"Sungguh, Akulah yang dinanti-nantikan pulau-pulau yang jauh.." (Yesaya 60: 9a).
"Dengarkanlah Aku dengan berdiam diri, hai pulau-pulau; hendaklah bangsa-bangsa mendapat kekuatan baru! Biarlah mereka datang mendekat, kemudian berbicara; baiklah kita tampil bersama-sama untuk berperkara!" (Yesaya 41:1).
"Dalam sekejap mata keselamatan yang dari pada-Ku akan dekat, kelepasan yang Kuberikan akan tiba, dan dengan tangan kekuasaan-Ku Aku akan memerintah bangsa-bangsa; kepada-Kulah pulau-pulau menanti-nanti, perbuatan tangan-Ku mereka harapkan" (Yesaya 51:5).
Bersyukur pelayanan misi ke pulau Sumba yakni wilayah Sumba Barat dan Sumba Timur pada tanggal 12-19 Oktober 2007, telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Program misi kali ini adalah melakukan audit, monitoring dan evaluasi (MonEv) terhadap kegiatan program pemberdayaan jemaat terpadu yang dilakukan oleh sayap pelayanan diakonia Gereja Kristen Sumba (GKS) yaitu Yayasan Kuda Putih Sejahtera (YKPS) dan rintisan program baru yang dijalankan lembaga lokal independen Yayasan Empati Sumba (YES) yang berkantor di Waingapu, Sumba Timur.
Tim pelayanan misi ke pulau Sumba didukung oleh 2 orang, yaitu Ibu NY Budiasih didampingi oleh Bpk IM Suwita. Kunjungan ini mengikuti pelayanan misi Bpk Hans Midas Simanjuntak sebelumnya ke Sumba Barat/Barat Daya dan Sumba Timur yang dilakukan pada bulan Maret 2006 yang lalu, bersama tim Transformation Conncection Indonesia (TCI) hampir ke seluruh pelosok pulau. Masih sangat banyak daerah/lokasi yang mengalami sulitnya memperoleh air bersih hingga belasan & puluhan kilometer jauhnya.
Tim telah mengecek pula berjalannya bantuan sistem komputerisasi YKPS (Diamond Software), agar administrasi pelayanan dan keuangan kelembagaan dapat berjalan dengan baik.
Bantuan pendanaan untuk YKPS dan YES Sumba diperoleh dari sejumlah donatur yang empati terhadap keadaan yang dialami/dihadapi pulau Sumba. Program kegiatan terpadu yang telah dilakukan meliputi:
- program pengentasan kemiskinan/pemiskinan di daerah pesisir dan hinterland.
- follow-up penginjilan kepada suku asli tradisionil Sumba suku Merapu yang masih menganut kepercayaan animisme/dinamisme.
- program penyediaan air bersih.
- intensifikasi pertanian lahan kering: jagung, cassava, dll dan microfinancing.
- penguatan kelembagaan dan pemberdayaan pendidikan keluarga jemaat.
- program pengadaan studio siaran radio lokal pulau Sumba: Global FM Sumba.
Telah banyak lokasi dan kelompok jemaat serta masyarakat di Sumba yang merasakan dampak positif dari program transformasi yang dijalankan, terutama 3 tahun terakhir ini.
Masih diperlukan dukungan dan pembenahan-pembenahan sekaitan program misi di pulau Sumba, yakni dalam hal aspek pembaharuan spiritualitas, wawasan hidup Kristen, korelasi Injil & budaya setempat, masalah tertib-administrasi dan manajemen lembaga, pelaporan dan efektifitas program. Anyhow, perjalanan tim misi kali ini telah memberikan sumbangsih sangat penting bagi penguatan dan pemberdayaan jemaat Kristen dan masyarakat di Sumba Barat dan Sumba Timur.
Saturday, October 20, 2007
Friday, October 5, 2007
Usaha Gereja dalam Pelestarian Lingkungan Hidup.
[Telah dimuat dalam Buletin Narhasem HKPB Semper edisi Oktober 2007].
Gereja masa kini dan ke depan, khususnya para pemuda (naposo) dan remaja Kristen, mau tidak mau sangat ditantang dengan isu-isu permasalahan lingkungan yang banyak muncul akhir-akhir ini dan harus dihadapi.
Isu pemanasan global & dampaknya. Isu yang telah mendunia, mengundang perhatian banyak kalangan. Meskipun masih mengundang pro-kontra dalam pembahasannya di antara para scientist. Pemanasan global atau global warming adalah kejadian meningkatnya temperatur suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Kenaikan rata-rata itu kini mencapai 2 derajat Celsius per tahun. Penyebab utamanya adalah adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas gas asam arang (karbondioksida, CO2) dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer makin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi. Yang paling besar menyumbang emisi karbon ini adalah aktifitas pembangunan pabrik dan rumah kaca, pembakaran lahan dan bencana asap. Faktor-faktor ini mengakibatkan emisi karbon meningkat secara tajam, berakibat pada rusaknya lapisan ozon bumi. Perhitungan dan penelitian yang antara lain dilakukan laboratorium air Delft Hydraulics, menyatakan bahwa ternyata 2.000 juta ton gas asam arang (CO2) telah keluar tiap tahun akibat kebakaran tanah gambut di Kalimatan dan Sumatra. Pancaran gas asam arang di dunia saat ini mencapai 26.000 juta ton. Jika pancaran tanah gambut ikut dihitung, maka Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Amerika Serikat dan Cina sebagai negara terbesar pembuang gas CO2.
Pembangunan yang ’asal-asalan’ (baca: acak-acakan) dan semena-mena telah berlangsung dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Dampaknya lingkungan hidup rusak parah. Produsen primer di alam menjadi sakit bermasalah. Energi di ambang kritis, jaring2 makanan (food web) pupus, daur air kacau, emisi karbon meningkat secara eksponensiil. Banyak lahan makin sulit ditanami, menjadi lahan kritis, tidak subur. Unsur-unsur hidup, relung ekologis, populasi penduduk naik tanpa terkendali. Reproduksi keturunan tak berstrategi, suksesi ekologis ’mampet’, terumbu karang habis, komposisi atmosfer berubah. Bila lapisan ozon bumi rusak dan ”bolong”, maka panas ganda permukaan bumi akan melelehkan es di kutub. Ini membuat volume air laut dan gelombang pasang air laut naik secara sistematis. Meniscayakan ribuan pulau akan tenggelam, antara lain di Kep Maldives, Lautan Pasifik dan Maluku. Termasuk bagian utara Jakarta diprediksi akan tenggelam bila tak ada upaya pencegahan yang riel. Itu diperkirakan akan terjadi dalam 40-70 tahun ke depan.
Protokol Kyoto. Kerjasama internasional pada tahun 1997 di Kyoto Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca (CO2 dan gas-gas lainnya), yang sangat merusak lapisan ozon dan berakibat kepada pemanasan global. Perjanjian ini adalah tindak-lanjut dari Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992, dimana 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Presiden SBY di Sidang Umum PBB New York sekaitan Perjanjian ini, menyatakan bahwa Indonesia akan mengambil peran lebih besar dan lebih aktif untuk komitmen pengurangan emisi karbon dalam kerjasama dengan negara-negara maju seperti AS, Rusia, Jepang, dll terkait bantuan dana dan teknologi.
Swalayan bencana karena rusaknya lingkungan. Beberapa tahun terakhir ini negeri ini semakin sering diterpa bencana. Bencana alam berupa banjir (seperti banjir Jakarta Maret 2007 lalu, banjir siklus 5 tahunan), kemarau panjang, tsunami seperti di Aceh & Pangandaran, gempa bumi (Aceh/Nias, Yogya/Klaten, Bengkulu), gunung berapi, kebakaran hutan (Sumatera, Kalimantan), tanah longsor (Kalsel, Sinjau Sulsel, Gorontalo, dll). Ambruknya TPA Bantar Gebang Bekasi dan TPA di Bandung Jawa Barat, yang menelan korban jiwa. Semua tak dapat dilepaskan akibat kondisi makin rusak dan parahnya lingkungan. Masalah lingkungan di negeri ini sudah sama-sama kita tahu: penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerak perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia, tidak pernah lepas dari kemacetan); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur panas di Porong Sidoarjo, Jawa Timur, dsb.
Kerusakan lingkungan harus segera dicegah, pelestarian dikerjakan! Sudah tiba saatnya Gereja, naposo dan remaja Kristen berbuat hal yang riel berkaitan dengan persoalan lingkungan. Tidak bisa lagi hanya dengan sebatas wacana. Namun, harus dalam bentuk kongkrit rencana aksi diupayakan. Mulai dari kesadaran diri pribadi. Keluarga. Bersama dengan pemerintah, sekolah/perguruan tinggi, perusahaan, media, LSM dan unsur-unsur masyarakat lainnya. Komitmen untuk bersama menjadikan semua aspek kehidupan sebagai gaya hidup yang ramah lingkungan (environment friendly).
Hal-hal berikut menjadi kebutuhan & fokus utama untuk diperhatikan dengan seksama:
1) Ketersediaan air bersih (untuk minum, masak, cuci, dsb): dalam jumlah maupun kualitas.
2) Kebersihan udara bebas polusi, bebas dari pencemaran terutama di kota besar & industri.
3) Kesuburan tanah: meningkatkan kembali tingkat kesuburan tanah/lahan.
4) Tingkat keragaman biota: meningkatkannya kembali keanekaragaman hayati, misalnya melalui upaya reboisasi hutan gundul.
Arti lingkungan dan upaya pelestariannya. Wikipedia encyclopedia memberi batasan lingkungan hidup atau lingkungan sebagai: (1) Daerah di mana sesuatu mahluk hidup berada, (2) Keadaan/kondisi yang melingkupi suatu mahluk hidup, dan (3) Keseluruhan keadaan yang meliputi suatu mahluk hidup atau sekumpulan mahluk hidup, terutama: a) Kombinasi berbagai kondisi fisik di luar mahluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan mahluk hidup untuk bertahan hidup, dan b) Gabungan kondisi sosial dan budaya yang berpengaruh pada keadaan suatu individu mahluk hidup atau suatu perkumpulan/ komunitas mahluk hidup. Istilah lingkungan hidup atau lingkungan sering dipertukarkan dalam pengertian yang sama. Ilmu yang mempelajari persoalan lingkungan disebut Ekologi. Jika lingkungan dikaitkan dengan hukum/aturan pengelolaannya, maka batasan wilayah wewenang pengelolaan dalam lingkungan tersebut menjadi lebih jelas. Dalam konteks politik, lingkungan hidup bagi republik ini disebut Wawasan Nusantara. Menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim. Memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa ini menyelenggarakan kehidupan berbangsa, bernegara, beragama dan bermasyarakat.
Dengan batasan ini, lingkungan hidup atau persoalan lingkungan kini tidak dapat lagi dipandang hanya sekedar sebagai ”pemantas” belaka (Batak: ondeng) oleh manusia dan bagi manusia. Cara pandang, paradigma atau mindset antroposentrisme yang mungkin selama ini masih dianut, yakni menganggap manusia adalah segala-galanya, pusat dari sistem alam semesta, atau nilai tertinggi dalam menentukan setiap kebijakan lingkungan, sesungguhnya tidak dapat dipertahankan lagi. Kutipan terhadap bagian Alkitab, Kejadian 1: 26-28, yang ditafsirkan bahwa Allah memberi kewenangan penuh kepada manusia (yang “segambar” dengan-Nya), dan kemudian dijadikan alasan pembenaran bagi manusia untuk mengeksploitasi alam habis-habisan demi kepentingannya sendiri, sungguh merupakan hal yang naif, keliru dan tidak bisa diterima! Yang benar, adalah manusia adalah ciptaan Allah, bagian dari lingkungan yang diciptakan Allah. Cara pandang, paradigma mindset yang benar adalah Allah lah pusatnya, segala-galanya (teosentris) dan melaluiNya lingkungan diciptakan (ekosentris), bumi diciptakan (geosentris), sebagaimana kalangan Deep Ecology (DE) atau ”Ekologi Mendalam” menya-takannya.
Mengapa lingkungan perlu dilestarikan? Seperti ilustrasi tubuh, lingkungan itulah tubuhnya. Manusia adalah bagian dari tubuh itu sendiri. Bagian tubuh lain misalnya adalah hewan/binatang (fauna), tumbuhan vegetasi hutan (flora), material seperti: tanah, pasir, air, udara, batu, mineral, logam dst. Tubuh ’lingkungan’ ini diciptakan oleh Allah. Maka jika kita menghargai lingkungan, lingkungan dihargai dan dilestarikan, maka itu sama dengan kita menghargai Allah. Sama dengan kita mempermuliakan Allah. Lingkungan perlu dilestarikan bukanlah untuk pemuasan kebutuhan manusia, karena manusia memang bukan pusat segala-galanya di alam semesta. Pelestarian ini dilakukan adalah untuk kepentingan dan keperluan lingkungan itu sendiri. Lingkungan yang lestari adalah lingkungan yang terus berkelanjutan (sustainable). Lingkungan lestari adalah tanda nyata dari kehadiran Allah yang memberi damai-sejahtera, keindahan, keseimbangan, kebaikan dan sukacita bagi semua makhluk, segenap ciptaan di seluruh persada jagad-raya.
Peran dan usaha gereja dalam pelestarian lingkungan? Sudah tiba saatnya Gereja mengambil peran aktif, jika memungkinkan mengambil tempat di barisan terdepan, guna menyadarkan khalayak bahwa cara pandang antroposentrisme sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Cara pandang itu harus diubah menjadi cara pandang teosentris (berpusat pada Allah), yang melaluinya kita dapat semakin menghargai lingkungan (ekosentris), di mana kita manusia hidup dan tinggal. Bersama-sama Allah sebagai mitraNya, dalam pimpinanNya, dan dengan makhluk ciptaan lainnya, Gereja seharusnya melakukan tugas restorasi, pemulihan dan pelestarian lingkungan.
1. Sebagai pembawa misi Allah, Gereja menjadi pemrakarsa awal, penghimbau, penegur sekaligus menjadi contoh terkait usaha pencegahan kerusakan lingkungan menjadi lebih parah, karena dampak pemanasan global dan berbagai bencana akibat faktor lingkungan. Tujuannya agar bumi dapat tetap layak dihuni oleh segenap makhluk. Hutan, pohon-pohon, hewan-hewan, tanah/lahan serta isinya, berikut sumberdaya alam lainnya (air bersih, udara, keragaman biota) untuk keperluan pemberdayaan dan kehidupan, hendaknya dipergunakan secukupnya/sewajarnya. Masih dalam batas-batas persediaan yang memungkinkan kehidupan dan pemberdayaan dapat tetap berlanjut. Berperiode jangka panjang, antar generasi. Tidak akan dibiarkan sampai habis dan punah. Melainkan masih tersisa, sehingga upaya pemberdayaan, hidup dan ketersediaan sumberdaya alam tadi dapat terus berkelanjutan bagi kepentingan generasi anak cucu mendatang.
2. Gereja disadarkan kembali bahwa mempermuliakan Tuhan berarti mencintai menghargai melestarikan lingkungan, di mana segenap ciptaan Allah hidup dan tinggal. Menghargai melestarikan lingkungan, berarti menghargai kehidupan berkelanjutan itu sendiri. Sikap penghargaan ini, mungkin bisa diekspresikan misalnya dalam ibadah ritual, melalui penggunaan pola liturgi yang bernuansakan ekologis, berisikan pesan-pesan pelestarian lingkungan. Di ranah publik, Gereja dapat mencanangkan gerakan penyadaran lingkungan di tengah masyarakat melalui program-program tertentu di sekolah-sekolah kristen yang didirikan, di rumah-rumah sakit kristen, melalui komunitas politisi dan birokrat kristen, media, multimedia, LSM-LSM di dalam dan disekitar gereja, dsb. Bila terjadi bencana akibat faktor lingkungan di satu tempat, Gereja dapat secara aktif terjun langsung dalam aktifitas lingkungan dan kemanusian. Melakukan tindakan darurat (emergency rescue), crisis response. Membantu misalnya dalam upaya evakuasi korban, penanganan saat bencana (terapi penyembuhan, trauma, psikis) dan pasca bencana misalnya dalam bentuk relief, rehabilitasi, rekonstruksi dan recovery sosial-ekonomi. Demikian juga dalam pencanangan gerakan, sebut saja gerakan pelestarian hutan (Gerhan), Gereja dapat berperan aktif melalui LSM-LSM kristen yang diprakarsainya.
3. Gereja dan warga jemaat kristen memprakarsai suatu cara pandang ’baru’ bahwa pementingan terhadap diri sendiri (individualisme) demi kebutuhan masyarakat yang lebih luas dan kecintaan penghargaan kepada lingkungan, harus dikendalikan, lebih bisa ditahan dan diperlembut (ingat buah Roh: penguasaan diri), namun bukan berarti rasa penghargaan terhadap diri pribadi menjadi hilang atau berkurang. Contoh kongkrit, misalnya jika transportasi umum kelak sudah semakin memadai dalam jumlah dan kualitas di Ibukota, maka dirasa lebih baik menggunakan fasilitas transportasi umum ketimbang mobil/kendaraan pribadi. Hal senada dilakukan pemerintah dan pengusaha terhadap hutan. Lebih berorientasi kepada upaya proteksi hutan yang pro-lingkungan, ketimbang upaya eksploitasi hutan yang pro-keuntungan rupiah/dollar investasi sesaat. Demikianpun dengan masalah kependudukan. Akan lebih baik mempertimbangkan faktor ekologis, ketimbang mengikuti naluri kebebasan individu dalam bereproduksi sebanyak-banyak jumlah anak tanpa mengindahkan nilai-nilai penting dari perencanaan keluarga atau keluarga berencana.
4. Secara spiritualitas ekologis, Gereja semakin peka dan menghargai lebih dalam kehidupan Allah Tritunggal. Allah yang secara penuh menjelma dalam Kristus meneguhkan nilai materi dari ciptaan. Kristus meneguhkan pentingnya nilai lingkungan. Maka doa juga menjadi bagian iman gereja yang berakar pada kasih kepada Allah dan kasih kepada lingkungan, ciptaan! Sekaitan ini, Gereja semakin peka terhadap aspek keadilan (justice), terutama bagi mereka yang terpinggirkan baik secara gender, strata sosial-ekonomi, ras, agama dlsb, yang dengannya Gereja dapat memprakarsai berbagai upaya dialog guna mengatasi kesenjangan atau ketimpangan-ketimpangan sosial yang ada. Karena berbicara lingkungan, tentu mencakup pula persoalan ranah spiritualitas dan ranah sosial.
Apa yang bisa dilakukan warga HKBP Semper cq naposo remaja Narhasem? Bisa dilakukan dari hal-hal yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, betul-betul menghemat pemakaian air bersih untuk keperluan memasak, mandi, mencuci, dsb. Menghemat pemakaian bahan bakar/BBM (pertamax, premium atau solar) untuk kendaraan bermotor, mobil atau sepeda motor. Ganti dengan bahan bakar yang ramah lingkungan, seperti bahan bakar jarak pagar (Jathropa). Kampanye menggunakan sepeda untuk ke sekolah, ke kampus atau tempat pekerjaan, merupakan hal yang sangat dihargai. Hemat pemakaian listrik, lampu-lampu rumah diganti dengan jenis lampu hemat energi, kebiasaan mematikan lampu, dsb.
Membuang sampah pada tempatnya, tidak sembarangan, menjadi kebiasaan yang baik dan dikomitmentkan. Dengan membiasakan diri memisahkan jenis sampah basah dan sampah kering. Tujuannya, untuk alternatif pengolahan bio kompos (pupuk organik) dan daur ulang menjadi material baru yang berguna. Contoh saja di IPPL Jakarta, ada pelatihan bagi remaja dan naposo agar mampu memanfaatkan sumberdaya seperti cabai, pepaya, tomat, dan lain sebagainya di berbagai pasar tradisional di Jakarta untuk dijadikan saos. Cabai, pepaya, tomat yang tidak dimanfaatkan pedagang karena pembusukan dimanfaatkan naposo dan remaja untuk ditingkatkan nilainya dengan cara membuat saos. Sehingga, pasar-pasar tradisional berkurang sampahnya.
Mendukung gerakan kebersihan lingkungan rumah, sekolah, gedung ibadah, tempat pekerjaan dari tumpukan sampah, lancarnya aliran air selokan, aliran kali dan sungai yang dapat mengakibatkan banjir di bantaran kali hingga ke rumah-rumah warga. Naposo dan remaja mulai sekarang juga dapat bertekad membatasi mengurangi penggunaan bahan-bahan yang terbuat dari plastik seperti tas kresek platik, tas plastik, bekas pembalut, sterioform – kotak pembungkus makanan dll (karena sangat sukar di daur ulang). Juga mengurangi penggunaan tissue basah dan tissue kering, karena dibuat melalui pengurangan/pembabatan pohon atau hutan. Padahal hutan dan pepohonan adalah media efektif untuk menghilangkan gas karbondioksida (CO2) dalam jumlah banyak di udara. Menanam pohon baru, memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi adalah cara jitu mengurangi efek rumah kaca, perusakan ozon bumi dan dampak lebih besar dari pemanasan global. Jenis pohon yang bagus untuk ditanam a.l duwet, buni, menteng, gandaria, mahoni, kemang, lobi-lobi, mangga, jambu, durian, rambutan, kelapa hibrida, dan sawo duren.
Pemuda (naposo) dan remaja dapat menghemat pemakaian kertas yang bahan materialnya dari pohon. juga bisa terlibat dalam upaya pencegahan kepunahan jenis binatang dan tumbuhan, ikut menyuarakan kesadaran akan pentingnya pengenalan alam sekitar, informasi terkait dampak pemanasan global, ledakan populasi dan bahaya bencana karena faktor lingkungan, lewat berbagai media apa saja yang bisa dikerjakan seperti membuat artikel majalah dinding (mading) dan buletin sekolah, milist, radio remaja, pagelaran musik, puisi dan kreativitas, kegiatan retret dan bible-camp, dsb.
Kalimat di bawah ini semoga bisa jadi perenungan kita:
”Jika pohon terakhir telah ditebang, jika sungai terakhir telah tercemar, jika ikan terakhir telah ditangkap, baru manusia akan sadar bahwa mereka tidak akan bisa makan uang.” (Green Peace).
“Bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang (semua orang di muka bumi), tapi tak bisa mencukupi orang-orang (sebagian orang) yang rakus.” (Mahatma Gandhi)
”Mempermuliakan Tuhan caranya yang tepat adalah melalui menghargai lingkungan. Melestarikan lingkungan, adalah tanda seseorang mempermuliakan Tuhan (Anonym).
Soli Deo gloria.
Referensi:
1) Celia Deane-Drummond, 2006. Teologi & Ekologi, Buku Pegangan. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
2) http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan_hidup
3) Lingkungan Hidup, GKI Kayu Putih Jaktim.
4) Weinata Sairin, M.Th, 2000. Gereja, Agama-Agama dan Pembangunan Nasional. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
5) http://hansmidassmjntk.blogspot.com/Archieve/Juni 2007. Istilah Kata Pembangun- an”: Masih Layakkah Kita Pergunakan dan Populerkan di Jaman Begini ??, artikel Hans Midas Simanjuntak lewat informasi Transforma Sarana Media.
Gereja masa kini dan ke depan, khususnya para pemuda (naposo) dan remaja Kristen, mau tidak mau sangat ditantang dengan isu-isu permasalahan lingkungan yang banyak muncul akhir-akhir ini dan harus dihadapi.
Isu pemanasan global & dampaknya. Isu yang telah mendunia, mengundang perhatian banyak kalangan. Meskipun masih mengundang pro-kontra dalam pembahasannya di antara para scientist. Pemanasan global atau global warming adalah kejadian meningkatnya temperatur suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Kenaikan rata-rata itu kini mencapai 2 derajat Celsius per tahun. Penyebab utamanya adalah adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas gas asam arang (karbondioksida, CO2) dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer makin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi. Yang paling besar menyumbang emisi karbon ini adalah aktifitas pembangunan pabrik dan rumah kaca, pembakaran lahan dan bencana asap. Faktor-faktor ini mengakibatkan emisi karbon meningkat secara tajam, berakibat pada rusaknya lapisan ozon bumi. Perhitungan dan penelitian yang antara lain dilakukan laboratorium air Delft Hydraulics, menyatakan bahwa ternyata 2.000 juta ton gas asam arang (CO2) telah keluar tiap tahun akibat kebakaran tanah gambut di Kalimatan dan Sumatra. Pancaran gas asam arang di dunia saat ini mencapai 26.000 juta ton. Jika pancaran tanah gambut ikut dihitung, maka Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Amerika Serikat dan Cina sebagai negara terbesar pembuang gas CO2.
Pembangunan yang ’asal-asalan’ (baca: acak-acakan) dan semena-mena telah berlangsung dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Dampaknya lingkungan hidup rusak parah. Produsen primer di alam menjadi sakit bermasalah. Energi di ambang kritis, jaring2 makanan (food web) pupus, daur air kacau, emisi karbon meningkat secara eksponensiil. Banyak lahan makin sulit ditanami, menjadi lahan kritis, tidak subur. Unsur-unsur hidup, relung ekologis, populasi penduduk naik tanpa terkendali. Reproduksi keturunan tak berstrategi, suksesi ekologis ’mampet’, terumbu karang habis, komposisi atmosfer berubah. Bila lapisan ozon bumi rusak dan ”bolong”, maka panas ganda permukaan bumi akan melelehkan es di kutub. Ini membuat volume air laut dan gelombang pasang air laut naik secara sistematis. Meniscayakan ribuan pulau akan tenggelam, antara lain di Kep Maldives, Lautan Pasifik dan Maluku. Termasuk bagian utara Jakarta diprediksi akan tenggelam bila tak ada upaya pencegahan yang riel. Itu diperkirakan akan terjadi dalam 40-70 tahun ke depan.
Protokol Kyoto. Kerjasama internasional pada tahun 1997 di Kyoto Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca (CO2 dan gas-gas lainnya), yang sangat merusak lapisan ozon dan berakibat kepada pemanasan global. Perjanjian ini adalah tindak-lanjut dari Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992, dimana 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Presiden SBY di Sidang Umum PBB New York sekaitan Perjanjian ini, menyatakan bahwa Indonesia akan mengambil peran lebih besar dan lebih aktif untuk komitmen pengurangan emisi karbon dalam kerjasama dengan negara-negara maju seperti AS, Rusia, Jepang, dll terkait bantuan dana dan teknologi.
Swalayan bencana karena rusaknya lingkungan. Beberapa tahun terakhir ini negeri ini semakin sering diterpa bencana. Bencana alam berupa banjir (seperti banjir Jakarta Maret 2007 lalu, banjir siklus 5 tahunan), kemarau panjang, tsunami seperti di Aceh & Pangandaran, gempa bumi (Aceh/Nias, Yogya/Klaten, Bengkulu), gunung berapi, kebakaran hutan (Sumatera, Kalimantan), tanah longsor (Kalsel, Sinjau Sulsel, Gorontalo, dll). Ambruknya TPA Bantar Gebang Bekasi dan TPA di Bandung Jawa Barat, yang menelan korban jiwa. Semua tak dapat dilepaskan akibat kondisi makin rusak dan parahnya lingkungan. Masalah lingkungan di negeri ini sudah sama-sama kita tahu: penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerak perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia, tidak pernah lepas dari kemacetan); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur panas di Porong Sidoarjo, Jawa Timur, dsb.
Kerusakan lingkungan harus segera dicegah, pelestarian dikerjakan! Sudah tiba saatnya Gereja, naposo dan remaja Kristen berbuat hal yang riel berkaitan dengan persoalan lingkungan. Tidak bisa lagi hanya dengan sebatas wacana. Namun, harus dalam bentuk kongkrit rencana aksi diupayakan. Mulai dari kesadaran diri pribadi. Keluarga. Bersama dengan pemerintah, sekolah/perguruan tinggi, perusahaan, media, LSM dan unsur-unsur masyarakat lainnya. Komitmen untuk bersama menjadikan semua aspek kehidupan sebagai gaya hidup yang ramah lingkungan (environment friendly).
Hal-hal berikut menjadi kebutuhan & fokus utama untuk diperhatikan dengan seksama:
1) Ketersediaan air bersih (untuk minum, masak, cuci, dsb): dalam jumlah maupun kualitas.
2) Kebersihan udara bebas polusi, bebas dari pencemaran terutama di kota besar & industri.
3) Kesuburan tanah: meningkatkan kembali tingkat kesuburan tanah/lahan.
4) Tingkat keragaman biota: meningkatkannya kembali keanekaragaman hayati, misalnya melalui upaya reboisasi hutan gundul.
Arti lingkungan dan upaya pelestariannya. Wikipedia encyclopedia memberi batasan lingkungan hidup atau lingkungan sebagai: (1) Daerah di mana sesuatu mahluk hidup berada, (2) Keadaan/kondisi yang melingkupi suatu mahluk hidup, dan (3) Keseluruhan keadaan yang meliputi suatu mahluk hidup atau sekumpulan mahluk hidup, terutama: a) Kombinasi berbagai kondisi fisik di luar mahluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan mahluk hidup untuk bertahan hidup, dan b) Gabungan kondisi sosial dan budaya yang berpengaruh pada keadaan suatu individu mahluk hidup atau suatu perkumpulan/ komunitas mahluk hidup. Istilah lingkungan hidup atau lingkungan sering dipertukarkan dalam pengertian yang sama. Ilmu yang mempelajari persoalan lingkungan disebut Ekologi. Jika lingkungan dikaitkan dengan hukum/aturan pengelolaannya, maka batasan wilayah wewenang pengelolaan dalam lingkungan tersebut menjadi lebih jelas. Dalam konteks politik, lingkungan hidup bagi republik ini disebut Wawasan Nusantara. Menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim. Memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa ini menyelenggarakan kehidupan berbangsa, bernegara, beragama dan bermasyarakat.
Dengan batasan ini, lingkungan hidup atau persoalan lingkungan kini tidak dapat lagi dipandang hanya sekedar sebagai ”pemantas” belaka (Batak: ondeng) oleh manusia dan bagi manusia. Cara pandang, paradigma atau mindset antroposentrisme yang mungkin selama ini masih dianut, yakni menganggap manusia adalah segala-galanya, pusat dari sistem alam semesta, atau nilai tertinggi dalam menentukan setiap kebijakan lingkungan, sesungguhnya tidak dapat dipertahankan lagi. Kutipan terhadap bagian Alkitab, Kejadian 1: 26-28, yang ditafsirkan bahwa Allah memberi kewenangan penuh kepada manusia (yang “segambar” dengan-Nya), dan kemudian dijadikan alasan pembenaran bagi manusia untuk mengeksploitasi alam habis-habisan demi kepentingannya sendiri, sungguh merupakan hal yang naif, keliru dan tidak bisa diterima! Yang benar, adalah manusia adalah ciptaan Allah, bagian dari lingkungan yang diciptakan Allah. Cara pandang, paradigma mindset yang benar adalah Allah lah pusatnya, segala-galanya (teosentris) dan melaluiNya lingkungan diciptakan (ekosentris), bumi diciptakan (geosentris), sebagaimana kalangan Deep Ecology (DE) atau ”Ekologi Mendalam” menya-takannya.
Mengapa lingkungan perlu dilestarikan? Seperti ilustrasi tubuh, lingkungan itulah tubuhnya. Manusia adalah bagian dari tubuh itu sendiri. Bagian tubuh lain misalnya adalah hewan/binatang (fauna), tumbuhan vegetasi hutan (flora), material seperti: tanah, pasir, air, udara, batu, mineral, logam dst. Tubuh ’lingkungan’ ini diciptakan oleh Allah. Maka jika kita menghargai lingkungan, lingkungan dihargai dan dilestarikan, maka itu sama dengan kita menghargai Allah. Sama dengan kita mempermuliakan Allah. Lingkungan perlu dilestarikan bukanlah untuk pemuasan kebutuhan manusia, karena manusia memang bukan pusat segala-galanya di alam semesta. Pelestarian ini dilakukan adalah untuk kepentingan dan keperluan lingkungan itu sendiri. Lingkungan yang lestari adalah lingkungan yang terus berkelanjutan (sustainable). Lingkungan lestari adalah tanda nyata dari kehadiran Allah yang memberi damai-sejahtera, keindahan, keseimbangan, kebaikan dan sukacita bagi semua makhluk, segenap ciptaan di seluruh persada jagad-raya.
Peran dan usaha gereja dalam pelestarian lingkungan? Sudah tiba saatnya Gereja mengambil peran aktif, jika memungkinkan mengambil tempat di barisan terdepan, guna menyadarkan khalayak bahwa cara pandang antroposentrisme sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Cara pandang itu harus diubah menjadi cara pandang teosentris (berpusat pada Allah), yang melaluinya kita dapat semakin menghargai lingkungan (ekosentris), di mana kita manusia hidup dan tinggal. Bersama-sama Allah sebagai mitraNya, dalam pimpinanNya, dan dengan makhluk ciptaan lainnya, Gereja seharusnya melakukan tugas restorasi, pemulihan dan pelestarian lingkungan.
1. Sebagai pembawa misi Allah, Gereja menjadi pemrakarsa awal, penghimbau, penegur sekaligus menjadi contoh terkait usaha pencegahan kerusakan lingkungan menjadi lebih parah, karena dampak pemanasan global dan berbagai bencana akibat faktor lingkungan. Tujuannya agar bumi dapat tetap layak dihuni oleh segenap makhluk. Hutan, pohon-pohon, hewan-hewan, tanah/lahan serta isinya, berikut sumberdaya alam lainnya (air bersih, udara, keragaman biota) untuk keperluan pemberdayaan dan kehidupan, hendaknya dipergunakan secukupnya/sewajarnya. Masih dalam batas-batas persediaan yang memungkinkan kehidupan dan pemberdayaan dapat tetap berlanjut. Berperiode jangka panjang, antar generasi. Tidak akan dibiarkan sampai habis dan punah. Melainkan masih tersisa, sehingga upaya pemberdayaan, hidup dan ketersediaan sumberdaya alam tadi dapat terus berkelanjutan bagi kepentingan generasi anak cucu mendatang.
2. Gereja disadarkan kembali bahwa mempermuliakan Tuhan berarti mencintai menghargai melestarikan lingkungan, di mana segenap ciptaan Allah hidup dan tinggal. Menghargai melestarikan lingkungan, berarti menghargai kehidupan berkelanjutan itu sendiri. Sikap penghargaan ini, mungkin bisa diekspresikan misalnya dalam ibadah ritual, melalui penggunaan pola liturgi yang bernuansakan ekologis, berisikan pesan-pesan pelestarian lingkungan. Di ranah publik, Gereja dapat mencanangkan gerakan penyadaran lingkungan di tengah masyarakat melalui program-program tertentu di sekolah-sekolah kristen yang didirikan, di rumah-rumah sakit kristen, melalui komunitas politisi dan birokrat kristen, media, multimedia, LSM-LSM di dalam dan disekitar gereja, dsb. Bila terjadi bencana akibat faktor lingkungan di satu tempat, Gereja dapat secara aktif terjun langsung dalam aktifitas lingkungan dan kemanusian. Melakukan tindakan darurat (emergency rescue), crisis response. Membantu misalnya dalam upaya evakuasi korban, penanganan saat bencana (terapi penyembuhan, trauma, psikis) dan pasca bencana misalnya dalam bentuk relief, rehabilitasi, rekonstruksi dan recovery sosial-ekonomi. Demikian juga dalam pencanangan gerakan, sebut saja gerakan pelestarian hutan (Gerhan), Gereja dapat berperan aktif melalui LSM-LSM kristen yang diprakarsainya.
3. Gereja dan warga jemaat kristen memprakarsai suatu cara pandang ’baru’ bahwa pementingan terhadap diri sendiri (individualisme) demi kebutuhan masyarakat yang lebih luas dan kecintaan penghargaan kepada lingkungan, harus dikendalikan, lebih bisa ditahan dan diperlembut (ingat buah Roh: penguasaan diri), namun bukan berarti rasa penghargaan terhadap diri pribadi menjadi hilang atau berkurang. Contoh kongkrit, misalnya jika transportasi umum kelak sudah semakin memadai dalam jumlah dan kualitas di Ibukota, maka dirasa lebih baik menggunakan fasilitas transportasi umum ketimbang mobil/kendaraan pribadi. Hal senada dilakukan pemerintah dan pengusaha terhadap hutan. Lebih berorientasi kepada upaya proteksi hutan yang pro-lingkungan, ketimbang upaya eksploitasi hutan yang pro-keuntungan rupiah/dollar investasi sesaat. Demikianpun dengan masalah kependudukan. Akan lebih baik mempertimbangkan faktor ekologis, ketimbang mengikuti naluri kebebasan individu dalam bereproduksi sebanyak-banyak jumlah anak tanpa mengindahkan nilai-nilai penting dari perencanaan keluarga atau keluarga berencana.
4. Secara spiritualitas ekologis, Gereja semakin peka dan menghargai lebih dalam kehidupan Allah Tritunggal. Allah yang secara penuh menjelma dalam Kristus meneguhkan nilai materi dari ciptaan. Kristus meneguhkan pentingnya nilai lingkungan. Maka doa juga menjadi bagian iman gereja yang berakar pada kasih kepada Allah dan kasih kepada lingkungan, ciptaan! Sekaitan ini, Gereja semakin peka terhadap aspek keadilan (justice), terutama bagi mereka yang terpinggirkan baik secara gender, strata sosial-ekonomi, ras, agama dlsb, yang dengannya Gereja dapat memprakarsai berbagai upaya dialog guna mengatasi kesenjangan atau ketimpangan-ketimpangan sosial yang ada. Karena berbicara lingkungan, tentu mencakup pula persoalan ranah spiritualitas dan ranah sosial.
Apa yang bisa dilakukan warga HKBP Semper cq naposo remaja Narhasem? Bisa dilakukan dari hal-hal yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, betul-betul menghemat pemakaian air bersih untuk keperluan memasak, mandi, mencuci, dsb. Menghemat pemakaian bahan bakar/BBM (pertamax, premium atau solar) untuk kendaraan bermotor, mobil atau sepeda motor. Ganti dengan bahan bakar yang ramah lingkungan, seperti bahan bakar jarak pagar (Jathropa). Kampanye menggunakan sepeda untuk ke sekolah, ke kampus atau tempat pekerjaan, merupakan hal yang sangat dihargai. Hemat pemakaian listrik, lampu-lampu rumah diganti dengan jenis lampu hemat energi, kebiasaan mematikan lampu, dsb.
Membuang sampah pada tempatnya, tidak sembarangan, menjadi kebiasaan yang baik dan dikomitmentkan. Dengan membiasakan diri memisahkan jenis sampah basah dan sampah kering. Tujuannya, untuk alternatif pengolahan bio kompos (pupuk organik) dan daur ulang menjadi material baru yang berguna. Contoh saja di IPPL Jakarta, ada pelatihan bagi remaja dan naposo agar mampu memanfaatkan sumberdaya seperti cabai, pepaya, tomat, dan lain sebagainya di berbagai pasar tradisional di Jakarta untuk dijadikan saos. Cabai, pepaya, tomat yang tidak dimanfaatkan pedagang karena pembusukan dimanfaatkan naposo dan remaja untuk ditingkatkan nilainya dengan cara membuat saos. Sehingga, pasar-pasar tradisional berkurang sampahnya.
Mendukung gerakan kebersihan lingkungan rumah, sekolah, gedung ibadah, tempat pekerjaan dari tumpukan sampah, lancarnya aliran air selokan, aliran kali dan sungai yang dapat mengakibatkan banjir di bantaran kali hingga ke rumah-rumah warga. Naposo dan remaja mulai sekarang juga dapat bertekad membatasi mengurangi penggunaan bahan-bahan yang terbuat dari plastik seperti tas kresek platik, tas plastik, bekas pembalut, sterioform – kotak pembungkus makanan dll (karena sangat sukar di daur ulang). Juga mengurangi penggunaan tissue basah dan tissue kering, karena dibuat melalui pengurangan/pembabatan pohon atau hutan. Padahal hutan dan pepohonan adalah media efektif untuk menghilangkan gas karbondioksida (CO2) dalam jumlah banyak di udara. Menanam pohon baru, memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi adalah cara jitu mengurangi efek rumah kaca, perusakan ozon bumi dan dampak lebih besar dari pemanasan global. Jenis pohon yang bagus untuk ditanam a.l duwet, buni, menteng, gandaria, mahoni, kemang, lobi-lobi, mangga, jambu, durian, rambutan, kelapa hibrida, dan sawo duren.
Pemuda (naposo) dan remaja dapat menghemat pemakaian kertas yang bahan materialnya dari pohon. juga bisa terlibat dalam upaya pencegahan kepunahan jenis binatang dan tumbuhan, ikut menyuarakan kesadaran akan pentingnya pengenalan alam sekitar, informasi terkait dampak pemanasan global, ledakan populasi dan bahaya bencana karena faktor lingkungan, lewat berbagai media apa saja yang bisa dikerjakan seperti membuat artikel majalah dinding (mading) dan buletin sekolah, milist, radio remaja, pagelaran musik, puisi dan kreativitas, kegiatan retret dan bible-camp, dsb.
Kalimat di bawah ini semoga bisa jadi perenungan kita:
”Jika pohon terakhir telah ditebang, jika sungai terakhir telah tercemar, jika ikan terakhir telah ditangkap, baru manusia akan sadar bahwa mereka tidak akan bisa makan uang.” (Green Peace).
“Bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang (semua orang di muka bumi), tapi tak bisa mencukupi orang-orang (sebagian orang) yang rakus.” (Mahatma Gandhi)
”Mempermuliakan Tuhan caranya yang tepat adalah melalui menghargai lingkungan. Melestarikan lingkungan, adalah tanda seseorang mempermuliakan Tuhan (Anonym).
Soli Deo gloria.
Referensi:
1) Celia Deane-Drummond, 2006. Teologi & Ekologi, Buku Pegangan. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
2) http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan_hidup
3) Lingkungan Hidup, GKI Kayu Putih Jaktim.
4) Weinata Sairin, M.Th, 2000. Gereja, Agama-Agama dan Pembangunan Nasional. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
5) http://hansmidassmjntk.blogspot.com/Archieve/Juni 2007. Istilah Kata Pembangun- an”: Masih Layakkah Kita Pergunakan dan Populerkan di Jaman Begini ??, artikel Hans Midas Simanjuntak lewat informasi Transforma Sarana Media.
Sunday, September 16, 2007
Pelayanan ke PMK-IPB Bogor: Event "KATA" Civitas Kristen IPB, 16 Sept 2007 di Kampus Dramaga-Bogor
"Selamat Datang, Semangat Baru (Yeh. 36: 26)". Demikianlah tema yang diangkat oleh Panitia untuk Event Kebaktian Awal Tahun Ajaran (KATA) 2007/2008 Civitas PMK-IPB Bogor, yang berlangsung di Aula Auditorium Thoyib Faperta IPB Dramaga Bogor pada tanggal 16 September 2007 lalu.
Dihadiri oleh lk. 800 orang yang terdiri dari para mahasiswa/i kristen IPB Bogor, dari angkatan 41 sd angkatan 44 yang baru masuk IPB tahun 2007 ini. Juga hadir para dosen kristen IPB, seperti Dr Togu Manurung dan isteri (Fahutan), Dr James Panjaitan (Faperikan), Dr Rilus dan isteri (Faperikan)dan Ibu Ir Endah Palupi Murdiyarso MS isteri dari Prof Dr Ir Murdiyarso selaku pembina PMK-IPB Bogor. Tampak pula para karyawan kristen IPB.
Bpk Hans Midas Simanjuntak, Ir MM (MCS), yang diundang sebagai Pembicara yang melayankan Firman Tuhan pada Kebaktian "KATA" itu mengambil dasar nats dari Yehezkiel 36: 24-26.
Intisari khotbahnya adalah:
1. Bahwa semangat baru yang diperoleh orang percaya anak Tuhan itu adalah berasal dari TUHAN, yang menaruh RohNya dalam intuisi hati mereka.
2. Roh TUHAN dalam intuisi hati orang percaya yang berkarya memberi kecerdasan spiritual, intelektual dan daya juang ketekunan sehingga buah karya kehidupan dapat dirasakan bukan saja oleh diri sendiri tapi oleh lingkungan sekeliling. Biarlah event ini menjadi momentum baru untuk pembaharuan spiritual, intelektual dan daya juang ketekunan.
3. Bagi mahasiswa, buah karya kehidupan itu adalah prestasi akademik yang dapat dipertanggung-jawabkan; sikap perkataan perbuatan dan perilaku yang baik dan benar demi kesaksian yang hidup di kampus, keluarga dan masyarakat.
4. Agar kesaksian efektif, hidup orang percaya mesti memiliki iman dan ketaatan yang hidup terhadap Firman Tuhan; memelihara kejernihan hati dijauhkan dari hati yang keras dan memberontak; dan dua jenis doa yang sangat dibenci Tuhan: kenajisan (filthiness) dan kecendrungan untuk memberhalakan sesuatu yang bukan Allah (idolatery).
5. Kesatuan tubuh Kristus dalam derap kesaksian bersama selaku orang percaya anak Tuhan yang ada di kampus IPB dan kota Bogor, sangat urgen tercipta. Tujuannya agar efektifitas kesaksian positif kristen dapat semakin luas dirasakan pengaruhnya.
Event KATA ini juga dimeriahkan dengan pagelaran Teater dari GKI Pengadilan Bogor, Paduan Suara Civitas mahasiswa kristen IPB, persembahan puisi dari seorang mahasiswi baru Angkatan 44 dan mata acara lainnya. Acara yang berlangsung mulai pukul 17:30 berakhir pada jam 21:00 malam waktu Dramaga Bogor.
Just for the glory of Jesus!
Dihadiri oleh lk. 800 orang yang terdiri dari para mahasiswa/i kristen IPB Bogor, dari angkatan 41 sd angkatan 44 yang baru masuk IPB tahun 2007 ini. Juga hadir para dosen kristen IPB, seperti Dr Togu Manurung dan isteri (Fahutan), Dr James Panjaitan (Faperikan), Dr Rilus dan isteri (Faperikan)dan Ibu Ir Endah Palupi Murdiyarso MS isteri dari Prof Dr Ir Murdiyarso selaku pembina PMK-IPB Bogor. Tampak pula para karyawan kristen IPB.
Bpk Hans Midas Simanjuntak, Ir MM (MCS), yang diundang sebagai Pembicara yang melayankan Firman Tuhan pada Kebaktian "KATA" itu mengambil dasar nats dari Yehezkiel 36: 24-26.
Intisari khotbahnya adalah:
1. Bahwa semangat baru yang diperoleh orang percaya anak Tuhan itu adalah berasal dari TUHAN, yang menaruh RohNya dalam intuisi hati mereka.
2. Roh TUHAN dalam intuisi hati orang percaya yang berkarya memberi kecerdasan spiritual, intelektual dan daya juang ketekunan sehingga buah karya kehidupan dapat dirasakan bukan saja oleh diri sendiri tapi oleh lingkungan sekeliling. Biarlah event ini menjadi momentum baru untuk pembaharuan spiritual, intelektual dan daya juang ketekunan.
3. Bagi mahasiswa, buah karya kehidupan itu adalah prestasi akademik yang dapat dipertanggung-jawabkan; sikap perkataan perbuatan dan perilaku yang baik dan benar demi kesaksian yang hidup di kampus, keluarga dan masyarakat.
4. Agar kesaksian efektif, hidup orang percaya mesti memiliki iman dan ketaatan yang hidup terhadap Firman Tuhan; memelihara kejernihan hati dijauhkan dari hati yang keras dan memberontak; dan dua jenis doa yang sangat dibenci Tuhan: kenajisan (filthiness) dan kecendrungan untuk memberhalakan sesuatu yang bukan Allah (idolatery).
5. Kesatuan tubuh Kristus dalam derap kesaksian bersama selaku orang percaya anak Tuhan yang ada di kampus IPB dan kota Bogor, sangat urgen tercipta. Tujuannya agar efektifitas kesaksian positif kristen dapat semakin luas dirasakan pengaruhnya.
Event KATA ini juga dimeriahkan dengan pagelaran Teater dari GKI Pengadilan Bogor, Paduan Suara Civitas mahasiswa kristen IPB, persembahan puisi dari seorang mahasiswi baru Angkatan 44 dan mata acara lainnya. Acara yang berlangsung mulai pukul 17:30 berakhir pada jam 21:00 malam waktu Dramaga Bogor.
Just for the glory of Jesus!
Wednesday, September 12, 2007
Sekitar Puasa: Puasa Orang Kristen.
Puasa Orang Kristen
by Hans Midas Simanjuntak.
Latar belakang
Pertanyaan mengenai dasar & makna serta kapan berpuasa bagi orang Kristen secara praktis berdasar cara pandang dan perspektif Kristen (Christian worldview) banyak disampaikan pada saya terutama di/dari berbagai daerah. Mungkin terkait ibadah yang sedang dimulai oleh saudara2 kita Muslim. Adakah orang Kristen, juga (urgen dan penting) melakukan ibadah Puasa dalam kehidupannya.
Syukur hal-hal ini ditanyakan menandakan spiritualitas Kristen menunjukkan keniscayaan untuk bertumbuh, adanya kesadaran dan kebangkitan spiritualitas Kristen di tengah kerutinan hidup, "kehampaan" hidup. Kerinduan melakukan pendisiplinan rohani (spiritual discipline) dalam hubungan pribadi dengan Tuhan (HPDT), hubungan dengan sesama dan lingkungan (environment) ; dalam rangka pembentukan pemantapan spiritualitas Kristen yang hakiki.
Memang, cara pandang Kristen tepatnya cara pandang Ilahi perihal berpuasa memiliki nilai khusus dan mungkin cara pandang yang berbeda dengan fenomena umum yang sering kita lihat. Tidak ada salahnya, kita pelajari puasa dalam perspektif Kristen ©¤ lalu tentunya kita imani, praktekkan, nikmati dan hidupi bersama menjadikan hidup Kristen kita limpah dengan kekayaan berkat-berkat rohani (Ef. 1: 1-3).
Tujuh (7) dasar dan makna puasa bagi orang Kristen didasarkan cara pandang atau perpektif Kristen:
1) Puasa adalah satu bentuk latihan rohani orang Kristen yang bersifat teosentris. Tujuannya melatih iman, kesetiaan dan sikap harap hanya pada Tuhan. Memusatkan diri pada Tuhan (God¡¯s center). Umumnya dilakukan bareng dengan doa, (Dan. 9: 3, Ezra 8: 23), pengakuan (confession) 1 Sam 7:6; Neh 9: 1-2, sikap prihatin-berkabung dan mencari Tuhan (Yoel 2: 12) dan merendahkan diri (Ul. 19: 18; Neh 9:1). Doa menjadi lebih khusyuk dan cendrung serius dibarengi puasa, manakala badan haus dan lapar dan sementara waktu tidak makan yang enak-enak dan menikmati yang nyaman-nyaman bagi badan. Puasa sejatinya melatih orang Kristen memiliki pendengaran rohani yang lebih peka kepada kebenaran Firman Tuhan. Iman menjadi lebih kuat dengan topangan berpuasa sehingga menghasilkan kuasa rohani yang bersumber dari Tuhan dan firmanNya.
2) Puasa hakekatnya adalah kegiatan yang bersifat personal, pribadi orang Kristen terhadap Allah Trinitas (Zak 7: 5; Mat 6: 18), bukan untuk trend konsumsi publik. Tidak untuk dipamerkan apalagi diumumkan ke orang (Mat. 6: 16-18) sehingga secara sengaja atau tidak, orang lain jadi tahu bahwa kita puasa.
3) Puasa bagi orang Kristen bukan sekedar kegiatan untuk memenuhi syarat ritual agamawi semata yang "lepas" atau terpisah dari kesaksian hidup riel seseorang sehari-harinya. Selain tidak makan dan tidak minum di hari puasa, perilaku orang Kristen sehari-harinya harus selaras dengan tujuan puasa itu sendiri ©¤ perilaku yang fair/adil tidak curang atau mencurangi, memiliki nurani membela mereka yang menderita kelaliman, tertindas, teraniaya dan kuk perhambaan (Yes. 58: 6-7). Punya nurani untuk membagi kelebihan bagi orang yang lapar, memberi tumpangan bagi orang miskin - tuna wisma, mereka yang telanjang dan sudi menolong saudara yang patut ditolong dengan cara dan waktu yang berkenan pada Tuhan (Yes. 58: 3-5).
4) Puasa konsekuensinya tidak boleh dijalankan orang Kristen dengan pura-pura, sekedar untuk menjadi topeng atau "tampak luar" agar dilihat orang suci, "tidak rusak-rusak amat", dapat dihargai dan saleh, penuh kemunafikan apalagi dengan main-main sekedar ikut-ikutan (Yes. 58: 3-5, Mat. 6: 16, Luk 18: 12, Yer 14: 12). Puasa bukan seperti yang dilakukan oleh para tua-tua dan pemuka Jizreel (1 Raja2 21: 12), Ahab (1 Raja2 21: 17) atau orang-orang Farisi (Mark 2: 18; Luk 18:2) melainkan puasa yang dijalankan secara "silent" (diam-diam) dan serius oleh Yesus seorang diri di padang gurun (Mat 4:2), Musa (Kel. 34: 28), Elia (1 Raja2 19:8), Daniel (Dan. 9:3), Daud (2 Sam 12: 16), Nehemia (Neh 1:4), Para Rasul (2 Kor 6:5) dan orang Kristen mula-mula(Kis13: 2).
5) Puasa melatih kerendahan hati (Mz. 35: 13). Menambah keikhlasan orang Kristen untuk melayani Tuhan dan pekerjaan Tuhan serta sikap melayani sesama lebih muncul dari dalam hati sanubari. Semakin orang Kristen berpuasa tidak akan membuatnya jadi sombong atau "sok rohani" atau "sok beribadah". Rasa solidaritas sosial kita terutama terhadap mereka yang berkekurangan semakin bertambah dengan makin seringnya kita berpuasa.
6) Puasa melatih orang Kristen memiliki hati yang makin murni, tulus, menjauhkan dari niat-niat, imajinasi, obsesi yang keliru dan tidak baik; menyucikan hati kita di hadapan Tuhan (Mz. 69: 11). Puasa tidak bisa menyelamatkan orang dari dosa untuk masuk Sorga karena yang bisa melakukan hanya anugerah pengorbanan darah Kristus di kayu salib, ©¤ sola gratia, sola fide ©¤ (Ef. 2: 8-9; Yoh. 3: 16; 1 Yoh. 5: 11-12); tetapi puasa bisa berperan melatih hati menjadi tidak semakin licik, licin dan bulus di hadapan Tuhan dan terhadap orang lain.
7) Bilapun ada puasa yang dijalankan orang Kristen secara massal, secara beramai-ramai sekaligus (puasa umat, puasa bangsa), maka puasa tersebut dijalankan secara spontan oleh karena penyesalan dan keprihatinan bersama yang mendalam (dari dalam hati sanubari) karena persoalan besar yang dihadapi bersama. Seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa Israel (Hak 20: 26; Ezra 8: 21; Ester 4:3, 16; Yer 36:9); orang-orang Yabesy-Gilead (1 Sam 31: 13) dan orang-orang Niniwe di jaman Yunus (:Yun 3: 5-8).
Bukan sekadar rekayasa oleh pihak yang lebih berkuasa, berkat didorong, dipaksa, dimobilisasi dengan kekerasan oleh satu ketentuan, hukum atau undang-undang ©¤ yang membuat orang menjadi takut menderita hukuman sekarang dan nanti ©¤ tetapi muncul dari benak kesadaran dan nurani yang tulus untuk melakukan puasa bersama. Dengan demikian puasa bersama atau puasa massal ini tetap menjunjung tinggi hak pribadi seseorang untuk mau menjalankan kegiatan tsb atau tidak di hadapan Allah
Trinitas.
Kapan sebaiknya orang Kristen melakukan puasa?
1. Puasa bagi orang Kristen pada dasarnya tidak di-organize lagi pada hari atau bulan tertentu. Tergantung kepada kapan tergeraknya berdasar 7 (tujuh) dasar & makna puasa di atas. Jika kamu berpuasa¡., kata Yesus (Mat. 6). Artinya jika kamu (tergerak) untuk berpuasa¡ dst.
2. Jika pun mau di-organize, orang Kristen paling tidak bisa melakukan puasa penuh sedikitnya satu kali tiap tahunnya dalam rangka penggenapan Taurat seperti Yesus, yakni pada hari yang disebut Hari Pendamaian. Karena basis Kekristenan PB adalah PL termasuk Taurat; dan kita ketahui Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan menggenapinya; maka bagi orang Kristen sama halnya dengan Yesus dan bangsa Israel/orang Yahudi pada umumnya, seyogianya melakukan puasa penuh (24 jam) paling minimal satu kali dalam setahun, yaitu pada hari Pendamaian (Atonement day ©¤ 7 bulan 10 hari setelah Paskah). Dimulai dari matahari terbenam sampai matahari terbenam hari berikutnya. Imamat 23: 26-32.
3. Waktu atau masa-masa puasa lainnya seyogianya dilakukan orang Kristen di saat hati tergerak atau terbeban dan ada niat yang muncul keluar ¨C tentunya berdasar ke tujuh dasar, prinsip & makna puasa seperti diuraikan di atas.
Di Alkitab paling tidak ada tujuh (7) masa atau waktu yang baik bagi orang Kristen untuk melakukan puasa secara benar:
(1) Waktu di mana orang Kristen meyakini/merasakan bahwa telah terjadi hukuman Allah oleh karena kekeliruan kita atau dosa kita secara korporat sebagai manusia atau bangsa (Yoel 1: 14; 2: 12)
(2) Masa di mana sekeliling kita termasuk kita mengalami masalah-masalah atau pergumulan2 yang pelik, malapetaka, krisis2 yang tak kunjung selesai, terpuruk (2 Sam 1: 12)
(3) Waktu di mana terjadi penderitaan yang mendalam di tengah-tengah persekutuan jemaat (Luk 5: 33-35);
(4) Waktu di mana kita merasakan penderitaan orang-orang lain yang sangat berat (Mz 35: 13; Dan 6: 19)
(5) Masa di mana penderitaan atau kesusahan2 menimpa pribadi kita dan keluarga (2 Sam 12:16)
(6) Masa dimana bahaya, pengekangan, penganiayaan (persecution) kerap dan berkali-kali mengancam (Ester 4: 16)
(7) Saat ada hamba-hamba Tuhan, pelayan jemaat, pemimpin-pemimpin Kristen yang dilantik atau ditahbiskan dalam otoritas Ilahi (Kis 13: 3; 14: 23).
Tujuh (7) janji Allah untuk orang Kristen percaya yang berpuasa dengan benar.
Setiap disiplin atau latihan rohani Kristiani yang dijalankan dengan benar pasti mengandung janji. Jika orang Kristen percaya melakukan puasa dengan benar sesuai dengan tujuh dasar & makna puasa seperti di atas, pun akan mengandung janji. Yang tercatat dalam Alkitab, paling tidak janji-janji berikut ini:
1) Orang Kristen menjadi terang. Luka-luka pulih. Penuh dengan kebenaran dan kemuliaan Allah yang mengelilingi (Yes 58: 8)
2) Memperoleh jawaban Tuhan dan "berjumpa" dengan Tuhan. Terang terbit di tengah kegelapan dan kegelapan menjadi rembang tengah hari (Yes. 58: 9-10).
3) Tuntunan Tuhan nyata di tanah yang kering, kekuatan diperbaharui, tidak dikecewakan Allah (Yes 58: 11)
4) Orang Kristen menjadi orang Kristen yang membangun format yang benar2 baru yang lama sebelumnya belum ada (Yes 58a)
5) Orang Kristen banyak melakukan karya perbaikan (improvement) terbaik, kerusakan system diperbaiki (Yes 58: 12b)
6) Kebahagiaan, kesenangan dalam Tuhan, getting to the top, berkemenangan, diberi makan sendiri oleh Tuhan (Yes 58: 14).
7) Menduduki tempat yang tinggi dalam Kerajaan Sorga (Mat. 5: 18)
Sekian ulasan saya mengenai puasa orang Kristen. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita.
Tuhan kiranya memberkati orang2 Kristen yang mengambil langkah tak hanya lutut yang berdoa, namun berdoa dan berpuasa.
Soli deo Gloria!
Hans Midas Simanjuntak (HMS)(:
Chika Silitonga" wrote:
Tulisan ini menurut saya sangat baik dan menambah wawasan iman kita. Bukan ditulis oleh saya (nama penulis ada di atas) tapi saya ingin membagi dengan saudara semua, enjoy and God Bless!
Regards,
Helene Fransisca (chika) Silitonga
PT Malacca Elab
"We can do no great things - only small things with great love." Mother Teresa (1910-1997).
by Hans Midas Simanjuntak.
Latar belakang
Pertanyaan mengenai dasar & makna serta kapan berpuasa bagi orang Kristen secara praktis berdasar cara pandang dan perspektif Kristen (Christian worldview) banyak disampaikan pada saya terutama di/dari berbagai daerah. Mungkin terkait ibadah yang sedang dimulai oleh saudara2 kita Muslim. Adakah orang Kristen, juga (urgen dan penting) melakukan ibadah Puasa dalam kehidupannya.
Syukur hal-hal ini ditanyakan menandakan spiritualitas Kristen menunjukkan keniscayaan untuk bertumbuh, adanya kesadaran dan kebangkitan spiritualitas Kristen di tengah kerutinan hidup, "kehampaan" hidup. Kerinduan melakukan pendisiplinan rohani (spiritual discipline) dalam hubungan pribadi dengan Tuhan (HPDT), hubungan dengan sesama dan lingkungan (environment) ; dalam rangka pembentukan pemantapan spiritualitas Kristen yang hakiki.
Memang, cara pandang Kristen tepatnya cara pandang Ilahi perihal berpuasa memiliki nilai khusus dan mungkin cara pandang yang berbeda dengan fenomena umum yang sering kita lihat. Tidak ada salahnya, kita pelajari puasa dalam perspektif Kristen ©¤ lalu tentunya kita imani, praktekkan, nikmati dan hidupi bersama menjadikan hidup Kristen kita limpah dengan kekayaan berkat-berkat rohani (Ef. 1: 1-3).
Tujuh (7) dasar dan makna puasa bagi orang Kristen didasarkan cara pandang atau perpektif Kristen:
1) Puasa adalah satu bentuk latihan rohani orang Kristen yang bersifat teosentris. Tujuannya melatih iman, kesetiaan dan sikap harap hanya pada Tuhan. Memusatkan diri pada Tuhan (God¡¯s center). Umumnya dilakukan bareng dengan doa, (Dan. 9: 3, Ezra 8: 23), pengakuan (confession) 1 Sam 7:6; Neh 9: 1-2, sikap prihatin-berkabung dan mencari Tuhan (Yoel 2: 12) dan merendahkan diri (Ul. 19: 18; Neh 9:1). Doa menjadi lebih khusyuk dan cendrung serius dibarengi puasa, manakala badan haus dan lapar dan sementara waktu tidak makan yang enak-enak dan menikmati yang nyaman-nyaman bagi badan. Puasa sejatinya melatih orang Kristen memiliki pendengaran rohani yang lebih peka kepada kebenaran Firman Tuhan. Iman menjadi lebih kuat dengan topangan berpuasa sehingga menghasilkan kuasa rohani yang bersumber dari Tuhan dan firmanNya.
2) Puasa hakekatnya adalah kegiatan yang bersifat personal, pribadi orang Kristen terhadap Allah Trinitas (Zak 7: 5; Mat 6: 18), bukan untuk trend konsumsi publik. Tidak untuk dipamerkan apalagi diumumkan ke orang (Mat. 6: 16-18) sehingga secara sengaja atau tidak, orang lain jadi tahu bahwa kita puasa.
3) Puasa bagi orang Kristen bukan sekedar kegiatan untuk memenuhi syarat ritual agamawi semata yang "lepas" atau terpisah dari kesaksian hidup riel seseorang sehari-harinya. Selain tidak makan dan tidak minum di hari puasa, perilaku orang Kristen sehari-harinya harus selaras dengan tujuan puasa itu sendiri ©¤ perilaku yang fair/adil tidak curang atau mencurangi, memiliki nurani membela mereka yang menderita kelaliman, tertindas, teraniaya dan kuk perhambaan (Yes. 58: 6-7). Punya nurani untuk membagi kelebihan bagi orang yang lapar, memberi tumpangan bagi orang miskin - tuna wisma, mereka yang telanjang dan sudi menolong saudara yang patut ditolong dengan cara dan waktu yang berkenan pada Tuhan (Yes. 58: 3-5).
4) Puasa konsekuensinya tidak boleh dijalankan orang Kristen dengan pura-pura, sekedar untuk menjadi topeng atau "tampak luar" agar dilihat orang suci, "tidak rusak-rusak amat", dapat dihargai dan saleh, penuh kemunafikan apalagi dengan main-main sekedar ikut-ikutan (Yes. 58: 3-5, Mat. 6: 16, Luk 18: 12, Yer 14: 12). Puasa bukan seperti yang dilakukan oleh para tua-tua dan pemuka Jizreel (1 Raja2 21: 12), Ahab (1 Raja2 21: 17) atau orang-orang Farisi (Mark 2: 18; Luk 18:2) melainkan puasa yang dijalankan secara "silent" (diam-diam) dan serius oleh Yesus seorang diri di padang gurun (Mat 4:2), Musa (Kel. 34: 28), Elia (1 Raja2 19:8), Daniel (Dan. 9:3), Daud (2 Sam 12: 16), Nehemia (Neh 1:4), Para Rasul (2 Kor 6:5) dan orang Kristen mula-mula(Kis13: 2).
5) Puasa melatih kerendahan hati (Mz. 35: 13). Menambah keikhlasan orang Kristen untuk melayani Tuhan dan pekerjaan Tuhan serta sikap melayani sesama lebih muncul dari dalam hati sanubari. Semakin orang Kristen berpuasa tidak akan membuatnya jadi sombong atau "sok rohani" atau "sok beribadah". Rasa solidaritas sosial kita terutama terhadap mereka yang berkekurangan semakin bertambah dengan makin seringnya kita berpuasa.
6) Puasa melatih orang Kristen memiliki hati yang makin murni, tulus, menjauhkan dari niat-niat, imajinasi, obsesi yang keliru dan tidak baik; menyucikan hati kita di hadapan Tuhan (Mz. 69: 11). Puasa tidak bisa menyelamatkan orang dari dosa untuk masuk Sorga karena yang bisa melakukan hanya anugerah pengorbanan darah Kristus di kayu salib, ©¤ sola gratia, sola fide ©¤ (Ef. 2: 8-9; Yoh. 3: 16; 1 Yoh. 5: 11-12); tetapi puasa bisa berperan melatih hati menjadi tidak semakin licik, licin dan bulus di hadapan Tuhan dan terhadap orang lain.
7) Bilapun ada puasa yang dijalankan orang Kristen secara massal, secara beramai-ramai sekaligus (puasa umat, puasa bangsa), maka puasa tersebut dijalankan secara spontan oleh karena penyesalan dan keprihatinan bersama yang mendalam (dari dalam hati sanubari) karena persoalan besar yang dihadapi bersama. Seperti yang pernah dilakukan oleh bangsa Israel (Hak 20: 26; Ezra 8: 21; Ester 4:3, 16; Yer 36:9); orang-orang Yabesy-Gilead (1 Sam 31: 13) dan orang-orang Niniwe di jaman Yunus (:Yun 3: 5-8).
Bukan sekadar rekayasa oleh pihak yang lebih berkuasa, berkat didorong, dipaksa, dimobilisasi dengan kekerasan oleh satu ketentuan, hukum atau undang-undang ©¤ yang membuat orang menjadi takut menderita hukuman sekarang dan nanti ©¤ tetapi muncul dari benak kesadaran dan nurani yang tulus untuk melakukan puasa bersama. Dengan demikian puasa bersama atau puasa massal ini tetap menjunjung tinggi hak pribadi seseorang untuk mau menjalankan kegiatan tsb atau tidak di hadapan Allah
Trinitas.
Kapan sebaiknya orang Kristen melakukan puasa?
1. Puasa bagi orang Kristen pada dasarnya tidak di-organize lagi pada hari atau bulan tertentu. Tergantung kepada kapan tergeraknya berdasar 7 (tujuh) dasar & makna puasa di atas. Jika kamu berpuasa¡., kata Yesus (Mat. 6). Artinya jika kamu (tergerak) untuk berpuasa¡ dst.
2. Jika pun mau di-organize, orang Kristen paling tidak bisa melakukan puasa penuh sedikitnya satu kali tiap tahunnya dalam rangka penggenapan Taurat seperti Yesus, yakni pada hari yang disebut Hari Pendamaian. Karena basis Kekristenan PB adalah PL termasuk Taurat; dan kita ketahui Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan menggenapinya; maka bagi orang Kristen sama halnya dengan Yesus dan bangsa Israel/orang Yahudi pada umumnya, seyogianya melakukan puasa penuh (24 jam) paling minimal satu kali dalam setahun, yaitu pada hari Pendamaian (Atonement day ©¤ 7 bulan 10 hari setelah Paskah). Dimulai dari matahari terbenam sampai matahari terbenam hari berikutnya. Imamat 23: 26-32.
3. Waktu atau masa-masa puasa lainnya seyogianya dilakukan orang Kristen di saat hati tergerak atau terbeban dan ada niat yang muncul keluar ¨C tentunya berdasar ke tujuh dasar, prinsip & makna puasa seperti diuraikan di atas.
Di Alkitab paling tidak ada tujuh (7) masa atau waktu yang baik bagi orang Kristen untuk melakukan puasa secara benar:
(1) Waktu di mana orang Kristen meyakini/merasakan bahwa telah terjadi hukuman Allah oleh karena kekeliruan kita atau dosa kita secara korporat sebagai manusia atau bangsa (Yoel 1: 14; 2: 12)
(2) Masa di mana sekeliling kita termasuk kita mengalami masalah-masalah atau pergumulan2 yang pelik, malapetaka, krisis2 yang tak kunjung selesai, terpuruk (2 Sam 1: 12)
(3) Waktu di mana terjadi penderitaan yang mendalam di tengah-tengah persekutuan jemaat (Luk 5: 33-35);
(4) Waktu di mana kita merasakan penderitaan orang-orang lain yang sangat berat (Mz 35: 13; Dan 6: 19)
(5) Masa di mana penderitaan atau kesusahan2 menimpa pribadi kita dan keluarga (2 Sam 12:16)
(6) Masa dimana bahaya, pengekangan, penganiayaan (persecution) kerap dan berkali-kali mengancam (Ester 4: 16)
(7) Saat ada hamba-hamba Tuhan, pelayan jemaat, pemimpin-pemimpin Kristen yang dilantik atau ditahbiskan dalam otoritas Ilahi (Kis 13: 3; 14: 23).
Tujuh (7) janji Allah untuk orang Kristen percaya yang berpuasa dengan benar.
Setiap disiplin atau latihan rohani Kristiani yang dijalankan dengan benar pasti mengandung janji. Jika orang Kristen percaya melakukan puasa dengan benar sesuai dengan tujuh dasar & makna puasa seperti di atas, pun akan mengandung janji. Yang tercatat dalam Alkitab, paling tidak janji-janji berikut ini:
1) Orang Kristen menjadi terang. Luka-luka pulih. Penuh dengan kebenaran dan kemuliaan Allah yang mengelilingi (Yes 58: 8)
2) Memperoleh jawaban Tuhan dan "berjumpa" dengan Tuhan. Terang terbit di tengah kegelapan dan kegelapan menjadi rembang tengah hari (Yes. 58: 9-10).
3) Tuntunan Tuhan nyata di tanah yang kering, kekuatan diperbaharui, tidak dikecewakan Allah (Yes 58: 11)
4) Orang Kristen menjadi orang Kristen yang membangun format yang benar2 baru yang lama sebelumnya belum ada (Yes 58a)
5) Orang Kristen banyak melakukan karya perbaikan (improvement) terbaik, kerusakan system diperbaiki (Yes 58: 12b)
6) Kebahagiaan, kesenangan dalam Tuhan, getting to the top, berkemenangan, diberi makan sendiri oleh Tuhan (Yes 58: 14).
7) Menduduki tempat yang tinggi dalam Kerajaan Sorga (Mat. 5: 18)
Sekian ulasan saya mengenai puasa orang Kristen. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita.
Tuhan kiranya memberkati orang2 Kristen yang mengambil langkah tak hanya lutut yang berdoa, namun berdoa dan berpuasa.
Soli deo Gloria!
Hans Midas Simanjuntak (HMS)(:
Chika Silitonga"
Tulisan ini menurut saya sangat baik dan menambah wawasan iman kita. Bukan ditulis oleh saya (nama penulis ada di atas) tapi saya ingin membagi dengan saudara semua, enjoy and God Bless!
Regards,
Helene Fransisca (chika) Silitonga
PT Malacca Elab
"We can do no great things - only small things with great love." Mother Teresa (1910-1997).
Saturday, September 8, 2007
Pemikiran Postmo, Negative Theology, Spiritualisme & Pluralisme Agama: Tantangan Baru Kekristenan Masa Kini!
Melihat keadaan perkembangan sekarang, termasuk yang berlangsung di tanah air, saya memiliki keyakinan teologi liberal atau disebut juga teologi modern (modernisme) akan roboh dan semakin usang (obsolit). Dasar sederhana dari pemikiran liberal kalau boleh dibilang adalah rasio adalah segalanya, tak perlulah mengandalkan iman, iman yang berharap pada Tuhan mengandalkan Tuhan sebagaimana yang Alkitab bilang.
Syahdan, kalau masih ada gereja atau teolog gereja yang masih menganut pandangan teologi liberal, teologi modern, di mana hanya mengandalkan aspek rasio semata sebagai "yang segalanya" atau "maha segalanya" maka bisa dipastikan dia akan tertinggal dan obsolit. Meski pun, hemat saya para pemikir modernisme, theolog modern liberal, liberal theolgies (bentuk jamak) tentu tidak akan tinggal diam, akan berupaya "lirak-lirik" mata menyiasati keadaan, kemana akan melakukan percampuran2 (sinkretis), "kemitraan" bahkan pembauran, agar bisa tetap eksis di tengah jaman.
Buktinya apa teologi modern akan obsolit, kalau tidak mau merubah pola strategi berteologia?
Mungkin hal ini. Kenapa sampai ada muncul pemikiran postmodern? ada muncul teologi postmo yang kerap disebut "negative theology"? Selain itu muncul "liberation theology" pertama di Amerika Latin, lalu "social-theology" yang sekarang mulai banyak dipelajari oleh kalangan teolog2 muda kita disini. Belum lagi bangkitnya spiritualisme, new-age movement, aliran2 kepercayaan hibrid Barat-Timur, bentuk2 "iman" (pakai tanda kutip) spiritualisme dari yang berbentuk paling primitive sampai ditengarai yang "paling canggih" termasuk di negeri ini. Fenomena2 supranatural, adikodrati yang sering kita liat di media. Itu kan bisa disebut sebagai bentuk perlawanan terhadap modernisme, teologi modern, teologi liberal yang hanya mengandalkan rasionalisme dalam memaknai jaman.
Pemikiran islam pun ditengarai kini sudah beranjak.
Tidak meliat jalan keluar hanya dari ilmu pengetahuan, dari sains, dari filsafat, dalam hal ini filsafat modern. Seperti pemikiran Imam Gazhali, yang sempat dikutip Bro Andry, dari warta JIL, awas knowledge, awas sains, awas filsafat!
Arus jaman sekarang memang mungkin telah berubah arah bandulnya. Bandul post mo! Serba relativitas. Ini yang sebenarnya, menurut saya, jauh lebih berbahaya. Halus "mainnya", tetapi sangat mematikan. Seperti kodok dalam ceret air yang terpanasi dipanasi dari bawah, yang tidak sadar makin lama air makin panas lalu mematikan dirinya dalam panci secara pelan-pelan.
So, yang dihadapi kita, oleh jemaat warga jemaat pemimpin jemaat oleh Gereja Tuhan kekristenan, yang mau sehat dan berimbang dalam ajaran..dalam teachings, kini tidak "sekadar" menghadapi bahaya tantangan teologi liberal yang berbasis rasionalisme bablas dan "rekayasa" sejarah, tetapi pemikiran postmo, negative theology, new age, pluralisme agama, yang serba merelativekan dan menyamaratakan prinsip, ajaran dan teachings.
Pemikiran postmo bila ingin disederhanakan, merupakan pemikiran intelektual era sekarang yang awalnya diretas oleh pemikir2 Perancis seperti Derrida, Foucault dll, yang meyakini intinya bahwa di dunia ini ngga ada kebenaran yang bersifat mutlak, sebagaimana sering diyakini oleh kristen khususnya yang orthodox-tradisiona l konservatif bahwa kebenaran mutlak ada pada TUHAN dan Alkitab memiliki kewibawaan tertinggi sebagai sumber Kebenaran (mutlak). Semua kebenaran adalah bersifat relatif. Semua orang boleh ngomong tentang kebenaran, begitulah kira2.
Sedangkan negative theology adalah bangunan konstruksi teologi yang berupaya menumbangkan asas pemikiran dan gerakan relijius positivisme dari August Comte dkk, dan berupaya membangun pemikiran teologis alternatif. Positivisme kita tau adalah asas2 yang hanya menerima pengetahuan atau teori2 yang didasarkan pada bukti evidensi yang bisa diamati.
Lalu, apa Spiritualisme? Bila disederhanakn, spiritualisme merupakan bentuk lebih modern dari spiritisme, yang antara lain meyakini bahwa roh2 orang sudah mati dan roh2 lainnya dapat berinteraksi dan kadang berkomunikasi dengan orang hidup. Dan seterusnya. Spiritualisme semakin berkembang melalui percampuran (hybrid, sincretism) antara kepercayaan2 tradisional Afrika, Amerika, Asia dll dengan kekristenan umum khususnya katolikisme. Banyaklah variasinya, seperti banyaknya group milist yang kini muncul di internet membahas hal ini lebih jauh.
Nah..bagaimana kira2 solusinya? Menurut saya, Gereja Tuhan kekristenan seperti di atas harus kembali menjadi fundamental dan radiks radikal (berakar) dalam Firman, orthodoxy dalam biblika (Alkitab), namun "sesegeranya" comprehensive, dewasa utuh dalam cara pandang dan dalam menyiasati tanda-tanda jaman. Comprehensive in orthodoxy, be orthodox in comprehensiveness. Itu mungkin jawaban bagi Gereja dan kekristenan sekarang.
Mampu memilah-milah, sampai sejauh mana kita boleh berpikiran merdeka namun ada batas (teori pembatasan). Sampai sejauh mana kita bisa mengurai dan menelisik tradisi dan "paradaton" kita, namun tetap ada batas. Demikian juga dalam menyikapi seluruh fenomena sosial dan sosialisme yang berkembang (termasuk teologi sosial), fenomena karismatik dan kajili (karismatik injili) pengaruh dari Korea, Brasil dll di sini; dan fenomena spiritualisme di mana itu juga perlu ada batasnya.
Termasuk menyikapi fenomena sampai seberapa jauh dan saat mana timingnya yang tepat, kita boleh menunjukkan singularitas dan kekhasan kita di tengah-tengah inklusivitas masyarakat yang sedang dikembangkan disini. Terutama oleh gagasan alm Noercholis Madjid dan saudara2 dari Paramadina, demokrasi terbuka ala Gus Dur dan pandangan rekan2 Jaringan Islam Liberal (JIL), dengan tanpa menafikan fenomena radikalisme fundamentalisme yang menurut saya "keliru" serta gerakan khilafah dan penerapan syariah lainnya yang masih saja diperjuangkan oleh sebagian kelompok agama mayoritas.
Beginilah pergumulan yang sedang dihadapi. Memang inilah fakta keadaannya dan yang menjadi tantangan besar dan kompleks yang sedang kita hadapi sekarang. Bukan saja untuk urusan kedalam terkait persoalan internal Gereja kekristenan dan society Kristen, tapi juga urusan keluar di tengah2 masyarakat inklusif dan cendrung semakin menganut pluralisme agama dan kepercayaan, yang bergerak dengan cepat ini.
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (:
Syahdan, kalau masih ada gereja atau teolog gereja yang masih menganut pandangan teologi liberal, teologi modern, di mana hanya mengandalkan aspek rasio semata sebagai "yang segalanya" atau "maha segalanya" maka bisa dipastikan dia akan tertinggal dan obsolit. Meski pun, hemat saya para pemikir modernisme, theolog modern liberal, liberal theolgies (bentuk jamak) tentu tidak akan tinggal diam, akan berupaya "lirak-lirik" mata menyiasati keadaan, kemana akan melakukan percampuran2 (sinkretis), "kemitraan" bahkan pembauran, agar bisa tetap eksis di tengah jaman.
Buktinya apa teologi modern akan obsolit, kalau tidak mau merubah pola strategi berteologia?
Mungkin hal ini. Kenapa sampai ada muncul pemikiran postmodern? ada muncul teologi postmo yang kerap disebut "negative theology"? Selain itu muncul "liberation theology" pertama di Amerika Latin, lalu "social-theology" yang sekarang mulai banyak dipelajari oleh kalangan teolog2 muda kita disini. Belum lagi bangkitnya spiritualisme, new-age movement, aliran2 kepercayaan hibrid Barat-Timur, bentuk2 "iman" (pakai tanda kutip) spiritualisme dari yang berbentuk paling primitive sampai ditengarai yang "paling canggih" termasuk di negeri ini. Fenomena2 supranatural, adikodrati yang sering kita liat di media. Itu kan bisa disebut sebagai bentuk perlawanan terhadap modernisme, teologi modern, teologi liberal yang hanya mengandalkan rasionalisme dalam memaknai jaman.
Pemikiran islam pun ditengarai kini sudah beranjak.
Tidak meliat jalan keluar hanya dari ilmu pengetahuan, dari sains, dari filsafat, dalam hal ini filsafat modern. Seperti pemikiran Imam Gazhali, yang sempat dikutip Bro Andry, dari warta JIL, awas knowledge, awas sains, awas filsafat!
Arus jaman sekarang memang mungkin telah berubah arah bandulnya. Bandul post mo! Serba relativitas. Ini yang sebenarnya, menurut saya, jauh lebih berbahaya. Halus "mainnya", tetapi sangat mematikan. Seperti kodok dalam ceret air yang terpanasi dipanasi dari bawah, yang tidak sadar makin lama air makin panas lalu mematikan dirinya dalam panci secara pelan-pelan.
So, yang dihadapi kita, oleh jemaat warga jemaat pemimpin jemaat oleh Gereja Tuhan kekristenan, yang mau sehat dan berimbang dalam ajaran..dalam teachings, kini tidak "sekadar" menghadapi bahaya tantangan teologi liberal yang berbasis rasionalisme bablas dan "rekayasa" sejarah, tetapi pemikiran postmo, negative theology, new age, pluralisme agama, yang serba merelativekan dan menyamaratakan prinsip, ajaran dan teachings.
Pemikiran postmo bila ingin disederhanakan, merupakan pemikiran intelektual era sekarang yang awalnya diretas oleh pemikir2 Perancis seperti Derrida, Foucault dll, yang meyakini intinya bahwa di dunia ini ngga ada kebenaran yang bersifat mutlak, sebagaimana sering diyakini oleh kristen khususnya yang orthodox-tradisiona l konservatif bahwa kebenaran mutlak ada pada TUHAN dan Alkitab memiliki kewibawaan tertinggi sebagai sumber Kebenaran (mutlak). Semua kebenaran adalah bersifat relatif. Semua orang boleh ngomong tentang kebenaran, begitulah kira2.
Sedangkan negative theology adalah bangunan konstruksi teologi yang berupaya menumbangkan asas pemikiran dan gerakan relijius positivisme dari August Comte dkk, dan berupaya membangun pemikiran teologis alternatif. Positivisme kita tau adalah asas2 yang hanya menerima pengetahuan atau teori2 yang didasarkan pada bukti evidensi yang bisa diamati.
Lalu, apa Spiritualisme? Bila disederhanakn, spiritualisme merupakan bentuk lebih modern dari spiritisme, yang antara lain meyakini bahwa roh2 orang sudah mati dan roh2 lainnya dapat berinteraksi dan kadang berkomunikasi dengan orang hidup. Dan seterusnya. Spiritualisme semakin berkembang melalui percampuran (hybrid, sincretism) antara kepercayaan2 tradisional Afrika, Amerika, Asia dll dengan kekristenan umum khususnya katolikisme. Banyaklah variasinya, seperti banyaknya group milist yang kini muncul di internet membahas hal ini lebih jauh.
Nah..bagaimana kira2 solusinya? Menurut saya, Gereja Tuhan kekristenan seperti di atas harus kembali menjadi fundamental dan radiks radikal (berakar) dalam Firman, orthodoxy dalam biblika (Alkitab), namun "sesegeranya" comprehensive, dewasa utuh dalam cara pandang dan dalam menyiasati tanda-tanda jaman. Comprehensive in orthodoxy, be orthodox in comprehensiveness. Itu mungkin jawaban bagi Gereja dan kekristenan sekarang.
Mampu memilah-milah, sampai sejauh mana kita boleh berpikiran merdeka namun ada batas (teori pembatasan). Sampai sejauh mana kita bisa mengurai dan menelisik tradisi dan "paradaton" kita, namun tetap ada batas. Demikian juga dalam menyikapi seluruh fenomena sosial dan sosialisme yang berkembang (termasuk teologi sosial), fenomena karismatik dan kajili (karismatik injili) pengaruh dari Korea, Brasil dll di sini; dan fenomena spiritualisme di mana itu juga perlu ada batasnya.
Termasuk menyikapi fenomena sampai seberapa jauh dan saat mana timingnya yang tepat, kita boleh menunjukkan singularitas dan kekhasan kita di tengah-tengah inklusivitas masyarakat yang sedang dikembangkan disini. Terutama oleh gagasan alm Noercholis Madjid dan saudara2 dari Paramadina, demokrasi terbuka ala Gus Dur dan pandangan rekan2 Jaringan Islam Liberal (JIL), dengan tanpa menafikan fenomena radikalisme fundamentalisme yang menurut saya "keliru" serta gerakan khilafah dan penerapan syariah lainnya yang masih saja diperjuangkan oleh sebagian kelompok agama mayoritas.
Beginilah pergumulan yang sedang dihadapi. Memang inilah fakta keadaannya dan yang menjadi tantangan besar dan kompleks yang sedang kita hadapi sekarang. Bukan saja untuk urusan kedalam terkait persoalan internal Gereja kekristenan dan society Kristen, tapi juga urusan keluar di tengah2 masyarakat inklusif dan cendrung semakin menganut pluralisme agama dan kepercayaan, yang bergerak dengan cepat ini.
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (:
Friday, September 7, 2007
Mana yang lebih dulu utama: Identitas Suku Etnik atau Identitas Indonesia?
Mana yang lebih dulu utama: Identitas Suku Etnik atau Identitas Indonesia?
Ciri NKRI nasional relijius bagaimana?
Pertanyaan ini sering ditanyakan beberapa teman kepada saya.
Terhubung dengan wacana yang banyak dibicarakan selama ini: yang namanya Indonesia setelah 62 tahun merdeka disinyalir belum terbentuk. Memang secara politik, sudah. Namanya NKRI. Berciri nasionalis agamis, atau nasionalis relijius. Apa benar? Apa semua orang yang ber KTP Indonesia atau ber paspor Indonesia, sudah menerima bahwa ciri NKRI ini adalah nasionalis agamis, nasionalis relijius?
Apa yang dimaksud nasionalis? Apa yang dimaksud relijius? Apa yang dimaksud nasionalis, nasionalis sipil atau nasionalis militeristik? Lalu, yang dimaksud relijius apakah relijius mencakup agama2 seluruhnya berikut aliran kepercayaan, atau hanya relijius Islami. Sehingga ciri sebenarnya adalah nasionalis relijius islami. Wallahu alam.
Wacana seperti ini nyatanya sampai sekarang masih tetap bergulir. Kayaknya belum ada konsensus. Kalaupun ada mungkin baru di tingkat elit2. Elit2 dpr, elit2 ormas, elit pemerintah, birokrasi, dsb. Yang jelas, yang bisa diambil kesimpulannya, budaya peradaban Indonesia sejatinya barangkali memang belum terbentuk, belum mantap. Ciri NKRI sebagai nasionalis relijius itu pun sepertinya masih dipertanyakan. Tafsirannya bagaimana.
Wacana sejak masih ada majalah PRISMA beberapa dekade lalu, sudah dibicarakan bahwa NKRI itu nasion atau supra nasion. Karena menurut asal katanya, yang disebut nasion di Nusantara ini, adalah suku bangsa yang ada sekarang, seperti nasion Sunda, nasion Jawa, nasion Batak, nasion Bugis, nasion Melayu, nasion Papua, dlsb. Jadi, bila menelisik asal kata nasion itu adalah bangsa, bukan berarti suku bangsa. Sebab itu jika ditanya orang Batak misalnya, orang Dayak atau orang Papua, maka yang bersangkutan melalui perbendaharaan kata2 yang ada dalam bahasanya mengatakan bahwa kami adalah bangsa Batak (bhs Batak: bangso Batak), bangsa atau nasion Dayak, nasion Papua.
Nah, kalau suku2 bangsa yang kita sebut sekarang menjelaskan dirinya sendiri sebagai bangsa, Indonesia itu itu tepat tidak disebut bangsa juga? Apa tidak lebih tepat disebut "supra bangsa", atau kumpulan dari berbagai bangsa, sejenis istilah konfederasi misalnya?
Namun, lebih membingungkan lagi bila memakai jalan pikiran seperti ini. Karena nyatanya Indonesia bukanlah negara konfederasi, tapi negara bangsa, dengan bentuk negara kesatuan (unitarian). Ini diyakini masih banyak diwacanakan orang. Saya sudahi dulu wacana ini sampai disini.
Karena sejak proklamasi 17.8.1945 dengan landasan Sumpah Pemuda 28.10.1928 kita sudah mendeklarasikan Indonesia sebagai negara kesatuan, unitarian, NKRI. Menjadi negara bangsa. Artinya nasion-nasion atau bisa disebut juga sebagai etnis, etnik (ethne) yang ada dalam wilayah NKRI, diterima sebagai sub-nasion, suku bangsa. Pertanyaan lanjutnya adalah apakah sub nasion sub nasion itu sudah benar2 menyatu secara unitarian dalam NKRI setelah 62 tahun merdeka ini?
Kita jawab mungkin belum, karena soal keragaman sub nasion sub nasion (tepatnya sebenarnya nasion nasion atau etnik2) saja sampai sekarang masih dinilai belum seluruh elemen bangsa bisa atau ikhlas menerimanya secara aklamasi. Di bibir atau forum2 resmi mungkin iya, tapi who knows di hati, di intuisi, naluri.
Mengukurnya tidak berapa sulit barangkali. Mungkin dapat melalui pertanyaan: Bangga mana proud mana kita atau seorang warga negara, menjadi orang Bugis, orang Batak, orang Bali, orang Papua, dst atau menjadi orang Indonesia, orang NKRI?
Dalam 10-20 tahun terakhir ini, saya punya pengalaman berjumpa dengan rekan2 baik di luar negeri atau pun ketika berbincang di sini, di Indonesia. Menurut pernyataan mereka yang cukup jujur saya kira, cukup banyak yang lebih bangga sebagai orang Bugis dari pada sebagai orang Indonesia. Lebih bangga dengan identitas orang Batak, ketimbang dikenal sebagai orang Indonesia. Identitas orang Bali ketimbang dikenal sebagai orang Indonesia. (Jangan lupa untuk hal yang satu ini, soal Bali, di mancanegara nama Bali jauh lebih dikenal masyarakat internasional ketimbang nama Indonesia, banyak mereka yang belum/tidak kenal). Juga Papua, Maluku, Timor dst. Mereka lebih confort, lebih proud bila dibilang sebagai orang Papua, Maluku, Timor NTT ketimbang dibilang sebagai orang Indonesia. Jika ini berlaku bagi orang etnis Tionghoa (Cina) yang pernah lahir dan besar di Indonesia, saya kira sama saja. Mungkin sekali mereka akan lebih proud dikatakan sebagai orang Tionghoa (Cina) bila
dikatakan sebagai orang Indonesia.
Pertanyaan kita kemudian, kenapa bagi sebagian mereka yang saya temui ini lebih bangga menyebut identitasnya dengan sukunya, etnisnya sendiri, ketimbang menyebut mereka sebagai orang Indonesia, identitas Indonesia? Kenapa sampai demikian?
Kalau memang faktanya masih seperti ini, sejatinya mana sebenarnya yang lebih dulu utama: Identitas suku etnik (kita), atau identitas sebagai Indonesia, identitas Indonesia?
Kalau identitas yang lebih penting, lebih dulu utama adalah identitas suku etnis (kita) sendiri, tentu akan memiliki konsekuensi. Yang namanya Indonesia sebagai identitas, kapan akan pernah terbentuk? Atau tepatnya dalam tujuan dan motif yang positip, bagaimana bisa membentuk identitas kepribadian Indonesia yang utuh, bila sementara identitas kesukuan, etnisitas yang masih muncul lebih utama, lebih membanggakan?
Sebaliknya, kalau identitas yang lebih dulu utama adalah identitas Indonesia, identitas NKRI, tentu membawa memiliki konsekuensinya pula. Dasar apa kita beridentitaskan Indonesia, bagaimana kita bisa memelihara dan mengembangkan terus identitas Indonesia itu, tanpa menafikan menelantarkan identitas kesukuan atau etnisitas mana kita berasal?
Kalau kita menjawab dua-duanya sama2 penting: identitas suku etnik kita dan identitas Indonesia sama2 penting, sama2 utama, bagaimana kita bisa tepat menyeimbangkan kedua identitas tersebut agar dapat berjalan seiring selaras di level operasionalnya. Tanpa ada perbenturan, tanpa ada perasaan kontradiksi?
Ini baru hubungan antara identitas suku etnik dengan identitas Indonesia, identitas Keindonesiaan. Belum lagi bila dikaitkan dengan agama, reliji, ideologi yang kita anut. Dianut oleh masing2nya.
Menengok ke negara2 lain, banyak pengamat menilai dan menengarai bila negara2/bangsa seperi Rusia, yang presidennya Vladimir Putin baru berkunjung ke Indonesia, sudah "beres" dan cukup "tuntas" dalam penyelesaian mengenai identitas bangsanya, nasionnya, budayanya. Sejak dulu bahkan dinilai Russia (Rush) memang sudah cukup mantap dalam ke Russia annya, terlebih sejak era Glasnost, Perestoika, Demokratiya bergulir sejak 1985. Demikian juga dengan Jepang, Cina, Korea dan India. Jangan dibanding dengan AS atau Eropa Barat.
Tinggal Indonesia, yang sudah menggulirkan Reformasi sejak 1998, demokratisasi, desentralisasi transformasi sosial ini bagaimana. Note: Demokrasi yang ditengarai kini terlalu terbuka, berjalan seakan "lepas kendali". Program "liberalisasi" terutama di bidang politik dan ekonomi (contoh restrukturisasi, privatisasi bumn, perbankan dll) dinilai kebablasan.. ).
Kembali ke persoalan. Kita tahu Islam, Kristen, modernisme, faham militerisme termasuk Hindu, Budha semuanya secara historia sejatinya berasal dari "luar" Indonesia. Bukan asli 'locals heritage' Indonesia. Kembali ke pertanyaan di bagian awal lagi. Jika disebut nasionalis versi NKRI di era sekarang, nasionalis yang mana nasionalis yang bagaimana?
- nasionalis militeristik?
- nasionalis jawani?
- nasionalis sipil, civil?
- nasionalis madani (islami)?
- nasionalis kristiani? hinduis? budhis?
- nasionalis mayoritas agama?
- nasionalis minoritas agama?
- nasionalis politis?
- nasionalis budaya?
- nasionalis tanpa patron militeristik, sipil, madani, kristiani, hinduis, budhis, politis, budaya dst? nasionalis dalam pengertian umum saja, general yang bisa menerima semua pencirian di atas?
Kalaupun disebut relijius, relijius yang mana, relijius yang bagaimana?
- relijius islami? relijius madani?
- relijius kejawenis?
- relijius kristiani?
- relijius hinduis, budhis? atau
- relijius dalam pengertian betul2 umum, general, yang bisa menerima latar belakang reliji atau agama kepercayaan apa/mana saja?
Ini memang perlu kejujuran bersama. Kejujuran bukan saja tingkat naluriah, tapi juga kejujuran tingkat intuitif. Kejujuran dalam ground-motives.
Selama belum ada kejujuran dan kesepakatan bersama konsensus bersama dalam menjawab persoalan berbangsa, ber"suku bangsa", beragama dan bernegara secara internal di Indonesia, yang diharap bisa bebas dari pengaruh "luar" atau "asing", maka akan selama itu pula akan masih banyak syak-wasangka, kecurigaan2 dan ketidak-terus terangan dalam wacana dan pembahasan menuju identitas bangsa yang sejati, yang genuine.
Mengapa wacana bahasan dan kesepakatan bersama ini sudah waktunya dituntaskan? Karena hemat saya ini berkaitan sekali dengan pemberdayaan, 'pembangunan' dan kemajuan bangsa untuk tahap2 selanjutnya. Bagaimana mau berbicara yang lebih advanced, menyangkut lingkungan, ekologi, investasi, "pembangunan" , infrastruktur, kemajuan dst, sementara hal yang fundamental, fondasional, radiks (akar) terhubung persoalan identitas bangsa dan kenegaraan NKRI masih belum juga tuntas. Masih terus hanya jadi sebatas wacana, dan belum mampu diselesaikan secara korporat, secara mendasar oleh seluruh elemen bangsa ini. Dari Rote sampai Miangas, dari Merauke sampai Aceh Nias, dari Yogyakarta Jakarte sampai Bulungan Atas? sampai Danau Di Atas?
Bagaimana opini Anda's ?
Salam persaudaraan, basudara, horas!
Hans Midas Simanjuntak.
Ciri NKRI nasional relijius bagaimana?
Pertanyaan ini sering ditanyakan beberapa teman kepada saya.
Terhubung dengan wacana yang banyak dibicarakan selama ini: yang namanya Indonesia setelah 62 tahun merdeka disinyalir belum terbentuk. Memang secara politik, sudah. Namanya NKRI. Berciri nasionalis agamis, atau nasionalis relijius. Apa benar? Apa semua orang yang ber KTP Indonesia atau ber paspor Indonesia, sudah menerima bahwa ciri NKRI ini adalah nasionalis agamis, nasionalis relijius?
Apa yang dimaksud nasionalis? Apa yang dimaksud relijius? Apa yang dimaksud nasionalis, nasionalis sipil atau nasionalis militeristik? Lalu, yang dimaksud relijius apakah relijius mencakup agama2 seluruhnya berikut aliran kepercayaan, atau hanya relijius Islami. Sehingga ciri sebenarnya adalah nasionalis relijius islami. Wallahu alam.
Wacana seperti ini nyatanya sampai sekarang masih tetap bergulir. Kayaknya belum ada konsensus. Kalaupun ada mungkin baru di tingkat elit2. Elit2 dpr, elit2 ormas, elit pemerintah, birokrasi, dsb. Yang jelas, yang bisa diambil kesimpulannya, budaya peradaban Indonesia sejatinya barangkali memang belum terbentuk, belum mantap. Ciri NKRI sebagai nasionalis relijius itu pun sepertinya masih dipertanyakan. Tafsirannya bagaimana.
Wacana sejak masih ada majalah PRISMA beberapa dekade lalu, sudah dibicarakan bahwa NKRI itu nasion atau supra nasion. Karena menurut asal katanya, yang disebut nasion di Nusantara ini, adalah suku bangsa yang ada sekarang, seperti nasion Sunda, nasion Jawa, nasion Batak, nasion Bugis, nasion Melayu, nasion Papua, dlsb. Jadi, bila menelisik asal kata nasion itu adalah bangsa, bukan berarti suku bangsa. Sebab itu jika ditanya orang Batak misalnya, orang Dayak atau orang Papua, maka yang bersangkutan melalui perbendaharaan kata2 yang ada dalam bahasanya mengatakan bahwa kami adalah bangsa Batak (bhs Batak: bangso Batak), bangsa atau nasion Dayak, nasion Papua.
Nah, kalau suku2 bangsa yang kita sebut sekarang menjelaskan dirinya sendiri sebagai bangsa, Indonesia itu itu tepat tidak disebut bangsa juga? Apa tidak lebih tepat disebut "supra bangsa", atau kumpulan dari berbagai bangsa, sejenis istilah konfederasi misalnya?
Namun, lebih membingungkan lagi bila memakai jalan pikiran seperti ini. Karena nyatanya Indonesia bukanlah negara konfederasi, tapi negara bangsa, dengan bentuk negara kesatuan (unitarian). Ini diyakini masih banyak diwacanakan orang. Saya sudahi dulu wacana ini sampai disini.
Karena sejak proklamasi 17.8.1945 dengan landasan Sumpah Pemuda 28.10.1928 kita sudah mendeklarasikan Indonesia sebagai negara kesatuan, unitarian, NKRI. Menjadi negara bangsa. Artinya nasion-nasion atau bisa disebut juga sebagai etnis, etnik (ethne) yang ada dalam wilayah NKRI, diterima sebagai sub-nasion, suku bangsa. Pertanyaan lanjutnya adalah apakah sub nasion sub nasion itu sudah benar2 menyatu secara unitarian dalam NKRI setelah 62 tahun merdeka ini?
Kita jawab mungkin belum, karena soal keragaman sub nasion sub nasion (tepatnya sebenarnya nasion nasion atau etnik2) saja sampai sekarang masih dinilai belum seluruh elemen bangsa bisa atau ikhlas menerimanya secara aklamasi. Di bibir atau forum2 resmi mungkin iya, tapi who knows di hati, di intuisi, naluri.
Mengukurnya tidak berapa sulit barangkali. Mungkin dapat melalui pertanyaan: Bangga mana proud mana kita atau seorang warga negara, menjadi orang Bugis, orang Batak, orang Bali, orang Papua, dst atau menjadi orang Indonesia, orang NKRI?
Dalam 10-20 tahun terakhir ini, saya punya pengalaman berjumpa dengan rekan2 baik di luar negeri atau pun ketika berbincang di sini, di Indonesia. Menurut pernyataan mereka yang cukup jujur saya kira, cukup banyak yang lebih bangga sebagai orang Bugis dari pada sebagai orang Indonesia. Lebih bangga dengan identitas orang Batak, ketimbang dikenal sebagai orang Indonesia. Identitas orang Bali ketimbang dikenal sebagai orang Indonesia. (Jangan lupa untuk hal yang satu ini, soal Bali, di mancanegara nama Bali jauh lebih dikenal masyarakat internasional ketimbang nama Indonesia, banyak mereka yang belum/tidak kenal). Juga Papua, Maluku, Timor dst. Mereka lebih confort, lebih proud bila dibilang sebagai orang Papua, Maluku, Timor NTT ketimbang dibilang sebagai orang Indonesia. Jika ini berlaku bagi orang etnis Tionghoa (Cina) yang pernah lahir dan besar di Indonesia, saya kira sama saja. Mungkin sekali mereka akan lebih proud dikatakan sebagai orang Tionghoa (Cina) bila
dikatakan sebagai orang Indonesia.
Pertanyaan kita kemudian, kenapa bagi sebagian mereka yang saya temui ini lebih bangga menyebut identitasnya dengan sukunya, etnisnya sendiri, ketimbang menyebut mereka sebagai orang Indonesia, identitas Indonesia? Kenapa sampai demikian?
Kalau memang faktanya masih seperti ini, sejatinya mana sebenarnya yang lebih dulu utama: Identitas suku etnik (kita), atau identitas sebagai Indonesia, identitas Indonesia?
Kalau identitas yang lebih penting, lebih dulu utama adalah identitas suku etnis (kita) sendiri, tentu akan memiliki konsekuensi. Yang namanya Indonesia sebagai identitas, kapan akan pernah terbentuk? Atau tepatnya dalam tujuan dan motif yang positip, bagaimana bisa membentuk identitas kepribadian Indonesia yang utuh, bila sementara identitas kesukuan, etnisitas yang masih muncul lebih utama, lebih membanggakan?
Sebaliknya, kalau identitas yang lebih dulu utama adalah identitas Indonesia, identitas NKRI, tentu membawa memiliki konsekuensinya pula. Dasar apa kita beridentitaskan Indonesia, bagaimana kita bisa memelihara dan mengembangkan terus identitas Indonesia itu, tanpa menafikan menelantarkan identitas kesukuan atau etnisitas mana kita berasal?
Kalau kita menjawab dua-duanya sama2 penting: identitas suku etnik kita dan identitas Indonesia sama2 penting, sama2 utama, bagaimana kita bisa tepat menyeimbangkan kedua identitas tersebut agar dapat berjalan seiring selaras di level operasionalnya. Tanpa ada perbenturan, tanpa ada perasaan kontradiksi?
Ini baru hubungan antara identitas suku etnik dengan identitas Indonesia, identitas Keindonesiaan. Belum lagi bila dikaitkan dengan agama, reliji, ideologi yang kita anut. Dianut oleh masing2nya.
Menengok ke negara2 lain, banyak pengamat menilai dan menengarai bila negara2/bangsa seperi Rusia, yang presidennya Vladimir Putin baru berkunjung ke Indonesia, sudah "beres" dan cukup "tuntas" dalam penyelesaian mengenai identitas bangsanya, nasionnya, budayanya. Sejak dulu bahkan dinilai Russia (Rush) memang sudah cukup mantap dalam ke Russia annya, terlebih sejak era Glasnost, Perestoika, Demokratiya bergulir sejak 1985. Demikian juga dengan Jepang, Cina, Korea dan India. Jangan dibanding dengan AS atau Eropa Barat.
Tinggal Indonesia, yang sudah menggulirkan Reformasi sejak 1998, demokratisasi, desentralisasi transformasi sosial ini bagaimana. Note: Demokrasi yang ditengarai kini terlalu terbuka, berjalan seakan "lepas kendali". Program "liberalisasi" terutama di bidang politik dan ekonomi (contoh restrukturisasi, privatisasi bumn, perbankan dll) dinilai kebablasan.. ).
Kembali ke persoalan. Kita tahu Islam, Kristen, modernisme, faham militerisme termasuk Hindu, Budha semuanya secara historia sejatinya berasal dari "luar" Indonesia. Bukan asli 'locals heritage' Indonesia. Kembali ke pertanyaan di bagian awal lagi. Jika disebut nasionalis versi NKRI di era sekarang, nasionalis yang mana nasionalis yang bagaimana?
- nasionalis militeristik?
- nasionalis jawani?
- nasionalis sipil, civil?
- nasionalis madani (islami)?
- nasionalis kristiani? hinduis? budhis?
- nasionalis mayoritas agama?
- nasionalis minoritas agama?
- nasionalis politis?
- nasionalis budaya?
- nasionalis tanpa patron militeristik, sipil, madani, kristiani, hinduis, budhis, politis, budaya dst? nasionalis dalam pengertian umum saja, general yang bisa menerima semua pencirian di atas?
Kalaupun disebut relijius, relijius yang mana, relijius yang bagaimana?
- relijius islami? relijius madani?
- relijius kejawenis?
- relijius kristiani?
- relijius hinduis, budhis? atau
- relijius dalam pengertian betul2 umum, general, yang bisa menerima latar belakang reliji atau agama kepercayaan apa/mana saja?
Ini memang perlu kejujuran bersama. Kejujuran bukan saja tingkat naluriah, tapi juga kejujuran tingkat intuitif. Kejujuran dalam ground-motives.
Selama belum ada kejujuran dan kesepakatan bersama konsensus bersama dalam menjawab persoalan berbangsa, ber"suku bangsa", beragama dan bernegara secara internal di Indonesia, yang diharap bisa bebas dari pengaruh "luar" atau "asing", maka akan selama itu pula akan masih banyak syak-wasangka, kecurigaan2 dan ketidak-terus terangan dalam wacana dan pembahasan menuju identitas bangsa yang sejati, yang genuine.
Mengapa wacana bahasan dan kesepakatan bersama ini sudah waktunya dituntaskan? Karena hemat saya ini berkaitan sekali dengan pemberdayaan, 'pembangunan' dan kemajuan bangsa untuk tahap2 selanjutnya. Bagaimana mau berbicara yang lebih advanced, menyangkut lingkungan, ekologi, investasi, "pembangunan" , infrastruktur, kemajuan dst, sementara hal yang fundamental, fondasional, radiks (akar) terhubung persoalan identitas bangsa dan kenegaraan NKRI masih belum juga tuntas. Masih terus hanya jadi sebatas wacana, dan belum mampu diselesaikan secara korporat, secara mendasar oleh seluruh elemen bangsa ini. Dari Rote sampai Miangas, dari Merauke sampai Aceh Nias, dari Yogyakarta Jakarte sampai Bulungan Atas? sampai Danau Di Atas?
Bagaimana opini Anda's ?
Salam persaudaraan, basudara, horas!
Hans Midas Simanjuntak.
Thursday, September 6, 2007
In Memoriam Rev. D. James Kennedy Ph.D (1930- Sept 5, 2007).
Di mata saya, almarhum Rev. D. James Kennedy, Ph.D. orang besar, tokoh besar dalam dunia Kekristenan terutama untuk era sekarang. Dia seorang pendeta, negarawan, suami dan ayah dalam keluarga yang baik, untuk boleh menyebutnya excellent. Beberapa kali sejak tahun 2001 kami/saya sudah bercita-cita ingin sekali bertemu dengan beliau, ingin suatu kali mengundangnya ke Indonesia, ke Bali atau Jakarta; atau.. mengunjungi gerejanya Coral Ridge Presbyterian Church (CRPC) di Forth Laudardale US, yang berciri presbiterian evangelical renewing budaya itu. Namun apa daya tak kesampaian.
Yang kita tau, beliau telah menulis buku a.l. What If Jesus had Never Been Born? yang dikenal dan banyak dibaca di sini. Padahal masih cukup banyak buku beliau baik ranah teologi maupun politik. Sebut saja: Skeptics Answered, Truths That Transform (teologi),
What if America Were a Christian Nation Again? and The Rewriting of America's History
Why I Believe (politik), dll.
Ada lk. 6 lembaga/organisasi seingat saya yang telah diretas beliau sejak tahun 60/70an yang sangat terasa dampaknya di AS, di sangat banyak negara dan sampai ke Indonesia, yaitu:
1. Coral Ridge Presbyterian Church, North America. Banyak kalangan gereja ini menjadi salah satu gereja paling besar dan berpengaruh di antero Amerika Utara.
2. Evangelism Explosion (EE) International. Siapa yang tidak mengenal pengaruh dari organisasi EE ini sampai di negeri ini juga.
3. Westminster Academy, di Forth Lauderdale Us. Sebuah Christian education yang bermutu, diakui dan memiliki pengaruh kuat.
4. Radio WAFG 90.3 FM, radio siaran Kristen 24-hours yang juga luar biasa, berdampak.
5. Coral Ridge Ministry, siara radio broadcasting program PI dan cultural renewal di TV Amerika.
6. Knox Theological Seminary. STT yang juga diakui dan dihormati keberadaannya.
Inilah kata-kata terakhir dari beliau yang mungkin akan selalu dikenang awal Sept 2007 lalu, khususnya bagi mereka yang mengenalnya dengan baik:
“Now, I know that someday I am going to come to what some people will say is the end of this life. They will probably put me in a box and roll me right down here in front of the church, and some people will gather around, and a few people will cry. But I have told them not to do that because I don’t want them to cry. I want them to begin the service with the Doxology and end with the Hallelujah chorus, because I am not going to be there, and I am not going to be dead. I will be more alive than I have ever been in my life, and I will be looking down upon you poor people who are still in the land of dying and have not yet joined me in the land of the living. And I will be alive forevermore, in greater health and vitality and joy than ever, ever, I or anyone has known before.”
Luar biasa. Dunia Kekristenan masa ini kehilangan satu pribadi: pendeta, negarawan, bahkan ayah sekaligus suami yang luar biasa.
Selamat jalan Rev. D. James Kennedy Ph.D.
Till we meet at Jesus' feet !
Salam,
Hans Midas Simanjuntak.
------------ --------- --------- --------- ---------
D. JAMES KENNEDY (1930 - 2007)
Life and Legacy.
------------ --------- --------- --------- --------- -
November 3, 1930 – Dennis James Kennedy is born to George and Ermine Kennedy in Augusta, Georgia.
1936 – The Kennedy family moves to Chicago, settling in an apartment just 50 yards from Lake Michigan.
1945 – The family relocates once more to Tampa, Florida.
1952 – Arthur Murray Dance instructor Jim Kennedy meets Anne Lewis and signs her up for six months of dance instructions.
1953 – Sleeping late on a Sunday morning, Jim Kennedy hears the Gospel for the very first time from a radio preacher. Shortly thereafter he professes faith in Christ.
December 3, 1955 – After fighting God’s call to full-time ministry for nearly a year, Jim Kennedy, with great trepidation, quits his job as a dance studio manager.
December 3, 1955 – Jim Kennedy and Anne Lewis become engaged.
December 4, 1955 – Jim is given the chance to preach at a local Presbyterian church and, to his surprise, is employed as the interim minister the same day.
August 25, 1956 – Jim and Anne are married at First Presbyterian Church of Lakeland, Florida.
Fall 1956 – Jim Kennedy begins seminary training at Columbia Theological Seminary in Decatur, Georgia.
May 11, 1959 – Days before his seminary graduation, Jim receives a letter from the Home Missions Committee of the Everglades Presbytery inviting him to consider pastoring a new church to be started in Fort Lauderdale.
June 21, 1959 – The first Coral Ridge Presbyterian Church worship service is held at McNab Elementary School, led by D. James Kennedy.
July 21, 1959 –Rev. D. James Kennedy is ordained.
1960 – Rev. Kennedy tells his fledgling congregation: “You know what? I believe we can change the world!”
July 31, 1960 – Rev. D. James Kennedy is installed as minister of Coral Ridge Presbyterian Church.
1962 – Rev. Kennedy begins to train church members to share Christ using the techniques learned from Rev. Kennedy Smartt.
March 16, 1962 – Jennifer is born and adopted into the Kennedy family.
March 18, 1962 – A new church building seating 500 on Commercial Boulevard is dedicated.
February 20, 1967 – The first Evangelism Explosion clinic is held with 36 people in attendance.
Summer 1967 – Tragedy strikes when Anne undergoes cancer surgery. Rev. Kennedy later describes God’s provision during that dark time in his message, “Songs in the Night.”
1970 – Evangelism Explosion, the first of more than 65 books by Dr. Kennedy is published by Tyndale. More than 1.5 million copies have been sold.
1970 – Like A Mighty Army, a dramatic motion picture depicting the story of Evangelism Explosion, is produced by Gospel Films.
August 28, 1970 – Lay Evangelism, Inc., later changed to Evangelism Explosion III International, Inc., is organized.
April 11, 1971 (Easter Sunday) – Groundbreaking for new church on Federal Highway.
August 1971 – Classes begin at Westminster Academy® with 300 students enrolled.
February 3, 1974 – The new church building on Federal Highway is dedicated. Dr. Billy Graham addresses the 11,000 people in attendance, some on benches outside the church, and 597 decision for Christ are recorded.
October 1, 1974 – Radio station WAFG (90.3 FM) is licensed as a non-commercial educational station.
October 3, 1976 – Church membership reaches 5,000 people.
January 8, 1978 – Coral Ridge Presbyterian Church votes to leave the Presbyterian Church (U.S.) and unites with the Presbyterian Church in America (P.C.A.).
September 17, 1978 – First television broadcast of worship service.
February 1979 – Dr. Kennedy receives his Ph.D. from New York University, completing his list of degrees as follows: A.B., M.Div. (cum laude), M.Th. (summa cum laude), D.D., D.Sac.Lit., Ph.D., Litt.D., D.Sac.Theol. , and D.Humane Lit.
November 30, 1980 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates its 20th anniversary.
May 29, 1990 – George Kennedy, Dr. Kennedy’s brother, dies. Dr. Kennedy learns after his death that George, who had long resisted the Gospel, was led to Christ on his death bed by a young hospital chaplain.
1984 – Truths That Transform, Dr. Kennedy’s daily radio program begins.
November 24, 1985 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates its 25th anniversary.
1988 - With Evangelism Explosion in only 66 nations, Dr. Kennedy challenged the organization’ s vice presidents to take the lay-evangelism training program to every nation by 1995.
March 14, 1989 – The Session of Coral Ridge Presbyterian Church establishes Knox Theological Seminary and appoints Dr. Kennedy Chancellor.
March 30-April 1, 1990 – Coral Ridge Church marks its 30th Anniversary during a “Celebrate the Dream” weekend celebration.
September 1990 – Knox Theological Seminary begins classes to train pastors and laymen in a graduate school of theology.
1992 – The Kennedy Commentary, a daily 90-second radio commentary, is launched.
May 21, 1994 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates Dr. Kennedy’s 35th year in Gospel ministry.
September 14, 1995 – Dr. Kennedy dedicates the D. James Kennedy Center for Christian Statesmanship in Washington, D.C.
February 23, 1996 – Evangelism Explosion International becomes the first Christian organization in history to establish its ministry in all 211 nations of the world.
1998 – Dr. Kennedy reaches the long-sought goal of giving back to the church 100 percent of all of the salary he had earned at the church since he arrived in 1959.
-->
March 7, 1999 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates its 40th anniversary.
June 10, 2000 – Daughter Jennifer marries Charles E. “Chip” Cassidy in Dana Point, California.
December 2000 – Along with Dean Jones, Dr. Kennedy co-hosts Who Is This Jesus, a one-hour documentary viewed by some 12 million people nationwide.
April 21, 2004 – Dr. Kennedy named one of the “Greatest Intellectuals of the 21st Century” by the International Biographical Centre of Cambridge, England.
May 2004 – Launch of new, nationwide ministry, the Creation Studies Institute.
-->
February 15, 2005 – Dr. Kennedy is inducted into the National Religious Broadcasters Hall of Fame.
October 2005 – After Hurricane Wilma rips off the church roof and drenches the sanctuary, Dr. Kennedy encourages the congregation, telling them this is “our finest hour.”
December 9, 2005 – Dr. Kennedy is feted at a surprise 75th birthday celebration.
August 25, 2006 – Dr. and Mrs. Kennedy celebrate 50 years of marriage.
2006 – Nearly five million people profess faith in Jesus Christ through Evangelism Explosion.
September 5, 2007 - Dr Kennedy enters into the presence of God in Heaven.
Yang kita tau, beliau telah menulis buku a.l. What If Jesus had Never Been Born? yang dikenal dan banyak dibaca di sini. Padahal masih cukup banyak buku beliau baik ranah teologi maupun politik. Sebut saja: Skeptics Answered, Truths That Transform (teologi),
What if America Were a Christian Nation Again? and The Rewriting of America's History
Why I Believe (politik), dll.
Ada lk. 6 lembaga/organisasi seingat saya yang telah diretas beliau sejak tahun 60/70an yang sangat terasa dampaknya di AS, di sangat banyak negara dan sampai ke Indonesia, yaitu:
1. Coral Ridge Presbyterian Church, North America. Banyak kalangan gereja ini menjadi salah satu gereja paling besar dan berpengaruh di antero Amerika Utara.
2. Evangelism Explosion (EE) International. Siapa yang tidak mengenal pengaruh dari organisasi EE ini sampai di negeri ini juga.
3. Westminster Academy, di Forth Lauderdale Us. Sebuah Christian education yang bermutu, diakui dan memiliki pengaruh kuat.
4. Radio WAFG 90.3 FM, radio siaran Kristen 24-hours yang juga luar biasa, berdampak.
5. Coral Ridge Ministry, siara radio broadcasting program PI dan cultural renewal di TV Amerika.
6. Knox Theological Seminary. STT yang juga diakui dan dihormati keberadaannya.
Inilah kata-kata terakhir dari beliau yang mungkin akan selalu dikenang awal Sept 2007 lalu, khususnya bagi mereka yang mengenalnya dengan baik:
“Now, I know that someday I am going to come to what some people will say is the end of this life. They will probably put me in a box and roll me right down here in front of the church, and some people will gather around, and a few people will cry. But I have told them not to do that because I don’t want them to cry. I want them to begin the service with the Doxology and end with the Hallelujah chorus, because I am not going to be there, and I am not going to be dead. I will be more alive than I have ever been in my life, and I will be looking down upon you poor people who are still in the land of dying and have not yet joined me in the land of the living. And I will be alive forevermore, in greater health and vitality and joy than ever, ever, I or anyone has known before.”
Luar biasa. Dunia Kekristenan masa ini kehilangan satu pribadi: pendeta, negarawan, bahkan ayah sekaligus suami yang luar biasa.
Selamat jalan Rev. D. James Kennedy Ph.D.
Till we meet at Jesus' feet !
Salam,
Hans Midas Simanjuntak.
------------ --------- --------- --------- ---------
D. JAMES KENNEDY (1930 - 2007)
Life and Legacy.
------------ --------- --------- --------- --------- -
November 3, 1930 – Dennis James Kennedy is born to George and Ermine Kennedy in Augusta, Georgia.
1936 – The Kennedy family moves to Chicago, settling in an apartment just 50 yards from Lake Michigan.
1945 – The family relocates once more to Tampa, Florida.
1952 – Arthur Murray Dance instructor Jim Kennedy meets Anne Lewis and signs her up for six months of dance instructions.
1953 – Sleeping late on a Sunday morning, Jim Kennedy hears the Gospel for the very first time from a radio preacher. Shortly thereafter he professes faith in Christ.
December 3, 1955 – After fighting God’s call to full-time ministry for nearly a year, Jim Kennedy, with great trepidation, quits his job as a dance studio manager.
December 3, 1955 – Jim Kennedy and Anne Lewis become engaged.
December 4, 1955 – Jim is given the chance to preach at a local Presbyterian church and, to his surprise, is employed as the interim minister the same day.
August 25, 1956 – Jim and Anne are married at First Presbyterian Church of Lakeland, Florida.
Fall 1956 – Jim Kennedy begins seminary training at Columbia Theological Seminary in Decatur, Georgia.
May 11, 1959 – Days before his seminary graduation, Jim receives a letter from the Home Missions Committee of the Everglades Presbytery inviting him to consider pastoring a new church to be started in Fort Lauderdale.
June 21, 1959 – The first Coral Ridge Presbyterian Church worship service is held at McNab Elementary School, led by D. James Kennedy.
July 21, 1959 –Rev. D. James Kennedy is ordained.
1960 – Rev. Kennedy tells his fledgling congregation: “You know what? I believe we can change the world!”
July 31, 1960 – Rev. D. James Kennedy is installed as minister of Coral Ridge Presbyterian Church.
1962 – Rev. Kennedy begins to train church members to share Christ using the techniques learned from Rev. Kennedy Smartt.
March 16, 1962 – Jennifer is born and adopted into the Kennedy family.
March 18, 1962 – A new church building seating 500 on Commercial Boulevard is dedicated.
February 20, 1967 – The first Evangelism Explosion clinic is held with 36 people in attendance.
Summer 1967 – Tragedy strikes when Anne undergoes cancer surgery. Rev. Kennedy later describes God’s provision during that dark time in his message, “Songs in the Night.”
1970 – Evangelism Explosion, the first of more than 65 books by Dr. Kennedy is published by Tyndale. More than 1.5 million copies have been sold.
1970 – Like A Mighty Army, a dramatic motion picture depicting the story of Evangelism Explosion, is produced by Gospel Films.
August 28, 1970 – Lay Evangelism, Inc., later changed to Evangelism Explosion III International, Inc., is organized.
April 11, 1971 (Easter Sunday) – Groundbreaking for new church on Federal Highway.
August 1971 – Classes begin at Westminster Academy® with 300 students enrolled.
February 3, 1974 – The new church building on Federal Highway is dedicated. Dr. Billy Graham addresses the 11,000 people in attendance, some on benches outside the church, and 597 decision for Christ are recorded.
October 1, 1974 – Radio station WAFG (90.3 FM) is licensed as a non-commercial educational station.
October 3, 1976 – Church membership reaches 5,000 people.
January 8, 1978 – Coral Ridge Presbyterian Church votes to leave the Presbyterian Church (U.S.) and unites with the Presbyterian Church in America (P.C.A.).
September 17, 1978 – First television broadcast of worship service.
February 1979 – Dr. Kennedy receives his Ph.D. from New York University, completing his list of degrees as follows: A.B., M.Div. (cum laude), M.Th. (summa cum laude), D.D., D.Sac.Lit., Ph.D., Litt.D., D.Sac.Theol. , and D.Humane Lit.
November 30, 1980 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates its 20th anniversary.
May 29, 1990 – George Kennedy, Dr. Kennedy’s brother, dies. Dr. Kennedy learns after his death that George, who had long resisted the Gospel, was led to Christ on his death bed by a young hospital chaplain.
1984 – Truths That Transform, Dr. Kennedy’s daily radio program begins.
November 24, 1985 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates its 25th anniversary.
1988 - With Evangelism Explosion in only 66 nations, Dr. Kennedy challenged the organization’ s vice presidents to take the lay-evangelism training program to every nation by 1995.
March 14, 1989 – The Session of Coral Ridge Presbyterian Church establishes Knox Theological Seminary and appoints Dr. Kennedy Chancellor.
March 30-April 1, 1990 – Coral Ridge Church marks its 30th Anniversary during a “Celebrate the Dream” weekend celebration.
September 1990 – Knox Theological Seminary begins classes to train pastors and laymen in a graduate school of theology.
1992 – The Kennedy Commentary, a daily 90-second radio commentary, is launched.
May 21, 1994 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates Dr. Kennedy’s 35th year in Gospel ministry.
September 14, 1995 – Dr. Kennedy dedicates the D. James Kennedy Center for Christian Statesmanship in Washington, D.C.
February 23, 1996 – Evangelism Explosion International becomes the first Christian organization in history to establish its ministry in all 211 nations of the world.
1998 – Dr. Kennedy reaches the long-sought goal of giving back to the church 100 percent of all of the salary he had earned at the church since he arrived in 1959.
-->
March 7, 1999 – Coral Ridge Presbyterian Church celebrates its 40th anniversary.
June 10, 2000 – Daughter Jennifer marries Charles E. “Chip” Cassidy in Dana Point, California.
December 2000 – Along with Dean Jones, Dr. Kennedy co-hosts Who Is This Jesus, a one-hour documentary viewed by some 12 million people nationwide.
April 21, 2004 – Dr. Kennedy named one of the “Greatest Intellectuals of the 21st Century” by the International Biographical Centre of Cambridge, England.
May 2004 – Launch of new, nationwide ministry, the Creation Studies Institute.
-->
February 15, 2005 – Dr. Kennedy is inducted into the National Religious Broadcasters Hall of Fame.
October 2005 – After Hurricane Wilma rips off the church roof and drenches the sanctuary, Dr. Kennedy encourages the congregation, telling them this is “our finest hour.”
December 9, 2005 – Dr. Kennedy is feted at a surprise 75th birthday celebration.
August 25, 2006 – Dr. and Mrs. Kennedy celebrate 50 years of marriage.
2006 – Nearly five million people profess faith in Jesus Christ through Evangelism Explosion.
September 5, 2007 - Dr Kennedy enters into the presence of God in Heaven.
Tuesday, September 4, 2007
Perenungan: Seputar fenomena fundamentalisme radikalisme agama, pluralisme agama: Kristen & agama2 kepercayaan.
Barangkali perenungan saya ini bisa juga menjadi perenungan kita bersama.
Perenungan terhadap Kristen.
Syahdan, semakin fundamentalis dan radikal seorang kristen umat kristen kristiani, maka yang bersangkutan akan semakin berakar dalam kasih. Kasih yang jujur dan tulus. Mengasihi sesama tanpa reserved. Mengasihi dan mengampuni musuh, yang berseberangan dalam pemikiran, doktrin, karakter, selera dan tabiat. Semakin rendah hati, tidak sombong dan tidak arogan, penuh dengan buah2 Roh.Mau berbagi, belajar menyangkal diri, tidak egois. Mencintai kejujuran, menjunjung etika, menolak tujuan menghalalkan cara. Di sisi lain fundamental dan radikalnya seorang kristen umat kristen, wawasan pengetahuan worldview pengalamannya dan kasihnya terus ditambahkan. Kasih pada saudara, kasih kepada semua orang (komunitas, anak bangsa dan bangsa2). Kasih kepada golongan yang dianggap marjinal (anak2, kaum perempuan, orang miskin, kaum tertindas tertawan, tercecer dan minoritas marjinal dll). Menjadi kristen yang semakin comprehensive, berwawasan berhikmat dan bijaksana dalam mengambil pilihan dan keputusan tindakan. Dapat membedakan mana porsi negara (state), mana porsi masyarakat (society); mana porsi agama (religion) dan mana porsi kebudayaan & bangsa (culture, nation). Dapat menerima dengan kasih dan berimbang, pluralisme agama2 tanpa menafikan keunikan kristen, keunikan Kristus, tanpa maksud dibentur2kan menjadi suatu pertentangan, kebencian dan kecemburuan.
Kesimpulannya: Semakin fundamentalis dan radikalis seorang kristen umat kristen kristiani, maka semakin baik dan sejahtera keluarganya, seluruh komunitas dan bangsanya. Sebaliknya, bila menjadi kristen tidak fundamentalis radikalis alias "nanggung2", semakin moderat bahkan semakin liberal, maka kasih menjadi kompromi terhadap kebenaran. Kasih agape tergerus menjadi kasih persaudaraan biasa (filia, storgi). Sikap menjadi "pluralisme" menyatakan bahwa semua agama sama saja. Sama2 baik dan benar. Banyak jalan ke Roma. Kasih agape niscaya menjadi pudar, berkurang. Kasih niscaya menjadi dingin. Sepertinya penuh cinta kemanusiaan, namun di sisi lain bisa terjadi sebaliknya semakin tidak peduli dengan orang di sekitar. Kreativitaspun dapat menjadi semakin bablas. Bebal. Yang ada kesombongan, aroganisme, dominasi barbar, "dunia serasa hanya miliknya sendiri", haus perang, pertengkaran, manifestasi "perbuatan2 daging", egoisme, individualisme, mementingkan hanya pribadi/keluarga/ golongan sendiri dan kehidupan berciri hedonisme, meniscayakan tindakan bumi hangus. Menghalalkan segala cara, cara kejahatan kecurangan teror violence sekalipun untuk menggapai tujuan.
Perenungan terhadap agama mayoritas. Di sisi lain. Di luar pemercaya kristen di mana Alkitab sebagai basic, sebut contoh agama mayoritas. Semakin fundamentalis dan radikal seorang penganut umat penganut agama mayoritas ini, maka yang terjadi adalah sikap yang melegalkan kekerasan. Tindakan tanpa kasih, terutama kepada kaum yang tidak sekepercayaan seagama dengan mereka; kalaupn ada kasih, hanya untuk pribadi/keluarga/ golongannya saja. Demi tujuan di "jalan Allah" semua cara boleh dihalalkan, berbohong sekalipun. Membalas musuh, baik musuh doktrin, prinsip, selera, karakter dan tabiat, membalas nyawa ganti nyawa, darah ganti daerah, kekerasan barbar ganti kekerasan barbar. Tindakan bumi hangus.
Wawasan tidak dikembangkan, yang terjadi indoktrinasi, tidak semakin comprehensive. Semakin bersikap mengawasi mencurigai pengetahuan yang adalah sumber hikmat. Mengawasi mecurigai ilmu kebijaksanaan, mencurigai sains. Semakin sama sekali tidak dapat membedakan mana porsi negara (state), mana porsi masyarakat (society), mana porsi agama (religion) dan mana porsi kebudayaan dan bangsa (culture, nation). Yang ada adalah menjadi sama2 sombong, "gila" nekat dan arogan, bertindak barbar, menyebar fitnah, provokasi dan teror, haus perang, menjadi "beringas" memancing pertikaian dan pertengkaran, manifestasi "perbuatan2 daging", egoisme, individualisme, "golonganisme" mementingkan diri sendiri/kelompok/ golongan dan kaum sendiri. Nampak luar seperti anti kemaksiatan, memerangi kemaksiatan dan kebatilan, meniscayakan tindakan bumi hangus. Namun secara ke dalam justru hidup "munafik"; hidup dalam kemaksiatan dan hedonisme "terselubung" untuk kalangan sendiri; yang dijustifikasi dan diformalisasi melalui pembenaran2 agama di tengah sempitnya wawasan pengetahuan dan akses informasi umat, kebodohan umat yang "sengaja" diciptakan melalui pola indoktrinasi. Masih sangat sulit menerima keragaman (diversity), pluralisme. Masih sangat ekstrim menerima agama mayoritas 100% unik, keragaman 0%. Karena alasannya agama dengan jumlah penduduk terbesar, mayoritas, terbesar di dunia!
Kesimpulannya: semakin fundamentalis dan radikal seorang umat penganut agama mayoritas ini, maka semakin "tidak berperasaan" , semakin berbahaya bagi kesatuan keharmonisan dan kesejahteraan keluarga, seluruh komunitas dan bangsa. Sebaliknya, bila seorang penganut umat penganut agama mayoritas ini menjadi lebih moderat bahkan lebih liberal, maka akan semakin luas dan comprehensive wawasan worldview pengetahuan akses informasinya yang dimiliki. Semakin toleran, semakin peduli orang lain. Mau berbagi. Ada tumbuh rasa kebersamaan. Memahami eksistensi kepercayaan, doktrin lain. Meski berbeda doktrin, apologet, namun tidak dendam dan tidak barbar. Lebih kooperatif dan mau bekerjasama membangun komunitas, membangun bangsa. Namun, sikap pluralisme bahwa agama dan kepercayaan di mana2 sama, niscaya muncul. Agama mayoritas sama saja dengan agama2 dan kepercayaan lainnya.
Perenungan terhadap agama kepercayaan lain: Budha, Hindu...Di sisi lain lagi. Bagaimana dengan fenomena yang ada di agama lain, di luar kepercayaan kristen dan agama mayoritas, terutama agama2 Timur? Ambil contoh saja Hindu, Budha, Kejawen atau Kebatinan? Semakin fundamentalis dan radikal seorang penganut umat penganut agama-agama dan kepercayaan ini, sama saja dengan agama mayoritas. Diberi tempat mendominasi, maka tidak membiarkan barang sejengkal pun kepercayaan agama lain untuk bertumbuh. Kekerasan demi "ajeg agama", kejayaan agama adalah jamak.
Namun ini fenomenanya bila terjadi sebaliknya. Bila semakin moderat bahkan liberalis penganut umat penganut agama2 ini, maka yang terjadi adalah semakin "pluralisme" dalam sikap dan pemahaman agama mereka. Bahwa agama dan kepercayaan di mana2 sama saja. Mau Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, Kejawen, Kebatinan, itu sama saja. Semua mengajarkan umat masing2 untuk ke Sorga. Banyak jalan ke Roma. Banyak jalan ke Yogya, ke Kuta. Bahkan sebaliknya semakin "awam" penganut umat penganut agama kepercayaan ini, maka semakin "tidak tau apa-apa". "Kosong". Ikut saja kemana angin berhembus. Menjadi pasif tanpa kata tanpa ide tanpa gagasan, menerima saja kenyataan pluralisme agama tanpa reserved, tanpa sikap kritis.
Bagaimana menurut kajian dan perenungan anda?
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Perenungan terhadap Kristen.
Syahdan, semakin fundamentalis dan radikal seorang kristen umat kristen kristiani, maka yang bersangkutan akan semakin berakar dalam kasih. Kasih yang jujur dan tulus. Mengasihi sesama tanpa reserved. Mengasihi dan mengampuni musuh, yang berseberangan dalam pemikiran, doktrin, karakter, selera dan tabiat. Semakin rendah hati, tidak sombong dan tidak arogan, penuh dengan buah2 Roh.Mau berbagi, belajar menyangkal diri, tidak egois. Mencintai kejujuran, menjunjung etika, menolak tujuan menghalalkan cara. Di sisi lain fundamental dan radikalnya seorang kristen umat kristen, wawasan pengetahuan worldview pengalamannya dan kasihnya terus ditambahkan. Kasih pada saudara, kasih kepada semua orang (komunitas, anak bangsa dan bangsa2). Kasih kepada golongan yang dianggap marjinal (anak2, kaum perempuan, orang miskin, kaum tertindas tertawan, tercecer dan minoritas marjinal dll). Menjadi kristen yang semakin comprehensive, berwawasan berhikmat dan bijaksana dalam mengambil pilihan dan keputusan tindakan. Dapat membedakan mana porsi negara (state), mana porsi masyarakat (society); mana porsi agama (religion) dan mana porsi kebudayaan & bangsa (culture, nation). Dapat menerima dengan kasih dan berimbang, pluralisme agama2 tanpa menafikan keunikan kristen, keunikan Kristus, tanpa maksud dibentur2kan menjadi suatu pertentangan, kebencian dan kecemburuan.
Kesimpulannya: Semakin fundamentalis dan radikalis seorang kristen umat kristen kristiani, maka semakin baik dan sejahtera keluarganya, seluruh komunitas dan bangsanya. Sebaliknya, bila menjadi kristen tidak fundamentalis radikalis alias "nanggung2", semakin moderat bahkan semakin liberal, maka kasih menjadi kompromi terhadap kebenaran. Kasih agape tergerus menjadi kasih persaudaraan biasa (filia, storgi). Sikap menjadi "pluralisme" menyatakan bahwa semua agama sama saja. Sama2 baik dan benar. Banyak jalan ke Roma. Kasih agape niscaya menjadi pudar, berkurang. Kasih niscaya menjadi dingin. Sepertinya penuh cinta kemanusiaan, namun di sisi lain bisa terjadi sebaliknya semakin tidak peduli dengan orang di sekitar. Kreativitaspun dapat menjadi semakin bablas. Bebal. Yang ada kesombongan, aroganisme, dominasi barbar, "dunia serasa hanya miliknya sendiri", haus perang, pertengkaran, manifestasi "perbuatan2 daging", egoisme, individualisme, mementingkan hanya pribadi/keluarga/ golongan sendiri dan kehidupan berciri hedonisme, meniscayakan tindakan bumi hangus. Menghalalkan segala cara, cara kejahatan kecurangan teror violence sekalipun untuk menggapai tujuan.
Perenungan terhadap agama mayoritas. Di sisi lain. Di luar pemercaya kristen di mana Alkitab sebagai basic, sebut contoh agama mayoritas. Semakin fundamentalis dan radikal seorang penganut umat penganut agama mayoritas ini, maka yang terjadi adalah sikap yang melegalkan kekerasan. Tindakan tanpa kasih, terutama kepada kaum yang tidak sekepercayaan seagama dengan mereka; kalaupn ada kasih, hanya untuk pribadi/keluarga/ golongannya saja. Demi tujuan di "jalan Allah" semua cara boleh dihalalkan, berbohong sekalipun. Membalas musuh, baik musuh doktrin, prinsip, selera, karakter dan tabiat, membalas nyawa ganti nyawa, darah ganti daerah, kekerasan barbar ganti kekerasan barbar. Tindakan bumi hangus.
Wawasan tidak dikembangkan, yang terjadi indoktrinasi, tidak semakin comprehensive. Semakin bersikap mengawasi mencurigai pengetahuan yang adalah sumber hikmat. Mengawasi mecurigai ilmu kebijaksanaan, mencurigai sains. Semakin sama sekali tidak dapat membedakan mana porsi negara (state), mana porsi masyarakat (society), mana porsi agama (religion) dan mana porsi kebudayaan dan bangsa (culture, nation). Yang ada adalah menjadi sama2 sombong, "gila" nekat dan arogan, bertindak barbar, menyebar fitnah, provokasi dan teror, haus perang, menjadi "beringas" memancing pertikaian dan pertengkaran, manifestasi "perbuatan2 daging", egoisme, individualisme, "golonganisme" mementingkan diri sendiri/kelompok/ golongan dan kaum sendiri. Nampak luar seperti anti kemaksiatan, memerangi kemaksiatan dan kebatilan, meniscayakan tindakan bumi hangus. Namun secara ke dalam justru hidup "munafik"; hidup dalam kemaksiatan dan hedonisme "terselubung" untuk kalangan sendiri; yang dijustifikasi dan diformalisasi melalui pembenaran2 agama di tengah sempitnya wawasan pengetahuan dan akses informasi umat, kebodohan umat yang "sengaja" diciptakan melalui pola indoktrinasi. Masih sangat sulit menerima keragaman (diversity), pluralisme. Masih sangat ekstrim menerima agama mayoritas 100% unik, keragaman 0%. Karena alasannya agama dengan jumlah penduduk terbesar, mayoritas, terbesar di dunia!
Kesimpulannya: semakin fundamentalis dan radikal seorang umat penganut agama mayoritas ini, maka semakin "tidak berperasaan" , semakin berbahaya bagi kesatuan keharmonisan dan kesejahteraan keluarga, seluruh komunitas dan bangsa. Sebaliknya, bila seorang penganut umat penganut agama mayoritas ini menjadi lebih moderat bahkan lebih liberal, maka akan semakin luas dan comprehensive wawasan worldview pengetahuan akses informasinya yang dimiliki. Semakin toleran, semakin peduli orang lain. Mau berbagi. Ada tumbuh rasa kebersamaan. Memahami eksistensi kepercayaan, doktrin lain. Meski berbeda doktrin, apologet, namun tidak dendam dan tidak barbar. Lebih kooperatif dan mau bekerjasama membangun komunitas, membangun bangsa. Namun, sikap pluralisme bahwa agama dan kepercayaan di mana2 sama, niscaya muncul. Agama mayoritas sama saja dengan agama2 dan kepercayaan lainnya.
Perenungan terhadap agama kepercayaan lain: Budha, Hindu...Di sisi lain lagi. Bagaimana dengan fenomena yang ada di agama lain, di luar kepercayaan kristen dan agama mayoritas, terutama agama2 Timur? Ambil contoh saja Hindu, Budha, Kejawen atau Kebatinan? Semakin fundamentalis dan radikal seorang penganut umat penganut agama-agama dan kepercayaan ini, sama saja dengan agama mayoritas. Diberi tempat mendominasi, maka tidak membiarkan barang sejengkal pun kepercayaan agama lain untuk bertumbuh. Kekerasan demi "ajeg agama", kejayaan agama adalah jamak.
Namun ini fenomenanya bila terjadi sebaliknya. Bila semakin moderat bahkan liberalis penganut umat penganut agama2 ini, maka yang terjadi adalah semakin "pluralisme" dalam sikap dan pemahaman agama mereka. Bahwa agama dan kepercayaan di mana2 sama saja. Mau Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, Kejawen, Kebatinan, itu sama saja. Semua mengajarkan umat masing2 untuk ke Sorga. Banyak jalan ke Roma. Banyak jalan ke Yogya, ke Kuta. Bahkan sebaliknya semakin "awam" penganut umat penganut agama kepercayaan ini, maka semakin "tidak tau apa-apa". "Kosong". Ikut saja kemana angin berhembus. Menjadi pasif tanpa kata tanpa ide tanpa gagasan, menerima saja kenyataan pluralisme agama tanpa reserved, tanpa sikap kritis.
Bagaimana menurut kajian dan perenungan anda?
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Wednesday, August 29, 2007
Revitalisasi Gagasan Konsepsi "Connecting Group - Mission & Partnership" Era Sekarang dan Ke Depan di Tanah Air.
Pengantar.
Ini merupakan tindak lanjut revitalisasi pemikiran, 'follow up' ataupun kongkritisasi dari apa yang telah digagas khususnya rekan2 dari group milist DH, Pkts, dll a.l. dari Bro Andry, Dr Victor Silaen, Bro Walsinur Silalahi dan rekan2 lain yang tak sempat tersebutkan namanya. Ini sekaitan dengan postingan berjudul "Perlunya revitalisasi pemikiran Leimena, Simatupang dan tokoh2 lainnya smp sekarang + berfondasikan pembinaan spiritualitas, Injil", "Menjadi Terang bagi Indonesia", "Adakah panggilan/tanggung jawab sospol Kristen", "Peran Gereja" dll.
Melengkapi dari apa yang disampaikan tersebut, saya mengajukan revitalisasi gagasan konsepsi terkait "Connecting Group Mission & Partnership" kedalam 10 Focus Group,
yang dirasa telah menjadi kebutuhan sangat relevan bagi pribadi2, keluarga/gereja, komunitas, suku, masyarakat dan bangsa di negeri tercinta ini di era sekarang.
10 Tugas Kekristenan di Indonesia Masa Kini & Ke Depan, 10 Focus Group.
Pembagian ke-10 Focus Group dalam Connection Group ini saya dasarkan atas kajian "10 Tugas Kekristenan di Indonesia Masa Kini dan ke Depan" dari apa pernah dikaji beberapa tahun/dasawarsa belakangan di tanah air. Dari berbagai rujukan, group2 event yang sudah diselenggarakan dan referensi. Barangkali ini bisa relevan dengan kebutuhan pengembangan Jaringan2 yang ada: Jaringan LSM, pendidikan, gereja2 dan komunitas. Sebut saja seperti contoh: KAMG, Perkantas, HKBP, komunitas milist HKBP, KBD. Lalu KSSPM, TCF Pkts, Center-Center, Persekutuan alumni, PMK2, paguyuban Kristen lainnya seperti BAKTI NUSA, JKLPK, CMED Indonesia, dsb.
Sepuluh (10) Focus Group dalam "Connecting Group Mission & Partnership" ini, terkait atau terkonek dengan tugas2 Gereja & Kekristenan berikut di tanah air:
1. Tugas pengutusan dan kemitraan.
Focus Group I: MISSION & PARTNERSHIP.
Tugas ini membangun paradigma untuk berpikir ke luar, di samping ke dalam. Membantu akses penyaluran pendistribusian kader-kader SDM kristen yang siap diutus ke berbagai lapangan kesaksian dan kehidupan, untuk mewartakan kabar baik, baik melalui perkataan, tulisan, perbuatan, karya, hasil kajian, program terbaik, inspirasional, inovatif dan berdampak luas bagi keluarga, gereja, komunitas, masyarakat dan bangsa.
2. Tugas pelayanan (diakonia).
Focus Group II: DIAKONIA PELAYANAN POSTMODERN.
Tugas ini disebut juga 'tugas Rajani', 'tugas Kerajaan', tugas apostolik kerasulan pengutusan yang dilakukan oleh para diaken, seluruh anggota Jemaat orang Kristen terutus. Pelayanan rajani atau kerajaan ini, meliputi:
Bidang Sosial Politik (Sospol).
Tugas Diakonia era sekarang dan ke depan adalah intinya adalah menerangi, menjangkau menatalayani/kepemimpinan pelayanan berperan aktif transformatif di Bidang Sosial Politik (Sospol), Kebijakan Publik.
Bidang Dunia Usaha (Business).
Tugas Pelayanan menjangkau, menerangani mentransformasi Dunia Usaha (Bisnis), BUMN, swasta koperasi dan institusional lainnya berikut pemberdayaan aspek Sosial-Ekonomi.
Bidang Diakonia Lintas Jaman.
Meliputi:
a) Diakonia filantropik: diakonia tradisional: karitatif; pelayanan meja untuk menolong mereka yang papa, janda2 miskin, anak telantar.
Termasuk di dalamnya pelayanan2 kemanusiaan, crisis respons (emergency, disaster rescue) bagi para korban bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun buatan manusia, korban narkoba, traficcing (perdagangan wanita dan anak), korban konflik horizontal, dll.
b) Diakonia sosial: membangun prasarana infrastruktur sekolah2, sarana kesehatan, MCK, perbaikan jalan, fasilitas umum, posyandu, panti asuhan, panti jompo, dll dll.
c) Diakonia modern: pemberdayaan sosial ekonomi warga jemaat masyarakat tidak mampu, kewirausahaan kecil, micro entrepreneur development program untuk yang kurang beruntung, pertanian organik, perkebunan warga, perikanan, aplikasi teknologi tepat guna, mikro hidro, sumber energi alternatif bagi warga kurang mampu, peternakan, pedagang kaki lima (asongan), pendauran ulang sampah, dll.
d) Diakonia era postmodern: pemberdayaan perempuan, pelayanan KDRT, HIV/aids, pendidikan (pelayanan guru2, anak putus sekolah, karyawan pendidikan), HAM, demokrasi, pelayanan dunia usaha/para pengusaha, Entrepreneur Devt Program (EDP), pelayanan Microfinance kristen, pengembangan usaha mikro kecil transformatif; pelayanan bagi pegawai negeri, pelayanan bumn, pelayanan bagi para politisi, pelayanan bidang hukum dan keadilan (justice), pelayanan bagi para militer dan polisi, pelestarian lingkungan (emisi karbon, cyanida, mercuri, dampak penghangatan global/global warming, amdal perusahaan, dll), pelayanan bagi kaum profesi lainnya (pelaut/seaman, lawyers, medis, pekerja seni, sutradara, wartawan/wati, expert perminyakan, pakar teknologi, agrobis, industriawan, dsb).
Bidang Pendanaan (Fund Raising), Divisi Usaha.
Tugas pelayanan diakonia atau tugas kerajaan ini juga adalah menyangkut Fund Raising, penggalangan dana dari sumber2 terpercaya, yang digalang melalui upaya2 yang bersih, halal dan bermoral. Mencakup juga berbagai divisi Usaha dan strategi2 untuk mengkreasi sumber pendanaan bagi terlaksananya segenap tugas2 dan focus group yang ada.
3. Tugas penginjilan, kesaksian dan informasi.
Focus Group III: PI KESAKSIAN, MEDIA & MULTIMEDIA.
Tugas ini dilakukan melalui komunikasi lisan (affirmative), melalui perbuatan, sikap perilaku sehari2 (gaya hidup), perbuatan, renungan2, karya nyata terbaik dan berdampak di lapangan, profesi yang inspirasional dan memberi dampak, metoda dan model2 pengembangan program yang nyata bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak dan layak dicontoh, direplikasi, dimultiplikasi dll.
Tugas ini meliputi program2 seperti KKR, home-training evangelism, small-group evangelism, penginjilan pribadi, PI melalui gaya hidup, pola2 "EE", penerbitan buku-buku, literatur, story atau cerita2 kisah2 orang2 kristen biasa (christian ordinary people), cyberspace evangelism & testimonies yang inspirasional, VCD-DVD kaset khotbah, tele conference khotbah, sms mms Firman Tuhan, 3G evangelism ministry, model2 program berdampak bagi diri, komunal dan masyarakat banyak.
Peran sangat penting di sini adalah pemanfaatan Media, pers, koran, tabloid, radio, TV, sinetron, film2 cerita cinema, DVD, multi-media, perangkat telekomunikasi, teknologi informasi, infotainment, cafe tainment, role model/christian idols, dll guna penyebaran informasi yang meluas dari tingkat lokal, nasional, global.
4. Tugas profetik (menyuarakan 'suara' kenabian).
Focus Group IV: PENDIDIKAN, HAM, HUKUM & KEADILAN.
Tugas ini meliputi perlawanan terhadap ketidak-adilan, gerakan anti korupsi, anti pembalakan liar, trafficcing, penghancuran/pencemaran lingkungan, anti penindasan opresi, perjuangan terhadap hak asasi anak2, kaum marjinal, perempuan dan kemanusiaan. Gerakan anti abuse of power terhadap penguasa pengusaha 'hitam', berbagai tindak kecurangan, pemaksaan kekerasan/violenism, pelecehan seksual, dll.
Tugas2 ini sangat urgen dan penting, agar kekuasaan, penguasa, menjalankan kebijakan dan kekuasaannya secara proporsional, baik dan benar, tidak arogan, lalim dan semena-mena terhadap yang tertindas. Kemudian, mengupayakan solusi2 agar korban2 penindasan, ketidak adilan dapat memperoleh jalan keluar dan pemecahan masalah.
5. Tugas pencerahan (pusat kajian kristen & STT).
Focus Group V: PUSAT KAJIAN KRISTEN, PEND TINGGI & STT.
Tugas ini meliputi kerja riset, penelitian, kajian theologi, aras pemikiran, worldview, filsafat dan faham-faham, disiplin ilmu, knowledge management, teknologi, TI dan dampak TI/globalisasi, spiritualitas, pendidikan tinggi (higher education), kualitas pendidikan tinggi, sosial, ekonomi, budaya, peradaban, agama dan agama-agama, beliefs, kepercayaan, perda-perda, kebijakan publik (public policy), good governance, pengentasan kemiskinan, lingkungan lokal dan global, kajian ulang terhadap pokok2 Millenium Development Goals (MDGs).
Juga pentingnya hadir sekolah2 profesi, kualitas sekolah2 kejuruan kelas dunia, masalah ketenaga kerjaan, perencanaan SDM, desentralisasi, peran Otda, pilkada, dll. Disini pentingnya sentra-sentra kajian strategis, PT Univ2 Kristen dan umum, dan STT-STT dirangkul untuk bekerjasama bermitra. Demikian juga pembinaan2 'school', seminar2 diskusi berseri (class teaching seminars) topik2 theologi, filsafat, iptek, knowledge dan berbagai integrasi dan aspek praktisnya dalam kehidupan.
6. Tugas pengembangan (inovasi).
Focus Group VI: PENGEMBANGAN INOVASI.
Tugas Kristen ini meliputi pengembangan model2, methodologi, teknologi diberbagai bidang dan tugas2 di atas yang dikembangkan dari satu ide, gagasan menjadi satu invention dan selanjutnya dapat menjadi inovasi kabar baik, inovasi terbaik. Inovasi di berbagai bidang perlu dikonsolidasikan dalam kemitraan dan partnership relevan dengan kebutuhan di tanah air, seperti: solusi2 bagi kemacetan Jakarta dan kota besar, banjir Jakarta dan banjir bandang lainnya, Early Warning System bagi antisipasi bencana, sistem pilkada, sistem pembinaan terbaik bagi TKI/TKW, security system, alternatif energi (biodiesel, biogas, tenaga angin, tenaga surya, tenaga ombak laut samudera, dll), solusi2 atas kekurangan air bersih bagi daerah2 miskin air/kering kerontang, pemberlayanan suku2 tertinggal, sistem resetlement, sistem kelistrikan urban dan desa, dll. Semua inovasi ini diharapkan berguna memberi solusi2 berarti bagi segenap daerah termasuk daerah2 yang banyak orang kristennya masih tertinggal, terbelakang dan miskin di tanah air. Memampukan dalam anugerah Tuhan membawa manfaat dampak kebaikan, kebenaran, keseimbangan, kelestarian dan kesejahteraan utuh bagi pribadi, keluarga, komunitas, masyarakat dan bangsa. Disini pentingnya partnership dengan pusat iptek, techonology centers, dll.
Ini gagasan lebih lanjut saja, dari yang telah disampaikan oleh teman-teman. Semoga ada manfaatnya. Silakan bila teman2 ingin memberi komen atau pendapat.
7. Tugas peribadahan.
Focus Group VII: IBADAH/PERIBADAHAN, Worship.
Tugas ini meliputi pemberitaan Firman, layanan Sakramen (baptisan & perjamuan), peranan lagu2 pujian nyanyian sembah, koor, peran doa/doa syafaat, pengakuan iman, ekologi liturgi (liturgi yang mampu juga membawa kristen kepada kecintaan kepada lingkungan 'hidup'), saat teduh waktu perenungan sesaat, arti persembahan (korban, derma, kolekte, persembahan korban, persembahan khusus), berkat pengutusan - benediction, dst.
8. Tugas pemuridan.
Focus Group VIII: KADERISASI KRISTEN.
Inti dari tugas ini adalah melakukan kaderisasi SDM secara lebih sistemik, sistematis dan terencana, menghasilkan murid Kristus in doing, being and becoming, memiliki framework, karakter, wawasan, ketrampilan, kompetensi, dan attitudes sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan, sesuai dengan kepribadian, talenta (talent-based) dan keunikan yang dimiliki masing2. Meliputi berbagai kategori: sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa muda, keluarga muda, pria, wanita, mahasiswa, alumni mahasiswa, karyawan, guru, pengusaha, birokrasi pegawai negeri, wartawan, unemployment, wong cilik, PKL/gelandangan/anak jalanan dari berbagai lintas lokasi, umur/usia/profesi dan bidang kehidupan sehari2.
9. Tugas persekutuan.
Focus Group IX: FELLOWSHIP & UNITY.
Tugas ini utamanya membangun unity dan kesanggupan memelihara/menciptakan kesatuan, kesehatian, jalinan persatuan, network, partnership) di antara semua murid Tuhan, baik ke dalam maupun ke luar dengan lingkungan eksternal.
Tugas unity, keharmonisan, pengayaan (enrichment) penting dilakukan mulai dari:
a. Tingkat keluarga.
b. Jemaat/gereja, berdasar kategori usia, profesi, lokasi dan kedekatan.
c. Komunitas, berdasar kategori usia, minat, talenta, profesi, lokasi dan latar belakang.
d. Masyarakat.
e. Bangsa.
f. Hubungan dengan Bangsa Lain, Bangsa2.
10. Tugas penggembalaan.
Focus Group X: PASTORSHIP & KONSELING.
Intinya adalah konseling. Membangun pola konseling yang terpadu dan holistik sesuai nilai2 Kristen. Meliputi aspek2 spiritual, psiko-spiritual: emosional, intelektual, moral, politikal, judicial, ideological, mindset/worldview, ekonomikal, fisikal jasmaniah, keluarga, profesi dan lingkungan.
Penutup.
Demikian tindak lanjut pemikiran, follow up gagasan lebih lanjut yang dapat saya sampaikan guna kongkretisasi konsepsi mengenai pentingnya 'kehadiran' "Connecting Group Mission & Partnership' di era sekarang dan ke depan di tanah air.
Semoga bermanfaat. Kiranya Injil Kerajaan Allah boleh didatangkan di bumi tercinta kita disini. Bagi Dialah segala Kemuliaan !!
Salam kasih,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Ini merupakan tindak lanjut revitalisasi pemikiran, 'follow up' ataupun kongkritisasi dari apa yang telah digagas khususnya rekan2 dari group milist DH, Pkts, dll a.l. dari Bro Andry, Dr Victor Silaen, Bro Walsinur Silalahi dan rekan2 lain yang tak sempat tersebutkan namanya. Ini sekaitan dengan postingan berjudul "Perlunya revitalisasi pemikiran Leimena, Simatupang dan tokoh2 lainnya smp sekarang + berfondasikan pembinaan spiritualitas, Injil", "Menjadi Terang bagi Indonesia", "Adakah panggilan/tanggung jawab sospol Kristen", "Peran Gereja" dll.
Melengkapi dari apa yang disampaikan tersebut, saya mengajukan revitalisasi gagasan konsepsi terkait "Connecting Group Mission & Partnership" kedalam 10 Focus Group,
yang dirasa telah menjadi kebutuhan sangat relevan bagi pribadi2, keluarga/gereja, komunitas, suku, masyarakat dan bangsa di negeri tercinta ini di era sekarang.
10 Tugas Kekristenan di Indonesia Masa Kini & Ke Depan, 10 Focus Group.
Pembagian ke-10 Focus Group dalam Connection Group ini saya dasarkan atas kajian "10 Tugas Kekristenan di Indonesia Masa Kini dan ke Depan" dari apa pernah dikaji beberapa tahun/dasawarsa belakangan di tanah air. Dari berbagai rujukan, group2 event yang sudah diselenggarakan dan referensi. Barangkali ini bisa relevan dengan kebutuhan pengembangan Jaringan2 yang ada: Jaringan LSM, pendidikan, gereja2 dan komunitas. Sebut saja seperti contoh: KAMG, Perkantas, HKBP, komunitas milist HKBP, KBD. Lalu KSSPM, TCF Pkts, Center-Center, Persekutuan alumni, PMK2, paguyuban Kristen lainnya seperti BAKTI NUSA, JKLPK, CMED Indonesia, dsb.
Sepuluh (10) Focus Group dalam "Connecting Group Mission & Partnership" ini, terkait atau terkonek dengan tugas2 Gereja & Kekristenan berikut di tanah air:
1. Tugas pengutusan dan kemitraan.
Focus Group I: MISSION & PARTNERSHIP.
Tugas ini membangun paradigma untuk berpikir ke luar, di samping ke dalam. Membantu akses penyaluran pendistribusian kader-kader SDM kristen yang siap diutus ke berbagai lapangan kesaksian dan kehidupan, untuk mewartakan kabar baik, baik melalui perkataan, tulisan, perbuatan, karya, hasil kajian, program terbaik, inspirasional, inovatif dan berdampak luas bagi keluarga, gereja, komunitas, masyarakat dan bangsa.
2. Tugas pelayanan (diakonia).
Focus Group II: DIAKONIA PELAYANAN POSTMODERN.
Tugas ini disebut juga 'tugas Rajani', 'tugas Kerajaan', tugas apostolik kerasulan pengutusan yang dilakukan oleh para diaken, seluruh anggota Jemaat orang Kristen terutus. Pelayanan rajani atau kerajaan ini, meliputi:
Bidang Sosial Politik (Sospol).
Tugas Diakonia era sekarang dan ke depan adalah intinya adalah menerangi, menjangkau menatalayani/kepemimpinan pelayanan berperan aktif transformatif di Bidang Sosial Politik (Sospol), Kebijakan Publik.
Bidang Dunia Usaha (Business).
Tugas Pelayanan menjangkau, menerangani mentransformasi Dunia Usaha (Bisnis), BUMN, swasta koperasi dan institusional lainnya berikut pemberdayaan aspek Sosial-Ekonomi.
Bidang Diakonia Lintas Jaman.
Meliputi:
a) Diakonia filantropik: diakonia tradisional: karitatif; pelayanan meja untuk menolong mereka yang papa, janda2 miskin, anak telantar.
Termasuk di dalamnya pelayanan2 kemanusiaan, crisis respons (emergency, disaster rescue) bagi para korban bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun buatan manusia, korban narkoba, traficcing (perdagangan wanita dan anak), korban konflik horizontal, dll.
b) Diakonia sosial: membangun prasarana infrastruktur sekolah2, sarana kesehatan, MCK, perbaikan jalan, fasilitas umum, posyandu, panti asuhan, panti jompo, dll dll.
c) Diakonia modern: pemberdayaan sosial ekonomi warga jemaat masyarakat tidak mampu, kewirausahaan kecil, micro entrepreneur development program untuk yang kurang beruntung, pertanian organik, perkebunan warga, perikanan, aplikasi teknologi tepat guna, mikro hidro, sumber energi alternatif bagi warga kurang mampu, peternakan, pedagang kaki lima (asongan), pendauran ulang sampah, dll.
d) Diakonia era postmodern: pemberdayaan perempuan, pelayanan KDRT, HIV/aids, pendidikan (pelayanan guru2, anak putus sekolah, karyawan pendidikan), HAM, demokrasi, pelayanan dunia usaha/para pengusaha, Entrepreneur Devt Program (EDP), pelayanan Microfinance kristen, pengembangan usaha mikro kecil transformatif; pelayanan bagi pegawai negeri, pelayanan bumn, pelayanan bagi para politisi, pelayanan bidang hukum dan keadilan (justice), pelayanan bagi para militer dan polisi, pelestarian lingkungan (emisi karbon, cyanida, mercuri, dampak penghangatan global/global warming, amdal perusahaan, dll), pelayanan bagi kaum profesi lainnya (pelaut/seaman, lawyers, medis, pekerja seni, sutradara, wartawan/wati, expert perminyakan, pakar teknologi, agrobis, industriawan, dsb).
Bidang Pendanaan (Fund Raising), Divisi Usaha.
Tugas pelayanan diakonia atau tugas kerajaan ini juga adalah menyangkut Fund Raising, penggalangan dana dari sumber2 terpercaya, yang digalang melalui upaya2 yang bersih, halal dan bermoral. Mencakup juga berbagai divisi Usaha dan strategi2 untuk mengkreasi sumber pendanaan bagi terlaksananya segenap tugas2 dan focus group yang ada.
3. Tugas penginjilan, kesaksian dan informasi.
Focus Group III: PI KESAKSIAN, MEDIA & MULTIMEDIA.
Tugas ini dilakukan melalui komunikasi lisan (affirmative), melalui perbuatan, sikap perilaku sehari2 (gaya hidup), perbuatan, renungan2, karya nyata terbaik dan berdampak di lapangan, profesi yang inspirasional dan memberi dampak, metoda dan model2 pengembangan program yang nyata bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak dan layak dicontoh, direplikasi, dimultiplikasi dll.
Tugas ini meliputi program2 seperti KKR, home-training evangelism, small-group evangelism, penginjilan pribadi, PI melalui gaya hidup, pola2 "EE", penerbitan buku-buku, literatur, story atau cerita2 kisah2 orang2 kristen biasa (christian ordinary people), cyberspace evangelism & testimonies yang inspirasional, VCD-DVD kaset khotbah, tele conference khotbah, sms mms Firman Tuhan, 3G evangelism ministry, model2 program berdampak bagi diri, komunal dan masyarakat banyak.
Peran sangat penting di sini adalah pemanfaatan Media, pers, koran, tabloid, radio, TV, sinetron, film2 cerita cinema, DVD, multi-media, perangkat telekomunikasi, teknologi informasi, infotainment, cafe tainment, role model/christian idols, dll guna penyebaran informasi yang meluas dari tingkat lokal, nasional, global.
4. Tugas profetik (menyuarakan 'suara' kenabian).
Focus Group IV: PENDIDIKAN, HAM, HUKUM & KEADILAN.
Tugas ini meliputi perlawanan terhadap ketidak-adilan, gerakan anti korupsi, anti pembalakan liar, trafficcing, penghancuran/pencemaran lingkungan, anti penindasan opresi, perjuangan terhadap hak asasi anak2, kaum marjinal, perempuan dan kemanusiaan. Gerakan anti abuse of power terhadap penguasa pengusaha 'hitam', berbagai tindak kecurangan, pemaksaan kekerasan/violenism, pelecehan seksual, dll.
Tugas2 ini sangat urgen dan penting, agar kekuasaan, penguasa, menjalankan kebijakan dan kekuasaannya secara proporsional, baik dan benar, tidak arogan, lalim dan semena-mena terhadap yang tertindas. Kemudian, mengupayakan solusi2 agar korban2 penindasan, ketidak adilan dapat memperoleh jalan keluar dan pemecahan masalah.
5. Tugas pencerahan (pusat kajian kristen & STT).
Focus Group V: PUSAT KAJIAN KRISTEN, PEND TINGGI & STT.
Tugas ini meliputi kerja riset, penelitian, kajian theologi, aras pemikiran, worldview, filsafat dan faham-faham, disiplin ilmu, knowledge management, teknologi, TI dan dampak TI/globalisasi, spiritualitas, pendidikan tinggi (higher education), kualitas pendidikan tinggi, sosial, ekonomi, budaya, peradaban, agama dan agama-agama, beliefs, kepercayaan, perda-perda, kebijakan publik (public policy), good governance, pengentasan kemiskinan, lingkungan lokal dan global, kajian ulang terhadap pokok2 Millenium Development Goals (MDGs).
Juga pentingnya hadir sekolah2 profesi, kualitas sekolah2 kejuruan kelas dunia, masalah ketenaga kerjaan, perencanaan SDM, desentralisasi, peran Otda, pilkada, dll. Disini pentingnya sentra-sentra kajian strategis, PT Univ2 Kristen dan umum, dan STT-STT dirangkul untuk bekerjasama bermitra. Demikian juga pembinaan2 'school', seminar2 diskusi berseri (class teaching seminars) topik2 theologi, filsafat, iptek, knowledge dan berbagai integrasi dan aspek praktisnya dalam kehidupan.
6. Tugas pengembangan (inovasi).
Focus Group VI: PENGEMBANGAN INOVASI.
Tugas Kristen ini meliputi pengembangan model2, methodologi, teknologi diberbagai bidang dan tugas2 di atas yang dikembangkan dari satu ide, gagasan menjadi satu invention dan selanjutnya dapat menjadi inovasi kabar baik, inovasi terbaik. Inovasi di berbagai bidang perlu dikonsolidasikan dalam kemitraan dan partnership relevan dengan kebutuhan di tanah air, seperti: solusi2 bagi kemacetan Jakarta dan kota besar, banjir Jakarta dan banjir bandang lainnya, Early Warning System bagi antisipasi bencana, sistem pilkada, sistem pembinaan terbaik bagi TKI/TKW, security system, alternatif energi (biodiesel, biogas, tenaga angin, tenaga surya, tenaga ombak laut samudera, dll), solusi2 atas kekurangan air bersih bagi daerah2 miskin air/kering kerontang, pemberlayanan suku2 tertinggal, sistem resetlement, sistem kelistrikan urban dan desa, dll. Semua inovasi ini diharapkan berguna memberi solusi2 berarti bagi segenap daerah termasuk daerah2 yang banyak orang kristennya masih tertinggal, terbelakang dan miskin di tanah air. Memampukan dalam anugerah Tuhan membawa manfaat dampak kebaikan, kebenaran, keseimbangan, kelestarian dan kesejahteraan utuh bagi pribadi, keluarga, komunitas, masyarakat dan bangsa. Disini pentingnya partnership dengan pusat iptek, techonology centers, dll.
Ini gagasan lebih lanjut saja, dari yang telah disampaikan oleh teman-teman. Semoga ada manfaatnya. Silakan bila teman2 ingin memberi komen atau pendapat.
7. Tugas peribadahan.
Focus Group VII: IBADAH/PERIBADAHAN, Worship.
Tugas ini meliputi pemberitaan Firman, layanan Sakramen (baptisan & perjamuan), peranan lagu2 pujian nyanyian sembah, koor, peran doa/doa syafaat, pengakuan iman, ekologi liturgi (liturgi yang mampu juga membawa kristen kepada kecintaan kepada lingkungan 'hidup'), saat teduh waktu perenungan sesaat, arti persembahan (korban, derma, kolekte, persembahan korban, persembahan khusus), berkat pengutusan - benediction, dst.
8. Tugas pemuridan.
Focus Group VIII: KADERISASI KRISTEN.
Inti dari tugas ini adalah melakukan kaderisasi SDM secara lebih sistemik, sistematis dan terencana, menghasilkan murid Kristus in doing, being and becoming, memiliki framework, karakter, wawasan, ketrampilan, kompetensi, dan attitudes sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan, sesuai dengan kepribadian, talenta (talent-based) dan keunikan yang dimiliki masing2. Meliputi berbagai kategori: sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa muda, keluarga muda, pria, wanita, mahasiswa, alumni mahasiswa, karyawan, guru, pengusaha, birokrasi pegawai negeri, wartawan, unemployment, wong cilik, PKL/gelandangan/anak jalanan dari berbagai lintas lokasi, umur/usia/profesi dan bidang kehidupan sehari2.
9. Tugas persekutuan.
Focus Group IX: FELLOWSHIP & UNITY.
Tugas ini utamanya membangun unity dan kesanggupan memelihara/menciptakan kesatuan, kesehatian, jalinan persatuan, network, partnership) di antara semua murid Tuhan, baik ke dalam maupun ke luar dengan lingkungan eksternal.
Tugas unity, keharmonisan, pengayaan (enrichment) penting dilakukan mulai dari:
a. Tingkat keluarga.
b. Jemaat/gereja, berdasar kategori usia, profesi, lokasi dan kedekatan.
c. Komunitas, berdasar kategori usia, minat, talenta, profesi, lokasi dan latar belakang.
d. Masyarakat.
e. Bangsa.
f. Hubungan dengan Bangsa Lain, Bangsa2.
10. Tugas penggembalaan.
Focus Group X: PASTORSHIP & KONSELING.
Intinya adalah konseling. Membangun pola konseling yang terpadu dan holistik sesuai nilai2 Kristen. Meliputi aspek2 spiritual, psiko-spiritual: emosional, intelektual, moral, politikal, judicial, ideological, mindset/worldview, ekonomikal, fisikal jasmaniah, keluarga, profesi dan lingkungan.
Penutup.
Demikian tindak lanjut pemikiran, follow up gagasan lebih lanjut yang dapat saya sampaikan guna kongkretisasi konsepsi mengenai pentingnya 'kehadiran' "Connecting Group Mission & Partnership' di era sekarang dan ke depan di tanah air.
Semoga bermanfaat. Kiranya Injil Kerajaan Allah boleh didatangkan di bumi tercinta kita disini. Bagi Dialah segala Kemuliaan !!
Salam kasih,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Friday, August 24, 2007
Tugas Gereja sesungguhnya: Mengutus Jemaat. Tugas Pengutusan!
Tugas Gereja masa kini di Indonesia adalah Mengutus. Pengutusan. Mengutus siapa? Mengutus Jemaat seluruh jemaat, yang tua-muda besar kecil laki2 perempuan secara sosial kaya atau miskin, pintar atau tidak begitu pintar dst..untuk melayani dan bersaksi di mana-mana, di berbagai bidang hidup kesehariannya.
Barangkali tidak cukup bagi Pimpinan Majelis Gereja mengutus seluruh Jemaat dari mimbar. Tidak cukup hanya lewat warta gereja, lewat Berkat Pengutusan yang diucapkan lewat Liturgi Kebaktian, sebelum warga Jemaat aktif bergereja pergi beranjak pulang meninggalkan gedung gereja di hari Minggu atau hari2 kebaktian lainnya.
Gereja Pimpinan Gereja Pucuk pimpinan Gereja Majelis Gereja masa kini di tanah air, harus lebih ekstra bekerja keras di hari-hari ini.
Siapa yang mengutus, melakukan Tugas Pengutusan Gereja? Para pimpinan Gereja: Penatua/sintua, Diaken, Gembala Pelayan Tahbisan Non Tahbisan Bishop penilik overseer, Ketua Dewan Marturia, Koinonia, Diakonia Guru Sek Minggu, Parhalado Paniroi dst.
Sejatinya jemaat tidaklah diutus ke dalam, tapi ke luar 'hadir' di dan ke tengah2 masyarakat, komunitas, bangsa.. untuk melayani dan bersaksi.. sesuai dengan bidang minat, kata hati nurani, talenta, profesi karunia kompetensi sumber daya, pengetahuan.. yang dipunyai oleh masing2 anggota/keluarga jemaat tersebut.
Cara bersaksi melayani jemaat yang diutus bagaimana? Melalui kesaksian (contoh) hidup, perkataan, suara "kenabian", karya2 yang bagus baik dan benar yang bisa dibuat oleh masing2 anggota jemaat sesuai minat kata hati panggilan hati talenta keterbebanan mereka. Ada yang hadir dan terjun di bidang pelayanan sosial (filantropis, NGO community development, transformasi, perspektif global dst), pelayanan bagi para pengusaha, para mahasiswa, guru, kaum urban, di bidang politik, bidang 'pemberlayanan' ekonomi, pelayanan media koran, TV, sutradara, penyanyi, kerumah-tanggaan, HIV/flu burung, pelayanan bidang konseling/curhat dst dst.
Kira2 apa tujuan seluruh jemaat harus bersaksi dan melayani di tempat/hidupnya masing2 apa? Ya, menyatakan kebaikan Allah. Mencari yang terhilang. Membangunkan yang patah semangat patah arang. Menghibur yang dilanda kepahitan dan kesusahan. Membangun trust dan keyakinan. Membawanya dengan lembut dan benar seperti 'Andreas murid Yesus' secara bertahap/berproses kepada Sumber Penghiburan sejati. Juruselamat. Memperkenalkan dan membawanya bilamana tergerak tanpa paksa2 pada apa itu Gereja dan fungsi Gereja.
Apa tugas Gereja selanjutnya? Bukan hanya sekedar kumpul2 sosial tanpa mission statement yang jelas. Dr. Martin Luther King Jr mengatakan kalau hanya demikian, dipastikan Gereja akan hilang makna daya greget dan power spiritualitasnya. Gereja secara refleks harus membina memuridkan mengkader merekrut (rekrutmen) 'mereka' yang baru tersesat' dan ditemukan kembali oleh anggota warga jemaat terutus, 'jemaat yang sudah ada (eksis)'. Tujuannya agar mereka bisa jadi calon anggota lantas jadi anggota Gereja yang bertumbuh rohaninya, sosialnya, cara pandangnya serta pemahamannya. Bagaimana menjadi Kristen mengemban tugas bersaksi dan melayani di berbagai bidang hidup sebagai 'kristen baru', 'kristen restoratif', kristen rebirth, kristen lahir baru, kristen kupu-kupu (tidak lagi jadi ulat atau kepompong)..dst.
Hendaknya gereja tidak membiarkan kristen anggota jemaat biasa menjadi tetap "ulat" atau hanya sampai jadi "kristen kepompong". Namun harus tuntas sampai menjadi kristen kupu-kupu yang sanggup terbang di tanaman, pohon, 'ramba-rambanya' masing2 (bidang hidup panggilan hatinya masing2). Tugas pembinaan warga jemaat ini disebut Tugas Pemuridan Gereja, tugas pemuridan yang wajib dilakukan oleh seluruh Pimpinan Pengurus Ketua Dewan dan Aktivis Pelayanan Gereja.
Konklusinya, Gereja simpelnya ber tugas fungsi dua (2) saja bagi warga jemaat komunitas bangsa dan dunia, namun sangat sangat penting & urgen:
(1) Gereja harus wajib menjadi seperti Training Center (TC) jadi pusdiklat spiritualitas kristen, pusat pengembagan SDM kristen dan pusat kebudayaan dengan nilai2 kristen, dan
(2) Gereja harus wajib melakukan Tugas Pengutusan bagi warga jemaat komunitas biasa yang telah terbina terlatih dalam hal2 di atas guna bersaksi melayani di bidangnya sehari2. Menyatakan kebaikan Allah, mencari yang hilang dan menghadirkan koinonia2 (persekutuan2) organik baru di tempatnya masing2.
Tugas Pengutusan bagi Gereja masa kini adalah keharusan, it's a must. Tugas pengutusan yang erat terkait dengan tugas Training Center pusdiklat SDM kristen atau Tugas Pemuridan.
So, era kini dan ke depan Pemimpin Pengurus Majelis Pucuk Pimpinan Gereja harus melakukan tugas panggilan apa?:
1. Pemuridan (Pengkaderan, Perekrutan baru/lama) !!
2. Persekutuan (Koinonia).
3. Penggembalaan (dgn inti atau 'core' nya: Konseling !!)
4. Pengutusan !!
5. Pelayanan (Diakonia), baik yang berciri diakonia tradisional, diakonia sosial, diakonia modern, diakonia transformasional era postmodern ).
6. Penginjilan/Kesaksian (Marturia).
----- (poin 7. ....menyusul, cukup 7 saja, konsisten saja dijalankan: luar biasa, RED).
Tanpa tugas Pengutusan dan Pemuridan (sebagai Training Center, pusdiklat SDM pengkaderan spiritualitas dan transformasi masyarakat) terhadap Seluruh Anggota Jemaat biasa, maka cepat atau lambat di era kini dan ke depan, Gereja, apa pun organisasinya, akan 'memble', kehilangan peran dan daya gregetnya. Tugas pengutusan dan pemuridan adalah pilar "Sosrobahu" untuk bangunan 'rumah' eklesia atau gereja.
Bila tidak, Gereja akan jadi museum dan dimuseumkan seperti layaknya di Eropa sekarang. Maka, segeralah, mari kita bergerak fokus kepada Tugas Pengutusan dan Tugas Pemuridan.
Salam pengutusan dan pemuridan,
HMS.
Barangkali tidak cukup bagi Pimpinan Majelis Gereja mengutus seluruh Jemaat dari mimbar. Tidak cukup hanya lewat warta gereja, lewat Berkat Pengutusan yang diucapkan lewat Liturgi Kebaktian, sebelum warga Jemaat aktif bergereja pergi beranjak pulang meninggalkan gedung gereja di hari Minggu atau hari2 kebaktian lainnya.
Gereja Pimpinan Gereja Pucuk pimpinan Gereja Majelis Gereja masa kini di tanah air, harus lebih ekstra bekerja keras di hari-hari ini.
Siapa yang mengutus, melakukan Tugas Pengutusan Gereja? Para pimpinan Gereja: Penatua/sintua, Diaken, Gembala Pelayan Tahbisan Non Tahbisan Bishop penilik overseer, Ketua Dewan Marturia, Koinonia, Diakonia Guru Sek Minggu, Parhalado Paniroi dst.
Sejatinya jemaat tidaklah diutus ke dalam, tapi ke luar 'hadir' di dan ke tengah2 masyarakat, komunitas, bangsa.. untuk melayani dan bersaksi.. sesuai dengan bidang minat, kata hati nurani, talenta, profesi karunia kompetensi sumber daya, pengetahuan.. yang dipunyai oleh masing2 anggota/keluarga jemaat tersebut.
Cara bersaksi melayani jemaat yang diutus bagaimana? Melalui kesaksian (contoh) hidup, perkataan, suara "kenabian", karya2 yang bagus baik dan benar yang bisa dibuat oleh masing2 anggota jemaat sesuai minat kata hati panggilan hati talenta keterbebanan mereka. Ada yang hadir dan terjun di bidang pelayanan sosial (filantropis, NGO community development, transformasi, perspektif global dst), pelayanan bagi para pengusaha, para mahasiswa, guru, kaum urban, di bidang politik, bidang 'pemberlayanan' ekonomi, pelayanan media koran, TV, sutradara, penyanyi, kerumah-tanggaan, HIV/flu burung, pelayanan bidang konseling/curhat dst dst.
Kira2 apa tujuan seluruh jemaat harus bersaksi dan melayani di tempat/hidupnya masing2 apa? Ya, menyatakan kebaikan Allah. Mencari yang terhilang. Membangunkan yang patah semangat patah arang. Menghibur yang dilanda kepahitan dan kesusahan. Membangun trust dan keyakinan. Membawanya dengan lembut dan benar seperti 'Andreas murid Yesus' secara bertahap/berproses kepada Sumber Penghiburan sejati. Juruselamat. Memperkenalkan dan membawanya bilamana tergerak tanpa paksa2 pada apa itu Gereja dan fungsi Gereja.
Apa tugas Gereja selanjutnya? Bukan hanya sekedar kumpul2 sosial tanpa mission statement yang jelas. Dr. Martin Luther King Jr mengatakan kalau hanya demikian, dipastikan Gereja akan hilang makna daya greget dan power spiritualitasnya. Gereja secara refleks harus membina memuridkan mengkader merekrut (rekrutmen) 'mereka' yang baru tersesat' dan ditemukan kembali oleh anggota warga jemaat terutus, 'jemaat yang sudah ada (eksis)'. Tujuannya agar mereka bisa jadi calon anggota lantas jadi anggota Gereja yang bertumbuh rohaninya, sosialnya, cara pandangnya serta pemahamannya. Bagaimana menjadi Kristen mengemban tugas bersaksi dan melayani di berbagai bidang hidup sebagai 'kristen baru', 'kristen restoratif', kristen rebirth, kristen lahir baru, kristen kupu-kupu (tidak lagi jadi ulat atau kepompong)..dst.
Hendaknya gereja tidak membiarkan kristen anggota jemaat biasa menjadi tetap "ulat" atau hanya sampai jadi "kristen kepompong". Namun harus tuntas sampai menjadi kristen kupu-kupu yang sanggup terbang di tanaman, pohon, 'ramba-rambanya' masing2 (bidang hidup panggilan hatinya masing2). Tugas pembinaan warga jemaat ini disebut Tugas Pemuridan Gereja, tugas pemuridan yang wajib dilakukan oleh seluruh Pimpinan Pengurus Ketua Dewan dan Aktivis Pelayanan Gereja.
Konklusinya, Gereja simpelnya ber tugas fungsi dua (2) saja bagi warga jemaat komunitas bangsa dan dunia, namun sangat sangat penting & urgen:
(1) Gereja harus wajib menjadi seperti Training Center (TC) jadi pusdiklat spiritualitas kristen, pusat pengembagan SDM kristen dan pusat kebudayaan dengan nilai2 kristen, dan
(2) Gereja harus wajib melakukan Tugas Pengutusan bagi warga jemaat komunitas biasa yang telah terbina terlatih dalam hal2 di atas guna bersaksi melayani di bidangnya sehari2. Menyatakan kebaikan Allah, mencari yang hilang dan menghadirkan koinonia2 (persekutuan2) organik baru di tempatnya masing2.
Tugas Pengutusan bagi Gereja masa kini adalah keharusan, it's a must. Tugas pengutusan yang erat terkait dengan tugas Training Center pusdiklat SDM kristen atau Tugas Pemuridan.
So, era kini dan ke depan Pemimpin Pengurus Majelis Pucuk Pimpinan Gereja harus melakukan tugas panggilan apa?:
1. Pemuridan (Pengkaderan, Perekrutan baru/lama) !!
2. Persekutuan (Koinonia).
3. Penggembalaan (dgn inti atau 'core' nya: Konseling !!)
4. Pengutusan !!
5. Pelayanan (Diakonia), baik yang berciri diakonia tradisional, diakonia sosial, diakonia modern, diakonia transformasional era postmodern ).
6. Penginjilan/Kesaksian (Marturia).
----- (poin 7. ....menyusul, cukup 7 saja, konsisten saja dijalankan: luar biasa, RED).
Tanpa tugas Pengutusan dan Pemuridan (sebagai Training Center, pusdiklat SDM pengkaderan spiritualitas dan transformasi masyarakat) terhadap Seluruh Anggota Jemaat biasa, maka cepat atau lambat di era kini dan ke depan, Gereja, apa pun organisasinya, akan 'memble', kehilangan peran dan daya gregetnya. Tugas pengutusan dan pemuridan adalah pilar "Sosrobahu" untuk bangunan 'rumah' eklesia atau gereja.
Bila tidak, Gereja akan jadi museum dan dimuseumkan seperti layaknya di Eropa sekarang. Maka, segeralah, mari kita bergerak fokus kepada Tugas Pengutusan dan Tugas Pemuridan.
Salam pengutusan dan pemuridan,
HMS.
Thursday, August 23, 2007
Fundamentalis dan Liberalis.
Soal fundamentalis dan liberalis sering masih mencuat. Baik dalam wacana maupun di praktis sehari-hari. Salahkah di negeri kita menjadi fundamentalis, salahkan menjadi liberalis?
'Fundamentalis' menurut saya masih sangat dibutuhkan. Diperlukan bagi kita dan bangsa ini yang masih seperti begini. Mungkin seterusnya. Ya, fundamentalis di bidang apa saja. Di bidang ekonomi, teologia, keluarga, agama, usaha, pembinaan generasi muda, dll. Bukankah jika tanpa fundamen atau fondasi, "rumah" apapun jadi gampang roboh. Bukankah karena tanpa fundamen atau dasar fondasi yang kuat ini juga, maka "rumah" bangsa ini nyaris runtuh? Terutama sejak krisis ekonomi 97/98 dan reformasi bergulir mengambil jalannya sendiri bak prinsip 'Mestakung'. Fundamen 'asli' sangat diperlukan.
Kita ingat di penghujung 1997 sampai paruh 2000 banyak praktisi dan pakar kita komentar fundamental ekonomi kita masih sangat kuat. Namun mana? Apaan? Kala krisis menerpa, negeri ini jadi sakit terkapar menggelepar sulit bisa bangun2 layaknya petinju Jepang Takemoto dihajar Chris John baru2 ini. Orang lain (negeri tetangga lain) seperti Malaysia, Thailand, Korsel, sudah pada bangun dan pulih, kita masih 'puyeng keteter' keliyeng2' ngga karuan. Ibarat orang baru bangun tidur, nyebut arah Barat Timur Selatan aja ngga sanggup. Dengkul masih loyo, geregetan lagi.
Faktanya setelah ditelisik, bukan saja fundamental ekonomi yang nyatanya keropos. Fundamen moral juga. Fundamental keagamaan dan teologi juga. Keadilan sosial (social injustice) juga. Etos hidup kedisiplinan etos kerja profesionalitas apa lagi. Yang ada saling salah-menyalahkan. Bukan 'speak the truth in love', tapi "speak the love in untruth" bahkan yang lebih memprihatinkan lagi "speak the things without love and truth".
Kita masih sangat memerlukan orang2 di bidang agama, pendidikan, lingkungan dan bangsa ini yang berbicara melatih berkarya mengkritisi mengemong di aras fundamental, kalau perlu sampai ke tingkat akar (radiks). Jangan pernah bermimpi berpikir hal yang lebih tinggi, advanced maju level unggul kreativitas, termasuk berbagai rencana 'pembangunan' , jika hal2 yang fundamental terus2an tak tersentuh, ditelantarkan.
Kreativitas, liberalis, pengkajian ulang, mindset dekonstruksi, defundamentalisasi sampai "Kristen-Lib" barangkali perlu. Namun hemat saya perlu diliat konteksnya, kita berada di mana. Kita bukan hadir di negeri, di wadah agama, di entitas gereja dll, yang segala-galanya fundamen2nya tradisi2nya sudah mapan established, seperti halnya di Barat Eropa & AS.
Di negeri ini segala2nya masih belum dapat disebut mapan fundamennya. Fundamen kita masih banyak 'cangkokan' yang belum bisa disebut orisinalitas asli kita. Kita masih mengejar mana yang disebut fundamen otentik kita. Negara Indonesia memang sudah terbentuk 62 tahun. Namun, apakah kebangsaan Indonesia juga sudah terbentuk, mapan fundamennya. Di jawab sendirilah. Itu mengenai bangsa. Bagaimana dengan agama, gereja?
Apakah fondasi agama, gereja yang betul2 telah mengindonesia telah terbentuk berproses terformat baik, dengan benar? Kita bisa jawab sendiri juga.
Nah., masalahnya sekarang fundamentalis bagaimana yang kita harapkan ada di Indonesia, di agama, di gereja, di kekristenan? Tentu bukan fundamentalis serba generik yang mengklaim sudah mentradisi padahal belum atau bukan tradisional akar yang sehat dan menyuburkan. Bukan fundamentalis yang miskin wawasan miskin worldview miskin pergaulan berbangsa (seperti seekor kodok dalam kotak sabun wangi). Bukan juga miskin love, peace & respect for others dan miskin kebijaksanaan. Bukan fundamentalis yang 'asal'. Asal mengkritisi, asal debat, asal apologet. Tapi sebaliknya. Mungkin lebih sopan dan tau aturan, lebih sabar, lebih 'open minded'. Mengkritisi, mendebat, apologet juga ada dasar fundamennya dan caranya.
Sebab itulah kita perlu saling belajar. Di balik kemegahan, mungkin kemewahan serba luks kita, kehebatan kita, glorifikasi yang sempat mampir ke kita, saya mungkin masih harus yakini bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan kita. Kita masih harus banyak belajar mendengar. Listening skills, hati dingin kepala dingin keterbukaan hati pikiran ditengarai masih banyak belum dimiliki kaum intelligence intelektual master mind politisi agamawan kita. Cermin Asia, yang juga dijumpai di Afrika dan Amerika Latin. Masih cukup banyak ditengarai yang hanya asal teriak 'gila'.. Kader2 di bawah dan massa di bawah juga jadi ikut2an teriak 'gila'. Bukan massa cair yang murni, tapi massa yang terprovokasi.
So, bagaimana? Kita punya keyakinan fundamentalis masih diperlukan di negeri ini. Masih 'diijinkan' ada di negeri ini. Termasuk oleh pemerintah. Apalagi oleh Tuhan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana memunculkan fundamentalis sejati yang mengindonesia, yang baik benar, luas pemikiran dan kebijaksanaannya. Bermoral, mencintai gereja tak memusuhi gereja; sama sekali tak chaotic. Yang liberalis pun begitu. Bukan liberalis yang asal, namun liberalis sejati yang mengindonesia, yang bukan asal jadi amplifier atau terompet. Tidak liar dan tidak jadi chaotic.
Salam fundamental,
Hans Midas Simanjuntak (:
'Fundamentalis' menurut saya masih sangat dibutuhkan. Diperlukan bagi kita dan bangsa ini yang masih seperti begini. Mungkin seterusnya. Ya, fundamentalis di bidang apa saja. Di bidang ekonomi, teologia, keluarga, agama, usaha, pembinaan generasi muda, dll. Bukankah jika tanpa fundamen atau fondasi, "rumah" apapun jadi gampang roboh. Bukankah karena tanpa fundamen atau dasar fondasi yang kuat ini juga, maka "rumah" bangsa ini nyaris runtuh? Terutama sejak krisis ekonomi 97/98 dan reformasi bergulir mengambil jalannya sendiri bak prinsip 'Mestakung'. Fundamen 'asli' sangat diperlukan.
Kita ingat di penghujung 1997 sampai paruh 2000 banyak praktisi dan pakar kita komentar fundamental ekonomi kita masih sangat kuat. Namun mana? Apaan? Kala krisis menerpa, negeri ini jadi sakit terkapar menggelepar sulit bisa bangun2 layaknya petinju Jepang Takemoto dihajar Chris John baru2 ini. Orang lain (negeri tetangga lain) seperti Malaysia, Thailand, Korsel, sudah pada bangun dan pulih, kita masih 'puyeng keteter' keliyeng2' ngga karuan. Ibarat orang baru bangun tidur, nyebut arah Barat Timur Selatan aja ngga sanggup. Dengkul masih loyo, geregetan lagi.
Faktanya setelah ditelisik, bukan saja fundamental ekonomi yang nyatanya keropos. Fundamen moral juga. Fundamental keagamaan dan teologi juga. Keadilan sosial (social injustice) juga. Etos hidup kedisiplinan etos kerja profesionalitas apa lagi. Yang ada saling salah-menyalahkan. Bukan 'speak the truth in love', tapi "speak the love in untruth" bahkan yang lebih memprihatinkan lagi "speak the things without love and truth".
Kita masih sangat memerlukan orang2 di bidang agama, pendidikan, lingkungan dan bangsa ini yang berbicara melatih berkarya mengkritisi mengemong di aras fundamental, kalau perlu sampai ke tingkat akar (radiks). Jangan pernah bermimpi berpikir hal yang lebih tinggi, advanced maju level unggul kreativitas, termasuk berbagai rencana 'pembangunan' , jika hal2 yang fundamental terus2an tak tersentuh, ditelantarkan.
Kreativitas, liberalis, pengkajian ulang, mindset dekonstruksi, defundamentalisasi sampai "Kristen-Lib" barangkali perlu. Namun hemat saya perlu diliat konteksnya, kita berada di mana. Kita bukan hadir di negeri, di wadah agama, di entitas gereja dll, yang segala-galanya fundamen2nya tradisi2nya sudah mapan established, seperti halnya di Barat Eropa & AS.
Di negeri ini segala2nya masih belum dapat disebut mapan fundamennya. Fundamen kita masih banyak 'cangkokan' yang belum bisa disebut orisinalitas asli kita. Kita masih mengejar mana yang disebut fundamen otentik kita. Negara Indonesia memang sudah terbentuk 62 tahun. Namun, apakah kebangsaan Indonesia juga sudah terbentuk, mapan fundamennya. Di jawab sendirilah. Itu mengenai bangsa. Bagaimana dengan agama, gereja?
Apakah fondasi agama, gereja yang betul2 telah mengindonesia telah terbentuk berproses terformat baik, dengan benar? Kita bisa jawab sendiri juga.
Nah., masalahnya sekarang fundamentalis bagaimana yang kita harapkan ada di Indonesia, di agama, di gereja, di kekristenan? Tentu bukan fundamentalis serba generik yang mengklaim sudah mentradisi padahal belum atau bukan tradisional akar yang sehat dan menyuburkan. Bukan fundamentalis yang miskin wawasan miskin worldview miskin pergaulan berbangsa (seperti seekor kodok dalam kotak sabun wangi). Bukan juga miskin love, peace & respect for others dan miskin kebijaksanaan. Bukan fundamentalis yang 'asal'. Asal mengkritisi, asal debat, asal apologet. Tapi sebaliknya. Mungkin lebih sopan dan tau aturan, lebih sabar, lebih 'open minded'. Mengkritisi, mendebat, apologet juga ada dasar fundamennya dan caranya.
Sebab itulah kita perlu saling belajar. Di balik kemegahan, mungkin kemewahan serba luks kita, kehebatan kita, glorifikasi yang sempat mampir ke kita, saya mungkin masih harus yakini bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan kita. Kita masih harus banyak belajar mendengar. Listening skills, hati dingin kepala dingin keterbukaan hati pikiran ditengarai masih banyak belum dimiliki kaum intelligence intelektual master mind politisi agamawan kita. Cermin Asia, yang juga dijumpai di Afrika dan Amerika Latin. Masih cukup banyak ditengarai yang hanya asal teriak 'gila'.. Kader2 di bawah dan massa di bawah juga jadi ikut2an teriak 'gila'. Bukan massa cair yang murni, tapi massa yang terprovokasi.
So, bagaimana? Kita punya keyakinan fundamentalis masih diperlukan di negeri ini. Masih 'diijinkan' ada di negeri ini. Termasuk oleh pemerintah. Apalagi oleh Tuhan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana memunculkan fundamentalis sejati yang mengindonesia, yang baik benar, luas pemikiran dan kebijaksanaannya. Bermoral, mencintai gereja tak memusuhi gereja; sama sekali tak chaotic. Yang liberalis pun begitu. Bukan liberalis yang asal, namun liberalis sejati yang mengindonesia, yang bukan asal jadi amplifier atau terompet. Tidak liar dan tidak jadi chaotic.
Salam fundamental,
Hans Midas Simanjuntak (:
Simpati terhadap Sdri. Felyshia dan Adik. Menyoal Upaya Keamanan Pribadi, Keluarga, Komunitas dst.
Tulisan ini terkait dengan simpati saya terhadap apa yang dialami oleh Sdri Felyshia, terutama adiknya. Sesuai dengan postingnya di berbagai milist (23/8/3007) berjudul "Mobilku Ditabrak, Aku dan Adikku Dianiaya Penabrak".
Kita memang harus tetap ambil hikmahnya. Perlu bagi kita sekalian bergandengan tangan untuk memperjuangkan keadilan di tengah banyaknya ketidak-adilan yang terjadi di sekitar kita. Keadilan, termasuk keadilan sosial, memang harus diperjuangkan. Tak bisa hanya dibayang2kan atau dimimpikan.
Lain hal dengan itu, faktor safety & security (keselamatan & keamanan) diri, keluarga, komunitas sampai tingkat bangsa harus menjadi ekstra perhatian kita. Kejadian yang menimpa Sdri Felyshia dan adik, terlalu banyak untuk disebutkan. Dari kasus kecil sepele sampai kasus2 besar yang dimuat di media nasional. Kita tau bagaimana sekarang kasus penculikan anak begitu marak, beberapa waktu yang lalu kasus penghilangan orang (seperti alm. Munir belum tuntas masalahnya), kasus KDRT, penganiayaan dalam taksi, dll.
Setiap waktu, di setiap tempat dan keadaan kebrutalan bisa saja menghadang. Maklum, jaman ini jaman kesenjangan. Ketimpangan. Kesenjangan banyak hal, tidak hanya sosial. Di satu pihak, orang pada berburu dalam lingkungan hyper-kompetisi seperti ini agar dapat 'tampil paling beda' (make most difference), tampil paling unik, 'paling lain dari yang lain', maka di seberang lain masih banyak orang masyarakat yang belum dapat menerima perbedaan, apalagi kesenjangan. Baik perbedaan kesenjangan sedikit saja, maupun perbedaan mencolok sekalipun.
Perbedaan apalagi kesenjangan dapat membuat orang sebagian kelompok komunitas sub kultur masyarakat menjadi cemburu (kecemburuan sosial), iri, geram, gerah, marah, sakit hati yang laten, tersimpan dalam hati. Yang bisa meledak sewaktu-waktu tanpa permisi. Kalau sudah marah, mata menjadi gelap, hati mendidih, kemudian menggeneralisasi orang atau keadaan. Melakukan pembalasan, revenge, yang kadang bukan kepada orang yang tepat, kelompok yang tepat. Salah alamat. Namun apa hendak dikata, tindakan violence, barbar, brutal sudah sempat dilayangkan. Berakibat korban yang betul alamatnya masih 'mending', namun yang sangat menyedihkan bila korban yang dituju salah alamat. Bukan 'dia' atau 'mereka' yang seharusnya dijadikan sasaran. Sasaran tembak.
Yang jadi masalah, soal penegakkan hukum di negeri ini, kinerja polisi dan keamanan, masih jauh dari optimal. Berapa jumlah polisi? satuan polisi pamong praja, satpam, hansip? Bagaimana juga kualitasnya? Nah, karena hal-hal itulah maka tidak heran pribadi2 keluarga2 komunitas2 tertentu mau tidak mau mempersenjatai dirinya mulai dari 'belajar bela diri', coba memiliki senjata api (dari yang sederhana sampai yang canggih), mempunyai keamanan pribadi/keluarga sendiri (satpam, sistem alarm, memakai jasa pengamanan/body guard pengawal sampai menghubungi 'orang pintar' guna praktek klenik) menjagai dirinya, rumahnya, mobilnya, anggota keluarga, dst. Di sisi lain, umat Tuhan mengandalkan doa, minta perlindungan Tuhan melalui malaikat penolongNya. Faktanya, keselamatan & keamanan 'hare gene' kini memang menjadi komoditi mahal bahkan mewah.
Nah, bagaimana dengan kita? Mungkin kita perlu mengevaluasi diri. Apakah saya selama ini faktualnya telah 'tampil beda' 'tampil paling lain' 'tampil paling unik' 'lain dari yang lain'. Yang mungkin bisa membuat potensi kesenjangan dengan orang lain pihak lain komunitas lain masyakakat sekitar, tercipta atau bertambah. Tampil beda dan 'kesenjangan' sosial kita bisa kita tampilkan melalui hal yang paling sederhana. Perhiasan yang kita pakai sehari2, tampilan pakaian kita, rumah kita, mobil kita, hand phone; singkatnya gaya hidup atau life style kita. Mungkin bisa membuat 'tebar pesona' 'minta perhatian orang (MPO)' dari khalayak sekitar. Tapi jangan salah, bisa juga membuat 'tebar cemburu' 'tebar iri' 'tebar teror' dan tebar-tebar yang lain.
Tampil beda atau terciptanya kesenjangan juga bisa dikarenakan cara pandang, selera, prinsip, doktrin, ideologi, iman percaya yang kita anut. Jika nyatanya paling beda, 'paling paling' bisa di satu pihak menebar pesona, tapi juga menebar teror, tindakan barbar, brutalisme terutama dari pihak yang dirugikan oleh prinsip, doktrin, kepercayaan kita tersebut. Brutalisme pertama melihat simbol2 dari kepercayaan, dan kemudian merusak simbol2 tersebut, sampai tidak luput kepada orang2 atau penganutnya yang dibarbar.
Ini yang disebut dengan 'keberbedaan' 'kesenjangan' dalam soal agama dalam istilah SARA. Agama atau aliran2 agama yang tampil paling-paling beda dengan yang lain, pasti akan menjadi sasaran tembak, terutama juga bagi tokohnya. Hal lain adalah kesenjangan soal etnis kesukuan. Etnis atau suku yang mau tampil serba serba lain dan paling2 beda, maka tidak mustahil akan dibarbar oleh yang lain. Demikian juga dengan golongan, komunitas, keluarga sampai pribadi yang berani tampil2 beda pasti akan mendapat hukuman sosial yang sangat kejam dari pola sosialisme bablas atau sistem komunalisme bablas yang sesungguhnya keliru dan terlampau ekstrim.
Mendidik masyarakat sosial menjadi lebih berbudaya, civilized, lebih demokratis merupakan jalan panjang yang harus diretas bersama. Masyarakat mayoritas yang lebih bisa menerima perbedaan dan kesenjangan. Meski dituntut pula bagi pribadi di sektor privat, keluarga komunitas, perusahaan, dst agar mampu melakukan 'self security' secara swadaya. Dan yang paling manjur adalah bersikap lebih bijaksana. Mengedepankan semangat kebersamaan, unity saya kira sangat penting. Tidak melulu menekan2kan perbedaan, keunikan prinsip, ajaran, cara pandang, dan berusaha paling benar sendiri, ingin menang sendiri.
Bagi kita yang cendrung memiliki karakter tabiat perangai mengandung potensi konflik yang tinggi, mungkin ke depan perlu lebih belajar menahan diri. Namun kalau percaya diri, ya silakan diteruskan. Tentu sudah dipikirkan masak2 berbagai resiko terburuk yang akan diterima. Penganiayaan, pemukulan, pemecatan, kekerasan, kebrutalan. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menekuni pekerjaan profesi yang mengandung potensi konflik tinggi, perlu memiliki sikap alert, extra hati-hati.
Bukan untuk menakut nakuti. Memang faktanya keadaan kita masih demikian. Maklum kita tinggal dan hidup, bukan di negara2 yang telah maju dalam hal survival, sehat fisik, perut tidak kosong, kesejahteraan ekonomi dan politik. Jika di negara2 seperti itu, orang mau berdebat berapologet adu konsep adu mulut masih bisa 'peaceful coexistence' berdampingan lagi bersalam2an lagi dengan damai, berpisah tanpa dendam dan sakit hati.
Namun, di negeri ini bagaimana bisa? Berdebat, berapologetika, adu pendapat adu konsep adu gagasan, adu keterampilan sekalipun (seperti liga sepakbola kita) seringkali membuahkan keadaan chaos, adu jotos, kekerasan, tawuran, pembakaran pengrusakan, brutalisme. Karena kondisi mayoritas masyarakat masih perut keroncongan, jiwa tidak sehat, banyak problem dan kesusahan keseharian; bukan hanya di rumah, tapi juga di pabrik di pergaulan komunitas atau di kantor, dll. Mayoritas yang belum bisa survived, masih 'merayap' dalam kegelapan kesulitan kemiskinan ekonomi. Berapa gelintir di negeri ini yang sudah betul2 sehat ekonomi politik? Kita bisa menjawabnya, baik untuk di kota2 besar seperti Jakarta Surabaya, dll maupun di desa dan pesisir sekalipun.
Maka bagi orang2 yang tampil ingin selalu berbeda dalam kehidupan, perlu sekali mempersiapkan mengantisipasi diri dengan self security tentu dalam batas2 kewajaran dan berlandaskan peraturan dan hukum. Self security juga jangan terlalu mencolok, karena yang mencolok itu juga akan membuahkan kesenjangan; menjadikan brutalisme semakin bereaksi lebih keras.
Salam damai dan keamanan,
Hans Midas Simanjuntak.
Kita memang harus tetap ambil hikmahnya. Perlu bagi kita sekalian bergandengan tangan untuk memperjuangkan keadilan di tengah banyaknya ketidak-adilan yang terjadi di sekitar kita. Keadilan, termasuk keadilan sosial, memang harus diperjuangkan. Tak bisa hanya dibayang2kan atau dimimpikan.
Lain hal dengan itu, faktor safety & security (keselamatan & keamanan) diri, keluarga, komunitas sampai tingkat bangsa harus menjadi ekstra perhatian kita. Kejadian yang menimpa Sdri Felyshia dan adik, terlalu banyak untuk disebutkan. Dari kasus kecil sepele sampai kasus2 besar yang dimuat di media nasional. Kita tau bagaimana sekarang kasus penculikan anak begitu marak, beberapa waktu yang lalu kasus penghilangan orang (seperti alm. Munir belum tuntas masalahnya), kasus KDRT, penganiayaan dalam taksi, dll.
Setiap waktu, di setiap tempat dan keadaan kebrutalan bisa saja menghadang. Maklum, jaman ini jaman kesenjangan. Ketimpangan. Kesenjangan banyak hal, tidak hanya sosial. Di satu pihak, orang pada berburu dalam lingkungan hyper-kompetisi seperti ini agar dapat 'tampil paling beda' (make most difference), tampil paling unik, 'paling lain dari yang lain', maka di seberang lain masih banyak orang masyarakat yang belum dapat menerima perbedaan, apalagi kesenjangan. Baik perbedaan kesenjangan sedikit saja, maupun perbedaan mencolok sekalipun.
Perbedaan apalagi kesenjangan dapat membuat orang sebagian kelompok komunitas sub kultur masyarakat menjadi cemburu (kecemburuan sosial), iri, geram, gerah, marah, sakit hati yang laten, tersimpan dalam hati. Yang bisa meledak sewaktu-waktu tanpa permisi. Kalau sudah marah, mata menjadi gelap, hati mendidih, kemudian menggeneralisasi orang atau keadaan. Melakukan pembalasan, revenge, yang kadang bukan kepada orang yang tepat, kelompok yang tepat. Salah alamat. Namun apa hendak dikata, tindakan violence, barbar, brutal sudah sempat dilayangkan. Berakibat korban yang betul alamatnya masih 'mending', namun yang sangat menyedihkan bila korban yang dituju salah alamat. Bukan 'dia' atau 'mereka' yang seharusnya dijadikan sasaran. Sasaran tembak.
Yang jadi masalah, soal penegakkan hukum di negeri ini, kinerja polisi dan keamanan, masih jauh dari optimal. Berapa jumlah polisi? satuan polisi pamong praja, satpam, hansip? Bagaimana juga kualitasnya? Nah, karena hal-hal itulah maka tidak heran pribadi2 keluarga2 komunitas2 tertentu mau tidak mau mempersenjatai dirinya mulai dari 'belajar bela diri', coba memiliki senjata api (dari yang sederhana sampai yang canggih), mempunyai keamanan pribadi/keluarga sendiri (satpam, sistem alarm, memakai jasa pengamanan/body guard pengawal sampai menghubungi 'orang pintar' guna praktek klenik) menjagai dirinya, rumahnya, mobilnya, anggota keluarga, dst. Di sisi lain, umat Tuhan mengandalkan doa, minta perlindungan Tuhan melalui malaikat penolongNya. Faktanya, keselamatan & keamanan 'hare gene' kini memang menjadi komoditi mahal bahkan mewah.
Nah, bagaimana dengan kita? Mungkin kita perlu mengevaluasi diri. Apakah saya selama ini faktualnya telah 'tampil beda' 'tampil paling lain' 'tampil paling unik' 'lain dari yang lain'. Yang mungkin bisa membuat potensi kesenjangan dengan orang lain pihak lain komunitas lain masyakakat sekitar, tercipta atau bertambah. Tampil beda dan 'kesenjangan' sosial kita bisa kita tampilkan melalui hal yang paling sederhana. Perhiasan yang kita pakai sehari2, tampilan pakaian kita, rumah kita, mobil kita, hand phone; singkatnya gaya hidup atau life style kita. Mungkin bisa membuat 'tebar pesona' 'minta perhatian orang (MPO)' dari khalayak sekitar. Tapi jangan salah, bisa juga membuat 'tebar cemburu' 'tebar iri' 'tebar teror' dan tebar-tebar yang lain.
Tampil beda atau terciptanya kesenjangan juga bisa dikarenakan cara pandang, selera, prinsip, doktrin, ideologi, iman percaya yang kita anut. Jika nyatanya paling beda, 'paling paling' bisa di satu pihak menebar pesona, tapi juga menebar teror, tindakan barbar, brutalisme terutama dari pihak yang dirugikan oleh prinsip, doktrin, kepercayaan kita tersebut. Brutalisme pertama melihat simbol2 dari kepercayaan, dan kemudian merusak simbol2 tersebut, sampai tidak luput kepada orang2 atau penganutnya yang dibarbar.
Ini yang disebut dengan 'keberbedaan' 'kesenjangan' dalam soal agama dalam istilah SARA. Agama atau aliran2 agama yang tampil paling-paling beda dengan yang lain, pasti akan menjadi sasaran tembak, terutama juga bagi tokohnya. Hal lain adalah kesenjangan soal etnis kesukuan. Etnis atau suku yang mau tampil serba serba lain dan paling2 beda, maka tidak mustahil akan dibarbar oleh yang lain. Demikian juga dengan golongan, komunitas, keluarga sampai pribadi yang berani tampil2 beda pasti akan mendapat hukuman sosial yang sangat kejam dari pola sosialisme bablas atau sistem komunalisme bablas yang sesungguhnya keliru dan terlampau ekstrim.
Mendidik masyarakat sosial menjadi lebih berbudaya, civilized, lebih demokratis merupakan jalan panjang yang harus diretas bersama. Masyarakat mayoritas yang lebih bisa menerima perbedaan dan kesenjangan. Meski dituntut pula bagi pribadi di sektor privat, keluarga komunitas, perusahaan, dst agar mampu melakukan 'self security' secara swadaya. Dan yang paling manjur adalah bersikap lebih bijaksana. Mengedepankan semangat kebersamaan, unity saya kira sangat penting. Tidak melulu menekan2kan perbedaan, keunikan prinsip, ajaran, cara pandang, dan berusaha paling benar sendiri, ingin menang sendiri.
Bagi kita yang cendrung memiliki karakter tabiat perangai mengandung potensi konflik yang tinggi, mungkin ke depan perlu lebih belajar menahan diri. Namun kalau percaya diri, ya silakan diteruskan. Tentu sudah dipikirkan masak2 berbagai resiko terburuk yang akan diterima. Penganiayaan, pemukulan, pemecatan, kekerasan, kebrutalan. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menekuni pekerjaan profesi yang mengandung potensi konflik tinggi, perlu memiliki sikap alert, extra hati-hati.
Bukan untuk menakut nakuti. Memang faktanya keadaan kita masih demikian. Maklum kita tinggal dan hidup, bukan di negara2 yang telah maju dalam hal survival, sehat fisik, perut tidak kosong, kesejahteraan ekonomi dan politik. Jika di negara2 seperti itu, orang mau berdebat berapologet adu konsep adu mulut masih bisa 'peaceful coexistence' berdampingan lagi bersalam2an lagi dengan damai, berpisah tanpa dendam dan sakit hati.
Namun, di negeri ini bagaimana bisa? Berdebat, berapologetika, adu pendapat adu konsep adu gagasan, adu keterampilan sekalipun (seperti liga sepakbola kita) seringkali membuahkan keadaan chaos, adu jotos, kekerasan, tawuran, pembakaran pengrusakan, brutalisme. Karena kondisi mayoritas masyarakat masih perut keroncongan, jiwa tidak sehat, banyak problem dan kesusahan keseharian; bukan hanya di rumah, tapi juga di pabrik di pergaulan komunitas atau di kantor, dll. Mayoritas yang belum bisa survived, masih 'merayap' dalam kegelapan kesulitan kemiskinan ekonomi. Berapa gelintir di negeri ini yang sudah betul2 sehat ekonomi politik? Kita bisa menjawabnya, baik untuk di kota2 besar seperti Jakarta Surabaya, dll maupun di desa dan pesisir sekalipun.
Maka bagi orang2 yang tampil ingin selalu berbeda dalam kehidupan, perlu sekali mempersiapkan mengantisipasi diri dengan self security tentu dalam batas2 kewajaran dan berlandaskan peraturan dan hukum. Self security juga jangan terlalu mencolok, karena yang mencolok itu juga akan membuahkan kesenjangan; menjadikan brutalisme semakin bereaksi lebih keras.
Salam damai dan keamanan,
Hans Midas Simanjuntak.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Foto udara Pulau Alor NTT
Photo, 2007