Wednesday, April 11, 2007

CD Kaset Album Baru Rohani 2006/2007 The Messangers "Terima Kasih Atas AnugerahMU"

Puji Syukur kepada TUHAN.

Telah diluncurkan CD/Kaset Album Lagu Baru Rohani 2007 The Messangers, dengan judul album "Terima Kasih Atas AnugerahMu" gubahan Hans Midas Simanjuntak dan beberapa lagu ciptaan/gubahan terbaru HMS lainnya.

Berisikan 10 lagu2 rohani:
1. Terima Kasih Atas AnugerahMu.
2. Nyanyi Bagi Raja.
3. Sungai Hidup
4. El-Elohim.
5. Hidup yang Digerakkan Tuhan.
6. Secerah Mentari
7. Haleluya.
8. Oh Tuhanku.
9. Sukacitaku.
10. Kau Angkatku.

Album ini diproduseri DR Ir. Fu Xie (doktor sosiologi UI, alumni IPB Bogor, gembala GKPB Fajar Pengharapan) dan keluarga, dibawah lebel album MDC (Masa Depan Cerah).

Music Arranger: Tommy Harahap.
Lead Vocal: Retno Winarti & The Messangers (Rory, Febby, Ysnu, Nauly Sinaga & Mila)
Recording: Tracking Studio, Indonesia.

Dapat diperoleh di toko2 buku dan musik Kristen terdekat, atau hubungi contact person:
Masa Depan Cerah (MDC)
Jl Pajajaran 2 No. 8, Bogor Indonesia
Telp. +62 251 337 310
Fax. +62 251 320 835
Email: http://us.f356.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=fruit@cbn.net.id
Email: http://us.f356.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=transforma.saranamedia@gmail.com

Harga: Sesuai dengan harga toko buku Kristen, toko musik Kristen.

Tuhan memberkati. Segala kemuliaan hanya bagi TUHAN.

Salam hangat,
Transforma Sarana Media
PPS.

Tuesday, April 10, 2007

Jelang Paskah: Tema Perubahan dan 28 Karya Agung Tuhan Dalam Kita !

Sebentar lagi kita merayakan Paskah (Paska). Kita ingin merayakan Paskah kali ini dalam refleksi dan semangat perubahan di tengah bangsa yang sedang terpuruk seperti sekarang.

Tema perubahan (change, transformasi) memang telah menjadi salah satu tema sentral dalam ranah Kekristenan kita dan ranah pembicaraan publik di tanah air. Tentunya, yang kita inginkan bukannya hanya 'asal berubah', 'pokoknya berubah' (for the sake of change), tapi berubah dengan suatu destinasi yang dimentori terus oleh Sang Sutradara Teragung; Destinasi yang jelas: Hidup dan Kehidupan! Ber-sama2 dengan Tuhan; bersama dengan Kristus, 'marsaor' dengan Tuhan dalam suatu 'Parsaoran Agung'.

Perubahan di mata Sang Sutradara Agung bukannya perubahan fluktuatif ke bawah, tapi perubahan fluktuatif ke atas. Meski kadang kita yang sadar akan adanya keterbatasan, berpersepsi kayaknya sedang ke bawah. Padahal tidak. "The way to up is down" kutipan dari tema sermon Lae/Abang Mangapul Sagala pada akhir 1979 di rumah Kel. Rudy Sihombing, teman KTB NHKBP yang saya ingat. Bukan rancangan "the way to down is up", karena itu akan ke kematian, kehancuran, kejatuhan.

Bukankah Sang Sutradara Agung, sejak kecil sebenarnya sudah merancang kita, yang berkenan dipilihNya, entah kita sadar atau tidak, untuk suatu destinasi agung yang mungkin kita tak pernah bisa membayangkannya; lewat setidaknya 28 karya2 agungNya di dalam kita:

1. Mempertemukan orang tua kita dalam suatu pernikahan.
2. Membentuk janin kita.
3. Menabur benih kebenaran (integrity) di dalam kita.
4. Memprakarsai rasa keingintahuan kita akan Dia.
5. Mulai mencari-cari Dia, dan siapa Dia.
6. Mengetahui dan sadar akan 'Keberadaan' Dia.
7. Menerima realitas Dia dalam diri kita.
8. Menerima kita.
9. Mengampuni dosa2 kita.
10. Menebus kita.
11. Menggantikan kita.
12. Membenarkan (menjustifikasi) kita.
13. Memperdamaikan kita, dengan Dia, dengan sesama, dengan alam.
14. Menyebuhkan kita.
15. Memulihkan (recovery) kita.
16. Membentuk kembali (mereform) kita.
17. Memperbaiki kembali (mereparasi) kita.
18. Memperlengkapi kita.
19. Menyediakan (memprovide) kita.
20. Mendelegasikan sebagian tugasnya kepada kita.
21. Memberikan sebagian otoritasNya kepada kita.
21. Memberi amanat dan pesan pada kita.
22. Mengutus kita.
23. Menyertai kita.
24. Menghibur kita.
25. Menegur kita.
26. Menasehati kita.
27. Menyempurnakan,membuat kita utuh kita seutuhnya.
28. Menghadiahkan kita: hidup 'marsaor' dengan Dia selama2nya.

Biarlah Paskah kali ini, bermakna perubahan. Perubahan yang transformasional. Transformasi menuju destinasi. Destinasi agung: marsaor dengan Dia selama2nya dalam kekekalan! Maka, para sahabat yang nama2nya disebut oleh Bro/Lae Ichwan di postingnya ini dan seluruh sahabat milist, Lihatlah, Dia Menjadikan Segala Sesuatu Baru! Ini berita Paskah transformasional yang pasti menghiburkan Anda dan saya.

Selamat Jelang dan Sambut Paska (Paskah) transformasional!

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Adat Batak dan Demokratisasi.

Adat Batak, sebagaimana adat2 dari etnis lainnya adalah wujud serta ‘produk’ dari kebudayaan peradaban (Batak). Inti budaya Batak sejatinya adalah ‘rasa’ dari manusia2 Batak yang bersifat artistik, teraplikasi dalam seni perilaku orang2 Batak (kebiasaan, tradisi, kelembagaan formal/informal dan prosedur2 ulaon adat Batak seperti peristiwa kelahiran, perkawinan, kematian, dll), tutur-kata (pantun, poda, umpasa), nyanyian2, musik (gondang Batak), tari2an (tortor), pahat/lukis, benda2 seni (ulos, tandok, dll), dan makanan khas tradisional Batak (saksang, dekke naniura, dll) yang ada. Makna (meaning) yang ingin dituju sebetulnya apa? Tak lain menurut saya adalah makna ‘Kenikmatan Rasa’ dan Kebahagiaan (disingkat KRK) melalui terciptanya nilai2 Keindahan (estetika), Keseimbangan, Keselarasan dan Kelestarian (disingkat K-4) sebagai karya postulat etnis orang Batak.

Makna KRK dan nilai2 ‘rasa’ K-4 yang dituju itu, kalau mau jujur tak dapat dipungkiri bersifat relative (bukan ‘harga mati’), tidak mutlak dan permanen (tak seeksak aksiomatis dalam epistomologi ilmu pasti alam), namun dia terus bergerak seturut dinamika perkembangan internal masyarakat Batak itu sendiri seturut jaman/waktu, domain/bidang hidup dan tempat domisilinya (di Bonapasogit atau diaspora/overseas), berikut interaksinya dengan lingkungan eksternal yang mempengaruhi apalagi dikaitkan dengan proses demokratisasi yang berlangsung semakin cepat di abad ini.

Karena bersifat relatif, tidak mutlak itu, maka sebenarnya tidak ada yang dapat mengklaim dari individu, komunitas atau komponen masyarakat Batak itu sendiri bahwa adatnya paling benar, paling baik, paling murni (pure, aseli) dst. Ini berlaku bagi seluruh manusia Batak, ya pemimpin adat, raja adat, juru hata atau warga biasa yang mengaku ‘tau adat’ atau ‘beradat’ atau ‘tau hanya separo-separo adat’ alias ‘nanggung’. Relativitas melahirkan cara pandang adat Batak eksis dalam berbagai varian, versi (ada teman yang menyebut dengan istilah ‘species-species’) terkait menurut angle dan penafsiran tujuan makna dan nilai yang berbeda.

Dalam menyikapi perbedaan2 ini, spiritnya mungkin perlu sama, yang dibutuhkan bukanlah pola2 pemaksaan kehendak, dominansi, hegemoni bahkan eksploitasi dalam opini, musyawarah dan pengambilan putusan2 masalah adat, namun mana yang lebih TBB (tepat/pas, baik dan benar) bisa dipikirkan dan dibicarakan dalam sikap dialog, kompromi, evaluasi kajian dan penafsiran ulang secara dialektis berkelanjutan dari semua pihak yang berkepentingan dengan keseimbangan, keselarasan, pelestarian adat Batak. Dengan demikian, adat Batak tidak perlu membawa pada ekses fanatisme ‘buta’ dari sebagian warganya dan pada sisi lain bisa pula membawa ekses ‘fobia’, anti, rasa out-group dari sebagaian lainnya yang mengakibatkan adat Batak ditinggalkan. Kalau sudah demikian, adat Batak tidak akan sampai dinilai ‘konstituennya’ tidak/kurang indah, tidak sreg, kurang cocok serta tidak bisa memenuhi harapan dan makna tujuan kenikmatan ‘rasa’ dan kebahagiaan (no happiness, no KRK). Ekstrimnya, adat Batak niscaya bisa mengalami keterpencilan, masuk dalam labyrint keterasingan peradaban global (istilah Lavinas) atau bahkan mengalami kepunahan (tinggal menjadi kenangan sejarah) seperti adat species atau suku Hobbit di Flores.

Aktualnya, faktor internal dan eksternal masyarakat Batak, baik yang ada di pojok2 huta, gunung, lembah & desa Bonapasogit (Silindung, Humbang, Tobasa) maupun pinggiran kota dan kota2 megapolitan nasional-global, tak dapat disangkal sedang mengalami perubahan terkait berubahnya tingkat pendidikan (intelektual), religi, ritual dan spiritualitas (eksistensi agama Kristen, Katolik, agama suku seperti Parmalim berikut kehadiran agama-agama/aliran2 kepercayaan lainnya), berubahnya pola mata pencaharian dan background profesi, tingkat social-ekonomi, kondisi politik/birokrasi, eksistensi LSM/NGI, media, peran teknologi multi-media dan berbagai rupa permasalahan lingkungan terkait multi-bencana dan multi-krisis yang sedang menimpa di hampir seluruh wilayah negeri termasuk Bonapasogit serta beberapa bagian dunia. Perubahan ini terkait erat dengan uraian tadi, terjadinya gelombang besar demokratisasi yang sedang melahirkan banyak fenomena2 yang muncul terbalik (“sungsang”) di dalam dan di sekitar komunitas dan manusia Batak.

Meminjam istilah John Locke, adat (tradition) adalah salah satu bentuk juga dari ‘kontrak sosial’. Maka, sepanjang ‘kontrak’ itu dapat tetap dipertahankan, ditinjau atau ditafsir ulang dan dikompromikan dalam proses dialog yang dinamis dan dialektis oleh mayoritas society Batak (desa-kota, tua-muda, pertanian-industri, lokal/nasional/global, original-‘proselit Batak dst) maka kita tidak/jangan pernah merasa takut akan kehilangan jati-diri kita sebagai orang Batak, kehilangan sense of belonging terhadap adat Batak kita, merasa kehilangan makna ‘KRK’ dan nilai2 K4 jika adat (Batak) ‘harus’ mengalami perubahan, pergeseran dan adjustment2. Toh, yang jadi persoalan esensial dalam membicarakan adat (Batak) bukan terletak pada ‘adat Batak ini benar atau tidak ‘ atau ‘murni (aseli) atau tidak’. Tapi apakah sanggup Adat Batak ini membawa makna tujuan ‘kenikmatan rasa’ dan kebahagiaan serta nilai2 keindahan, keseimbangan, keselarasan dan kelestarian bagi yang semua konstituen/warga yang terlibat mengerjakannya. Sehingga, tidak perlu terjadi konflik batin atau konflik-horizontal baik yang ‘terselubung’ maupun terbuka karena sempitnya pola pikir, sikap respek, rasa toleransi dan sikap demokratis.

Walau kita tau tugas untuk membahagiakan dan membawa ‘kenikmatan rasa’ bagi semua pihak (100%), sungguh bukan hal yang gampang, sangat sulit. Namun paling tidak, dalam pola pikir, pola tindak dan sikap kita sebagai ‘warga adat, raja adat, pengamat adat, dll’, kita sejatinya tidak ingin menjadi korban Adat, dan di pihak lain juga tidak ingin mengorbankan orang lain atau pihak lain demi Adat, selain juga.. tidak niat mengeksploitasi Adat demi keuntungan atau ‘credit-point’ diri kita sendiri.

Seperti kita tau, pergumulan2 masalah adat/tradisi seperti ini bukan saja manusia Batak dan adat Batak yang mengalami, tapi juga dialami oleh hampir semua suku di negeri ini (Bali, Jawa, Toraja, Sumba, suku2 di propinsi Sulteng dengan lk. 45 sukunya dan di Papua dengan 251 sukunya), juga dialami etnis Cina/Tionghoa yang baru merayakan Imlek, suku Filipino Tagalog, Arab, Kurdi, Maori, dll).

Yang penting, bukan benar atau murninya, tetapi apakah adat Batak itu pas atau tidak diterapkan.

Upaya reposisi, revitalisasi adat Batak (bukan ‘re-batakisasi) jelas memang harus dikerjakan sebagai ‘ulaon na balga’ bagi seluruh manusia Batak dimanapun dan kapanpun, agar kita bukan terpaku hanya kepada teks dan sejarah historia Batak semata, namun yang penting dan urgen sebenarnya bagaimana ‘kesesuaiannya’ dengan konteks jaman, domain spasial dan tempat. Bagaimana dapat mencari serta meng-adjust nilai2 K4 (keindahan, keseimbangan, keselarasan dan kelestarian) yang ‘pas’ - tidak over tapi juga tidak kurang -, sehingga adat Batak tetap punya daya greget, tidak ditinggalkan fans tapi justru makin bertambah dalam jumlah dan kualitas fansnya karena makin disayangi, diminati, dicintai dan dimiliki. Menjadi salah satu adat (tradisi) di dunia ini yang paling bertahan (survived) dan eksis.

Mudah2an ini mencerahkan dan dapat memberi semangat bagi pentuntasan sejumlah persoalan2 adat Batak lebih spesifik, namun dipandang dalam kacamata/wawasan yang lebih luas (holistik).

Horas jala gabe,

Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Friday, April 6, 2007

Manusia2 Kristen Indonesia Sudah Ada Seperti Muhammad Yunus

Grameen Bank Model mendadak sontak menjadi terkenal, sejak penganjurnya Muhammad Yunus meraih Nobel Perdamaian 2006, berkat karya pengabdiannya bermodalkan awal hanya US$ 27 pada tahun 1970an berhasil melipat-gandakannya sehingga mampu menolong ± 650 ribu rakyat jelata Bangladesh yang tak punya tempat tinggal layak, mendapatkan rumah yang layak-huni. Sekitar 7 juta rakyat miskin dengan beneficiaries (penerima manfaat dampak program/proyek) ± 15 juta orang miskin berhasil ditolong melalui program penyediaan akses kredit dan tabungan harian/mingguan kecil-kecilan berikut system pembinaan & pendampingan kelompok-kecil (terdiri dari 10-20 orang) berkesinambungan selama kurun waktu lebih dari 30 tahun.

Masalah perumahan bagi rakyat miskin dan kemiskinan dihubungan dengan pemberian Nobel Perdamaian, dikarenakan presuposisi Muhamad Yunus bahwa perdamaian di dunia akan terwujud bila masalah “rumah” bagi rakyat banyak dan kemiskinan menjadi sejarah. Sebab akar penyebab dari konflik, peperangan dan kekerasan salah satunya yang paling vital adalah karena ketiadaan “rumah” yang layak untuk memanusiakan manusia, dan kemiskinan: ketiadaan akses dalam banyak hal bagi rakyat banyak untuk menatalayani dan mengambil keputusan bagi mereka dan hidup mereka sendiri. Orang miskin menjadi miskin bukannya karena tidak bisa jujur, tidak bisa dipercaya atau tidak bisa disiplin, tetapi masalahnya adalah ketiadaan akses. Dan ketika orang miskin diberi kepercayaan, melalui kata kunci: kedisiplinan dan pendisiplinan, maka mereka berhasil keluar dari rantai kemiskinannya yang membelenggu melalui upaya-upaya yang dijalankan secara kolektif (system kelompok kecil), di mana upaya atau usahanya mungkin dinilai lembaga formal seperti bank misalnya tidak bankable, namun sesungguhnya viable.

Paradigma, konsep, metodologi dan tindakan kongkrit Yunus sebenarnya sangat sederhana, tapi dalam kesederhanaannya terasa sangat powerful dan berdampak di tengah kompleksitas permasalahan masyarakat dan negara Bangladesh yang terjadi dalam 3-4 dasawarsa terakhir. Tepatnya, dalam kompleksitas persoalan yang dihadapi Yunus berhasil mengambil inti sederhana bagi konsepnya. Meski dalam kesederhanaan konsepnya, terdapat juga kompleksitas detail2 pertimba-ngan dan action yang saling kait-mengkait secara dialektik. Kesederhanaannya itulah yang membuat Yunus diterima dan direcognisi oleh rakyat banyak Bangladesh sebagai ‘bapak bagi orang miskin dan orang papa Bangladesh ’. Penghargaan Nobel Perdamaian yang diterimanya itu hanyalah sebagai implikasi dari karya, karsa dan pengabdiannya yang tanpa mengenal lelah selama ± 4 dekade. Jika pun ia akhirnya masuk dan terjun di bidang politik sebagai jawara Partai Kekuatan Rakyat , Bangladesh sejatinya itu bukan karena ambisinya, melainkan karena aspirasi dari “anak, cucu dan cicitnya” yaitu para orang miskin dan masyarakat banyak di Bangladesh yang telah merasakan manfaat diri mereka tertolong. Sebenarnya kalau mau jujur, dengan konstituen jutaan sampai akhirnya 15 juta, dari dulu tidak susah bagi Yunus jika mau jadi anggota Parlemen (DPR/DPRD) atau petinggi birokrat Bangladesh. Tapi hal itu tidak pernah menarik hatinya. Gaya hidup Yunus yang low-profile hanya punya hati, pikiran dan hidup bagi kepentingan orang miskin dan rakyat banyak yang menderita. Kalaupun lantas ia jadi sangat terkenal bak super-selebriti seperti sekarang, itu karena anasir dan para media promo & public relations di Amerika Utara, Eropa Barat dan Eropa Utara, yang memang kelas wahid dalam bidang promo dan infotainment, yang menggaungkannya ke seluruh dunia.

Nah, itu mengenai Muhamad Yunus dan Grameen Bank Modelnya di Bangladesh. Sekarang bagaimana dengan di Indonesia , dengan manusia2 Indonesia terlebih khusus manusia2 Kristen Indonesia? Sebenarnya kalau mau terus terang, manusia2 kristen Indonesia seperti Yunus berikut model2 yang mirip2 Grameen Bank Model atau yang model serba beda sudah ada, relatif sudah lama ada. Namun, lagi2 seperti Yunus dan manusia2 berbudaya Timur lazimnya. Manusia2 ini belum atau tidak (mau) terkenal. Bekerja dan berkaryanya ‘jauh’ di tingkat basis, tingkat akar rumput (grass roots). Di pojok2 kota , tempat2 kumuh metropolitan/megapolitan dan sudut-sudut bibir dan pesisir pantai. Kemam-puan promo dan public-relations mereka terbatas atau lebih tepat mungkin sengaja membatasi diri. Tidak begitu suka teriak-teriak. Lebih banyak ‘bicara’ dalam perbuatan. Diam dalam aktivitas. Aktivitas seabreg. Sederhana dalam njlimet. Njlimet dalam kesederhanaan. Apalagi waktu jaman Pak Harto, 15-20 tahun paruh kedua masa pemerintahan sang otoriter. Berbeda dan sikap tidak mau cari muka, sangat sulit. Teriak nanti salah, konfrontatif berabe, jadi lebih baik diam. Diam dalam kreativitas dan produktivitas. Menjelang dan paska orde reformasi bergulir, kadang masih keterusan diam. Sebenarnya itu sudah tidak pas, tidak boleh. Saatnya harus speak-out. Berteriak lantang, promo, unjuk karya yang telah lama dihasilkan. Namun, nyatanya agak canggung ‘mereka’. Entahlah. Mungkin karena kebiasaan terlalu lama diam, jadi kikuk sekarang untuk berbicara. Diam jadi hobby, kegemaran. Jadi keranjingan, bukan keranjingan bicara tapi keranjingan diam.

Akhir dekade 1970an sampai 1980an, aktivis manusia2 kristen Indonesia mirip Yunus dengan model pendekatan kayak Grameen Bank Model itu sudah mulai eksis dan berkarya secara konsisten, tidak pernah stop. Ada yang alumni perguruan tinggi, ada yang tidak. Ada dari UGM, IPB, Unpad, UKSW, Udayana, Sanata Dharma Yogya & Semarang. Ada dari masih banyak lagi perguruan tinggi baik swasta maupun negeri, lulusan domestik dan luar negeri yang tak tersebutkan namanya. Juga dari lembaga2 pembinaan kader dan motivator, seperti Dharma Cipta, Pusat Latihan Kemotivatoran Cikembar, Bina Dharma, Pusat Latihan Alfa Omega, dll. Umumnya mereka merintis dan memulai karya sejak muda. Sejak lulus sarjana, sarjana baru lulus. Dari magang-magang dahulu. Sampai akhirnya jadi terampil dan excellent. Pada masa ini, mereka banyak berkarya seperti di Yogya, Bogor, Loa Majalaya, Salatiga, Semarang, Surabaya Jatim, Bali, Sulsel, Bengkulu, Sumbersari Sulteng, Kupang Timor dan daerah2 lainnya. Mereka berkarya dalam metodologi2 dan model2 alternatif di kawasan marjinal, miskin dan tertinggal, akibat tidak adanya perhatian Pemerintah kala itu akibat strategi kebijakan Pemerintah di bidang pembangunan, yang tidak memihak pada kepentingan rakyat banyak. Program atau proyek yang dilakukan adalah kegiatan relief, livehood, social-actions, pemberdayaan komunitas masyarakat marjinal, berupa perbaikan sarana umum, sosial, sanitasi lingkungan, dll disertai pelatihan-pelatihan (training), pendampingan, penyuluhan, konsultansi di bidang pertanian, peternakan, jasa-jasa usaha kecil dan sektor informal. Usaha-usaha itu dibarengi dengan bantuan untuk akses pinjaman modal usaha kecil dari lembaga-lembaga yang menyalurkan pinjaman tersebut (koperasi, LSM, bank desa dll). Sumber dana jarang berasal dari Pemerintah, umumnya kalau ngga keluar dari kantong sendiri, dapat bantuan sekadarnya dari donatur domestik dan funding luar negeri.

Tahun 1990an lambat laun, usaha-usaha dan karya mereka makin berkembang. Cukup banyak masyarakat kecil dan komunitas marjinal, kalau agregat dijumlah ratusan ribuan keluarga dan individu berhasil ditolong dan merasakan manfaat dari proyek/program mereka. Responsnya semakin banyak agency dan donatur menawarkan bantuan. Lalu untuk mengantisipasi perkembangan, agar memudahkan pengorganisian proyek/program mereka membentuk jaringan2 (network), jaringan kerja. Ada jaringan untuk Indonesia Bagian Barat, ada untuk Indonesia Bagian Timur (IBT/KTI). Ada jaringan untuk di Jawa, ada di luar Jawa. Program semakin berkembang, sampai di Pangkajene, Maros, Soppeng, Ujung Pandang, Barru dan pulau Selayar, Bali Barat, Bali Utara, Bali Timur, kawasan kumuh Jabotabek, Toraja, Ambon, Kendari, Timor, Timor Timur (sekarang Timor Leste), Bengkulu Utara Pagar Alam, Palu, Gorontalo, Minahasa, Halmahera, dll. Terkait dengan bencana (gempa, tsunami, banjir bandang, dll) mereka mengggarap program bencana & paska bencana di Aceh NAd, Nias, Yogya/Bantul & Klaten, Pangandaran, Alor NTT, Mamasa, Nabire dan beberapa daerah lainnya di Papua dan Irjabar. Peta programnya mencakup area luas sekali. Maklum, tipikal geografis negeri kita (luasan daratan, lautan dan panjangnya garis pantai) ini memang sangat berbeda dengan negerinya Yunus, Bangladesh misalnya yang 'hanya' berupa segumpal daratan bagian dari anak benua dengan garis pantai relatif pendek.

Tahun 2000an memasuki era Reformasi paska jatuhnya Orde Baru, terjadi relatif banyak perubahan dari mereka dan program mereka, seiring bangsa dan negeri ini mengalami berbagai perubahan transisional yang rumit dan cukup pelik. Krisis moneter sejak 1997 yang diiringi krisis leadership, krisis multidimensi dan multi bencana (swalayan bencana) harus dialami oleh bangsa, yang datang silih berganti. Tragedi bom (Bali, JW Marriot, Kedubes Australia Jakarta), kerusuhan2, aksi kekerasan, konflik horizontal, longsor, gempa bumi, Tsunami Aceh-Nias, kenaikan meroket BBM, penyakit ‘model baru’ dan banjir terjadi silih berganti dan berurutan, yang mengakibatkan banyak korban rakyat kecil menderita dan bangsa mengalami keterpurukan yang dirasakan di hampir seluruh pelosok dan pojok2 Nusantara. Keadaan, sikon ini, ada yang menyurutkan stamina daya tahan ‘mereka’ dan program ‘mereka’ bahkan ada yang telah mengakhiri pertandingan sampai finish dengan baik. Namun ada, malahan banyak, yang masih bertahan dan eksis sampai sekarang. ‘Mereka’ ini adalah orang2 yang telah teruji, proven, melewati badai dan gelombang, terik matahari dan hujan sampai banjir, melewati gunung dan lembah. Dalam segala kelebihan, kehebatan dan kekurangan ‘mereka’.

Sebagian mereka saya kenal. Kalau boleh dibilang kenal baik. Personal. Sebagian lagi kurang saya kenal, dalam artian tidak/kurang dekat. Tapi saya respek, appreciate terhadap karya dan karsa mereka yang excellent. Keberadaan ‘mereka’ membuat saya yakin, sangat sangat yakin bahwa di negeri ini masih ada, pernah ada dan sudah ada manusia2 kristen Indonesia seperti Muhammad Yunus. Ada dengan model varian2 yang mirip Grameen Bank Model dan varian2 yang sama sekali berbeda modelnya namun tujuannya sama, mengentaskan kemiskinan dan kebodohan guna menciptakan perdamaian melalui cara2 yang spesifik dan khas.

‘Mereka’ secara esensi sekualitas dengan Yunus. Sekualitas dengan Jaime Aristoteles di Quezon City Filipina. Sekualitas juga dengan leader2 inspirasional dari ASA India, dari Accion Bolivia , dari K-Rep Kenya . Yang membedakan hanya waktu untuk ‘tampil’. Secara khronos sudah. Punya jam terbang, skills, integritas dan worldview. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah “khairos”. Momentum untuk tampil dan unjuk kinerja. Kalau tidak sekarang, ya mungkin beberapa tahun ke depan ini. Menunggu waktu Tuhan, momentum publik dan momentum hati.

Masih ada harapan!

Salam perdamaian,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Wednesday, April 4, 2007

Tantangan Masa Kini Theologia Orthodox Tradisional (Terkait Artikel Pdt Iones Rakhmat)

Tulisan saya ini menanggapi posting Bung Andry Pakan di milist DH di bawah judul "Menyikapi Artikel Iones Rakhmat, Kompas 5 April 2007".

Soal artikel dan tulisan2 Bung Iones Rakhmat klerus/pendeta GKI dan dosen STT Jakarta selama ini memang menjadi salah satu tantangan cukup pelik bagi Gereja2, ministry2 tmsk Perkantas/PMK dan komunitas2 kristen lainnya yang setia mencintai/ mengakui otoritas Alkitab, Bible-base sebagai otoritas kebenaran tertinggi untuk kehidupan, terutama di bidang hermeneutik.

Lapangan bibliologi & prolegomena, spiritualitas, hermeneutik, sejarah theologi dan khasanah sejarah arkeologi biblika kristen di negeri ini kini bila ditelusuri ternyata bukan lagi hanya 'didominasi' oleh pure theological conservative hermeneutics. Tapi kini juga didominasi oleh teologi-politik hermenetika, filsafat-hermeneutika, sosial hermeneutika, community hermeneutics dan public hermeneutics. Tantangan yang dihadapi Theologia Orthodox Tradisional masa kini, kian nyata!! Kalau tidak ingin mengatakan, 'hare gene' banyak sekalia varian hibrid theologia hermeneutic ditemui, campur2 oleh karena makin saling kait-mengkaitnya 'beda tipis' antar cabang disiplin keilmuan, spektrum spiritualitas, sejarah dan model keimanan di negeri ini: lingkungan gereja, ministry dan masyarakat.

Di sisi yang lain, tantangan2 multi-threats yang dihadapi Gereja, ministry seperti Perkantas/PMK/ alumni dan komunitas2 kristen di era perubahan cepat seperti ini, bukannya sedikit. Kajilah fenomena2 seperti ini:
- Da Vinci Code dan buku2 yang sangat banyak terbit kini di Gramedia?
- Gereja/Kristen: konvensionalisme, evangelikalisme, karismatisisme atau postmodernisme?
- spiritualitas (kerohanian) dan spiritualisme?
- Islam, kristen, sekularisme barat atau generasi dangdut?
- Pembangunan jemaat (pendekatan) : spiritual, ekonomi atau sosial?
- pengentasan kemiskinan: jemaat dulu atau masyarakat dulu?
- Politik gereja/ministry: high-politics atau low-politics?
- Politik gereja/ministry: inward looking versus outwork looking?
- pluralisme atau singularisme agama?
- denominasi: self -denominasi oriented, inter-denominasi atau non-denominasi?
- comfort zone: aktualisasi status versus agen transformasi?
- demokrasi: kebenaran ada di golongan rakyat yang mana?,
- demokrasi atau kembali ke model-gaya otoriter/otoritaria nisme, atau kembali ke gaya militerisme,
- struktur organisasi dan kepemimpinan kristen/gereja: struktural formalisme/papalism e vs fungsionalisme vs organik (lingkaran).
dll. dll.

Kalau mahasiswa kristen, alumni kristen, PMK/Perkantas, penatua/diaken/ penilik, penyandang dana berikut leaders2 dan fasilitator2 lainnya dalam gereja/ministry hanya memikirkan 'lingkaran sendiri', inward looking, gaya safety-player, nyaman sendiri (sudah merasa puas dengan keadaan), feel established, mapan; dari kemapanan yang satu pindah cendrung pindah ke kemapanan yang lain, sibuk ditelan kesibukan (dalam tulisan hiragana Jepang sibuk dibaca dari bawah berarti 'kematian), maka...: yah.. sama saja, tidak akan hasil dan dampak apa2 kecuali kemunduran.. , keterpurukan, just as 'menara gading', hanya 'menang nama', kecuali akan tetap terus jadi garam namun jadi "gudang garam" yang ditumpuk2 terus di gudang2 sendiri, lama2 jadi busuk, pembusukan dari dalam. Takada pengaruh, tak ada change, tak ada revitalisasi/ reposisi dalam arti sesungguhnya.

Kembali ke soal kesadaran, kecerdasan menilik jaman dan situasi. Celik atau tidak mata hati dan rohani kita. Persoalan celik-mencelikkan ini dan kecerdasan nilik-menilik, harus menjadi tugas kita bersama.

Salam hangat,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:

Peran Buletin & Semangat Kualitas Kristen: Harapan Serta Masukan2 untuk Buletin Narhasem Di Ultah ke-3 (4 April 2007)

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Buletin Narhasem HKBP Semper Jakarta yang ke-3. Horas ma di hamu sude seluruh Tim Buletin. Performa suatu buletin mampu melangkah sampai tahun ke-3 penerbitan dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, bagi saya merupakan suatu prestasi. Proficiat! Saya ingat perkataan Yesus: “Barangsiapa setia pada perkara2 yang kecil, ia setia juga dalam perkara2 besar (Luk. 16:10). Dari perkataan Tuhan kita ini, saya meyakini selalu bahwa suatu karya besar mulanya dimulai dari karya kecil. Semua karya legend dan lahirnya tokoh legend yang tercatat dalam sejarah Alkitab (PL & PB), sejarah gereja maupun sejarah dunia selalu dimulai dari suatu karya kecil. Setia dalam hal kecil. Kecil nan indah. Small is beautiful. Micro is beautiful. Namun kemudian, melalui ketekunan, doa, iman, ketaatan, konsistensi dan pengharapan, atau dalam simpulan dua hal sederhana ‘komitmen kesetiaan’ dan kuasa penyertaan Tuhan, maka karya itu akhirnya mampu bertumbuh dan berbuah menjadi karya besar. Menjadi ‘masterpiece’, yang dikenang dalam sejarah dan menjadi berkat bagi banyak orang melintasi tempat, domain dan waktu.

Kedua, menurut pengamatan saya Buletin Narhasem sampai sejauh ini sudah menunjukkan pertumbuhan dan penampakkan hasil (buah) dari suatu proses yang cukup pas, baik dan benar. Ini bila saya ikuti dari mulai terbit perdana hingga memasuki tahun penerbitan ke-3. Itu yang antara lain membuat saya selalu antusias bilamana Tim Redaksi meminta saya untuk berkontribusi mengisi/ menyumbangkan artikel, maka saya dengan sukacita melakukannya. Jika ditelusuri sebenarnya tidak sedikit buletin atau majalah kristiani di Jakarta serta di beberapa daerah lain yang pernah terbit. Namun memasuki 2-3 tahun penerbitan biasanya mengalami kesulitan sehingga gagal terbit, yang berakhir pada kematian alias ‘gugur’ ditelan jaman. Layu sebelum berkembang. Tidak berbuah. Rupa-rupa alasannya, ada karena kreativitas yang sudah ‘mentok’, berubahnya arah visi buletin/majalah, tim redaksi yang sudah tak solid bekerja, alasan pendanaan/biaya, tiadanya impresario (promotor/ pembina/sponsor yang punya beban dan hati), dll. Untuk hal ini, saya jadi teringat juga dengan perumpamaan Yesus tentang pohon ara yang tidak berbuah dalam Luk. 13: 6-9 “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! (ayat 7b). Itulah realitasnya: ‘pohon’ yang tidak berkembang dan berbuah, dalam konteks ini dikatakan 3 tahun, terpaksa harus ditebang!

Sangat disayangkan memang. Namun, Buletin Narhasem menurut hemat saya tidak seperti ‘pohon ara yang tidak berbuah itu’. Justru sebaliknya. Buletin kita ini saya pandang telah mampu survived dengan segala keterbatasannya. Mampu bertumbuh, dan kini sedang berkembang, siap berbuah. Karena apa dan selama apa? Karena saya lihat masih ada komitmen kesetiaan dari Tim Buletin di dalamnya. Karena selama ini pun masih dirasakan adanya kuasa penyertaan Tuhan di dalamnya. Eben Haezer: sampai di sini Tuhan (masih) menolong kita! Ini dasar kita untuk bersyukur. Dua hal ini: komitmen kesetiaan dan penyertaan Tuhan, menjadi kunci sebenarnya bagi Buletin Narhasem ke depan dapat membangun keberhasilan terbit ‘semakin hari semakin baik’ untuk maksud tujuan sesuai mottonya selama ini: Hanya untuk kemuliaan Tuhan (“Just for the glory of the Lord”). Orang bijak pernah bilang: “Kalau yang lebih baik masih memungkinkan, baik itu belum cukup”. “If better is possible, the good is not enough”.

Hal ketiga, untuk menjadi ‘semakin hari semakin baik’ (getting better) itu, tidak dapat tidak Buletin Narhasem perlu terus memiliki semangat improvement yaitu semangat perbaikan terus menerus) sambil tetap bersyukur dan bersyukur pada Bapa. Jangan cepat merasa puas diri dengan hasil yang sudah dicapai, namun tidak pula mau tinggalkan ucapan syukur kepada Tuhan. Inilah semangat kualitas kristen. Teladan ini bisa kita lihat contohnya pada upaya & karya ‘sang pembangun’ Nehemia dalam PL dan Rasul Paulus dalam PB. Juga bapa2 gereja kita dan tokoh2 penting yang mewarnai dunia, termasuk di tanah air kita. Tidak heran bila karya dan kehidupan mereka bukan saja dinilai berhasil namun juga mampu memberi dampak luar biasa!

Keempat, secara prinsipil dan praktis menurut saya spirit kualitas kristiani (semangat improvement dan bersyukur atas kemurahan Kristus) sangat mungkin dikembangkan untuk Buletin Narhasem. Sekaligus saya sampaikan sebagai harapan dan masukan2 di ultah yang ke-3 Buletin tercinta ini :

1)Buletin Narhasem perlu membangun terus keunikannya sendiri sambil mengucap syukur, di tengah pluralitas/banyaknya macam ragam buletin/majalah kristen yang ada di tengah2 khasanah pembaca.

Ciri khas (uniqueness, singularitas) sangat diperlukan di tengah pluralitas/macam ragam buletin dan majalah kristiani yang terbit di tengah2 pembaca dewasa ini, baik dalam lingkup HKBP, dunia kristen dan umum. Saya kira Buletin kita ini sejatinya sudah punya ciri khas, yakni isinya yang cukup berbobot, ‘tidak kacangan’, layak ‘dilirik dan dibaca’, cukup sarat dengan worldview/cara pandang dan pengajaran Kristen serta bernuansa komunitas Batak. Namun perlu dipikirkan, apa yang membuat ‘berbeda’ (tampil beda) bagi pembaca dengan buletin/majalah lain yang berciri hampir sama menghindari duplikasi, seperti misalnya Warta HKBP terbitan Distrik Jawa-Kalimantan, dll. Selain itu apa yang menjadi ‘keunikan’ atau ‘kelebihan’ Buletin cetak kita ini yang masih perlu dibangun, dalam kaitan dengan tumbuhnya media2 ‘buletin elektronik’ berupa group-group milist di internet bernuansa kristen-batak, yang dapat menjadi pertimbangan pembaca dalam meme-nuhi kebutuhan mereka. Apakah malahan bisa menjadi hubungan komplementer, saling mengisi dan bekerjasama.

2)Buletin Narhasem perlu menetapkan strategi pemilihan sasaran pembacanya lewat doa dan ucapan syukur serta pertimbangan2 rasional.

Dengan nilai ajaran kristen dan nuansa bataknya, sebenarnya Buletin Narhasem sudah memiliki sasaran pembacanya tersendiri dan ini patut disyukuri. Dalam istilah lain, Buletin kita ini sudah memiliki “ceruk” (niche) sendiri dan itu baik adanya. Kini tinggal melakukan strategi pemilihan sasaran ceruk ini saja: ingin melakukan penetrasi dan/atau mem-perluasnya.

a.Penetrasi sasaran, maksudnya tetap pada sasaran kategori pembaca naposo dan remaja, namun ke depan tidak saja untuk konsumsi naposo/remaja HKBP Semper tapi melakukan penetrasi juga untuk para naposo/remaja HKBP2 lainnya misalnya dalam lingkungan Distrik 2 Jakarta.

b.Perluasan sasaran, maksudnya tidak hanya pada sasaran kategori pembaca naposo dan remaja, namun ke depan memperluas sasaran untuk huria secara keseluruhan. Bukan hanya untuk konsumsi huria HKBP Semper, tapi juga untuk huria2 HKBP lainnya, misalnya dalam lingkungan Distrik 2 Jakarta.

Strategi yang dipilih akan mengandung konsekuensi kepada perubahan nama buletin, topik, tema2 artikel, cara serta gaya penyajian informasi dan tampilan fisik (cover, isi), dll. Dan pemilihan strategi berikut sasaran pembaca ini, secara aktual akan sangat membantu Buletin kita memosisikan dirinya secara pas sesuai visi misi serta kebutuhan dan harapan (ekspektasi) pembacanya.

3)Dari segi isi (content) Buletin Narhasem diharapkan bisa terus menjaga bobot isinya agar pembaca dapat memperoleh informasi, artikel, masukan, news (berita) yang bermanfaat dan mencerahkan terutama untuk tujuan pendewasaan iman percaya jemaat kepada Kristus, Tuhan kita. Esensi dari pemberitaan kristiani baik melalui media lisan maupun tulisan sejatinya adalah untuk terjadinya perubahan/ pembaharuan mindset menuju ke arah kedewasaan penuh di dalam Kristus (Roma 12: 2, Ef. 4: 13).

4) Peran editor ke depan dirasa semakin penting, guna meningkatkan pengerjaan tugas pengeditan, penyelarasan dan harmonisasi isi (content), topik dan materi bulletin sehingga menjadi sebuah kesatuan penyajian yang utuh dan enak dibaca bagi pembaca, dalam bahasa, gaya dan genre yang pas.

5)Dari segi tampilan Buletin, saya kira soal tampilan ini masih bisa dilakukan perbaikan-perbaikan tentunya disesuaikan dengan keunikan dan strategi pemilihan sasaran pembaca yang mau ditetapkan. Beberapa hal yang menjadi masukan:
Ukuran Buletin mungkin bisa diperbesar sedikit, agar memperluas ruang dan memperbesar huruf agar lebih mudah dibaca. Cover bila anggaran dana memungkinkan, bisa dibuat dalam bentuk soft-cover dengan bahan yang lebih baik.
Desain cover dapat di-improve menjadi lebih tampil menarik.
Bentuk dan besar huruf untuk seluruh artikel tidak berbeda. Namun untuk yang non-artikel atau kolom2 lain bisa lebih besar atau lebih kecil.
Bagi saya pribadi, kemasan penting namun kemasan tidak lebih penting dari content (isi)nya. Saya banyak menemui bulletin-buletin atau majalah, yang dari segi kemasan bagus, namun sayang (maaf) isi/contentnya tidak begitu bermutu. Informasinya pun kurang valid dan reliable. Maka, harapan saya Buletin Narhasem ke depan tetap lebih mengutamakan mutu isi/content, kemasan meskipun penting menjadi nomor dua.

6)Dari segi biaya/ongkos penggantian harga, saya kira sudah waktunya Buletin Narhasem jika mungkin menetapkan penggantian ongkos cetak atau harga kepada para pembacanya. Hal ini dimungkinkan, bila kelak kelompok sasaran pembaca Buletin Narhasem sudah semakin jelas dan luas. Kebijakan harga ini adalah suatu bentuk apreasiasi atau penghargaan para pembaca terhadap suatu karya yang telah dihasilkan oleh Tim Buletin Narhasem. Hal ini sekaligus upaya edukasi terhadap pembaca Kristen cq HKBP agar bisa menghargai terhadap karya2 bacaan yang bagus dan membangun.

7)Dari segi pendistribusian, sudah mulai dipikirkan dari sekarang. Dengan cara apa agar Buletin Narhasem dapat terdistribusi secara efisien dan efektif. Faktanya banyak karya bacaan bagus tetapi kurang berhasil dalam pendistribusian, sehingga tidak banyak dirasakan manfaatnya oleh para pembaca. Mudah-mudahan melalui upaya lebih terencana, Buletin Narhasem dapat sampai ke tangan pembaca tepat waktu dan tepat sasaran (entah itu kategori remaja/naposo atau huria secara umum; atau di kalangan HKBP Semper atau HKBP2 yang lain). Perlunya contact-person di berbagai kategori dan huria perlu dilakukan, apabila Buletin ini akan menjangkau segmen pembaca yang lebih luas.

8)Dari segi komunikasi dan promosi, ini juga penting dilakukan. Banyak cara agar kehadiran Buletin Narhasem semakin disadari dan dirasakan oleh khalayak pembaca remaja/naposo atau huria. Bisa melalui komukasi verbal di huria, lewat pengumuman, melalui para contact-person yang ditunjuk atau melalui komunikasi mulut-ke mulut (word mouth communications). Bisa juga melalui cara presentasi oleh Tim Redaksi pada waktu2 khusus di kelompok2 calon sasaran pembaca. Cara lain bisa melalui info SMS atau pemanfaatan milist-milist internet untuk menggugah hati sasaran pembaca mendapatkan dan membaca Buletin.

9)Dari segi pendanaan (funding). Selain melalui dukungan anggaran yang tersedia di huria dan dana yang diperoleh dari penggantian ongkos cetak dari pembaca, Tim Buletin seyogianya memikirkan upaya-upaya penggalangan dana untuk Buletin. Berbagai cara bisa ditempuh. Antara lain melalui pemuatan ‘iklan’ dari pembaca yang mungkin memerlukan sarana promosi, kegiatan2 bulan dana untuk Buletin, pengajuan proposal kepada pihak2 yang peduli terhadap eksistensi Buletin sebagai bentuk tanggung-jawab sosial mereka terhadap pembinaan media, huria, generasi muda (remaja & naposo) dan masyarakat.

Akhirnya sekali lagi saya mengucapkan Selamat Ultah ke-3 bagi Buletin Narhasem. Kiranya berkat dan kemurahan Tuhan senantiasa menaungi dan menyertai seluruh Tim Buletin Narhasem dalam menapaki hari-hari ke depan dalam semangat pengharapan yang tak pernah pudar dan semangat kualitas Kristen.

Bravo Buletin Narhasem! Soli Deo Gloria!

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Monday, April 2, 2007

28 Kualitas Kepemimpinan yang Sangat Dibutuhkan bagi Pemimpin/Pemimpin2 Indonesia di Berbagai Bidang Pada Masa Sekarang.


Topik kualitas kepemimpinan tak pernah surut.
Soal kualitas kepemimpinan rupanya menjadi topik bahasan yang tidak pernah surut di mana pun, kapan pun, oleh siapapun dalam bidang/domain apapun dan oleh siapa pun. Banyak contoh. Termasuk terkait masalah di Timur Tengah (Palestina), syarat gelar S-1 untuk calon Presiden dalam RUU, kasus penggantian direksi Jamsostek, kasus2 yang menimpa sejumlah partai, lembaga agama, LSM/NGO dan perusahaan swasta, dll.

Banyak buku yang membahas soal kualitas kepemimpinan.
Banyak buku, ulasan di media cetak, internet, blogger mengulas sisi ini. Ditinjau dari berbagai sisi: theologi, spiritual, manajemen, psikologi, social, dll. Simaklah tulisan John C. Maxwell, Pozner, Kaplan, Robbins, D. T. Regan, Robert Clinton, Oswald Sanders, Peter Wagner, juga penulis/pembahas domestik seperti Sayogyo (soal peran pemimpin informal), Renald Kasali, P. Octavianus, Y. Tomatala, dll tentunya sesuai dengan persoalan dan konteks yang mereka angkat. Semua tidak lepas mengaitkannya dengan kualitas kepemimpinan.

Pandangan 100 narasumber Indonesia tentang Kualitas Kepemimpinan.
Berikut adalah hasil pandangan dari 100 nara sumber dari berbagai kalangan orang2 Indonesia sendiri mengenai urgen dan pentingnya kualitas kepemim-pinan. Diperoleh melalui metoda focus-sharing interviews (FSI), dalam bentuk pertanyaan terbuka/interaktif. Dari rangkuman kualitatif diperoleh ada 28 kualitas yang sangat dibutuhkan oleh Pemimpin/pemimpin2 Indonesia di berbagai bidang pada masa sekarang.

28 Kualitas Kepemimpinan yang Dibutuhkan Sekarang:
Inilah Ke-28 Kualitas Kepemimpinan yang benar2 sangat dibutuhkan saat ini, adalah sbb

1. Mengakui (secara terbuka maupun tidak), adanya otoritas yang lebih besar/lebih tinggi, utamanya adalah otoritas tertinggi yaitu Tuhan, Khalik alam semesta. Kepemimpinan berarti takut akan Tuhan, ketakwaan kepada Tuhan YME.

2. Punya integritas (kejujuran, ketulusan dan kebenaran); tidak munafik/hipokrit, tidak suka kebohongan atau ‘tipsana-tipsini’ (tipu-daya). Kepemimpinan berarti kejujuran.

3. Teguh memegang janji, tidak suka ingkar; sehingga bisa dipercaya (trustable). Kepemimpinan berarti kepercayaan.

4. Setia, konsisten pada amanat (amanah), panggilan dan bertanggung-jawab (moral, responsibilitas, akuntabilitas). Kepemimpinan adalah amanat, suatu panggilan dan tanggung jawab.

5. Visioner: punya visi, misi, wawasan dan strategi yang jelas, jauh ke depan. Kepe-mimpinan adalah misi.

6. Punya komitmen, disiplin, keteladanan, menjadi contoh/panutan; totalitas dalam pengabdian. Kepemimpinan adalah sejenis ibadah dalam lapangan kehidupan.

7. Punya jiwa seni dan keindahan (estetika); kesejatian, tidak artificial/dibuat-buat secara keterlaluan atau berlebihan (over-acted, ‘katro’, ‘kampungan’); sehingga kepemimpinan mampu membawa pesona & kekaguman yang wajar. Kepemim-pinan adalah seni dan kewajaran.

8. Mampu menjadi perekat seluruh elemen; mampu mempertautkan banyak perbedaan dan kepentingan banyak pihak, yang kadang saling berlawanan. Kepemim-pinan berarti merekatkan, mem-persatukan.

9. Kasih, penyayang dan toleran; mampu/mau memaafkan kesalahan orang lain. Kepemimpinan adalah kasih dan penyayang.

10. Punya jiwa ‘ngemong, melayani; tidak sombong/arogan, rendah hati. Kepemim-pinan adalah pelayanan.

11. Cerdas (intelligent), arif, bijaksana; tidak ceroboh dalam mengambil keputusan. Memiliki kemampuan2 konseptual (conceptual skills), entrepreneurial (entrepreneurial skills) dan manajerial (managerial skills). Kepemimpinan membutuhkan kecerdasan dan kapabilitas/ keterampilan.

12. Punya kesadaran, pemahaman dan ketaatan kepada hukum dan ketertiban, bertanggung-jawab (lawful) yang membawa pada kehidupan yang beradab (civilized). Kepemimpinan menuntut kesadaran, pemahaman, ketertiban (ordered) dan tanggung jawab hukum/yustisial.

13. Menghargai, menghormati (respek) kepada setiap orang, punya sopan-santun, tata-krama dalam nilai2 yang universal; tanpa memandang warna kulit, suku, agama, agama dan perbedaan2 kondisi dan latar belakang. Kepemimpinan berarti respek, hormat dan santun kepada semua orang.

14. Punya moral, etika; menolak segala upaya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang dianggap baik sekalipun; tidak suka (benci, menolak) kebiasaan suap, segala bentuk penyelewengan (kekuasaan, wewenang, tata-aturan dan kepercayaan), bentuk2 korupsi/KKN, serta bentuk2 kekerasan/kekejaman, kejahatan dan kebiadaban. Kepemimpinan adalah moralitas, menuntut tanggung jawab moral dan etika.

15. Punya hati nurani, keadilan dan bersikap realistis; rasa empati yang tulus terhadap kepentingan dan persoalan yang dihadapi banyak orang/banyak pihak atau rakyat banyak, terlebih mereka yang hidup susah atau dalam kesulitan dan menderita. Mau mengerti, memahami dan menerima secara realistis, realitas keadaan yang sebenarnya. Mampu bersikap/bertindak adil berdasarkan hati-nurani, tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih (like and dislike) atau kebijakan ‘tebang-pilih’; yang bersalah siapa pun dia harus dikenakan sanksi/penalty/hukuman, dan yang benar layak diberikan reward atau penghar-gaan. Kepemimpinan menuntut hati nurani, rasa empati-penerimaan dan keadil-an (fair, justice).

16. Punya kreativitas dan kecerdikan (smart). Mampu mengubah problema, kelema-han dan kesusahan menjadi peluang/kesempatan untuk maju secara bersama. Mampu mengelola dan memanfaatkan kekuatan dan sumberdaya yang ada untuk peningkatan kinerja dan kemajuan bersama. Kepemimpinan menuntut kreativitas dan kecerdikan.

17. Punya keberanian, mentalitas dan hati yang kuat; tidak mudah tergoyahkan oleh godaan, tantangan dan ancaman, sebaliknya mampu membaca peluang serta mengelola/ memanfaatkannya untuk kemajuan bersama. Kepemimpinan menun-tut keberanian dan keteguhan hati.

18. Punya kelembutan hati, jiwa besar; tidak cepat reaktif untuk membalas; sudi mengalah, sudi mendengar/menerima segala kritik sepedas apa pun, dan selanjutnya mampu mengelolanya untuk tujuan pengembangan dan kemajuan bersama. Kepemimpinan menuntut kelembutan hati, jiwa besar dan kesudian menerima kritik.

19. Punya niat, tekad dan etos bekerja yang excellent; kemauan serta kemampuan untuk bekerja keras, serius, tekun dan profesional dalam memimpin dan berjuang; mengurangi sampai sedikit mungkin tingkat kesalahan, niat dan semangat memperbaiki (improve-ment) dan terus bertekad membangun, mengulangi serta meningkatkan keberhasilan; tanpa kenal lelah, tidak cepat merasa bosan, guna mencapai hasil dan kemajuan yang memuaskan. Kepemimpinan menuntut niat, tekad serta etos kerja yang profesional.

20. Punya jiwa bekerjasama, koperatif, interdependence, team-spirit; tidak egois; tapi selalu ingin berusaha dapat bekerja bersama dan memperluas network (jaringan) untuk kemajuan dan kepentingan/ kesejahteraan semua pihak, terlebih rakyat banyak. Kepemimpinan menuntut jiwa kerjasama, ketersaling-tergantungan dan network.

21. Bersemangat, antusias (esprit), penuh motivasi untuk maju secara bersama; berpikir positif (positive-thinking), tidak cepat mengeluh dan selalu mengucap syukur dan semangat selebrasi meski berada di tengah kondisi, situasi dan suasana sulit sekalipun. Kepemimpinan membutuhkan semangat penuh motivasi, positive thinking, ucapan syukur dan selebrasi (celebration).

22. Punya jiwa menghibur, humoris dan semangat keterbukaan; mampu membuat suasana dan sekeliling menjadi gembira, terbuka, cair, ada relaksasi, penyegaran dan perasaan nyaman (comfort) sehingga membuat banyak pihak atau seluruh pihak sedia untuk meneruskan perjuangan bagi kemajuan bersama. Kepemim-pinan membutuhkan kemampuan menghibur serta membuat orang gembira dan penuh keterbukaan.

23. Punya latar belakang keluarga, hidup keluarga (suami-isteri-anak) yang baik, harmonis (akur), terhormat dan sehat. Hidup pergaulan, interpersonal, ‘human-relationship’ yang baik dan sehat dalam komunitas, masyarakat dan berbagai kalangan luas. Kepemimpinan menuntut background keluarga yang baik, harmo-nis dan sehatnya kehidupan keluarga dan pergaulan.

24. Punya kondisi fisik-jasmani yang sehat, bugar, pola makan dan pengaturan hidup yang teratur; menjaga kesehatan, rajin berolah-raga dan berjiwa sportif. Kepemimpinan menuntut fisik-jasmani yang sehat, pola hidup sehat dan jiwa yang sportif.

25. Punya sikap mandiri; tidak manja, tidak mau selalu bergantung pada kekuatan orang lain/pihak lain sebagai prasyarat dapat bekerjasama/inter-dependence dengan orang lain/pihak lain; menjadi diri sendiri (be ourselves), kedaulatan pribadi tanpa menafikan kedaulatan yang dipunyai orang lain/pihak lain. Kepemimpinan membutuhkan spirit/jiwa kemandirian.

26. Punya jiwa dan semangat untuk survive, tidak gampang menyerah (tough), tetap berusaha/berupaya untuk mempertahankan serta memelihara kehidupan. Kepemimpinan membutuhkan semangat atau jiwa survival.

27. Menghargai hidup dan kehidupan; menghargai lingkungan. Menghargai alam-semesta sebagai rakhmat dan anugerah pemberian Tuhan. Kepemimpinan adalah hidup dan kehidupan.

28. Soal momentum & akseptablitas: Memerlukan waktu, momentum (chance, kesempatan, timing) yang tepat untuk diterima dan dipilih/terpilih secara legitimate (sah) oleh segenap khalayak atau stakeholders. Stakeholders di sini dapat berarti publik atau konstituen pemilih, para pendukung, para tokoh2 pendiri/senior, pembina, penasehat, pengawas, penilik, pembuat peraturan, penegak aturan, pengaman keputusan, pemfasilitasi (penyan-dang dana, investor/donors dan fasilitas lainnya), pengurus/komisaris, pelaksana dan anggota pelaksana, pelaku atau pemain (players), komunitas/ masyarakat pemakai jasa (users) dan masyarakat umum. Bisa berarti teman2, sahabat, mitra (partners) baik di lokal domestik maupun di luar negeri (global), bisa pula para pengkrisi (kritikus) serta lawan-lawan, pihak oposan, dan ‘musuh-musuh’ kepemimpinan, baik yang diketahui maupun yang belum/tidak diketahui atau dikenal.

Nothing is Impossible!
Nyatanya memang tidak mudah menjadi pemimpin/pemimpin2. Tapi bukannya tidak mungkin. Singkatnya, kualitas kepemim-pinan mencakup seluruh kualitas hidup manusia, baik vertical maupun horizontal. Holistik. Seluruh unsur lingkungan menerima kepemimpinannya, tentu dalam rupa2 tanggapan dan reaksinya. Dan yang yang ‘ultimate’ pada akhirnya restu, perijinan dan dan pimpinan Tuhan. Tuhan Benar2 ‘ Ada ’ bahkan ‘Maha Ada’, bukan angan2. Karena bagaimana pun Dia juga yang berhak menentukan: Tuhan yang ‘mengangkat’, Tuhan juga yang dapat ‘menurunkan’ atau ‘menjatuhkan’ seorang pemimpin/pemimpin2. Banyak orang bilang, ini sejenis factor keberuntungan, factor X. Orang Cina punya istilah ‘Hokki” meski konotasinya agak lebih banyak ke persoalan keberuntungan materi. Mungkin factor kebetulan.

Namun bagi Tuhan, sebenarnya tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Nothing is impossible. Begitu juga bagi manusia, soal kualitas kepemimpinan bukan suatu kebetulan, tapi juga suatu keniscayaan dan butuh perjalanan dan perjuangan!

For the glory of the Lord!

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Sunday, April 1, 2007

28 Tahun Pengabdian Saya dalam Pelayanan ... (1 April 1979 - 1 April 2007)


Ucapan Syukur.
Hari ini, tanggal 1 April 2007 merupakan hari yang bersejarah buat saya. Bukan April Mop! Karena memang tepat di tanggal ini, genap sudah 28 tahun (1979-2007) masa pengabdian saya melayani Tuhan/pekerjaan Tuhan baik di/melalui gereja, ministry maupun masyarakat. Sejak 1 April 1979 yl, saya telah mengambil keputusan: melayani Tuhan dan pekerjaan Tuhan dengan sepenuh hati. Jujur saya rasakan sungguh rakhmat, anugerah dan kasih Kristus yang telah menyertai saya dalam 28 tahun pelayanan sampai dengan saat ini. Periode yang tidak singkat. Kalau bukan karena Tuhan, maka saya yakin sia-sia semua yang saya telah abdikan dalam pelayanan. Tetapi karena besar kasih setliaNya, saya rasakan pimpinanNya dan berkatNya sampai menapaki tahun 2007 ini.

Talenta dan Bidang Minat.
Yang saya sadari, Tuhan telah memberikan talenta dan bidang minat (interests) kepada saya, sama seperti Ia memberikannya juga kepada setiap umatNya. Dalam anugerahNya Tuhan juga telah memberikan saya talenta/bidang minat sehingga saya dimampukan untuk melayaniNya, melakukan pekerjaanNya.

Talenta:
Leadership: transformation-process, conceptual/entrepreneurial/managerial skills.
Equipper: facilitator pembina penceramah konsultan-trainer advisor pendampingan.
Peneliti: litbang/thinker.
Penulis (writer) dan pencipta lagu/musik.

Bidang Minat (Interests):
Christianity & religions: theology, worldview, gereja, musik, misi, pembinaan/pelayanan.
Filsafat, iptek/methodology, etika/politik/hukum, demokrasi, keadilan dan perdamaian.
Leadership: strategy, quality & applied-management, sdm & creativity.
Business/industry: ekonomi, kewirausahaan & mediasi-pemasaran.
Agricultures & microfinance: UMKM, developments & pengentasan kemiskinan.
Seni musik sosial budaya: demografi/geography, kultur & peradaban.

Pelayanan Gereja/Ministry & Masyarakat (1979-2007):
Dengan talenta dan bidang minat ini, yang saya ingat inilah napak-tilas perjalanan pelayanan saya khusus dalam “Bidang Pelayanan Gereja, Ministry dan Kepemimpinan Diakonia Masyarakat” kurun 1979-2007 sebagai bahan-evaluatif:

1979–1981 NHKBP Keb Baru: Melayani di Pemuda/Naposo Wkl Ketua/Koord Kerohnian, Organizer PA/KTB; Melayani dan memimpin misi transisional periodik ke/di DIY Yogya.

1981-1986 IPB Bogor : Studi di Fak. Pertanian Bogor. PMK-IPB Bogor (affiliasi OMF dan Perkantas): Melayani dalam pelayanan mahasiswa Kristen Wk. Ketua/Koord. KPP PMK-IPB: Merintis dan mendirikan komisi pelayanan baru ini, yang menangani kegiatan KPA-KPD-KTB di seluruh Bogor (dan Dramaga). Pencipta Lagu2 Kristen baru: merintis pelayanan penggubahan musik/ lagu2 baru kristiani, seperti: Guru (versi asli: Murid), Kasih Allah Melingkupi Saya, Satu Di Dalam RohHu, Tiada Seindah Namamu, Kepastian, Yesus Kau Allah yang Hidup.
1983: Kamp Nasional Perkantas 1983: Memimpin Rombongan Mahasiswa Kristen Bogor ke KNM 83 di UNAI Cisarua, Lembang Jabar. PUKB Bogor : Melayani pelayanan umat/gereja2 lewat Persekutuan Umat Kristen ini di bawah pembinaan BKSG se-Bogor dengan rintisan 7 pos bakal-jemaat dan kelompok-kelompok kecil (cell-groups).

1985-1987 SEDP-9 Bogor: Melayani, mendirikan dan mengembangkan diakonia misi pengentasan kemiskinan dengan pendekatan social-ekonomi, dengan 9 teman2 kristen IPB (YCKK) lewat program ini bekerjasama dengan DSI Multi Ministries (Bp Ir Soen Siregar), Bung Ir. Antonius Tanan, Bung Jansen Sinamo dan Bung Gideon Tandirerung. 1987: Deputasi pelayanan ke Gereja2 Evangelical & Oikoumenical di Australia (Melbourne & Sydney selama 3 bulan) bekerjasama dengan YASKI Jakarta dan PND Foundation.

1987-1991 1987: Menikah dgn Maria. BPC Perkantas Sulselra: Melayani di Perkantas, Ketua BPC periode 1988 1990. Gereja GKSS Ujung Pandang : Melayani sebagai Majelis Jemaat GKSS Mattiro Baji, Mandai Makassar. 1988: Lahir anak ke-1: Grace (K-1) Yayasan Matepe: Melayani, sbg Direktur Eksekutif pelayanan pemberdayaan gereja & masyarakat ini, bekerja sama dengan Dewan Gereja2 di Australia, Maranatha Trust Australia, IIDI/Opportunity International US, Tear Fund Holland dan WP Schmitz Stiftung Germany, Sinode GKPB Bali/MBM/DBB dan PGIW2. Training2 dan kursus pelayanan di Singapore , Sri Lanka , Thailand , Philippines , dan Hong Kong .

1991-1995 Persekutuan Doa Kristen (PDK) PT. Astra Group: Merintis, mendirikan dan melayani sebagai salah satu Pengurus/Pembina di PDK PT. Astra Interna-tional/Astra Group Jakarta ; 1991: Lahir anak ke-2: Alvina (K-2). Gereja CWS Jakarta : Melayani sebagai Diaken dan Guru Kepemimpinan Kristen LLI/PPKA Jakarta. Jemaat Oikoumene, Walang, Jakarta : melayani dalam pelayanan penggem-balaan, pastoral dan pemuridan. 1993 ditahbiskan sebagai Evangelist Badan Pengutus CSM Mission, Jakarta. 1995 ditahbiskan sebagai Pendeta Misi di Gereja GUKI Jakarta (Keduanya disyahkan oleh Bimas Kristen Depag Pusat, Jakarta ).

1996-1999 Persekutuan Doa Kantor (PDK) PT. ‘Pramindo’ Medan Sumut (joint Astra Group-France Telcom Perancis): Merintis, mendiririkan dan membina (sebagai Pembina). Tim Misi CWS Sumut: Melayani dalam kegiatan2 tim misi.

1999-2002 Pasca Sarjana Unika Atmajaya, Sudirman Jakarta: Studi S2/MM. Reformed Insitute, Jakarta : Studi MCS. 2001: Lahir anak ke-3 (terakhir): Mika (K-3). STT Gratia: Melayani mengajar program S1: Filsafat Kristen, Etika Kristen I & II, Manajemen Gereja dan Kewirausahaan Kristen; Melayani menjadi Mitra Gereja Presbiterian Indonesia/Yayasan MIKA, Jakarta. Melayani (tugas praktek) di Gereja Methodis Indonesia Immanuel, Jakarta .

2003-2007 El-Trinitas Ministry Indonesia: Mendirikan, membentuk lembaga pelayanan ini bekerjasama dengan Evangelical Presbyterian Church, untuk misi dan pembinaan2 gereja dan ministry. Transforma Sarana Mediasi: Mendirikan, membentuk lembaga research gereja, masyarakat dan demokrasi ini, sebagai lembaga think-tank, penelitian dan tugas2 penulisan (writings). 2005: BAKTI NUSA Indonesia : Mendirikan bersama teman2 sesama pelayan Kristen, ,membentuk serta mengembangkan paguyuban pelayanan BN untuk pelayanan pemulihan dan transformasi gereja dan masyarakat, lewat pelayanan2 holistik di banyak daerah tanah air. 2006: Tranformation Connection Indonesia (TCI): Merintis pengembangan pelayanan Kristen “Hope for the Poor” dalam misi pengentasan kemiskinan dan keterpurukan, dengan Bpk Iman/Ibu Lea Santoso dan DR Luis Bush (Transform World Connection). Melanjutkan pelayanan penciptaan lagu2 Kristiani baru (salah satunya Album Baru 2006/2007: Terimakasih atas AnugerahMu).

Refleksi: Ratusan bahkan mungkin ribuan orang dalam berbagai kelompok jemaat komunitas, telah terlayani melalui pelayanan pembinaan pemuridan training ceramah seminar konsultansi training pastoral yang saya lakukan. Belasan bahkan puluhan organisasi, lembaga, wadah2 kelompok dan komunitas telah dirintis, dibentuk, turut ditumbuhkan dan dikembangkan. Ratusan tulisan artikel ulasan diktat hasil kajian materi manual berhasil saya tulis dan dipresentasikan, baik yang sudah dipublikasikan maupun yang masih ‘unpublished’. Ratusan lagu-lagu khususnya lagu2 rohani Kristen telah digubah, baik yang telah diirekam maupun yang belum. Namun semua itu, saya rasa belum ada artinya bila dibandingkan Kasih Kristus di dalam pengorbanan kematian dan kebangkitan Yesus, yang telah menebus, menggantikan, mengampuni dosa2 saya, membenarkan dan memperdamaikan saya dalam hubungan personal saya dengan Tuhan.

Pesan (Message): Sebab itu, saya kira selagi hari masih siang, marilah kita makin giat melayani Tuhan dengan segenap hati, tekad, tenaga, akal budi dan seluruh keberadaan diri kita. Mari kita menjadi garam dan terang dunia! Jangan mau menjadi 'gudang garam', atau jadi garam yang hanya ditumpuk2 di gudang penyimpanan atau di swalayan, tidak tersaji dalam masakan, makanan dan manfaat2 pengawetan. Jangan hanya mau menjadi lilin atau lampu yang hanya disimpan ditumpuk dibungkus dalam kemasan di lemari rumah, toko2, swalayan2, tanpa pernah dihidupkan dinyalakan untuk menerangi kamar2 yang gelap, rumah2 yang gelap lingkungan gelap dan dunia yang masih gelap, banyak terlelap! Garam atau lilin, lampu, meski seperti ber'jumlah sedikit' (minoritas) atau 'kecil' tapi dampaknya sangat dahsyat: bisa melezatkan (menyejahterakan) dan menerangi antero dunia. Apalagi kalau ber-sama2 menggarami dan meneranginya: yang jumlahnya minoritas dan ukurannya kecil-kecil itu!

To God be the glory!

Salam,
Hans Midas Simanjuntak :)
(HMS)

Friday, March 30, 2007

Hasil Kajian Strategis Saya tentang Replikasi Model Grameen Bank Prof Moh Yunus (CARD Model)

Berhubungan dengan bahasan poverty alleviation (pengentasan kemiskinan) yang terus diupayakan dan dikumandangkan di negeri ini, khususnya paska kemenangan Prof Muhammad Yunus dari Bangladesh meraih Nobel Perdamaian 2006, maka saya sampaikan informasi bagi Anda. Bahwa pada bulan Maret 1999 tepatnya saat saya berada di Manila Filipina, saya pernah menyusun hasil studi strategis ilmiah mengenai model pengentasan kemiskinan melalui implementasi program micro-credit atau microfinance. Hal ini terkait dengan bentuk replikasi dari model Grameen Bank dari Prof Muhammad Yunus yang telah diinisasi sejak 1970-1980an, untuk diterapkan di Filipina.

Adapun judul hasil studi strategis saya, yang telah saya susun pada Maret 1999 tersebut berjudul:

“Bagaimana pola Bank/NGO CARD (Replikasi dari Model Grameen Bank Bangladesh – Prof Muhammad Yunus) berhasil Menjangkau Secara Efektif Masyarakat Miskin Melalui Implementasi Program Kredit Mikro (156 hal, Maret 1999).

Ada juga terjemahan bahasa inggrisnya. Hasil itu masih dalam bentuk buku makalah.
Buku ataupun makalah itu bisa diperoleh/dipinjam/dibaca di Perpustakaan Pascasarjana dan Sarjana Universitas Atmajaya Jakarta atau Perpustakaan LIPI Jakarta.

Demikian informasi dari saya, semoga ada manfaatnya.

Salam hangat,
Hans Midas Simanjuntak

Friday, March 16, 2007

Konsep Multi-Skills dalam Rancangan People/Career Development.

Konsep Multi-Skills terkait dengan rancangan People Development sedang ditumbuh-kembangkan di mana-mana. Hal ini dimungkinkan berhubung manusia (orang) semakin dilihat dalam konteks keutuhannya (holistik).

Beberapa pertimbangan apakah konsep multi-skills bisa atau dimungkinkan menjadi salah satu solusi dalam people/career development:

1. Konsep pendidikan dan pengembangan anak "multi-talent" sedang dikembangkan sejak 5-10 tahun terakhir ini, seperti di Singapore, Jepang dan juga sudah ada di bbrp tempat di Jakarta. Tujuannya kurang lebih si anak dikembangkan dan diarahkan bukan saja piawai dalam bidang arsitektur bangunan, tapi juga piawai/kompeten dalam bidang theologi-filsafat dan dan konduktor musik.

2. Plato sang filsuf pernah mengatakan orang yang bijaksana itu paling tidak 'harus' mengusai 3 cabang ilmu/kedisiplinan. Masih menguasai satu cabang ilmu, belum bisa dikatakan seorang yang bijaksana.

3. Dalam bidang people development, di kenal beberapa tipe SDM:

a) SDM tipe Employee.
Kiyosaki bilang tipe E. Lebih comfort dan aman bekerja dengan orang, sama orang; daripada kerja sendirian, mandiri. Karyawan tipe ini belum tentu dan tidak semua bisa mencapai jenjang menjadi karyawan profesional dan career-man. Ini banyak dijumpai di tanah air. Tipe ini sudah lebih baik dari kondisi menganggur, baik menganggur secara terbuka maupun menganggur tersamar (disguised unemployement). Tipe yang tidak capable sampai tingkat career-man, bisa menjadi "kutu loncat", bekerja serabutan tanpa arah, mocok-mocok, dlsb. Tipe ini kebanyakan masih dikontrol oleh sistem internal setempat.

b) SDM tipe karir, career-man.
Tipe SDM seperti ini masih diatur oleh orang/manajemen/lembaga/perusahaan; cendrung melakukan spesialisasi bahkan super-spesialisasi dalam jalur keilmuan, jenis knowledge, keahlian, sekaligus jalur karir sebagai career-man, karyawan/pegawai/pimpinan jalur karir. Tipe ini cukup banyak di tanah air, tapi tidak banyak benar. Tipe ini setinggi apapun karirnya, dikontrol oleh sistem internal setempat dan juga sistem eksternal.

c) SDM tipe self-employed, professional.
Tipe SDM seperti ini sudah tidak diatur orang lain/lembaga/perusahaan. Punya keahlian khusus, super spesialisasi yang mandiri, misalnya: konsultan, notaris, pengacara, dokter, dokter spesialis, akuntan publik, broker, agen, dst. Tipe ini juga agak banyak, tapi tidak banyak sekali. Tipe ini relatif bekerja mandiri, tidak dikontrol oleh sistem tapi justru membuat sistem bagi dirinya sendiri, namun masih dikontrol oleh sistem eksternal.

d) SDM tipe entrepreneur.
Tipe SDM ini adalah tipe wirausaha yang menjalankan usaha/bisnisnya cendrung melakukan spesialisasi bahkan super-spesialisasi dalam jenis produk atau jasa: misalnya mengkhususkan diri bergerak di angkutan bis, "bermain" di bisnis kaca, fiber, plywood, produk IT, alat2 elektronik, dll. Di tanah air yang banyak dijumpai adalah entrepreneur jasa dan perdagangan; UMKM. Tapi sedikit sekali, sangat kurang yang terjun sebagai entrepreneur di bidang manufakturing/desain2 produk fabrikasi dengan standard kualitas tertentu. Tipe ini tidak dikontrol oleh sistem internal, tapi justru membuat dan memberlakukan sistem internal bagi orang lain/karyawannya, meski masih dikontrol oleh sistem eksternal.

e) SDM tipe intrapreneur.
Tipe SDM ini adalah gabungan dari tipe karir (career man), profesional dan entreprenuer, sebagai career man bisa juga sekaligus menjalankan tugas profesionalnya dan usaha bisnis entrpreneurship yang sejalan dengan keahliannya, tanpa harus resigned dari pekerjaannya/karirnya. Jumlah ini relatif sedikit di tanah air. Tipe ini sebagian besar masih dikontrol oleh sistem internal setempat dan sistem eksternal.

f) SDM tipe agent of change.
Tipe SDM ini bisa berlatar belakang seorang career-man, self employed/profesional, entrepreneur dan/atau intrapreneur, namun bisa juga tanpa lewat jalur seperti itu; tapi cirinya dia tidak ingin masuk system/struktur lembaga terlalu dalam atau terlalu jauh (lebih suka di pinggir system). Tipe ini tidak terlalu diatur oleh sistem internal setempat (karena berada di pinggir sistem). Juga tidak terlalu diatur oleh sistem eksternal (di pinggir sistem juga). Dia sering disebut "the man or woman in between". Tujuan agak berbeda dari agen/broker dlsb pada jenis c) self employed, profesional; keberadaannya lebih kepada visi dan upaya untuk mentransformasi sistem, baik sistem internal maupun sistem eksternal ke arah yang lebih baik dan handal. Jumlahnya di negeri ini bisa dihitung oleh jari.

g) SDM tipe investor.
Tipe SDM ini bisa berasal dari tipe a s/d f, bisa juga tanpa lewat jalur2 demikian.
Memiliki berbagai macam akses terutama permodalan, investasi, aspek legal, kompetensi dll. Dia owner dari usaha, bisnis, lembaga atau organisasi yang dikembangkan. Tidak perlu lagi dia harus menjadi enterpreneur di lembaga atau usaha tsb, cukup dengan penyertaan modal, equity, saham dll maka dia dapat membuat serta mengontrol seluruh jalannya sistem organisasi dan orang2 di dalamnya.

Nah, mau ke arah tipe SDM mana kita dalam people development itu tergantung semua pada kita. Kalau untuk jadi career-man/tipe karir, atau self-employed dan professional, penguasaan satu disiplin ilmu secara lebih 'dalam' menurut saya cukup untuk bisa survive, bertumbuh dan berhasil di negeri ini.

Namun, jika hasrat, talenta, jati diri, panggilan dan 'kerinduan' kita adalah tipe2 lainnya, mungkin perlu memiliki lebih dari satu disiplin ilmu dan background knowledge seperti yang Plato katakan; namun bisa dikombinasikan membawa efek sinergitas yang tinggi.

Di Indonesia, banyak pengacara tapi juga pemain sinetron dan tokoh sport. Penyanyi yang sekaligus presenter dan pimpinan media. Ahli ekonomi yang konduktor musik klasik dan pengurus partai. Tapi banyak juga, yang pengacara dari dulu ya sampai sekarang pun puluhan tahun tetap jadi pengacara dan aktif dalam jaringan2 kepengacaraan. Ahli ekonomi pun juga begitu.

Tergantung kepada orangnya. Know ourselves, know our identity & talent/s.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Monday, February 12, 2007

Mungkinkah Ibukota Jakarta Dipindah ke Tempat/Kota Lain ?

Peristiwa banjir yang menimpa hampir 60-80% kawasan Jakarta (Jabodetabek) di awal Peb 2007 kembali membuat derita yang sangat luar biasa bagi rakyat yang tinggal di ibukota ini. Ini pengulangan dari bencana banjir 2002, 1996, 1991 dan dinilai jauh lebih parah dari luasan area yang terendam banjir.

Bantuan memasuki hari ke-5 sudah mulai mengalir meski masih sangat banyak tersendat. Baik yang dilakukan ormas2, orpol, lembaga agama maupun kaum selebritis domestik.
Namun, pertanyaan yang lebih prinsipil yang selalu menggelayut di hati kita adalah apakah kota Jakarta sekarang masih layak untuk era kini asih dinilai cocok sebagai Ibukota negara? Apakah tidak ada lagi gagasan yang lebih realistis, lebih efisien, lebih efektif dan relevan untuk memindahkan ibukota negara ini dari Jakarta ke tempat atau kota lain saja?

Ada beberapa pertimbangan cukup masak serta bijaksana, sehingga pemikiran atau rencana ini dipandang perlu untuk dilakukan oleh kita semua :

1.Pertimbangan “kecocokan”: Jakarta cocoknya dijadikan kota apa?
Dengan banyaknya jumlah penduduk hampir 15 juta dari area sekitarnya (Bodetabek), Jakarta lebih layak menjadi kota perdagangan besar, mirip Shanghai di RRC, New York di State, Sydney di Australia, dll. Tapi tidak cocok untuk Ibukota Negara atau ibukota Pemerintahan.

2.Pertimbangan pelik dan makin parahnya masalah akut Jakarta
Jakarta , sebagai ibukota Negara, lebih banyak dinilai sebagai kota paling bermasalah sebagai ibukota Negara. Begitu banyak dan sering bencana banjir dalam sejarah kota ini. Termasuk yang paling parah terjadi pada tahun 1991, 1996, 2002 dan Peb 2007 ini. Belum lagi problema macet yang paling parah di Asia, tingkat polusi paling tinggi di Asia, kasus-kasus demam berdarah karena parahnya sanitasi lingkungan di Jakarta, jumlah kemiskinan yang sangat luar biasa menyeruak di jalan2 dan slump areas (kawasan kumuh), berakibat kepada tingkat kriminalitas dan riots (kerusuhan2) yang sangat tinggi. Keamanan menjadi sangat2 mahal. Flu burung merebak relatif parah di Jakarta dan sekitarnya.

3.Pertimbangan efisiensi dan penghematan energi.
Jika dihitung lebih cermat, faktanya jauh lebih murah (efisien) dan efektif memindahkan ibukota Negara Jakarta ke tempat/kota lain, daripada biaya “menyembuhkan” , memperbaiki berbagai macam masalah sangat pelik Jakarta ini, seperti kemacetan, biaya BBM karena kemacetan kendaraan, biaya pembangunan banjir kanal timur, pembuatan area2 serapan, perbaikan bantaran kali, reklamasi dll. Apalagi jika dihitung pertimbangan faktor fenomena alam "pemanasan global" mesti jadi pertimbangan dalam beberapa tahun ke depan, terutama untuk pulau2 kecil atau kota2 yang berada sejajar atau sedikit dibawah permukaan laut, seperti Jakarta, Semarang, dll.

4. Pertimbangan dinamika perkembangan era reformasi sekarang.
Era sekarang adalah Era Reformasi, Era Desentralisasi, Era Otonomi Daerah. Tidak seluruhnya kegiatan mesti dikendalikan dari Jakarta . Power axis (titik sumbu kekuasaan di berbagai bidang: politik, ekonomi, perdagangan, pendidikan, dll) semestinya tidak harus selalu ada di Jakarta .

5.Pertimbangan sejarah (historis)
Sejak diproklamasikannya Indonesia , negeri ini pernah mengalami perpindahan ibukota Negara, pertama dari Jakarta ke kota Yogyakarta , akhir tahun 1940an. Dan kemudiaan ke Bukittinggi Sumbar pada tahun 1950an.

6. Pertimbangan analogis.
Jika UUD 1945 saja bisa diamandemen, dan bukan merupakan sesuatu yang dianggap terlalu sakral bagi rakyat untuk diamandemen, maka analog soal Ibukota Negara bisa dipindah dari Jakarta ke tempat lain, juga pasti bukan sesuatu yang sakral. Biasa2 saja.

Itu sekelumit pertimbangan2 faktor2 yang mesti dilakukan peninjauan ulang. Apa suatu harga mati ibukota negara harus di Jakarta? Apa benar ibukota Negara di Jakarta merupakan keputusan yang tidak bisa diganggu-gugat. Meski pun faktanya kota ini mungkin sudah kurang layak dipertahankan sebagai ibukota Negara. Mungkin lebih cocok Jakarta dijadikan kota dagang terbesar di negeri ini. Apakah kita mesti ikut2an orang Belanda yang menjadikan Batavia sebagai pusat kolonialis dan pusat VOC di Nusantara?

Tidak kah ada pikiran alternatif yang lain bagi kemungkinan Ibukota Negara di tahun2 mendatang ini.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Tuesday, January 23, 2007

Hasil Kajian Strategis Saya tentang Replikasi Model Grameen Bank Prof Moh Yunus (CARD Model)

Berhubungan dengan bahasan poverty alleviation (pengentasan kemiskinan) yang terus diupayakan dan dikumandangkan di negeri ini, khususnya paska kemenangan Prof Muhammad Yunus dari Bangladesh meraih Nobel Perdamaian 2006, maka saya sampaikan informasi bagi Anda. Bahwa pada bulan Maret 1999 tepatnya saat saya berada di Manila Filipina, saya pernah menyusun hasil studi strategis ilmiah mengenai model pengentasan kemiskinan melalui implementasi program micro-credit atau microfinance. Hal ini terkait dengan bentuk replikasi dari model Grameen Bank dari Prof Muhammad Yunus yang telah diinisasi sejak 1970-1980an, untuk diterapkan di Filipina.

Adapun judul hasil studi strategis saya, yang telah saya susun pada Maret 1999 tersebut berjudul:

“Bagaimana pola Bank/NGO CARD (Replikasi dari Model Grameen Bank Bangladesh – Prof Muhammad Yunus) berhasil Menjangkau Secara Efektif Masyarakat Miskin Melalui Implementasi Program Kredit Mikro (156 hal, Maret 1999).

Ada juga terjemahan bahasa inggrisnya. Hasil itu masih dalam bentuk buku makalah.
Buku ataupun makalah itu bisa diperoleh/dipinjam/dibaca di Perpustakaan Pascasarjana dan Sarjana Universitas Atmajaya Jakarta atau Perpustakaan LIPI Jakarta.

Demikian informasi dari saya, semoga ada manfaatnya.

Salam hangat,
Hans Midas Simanjuntak

Monday, January 22, 2007

Bagaimana Sikap Kita Ketika Kita dan Pacar Kita Memutuskan Untuk Berpisah

Tulisan ini ditujukan bagi mereka generasi muda, pemuda dan pemudi yang sedang dan pernah terlibat masa berpacaran, menuju jenjang pernikahan.

Memutuskan untuk Berpisah: Kadang Tidak Mengenakkan!
Keadaan atau saat dimana kita dan pacar kita harus memutuskan untuk berpisah adalah situasi yang kadang teramat sulit untuk kita terima dan lalui. Bagaimana tidak? Situasi untuk berpisah kadang tidak mengenakkan. Apalagi kalau berpacarannya sudah relatif cukup lama. Tahunan. Tidak mudah untuk memutuskan. Kenangan baik yang pahit dan manis sudah cukup banyak dimiliki. Pasti ada yang namanya sakit, bila berpisah. Seperti ditusuk sembilu (broken-hearted). Ada rasa luka (wounded-feeling). Bagi mereka yang relatif baru berpacaran saja, missal baru beberapa minggu atau beberapa bulan, lalu kemudian putus hubungan, akan mengalami perasaan luka dan sejenis trauma, meski masih relatif kecil. Apalagi bagi yang sudah yang berpacaran lama. Luka dan traumanya pasti lebih besar. Pikiran, emosi dan hati menjadi tidak karuan, sulit terkendali. Pikiran mandeg, kusut, kalut. Emosi meluap-luap. Marah-marah, sedih, stress, larut dalam tangis dan air mata. Betul-betul suasana perasaan tidak enak, hati tak nyaman. Hancur hati. Tidak enak makan, tidak enak minum. Konsentrasi terganggu, belajar jadi kacau, sering melamun dan mengurung diri dalam kamar. Begitulah kalau orang sedang dirundung kesedihan karena putus hubungan pacar.

Keputusan Pisah: Suatu Bentuk Kehilangan
Putus hubungan pacar atau keputusan pisah adalah merupakan bentuk kehilangan. Kehilangan suatu relasi khusus atau hubungan dekat. Orang pasti tidak suka bila kehilangan. Kehilangan kecil ataupun besar. Apalagi terhadap orang yang kita kasihi atau pernah kita kasihi. Bila kehilangan atau keadaan putus hubungan pacar ini tak tertangani dengan baik, bias menyebabkan orang yang mengalaminya stress berat alias depresi. Bagi yang tidak kuat, depresi dapat membawa efek atau ekses-ekses yang negatif. Orang bisa “lari” ke hal yang tidak baik akibat keadaan hati dan jiwa terganggu. Tidak dengar orang tua, berontak, menjadi nakal dan jail, bisa nyerempet ke persoalan kriminalitas seperti minum, mabok, mencuri, mesum, obat tidur bahkan sampai mengkonsumsi narkoba (drugs). Tragis memang. Tapi kenyataan ini kerap kita jumpai di tengah masyarakat di era global sekarang ini. Namun sebaliknya, bila keadaan putus pacar dapat tertangani dengan benar, maka stress yang diakibatkannya, bisa teratasi tanpa menimbulkan efek-efek atau ekses-ekses negatif yang tidak diinginkan. Malahan pengalaman perpisahan ini dapat menjadi pelajaran berharga yang sangat indah dalam kehidupan selanjutnya. Tentu ini semua akan tergantung pada kondisi kepribadian kita dan mantan pacar kita, terkait tingkat kedewasaan emosional, mental, iman kerohanian, moral dsb.

Pentingnya Menyikapi Secara Baik & Benar
Nah, sebagai remaja atau pemuda Kristen (mis. sbg warga Gereja/HKBP, GKI, GBI, dll) sudah selayaknya kita mesti siap; tidak boleh menutup mata lagi terhadap fenomena serta kondisi yang bisa terjadi dalam kehidupan, apalagi di era sekarang. Terutama jika hal itu harus terjadi atas kita. Bagaimana sikap terbaik yang harus diambil, sehingga saat harus memutuskan untuk berpisah serta melalui masa-masa sesudah perpisahan tersebut, kita tetap dapat berdiri teguh…tidak goyah, (band. 1 Kor 15: 58), kita dapat terus bertumbuh, berakar dan semakin menjadi dewasa di dalam Kristus (band. Kol. 2: 6-7). Kita mesti tetap meyakini bahwa rancangan Tuhan atas kita, sekalipun kita mengalami hal seperti ini, adalah rancangan yang penuh damai sejahtera (Yer. 11: 29).

Sikap-sikap terbaik yang bagaimana disarankan saat kita dan pacar kita memutuskan untuk berpisah, berikut ada enam (6) langkah efektif yang bisa dilakukan :

Pertama, lakukan terlebih dahulu analisa/evaluasi bersama ke belakang, apa yang sebenarnya menjadi motif kita dan pacar kita selama ini berpacaran.
Seperti diketahui, ada beberapa motif orang memutuskan untuk berpacaran (lihat boks). Ada motif yang sehat, namun ada pula motif yang tidak sehat.


Motif-Motif dalam Berpacaran

(1)Motif ketertarikan - saling tertarik .(saling naksir) yang murni dari keduanya; merasa ada kesesuaian/ kecocokan, merasa memang sudah waktunya untuk berpacaran menurut keduanya. Ini motif yang sehat dan normal.
(2)Motif hanya ingin main-main, coba-coba. Motif seperti ini seringkali tanpa ada komitmen yang jelas (istilah sekarang HTS: hubungan tanpa status atau HTK: hubungan tanpa komitmen), tanpa hubungan dan komitmen yang jelas, hanya motif kemesraan atau orientasi seks (istilah sekarang TTM: teman tapi mesra). Ada juga karena malu dibilang single/jomblo terus, atau agar dianggap mengikut trend, dsb. Ini motif yang tidak sehat.
(3)Motif salah satu dari keduanya hanya karena rasa terpaksa saja untuk berpacaran, tanpa perasaan tertarik (naksir) apalagi karena cinta. Motif ini alasannya bermacam-macam:
(a)“Dijodoh-jodohkan” teman, padahal merasa tidak sesuai tidak mau diungkapkan.
(b)“Dijodohkan” orang tua, atau pihak lainnya, dalam kondisi yang sama dengan di atas, dan tidak mau diungkapkan
(c) Alasan hanya ingin memperoleh manfaat atau keuntungan dari yang akan dipacari (istilah sekarang: “ngelaba”), motif hanya ingin membuktikan kepada teman bahwa ybs dapat menaklukkan cinta lawan jenis pasangannya, dll. Motif ini juga tidak/kurang sehat.

Jika berpacaran kita dasarnya karena motif nomor (2) dan/atau (3), sadari dan akuilah bahwa motif tersebut tidak atau kurang sehat, apalagi untuk dijalankan sebagai remaja/pemuda Kristen anak Tuhan. Bersyukurlah jika hubungan berpacaran tidak diteruskan. Ada maksud Tuhan di balik kejadian itu. Karena jika diteruskan bukan malahan membawa berkat, tetapi justru kelak akan membawa resiko akibat yang tidak baik dan merugikan. Secara moral, kerohanian, mental, ekonomi, fisik dan masa depan masing-masing (MDS: masa depan suram). Apalagi kalau sampai masuk jenjang perkawinan, tentu akan berakibat fatal, perkawinan tidak akan berjalan lama alias mengalami perceraian dan penderitaan! Namun, jika berpacaran kita dasarnya adalah motif nomor (1), motif saling tertarik secara tulus karena merasa ada kesesuaian, ini merupakan hal yang normal, sehat. Penting sebagai pengalaman terbaik. Selanjutnya, perlu langkah evaluasi/analisa berikut pada hal kedua berikut.

Kedua, lakukan analisa/evaluasi lebih lanjut mengapa kita dan pacar kita harus memutuskan untuk berpisah (“Mengapa Harus Berpisah”). Penyebab2 keputusan berpisah atau pemutusan hubungan pacaran, umumnya disebabkan faktor berikut :

1. Faktor internal: pertidak-sesuaian (ketidak-cocokan) antar keduanya yang tidak dapat dipecahkan atau diatasi lagi (menyangkut diri pribadi masing2, masalah fondasional/mindset/life values dan masalah komunikasi).

2. Faktor eksternal: ketidak-setujuan dari orang tua atau keluarga, dan pihak ketiga lainnya/lingkungan di luar orang tua/keluarga (teman, kolega, pimpinan gereja, perusahaan, dll)

3. Kombinasi antara faktor internal dan eksternal.

Faktor internal, berupa pertidak-sesuaian pribadi biasanya terkait dengan ketidak-cocokan factor-faktor tampak luar dan factor tampak luar, yang setelah dikaji kembali, lebih banyak tidak cocoknya dan tidak menemui solusi pemecahan. Hal-hal tampak luar biasanya bisa diterima, yang masalah umumnya adalah hal-hal atau factor tampak dalam antar-keduanya. (Faktor2 tampak luar dan faktor tampak dalam bisa dilihat dalam boks).

Problem faktor tampak luar, umpamanya:
a) Keimanan (pertama dianggap tidak masalah, kemudian menjadi factor krusial).
b) Etnis/kesukuan (pacar kita berasal dari non Batak)
c) Sub kultur pergaulan (tidak menghargai perbedaan kelompok pergaulan)
d) Status pendidikan (studi tidak tamat tamat, malas belajar, dll)
e) Status pekerjaan (belum ada pekerjaan, masih menganggur terlalu lama)
f) Status latar belakang keluarga pacar (tidak sesuai dengan harapan keluarga)
Dll.

Problem faktor tampak dalam:a)
a) Paradigma hidup, mindset, life values, cara pandang fondasional mengenai
kehidupan (soal fondasi pengajaran theologis/hermeneutis, keutuhan cara pandang
wawasan hidup filosofis, orientasi hidup: orientasi kebenaran, integritas,
kekuasaan, harga diri, uang/materi atau daya tarik sensual/seksual semata).
b) Sifat emosional (pemarah, arogan, tidak baik)
b) Segi kerohanian (kurang suka pelayanan, tidak taat firman Tuhan, dll)
c) Segi intelektual (ternyata tidak intelek, dsb)
d) Aspek mental (penakut, cepat curiga, cepat putus asa)
e) Moral watak karakter (suka bohong, tidak setia, “anak mami”, egois), Dll.

Faktor-Faktor Ketertarikan dalam Berpacaran

1.Faktor2 tampak luar, yaitu faktor-faktor ketertarikan yang bisa langsung dan relatif lebih gampang dilihat, sering disebut kalau untuk wanitanya “outer beauty”:

- Segi fisik (wajah cantik/ganteng, rambut, tubuh gemuk/ kurus, warna kulit, berotot atau tidak, seksi atau tidak, fisik kondisi kuat atau lemah, dsb)

- Segi usia (remaja, muda, muda sekali/abg, dewasa muda, dst).

- Segi status keimanan (sama2 Kristen atau non Kristen)

- Etnik budaya/suku (sama2 Batak atau non-Batak)

- Sub kultur pergaulan (sama2 satu kampus, satu sekolah, satu kelompok PA, satu angkatan marguru malua, satu kegiatan musik, paduan suara, bulletin, satu kantor/pekerjaan, satu profesi, satu kampung, satu aktivitas pelayanan, dll)

- Segi sikap, gaya, gerak-gerik (gaya bicara kalem, terburu-buru, cara berjalan, humoris, kocak, biasa, seram, pemalu, gaul, mudah berteman, pendiam, eye-contact, gesture badan, cara berpakaian, gaya rambut, sepatu, parfum, bergaya “aksi” atau sederhana, senyum, serius, tebar-pesona atau biasa, dll)

- Faktor kebiasaan tampak luar (sering pakai jaket atau blaser, suka pakaian warna
putih, suka pakai topi, anti rokok atau suka merokok, suka pakai sepatu kets, sering pakai jeans, sering duduk di café/warung, suka ke swalayan, dll)

- Segi skills/ketrampilan (bisa main gitar, piano, menari, memimpin paduan suara, bisa computer, bisa bahasa Inggris, dll)

- Pendidikan (sudah lulus SMA, D1, D2, D3, S1, S2, dst)

- Pekerjaan (sudah bekerja, berprofesi insinyur, ekonom, pemusik, wartawan, penulis, penyiar, karyawan, PNS, guru, pengacara, pendeta, sekolah sambil kerja, mandiri ekonomi, dll)

- Status sosial: domisili (di mana tinggal: di kawasan biasa atau elit, di kota, desa, atau pinggiran kota, di kawasan pasar, dll)

- Status social: kekayaan (anak keluarga pengusaha, anak kontraktor, anak administrator kebun, anak pejabat, anak direktur, anak orang biasa, dll)

2. Faktor2 tampak dalam, yaitu hal-hal ketertarikan yang tidak bisa langsung diketahui kondisi yang sebenarnya, namun bisa diketahui setelah beberapa waktu bergaul, mengamati atau berpacaran, sering disebut kalau untuk wanitanya “inner- beauty”:

- Segi/sifat emosional (sifat kebaikan, suka memberi atau pelit, ramah, lembut, periang, kocak, anggun, suka menolong, bersahabat, terbuka, ramai, cerewet, tegas, jail, terus terang, rendah hati, agak arogan, dll)

- Segi latar belakang keluarga (anak keluarga baik atau broken-home, patuh orang tua atau pemberontak, keluarga intelek atau kurang intelek, keluarga yang streng atau longgar, keluarga lama di luar negeri atau tidak, keluarga Batak lama di Jakarta atau dari kampung, dll)

- Segi kesehatan (kesehatan prima atau punya penyakit termasuk yang menahun atau laten, seperti asma, jantung, bronchitis, dll)

- Segi intelektual (pintar atau “tulalit”, intelek atau kurang intelek, bijak atau berwawasan sempit, dll)

- Kerohanian (suka berdoa, suka ber-PA, persekutuan, pelayanan, takut akan Tuhan, taat firman Tuhan atau kurang taat firman Tuhan, dewasa iman atau kurang dewasa, dll)

- Soal paradigma hidup, mindset, life values, cara pandang fondasional mengenai
kehidupan (soal fondasi pengajaran theologis/hermeneutis, keutuhan cara pandang
wawasan hidup filosofis, orientasi hidup: orientasi kebenaran, integritas,
kekuasaan, harga diri, uang/materi atau daya tarik sensual/seksual semata).

- Punya bakat terpendam (ternyata punya bakat menulis, acting, dll)

- Aspek mental (berani, tidak cepat putus asa, rajin, ulet, kooperatif, dll)

- Segi moral watak karakter (setia atau kurang setia, jujur atau suka bohong, jujur faktanya single/jomblo atau mengaku jomblo namun ternyata sudah punya pacar; tulus, licik atau lihai, berpikir positif, sabar atau tidak sabar/pemarah, rajin atau pemalas, pembersih atau jorok, bertanggung-jawab atau kurang komitmen, bisa dipercaya atau tidak, stabil atau cepat panik, takut orang tua atau pemberontak, mendahului kepentingan umum atau egois, diktator atau demokratis, dll)

- Masalah lain adalah masalah komunikasi. Perbedaan lokasi tempat tinggal, lokasi sekolah, lokasi pekerjaan (lain kota, lain negara), dapat memperburuk hubungan.Sulitnya untuk bertemu secara langsung, hanya lewat telpon atau sms. Kurangnya frekuensi pertemuan, biasa melonggarkan hubungan dan miskomunikasi, yang berakibat pada terputusnya hubungan berpacaran. Masalah komunikasi ini tidak mencapai titik-temu, karena masing-masing pada akhirnya tetap pada posisinya, tidak ada yang mau untuk berkorban.

Demikian juga dengan factor ketidak-setujuan orang tua dan keluarga; atau pihak-pihak ketiga lainnya (lingkungan di luar orang tua dan keluarga). Biasanya terkait dengan problem factor tampak luar dan factor tampak dalam seperti telah diuraikan. Ini pun setelah dianalisas/dievaluasi oleh kita dan pacar kita, bisa turut menyebabkan pemutusan hubungan berpacaran tanpa ada pemecahan jalan keluar yang pas atas keberatan-keberatan yang disampaikan orang tua atau lingkungan.

Ketiga, bawalah masalah pertidak-sesuaian dan permasalahan antara kita dan pacar kita kepada Tuhan. Tidak perlu mempersalahkan siapa pun (Don’t blame the other). Mintalah pimpinan Tuhan terlebih dahulu melalui terang firman dan kasihNya, apa dan bagaimana sebaiknya dilakukan untuk pemutusan hubungan. Boleh minta advis-advis berharga misalnya dari orang tua, keluarga, pendeta atau orang-orang/teman-teman yang kita anggap dewasa dan dipercaya dalam iman dan kehidupan, untuk permasalahan serta pertidak-sesuaian yang dihadapi. Bilamana kita dan pacar kita sudah semakin yakin bahwa pertidak-sesuaian ini tidak dapat teratasi dan dilanjutkan lagi, selanjutnya bisa diteruskan kepada langkah keempat.

Keempat, lakukanlah pertemuan atau perjumpaan untuk membicarakan pertidak-sesuaian ini untuk terakhir kalinya secara baik-baik, dalam suasana yang tenang, santun dan terbuka. Tujuannya adalah agar kita dan pacar kita bisa menerima semua hal mengenai pertidak-sesuaian dan permasalahan yang dihadapi tanpa harus emosi, tanpa meledak-ledak; tapi dengan kepala dingin sehingga tidak menimbulkan luka (broken-hearted, wounded). Sebab itu penting dilakukan langkah-langkah penyiapan, antara lain:

- Cari tempat dan kesempatan waktu yang sesuai serta kondusif untuk mengkomunikasikan hal-hal ini. Jangan bersepakat memutuskan hubungan melalui telpon atau sms. Namun bertemulah dan bicaralah secara langsung.

- Bicarakan dengan kepala dingin, dan hati-hati. Bersikap jujur, santun, berani namun rendah hati. Bicara sejujur mungkin, mengatakan yang benar di dalam kasih.

- Bila ada kesalahan, bukti-bukti ketidak-setiaan (tidak setia, kebohongan, dll) yang diperbuat oleh pasangan, kemukakan keberatan, ketidak-senangan, penyesalan dengan cara yang santun elegan dan dalam kasih.

- Bangun sikap mau mendengar (willing to listen) dan berpikir positif. Hindari satu pihak saja yang bicara. Dialog yang terbuka, dalam sikap saling menghargai, saling memberi apreasiasi untuk mengemukakan argumentasi. Hindari untuk sikap menyalahkan (avoiding to blame each other).

- Beri perhatian dengan serius.

- Segala uneg-uneg harus dikeluarkan. Kembangkan dialog dan komunikasi yang baik. - -

- Hindari sikap “patah arang”. Segala perbedaan dan pertidak-sesuaian (ketidak-cocokkan) antar keduanya dibicarakan satu per satu, lalu diselesaikan di dalam kasih dan persaudaraan.

- Nyatakan dengan jelas bahwa selama ini, sudah diupayakan untuk diatasi bersama, namun ternyata tidak dapat atau gagal mencapai hasil-hasil perubahan yang diharapkan.

- Upayakan dengan sungguh2 agar keputusan untuk berpisah, bukan saja dari salah satu pihak. namun merupakan keputusan bersama-sama kedua pihak. Sehingga kedua belah pihak bisa “sama-sama enak”, masing-masing tidak ada ganjalan lagi. Bisa sepakat dalam perbedaan, bisa menerima pertidak-sesuaian secara sehat. Kalaupun nanti keduanya jalan di jalannya masing-masing, tetap masih ada rasa respek satu sama lain, masih ada sikap kasih yang tidak merendahkan, tidak saling melecehkan atau saling melukai/menyakiti.

Kelima, rancangkan hal-hal tindak lanjut (action plan) yang baik dan perlu yang disepakati bersama tentang hal-hal yang perlu dilakukan saat ingin berpisah. Misalnya:

- Bahwa kita sudah memutuskan untuk berpisah secara baik-baik, tidak ada dendam; meskipun mungkin tetap ada rasa sakit namun jangan sampai perasaan sakit (broken) terus berkepanjangan. Berusaha untuk saling menguatkan dan menghibur.

- Saling mengampunilah secara tulus dan jujur (forgiveness). Minta maaf atas segala kesalahan (bisa sebutkan contoh). Bertobat minta pengampunan Tuhan atas segala kesalahan, yang dilakukan oleh kita dan pacar kita selama berpacaran. Mohon kekuatan untuk perbaikan dari Tuhan. Semua dilakukan dalam terang FirmanNya dan Kasih Allah.

- Upayakan saling menyatakan hal-hal positif dan menjadi pelajaran yang bermakna (lesson learnt) di balik kejadian perpisahan hubungan ini.

- Berdoalah bersama secara tulus di hadapan Tuhan, agar perpisahan ini bukan menjadi akhir segalanya, namun menjadi jalan pimpinan Tuhan untuk kebaikan bersama. Hari ini dan di kemudian hari.

Keenam, saling komitmen antara kita dan mantan pacar kita, meski kelak sudah berpisah dan tidak menjadi status pacar lagi, akan tetap akan menjaga hubungan persahabatan dan komunikasi yang baik dan sehat (sebagai sahabat atau adik/kakak). Komitmen lah secara tulus, tidak ada akar pahit dalam perpisahan ini. Saling menjaga dan tetap respect satu sama lain. Berpisah dalam damai sejahtera. Dengan hati yang bersih dan lega. Berpisah secara elegan dan di dalam damai dan kasih. Ada kedamaian di hati dan pikiran masing-masing (peace ong f mind).

Demikianlah sikap-sikap terbaik yang bisa kita kembangkan saat kita dan pacar kita memutuskan untuk berpisah. Dapat kita simpulkan, bahwa dalam memutuskan saat dan sesudah berpisah dalam hubungan kita dan pacar kita, tiga (3) hal perlu diingat dan senantiasa dilakukan, yaitu:

(1)Sikap dan langkah-langkah kita waktu memutuskan, mesti tetaplah berlandaskan pada nilai2 dan prinsip2 kasih dan kebenaran Kristen.

(2)Sikap bersyukur untuk setiap keadaan dan kejadian yang kita alami, kondisi apapun yang kita alami, betapapun sulit dan menyakitkan hal tersebut. Suka maupun duka, saat bertemu dan saat berpisah, semuanya tidak lepas dari rencana dan kendali Tuhan.

(3)Harapkan terus anugerah Allah (God’s grace), akan selalu menyertai proses perpisahan kita, saat berpisah dan sesudahnya. Anugerah yang selalu akan mampu menyembuhkan setiap luka dan bekas luka yang timbul, dan memberi damai sejahtera di hati dan pikiran (peace of mind).

Bila ketiga kunci ini kita sadari dan terapkan, maka sikap terbaik dalam memutuskan untuk berpisah dari kita dan pacar kita lakukan, dapat dimiliki. Semoga anugerah, kasih dan rakhmat Tuhan Yesus Kristus selalu menyertai kita!

Soli Deo Gloria!
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

NB: Artikel ini sudah dimuat dalam Buletin Narhasem HKBP Semper Jakarta, terbitan Pebruari 2007.

Sumber Referensi:
1.Don Schmierer & Lela Gilbert. 2002. Healing Wounds of the Past. Finding Inner Peace At Last. His Servant Promise Publishing Co, Santa Ana CA 92711.
2.Walter Trobisch & Inggrid Trobisch. 1981. Jodohku. Penerbit Gandum Mas, Malang, Jawa Timur.
3.Brent Curtis & John Eldridge. 1997. The Sacred Romance: Drawing Closer to the Heart of God. Thomas Nelson Publishers, Nashville.
4.Catatan-catatan penggembalaan.

Friday, December 15, 2006

Selibat, Monogami, Poligami, Perzinahan/Percabulan

Issue atau topik mengenai poligami, monogami, perzinahan dan percabulan kini begitu marak di tanah air. Issue ini mengemuka khususnya saat kyai kondang Aa Gym memutuskan untuk mengakhiri status monogaminya, dan kemudian menikah untuk kedua kali, kini berstatus poligami.

Berikut saya ingin mengulas cara pandang moralitas Kristiani mengenai status tidak kawin (selibat), monogami, poligami dan perzinahan/percabulan.

Ukuran moral Kristiani berdasar Alkitab perihal perkawinan dan juga "pertidak-kawinan" menurut hemat saya sangat tinggi, clear dan logis karena telah diuraikan dalam tataran ranah moral etika yang mudah ditangkap, baik untuk standar personal maupun publik.

Bila memandang PL dan PB sebagai bentuk pewahyuan progresif; juga mereferensi pada 10 Perintah Allah sebagai ukuran Hukum Moral, perkataan dan keteladanan hidup Yesus dalam Injil dan uraian surat2 Rasul Paulus dalam memaknai hal perkawinan dan "pertidak-kawinan" dari berbagai sudut pandang yang menurut saya sangat bijak serta utuh (theologis, filosofis dan sosiologis) seraya bila kita melihat pula kehidupan sejarah tokoh Gereja termasuk para reformator Gereja, mungkin kita bisa melihat peta moral perkawinan Kristiani lebih luas. Tidak terlalu sempit, hanya membandingkan poligami bila dibanding atau daripada melakukan perzinahan/percabulan.

Hemat saya, ada semacam hierarkhi ukuran moral (qualitative difference) dalam pilihan moral Kristiani perihal perkawinan dan pertidak-kawinan, yaitu:
1. Selibat
2. Monogami
3. Poligami/poliandri
4. Perzinahan/percabulan

Karena menyangkut masalah (hukum, peraturan, ketetapan) moral, ini merupakan pilihan bagi kita, yang terkait langsung dengan hak-hak dan kewajiban moral dan hukum, reward & punishment baik untuk jangka taktis maupun jangka panjang sampai kekekalan. Hukum moral Alkitab bukan sesuatu yang sia2 untuk dilakukan bagi pelaku moral, karena secara biblika dan iman, jelas mengandung janji dan berkat bagi yang melakukannya sebagai suatu mandat moral. Demikian sebaliknya.

a) Selibat
Disebut, ALANGKAH BAIK bila laki-laki itu tidak kawin (selibat)
1 Kor 7: 7a: "Alangkah baiknya kalau semua orang seperti aku (Rasul Paulus)..."
1 Kor 7: 1: "Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.."
Moral Alkitab sebagaimana Paulus katakan, memiliki dasar theologis dan filosofis yang sangat kuat: "Tetapi siapa yang mengikat dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia" (1 Kor 6:17). Ini beralasan, karena Tuhan tidak sudi diduakan sebagaimana hukum pertama dari 10 Perintah Allah. Contoh selibat adalah: Yesus sendiri, Rasul Paulus, dan banyak tokoh-tokoh pilihan dalam sejarah gereja.
Istilah "alangkah baiknya" mencerminkan ukuran standar moral yang diatas normal ukuran manusia pada umumnya. Memiliki hak untuk kawin, tapi memutuskan tidak mengambil hak tersebut demi pengikatan diri kepada Tuhan. Bukan memilih perkawinan, tapi memilih pertidak-kawinan. Sebab itu Paulus menyatakan itu sebagai karunia, karunia yang khas (1 Kor 7: 7b).

b) MonogamiDisebut, BAIK kalau laki-laki itu monogami.
1 Kor 7: 2: "Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri (baca: monogami) dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri (baca: monoandri)".
Monogami dan monoandri merupakan ukuran standar normal dalam perkawinan manusia. Ukuran kehormatan, suatu respek di hadapan Tuhan, di hadapan orang lain dan di hadapan diri sendiri. Makna Gereja sebagai Kerajaan Allah, memaknai bahwa umat sudah seharusnya mencontoh dan meneladani pemimpinnya, baik itu penatua, diaken, penilik jemaat dst, begitu pun sebaliknya para pemimpin umat dalam Kerajaan Allah memberi contoh pada umat, membina agar umat juga mengikuti pola hidup Kerajaan, yang mengandung kebenaran, kuasa, damai sejahtera dan sukacita.

c) Poligami/poliandriBagaimana dengan poligami/poliandri?
Secara tersirat, laki-laki yang tidak melakukan keputusan atau pilihan selibat dan/atau tidak monogami, tidak dapat dimasukkan dalam standar atau kriteria "alangkah baiknya" atau "baik". Atau dengan kata lain, secara moral Alkitab berdasar aspek theologis, filosofis dan sosiologis, poligami atau poliandri termasuk dalam standar atau kriteria "KURANG BAIK".
Secara moral Alkitab, poligami atau poliandari berada di bawah standar ukuran normal dalam moral perkawinan. Berdasar I Tim 3: 2-3 & 12 poligami membuat laki-laki sulit sekali untuk berlaku "tak bercacat, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar (memberi teladan) orang, bukan peminum, bukan pemarah.... .
12) dapat mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik..... di mana ukuran-ukuran moral ini disetarakan posisinya dengan ukuran moral perkawinan monogami/monoandri.
Contoh poligami/poliandri dampaknya tidak baik/kurang baik bila diambil contoh sejarah dalam PL, dapat dilihat pada kehidupan dalam PL: seperti Abraham, Sarah dan Hagar, kehidupan Raja Salomo dengan isteri-isterinya (jumlah ratusan)., dalam PB: poliandri, perempuan Samaria yang dijumpai Yesus di sumur Yakub (Yoh. 4) sebelum diubahkan oleh perkataan Kristus.

d) Percabulan & perzinahan. Bagaimana dengan percabulan dan perzinahan?
"Jangan sesat! orang cabul..., orang berzinah..., tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Secara implisit, moral Alkitab menyatakan bahwa yang melakukan percabulan & perzinahan termasuk dalam standar atau kriteria "alangkah tidak baiknya" atau memiliki moral yang (ter)rendah, hingga bentuk "punishment" maksimal adalah tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

So, sekarang tinggal pilihan kita masing-masing mau memilih ukuran moral yang termasuk "alangkah baiknya" dan merupakan karunia yang khas, atau "baik dan normal" monogami, atau poligami atau moral yang (ter)rendah yaitu perzinahan/percabulan.

Tentu dengan berbagai bentuk resiko, konsekuensi moral dan tanggung jawabnya sendiri baik di hadapan Pencipta, di hadapan orang lain dan di hadapan diri sendiri, untuk masa kini dan ke depan sampai kekekalan.

Kalau saya, dalam anugerah dan rakhmat Tuhan memilih ukuran yang baik dan normal saja: monogami! Dulu waktu remaja/pemuda, pernah memikirkan untuk memilih selibat. Tapi kemudian makin menyadari tidak diberikan karunia khas untuk itu.

Terima kasih, salam pencerahan!
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Foto udara Pulau Alor NTT

Foto udara Pulau Alor NTT
Photo, 2007