda, profesional staff karyawan, polisi/tentara, aktivis LSM dan guru/pendidik. Bule2 dari Eropa dan Amerika yang datang ke papua umumnya untuk tujuan bisnis TNC/MMC, aktivis LSM dan kepentingan gereja. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Situasi umum Lingkungan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hutan yang menghiasi Papua, sungai pantai dan air, dari Sorong Manokwari sampai Kaymana. Dari Mimika Timika sampai Agatz. Mappi Merauke sampai Boven Digul. Jayapura sampai Keerom. Wamena sampai Peg Bintang. Nabire sampai Biak. masih boleh dikatakan lebih relatif hijau dgn seluruh garis pantai kebiru-biruan. Meski kayu gaharu semakin sulit untuk diperoleh sekarang. Hutan sedikit demi sedikit mulai tertebas. Tapi memang bila dibandingkan hutan sumatera, kalimantan dan sulawesi, papua memang belum "serusak" tiga pulau utama lainnya ini. Papua kini menjadi satu2nya pulau besar yg boleh dibilang di negeri ini yg menjadi last-ressort, benteng lingkungan terakhir, yang relatif belum terusakkan. Apakah pulau besar ini juga akan menjadi rusak lingkungan alamnya? Generasi ini yang bisa menjawabnya!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Situasi umum lainnya terkait pihak kepolisian dan TNI &lt;/strong&gt;, yang menjaga teritorial dan keamanan dan ketertiban, tidak jauh berbeda dgn kondisi polisi dan TNI di wilayah-wilayah "luar" dan "terluar" dari Pusat Jakarta. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Mereka juga nampaknya berupaya bagaimana bisa survived. Upaya2 untuk mengcreate dan mengelola konflik baik melalui isu GPM, persoalan lintas batas semacam di wilayah Keerom dan sebelah timur Merauke (dgn Papua Nuigini) dan daerah2 konflik pedalaman lainnya, fenomena ini selalu ada. Tidak saja untuk kepentingan Pusat, kepentingan TMC/MNC, tapi terlebih juga untuk kepentingan (ekonomi) sendiri/korps sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah.., dari sekian informasi situasi umum yang telah saya/kami sharingkan di atas (minimal dari cara pandang kami), saya atau kami ingin sampaikan: Jika kemudian ada perbedaan pendapat, pandangan atau apa saja tentang Papua dan apa yang terjadi di Papua, -- bahkan bertolak belakang sekalipun ---, maka latar belakang situasi umum di atas ini barangkali dapat membantu sedikit dalam mengungkapkan mengapa sampai terjadi kesenjangan2 dari perbedaan tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bisa ditelusuri apakah itu karena merosotnya faktor iman, peran signifikansi gereja yg semakin melemah, faktor pilihan kebijakan pimpinan birokrasi Pemda birokrasi pengusaha dan generasi muda, perbedaan latar belakang keilmuan, kecendrungan arah faham kapitalis atau sosialis, faktor egoisme atau kepentingan uang, faktor pelestarian lingkungan atau kesenjangan antara orang asli indegenous dan kaum pendatang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-6506690438200175561?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/6506690438200175561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/03/sharing-umum-sayakami-tentang-papua.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6506690438200175561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6506690438200175561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/03/sharing-umum-sayakami-tentang-papua.html' title='Sharing Umum Saya/Kami tentang Papua Sekarang.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-3301257354735611109</id><published>2008-02-07T04:11:00.000-08:00</published><updated>2008-02-07T04:17:06.413-08:00</updated><title type='text'>Mandat Pelayanan Pemberitaan Injil dan Pengentasan Kemiskinan Sosial-Ekonomi Jemaat/Pendeta. Dapatkah keduanya dilakukan seiring sejalan?</title><content type='html'>Pertanyaan ini sering terlontar di tengah kalangan pemimpin/umat kristen. Di berbagai daerah, terutama juga di daerah-daerah terpencil, marjinal (seperti contoh bonapasogit) yang membutuhkan sekali pola kesaksian, pelayanan dan pertumbuhan gereja yang bisa makin bertumbuh berkembang semakin kuat dan sehat. Ditopang oleh berita Injil yang kuat dan kebutuhan sosial ekonomi jemaat/pendeta tercukupi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jawab untuk pertanyaan pertama ini untuk konteks keadaan sekarang, bisa dijawab "dapat", bisa pula "tidak dapat" atau "tergantung" . &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Dapat" &lt;/strong&gt;jika gereja atau komunitas kristen disertai pemimpin2 dan umat kristen di dalamnya sangat menyadari dan memiliki kemampuan dalam menjaga visi, bahwa keduanya (pelayanan pemberitaan Injil dan pengentasan kemiskinan sosial ekonomi) harus dijalankan beriringan. Namun, di antara keduanya harus memiliki prioritas. Mana yang lebih utama, lebih ultimate? Pelayanan pemberitaan Injil atau kemandirian sosial-ekonomi. Sejatinya dan ini menurut penulis, bahwa antara keduanya tetap pelayanan pemberitaan Injil tetap merupakan hal yang lebih utama, bila dibandingkan dengan kemandirian di bidang sosial-ekonomi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Tidak dapat"&lt;/strong&gt; jika gereja atau komunitas kristen dengan pemimpin2 dan umat kristen di dalamnya tidak pernah menyadari bahwa keduanya harus dilakukan secara berbarengan. &lt;br /&gt;Hanya meyakini bahwa gereja dipanggil semata untuk pelayanan pemberitaan Injil, pelayanan rohani/spiritual. Pelayanan pengentasan sosial ekonomi warga jemaat bukanlah tugas gereja. Ketidak-sadaran mengenai hal ini bila disertai pula dengan ketidak-mampuan melakukan keduanya, menjadikan gereja atau komunitas kristen benar2 tidak dapat melakukan keduanya seiring sejalan. Lebih jauh lagi, jawabnya "sangat tidak dapat" bilamana gereja atau komunitas kristen dengan pemimpin2 dan umatnya faktanya tidak menyadari bahwa keduanya (pelayanan pemberitaan Injil dan pengentasan kemiskinan sosial ekonomi jemaat/pendeta) sangat urgen dan penting untuk dijalankan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Tergantung"&lt;/strong&gt; bilamana memperhatikan sikon di mana gereja atau komunitas kristen berada. Jika gereja atau komunitas kristen berisi kalangan yang hampir semua tidak memiliki persoalan yang berarti dalam tuntutan kebutuhan sosial-ekonomi jemaat/pendeta, maka keduanya "tidak dapat" atau tepatnya "tidak perlu" keduanya dilakukan berbarengan. Cukup yang jadi perhatian adalah tugas panggilan pemberitaan Injil. Atau sebaliknya, jika gereja atau komunitas kristen selama ini telah menjalankan mandat pelayanan pemberitaan Injil dengan baik, excellent.., maka keduanya pun tidak perlu dilakukan berbarengan. Cukup lebih memberikan perhatian kepada tuntutan kebutuhan sosial ekonomi jemaat/pendeta, jika memang itu dibutuhkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika jawabnya keduanya "dapat" dilakukan berbarengan. Pertanyaan kedua, adalah bagaimana kira2 cara (the way) agar keduanya bisa dijalankan secara berbarengan secara baik dan benar agar gereja atau komunitas kristen bisa tetap bertumbuh kembang scr sehat?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan kedua ini, nyatanya berdasar pengalaman empiris tidak dapat serta-merta. Karena mungkin membutuhkan persyaratan2, pra-syarat2. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prasyarat pertama.&lt;/strong&gt; Harus ada pemimpin2 gereja atau komunitas kristen yang mampu menjaga visi, agar tugas panggilan pelayanan pemberitaan Injil (di samping tugas panggilan gereja/kristen lainnya) tetap menjadi yang lebih penting dari pada aspek pengembangan sosial-ekonomi jemaat/pendeta. Tidak boleh/tidak bisa dibalik. Peran ekonomi sosial menjadi jauh lebih penting, lebih menyita perhatian dan pikiran, dari pada mengemban tugas panggilan pelayanan/pemberita an Injil dan tugas2 utama lainnya dari gereja/kekristenan. &lt;br /&gt;Aspek ekonomi/sosial ekonomi adalah support. Yang utama, adalah tetap pelayanan pemberitaan Injil. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prasyarat kedua.&lt;/strong&gt; Pemimpin2 gereja atau komunitas kristen harus bisa mengatur dan mengelola para leaders/SDM gereja atau komunitas kristen dalam prinsip manajerial "the right man woman in the right place", mana yang memiliki talenta bakat kapasitas dan kemampuan dalam hal2 berikut:&lt;br /&gt;- Lebih pantas dan cocok sebagai theolog murni. &lt;br /&gt;- Lebih pantas dan cocok sebagai theolog gereja (pendeta/gembala jemaat, pelayan Injil)&lt;br /&gt;- Lebih pantas dan cocok sebagai pendeta-profesional atau "tent-maker pastor", pendeta pelayan Injil yang memiliki kemampuan baik pula dalam mengelola usaha sosial ekonomi secara baik dan profesional. &lt;br /&gt;- Lebih pantas dan cocok sebagai profesional (ekonom, sosiolog, akuntan, dokter hewan, insinyur, sekretaris, ahli komputer, karyawan koperasi, kontraktor, dll). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika seorang/kumpulan pendeta lebih pantas dan cocok sebagai theolog murni (pure theolog) atau theolog gereja atau sebut saja pendeta/gembala jemaat pelayan Injil, maka akan lebih baik tidak memaksakan keinginan diri atau dipaksakan menjadi misalnya pengurus atau pengelola sebutlah usaha menengah mikro UKM, koperasi dalam lingkungan gereja/gereja2, atau usaha bernuansa ekonomi lainnya yang berorientasi untuk generating income. Jika tetap dipaksakan, maka secara empiris faktanya hasilnya bisa tidak baik, tidak credible/accountabl e. Malah dapat mengganggu kesaksian dan pelayanan ybs sebagai tugas utama sbg theolog, pendeta/gembala jemaat dan atau pelayan pemberita Injil. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang terbaik untuk memungkinkan tugas kedua hal di atas dapat berjalan dengan baik dan bertanggung- jawab adalah dengan memberi kesempatan kepada mereka yang berbakat talenta kapasitas sebagai "pendeta-profesiona l" atau "tent-maker pastors" dan juga para profesional kristen (termasuk yang muda) untuk menjalankan roda usaha menengah mikro UKM, koperasi, program income-generation, model LSM volunteers lokal di lingkungan gereja/kekristenan. Mereka akan lebih memahami dan menguasai bidang pekerjaan sosial-ekonomi seperti ini, dan untuk para "pendeta-profesiona l" atau "tent-maker pastor" yang terpilih dan ditempatkan di sana, akan diharap mampu menempatkan tugas program pengentasan sosial ekonomi jemaat/pendeta ini sebagai "support" bagi tugas utama gereja/kekristenan yaitu tugas pelayanan pemberitaan Injil berikut mandat panggilan pelayanan gereja/kristen lainnya, sesuai visi misi gereja &amp; kekristenan sejatinya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para profesional dan kalangan menengah kristen di kota-kota besar diluar daerah terpencil (misal di luar bonapasogit, seperti dari Jakarta, domisili global) dan kaum marjinal pun bisa dilibatkan secara intensif dalam suatu gerakan. Bukan saja dalam hal sokongan pemberian dana atau donasi - baik dalam jumlah kecil sedang atau besar - tapi terlebih dari itu bisa dimintakan sumbangan pemikiran konsep pengembangan gagasan ide2 berikut skills keahlian keterampilan2 yang dipunyai oleh mereka. Utamanya tentu yang terkait dengan bagaimana cara menumbuh-kembangkan SDM kelembagaan sosial ekonomi gerejawi/kristen, media serta keterampilan sosial ekonomi jemaat/pendeta beserta keluarganya yang membutuhkan peningkatan. Para profesional dan kelas menengah kristen ini barangkali juga bisa dilibatkan sebagai anggota koperasi, anggota LSM volunteers kristen, pengurus, pengawas, sebagai advisor pembina dlsb. "secara jarak jauh" di tingkat lokal sekalipun. Meskipun mereka tinggal di kota besar seperti Jakarta atau di mancanegara. Namun, suatu waktu bisa punya kesempatan mengunjungi lembaga2 lokal daerah2 lokal yang di sokong mereka dengan uang/donasi, waktu, keahlian atau pemikiran. Jika mereka adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan dan terbuka hati untuk menolong sesama seiman yang berkekurangan, maka mereka tentu akan sangat bersukacita bisa terlibat dan dilibatkan secara lebih aktif pro aktif dalam gerakan di tingkat lokal sekalipun. Hal ini sangat sesuai dengan spirit desentralisasi dan otonomi lokal daerah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prasyarat ketiga.&lt;/strong&gt; Pertumbuhan jemaat gereja/komunitas kristen yang baik sebenarnya adalah jika secara sosial ekonomi warga jemaat gereja/komunitas kristen dapat diberdayakan serta ditingkatkan secara nyata oleh "para pemimpin2 influencers pemberdaya Kristen" disertai pertumbuhan iman kerohanian jemaat yang sehat dan berkembang. Maka sudah seharusnya sudah menjadi kenyataan bahwa kondisi ekonomi para pendeta theolog gereja gembala jemaat pelayan pemberita Injil akan meningkat pula. Tak perlu mempermasalahkan lagi persoalan tuntutan hidup, kebutuhan perut, sosial ekonomi. Sebab itulah, sebenarnya yang harus lebih banyak dibantu lebih dahulu adalah usaha-usaha mikro, UKM, dll dari warga jemaat gereja/kristen. Namun, menurut pengalaman empiris, hasilnya tak dapat dilihat secara cepat. Membutuhkan waktu dan proses. Maka dari itu, akan lebih baik, bila prasyarat ketiga ini harus dibarengi pula oleh upaya2 untuk melakukan/memenuhi prasyarat pertama dan kedua. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah.., jika hal-hal ini bisa diwujud-nyatakan dengan benar, maka mandat pelayanan pemberitaan Injil dan pengentasan sosial ekonomi jemaat/pendeta, niscaya akan dilakukan keduanya secara berbarengan.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kiranya Kristus Tuhan akan menolong dan memberkati kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-3301257354735611109?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/3301257354735611109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/02/mandat-pelayanan-pemberitaan-injil-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3301257354735611109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3301257354735611109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/02/mandat-pelayanan-pemberitaan-injil-dan.html' title='Mandat Pelayanan Pemberitaan Injil dan Pengentasan Kemiskinan Sosial-Ekonomi Jemaat/Pendeta. Dapatkah keduanya dilakukan seiring sejalan?'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-1909855522384013361</id><published>2008-01-28T07:26:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T00:05:55.093-08:00</updated><title type='text'>Bagi Umat/Pemimpin Kristen: Pelajaran Berharga Apakah yang Dapat Diperoleh dari Sosok Kepemimpinan "Pemimpin Besar" Soeharto?</title><content type='html'>Informasi dari Transforma Sarana Media (TSM/NS-08. Jan 2008). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagi Kita Umat/Pemimpin Kristen di Indonesia: Pelajaran berharga sangat penting apakah yang sesungguhnya dapat kita peroleh dari Sosok Kepemimpinan "Pemimpin Besar" Soeharto? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita sudah ketahui bersama, Pak Harto mantan presiden (presiden ke-2) Republik ini, telah wafat pada hari Minggu siang kemarin, tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta dalam usia menjelang 87&lt;br /&gt;tahun. Pak Harto wafat karena gagal multiorgan setelah dirawat selama 24 hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liputan media cetak dan elektronik termasuk hampir semua channel TV pusat dan lokal propinsi begitu sangat luar biasa, sejak masuknya kembali Pak Harto ke RSPP untuk dirawat intensif untuk kesekian kalinya di awal tahun 2008 ini hingga upacara persemayaman di Jl Cendana Menteng Jakarta mulai Senin pagi 28 Januari 2008, berlanjut iring-iringan ke Lanud Halim Perdanakusumah untuk kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Pak Harto di Astana Giribangun Karang Anyar Solo, Jawa Tengah pada siang itu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai komentar, perbincangan, editorial, tanggapan, tulisan untuk mengenang kembali sang Jenderal Besar ini telah disampaikan oleh banyak kalangan, bukan hanya di dalam negeri namun juga sejumlah kalangan di luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejauh tanggapan dan komentar itu ada, bagaimana sesungguhnya pandangan ataupun komentar orang Kristen sendiri? Buat umat/pemimpin Kristen anak bangsa khususnya di Indonesia, apa kira-kira pelajaran berharga sangat penting yang bisa atau boleh dipetik dari sosok kehidupan kepemimpinan "pemimpin besar" Pak Harto itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara spontan, "thinking on my feets", saya sempat merenungkan dan membincangkannya dengan beberapa teman sejawat.  Pasti akan banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik. Namun, paling tidak dari perbincangan dan perenungan kami, sedikitnya dapat dipetik empat (4) pelajaran berharga sangat penting yang barangkali berguna bagi kehidupan dan kemajuan umat/pemimpin kristen khususnya di sini. Yang lainnya, mungkin dapat Anda tambahkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Empat (4) pelajaran penting sangat berharga bagi umat/pemimpin kristen Indonesia anak bangsa, adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal &lt;strong&gt;pertama&lt;/strong&gt;, kalau mau jujur bila kita lihat Pak Harto dalam hampir seluruh hidupnya, suka atau tidak suka, sesuai atau tidak sesuai dengan keyakinan Kristen kita, beliau begitu sangat menekuni menghidupi "agama" atau kepercayaan yang diyakininya sejak kecil, yakni kepercayaan Kejawen, kepercayaan Jawa. Manunggaling Kawula Gusti. Dari yang bercorak ritual olah kebatinan sampai praktek semedi berikut keilmuan ("ngelmu") yang bercorak kanuragan, ia sangat pahami dan kuasai. Ketaatan dan ketekunannya sangat mewujud terekspresi dalam hampir semua pola hidup dan aktivitasnya, kebijakan dan implementasi keputusan2nya sebagai Presiden selama 7 periode, 32 tahun. Ketokohannya di berbagai bidang hidup termasuk di berbagai yayasan2 yang ia pimpin, semua "diwarnai" dengan filosofi, gaya, nilai2 dan keyakinan "iman" yang dipercayainya. Pak Harto tidak hanya menekankan urgen pentingnya aspek spritualitas terkait olah kebatinan Kejawen yang diimaninya, namun ia juga dengan sangat seksama begitu peduli terhadap bidang kehidupan lainnya (ipoleksosbud hankamrata) terkait dengan wawasan budaya dan kepercayaan Kejawennya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kontradiktip, apa yang bisa kita pelajari? Dari contoh ini, secara positip dalam konteks Kristen sebenarnya umat/pemimpin Kristen atau pemimpin yang berlatar belakang kristen di negeri ini, harusnya dapat belajar.. meneladani bahwa menjadi orang Kristen, sudah saatnya tidak hanya sekadar berlabel agama Kristen atau ber-KTP Kristen belaka. Atau jika sudah menjadi Kristen, seyogianya tidak hanya menekankan aspek kebenaran rohani semata. Tapi dalam kuasa kasihNya mampu menekuni dan menghidupi seluruh kebenaran Injil Kristus sesuai Firman Allah/Alkitab dalam seluruh aspek kehidupan. Tak hanya di tingkat theologis atau filosofis, namun juga di tingkat praksis-implementatip seluruh lapangan kehidupan. Kebenaran Injil harusnya dipraktekkan secara konsisten oleh umat/pemimpin Kristen di negeri ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; sebagai orang Jawa tulen dan sebagai seorang mantan jenderal militer Pak Harto sangat kental bahkan terkesan terlalu kental dengan keJawaannya, kesukuannya. Itu baik-baik saja. Demikian juga Pak Harto sangat militan bahkan terkesan terlalu militan malahan dalam gaya kepemimpinannya. Kedua hal ini di tambah dengan latar belakang "agama" kepercayaan Kejawennya tadi, telah lambat laun membentuk karakter berikut pola kepemimpinannya yang bertambah-tambah semakin otoriter. Makin lama makin otoriter, kuasa sepertinya tak berbatas.  Mungkin di bawah kesadarannya, lantas cendrung memiliki image diri kepemimpinan kenegarawanan yang begitu kuat serasa layaknya seorang "raja" (raja jawa), komandan besar dan pandito ratu (pendeta tertinggi dalam sebuah "agama" kepercayaan) . Efeknya tidak dapat dan tidak boleh dibantah oleh siapapun. Jangankan pengikut, yang oposan dalam pendapat pun tidak boleh membantah. Di bawah naluri kesadaran pula, ia telah menjalankan "hukum besi" (bahkan hukum baja :)] ala Machiavelli, yang menganggap Indonesia yang besar begini..faktanya terdiri dari beratus suku dan beribu pulau, ..mungkin dikesankannya semata berisikan rakyat etnik Jawa dan hanya terdiri satu pulau yang bernama Pulau Jawa saja. Kepemimpinan dengan gaya dan pola hukum besi, otoritarian seperti ini, tentu menghasilkan banyak pengikut loyalis khususnya di tingkat elite dan "pembisik" dan "orang dekat", namun sekaligus juga tentu menghasilkan para pengikut sekaligus para penjilat pengkhianat yang bisa keji. Di samping banyak korban2 "pembangunan" berjatuhan, yang merasa tersakiti laten, tertindas, terjepit dan tertinggal. Pemaksaan kehendak, kekerasan, otoriter, serba-sentralistik, corak "one-man show" serta "main gebuk" entah dalam balutan wajah halus (dengan senyum, smiling) maupun wajah angker pembantu dan pengawal, senyata-nyatanya dalam kehidupan nyatanya malah tidak membuat pengikut orang-orang yang dipimpin dan para oposan/pengkritisi, bertumbuh kembang dewasa secara awet dan sehat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentu memberi pelajaran khususnya bagi pemimpin dan umat Kristen Indonesia, bahwa atribut kesukuan/etnis setulen apa pun(entah sebagai orang suku Papua, Maluku, Jawa, Batak, Nias, Toraja, Manado, Sangir, Sumba, Alor, Timor, Dayak, etnis Tionghoa dst) atau atribut lain yang membentuknya misalnya sebagai latar belakang theolog, pendeta, militer, polisi, pengusaha, birokrat, BUMN, aktivis LSM, guru, profesional, hakim/jaksa/ pengacara dan bidang profesi/talenta apa saja, tidak boleh serta merta membuat orang Kristen bila menjadi pemimpin penatua gembala diaken atau jenis-jenis kepemimpinan lainnya di semua sektor kehidupan dengan jalan memberlakukan "hukum besi" (hukum baja) ala Machiavelli dan "sentral etnik lokal sendiri" jika sudah menjadi stateman/negarawan berwawasan nasionalis. Gaya dan pola kepemimpinan Kristen yang tidak boleh dibantah, tidak mau mendengar atau dikritisi oleh siapapun, sangat tidak pas! Sebab esensi yang sesungguhnya dari kepemimpinan yang baik dan benar di semua lini kehidupan, adalah seperti yang dikatakan Yesus: Menjadi pelayan bagi semua berdasarkan kebenaran, keadilan dan kasih. "Learn to be the servant of all". Itulah corak kepemimpinan terbaik yang pernah ditunjukkan Yesus di dunia ini dan kita yakini akan dilakukanNya di dunia yang akan datang, kala Ia akan kelak datang kembali ke dunia ini bukan sebagai bayi atau baby lagi; tapi sebagai Raja dan Hakim yang Agung. Jika ini yang diterapkan umat/pemimpin Kristen, maka nuansa dan pola seperti ini pasti akan membuahkan pertumbuhan, perkembangan dan pendewasaan yang semakin penuh dari sehari ke sehari, meski pun mungkin membutuhkan banyak waktu, tenaga, pemikiran dan biaya. Sebaliknya, jika sekali ambisi kekuasaan, haus kekayaan materi dan hanya mementingkan suara kita yang ingin didengar ketimbang mau mendengar. Maka hawa nafsani ini (keinginan daging) yang cendrung hanya "ingin menang sendiri", "mau benarnya sendiri", tanpa pemahaman kebenaran hakiki dan utuh yang akan muncul, maka sejak saat itu "urapan", pengaruh dan kepemimpin bisa dipastikan makin terkikis habis, lalu ya jatuh runtuh.. semua berbagai atribut kekuasaan, kejayaan, kemuliaan, popularitas dan kehormatan. Tuhan yang mengambilnya. Bisa lewat umat. Bisa lewat komunitas, masyarakat. Lewat alam pun bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga,&lt;/strong&gt; Pak Harto selama kepemimpinannya yang sangat panjang itu (7 periode).., meski pun memiliki wawasan utuh selayaknya wawasan nusantara (ipoleksosbud) , cendrung sangat menekankan bahkan malah terkesan ekstrim.. hanya pada tok..satu bidang pembangunan. Apalagi kalau bukan bidang pembangunan ekonomi. Itulah yang dimulainya sejak memegang tampuk kepemimpinan. Tidak salah, memang. Namun kebablasan. Segalanya jadi demi kepentingan pembangunan ekonomi. Yang lain cendrung menjadi abai. Soal keadilan, moral, demokrasi, character building, penegakan HAM, kemajemukan bangsa, kemandirian terkait utang LN, dll. Akibat dari penekanan hanya pada satu bidang pembangunan atau "pelayanan", membuat seluruh tatanan kehidupan bangsa tumbuh tidak beraturan, "peot" lonjong dan timpang di sana-sini. Ini menjadi semacam "keretakan" fondasional landasan bangunan sekaligus menjadi "bom-waktu" yang pada waktunya akan roboh dan meledak hancur berkeping-keping. Sepuluh tahun terakhir sejak reformasi bergulir, hal ini masih begitu dirasakan. Untuk membangun kembali fondasi negara yang hampir hancur berikut akibat dari "bom-waktu" yang meledak berkali-kali, sungguh tidaklah gampang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran berharga apa yang diperoleh umat kristen/pemimpin kristen? Dari hal ini kita dapat penting betapa pentingnya melakukan perencanaan dan implementasi secara utuh, holistik sekaligus kritis. Hasilnya pun pasti akan utuh. Guna menghasilkan buah pertumbuhan dan perkembangan yang baik dari umat yang dilayani/dipimpinny a, tidak cukup dan sangat tidak bijak hanya melulu menekankan pada satu bidang atau sektor hidup semata dari yang dikuasai, dalam menjalankan pekerjaan pelayanan atau pemberdayaan umat. Memang spesialiasi di mana-mana perlu, juga skills menetapkan skala prioritas. Namun hal ini jangan berarti umat/pemimpin kristen tidak membutuhkan cara pandang atau profesi lain dalam menjalankan kepemimpinannya. Atau membuat mereka menjadi "sub-ordinate", "sub-supreme". Sangat tidak baik hasilnya. Nah, ini berarti umat/pemimpin semestinya jangan melulu "rigid", kaku.. dalam setiap mewacanakan, merencana dan atau mengimplementasikan sesuatu. Tidak jaman lagi musti mutlak-mutlakan. Apalagi sikap selalu ingin menang-menangan berdasar ego talenta, ego perspektif dan ego sektoral. Tidak melulu sekarang musti pakai satu cara pandang sektoral semata, bak orang memakai kacamata kuda. "Live only in one single box". Sangat penting dewasa ini mempertimbangkan keutuhan, dinamika, sinkronisasi wawasan dan perkembangan kebutuhan yang selalu berubah variatif. Double perspektif bahkan multi perspektif. Theologi, politik, budaya, sosiologi, seni, kreativitas, etc. Seperti seseorang pemahat yang memahat pola tubuh manusia. Tentu dia tak hanya memperhatikan pola pahatan di sekitar "perut". Namun pemahat juga perlu memberi perhatian kepada perkembangan pahatan di bagian "raut muka, wajah, kepala, tangan, dada, kaki, jari, leher, kuku" dst. Jika pemimpin dan umat Kristen memiliki wawasan dan keterampilan membaca situasi seperti seorang pemahat itu. Yang berwawasan makin lengkap dan tidak melulu mengikuti ego-sektoral berikut latar belakang talenta/profesinya saja, maka dipastikan makin lengkaplah kualitas dan kuantitas seluruh aspek pertumbuhan dan kedewasaan umat/masyarakat yang dilayani atau dipimpinnya menuju penggenapan kehendak Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir: &lt;strong&gt;keempat&lt;/strong&gt;, sebagai bapak rumah tangga, pemimpin keluarga. Pak Harto dikenal sebagai pribadi yang sangat mengasihi isterinya dan sangat sayang kepada putera-puterinya. Juga adiknya. Namun, kita semua mengetahui bahwa dari situasi dan kondisi kiprah anak-anak keluarga Pak Harto dan adiknya(keluarga Cendana), banyak diketahui umum tidak memberikan contoh buah kesaksian yang baik dan benar. Anak yang kawin-cerai, menjadi buron dan masuk penjara, tersangkut narkoba, terlibat perjudian, menjalankan praktek bisnis dan perusahaan yang tidak etis, dll. Sangat disayangkan dan menjadi keprihatinan yang sangat dalam jika melihat keadaan/kesaksian anak dan cucu dari Pak Harto. Yang telah menjadi boomerang kerusakan seluruh integritas yang telah dibangun sangat lama oleh Pak Harto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang berharga bagi seluruh pemimpin dan umat Kristen khususnya di Indonesia, adalah bagaimanapun keluarga dan kesaksian keluarga/rumah tangga menjadi cermin yang sangat penting dan krusial. Janganlah sekali-kali kasih dan sayang orang/pemimpin Kristen kepada isteri/suami, anak, cucu, abang/adik dst, malah menjadi boomerang merusak seluruh sisi dan integritas kehidupan. Kasih dan sayang orang tua atau kakek/nenek yang tidak berlandaskan kebenaran, kesucian, edukasi, moral dan keadilan. Yang akibatnya berakhir dengan pertengkaran, berantakan, dan kehancuran! Buat apa kita memperoleh kehebatan, kekuasaan absolut, kekayaan (material) sampai berbukit bahkan menggunung-gunung dengan berbagai tanda kehormatan yang diperoleh, namun salah satu pilar inti dari kehidupan itu sendiri yaitu keluarga menjadi hancur luluh lantak berantakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, dari keempat hal ini setidaknya mudah-mudahan menjadi poin pembelajaran berharga dan sangat penting dari sosok kepemimpinan Pak Harto. Semoga para umat Kristen pemimpin Kristen khususnya di negeri ini dapat mengambil makna/signifikansi yang makin dalam sekaligus mencerah. Mari dengan menengok masa lalu, kita bisa makin konsolidatif hari ini dan menatap ke depan. Pembelajaran baik di aras publik, hingga aras terkecil: aras pribadi dan keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga melalui sosok Pak Harto dan dengan kepergian/wafatnya Pak Harto, akan mendatangkan era babakan baru bagi anak bangsa generasi pelanjut, terutama kemunculan kalangan umat/kristen pemimpin baru dan dibaharui dari anak bangsa di negeri tercinta ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;May God guide His people and Indonesia! &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-1909855522384013361?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/1909855522384013361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/01/bagi-umatpemimpin-kristen-pelajaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1909855522384013361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1909855522384013361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/01/bagi-umatpemimpin-kristen-pelajaran.html' title='Bagi Umat/Pemimpin Kristen: Pelajaran Berharga Apakah yang Dapat Diperoleh dari Sosok Kepemimpinan &quot;Pemimpin Besar&quot; Soeharto?'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-4111971232900058833</id><published>2008-01-09T06:25:00.001-08:00</published><updated>2008-01-22T02:23:52.486-08:00</updated><title type='text'>Inspirasi Nilai2 Utama: dari peluncuran buku baru seorang CEO "Beyond Batak" Indonesia.</title><content type='html'>Kemarin (8 Jan 2008) saya diundang hadir pada acara peluncuran buku baru seorang putera Batak kelahiran Siantar, CEO/Dirut Jiwasraya, aktivis gereja/kristen bro Herris B. Simanjuntak, 58 tahun di Financial Hall Room (2nd floor), Graha Niaga Sudirman, Jakarta. Seorang "beyond Batak"  istilah dari penulis etos kerja Jansen Sinamo yang turut hadir, dengan seabreg gelar akademik dan profesi. Bukunya berjudul: &lt;strong&gt;"CEO Messages, 40 Nilai Kiat Sukses Perusahaan Unggul" (2008). &lt;/strong&gt;Berangkat bukan saja dari teori, tapi dari pengalaman ybs selama puluhan tahun bergumul dalam perusahaan swasta dan bumn seperti Jasindo, Allianz dan Jiwasraya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut saya ke-40 nilai utama (&lt;em&gt;core values&lt;/em&gt;) yang disodorkan bpk Herris bak "ensiklopedia nilai-nilai" , seperti nilai bersyukur, eksekusi, kepercayaan. ., kesederhanaan, penguasaan diri.., tanggung jawab dan spiritualitas, dll tidak ada satupun yang bertentangan dengan nilai kekristenan, biblical values. Namun, seperti yang disampaikannya bagaimana sekarang menginternalisasi ke-40 nilai utama terkait budaya orang Indonesia, perusahaan Indonesia pada umumnya, itulah yang menjadi masalah yang tidak gampang. Dari penelusuran saya terhadap buku ini, nyatanya memang sangat sedikit nama-nama orang Indonesia yang dikutip Bro Herris, ketimbang nama-nama beken dari dunia pertama (western). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bahasan cukup menarik. Disitu ada hadir bro Adler Manurung pakar investasi &amp; UKM, ada Eileen Rachman direktur Experd Consulting, Dr Budi W Soetjipto direktur LMFE UI dan masih banyak pakar-pakar lain termasuk halak kita, orang batak. Namun karena waktu yang sangat terbatas, bahasan menurut saya tidak bisa sampai menyentuh ke "kedalaman". Intinya, yang diinginkan adalah Indonesia tidak mau hanya jadi manusia kolektor nilai-nilai luhur, adi luhung semata.., sejak jaman Bung Karno sampai penataran P4,  namun bagaimana sekarang harus bisa mengimplementasikan nilai2 utama spiritualitas tersebut sampai di aras sosial dan lingkungan. Kekhawatiran memang sempat muncul dari Dr Budi W Soetjipto dari UI terkait adanya hasil riset bahwa 'semakin spiritual seseorang atau satu kelompok/komunitas di negeri ini.., kecendrungan untuk melakukan pelanggaran baik di bidang etika, moral hukum dan keadilan, malah semakin besar. Pertanyaan baliknya, spiritual atau model beragama yang bagaimana yang dilakoni oleh Indonesia? Harus diperjuangkan terjadinya perubahaan riel: lakon gaya spiritual beragama yang sehat di masa ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perubahan, adjustment transformatif budaya di Indonesia sudah jadi kebutuhan mendesak. Hakekat spiritualitas (keberagamaan) yang benar menjadi tuntutan masyarakat masa kini. Bukan saja budaya materialisme, dll yang harus diperangi. Tapi juga budaya munafik dan ketidak-tegasan ketidak terus-terangan dalam mengambil putusan dan pilihan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Potret kemunafikan dan ketidak-tegasan "wajah Indonesia" sebenarnya telah sangat baik dipaparkan A. Slamet Widodo, penulis sastra kerakyatan seorang katolik asal Surakarta dalam buku-buku kumpulan puisi/sastra kerakyatannya seperti "Bernafas dalam Resesi" (2005) dan "Selingkuh" (2007). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pilihan untuk melakukan perubahan menuju penerapa nilai2 utama  (cultural change) sebenarnya cukup banyak. Mulai dari yang bercorak agresif (pemaksaan, 'kekerasan), konsiliatif cara damai tak dramatis, korosif (taktik dan proses politik) atau lewat cara indoktrintatif (pendidikan dan pelatihan) seperti yang terdapat di buku karangan bpk Herris ini. Tapi yang jadi pertanyaan 'bottom-line' nya, adalah mau tidaknya kita pada detik ini untuk berubah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau melakukan perubahan. Memimpin perubahan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-4111971232900058833?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/4111971232900058833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/01/inspirasi-nilai2-utama-dari-peluncuran.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4111971232900058833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4111971232900058833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/01/inspirasi-nilai2-utama-dari-peluncuran.html' title='Inspirasi Nilai2 Utama: dari peluncuran buku baru seorang CEO &quot;Beyond Batak&quot; Indonesia.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-1058031486526874252</id><published>2008-01-06T01:14:00.000-08:00</published><updated>2008-01-30T00:52:03.859-08:00</updated><title type='text'>Antara Tuntutan Hidup dan Panggilan Hidup. Bagaimana Menyikapinya?</title><content type='html'>Informasi dari Transforma Sarana Media (TSM/NW-12 edisi Jan 2008). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Antara Tuntutan Hidup dan Panggilan Hidup: Bagaimana Menyikapinya?&lt;br /&gt;Quo Vadis Hidup Kehidupan Umat Kristen Anak Bangsa di Indonesia?? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak orang kristen di Indonesia dewasa ini yang telah mengalami anugerah karya keselamatan Allah dalam hidup mereka, dibaharui di dalam Dia, mengalami pergumulan yang sangat tidak mudah dalam menyikapi dua hal ini: Antara memenuhi tuntutan hidup dan atau panggilan hidup. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hal Tuntutan Hidup. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan hidup terkait berbagai upaya yang dilakukan umat kristen anak bangsa di Indonesia dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bagi diri sendiri dan keluarga. Terkait utamanya kepada permasalahan ekonomi. Tuntutan mencari uang (making money, generating income). Situasi perekonomian yang semakin sulit konteks Indonesia (tantangan resesi), membuat orang Indonesia termasuk orang kristen anak bangsa makin sukar menyiasati masalah keuangannya. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga saja sudah sulit, apalagi untuk memikirkan orang lain terkait dengan keuangan. Maka sering muncul di kalangan masyarakat termasuk orang kristen istilah-istilah di sekitar gaya hidup, seperti: &lt;em&gt;"Lebih besar pasak dari tiang"&lt;/em&gt; (lebih besar pengeluaran sehari-hari, dari pada pendapatan). Ada banyak anekdot lain yang diketahui tentang hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hal Panggilan Hidup, Visi Hidup.&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Panggilan hidup, visi hidup terkait pada apa yang menjadi panggilan tugas dari seorang Kristen. Intinya panggilan untuk menjadi terang bagi bangsa, bagi sekitar. Menjadi garam dan terang dunia. Dalam konteks gereja, singkatnya bagaimana merealisasi panggilan tugas persekutuan (koinonia), diakonia (pelayanan) dan marturia (kesaksian, penginjilan).  Di mana dalam menjalankan panggilan tugas ini, yang sangat dibutuhkan bukan saja yang terkait dengan bidang doa, theologia dan daya (SDM, ketrampilan, pemikiran) namun juga hal dana atau sokongan keuangan. Untuk yang terakhir ini, kristen yang telah mengalami anugerah Allah semestinya turut mendukung menyokong gereja, pekerjaan Tuhan dan sesama yang betul-betul membutuhkan dengan sokongan materi (uang). Baik itu lewat kolekte, persembahan, dana pembangunan gereja, dana misi, perpuluhan atau apapun namanya. Dan itu semua terkait dengan materi (uang). Hal yang menjadi persoalan yang menjadi pertanyaan dan pergumulan banyak jemaat, umat kristen pemimpin kristen, adalah bagaimana bisa menjalankan tugas panggilan hidup, visi hidup, menyokong tugas panggilan gereja/kekristenan. Sedangkan, untuk memenuhi tuntutan hidup kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah semakin tidak sanggup.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kekurangan/kemiskinan materi dan pengaruhnya. &lt;/strong&gt;Kemiskinan (ketidak-cukupan) materi, kemiskinan ekonomi yang banyak melanda orang kristen, keluarga-keluarga kristen khsusnya indigenous (pribumi) di Indonesia mengakibatkan jiwa mentalitas menjadi terganggu. Ada perasaan takut, minder rendah diri, tidak confidence dalam membina hubungan relasi. Relasi dengan tetangga, keluarga besar sanak-famili, dengan gereja dan rupa-rupa pelayanan persekutuan kristen dan pergaulan sosial lainnya di tengah masyarakat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Arus budaya dewasa ini yang demikian besar mengancam!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Budaya konsumtif, konsumerisme, hedonis dan individualisme yang melanda Indonesia terutama karena pengaruh ekses negatif neo-kapitalisme korporatokrasi dan globalisasi a.l melalui iklan2 televisi dan media, maraknya mal-mal dan gaya hidup perkotaan kota besar, senyatanya telah membuat banyak rumah-tangga kristen dewasa ini mengalami banyak persoalan hidup serta pilihan pelik dalam keluarga, relasi suami-isteri, orang tua-anak, relasi dengan mertua/famili dlsb. Di sisi lain budaya materialisme yang sangat terasa dalam kehidupan komunal tradisi adat kekerabatan, mengakibatkan banyak rumah tangga kristen semakin terlilit berbagai permasalahan hidup. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Budaya konsumtif, konsumerisme, hedonis, individualisme (kepentingan diri, selfish, egoisme) dan materialisme seperti ini tidak tanggung-tanggung juga telah sangat mempengaruhi kehidupan gereja, persekutuan dan komunitas kristen. Banyak gereja seakan tidak sanggup lagi membendung arus besar dan deras budaya seperti ini. Sendi-sendi spiritual gereja semakin tergerus dan tergeroroti. Seakan arus kuat tuntutan budaya ini menjadi jauh lebih penting dan urgen dibandingkan segi kebenaran dan ajaran firman Tuhan, segi doa, puasa, ibadah berikut disiplin rohani lainnya. Melihat kondisi ini, sangat miris melihat kehidupan kebanyakan gereja dewasa ini khususnya di Indonesia. Hal ini bukan saja tampak di kota besar seperti Jakarta, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika saja kehidupan orang kristen, rumah tangga kristen secara agregat kolektif di negeri ini, tidak mengalami situasi kondisi riel miskin materi (keterpurukan ekonomi) atau hanya 'merasa' saja miskin materi (tidak pernah merasa cukup-cukup dalam hal materi), pasti kencangnya arus budaya seperti di atas, tidak harus menjadi masalah. Akan relatif lebih mudah mengikutinya. Namun, yang jadi masalah dan telah menjadi masalah pelik, apabila kristen banyak rumah-tangga kristen tidak bisa mengikutinya. Tidak bisa memenuhinya, walau sebenarnya barangkali mungkin saja ada keinginan untuk mengikuti "arus besar" ini. Maka hal ini akan menjadi semacam "bom waktu" yang sewaktu-waktu bisa meledak keluar dalam bentuk pelbagai pelampiasan dan perbuatan daging, perbuatan dosa di kala tak sanggup menahannya. Hasrat hati ingin dan rindu hidup bahagia (happiness), berkecukupan (prosperity, wealth) dan sehat (health), namun faktanya &lt;em&gt;'jauh dari panggang dari api'&lt;/em&gt;. Hidup berkekurangan. Pelampiasannya agar 'seakan' mampu mencapai hidup bahagia dan secara mental bisa 'senang', adalah keniscayaan melakukan tindak kriminalitas (mencuri, korupsi, memeras, pungli premanisme, menerima sogok, dsb) berikut penyimpangan-penyimpangan lainnya termasuk di bidang seksual: fedofilia, perselingkuhan, pemerkosaan, free-sex, homosexual, dll).  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kristen anak bangsa: hidup dalam zona aman atau zona tidak aman? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Umat kristen rumah tangga kristen anak bangsa yang berada dalam zona aman (meski prosentase jumlahnya di Indonesia faktanya relatif kecil) mungkin tidak akan banyak mengalami pergumulan keseharian seperti itu. Tapi, tidak demikian bagi mereka yang berada di zona tidak aman, 'zona rawan'. Di bawah ambang kecukupan materi ekonomi. Sudah bukan rahasia lagi, menurut berbagai penelusuran yang telah banyak dilakukan, justru lebih banyak prosentase jumlah kristen rumah tangga kristen yang mengalami masalah pelik seperti ini. Terutama adalah kristen rumah tangga kristen anak bangsa (indigenous) yang penulis jumpai tinggal di kota besar seperti Jakarta &amp; Pulau Jawa; kota desa pegunungan dan pesisir Papua, Sumatera, Nias, Kalimantan maupun di NTT, Maluku atau banyak daerah di Sulawesi. Dari banyak penelitian, justru daerah-daerah kelurahan kecamatan kabupaten yang mayoritas penduduknya adalah umat kristen anak bangsa (indegenous) adalah merupakan daerah/kelurahan/kabupaten paling minus dan paling miskin secara ekonomi di seluruh Indonesia (data bisa dilihat pada data Susenas &amp; BPS terakhir). Komunitas Christian_t-poor pernah memunculkan persoalan ini, terutama yang terjadi di NTT. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PR besar bagi umat pemimimpin influencer kristen indigenous lokal dan nasional. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemimpin-pemimpin dan influencers Kristen, baik pemimpin lokal maupun pemimpin nasional kristen, agar bagaimana menjawab tantangan pergumulan permasalahan pelik yang dialami banyak orang kristen rumah-tangga kristen terutama yang masyarakat indigenous di Indonesia. Menyikapi antara pentingnya memenuhi panggilan hidup, sekaligus bisa memenuhi tuntutan hidup sehari-hari (masalah "perut", mentalitas ekonomi). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jangankan untuk mendorong orang kristen rumah-tangga kristen umat kristen pelayan kristen pendeta kristen secara agregat/kolektif untuk melihat keluar berpikir keluar. "Inside out" untuk berkontribusi bagi bangsa, bagi negara, bagi tugas panggilan hidup visi gereja dan kekristenan (koinonia, diakonia, penginjilan dan menjadi terang bagi bangsa). Untuk menyelesaikan persoalan intern, "outside in" di dalam saja menyangkut tuntutan hidup sehari-hari (keperluan ekonomi individu, keluarga, sanak-famili, gereja lokal) saja sudah sangat sulit. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana Menyikapinya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi suatu yang urgen menyikapi pergumulan besar: antara tuntutan hidup dan panggilan hidup. Sangat diperlukan saat ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara perspektif rohani, untuk menyikapi hal ini, pertama bisa dilakukan melalui pembinaan pengajaran mengenai pentingnya aktivasi iman. Pembinaan yang disampaikan lewat seminar, pembinaan iman, mimbar di gereja, persekutuan atau komunitas. Kedua, melalui pengajaran tentang pentingnya sikap selalu mengucap syukur dan 'menerima segala keadaan yang ada sejak masa lalu hingga sekarang' dalam kekurangan-kekurangan (termasuk hal materi). Ketiga, lewat pengajaran tentang 'hal memberi, mempersembahkan sesuatu' agar diberi diberkati oleh Tuhan. Berilah maka kamu akan diberi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal keempat, hal selanjutnya yang harus dilakukan guna menyikapi persoalan antara tuntutan hidup dan panggilan hidup adalah mengenai pentingnya secara bersama, secara kolektif, para anak Tuhan umat Kristen anak bangsa di Indonesia, dalam anugerah hikmat bijaksana Tuhan, duduk menyusun strategi bersama. Suatu "grand design" (strategi besar) bersama dari umat kristen pemimpin kristen baik lokal, daerah dan nasional, melakukan upaya transformasi besar secara sinkron di dalam tatanan pelayanan, organisasi, gereja, pendidikan dan kemasyarakatan kristen anak bangsa secara holistik. Transformasi rohani, sekaligus dibarengi dengan transformasi paradigma, sosial, ekonomi dan lingkungan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terus terang, ini membutuhkan bentuk kesadaran bersama. Resolusi bersama dari seluruh umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia bersama-sama dengan yang ada di luar negeri, untuk tidak lagi berpikir sempit hanya sebatas kepentingan gereja lokal (denominasi)nya sendiri, organisasinya sendiri atau komunitas ikatan primordialnya sendiri. Selama umat kristen pemimpin kristen di Indonesia masih berkutat hanya pada masalahnya sendiri kepentingannya sendiri, maka permasalahan besar yang dihadapi umat kristen di Indonesia secara keseluruhan tidak akan dapat terpecahkan, mendapat solusi strategis terobosannya yang pas dan efektif. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang, berapa banyak jumlah umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia baik lokal maupun nasional, dan juga di mana pun secara global, yang masih memiliki kesadaran dan tekad bersama untuk menyikapi antara tuntutan hidup dan panggilan hidup secara sosiologis korporat?? Seberapa banyak dari umat pemimpin kristen anak bangsa sendiri yang bersedia melepas atribut "kesementaraan", kepentingan sebatas individual diri sendiri, kedudukan atribut formal dan image-image lainnya. Demi tugas tanggung-jawab bersama yang lebih besar bagi perbaikan dan kebaikan seluruh umat kristen anak bangsa negeri ini?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hanya umat kristen pemimpin kristen anak bangsa (indegenous) yang bisa menolong dirinya sendiri!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini menjadi pernyataan sekaligus tanda tanya besar bagi kita bersama terutama umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia dan di mana pun. Hanya mereka yang bisa menjawab. Karena hanya umat kristen pemimpin kristen anak bangsa sendiri yang dapat mengangkat harkat martabat kesejahteraan dari diri umat masyarakat kristen indegenousnya sendiri. Kita tidak bisa hanya ingin terus menerus sekedar meminta mengharapkan uluran bantuan pertolongan belas kasihan dari umat lainnya, hanya dari para donor, atau bahkan dari Pemerintah. Atau juga sekadar bantuan dan uluran tangan dari umat lainnya, umat beragama lain atau bangsa lain.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu keyakinan percaya kita. Jika hidup/kehidupan: kualitas dan jumlah umat kristen indegenous/anak bangsa secara agregat kolektif di Indonesia dapat diperbaiki, di samping tentu hal kedewasaan pendewasaan rohani namun juga perihal perbaikan ekonomi dan segi mentalitas, profesionalisme, keahlian entrepreneurial disertai integritas, dll(terkait persoalan tuntutan hidup dan panggilan hidup visi hidup). Maka meski pun jumlah prosentase umat kristen di Indonesia relatif kecil tidak besar -- diperkirakan besarnya lk. 10-12% --, maka bukan suatu yang mustahil atau musykil, sumbangsih umat kristen pemimpin kristen indegenous anak bangsa di Indonesia dan di mana pun akan sangat sangat besar bagi perbaikan peri kehidupan seluruh masyarakat bangsa dan negara Indonesia juga bisa diperbaiki dan dibangkitkan. Menjadi suatu bangsa yang terhormat, bermartabat dan lebih sejahtera di berbagai bidang kehidupan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kita meski yakin bahwa Tuhan pasti akan terus menolong dan memelihara kita: memberkati setiap upaya kita!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Meski kita tau dan menyadari, jalan untuk meretas kepada hal ini sangat tidak mudah. Mengingat pergumulan dan tantangan lain yang tidak kecil -- sangat sangat besar ---, sebut saja bahaya radikalisme agama internasional(terutama di kalangan Islam dan juga Kristen), terorisme dan budaya kekerasan, pluralisme agama, kejahatan trans nasional, dll. Kita masih meyakini serta percaya bahwa Tuhan Semesta Alam di dalam Kristus Yesus dan bimbingan perlindungan RohNya, dapat memampukan dan memberkati upaya kita bersama, --umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia --- untuk mengalami perbaikan-perbaikan yang signifikan khususnya di bidang spiritual (rohani) dan ekonomi sejak hari ini dan untuk masa-masa yang akan datang.    &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Maka melalui tulisan ini, berikutnya sangat dibutuhkan bersifat "segera": ide-ide konvergensi, masukan, saran doa, dukungan serta gagasan pemikiran solutif yang lugas tegas riel sekaligus transformasional dari kita sekalian, yang masih menyebut sebagai kristen indegenous anak bangsa Indonesia di mana pun. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kiranya Kristus Tuhan tetap menolong kita dan mencerahkan hati dan pikiran kita bersama. Terpujilah Tuhan!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-1058031486526874252?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/1058031486526874252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/01/quo-vadis-hidup-kehidupan-umat-kristen.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1058031486526874252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1058031486526874252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2008/01/quo-vadis-hidup-kehidupan-umat-kristen.html' title='Antara Tuntutan Hidup dan Panggilan Hidup. Bagaimana Menyikapinya?'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-4932891438837731711</id><published>2008-01-01T07:51:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T00:21:14.725-08:00</updated><title type='text'>Artikel Visi Provisi Perbaikan Indonesia: Sambut Tahun Baru 2008.</title><content type='html'>Dari informasi Transforma Sarana Media (TSM/BN-09), 1 Januari 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Konteks Indonesia indigenous: "Orang-orang para pemimpin dulu yang diperbaiki dipulihkan 'disembuhkan' , ataukah sistem, sistem-sistem internal dulu, sekaitan maraknya perkembangan pengaruh lingkungan eksternal?" &lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Visi provisi bersama: "Menuju kemajuan, kebaikan dan kesejahteraan seutuhnya bagi seluruh suku-suku bangsa, 'suku-suku' golongan, etnis, bangsa dan negara Indonesia, untuk akhirnya menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain".&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang mungkin masih terus menggelayut dalam hati sanubari kalbu tiap suku-suku bangsa indigenous Indonesia, tiap bangsa Indonesia atau yang masih 'merasa' Indonesia hingga kini. Kenapa bangsa dan negara Indonesia, orang Indonesia, suku-suku bangsa indigenous di Indonesia serta berbagai etnis keturunan lainnya (Arab, Cina, India, Melanesia dll) sukar sekali maju, berkembang, hidup dalam cinta kasih persatuan dan kesatuan saling menghargai dan respek ?? Belum mampu untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, di belahan dunia lainnya secara kolektif ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini seharusnya mampu 'menohok' langsung diri orang-orang: para pemimpin dan umat Kristen indigenous termasuk saya, dan orang-orang kristen etnis keturunan lainnya yang 'masih merasa' Indonesia di seluruh tumpuan bumi persada negeri ini maupun di sebrang lautan. Menjadi 'titik berangkat' yang urgen dan utama bagi kesamaan (alignment, spooring) cara pandang, visi dan provisi untuk perbaikan kualitas suku-suku bangsa dan bangsa tercinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Faktor utama penyebabnya jika mau dirunut dalam kesederhanaan berpikir, mungkin bisa kita sama-sama kategorikan ke dalam 3 hal esensiil. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kembali menyangkut 3 segi (domain) mendasar: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Orang-orang dan para pemimpin.&lt;br /&gt;2. Sistem, sistem-sistem (internal). &lt;br /&gt;3. Pengaruh lingkungan eksternal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Dari segi orang dan para pemimpin (suku2 bangsa, orang Indonesia dan etnis lainnya yang 'merasa' Indonesia). &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Dari segi orang, orang-orang. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatan puluhan tahun bahkan ratusan tahun, dari jaman purba hingga sekarang harus diakui faktanya bahwa sedemikian banyaknya orang Indonesia, suku2 bangsa dan etnis keturunan lainnya, sampai sekarang ini, tidak terkecuali orang-orang Kristen indigenous sendiri, dalam perspektif keutuhan manusia (orang) telah mengalami banyak kekurangan, untuk tidak mengatakan kemiskinan (lacknessess) dalam banyak dimensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan-kekurang an (lacknesses) tersebut paling tidak bisa dirunut dan bisa lebih diteliti seksama: &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada 10 kekurangan yang harus ditutupi diperbaiki ditambahkan, yaitu:  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hal berKetuhanan, teologi, filosofi hidup dan visi hidup kolektif yang benar dan utuh. &lt;br /&gt;2. Hal berkesadaran penuh sbg salah satu bagian inheren alam ciptaan jagad raya (universe) sebagai ciptaan Allah. &lt;br /&gt;3. Hal berkesadaran penuh sbg salah satu bagian dari lingkungan bumi terkait isu-isu lingkungan kekinian. &lt;br /&gt;4. Hal kerohanian, spiritualitas (ketaatan, komitmen pada Tuhan yang benar, kekayaan &amp; kesucian hati, kesederhanaan hidup namun sangat sanggup memperkaya banyak orang sesama suku2 masyarakat dan bangsa dll) &lt;br /&gt;5. Hal intuisi kesadaran lingkungan sosial, mindset budaya, cara pandang kolektif (bidang seni tradisi, agama, politik, militer, keamanan, sosial, ekonomi, bisnis), tradisi, lingkup solidaritas dan kesetia-kawanan sosial, warisan budaya sosial yang diwariskan dari leluhur bangsa suku-suku bangsa, yang bergerak menuju kemajuan sesuai perkembangan jaman, yang baik, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan. &lt;br /&gt;6. Hal religi, keberagamaan (religiositas) dalam menjalankan hukum peraturan ketentuan2 agama dan cara beribadah dalam relevansi dengan perkembangan jaman, toleransi atas adanya perbedaan, keseharian dan kenyataan hidup. &lt;br /&gt;7. Hal moral etika perilaku hidup yang benar, adil, bagus, baik dan dapat dipertanggung- jawabkan terkait pengambilan keputusan dalam kehidupan. &lt;br /&gt;8. Hal intelektual, kecerdasan intelektual, hal menganalisa persoalan. &lt;br /&gt;9. Hal kejiwaan, mental, mind, emosional (kestabilan, kematangan emosi), kekuatan mental, kemandirian mental dan kecukupan ekonomi, entrepreneurship social-entrepreneur ship, ketekunan, kemauan bekerjasama, kemauan untuk mentaati hukum ranah publik, mental survival (bertahan dalam kesulitan) dan mental menghargai hidup dan kehidupan. &lt;br /&gt;10. Hal fisik, kondisi tubuh jasmani, ragawi, terkait dengan kesehatan, gizi nutrisi dan penyakit fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan dalam satu dimensi saja apalagi banyak dimensi dari 10 hal di atas, akan menimbulkan masalah, persoalan dan penyakit. Sakit dalam banyak dimensi, akan berakibat pada gejala kemiskinan, pemiskinan bahkan kemunduran (kemerosotan) . Sebaliknya, semakin lengkap kepemilikan anugerah Tuhan dalam 10 dimensi tersebut akan berakibat kepada kemajuan, kedewasaan dan kesejahteraan otentik dari orang-orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Dari segi pemimpin (leaders). &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Belum banyak dari kalangan pemimpin, atau yang punya pengaruh kuat (influencers) atau yang menamakan diri sebagai pemimpin atau orang yang telah dikenal (populer) atau lingkungan para pemimpin di Indonesia, di suku-suku bangsa Indonesia dan etnis-etnis keturunan lainnya (Cina pengusaha naga, India, Arab) di Indonesia, yang memiliki kualitas dan kelengkapan dalam kepemilikan 10 aspek di atas. Pemimpin-pemimpin yang ada dari dulu hingga sekarang, barangkali belum dapat dikatakan sebagai pemimpin yang 'ideal'. Rata-rata dari para pemimpin yang ada di negeri ini, di suku-suku bangsa, di daerah-daerah adalah pemimpin-pemimpin yang masih berkekurangan. Masih banyak kekurangan. Sehingga kalau pun harus memimpin pun, para pemimpin memimpin orang-orang Indonesia lainnya masih harus dalam keadaan yang berkekurangan. Dengan demikian, hasil kepemimpinan para pemimpin belum banyak mengalami kemajuan yang berarti, untuk tidak mengatakan 'jalan di tempat', stagnan atau bahkan bisa juga mungkin justru mengalami kemunduran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Dari segi sistem, sistem-sistem (internal). &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sistem yang dibangun, sangat dipengaruhi oleh faktor orang dan pemimpin. Karena orang dan pemimpin di Indonesia, di suku-suku bangsa dan etnis keturunan lainnya di Indonesia masih 'sangat' berkekurangan, maka sistem yang dibangun (sistem apa saja) masih sangat terasa sekali kekurangan-kekurang annya. Mau sistem politik, sistem keagamaan, sistem hukum, sistem pertahanan dan keamanan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem sosial, sistem ketenaga-kerjaan, sistem perdagangan, sistem pembangunan pertanian, kelautan berikut sistem-sistem lainnya. Masih sangat sulit dan panjang jangka waktunya untuk mengharapkan terbentuknya dan beroperasinya sistem-sistem yang handal, baik, bagus, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan guna membuahkan kemajuan, kebaikan, keadilan dan kesejahteraan kolektif yang hakiki dan nyata di tengah bangsa, negara, rakyat, masyarakat, di suku-suku bangsa, daerah-daerah dan keseluruhan penduduk bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Dari segi pengaruh lingkungan eksternal (global). &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu, pengaruh lingkungan eksternal sangat besar untuk kehidupan suku-suku, bangsa dan negara Indonesia. Baik sebelum adanya kesadaran pergerakan nasional tahun 1908 maupun periode-periode sesudahnya (1928: Sumpah Pemuda, 1945: Proklamasi Indonesia sampai Orla, 1966: Orde Baru, 1998: Orde Reformasi dan masa 10 tahun Pasca Reformasi ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena-fenomena dan perubahan-perubahan yang terjadi secara global di dunia dan bagian-bagian dunia, mau tidak mau turut mempengaruhi orang-orang para pemimpin dan sistem-sistem (internal) yang ada di suku-suku bangsa dan bangsa negara Indonesia. Sebut saja, masa-masa jaman purba (animisme, dinamisme), jaman kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha kuno, kerajaan-kerajaan Mongol, Tiongkok kuno, jaman kerajaan dan perdagangan Islam, jaman kolonialisme Eropa Barat, jaman Jepang dan Sekutu (AS, Inggris &amp; Rusia), jaman Perang Dingin (AS dan Soviet), Jaman Modern Paska Perang Dingin (Neo Kapitalisme) sampai Jaman Globalisasi Supra Modern seperti sekarang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isu-isu global yang sangat dirasakan sampai penghujung 2007 sebut saja:&lt;br /&gt;- MDGs&lt;br /&gt;- Global warming (UNFCCC Bali, akhir Protokol Kyoto 2012) &lt;br /&gt;- Neo-kapitalisme, WTO dan Neo-marxisme&lt;br /&gt;- Krisis energi dan 'sky rocketing' harga BBM tingkat dunia.&lt;br /&gt;- Global korporatokrasi &lt;br /&gt;- Konstelasi ASEAN (dgn Malaysia, Singapura, Thailand..) dan Australia.&lt;br /&gt;- Kebangkitan RRC dan India&lt;br /&gt;- Kejahatan transnasional&lt;br /&gt;- HIV/AidS dan berbagai penyakit lainnya.&lt;br /&gt;- Revolusi iptek, TI TV/multimedia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di semua tahapan jaman, suku-suku bangsa dan bangsa ini turut dipengaruhi dan mengalami berbagai perubahan. Namun, dalam percaturan dunia dengan pengaruh lingkungan eksternal seperti ini, suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia harus memiliki ketahanan jati diri, wawasan dan kelengkapan dalam paling tidak 10 hal di atas. Jika tidak, maka yang terjadi dalam proses saling pengaruh dan mempengaruhi ada dua hal. Dipengaruhi atau mulai mempengaruhi. Yang diharapkan adalah adanya keseimbangan, kesetaraan, untuk saling mempengaruhi: boleh dipengaruhi tapi juga bisa mempengaruhi. Jadi ada nilai persaingan, sekaligus kerjasama kolaborasi dalam suatu play-ground atau game yang dapat berlangsung sebisanya dalam iklim yang mengedepankan fairness atau asas keadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat memiliki posisi yang setara, equal (&lt;strong&gt;egalite'), &lt;/strong&gt;dalam kesatuan bersama hidup umat menuju pembebasan kemajuan (&lt;strong&gt;liberte')&lt;/strong&gt; dan persaudaraan yang rukun &lt;strong&gt;(fraternite' ), &lt;/strong&gt;tentu suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia harus memiliki orang-orang para pemimpin sekaligus sistem, sistem-sistem (internal) yang dibangun secara handal, baik, bagus, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan. Sekuat-kuat pengaruh lingkungan eksternal di jaman globalisasi supra modern seperti sekarang, bila orang-orang para pemimpin dan sistem yang dibangun ditata handal, baik dan benar; maka pengaruh lingkungan eksternal tersebut tidak akan dapat membuat kehidupan di tingkat individu, keluarga, komunal, suku/suku-suku bangsa dan bangsa ini menjadi &lt;em&gt;collapse.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana hal itu bisa terjadi?&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Tidak lain adalah kembali kepada orang orang para pemimpin lebih dulu. Baru selanjutnya kepada sistem, atau sistem-sistem (internal) yang di bangun pada tingkat-tingkat itu. Jadi, jika orang-orang para pemimpin dalam komunitas, suku-suku dan bangsa handal, maka suku-suku bangsa, bangsa dan negara pun akan mampu menghadapi sistem-sistem dan pengaruh lingkungan eksternal sebesar dan se- negatip apapun. Sebab itu kembali penting dan urgen untuk memperbaiki, memulihkan, menyembuhkan orang-orang para pemimpin terlebih dulu. Guna menjamin sistem, sistem-sistem (internal) dapat semakin handal menyikapi pengaruh lingkungan eksternal dengan benar, baik dan dewasa menuju kemajuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jadi jika demikian, dari mana kita dapat memperbaikinya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika harus memilih prioritas, ya harus dari segi orang dan pemimpin/para pemimpin nya terlebih dahulu. Meski dalam segi realitas, kedua-duanya harus diretas. Memperbaiki orang/pemimpin, dan dalam saat yang sama secara paralel harus diupayakan perbaikan sistem atau berbagai sistemnya agar makin berjalan semakin handal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang engineer atau kumpulan engineer termasuk di bidang sosial, untuk awal membangun sistem tidak terlalu sukar bila dibandingkan membangun orang atau pemimpin. Namun, untuk membangun sistem yang benar-benar handal, bagus, baik, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan, nyatanya tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem awal yang telah terbentuk atau dibentuk itu semata. Sangat perlu berperan atau peran serta orang-orang atau para pemimpin tersebut di atas. Jadi kembali lagi kepada orang dan para pemimpin itu, agar sistem yang telah dibentuk tersebut dapat berjalan, atau dapat operasional secara handal, bagus, baik, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem awal terbentuk bagus, baik, benar, namun pelaksanannya orang-orangnya para pemimpinnya tidak bagus, baik dan benar, maka sistem tidak dapat bekerja dengan baik. Sistem tidak dapat bekerja dengan handal menuju kemajuan. Jadi orang-orang dan para pemimpin lah yang harus pertama dan seterusnya diperbaiki. Ditingkatkan. Dimatangkan. Sehingga dapat mencapai kelengkapan. Demikianlah pentingnya dilakukan berganti-ganti, berurut. Orang/pemimpin, sistem, orang/pemimpin lalu sistem yang diperbaiki. Terus sampai mencapai kematangan bagi kedua-duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dari mana harus dimulai perbaikan dan pendewasakan orang para pemimpin?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika mulai dari orang dan para pemimpin, dari mana harus mulai untuk melakukan perbaikan dan pendewasaan orang-orang para pemimpin? Jawabnya, adalah ya mulai dari langkah perbaikan orang/para pemimpin. Orang-orang dan para pemimpin harus disembuhkan, diperbaiki, dipulihkan. Lihat prioritas, mana yang harus disembuhkan, diperbaiki dengan segera. Mana yang harus disembuhkan, diperbaiki dalam jangka panjang. Aspek atau dalam segi mana yang harus mulai disembuhkan: Ketuhanan, kesadaran akan alam universal, lingkungan, spiritual (rohani), kebudayaan mindset sosial, kejiwaan/mental atau segi fisik jasmani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selanjutnya, adalah upaya pembinaan orang-orang para pemimpin!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika aspek atau segi-segi kehidupan dari orang-orang para pemimpin sudah mengalami kesembuhan, perbaikan atau pemulihan, maka hal yang bisa dilakukan selanjutnya adalah upaya pembinaan (nurturing) secara terus menerus. Pembinaan di sini cakupannya sangat luas, meliputi upaya pendidikan (formal, non formal, informal), pemuridan, persekutuan, pendampingan, penggembalaan, pelayanan dan seterusnya. Dan hal ini semua, tidak bisa dilakukan hanya lewat satu metoda misalnya metoda atau pola patron-klien, namun lewat berbagai metoda. Semua metoda. All for all. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya menyangkut atau melibatkan satu individu, satu kelompok, satu komunitas. Namun dilakukan dengan bersama-sama sebagai satu kesatuan kolektif. All for all juga. Kolektif kecil sampai kolektif besar. Kolektif lokal, kolektif region sampai kepada kolektif nasional dan global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ambillah sisi positip dari globalisasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita bersyukur lewat satu sisi positip globalisasi misalnya, metoda atau pendekatan "all for all" ini bukan merupakan hal yang mustahil lagi. Tapi dapat dilakukan dan diwujud-nyatakan. Sisi globalisasi ini kita dapat lihat sebagai anugerah Tuhan bagi peluang terjadinya perubahan bagi kemajuan. Perubahan kini tidak lagi bisa dilakukan hanya di tingkat individu atau keluarga semata. Namun perubahan nyata dapat terjadi sekaligus di tingkat kelompok kecil, komunal, komunitas, suku, kaum, bangsa dan bangsa-bangsa secara mengglobal. Lewat cara apa saja, orang-orang dan para pemimpin dapat diubahkan. Tentu harapan kita, perubahan yang terjadi adalah yang menuju kemajuan, kebaikan, keadilan dan kesejahteraan utuh (holistik) dalam arti sesungguhnya. Lahir batin, jasmani rohani, seanteronya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang-orang para pemimpin bisa diubah, maka sistem pun akan bisa diubah!&lt;br /&gt;Dengan demikian, kita makin meyakini sekarang, jika orang-orang para pemimpin punya kemungkinan untuk dirubah, disembuhkan, diperbaiki, dipulihkan dan dibina saling membina terus hingga kedewasaan utuh, maka sistem ataupun sistem-sistem yang ada di masyarakat, suku-suku bangsa, negara dan bangsa pun dapat mengalami perubahan, perbaikan, pemulihan serta peningkatan menuju kepada operasionalisasi sistem yang semakin handal. Sistem handal dan bermutu yang sanggup membuat komunitas, masyarakat dan bangsa itu sendiri semakin maju, semakin baik, bagus, semakin adil dan sejahtera secara seutuhnya (holistik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jika orang-orang pemimpin dan sistem dapat diubah dan menjadi handal, maka suku-suku dan bangsa Indonesia dapat memberi kontribusi positip bagi dunia dalam percaturan global. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hal ini akan berlaku otomatis dan natural. Jika orang-orang para pemimpin dalam suku bangsa dan bangsa di Indonesia berhasil dipulihkan, diperbaiki dan dibina dengan baik. Lalu sistem, sistem-sistem (internal)nya juga bisa diperbaiki dan dibuat handal, maka suku-suku dan bangsa Indonesia secara keseluruhan dapat memberi kontribusi yang positip bagi kemajuan dunia. Bagi keadilan dan kesejahteraan dunia secara seutuhnya. Menjadi garam dan terang dunia. Terang bagi bangsa-bangsa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maka, mari kita semua mulai perbaikan dengan lebih serius lagi! Jangan menjadi lelah dan tawar hati!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk Indonesia, suku-suku bangsa indigenous di Indonesia dan etnis keturunan lainnya di Indonesia, mari mulai kita bangun dari sekarang lebih seksama lagi upaya perbaikan, penyembuhan, pemulihan dan peningkatan orang-orang dan para pemimpin. Dari mulai unit terkecil: keluarga. Kelompok kecil, komunal, komunitas, marga-marga, suku-suku, jemaat/jemaah agama, kaum, golongan sampai kepada orang-orang dan para pemimpin dalam berbagai lingkungan sosial (politik, agama, militer, pendidikan/sekolah, seni, budaya, iptek, lsm, mahasiswa, generasi muda, remaja, anak-anak, dst). Jangan karena kita melihat perkembangan- perkembagan negatif dan berbagai kegagalan yang terjadi di waktu-waktu yang lalu bahkan sekarang ini, hingga membuat kita menjadi lelah dan tawar hati. Jangan jangan menjadi lelah dan tawar hati! Mari, lewat berbagai cara, berbagai metoda, pendekatan yang dipilih dengan penerapan nilai-nilai etika/moral dan content (isi) yang benar, baik, bagus dan dapat dipertanggung- jawabkan. All for all. Pendekatan all for all, dan semua bagi semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kita akan sama-sama menyaksikan perubahan bagi kemajuan itu dari sekarang dan ke depan!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Maka, jika hal ini semua hal ini yang dilakukan, maka kita akan sama-sama menyaksikan perubahan dan kemajuan nyata dari sekarang dan ke depan. Perubahan bagi kemajuan yang Tuhan akan dan segera lakukan melalui kita semua bagi individu-individu, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas , marga-marga, jemaat/jemaah jemaah agama, suku-suku bangsa, etnis keturunan lainnya, lingkungan-lingkung an sosial dan alam. Perbaikan dan kesembuhan kolektif massal di bangsa ini akan terjadi, tidak perlu harus dicapai dalam jangka waktu yang terlalu lama. Sesuai upaya dan keseriusan kita semua. Semakin serius dan seksama, maka jangka waktu perubahan perbaikan penyembuhan dan pemulihannya akan segera terasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesejahteraan seutuhnya bagi suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Maka setiap 'suku-suku' dan suku-suku bangsa, bahkan bangsa dan negara ini akan mengalami kesembuhan, pemulihan, perbaikan, kemajuan yang luar biasa hasilnya. Kemajuan menuju kebaikan, keadilan dan kesejahteraan seutuhnya. Jika suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia bisa mencapai hal yang seperti ini, maka secara kolektif suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia akan mampu memberi kontribusi yang positif bagi keutuhan ciptaan, keadilan dan kesejahteraan seutuhnya di dunia. Menjadi garam dan terang dunia. Terang bagi bangsa-bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang kita semua sama-sama harapkan. &lt;br /&gt;Menjadi visi dan ekspektasi kita bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Tuhan menolong kita semua. Selamat Tahun Baru 2008 !! Selamat menyongsong hari depan yang penuh harapan dan sejahtera utuh bagi kita semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hanya bagi Tuhan, segala kemuliaan !!&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-4932891438837731711?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/4932891438837731711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/artikel-visioner-perbaikan-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4932891438837731711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4932891438837731711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/artikel-visioner-perbaikan-indonesia.html' title='Artikel Visi Provisi Perbaikan Indonesia: Sambut Tahun Baru 2008.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-7110252980883136907</id><published>2007-12-29T09:06:00.000-08:00</published><updated>2007-12-31T08:21:16.102-08:00</updated><title type='text'>Dua poin penting menuju konsep pembangunan wilayah Batak SihutaSada: mungkinkah dapat diretas?</title><content type='html'>Guna menjamin berhasilnya pemberdayaan pembangunan dan kemajuan riel masyarakat Tanah Batak pada masa sekarang dan ke depan, perlu sekali belajar pengalaman keberhasilan "best practices" misalnya daerah/masyarakat di luar Tanah Batak. Misalnya diambil contoh Bali, Cebu-Island Filipina, wilayah kerja Grameen Bank Bangladesh, negara Thailand, Malaysia, India, RRC, Korea dan  Jepang. Maka sangat perlu kita mempertimbangkan dua poin faktor-faktor mendasar menuju konsep pembangunan wilayah Tanah Batak yang benar dan dapat dipertanggung-jawabkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pentingnya pada masa sekarang menentukan fokus peta lingkungan daerah Tanah Batak yang memiliki homogenitas masyarakat: yang sama, untuk perencanaan kemajuan. Selain memiliki kesamaaan yang sangat dekat dalam hal background adat-istiadat, yang teramat penting pemetaan Tanah Batak adalah daerah dan penduduk yang memiliki kesamaan latar belakang agama/belief. Homogenitas latar belakang agama/belief dari mayoritas daerah dan penduduk Tanah Batak yang dimaksud, pastinya secara relatif akan sangat mempermudah dalam mendukung penciptaan kesamaan (alignment, spooring) pola berpikir, pola kebijakan serta pola bertindak dari para leaders serta rakyat di bagian dari Tanah Batak tersebut. Menurut pengalaman empiris, situasi peta daerah dan penduduk dengan background agama/beliefs yang heterogen dengan segala dinamika permasalahan dan konfliknya, akan sangat sulit membuahkan kesepakatan dan komitmen membangun bagi kemajuan.    &lt;br /&gt;Maka dengan dasar pertimbangan ini, fokus peta lingkungan daerah Tanah Batak yang akan dirancang secara cermat pembangunannya, adalah meliputi daerah Rura &lt;em&gt;Si&lt;/em&gt;lindung, &lt;em&gt;Hu&lt;/em&gt;mbang Hasundutan, &lt;em&gt;T&lt;/em&gt;ob&lt;em&gt;a&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Sa&lt;/em&gt;mosir dan &lt;em&gt;Da&lt;/em&gt;iri Pakpak (bisa disingkat "Sihuta Sada", atau Tanah Batak Sihuta Sada). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perlu diretas bangkitnya semangat baru bagi kesatuan tekad, semangat, cara pandang dan kesepakatan internal terutama dari para leaders (tokoh agama, tokoh adat, teolog, pendidik, lsm, birokrat, politisi, militer, pengusaha, pemerhati) dan tentunya seluruh masyarakat internal dan eksternal Batak SihutaSada. Yakni mereka yang tinggal dan berasal-muasal dari fokus peta lingkungan daerah bonapasogit Tanah Batak "Sihuta Sada", dan di mana pun di dunia (nasional-global), untuk bersatu dan bersepakat secara bersama. Secara aklamasi. Melalui kesatuan dan kesepakatan seperti ini, niscaya akan mempermudah suatu upaya penyusunan konsep utuh bagi pemberdayaan pembangunan Tanah Batak Sihuta Sada secara holistik oleh Tim Ahli Terpadu yang recognitif dan dapat dipertanggung-jawabkan kapabilitasnya. Konsep ini mungkin bisa disebut sebagai konsep pembangunan holistik (KPH) "Batak SihutaSada Na Uli".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-7110252980883136907?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/7110252980883136907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/konsep-pembangunan-wilayah-batak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7110252980883136907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7110252980883136907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/konsep-pembangunan-wilayah-batak.html' title='Dua poin penting menuju konsep pembangunan wilayah Batak SihutaSada: mungkinkah dapat diretas?'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-9074376314299619051</id><published>2007-12-19T07:52:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T08:23:59.519-08:00</updated><title type='text'>Refleksi akhir tahun 2007 bagi pemimpin dan umat Kristen indigenous Indonesia.</title><content type='html'>Tahun 2007 sedikit hitungan hari lagi akan kita lalui bersama. Tahun baru, 2008, akan segera kita jelang. Banyak hal dalam titian perjalanan sepanjang 2007 dapat dijadikan 'lesson-learnt'  untuk bekal memasuki tahun 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa petikan 'lesson-learnt' (BN-09) yang mungkin bisa menjadi bahan refleksi dari keseluruhan titian perjalanan 2007 umat Kristen indigenous Indonesia di tanah air. Semoga refleksi ini bermanfaat bagi umat kristen indigenous yang tinggal di  bumi persada Nusantara, juga bagi yang kini tinggal di luar Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Melihat perkembangan kehidupan keberagamaan dan spiritualitas kristen yang telah berlangsung sepanjang tahun 2007 ini, semakin dirasakan sangat perlunya umat kristen indigenous Indonesia bertambah matang tumbuh kembang dewasa dan berbuah. Hidup keberagamaan dan spiritualitas kristen yang sewajarnya makin mampu dihidupi dengan spirit, jiwa, moralitas, etika, sikap perilaku (behaviour) dan perbuatan sosial yang semakin cocok dan benar dengan inti ajaran kristen. Keberagamaan kristen dan spiritualitas yang diharap makin dapat dipertanggung- jawabkan, dengan kesanggupan melakukan refleksi introspeksi lebih dalam berikut orientasi pada kemajuan nyata dan terukur. Keberagamaan kristen yang berwawasan dan mencerah, jauh dari sikap picik, sindrom kecurigaan syak-wasangka dan berbagai perseteruan (menganggap yang lain sebagai musuh). Mampu makin seimbang dan integratif dalam memberikan penilaian terhadap berbagai fenomena kasus, peristiwa, pemikiran, aliran dan ketokohan. Tampil dengan performa dan kinerja lebih menyejukkan, kolaboratif, sehat membangun serta elegan dalam melakukan tugas perlombaan yang menghidupkan, bukan saling mematikan. Perlombaan sehat memperjuangkan tegaknya kebenaran, kemuliaan, kemandirian dan keteguhan bagi terwujudnya buah-buah kebaikan yang bisa dinikmati bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keberagamaan dan spiritualitas kristen indigenous bisa lebih giat diperjuangkan agar terhindar dari cara pandang kristen dikotomis, berbasiskan 'dualisme Platonis' yang serba keliru. Yang kerap melulu memisahkan kehidupan rohani (sakral, ibadah) dengan kehidupan sekuler dunia dan lingkungan. Antara kehidupan agamawi dan praksis hidup sehari-hari. Karena kehidupan sendiri sejatinya utuh dan holistik sifatnya. Kesalehan, sikap pietis dalam ibadah semestinya harus terwujud tercermin pada saat yang sama dalam kesalehan sosial dan hidup kolektif bersama lingkungan lannya di sekitar. Terekspresi nyata dalam karakker dan buah-buah kebaikan di berbagai sudut dan lapangan kehidupan. Sebab itulah peranan para pemimpin (leaders) kristen indigenous Indonesia, baik tingkat lokal nasional maupun global, semakin sangat dibutuhkan dan diharapkan pada masa sekarang dan ke depan. Guna melapangkan umat kristen indigenous berpeluang besar semakin memiliki jati diri serta wawasan kekristenan, kebangsaan, kesukuan yang lebih utuh, seimbang, matang dan dewasa di hari-hari ke depan sekaitan dengan pergaulan global yang sedang berlangsung dewasa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kristen indigenous di negeri ini sangat perlu lebih mengutamakan &amp; memperjuangkan pola kesaksian dan pewartaan Injil kabar baik melalui cara dan pendekatan yang lebih natural (alamiah), mandiri dan dewasa dalam terang kasih dan kuasa Tuhan. Sanggup membagikan hidup berirama Injil kepada saudara-saudara rekan-rekan sahabat khususnya umat muslim dalam pelbagai mazhabnya sebagai umat mayoritas di negeri ini. Tentu, sebelum hal ini bisa terwujud, pola kesaksian dan persekutuan Injil secara internal di kalangan umat kristen sendiri dalam kepelbagaian denominasinya juga harus diperjuangkan dan diwujud-nyatakan. Meretas 'point of contact' baru, membangun relasi jaringan perserikatan, saling asah asih asuh disertai pemulihan hubungan kristen yang diperbarui, menjadi prasyarat requisite penting untuk Injil damai sejahtera terwartakan dengan baik dalam keseluruhan manifestasinya. Hal ini berlaku juga dalam hubungan kristen indigenous dengan umat pemercaya lainnya, baik pemercaya lokal, nasional dan global di era globalisasi ini. Sebab itulah, pola atau cara-cara persekutuan dan pewartaan Injil yang cendrung dan sering hanya melulu menekankan aspek-aspek sensasional, bombastis, hiperbolis, selebriti dan sarkastis disertai upaya-upaya provokatif dan 'black campaign' (kampanye hitam), mungkin perlu berkali-kali lagi dipertimbangkan kembali guna menjamin bertumbuhnya dan majunya iman keberagamaan wawasan sisi edukasi sosial dan kesadaran lingkungan umat dalam berbagai dinamika perubahannya kini dan ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Umat Kristen indigenous Indonesia di hari-hari sekarang dan ke depan mungkin perlu lebih lagi bersikap makin kritis, positip dan matang dalam menyikapi setiap fenomena, issue, informasi, ideologi, faham, ajaran-ajaran, model spiritualitas, model pembangunan, metodologi dan kemunculan tokoh-tokoh baru yang berasal dari luar sebagai konsekuensi logis dari begitu derasnya arus informasi global dan trans nasionalisasi yang bergerak demikian cepat. Sanggup mengambil yang pas, benar, seimbang dan baik, namun sekaligus mampu juga secara cerdas dan gesit membuang hal-hal yang jelas-jelas tidak cocok, tidak pas dan keliru hal-hal buruk, kotor atau 'jorok' serta absurd yang berasal dari luar (negeri ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faham-faham ideologi yang justru membuat rapuh, lemah dan rusaknya iman kekristenan, spirit nasion dan kebangsaan dari luar, sangat perlu dikritisi, diwaspadai dan ditindak-lanjuti untuk mencari solusinya, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) Faham kesuksesan dan kemakmuran semu yang dibangun oleh berbagai konstruksi teologi, cara pandang dan filosofi keliru (a.l. teologi kemakmuran, teologi sukses). Yang berbuahkan faham materialisme, mamonisme, hedonisme dan individualisme sebagai turunannya yang berdampak sangat 'jelek' bagi kehidupan umat dan bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(b) Pada ekstrim sisi yang lain, faham asketisme, kemiskinan status-quo dan pemiskinan yang salah keliru dan sama'jelek'nya (seperti a.l. teologi kemiskinan), perlu untuk terus dikritisi dan 'dicounter' pandangan-pandangan teologis, cara pandang dan filosofinya; agar umat tidak terus-menerus berkanjang, terpuruk, tertindas dan terjepit dalam lembah kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan yang 'abadi'. Terjerembab dalam lubang dan kubangan kegelapan dan kehinaan yang sama dan klasikal, tanpa ada solusi terobosan dalam bentuk perubahan paradigma berikut penyediaan akses-akses kemajuan yang solutif, riel dan transformatif mengubahkan) . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c) Radikalisme agama, politik agama adn politik aliran yang sempit dan picik dengan berbagai konstruksi pembenarannya yang konyol dan tidak realistis, dengan berbagai tindakan kekerasan (violenisme) serta teror massa (mob-terror) sebagai pelampiasan di luar hukum, norma dan peradaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(d) Pluralisme agama dengan pelbagai gerakan kepercayaan dan beliefs serba plural, serba merelatifkan dengan menafikan unsur kemutlakan dan singularitas kebenaran di era 'zaman baru' (new age) berikut sekularisme agama, pemikir bebas dan kemunculan 'super hero' 'super idol' 'tuhan-tuhan' baru yang berupaya melepaskan rasio dari iman sejati yang hidup, melepaskan eksistensi ciptaan (beings) dari Tuhan Sang Penciptanya (Being). Dan sebaliknya pula, berupaya membuktikan eksistensi Tuhan(Being)hanya sebagai manusia biasa (being) yang konon dikaji berdasar kaidah sains sejarah arkeologis yang nyatanya masih penuh kontroversi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(e) Occultisme dan mistikisme tradisionil dengan berbagai mitosnya berkemas berversi 'campur sari' modern dan supra-modern, dalam kemasan produk ilmu teknologi dan multimedia yang masih sangat besar/kental pengaruhnya di bidang keluarga, sosial, seni budaya, masyarakat, media publikasi massa, pendidikan, bisnis usaha dan kehidupan politik negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kristen indigenous negeri ini sudah selayaknya harus bahu-membahu untuk turut berjuang bagi kemandirian kristen indigenous sendiri, pemantapan jati diri dan daya ungkit kemajuan negeri ini di bidang spiritual, theologi, lingkungan, sosial budaya, pendidikan, hukum, politik dan ekonomi. Cara yang paling efektif sejatinya adalah melalui pengayaan (enrichment) aspek kekristenan, keberagamaan dan spiritualitas umat. Meningkatkan kepekaan kesadaran umat akan lingkungan dan kekayaan warisan seni sosial budaya yang banyak diklaim sebagai buah warisan bangsa/negara lain, sambil tentunya terus melakukan adjustments transformatif. Dan yang penting lagi mengembangkan semangat kemandirian dan entrepreneurship berdasar perspektif kristen sebagai pilar kemajuan kristen indigenous sendiri secara lebih utuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Melakukan tekanan yang 'lebih keras' dan terbuka terhadap upaya pemberantasan korupsi (KKN) yang cendrung melamban dan melemah, pengentasan kemiskinan dan pengangguran, penanggulangan korban bencana alam &amp; upaya reliefs, pengentasan kebodohan lewat jumlah, mutu strategi kurikulum pendidikan yang berdampak, penanggulangan imoralitas dan penyakit masyarakat mulai dari tingkat keluarga komunitas dan jemaat (kriminalitas, narkoba, judi, HIV/AIDs, premanisme, pungli, perceraian, free-sex, homosexual, perselingkuhan, provokasi propaganda dan keberingasan massa, tawuran, penyelundupan, pembalakan ilegal). Upaya riel mengatasi persoalan tidak terampilnya SDM dan masalah TKI dan kegagapan iptek. Terus meningkatkan kesadaran umat pada masalah hukum/hak asasi/keadilan (justice) dan arti kesehatan dan lingkungan. Pendeknya, berbagai bentuk aktivitas program, sosialisasi, jaringan dan improvements bagi solusi terobosan nyata perlu diiniasi dan diretas oleh pemimpin dan umat kristen indigenous di seluruh kabupaten/kota negeri ini. Berjuang lewat perbuatan dan karya nyata, selain juga lewat ide 'terobosan' dan gagasan transformasional mencerahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Terkait budaya suku dan kebangsaan pada poin 5, Kristen indigenous di negeri ini harus mampu berupaya untuk menjaga dan merevitalisasi kekayaan sumber daya alam yang masih ada, serta warisan budaya seni talenta bangsa dan suku-suku bangsa yang sangat diapreasiasi dikagumi dan mendapat pengakuan dari bangsa-bangsa di tingkat regional dan global (seperti a.l. Batak, Dayak, Maluku, Sunda, Bali, Jawa, Toraja, Mamasa, Manado Minahasa, Sangir Talaud, Nias, Papua, Mentawai, Sumba, Timor, Alor, Flores, Luwuk, Poso, dll). Kebudayaan yang luar biasa, eksotik dan 'berwarna' (colorful) sebagai sumberdaya seni dan budaya SDM Indonesia yang inheren eksis di antero blantika negeri ini. Ini berpotensi menjadi "daya saing" yang luar biasa sebagai bagian jati diri dan modal talenta sosial budaya serta lingkungan yang memungkinkan bangsa termasuk generasi muda (genmud) negeri ini tumbuh dan berkembang; dalam penatalayanan dan pemberdayaan menuju kemajuan dan kejayaan yang lebih berarti, bermartabat, penuh confidence dan membangun respek ke depan dalam pergaulan internal dan masyarakat antar-bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kristen indigenous di negeri ini harus terus mendukung secara intensif dan konsisten bagi akselarasi proses regionalisasi dan otonomi daerah (otda) dalam 'development strategic planning' dan 'sistem hukum perijinan dan anggaran' yang benar di berbagai daerah kabupaten/kota Indonesia. Mampu menggunakan konsep lokal-nasional- global dan pertumbuhan pengembangan daerah secara profesional dan qualified menuju pemerataan dan pertumbuhan. Sehingga kaderisasi dan suksesi kepemimpinan, kesejahteraan, keamanan, kemakmuran dan keadilan yang otentik dapat diraih. Sebab itu, kaderisasi pionir-pionir kepemimpinan generasi yang lebih muda, bersih, jujur, profesional dan cerdas menjadi keharusan guna menciptakan peluang pertumbuhan, keadilan dan kemajuan di berbagai lini kehidupan komunitas, masyarakat dan bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sejalan dengan poin 5-8, Kristen indigenous di Indonesia bersama dengan komunitas dan elemen bangsa lainnya, sudah seharusnya mendukung aktif kepemimpinan yang bersih, berani, jujur, adil dan penuh keteladanan dalam jajaran trias politika dan jajaran daerah di seluruh antero negeri ini. Sekaligus mampu membangun tata hukum, keadilan, sistem kenegaraan, kemasyarkatan, tata kota, desa dan pesisir serta komunitas yang handal dalam menciptakan lingkungan negara, bangsa, daerah dan komunitas, teritori yang layak dan 'trustworthiness' . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Kristen indigenous Indonesia pada akhirnya sudah selayaknya secara konsisten memperjuangkan terjaminnya kebenaran hakiki dan sejati ditegakkan di tengah bangsa, negara dan komunitas; hak individual tetap dijamin, semangat kebersamaan kesetiakawanan sosial dan kebangsaan ditingkatkan, warisan seni dan budaya dijaga digalakkan direvitalisasi, ruang kreatifitas diberi tempat, pola pertumbuhan alam natural diperhatikan dan diatas segalanya otoritas Tuhan Pencipta Semesta Alam sejati bertakhta di tengah bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga di tahun yang baru, 2008 para pemimpin, influencers dan umat kristen indigenous negeri ini dan di mana pun di bagian dunia ini, dapat memberikan kontribusi yang lebih nyata bagi suatu harapan baru, ekspektasi baru, bagi suku-suku bangsa di negeri ini, bagi bangsa tercinta ini. Harapan kemajuan di bidang keberagamaan, spiritualitas, lingkungan, keluarga, sosial budaya, pendidikan, hukum, politik/kenegaraan, ekonomi dan kemasyaratan; bagi tiap individu dan komunitas yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya Tuhan menolong dan selalu menyertai kita sekalian!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-9074376314299619051?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/9074376314299619051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/refleksi-akhir-tahun-2007-seorang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/9074376314299619051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/9074376314299619051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/refleksi-akhir-tahun-2007-seorang.html' title='Refleksi akhir tahun 2007 bagi pemimpin dan umat Kristen indigenous Indonesia.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-7430785486081306269</id><published>2007-12-13T01:38:00.000-08:00</published><updated>2007-12-14T02:40:59.625-08:00</updated><title type='text'>Membagikan hidup berirama Injil kepada rekan-rekan sahabat umat Muslim secara alamiah dalam terang Tuhan (damai Natal).</title><content type='html'>Informasi dari Transforma Sarana Media (TSM/ed.Natal 2007 -NW.09) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan dalam pertemuan-pertemuan &lt;em&gt;(encounters)&lt;/em&gt; kristen di dalam dan luar negeri, sering saya utarakan bahwa perhatian terhadap perkembangan serta tingkat kesejahteraan umat muslim dalam berbagai mazhabnya perlu disadari oleh segenap kalangan kristen. Ini mungkin membutuhkan perubahan cara pandang dan pendekatan kristen berikut matangnya karakter attitudes khususnya dalam cara berkomunikasi dan berelasi kristen.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bukan saja akhirnya dapat menambah wawasan umat Kristen mengenai cara pandang Islam terhadap kekristenan dan hidup kristen, namun juga akan mampu semakin menambah khasanah kristen dalam pendekatan yang benar dalam membangun hubungan, human relationship yang pas dengan berbagai golongan umat Islam sebagai umat mayoritas di negeri ini, sekarang dan ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kalangan kristen menyebut ini sebagai penginjilan melalui gaya hidup. Namun, saya lebih merasa pas menyatakan hal ini sebagai membagikan hidup berirama Injil pada rekan-rekan sahabat muslim secara alamiah dalam terang Tuhan. Melalui terang Roh KudusNya dalam hati dan jiwa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sejatinya kita jumpai cukup banyak pendekatan yang dapat dilakukan kristen untuk pewartaan kabar baik. Sebut saja kampanye pengabaran Injil, KKR, kelompok kecil PI, kelompok sel atau basis, siaran radio, film, milist, multimedia, dll. Namun, saya ingin katakan kembali ada hal penting yang sering terlupakan dalam pewartaan. Bahwa sejatinya pewartaan sangat perlu dilakukan secara alamiah, natural. Dan membagi hidup berirama Injil memerlukan proses atau pentahapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya ada &lt;strong&gt;empat tahapan &lt;/strong&gt;yang perlu dilalui yang memungkinkan kristen membagi hidup berirama Injil secara alamiah, natural: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahap pertama&lt;/strong&gt;, menciptakan 'point of contact' dalam berbagai bentuknya, sangat penting dan perlu bagi umat Kristen guna membangun hubungan yang lebih baik ke depannya dengan rekan-rekan sahabat muslim. Ini perlu saya nyatakan sekali lagi, mungkin berupa pengulangan. Kristen jangan sampai meninggalkan upaya membangun 'point of contact' yang baru dengan rekan-rekan sahabat muslim. Perbedaan-perbedaan yang mungkin cukup 'mendasar' dengan rekan-rekan sahabat ini, tidak perlu menjadi halangan bagi kristen untuk mulai meretas terus 'point of contact' baru. Hanya dalam meretas hal ini, kristen seharusnya melakukannya dengan sikap yang jauh lebih tulus, lebih rendah hati, genuine sebagai sesama manusia seturut citra dan gambar Allah. Sikap kepribadian yang semakin matang dan berwawasan semakin diperlukan di era sekarang. Semuanya adalah untuk menghadirkan tanda-tanda kasih, rasa harga-menghargai (respek), semangat positif, memperpendek gap, meningkatkan persahabatan dan keberkahan (blessings) dari Allah Maha Kuasa. Sehingga kehidupan yang dihidupi bersama mendatangkan manfaat, berkat, kebaikan, ketenteraman, kesejahteraan dan kecukupan baik lahir maupun batin di tengah keluarga, komunitas, masyarakat dan bangsa di antero negeri ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya yang dikenal semua agama, termasuk Islam sebagai umat mayoritas di bangsa ini adalah buah kebaikan. Buah perbuatan yang baik. Soal kebenaran (truth), mungkin bisa saja manusia menolaknya atau mempertentangkannya dalam suatu wacana, perdebatan, konflik yang kadang tiada akhirnya. Namun, soal kebaikan (goodness), hampir tiap manusia apapun agamanya, tidak menolaknya. Tiap orang sangat membutuhkan. Kasih dan kebenaran dalam perbuatan adalah kebaikan. Tentu kebaikan yang dimaksud di sini, adalah kebaikan yang ikhlas, tulus, tanpa pamrih apapun.. tanpa niat ataupun rekayasa apapun. Dengan sengaja menghindar dari spirit atau motif kepentingan, "udang di balik batu" atau "hidden agenda". Ground motives seperti ini umumnya didrive oleh kepentingan misi agamawi, ideologis, politik aliran, sektarian, bahkan ujung-ujungnya uang atau laba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Tuhan Maha Tahu. Tuhan tak dapat tertipu dan ditipu oleh niat hati atau rekayasa manusiawi sempit. Faktanya menurut pengalaman saya, cepat atau lambat hati tiap orang akan segera tahu bilamana suatu kebaikan, pemberian, pujian, aktivitas program dan sebagainya apakah dilakukan dengan niat ikhlas tulus tanpa pamrih atau bukan. Poin ini terus terang menjadi sangat kritikal di negeri ini, mengingat bila bisa dilalui dengan mulus, maka hal ini pasti akan memampukan kristen dan islam bisa membangun sikap percaya, saling percaya, bisa bebas lepas dari kecurigaan-kecurigaan &lt;em&gt;(suspicious syndromes)&lt;/em&gt; dan perseteruan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, jika pada tahap pertama ini kristen sudah berhasil membangun point of contact, hubungan relasi yang bersih tulus ikhlas tanpa pamrih sebagai sesama manusia yang saling percaya, maka untuk ke tahap-tahap selanjutnya dalam anugerah Tuhan tentu akan dapat lebih mudah kristen melakukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahap kedua&lt;/strong&gt;, adalah apa yang disebut sebagai upaya membangun network, jaringan. Pada tahap ini bisa diretas upaya membangun perserikatan, memorandum of understanding (MOU), &lt;em&gt;friendship&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;fellowship &lt;/em&gt;(persekutuan) yang sangat dekat satu sama lain. Dan pada tahap ini, kembali yang dibutuhkan adalah sikap keterbukaan yang konsiten, open-minded, hati yang bersih, kesediaan untuk menjadi rendah hati dari kristen terhadap rekannya yang Islam, demikian juga sebaliknya sebagai wujud nyata implementasi 'golden rules' atau 'golden principles. Isu-isu yang bisa diangkat bersama dalam membangun network sangat banyak, misalnya mengenai isu kegiatan sosial bersama, kemandirian bersama, pendidikan, program bersama pengentasan kemiskinan, isu kebangsaan, hak asasi, pelestarian lingkungan dll, yang semuanya bermuara pada upaya peningkatan mutu kehidupan bersama yang lebih baik di negeri ini, lebih luas di bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, &lt;strong&gt;tahap ketiga &lt;/strong&gt;bisa dilakukan jika tahapan kedua: membangun network jaringan sudah terlewati. Tahap yang disebut sebagai tahap saling asah, asih dan asuh. Disini kristen dan islam bisa sama-sama saling menguji, mengajar, mengedukasi perihal bagian-bagian dari kebenaran (truths). Dan kebenaran di sini bukan saja yang bersumber dari kebenaran yang bersifat rasio, teoritis atau edukatif, namun juga kebenaran yang bersumber dari kitab-kitab suci (agama), moral, pengalaman empiris, hak asasi, keadilan dan aspek iman spiritual lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah sampai pada tahap ini, perbedaan-perbedaan doktrin kebenaran yang ada antara kristen dan islam, tetap dapat didiskusikan secara terbuka; diperdebatkan sampai setajam apapun, namun karena sudah sampai tahap ketiga maka tahap ini sudah dilandasi kebaikan, ketulusan dan kebersihan hati, persahabatan, saling percaya dan saling mengasah berdasar point of contact dan jaringan yang telah terbentuk secara natural, alamiah.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Berlanjut akhirnya pada &lt;strong&gt;tahap keempat &lt;/strong&gt;secara alamiah dalam terang Tuhan. Kebenaran Injil mendapatkan kesempatan yang sangat luas untuk disampaikan kristen dengan seterang-terangnya, tentu tetap konsisten disertai sikap, matang dan bersedia dikoreksi dari kristen terhadap rekan-rekan sahabat muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyampaian blak-blakan Injil damai sejahtera pada tahap ini, sejatinya tidak akan lagi membangun atau menciptakan benci, dendam dan sakit hati. Namun, justru membangun respek karena sudah dilandasi secara alamiah oleh tiga tahapan sebelumnya. Sehingga yang ada, adalah berita yang menyukakan hati, menyentak namun sekaligus mencerahkan, membebaskan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap keempat ini yang dijumpai adalah kondisi serba rela. Kerelaan hati. Tidak ada lagi pemaksaan, pemaksaan manusia. Yang ada adalah situasi unity dalam kepelbagaian perbedaan. Kerendahan hati dan pelayanan. Doktrin yang dikemas dalam kasih yang utuh. Konsisten dibangun dalam semangat respek, harga menghargai satu sama lain, ketulusan, kebersihan hati, apologia yang natural dalam terang Tuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui uraian empat tahapan ini, saya hanya ingin menyatakan bahwa menghidupi dan membagi hidup berirama Injil bagi seorang kristen kepada rekan-rekan sahabat Islam, menjadi sebuah pelayanan dan penyerahan diri kristen dalam keutuhan secara alamiah. &lt;br /&gt;Jika ini yang bisa dilalui oleh setiap umat kristen secara natural, maka perhatian kristen terhadap perkembangan dan kesejahteraan rekan-rekan sahabat muslim, akan &lt;br /&gt;menjadi jembatan paling efektif bagi kristen untuk mengubahkan. Bukan saja mampu mengubahkan rekan-rekan sahabat muslim, namun juga mengubahkan hati, wawasan cara pandang, kematangan karakter dan pengalaman kristen sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati dan karakter yang sekeras batu karang sekalipun akan dilembutkan melalui kesaksian alamiah dan terang Roh Kudus. Wawasan, paradigma dan cara pandang sekeliru apapun akan terkoreksi. Benteng-benteng kehormatan dan harga diri akan diruntuhkan. Nilai-nilai kepalsuan akan terbongkar diganti dengan nilai-nilai kesejatian, kebenaran dan kekekalan Sorgawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah demikian, tentu kelak bukan saja kristen dan islam yang sama-sama bisa saling asah-asih dan asuh, dan mampu diubahkan. Bangsa dan negara ini pun akan diubahkan, dilepaskan Tuhan dari berbagai keterpurukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian tiada jalan pendek, jalan "shortcut". Mari kita segera tekun meretas serta membangun "point of contact" di berbagai bidang kehidupan kita. Membina relasi, network, berbagai aktivitas dan program, perserikatan dan fellowship. Lalu sambil tanpa lelah kita kerjakan proses yang mungkin saja cukup panjang untuk proses saling mengajar, diskursus, saling asah asih dan asuh dalam mengungkap berbagai inti kebenaran, kesejatian dan kekekalan. Maka Injil damai sejahtera akan terbagikan, terwartakan. Injil yang mengubahkan lewat seluruh keberadaan dan eksistensi kita secara natural, alamiah: lewat perkataan, sikap, karakter, perbuatan, wawasan cara pandang, buah karya, buah hidup, pergumulan, kesengsaraan, keberhasilan dan berbagai titian perjalanan hidup kristen dalam bimbingan RohNya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai akhirnya, para rekan-rekan sahabat muslim mau ikhlas sudi menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tentu sekali lagi itu bukanlah otoritas kemanusiaan. Otoritas kristen. Tetapi itu merupakan wewenang Tuhan. Namun, yang mesti disyukuri adalah, akan menjadi kebahagiaan dan suatu selebrasi besar di Sorga jika ada rekan-rekan sahabat muslim yang berjumpa dengan Yesus, mengalami pertobatan yang sejati (metanoia) dalam kesadarannya yang meningkat tinggi. Hal yang sama berlaku juga, bahwa melalui kesadaran kristen, nama kita yang kristen tercatat pula di Sorga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila pun tidak, tetap hal ini patut terus disyukuri, bahwa rekan-rekan sahabat muslim itu telah mengetahui dan mengerti kebenaran Injil, meskipun belum bisa menerima atau menolaknya. Menyadari, menerima dan memberi diri untuk tunduk pada kebenaran Injil sesuai Firman Tuhan, tetap merupakan bagian atau porsi Tuhan yang tak terjamah oleh kita, sesuai dengan rencanaNya yang Maha Agung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama dan pentahapan yang sama seperti di atas, tentunya bukan saja berlaku bagi hubungan kristen yang membagi hidup berirama Injil dengan sesama rekan muslim, namun juga berlaku dalam hubungan dengan pemercaya yang lain. Para pemercaya dari berbagai aliran agama dan spiritualitas lainnya yang kini eksis dan berkembang di tengah masyarakat bangsa negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita mulai melakukannya? Jika belum, maukah kita mulai meretas untuk melakukannya dari sekarang (bersama saya)? Jangan lupa, lakukan semuanya secara alamiah, tanpa rekayasa yang tidak perlu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka segala kemuliaan dan hormat, hanya bagi Tuhan saja.&lt;br /&gt;Salam dan selamat damai Natal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-7430785486081306269?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/7430785486081306269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/membagikan-injil-kepada-rekan-rekan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7430785486081306269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7430785486081306269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/membagikan-injil-kepada-rekan-rekan.html' title='Membagikan hidup berirama Injil kepada rekan-rekan sahabat umat Muslim secara alamiah dalam terang Tuhan (damai Natal).'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-8655824748385973032</id><published>2007-12-08T04:11:00.000-08:00</published><updated>2007-12-11T05:16:38.647-08:00</updated><title type='text'>Tiga artikel tentang pandangan Kristen terhadap persoalan global warming?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;"How should a Christian view global warming?" &lt;br /&gt;("Bagaimana seharusnya orang Kristen memandang persoalan global warming?) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;by Question@org team.&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As Christians, we should be concerned about our effect on our environment. God appointed man to be the steward of this world (Genesis 1:28), not the destroyer of it. However, we should not allow environmentalism to become a form of idolatry, where the “rights” of an inanimate planet and its non-human creatures are held in higher esteem than God (Romans 1:25). With global warming, as with any other topic, it is crucial to understand what the facts are, who those facts come from, how they are interpreted, and what the spiritual implications should be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A careful look at global warming, as a topic, shows that there is a great deal of disagreement about the facts and substance of climate change. Those who blame man for climate change often disagree about what facts lead them to that conclusion. Those who hold man totally innocent of it often ignore established facts. My experience and research leads me to believe that warming is, in fact, occurring; however, there is little to no objective evidence that man is the cause, nor that the effects will be catastrophic. I think the idea of earth “wearing out” is an apt analogy. This entire world has been continually decaying since the fall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Global warming “facts” are notoriously hard to come by. One of the few facts universally agreed upon is that the current average temperature of Earth is indeed rising at this time. According to most estimates, this increase in temperature amounts to about 0.4-0.8 °C (0.72-1.44 °F) over the last 100 years. Data regarding times before that is not only highly theoretical, but very difficult to obtain with any accuracy. The very methods used to obtain historical temperature records are controversial, even between the most ardent supporters of human-caused climate change. The facts leading one to believe that humans are not responsible for the current change in temperature are as follows:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Global temperature changes from past millennia, according to available data, were often severe and rapid, long before man supposedly had any impact at all. That is, the current climate change is not as unusual as some alarmists would like to believe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Recent recorded history mentions times of noticeable global warming and cooling, long before man had any ability to produce industrial emissions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Water vapor, not CO2, is the most influential greenhouse gas. It is difficult to determine what effect, if any, mankind has on worldwide water vapor levels.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Given the small percentage of human-produced CO2, as compared to other greenhouse gases, human impact on global temperature may be as little as 1%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Global temperatures are known to be influenced by other, non-human-controlled factors, such as sunspot activity, orbital movement, volcanic activity, solar system effects, and so forth. CO2 emission is not the only plausible explanation for global warming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Ice-age temperature studies, although rough, frequently show temperatures changing before CO2 levels, not after. This calls into question the relationship between warming and carbon dioxide; in some cases, the data could easily be interpreted to indicate that warming caused an increase in carbon dioxide, rather than the reverse!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Computer simulations used to “predict” or “demonstrate” global warming require the assumption of human causation, and even then are not typically repeatable or reliable. Current computer weather simulations are neither predictive nor repeatable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Most of the global temperature increase of the last 100 years occurred before most of the man-made CO2 was produced.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· In the 1970’s, global temperatures had actually been dropping since 1945, and a “global cooling” concern became prominent, despite what is now dismissed as a lack of scientific support.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· The “consensus” claimed by most global warming theorists is not scientific proof, it is a statement of majority opinion; scientific majorities have been wrongly influenced by politics and other factors in the past. Such agreement is not to be taken lightly, but it is not the same thing as hard proof.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· This “consensus”, as with many other scientific theories, can be partially explained by growing hostility to those with differing viewpoints, making it less likely that a person without preconceived notions would take on the subject for research. The financial and political ramifications of the global warming debate are too serious to be ignored, though they should not be central to any discussion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· The data being used to support anthropogenic (man-caused) global warming is typically based on small data sets, single samples, or measurements taken in completely different regions. This creates an uncertainty in the results that rarely gets the attention that alarmist conclusions do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While the above list is not exhaustive, it does include several of the major points that raise doubts about mankind’s actual effect on global temperatures. While no one can deny that warming is occurring, “overwhelming evidence” of any objective type does not exist to support the idea that global warming is significantly influenced by human actions. There is plenty of vague, short-sighted, and misunderstood data that can be seen as proving “anthropogenic” global warming theory. All too often, data used to blame humans for global warming is far less reliable than data used for other areas of study. It is a valid point of contention that the data used in these studies is frequently flawed, easily misinterpreted, and subject to preconception.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In regards to issues such as this, skepticism is not the same as disbelief. There are fragments of evidence to support both sides, and logical reasons to choose one interpretation over another. The question of anthropogenic global warming should not divide Christian believers from each other (Luke 11:17). Environmental issues are important, but they are not the most important questions facing mankind. Christians ought to treat our world with respect and good stewardship, but we should not allow politically-driven hysteria to dominate our view of the environment. Our relationship with God is not dependent on our belief in human-caused global warming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A Christian Perspective on the Kyoto Protocol&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(Perspektif Kristen atas Protokol Kyoto)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;by Rev. Jim Ball Ph.D&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(the executive director of the Evangelical Environmental Network. The organization is the sponsor of the "What would Jesus drive?" campaign)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“While I believe President Bush cares about the plight of the poor, this is not reflected in his climate policy. As a country, and as the world’s No. 1 source of green house gases, America needs to do much more. In the absence of federal leadership, many states and businesses have stepped up to help. ”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twelve-year-old Galib Mahmud had to get to school. There was just one problem. The streets in his hometown of Dhaka, Bangladesh were flooded. While flooding in Bangladesh is a normal occurrence, last summer the flooding was extreme, causing $6.7billion in damage in Bangladesh alone and resulting in over 2,000 deaths across the region. Although it was dangerous, Galib waded to school in his crisp white shirt through waist-high dirty water, carrying his shoes and books in a bag above his head.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Young Anna Nangolol lives in northwest Kenya, one of the harshest landscapes on the planet. For generations, her nomadic tribe had been well adapted to its arid home. That’s changed over the past 30 years, however, when the droughts have been relentless and dangerous. The herds they depend on are reaching the tipping point of their existence. Anna and millions of other Kenyans are in need of food aid because of the extreme drought.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Extreme. Dangerous. These are words that fit a growing global problem -- climate change -- that I believe is already bringing extreme flooding, extreme drought, extreme weather events of various shapes and sizes. With these extremes come dangers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jesus said in the 25th chapter of the gospel of Matthew that what we do to "the least of these" we do to him. That’s how profoundly he identifies with the poor and their plight. It is because he came to bring the abundant life for everyone that he has a special concern for those at the bottom. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jesus is extreme in his concern for the poor. Today Jesus Christ looks at us through their eyes, through the eyes of Galib and Anna. What we do to the least of these through global warming we do to Jesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As someone who has confessed Christ to be my savior and lord, I look at global warming not as an "environmental" problem, but as an opportunity to love my lord by loving what he loves, by caring for everything he created. We call it creation-care. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Climate change is not creation-care. Nor is it some abstract theory. It is now a reality that brings death in its wake. The World Health Organization estimates that up to 160,000 people die each year due to the direct and indirect impacts of global warming. (That's as many as have died in the recent tsunami, which has rightly generated an outpouring of support from around the world.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And the impact of global warming will get much worse as the century progresses. Millions could die. God's other creatures will suffer as well. A report in Nature magazine suggests that up to 37 percent of God's creatures will be on the road to extinction because of climate change by 2050, their songs of praise to their creator snuffed out forever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On Wednesday, much of the developed world takes an important first step to address global warming as the Kyoto Protocol, the international climate treaty, goes into effect. The United States, however, is not participating. While I believe President Bush cares about the plight of the poor, this is not reflected in his climate policy. As a country, and as the world's No. 1 source of greenhouse gases, America needs to do much more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the absence of federal leadership, many states and businesses have stepped up to help. California has recently issued regulations requiring a 30 percent reduction in global warming pollution from vehicles by 2016. (However, it needs to withstand court challenges and receive a waiver from the Environmental Protection Agency.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eighteen other states have requirements for electricity to be produced by renewable energy. DuPont and BP have made major efforts to reduce their emissions and are saving millions in the process. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many individuals are also doing their part to reduce their global warming pollution by such activities as driving fuel-efficient vehicles and taking public transportation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sen. John McCain, Sen. Joseph Lieberman and others are pressing for passage of the Climate Stewardship Act, which would reduce U.S. emission of heat-trapping gases and be an important first step by the federal government to address our role in climate change. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All of these efforts are good for Galib and Anna. And they also help pave the way for our eventual re-entry into the international process.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For many of the world's poor, this century will be a dark night. Yet Psalm 30:5 says, "weeping may endure for a night, but joy cometh in the morning."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Christians and Climate Change:&lt;br /&gt;Should Followers of Christ concern themselves with the threat of Global Warming?&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(Kekristenan dan Perubahan Iklim: Haruskah Pengikut-pengikut Kristus peduli terhadap ancaman Pemanasan Global?)&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;by James Sherk &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;www.evangelsociety.org/sherk/wwjd.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jesus cares about what we drive. Obeying Jesus in our transportation choices is one of the great Christian obligations and opportunities of the twenty-first century."(1) So proclaims the Evangelical Environmental Network on their "What Would Jesus Drive?" website. The issue seems absurd, but has a serious point. If the way we choose to drive harms other people, then servants of Christ must do what they can to minimize this harm. Doing otherwise would not entail loving one's neighbor as oneself. How can an individual's transportation choices harm others? The Evangelical Environmental Network explains, "Pollution that causes the threat of global warming violates the Great Commandments, the Golden Rule, and the Biblical call to care for 'the least of these,' and therefore denies Christ's Lordship."(2) If human activities cause global warming, then Christians have an obligation to avoid contributing to the problem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The global warming theory states that human emissions of carbon dioxide cause the earth's atmosphere to trap excess heat, unnaturally warming the planet. Among other sources, automobiles, particularly less fuel efficient SUVs, emit large quantities of CO2. If man-made CO2 does in fact excessively warm the earth, then Christians should heed the Evangelical Environmental Network's call and watch what they drive, using only the most fuel efficient cars, and carpooling or using public transportation when possible. If, however, human CO2 emissions do not contribute to global warming, then the question "What Would Jesus Drive?" becomes an utter absurdity, since then gas guzzling would then harm no one, and carpooling does nothing to help the earth or one's fellow man. Consequently, Christians needs to know the facts about global warming in order to ensure that they live in accordance with Christ's commandments.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What are those facts? Anyone who reads the newspaper has no doubt learned that global warming represents a real and pressing danger to the health of the planet, and that it places millions of lives at risk. However, stepping away from the media spin, and looking at the underlying science reveals that scientists have uncovered little reliable evidence to support the popular hype that surrounds global warming. As a result, Christians have no reason to fear contributing to global warming, and may drive any vehicle with a clear conscience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The Historical Record&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;The observed climate record of the past century represents one of the major flaws in the global warming theory. During the 20th century human emissions of CO2 grew rapidly, with most of that increase following the Second World War. According to the theory, this should have caused temperatures to rise over the past century, with most of that increase coming after World War II. Surface measurements reveal that the earth's temperature rose approximately 0.6°C during the 20th century, but this warming does not match the theoretical predictions. Most of the warming, 0.4°C, took place before the early 1940's, before the release of most man-made CO2 into the atmosphere. Then, until the late 1970's, while human emissions of CO2 rose rapidly, the earth actually cooled approximately 0.1°C, only to rise by another 0.3°C by the end of the century. Surface temperature records reveal almost no correlation between human CO2 emissions and temperature increases. The majority of the temperature increase took place before CO2 levels rose substantially, then the temperature decreased while CO2 emissions rapidly rose, only to reverse the trend and slightly increase by the end of the century.(3) Understandably, the history of actual human CO2 emissions and the temperature record does little to support the global warming theory.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, climatologists base this temperature record on surface measurements from ground stations. Scientists know that these records suffer from a systematic bias that tends to increase the temperature they record, the urban "heat island" effect. Many ground-monitoring stations are located in areas that have grown into major cities. The high volume of human activity, and asphalt, which tends to trap heat, that a city contains raises the temperature of a city several degrees above that of the surrounding countryside. Consequently, temperature measurements taken in or near a city are noticeably higher than those taken in a rural area, and this bias shows up in the surface record.(4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fortunately, for the past quarter century scientists have an alternative climate record unaltered by the heat island effect, the satellite record. Since 1979, satellites orbiting the globe have recorded the earth's temperature using instruments with an accuracy of ±0.01°C. These more accurate satellite sensors show that, except for a one-year warming spike in 1998 caused by El Nino, the earth's average temperature did not rise between 1979 and 2000.(5) Temperature measurements from weather balloons corroborate these findings, which cast further doubt on the global warming theory. While atmospheric carbon dioxide has steadily risen, the most accurate measurements available show that the global temperature did not increase over the past two decades.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Still, the best records available suggest that global temperatures rose slightly over the past century. However, this is hardly unusual. Global temperatures naturally change, and have done so for thousands of years before the invention of the internal combustion engine. Over just the past millennia, global temperatures swung by several degrees. During the Middle Ages, in the medieval climate optimum, temperatures averaged one to two degrees higher than today's levels. During this time, Greenland was actually green, and supported vibrant Viking settlements. Following this warm period, and lasting into the mid 1800's, came the so-called "Little Ice Age," during which global temperatures dropped noticeably below today's levels. Since the 1850's, temperatures have risen as the earth left the mini-ice age.(6) These climate swings occurred as a result of natural processes, long before humans began emitting significant amounts of CO2. The fact that the earth has warmed by half a degree centigrade over the past century hardly represents an unusual historical occurrence or evidence that human activity has altered the climate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Climate Models&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;The question naturally arises why so many politicians, journalists, and scientists believe in global warming when it has so little support from the historical record. The answer is that, despite the lack of empirical support, computer programs that model the global climate and make future predictions project that increased levels of atmospheric CO2 cause the global temperature to rise. It is on the basis of these climate models, run on some of the most powerful supercomputers in the world, that almost every prediction of global warming rests. The U.N.'s Inter-Governmental Panel on Climate Change (IPCC), the U.S. National Assessment of Global Warming, and virtually every other major global warming study rely on these computer forecasts to prove that human activity changes the climate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, these models are only computer simulations, not empirical facts. The quality of the programs, and the data fed into the programs, limits the accuracy of the model's predictions. If scientists don't fully understand all the parameters in the model, then the model will produce less than fully accurate projections. Unfortunately, all current climate models suffer from severe defects that limit their usefulness in projecting future climate change. These defects do not result from bad programming or dishonest intent on the part of scientists, but from fundamental limitations in current scientific knowledge that make more accurate models impossible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Uncertain Parameters and Flux Adjustments&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Current climate models do not accurately account for the effects of clouds and precipitation on the global climate.(7) Clouds and rainfall clearly affect the climate, but scientists don't know how model them accurately. Additionally, the models simply ignore changes in the level of the solar energy entering the atmosphere.(8) To put it mildly, the sun significantly affects the earth's climate. Nonetheless, the models assume that the level of solar energy striking the earth remains constant, despite the fact that scientists know that this is not the case. Climatologists must make this assumption, however, because they do not know how to predict future changes in solar radiation. Unsurprisingly, these limitations decrease the accuracy of the models.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furthermore, researchers simply do not accurately know some climate parameters, and must use educated guesses in their models. Physics tells scientists that a doubling of the atmospheric CO2 increases the energy in the climate system by approximately four Watts per square meter (W/m2). At the same time, the uncertainty in measuring the amount of energy reflected into space or absorbed by the earth is on the order of 25 W/m2, and scientists cannot estimate energy flows from the equator to the North and South poles beyond a 25-30 W/m2 range.(9) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scientists must use these parameters to model the climate, but they simply do not accurately know them. Models using "best guess" estimates of the parameters predict the unrealistic cooling of major oceans and other unlikely anomalies. To avoid absurd predictions, climatologists introduced "artificial flux adjustments," on the order of 50 to 100 W/m2, that stop the models from predicting the impossible. These flux adjustments lack any theoretical basis, but climatologists need them to make the models plausible.(10) In other words, the artificial adjustments that scientists make to their models to account for unknown or improperly measured or modeled variables are twelve to twenty five times the size of the effect of doubling the amount of carbon dioxide in the atmosphere. Consequently, no one has much reason to believe that the models can accurately forecast the future effect of increasing carbon dioxide on the earth's temperature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Models Fail to Predict Current Temperatures&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;In fact, even the most advanced climate models cannot accurately model current weather patterns, much less those of a hundred years from now. No model currently in existence can produce forecasts remotely in line with the measured temperature of the troposphere, the lower 40,000 feet of the atmosphere.(11) Recent measurements over Antarctica indicate that major global climate models inaccurately forecast Antarctic stratospheric temperatures by 10 to 15 degrees centigrade, indicating that the models make fundamental errors in calculating how radiation disperses.(12) One of the two models that formed the core of the U.S. National Assessment of Global Warming "predicted" 300% more temperature change in America over the 20th century than actually occurred.(13) Due to systematic and unavoidable errors, even the most state of the art current climate models cannot accurately predict current weather patterns. The notion that they can predict the climate centuries from now is a stretch. Yet these models form the basis for the case that human activity unnaturally warms the planet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;No Scientific Consensus&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Why, then, if the models face so many limitations, do newspapers, politicians, and advocacy groups proclaim that the scientific consensus is that the global warming theory is accurate? In fact, advocacy groups exaggerate these claims. Thousands of scientists do believe that man-made carbon dioxide emissions unnaturally warm the atmosphere, and thousands do not. Over 17,000 scientists signed the Oregon Institute of Science and Medicine's petition proclaiming that "there is no convincing scientific evidence that human release of … greenhouse gases is causing or will, in the foreseeable future, cause catastrophic heating of the Earth's atmosphere and disruption of the Earth's climate."(14) Separately, more than 4,000 scientists, including 70 Nobel Prize winners, signed the Heidelberg Appeal, testifying that science provides no reason to limit the emission of carbon dioxide into the atmosphere.(15) While many scientists believe in the global warming theory, many do not, and scientists have not come to a consensus on the issue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bias in the IPCC&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Many reporters and politicians claim that the scientific consensus supports global warming because of the United Nation's Inter-governmental Panel on Climate Change, the IPCC. While earlier IPCC reports equivocated, in 2001 the IPCC concluded that human CO2 emissions do warm the earth. However, the IPCC does not represent an impartial cross-section of scientists. The UN resolution that created the IPCC defined its mission as being "…to initiate action leading as soon as possible to recommendations with respect to the identification and possible strengthening of relevant existing international legal instruments having a bearing on climate …"(16) Thus, if the IPCC announced that it had discovered that human activity does not change the climate, and that no further international action was needed, it would violate the very resolution that created it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Additionally, the governments of the IPCC member nations selected the conferees; they did not serve on the IPCC purely on the basis of their scientific credentials. Furthermore, only a third of the IPCC scientists actually had training as climatologists.(17) It should not come as an overwhelming surprise that a panel of political appointees, only some of whom had proper scientific credentials, came to exactly the conclusions that the UN declared that it wanted them to arrive at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Flaws with the USNA&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;The National Academy of Sciences U.S. National Assessment of global warming (USNA) has exerted just as much influence as the IPCC in influencing American public policy. The USNA claims that global warming will wreak environmental and economic havoc on the United States throughout the 21st century, and forms the scientific basis for legislation placed before Congress by, among other legislators, Senate minority leader Thomas Daschle.(18) This politicized, agenda driven report, however, has virtually no scientific justification and does nothing to support the global warming hypothesis. Indeed, the report demonstrates the extent to which global warming proponents will stretch science to make it conform to their beliefs, regardless of the facts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Former Vice-President and known global warming alarmist Al Gore initiated the USNA in 1997, and despite serious flaws, the government published the USNA ten days before the 2000 election, conveniently just days before Americans decided whether or not to elect Gore to the Presidency.(19) The fourteen person National Assessment "synthesis team" (NAST) selected to conduct the assessment included no global warming skeptics, only two climatologists, and only one member with a doctorate.(20) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The team then selected two climate models to form the basis of the report. Of the many major climate models available, the NAST chose the British "Hadley Model" and the Canadian model to predict the effects of global warming. Both models are statistical outliers, respectively predicting that global warming will cause greater increases in precipitation and temperature than any other model available.(21) If the NAST was looking to predict a worst-case scenario, it could not have selected better models. However, they were not the most reliable models available. In fact, when it comes to predicting the effects of global warming, they directly contradict each other, predicting drought and flooding in opposite areas of America. Even the Hadley center states that its models cannot accurately predict changes in local climate conditions, only in areas of 1000 kilometers or more.(22) Nonetheless, the NAST selected the Hadley and Canadian models, and used them to predict the effects of global warming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When the USNA report underwent peer review, the reviewers discovered a significant problem. In the words of reviewer Patrick Michaels, "The two climate models that are the core of the USNA perform no better than a table of random numbers when it comes to estimating U.S. temperatures during the period of greenhouse effect changes."(23) Even the United Nations agreed that the models were virtually useless. For all the effort that went in to the USNA, random guessing does a better job of predicting the climate than either of the models used by the NAST. The NAST commissioned its own study to analyze the models, and concluded that the reviewers were right; they also agreed that the models could not predict temperature change over the United States. Despite this, the team published the USNA anyway, less than two weeks before the election, predicting that global warming would inflict dramatic economic and ecological harm on America.(24) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The USNA received a great deal of media attention following its release, convincing many people that global warming presented a clear and present danger to America, but at best it represents a political document designed to elect Al Gore. At worst, it represented deliberate scientific dishonesty in the service of a political agenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Data Errors in the Hockey Stick Graph&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Recently, auditors have revealed an even more disturbing case of scientific fraud in a report that promoted global warming. In 1998 Professor Michael Mann of the University of Virginia published a report analyzing the climate over the past six centuries. Since scientists do not have direct temperature records for all but the last century, Mann relied on 10 different proxy records, tree rings and ice core samples from around the globe, to discern the temperature of the earth before reliable temperature records began. On the basis of this study, Mann produced the famous "hockey stick" graph, which showed that the global climate had been relatively stable until 20th century, when temperatures rose dramatically. Based on this work, Mann claimed that the 20th century was warmer than any in the past 600 years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It would be hard to overstate the influence of the Mann report and the "hockey stick" graph in the global warming debate. It seemed to deny the existence of both the medieval climate optimum and the Little Ice Age. It was one of the main reasons that the 2001 IPCC report unequivocally stated that humans were causing global warming, while earlier reports could not come to this conclusion. It formed the basis of Environment Canada's support for the costly anti-global warming Kyoto treaty, which the Canadian government has since signed.(25) The USNA also utilized the "hockey stick" graph in predicting dire consequences from global warming.(26) Mann's report seemed to provide supporters of the global warming theory with the empirical evidence that they had been lacking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 2003, Stephen McIntyre, a businessman with a strong statistical and mathematical background, and Professor Ross McKitrick of the University of Guelph conducted an independent audit of Mann's report. Analyzing the data used to generate the report, they determined that&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The data set of proxies of past climate used in Mann … for the estimation of temperatures from 1400 to 1980 contains collation errors, unjustifiable truncation or extrapolation of source data, obsolete data, geographical location errors, incorrect calculation of principal components and other quality control defects. ... The major finding is that the values in the early 15th century exceed any values in the 20th century. The particular "hockey stick" … is primarily an artefact of poor data handling, obsolete data and incorrect calculation of principal components.(27) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mann was only able to derive the "hockey stick" because of systematic errors in his data and his calculations. McIntyre and McKitrick corrected the data errors in Mann's work and produced the temperature graph Mann's research should have lead him to. This graph demonstrated that the 20th century was not unusual, that in fact the 15th century, with virtually no artificial emissions of carbon dioxide, was substantially warmer than the 20th century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Mann report, one of the most influential papers supporting the global warming theory, only achieved its breakthrough result through the use of poor data and erroneous calculations. Correcting those errors demonstrates that the empirical record does not support the global warming theory; it rests almost entirely on models of highly questionable accuracy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The global warming theory has little to no empirical support, relies on highly inaccurate computer models that cannot forecast current, much less future, climate change, and is not supported by a broad scientific consensus. Key studies that support the global warming theory, the IPCC, the USNA, and Mann's 1998 report, all suffer from errors and biases. While these facts do not conclusively prove that global warming is not occurring - it is impossible to prove a negative - they certainly suggest that it is not. Consequently, Christians should not worry that their transportation choices might harm other people. Christians can choose to drive how they wish without fearing that their actions contribute to Global Warming and thus, in the words of the Evangelical Environmental Network, "deny Christ's Lordship." This does not mean that Christians do not need to consider God's desires in what they choose to drive. God clearly tells his servants not to glorify or take pride in material wealth, but to serve him first and store up treasures in heaven, and some luxury vehicles clearly express materialistic desires. It simply means that Christians have no reason to also consider the effects their car might have on the climate when purchasing a new vehicle. What Would Jesus Drive? Whatever he chose, the exaggerated hype surrounding the global warming theory would not concern him&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-8655824748385973032?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/8655824748385973032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/bagaimana-seharusnya-orang-kristen.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8655824748385973032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8655824748385973032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/bagaimana-seharusnya-orang-kristen.html' title='Tiga artikel tentang pandangan Kristen terhadap persoalan global warming?'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-1232214886217273479</id><published>2007-12-01T22:31:00.001-08:00</published><updated>2007-12-02T22:53:52.427-08:00</updated><title type='text'>Event SPPK bagi Para Mantan Pencandu Narkoba dan ODHA di Kota Bandung dalam rangka Hari AIDs Sedunia di Bandung, 26 Nop-1 Des 2007.</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Roh Tuhan ada di atas-Ku; Ia telah mengangkat Aku untuk mengabarkan Berita Kesukaan kepada yang miskin; Ia telah mengutus Aku untuk menyembuhkan yang hancur hatinya dan memaklumkan bahwa yang tertawan akan dibebaskan .., yang tertindas akan dibebaskan dari para penindas, dan Allah telah siap untuk memberikan berkat kepada semua yang datang kepada-Nya." (Luk 4: 18-19, FAYH).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka memperingati Hari AidS Sedunia yang jatuh tanggal 1 Desember dan misi pelayanan kepada para mantan pencandu narkoba dan ODHA (Orang Dengan HIV/AidS), pada tanggal 26 Nopember - 1 Desember 2007 di kota Bandung telah berlangsung event "Seminar Pembinaan dan Pendampingan untuk Kemandirian" (SPKK) yang diikuti oleh para mantan pecandu narkoba dan ODHA di kota Bandung dan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event SPPK kali ini bersifat lintas agama (interfaith) ini, terselenggara berkat kerjasama/kolaborasi beberapa lembaga: Lembaga Konsultan Kristen MAXIMA, LSM Rumah Cemara, Bandung Plus Support, BMU Bandung, BMU Margahayu dan El Trinitas Indonesia. Puluhan mantan pecandu narkoba dan ODHA yang telah dibina sejak setahun yang lalu (2006) hadir dengan antusias pada SPKK yang dipusatkan di Sany Rosa, Jln Setiabudi, Bandung. Hadir pula sejumlah tokoh antara lain dari unsur Pesantren (Pomosda), lembaga Hikam Jabar, LIPI Bandung dan lembaga internasional yang mendukung LSM-LSM HIV/AidS di Bandung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bpk Hans Midas Simanjuntak, Ir MM MCS, missionary pastor yang dikenal pula sebagai entrepreneur konsultan dan tokoh LSM kristen, berkenan hadir sebagai salah satu pembicara/nara sumber utama event SPKK. Topik yang dibawakan selama 4 hari berturut-turut adalah terkait dengan "Pentingnya Menata Kehidupan Lewat penumbuh-kembangan Semangat Entrepreneurship disertai Upaya Riel menuju Kemandirian" bagi para peserta. Nara sumber, pembina dan pendamping lainnya adalah Bpk Andy Nugraha, SE.Ak, MM (BMU Bandung), Ibu Ir Rusdiati R,MSc (LIPI Bandung) dan Bpk. Drs Asep Syarifuddin, MM (Lembaga Hikam Jabar). Bertindak sebagai observer, pimpinan pesantren POMOSDA Bpk Drs. B Wahyu dan Mr. M. Thilakasiri dari CCFC Sri Lanka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan peserta para mantan pecandu narkoba dan ODHA sangat antusias mengikuti tiap sessi seminar, pembinaan, latihan praktis, games dan pendampingan SPKK yang dilakukan. Mereka yang pada umumnya berusia 20-32 tahun dan mulai dibina sejak medio 2006 yang lalu, telah menunjukkan grafik perkembangan dan kemajuan yang luar biasa selama 1 1/2 tahun terakhir. Makin munculnya kesadaran yang semakin besar untuk tidak (lagi) ingin terjun dalam "dunia lama" meskipun sulit, dan tidak (lagi) ingin menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat menjadi hal yang sangat menggembirakan hati. Sejak tahun lalu menerima pendampingan dan pembinaan, para peserta SPKK semakin sadar dan mau bangkit menjadi pribadi-pribadi yang lebih tegar, lebih mandiri, lebih terbuka serta optimis menatap masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian peserta telah memutuskan ikut terjun dalam usaha-usaha pelayanan filantropis, menjadi aktivis LSM/foundation dan beberapa kegiatan social-entrepreneur sekaitan dengan program penanganan pecandu narkoba (drugs) dan HIV/AIDs. Sebagian besar lagi bahkan telah memutuskan untuk memulai usaha-usaha berdikari dan micro-entrepreneurs. Sebut saja usaha clothing dan fashion, web-design, bengkel motor, cuci motor &amp; mobil, desain kaos, video-shooting, dagang peralatan olah-raga, perdagangan antar-kota di Jabar, pengumpulan &amp; daur-ulang limbah, dll. Mereka yang rata-rata kaum muda dan dewasa muda itu, bukan saja kini mampu untuk membiayai hidup mereka sendiri. Tapi juga sebagian sudah mampu untuk menabung (saving) dan merekrut satu hingga belasan tenaga kerja baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event SPPK dan kegiatan pendampingan sebelumnya ini selain telah diselenggarakan di kota Bandung, juga telah diselenggarakan pula di Subang, Sukabumi dan Tasikmalaya, Jawa Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya momen kegiatan dan event seperti ini dapat semakin membawa berkat limpah dan manfaat besar bagi kelompok-kelompok masyarakat khususnya para mantan pecandu narkoba dan ODHA yang membutuhkan dan tentunya bagi masyarakat bangsa tercinta! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya bagi Allah saja segala kemuliaan!! (TSM Report/AK-07).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-1232214886217273479?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/1232214886217273479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/berita-pelayanan-event-sppk-bagi-para.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1232214886217273479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1232214886217273479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/12/berita-pelayanan-event-sppk-bagi-para.html' title='Event SPPK bagi Para Mantan Pencandu Narkoba dan ODHA di Kota Bandung dalam rangka Hari AIDs Sedunia di Bandung, 26 Nop-1 Des 2007.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-8602834037935757667</id><published>2007-11-25T21:35:00.000-08:00</published><updated>2007-12-02T22:49:35.284-08:00</updated><title type='text'>Pelayanan di GMKI Bogor, 24 Nopember 2007</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN" (Yesaya 11: 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yohanes 17: 21).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 24 Nopember 2007 yang lalu, missionary pastor Bpk Hans Midas Simanjuntak, Ir MM MCS berkenan diundang hadir oleh Panitia Masa Perkenalan Anggota Baru GERAKAN MAHASISWA KRISTEN INDONESIA Cabang Bogor &lt;em&gt;(Local Executive Committe Indonesian Student Christian Movement Bogor Chapter)&lt;/em&gt; sebagai Pembicara untuk melayankan kebenaran Firman Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara khusus ini berlangsung di Wisma Syalom Jl.Guntur No.38 Bogor dihadiri hampir seluruh pengurus BPC GMKI Cabang Bogor, senior members GMKI Bogor dan para calon/anggota baru GMKI Bogor. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Firman Tuhan terambil dari Yesaya 11: 1-11, mengambil tema "Bangkitlah dan menjadi Taruk Bagi Bangsa (Yesaya 11:1-10), dengan sub Tema: Meningkatkan Integritas dan Loyalitas Kader dalam Mewujudkan Tri Panji serta Visi-Misi GMKI, memiliki tujuan/sasaran yaitu agar para peserta dapat memahami pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar, serta mampu bersikap yang tepat terhadap perubahan tersebut dengan tetap bersandar pada Alkitab seperti teladan Yesaya dan Yehuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khotbahnya, Bpk Hans Midas Simanjuntak menekankan beberapa intisari pesan yang dibutuhkan bagi seluruh kader GMKI Bogor dalam kiprahnya dewasa ini dan ke depan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bahwa untuk menjadi taruk (stem, batang muda) yang bertumbuh dan berbuah bagi pribadi, keluarga, gereja, kampus, lingkungan dan bangsa, kader GMKI sudah seharusnya memiliki spiritualitas yang senantiasa dibaharui oleh Roh Kudus, serta senantiasa memperjuangkan track-record kehidupan yang jelas dan baik, sebagaimana hidup Kristus yang telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Integritas, kejujuran, iman, kesetiaan dan cara pandang yang utuh, beserta nilai-nilai keutamaan lainnya yang dikandung pada perikop Yesaya 11: 1-11 menjadi nilai-nilai pokok Kekristenan sebagai fondamen utama kader GMKI dalam mengupayakan serta merevitalisasi perannya sesuai konteks tantangan dan peluang kehidupan masa sekarang dan ke depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk dapat bangkit menjadi taruk bagi bangsa, tentu setiap kader GMKI melalui proses. Yang memungkinkan kader GMKI mampu mengelola perubahan yang sedemikian cepat pada masa sekarang di segala lini. Sehingga semakin dimampukan Tuhan menjadi alatNya menghadirkan perdamaian, keadilan (justice), kesejahteraan dan keutuhan ciptaan sebagaimana digambarkan bagian akhir perikop nats. Aplikasinya mulai dari domain terkecil di lingkungan pribadi keluarga, gereja dan kampus, hingga domain yang lebih luas di tengah masyarakat bangsa, dunia sosial-politik dan percaturan global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Komitmen untuk taat dan setia pada kebenaran firman Tuhan sangat diperlukan dalam menjalani proses pembinaan dari Allah, dimana Allah dapat memakai media apa saja untuk membina dan mengkader/memuridkan anak-anakNya. Paradigma, mindset, pengetahuan, skills, moral dan perilaku kita akan semakin ditambahkan dari sehari ke sehari, termasuk lewat dinamika yang berkembang saat terlibat dalam organisasi GMKI berikut berbagai interaksi dengan komunitas lingkungan lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dengan demikian, harapannya setiap kita memiliki sikap proaktif, solidaritas terhadap kondisi yang tidak sesuai dengan kondisi yang seharusnya. Tentu saja sikap tersebut harus dilandaskan pada firman Tuhan seperti teladan tokoh Yesaya dan Yehuda yang tetap bersandar kepada Tuhan dalam berbagai krisis yang dihadapi saat itu. Sikap menjaga kesatuan dan keutuhan, sesuai motto GMKI sejak awal "Ut Omnes Unum Sint" masih sangat relevan dipelihara dan dipertahankan, apalagi dalam konteks pergumulan dan krisis bangsa yang tidak mudah untuk dilalui pada masa-masa sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberitaan firman yang dimulai jam 15:30 wib, berakhir jam 16:30 wib. Dilanjutkan dengan acara pembukaan acara Maper Anggota Baru GMKI yang dibuka resmi oleh Ketua BPC GMKI Bogor dan pejabat GMKI Pusat. Setelah acara ramah tamah, kemudian acara dilanjutkan dengan sesi berikutnya yang dibawakan oleh pemateri/nara sumber lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya Tuhan menolong kita. &lt;br /&gt;To God be the glory!!  (TSM report/ANW-09).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-8602834037935757667?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/8602834037935757667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/11/pelayanan-untuk-gmki-bogor-24-nopember.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8602834037935757667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8602834037935757667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/11/pelayanan-untuk-gmki-bogor-24-nopember.html' title='Pelayanan di GMKI Bogor, 24 Nopember 2007'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-5703553590975699987</id><published>2007-11-11T23:10:00.000-08:00</published><updated>2007-12-02T23:15:31.904-08:00</updated><title type='text'>Pembentukan Jaringan sosial Entrepreneur Muda kristen (JEM-K) di beberapa kabupaten/kota.</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Berita Pembentukan JEM-K di beberapa kabupaten/kota (TSM/AK-07). &lt;br /&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbulan-bulan digumuli sejumlah generasi muda kristen di beberapa kota, dan melalui penyelenggaraan semilok pelatihan-pelatihan terpadu "Membangun Jiwa Kemandirian Warga dan Semangat Entrepreneurship berdasarkan Perspektif Kristen" di berbagai kota di Jawa &amp; Bali. Termasuk event baru-baru ini yang berlangsung di Kampus IPB Dramaga Bogor pada tanggal 9-11 Nopember 2007, yang terselenggara atas kerjasama beberapa pihak: lembaga pelayanan konsultan kristen MAXIMA Consulting, BPH PMK IPB Bogor, IMC Jakarta,  Graha YES dan El Trinitas Ministry Indonesia, dengan mendapat dukungan dari International Labour Organization (ILO) dan mitra pendukung lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka pada tanggal 10 Nopember 2007 kemarin, telah dibentuk jaringan sosial para calon entrepreneur muda dan entrepreneur muda kristen, dengan nama "Jaringan Entrepreneur Muda Kristen" disingkat "JEM-K" (dibaca: "jim-kei").&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Latar belakang pembentukan jaringan sosial entrepreneur muda kristen ini adalah hasrat kerinduan komunitas kaum muda dan mahasiswa kristen/kristiani untuk melakukan langkah breakthrough (terobosan) kongkrit guna meningkatkan value of life pribadi, komunitas dan society terutama generasi muda kristen beranjak dari "tahap survival", "tahap tumbuh-kembang" (dependence level) dan "ketidak-jelasan masa depan terkait tantangan pengangguran "kerah putih" termasuk pengangguran "kerah biru", beranjak naik ke level yang lebih tinggi yakni "tahap kemandirian" (self supporting, self employed, self reliance). Kemandirian yang seutuhnya: spiritual, mental, intelektual, sosial, politikal dan ekonomi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Visi misi JEM-K adalah mempersiapkan calon-calon social entrepreneur dan entrepreneur muda serta mencetaknya sebanyak mungkin dari kalangan komunitas generasi muda kristen/kristiani sampai tingkat kabupaten/kota di tanah air, paling tidak sampai periode 2028 (20 tahun dari sekarang). Dengan demikian generasi muda sosial entrepreneur/ entrepreneur kristen tidak akan ingin lagi menjadi "beban" (burden) bagi keluarga, komunitas &amp; dunia kristen dan bangsa, melainkan menjadi "berkat" (be blessings). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak lagi sekadar ingin jadi pegawai negeri yang sarat korupsi, birokrasi dan bribery. Tak lagi jadi karyawan yang banyak terkendali waktu, tenaga, moral nurani dan sistem upah kalangan korporatokrasi atau menjadi guru dosen pendidik yang masih memprihatinkan kondisinya; maupun menjadi klerus (pengerja penuh waktu, pendeta) gereja yang semakin cendrung "over-supply" dalam jumlah namun "less-demand" dalam mutu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada tahap awal, JEM-K telah dibentuk cikal-bakal jaringannya di Bogor, Jakarta Utara, Yogya dan Bali. Selanjutnya akan diupayakan pembentukannya di Lampung, Jambi, Bengkulu, Jatim dan Makassar. Prime movernya adalah genmud, oleh genmud dan untuk kemandirian genmud (generasi muda). Mottonya: "Jiwa kemandirian, semangat entrepreneurship, pilar kemajuan generasi muda, kekristenan dan bangsa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian, berita singkat yang diperoleh terkait pembentukan JEM-K (AK-07). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Jangan sampai orang lain meremehkan engkau sebab engkau masih muda. Jadilah teladan mereka: biarlah mereka mengikuti caramu mengajar dan caramu hidup. Jadilah pedoman bagi mereka dalam hal kasihmu, imanmu, dan pikiranmu yang bersih" (1 Timotius 4: 12, FAYH). &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-5703553590975699987?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/5703553590975699987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/11/pembentukan-jaringan-sosial.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5703553590975699987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5703553590975699987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/11/pembentukan-jaringan-sosial.html' title='Pembentukan Jaringan sosial Entrepreneur Muda kristen (JEM-K) di beberapa kabupaten/kota.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-6475693318021493212</id><published>2007-10-30T23:46:00.000-07:00</published><updated>2007-11-07T22:24:11.031-08:00</updated><title type='text'>Pelayanan Misi ke Luwuk Kab Banggai Sulteng, 23-29 Oktober 2007</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Tetapi kalian akan mendapat kuasa, kalau Roh Allah sudah datang kepadamu. Dan kalian akan menjadi saksi-saksi untuk-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi." (Kisah 1:8). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan Kristen terpadu di Luwuk Kab Banggai dalam 3 tahun terakhir telah banyak menunjukkan hasil. Setelah pada waktu yang lalu program transformasi dengan pola mendistribusikan Alkitab berhasil dijalankan, kini pemberdayaan pertanian melalui pengadaan unit traktor-mini di jemaat GKLB wilayah Toili telah direalisasi dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak pelayanan Bpk Hans Midas Simanjuntak pada bulan Oktober 2005 yang lalu, semakin dirasakan bermanfaat menambah wawasan rohani dan kematangan organisasi kelembagaan termasuk sosialisasi follow up pemberlakukan UU Yayasan No 28/2004 bagi pengurus Sinode GKLB dan pengurus/direktur/staff Yayasan Bina Kasih (YBK) yang ikut hadir pada seminar lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim misi juga telah melakukan audit, monitoring &amp; evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan pelayanan jemaat, pengadaan air bersih, pompanisasi dan pengentasan kemiskinan yang dialami oleh jemaat. Distribusi pembagian Alkitab yang telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu, nyatanya masih terus bergulir dengan baik hingga sekarang. Demikian juga sistem komputerisasi administrasi guna mensupport efektivitas pelayanan YBK (Diamond's Software) mampu dijalankan dengan sangat baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan masih sangat dibutuhkan program-program seperti bantuan Alkitab untuk kegiatan bible-study jemaat, seminar kepemimpinan rohani dan peningkatan SDM, capacity building, pompanisasi dan air bersih terutama untuk wilayah utara Luwuk, Bungin, Bunta, Toili bagian selatan dan Pagimana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-6475693318021493212?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/6475693318021493212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/10/pelayanan-misi-ke-luwuk-kab-banggai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6475693318021493212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6475693318021493212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/10/pelayanan-misi-ke-luwuk-kab-banggai.html' title='Pelayanan Misi ke Luwuk Kab Banggai Sulteng, 23-29 Oktober 2007'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-6174113106088724344</id><published>2007-10-28T00:19:00.000-07:00</published><updated>2007-11-06T21:53:20.198-08:00</updated><title type='text'>Semilok Kemandirian dan Semangat Entrepreneurship berdasar Perspektif Kristen, 20-21 Okt 2007 di Jakarta dan Rencana 9-11 Nop 2007 di Dramaga Bogor</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan" (Efesus 4:28)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bekerjasama secara sinergis dengan Yayasan Edelweis Sejahtera (YES), lembaga pelayanan konsultansi kristen "MAXIMA Consulting" dan mendapat dukungan fasilitasi dari International Labor Organization (ILO) Badan PBB yang berpusat di Jenewa Swiss, Bpk Hans Midas Simanjuntak, pimpinan El-Trinitas Ministry Indonesia telah berhasil meretas program seminar lokakarya (semilok) "Kemandirian dan Semangat Entrepreneurship berdasar Perspektif Kristen" di Graha YES Jakarta Utara, tanggal 20-21 Okt, 27-28 Okt dan 3-4 Nop 2007 yang baru lalu. Respons dari para peserta yang merasakan manfaat program ini begitu baik. Tampak dari feedback, evaluasi dan reaksi harian yang dilontarkan berikut follow-up riel yang akan dijalankan masing-masing kelompok peserta. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para peserta adalah mereka yang sangat rindu, berhasrat untuk berbuat sesuatu untuk meningkatkan kemandirian hidup mereka serta mampu membangun semangat entrepreneurship secara benar seturut talenta yang telah dianugerahkan Tuhan atas hidup mereka. Jumlah peserta terbatas 20 orang "entrepreneud leaders" untuk tahap pertama. Semilok paralel lanjutan telah pula diadakan di tempat yang sama pada tanggal 27 Oktober dan 3-4 Nopember 2007, dengan peserta yang berbeda. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selanjutnya, Badan Pengurus Harian (BPH) Persekutuan Mahasiswa Kristen berencana akan mengorganize seminar lokakarya yang sama pada tanggal 9-11 Nopember 2007 di Kampus IPB Dramaga Bogor, dengan jumlah peserta 25 orang. Bertindak sebagai pembicara-trainer dan fasilitator Bpk Hans Midas Simanjuntak, didampingi oleh Ir Maria EM dan trainer dari lembaga pelayanan IMC Jakarta, Bpk. Kristiantoro. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melalui seminar lokakarya ini peserta semakin diyakinkan bahwa jiwa kemandirian dan semangat entrepreneurship dengan ditinjau dari perspektif Kristen sangat dibutuhkan sebagai pilar kehidupan baik pribadi, keluarga maupun komunitas. Bahkan secara agregat, jiwa dan semangat ini menjadi pilar penting bagi penciptaan keadilan dan kesejahteraan masyarakat bangsa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan saja untuk anggota jemaat, klerus gereja dan kalangan kristen, seminar lokakarya "Membangun Jiwa Kemandirian dan Semangat Entrepreneurship" untuk kalangan masyarakat umum pun secara serentak telah dilaksanakan di sejumlah kota. Bekerjasama dengan Tim Millenium-19 sejak medio September 2007 hingga 30 Nopember 2007 ini, semilok telah diadakan di kota-kota Surabaya, Nganjuk Jatim, Yogyakarta, Sumedang, Indramayu dan Banda Aceh NAD dengan melibatkan hampir 15 orang motivator trainer builder berpengalaman. Dihadiri oleh ratusan orang peserta yang ingin memiliki jiwa mandiri berikut semangat entrepreneurship yang benar, telah menerima manfaat nyata [anw-19].&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-6174113106088724344?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/6174113106088724344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/10/seminar-kemandirian-dan-semangat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6174113106088724344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6174113106088724344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/10/seminar-kemandirian-dan-semangat.html' title='Semilok Kemandirian dan Semangat Entrepreneurship berdasar Perspektif Kristen, 20-21 Okt 2007 di Jakarta dan Rencana 9-11 Nop 2007 di Dramaga Bogor'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-3812624284579210924</id><published>2007-10-21T00:00:00.000-07:00</published><updated>2007-11-07T22:59:26.016-08:00</updated><title type='text'>Follow Up pemulihan Bengkulu pasca Gempa masih sangat diperlukan</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah" (Ibrani 13:16).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tetapi sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus. Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem" (Roma 15: 25-26).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea" (Kisah 11: 29).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak terjadinya gempa 7.9SR di Bengkulu dan wilayah lainnya dan masyarakat korban khususnya di Bengkulu dan Bengkulu Utara masih dirasa sangat dibutuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah fase tanggap darurat dan disaster rescue lewat, kini upaya-upaya pemulihan (recovery) bagi jemaat  dibutuhkan jemaat dan masyarakat di Bengkulu, seperti di daerah Lais dan Bengkulu Utara, berupa upaya rehabilitasi dan rekonstruksi rumah-rumah dan fasilitas-fasilitas umum/sosial yang rusak bahkan rusak berat. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah upaya recovery sosial-ekonomi bagi keluarga korban dan komunitas yang sempat porak-poranda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang segera harus dilaksanakan adalah:&lt;br /&gt;- Perbaikan rumah-rumah yang roboh, rusak berat.&lt;br /&gt;- Perbaikan balai-balai (pertemuan) desa. &lt;br /&gt;- Kegiatan kelompok-kelompok jemaat khususnya jemaat Gekkesia, Katolik, dll perlu diaktifkan kembali seperti sedia kala. &lt;br /&gt;- Pelayanan-pelayanan konseling, doa dan "trauma-healing" bagi korban.   &lt;br /&gt;- Reaktivasi kelompok-kelompok usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang sempat hancur dan terhenti, perlu dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang terakhir ini, sangat diperlukan penguatan peran Yayasan Duta Bhakti Makmur (YDBM)pimpinan Bro W Supardi dalam pembinaan Pdt M Cukra, untuk membangkitkan kembali semangat hidup dan aktivitas sosial-ekonomi jemaat dan masyarakat Bengkulu Bengkulu Utara) pasca gempa. Sinergi pelayanan pemulihan sangat diperlukan dengan berbagai pihak, agar "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah pesisir pantai Bengkulu yang terdiri dari para nelayan, perlu ditolong untuk memulihkan kehidupan mereka. Pemerintah, gereja setempat (Gekkesia, Katolik, dll), organisasi Kristen, LSM, koperasi dan swasta (seperti Bank Perkreditan Rakyat)dsb perlu bahu-membahu agar penderitaan jemaat dan rakyat Bengkulu dapat diringankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Postingan 13 Sept 2007:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear saudara2 dalam kasih Kristus, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gempa berkekuatan 7,9 pada skala Richter, Rabu (12-9), pukul 18.10, kembali mengguncang Bengkulu dan sekitarnya. Getaran kuat yang berpotensi tsunami terasa hingga ke Padang, Jambi, Pekanbaru, Lampung, dan Jakarta. Bahkan Singapura, Malaysia, Thailand dan Srilanka. Meski kemudian pengumuman BMG sudah dicabut tentang tidak jadinya tsunami, namun puluhan bahkan ratusan rumah rusak, roboh dan luluh lantak. Pagi ini (13-9) gempa susulan terjadi lagi dengan skala 7.7 SR yang menghempas bukan saja Bengkulu, tapi juga Padang dan Painan (Sumbar bagian selatan). &lt;br /&gt;Sekali lagi menyusul skala 6.7 SR di Sungai Penoh Jambi. Sore ini (13-9) terjadi lagi gempa namun bukan di Sumatera, tapi di Sulawesi Utara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mari kita doakan mereka dengan sungguh2, agar korban dapat tertangani, terevakuasi dengan cepat dan terselematkan. Jika anda dan saya tergerak, dapat membantu dengan obat2an, selimut, mie instant, tenda, dsb. JIka anda tergerak, bisa forward email ini ke yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berikut sms yang saya terima tadi malam dari Bro Supardi di Bengkulu, sobat perjuangan dan perwakilan sesama  pelayanan paguyuban kristen BAKTI NUSA yang ada di Bengkulu tepatnya Bengkulu Utara, yang sangat dekat dengan pusat gempa (90-100 km). Bro. Supardi juga aktivis jemaat kristen kristiani di Argamakmur Bengkulu Utara Prop Bengkulu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begini bunyi sms nya tadi malam jam 19:15 kepada saya: (12/9): "Maaf Pak Hans, baru balas. Sulit dihubungi, komunikasi sulit sekali. Kami semua tidur di luar sekarang. Gempa2 susulan terus saja terjadi sejak jam 18:15 tadi yang 7.9 SR. Rumah2 kami mulai terus retak2, tetangga2, hampir semua deh. Pusat gempa sangat dekat dengan kami. Getaran terus tiap 10 menit. Listrik semua padam Pak. Bikin suasana sangat mencekam. Dukung kami, doakan kami Pak". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sms berikutnya jam 24:10: "Maaf Pak HMS, saya dan tim ngga bisa masuk kantor, pada rusak nih. Semua anggota tim masing2 sibuk dengan urusan masing2. Kami sedang usahakan posko efektif"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sms berikutnya jam 10:23 (13-9): "Tadi saya liat korban lagi. Seorang ketimpa pohon dan bangunan yang roboh seketika akibat gempa. Puluhan bahkan ratusan rumah bangunan2 pada rusak Pak. Korban tewas dan luka berat ringan saya dapat infonya sudah puluhan, yang lain masih dicari. Mulai dari yang ringan sampe rusak berat. Rumah saya dan anggota tim saya juga pada rusak nih. Anak saya juga yang kecil, sebentar2 nangis nih. Ngga mau saya tinggal. Mungkin sekali dia trauma meliat kejadian ini".  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rekan milist, saudara seiman Shirley di Padang sampai hari ini masih saya kontak. Padang juga tingkat kerusakannya sejak hari ini cukup luar biasa. Kita doakan agar Tuhan melindungi umat Tuhan, seluruh anak bangsa yang ada di sana. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika anda ingin informasi lebih jauh, dan mengupayakan bantuan, silakan hubungi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bro Supardi/Bro. Jonathan Cukra, &lt;br /&gt;BAKTI NUSA - DBM BENGKULU.  &lt;br /&gt;Hp1. +62 813 67637660&lt;br /&gt;Hp2. +62 813 673 53907&lt;br /&gt;Pos1: Jalan Diponegoro BP 7, Bengkulu.&lt;br /&gt;Pos2: Jalan Ir. Soekarno No. 12, Rama Agung Arga Makmur Bengkulu Utara, Bengkulu. &lt;br /&gt;Tel-1: +62 737 521 172&lt;br /&gt;Tel-2: +62 737 521 231&lt;br /&gt;Tel-3: +62 737 522 361&lt;br /&gt;Rek.Ac. Bank Mandiri (OL): No. 120-00-0114872-0 [M. Nusa Persada]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam kemanusiaan dlm Kristus, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Bengkulu News (12 Sept 2007)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa Hebat Landa Sumatera:Bengkulu-Mentawai Luluh Lantak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENGKULU (Lampost): Gempa berkekuatan 7,9 pada skala Richter, Rabu (12-9), pukul 18.10, mengguncang Bengkulu dan sekitarnya. Getaran kuat yang berpotensi tsunami terasa hingga ke Padang, Jambi, Pekanbaru, Lampung, dan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Meteorologi dan Geofisika mengatakan gempa bumi berpusat di 159 km barat daya Bengkulu, tepatnya di titik 4,67 derajat lintang selatan--101,13 derajat bujur timur dengan kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut.&lt;br /&gt;Ribuan warga Bengkulu yang berdomisili di tepi pantai berhamburan keluar rumah dan berebut ke lokasi lebih tinggi untuk berlindung. Aliran listrik langsung padam.&lt;br /&gt;Sejumlah ruas jalan di Kota Bengkulu retak-retak. Teriakan histeris masyarakat bercampur tangis perempuan dan anak-anak mewarnai gerak mereka ke kantor gubernur yang letaknya lebih tinggi. Sampai tadi malam, 2.000--3.000 warga mengungsi ke luar Kota Bengkulu.&lt;br /&gt;Di Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu, setidaknya empat gedung berlantai III luluh lantak, puluhan rumah rusak berat, dan ratusan rumah penduduk lain mengalami kerusakan.&lt;br /&gt;Kepala Perwakilan Operator Seluler XL di Bengkulu, Dino, mengatakan saat kejadian orang saling berebut keluar dan berkendara dengan kecepatan tinggi. "Ada beberapa kecelakaan cukup parah di depan kantor saya," kata Dino saat dihubungi tadi malam.&lt;br /&gt;Sementara itu, di Kepulauan Mentawai, Sumbar, masjid, gereja, dan kantor pos roboh. Warga menyelamatkan diri ke tempat-tempat tinggi karena khawatir tsunami.&lt;br /&gt;Gempa kali ini mengakibatkan tujuh orang meninggal dan 17 luka-luka. Jumlah korban diperkirakan masih bertambah. "Di Pantai Panjang, Bengkulu, enam meninggal dan satu lagi meninggal di SMA Carolus, Lingkar Panjang," ujar Staf Pendataan Tanggap Darurat Departemen Sosial Felix Valentino, kemarin.&lt;br /&gt;Tujuh tahun silam, tepatnya tanggal 4 Juni 2000, Bengkulu diguncang gempa tektonik berkekuatan 7,3 SR. Gempa tersebut menewaskan 88 orang, 959 luka-luka, dan 2.207 luka ringan.&lt;br /&gt;Kepala BMG Sri Woro Harijono mengingatkan gempa Bengkulu berpotensi menimbulkan tsunami. "Gempa berpotensi tsunami karena semua persyaratan terpenuhi," kata Sri Woro.&lt;br /&gt;Persyaratan terjadinya tsunami terpenuhi karena besar gempa lebih dari 6,3 SR dan posisi gempa di laut berkedalaman 10 km (laut dangkal). Namun, Deputi Sistem Data dan Informasi BMG Pusat Prih Harjadi, menyatakan peringatan bahaya tsunami resmi dicabut pukul 20.00.&lt;br /&gt;Di Padang, Sumatera Barat, lampu di jalan-jalan utama dipadamkan. Penduduk yang tinggal 20 meter dari bibir pantai membawa tas untuk mengungsi ke tempat lebih tinggi. Sementara itu, warga Pekanbaru, Riau, juga tidak kalah paniknya dan berhamburan lari keluar rumah.&lt;br /&gt;Gempa yang berlangsung 15 menit itu mengakibatkan sejumlah tiang listrik bergoyang. Khusus warga Kota Jambi, gempa merupakan sebuah peristiwa langka. Karena guncangannya terasa cukup kuat, gempa membuat sebagian besar warga Jambi berhamburan keluar rumah.&lt;br /&gt;Guncangan gempa cukup keras ini dirasakan pula oleh warga Jakarta, khususnya yang berada di gedung-gedung bertingkat. Warga yang berada di gedung bertingkat seperti di lantai 20 sempat merasakan pusing.(ANS/W)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-3812624284579210924?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/3812624284579210924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/10/follow-up-pemulihan-bengkulu-pasca.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3812624284579210924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3812624284579210924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/10/follow-up-pemulihan-bengkulu-pasca.html' title='Follow Up pemulihan Bengkulu pasca Gempa masih sangat diperlukan'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-3152521152571259248</id><published>2007-10-20T23:12:00.000-07:00</published><updated>2007-11-07T23:34:40.697-08:00</updated><title type='text'>Misi ke Sumba Barat dan Sumba Timur, 12-19 Oktober 2007</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Sungguh, Akulah yang dinanti-nantikan pulau-pulau yang jauh.." (Yesaya 60: 9a). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dengarkanlah Aku dengan berdiam diri, hai pulau-pulau; hendaklah bangsa-bangsa mendapat kekuatan baru! Biarlah mereka datang mendekat, kemudian berbicara; baiklah kita tampil bersama-sama untuk berperkara!" (Yesaya 41:1).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dalam sekejap mata keselamatan yang dari pada-Ku akan dekat, kelepasan yang Kuberikan akan tiba, dan dengan tangan kekuasaan-Ku Aku akan memerintah bangsa-bangsa; kepada-Kulah pulau-pulau menanti-nanti, perbuatan tangan-Ku mereka harapkan" (Yesaya 51:5). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur pelayanan misi ke pulau Sumba yakni wilayah Sumba Barat dan Sumba Timur pada tanggal 12-19 Oktober 2007, telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Program misi kali ini adalah melakukan audit, monitoring dan evaluasi (MonEv) terhadap kegiatan program pemberdayaan jemaat terpadu yang dilakukan oleh sayap pelayanan diakonia Gereja Kristen Sumba (GKS) yaitu Yayasan Kuda Putih Sejahtera (YKPS) dan rintisan program baru yang dijalankan lembaga lokal independen  Yayasan Empati Sumba (YES) yang berkantor di Waingapu, Sumba Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim pelayanan misi ke pulau Sumba didukung oleh 2 orang, yaitu Ibu NY Budiasih didampingi oleh Bpk IM Suwita. Kunjungan ini mengikuti pelayanan misi Bpk Hans Midas Simanjuntak sebelumnya ke Sumba Barat/Barat Daya dan Sumba Timur yang dilakukan pada bulan Maret 2006 yang lalu, bersama tim Transformation Conncection Indonesia (TCI) hampir ke seluruh pelosok pulau. Masih sangat banyak daerah/lokasi yang mengalami sulitnya memperoleh air bersih hingga belasan &amp; puluhan kilometer jauhnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim telah mengecek pula berjalannya bantuan sistem komputerisasi YKPS (Diamond Software), agar administrasi pelayanan dan keuangan kelembagaan dapat berjalan dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan pendanaan untuk YKPS dan YES Sumba diperoleh dari sejumlah donatur yang empati terhadap keadaan yang dialami/dihadapi pulau Sumba. Program kegiatan terpadu yang telah dilakukan meliputi:&lt;br /&gt;- program pengentasan kemiskinan/pemiskinan di daerah pesisir dan hinterland. &lt;br /&gt;- follow-up penginjilan kepada suku asli tradisionil Sumba suku Merapu yang masih menganut kepercayaan animisme/dinamisme.&lt;br /&gt;- program penyediaan air bersih. &lt;br /&gt;- intensifikasi pertanian lahan kering: jagung, cassava, dll dan microfinancing.  &lt;br /&gt;- penguatan kelembagaan dan pemberdayaan pendidikan keluarga jemaat. &lt;br /&gt;- program pengadaan studio siaran radio lokal pulau Sumba: Global FM Sumba.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah banyak lokasi dan kelompok jemaat serta masyarakat di Sumba yang merasakan dampak positif dari program transformasi yang dijalankan, terutama 3 tahun terakhir ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih diperlukan dukungan dan pembenahan-pembenahan sekaitan program misi di pulau Sumba, yakni dalam hal aspek pembaharuan spiritualitas, wawasan hidup Kristen, korelasi Injil &amp; budaya setempat, masalah tertib-administrasi dan manajemen lembaga, pelaporan dan efektifitas program. &lt;em&gt;Anyhow,&lt;/em&gt; perjalanan tim misi kali ini telah memberikan sumbangsih sangat penting bagi penguatan dan pemberdayaan jemaat Kristen dan masyarakat di Sumba Barat dan Sumba Timur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-3152521152571259248?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/3152521152571259248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/10/misi-ke-sumba-barat-dan-sumba-timur-12.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3152521152571259248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3152521152571259248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/10/misi-ke-sumba-barat-dan-sumba-timur-12.html' title='Misi ke Sumba Barat dan Sumba Timur, 12-19 Oktober 2007'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-7071397408513150612</id><published>2007-10-05T06:17:00.000-07:00</published><updated>2007-11-06T22:23:20.925-08:00</updated><title type='text'>Usaha Gereja dalam Pelestarian Lingkungan Hidup.</title><content type='html'>&lt;em&gt;[Telah dimuat dalam Buletin Narhasem HKPB Semper edisi Oktober 2007].&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja masa kini dan ke depan, khususnya para pemuda (naposo) dan remaja Kristen, mau tidak mau sangat ditantang dengan isu-isu permasalahan lingkungan yang banyak muncul akhir-akhir ini dan harus dihadapi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Isu pemanasan global &amp; dampaknya.&lt;/strong&gt; Isu yang telah mendunia,  mengundang perhatian banyak kalangan. Meskipun masih mengundang pro-kontra dalam pembahasannya di antara para scientist. Pemanasan global  atau global warming adalah kejadian meningkatnya temperatur suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi.  Kenaikan rata-rata  itu kini mencapai 2 derajat Celsius per tahun. Penyebab utamanya adalah adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas gas asam arang (karbondioksida, CO2) dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer makin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi.  Yang paling besar menyumbang emisi karbon ini adalah aktifitas  pembangunan pabrik dan rumah kaca, pembakaran lahan dan bencana asap.  Faktor-faktor ini mengakibatkan emisi karbon meningkat secara tajam, berakibat pada rusaknya lapisan ozon bumi.  Perhitungan dan penelitian yang antara lain dilakukan laboratorium air Delft Hydraulics, menyatakan bahwa ternyata 2.000 juta ton gas asam arang (CO2) telah keluar tiap tahun akibat kebakaran tanah gambut di Kalimatan dan Sumatra. Pancaran gas asam arang di dunia saat ini mencapai 26.000 juta ton. Jika pancaran tanah gambut ikut dihitung, maka Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Amerika Serikat dan Cina sebagai negara terbesar pembuang gas CO2.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan yang ’asal-asalan’ (baca: acak-acakan) dan semena-mena telah berlangsung dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Dampaknya lingkungan hidup rusak parah. Produsen primer di alam menjadi sakit bermasalah. Energi di ambang kritis,  jaring2 makanan (food web) pupus, daur air kacau, emisi karbon meningkat secara eksponensiil. Banyak lahan makin sulit ditanami, menjadi lahan kritis,  tidak subur. Unsur-unsur hidup, relung ekologis, populasi penduduk naik tanpa terkendali. Reproduksi keturunan tak berstrategi, suksesi ekologis ’mampet’, terumbu karang habis, komposisi atmosfer berubah.  Bila lapisan ozon bumi rusak dan ”bolong”, maka panas ganda permukaan bumi akan melelehkan es di kutub. Ini membuat volume air laut dan gelombang pasang air laut naik secara sistematis. Meniscayakan ribuan pulau akan tenggelam,  antara lain di Kep Maldives,  Lautan Pasifik dan Maluku. Termasuk bagian utara Jakarta diprediksi akan tenggelam bila tak ada upaya pencegahan yang riel. Itu diperkirakan akan terjadi dalam 40-70 tahun ke depan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Protokol Kyoto. &lt;/strong&gt;Kerjasama internasional pada tahun 1997 di Kyoto Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca (CO2 dan gas-gas lainnya), yang sangat merusak lapisan ozon dan berakibat kepada pemanasan global.  Perjanjian ini adalah tindak-lanjut dari Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992, dimana 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Presiden SBY di Sidang Umum PBB New York sekaitan Perjanjian ini, menyatakan bahwa Indonesia akan mengambil peran lebih besar dan lebih aktif  untuk komitmen pengurangan emisi karbon dalam kerjasama dengan negara-negara maju seperti AS, Rusia, Jepang, dll terkait bantuan dana dan teknologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swalayan bencana karena rusaknya lingkungan. Beberapa tahun terakhir ini negeri ini semakin sering diterpa bencana.  Bencana alam berupa banjir (seperti banjir Jakarta Maret 2007 lalu, banjir siklus 5 tahunan), kemarau panjang, tsunami seperti di Aceh &amp; Pangandaran, gempa bumi (Aceh/Nias, Yogya/Klaten, Bengkulu), gunung berapi, kebakaran hutan (Sumatera, Kalimantan), tanah longsor (Kalsel, Sinjau Sulsel, Gorontalo, dll).  Ambruknya TPA Bantar Gebang Bekasi dan TPA di Bandung Jawa Barat, yang menelan korban jiwa. Semua tak dapat dilepaskan akibat kondisi makin rusak dan parahnya lingkungan. Masalah lingkungan di negeri ini sudah sama-sama kita tahu:  penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerak perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia, tidak pernah lepas dari kemacetan); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur panas di Porong Sidoarjo, Jawa Timur, dsb.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan lingkungan harus segera dicegah, pelestarian dikerjakan!  Sudah tiba saatnya Gereja, naposo dan remaja Kristen berbuat hal yang riel berkaitan dengan persoalan lingkungan.  Tidak bisa lagi hanya dengan sebatas wacana.  Namun, harus dalam bentuk kongkrit rencana aksi diupayakan.  Mulai dari kesadaran diri pribadi.  Keluarga. Bersama dengan pemerintah,  sekolah/perguruan tinggi, perusahaan, media, LSM dan unsur-unsur masyarakat lainnya. Komitmen untuk bersama menjadikan semua aspek kehidupan sebagai gaya hidup yang ramah lingkungan (environment friendly).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal berikut menjadi kebutuhan &amp; fokus utama untuk diperhatikan dengan seksama:  &lt;br /&gt;1)   Ketersediaan air bersih (untuk minum, masak, cuci, dsb): dalam jumlah maupun kualitas.&lt;br /&gt;2)  Kebersihan udara bebas polusi,  bebas dari pencemaran terutama di kota besar &amp; industri.  &lt;br /&gt;3)  Kesuburan tanah:  meningkatkan kembali tingkat kesuburan tanah/lahan. &lt;br /&gt;4) Tingkat keragaman biota: meningkatkannya kembali keanekaragaman hayati, misalnya melalui upaya reboisasi hutan gundul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Arti lingkungan dan upaya pelestariannya.&lt;/strong&gt;  Wikipedia encyclopedia memberi batasan lingkungan hidup atau lingkungan sebagai: (1)  Daerah di mana sesuatu mahluk hidup berada,  (2)  Keadaan/kondisi yang melingkupi suatu mahluk hidup, dan (3) Keseluruhan keadaan yang meliputi suatu mahluk hidup atau sekumpulan mahluk hidup, terutama:  a)  Kombinasi berbagai kondisi fisik di luar mahluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan mahluk hidup untuk bertahan hidup,  dan b) Gabungan kondisi sosial dan budaya yang berpengaruh pada keadaan suatu individu mahluk hidup atau suatu perkumpulan/ komunitas mahluk hidup. Istilah lingkungan hidup atau lingkungan  sering dipertukarkan dalam pengertian yang sama. Ilmu yang mempelajari persoalan lingkungan disebut Ekologi. Jika lingkungan dikaitkan dengan hukum/aturan pengelolaannya, maka batasan wilayah wewenang pengelolaan dalam lingkungan tersebut menjadi lebih jelas.  Dalam konteks politik,  lingkungan hidup bagi republik ini disebut Wawasan Nusantara. Menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim. Memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa ini menyelenggarakan kehidupan berbangsa, bernegara, beragama dan bermasyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan batasan ini, lingkungan hidup atau persoalan lingkungan kini tidak dapat lagi dipandang hanya sekedar sebagai ”pemantas” belaka (Batak: ondeng) oleh manusia dan bagi manusia. Cara pandang, paradigma atau mindset antroposentrisme yang mungkin selama ini masih dianut, yakni menganggap manusia adalah segala-galanya,  pusat dari sistem alam semesta, atau nilai tertinggi dalam menentukan setiap kebijakan lingkungan, sesungguhnya tidak dapat dipertahankan lagi.  Kutipan terhadap bagian Alkitab, Kejadian 1: 26-28,  yang ditafsirkan bahwa Allah memberi kewenangan penuh kepada manusia (yang “segambar” dengan-Nya), dan  kemudian dijadikan alasan pembenaran bagi manusia untuk mengeksploitasi alam habis-habisan demi kepentingannya sendiri,  sungguh merupakan hal yang naif, keliru dan tidak bisa diterima!  Yang benar, adalah manusia adalah ciptaan Allah, bagian dari lingkungan yang diciptakan Allah.  Cara pandang,  paradigma mindset yang benar adalah Allah lah pusatnya, segala-galanya (teosentris) dan melaluiNya lingkungan diciptakan (ekosentris), bumi diciptakan (geosentris), sebagaimana kalangan Deep Ecology (DE) atau ”Ekologi Mendalam” menya-takannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengapa lingkungan perlu dilestarikan?&lt;/strong&gt;  Seperti ilustrasi  tubuh, lingkungan itulah tubuhnya. Manusia adalah bagian dari tubuh itu sendiri. Bagian tubuh lain misalnya adalah  hewan/binatang (fauna), tumbuhan vegetasi hutan (flora), material seperti: tanah, pasir, air, udara, batu, mineral, logam dst. Tubuh ’lingkungan’ ini diciptakan oleh Allah. Maka jika kita menghargai lingkungan, lingkungan dihargai dan dilestarikan, maka itu sama dengan kita menghargai Allah.  Sama dengan kita mempermuliakan Allah.  Lingkungan perlu dilestarikan bukanlah untuk pemuasan kebutuhan manusia,  karena manusia memang bukan pusat segala-galanya di alam semesta.  Pelestarian ini dilakukan adalah untuk kepentingan dan keperluan lingkungan itu sendiri. Lingkungan yang lestari adalah lingkungan yang terus berkelanjutan (sustainable). Lingkungan lestari adalah tanda nyata dari kehadiran Allah yang memberi damai-sejahtera, keindahan, keseimbangan, kebaikan dan sukacita bagi semua makhluk, segenap ciptaan di seluruh persada jagad-raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peran dan usaha gereja dalam pelestarian lingkungan? &lt;/strong&gt;Sudah tiba saatnya Gereja mengambil peran aktif, jika memungkinkan mengambil tempat di barisan terdepan,  guna menyadarkan khalayak bahwa cara pandang antroposentrisme sudah tidak dapat dipertahankan lagi.  Cara pandang itu harus diubah menjadi cara pandang teosentris (berpusat pada Allah), yang melaluinya kita dapat semakin menghargai lingkungan (ekosentris), di mana kita manusia hidup dan tinggal.  Bersama-sama Allah sebagai mitraNya, dalam pimpinanNya, dan dengan makhluk ciptaan lainnya,  Gereja seharusnya melakukan tugas restorasi, pemulihan dan pelestarian lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Sebagai pembawa misi Allah, Gereja menjadi pemrakarsa awal, penghimbau, penegur sekaligus menjadi contoh terkait usaha pencegahan kerusakan lingkungan menjadi lebih parah, karena dampak pemanasan global dan berbagai bencana akibat faktor lingkungan. Tujuannya agar bumi dapat tetap layak dihuni oleh segenap makhluk. Hutan, pohon-pohon, hewan-hewan, tanah/lahan serta isinya, berikut sumberdaya alam lainnya (air bersih, udara, keragaman biota) untuk keperluan pemberdayaan dan kehidupan, hendaknya dipergunakan secukupnya/sewajarnya. Masih dalam batas-batas persediaan yang memungkinkan kehidupan dan pemberdayaan dapat tetap berlanjut. Berperiode jangka panjang, antar generasi. Tidak akan dibiarkan sampai habis dan punah. Melainkan masih tersisa, sehingga upaya pemberdayaan, hidup dan ketersediaan sumberdaya alam tadi dapat terus berkelanjutan bagi kepentingan generasi anak cucu mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Gereja disadarkan kembali bahwa mempermuliakan Tuhan berarti mencintai menghargai melestarikan lingkungan, di mana segenap ciptaan Allah hidup dan tinggal. Menghargai melestarikan lingkungan, berarti menghargai kehidupan berkelanjutan itu sendiri.  Sikap penghargaan ini, mungkin bisa diekspresikan misalnya dalam ibadah ritual, melalui penggunaan pola liturgi yang bernuansakan ekologis,  berisikan pesan-pesan pelestarian lingkungan.  Di ranah publik,  Gereja dapat mencanangkan gerakan penyadaran lingkungan di tengah masyarakat melalui program-program tertentu di sekolah-sekolah kristen yang didirikan,  di rumah-rumah sakit kristen, melalui komunitas politisi dan birokrat kristen,   media, multimedia, LSM-LSM di dalam dan disekitar gereja, dsb.  Bila terjadi bencana akibat faktor lingkungan di satu tempat, Gereja dapat secara aktif terjun langsung dalam aktifitas lingkungan dan kemanusian. Melakukan tindakan darurat (emergency rescue), crisis response. Membantu misalnya dalam upaya evakuasi korban,  penanganan saat bencana (terapi penyembuhan, trauma, psikis) dan pasca bencana misalnya dalam bentuk relief, rehabilitasi, rekonstruksi dan recovery sosial-ekonomi.  Demikian juga dalam pencanangan gerakan, sebut saja gerakan pelestarian hutan (Gerhan), Gereja dapat berperan aktif melalui LSM-LSM kristen yang diprakarsainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Gereja dan warga jemaat kristen memprakarsai suatu cara pandang ’baru’ bahwa pementingan terhadap diri sendiri (individualisme) demi kebutuhan masyarakat yang lebih luas dan kecintaan penghargaan kepada lingkungan, harus dikendalikan, lebih bisa ditahan dan diperlembut (ingat buah Roh: penguasaan diri), namun bukan berarti rasa penghargaan terhadap diri pribadi menjadi hilang atau berkurang. Contoh kongkrit, misalnya jika transportasi umum kelak sudah semakin memadai dalam jumlah dan kualitas di Ibukota, maka dirasa lebih baik menggunakan fasilitas transportasi umum ketimbang mobil/kendaraan pribadi. Hal senada dilakukan pemerintah dan pengusaha terhadap hutan. Lebih berorientasi kepada upaya proteksi hutan yang pro-lingkungan, ketimbang upaya eksploitasi hutan yang pro-keuntungan rupiah/dollar investasi sesaat. Demikianpun dengan masalah kependudukan. Akan lebih baik mempertimbangkan faktor ekologis, ketimbang mengikuti naluri kebebasan individu dalam bereproduksi sebanyak-banyak jumlah anak tanpa mengindahkan nilai-nilai penting dari perencanaan keluarga atau keluarga berencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Secara spiritualitas ekologis, Gereja semakin peka dan menghargai lebih dalam kehidupan Allah Tritunggal. Allah yang secara penuh menjelma dalam Kristus meneguhkan nilai materi dari ciptaan. Kristus meneguhkan pentingnya nilai lingkungan. Maka doa juga menjadi bagian iman gereja yang berakar pada kasih kepada Allah dan kasih kepada lingkungan, ciptaan!  Sekaitan ini, Gereja semakin peka terhadap aspek keadilan (justice), terutama bagi mereka yang terpinggirkan baik secara gender, strata sosial-ekonomi, ras, agama dlsb, yang dengannya Gereja dapat memprakarsai berbagai upaya dialog guna mengatasi kesenjangan atau ketimpangan-ketimpangan sosial yang ada.  Karena berbicara lingkungan, tentu mencakup pula persoalan ranah spiritualitas dan ranah sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa dilakukan warga HKBP Semper cq naposo remaja Narhasem? Bisa dilakukan dari hal-hal yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, betul-betul menghemat pemakaian air bersih untuk keperluan memasak, mandi, mencuci, dsb.  Menghemat pemakaian bahan bakar/BBM (pertamax, premium atau solar) untuk kendaraan bermotor, mobil atau sepeda motor.  Ganti dengan bahan bakar yang ramah lingkungan, seperti bahan bakar jarak pagar (Jathropa). Kampanye menggunakan sepeda untuk ke sekolah, ke kampus atau tempat pekerjaan, merupakan hal yang sangat dihargai.  Hemat pemakaian listrik, lampu-lampu rumah diganti dengan jenis lampu hemat energi, kebiasaan mematikan lampu, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuang sampah pada tempatnya, tidak sembarangan, menjadi kebiasaan yang baik dan dikomitmentkan.  Dengan membiasakan diri memisahkan jenis sampah basah dan sampah kering.  Tujuannya, untuk alternatif pengolahan bio kompos (pupuk organik) dan daur ulang menjadi material baru yang berguna. Contoh saja di IPPL Jakarta, ada pelatihan bagi remaja dan naposo agar mampu memanfaatkan sumberdaya seperti cabai, pepaya, tomat, dan lain sebagainya di berbagai pasar tradisional  di Jakarta untuk dijadikan saos. Cabai, pepaya, tomat yang tidak dimanfaatkan pedagang karena pembusukan dimanfaatkan naposo dan remaja untuk ditingkatkan nilainya dengan cara membuat saos. Sehingga, pasar-pasar tradisional berkurang sampahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendukung gerakan kebersihan lingkungan rumah, sekolah, gedung ibadah, tempat pekerjaan dari tumpukan sampah, lancarnya aliran air selokan,  aliran kali dan sungai yang dapat mengakibatkan banjir di bantaran kali hingga ke rumah-rumah warga. Naposo dan remaja mulai sekarang juga dapat bertekad membatasi mengurangi penggunaan bahan-bahan yang terbuat dari plastik seperti tas kresek platik, tas plastik, bekas pembalut, sterioform – kotak pembungkus makanan dll (karena sangat sukar di daur ulang). Juga mengurangi penggunaan tissue basah dan tissue kering, karena dibuat melalui pengurangan/pembabatan pohon atau hutan.  Padahal hutan dan pepohonan adalah media efektif untuk menghilangkan gas karbondioksida (CO2) dalam jumlah banyak di udara.  Menanam pohon baru, memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi adalah cara jitu mengurangi efek rumah kaca, perusakan ozon bumi dan dampak lebih besar dari pemanasan global. Jenis pohon yang bagus untuk ditanam a.l duwet, buni, menteng, gandaria, mahoni, kemang, lobi-lobi,  mangga,  jambu, durian, rambutan, kelapa hibrida, dan sawo duren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda (naposo) dan remaja dapat menghemat pemakaian kertas yang bahan materialnya dari pohon. juga bisa terlibat dalam upaya pencegahan kepunahan jenis binatang dan tumbuhan,  ikut menyuarakan kesadaran akan pentingnya pengenalan alam sekitar, informasi terkait dampak pemanasan global, ledakan populasi dan bahaya bencana karena faktor lingkungan, lewat berbagai media apa saja yang bisa dikerjakan seperti membuat artikel majalah dinding (mading) dan buletin sekolah, milist, radio remaja, pagelaran musik, puisi dan kreativitas, kegiatan retret dan bible-camp,  dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di bawah ini semoga bisa jadi perenungan kita:   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jika pohon terakhir telah ditebang, jika sungai terakhir telah tercemar, jika ikan terakhir telah ditangkap, baru manusia akan sadar bahwa mereka tidak akan bisa makan uang.” (Green Peace).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang (semua orang di muka bumi), tapi tak bisa mencukupi orang-orang (sebagian orang) yang rakus.”  (Mahatma Gandhi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mempermuliakan Tuhan caranya yang tepat adalah melalui menghargai lingkungan. Melestarikan lingkungan, adalah tanda seseorang mempermuliakan Tuhan (Anonym). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soli Deo gloria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Referensi: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1) Celia Deane-Drummond,  2006. Teologi &amp; Ekologi, Buku Pegangan. BPK Gunung Mulia, Jakarta. &lt;br /&gt;2) http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan_hidup&lt;br /&gt;3) Lingkungan Hidup, GKI Kayu Putih Jaktim. &lt;br /&gt;4) Weinata Sairin, M.Th, 2000.  Gereja, Agama-Agama dan Pembangunan Nasional. BPK Gunung Mulia, Jakarta. &lt;br /&gt;5) http://hansmidassmjntk.blogspot.com/Archieve/Juni 2007.  Istilah Kata Pembangun- an”:  Masih Layakkah Kita Pergunakan dan Populerkan di Jaman Begini ??, artikel Hans Midas Simanjuntak lewat informasi Transforma Sarana Media.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-7071397408513150612?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/7071397408513150612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/11/usaha-gereja-dalam-pelestarian.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7071397408513150612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/7071397408513150612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/11/usaha-gereja-dalam-pelestarian.html' title='Usaha Gereja dalam Pelestarian Lingkungan Hidup.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-4964514379607833387</id><published>2007-09-16T22:15:00.000-07:00</published><updated>2007-10-14T23:40:39.940-07:00</updated><title type='text'>Pelayanan ke PMK-IPB Bogor: Event "KATA" Civitas Kristen IPB, 16 Sept 2007 di Kampus Dramaga-Bogor</title><content type='html'>"Selamat Datang, Semangat Baru (Yeh. 36: 26)". Demikianlah tema yang diangkat oleh Panitia untuk Event Kebaktian Awal Tahun Ajaran (KATA) 2007/2008 Civitas PMK-IPB Bogor, yang berlangsung di Aula Auditorium Thoyib Faperta IPB Dramaga Bogor pada tanggal 16 September 2007 lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadiri oleh lk. 800 orang yang terdiri dari para mahasiswa/i kristen IPB Bogor, dari angkatan 41 sd angkatan 44 yang baru masuk IPB tahun 2007 ini. Juga hadir para dosen kristen IPB, seperti Dr Togu Manurung dan isteri (Fahutan), Dr James Panjaitan (Faperikan), Dr Rilus dan isteri (Faperikan)dan Ibu Ir Endah Palupi Murdiyarso MS isteri dari Prof Dr Ir Murdiyarso selaku pembina PMK-IPB Bogor. Tampak pula para karyawan kristen IPB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bpk Hans Midas Simanjuntak, Ir MM (MCS), yang diundang sebagai Pembicara yang melayankan Firman Tuhan pada Kebaktian  "KATA" itu mengambil dasar nats dari Yehezkiel 36: 24-26. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intisari khotbahnya adalah:&lt;br /&gt;1. Bahwa semangat baru yang diperoleh orang percaya anak Tuhan itu adalah berasal dari TUHAN, yang menaruh RohNya dalam intuisi hati mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Roh TUHAN dalam intuisi hati orang percaya yang berkarya memberi kecerdasan spiritual, intelektual dan daya juang ketekunan sehingga buah karya kehidupan dapat dirasakan bukan saja oleh diri sendiri tapi oleh lingkungan sekeliling. Biarlah event ini menjadi momentum baru untuk pembaharuan spiritual, intelektual dan daya juang ketekunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagi mahasiswa, buah karya kehidupan itu adalah prestasi akademik yang dapat dipertanggung-jawabkan; sikap perkataan perbuatan dan perilaku yang baik dan benar demi kesaksian yang hidup di kampus, keluarga dan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Agar kesaksian efektif, hidup orang percaya mesti memiliki iman dan ketaatan yang hidup terhadap Firman Tuhan; memelihara kejernihan hati dijauhkan dari hati yang keras dan memberontak; dan dua jenis doa yang sangat dibenci Tuhan: kenajisan (&lt;em&gt;filthiness&lt;/em&gt;) dan kecendrungan untuk memberhalakan sesuatu yang bukan Allah (&lt;em&gt;idolatery&lt;/em&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kesatuan tubuh Kristus dalam derap kesaksian bersama selaku orang percaya anak Tuhan yang ada di kampus IPB dan kota Bogor, sangat urgen tercipta. Tujuannya agar efektifitas kesaksian positif kristen dapat semakin luas dirasakan pengaruhnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Event KATA ini juga dimeriahkan dengan pagelaran Teater dari GKI Pengadilan Bogor, Paduan Suara Civitas mahasiswa kristen IPB, persembahan puisi dari seorang mahasiswi baru Angkatan 44 dan mata acara lainnya. Acara yang berlangsung mulai pukul 17:30 berakhir pada jam 21:00 malam waktu Dramaga Bogor. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Just for the glory of Jesus!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-4964514379607833387?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/4964514379607833387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/pelayanan-dalam-event-kata-20072008.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4964514379607833387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4964514379607833387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/pelayanan-dalam-event-kata-20072008.html' title='Pelayanan ke PMK-IPB Bogor: Event &quot;KATA&quot; Civitas Kristen IPB, 16 Sept 2007 di Kampus Dramaga-Bogor'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-6169162048147167450</id><published>2007-09-12T05:49:00.000-07:00</published><updated>2007-09-13T05:57:45.170-07:00</updated><title type='text'>Sekitar Puasa: Puasa Orang Kristen.</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Puasa Orang Kristen&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;by Hans Midas Simanjuntak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latar belakang &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan mengenai dasar &amp; makna serta kapan berpuasa bagi orang Kristen secara praktis berdasar cara pandang dan perspektif Kristen (Christian worldview) banyak disampaikan pada saya terutama di/dari berbagai daerah. Mungkin terkait ibadah yang sedang dimulai oleh saudara2 kita Muslim. Adakah orang Kristen, juga (urgen dan penting) melakukan ibadah Puasa dalam kehidupannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur hal-hal ini ditanyakan menandakan spiritualitas Kristen menunjukkan keniscayaan untuk bertumbuh, adanya kesadaran dan kebangkitan spiritualitas Kristen di tengah kerutinan hidup, "kehampaan" hidup. Kerinduan melakukan pendisiplinan rohani (spiritual discipline) dalam hubungan pribadi dengan Tuhan (HPDT), hubungan dengan sesama dan lingkungan (environment) ; dalam rangka pembentukan pemantapan spiritualitas Kristen yang hakiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, cara pandang Kristen tepatnya cara pandang Ilahi perihal berpuasa memiliki nilai khusus dan mungkin cara pandang yang berbeda dengan fenomena umum yang sering kita lihat. Tidak ada salahnya, kita pelajari puasa dalam perspektif Kristen ©¤ lalu tentunya kita imani, praktekkan, nikmati dan hidupi bersama menjadikan hidup Kristen kita limpah dengan kekayaan berkat-berkat rohani (Ef. 1: 1-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tujuh (7) dasar dan makna puasa bagi orang Kristen didasarkan cara pandang atau perpektif Kristen:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Puasa adalah satu bentuk latihan rohani orang Kristen yang bersifat teosentris. Tujuannya melatih iman, kesetiaan dan sikap harap hanya pada Tuhan. Memusatkan diri pada Tuhan (God¡¯s center). Umumnya dilakukan bareng dengan doa, (Dan. 9: 3, Ezra 8: 23), pengakuan (confession) 1 Sam 7:6; Neh 9: 1-2, sikap prihatin-berkabung dan mencari Tuhan (Yoel 2: 12) dan merendahkan diri (Ul. 19: 18; Neh 9:1). Doa menjadi lebih khusyuk dan cendrung serius dibarengi puasa, manakala badan haus dan lapar dan sementara waktu tidak makan yang enak-enak dan menikmati yang nyaman-nyaman bagi badan. Puasa sejatinya melatih orang Kristen memiliki pendengaran rohani yang lebih peka kepada kebenaran Firman Tuhan. Iman menjadi lebih kuat dengan topangan berpuasa sehingga menghasilkan kuasa rohani yang bersumber dari Tuhan dan firmanNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Puasa hakekatnya adalah kegiatan yang bersifat personal, pribadi orang Kristen terhadap Allah Trinitas (Zak 7: 5; Mat 6: 18), bukan untuk trend konsumsi publik. Tidak untuk dipamerkan apalagi diumumkan ke orang (Mat. 6: 16-18) sehingga secara sengaja atau tidak, orang lain jadi tahu bahwa kita puasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Puasa bagi orang Kristen bukan sekedar kegiatan untuk memenuhi syarat ritual agamawi semata yang "lepas" atau terpisah dari kesaksian hidup riel seseorang sehari-harinya. Selain tidak makan dan tidak minum di hari puasa, perilaku orang Kristen sehari-harinya harus selaras dengan tujuan puasa itu sendiri ©¤ perilaku yang fair/adil tidak curang atau mencurangi, memiliki nurani membela mereka yang menderita kelaliman, tertindas, teraniaya dan kuk perhambaan (Yes. 58: 6-7). Punya nurani untuk membagi kelebihan bagi orang yang lapar, memberi tumpangan bagi orang miskin - tuna wisma, mereka yang telanjang dan sudi menolong saudara yang patut ditolong dengan cara dan waktu yang berkenan pada Tuhan (Yes. 58: 3-5). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Puasa konsekuensinya tidak boleh dijalankan orang Kristen dengan pura-pura, sekedar untuk menjadi topeng atau "tampak luar" agar dilihat orang suci, "tidak rusak-rusak amat", dapat dihargai dan saleh, penuh kemunafikan apalagi dengan main-main sekedar ikut-ikutan (Yes. 58: 3-5, Mat. 6: 16, Luk 18: 12, Yer 14: 12). Puasa bukan seperti yang dilakukan oleh para tua-tua dan pemuka Jizreel (1 Raja2 21: 12), Ahab (1 Raja2 21: 17) atau orang-orang Farisi (Mark 2: 18; Luk 18:2) melainkan puasa yang dijalankan secara "silent" (diam-diam) dan serius oleh Yesus seorang diri di padang gurun (Mat 4:2), Musa (Kel. 34: 28), Elia (1 Raja2 19:8), Daniel (Dan. 9:3), Daud (2 Sam 12: 16), Nehemia (Neh 1:4), Para Rasul (2 Kor 6:5) dan orang Kristen mula-mula(Kis13: 2). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Puasa melatih kerendahan hati (Mz. 35: 13). Menambah keikhlasan orang Kristen untuk melayani Tuhan dan pekerjaan Tuhan serta sikap melayani sesama lebih muncul dari dalam hati sanubari. Semakin orang Kristen berpuasa tidak akan membuatnya jadi sombong atau "sok rohani" atau "sok beribadah". Rasa solidaritas sosial kita terutama terhadap mereka yang berkekurangan semakin bertambah dengan makin seringnya kita berpuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Puasa melatih orang Kristen memiliki hati yang makin murni, tulus, menjauhkan dari niat-niat, imajinasi, obsesi yang keliru dan tidak baik; menyucikan hati kita di hadapan Tuhan (Mz. 69: 11). Puasa tidak bisa menyelamatkan orang dari dosa untuk masuk Sorga karena yang bisa melakukan hanya anugerah pengorbanan darah Kristus di kayu salib, ©¤ sola gratia, sola fide ©¤ (Ef. 2: 8-9; Yoh. 3: 16; 1 Yoh. 5: 11-12); tetapi puasa bisa berperan melatih hati menjadi tidak semakin licik, licin dan bulus di hadapan Tuhan dan terhadap orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Bilapun ada puasa yang dijalankan orang Kristen secara massal, secara beramai-ramai sekaligus (puasa umat, puasa bangsa), maka puasa tersebut dijalankan secara spontan oleh karena penyesalan dan keprihatinan bersama yang mendalam (dari dalam hati sanubari) karena persoalan besar yang dihadapi bersama. Seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa Israel (Hak 20: 26; Ezra 8: 21; Ester 4:3, 16; Yer 36:9); orang-orang Yabesy-Gilead (1 Sam 31: 13) dan orang-orang Niniwe di jaman Yunus (:Yun 3: 5-8). &lt;br /&gt;Bukan sekadar rekayasa oleh pihak yang lebih berkuasa, berkat didorong, dipaksa, dimobilisasi dengan kekerasan oleh satu ketentuan, hukum atau undang-undang ©¤ yang membuat orang menjadi takut menderita hukuman sekarang dan nanti ©¤ tetapi muncul dari benak kesadaran dan nurani yang tulus untuk melakukan puasa bersama. Dengan demikian puasa bersama atau puasa massal ini tetap menjunjung tinggi hak pribadi seseorang untuk mau menjalankan kegiatan tsb atau tidak di hadapan Allah&lt;br /&gt;Trinitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kapan sebaiknya orang Kristen melakukan puasa? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puasa bagi orang Kristen pada dasarnya tidak di-organize lagi pada hari atau bulan tertentu. Tergantung kepada kapan tergeraknya berdasar 7 (tujuh) dasar &amp; makna puasa di atas. Jika kamu berpuasa¡­., kata Yesus (Mat. 6). Artinya jika kamu (tergerak) untuk berpuasa¡­ dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jika pun mau di-organize, orang Kristen paling tidak bisa melakukan puasa penuh sedikitnya satu kali tiap tahunnya dalam rangka penggenapan Taurat seperti Yesus, yakni pada hari yang disebut Hari Pendamaian. Karena basis Kekristenan PB adalah PL termasuk Taurat; dan kita ketahui Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan menggenapinya; maka bagi orang Kristen sama halnya dengan Yesus dan bangsa Israel/orang Yahudi pada umumnya, seyogianya melakukan puasa penuh (24 jam) paling minimal satu kali dalam setahun, yaitu pada hari Pendamaian (Atonement day ©¤ 7 bulan 10 hari setelah Paskah). Dimulai dari matahari terbenam sampai matahari terbenam hari berikutnya. Imamat 23: 26-32. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Waktu atau masa-masa puasa lainnya seyogianya dilakukan orang Kristen di saat hati tergerak atau terbeban dan ada niat yang muncul keluar ¨C tentunya berdasar ke tujuh dasar, prinsip &amp; makna puasa seperti diuraikan di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di Alkitab paling tidak ada tujuh (7) masa atau waktu yang baik bagi orang Kristen untuk melakukan puasa secara benar: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Waktu di mana orang Kristen meyakini/merasakan bahwa telah terjadi hukuman Allah oleh karena kekeliruan kita atau dosa kita secara korporat sebagai manusia atau bangsa (Yoel 1: 14; 2: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Masa di mana sekeliling kita termasuk kita mengalami masalah-masalah atau pergumulan2 yang pelik, malapetaka, krisis2 yang tak kunjung selesai, terpuruk (2 Sam 1: 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Waktu di mana terjadi penderitaan yang mendalam di tengah-tengah persekutuan jemaat (Luk 5: 33-35); &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Waktu di mana kita merasakan penderitaan orang-orang lain yang sangat berat (Mz 35: 13; Dan 6: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Masa di mana penderitaan atau kesusahan2 menimpa pribadi kita dan keluarga (2 Sam 12:16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Masa dimana bahaya, pengekangan, penganiayaan (persecution) kerap dan berkali-kali mengancam (Ester 4: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Saat ada hamba-hamba Tuhan, pelayan jemaat, pemimpin-pemimpin Kristen yang dilantik atau ditahbiskan dalam otoritas Ilahi (Kis 13: 3; 14: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tujuh (7) janji Allah untuk orang Kristen percaya yang berpuasa dengan benar. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap disiplin atau latihan rohani Kristiani yang dijalankan dengan benar pasti mengandung janji. Jika orang Kristen percaya melakukan puasa dengan benar sesuai dengan tujuh dasar &amp; makna puasa seperti di atas, pun akan mengandung janji. Yang tercatat dalam Alkitab, paling tidak janji-janji berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Orang Kristen menjadi terang. Luka-luka pulih. Penuh dengan kebenaran dan kemuliaan Allah yang mengelilingi (Yes 58: 8) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Memperoleh jawaban Tuhan dan "berjumpa" dengan Tuhan. Terang terbit di tengah kegelapan dan kegelapan menjadi rembang tengah hari (Yes. 58: 9-10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Tuntunan Tuhan nyata di tanah yang kering, kekuatan diperbaharui, tidak dikecewakan Allah (Yes 58: 11) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Orang Kristen menjadi orang Kristen yang membangun format yang benar2 baru yang lama sebelumnya belum ada (Yes 58a) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Orang Kristen banyak melakukan karya perbaikan (improvement) terbaik, kerusakan system diperbaiki (Yes 58: 12b) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Kebahagiaan, kesenangan dalam Tuhan, getting to the top, berkemenangan, diberi makan sendiri oleh Tuhan (Yes 58: 14). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Menduduki tempat yang tinggi dalam Kerajaan Sorga (Mat. 5: 18) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian ulasan saya mengenai puasa orang Kristen. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan kiranya memberkati orang2 Kristen yang mengambil langkah tak hanya lutut yang berdoa, namun berdoa dan berpuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soli deo Gloria! &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS)(:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Chika Silitonga" &lt;chika@...&gt; wrote: &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini menurut saya sangat baik dan menambah wawasan iman kita. Bukan ditulis oleh saya (nama penulis ada di atas) tapi saya ingin membagi dengan saudara semua, enjoy and God Bless!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards, &lt;br /&gt;Helene Fransisca (chika) Silitonga&lt;br /&gt;PT Malacca Elab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"We can do no great things - only small things with great love." Mother Teresa (1910-1997).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-6169162048147167450?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/6169162048147167450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/sekitar-puasa-puasa-orang-kristen.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6169162048147167450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6169162048147167450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/sekitar-puasa-puasa-orang-kristen.html' title='Sekitar Puasa: Puasa Orang Kristen.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-2520664125574080353</id><published>2007-09-08T22:39:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T22:56:07.822-07:00</updated><title type='text'>Pemikiran Postmo, Negative Theology, Spiritualisme &amp; Pluralisme Agama: Tantangan Baru Kekristenan Masa Kini!</title><content type='html'>Melihat keadaan perkembangan sekarang, termasuk yang berlangsung di tanah air, saya  memiliki keyakinan teologi liberal atau disebut juga teologi modern (modernisme) akan roboh dan semakin usang (obsolit). Dasar sederhana dari pemikiran liberal kalau boleh dibilang adalah rasio adalah segalanya, tak perlulah mengandalkan iman, iman yang berharap pada Tuhan mengandalkan Tuhan sebagaimana yang Alkitab bilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, kalau masih ada gereja atau teolog gereja yang masih menganut pandangan teologi liberal, teologi modern, di mana hanya mengandalkan aspek rasio semata sebagai "yang segalanya" atau "maha segalanya" maka bisa dipastikan dia akan tertinggal dan obsolit. Meski pun, hemat saya para pemikir modernisme, theolog modern liberal, liberal theolgies (bentuk jamak) tentu tidak akan tinggal diam, akan berupaya "lirak-lirik" mata menyiasati keadaan, kemana akan melakukan percampuran2 (sinkretis), "kemitraan" bahkan pembauran, agar bisa tetap eksis di tengah jaman. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buktinya apa teologi modern akan obsolit, kalau tidak mau merubah pola strategi berteologia? &lt;br /&gt;Mungkin hal ini. Kenapa sampai ada muncul pemikiran postmodern? ada muncul teologi postmo yang kerap disebut "negative theology"? Selain itu muncul "liberation theology" pertama di Amerika Latin, lalu "social-theology" yang sekarang mulai banyak dipelajari oleh kalangan teolog2 muda kita disini. Belum lagi bangkitnya spiritualisme, new-age movement, aliran2 kepercayaan hibrid Barat-Timur, bentuk2 "iman" (pakai tanda kutip) spiritualisme dari yang berbentuk paling primitive sampai ditengarai yang "paling canggih" termasuk di negeri ini. Fenomena2 supranatural, adikodrati yang sering kita liat di media. Itu kan bisa disebut sebagai bentuk perlawanan terhadap modernisme, teologi modern, teologi liberal yang hanya mengandalkan rasionalisme dalam memaknai jaman. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemikiran islam pun ditengarai kini sudah beranjak. &lt;br /&gt;Tidak meliat jalan keluar hanya dari ilmu pengetahuan, dari sains, dari filsafat, dalam hal ini filsafat modern. Seperti pemikiran Imam Gazhali, yang sempat dikutip Bro Andry, dari warta JIL, awas knowledge, awas sains, awas filsafat!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Arus jaman sekarang memang mungkin telah berubah arah bandulnya. Bandul post mo! Serba relativitas. Ini yang sebenarnya, menurut saya, jauh lebih berbahaya. Halus "mainnya", tetapi sangat mematikan. Seperti kodok dalam ceret air yang terpanasi dipanasi dari bawah, yang tidak sadar makin lama air makin panas lalu mematikan dirinya dalam panci secara pelan-pelan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;So, yang dihadapi kita, oleh jemaat warga jemaat pemimpin jemaat oleh Gereja Tuhan  kekristenan, yang mau sehat dan berimbang dalam ajaran..dalam teachings, kini tidak "sekadar" menghadapi bahaya tantangan teologi liberal yang berbasis rasionalisme bablas dan "rekayasa" sejarah,  tetapi pemikiran postmo, negative theology, new age, pluralisme agama, yang serba merelativekan dan menyamaratakan prinsip, ajaran dan teachings. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran postmo bila ingin disederhanakan, merupakan pemikiran intelektual era sekarang yang awalnya diretas oleh pemikir2 Perancis seperti Derrida, Foucault dll, yang meyakini intinya bahwa di dunia ini ngga ada kebenaran yang bersifat mutlak, sebagaimana sering diyakini oleh kristen khususnya yang orthodox-tradisiona l konservatif bahwa kebenaran mutlak ada pada TUHAN dan Alkitab memiliki kewibawaan tertinggi sebagai sumber Kebenaran (mutlak). Semua kebenaran adalah bersifat relatif. Semua orang boleh ngomong tentang kebenaran, begitulah kira2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan negative theology adalah bangunan konstruksi teologi yang berupaya menumbangkan asas pemikiran dan gerakan relijius positivisme  dari August Comte dkk, dan berupaya membangun pemikiran teologis alternatif. Positivisme kita tau adalah asas2 yang hanya menerima pengetahuan atau teori2 yang didasarkan pada bukti evidensi yang bisa diamati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa Spiritualisme? Bila disederhanakn, spiritualisme merupakan bentuk lebih modern dari spiritisme, yang antara lain meyakini bahwa roh2 orang sudah mati dan roh2 lainnya dapat berinteraksi dan kadang berkomunikasi dengan orang hidup. Dan seterusnya. Spiritualisme semakin berkembang melalui percampuran (hybrid, sincretism) antara kepercayaan2 tradisional Afrika, Amerika, Asia dll dengan kekristenan umum khususnya katolikisme. Banyaklah variasinya, seperti banyaknya group milist yang kini muncul di internet membahas hal ini lebih jauh.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah..bagaimana kira2 solusinya? Menurut saya, Gereja Tuhan kekristenan seperti di atas harus kembali menjadi fundamental dan radiks radikal (berakar) dalam Firman, orthodoxy dalam biblika (Alkitab), namun "sesegeranya" comprehensive, dewasa utuh dalam cara pandang dan dalam menyiasati tanda-tanda jaman. Comprehensive in orthodoxy, be orthodox in comprehensiveness. Itu mungkin jawaban bagi Gereja dan kekristenan sekarang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mampu memilah-milah, sampai sejauh mana kita boleh berpikiran merdeka namun ada batas (teori pembatasan). Sampai sejauh mana kita bisa mengurai dan menelisik tradisi dan "paradaton" kita, namun tetap ada batas. Demikian juga dalam menyikapi seluruh fenomena sosial dan sosialisme yang berkembang (termasuk teologi sosial), fenomena karismatik dan kajili (karismatik injili) pengaruh dari Korea, Brasil dll di sini; dan fenomena spiritualisme di mana itu juga perlu ada batasnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Termasuk menyikapi fenomena sampai seberapa jauh dan saat mana timingnya yang tepat, kita boleh menunjukkan singularitas dan kekhasan kita di tengah-tengah inklusivitas masyarakat yang sedang dikembangkan disini. Terutama oleh gagasan alm Noercholis Madjid dan saudara2 dari Paramadina, demokrasi terbuka ala Gus Dur dan pandangan rekan2 Jaringan Islam Liberal (JIL), dengan tanpa menafikan fenomena radikalisme fundamentalisme yang menurut saya "keliru" serta gerakan khilafah dan penerapan syariah lainnya yang masih saja diperjuangkan oleh sebagian kelompok agama mayoritas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beginilah pergumulan yang sedang dihadapi. Memang inilah fakta keadaannya dan yang menjadi tantangan besar dan kompleks yang sedang kita hadapi sekarang. Bukan saja untuk urusan kedalam terkait persoalan internal Gereja kekristenan dan society Kristen, tapi juga urusan keluar di tengah2 masyarakat inklusif dan cendrung semakin menganut pluralisme agama dan kepercayaan, yang bergerak dengan cepat ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-2520664125574080353?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/2520664125574080353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/melihat-keadaan-perkembangan-sekarang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/2520664125574080353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/2520664125574080353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/melihat-keadaan-perkembangan-sekarang.html' title='Pemikiran Postmo, Negative Theology, Spiritualisme &amp; Pluralisme Agama: Tantangan Baru Kekristenan Masa Kini!'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-9021513139765248488</id><published>2007-09-07T22:23:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T22:32:34.084-07:00</updated><title type='text'>Mana yang lebih dulu utama: Identitas Suku Etnik atau Identitas Indonesia?</title><content type='html'>Mana yang lebih dulu utama: Identitas Suku Etnik atau Identitas Indonesia?&lt;br /&gt;Ciri NKRI nasional relijius bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini sering ditanyakan beberapa teman kepada saya.&lt;br /&gt;Terhubung dengan wacana yang banyak dibicarakan selama ini: yang namanya Indonesia setelah 62 tahun merdeka disinyalir belum terbentuk. Memang secara politik, sudah. Namanya NKRI. Berciri nasionalis agamis, atau nasionalis relijius. Apa benar? Apa semua orang yang ber KTP Indonesia atau ber paspor Indonesia, sudah menerima bahwa ciri NKRI ini adalah nasionalis agamis, nasionalis relijius? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud nasionalis? Apa yang dimaksud relijius? Apa yang dimaksud nasionalis, nasionalis sipil atau nasionalis militeristik? Lalu, yang dimaksud relijius apakah relijius mencakup agama2 seluruhnya berikut aliran kepercayaan, atau hanya relijius Islami. Sehingga ciri sebenarnya adalah nasionalis relijius islami. Wallahu alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana seperti ini nyatanya sampai sekarang masih tetap bergulir. Kayaknya belum ada konsensus. Kalaupun ada mungkin baru di tingkat elit2. Elit2 dpr, elit2 ormas, elit pemerintah, birokrasi, dsb. Yang jelas, yang bisa diambil kesimpulannya, budaya peradaban Indonesia sejatinya barangkali memang belum terbentuk, belum mantap. Ciri NKRI sebagai nasionalis relijius itu pun sepertinya masih dipertanyakan. Tafsirannya bagaimana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana sejak masih ada majalah PRISMA beberapa dekade lalu, sudah dibicarakan bahwa NKRI itu nasion atau supra nasion. Karena menurut asal katanya, yang disebut nasion di Nusantara ini, adalah suku bangsa yang ada sekarang, seperti nasion Sunda, nasion Jawa, nasion Batak, nasion Bugis, nasion Melayu, nasion Papua, dlsb. Jadi, bila menelisik asal kata nasion itu adalah bangsa, bukan berarti suku bangsa. Sebab itu jika ditanya orang Batak misalnya, orang Dayak atau orang Papua, maka yang bersangkutan melalui perbendaharaan kata2 yang ada dalam bahasanya mengatakan bahwa kami adalah bangsa Batak (bhs Batak: bangso Batak), bangsa atau nasion Dayak, nasion Papua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau suku2 bangsa yang kita sebut sekarang menjelaskan dirinya sendiri sebagai bangsa, Indonesia itu itu tepat tidak disebut bangsa juga? Apa tidak lebih tepat disebut "supra bangsa", atau kumpulan dari berbagai bangsa, sejenis istilah konfederasi misalnya?&lt;br /&gt;Namun, lebih membingungkan lagi bila memakai jalan pikiran seperti ini. Karena nyatanya Indonesia bukanlah negara konfederasi, tapi negara bangsa, dengan bentuk negara kesatuan (unitarian). Ini diyakini masih banyak diwacanakan orang. Saya sudahi dulu wacana ini sampai disini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sejak proklamasi 17.8.1945 dengan landasan Sumpah Pemuda 28.10.1928 kita sudah mendeklarasikan Indonesia sebagai negara kesatuan, unitarian, NKRI. Menjadi negara bangsa. Artinya nasion-nasion atau bisa disebut juga sebagai etnis, etnik (ethne) yang ada dalam wilayah NKRI, diterima sebagai sub-nasion, suku bangsa. Pertanyaan lanjutnya adalah apakah sub nasion sub nasion itu sudah benar2 menyatu secara unitarian dalam NKRI setelah 62 tahun merdeka ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jawab mungkin belum, karena soal keragaman sub nasion sub nasion (tepatnya sebenarnya nasion nasion atau etnik2) saja sampai sekarang masih dinilai belum seluruh elemen bangsa bisa atau ikhlas menerimanya secara aklamasi. Di bibir atau forum2 resmi mungkin iya, tapi who knows di hati, di intuisi, naluri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengukurnya tidak berapa sulit barangkali. Mungkin dapat melalui pertanyaan: Bangga mana proud mana kita atau seorang warga negara, menjadi orang Bugis, orang Batak, orang Bali, orang Papua, dst atau menjadi orang Indonesia, orang NKRI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam 10-20 tahun terakhir ini, saya punya pengalaman berjumpa dengan rekan2 baik di luar negeri atau pun ketika berbincang di sini, di Indonesia. Menurut pernyataan mereka yang cukup jujur saya kira, cukup banyak yang lebih bangga sebagai orang Bugis dari pada sebagai orang Indonesia. Lebih bangga dengan identitas orang Batak, ketimbang dikenal sebagai orang Indonesia. Identitas orang Bali ketimbang dikenal sebagai orang Indonesia. (Jangan lupa untuk hal yang satu ini, soal Bali, di mancanegara nama Bali jauh lebih dikenal masyarakat internasional ketimbang nama Indonesia, banyak mereka yang belum/tidak kenal). Juga Papua, Maluku, Timor dst. Mereka lebih confort, lebih proud bila dibilang sebagai orang Papua, Maluku, Timor NTT ketimbang dibilang sebagai orang Indonesia. Jika ini berlaku bagi orang etnis Tionghoa (Cina) yang pernah lahir dan besar di Indonesia, saya kira sama saja. Mungkin sekali mereka akan lebih proud dikatakan sebagai orang Tionghoa (Cina) bila&lt;br /&gt;dikatakan sebagai orang Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kita kemudian, kenapa bagi sebagian mereka yang saya temui ini lebih bangga menyebut identitasnya dengan sukunya, etnisnya sendiri, ketimbang menyebut mereka sebagai orang Indonesia, identitas Indonesia? Kenapa sampai demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang faktanya masih seperti ini, sejatinya mana sebenarnya yang lebih dulu utama: Identitas suku etnik (kita), atau identitas sebagai Indonesia, identitas Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau identitas yang lebih penting, lebih dulu utama adalah identitas suku etnis (kita) sendiri, tentu akan memiliki konsekuensi. Yang namanya Indonesia sebagai identitas, kapan akan pernah terbentuk? Atau tepatnya dalam tujuan dan motif yang positip, bagaimana bisa membentuk identitas kepribadian Indonesia yang utuh, bila sementara identitas kesukuan, etnisitas yang masih muncul lebih utama, lebih membanggakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kalau identitas yang lebih dulu utama adalah identitas Indonesia, identitas NKRI, tentu membawa memiliki konsekuensinya pula. Dasar apa kita beridentitaskan Indonesia, bagaimana kita bisa memelihara dan mengembangkan terus identitas Indonesia itu, tanpa menafikan menelantarkan identitas kesukuan atau etnisitas mana kita berasal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita menjawab dua-duanya sama2 penting: identitas suku etnik kita dan identitas Indonesia sama2 penting, sama2 utama, bagaimana kita bisa tepat menyeimbangkan kedua identitas tersebut agar dapat berjalan seiring selaras di level operasionalnya. Tanpa ada perbenturan, tanpa ada perasaan kontradiksi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini baru hubungan antara identitas suku etnik dengan identitas Indonesia, identitas Keindonesiaan. Belum lagi bila dikaitkan dengan agama, reliji, ideologi yang kita anut. Dianut oleh masing2nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menengok ke negara2 lain, banyak pengamat menilai dan menengarai bila negara2/bangsa seperi Rusia, yang presidennya Vladimir Putin baru berkunjung ke Indonesia, sudah "beres" dan cukup "tuntas" dalam penyelesaian mengenai identitas bangsanya, nasionnya, budayanya. Sejak dulu bahkan dinilai Russia (Rush) memang sudah cukup mantap dalam ke Russia annya, terlebih sejak era Glasnost, Perestoika, Demokratiya bergulir sejak 1985. Demikian juga dengan Jepang, Cina, Korea dan India. Jangan dibanding dengan AS atau Eropa Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal Indonesia, yang sudah menggulirkan Reformasi sejak 1998, demokratisasi, desentralisasi transformasi sosial ini bagaimana. Note: Demokrasi yang ditengarai kini terlalu terbuka, berjalan seakan "lepas kendali". Program "liberalisasi" terutama di bidang politik dan ekonomi (contoh restrukturisasi, privatisasi bumn, perbankan dll) dinilai kebablasan.. ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke persoalan. Kita tahu Islam, Kristen, modernisme, faham militerisme termasuk Hindu, Budha semuanya secara historia sejatinya berasal dari "luar" Indonesia. Bukan asli 'locals heritage' Indonesia. Kembali ke pertanyaan di bagian awal lagi. Jika disebut nasionalis versi NKRI di era sekarang, nasionalis yang mana nasionalis yang bagaimana?&lt;br /&gt;- nasionalis militeristik?&lt;br /&gt;- nasionalis jawani?&lt;br /&gt;- nasionalis sipil, civil?&lt;br /&gt;- nasionalis madani (islami)?&lt;br /&gt;- nasionalis kristiani? hinduis? budhis?&lt;br /&gt;- nasionalis mayoritas agama?&lt;br /&gt;- nasionalis minoritas agama?&lt;br /&gt;- nasionalis politis?&lt;br /&gt;- nasionalis budaya?&lt;br /&gt;- nasionalis tanpa patron militeristik, sipil, madani, kristiani, hinduis, budhis, politis, budaya dst? nasionalis dalam pengertian umum saja, general yang bisa menerima semua pencirian di atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun disebut relijius, relijius yang mana, relijius yang bagaimana?&lt;br /&gt;- relijius islami? relijius madani?&lt;br /&gt;- relijius kejawenis?&lt;br /&gt;- relijius kristiani?&lt;br /&gt;- relijius hinduis, budhis? atau&lt;br /&gt;- relijius dalam pengertian betul2 umum, general, yang bisa menerima latar belakang reliji atau agama kepercayaan apa/mana saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang perlu kejujuran bersama. Kejujuran bukan saja tingkat naluriah, tapi juga kejujuran tingkat intuitif. Kejujuran dalam ground-motives. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama belum ada kejujuran dan kesepakatan bersama konsensus bersama dalam menjawab persoalan berbangsa, ber"suku bangsa", beragama dan bernegara secara internal di Indonesia, yang diharap bisa bebas dari pengaruh "luar" atau "asing", maka akan selama itu pula akan masih banyak syak-wasangka, kecurigaan2 dan ketidak-terus terangan dalam wacana dan pembahasan menuju identitas bangsa yang sejati, yang genuine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa wacana bahasan dan kesepakatan bersama ini sudah waktunya dituntaskan? Karena hemat saya ini berkaitan sekali dengan pemberdayaan, 'pembangunan' dan kemajuan bangsa untuk tahap2 selanjutnya. Bagaimana mau berbicara yang lebih advanced, menyangkut lingkungan, ekologi, investasi, "pembangunan" , infrastruktur, kemajuan dst, sementara hal yang fundamental, fondasional, radiks (akar) terhubung persoalan identitas bangsa dan kenegaraan NKRI masih belum juga tuntas. Masih terus hanya jadi sebatas wacana, dan belum mampu diselesaikan secara korporat, secara mendasar oleh seluruh elemen bangsa ini. Dari Rote sampai Miangas, dari Merauke sampai Aceh Nias, dari Yogyakarta Jakarte sampai Bulungan Atas? sampai Danau Di Atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana opini Anda's ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam persaudaraan, basudara, horas!&lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-9021513139765248488?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/9021513139765248488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/mana-yang-lebih-dulu-utama-identitas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/9021513139765248488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/9021513139765248488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/mana-yang-lebih-dulu-utama-identitas.html' title='Mana yang lebih dulu utama: Identitas Suku Etnik atau Identitas Indonesia?'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-6286853719135947282</id><published>2007-09-06T22:34:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T22:36:04.798-07:00</updated><title type='text'>In Memoriam Rev. D. James Kennedy Ph.D (1930- Sept 5, 2007).</title><content type='html'>Di mata saya, almarhum Rev. D. James Kennedy, Ph.D. orang besar, tokoh besar dalam dunia Kekristenan terutama untuk era sekarang. Dia seorang pendeta, negarawan, suami dan ayah dalam keluarga yang baik, untuk boleh menyebutnya excellent. Beberapa kali sejak tahun 2001 kami/saya sudah bercita-cita ingin sekali bertemu dengan beliau, ingin suatu kali mengundangnya ke Indonesia, ke Bali atau Jakarta; atau.. mengunjungi gerejanya Coral Ridge Presbyterian Church (CRPC) di Forth Laudardale US, yang berciri presbiterian evangelical renewing budaya itu. Namun apa daya tak kesampaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita tau, beliau telah menulis buku a.l. What If Jesus had Never Been Born? yang dikenal dan banyak dibaca di sini. Padahal masih cukup banyak buku beliau baik ranah teologi maupun politik. Sebut saja: Skeptics Answered, Truths That Transform (teologi), &lt;br /&gt;What if America Were a Christian Nation Again? and The Rewriting of America's History&lt;br /&gt;Why I Believe (politik), dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lk. 6 lembaga/organisasi seingat saya yang telah diretas beliau sejak tahun 60/70an yang sangat terasa dampaknya di AS, di sangat banyak negara dan sampai ke Indonesia, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Coral Ridge Presbyterian Church, North America. Banyak kalangan gereja ini menjadi salah satu gereja paling besar dan berpengaruh di antero Amerika Utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Evangelism Explosion (EE) International. Siapa yang tidak mengenal pengaruh dari organisasi EE ini sampai di negeri ini juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Westminster Academy, di Forth Lauderdale Us. Sebuah Christian education yang bermutu, diakui dan memiliki pengaruh kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Radio WAFG 90.3 FM, radio siaran Kristen 24-hours yang juga luar biasa, berdampak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Coral Ridge Ministry, siara radio broadcasting program PI dan cultural renewal di TV Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Knox Theological Seminary. STT yang juga diakui dan dihormati keberadaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kata-kata terakhir dari beliau yang mungkin akan selalu dikenang awal Sept 2007 lalu, khususnya bagi mereka yang mengenalnya dengan baik: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Now, I know that someday I am going to come to what some people will say is the end of this life. They will probably put me in a box and roll me right down here in front of the church, and some people will gather around, and a few people will cry. But I have told them not to do that because I don’t want them to cry. I want them to begin the service with the Doxology and end with the Hallelujah chorus, because I am not going to be there, and I am not going to be dead. I will be more alive than I have ever been in my life, and I will be looking down upon you poor people who are still in the land of dying and have not yet joined me in the land of the living. And I will be alive forevermore, in greater health and vitality and joy than ever, ever, I or anyone has known before.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa. Dunia Kekristenan masa ini kehilangan satu pribadi: pendeta, negarawan, bahkan ayah sekaligus suami yang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Rev. D. James Kennedy Ph.D. &lt;br /&gt;Till we meet at Jesus' feet !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- ---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. JAMES KENNEDY (1930 - 2007)&lt;br /&gt;Life and Legacy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------ --------- --------- --------- --------- -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 3, 1930 – Dennis James Kennedy is born to George and Ermine Kennedy in Augusta, Georgia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1936 – The Kennedy family moves to Chicago, settling in an apartment just 50 yards from Lake Michigan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1945 – The family relocates once more to Tampa, Florida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1952 – Arthur Murray Dance instructor Jim Kennedy meets Anne Lewis and signs her up for six months of dance instructions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1953 – Sleeping late on a Sunday morning, Jim Kennedy hears the Gospel for the very first time from a radio preacher. Shortly thereafter he professes faith in Christ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 3, 1955 – After fighting God’s call to full-time ministry for nearly a year, Jim Kennedy, with great trepidation, quits his job as a dance studio manager. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 3, 1955 – Jim Kennedy and Anne Lewis become engaged.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 4, 1955 – Jim is given the chance to preach at a local Presbyterian church and, to his surprise, is employed as the interim minister the same day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 25, 1956 – Jim and Anne are married at First Presbyterian Church of Lakeland, Florida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fall 1956 – Jim Kennedy begins seminary training at Columbia Theological Seminary in Decatur, Georgia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May 11, 1959 – Days before his seminary graduation, Jim receives a letter from the Home Missions Committee of the Everglades Presbytery inviting him to consider pastoring a new church to be started in Fort Lauderdale.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;June 21, 1959 – The first Coral Ridge Presbyterian Church worship service is held at McNab Elementary School, led by D. James Kennedy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July 21, 1959 –Rev. D. James Kennedy is ordained.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1960 – Rev. Kennedy tells his fledgling congregation: “You know what? I believe we can change the world!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July 31, 1960 – Rev. D. James Kennedy is installed as minister of Coral Ridge Presbyterian Church. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1962 – Rev. Kennedy begins to train church members to share Christ using the techniques learned from Rev. Kennedy Smartt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March 16, 1962 – Jennifer is born and adopted into the Kennedy family.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March 18, 1962 – A new church building seating 500 on Commercial Boulevard is dedicated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;February 20, 1967 – The first Evangelism Explosion clinic is held with 36 people in attendance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Summer 1967 – Tragedy strikes when Anne undergoes cancer surgery. Rev. Kennedy later describes God’s provision during that dark time in his message, “Songs in the Night.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1970 – Evangelism Explosion, the first of more than 65 books by Dr. Kennedy is published by Tyndale. More than 1.5 million copies have been sold. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1970 – Like A Mighty Army, a dramatic motion picture depicting the story of Evangelism Explosion, is produced by Gospel Films.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 28, 1970 – Lay Evangelism, Inc., later changed to Evangelism Explosion III International, Inc., is organized.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 11, 1971 (Easter Sunday) – Groundbreaking for new church on Federal Highway.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 1971 – Classes begin at Westminster Academy® with 300 students enrolled.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;February 3, 1974 – The new church building on Federal Highway is dedicated. Dr. Billy Graham addresses the 11,000 people in attendance, some on benches outside the church, and 597 decision for Christ are recorded. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;October 1, 1974 – Radio station WAFG (90.3 FM) is licensed as a non-commercial educational station. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;October 3, 1976 – Church membership reaches 5,000 people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;January 8, 1978 – Coral Ridge Presbyterian Church votes to leave the Presbyterian Church (U.S.) and unites with the Presbyterian Church in America (P.C.A.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 17, 1978 – First television broadcast of worship service.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;February 1979 – Dr. Kennedy receives his Ph.D. from New York University, completing his list of degrees as follows: A.B., M.Div. (cum laude), M.Th. (summa cum laude), D.D., D.Sac.Lit., Ph.D., Litt.D., D.Sac.Theol. , and D.Humane Lit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 30, 1980 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates its 20th anniversary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May 29, 1990 – George Kennedy, Dr. Kennedy’s brother, dies. Dr. Kennedy learns after his death that George, who had long resisted the Gospel, was led to Christ on his death bed by a young hospital chaplain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1984 – Truths That Transform, Dr. Kennedy’s daily radio program begins. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 24, 1985 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates its 25th anniversary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1988 - With Evangelism Explosion in only 66 nations, Dr. Kennedy challenged the organization’ s vice presidents to take the lay-evangelism training program to every nation by 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March 14, 1989 – The Session of Coral Ridge Presbyterian Church establishes Knox Theological Seminary and appoints Dr. Kennedy Chancellor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;March 30-April 1, 1990 – Coral Ridge Church marks its 30th Anniversary during a “Celebrate the Dream” weekend celebration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 1990 – Knox Theological Seminary begins classes to train pastors and laymen in a graduate school of theology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1992 – The Kennedy Commentary, a daily 90-second radio commentary, is launched.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May 21, 1994 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates Dr. Kennedy’s 35th year in Gospel ministry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 14, 1995 – Dr. Kennedy dedicates the D. James Kennedy Center for Christian Statesmanship in Washington, D.C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;February 23, 1996 – Evangelism Explosion International becomes the first Christian organization in history to establish its ministry in all 211 nations of the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1998 – Dr. Kennedy reaches the long-sought goal of giving back to the church 100 percent of all of the salary he had earned at the church since he arrived in 1959.&lt;br /&gt;--&gt; &lt;br /&gt;March 7, 1999 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates its 40th anniversary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;June 10, 2000 – Daughter Jennifer marries Charles E. “Chip” Cassidy in Dana Point, California.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 2000 – Along with Dean Jones, Dr. Kennedy co-hosts Who Is This Jesus, a one-hour documentary viewed by some 12 million people nationwide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 21, 2004 – Dr. Kennedy named one of the “Greatest Intellectuals of the 21st Century” by the International Biographical Centre of Cambridge, England.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;May 2004 – Launch of new, nationwide ministry, the Creation Studies Institute.&lt;br /&gt;--&gt; &lt;br /&gt;February 15, 2005 – Dr. Kennedy is inducted into the National Religious Broadcasters Hall of Fame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;October 2005 – After Hurricane Wilma rips off the church roof and drenches the sanctuary, Dr. Kennedy encourages the congregation, telling them this is “our finest hour.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 9, 2005 – Dr. Kennedy is feted at a surprise 75th birthday celebration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 25, 2006 – Dr. and Mrs. Kennedy celebrate 50 years of marriage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006 – Nearly five million people profess faith in Jesus Christ through Evangelism Explosion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 5, 2007 - Dr Kennedy enters into the presence of God in Heaven.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-6286853719135947282?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/6286853719135947282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/in-memoriam-rev-d-james-kennedy-phd.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6286853719135947282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6286853719135947282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/in-memoriam-rev-d-james-kennedy-phd.html' title='In Memoriam Rev. D. James Kennedy Ph.D (1930- Sept 5, 2007).'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-681872338759027823</id><published>2007-09-04T23:20:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T23:22:18.332-07:00</updated><title type='text'>Perenungan: Seputar fenomena fundamentalisme radikalisme agama, pluralisme agama: Kristen &amp; agama2 kepercayaan.</title><content type='html'>Barangkali perenungan saya ini bisa juga menjadi perenungan kita bersama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perenungan terhadap Kristen. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, semakin fundamentalis dan radikal seorang kristen umat kristen kristiani, maka yang bersangkutan akan semakin berakar dalam kasih. Kasih yang jujur dan tulus. Mengasihi sesama tanpa reserved. Mengasihi dan mengampuni musuh, yang berseberangan dalam pemikiran, doktrin, karakter, selera dan tabiat. Semakin rendah hati, tidak sombong dan tidak arogan, penuh dengan buah2 Roh.Mau berbagi, belajar menyangkal diri, tidak egois. Mencintai kejujuran, menjunjung etika, menolak tujuan menghalalkan cara. Di sisi lain fundamental dan radikalnya seorang kristen umat kristen, wawasan pengetahuan worldview pengalamannya dan kasihnya terus ditambahkan. Kasih pada saudara, kasih kepada semua orang (komunitas, anak bangsa dan bangsa2). Kasih kepada golongan yang dianggap marjinal (anak2, kaum perempuan, orang miskin, kaum tertindas tertawan, tercecer dan minoritas marjinal dll). Menjadi kristen yang semakin comprehensive, berwawasan berhikmat dan bijaksana dalam mengambil pilihan dan keputusan tindakan. Dapat membedakan mana porsi negara (state), mana porsi masyarakat (society); mana porsi agama (religion) dan mana porsi kebudayaan &amp; bangsa (culture, nation). Dapat menerima dengan kasih dan berimbang, pluralisme agama2 tanpa menafikan keunikan kristen, keunikan Kristus, tanpa maksud dibentur2kan menjadi suatu pertentangan, kebencian dan kecemburuan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesimpulannya: Semakin fundamentalis dan radikalis seorang kristen umat kristen kristiani, maka semakin baik dan sejahtera keluarganya, seluruh komunitas dan bangsanya. Sebaliknya, bila menjadi kristen tidak fundamentalis radikalis alias "nanggung2", semakin moderat bahkan semakin liberal, maka kasih menjadi kompromi terhadap kebenaran. Kasih agape tergerus menjadi kasih persaudaraan biasa (filia, storgi). Sikap menjadi "pluralisme" menyatakan bahwa semua agama sama saja. Sama2 baik dan benar. Banyak jalan ke Roma. Kasih agape niscaya menjadi pudar, berkurang. Kasih niscaya menjadi dingin. Sepertinya penuh cinta kemanusiaan, namun di sisi lain bisa terjadi sebaliknya semakin tidak peduli dengan orang di sekitar. Kreativitaspun dapat menjadi semakin bablas. Bebal. Yang ada kesombongan, aroganisme, dominasi barbar, "dunia serasa hanya miliknya sendiri", haus perang, pertengkaran, manifestasi "perbuatan2 daging", egoisme, individualisme, mementingkan hanya pribadi/keluarga/ golongan sendiri dan kehidupan berciri hedonisme, meniscayakan tindakan bumi hangus. Menghalalkan segala cara, cara kejahatan kecurangan teror violence sekalipun untuk menggapai tujuan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perenungan terhadap agama mayoritas. &lt;/strong&gt;Di sisi lain. Di luar pemercaya kristen di mana Alkitab sebagai basic, sebut contoh agama mayoritas. Semakin fundamentalis dan radikal seorang penganut umat penganut agama mayoritas ini, maka yang terjadi adalah sikap yang melegalkan kekerasan. Tindakan tanpa kasih, terutama kepada kaum yang tidak sekepercayaan seagama dengan mereka; kalaupn ada kasih, hanya untuk pribadi/keluarga/ golongannya saja. Demi tujuan di "jalan Allah" semua cara boleh dihalalkan, berbohong sekalipun. Membalas musuh, baik musuh doktrin, prinsip, selera, karakter dan tabiat, membalas nyawa ganti nyawa, darah ganti daerah, kekerasan barbar ganti kekerasan barbar. Tindakan bumi hangus. &lt;br /&gt;Wawasan tidak dikembangkan, yang terjadi indoktrinasi, tidak semakin comprehensive. Semakin bersikap mengawasi mencurigai pengetahuan yang adalah sumber hikmat. Mengawasi mecurigai ilmu kebijaksanaan, mencurigai sains. Semakin sama sekali tidak dapat membedakan mana porsi negara (state), mana porsi masyarakat (society), mana porsi agama (religion) dan mana porsi kebudayaan dan bangsa (culture, nation). Yang ada adalah menjadi sama2 sombong, "gila" nekat dan arogan, bertindak barbar, menyebar fitnah, provokasi dan teror, haus perang, menjadi "beringas" memancing pertikaian dan pertengkaran, manifestasi "perbuatan2 daging", egoisme, individualisme, "golonganisme" mementingkan diri sendiri/kelompok/ golongan dan kaum sendiri. Nampak luar seperti anti kemaksiatan, memerangi kemaksiatan dan kebatilan, meniscayakan tindakan bumi hangus. Namun secara ke dalam justru hidup "munafik"; hidup dalam kemaksiatan dan hedonisme "terselubung" untuk kalangan sendiri; yang dijustifikasi dan diformalisasi melalui pembenaran2 agama di tengah sempitnya wawasan pengetahuan dan akses informasi umat, kebodohan umat yang "sengaja" diciptakan melalui pola indoktrinasi. Masih sangat sulit menerima keragaman (diversity), pluralisme. Masih sangat ekstrim menerima agama mayoritas 100% unik, keragaman 0%. Karena alasannya agama dengan jumlah penduduk terbesar, mayoritas, terbesar di dunia!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesimpulannya: semakin fundamentalis dan radikal seorang umat penganut agama mayoritas ini, maka semakin "tidak berperasaan" , semakin berbahaya bagi kesatuan keharmonisan dan kesejahteraan keluarga, seluruh komunitas dan bangsa. Sebaliknya, bila seorang penganut umat penganut agama mayoritas ini  menjadi lebih moderat bahkan lebih liberal, maka akan semakin luas dan comprehensive wawasan worldview pengetahuan akses informasinya yang dimiliki.  Semakin toleran, semakin peduli orang lain. Mau berbagi.  Ada tumbuh rasa kebersamaan. Memahami eksistensi kepercayaan, doktrin lain. Meski berbeda doktrin, apologet, namun tidak dendam dan tidak barbar.  Lebih kooperatif dan mau bekerjasama membangun komunitas, membangun bangsa. Namun, sikap pluralisme bahwa agama dan kepercayaan di mana2 sama, niscaya muncul. Agama mayoritas sama saja dengan agama2 dan kepercayaan lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perenungan terhadap agama kepercayaan lain: Budha, Hindu...&lt;/strong&gt;Di sisi lain lagi. Bagaimana dengan fenomena yang ada di agama lain, di luar kepercayaan kristen dan agama mayoritas, terutama agama2 Timur? Ambil contoh saja Hindu, Budha, Kejawen atau Kebatinan? Semakin fundamentalis dan radikal seorang penganut umat penganut agama-agama dan kepercayaan ini, sama saja dengan agama mayoritas. Diberi tempat mendominasi, maka tidak membiarkan barang sejengkal pun kepercayaan agama lain untuk bertumbuh. Kekerasan demi "ajeg agama", kejayaan agama adalah jamak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun ini fenomenanya bila terjadi sebaliknya. Bila semakin moderat bahkan liberalis penganut umat penganut agama2 ini, maka yang terjadi adalah semakin "pluralisme" dalam sikap dan pemahaman agama mereka. Bahwa agama dan kepercayaan di mana2 sama saja. Mau Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, Kejawen, Kebatinan, itu sama saja. Semua mengajarkan umat masing2 untuk ke Sorga. Banyak jalan ke Roma. Banyak jalan ke Yogya, ke Kuta. Bahkan sebaliknya semakin "awam" penganut umat penganut agama kepercayaan ini, maka semakin "tidak tau apa-apa". "Kosong". Ikut saja kemana angin berhembus. Menjadi pasif tanpa kata tanpa ide tanpa gagasan, menerima saja kenyataan pluralisme agama tanpa reserved, tanpa sikap kritis. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana menurut kajian dan perenungan anda?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-681872338759027823?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/681872338759027823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/perenungan-seputar-fenomena.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/681872338759027823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/681872338759027823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/09/perenungan-seputar-fenomena.html' title='Perenungan: Seputar fenomena fundamentalisme radikalisme agama, pluralisme agama: Kristen &amp; agama2 kepercayaan.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-8368479716658214545</id><published>2007-08-29T22:24:00.000-07:00</published><updated>2007-08-30T23:21:10.553-07:00</updated><title type='text'>Revitalisasi Gagasan Konsepsi "Connecting Group - Mission &amp; Partnership" Era Sekarang dan Ke Depan di Tanah Air.</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pengantar.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan tindak lanjut revitalisasi pemikiran, 'follow up' ataupun kongkritisasi dari apa yang telah digagas khususnya rekan2 dari group milist DH, Pkts, dll a.l. dari Bro Andry, Dr Victor Silaen, Bro Walsinur Silalahi dan rekan2 lain yang tak sempat tersebutkan namanya. Ini sekaitan dengan postingan berjudul "Perlunya revitalisasi pemikiran Leimena, Simatupang dan tokoh2 lainnya smp sekarang + berfondasikan pembinaan spiritualitas, Injil", "Menjadi Terang bagi Indonesia",  "Adakah panggilan/tanggung jawab sospol Kristen", "Peran Gereja" dll. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melengkapi dari apa yang disampaikan tersebut, saya mengajukan revitalisasi gagasan konsepsi terkait "Connecting Group Mission &amp; Partnership" kedalam 10 Focus Group,  &lt;br /&gt;yang dirasa telah menjadi kebutuhan sangat relevan bagi pribadi2, keluarga/gereja, komunitas, suku, masyarakat dan bangsa di negeri tercinta ini di era sekarang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10 Tugas Kekristenan di Indonesia Masa Kini &amp; Ke Depan, 10 Focus Group.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian ke-10 Focus Group dalam Connection Group ini saya dasarkan atas kajian "10 Tugas Kekristenan di Indonesia Masa Kini dan ke Depan" dari apa pernah dikaji beberapa tahun/dasawarsa belakangan di tanah air. Dari berbagai rujukan, group2 event yang sudah diselenggarakan dan referensi. Barangkali ini bisa relevan dengan kebutuhan pengembangan Jaringan2 yang ada: Jaringan LSM, pendidikan, gereja2 dan komunitas. Sebut saja seperti contoh: KAMG, Perkantas, HKBP, komunitas milist HKBP, KBD. Lalu KSSPM, TCF Pkts, Center-Center, Persekutuan alumni, PMK2, paguyuban Kristen lainnya seperti BAKTI NUSA, JKLPK, CMED Indonesia, dsb. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepuluh (10) Focus Group dalam "Connecting Group Mission &amp; Partnership" ini, terkait atau terkonek dengan tugas2 Gereja &amp; Kekristenan berikut di tanah air: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Tugas pengutusan dan kemitraan. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group I: &lt;strong&gt;MISSION &amp; PARTNERSHIP.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas ini membangun paradigma untuk berpikir ke luar, di samping ke dalam. Membantu akses penyaluran pendistribusian kader-kader SDM kristen yang siap diutus ke berbagai lapangan kesaksian dan kehidupan, untuk mewartakan kabar baik, baik melalui perkataan, tulisan, perbuatan, karya, hasil kajian, program terbaik, inspirasional, inovatif dan berdampak luas bagi keluarga, gereja, komunitas, masyarakat dan bangsa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Tugas pelayanan (diakonia).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group II: &lt;strong&gt;DIAKONIA PELAYANAN POSTMODERN.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas ini disebut juga 'tugas Rajani', 'tugas Kerajaan', tugas apostolik kerasulan pengutusan yang dilakukan oleh para diaken, seluruh anggota Jemaat orang Kristen terutus. Pelayanan rajani atau kerajaan ini, meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bidang Sosial Politik (Sospol).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tugas Diakonia era sekarang dan ke depan adalah intinya adalah menerangi, menjangkau menatalayani/kepemimpinan pelayanan berperan aktif transformatif di Bidang Sosial Politik (Sospol), Kebijakan Publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bidang Dunia Usaha (Business).&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Tugas Pelayanan menjangkau, menerangani mentransformasi Dunia Usaha (Bisnis), BUMN, swasta koperasi dan institusional lainnya berikut pemberdayaan aspek Sosial-Ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bidang Diakonia Lintas Jaman.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meliputi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a) Diakonia filantropik&lt;/strong&gt;: diakonia tradisional: karitatif; pelayanan meja untuk menolong mereka yang papa, janda2 miskin, anak telantar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya pelayanan2 kemanusiaan, crisis respons (emergency, disaster rescue) bagi para korban bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun buatan manusia, korban narkoba, traficcing (perdagangan wanita dan anak), korban konflik horizontal, dll.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b) Diakonia sosial&lt;/strong&gt;: membangun prasarana infrastruktur sekolah2, sarana kesehatan, MCK, perbaikan jalan, fasilitas umum, posyandu, panti asuhan, panti jompo, dll dll. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c) Diakonia modern&lt;/strong&gt;: pemberdayaan sosial ekonomi warga jemaat masyarakat tidak mampu, kewirausahaan kecil, micro entrepreneur development program untuk yang kurang beruntung, pertanian organik, perkebunan warga, perikanan, aplikasi teknologi tepat guna, mikro hidro, sumber energi alternatif bagi warga kurang mampu, peternakan, pedagang kaki lima (asongan), pendauran ulang sampah, dll. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;d) Diakonia era postmodern&lt;/strong&gt;: pemberdayaan perempuan, pelayanan KDRT, HIV/aids, pendidikan (pelayanan guru2, anak putus sekolah, karyawan pendidikan), HAM, demokrasi, pelayanan dunia usaha/para pengusaha, Entrepreneur Devt Program (EDP), pelayanan Microfinance kristen, pengembangan usaha mikro kecil transformatif; pelayanan bagi pegawai negeri, pelayanan bumn, pelayanan bagi para politisi, pelayanan bidang hukum dan keadilan (justice), pelayanan bagi para militer dan polisi, pelestarian lingkungan (emisi karbon, cyanida, mercuri, dampak penghangatan global/global warming, amdal perusahaan, dll), pelayanan bagi kaum profesi lainnya (pelaut/seaman, lawyers, medis, pekerja seni, sutradara, wartawan/wati, expert perminyakan, pakar teknologi, agrobis, industriawan, dsb). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bidang Pendanaan (Fund Raising), Divisi Usaha.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tugas pelayanan diakonia atau tugas kerajaan ini juga adalah menyangkut Fund Raising, penggalangan dana dari sumber2 terpercaya, yang digalang melalui upaya2 yang bersih, halal dan bermoral. Mencakup juga berbagai divisi Usaha dan strategi2 untuk mengkreasi sumber pendanaan bagi terlaksananya segenap tugas2 dan focus group yang ada. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Tugas penginjilan, kesaksian dan informasi. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group III: &lt;strong&gt;PI KESAKSIAN, MEDIA &amp; MULTIMEDIA.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tugas ini dilakukan melalui komunikasi lisan (affirmative), melalui perbuatan, sikap perilaku sehari2 (gaya hidup), perbuatan, renungan2, karya nyata terbaik dan berdampak di lapangan, profesi yang inspirasional dan memberi dampak, metoda dan model2 pengembangan program yang nyata bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak dan layak dicontoh, direplikasi, dimultiplikasi dll.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas ini meliputi program2 seperti KKR, home-training evangelism, small-group evangelism, penginjilan pribadi, PI melalui gaya hidup, pola2 "EE", penerbitan buku-buku, literatur, story atau cerita2 kisah2 orang2 kristen biasa (christian ordinary people), cyberspace evangelism &amp; testimonies yang inspirasional, VCD-DVD kaset khotbah, tele conference khotbah, sms mms Firman Tuhan, 3G evangelism ministry, model2 program berdampak bagi diri, komunal dan masyarakat banyak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peran sangat penting di sini adalah pemanfaatan Media, pers, koran, tabloid, radio, TV, sinetron, film2 cerita cinema, DVD, multi-media, perangkat telekomunikasi, teknologi informasi, infotainment, cafe tainment, role model/christian idols, dll guna penyebaran informasi yang meluas dari tingkat lokal, nasional, global. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Tugas profetik (menyuarakan 'suara' kenabian). &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group IV: &lt;strong&gt;PENDIDIKAN, HAM, HUKUM &amp; KEADILAN.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas ini meliputi perlawanan terhadap ketidak-adilan, gerakan anti korupsi, anti pembalakan liar, trafficcing, penghancuran/pencemaran lingkungan, anti penindasan opresi, perjuangan terhadap hak asasi anak2, kaum marjinal, perempuan dan kemanusiaan. Gerakan anti abuse of power terhadap penguasa pengusaha 'hitam', berbagai tindak kecurangan, pemaksaan kekerasan/violenism, pelecehan seksual, dll. &lt;br /&gt;Tugas2 ini sangat urgen dan penting, agar kekuasaan, penguasa, menjalankan kebijakan dan kekuasaannya secara proporsional, baik dan benar, tidak arogan, lalim dan semena-mena terhadap yang tertindas. Kemudian, mengupayakan solusi2 agar korban2 penindasan, ketidak adilan dapat memperoleh jalan keluar dan pemecahan masalah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Tugas pencerahan (pusat kajian kristen &amp; STT).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group V: &lt;strong&gt;PUSAT KAJIAN KRISTEN, PEND TINGGI &amp; STT.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas ini meliputi kerja riset, penelitian, kajian theologi, aras pemikiran, worldview, filsafat dan faham-faham, disiplin ilmu, knowledge management, teknologi, TI dan dampak TI/globalisasi, spiritualitas, pendidikan tinggi (higher education), kualitas pendidikan tinggi, sosial, ekonomi, budaya, peradaban, agama dan agama-agama, beliefs, kepercayaan, perda-perda, kebijakan publik (public policy), good governance, pengentasan kemiskinan, lingkungan lokal dan global, kajian ulang terhadap pokok2 Millenium Development Goals (MDGs). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga pentingnya hadir sekolah2 profesi, kualitas sekolah2 kejuruan kelas dunia, masalah ketenaga kerjaan, perencanaan SDM, desentralisasi, peran Otda, pilkada, dll. Disini pentingnya sentra-sentra kajian strategis, PT Univ2 Kristen dan umum, dan STT-STT dirangkul untuk bekerjasama bermitra. Demikian juga pembinaan2 'school', seminar2 diskusi berseri (class teaching seminars) topik2 theologi, filsafat, iptek, knowledge dan berbagai integrasi dan aspek praktisnya dalam kehidupan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Tugas pengembangan (inovasi). &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group VI: &lt;strong&gt;PENGEMBANGAN INOVASI&lt;/strong&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas Kristen ini meliputi pengembangan model2, methodologi, teknologi diberbagai bidang dan tugas2 di atas yang dikembangkan dari satu ide, gagasan menjadi satu invention dan selanjutnya dapat menjadi inovasi kabar baik, inovasi terbaik. Inovasi di berbagai bidang perlu dikonsolidasikan dalam kemitraan dan partnership relevan dengan kebutuhan di tanah air, seperti: solusi2 bagi kemacetan Jakarta dan kota besar, banjir Jakarta dan banjir bandang lainnya, Early Warning System bagi antisipasi bencana, sistem pilkada, sistem pembinaan terbaik bagi TKI/TKW, security system, alternatif energi (biodiesel, biogas, tenaga angin, tenaga surya, tenaga ombak laut samudera, dll), solusi2 atas kekurangan air bersih bagi daerah2 miskin air/kering kerontang, pemberlayanan suku2 tertinggal, sistem resetlement, sistem kelistrikan urban dan desa, dll. Semua inovasi ini diharapkan berguna memberi solusi2 berarti bagi segenap daerah termasuk daerah2 yang banyak orang kristennya masih tertinggal, terbelakang dan miskin di tanah air. Memampukan dalam anugerah Tuhan membawa manfaat dampak kebaikan, kebenaran, keseimbangan, kelestarian dan kesejahteraan utuh bagi pribadi, keluarga, komunitas, masyarakat dan bangsa. Disini pentingnya partnership dengan pusat iptek, techonology centers, dll. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini gagasan lebih lanjut saja, dari yang telah disampaikan oleh teman-teman. Semoga ada manfaatnya. Silakan bila teman2 ingin memberi komen atau pendapat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Tugas peribadahan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group VII: &lt;strong&gt;IBADAH/PERIBADAHAN, Worship.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas ini meliputi pemberitaan Firman, layanan Sakramen (baptisan &amp; perjamuan), peranan lagu2 pujian nyanyian sembah, koor, peran doa/doa syafaat, pengakuan iman, ekologi liturgi (liturgi yang mampu juga membawa kristen kepada kecintaan kepada lingkungan 'hidup'), saat teduh waktu perenungan sesaat, arti persembahan (korban, derma, kolekte, persembahan korban, persembahan khusus), berkat pengutusan - benediction, dst.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Tugas pemuridan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group VIII: &lt;strong&gt;KADERISASI KRISTEN.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari tugas ini adalah melakukan kaderisasi SDM secara lebih sistemik, sistematis dan terencana, menghasilkan murid Kristus in doing, being and becoming, memiliki framework, karakter, wawasan, ketrampilan, kompetensi, dan attitudes sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan, sesuai dengan kepribadian, talenta (talent-based) dan keunikan yang dimiliki masing2.  Meliputi berbagai kategori: sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa muda, keluarga muda, pria, wanita, mahasiswa, alumni mahasiswa, karyawan, guru, pengusaha, birokrasi pegawai negeri, wartawan, unemployment, wong cilik, PKL/gelandangan/anak jalanan dari berbagai lintas lokasi, umur/usia/profesi dan bidang kehidupan sehari2. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9. Tugas persekutuan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group IX: &lt;strong&gt;FELLOWSHIP &amp; UNITY.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas ini utamanya membangun unity dan kesanggupan memelihara/menciptakan kesatuan, kesehatian, jalinan persatuan, network, partnership) di antara semua murid Tuhan, baik ke dalam maupun ke luar dengan lingkungan eksternal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tugas unity, keharmonisan, pengayaan (enrichment) penting dilakukan mulai dari:&lt;br /&gt;a. Tingkat keluarga.&lt;br /&gt;b. Jemaat/gereja, berdasar kategori usia, profesi, lokasi dan kedekatan.&lt;br /&gt;c. Komunitas, berdasar kategori usia, minat, talenta, profesi, lokasi dan latar belakang.&lt;br /&gt;d. Masyarakat. &lt;br /&gt;e. Bangsa.&lt;br /&gt;f. Hubungan dengan Bangsa Lain, Bangsa2. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;10. Tugas penggembalaan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Focus Group X: &lt;strong&gt;PASTORSHIP &amp; KONSELING.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya adalah konseling. Membangun pola konseling yang terpadu dan holistik sesuai nilai2 Kristen. Meliputi aspek2 spiritual, psiko-spiritual: emosional, intelektual, moral, politikal, judicial, ideological, mindset/worldview, ekonomikal, fisikal jasmaniah, keluarga, profesi dan lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Demikian tindak lanjut pemikiran, follow up gagasan lebih lanjut yang dapat saya sampaikan guna kongkretisasi konsepsi mengenai pentingnya 'kehadiran' "Connecting Group Mission &amp; Partnership' di era sekarang dan ke depan di tanah air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat. Kiranya Injil Kerajaan Allah boleh didatangkan di bumi tercinta kita disini. Bagi Dialah segala Kemuliaan !!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam kasih, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-8368479716658214545?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/8368479716658214545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/revitalisasi-gagasan-konsepsi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8368479716658214545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8368479716658214545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/revitalisasi-gagasan-konsepsi.html' title='Revitalisasi Gagasan Konsepsi &quot;Connecting Group - Mission &amp; Partnership&quot; Era Sekarang dan Ke Depan di Tanah Air.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-8166309542896891080</id><published>2007-08-24T00:09:00.000-07:00</published><updated>2007-08-25T19:22:05.123-07:00</updated><title type='text'>Tugas Gereja sesungguhnya: Mengutus Jemaat. Tugas Pengutusan!</title><content type='html'>Tugas Gereja masa kini di Indonesia adalah Mengutus. Pengutusan. Mengutus siapa? Mengutus Jemaat seluruh jemaat, yang tua-muda besar kecil laki2 perempuan secara sosial kaya atau miskin, pintar atau tidak begitu pintar dst..untuk melayani dan bersaksi di mana-mana, di berbagai bidang hidup kesehariannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barangkali tidak cukup bagi Pimpinan Majelis Gereja mengutus seluruh Jemaat dari mimbar. Tidak cukup hanya lewat warta gereja, lewat Berkat Pengutusan yang diucapkan lewat Liturgi Kebaktian, sebelum warga Jemaat aktif bergereja pergi beranjak pulang meninggalkan gedung gereja di hari Minggu atau hari2 kebaktian lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gereja Pimpinan Gereja Pucuk pimpinan Gereja Majelis Gereja masa kini di tanah air, harus lebih ekstra bekerja keras di hari-hari ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa yang mengutus, melakukan Tugas Pengutusan Gereja? Para pimpinan Gereja: Penatua/sintua, Diaken, Gembala Pelayan Tahbisan Non Tahbisan Bishop penilik overseer, Ketua Dewan Marturia, Koinonia, Diakonia Guru Sek Minggu, Parhalado Paniroi dst. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejatinya jemaat tidaklah diutus ke dalam, tapi ke luar 'hadir' di dan ke tengah2 masyarakat, komunitas, bangsa.. untuk melayani dan bersaksi.. sesuai dengan bidang minat, kata hati nurani, talenta, profesi karunia kompetensi sumber daya, pengetahuan.. yang dipunyai oleh masing2 anggota/keluarga jemaat tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cara bersaksi melayani jemaat yang diutus bagaimana? Melalui kesaksian (contoh) hidup, perkataan, suara "kenabian", karya2 yang bagus baik dan benar yang bisa dibuat oleh masing2 anggota jemaat sesuai minat kata hati panggilan hati talenta keterbebanan mereka. Ada yang hadir dan terjun di bidang pelayanan sosial (filantropis, NGO community development, transformasi, perspektif global dst), pelayanan bagi para pengusaha, para mahasiswa, guru, kaum urban, di bidang politik, bidang 'pemberlayanan' ekonomi, pelayanan media koran, TV, sutradara, penyanyi, kerumah-tanggaan, HIV/flu burung, pelayanan bidang konseling/curhat dst dst. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kira2 apa tujuan seluruh jemaat harus bersaksi dan melayani di tempat/hidupnya masing2 apa? Ya, menyatakan kebaikan Allah. Mencari yang terhilang. Membangunkan yang patah semangat patah arang. Menghibur yang dilanda kepahitan dan kesusahan. Membangun trust dan keyakinan. Membawanya dengan lembut dan benar seperti 'Andreas murid Yesus' secara bertahap/berproses kepada Sumber Penghiburan sejati. Juruselamat. Memperkenalkan dan membawanya bilamana tergerak tanpa paksa2 pada apa itu Gereja dan fungsi Gereja. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa tugas Gereja selanjutnya? Bukan hanya sekedar kumpul2 sosial tanpa mission statement yang jelas. Dr. Martin Luther King Jr mengatakan kalau hanya demikian, dipastikan Gereja akan hilang makna daya greget dan power spiritualitasnya. Gereja secara refleks harus membina memuridkan mengkader merekrut (rekrutmen) 'mereka' yang baru tersesat' dan ditemukan kembali oleh anggota warga jemaat terutus, 'jemaat yang sudah ada (eksis)'. Tujuannya agar mereka bisa jadi calon anggota lantas jadi anggota Gereja yang bertumbuh rohaninya, sosialnya, cara pandangnya serta pemahamannya. Bagaimana menjadi Kristen mengemban tugas bersaksi dan melayani di berbagai bidang hidup sebagai 'kristen baru', 'kristen restoratif', kristen rebirth, kristen lahir baru, kristen kupu-kupu (tidak lagi jadi ulat atau kepompong)..dst. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hendaknya gereja tidak membiarkan kristen anggota jemaat biasa menjadi tetap "ulat" atau hanya sampai jadi "kristen kepompong". Namun harus tuntas sampai menjadi kristen kupu-kupu yang sanggup terbang di tanaman, pohon, 'ramba-rambanya' masing2 (bidang hidup panggilan hatinya masing2). Tugas pembinaan warga jemaat ini disebut Tugas Pemuridan Gereja, tugas pemuridan yang wajib dilakukan oleh seluruh Pimpinan Pengurus Ketua Dewan dan Aktivis Pelayanan Gereja. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konklusinya, Gereja simpelnya ber tugas fungsi dua (2) saja bagi warga jemaat komunitas bangsa dan dunia, namun sangat sangat penting &amp; urgen: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1) Gereja harus wajib menjadi seperti Training Center (TC) jadi pusdiklat spiritualitas kristen, pusat pengembagan SDM kristen dan pusat kebudayaan dengan nilai2 kristen, dan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(2) Gereja harus wajib melakukan Tugas Pengutusan bagi warga jemaat komunitas biasa yang telah terbina terlatih dalam hal2 di atas guna bersaksi melayani di bidangnya sehari2. Menyatakan kebaikan Allah, mencari yang hilang dan menghadirkan koinonia2 (persekutuan2) organik baru di tempatnya masing2. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tugas Pengutusan bagi Gereja masa kini adalah keharusan, it's a must. Tugas pengutusan yang erat terkait dengan tugas Training Center pusdiklat SDM kristen atau Tugas Pemuridan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;So, era kini dan ke depan Pemimpin Pengurus Majelis Pucuk Pimpinan Gereja harus melakukan tugas panggilan apa?:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemuridan (Pengkaderan, Perekrutan baru/lama) !! &lt;br /&gt;2. Persekutuan (Koinonia).&lt;br /&gt;3. Penggembalaan (dgn inti atau 'core' nya: Konseling !!)&lt;br /&gt;4. Pengutusan !! &lt;br /&gt;5. Pelayanan (Diakonia), baik yang berciri diakonia  tradisional, diakonia sosial, diakonia modern, diakonia transformasional era postmodern ). &lt;br /&gt;6. Penginjilan/Kesaksian (Marturia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- (poin 7. ....menyusul, cukup 7 saja, konsisten saja dijalankan: luar biasa, RED). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa tugas Pengutusan dan Pemuridan (sebagai Training Center, pusdiklat SDM pengkaderan spiritualitas dan transformasi masyarakat) terhadap Seluruh Anggota Jemaat biasa, maka cepat atau lambat di era kini dan ke depan, Gereja, apa pun organisasinya, akan 'memble', kehilangan peran dan daya gregetnya. Tugas pengutusan dan pemuridan adalah pilar "Sosrobahu" untuk bangunan 'rumah' eklesia atau gereja. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila tidak, Gereja akan jadi museum dan dimuseumkan seperti layaknya di Eropa sekarang. Maka, segeralah, mari kita bergerak fokus kepada Tugas Pengutusan dan Tugas Pemuridan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam pengutusan dan pemuridan,  &lt;br /&gt;HMS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-8166309542896891080?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/8166309542896891080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/tugas-gereja-sesungguhnya-mengutus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8166309542896891080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/8166309542896891080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/tugas-gereja-sesungguhnya-mengutus.html' title='Tugas Gereja sesungguhnya: Mengutus Jemaat. Tugas Pengutusan!'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-6862202223146720220</id><published>2007-08-23T22:39:00.000-07:00</published><updated>2007-08-23T22:45:30.511-07:00</updated><title type='text'>Fundamentalis dan Liberalis.</title><content type='html'>Soal fundamentalis dan liberalis sering masih mencuat. Baik dalam wacana maupun di praktis sehari-hari. Salahkah di negeri kita menjadi fundamentalis, salahkan menjadi liberalis? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;'Fundamentalis' menurut saya masih sangat dibutuhkan. Diperlukan bagi kita dan bangsa ini yang masih seperti begini. Mungkin seterusnya. Ya, fundamentalis di bidang apa saja. Di bidang ekonomi, teologia, keluarga, agama, usaha, pembinaan generasi muda, dll. Bukankah jika tanpa fundamen atau fondasi, "rumah" apapun jadi gampang roboh. Bukankah karena tanpa fundamen atau dasar fondasi yang kuat ini juga, maka "rumah" bangsa ini nyaris runtuh? Terutama sejak krisis ekonomi 97/98  dan reformasi bergulir mengambil jalannya sendiri bak prinsip 'Mestakung'.  Fundamen 'asli' sangat diperlukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita ingat di penghujung 1997 sampai paruh 2000 banyak praktisi dan pakar kita komentar fundamental ekonomi kita masih sangat kuat. Namun mana? Apaan? Kala krisis menerpa, negeri ini jadi sakit terkapar menggelepar sulit bisa bangun2 layaknya petinju Jepang Takemoto dihajar Chris John baru2 ini. Orang lain (negeri tetangga lain) seperti Malaysia, Thailand, Korsel, sudah pada bangun dan pulih, kita masih 'puyeng keteter' keliyeng2' ngga karuan. Ibarat orang baru bangun tidur, nyebut arah Barat Timur Selatan aja ngga sanggup. Dengkul masih loyo, geregetan lagi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Faktanya setelah ditelisik, bukan saja fundamental ekonomi yang nyatanya keropos. Fundamen moral juga. Fundamental keagamaan dan teologi juga. Keadilan sosial (social injustice) juga. Etos hidup kedisiplinan etos kerja profesionalitas apa lagi. Yang ada saling salah-menyalahkan. Bukan 'speak the truth in love', tapi "speak the love in untruth" bahkan yang lebih memprihatinkan lagi "speak the things without love and truth". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita masih sangat memerlukan orang2 di bidang agama, pendidikan, lingkungan dan bangsa ini yang berbicara melatih berkarya mengkritisi mengemong di aras fundamental, kalau perlu sampai ke tingkat akar (radiks). Jangan pernah bermimpi berpikir hal yang lebih tinggi, advanced maju level unggul kreativitas,  termasuk berbagai rencana 'pembangunan' , jika hal2 yang fundamental terus2an tak tersentuh, ditelantarkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kreativitas, liberalis, pengkajian ulang, mindset dekonstruksi, defundamentalisasi sampai "Kristen-Lib" barangkali perlu. Namun hemat saya perlu diliat konteksnya, kita berada di mana. Kita bukan hadir di negeri, di wadah agama, di entitas gereja dll, yang segala-galanya fundamen2nya tradisi2nya sudah mapan established, seperti halnya di Barat Eropa &amp; AS. &lt;br /&gt;Di negeri ini segala2nya masih belum dapat disebut mapan fundamennya. Fundamen kita masih banyak 'cangkokan' yang belum bisa disebut orisinalitas asli kita. Kita masih mengejar mana yang disebut fundamen otentik kita. Negara Indonesia memang sudah terbentuk 62 tahun. Namun, apakah kebangsaan Indonesia juga sudah terbentuk, mapan fundamennya. Di jawab sendirilah. Itu mengenai bangsa. Bagaimana dengan agama, gereja?&lt;br /&gt;Apakah fondasi agama, gereja yang betul2 telah mengindonesia telah terbentuk berproses terformat baik, dengan benar?  Kita bisa jawab sendiri juga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah., masalahnya sekarang fundamentalis bagaimana yang kita harapkan ada di Indonesia, di agama, di gereja, di kekristenan? Tentu bukan fundamentalis serba generik yang mengklaim sudah mentradisi padahal belum atau bukan tradisional akar yang sehat dan menyuburkan. Bukan fundamentalis yang miskin wawasan miskin worldview miskin pergaulan berbangsa (seperti seekor kodok dalam kotak sabun wangi). Bukan juga miskin love, peace &amp; respect for others dan miskin kebijaksanaan. Bukan fundamentalis yang 'asal'. Asal mengkritisi, asal debat, asal apologet. Tapi sebaliknya. Mungkin lebih sopan dan tau aturan, lebih sabar, lebih 'open minded'. Mengkritisi, mendebat, apologet juga ada dasar fundamennya dan caranya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebab itulah kita perlu saling belajar. Di balik kemegahan, mungkin kemewahan serba luks kita, kehebatan kita, glorifikasi yang sempat mampir ke kita, saya mungkin masih harus yakini bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan kita. Kita masih harus banyak belajar mendengar. Listening skills, hati dingin kepala dingin keterbukaan hati pikiran ditengarai masih banyak belum dimiliki kaum intelligence intelektual master mind politisi agamawan kita. Cermin Asia, yang juga dijumpai di Afrika dan Amerika Latin. Masih cukup banyak ditengarai yang hanya asal teriak 'gila'.. Kader2 di bawah dan massa di bawah juga jadi ikut2an teriak 'gila'. Bukan massa cair yang murni, tapi massa yang terprovokasi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;So, bagaimana? Kita punya keyakinan fundamentalis masih diperlukan di negeri ini. Masih 'diijinkan' ada di negeri ini. Termasuk oleh pemerintah. Apalagi oleh Tuhan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana memunculkan fundamentalis sejati yang mengindonesia, yang baik benar, luas pemikiran dan kebijaksanaannya. Bermoral, mencintai gereja tak memusuhi gereja; sama sekali tak chaotic. Yang liberalis pun begitu. Bukan liberalis yang asal, namun liberalis sejati yang mengindonesia, yang bukan asal jadi amplifier atau terompet. Tidak liar dan tidak jadi chaotic. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam fundamental, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-6862202223146720220?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/6862202223146720220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/fundamentalis-dan-liberalis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6862202223146720220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6862202223146720220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/fundamentalis-dan-liberalis.html' title='Fundamentalis dan Liberalis.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-3835727975363936892</id><published>2007-08-23T21:44:00.000-07:00</published><updated>2007-08-23T22:05:38.224-07:00</updated><title type='text'>Simpati terhadap Sdri. Felyshia dan Adik. Menyoal Upaya Keamanan Pribadi, Keluarga, Komunitas dst.</title><content type='html'>Tulisan ini terkait dengan simpati saya terhadap apa yang dialami oleh Sdri Felyshia, terutama adiknya. Sesuai dengan postingnya di berbagai milist (23/8/3007) berjudul "Mobilku Ditabrak, Aku dan Adikku Dianiaya Penabrak".  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang harus tetap ambil hikmahnya. Perlu bagi kita sekalian bergandengan tangan untuk memperjuangkan keadilan di tengah banyaknya ketidak-adilan yang terjadi di sekitar kita. Keadilan, termasuk keadilan sosial, memang harus diperjuangkan. Tak bisa hanya dibayang2kan atau dimimpikan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lain hal dengan itu, faktor safety &amp; security (keselamatan &amp; keamanan) diri, keluarga, komunitas sampai tingkat bangsa harus menjadi ekstra perhatian kita. Kejadian yang menimpa Sdri Felyshia dan adik, terlalu banyak untuk disebutkan. Dari kasus kecil sepele sampai kasus2 besar yang dimuat di media nasional. Kita tau bagaimana sekarang kasus penculikan anak begitu marak, beberapa waktu yang lalu kasus penghilangan orang (seperti alm. Munir belum tuntas masalahnya), kasus KDRT, penganiayaan dalam taksi, dll. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap waktu, di setiap tempat dan keadaan kebrutalan bisa saja menghadang. Maklum, jaman ini jaman kesenjangan. Ketimpangan. Kesenjangan banyak hal, tidak hanya sosial. Di satu pihak, orang pada berburu dalam lingkungan hyper-kompetisi seperti ini agar dapat 'tampil paling beda' (make most difference), tampil paling unik, 'paling lain dari yang lain', maka di seberang lain masih banyak orang masyarakat yang belum dapat menerima perbedaan, apalagi kesenjangan. Baik perbedaan kesenjangan sedikit saja, maupun perbedaan mencolok sekalipun. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perbedaan apalagi kesenjangan dapat membuat orang sebagian kelompok komunitas sub kultur masyarakat menjadi cemburu (kecemburuan sosial), iri, geram, gerah, marah, sakit hati yang laten, tersimpan dalam hati. Yang bisa meledak sewaktu-waktu tanpa permisi. Kalau sudah marah, mata menjadi gelap, hati mendidih, kemudian menggeneralisasi orang atau keadaan. Melakukan pembalasan, revenge, yang kadang bukan kepada orang yang tepat, kelompok yang tepat. Salah alamat. Namun apa hendak dikata, tindakan violence, barbar, brutal sudah sempat dilayangkan. Berakibat korban yang betul alamatnya masih 'mending', namun yang sangat menyedihkan bila korban yang dituju salah alamat. Bukan 'dia' atau 'mereka' yang seharusnya dijadikan sasaran. Sasaran tembak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang jadi masalah, soal penegakkan hukum di negeri ini, kinerja polisi dan keamanan, masih jauh dari optimal. Berapa jumlah polisi? satuan polisi pamong praja, satpam, hansip? Bagaimana juga kualitasnya? Nah, karena hal-hal itulah maka tidak heran pribadi2 keluarga2 komunitas2 tertentu mau tidak mau mempersenjatai dirinya mulai dari 'belajar bela diri', coba memiliki senjata api (dari yang sederhana sampai yang canggih), mempunyai keamanan pribadi/keluarga sendiri (satpam, sistem alarm, memakai jasa pengamanan/body guard pengawal sampai menghubungi 'orang pintar' guna praktek klenik) menjagai dirinya, rumahnya, mobilnya, anggota keluarga, dst. Di sisi lain, umat Tuhan mengandalkan doa, minta perlindungan Tuhan melalui malaikat penolongNya. Faktanya, keselamatan &amp; keamanan 'hare gene' kini memang menjadi komoditi mahal bahkan mewah.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan kita? Mungkin kita perlu mengevaluasi diri. Apakah saya selama ini faktualnya telah 'tampil beda' 'tampil paling lain' 'tampil paling unik' 'lain dari yang lain'. Yang mungkin bisa membuat potensi kesenjangan dengan orang lain pihak lain komunitas lain masyakakat sekitar, tercipta atau bertambah. Tampil beda dan 'kesenjangan' sosial kita bisa kita tampilkan melalui hal yang paling sederhana. Perhiasan yang kita pakai sehari2, tampilan pakaian kita, rumah kita, mobil kita, hand phone; singkatnya gaya hidup atau life style kita. Mungkin bisa membuat 'tebar pesona' 'minta perhatian orang (MPO)' dari khalayak sekitar. Tapi jangan salah, bisa juga membuat 'tebar cemburu' 'tebar iri' 'tebar teror' dan tebar-tebar yang lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tampil beda atau terciptanya kesenjangan juga bisa dikarenakan cara pandang, selera, prinsip, doktrin, ideologi, iman percaya yang kita anut. Jika nyatanya paling beda, 'paling paling' bisa di satu pihak menebar pesona, tapi juga menebar teror, tindakan barbar, brutalisme terutama dari pihak yang dirugikan oleh prinsip, doktrin, kepercayaan kita tersebut. Brutalisme pertama melihat simbol2 dari kepercayaan, dan kemudian merusak simbol2 tersebut, sampai tidak luput kepada orang2 atau penganutnya yang dibarbar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini yang disebut dengan 'keberbedaan' 'kesenjangan' dalam soal agama dalam istilah SARA. Agama atau aliran2 agama yang tampil paling-paling beda dengan yang lain, pasti akan menjadi sasaran tembak, terutama juga bagi tokohnya. Hal lain adalah kesenjangan soal etnis kesukuan. Etnis atau suku yang mau tampil serba serba lain dan paling2 beda, maka tidak mustahil akan dibarbar oleh yang lain. Demikian juga dengan golongan, komunitas, keluarga sampai pribadi yang berani tampil2 beda pasti akan mendapat hukuman sosial yang sangat kejam dari pola sosialisme bablas atau sistem komunalisme bablas yang sesungguhnya keliru dan terlampau ekstrim. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mendidik masyarakat sosial menjadi lebih berbudaya, civilized, lebih demokratis merupakan jalan panjang yang harus diretas bersama. Masyarakat mayoritas yang lebih bisa menerima perbedaan dan kesenjangan. Meski dituntut pula bagi pribadi di sektor privat, keluarga komunitas, perusahaan, dst agar mampu melakukan 'self security' secara swadaya. Dan yang paling manjur adalah bersikap lebih bijaksana. Mengedepankan semangat kebersamaan, unity saya kira sangat penting. Tidak melulu menekan2kan perbedaan, keunikan prinsip, ajaran, cara pandang, dan berusaha paling benar sendiri, ingin menang sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi kita yang cendrung memiliki karakter tabiat perangai mengandung potensi konflik yang tinggi, mungkin ke depan perlu lebih belajar menahan diri. Namun kalau percaya diri, ya silakan diteruskan. Tentu sudah dipikirkan masak2 berbagai resiko terburuk yang akan diterima. Penganiayaan, pemukulan, pemecatan, kekerasan, kebrutalan. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menekuni pekerjaan profesi yang mengandung potensi konflik tinggi, perlu memiliki sikap alert, extra hati-hati.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan untuk menakut nakuti. Memang faktanya keadaan kita masih demikian. Maklum kita tinggal dan hidup, bukan di negara2 yang telah maju dalam hal survival, sehat fisik, perut tidak kosong, kesejahteraan ekonomi dan politik. Jika di negara2 seperti itu, orang mau berdebat berapologet adu konsep adu mulut masih bisa 'peaceful coexistence' berdampingan lagi bersalam2an lagi dengan damai, berpisah tanpa dendam dan sakit hati.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, di negeri ini bagaimana bisa? Berdebat, berapologetika, adu pendapat adu konsep adu gagasan, adu keterampilan sekalipun (seperti liga sepakbola kita) seringkali membuahkan keadaan chaos, adu jotos, kekerasan, tawuran, pembakaran pengrusakan, brutalisme. Karena kondisi mayoritas masyarakat masih perut keroncongan, jiwa tidak sehat, banyak problem dan kesusahan keseharian; bukan hanya di rumah, tapi juga di pabrik di pergaulan komunitas atau di kantor, dll. Mayoritas yang belum bisa survived, masih 'merayap' dalam kegelapan  kesulitan kemiskinan ekonomi. Berapa gelintir di negeri ini yang sudah betul2 sehat ekonomi politik? Kita bisa menjawabnya, baik untuk di kota2 besar seperti Jakarta Surabaya, dll maupun di desa dan pesisir sekalipun. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka bagi orang2 yang tampil ingin selalu berbeda dalam kehidupan, perlu sekali mempersiapkan mengantisipasi diri dengan self security tentu dalam batas2 kewajaran dan berlandaskan peraturan dan hukum. Self security juga jangan terlalu mencolok, karena yang mencolok itu juga akan membuahkan kesenjangan; menjadikan brutalisme semakin bereaksi lebih keras. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam damai dan keamanan, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-3835727975363936892?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/3835727975363936892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/simpati-terhadap-sdri-felyshia-dan-adik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3835727975363936892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3835727975363936892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/simpati-terhadap-sdri-felyshia-dan-adik.html' title='Simpati terhadap Sdri. Felyshia dan Adik. Menyoal Upaya Keamanan Pribadi, Keluarga, Komunitas dst.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-3541125112581997620</id><published>2007-08-23T08:50:00.000-07:00</published><updated>2007-08-24T00:55:51.788-07:00</updated><title type='text'>Istilah Kata ’PEMBANGUNAN”: Masih Cocokkah Dipergunakan dan Tetap Ingin Dipopulerkan di Era Jaman Begini ??</title><content type='html'>Informasi dari Transforma Sarana Media (TSM) edisi III Agustus 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Kata ’PEMBANGUNAN”: Masih Cocokkah Dipergunakan dan Tetap Ingin Dipopulerkan di Era Jaman Begini ?? [Hubungan Antara Seni Kata Etimologis &amp; Politik Kekuasaan di Tanah Air].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya semakin dirasa banyak kalangan masyarakat (baca: pro rakyat), adanya konotasi negatif saat mendengar istilah kata ’PEMBANGUNAN’ dalam khasanah percakapan bahasa sehari-hari kita. Kalau jaman Orba dulu, kata itu sudah seperti kata atau password sakti di kalangan elit, mirip magician ngucap ’abakadabra’. Sekali terucap kata PEMBA-NGUNAN, urusan semua nyaris jadi lancar apalagi bagi keperluan tender proyek. Mempertautkan ’pengertian yang sama’ ’tau sama tau’ para elit dari pejabat, birokrasi, konglomerat pengusaha, politisi sampai polisi preman dan tentara masuk dalam budaya sistem perilaku gaya hidup yang memper: melakukan segala sesuatu sampai menghalalkan sesuatu demi dan atas nama PEMBANGUNAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka syahdan kata ’PEMBANGUNAN’ di hari-hari ini terus dipertanyakan, digugat dan dikonotasi negatip. Masa lalu yang getir, terutama untuk lapisan masyarakat yang mengalami ketidak-adilan, termajinalkan, tersingkir, tertindas. Kata itu sungguh membuat banyak masyarakat ’unhappy’, ngga suka. Mendengar kata itu, pikiran terasosiasi dengan gembar-gembor masa lalu, ingat kerakusan dan begitu jumawanya eksploitasi abis2an resources alam, ingat gelar bapak PEMBANGUNAN yang ingin dikekalkan bagi pak Harto. Ingat konglomerat hitam, ingin keuntungan vested manfaat yields profitabilitas output yang harus dikejar abis-abisan, oleh dan demi ’limpah-ruahnya’ kocek2 pribadi oligarki penguasa, pengusaha hitam, korporatokrasi. Namun dampak langsung kata PEMBANGUNAN itu, justru devisa budget kas negara ini jatuh cekak, utang liabilities kelewat banyak, rakyat pun puluh-puluhan juta jiwa terserak cekak, kebudayaan ’indie’ sendiri tersedak cekak dan terakhir lingkungan ekologis alam biotik dan abiotik 'linglung' rusak cepat rusak cekak rusak parah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ’PEMBANGUNAN’ itu karena pengaruh manusaia itu, telah membuat produsen primer alam sakit bermasalah. Energi di ambang kritis, jaring2 makanan pupus, daur ulang daur air kacau, emisi karbon naik eksponensiil. Bumi makin ngga ogah ditanami, tanah ’tuk-tuk’ mengutuk tak beri hidup cukup. Unsur2 hidup, relung ekologis, populasi alpa di ’tatan’. Reproduksi tak berstrategi, suksesi ekologis ’mampet’, terumbu karang abis, komposisi atmosfer berubah. Efek rumah kaca, buat lapisan ozon jadi ’bolong’. Es di kutub meleleh, gelombang pasang air laut sistematis meniscayakan ribuan pulau akan tenggelam; ujungnya global warming alias ’penghangatan global’. Perubahan klimat buat period musim gak bisa lagi mudah ditebak. Di sebelah badai dan banjir ada kering kerontang. Di tengah kemarau panjang, ada kebanjiran, banjir bandang banjir laut pasang. Ujungnya menyengsarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah kata ’PEMBANGUNAN’ dalam percakapan sudah semakin banyak digugat. Tak bisa gampang2 lagi dipakai. Orang luar katakan apa bedanya ’development’ dan ’empowerment’, sama saja PEMBANGUNAN, pemberdayaan. Namun, faktanya di sini tidak sama. Development di sana dengan PEMBANGUNAN di sini, makna interpretasi konotasi asosiasinya sangat berbeda. Boleh-boleh saja pakai kata ’development’, tapi harus ekstra hati2 ketika memakai kata ’PEMBANGUNAN’. Juga kata ’developer’, konotasi juga sudah negatif. Langsung mencitrakan perilaku developer yang banyak nakal, menipu lihai dan membodohi rakyat pada masa lalu. ”PEMBANGUNAN Papua” juga tidak netral. Sangat dekat maknanya dengan eksploitasi Papua abis2an. ”PEMBANGUNAN PLTN di Semenanjung Muria” juga berkonotasi cari keuntungan besar2an, pragmatisme gampangan, yang kesannya tanggung-jawab serta implementa-sinya ’balik-balik’ akan merugikan rakyat, menguntungkan ’pat gulipat’ pengusaha pejabat teras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kata atau istilah itu, pada hari2 ini banyak yang tidak lagi bernilai netral. Kata tidak sekadar bunyi. Di dalam ’kata’ ada ’makna’. Di dalam ’makna’ ada ’pengetahuan’. Dan di dalam ’pengetahuan’ ada ’kekuatan, power, kekuasaan’. Jika kata seperti layaknya bunyi, terdistorsi, maka pengetahuan dan kekuasaan juga bisa rusak, corrupted, merusak. ’PEMBANGUNAN’ yang sudah terdistorsi, telah berpotensi dan terbukti merusak mindset dan pikiran kekuasaan bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jika bangsa dan seluruh elemen2 di bangsa ini (gereja, bisnis, pengusaha, birokrat, politisi, DPR/D, pendidikan, LSM/NGO, media, mahasiswa dll) ingin keluar dari distorsi sistem budaya kekuasaan yang merusak, corrupted, jangan lagi mengobral-obral kata ”PEMBANGUNAN”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, hari ini dan ke depan musti ada kata baru yang dicari, dipilih, dicipta. Kata baru yang mampu menggantikan kata ”PEMBANGUNAN” dalam khasanah percakapan tulisan dan lisan kita di segala lini dan pelosok. Dari tingkat yang paling formal sampai tingkat pergaulan tidak resmi sehari-hari di pasar dan warung kopi. Kata baru yang bukan saja mampu berpadanan arti dengan kata ’PEMBANGUNAN’, tapi bisa lebih memperkaya makna, memberi persepsi menyejukkan, tidak membuat konotasi negatip dan macam-macam. Tidak membuat distorsi serta membuat kekuasaan berjalan bertindak ngawur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata baru yang akhirnya bisa diterima oleh segenap lapisan suku, agama dan golongan. Lebih ’menggigit’ sekaligus melayani rakyat, rakyat setempat, budaya setempat. Keseimbangan lingkungan ekologis dapat tetap tertata/terpelihara , budaya terkait terjaga maju transformatif, pemerataan sosial ekonomi tercipta, pengangguran teratasi, pengusaha kecil survive hidup tumbuh kembang, etos kerja pengusaha pejabat dirubah. Singkatnya, membikin negara (state), rakyat, lingkungan ekologis, kelembagaan daerah menjadi ’jauh lebih kaya dan sejahtera’ dari pada pejabat pengusaha politisi yang pasti juga akan kaya sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata baru apakah itu yang bisa tercipta menggantikan kata ’PEM-BANGUNAN’ untuk bisa kita pakai sejak hari ini? Mari kita cari dan pikirkan bersama. Dari khasanah ”Kepemimpinan Pelayanan” di mana Penguasa Pengusaha hakikatnya adalah Pelayan Manusia dan Bumi, mungkin kita bisa ’mengcreate’ dan memakai alternatif beberapa kata 'baru' atau diperbarui sebagai pengganti: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) ”PEMBERLAYANAN” , paduan kata ’Pemberdayaan” (empower-ment, to empower) dan ”Pelayanan” (service, to serve).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2) ”PEMFASILAYANAN” berasal dari kata ”fasilitasi” (memperlengkapi, membuat komplit) dan ”Pelayanan” (service, to serve). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) ’PENATALAYANAN’ , kata lain stewardship dari kata tata-layan (to steward). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) ”PEMFASILITASIAN” berasal dari kata ”fasilitasi” (memperlengkapi, membuat komplit) dan ”Pelayanan” (service, to serve). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perlu ahli bahasa, budayawan dan seniman/wati turut memikirkan hal ini. Mereka yang berakar dari budaya Melayu, Sumatera, Jawa, Papua, NTT, Bali, Sulawesi, Kalimantan, WNI peranakan dll perlu mengkonsensuskan ini. Juga peran media/multi media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kata di atas sejatinya berasal dari khasanah Kepemimpinan Pelayanan, khasanah nilai Kristiani/Alkitab/ Gerejawi, seperti kata penata-layanan (stewardship) dan pelayanan (service, to serve). Namun, jika sudah menjadi konsensus nasional maka kata2 tsb sudah akan diberlakukan menjadi khasanah umum. Seperti halnya istilah kata: Visi, Misi, paradigma "Melayani Bukan Dilayani", dll bukankah jargon2 khasanah kristiani kini telah menjadi istilah2 yang berlaku umum di mana2, universil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sebagai contoh. Ketika kita memakai kata ”PEMBERLAYANAN PAPUA” misalnya, tentu makna, sense, persepsi, konotasi dan asosiasi pikiran kita akan berbeda, dibanding saat kita memakai kata ”PEMBANGUNAN PAPUA”. Dalam kata ’PEMBERLAYANAN” mengandung makna yang lebih utuh, positip, holistik, lebih kaya aspek2nya, ketimbang kita memakai kata ”PEMBANGUNAN” yang maknanya terasa lebih sempit (ekonomi, politik dst), terasa lebih elitis, dan yang jelas sudah terstigma dalam pikiran kita: berkonotasi negatip. Ada perasaan kelam yang dibawa dari masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam 'pemberlayanan' , 'pemfasilayanan' , penatalayanan, 'pemfasilitasian'  Nusa Persada kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak.&lt;br /&gt;*) Pengamat-Praktisi Seni, Kepemimpinan dan Budaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-3541125112581997620?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/3541125112581997620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/istilah-kata-pembangunan-masih-cocokkah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3541125112581997620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/3541125112581997620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/istilah-kata-pembangunan-masih-cocokkah.html' title='Istilah Kata ’PEMBANGUNAN”: Masih Cocokkah Dipergunakan dan Tetap Ingin Dipopulerkan di Era Jaman Begini ??'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-1648755818168943177</id><published>2007-08-21T22:42:00.000-07:00</published><updated>2007-08-21T22:42:17.737-07:00</updated><title type='text'>Pentingnya Revitalisasi Pemikiran Leimena &amp; Simatupang, Dengan Tetap Berbasis Spritual Growth!</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mengapa penting revitalisasi?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menengarai situasi bangsa hari ini sekaitan dengan peran Kekristenan dalam politik berbangsa memang cukup membuat kita prihatin. Nampaknya revitalisasi pemikiran Leimena &amp; Simatupang sudah saatnya dilakukan. Tentunya dengan tetap memperkuat segi pertumbuhan kerohanian (spiritual growth) Kristen sebagai basisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, jaman begini kita tak boleh lagi hanya terus terbuai dengan romantisme nostalgia dan berkanjang dengan 'hedonisme' masa lalu lagi. Kita tidak boleh kehilangan momentum! Perubahan era sekarang mengalir begitu cepat di bangsa ini, termasuk di bidang politik, keagamaan, korporatokrasi dan pendidikan dari tuntutan pendidikan dasar hingga mutu pendidikan tinggi harus cepat kita tanggapi. Sebelum menjadi betul2 terlambat dan "tertempelak", akan menimbulkan krisis baru, krisis 'lain' 'kekosongan kevakuman' dalam peran Kristen dalam tubuh bangsa ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pentingnya Upaya Revitalisasi Pemikiran Leimena &amp; Simatupang.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Revitalisasi pemikiran Leimena, Simatupang dan pendiri2 PGI, GMKI, PIKI harus segera dilaksanakan oleh segenap alumni Kristen yang masih punya "mata batin" dan 'kebenaran batin', disesuaikan dengan konteks era pasca 2000. Adaptasi terhadap konteks globalisasi, desentralisasi/otda/kemandirian lokal, teknologi informasi/multimedia, knowledge-management, transformasi spirtualitas, sosial dan lingkungan (environtment friendly). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peran Perkantas, LPMI, Navigators dll yang diharapkan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Peran Perkantas, LPMI, Navigators dan gereja2 kalangan injili sebagai spiritual growth dan PI, sangat sangat tidak cukup. Tidak bisa hanya ploting keteladanan pemimpin2 kekaryaan dan kesaksian pemimpin2 masa lalu. Sangat tidak cukup. Gerak refleks 'turning point' terutama dari pemimpin2 yang lebih muda dan kaum alumni muda kristen sangat diharapkan menjadi semacam gelombang revitalitasi baru.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ranah strategis adalah tetap kampus2 (kampus2 PT negeri, swasta dan PT Kristen macam UKI Ukrida UPH UKSW Salatiga dll dll, lalu LSM, bidang media/multi media, gereja dan pelayanan2 komunitas ministry kristen yang "empowered", jaringan2 network baru, asosiasi profesional dan pengusaha/wirausaha kristen baru, ormas2 politik kristen baru dan pembentukan pusat2 kajian Kristen yang betul2 baru. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih baik kita mulai menyalakan 'lilin' bahkan 'api' yang dikobarkan; dari pada kita terus memprihatinkan keadaan sekarang dan terus ingin 'mengutuki' keadaan sekitar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembelajaran dari kehadiran ormas2 kristen masa lalu, Parkindo, PDKB, Partai Krisna sampai dengan PDS dengan berbagai dilemanya penting dievaluasi untuk dicarikan solusi breakthrough yang akseptabel dan berdampak luas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Spiritual growth kristen tetap dasarnya, fondasinya. ranah2 strategis diatas adalah ekspresi dan saluran distribusi sekaligus kontribusi nyatanya kepada bangsa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kekristenan Serba Nanggung dan Tiga Rumpun Kekristenan Terkait Politik Berbangsa Saat Ini.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memang postur Kekristenan kita di tanah air di masa ini jadi serba 'nanggung' dan tersekat-sekat. Terutama dalam kaitan integrasi Kekristenan dengan politik hari ini, khususnya di tingkat implementasi politik di pusat maupun di daerah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedikitnya kita melihat ada 3 rumpun Kekristenan terkait kehidupan berpolitik dan berbangsa hari ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Satu&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;"Politik simbol kristen (belaka)". &lt;/strong&gt;Ada satu rumpun Kristen yang mungkin bisa dinilai nampaknya paham sekali tentang visi Kerajaan Allah, Injil kerajaan Allah. Bahkan dalam berperilaku penuh dengan simbol2 logo2 ucapan2 gaya/style - budaya 'kristen' [katakan saja dengan 'ciri budaya kristen charismatic' , sebagaimana PDS banyak dinilai berbagai pihak sebagai partai yang identik dengan kristen charismatic] . Namun dalam implementasi di lapangan ternyata gagal dalam cara, pilihan taktik strategi, konsistensi dan mengaplikasikan nilai2 Kerajaan di dalam dunia/struktur politik yang digeluti). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dua&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;"Politik dompleng kristen dalam arus besar".&lt;/strong&gt; Sebaliknya ada rumpun Kristen yang dinilai cukup piawai berpengalaman sejak lama dalam berpolitik sejak jadi aktivis parpol sebelum Reformasi, namun di perjalanan gagal dalam memahami visi misi Kerajaan Allah. Bingung dalam mengintegrasikannya ke dunia struktur politik yang digelutinya. Sehingga terkesan jadi 'dompleng kiri' 'dompleng kanan'. Tidak punya framework, mindset, ciri visioner Kerajaan. Akhirnya 'tenggelam' tidak beda banyak dengan politisi2 lainnya, berkesan cari selamat, ikut trend, 'kagetan' menerima realitas pembalikan reformasi. Di awal reformasi pun telah menyia-nyiakan 'kesempatan' yang pernah/sempat terbuka, namun secara pandir mengambil jalan pilihan yang salah. Hulunya ditengarai karena nyata2 tidak terbina dan terlatih dalam dalam visi Kerajaan. Pembenarannya mengatakan "kita kan minoritas, kita ikut saja main stream (arus besar, partai besar)" dst. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tiga,&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;"Politik diam pasif Kristen". &lt;/strong&gt;Ada pula rumpun Kristen yang bersikap belasan tahun "wait and see" terus2an. Dinilai sangat sangat memahami visi Injil Kerajaan Allah. Tapi enggan, tidak perlu lah, terjun ikut2an dalam implementasi riel Kerajaan di lapangan politik, parpol, pusat kajian politik kristen, dlsb. Doktrinnya ditengarai 'politik itu kotor', orang kristen tidak perlu terjun di politik, mengetahui memahami politik boleh, tapi tidak boleh terjun. Jadi pengamat.. pengkritisi sekali2..ya boleh. Walhasil, cara pandang ini membuat kader2 yang lebih muda jadi 'tidak terjun ikut2an' pula. Menganggap ini sebagai kebenaran. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sampai Kapan Kita Tetap di Persimpangan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekurangnya tiga rumpun Kekristenan ini saya kira yang kita sama2 saksikan dalam postur Kekristenan tanah air masa kini. Sampai kapan kita akan terus berada dalam persimpangan (cross road) seperti ini? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara Kekristenan berada dalam cross-road (persimpangan) , perkembangan dunia politik berjalan terus demikian cepat. Pilkada-pilkada, pilpres terus bergulir. Konstitusi yang membolehkan calon independen dimunculkan sangat terbuka. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah pola "patron-klien" dalam rumpun2 Kekristenan, persepsi ketaatan tanpa rasionalitas yang memadai, akan terus kita lestarikan? Sementara politik Injil Kerajaan yang integrated lengket dengan politik kultural dan politik struktural kristen, terus 'memanggil-manggil' dan 'menanti-nanti' the right men &amp; women untuk memasukinya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang butuh banyak dukungan. Kelas menengah (middle up) Kristen selama ini masih 'ogah' bergerak, meski pun sudah nanya2: mana, mana? Para eksekutif, professional kristen, aktivis dan tokoh pendidikan kristen, aktivis dan tokoh gereja yang masih konsisten dan tidak ingin sekadar 'politik simbol kristen' atau 'politik dompleng kristen'. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, persoalannya sekarang kita sudah cukup puas dengan keadaan seperti sekarang? Tanpa ada pelopor2 kristen yang mau dan sedia untuk melakukan "passing over" dengan upaya2 dan semangat lebih kreatif dan punya kepiawaian. Satu contoh saja, kesempatan untuk mengajukan calon pemimpin independen kin sudah sangat terbuka di pusat dan di seluruh pelosok daerah by pilkada. Kata kuncinya bila sanggup 'konsisten' sampai tingkat implementasi, akan lain hasilnya. Konsisten dengan visi dan nilai2 Kerajaan itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Passwordnya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jadi passwordnya: paham sebagai mandatory Kerajaan di bumi di tanah air, serta piawai dan mau. Semua tentu untuk kemuliaan namaNya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam revitalisasi,  &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-1648755818168943177?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/1648755818168943177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/mengapa-perlu-revitalisasi-menengarai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1648755818168943177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/1648755818168943177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/mengapa-perlu-revitalisasi-menengarai.html' title='Pentingnya Revitalisasi Pemikiran Leimena &amp; Simatupang, Dengan Tetap Berbasis Spritual Growth!'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-2765508360349903971</id><published>2007-08-20T20:34:00.000-07:00</published><updated>2007-08-21T20:39:04.138-07:00</updated><title type='text'>Menyoal Buku TL Friedman "The World Is Flat", Implikasi bagi Gereja.</title><content type='html'>Apa yang ditulis Thomas L Friedman ini - "The World is Flat" atau lebih sederhana "The Overall Structure is Flat" mungkin sebenarnya bukan isu yang terlalu baru. Apalagi bagi orang2 yang telah terbiasa terjun di dunia IT, seperti software engineers, web designers, multimedia, telekomunikasi dan knowledge management base. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terutama sejak computer science sangat berkembang sampai melesat ke bidang IT, telekomunikasi multimedia dan knowledge management di Barat sejak akhir 80an dan awal 90an. Seperti 'biasa' kita di Indonesia selalu terlambat ketinggalan lk. 10 tahun satu dekade.Namun bersyukur hadir juga buku Friedman itu sebagai bahan pembelajaran. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Revolusi IT multi media knowledge management bukan saja mampu mengubah mindset dan paradigma organisasi, namun terus memiliki kemampuan mengubah organ2, struktur, system pranata sampai gaya hidup suatu entitas organisasi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bicara organisasi, gereja yang memiliki sisi entitas organisasi sosial yang masuk/bersinggungan dengan domain publik, tidak dapat tidak harus 'segera' mengantisipasi fenomena perubahan yang cukup dahsyat ini. &lt;br /&gt;Sampai kapan kita mempertahankan pola struktur organisasi yang melulu vertikal, sistem komando dan lini dari atas ke bawah. Sudah perlu dipikirkan sejak sekarang oleh Balitbang dan top pimpinan gereja suatu transformasi organisasi menuju konsep The Church Structure is Flat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam struktur 'pemerintahan' gereja selalu terjadi diskursus dikotomis mana yang lebih baik/sehat: Jemaat 'menguasai' pendeta lewat suatu institusi yang bernama Sinode, atau Pendeta yang 'menguasai' jemaat lewat institusi Penilik, Bishop atau Episkopos (strukturnya bernama Episkopal). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;'"Jalan alternatif ketiga" sudah muncul sekarang dengan mindset baru The Church Structure is Flat.  Memungkinkan dalam struktur gereja, antara posisi jemaat (presbiter, penatua diaken) pelayan non tahbisan, bishop episkopos (penilik, overseer) pendeta pelayan tahbisan gembala guru jemaat evangelist adalah setara, berada dalam satu bidang datar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lho, kalau begitu Kristus sebagai pemilik dan Tuhan gereja di mana? Kristus ada di atas semua, di atas semua posisi2 jabatan pelayanan yang equal setara berada dalam satu bidang datar tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Merupakan keniscayaan konsep The Church Structure is Flat atau Struktur Organisasi Gereja Datar akan menjadi kebutuhan bagi banyak pihak yang terlibat dalam pelayanan gerejawi. Bukan hanya untuk gereja2 di tanah air, sejak satu dekade terakhir telah menjadi wacana dan pergumulan gereja di banyak bagian dunia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-2765508360349903971?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/2765508360349903971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/menyoal-buku-tl-friedman-world-is-flat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/2765508360349903971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/2765508360349903971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/menyoal-buku-tl-friedman-world-is-flat.html' title='Menyoal Buku TL Friedman &quot;The World Is Flat&quot;, Implikasi bagi Gereja.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-6329656557515191972</id><published>2007-08-16T02:06:00.000-07:00</published><updated>2007-08-18T02:22:00.854-07:00</updated><title type='text'>Percayakah Kita Bahwa Indonesia Akan Maju? God Bless Indonesia !!</title><content type='html'>Dari informasi Transforma Sarana Media (TSM)/ edisi Agustus II 2007. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Renungan kemerdekaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Soal iman percaya keyakinan ini semakin relevan untuk membahas Indonesia masa sekarang dan ke depan.  Percayakah kita bahwa Indonesia akan maju?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayup2 terdengar ada 4 orang sedang berbicara di beranda rumah. Makin lama suaranya makin keras. Rupanya mereka sedang membahas Indonesia, tentang “nasib” Indonesia sekarang dan ke depan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu orang berkemeja biru mengatakan bahwa dia sama sekali ngga percaya bahwa Indonesia akan maju.  Tidak akan. Dari dulu sejak dijajah Belanda sampai sekarang ya akan seperti ini, miskin dan terbelakang. Dia bilang, coba aja liat Indonesia sekarang: swalayan bencana,  banjir bandang, kemacetan di mana2,  kebakaran hutan, dampak pemasanasan global, kinerja polisi, ulah tentara, politisi parpol dan tokoh agama, separatisme berikut isu2 lokal regional nasional lainnya, yang ada mungkin hanya pesimisme.  Pesimisme ini terkadang membuahkan rasa kecintaan dan kebanggaan terhadap Indonesia semakin pudar. Dan mungkin sudah bisa ditebak, bila cinta terhadap bangsa ini sudah makin memudar, bagaimana orang bisa ’tergerak’ untuk turut berkontribusi dan melayani bangsa ini dengan semangat berpengharapan.  Sebaliknya, mungkin yang ada adalah sikap mengeluh, kesal, sedih, sewot, malu, minder, jengkel yang akhirnya tumpah menjadi pandang remeh identitas bangsa sendiri, apatis, dan mungkin ada keinginan untuk ’lari’ serta lupakan Indonesia.  Kalau perlu ya pindah warga negara, jadi warga negara bangsa lain. Beres. Good bye Indonesia, forgetting Indonesia. Ada juga yang bilang: “saya bukan warga Indonesia lagi, mulai sekarang saya jadi warga dunia saja, kalau ngga ada yang mau menerima saya jadi warga negara bangsanya. Bagi saya soal warga negara mau di mana bagi saya ngga soal, asal jangan jadi warga negara Indonesia deh.. ?!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang kedua berpakaian oranye menanggap ‘no comment’. Tak tau mau kasih komentar apa untuk Indonesia. Yah.. just flowing aja, mengalir aja deh.  Yah sekarang masih bisa makan, masih ada kerjaan, lets do it. Abis tak mengerti harus berbuat apa.  Tau sih bahwa jaman lagi susah. Minyak tanah susah dicari karena program konversi. Minyak goreng curah terus naik kadang tak terkendali. Pejabat,  pemimpin, tokoh agama banyak tak bisa dicontoh.  Tapi toh mau buat apa? Dari tujuh turunan saya sudah di sini. Kecil di sini. Keluarga di sini.  Mau ke mana lagi saya. Memang hidup di negara orang enak. Banyak yang bilang kesepian.  Menjadi warga negara kelas dua, kelas tiga dst. Siapa yang mau menghiraukan. Sejelek2nya Indonesia, masih sangat enak untuk ditinggali.  Makanan cocok, situasi orang2nya enak untuk diajak bergaul.  Udara dan cuacanya juga sesuai untuk kulit dan fisik saya, dst.  Sudah, diterima aja deh keadaan kita di sini.  Mau diapa-apain pun tetap begitu.  Ngga usah terlalu jauh2 berpikir.  Dinikmati saja keadaan yang sudah begini.  How to enjoy it! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang ketiga bertopi dengan pakaian jingga serta merta datang menimpali.  Susah2 mikirin Indonesia.  Kita jual aja Indonesia. Anggap aja dia barang. Komoditi. TKI/TKW aja bisa kita jual, tak peduli terampil atau tidak, legal atau ilegal, apalagi Indonesia. Kan banyak pulau2nya, tanah masih luas, sumber energi banyak, tambang melimpah. Mumpung orang2nya, SDMnya masih males2, bodoh pula, kita manfaatkan situasi ini untuk keruk keuntungan sebanyak2nya bagi diri kita sendiri.  Ngapain mikirin negara. Ngga ada perlunya itu.  Negara juga ngga mikirin kita.  Apa pernah Indonesia mikirin kita?  Waktu kita susah, Indonesia juga ngga pernah bantu kita.  Iya sih, saya pernah sekolah di sini, pernah kerja di sini, cari makan juga pernah di sini.  Bisnis juga di sini. Tapi kan itu sepenuhnya hasil kemampuan saya sendiri untuk memanfaatkan peluang.  Ngga ada peran negara. Ngapain juga saya disuruh berkontribusi bagi bangsa.  Bayar pajak negara. Kalau itu pajak dikelola benar. Kalau nggak? Sudahlah, kita ngga usah terlalu idealis liat Indonesia. Cari peluang apa yang bisa kita manfaatkan dari Indonesia. Biarin orang bilang saya opportunis. Yang jalanin hidup juga saya.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang keempat berpakaian coklat, terakhir mulai angkat bicara. Dia yakin Indonesia akan maju. Kuncinya, asumsi awalnya, adalah percaya, bahasa agamanya iman!  Masih adakah keyakinan kita bahwa kita bisa maju ke depan? Apa alasan untuk percaya?  Kita percaya karena masih ada orang-orang percaya !! Itu alasannya.  Terlebih itu masih ada Tuhan yang kita percaya, yang sangat mampu untuk memulihkan bangsa dan ’tanah’ ini.  Bukan karena melihat keadaan bangsa ini, tapi karena demi mempertahankan kedahsyatan namaNya sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika bangsa2 jiran seperti India, Thailand, Vietnam, Malaysia, Cina bisa maju. Masak kita ngga bisa maju? Iman atau ’trust’ menjadi sangat sangat penting di era sekarang.  Tanpa trust, iman bagaimana bisa timbul rasa cinta, cinta kepada bangsa. Nonsens.  Sama pacar aja, kalau sudah tidak ada iman, trust bahwa ’dia akan jadi pacar gue selamanya’, gimana hubungan percintaaan dengan dia bisa berlanjut. Pasti langsung berhenti. Begitu juga dengan Indonesia.  Karena masih ada percaya itulah, trust in God,  maka kita masih mau memutuskan dan melanjutkan untuk mencintai Indonesia, melayani bangsa ini. Dengan cinta apa? Dengan ’unconditional love’ dan compassion (welas asih, belas kasihan). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang disadari sih, masih banyak kelemahan2 yang ada di ’tubuh’ bangsa ini.  Tudingan2 kelemahan harus diterima sebagai fakta di mana kita berada sekarang.  Beratus beribu fakta membuktikan bahwa kita lemah. Terima itu! Mungkin ngga usah berkilah, berdalih atau ’berlagak pilon’.  Tapi kan ngga sampai di situ. Percaya perlu sekali dibangkitkan,  bahwa Tuhan masih mempedulikan kita.  Percaya kolektip.  Tidak hanya sendiri, tapi meyakinkan teman2 yang lain pula, bahwa masih ada jalan untuk keluar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masak orang dari bangsa lain seperti peraih Noble 2006 Prof. Muh. Yunus yakin Indonesia akan maju,  akan mampu memuseumkan kemiskinan dalam 15-20 tahun ke depan, masak kita sendiri belum atau tidak yakin?  Setelah melihat bahwa kita betul2 lemah, sekaranglah waktunya kita harus membangun keyakinan, percaya, bahwa Indonesia pasti akan maju.  Strengths kekuatannya apa sebagai alasan kita percaya?  Kekuatannya karena kita masih mempunyai orang2 yang percaya! Terlebih kita masih punya Tuhan pemilik tanah negeri bangsa Indonesia yang siap memberkati kita. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak perlu jauh2 menunggu 2030. Dari sekarang pun kita bisa bangkit. Asal percaya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah selesai berbicara,  keempatnya pun pindah dari beranda ke ruang makan dalam. &lt;br /&gt;Ternyata mereka berempat makan bersama.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;God bless Indonesia!! Selamat ultah, dirgahayu ke-62 tahun. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam kemerdekaan, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-6329656557515191972?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/6329656557515191972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/percayakah-kita-bahwa-indonesia-akan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6329656557515191972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/6329656557515191972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/percayakah-kita-bahwa-indonesia-akan.html' title='Percayakah Kita Bahwa Indonesia Akan Maju? God Bless Indonesia !!'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-4201320769669283264</id><published>2007-08-15T02:23:00.000-07:00</published><updated>2007-08-16T02:29:11.290-07:00</updated><title type='text'>Konseling Esensi dari Penggembalaan - Tugas Panggilan Gereja "Kelima" Masa Kini !</title><content type='html'>Tulisan ini respons terhadap posting Pdt Julianto &amp; sister Witha di milist DH, mengenai "Ngobrol dengan Om Jakob Oetama Pemimpin Kompas-Gramedia". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan yang baik bisa ngobrol dengan Om Jakob Oetama. Mungkin kita memang mesti belajar banyak dari Bapak yang "satu" ini, tetap mampu "eksis" dan berkibar" di berbagai era/jaman, open-minded dan sikap adaptif tetap konsisten terhadap berbagai perubahan dan tantangan lingkungan yang kerap terjadi di tengah bangsa ini bersama Kompas-Gramedia nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Konseling? Tidak diragukan lagi manfaat dan dampaknya bila tetap konsisten dijalankan di tengah2 pergumulan gereja, masyarakat dan bangsa yang sedang "sakit" ini. Kalau boleh dibilang mungkin terlalu banyak "domba-domba" termasuk "gembalanya" juga yang luka,di jaman sekarang ini, yang membutuhkan 'pembalutan' dan 'pemulihan' atas luka2nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di berbagai kesempatan saya yakin menyebut Pemuridan sebagai Tugas Panggilan Gereja Keempat Masa Kini setelah Koinonia (bersekutu), Melayani (diakonia) dan Marturia. Maka Tugas Panggilan Gereja "Kelima" adalah Konseling! Konseling adalah esensi dari Penggembalaan - Tugas Panggilan Penggembalaan Gereja di masa kini, terutama dikaitkan dengan konteks Indonesia yang sikonnya seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ucapkan selamat atas rencana penerbitan buku2 Bro Pdt Julianto dan sister Witha. Semoga semakin banyak lagi buku2 kristen dan atau dengan nilai2 kristen diterbitkan, menambah yang sudah ada, tentunya dengan konteks Indonesia. Selamat berjuang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam konseling &amp; penggembalaan, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-4201320769669283264?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/4201320769669283264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/konseling-esensi-dari-penggembalaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4201320769669283264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4201320769669283264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/konseling-esensi-dari-penggembalaan.html' title='Konseling Esensi dari Penggembalaan - Tugas Panggilan Gereja &quot;Kelima&quot; Masa Kini !'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-5621966374978135676</id><published>2007-08-02T21:17:00.001-07:00</published><updated>2007-08-02T21:30:33.925-07:00</updated><title type='text'>Apakah Benar Orang Batak Toba (Masa Kini) Susah Menjadi Wirausahawan, Entrepreneur Saudagar yang 'Hebat', Berhasil ?</title><content type='html'>Pertanyaan ini terus terang sering muncul, sering ditanyakan kepada saya, terutama oleh kalangan generasi muda keturunan Batak khususnya Batak Toba. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau melihat ke tradisi dan masa lalu, orang Batak Toba yang jadi pendeta theolog rohaniwan aktivis gereja pelayanan Kristen banyak dan cukup menonjol. Di bonapasogit, rata-rata dari dulu orang Batak Toba yang hidup di lahan pertanian sebagai petani, pekebun dan perikanan air tawar juga hampir rata2 demikian, selain sebagai tukang seperti tukang kayu, pandai besi, par "tambok aek", penjual makanan (lapo tuak, ombus2, warung 'sampah', pedagang lokal pedagang pengumpul hasil bumi (seperti di Siborong2 Humbang Bahalbatu), toko2 kecil, dan lain2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi guru (teacher) dan terjun di bidang pendidikan termasuk dosen dan professor juga banyak. Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara/advocat, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, orpol, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang media, journalis wartawan orang Batak Toba juga cukup banyak terlibat dan berperan. Begitu juga ormas-ormas, aktivis, penggiat LSM berbagai bidang (sosial, kesehatan, pemberdayaan sosial-ekonomi, demokrasi, keadilan, lingkungan dll), cukup banyak dijumpai orang Batak Toba 20 tahun terakhir. Juga di bidang agen jasa pengurusan (STNK, Kir, SIM), transportasi bus, jasa penyedia keamanan dan pengamanan, agen saham, agen rumah dan jasa2 keperantaraan (sering disebut 'calo', 'makelaar') dan lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di perusahaan swasta baik PMA maupun PMDN dan BUMN (PLN, Telkom, Aneka Gas, Pelindo dll), cukup banyak pula ditemui orang Batak Toba, mulai dari tingkat karyawan non-manajemen sampai ke tingkat eksekutif, deputy director direktur dan top manajemen. Divisi2 dalam perusahaan yang banyak diminati oleh orang Batak Toba ditengarai yang berhubungan dengan divisi HRD, training, serikat pekerja (labor union), hukum/legal, marketing, keuangan dan investasi, operasi/produksi, bidang transportasibidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang &lt;br /&gt;operasi/produksi, bidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang advis, konsultan dan kontraktor (bangunan, jalan, MK, ME dll), ditemui cukup banyak orang Batak Toba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang olahraga, cukup lumayan banyak orang Batak Toba yang terjun di olahraga seperti olahraga catur, tinju dan sepakbola. Di bidang seni, musik, entertainment dan infotainment banyak muncul turunan2 Batak Toba terutama di bidang seni komposisi lagu, pelatih vokal, seni bangunan arsitektur juga cukup lumayan, band-band terutama sejak era 70an sampai sekarang, sutradara sinetron dan penyanyi2 festival dan hiburan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun seberapa banyak orang Batak Toba masa kini yang tertarik, punya minat menjadi entrepreneur, wirausahawan atau yang lebih dikenal juga istilah pedagang, businessmen, trading atau "saudagar" (yang konon dalam bahasa sanskrit berarti "seribu akal"). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di lapangan entrepreneur masa lalu, nama2 beken businessmen saudagar pedagang industrialis turunan Batak Toba hanya bisa dihitung jari, tidak begitu banyak sebanyak bidang2 lain yang telah disebutkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa hanya sedikit orang Batak Toba terutama masa kini yang mau jadi wirausahawan, pedagang, saudagar? Padahal kita semua tau, producing money making money menjadi alat yang strategis dalam upaya kemandirian theologia, daya dan dana, kemandirian ilmu pengetahuan dan kemajuan menuju kesejahteraan daerah komunitas (Batak Toba) dan bangsa.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di negeri ini, dari sekian banyak daerah yang saya tinggal dan kelilingi, etnis atau suku yang lebih dikenal sebagai wirausahawan pedagang saudagar adalah dari suku Minang (Padang), dulu Aceh, Batak Karo, Banjar, saudagar Bugis, Makassar, suku Buton, Bali (Badung &amp; Kuta), suku Jawa Yogya, Jawa Surabaya, suku Sunda Bandung, Garut dan Tasikmalaya, dll. Di kalangan etnis2 pendatang, kita semua tahu etnis keturunan Arab, Tionghoa (Cina) dan India secara tradisionil puluhan tahun sudah sangat 'menguasai' jagad ekonomi dan perdagangan di tanah air. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banya kali kita telah berpikir dan berdiskusi, pentingnya wirausaha entrepreneurship sebagai dasar kemajuan suatu negara. Tidak ada negara, kebupaten, desa yang bisa maju progressive tanpa peran wirausaha, pedagang trader saudagar yang excellent (berhasil, 'hebat'). &lt;br /&gt;Apakah bukan karena hal ini salah satunya yang penting sehingga Tapanuli dan mungkin komunitas2 Batak Toba sulit untuk progessive maju?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, meski pun sudah tau bahwa wirausaha pedagang saudagar sangat vital untuk kemajuan bangsa, suatu daerah dan kemajuan komunitas (Batak Toba), mungkin mulai sekarang tidak mungkin hanya sekadar sebatas himbauan bagi orang2 Batak Toba masa kini agar lebih terarah berani mampu dan bisa berperan di bidang ekonomi jasa dan perdagangan di tanah air bahkan mancanegara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah ini juga peran penting orang tua dan keluarga2 Batak Toba untuk mengarahkan anak2nya bergerak dan punya minat yang lebih serius kepada bidang entrepreneur, pedagang dan menjadi saudagar?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkinkah ini menjadi keniscayaan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau.. kalau tidak merasa punya talenta, minat, kompetensi menjadi entrepreneur wirausahawan atau saudagar pebisnis, ya.. cukup jadi karyawan karyawati sajalah yang penting bisa mencintai pekerjaan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah hanya sampai di sini kiprah orang2 Batak Toba sekarang dan ke depan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mohon konvergensi mekar pemberdayaan (empowerment)...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam wirausaha, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-5621966374978135676?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/5621966374978135676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/apakah-benar-orang-batak-toba-masa-kini_02.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5621966374978135676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5621966374978135676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/08/apakah-benar-orang-batak-toba-masa-kini_02.html' title='Apakah Benar Orang Batak Toba (Masa Kini) Susah Menjadi Wirausahawan, Entrepreneur Saudagar yang &apos;Hebat&apos;, Berhasil ?'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-5808873039774601760</id><published>2007-07-30T00:17:00.000-07:00</published><updated>2007-08-03T00:42:11.496-07:00</updated><title type='text'>Pentingnya Pendekatan Kultural &amp; Pendidikan bagi Kemajuan melalui Peran Publikasi Cerita Sosok Keteladanan dan Peran Media.</title><content type='html'>Tulisan ini menanggapi rekan milist DH Bro. Wals Silalahi, berjudul "Kenapa Negara Kita Miskin" - To Reflect &amp; To Act. Bro Wals menyoroti bahwa suatu negara bisa maju  ternyata bukan karena soal kepemilikan sumberdaya alam melimpah, melainkan karena faktor sikap/perilaku masyarakatnya yang 'developed'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan sikap/perilaku masyarakat menjadi 'developed', maju, sangat perlu dilakukan sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Pendekatan kultural dan pendidikan. Tujuannya agar semakin banyak masyarakat sehari2nya makin mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sbb:&lt;br /&gt;1.Etika ,sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;2.Kejujuran dan integritas&lt;br /&gt;3.Bertanggung jawab.&lt;br /&gt;4.Hormat pada aturan&amp; hukum masyarakat.&lt;br /&gt;5.Hormat pada hak orang atau warga lain.&lt;br /&gt;6.Cinta kepada pekerjaan.&lt;br /&gt;7.Berusaha keras untuk menabung dan investasi&lt;br /&gt;8.mau bekerja keras&lt;br /&gt;9.Tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hal ini saya sangat setuju dengan Bro Wals. Bukankah negeri ini punya comparative advantage berupa sumberdaya energi, komoditi, mineral (mining)yang melimpah, seperti yang sering diutarakan JK di mana-mana. Namun masalahnya itu menjadi kurang/tidak ada gunanya jika upaya pembentukan sikap/perilaku masyarakat terkait peran pribadi, keluarga serta peran negara masih 'melempem'. Tidak punya arah yang tepat dan benar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Prinsip2 dasar kehidupan itu dalam bahasa perenungan saya pribadi adalah peran Injil yang 'mengubahkan' spiritualitas dan peran Kultural yang mengubahkan kebudayaan, yakni menyangkut basis moral ethos budaya disiplin seni estetik roh keadilan sosial dan profesional yang excellent. Namun itu semua butuh waktu. Peran orangtua, pembina, pelatih, pendidik, gembala, penilik, penatua, para senior..pemimpin termasuk pemimpin komunitas sangat ditunggu sekarang. Namun disamping melatih, menulis, persuasi, menghimbau, mencegah, mengobati sebagai langkah pembinaan internal keluarga, komunitas, umat... kita juga mesti concern dan prihatin dengan perkembangan media/channel2 TV dan multi media sekarang. Tiap hari anak remaja pemuda generasi per generasi disuguhi program yang "dibolehkan" negara, pebisnis, mediawan dan "sutradara" yang membuat pemirsa "tabula rasa" menjadi pemirsa "tabu boleh dirasa", semakin jauh dari prinsip2 kehidupan. Anti makna Injil damai sejahtera yang mengubahkan, dan anti peran kebudayaan yang mesti mengubahkan ke arah kemajuan, kesejahteraan, kasih dan keadilan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita2 story anak2 biography remaja pemuda senior pemimpin2 dari berbagai lintas lapangan kehidupan (tidak hanya yang dari latar belakang nyanyi menyanyi saja..) yang memiliki prinsip2 kehidupan harus semakin banyak ditulis, diangkat dan dipertontonkan ke muka publik secara massive lewat media/TV khususnya, tabloid2, koran harian pagi dan sore, kalau perlu di headline2 utama, bukan saja dipojok feature paling belakang dan paling dalam dari halaman koran dan buku2. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekaitan fungsi dan tugas kita sekarang, mari kita tunjukkan contoh role model standard operating procedure dan mengecek serta mengingatkannya secara berulang2 kepada lingkungan kita bagaimana prinsip2 kehidupan itu harus dijalani. Apa manfaat keuntungannya dan apa kerugiannya jika tidak diterapkan. Berulang-ulang, tidak apa2 sampai yang mendengar mungkin jadi bosan, kesal. Itulah esensi mendidik atau pendidikan. Pendidikan bukan di lagi terjadi di kelas, tapi kebun2 di halaman2 rumah beranda rumah di kamar.. di jalan dst. Mimbar pendidikan dan pengajaran bukan saja di pulpit gereja atau konsistori gereja waktu PA atau pendalaman firman, tapi pindah ke meja2 kantor.. di lapangan pembibitan palawija, di tanah perikanan, di jalan lalu lintas, di acara gaul, arisan, rekreasi dan ulang tahun. Lapangan hidup sehari2 di luar hari minggu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah perlu ada bukan saja KAMG tapi Komunitas Air Mata Sutradara Sinetron (KAMSS), Komunitas Air Mata Media (KAMM).., di mana selaku garam dan terang di masing2 komunitas2 kita punya kesempatan untuk menggarami dan menerangi semua jenis2 pembikin program tayangan TV selama 24 jam. Juga pojok2 koran harian majalah tabloid mewarnai dengan prinsip2 dan nilai2 transformatif Kabar Baik penuh sejahtera serta prinisp2 kehidupan itu. Baik tayangan TV koran showbiz entertainment bernilai kristiani, maupun tayangan TV koran media showbiz entertainment infotainment umum. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam penetrasi ke media2, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS):)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-5808873039774601760?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/5808873039774601760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/07/pentingnya-pendekatan-kultural.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5808873039774601760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/5808873039774601760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/07/pentingnya-pendekatan-kultural.html' title='Pentingnya Pendekatan Kultural &amp; Pendidikan bagi Kemajuan melalui Peran Publikasi Cerita Sosok Keteladanan dan Peran Media.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-4751971835830603278</id><published>2007-07-29T00:53:00.000-07:00</published><updated>2007-08-03T00:55:02.241-07:00</updated><title type='text'>Thinker Kristen Saya Yakin Sedang Bertumbuh Kembang Sekarang.</title><content type='html'>Thinker Kristen menurut keyakinan saya kini sedang ditumbuh-kembangkan sekarang, terutama sejak 10 tahun terakhir atau tepatnya 5 tahun terakhir. Kita terutama di tanah air, mungkin tak perlu harus 'terus-menerus' selalu berada dalam padang gurun atau 'jaman terowongan kegelapan' menanti 'sejumput pijar terang di ujung terowongan'. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KIta harus yakin dalam pergumulan demi pergumulan spiritualitas kita, bahwa akhir tapal batas 'padang gurun' akan tidak lama lagi dijumpai. Generasi2 muda telah lahir, tumbuh dan kembang! Bak pelari marathon 10k atau 20k sekarang kita dan 'anak cucu', 'sahabat'  'murid' dan 'anak2 bangsa' bukan lagi berjalan pelan tapi perlahan tapi pasti mulai berlari. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kekristenan realitas yang masih fragmented, hemat saya bisa disiasati ke depan mulai saat ini dengan suatu solusi memulai dari diri kita, baik selaku pemimpin, pemikir atau umat untuk berpikiran untuk permasalahan yang dihadapi di dunia dan society, dengan cara pandang geosentrik, yang utuh (integrated, holistik), ketimbang hanya 'single sectoral sentrik' , 'berbasiskan hanya 'satu cabang disiplin ilmu sentrik' atau bahkan 'berbasiskan hanya etno sentrik. Ini tidak gampang, karena pemikiran modernism telah sangat merasuki banyak orang lewat cara pandang spesialisasi atau super spesialisasi penguasaan di satu bidang keahlian atau satu bidang minat saja.  Alasannya karena industrialisasi, fabrikasi, pentingnya memiliki differensiasi ciri khas di tengah lingkungan yang hyper-kompetisi. &lt;br /&gt;Kata kunci modernisme adalah daya saing, keunikan. Jika ini tetap dianut, sulit sekali tercapai lingkungan yang kooperatif, kolaboratif semesta, bekerjasama bersama2 bekerja dan bekerjasama (pemaknaan ulang dari 'gotong royong'). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemikiran Kristen (Christian mind) era sekarang dan ke depan, seharusnya sudah perlu berubah, dari paradigma menilai keadaan sebagai kompetisi atau hyper-kompetisi kepada paradigma baru 'koopetisi' (koperatif bekerjasama bersama2 bekerja namun sekaligus tetap membangun suasana kompetisi dalam artian 'berlomba' dalam perlombaan yang baik, bagus dan benar).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam global event transformation 66 negara yang terakhir yang saya ikuti April 2006 lalu,  Christian Transform World (www.transformworld.com), dan khasanah Christian studies (worldview) telah sepakat untuk menelurkan konsep, teori Kristen atau istilah yang disebut " "Christian governance" dan atau "Marketplace" yang mengintegrasikan secara utuh 'lengket' bidang2 (spheres) theologia/gereja, pendidikan, ekonomi dan politik/pemerintahan, termasuk mencakup hukum2 publik di dalamnya.  Keempat atau kelima bidang2 (spheres) ini tidak bisa jalan sendiri2, tapi 'merapat' dalam kerapatan yang kohesif. Kerapatan ini bisa bersifat 'melting pot' (membaur, tapi tidak berarti kacau balau anarkhis'), bisa bersifat 'gado-gado'; yang jelas tidak tersekat-sekat mati oleh pilar2 fanatisme bidang, keahlian, sektor yang tidak perlu.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika kita mulai menggunakan serta mengangkat membudayakan terminologi "Marketplace" dan "Christian governance" mulai dari sekarang di antara umat, pemikir dan pemimpin, maka fragmentasi dalam Kekristenan akan teratasi, dan untuk 10-20 tahun ke depan fragmentasi akan hilang. Gerakan2 refleks, dinamik,  kelenturan dan totalitas dalam pergerakan pelayanan dari semua umat Tuhan di berbagai lapangan praktis dan praksis kehidupan akan nampak luar biasa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam pelayanan dan pencerahan bersama&lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-4751971835830603278?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/4751971835830603278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/07/thinker-kristen-saya-yakin-sedang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4751971835830603278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/4751971835830603278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/07/thinker-kristen-saya-yakin-sedang.html' title='Thinker Kristen Saya Yakin Sedang Bertumbuh Kembang Sekarang.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-667255494297225263</id><published>2007-07-29T00:42:00.000-07:00</published><updated>2007-08-03T00:48:03.263-07:00</updated><title type='text'>Solusi PDS yang Terbelah: Keprihatinan Lagi.</title><content type='html'>Tulisan saya ini menanggapi artikel Bro Victor Silaen di milist DH sudah termuat di Harian Mitra Bangsa edisi Juli 2007 di bawah judul "Solusi PDS yang Terbelah".  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekali lagi, PDS semakin terpuruk (lebih tepat mungkin juga 'diterpurukkan'). Ratingnya sudah turun jauh. Sebagai salah satu orpol, semkain tidak cukup menarik, tidak cukup atraktif untuk ditelisik dan diperbincangkan. Mereka yang dalam dunia pemasaran bilang, dari segi 'brand', 'brand image' sudah jatuh. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana solusi untuk 'brand' yang sudah terpuruk. Perlu lama sekali untuk memperbaikinya. Secara teori, perlu 5-6 tahun untuk recover. Itu pun mungkin harus dengan berbagai upaya yang tak kunjung lelah. Secara taktis pemasaran, rubah merek, rubah brand, agar brand image naik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi lebih mendasar dari sekadar 'politik merk' atau 'brand politics' adalah menyangkut cara pandang. Apakah masih cocok untuk masa dulu hingga sekarang, menjadikan faktor agama basis agama dan primordialisme sebagai komoditas politik dan kendaraan berpolitik di tanah air? Apakah orang Kristen bahkan bangsa ini sudah siap dalam 'segala sesuatunya' untuk berpolitik melalui cara menjadikan agama dan primordialisme sebagai basisnya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Coba saja liat PAS di Malaysia bagaimana? Lantas kita meliat PKS di sini. Apakah ada jaminan PKS akan berjaya dan melenggang lebih jauh? Akan mampu melenggang sampai sejauh mana? Kita akan liat sama-sama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Partai Demokrat Kristen Jerman. Banyak pendeta kristen dan politisi kristen kita menyebut kenapa Jerman bisa, kita ngga bisa. Jerman itu bangsa, negara yang seperti bagaimana? Apakah sudah cukup 'worthieth' keadaan kondisi, budaya dan peradaban Jerman disamakan dengan peradaban kita yang ada di sini. Mimpi niscaya boleh. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agama, etnik, primordialisme dst boleh boleh saja menurut saya menjadi salah satu tema bahkan 'basis' politik. Namun, agar dapat berlangsung dalam damai dan suasana fairnes dan penuh peradaban, banyak sekali mensyaratkan hal2 yang mesti dipenuhi oleh seluruh pemain yang ingin bergerak dalam kancah politik agama dan primordialisme ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membangun konsensus dan unity menjadi keharusan. Seluruh sistem kepartaian dan penegakkan (compliance) hukum publik harus ada dalam tatanan demokratis. Faktor kesejahteraan juga sangat menentukan, termasuk soal aturan2 pemberlakuan pendirian partai dan transparansi penggalangan dana partai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keprihatinan kita dan rasa malu kita juga 'halak kita' dan 'kalangan pendeta' terlalu mudah untuk beradu dan dibuat beradu (dibuat terpuruk), ujung2nya bukan karena ingin menjalankan misi namun nyata sangat nyata karena hausnya untuk syndrom ingin berkuasa dan mencari jalan pintas yang paling pragmatis di tengah galaunya situasi sekarang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun saya masih bersyukur dan masih tetap percaya, bahwa tidak atau belum semua 'halak kita' dan tidak semua 'kalangan pendeta' yang mau terlalu gampang tergoda bernafsu untuk ber-main2 dalam permainan2, cerita (story) yang sama sekali tidak menarik dan tidak indah untuk dikenang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lain kali saya yakin 'halak kita' dan 'kalangan pendeta' termasuk yang muda2 tidak mau asal dianggap orang pintar tapi ternyata 'tidak pandai'. Masih mudah untuk 'diojok-ojok' oleh tangan2 atau pihak2 yang tidak keliatan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa tangan2 atau pihak2 yang tidak keliatan. Dari beberapa pandangan dan parodi2 yang berhasil saya kumpulkan di lapangan, yang tidak keliatan kemungkinannya antara lain adalah dari:&lt;br /&gt;- Kalangan militer yang semakin merasa post power syndrome tidak lagi banyak mendapat 'bagian kekuasaan' paska reformasi;&lt;br /&gt;- Kalangan2 aktivis politisi2 dan mereka yang terjun sekarang namun lahir, tumbuh dan berkembang pada waktu yang lalu di masa2 Perang Dingin (AS-Soviet-RRC) tahun 1940-awal 1950an (habitnya mau gontok2an melulu.., dualisme kepemimpinan melulu.. he he).&lt;br /&gt;- Kalangan mereka yang coba2, 'kutu loncat', bosan di satu bidang pengabdian lalu meloncat, bukan "passing over' atau proses ekstensi pengabdian secara benar, ke bidang politik..., ya kendaraannya adalah parpol seperti PDS ini.&lt;br /&gt;- Kalangan kaum ambisius namun "sewot" dengan keadaan yang berlangsung di tanah air paska reformasi. Namun tidak dibarengi kemampuan, legitimasi dukungan yang luas dan pro kepada masyarakat riel di bawah yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Solusinya yach.. rubah merek atau bangun Kekristenan kembali kepada semangat inti Injil damai sejahtera, bangun Kekristenan secara kultural kebangsaan moral ethos budaya disiplin seni keadilan sosial dan profesional excellent; jangan nafsu2 ikut2an arus dunia jalan pintas cari ketenaran kekuasaan pengaruh keliru bikin-bikin partai.. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadinya partai2 dibikin partai2 kelas warungan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam keprihatinan sekali lagi, &lt;br /&gt;Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5560519658075757556-667255494297225263?l=hms-eltrinitas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/feeds/667255494297225263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/07/solusi-pds-yang-terbelah-tanggapan-saya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/667255494297225263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5560519658075757556/posts/default/667255494297225263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hms-eltrinitas.blogspot.com/2007/07/solusi-pds-yang-terbelah-tanggapan-saya.html' title='Solusi PDS yang Terbelah: Keprihatinan Lagi.'/><author><name>Hans Midas Simanjuntak adalah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5560519658075757556.post-5036355346140979356</id><published>2007-07-26T00:48:00.000-07:00</published><updated>2007-08-03T00:50:23.327-07:00</updated><title type='text'>Soal Penggalangan Dana Bagi Perjuangan (untuk Kebenaran).</title><content type='html'>Soal galang menggalang dana ini menjadi ekstra penting di kalangan aktivis yang masih punya idealisme perjuangan di berbagai komunitas perjuangan tanah air. Dari dulu hingga sekarang, ini menjadi semacam kendala, apalagi sejak diterpa krisis. Duit atau dana semakin tidak gampang diperoleh. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Sikon ekonomi yang sulit di dalam negeri, membuat perjuangan2 yang umumnya dilakonkan oleh aktivis pejuang menjadi tidak mudah lancar bergerak, karena 'mobil saja butuh bensin', 'bensin' menjadi berperanan sangat penting. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Kalaupun dibilang saat ini Indonesia punya pertumbuhan ekonomi cukup tinggi 6.3%, masalahnya ada benarnya yang dibilang ISEI/Burhanuddin Abdullah, tidak ada terjadi trickle down ke bawah ke komunitas2 grass roots yang kebanyakan bergerak dengan idealisme. Yang ada trickle-up effects; hanya beberapa gelintir orang di negeri ini, di Singapura dan negara lain yang punya banyak dana/duit yang berkepentingan dengan negeri ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Kebanyakan beberapa gelintir yang punya banyak dana ini, disinyalir kaum neo-liberalis kapitalis malah 'keder' sangat takut dengan yang namanya eksistensi perjuangan idealis komunitas untuk kebenaran. Mereka 'mau bantu' sepanjang kepentingan bisnis dan politiknya di negeri ini yang kebanyakan "ershad capitalism' kebanyakan tidak didasari dengan moral legal politis etis, bisa didukung berkelanjutan. Bisa tetap eksis sebagai 'raja-raja' dan elit2 despot. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Tarik menarik tarik ulur negosiasi dengan aktivis perjuangan kebenaran terjadi, mau kami bantu asal lunturkan idealisme perjuangan. Kira2 begitu bahasa terangnya. Kalau mau genderang perang dengan kami, berhadapan dengan kami, sampai kapan pun anda tidak akan kami bantu. Power uang dan idealisme menjadi terkonfrontir sering secara diametral. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Para aktivis perjuangan, sering tiba pada persimpangan. Mau meneruskan perjuangan idealisme atau berhenti mengurangi daya gebrakan penjebolan ketidak-benaran, ketidak jujuran alias mulai melihat kepentingan "tuntutan hidup", tuntutan hidup keluarga anak isteri, perlu motor mobil, rumah dll dll. &lt;br /&gt;Di sini berkonfrontasi kembali antara kepentingan "panggilan hidup panggilan perjuangan kebenaran" dengan "tuntutan hidup tuntutan perut dan uang kebutuhan sehari2 kebutuhan kesenangan kenyamanan hidup". &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Maka tidak jarang karena sulitnya mendamaikan keduanya (panggilan hidup perjuangan dan tuntutan hidup), para aktivis atau yang dulunya adalah aktivis paling jempolan, memilih jalan realistis paling realistis kata mereka, untuk diam, pasif, tidak berjuang lagi, dan penilaian yang masih committed sebagai "Pengkhianatan" , para pengkhianat2 dari yang paling keji sampai dinilai "aktivis abu-abu", hanya mementingkan perut dan keluarganya sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Diperkirakan di negeri ini yang masih committed terhadap aktivitas perjuangan paling banyak 10% saja, sedang sisanya sudah hilang, tertelan pindah habitat ke tangan2 tidak keliatan yang memegang banyak2 uang. Reformasi sedang bergelinding, menampakkan 'kelas menengah' dan 'kelas bawah' dengan persentase sekitar 50-60% semakin celik sadar dan kritis untuk memihak yang mana. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Perlu sekali memenangkan kaum kelas menengah (menengah atas, menengah bawah), meski pun mereka tidak begitu memiliki dana, bahkan tidak punya dana tabungan untuk masa sekarang), tapi mereka memiliki akses, networking jaringan, keahlian, dst. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Sementara donor2 di luar negeri juga sarat kepentingan politik, ekonomi dan ideologi. Ada yang ke agama (label kristenisasi, islamisasi dll), ke pelestarian tradisi, ke ideologi kiri, dan ideologi neoliberal kapitalis. Jika tidak mau merapat, bernaung dalam ideologi mereka, agak tidak jelas, tidak kooperatif, tidak sesuai dengan syarat2 mereka yang semakin ketat di era sekarang, tidak mungkin untuk dibantu dengan dana apalagi dengan jumlah besar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- Para pebisnis, eksekutif perusahaan, pejabat bumn, instansi dll meliat situasi ini lebih banyak diam, cerdik cari selamat sendiri, pasif. Poltik bisnis etnis, kedaerahan, ideologis, background partai sangat banyak berperan dalam pertimbangan. Walhasil pasif, tidak jela
