Saudara/i yang terkasih di dalam Kristus,
Selamat hari kenaikan Tuhan Kita, Yesus Kristus!
Biarlah dengan kenaikan Tuhan kita ke Sorga, akan meningkatkan serta menaikkan pula kesadaran dan pemahaman kita akan segenap persoalan dan berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita, yang dihadapi kekristenan dan bangsa ini; disertai keyakinan bahwa akan semakin kuat pula iman, pengharapan dan kasih kita kepada Dia.
Dia, Kristus, yang telah naik ke Sorga akan datang kembali pula (ke bumi) dengan cara yang sama. Bagi Dialah segala kemuliaan.
God bless you all!
Thursday, May 1, 2008
Sunday, March 23, 2008
Paskah 2008: New Leadership for Body of Christ and New Indonesia!
Selamat Paskah 2008!
Because He lives, we can together face tomorrow!!
Untuk menyambut hari raya Paskah, hari kebangkitan Kristus Yesus Tuhan tahun ini, sengaja saya memasukkan artikel tulisan dari team Teleia Resource Center (TRC)Indonesia, yang dimuat pada group milist "Aliteia" (forum Aliansi Kristen Indonesia Anak bangsa) beberapa hari yang lalu. Barangkali ini dapat dipakai sebagai renungan kita terkait wacana dan ekspektasi "New Leadership for Body of Christ and New Indonesia". Saya sertakan juga beberapa tanggapan ataupun komentar dari rekan-rekan di milist tersebut. Menurut saya, signifikansi untuk konteks sekarang dan hari ke depan dari ekpektasi akan kebutuhan gereja2 tubuh kristus dlm kesaksian di tengah2 pergumulan masyarakat, bangsa dan negara tercinta ini, sangatlah relevan. Sangat logis, expectable dan tidak ilusif dibuat-buat utk dipersiapkan, didoakan dan diperjuangkan bersama.
Semoga berguna! Tuhan memberkati kita!
Paskah 2008: Kepemimpinan Baru di Tengah Umat Pilihan Allah Pengikut Kristus di Indonesia.
Oleh: Teleia Resource Center (TRC) Indonesia.
Berbicara mengenai makna Paskah dalam kaitan dengan perkembangan dan kehidupan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, menjadi relevan untuk didoakan, dibicarakan dan digumulkan.
Sebagai dasar perenungan, kita perlu memahami makna peristiwa Paskah dalam Alkitab baik di PL maupun di PB.
Pertama, di PL kita tidak bisa lepas dari peristiwa keluarnya umat pilihan Allah bangsa Israel kuno di bawah kepemimpinan Musa dan Harun yang betul-betul eksis, keluar hijrah dari tanah perbudakan di Mesir di bawah penindasan Firaun. Lewat kepemimpinan Musa dan Harun itulah, umat pilihan dipimpin dituntun dari tanah Mesir selama 40 tahun di padang gurun dan kemudian lewat kepemimpinan Yosua umat Israel mereka akhirnya berhasil masuk Tanah Perjanjian Kanaan, yang penuh susu dan madu.
Kedua, di PB sbg peristiwa klimaks 2000 tahun yang lalu, Kristus sbg tokoh sentral sang Messias yang telah ditunggu-tunggu, telah menderita sengsara taat sampai mati di kayu salib Golgota kemudian bangkit pada hari yang ketiga demi mengalahkan kuasa maut, dosa dan Iblis; untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya dari hukuman dosa. Kristus telah bangkit dan menang! Lahirlah gereja pertama, yaitu Umat Pilihan Allah imamat rajani, yang kudus, memberitakan Injil Tuhan, yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Allah yang ajaib. Lalu, selanjutnya lewat kepemimpinan para Rasul dan generasi pemimpin selanjutnya, umat pilihan Allah tubuh Kristus tersebut dipimpin untuk terus bertumbuh serta berkembang menjadi garam dan terang dunia, mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung-ujung bumi termasuk lewat berbagai peran zending dan misionaris, Injil dikumandangkan sampai ke Indonesia dan membuahkan orang-orang percaya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia. Sejak jaman kolonial Belanda sampai jaman kini, yang telah berlangsung ratusan tahun, untuk sejumlah generasi.
Dari kedua momen Paskah di atas (PL dan PB) yang bisa dimaknai, sesungguhnya apa relevansinya bagi kehidupan dan perkembangan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia masa sekarang dan ke depan?
(1) Berita injil telah masuk ke Indonesia/bumi Nusantara selama ratusan tahun hingga sekarang ini, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, NTT, Papua dll. Lewat utusan zending atau misi dari Eropa, Amerika maupun dari negeri sendiri. Dari generasi ke generasi, telah eksis yang boleh dinamakan Umat Pilihan Allah pengikut Kristus, tubuh Kristus, yang ada di berbagai denominasi, aliran, kelembagaan formal dan non-formal dll melewati batas suku-suku, etnis, golongan, kepercayaan, dst.
(2) Tak dapat disangkal, bahwa sejalan dengan perkembangan pasang-surut gereja, pemerintahan dan rakyat di Nusantara/Indonesia , Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Kalau tidak ingin mengatakan, di dalam kesukacitaan mengikut Kristus telah secara riel mengalami bentuk2 penjajahan, penindasan, penyesahan, kemiskinan dan keterpurukan yang belum kunjung berhenti di berbagai aspek kehidupan (spiritual, pendidikan, kesehatan/gizi buruk, kebebasan beribadah, masalah sosial, ekonomi, budaya, bencana alam, dll).
(3) Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia meyakini bahwa Allah tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya. Kristus tetap hadir sebagai Tuhan dan Juruselamat. Seperti halnya umat Israel di Mesir di jaman PL, Allah pasti mendengar keluh kesah yang dialami Umat PilihanNya di Indonesia. Allah pasti memiliki rencanaNya yang maha baik dan agung untuk Umat PilihanNya di Indonesia, yakni membawanya ke "Tanah Perjanjian Kanaan" lewat berbagai masa pembentukan dan penempaan guna menuju tempat atau posisi kehidupan yang berkualitas, penuh kemenangan, maju dalam kesatuan (seperti doa Tuhan Yesus "supaya mereka menjadi satu"), berkelimpahan dan berkesejahteraan (shalom).
(4) Namun, yang menjadi permasalahan adalah untuk membawa Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia menuju "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan", Umat PilihanNya di Indonesia belum memiliki seorang pemimpin seperti Musa di PL atau para Rasul dan generasi pemimpin pilihanNya lainnya di PB, yang dimampukan untuk mempersatukan serta mempertautkan seluruh Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia. Pemimpin yang mampu berdiri di atas semua golongan, denominasi, berbagai aliran yang ada serta suku-suku, etnis dan golongan. Tercatat kini lebih dari 900 denominasi, aliran dan kelembagaan Kristen yang ada di Indonesia. Belum yang tidak tercatat atau tidak sempat didata. Maka, sudah sangat dirasakan dibutuhkan pada masa sekarang munculnya pemimpin atau pemimpin-pemimpin seperti "Musa dan Harun di PL" dan "Para Rasul di PB" untuk membawa keluar (hijrah) Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia dari kehidupan kolektif yang terjajah, tertindas, miskin dan terpuruk dalam berbagai aspek kehidupan seperti sekarang. Yang menyiapkan Umat Pilihan Allah di Indonesia siap masuk ke "Tanah Perjanjian Kanaan".
(5) Sepanjang sejarah Injil, pelayanan dan kesaksian Umat Pilihan Allah di Nusantara atau Indonesia; sejak jaman kolonial Belanda, jaman pergerakan nasional, revolusi kemerdekaan, jaman Orla, Orba/Soeharto sampai era Reformasi sekarang, memang tercatat banyak pemimpin Kristen yang telah muncul. Sebut saja, dari era Joseph Kam di Maluku, Nommensen di Tanah Batak, lalu di aras pemerintahan dan gereja seperti Dr J Leimena, Letjen Simatupang, JI Kasimo, Pdt Justin Sihombing, Mgr Leo Sukoto, Pdt SAE Nababan, Pdt Eka Dharmaputera, Pdt Soelarso Sopater, Pdt. Petrus Octavianus, Pdt Stephen Tong, Pdt Jeremia Rim, Pdt Yakob Nahuway, Pdt Yewangoe, J Parapak, Dr Iman Santoso, Pdt Jusuf Rony, Pdt Niko Nyotorahardjo, Pdt Daniel Alexander, Pdt Ruyandi Hutasoit, Pdt Petrus Agung dst. sampai pemimpin atau menyebut diri sebagai pemimpin dalam generasi yang lebih muda. Namun, harus diakui bahwa nama-nama pemimpin seperti di atas umumnya masih terbatas atau dibatasi tembok organisasi, asosiasi persekutuan, aliran, denominasi, batas ranah gereja dan sekuler/pemerintah, dsb. Belum muncul hingga sekarang ini, pemimpin atau pemimpin-pemimpin Umat PilihanNya di Indonesia yang betul-betul diutus Allah sekaligus bisa diakui diterima keberadaannya sbg pemimpin oleh segenap warga, unsur, denominasi, aliran, suku2, golongan, etnis dan bahasa dari Umat Pilihan pengikut Kristus di seluruh persada Indonesia.
(6) Maka, munculnya pemimpin atau pemimpin2 baru dari segenap Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang diutus Allah dan diterima oleh segenap kalangan Umat PilihanNya di Indonesia, yang mampu berdiri di atas semua golongan denominasi dan aliran yang ada (Katolik, Ortodoks Timur, Lutheran, Calvinis, Injili, Baptis, Pentakosta, Bethel, Karismatik dan non-denominasional lainnya). Mampu melewati tembok-tembok organisasi atau perhimpunan macam KWI, PGI, PGLII, PGPI, GGBI, KGBI, Bala Keselamatan, GBI, dst. Pemimpin baru yang seperti inilah yang barangkali sangat dibutuhkan untuk menuntun dan memimpin Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia, dalam roh kesatuan dan kebersamaan, berhasil memasuki "Tanah Perjanjian Kanaan" dan "Ujung-ujung Bumi" sebagai gambaran Umat Pilihan yang berkemenangan berkemajuan dan berkesejahteraan bebas dari keterpurukan. Sebagai dampak positipnya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia juga berhasil menerangi dan menggarami seluruh persada Nusantara/indonesia , dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain pula di dunia.
(7) Pertanyaan berikutnya adalah kapan bilamanakah pemimpin baru seperti itu akan muncul di tengah Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia? Maka, semua memang harus didoakan dan digumulkan. Sebab, bila pemimpin yang benar-benar diutus Allah sekaligus bisa diterima oleh semua denominasi, golongan dan aliran dalam tubuh Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia saja belum ada (belum muncul), bagaimanakah Umat PilihanNya di Indonesia akan atau dapat tahu kemana arah tujuan mereka akan dibawa atau dipimpin berhijrah? Dimanakah "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" atau "Ujung-Ujung Bumi" itu?
Untuk relevansi Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, dimanakah sesungguhnya "letak" atau "posisi" Tanah Perjanjian Kanaan yang akan dituju? Di Sorgakah atau di Bumi sebagaimana dinyatakan dalam kesaksian Kisah Rasul: "Ujung-Ujung Bumi?
Jika sudah muncul Pemimpin dari Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang benar-benar diutus Allah dan legitimate dalam pemandangan Umat PilihanNya ini, tentu pertanyaan tentang "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" bagi Umat Pilihan di Indnesia bisa akan serta-merta dijawab oleh si Pemimpin Baru tersebut.
Selamat Paskah!
Teleia Resources Center (TRC)
22 Maret 2009.
Beberapa komentar atas tulisan ini:
medi Aob wrote:
saya ckp setuju tuh..
udah saatnya mmg brgkali tubuh kristus pengikut yesus as a whole
di bangsa or republik ini jaman gene en ke dpn
perlu banget didoain digumulkan munculnya
tokoh2 pemimpin tubuh kristus baru
yg sebisanya lbh acceptable secara rohani dan mgkn politis jg
bs lbh diterima oleh sgala kalangan umat agama kristen
(dari seluruh denom dr katolik, protestan, injili, pentakosta ampe karismatik)
en acceptable juga di domain negara
melebihi peran yg dulu2 mgkn udah dijalankan ama j leimena, tb simatupang,
pdt eka darmaputera, pdt petrus octavianus, dll di jaman mereka
faktanye kan, pemimpin2 (pdt maupun non-pdt, dr kalangan gereja ato
negara/non gereja) yg kt punya ampe skrg ini
brgkali blom seperti yg diharapkan oleh seluruh kalangan
tubuh kristus pengikut yesus dr slrh aliran, denom, dlsb di bangsa ini
as a whole..
Sangihe Willy wrote:
Maksudnya Bung, supaya bisa satu suara begitu Bung?
medi Aob wrote:
iya lah bung.
utk tantangan skrg slrh umat tubuh kristus pengikut yesus
nurut sy perlu skale ke luar satu suara lebeh solid
trtm dlm ngadepin pihak pemerintah or negara
ngadepin pihak2 dr luar ato dalem yg
ingin katakanlah "menyerang" kepentingan, ajaran yesus
yg ada skrg kan
misal pendeta ato tokoh bragama kristen A, B ato C
ketokohan ato kepemimpinannya msh dipertanyakan legitimasinya
di semua kalangan umat tubuh kristus pengikut kristus as a whole
kan kalo bicara lebeh condong utk kepentingan organisasinya
ato perhimpunan organisasi2nya belaka
(misal kepntingan utk PGI doank, kepentingan PLGII doang, GBI doank,
perhimpunan karismatik doank dst)
kalo begini kan gimana mao keluar satu suara mbulet
suara masih tersekat-sekat di batasi tembok kepentingan perhimpunan
organisasi2nya msg2
belum ada yg di ranah negara bisa keterima
di ranah seluruh gereja aliran dan ajaran kristiani pun diterima
coba aja cari, sdh ada or sdh muncul nggak?
Rama VD wrote:
Lho disebut saja deh tokoh-tokoh sekarang, Bung Medi
Kalau ketokohan seperti Pdt Alex Abraham, Pdt Ruyandi, Letjen HBL Mantiri apa belum atau tidak aspiratif Pak? Atau mungkin kepemimpinan seperti Pdt Dr I Wayan Mastra dari Bali pak, belum bisa jadi representasi kita semua? Pdt Gilbert Lumoindong, pendeta yang dari NTT itu.. Pdt Dr Yewangoe misalnya?
Salam,
Rama VD
medi Aob wrote:
belum lah brother rama
nama2 yg brohter sebut itu kalo nurut saya
belum 'menyuarakan' ato jd 'penyambung lidah' (pake istilah bk neh)
hati nurani (roh, rohani en kebutuhan politikal) dari seluruh kalangan
tubuh kristus universal di bangsa ini
masih berkutat pd kepentingan dhewek nya doank euy..
sorry neh
nurut saya belum lah brother...
pendapat balik TRC sendiri gimana neh...?
Trc Indonesia wrote:
Dari berbagai hasil penelusuran kami di dalam kalangan umat Kristus scr umum di banyak daerah, denominasi, etnis, suku dll, scr umum mengakui bahwa realitanya selama 10-20 tahun terakhir telah terjadi krisis kepemimpinan dalam dunia kristen sendiri di tengah bangsa ini. Ekspektasinya sebenarnya tidak muluk-muluk, bagaimana untuk era kini dan yad, baik untuk ranah spiritual-injil- agama-teologi- gereja maupun ranah pengabdian negara/politik- budaya-sosek- society-techno- creativity- lingkungan) , diharapkan boleh/bisa muncul "New Leadership for Christ's body and New Indonesia" yang takut akan Tuhan dari kalangan umat Kristus generasi pelanjut. Pemimpin-pemimpin umat Kristus yang boleh/bisa diterima (acceptabilitynya tinggi) oleh banyak kalangan yang lebih luas dibanding leaders di kalangan umat yang dulu-dulu, oleh banyak kalangan dari berbagai aliran denom sub denom etnis suku yg ada di negeri ini.
Pemimpin umat Kristus, baik scr individu maupun kolektif yg memiliki daya kohesif yg besar, tdk hanya mampu diterima di dalam kandang, tembok, kotak (box), komunitas atau streamnya sendiri.
Salam kami,
TRC.
Because He lives, we can together face tomorrow!!
Untuk menyambut hari raya Paskah, hari kebangkitan Kristus Yesus Tuhan tahun ini, sengaja saya memasukkan artikel tulisan dari team Teleia Resource Center (TRC)Indonesia, yang dimuat pada group milist "Aliteia" (forum Aliansi Kristen Indonesia Anak bangsa) beberapa hari yang lalu. Barangkali ini dapat dipakai sebagai renungan kita terkait wacana dan ekspektasi "New Leadership for Body of Christ and New Indonesia". Saya sertakan juga beberapa tanggapan ataupun komentar dari rekan-rekan di milist tersebut. Menurut saya, signifikansi untuk konteks sekarang dan hari ke depan dari ekpektasi akan kebutuhan gereja2 tubuh kristus dlm kesaksian di tengah2 pergumulan masyarakat, bangsa dan negara tercinta ini, sangatlah relevan. Sangat logis, expectable dan tidak ilusif dibuat-buat utk dipersiapkan, didoakan dan diperjuangkan bersama.
Semoga berguna! Tuhan memberkati kita!
Paskah 2008: Kepemimpinan Baru di Tengah Umat Pilihan Allah Pengikut Kristus di Indonesia.
Oleh: Teleia Resource Center (TRC) Indonesia.
Berbicara mengenai makna Paskah dalam kaitan dengan perkembangan dan kehidupan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, menjadi relevan untuk didoakan, dibicarakan dan digumulkan.
Sebagai dasar perenungan, kita perlu memahami makna peristiwa Paskah dalam Alkitab baik di PL maupun di PB.
Pertama, di PL kita tidak bisa lepas dari peristiwa keluarnya umat pilihan Allah bangsa Israel kuno di bawah kepemimpinan Musa dan Harun yang betul-betul eksis, keluar hijrah dari tanah perbudakan di Mesir di bawah penindasan Firaun. Lewat kepemimpinan Musa dan Harun itulah, umat pilihan dipimpin dituntun dari tanah Mesir selama 40 tahun di padang gurun dan kemudian lewat kepemimpinan Yosua umat Israel mereka akhirnya berhasil masuk Tanah Perjanjian Kanaan, yang penuh susu dan madu.
Kedua, di PB sbg peristiwa klimaks 2000 tahun yang lalu, Kristus sbg tokoh sentral sang Messias yang telah ditunggu-tunggu, telah menderita sengsara taat sampai mati di kayu salib Golgota kemudian bangkit pada hari yang ketiga demi mengalahkan kuasa maut, dosa dan Iblis; untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya dari hukuman dosa. Kristus telah bangkit dan menang! Lahirlah gereja pertama, yaitu Umat Pilihan Allah imamat rajani, yang kudus, memberitakan Injil Tuhan, yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Allah yang ajaib. Lalu, selanjutnya lewat kepemimpinan para Rasul dan generasi pemimpin selanjutnya, umat pilihan Allah tubuh Kristus tersebut dipimpin untuk terus bertumbuh serta berkembang menjadi garam dan terang dunia, mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung-ujung bumi termasuk lewat berbagai peran zending dan misionaris, Injil dikumandangkan sampai ke Indonesia dan membuahkan orang-orang percaya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia. Sejak jaman kolonial Belanda sampai jaman kini, yang telah berlangsung ratusan tahun, untuk sejumlah generasi.
Dari kedua momen Paskah di atas (PL dan PB) yang bisa dimaknai, sesungguhnya apa relevansinya bagi kehidupan dan perkembangan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia masa sekarang dan ke depan?
(1) Berita injil telah masuk ke Indonesia/bumi Nusantara selama ratusan tahun hingga sekarang ini, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, NTT, Papua dll. Lewat utusan zending atau misi dari Eropa, Amerika maupun dari negeri sendiri. Dari generasi ke generasi, telah eksis yang boleh dinamakan Umat Pilihan Allah pengikut Kristus, tubuh Kristus, yang ada di berbagai denominasi, aliran, kelembagaan formal dan non-formal dll melewati batas suku-suku, etnis, golongan, kepercayaan, dst.
(2) Tak dapat disangkal, bahwa sejalan dengan perkembangan pasang-surut gereja, pemerintahan dan rakyat di Nusantara/Indonesia , Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Kalau tidak ingin mengatakan, di dalam kesukacitaan mengikut Kristus telah secara riel mengalami bentuk2 penjajahan, penindasan, penyesahan, kemiskinan dan keterpurukan yang belum kunjung berhenti di berbagai aspek kehidupan (spiritual, pendidikan, kesehatan/gizi buruk, kebebasan beribadah, masalah sosial, ekonomi, budaya, bencana alam, dll).
(3) Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia meyakini bahwa Allah tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya. Kristus tetap hadir sebagai Tuhan dan Juruselamat. Seperti halnya umat Israel di Mesir di jaman PL, Allah pasti mendengar keluh kesah yang dialami Umat PilihanNya di Indonesia. Allah pasti memiliki rencanaNya yang maha baik dan agung untuk Umat PilihanNya di Indonesia, yakni membawanya ke "Tanah Perjanjian Kanaan" lewat berbagai masa pembentukan dan penempaan guna menuju tempat atau posisi kehidupan yang berkualitas, penuh kemenangan, maju dalam kesatuan (seperti doa Tuhan Yesus "supaya mereka menjadi satu"), berkelimpahan dan berkesejahteraan (shalom).
(4) Namun, yang menjadi permasalahan adalah untuk membawa Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia menuju "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan", Umat PilihanNya di Indonesia belum memiliki seorang pemimpin seperti Musa di PL atau para Rasul dan generasi pemimpin pilihanNya lainnya di PB, yang dimampukan untuk mempersatukan serta mempertautkan seluruh Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia. Pemimpin yang mampu berdiri di atas semua golongan, denominasi, berbagai aliran yang ada serta suku-suku, etnis dan golongan. Tercatat kini lebih dari 900 denominasi, aliran dan kelembagaan Kristen yang ada di Indonesia. Belum yang tidak tercatat atau tidak sempat didata. Maka, sudah sangat dirasakan dibutuhkan pada masa sekarang munculnya pemimpin atau pemimpin-pemimpin seperti "Musa dan Harun di PL" dan "Para Rasul di PB" untuk membawa keluar (hijrah) Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia dari kehidupan kolektif yang terjajah, tertindas, miskin dan terpuruk dalam berbagai aspek kehidupan seperti sekarang. Yang menyiapkan Umat Pilihan Allah di Indonesia siap masuk ke "Tanah Perjanjian Kanaan".
(5) Sepanjang sejarah Injil, pelayanan dan kesaksian Umat Pilihan Allah di Nusantara atau Indonesia; sejak jaman kolonial Belanda, jaman pergerakan nasional, revolusi kemerdekaan, jaman Orla, Orba/Soeharto sampai era Reformasi sekarang, memang tercatat banyak pemimpin Kristen yang telah muncul. Sebut saja, dari era Joseph Kam di Maluku, Nommensen di Tanah Batak, lalu di aras pemerintahan dan gereja seperti Dr J Leimena, Letjen Simatupang, JI Kasimo, Pdt Justin Sihombing, Mgr Leo Sukoto, Pdt SAE Nababan, Pdt Eka Dharmaputera, Pdt Soelarso Sopater, Pdt. Petrus Octavianus, Pdt Stephen Tong, Pdt Jeremia Rim, Pdt Yakob Nahuway, Pdt Yewangoe, J Parapak, Dr Iman Santoso, Pdt Jusuf Rony, Pdt Niko Nyotorahardjo, Pdt Daniel Alexander, Pdt Ruyandi Hutasoit, Pdt Petrus Agung dst. sampai pemimpin atau menyebut diri sebagai pemimpin dalam generasi yang lebih muda. Namun, harus diakui bahwa nama-nama pemimpin seperti di atas umumnya masih terbatas atau dibatasi tembok organisasi, asosiasi persekutuan, aliran, denominasi, batas ranah gereja dan sekuler/pemerintah, dsb. Belum muncul hingga sekarang ini, pemimpin atau pemimpin-pemimpin Umat PilihanNya di Indonesia yang betul-betul diutus Allah sekaligus bisa diakui diterima keberadaannya sbg pemimpin oleh segenap warga, unsur, denominasi, aliran, suku2, golongan, etnis dan bahasa dari Umat Pilihan pengikut Kristus di seluruh persada Indonesia.
(6) Maka, munculnya pemimpin atau pemimpin2 baru dari segenap Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang diutus Allah dan diterima oleh segenap kalangan Umat PilihanNya di Indonesia, yang mampu berdiri di atas semua golongan denominasi dan aliran yang ada (Katolik, Ortodoks Timur, Lutheran, Calvinis, Injili, Baptis, Pentakosta, Bethel, Karismatik dan non-denominasional lainnya). Mampu melewati tembok-tembok organisasi atau perhimpunan macam KWI, PGI, PGLII, PGPI, GGBI, KGBI, Bala Keselamatan, GBI, dst. Pemimpin baru yang seperti inilah yang barangkali sangat dibutuhkan untuk menuntun dan memimpin Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia, dalam roh kesatuan dan kebersamaan, berhasil memasuki "Tanah Perjanjian Kanaan" dan "Ujung-ujung Bumi" sebagai gambaran Umat Pilihan yang berkemenangan berkemajuan dan berkesejahteraan bebas dari keterpurukan. Sebagai dampak positipnya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia juga berhasil menerangi dan menggarami seluruh persada Nusantara/indonesia , dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain pula di dunia.
(7) Pertanyaan berikutnya adalah kapan bilamanakah pemimpin baru seperti itu akan muncul di tengah Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia? Maka, semua memang harus didoakan dan digumulkan. Sebab, bila pemimpin yang benar-benar diutus Allah sekaligus bisa diterima oleh semua denominasi, golongan dan aliran dalam tubuh Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia saja belum ada (belum muncul), bagaimanakah Umat PilihanNya di Indonesia akan atau dapat tahu kemana arah tujuan mereka akan dibawa atau dipimpin berhijrah? Dimanakah "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" atau "Ujung-Ujung Bumi" itu?
Untuk relevansi Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, dimanakah sesungguhnya "letak" atau "posisi" Tanah Perjanjian Kanaan yang akan dituju? Di Sorgakah atau di Bumi sebagaimana dinyatakan dalam kesaksian Kisah Rasul: "Ujung-Ujung Bumi?
Jika sudah muncul Pemimpin dari Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang benar-benar diutus Allah dan legitimate dalam pemandangan Umat PilihanNya ini, tentu pertanyaan tentang "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" bagi Umat Pilihan di Indnesia bisa akan serta-merta dijawab oleh si Pemimpin Baru tersebut.
Selamat Paskah!
Teleia Resources Center (TRC)
22 Maret 2009.
Beberapa komentar atas tulisan ini:
medi Aob
saya ckp setuju tuh..
udah saatnya mmg brgkali tubuh kristus pengikut yesus as a whole
di bangsa or republik ini jaman gene en ke dpn
perlu banget didoain digumulkan munculnya
tokoh2 pemimpin tubuh kristus baru
yg sebisanya lbh acceptable secara rohani dan mgkn politis jg
bs lbh diterima oleh sgala kalangan umat agama kristen
(dari seluruh denom dr katolik, protestan, injili, pentakosta ampe karismatik)
en acceptable juga di domain negara
melebihi peran yg dulu2 mgkn udah dijalankan ama j leimena, tb simatupang,
pdt eka darmaputera, pdt petrus octavianus, dll di jaman mereka
faktanye kan, pemimpin2 (pdt maupun non-pdt, dr kalangan gereja ato
negara/non gereja) yg kt punya ampe skrg ini
brgkali blom seperti yg diharapkan oleh seluruh kalangan
tubuh kristus pengikut yesus dr slrh aliran, denom, dlsb di bangsa ini
as a whole..
Sangihe Willy
Maksudnya Bung, supaya bisa satu suara begitu Bung?
medi Aob
iya lah bung.
utk tantangan skrg slrh umat tubuh kristus pengikut yesus
nurut sy perlu skale ke luar satu suara lebeh solid
trtm dlm ngadepin pihak pemerintah or negara
ngadepin pihak2 dr luar ato dalem yg
ingin katakanlah "menyerang" kepentingan, ajaran yesus
yg ada skrg kan
misal pendeta ato tokoh bragama kristen A, B ato C
ketokohan ato kepemimpinannya msh dipertanyakan legitimasinya
di semua kalangan umat tubuh kristus pengikut kristus as a whole
kan kalo bicara lebeh condong utk kepentingan organisasinya
ato perhimpunan organisasi2nya belaka
(misal kepntingan utk PGI doank, kepentingan PLGII doang, GBI doank,
perhimpunan karismatik doank dst)
kalo begini kan gimana mao keluar satu suara mbulet
suara masih tersekat-sekat di batasi tembok kepentingan perhimpunan
organisasi2nya msg2
belum ada yg di ranah negara bisa keterima
di ranah seluruh gereja aliran dan ajaran kristiani pun diterima
coba aja cari, sdh ada or sdh muncul nggak?
Rama VD
Lho disebut saja deh tokoh-tokoh sekarang, Bung Medi
Kalau ketokohan seperti Pdt Alex Abraham, Pdt Ruyandi, Letjen HBL Mantiri apa belum atau tidak aspiratif Pak? Atau mungkin kepemimpinan seperti Pdt Dr I Wayan Mastra dari Bali pak, belum bisa jadi representasi kita semua? Pdt Gilbert Lumoindong, pendeta yang dari NTT itu.. Pdt Dr Yewangoe misalnya?
Salam,
Rama VD
medi Aob
belum lah brother rama
nama2 yg brohter sebut itu kalo nurut saya
belum 'menyuarakan' ato jd 'penyambung lidah' (pake istilah bk neh)
hati nurani (roh, rohani en kebutuhan politikal) dari seluruh kalangan
tubuh kristus universal di bangsa ini
masih berkutat pd kepentingan dhewek nya doank euy..
sorry neh
nurut saya belum lah brother...
pendapat balik TRC sendiri gimana neh...?
Trc Indonesia
Dari berbagai hasil penelusuran kami di dalam kalangan umat Kristus scr umum di banyak daerah, denominasi, etnis, suku dll, scr umum mengakui bahwa realitanya selama 10-20 tahun terakhir telah terjadi krisis kepemimpinan dalam dunia kristen sendiri di tengah bangsa ini. Ekspektasinya sebenarnya tidak muluk-muluk, bagaimana untuk era kini dan yad, baik untuk ranah spiritual-injil- agama-teologi- gereja maupun ranah pengabdian negara/politik- budaya-sosek- society-techno- creativity- lingkungan) , diharapkan boleh/bisa muncul "New Leadership for Christ's body and New Indonesia" yang takut akan Tuhan dari kalangan umat Kristus generasi pelanjut. Pemimpin-pemimpin umat Kristus yang boleh/bisa diterima (acceptabilitynya tinggi) oleh banyak kalangan yang lebih luas dibanding leaders di kalangan umat yang dulu-dulu, oleh banyak kalangan dari berbagai aliran denom sub denom etnis suku yg ada di negeri ini.
Pemimpin umat Kristus, baik scr individu maupun kolektif yg memiliki daya kohesif yg besar, tdk hanya mampu diterima di dalam kandang, tembok, kotak (box), komunitas atau streamnya sendiri.
Salam kami,
TRC.
Thursday, March 6, 2008
Sharing Umum Saya/Kami tentang Papua Sekarang.
Ini sharing umum saya/kami tentang Papua sekarang.
Base camp misi pelayanan saya/kami - El Trinitas Ministry Indonesia/Lembaga Pintu Gerbang Timur Indonesia (Eastern Gate, Indonesia) sejak 2005 ada di Papua. Saya kerap beberapa kali ada dan tinggal di Papua dalam rangka misi pelayanan.
Kadang tinggal di beberapa daerah Papua sampai 4 minggu-1 bulan, tiap kali kunjungan.
Dalam interaksi kami, kami berusaha "mendengar" suara (mudah2an suara hati ya) ckp banyak elemen2 pihak-pihak yang ada di Papua sekarang.
Tujuan misi pelayanan kami adalah untuk pemberdayaan gereja, lembaga, komunitas dan masyarakat Papua ("Go East Mission") -- sesungguhnya juga untuk pemberdayaan "kantong-kantong Kekristenan" lainnya spt di Maluku, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa & Bali yang kami yakini merupakan fakta yang sudah harus dijalankan.
Papua dalam pandangan kami adalah pintu gerbang timur Indonesia sebagai pijakan penting bagi pemulihan/bangkitnya negeri ini. Pertama, bagi Papua sendiri. Kedua, bagi Indonesia tercinta.
Situasi umum (menurut pandangan kami) ttg Gereja-Gereja di Papua sendiri.
Ada gereja khususnya yg non-katolik yang masih betul2 independen thd intervensi Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Tapi tak sedikit juga gereja-gereja yang katakanlah sudah "terkooptasi" dgn kepentingan Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Terkait dgn dana tentunya. Dana Otsus Papua. Karena yg menjadi majelis pimpinan gereja2 dan "penyokong" dana gereja adalah mayoritas para birokrat Pemda, kaum profesi perusahaan/pengusaha papua. Sehingga suara gereja2 demikian ini cendrung sama suaranya dgn yang disuarakan dgn Pemerintah/Pemda dan kaum profesi perusahaan/pengusaha tmsk TNC/MNC (korporasi global) di papua. Gereja keuskupan katolik spt misalnya di Agatz, Sorong, Merauke, relatif masih lebih indenpenden di banding gereja2 yang non-katolik. Ada relatif sedikit pendeta yang tidak/belum terjun praktis dalam parpol. Tapi kian hari lebih banyak jumlah pendeta kristen dari gereja-gereja di papua yang terjun praktis aktif di parpol. Paling banyak tersebar turut politik praktis di PDI-P, Golkar, Demokrat, PDS, dst.
Situasi umum Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 di PapuaDi Jayapura, Merauke, Sorong dll secara umum relatif semakin tidak banyak menurut kami yang masih yakin terhadap peran gereja di papua untuk mampu lebih signifikan dan independen menyuarakan suara Gereja, yang niscaya berbeda dgn apa yang disuarakan oleh Pemerintah/Pemda papua dan kaum profesi/perusahaan. Secara heuristik, cukup banyak dari mereka yang memilih berpandangan Sekularis, bahkan menurut kami ckp banyak juga yang mengaku kembali kepada kepercayaan tradisional mereka - kepercayaan orang Papua kpd leluhur mereka. Sebagian lagi membangun persekutuan2 (doa) kristen sendiri di luar/di samping Gereja.
Situasi umum Pemda2 Birokrasi di Papua
Relatif sangat sibuk juga dgn pengelolaan dana otsus yg diberikan Pemerintah Pusat. Sesuai amanat SBY, penyaluran dana otsus selain disalurkan melalui birokrasi pemerintah/Pemda2, disalurkan juga melalui lembaga-lembaga keagamaan. Melalui mayoritas gereja-gereja non-katolik di wilayah Papua bgn utara, dan mayoritas lewat gereja-gereja katolik di wilayah Papua bgn selatan. Ckp besar juga dana disalurkan kpd lembaga2 islam seperti yg dilakukan di Merauke, Sorong, dll.
Situasi umum perusahaan2 TMC/MNC di Papua
Umumnya kegiatan penambangan dan ekspoitasi kayu hutan (contoh: kayu gaharu papua)terus dilakukan, spt Tangguh Project/Bintuni, Freeport/Timika, Korindo kayu Korea di Merauke, dll meskipun berbagai kritikan terus bermunculan dari pelaku2 LSM/NGO lokal, nasional yg didukung oleh LSM/NGO internasional terutama yg bergerak di bidang pemberdayaan sosial, filantropis dan pelestarian lingkungan. Program2 community development coba diterapkan oleh perusahaan TMC/MNC Papua itu. Ada yg antara lain menerapkan konsep "Enterprises Resource Development Center" (EDRC) oleh perusahaan British Petroleum di Bintuni, namun konsep itu nampaknya tidak semudah yang dipikirkan atau direncanakan. Beberapa aktivis LSM sosial-ekonomi dan social workers yang cendrung mau kooperatif - LSM/NGO pro kebijakan TMC/MNC (bukan LSM/NGO independen yg boleh disebut masih memiliki idealisme sbg LSM) coba untuk terus direkrut oleh perusahaan TMC/MNC ini. Namun, apa yang telah diretas dgn konsep sejenis EDRC ini masih saja relatif belum dapat memenuhi ekspektasi ckp banyak elemen-elemen masyarakat lokal di Papua, antara lain LSM/NGO yg tidak pro kebijakan TMC/MNC dan relatif mayoritas Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 dan masyarakat lokal indigenous di Papua.
Situasi umum Masyarakat asli Papua sendiri.
Sebagian sudah bersekolah bahkan sampai PT (spt di Uncen, Univ/sekolah2 tinggi di Merauke, Manokwari, dll), namun masih relatif sangat banyak yang belum mau bersekolah. Yang hidup dengan "meramu" (hidup primitive hanya tergantung langsung dari hutan, sungai dan pantai) masih sangat banyak bersebaran. Anak-anak asli papua untuk di asrama kan, dibiasakan dgn pola hidup asrama, pun sangat sulit. Jumlah asrama pun masih minim. Lebih suka hidup "melanglang" di hutan, di pantai laut, di pinggiran sungai, dll. Ini dijumpai banyak sekali di Merauke, Boven Digul, Mappi, Pantai Kasuari, Peg Bintang, Kaymana, Nabire, dst. Kehidupan yang tidak mau sekolah, kesehatan sangat minim spt ini, menjadikan anak2 Papua juga masih sangat terikat dgn kebiasaan "ngelem", minum/mabok, makan pinang dan membuangnya sembarangan, tawuran massal/perkelahian massal, perang antar suku, hidup seks bebas ala tradisional (menyebar HIV Aids), kebiasaan mencuri juga, malas dan hanya mau minta2 sama orang, dll. Hidup dgn alat musik tifa di rumah2 adat mereka, merupakan pemandangan biasa. Sebagai contoh saja, untuk kalangan gereja katolik semisal di Asmat/Agatz belum ada satu orang pun anak asli papua yang mampu ditahbiskan jadi pastor orang asli sampai tahun 2008 ini di era abad 21 ini. Koteka masih ckp banyak ditemui di Pantai Kasuari, Wamena, Peg Bintang, Atsy, dll, yang akrab dgn kehidupan sungai2 panjang melintasi papua dan sarat dgn buaya.
Sangat banyak jumlah sub-etnis di Papua. Tahun 2008 tercatat ada sekitar 251 sub etnis/suku-suku yang berbeda bahasa, dialek dan jenis2 tari2annya di seluruh Papua. Yang menyatukan bahasa mereka, apalagi kalau bukan bahasa melayu indonesia khas papua. Seperti kata-kata: "mo pi mana", "so pi apa", dll. Secara adat dan budaya lokal, sebagian kepentingan mereka relatif terwakili lewat wadah Majelis Rakyat Papua (MRP).
Situasi umum Masyarakat Pendatang.
Paling banyak berasal dari Makassar, Jawa, Bugis, Buton, Toraja, Tual Maluku, Sulut dan akhir2 ini dari sebagian lagi Tionghoa/Cina, Bali dan Batak. Paling banyak sebagai pengusaha dari skala kecil dan sedang, birokrasi Pemda, profesional staff karyawan, polisi/tentara, aktivis LSM dan guru/pendidik. Bule2 dari Eropa dan Amerika yang datang ke papua umumnya untuk tujuan bisnis TNC/MMC, aktivis LSM dan kepentingan gereja.
Situasi umum Lingkungan.
Hutan yang menghiasi Papua, sungai pantai dan air, dari Sorong Manokwari sampai Kaymana. Dari Mimika Timika sampai Agatz. Mappi Merauke sampai Boven Digul. Jayapura sampai Keerom. Wamena sampai Peg Bintang. Nabire sampai Biak. masih boleh dikatakan lebih relatif hijau dgn seluruh garis pantai kebiru-biruan. Meski kayu gaharu semakin sulit untuk diperoleh sekarang. Hutan sedikit demi sedikit mulai tertebas. Tapi memang bila dibandingkan hutan sumatera, kalimantan dan sulawesi, papua memang belum "serusak" tiga pulau utama lainnya ini. Papua kini menjadi satu2nya pulau besar yg boleh dibilang di negeri ini yg menjadi last-ressort, benteng lingkungan terakhir, yang relatif belum terusakkan. Apakah pulau besar ini juga akan menjadi rusak lingkungan alamnya? Generasi ini yang bisa menjawabnya!
Situasi umum lainnya terkait pihak kepolisian dan TNI , yang menjaga teritorial dan keamanan dan ketertiban, tidak jauh berbeda dgn kondisi polisi dan TNI di wilayah-wilayah "luar" dan "terluar" dari Pusat Jakarta. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Mereka juga nampaknya berupaya bagaimana bisa survived. Upaya2 untuk mengcreate dan mengelola konflik baik melalui isu GPM, persoalan lintas batas semacam di wilayah Keerom dan sebelah timur Merauke (dgn Papua Nuigini) dan daerah2 konflik pedalaman lainnya, fenomena ini selalu ada. Tidak saja untuk kepentingan Pusat, kepentingan TMC/MNC, tapi terlebih juga untuk kepentingan (ekonomi) sendiri/korps sendiri.
Nah.., dari sekian informasi situasi umum yang telah saya/kami sharingkan di atas (minimal dari cara pandang kami), saya atau kami ingin sampaikan: Jika kemudian ada perbedaan pendapat, pandangan atau apa saja tentang Papua dan apa yang terjadi di Papua, -- bahkan bertolak belakang sekalipun ---, maka latar belakang situasi umum di atas ini barangkali dapat membantu sedikit dalam mengungkapkan mengapa sampai terjadi kesenjangan2 dari perbedaan tersebut.
Bisa ditelusuri apakah itu karena merosotnya faktor iman, peran signifikansi gereja yg semakin melemah, faktor pilihan kebijakan pimpinan birokrasi Pemda birokrasi pengusaha dan generasi muda, perbedaan latar belakang keilmuan, kecendrungan arah faham kapitalis atau sosialis, faktor egoisme atau kepentingan uang, faktor pelestarian lingkungan atau kesenjangan antara orang asli indegenous dan kaum pendatang.
Base camp misi pelayanan saya/kami - El Trinitas Ministry Indonesia/Lembaga Pintu Gerbang Timur Indonesia (Eastern Gate, Indonesia) sejak 2005 ada di Papua. Saya kerap beberapa kali ada dan tinggal di Papua dalam rangka misi pelayanan.
Kadang tinggal di beberapa daerah Papua sampai 4 minggu-1 bulan, tiap kali kunjungan.
Dalam interaksi kami, kami berusaha "mendengar" suara (mudah2an suara hati ya) ckp banyak elemen2 pihak-pihak yang ada di Papua sekarang.
Tujuan misi pelayanan kami adalah untuk pemberdayaan gereja, lembaga, komunitas dan masyarakat Papua ("Go East Mission") -- sesungguhnya juga untuk pemberdayaan "kantong-kantong Kekristenan" lainnya spt di Maluku, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa & Bali yang kami yakini merupakan fakta yang sudah harus dijalankan.
Papua dalam pandangan kami adalah pintu gerbang timur Indonesia sebagai pijakan penting bagi pemulihan/bangkitnya negeri ini. Pertama, bagi Papua sendiri. Kedua, bagi Indonesia tercinta.
Situasi umum (menurut pandangan kami) ttg Gereja-Gereja di Papua sendiri.
Ada gereja khususnya yg non-katolik yang masih betul2 independen thd intervensi Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Tapi tak sedikit juga gereja-gereja yang katakanlah sudah "terkooptasi" dgn kepentingan Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Terkait dgn dana tentunya. Dana Otsus Papua. Karena yg menjadi majelis pimpinan gereja2 dan "penyokong" dana gereja adalah mayoritas para birokrat Pemda, kaum profesi perusahaan/pengusaha papua. Sehingga suara gereja2 demikian ini cendrung sama suaranya dgn yang disuarakan dgn Pemerintah/Pemda dan kaum profesi perusahaan/pengusaha tmsk TNC/MNC (korporasi global) di papua. Gereja keuskupan katolik spt misalnya di Agatz, Sorong, Merauke, relatif masih lebih indenpenden di banding gereja2 yang non-katolik. Ada relatif sedikit pendeta yang tidak/belum terjun praktis dalam parpol. Tapi kian hari lebih banyak jumlah pendeta kristen dari gereja-gereja di papua yang terjun praktis aktif di parpol. Paling banyak tersebar turut politik praktis di PDI-P, Golkar, Demokrat, PDS, dst.
Situasi umum Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 di PapuaDi Jayapura, Merauke, Sorong dll secara umum relatif semakin tidak banyak menurut kami yang masih yakin terhadap peran gereja di papua untuk mampu lebih signifikan dan independen menyuarakan suara Gereja, yang niscaya berbeda dgn apa yang disuarakan oleh Pemerintah/Pemda papua dan kaum profesi/perusahaan. Secara heuristik, cukup banyak dari mereka yang memilih berpandangan Sekularis, bahkan menurut kami ckp banyak juga yang mengaku kembali kepada kepercayaan tradisional mereka - kepercayaan orang Papua kpd leluhur mereka. Sebagian lagi membangun persekutuan2 (doa) kristen sendiri di luar/di samping Gereja.
Situasi umum Pemda2 Birokrasi di Papua
Relatif sangat sibuk juga dgn pengelolaan dana otsus yg diberikan Pemerintah Pusat. Sesuai amanat SBY, penyaluran dana otsus selain disalurkan melalui birokrasi pemerintah/Pemda2, disalurkan juga melalui lembaga-lembaga keagamaan. Melalui mayoritas gereja-gereja non-katolik di wilayah Papua bgn utara, dan mayoritas lewat gereja-gereja katolik di wilayah Papua bgn selatan. Ckp besar juga dana disalurkan kpd lembaga2 islam seperti yg dilakukan di Merauke, Sorong, dll.
Situasi umum perusahaan2 TMC/MNC di Papua
Umumnya kegiatan penambangan dan ekspoitasi kayu hutan (contoh: kayu gaharu papua)terus dilakukan, spt Tangguh Project/Bintuni, Freeport/Timika, Korindo kayu Korea di Merauke, dll meskipun berbagai kritikan terus bermunculan dari pelaku2 LSM/NGO lokal, nasional yg didukung oleh LSM/NGO internasional terutama yg bergerak di bidang pemberdayaan sosial, filantropis dan pelestarian lingkungan. Program2 community development coba diterapkan oleh perusahaan TMC/MNC Papua itu. Ada yg antara lain menerapkan konsep "Enterprises Resource Development Center" (EDRC) oleh perusahaan British Petroleum di Bintuni, namun konsep itu nampaknya tidak semudah yang dipikirkan atau direncanakan. Beberapa aktivis LSM sosial-ekonomi dan social workers yang cendrung mau kooperatif - LSM/NGO pro kebijakan TMC/MNC (bukan LSM/NGO independen yg boleh disebut masih memiliki idealisme sbg LSM) coba untuk terus direkrut oleh perusahaan TMC/MNC ini. Namun, apa yang telah diretas dgn konsep sejenis EDRC ini masih saja relatif belum dapat memenuhi ekspektasi ckp banyak elemen-elemen masyarakat lokal di Papua, antara lain LSM/NGO yg tidak pro kebijakan TMC/MNC dan relatif mayoritas Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 dan masyarakat lokal indigenous di Papua.
Situasi umum Masyarakat asli Papua sendiri.
Sebagian sudah bersekolah bahkan sampai PT (spt di Uncen, Univ/sekolah2 tinggi di Merauke, Manokwari, dll), namun masih relatif sangat banyak yang belum mau bersekolah. Yang hidup dengan "meramu" (hidup primitive hanya tergantung langsung dari hutan, sungai dan pantai) masih sangat banyak bersebaran. Anak-anak asli papua untuk di asrama kan, dibiasakan dgn pola hidup asrama, pun sangat sulit. Jumlah asrama pun masih minim. Lebih suka hidup "melanglang" di hutan, di pantai laut, di pinggiran sungai, dll. Ini dijumpai banyak sekali di Merauke, Boven Digul, Mappi, Pantai Kasuari, Peg Bintang, Kaymana, Nabire, dst. Kehidupan yang tidak mau sekolah, kesehatan sangat minim spt ini, menjadikan anak2 Papua juga masih sangat terikat dgn kebiasaan "ngelem", minum/mabok, makan pinang dan membuangnya sembarangan, tawuran massal/perkelahian massal, perang antar suku, hidup seks bebas ala tradisional (menyebar HIV Aids), kebiasaan mencuri juga, malas dan hanya mau minta2 sama orang, dll. Hidup dgn alat musik tifa di rumah2 adat mereka, merupakan pemandangan biasa. Sebagai contoh saja, untuk kalangan gereja katolik semisal di Asmat/Agatz belum ada satu orang pun anak asli papua yang mampu ditahbiskan jadi pastor orang asli sampai tahun 2008 ini di era abad 21 ini. Koteka masih ckp banyak ditemui di Pantai Kasuari, Wamena, Peg Bintang, Atsy, dll, yang akrab dgn kehidupan sungai2 panjang melintasi papua dan sarat dgn buaya.
Sangat banyak jumlah sub-etnis di Papua. Tahun 2008 tercatat ada sekitar 251 sub etnis/suku-suku yang berbeda bahasa, dialek dan jenis2 tari2annya di seluruh Papua. Yang menyatukan bahasa mereka, apalagi kalau bukan bahasa melayu indonesia khas papua. Seperti kata-kata: "mo pi mana", "so pi apa", dll. Secara adat dan budaya lokal, sebagian kepentingan mereka relatif terwakili lewat wadah Majelis Rakyat Papua (MRP).
Situasi umum Masyarakat Pendatang.
Paling banyak berasal dari Makassar, Jawa, Bugis, Buton, Toraja, Tual Maluku, Sulut dan akhir2 ini dari sebagian lagi Tionghoa/Cina, Bali dan Batak. Paling banyak sebagai pengusaha dari skala kecil dan sedang, birokrasi Pemda, profesional staff karyawan, polisi/tentara, aktivis LSM dan guru/pendidik. Bule2 dari Eropa dan Amerika yang datang ke papua umumnya untuk tujuan bisnis TNC/MMC, aktivis LSM dan kepentingan gereja.
Situasi umum Lingkungan.
Hutan yang menghiasi Papua, sungai pantai dan air, dari Sorong Manokwari sampai Kaymana. Dari Mimika Timika sampai Agatz. Mappi Merauke sampai Boven Digul. Jayapura sampai Keerom. Wamena sampai Peg Bintang. Nabire sampai Biak. masih boleh dikatakan lebih relatif hijau dgn seluruh garis pantai kebiru-biruan. Meski kayu gaharu semakin sulit untuk diperoleh sekarang. Hutan sedikit demi sedikit mulai tertebas. Tapi memang bila dibandingkan hutan sumatera, kalimantan dan sulawesi, papua memang belum "serusak" tiga pulau utama lainnya ini. Papua kini menjadi satu2nya pulau besar yg boleh dibilang di negeri ini yg menjadi last-ressort, benteng lingkungan terakhir, yang relatif belum terusakkan. Apakah pulau besar ini juga akan menjadi rusak lingkungan alamnya? Generasi ini yang bisa menjawabnya!
Situasi umum lainnya terkait pihak kepolisian dan TNI , yang menjaga teritorial dan keamanan dan ketertiban, tidak jauh berbeda dgn kondisi polisi dan TNI di wilayah-wilayah "luar" dan "terluar" dari Pusat Jakarta. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Mereka juga nampaknya berupaya bagaimana bisa survived. Upaya2 untuk mengcreate dan mengelola konflik baik melalui isu GPM, persoalan lintas batas semacam di wilayah Keerom dan sebelah timur Merauke (dgn Papua Nuigini) dan daerah2 konflik pedalaman lainnya, fenomena ini selalu ada. Tidak saja untuk kepentingan Pusat, kepentingan TMC/MNC, tapi terlebih juga untuk kepentingan (ekonomi) sendiri/korps sendiri.
Nah.., dari sekian informasi situasi umum yang telah saya/kami sharingkan di atas (minimal dari cara pandang kami), saya atau kami ingin sampaikan: Jika kemudian ada perbedaan pendapat, pandangan atau apa saja tentang Papua dan apa yang terjadi di Papua, -- bahkan bertolak belakang sekalipun ---, maka latar belakang situasi umum di atas ini barangkali dapat membantu sedikit dalam mengungkapkan mengapa sampai terjadi kesenjangan2 dari perbedaan tersebut.
Bisa ditelusuri apakah itu karena merosotnya faktor iman, peran signifikansi gereja yg semakin melemah, faktor pilihan kebijakan pimpinan birokrasi Pemda birokrasi pengusaha dan generasi muda, perbedaan latar belakang keilmuan, kecendrungan arah faham kapitalis atau sosialis, faktor egoisme atau kepentingan uang, faktor pelestarian lingkungan atau kesenjangan antara orang asli indegenous dan kaum pendatang.
Thursday, February 7, 2008
Mandat Pelayanan Pemberitaan Injil dan Pengentasan Kemiskinan Sosial-Ekonomi Jemaat/Pendeta. Dapatkah keduanya dilakukan seiring sejalan?
Pertanyaan ini sering terlontar di tengah kalangan pemimpin/umat kristen. Di berbagai daerah, terutama juga di daerah-daerah terpencil, marjinal (seperti contoh bonapasogit) yang membutuhkan sekali pola kesaksian, pelayanan dan pertumbuhan gereja yang bisa makin bertumbuh berkembang semakin kuat dan sehat. Ditopang oleh berita Injil yang kuat dan kebutuhan sosial ekonomi jemaat/pendeta tercukupi.
Jawab untuk pertanyaan pertama ini untuk konteks keadaan sekarang, bisa dijawab "dapat", bisa pula "tidak dapat" atau "tergantung" .
"Dapat" jika gereja atau komunitas kristen disertai pemimpin2 dan umat kristen di dalamnya sangat menyadari dan memiliki kemampuan dalam menjaga visi, bahwa keduanya (pelayanan pemberitaan Injil dan pengentasan kemiskinan sosial ekonomi) harus dijalankan beriringan. Namun, di antara keduanya harus memiliki prioritas. Mana yang lebih utama, lebih ultimate? Pelayanan pemberitaan Injil atau kemandirian sosial-ekonomi. Sejatinya dan ini menurut penulis, bahwa antara keduanya tetap pelayanan pemberitaan Injil tetap merupakan hal yang lebih utama, bila dibandingkan dengan kemandirian di bidang sosial-ekonomi.
"Tidak dapat" jika gereja atau komunitas kristen dengan pemimpin2 dan umat kristen di dalamnya tidak pernah menyadari bahwa keduanya harus dilakukan secara berbarengan.
Hanya meyakini bahwa gereja dipanggil semata untuk pelayanan pemberitaan Injil, pelayanan rohani/spiritual. Pelayanan pengentasan sosial ekonomi warga jemaat bukanlah tugas gereja. Ketidak-sadaran mengenai hal ini bila disertai pula dengan ketidak-mampuan melakukan keduanya, menjadikan gereja atau komunitas kristen benar2 tidak dapat melakukan keduanya seiring sejalan. Lebih jauh lagi, jawabnya "sangat tidak dapat" bilamana gereja atau komunitas kristen dengan pemimpin2 dan umatnya faktanya tidak menyadari bahwa keduanya (pelayanan pemberitaan Injil dan pengentasan kemiskinan sosial ekonomi jemaat/pendeta) sangat urgen dan penting untuk dijalankan.
"Tergantung" bilamana memperhatikan sikon di mana gereja atau komunitas kristen berada. Jika gereja atau komunitas kristen berisi kalangan yang hampir semua tidak memiliki persoalan yang berarti dalam tuntutan kebutuhan sosial-ekonomi jemaat/pendeta, maka keduanya "tidak dapat" atau tepatnya "tidak perlu" keduanya dilakukan berbarengan. Cukup yang jadi perhatian adalah tugas panggilan pemberitaan Injil. Atau sebaliknya, jika gereja atau komunitas kristen selama ini telah menjalankan mandat pelayanan pemberitaan Injil dengan baik, excellent.., maka keduanya pun tidak perlu dilakukan berbarengan. Cukup lebih memberikan perhatian kepada tuntutan kebutuhan sosial ekonomi jemaat/pendeta, jika memang itu dibutuhkan.
Jika jawabnya keduanya "dapat" dilakukan berbarengan. Pertanyaan kedua, adalah bagaimana kira2 cara (the way) agar keduanya bisa dijalankan secara berbarengan secara baik dan benar agar gereja atau komunitas kristen bisa tetap bertumbuh kembang scr sehat?
Untuk menjawab pertanyaan kedua ini, nyatanya berdasar pengalaman empiris tidak dapat serta-merta. Karena mungkin membutuhkan persyaratan2, pra-syarat2.
Prasyarat pertama. Harus ada pemimpin2 gereja atau komunitas kristen yang mampu menjaga visi, agar tugas panggilan pelayanan pemberitaan Injil (di samping tugas panggilan gereja/kristen lainnya) tetap menjadi yang lebih penting dari pada aspek pengembangan sosial-ekonomi jemaat/pendeta. Tidak boleh/tidak bisa dibalik. Peran ekonomi sosial menjadi jauh lebih penting, lebih menyita perhatian dan pikiran, dari pada mengemban tugas panggilan pelayanan/pemberita an Injil dan tugas2 utama lainnya dari gereja/kekristenan.
Aspek ekonomi/sosial ekonomi adalah support. Yang utama, adalah tetap pelayanan pemberitaan Injil.
Prasyarat kedua. Pemimpin2 gereja atau komunitas kristen harus bisa mengatur dan mengelola para leaders/SDM gereja atau komunitas kristen dalam prinsip manajerial "the right man woman in the right place", mana yang memiliki talenta bakat kapasitas dan kemampuan dalam hal2 berikut:
- Lebih pantas dan cocok sebagai theolog murni.
- Lebih pantas dan cocok sebagai theolog gereja (pendeta/gembala jemaat, pelayan Injil)
- Lebih pantas dan cocok sebagai pendeta-profesional atau "tent-maker pastor", pendeta pelayan Injil yang memiliki kemampuan baik pula dalam mengelola usaha sosial ekonomi secara baik dan profesional.
- Lebih pantas dan cocok sebagai profesional (ekonom, sosiolog, akuntan, dokter hewan, insinyur, sekretaris, ahli komputer, karyawan koperasi, kontraktor, dll).
Jika seorang/kumpulan pendeta lebih pantas dan cocok sebagai theolog murni (pure theolog) atau theolog gereja atau sebut saja pendeta/gembala jemaat pelayan Injil, maka akan lebih baik tidak memaksakan keinginan diri atau dipaksakan menjadi misalnya pengurus atau pengelola sebutlah usaha menengah mikro UKM, koperasi dalam lingkungan gereja/gereja2, atau usaha bernuansa ekonomi lainnya yang berorientasi untuk generating income. Jika tetap dipaksakan, maka secara empiris faktanya hasilnya bisa tidak baik, tidak credible/accountabl e. Malah dapat mengganggu kesaksian dan pelayanan ybs sebagai tugas utama sbg theolog, pendeta/gembala jemaat dan atau pelayan pemberita Injil.
Yang terbaik untuk memungkinkan tugas kedua hal di atas dapat berjalan dengan baik dan bertanggung- jawab adalah dengan memberi kesempatan kepada mereka yang berbakat talenta kapasitas sebagai "pendeta-profesiona l" atau "tent-maker pastors" dan juga para profesional kristen (termasuk yang muda) untuk menjalankan roda usaha menengah mikro UKM, koperasi, program income-generation, model LSM volunteers lokal di lingkungan gereja/kekristenan. Mereka akan lebih memahami dan menguasai bidang pekerjaan sosial-ekonomi seperti ini, dan untuk para "pendeta-profesiona l" atau "tent-maker pastor" yang terpilih dan ditempatkan di sana, akan diharap mampu menempatkan tugas program pengentasan sosial ekonomi jemaat/pendeta ini sebagai "support" bagi tugas utama gereja/kekristenan yaitu tugas pelayanan pemberitaan Injil berikut mandat panggilan pelayanan gereja/kristen lainnya, sesuai visi misi gereja & kekristenan sejatinya.
Para profesional dan kalangan menengah kristen di kota-kota besar diluar daerah terpencil (misal di luar bonapasogit, seperti dari Jakarta, domisili global) dan kaum marjinal pun bisa dilibatkan secara intensif dalam suatu gerakan. Bukan saja dalam hal sokongan pemberian dana atau donasi - baik dalam jumlah kecil sedang atau besar - tapi terlebih dari itu bisa dimintakan sumbangan pemikiran konsep pengembangan gagasan ide2 berikut skills keahlian keterampilan2 yang dipunyai oleh mereka. Utamanya tentu yang terkait dengan bagaimana cara menumbuh-kembangkan SDM kelembagaan sosial ekonomi gerejawi/kristen, media serta keterampilan sosial ekonomi jemaat/pendeta beserta keluarganya yang membutuhkan peningkatan. Para profesional dan kelas menengah kristen ini barangkali juga bisa dilibatkan sebagai anggota koperasi, anggota LSM volunteers kristen, pengurus, pengawas, sebagai advisor pembina dlsb. "secara jarak jauh" di tingkat lokal sekalipun. Meskipun mereka tinggal di kota besar seperti Jakarta atau di mancanegara. Namun, suatu waktu bisa punya kesempatan mengunjungi lembaga2 lokal daerah2 lokal yang di sokong mereka dengan uang/donasi, waktu, keahlian atau pemikiran. Jika mereka adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan dan terbuka hati untuk menolong sesama seiman yang berkekurangan, maka mereka tentu akan sangat bersukacita bisa terlibat dan dilibatkan secara lebih aktif pro aktif dalam gerakan di tingkat lokal sekalipun. Hal ini sangat sesuai dengan spirit desentralisasi dan otonomi lokal daerah.
Prasyarat ketiga. Pertumbuhan jemaat gereja/komunitas kristen yang baik sebenarnya adalah jika secara sosial ekonomi warga jemaat gereja/komunitas kristen dapat diberdayakan serta ditingkatkan secara nyata oleh "para pemimpin2 influencers pemberdaya Kristen" disertai pertumbuhan iman kerohanian jemaat yang sehat dan berkembang. Maka sudah seharusnya sudah menjadi kenyataan bahwa kondisi ekonomi para pendeta theolog gereja gembala jemaat pelayan pemberita Injil akan meningkat pula. Tak perlu mempermasalahkan lagi persoalan tuntutan hidup, kebutuhan perut, sosial ekonomi. Sebab itulah, sebenarnya yang harus lebih banyak dibantu lebih dahulu adalah usaha-usaha mikro, UKM, dll dari warga jemaat gereja/kristen. Namun, menurut pengalaman empiris, hasilnya tak dapat dilihat secara cepat. Membutuhkan waktu dan proses. Maka dari itu, akan lebih baik, bila prasyarat ketiga ini harus dibarengi pula oleh upaya2 untuk melakukan/memenuhi prasyarat pertama dan kedua.
Nah.., jika hal-hal ini bisa diwujud-nyatakan dengan benar, maka mandat pelayanan pemberitaan Injil dan pengentasan sosial ekonomi jemaat/pendeta, niscaya akan dilakukan keduanya secara berbarengan.
Kiranya Kristus Tuhan akan menolong dan memberkati kita.
Jawab untuk pertanyaan pertama ini untuk konteks keadaan sekarang, bisa dijawab "dapat", bisa pula "tidak dapat" atau "tergantung" .
"Dapat" jika gereja atau komunitas kristen disertai pemimpin2 dan umat kristen di dalamnya sangat menyadari dan memiliki kemampuan dalam menjaga visi, bahwa keduanya (pelayanan pemberitaan Injil dan pengentasan kemiskinan sosial ekonomi) harus dijalankan beriringan. Namun, di antara keduanya harus memiliki prioritas. Mana yang lebih utama, lebih ultimate? Pelayanan pemberitaan Injil atau kemandirian sosial-ekonomi. Sejatinya dan ini menurut penulis, bahwa antara keduanya tetap pelayanan pemberitaan Injil tetap merupakan hal yang lebih utama, bila dibandingkan dengan kemandirian di bidang sosial-ekonomi.
"Tidak dapat" jika gereja atau komunitas kristen dengan pemimpin2 dan umat kristen di dalamnya tidak pernah menyadari bahwa keduanya harus dilakukan secara berbarengan.
Hanya meyakini bahwa gereja dipanggil semata untuk pelayanan pemberitaan Injil, pelayanan rohani/spiritual. Pelayanan pengentasan sosial ekonomi warga jemaat bukanlah tugas gereja. Ketidak-sadaran mengenai hal ini bila disertai pula dengan ketidak-mampuan melakukan keduanya, menjadikan gereja atau komunitas kristen benar2 tidak dapat melakukan keduanya seiring sejalan. Lebih jauh lagi, jawabnya "sangat tidak dapat" bilamana gereja atau komunitas kristen dengan pemimpin2 dan umatnya faktanya tidak menyadari bahwa keduanya (pelayanan pemberitaan Injil dan pengentasan kemiskinan sosial ekonomi jemaat/pendeta) sangat urgen dan penting untuk dijalankan.
"Tergantung" bilamana memperhatikan sikon di mana gereja atau komunitas kristen berada. Jika gereja atau komunitas kristen berisi kalangan yang hampir semua tidak memiliki persoalan yang berarti dalam tuntutan kebutuhan sosial-ekonomi jemaat/pendeta, maka keduanya "tidak dapat" atau tepatnya "tidak perlu" keduanya dilakukan berbarengan. Cukup yang jadi perhatian adalah tugas panggilan pemberitaan Injil. Atau sebaliknya, jika gereja atau komunitas kristen selama ini telah menjalankan mandat pelayanan pemberitaan Injil dengan baik, excellent.., maka keduanya pun tidak perlu dilakukan berbarengan. Cukup lebih memberikan perhatian kepada tuntutan kebutuhan sosial ekonomi jemaat/pendeta, jika memang itu dibutuhkan.
Jika jawabnya keduanya "dapat" dilakukan berbarengan. Pertanyaan kedua, adalah bagaimana kira2 cara (the way) agar keduanya bisa dijalankan secara berbarengan secara baik dan benar agar gereja atau komunitas kristen bisa tetap bertumbuh kembang scr sehat?
Untuk menjawab pertanyaan kedua ini, nyatanya berdasar pengalaman empiris tidak dapat serta-merta. Karena mungkin membutuhkan persyaratan2, pra-syarat2.
Prasyarat pertama. Harus ada pemimpin2 gereja atau komunitas kristen yang mampu menjaga visi, agar tugas panggilan pelayanan pemberitaan Injil (di samping tugas panggilan gereja/kristen lainnya) tetap menjadi yang lebih penting dari pada aspek pengembangan sosial-ekonomi jemaat/pendeta. Tidak boleh/tidak bisa dibalik. Peran ekonomi sosial menjadi jauh lebih penting, lebih menyita perhatian dan pikiran, dari pada mengemban tugas panggilan pelayanan/pemberita an Injil dan tugas2 utama lainnya dari gereja/kekristenan.
Aspek ekonomi/sosial ekonomi adalah support. Yang utama, adalah tetap pelayanan pemberitaan Injil.
Prasyarat kedua. Pemimpin2 gereja atau komunitas kristen harus bisa mengatur dan mengelola para leaders/SDM gereja atau komunitas kristen dalam prinsip manajerial "the right man woman in the right place", mana yang memiliki talenta bakat kapasitas dan kemampuan dalam hal2 berikut:
- Lebih pantas dan cocok sebagai theolog murni.
- Lebih pantas dan cocok sebagai theolog gereja (pendeta/gembala jemaat, pelayan Injil)
- Lebih pantas dan cocok sebagai pendeta-profesional atau "tent-maker pastor", pendeta pelayan Injil yang memiliki kemampuan baik pula dalam mengelola usaha sosial ekonomi secara baik dan profesional.
- Lebih pantas dan cocok sebagai profesional (ekonom, sosiolog, akuntan, dokter hewan, insinyur, sekretaris, ahli komputer, karyawan koperasi, kontraktor, dll).
Jika seorang/kumpulan pendeta lebih pantas dan cocok sebagai theolog murni (pure theolog) atau theolog gereja atau sebut saja pendeta/gembala jemaat pelayan Injil, maka akan lebih baik tidak memaksakan keinginan diri atau dipaksakan menjadi misalnya pengurus atau pengelola sebutlah usaha menengah mikro UKM, koperasi dalam lingkungan gereja/gereja2, atau usaha bernuansa ekonomi lainnya yang berorientasi untuk generating income. Jika tetap dipaksakan, maka secara empiris faktanya hasilnya bisa tidak baik, tidak credible/accountabl e. Malah dapat mengganggu kesaksian dan pelayanan ybs sebagai tugas utama sbg theolog, pendeta/gembala jemaat dan atau pelayan pemberita Injil.
Yang terbaik untuk memungkinkan tugas kedua hal di atas dapat berjalan dengan baik dan bertanggung- jawab adalah dengan memberi kesempatan kepada mereka yang berbakat talenta kapasitas sebagai "pendeta-profesiona l" atau "tent-maker pastors" dan juga para profesional kristen (termasuk yang muda) untuk menjalankan roda usaha menengah mikro UKM, koperasi, program income-generation, model LSM volunteers lokal di lingkungan gereja/kekristenan. Mereka akan lebih memahami dan menguasai bidang pekerjaan sosial-ekonomi seperti ini, dan untuk para "pendeta-profesiona l" atau "tent-maker pastor" yang terpilih dan ditempatkan di sana, akan diharap mampu menempatkan tugas program pengentasan sosial ekonomi jemaat/pendeta ini sebagai "support" bagi tugas utama gereja/kekristenan yaitu tugas pelayanan pemberitaan Injil berikut mandat panggilan pelayanan gereja/kristen lainnya, sesuai visi misi gereja & kekristenan sejatinya.
Para profesional dan kalangan menengah kristen di kota-kota besar diluar daerah terpencil (misal di luar bonapasogit, seperti dari Jakarta, domisili global) dan kaum marjinal pun bisa dilibatkan secara intensif dalam suatu gerakan. Bukan saja dalam hal sokongan pemberian dana atau donasi - baik dalam jumlah kecil sedang atau besar - tapi terlebih dari itu bisa dimintakan sumbangan pemikiran konsep pengembangan gagasan ide2 berikut skills keahlian keterampilan2 yang dipunyai oleh mereka. Utamanya tentu yang terkait dengan bagaimana cara menumbuh-kembangkan SDM kelembagaan sosial ekonomi gerejawi/kristen, media serta keterampilan sosial ekonomi jemaat/pendeta beserta keluarganya yang membutuhkan peningkatan. Para profesional dan kelas menengah kristen ini barangkali juga bisa dilibatkan sebagai anggota koperasi, anggota LSM volunteers kristen, pengurus, pengawas, sebagai advisor pembina dlsb. "secara jarak jauh" di tingkat lokal sekalipun. Meskipun mereka tinggal di kota besar seperti Jakarta atau di mancanegara. Namun, suatu waktu bisa punya kesempatan mengunjungi lembaga2 lokal daerah2 lokal yang di sokong mereka dengan uang/donasi, waktu, keahlian atau pemikiran. Jika mereka adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan dan terbuka hati untuk menolong sesama seiman yang berkekurangan, maka mereka tentu akan sangat bersukacita bisa terlibat dan dilibatkan secara lebih aktif pro aktif dalam gerakan di tingkat lokal sekalipun. Hal ini sangat sesuai dengan spirit desentralisasi dan otonomi lokal daerah.
Prasyarat ketiga. Pertumbuhan jemaat gereja/komunitas kristen yang baik sebenarnya adalah jika secara sosial ekonomi warga jemaat gereja/komunitas kristen dapat diberdayakan serta ditingkatkan secara nyata oleh "para pemimpin2 influencers pemberdaya Kristen" disertai pertumbuhan iman kerohanian jemaat yang sehat dan berkembang. Maka sudah seharusnya sudah menjadi kenyataan bahwa kondisi ekonomi para pendeta theolog gereja gembala jemaat pelayan pemberita Injil akan meningkat pula. Tak perlu mempermasalahkan lagi persoalan tuntutan hidup, kebutuhan perut, sosial ekonomi. Sebab itulah, sebenarnya yang harus lebih banyak dibantu lebih dahulu adalah usaha-usaha mikro, UKM, dll dari warga jemaat gereja/kristen. Namun, menurut pengalaman empiris, hasilnya tak dapat dilihat secara cepat. Membutuhkan waktu dan proses. Maka dari itu, akan lebih baik, bila prasyarat ketiga ini harus dibarengi pula oleh upaya2 untuk melakukan/memenuhi prasyarat pertama dan kedua.
Nah.., jika hal-hal ini bisa diwujud-nyatakan dengan benar, maka mandat pelayanan pemberitaan Injil dan pengentasan sosial ekonomi jemaat/pendeta, niscaya akan dilakukan keduanya secara berbarengan.
Kiranya Kristus Tuhan akan menolong dan memberkati kita.
Monday, January 28, 2008
Bagi Umat/Pemimpin Kristen: Pelajaran Berharga Apakah yang Dapat Diperoleh dari Sosok Kepemimpinan "Pemimpin Besar" Soeharto?
Informasi dari Transforma Sarana Media (TSM/NS-08. Jan 2008).
Bagi Kita Umat/Pemimpin Kristen di Indonesia: Pelajaran berharga sangat penting apakah yang sesungguhnya dapat kita peroleh dari Sosok Kepemimpinan "Pemimpin Besar" Soeharto?
Seperti kita sudah ketahui bersama, Pak Harto mantan presiden (presiden ke-2) Republik ini, telah wafat pada hari Minggu siang kemarin, tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta dalam usia menjelang 87
tahun. Pak Harto wafat karena gagal multiorgan setelah dirawat selama 24 hari.
Liputan media cetak dan elektronik termasuk hampir semua channel TV pusat dan lokal propinsi begitu sangat luar biasa, sejak masuknya kembali Pak Harto ke RSPP untuk dirawat intensif untuk kesekian kalinya di awal tahun 2008 ini hingga upacara persemayaman di Jl Cendana Menteng Jakarta mulai Senin pagi 28 Januari 2008, berlanjut iring-iringan ke Lanud Halim Perdanakusumah untuk kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Pak Harto di Astana Giribangun Karang Anyar Solo, Jawa Tengah pada siang itu juga.
Berbagai komentar, perbincangan, editorial, tanggapan, tulisan untuk mengenang kembali sang Jenderal Besar ini telah disampaikan oleh banyak kalangan, bukan hanya di dalam negeri namun juga sejumlah kalangan di luar negeri.
Namun, sejauh tanggapan dan komentar itu ada, bagaimana sesungguhnya pandangan ataupun komentar orang Kristen sendiri? Buat umat/pemimpin Kristen anak bangsa khususnya di Indonesia, apa kira-kira pelajaran berharga sangat penting yang bisa atau boleh dipetik dari sosok kehidupan kepemimpinan "pemimpin besar" Pak Harto itu?
Secara spontan, "thinking on my feets", saya sempat merenungkan dan membincangkannya dengan beberapa teman sejawat. Pasti akan banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik. Namun, paling tidak dari perbincangan dan perenungan kami, sedikitnya dapat dipetik empat (4) pelajaran berharga sangat penting yang barangkali berguna bagi kehidupan dan kemajuan umat/pemimpin kristen khususnya di sini. Yang lainnya, mungkin dapat Anda tambahkan.
Empat (4) pelajaran penting sangat berharga bagi umat/pemimpin kristen Indonesia anak bangsa, adalah sebagai berikut:
Hal pertama, kalau mau jujur bila kita lihat Pak Harto dalam hampir seluruh hidupnya, suka atau tidak suka, sesuai atau tidak sesuai dengan keyakinan Kristen kita, beliau begitu sangat menekuni menghidupi "agama" atau kepercayaan yang diyakininya sejak kecil, yakni kepercayaan Kejawen, kepercayaan Jawa. Manunggaling Kawula Gusti. Dari yang bercorak ritual olah kebatinan sampai praktek semedi berikut keilmuan ("ngelmu") yang bercorak kanuragan, ia sangat pahami dan kuasai. Ketaatan dan ketekunannya sangat mewujud terekspresi dalam hampir semua pola hidup dan aktivitasnya, kebijakan dan implementasi keputusan2nya sebagai Presiden selama 7 periode, 32 tahun. Ketokohannya di berbagai bidang hidup termasuk di berbagai yayasan2 yang ia pimpin, semua "diwarnai" dengan filosofi, gaya, nilai2 dan keyakinan "iman" yang dipercayainya. Pak Harto tidak hanya menekankan urgen pentingnya aspek spritualitas terkait olah kebatinan Kejawen yang diimaninya, namun ia juga dengan sangat seksama begitu peduli terhadap bidang kehidupan lainnya (ipoleksosbud hankamrata) terkait dengan wawasan budaya dan kepercayaan Kejawennya.
Meskipun kontradiktip, apa yang bisa kita pelajari? Dari contoh ini, secara positip dalam konteks Kristen sebenarnya umat/pemimpin Kristen atau pemimpin yang berlatar belakang kristen di negeri ini, harusnya dapat belajar.. meneladani bahwa menjadi orang Kristen, sudah saatnya tidak hanya sekadar berlabel agama Kristen atau ber-KTP Kristen belaka. Atau jika sudah menjadi Kristen, seyogianya tidak hanya menekankan aspek kebenaran rohani semata. Tapi dalam kuasa kasihNya mampu menekuni dan menghidupi seluruh kebenaran Injil Kristus sesuai Firman Allah/Alkitab dalam seluruh aspek kehidupan. Tak hanya di tingkat theologis atau filosofis, namun juga di tingkat praksis-implementatip seluruh lapangan kehidupan. Kebenaran Injil harusnya dipraktekkan secara konsisten oleh umat/pemimpin Kristen di negeri ini.
Kedua, sebagai orang Jawa tulen dan sebagai seorang mantan jenderal militer Pak Harto sangat kental bahkan terkesan terlalu kental dengan keJawaannya, kesukuannya. Itu baik-baik saja. Demikian juga Pak Harto sangat militan bahkan terkesan terlalu militan malahan dalam gaya kepemimpinannya. Kedua hal ini di tambah dengan latar belakang "agama" kepercayaan Kejawennya tadi, telah lambat laun membentuk karakter berikut pola kepemimpinannya yang bertambah-tambah semakin otoriter. Makin lama makin otoriter, kuasa sepertinya tak berbatas. Mungkin di bawah kesadarannya, lantas cendrung memiliki image diri kepemimpinan kenegarawanan yang begitu kuat serasa layaknya seorang "raja" (raja jawa), komandan besar dan pandito ratu (pendeta tertinggi dalam sebuah "agama" kepercayaan) . Efeknya tidak dapat dan tidak boleh dibantah oleh siapapun. Jangankan pengikut, yang oposan dalam pendapat pun tidak boleh membantah. Di bawah naluri kesadaran pula, ia telah menjalankan "hukum besi" (bahkan hukum baja :)] ala Machiavelli, yang menganggap Indonesia yang besar begini..faktanya terdiri dari beratus suku dan beribu pulau, ..mungkin dikesankannya semata berisikan rakyat etnik Jawa dan hanya terdiri satu pulau yang bernama Pulau Jawa saja. Kepemimpinan dengan gaya dan pola hukum besi, otoritarian seperti ini, tentu menghasilkan banyak pengikut loyalis khususnya di tingkat elite dan "pembisik" dan "orang dekat", namun sekaligus juga tentu menghasilkan para pengikut sekaligus para penjilat pengkhianat yang bisa keji. Di samping banyak korban2 "pembangunan" berjatuhan, yang merasa tersakiti laten, tertindas, terjepit dan tertinggal. Pemaksaan kehendak, kekerasan, otoriter, serba-sentralistik, corak "one-man show" serta "main gebuk" entah dalam balutan wajah halus (dengan senyum, smiling) maupun wajah angker pembantu dan pengawal, senyata-nyatanya dalam kehidupan nyatanya malah tidak membuat pengikut orang-orang yang dipimpin dan para oposan/pengkritisi, bertumbuh kembang dewasa secara awet dan sehat.
Hal ini tentu memberi pelajaran khususnya bagi pemimpin dan umat Kristen Indonesia, bahwa atribut kesukuan/etnis setulen apa pun(entah sebagai orang suku Papua, Maluku, Jawa, Batak, Nias, Toraja, Manado, Sangir, Sumba, Alor, Timor, Dayak, etnis Tionghoa dst) atau atribut lain yang membentuknya misalnya sebagai latar belakang theolog, pendeta, militer, polisi, pengusaha, birokrat, BUMN, aktivis LSM, guru, profesional, hakim/jaksa/ pengacara dan bidang profesi/talenta apa saja, tidak boleh serta merta membuat orang Kristen bila menjadi pemimpin penatua gembala diaken atau jenis-jenis kepemimpinan lainnya di semua sektor kehidupan dengan jalan memberlakukan "hukum besi" (hukum baja) ala Machiavelli dan "sentral etnik lokal sendiri" jika sudah menjadi stateman/negarawan berwawasan nasionalis. Gaya dan pola kepemimpinan Kristen yang tidak boleh dibantah, tidak mau mendengar atau dikritisi oleh siapapun, sangat tidak pas! Sebab esensi yang sesungguhnya dari kepemimpinan yang baik dan benar di semua lini kehidupan, adalah seperti yang dikatakan Yesus: Menjadi pelayan bagi semua berdasarkan kebenaran, keadilan dan kasih. "Learn to be the servant of all". Itulah corak kepemimpinan terbaik yang pernah ditunjukkan Yesus di dunia ini dan kita yakini akan dilakukanNya di dunia yang akan datang, kala Ia akan kelak datang kembali ke dunia ini bukan sebagai bayi atau baby lagi; tapi sebagai Raja dan Hakim yang Agung. Jika ini yang diterapkan umat/pemimpin Kristen, maka nuansa dan pola seperti ini pasti akan membuahkan pertumbuhan, perkembangan dan pendewasaan yang semakin penuh dari sehari ke sehari, meski pun mungkin membutuhkan banyak waktu, tenaga, pemikiran dan biaya. Sebaliknya, jika sekali ambisi kekuasaan, haus kekayaan materi dan hanya mementingkan suara kita yang ingin didengar ketimbang mau mendengar. Maka hawa nafsani ini (keinginan daging) yang cendrung hanya "ingin menang sendiri", "mau benarnya sendiri", tanpa pemahaman kebenaran hakiki dan utuh yang akan muncul, maka sejak saat itu "urapan", pengaruh dan kepemimpin bisa dipastikan makin terkikis habis, lalu ya jatuh runtuh.. semua berbagai atribut kekuasaan, kejayaan, kemuliaan, popularitas dan kehormatan. Tuhan yang mengambilnya. Bisa lewat umat. Bisa lewat komunitas, masyarakat. Lewat alam pun bisa.
Ketiga, Pak Harto selama kepemimpinannya yang sangat panjang itu (7 periode).., meski pun memiliki wawasan utuh selayaknya wawasan nusantara (ipoleksosbud) , cendrung sangat menekankan bahkan malah terkesan ekstrim.. hanya pada tok..satu bidang pembangunan. Apalagi kalau bukan bidang pembangunan ekonomi. Itulah yang dimulainya sejak memegang tampuk kepemimpinan. Tidak salah, memang. Namun kebablasan. Segalanya jadi demi kepentingan pembangunan ekonomi. Yang lain cendrung menjadi abai. Soal keadilan, moral, demokrasi, character building, penegakan HAM, kemajemukan bangsa, kemandirian terkait utang LN, dll. Akibat dari penekanan hanya pada satu bidang pembangunan atau "pelayanan", membuat seluruh tatanan kehidupan bangsa tumbuh tidak beraturan, "peot" lonjong dan timpang di sana-sini. Ini menjadi semacam "keretakan" fondasional landasan bangunan sekaligus menjadi "bom-waktu" yang pada waktunya akan roboh dan meledak hancur berkeping-keping. Sepuluh tahun terakhir sejak reformasi bergulir, hal ini masih begitu dirasakan. Untuk membangun kembali fondasi negara yang hampir hancur berikut akibat dari "bom-waktu" yang meledak berkali-kali, sungguh tidaklah gampang.
Pelajaran berharga apa yang diperoleh umat kristen/pemimpin kristen? Dari hal ini kita dapat penting betapa pentingnya melakukan perencanaan dan implementasi secara utuh, holistik sekaligus kritis. Hasilnya pun pasti akan utuh. Guna menghasilkan buah pertumbuhan dan perkembangan yang baik dari umat yang dilayani/dipimpinny a, tidak cukup dan sangat tidak bijak hanya melulu menekankan pada satu bidang atau sektor hidup semata dari yang dikuasai, dalam menjalankan pekerjaan pelayanan atau pemberdayaan umat. Memang spesialiasi di mana-mana perlu, juga skills menetapkan skala prioritas. Namun hal ini jangan berarti umat/pemimpin kristen tidak membutuhkan cara pandang atau profesi lain dalam menjalankan kepemimpinannya. Atau membuat mereka menjadi "sub-ordinate", "sub-supreme". Sangat tidak baik hasilnya. Nah, ini berarti umat/pemimpin semestinya jangan melulu "rigid", kaku.. dalam setiap mewacanakan, merencana dan atau mengimplementasikan sesuatu. Tidak jaman lagi musti mutlak-mutlakan. Apalagi sikap selalu ingin menang-menangan berdasar ego talenta, ego perspektif dan ego sektoral. Tidak melulu sekarang musti pakai satu cara pandang sektoral semata, bak orang memakai kacamata kuda. "Live only in one single box". Sangat penting dewasa ini mempertimbangkan keutuhan, dinamika, sinkronisasi wawasan dan perkembangan kebutuhan yang selalu berubah variatif. Double perspektif bahkan multi perspektif. Theologi, politik, budaya, sosiologi, seni, kreativitas, etc. Seperti seseorang pemahat yang memahat pola tubuh manusia. Tentu dia tak hanya memperhatikan pola pahatan di sekitar "perut". Namun pemahat juga perlu memberi perhatian kepada perkembangan pahatan di bagian "raut muka, wajah, kepala, tangan, dada, kaki, jari, leher, kuku" dst. Jika pemimpin dan umat Kristen memiliki wawasan dan keterampilan membaca situasi seperti seorang pemahat itu. Yang berwawasan makin lengkap dan tidak melulu mengikuti ego-sektoral berikut latar belakang talenta/profesinya saja, maka dipastikan makin lengkaplah kualitas dan kuantitas seluruh aspek pertumbuhan dan kedewasaan umat/masyarakat yang dilayani atau dipimpinnya menuju penggenapan kehendak Allah.
Yang terakhir: keempat, sebagai bapak rumah tangga, pemimpin keluarga. Pak Harto dikenal sebagai pribadi yang sangat mengasihi isterinya dan sangat sayang kepada putera-puterinya. Juga adiknya. Namun, kita semua mengetahui bahwa dari situasi dan kondisi kiprah anak-anak keluarga Pak Harto dan adiknya(keluarga Cendana), banyak diketahui umum tidak memberikan contoh buah kesaksian yang baik dan benar. Anak yang kawin-cerai, menjadi buron dan masuk penjara, tersangkut narkoba, terlibat perjudian, menjalankan praktek bisnis dan perusahaan yang tidak etis, dll. Sangat disayangkan dan menjadi keprihatinan yang sangat dalam jika melihat keadaan/kesaksian anak dan cucu dari Pak Harto. Yang telah menjadi boomerang kerusakan seluruh integritas yang telah dibangun sangat lama oleh Pak Harto.
Pelajaran yang berharga bagi seluruh pemimpin dan umat Kristen khususnya di Indonesia, adalah bagaimanapun keluarga dan kesaksian keluarga/rumah tangga menjadi cermin yang sangat penting dan krusial. Janganlah sekali-kali kasih dan sayang orang/pemimpin Kristen kepada isteri/suami, anak, cucu, abang/adik dst, malah menjadi boomerang merusak seluruh sisi dan integritas kehidupan. Kasih dan sayang orang tua atau kakek/nenek yang tidak berlandaskan kebenaran, kesucian, edukasi, moral dan keadilan. Yang akibatnya berakhir dengan pertengkaran, berantakan, dan kehancuran! Buat apa kita memperoleh kehebatan, kekuasaan absolut, kekayaan (material) sampai berbukit bahkan menggunung-gunung dengan berbagai tanda kehormatan yang diperoleh, namun salah satu pilar inti dari kehidupan itu sendiri yaitu keluarga menjadi hancur luluh lantak berantakan.
So, dari keempat hal ini setidaknya mudah-mudahan menjadi poin pembelajaran berharga dan sangat penting dari sosok kepemimpinan Pak Harto. Semoga para umat Kristen pemimpin Kristen khususnya di negeri ini dapat mengambil makna/signifikansi yang makin dalam sekaligus mencerah. Mari dengan menengok masa lalu, kita bisa makin konsolidatif hari ini dan menatap ke depan. Pembelajaran baik di aras publik, hingga aras terkecil: aras pribadi dan keluarga.
Semoga melalui sosok Pak Harto dan dengan kepergian/wafatnya Pak Harto, akan mendatangkan era babakan baru bagi anak bangsa generasi pelanjut, terutama kemunculan kalangan umat/kristen pemimpin baru dan dibaharui dari anak bangsa di negeri tercinta ini.
May God guide His people and Indonesia!
Bagi Kita Umat/Pemimpin Kristen di Indonesia: Pelajaran berharga sangat penting apakah yang sesungguhnya dapat kita peroleh dari Sosok Kepemimpinan "Pemimpin Besar" Soeharto?
Seperti kita sudah ketahui bersama, Pak Harto mantan presiden (presiden ke-2) Republik ini, telah wafat pada hari Minggu siang kemarin, tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta dalam usia menjelang 87
tahun. Pak Harto wafat karena gagal multiorgan setelah dirawat selama 24 hari.
Liputan media cetak dan elektronik termasuk hampir semua channel TV pusat dan lokal propinsi begitu sangat luar biasa, sejak masuknya kembali Pak Harto ke RSPP untuk dirawat intensif untuk kesekian kalinya di awal tahun 2008 ini hingga upacara persemayaman di Jl Cendana Menteng Jakarta mulai Senin pagi 28 Januari 2008, berlanjut iring-iringan ke Lanud Halim Perdanakusumah untuk kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Pak Harto di Astana Giribangun Karang Anyar Solo, Jawa Tengah pada siang itu juga.
Berbagai komentar, perbincangan, editorial, tanggapan, tulisan untuk mengenang kembali sang Jenderal Besar ini telah disampaikan oleh banyak kalangan, bukan hanya di dalam negeri namun juga sejumlah kalangan di luar negeri.
Namun, sejauh tanggapan dan komentar itu ada, bagaimana sesungguhnya pandangan ataupun komentar orang Kristen sendiri? Buat umat/pemimpin Kristen anak bangsa khususnya di Indonesia, apa kira-kira pelajaran berharga sangat penting yang bisa atau boleh dipetik dari sosok kehidupan kepemimpinan "pemimpin besar" Pak Harto itu?
Secara spontan, "thinking on my feets", saya sempat merenungkan dan membincangkannya dengan beberapa teman sejawat. Pasti akan banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik. Namun, paling tidak dari perbincangan dan perenungan kami, sedikitnya dapat dipetik empat (4) pelajaran berharga sangat penting yang barangkali berguna bagi kehidupan dan kemajuan umat/pemimpin kristen khususnya di sini. Yang lainnya, mungkin dapat Anda tambahkan.
Empat (4) pelajaran penting sangat berharga bagi umat/pemimpin kristen Indonesia anak bangsa, adalah sebagai berikut:
Hal pertama, kalau mau jujur bila kita lihat Pak Harto dalam hampir seluruh hidupnya, suka atau tidak suka, sesuai atau tidak sesuai dengan keyakinan Kristen kita, beliau begitu sangat menekuni menghidupi "agama" atau kepercayaan yang diyakininya sejak kecil, yakni kepercayaan Kejawen, kepercayaan Jawa. Manunggaling Kawula Gusti. Dari yang bercorak ritual olah kebatinan sampai praktek semedi berikut keilmuan ("ngelmu") yang bercorak kanuragan, ia sangat pahami dan kuasai. Ketaatan dan ketekunannya sangat mewujud terekspresi dalam hampir semua pola hidup dan aktivitasnya, kebijakan dan implementasi keputusan2nya sebagai Presiden selama 7 periode, 32 tahun. Ketokohannya di berbagai bidang hidup termasuk di berbagai yayasan2 yang ia pimpin, semua "diwarnai" dengan filosofi, gaya, nilai2 dan keyakinan "iman" yang dipercayainya. Pak Harto tidak hanya menekankan urgen pentingnya aspek spritualitas terkait olah kebatinan Kejawen yang diimaninya, namun ia juga dengan sangat seksama begitu peduli terhadap bidang kehidupan lainnya (ipoleksosbud hankamrata) terkait dengan wawasan budaya dan kepercayaan Kejawennya.
Meskipun kontradiktip, apa yang bisa kita pelajari? Dari contoh ini, secara positip dalam konteks Kristen sebenarnya umat/pemimpin Kristen atau pemimpin yang berlatar belakang kristen di negeri ini, harusnya dapat belajar.. meneladani bahwa menjadi orang Kristen, sudah saatnya tidak hanya sekadar berlabel agama Kristen atau ber-KTP Kristen belaka. Atau jika sudah menjadi Kristen, seyogianya tidak hanya menekankan aspek kebenaran rohani semata. Tapi dalam kuasa kasihNya mampu menekuni dan menghidupi seluruh kebenaran Injil Kristus sesuai Firman Allah/Alkitab dalam seluruh aspek kehidupan. Tak hanya di tingkat theologis atau filosofis, namun juga di tingkat praksis-implementatip seluruh lapangan kehidupan. Kebenaran Injil harusnya dipraktekkan secara konsisten oleh umat/pemimpin Kristen di negeri ini.
Kedua, sebagai orang Jawa tulen dan sebagai seorang mantan jenderal militer Pak Harto sangat kental bahkan terkesan terlalu kental dengan keJawaannya, kesukuannya. Itu baik-baik saja. Demikian juga Pak Harto sangat militan bahkan terkesan terlalu militan malahan dalam gaya kepemimpinannya. Kedua hal ini di tambah dengan latar belakang "agama" kepercayaan Kejawennya tadi, telah lambat laun membentuk karakter berikut pola kepemimpinannya yang bertambah-tambah semakin otoriter. Makin lama makin otoriter, kuasa sepertinya tak berbatas. Mungkin di bawah kesadarannya, lantas cendrung memiliki image diri kepemimpinan kenegarawanan yang begitu kuat serasa layaknya seorang "raja" (raja jawa), komandan besar dan pandito ratu (pendeta tertinggi dalam sebuah "agama" kepercayaan) . Efeknya tidak dapat dan tidak boleh dibantah oleh siapapun. Jangankan pengikut, yang oposan dalam pendapat pun tidak boleh membantah. Di bawah naluri kesadaran pula, ia telah menjalankan "hukum besi" (bahkan hukum baja :)] ala Machiavelli, yang menganggap Indonesia yang besar begini..faktanya terdiri dari beratus suku dan beribu pulau, ..mungkin dikesankannya semata berisikan rakyat etnik Jawa dan hanya terdiri satu pulau yang bernama Pulau Jawa saja. Kepemimpinan dengan gaya dan pola hukum besi, otoritarian seperti ini, tentu menghasilkan banyak pengikut loyalis khususnya di tingkat elite dan "pembisik" dan "orang dekat", namun sekaligus juga tentu menghasilkan para pengikut sekaligus para penjilat pengkhianat yang bisa keji. Di samping banyak korban2 "pembangunan" berjatuhan, yang merasa tersakiti laten, tertindas, terjepit dan tertinggal. Pemaksaan kehendak, kekerasan, otoriter, serba-sentralistik, corak "one-man show" serta "main gebuk" entah dalam balutan wajah halus (dengan senyum, smiling) maupun wajah angker pembantu dan pengawal, senyata-nyatanya dalam kehidupan nyatanya malah tidak membuat pengikut orang-orang yang dipimpin dan para oposan/pengkritisi, bertumbuh kembang dewasa secara awet dan sehat.
Hal ini tentu memberi pelajaran khususnya bagi pemimpin dan umat Kristen Indonesia, bahwa atribut kesukuan/etnis setulen apa pun(entah sebagai orang suku Papua, Maluku, Jawa, Batak, Nias, Toraja, Manado, Sangir, Sumba, Alor, Timor, Dayak, etnis Tionghoa dst) atau atribut lain yang membentuknya misalnya sebagai latar belakang theolog, pendeta, militer, polisi, pengusaha, birokrat, BUMN, aktivis LSM, guru, profesional, hakim/jaksa/ pengacara dan bidang profesi/talenta apa saja, tidak boleh serta merta membuat orang Kristen bila menjadi pemimpin penatua gembala diaken atau jenis-jenis kepemimpinan lainnya di semua sektor kehidupan dengan jalan memberlakukan "hukum besi" (hukum baja) ala Machiavelli dan "sentral etnik lokal sendiri" jika sudah menjadi stateman/negarawan berwawasan nasionalis. Gaya dan pola kepemimpinan Kristen yang tidak boleh dibantah, tidak mau mendengar atau dikritisi oleh siapapun, sangat tidak pas! Sebab esensi yang sesungguhnya dari kepemimpinan yang baik dan benar di semua lini kehidupan, adalah seperti yang dikatakan Yesus: Menjadi pelayan bagi semua berdasarkan kebenaran, keadilan dan kasih. "Learn to be the servant of all". Itulah corak kepemimpinan terbaik yang pernah ditunjukkan Yesus di dunia ini dan kita yakini akan dilakukanNya di dunia yang akan datang, kala Ia akan kelak datang kembali ke dunia ini bukan sebagai bayi atau baby lagi; tapi sebagai Raja dan Hakim yang Agung. Jika ini yang diterapkan umat/pemimpin Kristen, maka nuansa dan pola seperti ini pasti akan membuahkan pertumbuhan, perkembangan dan pendewasaan yang semakin penuh dari sehari ke sehari, meski pun mungkin membutuhkan banyak waktu, tenaga, pemikiran dan biaya. Sebaliknya, jika sekali ambisi kekuasaan, haus kekayaan materi dan hanya mementingkan suara kita yang ingin didengar ketimbang mau mendengar. Maka hawa nafsani ini (keinginan daging) yang cendrung hanya "ingin menang sendiri", "mau benarnya sendiri", tanpa pemahaman kebenaran hakiki dan utuh yang akan muncul, maka sejak saat itu "urapan", pengaruh dan kepemimpin bisa dipastikan makin terkikis habis, lalu ya jatuh runtuh.. semua berbagai atribut kekuasaan, kejayaan, kemuliaan, popularitas dan kehormatan. Tuhan yang mengambilnya. Bisa lewat umat. Bisa lewat komunitas, masyarakat. Lewat alam pun bisa.
Ketiga, Pak Harto selama kepemimpinannya yang sangat panjang itu (7 periode).., meski pun memiliki wawasan utuh selayaknya wawasan nusantara (ipoleksosbud) , cendrung sangat menekankan bahkan malah terkesan ekstrim.. hanya pada tok..satu bidang pembangunan. Apalagi kalau bukan bidang pembangunan ekonomi. Itulah yang dimulainya sejak memegang tampuk kepemimpinan. Tidak salah, memang. Namun kebablasan. Segalanya jadi demi kepentingan pembangunan ekonomi. Yang lain cendrung menjadi abai. Soal keadilan, moral, demokrasi, character building, penegakan HAM, kemajemukan bangsa, kemandirian terkait utang LN, dll. Akibat dari penekanan hanya pada satu bidang pembangunan atau "pelayanan", membuat seluruh tatanan kehidupan bangsa tumbuh tidak beraturan, "peot" lonjong dan timpang di sana-sini. Ini menjadi semacam "keretakan" fondasional landasan bangunan sekaligus menjadi "bom-waktu" yang pada waktunya akan roboh dan meledak hancur berkeping-keping. Sepuluh tahun terakhir sejak reformasi bergulir, hal ini masih begitu dirasakan. Untuk membangun kembali fondasi negara yang hampir hancur berikut akibat dari "bom-waktu" yang meledak berkali-kali, sungguh tidaklah gampang.
Pelajaran berharga apa yang diperoleh umat kristen/pemimpin kristen? Dari hal ini kita dapat penting betapa pentingnya melakukan perencanaan dan implementasi secara utuh, holistik sekaligus kritis. Hasilnya pun pasti akan utuh. Guna menghasilkan buah pertumbuhan dan perkembangan yang baik dari umat yang dilayani/dipimpinny a, tidak cukup dan sangat tidak bijak hanya melulu menekankan pada satu bidang atau sektor hidup semata dari yang dikuasai, dalam menjalankan pekerjaan pelayanan atau pemberdayaan umat. Memang spesialiasi di mana-mana perlu, juga skills menetapkan skala prioritas. Namun hal ini jangan berarti umat/pemimpin kristen tidak membutuhkan cara pandang atau profesi lain dalam menjalankan kepemimpinannya. Atau membuat mereka menjadi "sub-ordinate", "sub-supreme". Sangat tidak baik hasilnya. Nah, ini berarti umat/pemimpin semestinya jangan melulu "rigid", kaku.. dalam setiap mewacanakan, merencana dan atau mengimplementasikan sesuatu. Tidak jaman lagi musti mutlak-mutlakan. Apalagi sikap selalu ingin menang-menangan berdasar ego talenta, ego perspektif dan ego sektoral. Tidak melulu sekarang musti pakai satu cara pandang sektoral semata, bak orang memakai kacamata kuda. "Live only in one single box". Sangat penting dewasa ini mempertimbangkan keutuhan, dinamika, sinkronisasi wawasan dan perkembangan kebutuhan yang selalu berubah variatif. Double perspektif bahkan multi perspektif. Theologi, politik, budaya, sosiologi, seni, kreativitas, etc. Seperti seseorang pemahat yang memahat pola tubuh manusia. Tentu dia tak hanya memperhatikan pola pahatan di sekitar "perut". Namun pemahat juga perlu memberi perhatian kepada perkembangan pahatan di bagian "raut muka, wajah, kepala, tangan, dada, kaki, jari, leher, kuku" dst. Jika pemimpin dan umat Kristen memiliki wawasan dan keterampilan membaca situasi seperti seorang pemahat itu. Yang berwawasan makin lengkap dan tidak melulu mengikuti ego-sektoral berikut latar belakang talenta/profesinya saja, maka dipastikan makin lengkaplah kualitas dan kuantitas seluruh aspek pertumbuhan dan kedewasaan umat/masyarakat yang dilayani atau dipimpinnya menuju penggenapan kehendak Allah.
Yang terakhir: keempat, sebagai bapak rumah tangga, pemimpin keluarga. Pak Harto dikenal sebagai pribadi yang sangat mengasihi isterinya dan sangat sayang kepada putera-puterinya. Juga adiknya. Namun, kita semua mengetahui bahwa dari situasi dan kondisi kiprah anak-anak keluarga Pak Harto dan adiknya(keluarga Cendana), banyak diketahui umum tidak memberikan contoh buah kesaksian yang baik dan benar. Anak yang kawin-cerai, menjadi buron dan masuk penjara, tersangkut narkoba, terlibat perjudian, menjalankan praktek bisnis dan perusahaan yang tidak etis, dll. Sangat disayangkan dan menjadi keprihatinan yang sangat dalam jika melihat keadaan/kesaksian anak dan cucu dari Pak Harto. Yang telah menjadi boomerang kerusakan seluruh integritas yang telah dibangun sangat lama oleh Pak Harto.
Pelajaran yang berharga bagi seluruh pemimpin dan umat Kristen khususnya di Indonesia, adalah bagaimanapun keluarga dan kesaksian keluarga/rumah tangga menjadi cermin yang sangat penting dan krusial. Janganlah sekali-kali kasih dan sayang orang/pemimpin Kristen kepada isteri/suami, anak, cucu, abang/adik dst, malah menjadi boomerang merusak seluruh sisi dan integritas kehidupan. Kasih dan sayang orang tua atau kakek/nenek yang tidak berlandaskan kebenaran, kesucian, edukasi, moral dan keadilan. Yang akibatnya berakhir dengan pertengkaran, berantakan, dan kehancuran! Buat apa kita memperoleh kehebatan, kekuasaan absolut, kekayaan (material) sampai berbukit bahkan menggunung-gunung dengan berbagai tanda kehormatan yang diperoleh, namun salah satu pilar inti dari kehidupan itu sendiri yaitu keluarga menjadi hancur luluh lantak berantakan.
So, dari keempat hal ini setidaknya mudah-mudahan menjadi poin pembelajaran berharga dan sangat penting dari sosok kepemimpinan Pak Harto. Semoga para umat Kristen pemimpin Kristen khususnya di negeri ini dapat mengambil makna/signifikansi yang makin dalam sekaligus mencerah. Mari dengan menengok masa lalu, kita bisa makin konsolidatif hari ini dan menatap ke depan. Pembelajaran baik di aras publik, hingga aras terkecil: aras pribadi dan keluarga.
Semoga melalui sosok Pak Harto dan dengan kepergian/wafatnya Pak Harto, akan mendatangkan era babakan baru bagi anak bangsa generasi pelanjut, terutama kemunculan kalangan umat/kristen pemimpin baru dan dibaharui dari anak bangsa di negeri tercinta ini.
May God guide His people and Indonesia!
Wednesday, January 9, 2008
Inspirasi Nilai2 Utama: dari peluncuran buku baru seorang CEO "Beyond Batak" Indonesia.
Kemarin (8 Jan 2008) saya diundang hadir pada acara peluncuran buku baru seorang putera Batak kelahiran Siantar, CEO/Dirut Jiwasraya, aktivis gereja/kristen bro Herris B. Simanjuntak, 58 tahun di Financial Hall Room (2nd floor), Graha Niaga Sudirman, Jakarta. Seorang "beyond Batak" istilah dari penulis etos kerja Jansen Sinamo yang turut hadir, dengan seabreg gelar akademik dan profesi. Bukunya berjudul: "CEO Messages, 40 Nilai Kiat Sukses Perusahaan Unggul" (2008). Berangkat bukan saja dari teori, tapi dari pengalaman ybs selama puluhan tahun bergumul dalam perusahaan swasta dan bumn seperti Jasindo, Allianz dan Jiwasraya.
Menurut saya ke-40 nilai utama (core values) yang disodorkan bpk Herris bak "ensiklopedia nilai-nilai" , seperti nilai bersyukur, eksekusi, kepercayaan. ., kesederhanaan, penguasaan diri.., tanggung jawab dan spiritualitas, dll tidak ada satupun yang bertentangan dengan nilai kekristenan, biblical values. Namun, seperti yang disampaikannya bagaimana sekarang menginternalisasi ke-40 nilai utama terkait budaya orang Indonesia, perusahaan Indonesia pada umumnya, itulah yang menjadi masalah yang tidak gampang. Dari penelusuran saya terhadap buku ini, nyatanya memang sangat sedikit nama-nama orang Indonesia yang dikutip Bro Herris, ketimbang nama-nama beken dari dunia pertama (western).
Bahasan cukup menarik. Disitu ada hadir bro Adler Manurung pakar investasi & UKM, ada Eileen Rachman direktur Experd Consulting, Dr Budi W Soetjipto direktur LMFE UI dan masih banyak pakar-pakar lain termasuk halak kita, orang batak. Namun karena waktu yang sangat terbatas, bahasan menurut saya tidak bisa sampai menyentuh ke "kedalaman". Intinya, yang diinginkan adalah Indonesia tidak mau hanya jadi manusia kolektor nilai-nilai luhur, adi luhung semata.., sejak jaman Bung Karno sampai penataran P4, namun bagaimana sekarang harus bisa mengimplementasikan nilai2 utama spiritualitas tersebut sampai di aras sosial dan lingkungan. Kekhawatiran memang sempat muncul dari Dr Budi W Soetjipto dari UI terkait adanya hasil riset bahwa 'semakin spiritual seseorang atau satu kelompok/komunitas di negeri ini.., kecendrungan untuk melakukan pelanggaran baik di bidang etika, moral hukum dan keadilan, malah semakin besar. Pertanyaan baliknya, spiritual atau model beragama yang bagaimana yang dilakoni oleh Indonesia? Harus diperjuangkan terjadinya perubahaan riel: lakon gaya spiritual beragama yang sehat di masa ini.
Perubahan, adjustment transformatif budaya di Indonesia sudah jadi kebutuhan mendesak. Hakekat spiritualitas (keberagamaan) yang benar menjadi tuntutan masyarakat masa kini. Bukan saja budaya materialisme, dll yang harus diperangi. Tapi juga budaya munafik dan ketidak-tegasan ketidak terus-terangan dalam mengambil putusan dan pilihan.
Potret kemunafikan dan ketidak-tegasan "wajah Indonesia" sebenarnya telah sangat baik dipaparkan A. Slamet Widodo, penulis sastra kerakyatan seorang katolik asal Surakarta dalam buku-buku kumpulan puisi/sastra kerakyatannya seperti "Bernafas dalam Resesi" (2005) dan "Selingkuh" (2007).
Pilihan untuk melakukan perubahan menuju penerapa nilai2 utama (cultural change) sebenarnya cukup banyak. Mulai dari yang bercorak agresif (pemaksaan, 'kekerasan), konsiliatif cara damai tak dramatis, korosif (taktik dan proses politik) atau lewat cara indoktrintatif (pendidikan dan pelatihan) seperti yang terdapat di buku karangan bpk Herris ini. Tapi yang jadi pertanyaan 'bottom-line' nya, adalah mau tidaknya kita pada detik ini untuk berubah?
Mau melakukan perubahan. Memimpin perubahan!
Menurut saya ke-40 nilai utama (core values) yang disodorkan bpk Herris bak "ensiklopedia nilai-nilai" , seperti nilai bersyukur, eksekusi, kepercayaan. ., kesederhanaan, penguasaan diri.., tanggung jawab dan spiritualitas, dll tidak ada satupun yang bertentangan dengan nilai kekristenan, biblical values. Namun, seperti yang disampaikannya bagaimana sekarang menginternalisasi ke-40 nilai utama terkait budaya orang Indonesia, perusahaan Indonesia pada umumnya, itulah yang menjadi masalah yang tidak gampang. Dari penelusuran saya terhadap buku ini, nyatanya memang sangat sedikit nama-nama orang Indonesia yang dikutip Bro Herris, ketimbang nama-nama beken dari dunia pertama (western).
Bahasan cukup menarik. Disitu ada hadir bro Adler Manurung pakar investasi & UKM, ada Eileen Rachman direktur Experd Consulting, Dr Budi W Soetjipto direktur LMFE UI dan masih banyak pakar-pakar lain termasuk halak kita, orang batak. Namun karena waktu yang sangat terbatas, bahasan menurut saya tidak bisa sampai menyentuh ke "kedalaman". Intinya, yang diinginkan adalah Indonesia tidak mau hanya jadi manusia kolektor nilai-nilai luhur, adi luhung semata.., sejak jaman Bung Karno sampai penataran P4, namun bagaimana sekarang harus bisa mengimplementasikan nilai2 utama spiritualitas tersebut sampai di aras sosial dan lingkungan. Kekhawatiran memang sempat muncul dari Dr Budi W Soetjipto dari UI terkait adanya hasil riset bahwa 'semakin spiritual seseorang atau satu kelompok/komunitas di negeri ini.., kecendrungan untuk melakukan pelanggaran baik di bidang etika, moral hukum dan keadilan, malah semakin besar. Pertanyaan baliknya, spiritual atau model beragama yang bagaimana yang dilakoni oleh Indonesia? Harus diperjuangkan terjadinya perubahaan riel: lakon gaya spiritual beragama yang sehat di masa ini.
Perubahan, adjustment transformatif budaya di Indonesia sudah jadi kebutuhan mendesak. Hakekat spiritualitas (keberagamaan) yang benar menjadi tuntutan masyarakat masa kini. Bukan saja budaya materialisme, dll yang harus diperangi. Tapi juga budaya munafik dan ketidak-tegasan ketidak terus-terangan dalam mengambil putusan dan pilihan.
Potret kemunafikan dan ketidak-tegasan "wajah Indonesia" sebenarnya telah sangat baik dipaparkan A. Slamet Widodo, penulis sastra kerakyatan seorang katolik asal Surakarta dalam buku-buku kumpulan puisi/sastra kerakyatannya seperti "Bernafas dalam Resesi" (2005) dan "Selingkuh" (2007).
Pilihan untuk melakukan perubahan menuju penerapa nilai2 utama (cultural change) sebenarnya cukup banyak. Mulai dari yang bercorak agresif (pemaksaan, 'kekerasan), konsiliatif cara damai tak dramatis, korosif (taktik dan proses politik) atau lewat cara indoktrintatif (pendidikan dan pelatihan) seperti yang terdapat di buku karangan bpk Herris ini. Tapi yang jadi pertanyaan 'bottom-line' nya, adalah mau tidaknya kita pada detik ini untuk berubah?
Mau melakukan perubahan. Memimpin perubahan!
Sunday, January 6, 2008
Antara Tuntutan Hidup dan Panggilan Hidup. Bagaimana Menyikapinya?
Informasi dari Transforma Sarana Media (TSM/NW-12 edisi Jan 2008).
Antara Tuntutan Hidup dan Panggilan Hidup: Bagaimana Menyikapinya?
Quo Vadis Hidup Kehidupan Umat Kristen Anak Bangsa di Indonesia??
Banyak orang kristen di Indonesia dewasa ini yang telah mengalami anugerah karya keselamatan Allah dalam hidup mereka, dibaharui di dalam Dia, mengalami pergumulan yang sangat tidak mudah dalam menyikapi dua hal ini: Antara memenuhi tuntutan hidup dan atau panggilan hidup.
Hal Tuntutan Hidup.
Tuntutan hidup terkait berbagai upaya yang dilakukan umat kristen anak bangsa di Indonesia dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bagi diri sendiri dan keluarga. Terkait utamanya kepada permasalahan ekonomi. Tuntutan mencari uang (making money, generating income). Situasi perekonomian yang semakin sulit konteks Indonesia (tantangan resesi), membuat orang Indonesia termasuk orang kristen anak bangsa makin sukar menyiasati masalah keuangannya. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga saja sudah sulit, apalagi untuk memikirkan orang lain terkait dengan keuangan. Maka sering muncul di kalangan masyarakat termasuk orang kristen istilah-istilah di sekitar gaya hidup, seperti: "Lebih besar pasak dari tiang" (lebih besar pengeluaran sehari-hari, dari pada pendapatan). Ada banyak anekdot lain yang diketahui tentang hal ini.
Hal Panggilan Hidup, Visi Hidup.
Panggilan hidup, visi hidup terkait pada apa yang menjadi panggilan tugas dari seorang Kristen. Intinya panggilan untuk menjadi terang bagi bangsa, bagi sekitar. Menjadi garam dan terang dunia. Dalam konteks gereja, singkatnya bagaimana merealisasi panggilan tugas persekutuan (koinonia), diakonia (pelayanan) dan marturia (kesaksian, penginjilan). Di mana dalam menjalankan panggilan tugas ini, yang sangat dibutuhkan bukan saja yang terkait dengan bidang doa, theologia dan daya (SDM, ketrampilan, pemikiran) namun juga hal dana atau sokongan keuangan. Untuk yang terakhir ini, kristen yang telah mengalami anugerah Allah semestinya turut mendukung menyokong gereja, pekerjaan Tuhan dan sesama yang betul-betul membutuhkan dengan sokongan materi (uang). Baik itu lewat kolekte, persembahan, dana pembangunan gereja, dana misi, perpuluhan atau apapun namanya. Dan itu semua terkait dengan materi (uang). Hal yang menjadi persoalan yang menjadi pertanyaan dan pergumulan banyak jemaat, umat kristen pemimpin kristen, adalah bagaimana bisa menjalankan tugas panggilan hidup, visi hidup, menyokong tugas panggilan gereja/kekristenan. Sedangkan, untuk memenuhi tuntutan hidup kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah semakin tidak sanggup.
Kekurangan/kemiskinan materi dan pengaruhnya. Kemiskinan (ketidak-cukupan) materi, kemiskinan ekonomi yang banyak melanda orang kristen, keluarga-keluarga kristen khsusnya indigenous (pribumi) di Indonesia mengakibatkan jiwa mentalitas menjadi terganggu. Ada perasaan takut, minder rendah diri, tidak confidence dalam membina hubungan relasi. Relasi dengan tetangga, keluarga besar sanak-famili, dengan gereja dan rupa-rupa pelayanan persekutuan kristen dan pergaulan sosial lainnya di tengah masyarakat.
Arus budaya dewasa ini yang demikian besar mengancam!
Budaya konsumtif, konsumerisme, hedonis dan individualisme yang melanda Indonesia terutama karena pengaruh ekses negatif neo-kapitalisme korporatokrasi dan globalisasi a.l melalui iklan2 televisi dan media, maraknya mal-mal dan gaya hidup perkotaan kota besar, senyatanya telah membuat banyak rumah-tangga kristen dewasa ini mengalami banyak persoalan hidup serta pilihan pelik dalam keluarga, relasi suami-isteri, orang tua-anak, relasi dengan mertua/famili dlsb. Di sisi lain budaya materialisme yang sangat terasa dalam kehidupan komunal tradisi adat kekerabatan, mengakibatkan banyak rumah tangga kristen semakin terlilit berbagai permasalahan hidup.
Budaya konsumtif, konsumerisme, hedonis, individualisme (kepentingan diri, selfish, egoisme) dan materialisme seperti ini tidak tanggung-tanggung juga telah sangat mempengaruhi kehidupan gereja, persekutuan dan komunitas kristen. Banyak gereja seakan tidak sanggup lagi membendung arus besar dan deras budaya seperti ini. Sendi-sendi spiritual gereja semakin tergerus dan tergeroroti. Seakan arus kuat tuntutan budaya ini menjadi jauh lebih penting dan urgen dibandingkan segi kebenaran dan ajaran firman Tuhan, segi doa, puasa, ibadah berikut disiplin rohani lainnya. Melihat kondisi ini, sangat miris melihat kehidupan kebanyakan gereja dewasa ini khususnya di Indonesia. Hal ini bukan saja tampak di kota besar seperti Jakarta,
Jika saja kehidupan orang kristen, rumah tangga kristen secara agregat kolektif di negeri ini, tidak mengalami situasi kondisi riel miskin materi (keterpurukan ekonomi) atau hanya 'merasa' saja miskin materi (tidak pernah merasa cukup-cukup dalam hal materi), pasti kencangnya arus budaya seperti di atas, tidak harus menjadi masalah. Akan relatif lebih mudah mengikutinya. Namun, yang jadi masalah dan telah menjadi masalah pelik, apabila kristen banyak rumah-tangga kristen tidak bisa mengikutinya. Tidak bisa memenuhinya, walau sebenarnya barangkali mungkin saja ada keinginan untuk mengikuti "arus besar" ini. Maka hal ini akan menjadi semacam "bom waktu" yang sewaktu-waktu bisa meledak keluar dalam bentuk pelbagai pelampiasan dan perbuatan daging, perbuatan dosa di kala tak sanggup menahannya. Hasrat hati ingin dan rindu hidup bahagia (happiness), berkecukupan (prosperity, wealth) dan sehat (health), namun faktanya 'jauh dari panggang dari api'. Hidup berkekurangan. Pelampiasannya agar 'seakan' mampu mencapai hidup bahagia dan secara mental bisa 'senang', adalah keniscayaan melakukan tindak kriminalitas (mencuri, korupsi, memeras, pungli premanisme, menerima sogok, dsb) berikut penyimpangan-penyimpangan lainnya termasuk di bidang seksual: fedofilia, perselingkuhan, pemerkosaan, free-sex, homosexual, dll).
Kristen anak bangsa: hidup dalam zona aman atau zona tidak aman?
Umat kristen rumah tangga kristen anak bangsa yang berada dalam zona aman (meski prosentase jumlahnya di Indonesia faktanya relatif kecil) mungkin tidak akan banyak mengalami pergumulan keseharian seperti itu. Tapi, tidak demikian bagi mereka yang berada di zona tidak aman, 'zona rawan'. Di bawah ambang kecukupan materi ekonomi. Sudah bukan rahasia lagi, menurut berbagai penelusuran yang telah banyak dilakukan, justru lebih banyak prosentase jumlah kristen rumah tangga kristen yang mengalami masalah pelik seperti ini. Terutama adalah kristen rumah tangga kristen anak bangsa (indigenous) yang penulis jumpai tinggal di kota besar seperti Jakarta & Pulau Jawa; kota desa pegunungan dan pesisir Papua, Sumatera, Nias, Kalimantan maupun di NTT, Maluku atau banyak daerah di Sulawesi. Dari banyak penelitian, justru daerah-daerah kelurahan kecamatan kabupaten yang mayoritas penduduknya adalah umat kristen anak bangsa (indegenous) adalah merupakan daerah/kelurahan/kabupaten paling minus dan paling miskin secara ekonomi di seluruh Indonesia (data bisa dilihat pada data Susenas & BPS terakhir). Komunitas Christian_t-poor pernah memunculkan persoalan ini, terutama yang terjadi di NTT.
PR besar bagi umat pemimimpin influencer kristen indigenous lokal dan nasional.
Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemimpin-pemimpin dan influencers Kristen, baik pemimpin lokal maupun pemimpin nasional kristen, agar bagaimana menjawab tantangan pergumulan permasalahan pelik yang dialami banyak orang kristen rumah-tangga kristen terutama yang masyarakat indigenous di Indonesia. Menyikapi antara pentingnya memenuhi panggilan hidup, sekaligus bisa memenuhi tuntutan hidup sehari-hari (masalah "perut", mentalitas ekonomi).
Jangankan untuk mendorong orang kristen rumah-tangga kristen umat kristen pelayan kristen pendeta kristen secara agregat/kolektif untuk melihat keluar berpikir keluar. "Inside out" untuk berkontribusi bagi bangsa, bagi negara, bagi tugas panggilan hidup visi gereja dan kekristenan (koinonia, diakonia, penginjilan dan menjadi terang bagi bangsa). Untuk menyelesaikan persoalan intern, "outside in" di dalam saja menyangkut tuntutan hidup sehari-hari (keperluan ekonomi individu, keluarga, sanak-famili, gereja lokal) saja sudah sangat sulit.
Bagaimana Menyikapinya?
Menjadi suatu yang urgen menyikapi pergumulan besar: antara tuntutan hidup dan panggilan hidup. Sangat diperlukan saat ini!
Secara perspektif rohani, untuk menyikapi hal ini, pertama bisa dilakukan melalui pembinaan pengajaran mengenai pentingnya aktivasi iman. Pembinaan yang disampaikan lewat seminar, pembinaan iman, mimbar di gereja, persekutuan atau komunitas. Kedua, melalui pengajaran tentang pentingnya sikap selalu mengucap syukur dan 'menerima segala keadaan yang ada sejak masa lalu hingga sekarang' dalam kekurangan-kekurangan (termasuk hal materi). Ketiga, lewat pengajaran tentang 'hal memberi, mempersembahkan sesuatu' agar diberi diberkati oleh Tuhan. Berilah maka kamu akan diberi.
Namun, hal keempat, hal selanjutnya yang harus dilakukan guna menyikapi persoalan antara tuntutan hidup dan panggilan hidup adalah mengenai pentingnya secara bersama, secara kolektif, para anak Tuhan umat Kristen anak bangsa di Indonesia, dalam anugerah hikmat bijaksana Tuhan, duduk menyusun strategi bersama. Suatu "grand design" (strategi besar) bersama dari umat kristen pemimpin kristen baik lokal, daerah dan nasional, melakukan upaya transformasi besar secara sinkron di dalam tatanan pelayanan, organisasi, gereja, pendidikan dan kemasyarakatan kristen anak bangsa secara holistik. Transformasi rohani, sekaligus dibarengi dengan transformasi paradigma, sosial, ekonomi dan lingkungan.
Terus terang, ini membutuhkan bentuk kesadaran bersama. Resolusi bersama dari seluruh umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia bersama-sama dengan yang ada di luar negeri, untuk tidak lagi berpikir sempit hanya sebatas kepentingan gereja lokal (denominasi)nya sendiri, organisasinya sendiri atau komunitas ikatan primordialnya sendiri. Selama umat kristen pemimpin kristen di Indonesia masih berkutat hanya pada masalahnya sendiri kepentingannya sendiri, maka permasalahan besar yang dihadapi umat kristen di Indonesia secara keseluruhan tidak akan dapat terpecahkan, mendapat solusi strategis terobosannya yang pas dan efektif.
Sekarang, berapa banyak jumlah umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia baik lokal maupun nasional, dan juga di mana pun secara global, yang masih memiliki kesadaran dan tekad bersama untuk menyikapi antara tuntutan hidup dan panggilan hidup secara sosiologis korporat?? Seberapa banyak dari umat pemimpin kristen anak bangsa sendiri yang bersedia melepas atribut "kesementaraan", kepentingan sebatas individual diri sendiri, kedudukan atribut formal dan image-image lainnya. Demi tugas tanggung-jawab bersama yang lebih besar bagi perbaikan dan kebaikan seluruh umat kristen anak bangsa negeri ini?
Hanya umat kristen pemimpin kristen anak bangsa (indegenous) yang bisa menolong dirinya sendiri!
Ini menjadi pernyataan sekaligus tanda tanya besar bagi kita bersama terutama umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia dan di mana pun. Hanya mereka yang bisa menjawab. Karena hanya umat kristen pemimpin kristen anak bangsa sendiri yang dapat mengangkat harkat martabat kesejahteraan dari diri umat masyarakat kristen indegenousnya sendiri. Kita tidak bisa hanya ingin terus menerus sekedar meminta mengharapkan uluran bantuan pertolongan belas kasihan dari umat lainnya, hanya dari para donor, atau bahkan dari Pemerintah. Atau juga sekadar bantuan dan uluran tangan dari umat lainnya, umat beragama lain atau bangsa lain.
Satu keyakinan percaya kita. Jika hidup/kehidupan: kualitas dan jumlah umat kristen indegenous/anak bangsa secara agregat kolektif di Indonesia dapat diperbaiki, di samping tentu hal kedewasaan pendewasaan rohani namun juga perihal perbaikan ekonomi dan segi mentalitas, profesionalisme, keahlian entrepreneurial disertai integritas, dll(terkait persoalan tuntutan hidup dan panggilan hidup visi hidup). Maka meski pun jumlah prosentase umat kristen di Indonesia relatif kecil tidak besar -- diperkirakan besarnya lk. 10-12% --, maka bukan suatu yang mustahil atau musykil, sumbangsih umat kristen pemimpin kristen indegenous anak bangsa di Indonesia dan di mana pun akan sangat sangat besar bagi perbaikan peri kehidupan seluruh masyarakat bangsa dan negara Indonesia juga bisa diperbaiki dan dibangkitkan. Menjadi suatu bangsa yang terhormat, bermartabat dan lebih sejahtera di berbagai bidang kehidupan.
Kita meski yakin bahwa Tuhan pasti akan terus menolong dan memelihara kita: memberkati setiap upaya kita!
Meski kita tau dan menyadari, jalan untuk meretas kepada hal ini sangat tidak mudah. Mengingat pergumulan dan tantangan lain yang tidak kecil -- sangat sangat besar ---, sebut saja bahaya radikalisme agama internasional(terutama di kalangan Islam dan juga Kristen), terorisme dan budaya kekerasan, pluralisme agama, kejahatan trans nasional, dll. Kita masih meyakini serta percaya bahwa Tuhan Semesta Alam di dalam Kristus Yesus dan bimbingan perlindungan RohNya, dapat memampukan dan memberkati upaya kita bersama, --umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia --- untuk mengalami perbaikan-perbaikan yang signifikan khususnya di bidang spiritual (rohani) dan ekonomi sejak hari ini dan untuk masa-masa yang akan datang.
Maka melalui tulisan ini, berikutnya sangat dibutuhkan bersifat "segera": ide-ide konvergensi, masukan, saran doa, dukungan serta gagasan pemikiran solutif yang lugas tegas riel sekaligus transformasional dari kita sekalian, yang masih menyebut sebagai kristen indegenous anak bangsa Indonesia di mana pun.
Kiranya Kristus Tuhan tetap menolong kita dan mencerahkan hati dan pikiran kita bersama. Terpujilah Tuhan!!
Antara Tuntutan Hidup dan Panggilan Hidup: Bagaimana Menyikapinya?
Quo Vadis Hidup Kehidupan Umat Kristen Anak Bangsa di Indonesia??
Banyak orang kristen di Indonesia dewasa ini yang telah mengalami anugerah karya keselamatan Allah dalam hidup mereka, dibaharui di dalam Dia, mengalami pergumulan yang sangat tidak mudah dalam menyikapi dua hal ini: Antara memenuhi tuntutan hidup dan atau panggilan hidup.
Hal Tuntutan Hidup.
Tuntutan hidup terkait berbagai upaya yang dilakukan umat kristen anak bangsa di Indonesia dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bagi diri sendiri dan keluarga. Terkait utamanya kepada permasalahan ekonomi. Tuntutan mencari uang (making money, generating income). Situasi perekonomian yang semakin sulit konteks Indonesia (tantangan resesi), membuat orang Indonesia termasuk orang kristen anak bangsa makin sukar menyiasati masalah keuangannya. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga saja sudah sulit, apalagi untuk memikirkan orang lain terkait dengan keuangan. Maka sering muncul di kalangan masyarakat termasuk orang kristen istilah-istilah di sekitar gaya hidup, seperti: "Lebih besar pasak dari tiang" (lebih besar pengeluaran sehari-hari, dari pada pendapatan). Ada banyak anekdot lain yang diketahui tentang hal ini.
Hal Panggilan Hidup, Visi Hidup.
Panggilan hidup, visi hidup terkait pada apa yang menjadi panggilan tugas dari seorang Kristen. Intinya panggilan untuk menjadi terang bagi bangsa, bagi sekitar. Menjadi garam dan terang dunia. Dalam konteks gereja, singkatnya bagaimana merealisasi panggilan tugas persekutuan (koinonia), diakonia (pelayanan) dan marturia (kesaksian, penginjilan). Di mana dalam menjalankan panggilan tugas ini, yang sangat dibutuhkan bukan saja yang terkait dengan bidang doa, theologia dan daya (SDM, ketrampilan, pemikiran) namun juga hal dana atau sokongan keuangan. Untuk yang terakhir ini, kristen yang telah mengalami anugerah Allah semestinya turut mendukung menyokong gereja, pekerjaan Tuhan dan sesama yang betul-betul membutuhkan dengan sokongan materi (uang). Baik itu lewat kolekte, persembahan, dana pembangunan gereja, dana misi, perpuluhan atau apapun namanya. Dan itu semua terkait dengan materi (uang). Hal yang menjadi persoalan yang menjadi pertanyaan dan pergumulan banyak jemaat, umat kristen pemimpin kristen, adalah bagaimana bisa menjalankan tugas panggilan hidup, visi hidup, menyokong tugas panggilan gereja/kekristenan. Sedangkan, untuk memenuhi tuntutan hidup kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah semakin tidak sanggup.
Kekurangan/kemiskinan materi dan pengaruhnya. Kemiskinan (ketidak-cukupan) materi, kemiskinan ekonomi yang banyak melanda orang kristen, keluarga-keluarga kristen khsusnya indigenous (pribumi) di Indonesia mengakibatkan jiwa mentalitas menjadi terganggu. Ada perasaan takut, minder rendah diri, tidak confidence dalam membina hubungan relasi. Relasi dengan tetangga, keluarga besar sanak-famili, dengan gereja dan rupa-rupa pelayanan persekutuan kristen dan pergaulan sosial lainnya di tengah masyarakat.
Arus budaya dewasa ini yang demikian besar mengancam!
Budaya konsumtif, konsumerisme, hedonis dan individualisme yang melanda Indonesia terutama karena pengaruh ekses negatif neo-kapitalisme korporatokrasi dan globalisasi a.l melalui iklan2 televisi dan media, maraknya mal-mal dan gaya hidup perkotaan kota besar, senyatanya telah membuat banyak rumah-tangga kristen dewasa ini mengalami banyak persoalan hidup serta pilihan pelik dalam keluarga, relasi suami-isteri, orang tua-anak, relasi dengan mertua/famili dlsb. Di sisi lain budaya materialisme yang sangat terasa dalam kehidupan komunal tradisi adat kekerabatan, mengakibatkan banyak rumah tangga kristen semakin terlilit berbagai permasalahan hidup.
Budaya konsumtif, konsumerisme, hedonis, individualisme (kepentingan diri, selfish, egoisme) dan materialisme seperti ini tidak tanggung-tanggung juga telah sangat mempengaruhi kehidupan gereja, persekutuan dan komunitas kristen. Banyak gereja seakan tidak sanggup lagi membendung arus besar dan deras budaya seperti ini. Sendi-sendi spiritual gereja semakin tergerus dan tergeroroti. Seakan arus kuat tuntutan budaya ini menjadi jauh lebih penting dan urgen dibandingkan segi kebenaran dan ajaran firman Tuhan, segi doa, puasa, ibadah berikut disiplin rohani lainnya. Melihat kondisi ini, sangat miris melihat kehidupan kebanyakan gereja dewasa ini khususnya di Indonesia. Hal ini bukan saja tampak di kota besar seperti Jakarta,
Jika saja kehidupan orang kristen, rumah tangga kristen secara agregat kolektif di negeri ini, tidak mengalami situasi kondisi riel miskin materi (keterpurukan ekonomi) atau hanya 'merasa' saja miskin materi (tidak pernah merasa cukup-cukup dalam hal materi), pasti kencangnya arus budaya seperti di atas, tidak harus menjadi masalah. Akan relatif lebih mudah mengikutinya. Namun, yang jadi masalah dan telah menjadi masalah pelik, apabila kristen banyak rumah-tangga kristen tidak bisa mengikutinya. Tidak bisa memenuhinya, walau sebenarnya barangkali mungkin saja ada keinginan untuk mengikuti "arus besar" ini. Maka hal ini akan menjadi semacam "bom waktu" yang sewaktu-waktu bisa meledak keluar dalam bentuk pelbagai pelampiasan dan perbuatan daging, perbuatan dosa di kala tak sanggup menahannya. Hasrat hati ingin dan rindu hidup bahagia (happiness), berkecukupan (prosperity, wealth) dan sehat (health), namun faktanya 'jauh dari panggang dari api'. Hidup berkekurangan. Pelampiasannya agar 'seakan' mampu mencapai hidup bahagia dan secara mental bisa 'senang', adalah keniscayaan melakukan tindak kriminalitas (mencuri, korupsi, memeras, pungli premanisme, menerima sogok, dsb) berikut penyimpangan-penyimpangan lainnya termasuk di bidang seksual: fedofilia, perselingkuhan, pemerkosaan, free-sex, homosexual, dll).
Kristen anak bangsa: hidup dalam zona aman atau zona tidak aman?
Umat kristen rumah tangga kristen anak bangsa yang berada dalam zona aman (meski prosentase jumlahnya di Indonesia faktanya relatif kecil) mungkin tidak akan banyak mengalami pergumulan keseharian seperti itu. Tapi, tidak demikian bagi mereka yang berada di zona tidak aman, 'zona rawan'. Di bawah ambang kecukupan materi ekonomi. Sudah bukan rahasia lagi, menurut berbagai penelusuran yang telah banyak dilakukan, justru lebih banyak prosentase jumlah kristen rumah tangga kristen yang mengalami masalah pelik seperti ini. Terutama adalah kristen rumah tangga kristen anak bangsa (indigenous) yang penulis jumpai tinggal di kota besar seperti Jakarta & Pulau Jawa; kota desa pegunungan dan pesisir Papua, Sumatera, Nias, Kalimantan maupun di NTT, Maluku atau banyak daerah di Sulawesi. Dari banyak penelitian, justru daerah-daerah kelurahan kecamatan kabupaten yang mayoritas penduduknya adalah umat kristen anak bangsa (indegenous) adalah merupakan daerah/kelurahan/kabupaten paling minus dan paling miskin secara ekonomi di seluruh Indonesia (data bisa dilihat pada data Susenas & BPS terakhir). Komunitas Christian_t-poor pernah memunculkan persoalan ini, terutama yang terjadi di NTT.
PR besar bagi umat pemimimpin influencer kristen indigenous lokal dan nasional.
Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemimpin-pemimpin dan influencers Kristen, baik pemimpin lokal maupun pemimpin nasional kristen, agar bagaimana menjawab tantangan pergumulan permasalahan pelik yang dialami banyak orang kristen rumah-tangga kristen terutama yang masyarakat indigenous di Indonesia. Menyikapi antara pentingnya memenuhi panggilan hidup, sekaligus bisa memenuhi tuntutan hidup sehari-hari (masalah "perut", mentalitas ekonomi).
Jangankan untuk mendorong orang kristen rumah-tangga kristen umat kristen pelayan kristen pendeta kristen secara agregat/kolektif untuk melihat keluar berpikir keluar. "Inside out" untuk berkontribusi bagi bangsa, bagi negara, bagi tugas panggilan hidup visi gereja dan kekristenan (koinonia, diakonia, penginjilan dan menjadi terang bagi bangsa). Untuk menyelesaikan persoalan intern, "outside in" di dalam saja menyangkut tuntutan hidup sehari-hari (keperluan ekonomi individu, keluarga, sanak-famili, gereja lokal) saja sudah sangat sulit.
Bagaimana Menyikapinya?
Menjadi suatu yang urgen menyikapi pergumulan besar: antara tuntutan hidup dan panggilan hidup. Sangat diperlukan saat ini!
Secara perspektif rohani, untuk menyikapi hal ini, pertama bisa dilakukan melalui pembinaan pengajaran mengenai pentingnya aktivasi iman. Pembinaan yang disampaikan lewat seminar, pembinaan iman, mimbar di gereja, persekutuan atau komunitas. Kedua, melalui pengajaran tentang pentingnya sikap selalu mengucap syukur dan 'menerima segala keadaan yang ada sejak masa lalu hingga sekarang' dalam kekurangan-kekurangan (termasuk hal materi). Ketiga, lewat pengajaran tentang 'hal memberi, mempersembahkan sesuatu' agar diberi diberkati oleh Tuhan. Berilah maka kamu akan diberi.
Namun, hal keempat, hal selanjutnya yang harus dilakukan guna menyikapi persoalan antara tuntutan hidup dan panggilan hidup adalah mengenai pentingnya secara bersama, secara kolektif, para anak Tuhan umat Kristen anak bangsa di Indonesia, dalam anugerah hikmat bijaksana Tuhan, duduk menyusun strategi bersama. Suatu "grand design" (strategi besar) bersama dari umat kristen pemimpin kristen baik lokal, daerah dan nasional, melakukan upaya transformasi besar secara sinkron di dalam tatanan pelayanan, organisasi, gereja, pendidikan dan kemasyarakatan kristen anak bangsa secara holistik. Transformasi rohani, sekaligus dibarengi dengan transformasi paradigma, sosial, ekonomi dan lingkungan.
Terus terang, ini membutuhkan bentuk kesadaran bersama. Resolusi bersama dari seluruh umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia bersama-sama dengan yang ada di luar negeri, untuk tidak lagi berpikir sempit hanya sebatas kepentingan gereja lokal (denominasi)nya sendiri, organisasinya sendiri atau komunitas ikatan primordialnya sendiri. Selama umat kristen pemimpin kristen di Indonesia masih berkutat hanya pada masalahnya sendiri kepentingannya sendiri, maka permasalahan besar yang dihadapi umat kristen di Indonesia secara keseluruhan tidak akan dapat terpecahkan, mendapat solusi strategis terobosannya yang pas dan efektif.
Sekarang, berapa banyak jumlah umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia baik lokal maupun nasional, dan juga di mana pun secara global, yang masih memiliki kesadaran dan tekad bersama untuk menyikapi antara tuntutan hidup dan panggilan hidup secara sosiologis korporat?? Seberapa banyak dari umat pemimpin kristen anak bangsa sendiri yang bersedia melepas atribut "kesementaraan", kepentingan sebatas individual diri sendiri, kedudukan atribut formal dan image-image lainnya. Demi tugas tanggung-jawab bersama yang lebih besar bagi perbaikan dan kebaikan seluruh umat kristen anak bangsa negeri ini?
Hanya umat kristen pemimpin kristen anak bangsa (indegenous) yang bisa menolong dirinya sendiri!
Ini menjadi pernyataan sekaligus tanda tanya besar bagi kita bersama terutama umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia dan di mana pun. Hanya mereka yang bisa menjawab. Karena hanya umat kristen pemimpin kristen anak bangsa sendiri yang dapat mengangkat harkat martabat kesejahteraan dari diri umat masyarakat kristen indegenousnya sendiri. Kita tidak bisa hanya ingin terus menerus sekedar meminta mengharapkan uluran bantuan pertolongan belas kasihan dari umat lainnya, hanya dari para donor, atau bahkan dari Pemerintah. Atau juga sekadar bantuan dan uluran tangan dari umat lainnya, umat beragama lain atau bangsa lain.
Satu keyakinan percaya kita. Jika hidup/kehidupan: kualitas dan jumlah umat kristen indegenous/anak bangsa secara agregat kolektif di Indonesia dapat diperbaiki, di samping tentu hal kedewasaan pendewasaan rohani namun juga perihal perbaikan ekonomi dan segi mentalitas, profesionalisme, keahlian entrepreneurial disertai integritas, dll(terkait persoalan tuntutan hidup dan panggilan hidup visi hidup). Maka meski pun jumlah prosentase umat kristen di Indonesia relatif kecil tidak besar -- diperkirakan besarnya lk. 10-12% --, maka bukan suatu yang mustahil atau musykil, sumbangsih umat kristen pemimpin kristen indegenous anak bangsa di Indonesia dan di mana pun akan sangat sangat besar bagi perbaikan peri kehidupan seluruh masyarakat bangsa dan negara Indonesia juga bisa diperbaiki dan dibangkitkan. Menjadi suatu bangsa yang terhormat, bermartabat dan lebih sejahtera di berbagai bidang kehidupan.
Kita meski yakin bahwa Tuhan pasti akan terus menolong dan memelihara kita: memberkati setiap upaya kita!
Meski kita tau dan menyadari, jalan untuk meretas kepada hal ini sangat tidak mudah. Mengingat pergumulan dan tantangan lain yang tidak kecil -- sangat sangat besar ---, sebut saja bahaya radikalisme agama internasional(terutama di kalangan Islam dan juga Kristen), terorisme dan budaya kekerasan, pluralisme agama, kejahatan trans nasional, dll. Kita masih meyakini serta percaya bahwa Tuhan Semesta Alam di dalam Kristus Yesus dan bimbingan perlindungan RohNya, dapat memampukan dan memberkati upaya kita bersama, --umat kristen pemimpin kristen anak bangsa di Indonesia --- untuk mengalami perbaikan-perbaikan yang signifikan khususnya di bidang spiritual (rohani) dan ekonomi sejak hari ini dan untuk masa-masa yang akan datang.
Maka melalui tulisan ini, berikutnya sangat dibutuhkan bersifat "segera": ide-ide konvergensi, masukan, saran doa, dukungan serta gagasan pemikiran solutif yang lugas tegas riel sekaligus transformasional dari kita sekalian, yang masih menyebut sebagai kristen indegenous anak bangsa Indonesia di mana pun.
Kiranya Kristus Tuhan tetap menolong kita dan mencerahkan hati dan pikiran kita bersama. Terpujilah Tuhan!!
Tuesday, January 1, 2008
Artikel Visi Provisi Perbaikan Indonesia: Sambut Tahun Baru 2008.
Dari informasi Transforma Sarana Media (TSM/BN-09), 1 Januari 2008.
"Konteks Indonesia indigenous: "Orang-orang para pemimpin dulu yang diperbaiki dipulihkan 'disembuhkan' , ataukah sistem, sistem-sistem internal dulu, sekaitan maraknya perkembangan pengaruh lingkungan eksternal?"
Visi provisi bersama: "Menuju kemajuan, kebaikan dan kesejahteraan seutuhnya bagi seluruh suku-suku bangsa, 'suku-suku' golongan, etnis, bangsa dan negara Indonesia, untuk akhirnya menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain".
Pertanyaan yang mungkin masih terus menggelayut dalam hati sanubari kalbu tiap suku-suku bangsa indigenous Indonesia, tiap bangsa Indonesia atau yang masih 'merasa' Indonesia hingga kini. Kenapa bangsa dan negara Indonesia, orang Indonesia, suku-suku bangsa indigenous di Indonesia serta berbagai etnis keturunan lainnya (Arab, Cina, India, Melanesia dll) sukar sekali maju, berkembang, hidup dalam cinta kasih persatuan dan kesatuan saling menghargai dan respek ?? Belum mampu untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, di belahan dunia lainnya secara kolektif ?
Pertanyaan ini seharusnya mampu 'menohok' langsung diri orang-orang: para pemimpin dan umat Kristen indigenous termasuk saya, dan orang-orang kristen etnis keturunan lainnya yang 'masih merasa' Indonesia di seluruh tumpuan bumi persada negeri ini maupun di sebrang lautan. Menjadi 'titik berangkat' yang urgen dan utama bagi kesamaan (alignment, spooring) cara pandang, visi dan provisi untuk perbaikan kualitas suku-suku bangsa dan bangsa tercinta.
Faktor utama penyebabnya jika mau dirunut dalam kesederhanaan berpikir, mungkin bisa kita sama-sama kategorikan ke dalam 3 hal esensiil.
Kembali menyangkut 3 segi (domain) mendasar:
1. Orang-orang dan para pemimpin.
2. Sistem, sistem-sistem (internal).
3. Pengaruh lingkungan eksternal.
1. Dari segi orang dan para pemimpin (suku2 bangsa, orang Indonesia dan etnis lainnya yang 'merasa' Indonesia).
a. Dari segi orang, orang-orang.
Dari pengamatan puluhan tahun bahkan ratusan tahun, dari jaman purba hingga sekarang harus diakui faktanya bahwa sedemikian banyaknya orang Indonesia, suku2 bangsa dan etnis keturunan lainnya, sampai sekarang ini, tidak terkecuali orang-orang Kristen indigenous sendiri, dalam perspektif keutuhan manusia (orang) telah mengalami banyak kekurangan, untuk tidak mengatakan kemiskinan (lacknessess) dalam banyak dimensi.
Kekurangan-kekurang an (lacknesses) tersebut paling tidak bisa dirunut dan bisa lebih diteliti seksama:
Ada 10 kekurangan yang harus ditutupi diperbaiki ditambahkan, yaitu:
1. Hal berKetuhanan, teologi, filosofi hidup dan visi hidup kolektif yang benar dan utuh.
2. Hal berkesadaran penuh sbg salah satu bagian inheren alam ciptaan jagad raya (universe) sebagai ciptaan Allah.
3. Hal berkesadaran penuh sbg salah satu bagian dari lingkungan bumi terkait isu-isu lingkungan kekinian.
4. Hal kerohanian, spiritualitas (ketaatan, komitmen pada Tuhan yang benar, kekayaan & kesucian hati, kesederhanaan hidup namun sangat sanggup memperkaya banyak orang sesama suku2 masyarakat dan bangsa dll)
5. Hal intuisi kesadaran lingkungan sosial, mindset budaya, cara pandang kolektif (bidang seni tradisi, agama, politik, militer, keamanan, sosial, ekonomi, bisnis), tradisi, lingkup solidaritas dan kesetia-kawanan sosial, warisan budaya sosial yang diwariskan dari leluhur bangsa suku-suku bangsa, yang bergerak menuju kemajuan sesuai perkembangan jaman, yang baik, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan.
6. Hal religi, keberagamaan (religiositas) dalam menjalankan hukum peraturan ketentuan2 agama dan cara beribadah dalam relevansi dengan perkembangan jaman, toleransi atas adanya perbedaan, keseharian dan kenyataan hidup.
7. Hal moral etika perilaku hidup yang benar, adil, bagus, baik dan dapat dipertanggung- jawabkan terkait pengambilan keputusan dalam kehidupan.
8. Hal intelektual, kecerdasan intelektual, hal menganalisa persoalan.
9. Hal kejiwaan, mental, mind, emosional (kestabilan, kematangan emosi), kekuatan mental, kemandirian mental dan kecukupan ekonomi, entrepreneurship social-entrepreneur ship, ketekunan, kemauan bekerjasama, kemauan untuk mentaati hukum ranah publik, mental survival (bertahan dalam kesulitan) dan mental menghargai hidup dan kehidupan.
10. Hal fisik, kondisi tubuh jasmani, ragawi, terkait dengan kesehatan, gizi nutrisi dan penyakit fisik.
Kekurangan dalam satu dimensi saja apalagi banyak dimensi dari 10 hal di atas, akan menimbulkan masalah, persoalan dan penyakit. Sakit dalam banyak dimensi, akan berakibat pada gejala kemiskinan, pemiskinan bahkan kemunduran (kemerosotan) . Sebaliknya, semakin lengkap kepemilikan anugerah Tuhan dalam 10 dimensi tersebut akan berakibat kepada kemajuan, kedewasaan dan kesejahteraan otentik dari orang-orang.
b. Dari segi pemimpin (leaders).
Belum banyak dari kalangan pemimpin, atau yang punya pengaruh kuat (influencers) atau yang menamakan diri sebagai pemimpin atau orang yang telah dikenal (populer) atau lingkungan para pemimpin di Indonesia, di suku-suku bangsa Indonesia dan etnis-etnis keturunan lainnya (Cina pengusaha naga, India, Arab) di Indonesia, yang memiliki kualitas dan kelengkapan dalam kepemilikan 10 aspek di atas. Pemimpin-pemimpin yang ada dari dulu hingga sekarang, barangkali belum dapat dikatakan sebagai pemimpin yang 'ideal'. Rata-rata dari para pemimpin yang ada di negeri ini, di suku-suku bangsa, di daerah-daerah adalah pemimpin-pemimpin yang masih berkekurangan. Masih banyak kekurangan. Sehingga kalau pun harus memimpin pun, para pemimpin memimpin orang-orang Indonesia lainnya masih harus dalam keadaan yang berkekurangan. Dengan demikian, hasil kepemimpinan para pemimpin belum banyak mengalami kemajuan yang berarti, untuk tidak mengatakan 'jalan di tempat', stagnan atau bahkan bisa juga mungkin justru mengalami kemunduran.
2. Dari segi sistem, sistem-sistem (internal).
Sistem yang dibangun, sangat dipengaruhi oleh faktor orang dan pemimpin. Karena orang dan pemimpin di Indonesia, di suku-suku bangsa dan etnis keturunan lainnya di Indonesia masih 'sangat' berkekurangan, maka sistem yang dibangun (sistem apa saja) masih sangat terasa sekali kekurangan-kekurang annya. Mau sistem politik, sistem keagamaan, sistem hukum, sistem pertahanan dan keamanan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem sosial, sistem ketenaga-kerjaan, sistem perdagangan, sistem pembangunan pertanian, kelautan berikut sistem-sistem lainnya. Masih sangat sulit dan panjang jangka waktunya untuk mengharapkan terbentuknya dan beroperasinya sistem-sistem yang handal, baik, bagus, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan guna membuahkan kemajuan, kebaikan, keadilan dan kesejahteraan kolektif yang hakiki dan nyata di tengah bangsa, negara, rakyat, masyarakat, di suku-suku bangsa, daerah-daerah dan keseluruhan penduduk bangsa ini.
3. Dari segi pengaruh lingkungan eksternal (global).
Sejak dulu, pengaruh lingkungan eksternal sangat besar untuk kehidupan suku-suku, bangsa dan negara Indonesia. Baik sebelum adanya kesadaran pergerakan nasional tahun 1908 maupun periode-periode sesudahnya (1928: Sumpah Pemuda, 1945: Proklamasi Indonesia sampai Orla, 1966: Orde Baru, 1998: Orde Reformasi dan masa 10 tahun Pasca Reformasi ke depan.
Fenomena-fenomena dan perubahan-perubahan yang terjadi secara global di dunia dan bagian-bagian dunia, mau tidak mau turut mempengaruhi orang-orang para pemimpin dan sistem-sistem (internal) yang ada di suku-suku bangsa dan bangsa negara Indonesia. Sebut saja, masa-masa jaman purba (animisme, dinamisme), jaman kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha kuno, kerajaan-kerajaan Mongol, Tiongkok kuno, jaman kerajaan dan perdagangan Islam, jaman kolonialisme Eropa Barat, jaman Jepang dan Sekutu (AS, Inggris & Rusia), jaman Perang Dingin (AS dan Soviet), Jaman Modern Paska Perang Dingin (Neo Kapitalisme) sampai Jaman Globalisasi Supra Modern seperti sekarang.
Isu-isu global yang sangat dirasakan sampai penghujung 2007 sebut saja:
- MDGs
- Global warming (UNFCCC Bali, akhir Protokol Kyoto 2012)
- Neo-kapitalisme, WTO dan Neo-marxisme
- Krisis energi dan 'sky rocketing' harga BBM tingkat dunia.
- Global korporatokrasi
- Konstelasi ASEAN (dgn Malaysia, Singapura, Thailand..) dan Australia.
- Kebangkitan RRC dan India
- Kejahatan transnasional
- HIV/AidS dan berbagai penyakit lainnya.
- Revolusi iptek, TI TV/multimedia
Di semua tahapan jaman, suku-suku bangsa dan bangsa ini turut dipengaruhi dan mengalami berbagai perubahan. Namun, dalam percaturan dunia dengan pengaruh lingkungan eksternal seperti ini, suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia harus memiliki ketahanan jati diri, wawasan dan kelengkapan dalam paling tidak 10 hal di atas. Jika tidak, maka yang terjadi dalam proses saling pengaruh dan mempengaruhi ada dua hal. Dipengaruhi atau mulai mempengaruhi. Yang diharapkan adalah adanya keseimbangan, kesetaraan, untuk saling mempengaruhi: boleh dipengaruhi tapi juga bisa mempengaruhi. Jadi ada nilai persaingan, sekaligus kerjasama kolaborasi dalam suatu play-ground atau game yang dapat berlangsung sebisanya dalam iklim yang mengedepankan fairness atau asas keadilan.
Agar dapat memiliki posisi yang setara, equal (egalite'), dalam kesatuan bersama hidup umat menuju pembebasan kemajuan (liberte') dan persaudaraan yang rukun (fraternite' ), tentu suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia harus memiliki orang-orang para pemimpin sekaligus sistem, sistem-sistem (internal) yang dibangun secara handal, baik, bagus, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan. Sekuat-kuat pengaruh lingkungan eksternal di jaman globalisasi supra modern seperti sekarang, bila orang-orang para pemimpin dan sistem yang dibangun ditata handal, baik dan benar; maka pengaruh lingkungan eksternal tersebut tidak akan dapat membuat kehidupan di tingkat individu, keluarga, komunal, suku/suku-suku bangsa dan bangsa ini menjadi collapse.
Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Tidak lain adalah kembali kepada orang orang para pemimpin lebih dulu. Baru selanjutnya kepada sistem, atau sistem-sistem (internal) yang di bangun pada tingkat-tingkat itu. Jadi, jika orang-orang para pemimpin dalam komunitas, suku-suku dan bangsa handal, maka suku-suku bangsa, bangsa dan negara pun akan mampu menghadapi sistem-sistem dan pengaruh lingkungan eksternal sebesar dan se- negatip apapun. Sebab itu kembali penting dan urgen untuk memperbaiki, memulihkan, menyembuhkan orang-orang para pemimpin terlebih dulu. Guna menjamin sistem, sistem-sistem (internal) dapat semakin handal menyikapi pengaruh lingkungan eksternal dengan benar, baik dan dewasa menuju kemajuan.
Jadi jika demikian, dari mana kita dapat memperbaikinya?
Jika harus memilih prioritas, ya harus dari segi orang dan pemimpin/para pemimpin nya terlebih dahulu. Meski dalam segi realitas, kedua-duanya harus diretas. Memperbaiki orang/pemimpin, dan dalam saat yang sama secara paralel harus diupayakan perbaikan sistem atau berbagai sistemnya agar makin berjalan semakin handal.
Bagi seorang engineer atau kumpulan engineer termasuk di bidang sosial, untuk awal membangun sistem tidak terlalu sukar bila dibandingkan membangun orang atau pemimpin. Namun, untuk membangun sistem yang benar-benar handal, bagus, baik, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan, nyatanya tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem awal yang telah terbentuk atau dibentuk itu semata. Sangat perlu berperan atau peran serta orang-orang atau para pemimpin tersebut di atas. Jadi kembali lagi kepada orang dan para pemimpin itu, agar sistem yang telah dibentuk tersebut dapat berjalan, atau dapat operasional secara handal, bagus, baik, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan.
Sistem awal terbentuk bagus, baik, benar, namun pelaksanannya orang-orangnya para pemimpinnya tidak bagus, baik dan benar, maka sistem tidak dapat bekerja dengan baik. Sistem tidak dapat bekerja dengan handal menuju kemajuan. Jadi orang-orang dan para pemimpin lah yang harus pertama dan seterusnya diperbaiki. Ditingkatkan. Dimatangkan. Sehingga dapat mencapai kelengkapan. Demikianlah pentingnya dilakukan berganti-ganti, berurut. Orang/pemimpin, sistem, orang/pemimpin lalu sistem yang diperbaiki. Terus sampai mencapai kematangan bagi kedua-duanya.
Dari mana harus dimulai perbaikan dan pendewasakan orang para pemimpin?
Jika mulai dari orang dan para pemimpin, dari mana harus mulai untuk melakukan perbaikan dan pendewasaan orang-orang para pemimpin? Jawabnya, adalah ya mulai dari langkah perbaikan orang/para pemimpin. Orang-orang dan para pemimpin harus disembuhkan, diperbaiki, dipulihkan. Lihat prioritas, mana yang harus disembuhkan, diperbaiki dengan segera. Mana yang harus disembuhkan, diperbaiki dalam jangka panjang. Aspek atau dalam segi mana yang harus mulai disembuhkan: Ketuhanan, kesadaran akan alam universal, lingkungan, spiritual (rohani), kebudayaan mindset sosial, kejiwaan/mental atau segi fisik jasmani?
Selanjutnya, adalah upaya pembinaan orang-orang para pemimpin!
Jika aspek atau segi-segi kehidupan dari orang-orang para pemimpin sudah mengalami kesembuhan, perbaikan atau pemulihan, maka hal yang bisa dilakukan selanjutnya adalah upaya pembinaan (nurturing) secara terus menerus. Pembinaan di sini cakupannya sangat luas, meliputi upaya pendidikan (formal, non formal, informal), pemuridan, persekutuan, pendampingan, penggembalaan, pelayanan dan seterusnya. Dan hal ini semua, tidak bisa dilakukan hanya lewat satu metoda misalnya metoda atau pola patron-klien, namun lewat berbagai metoda. Semua metoda. All for all.
Tidak hanya menyangkut atau melibatkan satu individu, satu kelompok, satu komunitas. Namun dilakukan dengan bersama-sama sebagai satu kesatuan kolektif. All for all juga. Kolektif kecil sampai kolektif besar. Kolektif lokal, kolektif region sampai kepada kolektif nasional dan global.
Ambillah sisi positip dari globalisasi
Kita bersyukur lewat satu sisi positip globalisasi misalnya, metoda atau pendekatan "all for all" ini bukan merupakan hal yang mustahil lagi. Tapi dapat dilakukan dan diwujud-nyatakan. Sisi globalisasi ini kita dapat lihat sebagai anugerah Tuhan bagi peluang terjadinya perubahan bagi kemajuan. Perubahan kini tidak lagi bisa dilakukan hanya di tingkat individu atau keluarga semata. Namun perubahan nyata dapat terjadi sekaligus di tingkat kelompok kecil, komunal, komunitas, suku, kaum, bangsa dan bangsa-bangsa secara mengglobal. Lewat cara apa saja, orang-orang dan para pemimpin dapat diubahkan. Tentu harapan kita, perubahan yang terjadi adalah yang menuju kemajuan, kebaikan, keadilan dan kesejahteraan utuh (holistik) dalam arti sesungguhnya. Lahir batin, jasmani rohani, seanteronya.
Jika orang-orang para pemimpin bisa diubah, maka sistem pun akan bisa diubah!
Dengan demikian, kita makin meyakini sekarang, jika orang-orang para pemimpin punya kemungkinan untuk dirubah, disembuhkan, diperbaiki, dipulihkan dan dibina saling membina terus hingga kedewasaan utuh, maka sistem ataupun sistem-sistem yang ada di masyarakat, suku-suku bangsa, negara dan bangsa pun dapat mengalami perubahan, perbaikan, pemulihan serta peningkatan menuju kepada operasionalisasi sistem yang semakin handal. Sistem handal dan bermutu yang sanggup membuat komunitas, masyarakat dan bangsa itu sendiri semakin maju, semakin baik, bagus, semakin adil dan sejahtera secara seutuhnya (holistik).
Jika orang-orang pemimpin dan sistem dapat diubah dan menjadi handal, maka suku-suku dan bangsa Indonesia dapat memberi kontribusi positip bagi dunia dalam percaturan global.
Hal ini akan berlaku otomatis dan natural. Jika orang-orang para pemimpin dalam suku bangsa dan bangsa di Indonesia berhasil dipulihkan, diperbaiki dan dibina dengan baik. Lalu sistem, sistem-sistem (internal)nya juga bisa diperbaiki dan dibuat handal, maka suku-suku dan bangsa Indonesia secara keseluruhan dapat memberi kontribusi yang positip bagi kemajuan dunia. Bagi keadilan dan kesejahteraan dunia secara seutuhnya. Menjadi garam dan terang dunia. Terang bagi bangsa-bangsa!
Maka, mari kita semua mulai perbaikan dengan lebih serius lagi! Jangan menjadi lelah dan tawar hati!
Untuk Indonesia, suku-suku bangsa indigenous di Indonesia dan etnis keturunan lainnya di Indonesia, mari mulai kita bangun dari sekarang lebih seksama lagi upaya perbaikan, penyembuhan, pemulihan dan peningkatan orang-orang dan para pemimpin. Dari mulai unit terkecil: keluarga. Kelompok kecil, komunal, komunitas, marga-marga, suku-suku, jemaat/jemaah agama, kaum, golongan sampai kepada orang-orang dan para pemimpin dalam berbagai lingkungan sosial (politik, agama, militer, pendidikan/sekolah, seni, budaya, iptek, lsm, mahasiswa, generasi muda, remaja, anak-anak, dst). Jangan karena kita melihat perkembangan- perkembagan negatif dan berbagai kegagalan yang terjadi di waktu-waktu yang lalu bahkan sekarang ini, hingga membuat kita menjadi lelah dan tawar hati. Jangan jangan menjadi lelah dan tawar hati! Mari, lewat berbagai cara, berbagai metoda, pendekatan yang dipilih dengan penerapan nilai-nilai etika/moral dan content (isi) yang benar, baik, bagus dan dapat dipertanggung- jawabkan. All for all. Pendekatan all for all, dan semua bagi semua.
Kita akan sama-sama menyaksikan perubahan bagi kemajuan itu dari sekarang dan ke depan!
Maka, jika hal ini semua hal ini yang dilakukan, maka kita akan sama-sama menyaksikan perubahan dan kemajuan nyata dari sekarang dan ke depan. Perubahan bagi kemajuan yang Tuhan akan dan segera lakukan melalui kita semua bagi individu-individu, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas , marga-marga, jemaat/jemaah jemaah agama, suku-suku bangsa, etnis keturunan lainnya, lingkungan-lingkung an sosial dan alam. Perbaikan dan kesembuhan kolektif massal di bangsa ini akan terjadi, tidak perlu harus dicapai dalam jangka waktu yang terlalu lama. Sesuai upaya dan keseriusan kita semua. Semakin serius dan seksama, maka jangka waktu perubahan perbaikan penyembuhan dan pemulihannya akan segera terasa.
Kesejahteraan seutuhnya bagi suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia!
Maka setiap 'suku-suku' dan suku-suku bangsa, bahkan bangsa dan negara ini akan mengalami kesembuhan, pemulihan, perbaikan, kemajuan yang luar biasa hasilnya. Kemajuan menuju kebaikan, keadilan dan kesejahteraan seutuhnya. Jika suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia bisa mencapai hal yang seperti ini, maka secara kolektif suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia akan mampu memberi kontribusi yang positif bagi keutuhan ciptaan, keadilan dan kesejahteraan seutuhnya di dunia. Menjadi garam dan terang dunia. Terang bagi bangsa-bangsa.
Itu yang kita semua sama-sama harapkan.
Menjadi visi dan ekspektasi kita bersama.
Semoga Tuhan menolong kita semua. Selamat Tahun Baru 2008 !! Selamat menyongsong hari depan yang penuh harapan dan sejahtera utuh bagi kita semua.
Hanya bagi Tuhan, segala kemuliaan !!
"Konteks Indonesia indigenous: "Orang-orang para pemimpin dulu yang diperbaiki dipulihkan 'disembuhkan' , ataukah sistem, sistem-sistem internal dulu, sekaitan maraknya perkembangan pengaruh lingkungan eksternal?"
Visi provisi bersama: "Menuju kemajuan, kebaikan dan kesejahteraan seutuhnya bagi seluruh suku-suku bangsa, 'suku-suku' golongan, etnis, bangsa dan negara Indonesia, untuk akhirnya menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain".
Pertanyaan yang mungkin masih terus menggelayut dalam hati sanubari kalbu tiap suku-suku bangsa indigenous Indonesia, tiap bangsa Indonesia atau yang masih 'merasa' Indonesia hingga kini. Kenapa bangsa dan negara Indonesia, orang Indonesia, suku-suku bangsa indigenous di Indonesia serta berbagai etnis keturunan lainnya (Arab, Cina, India, Melanesia dll) sukar sekali maju, berkembang, hidup dalam cinta kasih persatuan dan kesatuan saling menghargai dan respek ?? Belum mampu untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, di belahan dunia lainnya secara kolektif ?
Pertanyaan ini seharusnya mampu 'menohok' langsung diri orang-orang: para pemimpin dan umat Kristen indigenous termasuk saya, dan orang-orang kristen etnis keturunan lainnya yang 'masih merasa' Indonesia di seluruh tumpuan bumi persada negeri ini maupun di sebrang lautan. Menjadi 'titik berangkat' yang urgen dan utama bagi kesamaan (alignment, spooring) cara pandang, visi dan provisi untuk perbaikan kualitas suku-suku bangsa dan bangsa tercinta.
Faktor utama penyebabnya jika mau dirunut dalam kesederhanaan berpikir, mungkin bisa kita sama-sama kategorikan ke dalam 3 hal esensiil.
Kembali menyangkut 3 segi (domain) mendasar:
1. Orang-orang dan para pemimpin.
2. Sistem, sistem-sistem (internal).
3. Pengaruh lingkungan eksternal.
1. Dari segi orang dan para pemimpin (suku2 bangsa, orang Indonesia dan etnis lainnya yang 'merasa' Indonesia).
a. Dari segi orang, orang-orang.
Dari pengamatan puluhan tahun bahkan ratusan tahun, dari jaman purba hingga sekarang harus diakui faktanya bahwa sedemikian banyaknya orang Indonesia, suku2 bangsa dan etnis keturunan lainnya, sampai sekarang ini, tidak terkecuali orang-orang Kristen indigenous sendiri, dalam perspektif keutuhan manusia (orang) telah mengalami banyak kekurangan, untuk tidak mengatakan kemiskinan (lacknessess) dalam banyak dimensi.
Kekurangan-kekurang an (lacknesses) tersebut paling tidak bisa dirunut dan bisa lebih diteliti seksama:
Ada 10 kekurangan yang harus ditutupi diperbaiki ditambahkan, yaitu:
1. Hal berKetuhanan, teologi, filosofi hidup dan visi hidup kolektif yang benar dan utuh.
2. Hal berkesadaran penuh sbg salah satu bagian inheren alam ciptaan jagad raya (universe) sebagai ciptaan Allah.
3. Hal berkesadaran penuh sbg salah satu bagian dari lingkungan bumi terkait isu-isu lingkungan kekinian.
4. Hal kerohanian, spiritualitas (ketaatan, komitmen pada Tuhan yang benar, kekayaan & kesucian hati, kesederhanaan hidup namun sangat sanggup memperkaya banyak orang sesama suku2 masyarakat dan bangsa dll)
5. Hal intuisi kesadaran lingkungan sosial, mindset budaya, cara pandang kolektif (bidang seni tradisi, agama, politik, militer, keamanan, sosial, ekonomi, bisnis), tradisi, lingkup solidaritas dan kesetia-kawanan sosial, warisan budaya sosial yang diwariskan dari leluhur bangsa suku-suku bangsa, yang bergerak menuju kemajuan sesuai perkembangan jaman, yang baik, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan.
6. Hal religi, keberagamaan (religiositas) dalam menjalankan hukum peraturan ketentuan2 agama dan cara beribadah dalam relevansi dengan perkembangan jaman, toleransi atas adanya perbedaan, keseharian dan kenyataan hidup.
7. Hal moral etika perilaku hidup yang benar, adil, bagus, baik dan dapat dipertanggung- jawabkan terkait pengambilan keputusan dalam kehidupan.
8. Hal intelektual, kecerdasan intelektual, hal menganalisa persoalan.
9. Hal kejiwaan, mental, mind, emosional (kestabilan, kematangan emosi), kekuatan mental, kemandirian mental dan kecukupan ekonomi, entrepreneurship social-entrepreneur ship, ketekunan, kemauan bekerjasama, kemauan untuk mentaati hukum ranah publik, mental survival (bertahan dalam kesulitan) dan mental menghargai hidup dan kehidupan.
10. Hal fisik, kondisi tubuh jasmani, ragawi, terkait dengan kesehatan, gizi nutrisi dan penyakit fisik.
Kekurangan dalam satu dimensi saja apalagi banyak dimensi dari 10 hal di atas, akan menimbulkan masalah, persoalan dan penyakit. Sakit dalam banyak dimensi, akan berakibat pada gejala kemiskinan, pemiskinan bahkan kemunduran (kemerosotan) . Sebaliknya, semakin lengkap kepemilikan anugerah Tuhan dalam 10 dimensi tersebut akan berakibat kepada kemajuan, kedewasaan dan kesejahteraan otentik dari orang-orang.
b. Dari segi pemimpin (leaders).
Belum banyak dari kalangan pemimpin, atau yang punya pengaruh kuat (influencers) atau yang menamakan diri sebagai pemimpin atau orang yang telah dikenal (populer) atau lingkungan para pemimpin di Indonesia, di suku-suku bangsa Indonesia dan etnis-etnis keturunan lainnya (Cina pengusaha naga, India, Arab) di Indonesia, yang memiliki kualitas dan kelengkapan dalam kepemilikan 10 aspek di atas. Pemimpin-pemimpin yang ada dari dulu hingga sekarang, barangkali belum dapat dikatakan sebagai pemimpin yang 'ideal'. Rata-rata dari para pemimpin yang ada di negeri ini, di suku-suku bangsa, di daerah-daerah adalah pemimpin-pemimpin yang masih berkekurangan. Masih banyak kekurangan. Sehingga kalau pun harus memimpin pun, para pemimpin memimpin orang-orang Indonesia lainnya masih harus dalam keadaan yang berkekurangan. Dengan demikian, hasil kepemimpinan para pemimpin belum banyak mengalami kemajuan yang berarti, untuk tidak mengatakan 'jalan di tempat', stagnan atau bahkan bisa juga mungkin justru mengalami kemunduran.
2. Dari segi sistem, sistem-sistem (internal).
Sistem yang dibangun, sangat dipengaruhi oleh faktor orang dan pemimpin. Karena orang dan pemimpin di Indonesia, di suku-suku bangsa dan etnis keturunan lainnya di Indonesia masih 'sangat' berkekurangan, maka sistem yang dibangun (sistem apa saja) masih sangat terasa sekali kekurangan-kekurang annya. Mau sistem politik, sistem keagamaan, sistem hukum, sistem pertahanan dan keamanan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem sosial, sistem ketenaga-kerjaan, sistem perdagangan, sistem pembangunan pertanian, kelautan berikut sistem-sistem lainnya. Masih sangat sulit dan panjang jangka waktunya untuk mengharapkan terbentuknya dan beroperasinya sistem-sistem yang handal, baik, bagus, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan guna membuahkan kemajuan, kebaikan, keadilan dan kesejahteraan kolektif yang hakiki dan nyata di tengah bangsa, negara, rakyat, masyarakat, di suku-suku bangsa, daerah-daerah dan keseluruhan penduduk bangsa ini.
3. Dari segi pengaruh lingkungan eksternal (global).
Sejak dulu, pengaruh lingkungan eksternal sangat besar untuk kehidupan suku-suku, bangsa dan negara Indonesia. Baik sebelum adanya kesadaran pergerakan nasional tahun 1908 maupun periode-periode sesudahnya (1928: Sumpah Pemuda, 1945: Proklamasi Indonesia sampai Orla, 1966: Orde Baru, 1998: Orde Reformasi dan masa 10 tahun Pasca Reformasi ke depan.
Fenomena-fenomena dan perubahan-perubahan yang terjadi secara global di dunia dan bagian-bagian dunia, mau tidak mau turut mempengaruhi orang-orang para pemimpin dan sistem-sistem (internal) yang ada di suku-suku bangsa dan bangsa negara Indonesia. Sebut saja, masa-masa jaman purba (animisme, dinamisme), jaman kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha kuno, kerajaan-kerajaan Mongol, Tiongkok kuno, jaman kerajaan dan perdagangan Islam, jaman kolonialisme Eropa Barat, jaman Jepang dan Sekutu (AS, Inggris & Rusia), jaman Perang Dingin (AS dan Soviet), Jaman Modern Paska Perang Dingin (Neo Kapitalisme) sampai Jaman Globalisasi Supra Modern seperti sekarang.
Isu-isu global yang sangat dirasakan sampai penghujung 2007 sebut saja:
- MDGs
- Global warming (UNFCCC Bali, akhir Protokol Kyoto 2012)
- Neo-kapitalisme, WTO dan Neo-marxisme
- Krisis energi dan 'sky rocketing' harga BBM tingkat dunia.
- Global korporatokrasi
- Konstelasi ASEAN (dgn Malaysia, Singapura, Thailand..) dan Australia.
- Kebangkitan RRC dan India
- Kejahatan transnasional
- HIV/AidS dan berbagai penyakit lainnya.
- Revolusi iptek, TI TV/multimedia
Di semua tahapan jaman, suku-suku bangsa dan bangsa ini turut dipengaruhi dan mengalami berbagai perubahan. Namun, dalam percaturan dunia dengan pengaruh lingkungan eksternal seperti ini, suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia harus memiliki ketahanan jati diri, wawasan dan kelengkapan dalam paling tidak 10 hal di atas. Jika tidak, maka yang terjadi dalam proses saling pengaruh dan mempengaruhi ada dua hal. Dipengaruhi atau mulai mempengaruhi. Yang diharapkan adalah adanya keseimbangan, kesetaraan, untuk saling mempengaruhi: boleh dipengaruhi tapi juga bisa mempengaruhi. Jadi ada nilai persaingan, sekaligus kerjasama kolaborasi dalam suatu play-ground atau game yang dapat berlangsung sebisanya dalam iklim yang mengedepankan fairness atau asas keadilan.
Agar dapat memiliki posisi yang setara, equal (egalite'), dalam kesatuan bersama hidup umat menuju pembebasan kemajuan (liberte') dan persaudaraan yang rukun (fraternite' ), tentu suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia harus memiliki orang-orang para pemimpin sekaligus sistem, sistem-sistem (internal) yang dibangun secara handal, baik, bagus, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan. Sekuat-kuat pengaruh lingkungan eksternal di jaman globalisasi supra modern seperti sekarang, bila orang-orang para pemimpin dan sistem yang dibangun ditata handal, baik dan benar; maka pengaruh lingkungan eksternal tersebut tidak akan dapat membuat kehidupan di tingkat individu, keluarga, komunal, suku/suku-suku bangsa dan bangsa ini menjadi collapse.
Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Tidak lain adalah kembali kepada orang orang para pemimpin lebih dulu. Baru selanjutnya kepada sistem, atau sistem-sistem (internal) yang di bangun pada tingkat-tingkat itu. Jadi, jika orang-orang para pemimpin dalam komunitas, suku-suku dan bangsa handal, maka suku-suku bangsa, bangsa dan negara pun akan mampu menghadapi sistem-sistem dan pengaruh lingkungan eksternal sebesar dan se- negatip apapun. Sebab itu kembali penting dan urgen untuk memperbaiki, memulihkan, menyembuhkan orang-orang para pemimpin terlebih dulu. Guna menjamin sistem, sistem-sistem (internal) dapat semakin handal menyikapi pengaruh lingkungan eksternal dengan benar, baik dan dewasa menuju kemajuan.
Jadi jika demikian, dari mana kita dapat memperbaikinya?
Jika harus memilih prioritas, ya harus dari segi orang dan pemimpin/para pemimpin nya terlebih dahulu. Meski dalam segi realitas, kedua-duanya harus diretas. Memperbaiki orang/pemimpin, dan dalam saat yang sama secara paralel harus diupayakan perbaikan sistem atau berbagai sistemnya agar makin berjalan semakin handal.
Bagi seorang engineer atau kumpulan engineer termasuk di bidang sosial, untuk awal membangun sistem tidak terlalu sukar bila dibandingkan membangun orang atau pemimpin. Namun, untuk membangun sistem yang benar-benar handal, bagus, baik, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan, nyatanya tidak bisa lagi hanya mengandalkan sistem awal yang telah terbentuk atau dibentuk itu semata. Sangat perlu berperan atau peran serta orang-orang atau para pemimpin tersebut di atas. Jadi kembali lagi kepada orang dan para pemimpin itu, agar sistem yang telah dibentuk tersebut dapat berjalan, atau dapat operasional secara handal, bagus, baik, benar dan dapat dipertanggung- jawabkan.
Sistem awal terbentuk bagus, baik, benar, namun pelaksanannya orang-orangnya para pemimpinnya tidak bagus, baik dan benar, maka sistem tidak dapat bekerja dengan baik. Sistem tidak dapat bekerja dengan handal menuju kemajuan. Jadi orang-orang dan para pemimpin lah yang harus pertama dan seterusnya diperbaiki. Ditingkatkan. Dimatangkan. Sehingga dapat mencapai kelengkapan. Demikianlah pentingnya dilakukan berganti-ganti, berurut. Orang/pemimpin, sistem, orang/pemimpin lalu sistem yang diperbaiki. Terus sampai mencapai kematangan bagi kedua-duanya.
Dari mana harus dimulai perbaikan dan pendewasakan orang para pemimpin?
Jika mulai dari orang dan para pemimpin, dari mana harus mulai untuk melakukan perbaikan dan pendewasaan orang-orang para pemimpin? Jawabnya, adalah ya mulai dari langkah perbaikan orang/para pemimpin. Orang-orang dan para pemimpin harus disembuhkan, diperbaiki, dipulihkan. Lihat prioritas, mana yang harus disembuhkan, diperbaiki dengan segera. Mana yang harus disembuhkan, diperbaiki dalam jangka panjang. Aspek atau dalam segi mana yang harus mulai disembuhkan: Ketuhanan, kesadaran akan alam universal, lingkungan, spiritual (rohani), kebudayaan mindset sosial, kejiwaan/mental atau segi fisik jasmani?
Selanjutnya, adalah upaya pembinaan orang-orang para pemimpin!
Jika aspek atau segi-segi kehidupan dari orang-orang para pemimpin sudah mengalami kesembuhan, perbaikan atau pemulihan, maka hal yang bisa dilakukan selanjutnya adalah upaya pembinaan (nurturing) secara terus menerus. Pembinaan di sini cakupannya sangat luas, meliputi upaya pendidikan (formal, non formal, informal), pemuridan, persekutuan, pendampingan, penggembalaan, pelayanan dan seterusnya. Dan hal ini semua, tidak bisa dilakukan hanya lewat satu metoda misalnya metoda atau pola patron-klien, namun lewat berbagai metoda. Semua metoda. All for all.
Tidak hanya menyangkut atau melibatkan satu individu, satu kelompok, satu komunitas. Namun dilakukan dengan bersama-sama sebagai satu kesatuan kolektif. All for all juga. Kolektif kecil sampai kolektif besar. Kolektif lokal, kolektif region sampai kepada kolektif nasional dan global.
Ambillah sisi positip dari globalisasi
Kita bersyukur lewat satu sisi positip globalisasi misalnya, metoda atau pendekatan "all for all" ini bukan merupakan hal yang mustahil lagi. Tapi dapat dilakukan dan diwujud-nyatakan. Sisi globalisasi ini kita dapat lihat sebagai anugerah Tuhan bagi peluang terjadinya perubahan bagi kemajuan. Perubahan kini tidak lagi bisa dilakukan hanya di tingkat individu atau keluarga semata. Namun perubahan nyata dapat terjadi sekaligus di tingkat kelompok kecil, komunal, komunitas, suku, kaum, bangsa dan bangsa-bangsa secara mengglobal. Lewat cara apa saja, orang-orang dan para pemimpin dapat diubahkan. Tentu harapan kita, perubahan yang terjadi adalah yang menuju kemajuan, kebaikan, keadilan dan kesejahteraan utuh (holistik) dalam arti sesungguhnya. Lahir batin, jasmani rohani, seanteronya.
Jika orang-orang para pemimpin bisa diubah, maka sistem pun akan bisa diubah!
Dengan demikian, kita makin meyakini sekarang, jika orang-orang para pemimpin punya kemungkinan untuk dirubah, disembuhkan, diperbaiki, dipulihkan dan dibina saling membina terus hingga kedewasaan utuh, maka sistem ataupun sistem-sistem yang ada di masyarakat, suku-suku bangsa, negara dan bangsa pun dapat mengalami perubahan, perbaikan, pemulihan serta peningkatan menuju kepada operasionalisasi sistem yang semakin handal. Sistem handal dan bermutu yang sanggup membuat komunitas, masyarakat dan bangsa itu sendiri semakin maju, semakin baik, bagus, semakin adil dan sejahtera secara seutuhnya (holistik).
Jika orang-orang pemimpin dan sistem dapat diubah dan menjadi handal, maka suku-suku dan bangsa Indonesia dapat memberi kontribusi positip bagi dunia dalam percaturan global.
Hal ini akan berlaku otomatis dan natural. Jika orang-orang para pemimpin dalam suku bangsa dan bangsa di Indonesia berhasil dipulihkan, diperbaiki dan dibina dengan baik. Lalu sistem, sistem-sistem (internal)nya juga bisa diperbaiki dan dibuat handal, maka suku-suku dan bangsa Indonesia secara keseluruhan dapat memberi kontribusi yang positip bagi kemajuan dunia. Bagi keadilan dan kesejahteraan dunia secara seutuhnya. Menjadi garam dan terang dunia. Terang bagi bangsa-bangsa!
Maka, mari kita semua mulai perbaikan dengan lebih serius lagi! Jangan menjadi lelah dan tawar hati!
Untuk Indonesia, suku-suku bangsa indigenous di Indonesia dan etnis keturunan lainnya di Indonesia, mari mulai kita bangun dari sekarang lebih seksama lagi upaya perbaikan, penyembuhan, pemulihan dan peningkatan orang-orang dan para pemimpin. Dari mulai unit terkecil: keluarga. Kelompok kecil, komunal, komunitas, marga-marga, suku-suku, jemaat/jemaah agama, kaum, golongan sampai kepada orang-orang dan para pemimpin dalam berbagai lingkungan sosial (politik, agama, militer, pendidikan/sekolah, seni, budaya, iptek, lsm, mahasiswa, generasi muda, remaja, anak-anak, dst). Jangan karena kita melihat perkembangan- perkembagan negatif dan berbagai kegagalan yang terjadi di waktu-waktu yang lalu bahkan sekarang ini, hingga membuat kita menjadi lelah dan tawar hati. Jangan jangan menjadi lelah dan tawar hati! Mari, lewat berbagai cara, berbagai metoda, pendekatan yang dipilih dengan penerapan nilai-nilai etika/moral dan content (isi) yang benar, baik, bagus dan dapat dipertanggung- jawabkan. All for all. Pendekatan all for all, dan semua bagi semua.
Kita akan sama-sama menyaksikan perubahan bagi kemajuan itu dari sekarang dan ke depan!
Maka, jika hal ini semua hal ini yang dilakukan, maka kita akan sama-sama menyaksikan perubahan dan kemajuan nyata dari sekarang dan ke depan. Perubahan bagi kemajuan yang Tuhan akan dan segera lakukan melalui kita semua bagi individu-individu, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas , marga-marga, jemaat/jemaah jemaah agama, suku-suku bangsa, etnis keturunan lainnya, lingkungan-lingkung an sosial dan alam. Perbaikan dan kesembuhan kolektif massal di bangsa ini akan terjadi, tidak perlu harus dicapai dalam jangka waktu yang terlalu lama. Sesuai upaya dan keseriusan kita semua. Semakin serius dan seksama, maka jangka waktu perubahan perbaikan penyembuhan dan pemulihannya akan segera terasa.
Kesejahteraan seutuhnya bagi suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia!
Maka setiap 'suku-suku' dan suku-suku bangsa, bahkan bangsa dan negara ini akan mengalami kesembuhan, pemulihan, perbaikan, kemajuan yang luar biasa hasilnya. Kemajuan menuju kebaikan, keadilan dan kesejahteraan seutuhnya. Jika suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia bisa mencapai hal yang seperti ini, maka secara kolektif suku-suku bangsa dan bangsa Indonesia akan mampu memberi kontribusi yang positif bagi keutuhan ciptaan, keadilan dan kesejahteraan seutuhnya di dunia. Menjadi garam dan terang dunia. Terang bagi bangsa-bangsa.
Itu yang kita semua sama-sama harapkan.
Menjadi visi dan ekspektasi kita bersama.
Semoga Tuhan menolong kita semua. Selamat Tahun Baru 2008 !! Selamat menyongsong hari depan yang penuh harapan dan sejahtera utuh bagi kita semua.
Hanya bagi Tuhan, segala kemuliaan !!
Saturday, December 29, 2007
Dua poin penting menuju konsep pembangunan wilayah Batak SihutaSada: mungkinkah dapat diretas?
Guna menjamin berhasilnya pemberdayaan pembangunan dan kemajuan riel masyarakat Tanah Batak pada masa sekarang dan ke depan, perlu sekali belajar pengalaman keberhasilan "best practices" misalnya daerah/masyarakat di luar Tanah Batak. Misalnya diambil contoh Bali, Cebu-Island Filipina, wilayah kerja Grameen Bank Bangladesh, negara Thailand, Malaysia, India, RRC, Korea dan Jepang. Maka sangat perlu kita mempertimbangkan dua poin faktor-faktor mendasar menuju konsep pembangunan wilayah Tanah Batak yang benar dan dapat dipertanggung-jawabkan.
1. Pentingnya pada masa sekarang menentukan fokus peta lingkungan daerah Tanah Batak yang memiliki homogenitas masyarakat: yang sama, untuk perencanaan kemajuan. Selain memiliki kesamaaan yang sangat dekat dalam hal background adat-istiadat, yang teramat penting pemetaan Tanah Batak adalah daerah dan penduduk yang memiliki kesamaan latar belakang agama/belief. Homogenitas latar belakang agama/belief dari mayoritas daerah dan penduduk Tanah Batak yang dimaksud, pastinya secara relatif akan sangat mempermudah dalam mendukung penciptaan kesamaan (alignment, spooring) pola berpikir, pola kebijakan serta pola bertindak dari para leaders serta rakyat di bagian dari Tanah Batak tersebut. Menurut pengalaman empiris, situasi peta daerah dan penduduk dengan background agama/beliefs yang heterogen dengan segala dinamika permasalahan dan konfliknya, akan sangat sulit membuahkan kesepakatan dan komitmen membangun bagi kemajuan.
Maka dengan dasar pertimbangan ini, fokus peta lingkungan daerah Tanah Batak yang akan dirancang secara cermat pembangunannya, adalah meliputi daerah Rura Silindung, Humbang Hasundutan, Toba, Samosir dan Dairi Pakpak (bisa disingkat "Sihuta Sada", atau Tanah Batak Sihuta Sada).
2. Perlu diretas bangkitnya semangat baru bagi kesatuan tekad, semangat, cara pandang dan kesepakatan internal terutama dari para leaders (tokoh agama, tokoh adat, teolog, pendidik, lsm, birokrat, politisi, militer, pengusaha, pemerhati) dan tentunya seluruh masyarakat internal dan eksternal Batak SihutaSada. Yakni mereka yang tinggal dan berasal-muasal dari fokus peta lingkungan daerah bonapasogit Tanah Batak "Sihuta Sada", dan di mana pun di dunia (nasional-global), untuk bersatu dan bersepakat secara bersama. Secara aklamasi. Melalui kesatuan dan kesepakatan seperti ini, niscaya akan mempermudah suatu upaya penyusunan konsep utuh bagi pemberdayaan pembangunan Tanah Batak Sihuta Sada secara holistik oleh Tim Ahli Terpadu yang recognitif dan dapat dipertanggung-jawabkan kapabilitasnya. Konsep ini mungkin bisa disebut sebagai konsep pembangunan holistik (KPH) "Batak SihutaSada Na Uli".
1. Pentingnya pada masa sekarang menentukan fokus peta lingkungan daerah Tanah Batak yang memiliki homogenitas masyarakat: yang sama, untuk perencanaan kemajuan. Selain memiliki kesamaaan yang sangat dekat dalam hal background adat-istiadat, yang teramat penting pemetaan Tanah Batak adalah daerah dan penduduk yang memiliki kesamaan latar belakang agama/belief. Homogenitas latar belakang agama/belief dari mayoritas daerah dan penduduk Tanah Batak yang dimaksud, pastinya secara relatif akan sangat mempermudah dalam mendukung penciptaan kesamaan (alignment, spooring) pola berpikir, pola kebijakan serta pola bertindak dari para leaders serta rakyat di bagian dari Tanah Batak tersebut. Menurut pengalaman empiris, situasi peta daerah dan penduduk dengan background agama/beliefs yang heterogen dengan segala dinamika permasalahan dan konfliknya, akan sangat sulit membuahkan kesepakatan dan komitmen membangun bagi kemajuan.
Maka dengan dasar pertimbangan ini, fokus peta lingkungan daerah Tanah Batak yang akan dirancang secara cermat pembangunannya, adalah meliputi daerah Rura Silindung, Humbang Hasundutan, Toba, Samosir dan Dairi Pakpak (bisa disingkat "Sihuta Sada", atau Tanah Batak Sihuta Sada).
2. Perlu diretas bangkitnya semangat baru bagi kesatuan tekad, semangat, cara pandang dan kesepakatan internal terutama dari para leaders (tokoh agama, tokoh adat, teolog, pendidik, lsm, birokrat, politisi, militer, pengusaha, pemerhati) dan tentunya seluruh masyarakat internal dan eksternal Batak SihutaSada. Yakni mereka yang tinggal dan berasal-muasal dari fokus peta lingkungan daerah bonapasogit Tanah Batak "Sihuta Sada", dan di mana pun di dunia (nasional-global), untuk bersatu dan bersepakat secara bersama. Secara aklamasi. Melalui kesatuan dan kesepakatan seperti ini, niscaya akan mempermudah suatu upaya penyusunan konsep utuh bagi pemberdayaan pembangunan Tanah Batak Sihuta Sada secara holistik oleh Tim Ahli Terpadu yang recognitif dan dapat dipertanggung-jawabkan kapabilitasnya. Konsep ini mungkin bisa disebut sebagai konsep pembangunan holistik (KPH) "Batak SihutaSada Na Uli".
Wednesday, December 19, 2007
Refleksi akhir tahun 2007 bagi pemimpin dan umat Kristen indigenous Indonesia.
Tahun 2007 sedikit hitungan hari lagi akan kita lalui bersama. Tahun baru, 2008, akan segera kita jelang. Banyak hal dalam titian perjalanan sepanjang 2007 dapat dijadikan 'lesson-learnt' untuk bekal memasuki tahun 2008.
Berikut beberapa petikan 'lesson-learnt' (BN-09) yang mungkin bisa menjadi bahan refleksi dari keseluruhan titian perjalanan 2007 umat Kristen indigenous Indonesia di tanah air. Semoga refleksi ini bermanfaat bagi umat kristen indigenous yang tinggal di bumi persada Nusantara, juga bagi yang kini tinggal di luar Indonesia.
1. Melihat perkembangan kehidupan keberagamaan dan spiritualitas kristen yang telah berlangsung sepanjang tahun 2007 ini, semakin dirasakan sangat perlunya umat kristen indigenous Indonesia bertambah matang tumbuh kembang dewasa dan berbuah. Hidup keberagamaan dan spiritualitas kristen yang sewajarnya makin mampu dihidupi dengan spirit, jiwa, moralitas, etika, sikap perilaku (behaviour) dan perbuatan sosial yang semakin cocok dan benar dengan inti ajaran kristen. Keberagamaan kristen dan spiritualitas yang diharap makin dapat dipertanggung- jawabkan, dengan kesanggupan melakukan refleksi introspeksi lebih dalam berikut orientasi pada kemajuan nyata dan terukur. Keberagamaan kristen yang berwawasan dan mencerah, jauh dari sikap picik, sindrom kecurigaan syak-wasangka dan berbagai perseteruan (menganggap yang lain sebagai musuh). Mampu makin seimbang dan integratif dalam memberikan penilaian terhadap berbagai fenomena kasus, peristiwa, pemikiran, aliran dan ketokohan. Tampil dengan performa dan kinerja lebih menyejukkan, kolaboratif, sehat membangun serta elegan dalam melakukan tugas perlombaan yang menghidupkan, bukan saling mematikan. Perlombaan sehat memperjuangkan tegaknya kebenaran, kemuliaan, kemandirian dan keteguhan bagi terwujudnya buah-buah kebaikan yang bisa dinikmati bersama.
2. Keberagamaan dan spiritualitas kristen indigenous bisa lebih giat diperjuangkan agar terhindar dari cara pandang kristen dikotomis, berbasiskan 'dualisme Platonis' yang serba keliru. Yang kerap melulu memisahkan kehidupan rohani (sakral, ibadah) dengan kehidupan sekuler dunia dan lingkungan. Antara kehidupan agamawi dan praksis hidup sehari-hari. Karena kehidupan sendiri sejatinya utuh dan holistik sifatnya. Kesalehan, sikap pietis dalam ibadah semestinya harus terwujud tercermin pada saat yang sama dalam kesalehan sosial dan hidup kolektif bersama lingkungan lannya di sekitar. Terekspresi nyata dalam karakker dan buah-buah kebaikan di berbagai sudut dan lapangan kehidupan. Sebab itulah peranan para pemimpin (leaders) kristen indigenous Indonesia, baik tingkat lokal nasional maupun global, semakin sangat dibutuhkan dan diharapkan pada masa sekarang dan ke depan. Guna melapangkan umat kristen indigenous berpeluang besar semakin memiliki jati diri serta wawasan kekristenan, kebangsaan, kesukuan yang lebih utuh, seimbang, matang dan dewasa di hari-hari ke depan sekaitan dengan pergaulan global yang sedang berlangsung dewasa ini.
3. Kristen indigenous di negeri ini sangat perlu lebih mengutamakan & memperjuangkan pola kesaksian dan pewartaan Injil kabar baik melalui cara dan pendekatan yang lebih natural (alamiah), mandiri dan dewasa dalam terang kasih dan kuasa Tuhan. Sanggup membagikan hidup berirama Injil kepada saudara-saudara rekan-rekan sahabat khususnya umat muslim dalam pelbagai mazhabnya sebagai umat mayoritas di negeri ini. Tentu, sebelum hal ini bisa terwujud, pola kesaksian dan persekutuan Injil secara internal di kalangan umat kristen sendiri dalam kepelbagaian denominasinya juga harus diperjuangkan dan diwujud-nyatakan. Meretas 'point of contact' baru, membangun relasi jaringan perserikatan, saling asah asih asuh disertai pemulihan hubungan kristen yang diperbarui, menjadi prasyarat requisite penting untuk Injil damai sejahtera terwartakan dengan baik dalam keseluruhan manifestasinya. Hal ini berlaku juga dalam hubungan kristen indigenous dengan umat pemercaya lainnya, baik pemercaya lokal, nasional dan global di era globalisasi ini. Sebab itulah, pola atau cara-cara persekutuan dan pewartaan Injil yang cendrung dan sering hanya melulu menekankan aspek-aspek sensasional, bombastis, hiperbolis, selebriti dan sarkastis disertai upaya-upaya provokatif dan 'black campaign' (kampanye hitam), mungkin perlu berkali-kali lagi dipertimbangkan kembali guna menjamin bertumbuhnya dan majunya iman keberagamaan wawasan sisi edukasi sosial dan kesadaran lingkungan umat dalam berbagai dinamika perubahannya kini dan ke depan.
4. Umat Kristen indigenous Indonesia di hari-hari sekarang dan ke depan mungkin perlu lebih lagi bersikap makin kritis, positip dan matang dalam menyikapi setiap fenomena, issue, informasi, ideologi, faham, ajaran-ajaran, model spiritualitas, model pembangunan, metodologi dan kemunculan tokoh-tokoh baru yang berasal dari luar sebagai konsekuensi logis dari begitu derasnya arus informasi global dan trans nasionalisasi yang bergerak demikian cepat. Sanggup mengambil yang pas, benar, seimbang dan baik, namun sekaligus mampu juga secara cerdas dan gesit membuang hal-hal yang jelas-jelas tidak cocok, tidak pas dan keliru hal-hal buruk, kotor atau 'jorok' serta absurd yang berasal dari luar (negeri ini).
Faham-faham ideologi yang justru membuat rapuh, lemah dan rusaknya iman kekristenan, spirit nasion dan kebangsaan dari luar, sangat perlu dikritisi, diwaspadai dan ditindak-lanjuti untuk mencari solusinya, seperti:
(a) Faham kesuksesan dan kemakmuran semu yang dibangun oleh berbagai konstruksi teologi, cara pandang dan filosofi keliru (a.l. teologi kemakmuran, teologi sukses). Yang berbuahkan faham materialisme, mamonisme, hedonisme dan individualisme sebagai turunannya yang berdampak sangat 'jelek' bagi kehidupan umat dan bangsa.
(b) Pada ekstrim sisi yang lain, faham asketisme, kemiskinan status-quo dan pemiskinan yang salah keliru dan sama'jelek'nya (seperti a.l. teologi kemiskinan), perlu untuk terus dikritisi dan 'dicounter' pandangan-pandangan teologis, cara pandang dan filosofinya; agar umat tidak terus-menerus berkanjang, terpuruk, tertindas dan terjepit dalam lembah kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan yang 'abadi'. Terjerembab dalam lubang dan kubangan kegelapan dan kehinaan yang sama dan klasikal, tanpa ada solusi terobosan dalam bentuk perubahan paradigma berikut penyediaan akses-akses kemajuan yang solutif, riel dan transformatif mengubahkan) .
(c) Radikalisme agama, politik agama adn politik aliran yang sempit dan picik dengan berbagai konstruksi pembenarannya yang konyol dan tidak realistis, dengan berbagai tindakan kekerasan (violenisme) serta teror massa (mob-terror) sebagai pelampiasan di luar hukum, norma dan peradaban.
(d) Pluralisme agama dengan pelbagai gerakan kepercayaan dan beliefs serba plural, serba merelatifkan dengan menafikan unsur kemutlakan dan singularitas kebenaran di era 'zaman baru' (new age) berikut sekularisme agama, pemikir bebas dan kemunculan 'super hero' 'super idol' 'tuhan-tuhan' baru yang berupaya melepaskan rasio dari iman sejati yang hidup, melepaskan eksistensi ciptaan (beings) dari Tuhan Sang Penciptanya (Being). Dan sebaliknya pula, berupaya membuktikan eksistensi Tuhan(Being)hanya sebagai manusia biasa (being) yang konon dikaji berdasar kaidah sains sejarah arkeologis yang nyatanya masih penuh kontroversi.
(e) Occultisme dan mistikisme tradisionil dengan berbagai mitosnya berkemas berversi 'campur sari' modern dan supra-modern, dalam kemasan produk ilmu teknologi dan multimedia yang masih sangat besar/kental pengaruhnya di bidang keluarga, sosial, seni budaya, masyarakat, media publikasi massa, pendidikan, bisnis usaha dan kehidupan politik negeri ini.
5. Kristen indigenous negeri ini sudah selayaknya harus bahu-membahu untuk turut berjuang bagi kemandirian kristen indigenous sendiri, pemantapan jati diri dan daya ungkit kemajuan negeri ini di bidang spiritual, theologi, lingkungan, sosial budaya, pendidikan, hukum, politik dan ekonomi. Cara yang paling efektif sejatinya adalah melalui pengayaan (enrichment) aspek kekristenan, keberagamaan dan spiritualitas umat. Meningkatkan kepekaan kesadaran umat akan lingkungan dan kekayaan warisan seni sosial budaya yang banyak diklaim sebagai buah warisan bangsa/negara lain, sambil tentunya terus melakukan adjustments transformatif. Dan yang penting lagi mengembangkan semangat kemandirian dan entrepreneurship berdasar perspektif kristen sebagai pilar kemajuan kristen indigenous sendiri secara lebih utuh.
6. Melakukan tekanan yang 'lebih keras' dan terbuka terhadap upaya pemberantasan korupsi (KKN) yang cendrung melamban dan melemah, pengentasan kemiskinan dan pengangguran, penanggulangan korban bencana alam & upaya reliefs, pengentasan kebodohan lewat jumlah, mutu strategi kurikulum pendidikan yang berdampak, penanggulangan imoralitas dan penyakit masyarakat mulai dari tingkat keluarga komunitas dan jemaat (kriminalitas, narkoba, judi, HIV/AIDs, premanisme, pungli, perceraian, free-sex, homosexual, perselingkuhan, provokasi propaganda dan keberingasan massa, tawuran, penyelundupan, pembalakan ilegal). Upaya riel mengatasi persoalan tidak terampilnya SDM dan masalah TKI dan kegagapan iptek. Terus meningkatkan kesadaran umat pada masalah hukum/hak asasi/keadilan (justice) dan arti kesehatan dan lingkungan. Pendeknya, berbagai bentuk aktivitas program, sosialisasi, jaringan dan improvements bagi solusi terobosan nyata perlu diiniasi dan diretas oleh pemimpin dan umat kristen indigenous di seluruh kabupaten/kota negeri ini. Berjuang lewat perbuatan dan karya nyata, selain juga lewat ide 'terobosan' dan gagasan transformasional mencerahkan.
7. Terkait budaya suku dan kebangsaan pada poin 5, Kristen indigenous di negeri ini harus mampu berupaya untuk menjaga dan merevitalisasi kekayaan sumber daya alam yang masih ada, serta warisan budaya seni talenta bangsa dan suku-suku bangsa yang sangat diapreasiasi dikagumi dan mendapat pengakuan dari bangsa-bangsa di tingkat regional dan global (seperti a.l. Batak, Dayak, Maluku, Sunda, Bali, Jawa, Toraja, Mamasa, Manado Minahasa, Sangir Talaud, Nias, Papua, Mentawai, Sumba, Timor, Alor, Flores, Luwuk, Poso, dll). Kebudayaan yang luar biasa, eksotik dan 'berwarna' (colorful) sebagai sumberdaya seni dan budaya SDM Indonesia yang inheren eksis di antero blantika negeri ini. Ini berpotensi menjadi "daya saing" yang luar biasa sebagai bagian jati diri dan modal talenta sosial budaya serta lingkungan yang memungkinkan bangsa termasuk generasi muda (genmud) negeri ini tumbuh dan berkembang; dalam penatalayanan dan pemberdayaan menuju kemajuan dan kejayaan yang lebih berarti, bermartabat, penuh confidence dan membangun respek ke depan dalam pergaulan internal dan masyarakat antar-bangsa.
8. Kristen indigenous di negeri ini harus terus mendukung secara intensif dan konsisten bagi akselarasi proses regionalisasi dan otonomi daerah (otda) dalam 'development strategic planning' dan 'sistem hukum perijinan dan anggaran' yang benar di berbagai daerah kabupaten/kota Indonesia. Mampu menggunakan konsep lokal-nasional- global dan pertumbuhan pengembangan daerah secara profesional dan qualified menuju pemerataan dan pertumbuhan. Sehingga kaderisasi dan suksesi kepemimpinan, kesejahteraan, keamanan, kemakmuran dan keadilan yang otentik dapat diraih. Sebab itu, kaderisasi pionir-pionir kepemimpinan generasi yang lebih muda, bersih, jujur, profesional dan cerdas menjadi keharusan guna menciptakan peluang pertumbuhan, keadilan dan kemajuan di berbagai lini kehidupan komunitas, masyarakat dan bangsa.
9. Sejalan dengan poin 5-8, Kristen indigenous di Indonesia bersama dengan komunitas dan elemen bangsa lainnya, sudah seharusnya mendukung aktif kepemimpinan yang bersih, berani, jujur, adil dan penuh keteladanan dalam jajaran trias politika dan jajaran daerah di seluruh antero negeri ini. Sekaligus mampu membangun tata hukum, keadilan, sistem kenegaraan, kemasyarkatan, tata kota, desa dan pesisir serta komunitas yang handal dalam menciptakan lingkungan negara, bangsa, daerah dan komunitas, teritori yang layak dan 'trustworthiness' .
10. Kristen indigenous Indonesia pada akhirnya sudah selayaknya secara konsisten memperjuangkan terjaminnya kebenaran hakiki dan sejati ditegakkan di tengah bangsa, negara dan komunitas; hak individual tetap dijamin, semangat kebersamaan kesetiakawanan sosial dan kebangsaan ditingkatkan, warisan seni dan budaya dijaga digalakkan direvitalisasi, ruang kreatifitas diberi tempat, pola pertumbuhan alam natural diperhatikan dan diatas segalanya otoritas Tuhan Pencipta Semesta Alam sejati bertakhta di tengah bangsa ini.
Semoga di tahun yang baru, 2008 para pemimpin, influencers dan umat kristen indigenous negeri ini dan di mana pun di bagian dunia ini, dapat memberikan kontribusi yang lebih nyata bagi suatu harapan baru, ekspektasi baru, bagi suku-suku bangsa di negeri ini, bagi bangsa tercinta ini. Harapan kemajuan di bidang keberagamaan, spiritualitas, lingkungan, keluarga, sosial budaya, pendidikan, hukum, politik/kenegaraan, ekonomi dan kemasyaratan; bagi tiap individu dan komunitas yang ada di dalamnya.
Kiranya Tuhan menolong dan selalu menyertai kita sekalian!
Berikut beberapa petikan 'lesson-learnt' (BN-09) yang mungkin bisa menjadi bahan refleksi dari keseluruhan titian perjalanan 2007 umat Kristen indigenous Indonesia di tanah air. Semoga refleksi ini bermanfaat bagi umat kristen indigenous yang tinggal di bumi persada Nusantara, juga bagi yang kini tinggal di luar Indonesia.
1. Melihat perkembangan kehidupan keberagamaan dan spiritualitas kristen yang telah berlangsung sepanjang tahun 2007 ini, semakin dirasakan sangat perlunya umat kristen indigenous Indonesia bertambah matang tumbuh kembang dewasa dan berbuah. Hidup keberagamaan dan spiritualitas kristen yang sewajarnya makin mampu dihidupi dengan spirit, jiwa, moralitas, etika, sikap perilaku (behaviour) dan perbuatan sosial yang semakin cocok dan benar dengan inti ajaran kristen. Keberagamaan kristen dan spiritualitas yang diharap makin dapat dipertanggung- jawabkan, dengan kesanggupan melakukan refleksi introspeksi lebih dalam berikut orientasi pada kemajuan nyata dan terukur. Keberagamaan kristen yang berwawasan dan mencerah, jauh dari sikap picik, sindrom kecurigaan syak-wasangka dan berbagai perseteruan (menganggap yang lain sebagai musuh). Mampu makin seimbang dan integratif dalam memberikan penilaian terhadap berbagai fenomena kasus, peristiwa, pemikiran, aliran dan ketokohan. Tampil dengan performa dan kinerja lebih menyejukkan, kolaboratif, sehat membangun serta elegan dalam melakukan tugas perlombaan yang menghidupkan, bukan saling mematikan. Perlombaan sehat memperjuangkan tegaknya kebenaran, kemuliaan, kemandirian dan keteguhan bagi terwujudnya buah-buah kebaikan yang bisa dinikmati bersama.
2. Keberagamaan dan spiritualitas kristen indigenous bisa lebih giat diperjuangkan agar terhindar dari cara pandang kristen dikotomis, berbasiskan 'dualisme Platonis' yang serba keliru. Yang kerap melulu memisahkan kehidupan rohani (sakral, ibadah) dengan kehidupan sekuler dunia dan lingkungan. Antara kehidupan agamawi dan praksis hidup sehari-hari. Karena kehidupan sendiri sejatinya utuh dan holistik sifatnya. Kesalehan, sikap pietis dalam ibadah semestinya harus terwujud tercermin pada saat yang sama dalam kesalehan sosial dan hidup kolektif bersama lingkungan lannya di sekitar. Terekspresi nyata dalam karakker dan buah-buah kebaikan di berbagai sudut dan lapangan kehidupan. Sebab itulah peranan para pemimpin (leaders) kristen indigenous Indonesia, baik tingkat lokal nasional maupun global, semakin sangat dibutuhkan dan diharapkan pada masa sekarang dan ke depan. Guna melapangkan umat kristen indigenous berpeluang besar semakin memiliki jati diri serta wawasan kekristenan, kebangsaan, kesukuan yang lebih utuh, seimbang, matang dan dewasa di hari-hari ke depan sekaitan dengan pergaulan global yang sedang berlangsung dewasa ini.
3. Kristen indigenous di negeri ini sangat perlu lebih mengutamakan & memperjuangkan pola kesaksian dan pewartaan Injil kabar baik melalui cara dan pendekatan yang lebih natural (alamiah), mandiri dan dewasa dalam terang kasih dan kuasa Tuhan. Sanggup membagikan hidup berirama Injil kepada saudara-saudara rekan-rekan sahabat khususnya umat muslim dalam pelbagai mazhabnya sebagai umat mayoritas di negeri ini. Tentu, sebelum hal ini bisa terwujud, pola kesaksian dan persekutuan Injil secara internal di kalangan umat kristen sendiri dalam kepelbagaian denominasinya juga harus diperjuangkan dan diwujud-nyatakan. Meretas 'point of contact' baru, membangun relasi jaringan perserikatan, saling asah asih asuh disertai pemulihan hubungan kristen yang diperbarui, menjadi prasyarat requisite penting untuk Injil damai sejahtera terwartakan dengan baik dalam keseluruhan manifestasinya. Hal ini berlaku juga dalam hubungan kristen indigenous dengan umat pemercaya lainnya, baik pemercaya lokal, nasional dan global di era globalisasi ini. Sebab itulah, pola atau cara-cara persekutuan dan pewartaan Injil yang cendrung dan sering hanya melulu menekankan aspek-aspek sensasional, bombastis, hiperbolis, selebriti dan sarkastis disertai upaya-upaya provokatif dan 'black campaign' (kampanye hitam), mungkin perlu berkali-kali lagi dipertimbangkan kembali guna menjamin bertumbuhnya dan majunya iman keberagamaan wawasan sisi edukasi sosial dan kesadaran lingkungan umat dalam berbagai dinamika perubahannya kini dan ke depan.
4. Umat Kristen indigenous Indonesia di hari-hari sekarang dan ke depan mungkin perlu lebih lagi bersikap makin kritis, positip dan matang dalam menyikapi setiap fenomena, issue, informasi, ideologi, faham, ajaran-ajaran, model spiritualitas, model pembangunan, metodologi dan kemunculan tokoh-tokoh baru yang berasal dari luar sebagai konsekuensi logis dari begitu derasnya arus informasi global dan trans nasionalisasi yang bergerak demikian cepat. Sanggup mengambil yang pas, benar, seimbang dan baik, namun sekaligus mampu juga secara cerdas dan gesit membuang hal-hal yang jelas-jelas tidak cocok, tidak pas dan keliru hal-hal buruk, kotor atau 'jorok' serta absurd yang berasal dari luar (negeri ini).
Faham-faham ideologi yang justru membuat rapuh, lemah dan rusaknya iman kekristenan, spirit nasion dan kebangsaan dari luar, sangat perlu dikritisi, diwaspadai dan ditindak-lanjuti untuk mencari solusinya, seperti:
(a) Faham kesuksesan dan kemakmuran semu yang dibangun oleh berbagai konstruksi teologi, cara pandang dan filosofi keliru (a.l. teologi kemakmuran, teologi sukses). Yang berbuahkan faham materialisme, mamonisme, hedonisme dan individualisme sebagai turunannya yang berdampak sangat 'jelek' bagi kehidupan umat dan bangsa.
(b) Pada ekstrim sisi yang lain, faham asketisme, kemiskinan status-quo dan pemiskinan yang salah keliru dan sama'jelek'nya (seperti a.l. teologi kemiskinan), perlu untuk terus dikritisi dan 'dicounter' pandangan-pandangan teologis, cara pandang dan filosofinya; agar umat tidak terus-menerus berkanjang, terpuruk, tertindas dan terjepit dalam lembah kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan yang 'abadi'. Terjerembab dalam lubang dan kubangan kegelapan dan kehinaan yang sama dan klasikal, tanpa ada solusi terobosan dalam bentuk perubahan paradigma berikut penyediaan akses-akses kemajuan yang solutif, riel dan transformatif mengubahkan) .
(c) Radikalisme agama, politik agama adn politik aliran yang sempit dan picik dengan berbagai konstruksi pembenarannya yang konyol dan tidak realistis, dengan berbagai tindakan kekerasan (violenisme) serta teror massa (mob-terror) sebagai pelampiasan di luar hukum, norma dan peradaban.
(d) Pluralisme agama dengan pelbagai gerakan kepercayaan dan beliefs serba plural, serba merelatifkan dengan menafikan unsur kemutlakan dan singularitas kebenaran di era 'zaman baru' (new age) berikut sekularisme agama, pemikir bebas dan kemunculan 'super hero' 'super idol' 'tuhan-tuhan' baru yang berupaya melepaskan rasio dari iman sejati yang hidup, melepaskan eksistensi ciptaan (beings) dari Tuhan Sang Penciptanya (Being). Dan sebaliknya pula, berupaya membuktikan eksistensi Tuhan(Being)hanya sebagai manusia biasa (being) yang konon dikaji berdasar kaidah sains sejarah arkeologis yang nyatanya masih penuh kontroversi.
(e) Occultisme dan mistikisme tradisionil dengan berbagai mitosnya berkemas berversi 'campur sari' modern dan supra-modern, dalam kemasan produk ilmu teknologi dan multimedia yang masih sangat besar/kental pengaruhnya di bidang keluarga, sosial, seni budaya, masyarakat, media publikasi massa, pendidikan, bisnis usaha dan kehidupan politik negeri ini.
5. Kristen indigenous negeri ini sudah selayaknya harus bahu-membahu untuk turut berjuang bagi kemandirian kristen indigenous sendiri, pemantapan jati diri dan daya ungkit kemajuan negeri ini di bidang spiritual, theologi, lingkungan, sosial budaya, pendidikan, hukum, politik dan ekonomi. Cara yang paling efektif sejatinya adalah melalui pengayaan (enrichment) aspek kekristenan, keberagamaan dan spiritualitas umat. Meningkatkan kepekaan kesadaran umat akan lingkungan dan kekayaan warisan seni sosial budaya yang banyak diklaim sebagai buah warisan bangsa/negara lain, sambil tentunya terus melakukan adjustments transformatif. Dan yang penting lagi mengembangkan semangat kemandirian dan entrepreneurship berdasar perspektif kristen sebagai pilar kemajuan kristen indigenous sendiri secara lebih utuh.
6. Melakukan tekanan yang 'lebih keras' dan terbuka terhadap upaya pemberantasan korupsi (KKN) yang cendrung melamban dan melemah, pengentasan kemiskinan dan pengangguran, penanggulangan korban bencana alam & upaya reliefs, pengentasan kebodohan lewat jumlah, mutu strategi kurikulum pendidikan yang berdampak, penanggulangan imoralitas dan penyakit masyarakat mulai dari tingkat keluarga komunitas dan jemaat (kriminalitas, narkoba, judi, HIV/AIDs, premanisme, pungli, perceraian, free-sex, homosexual, perselingkuhan, provokasi propaganda dan keberingasan massa, tawuran, penyelundupan, pembalakan ilegal). Upaya riel mengatasi persoalan tidak terampilnya SDM dan masalah TKI dan kegagapan iptek. Terus meningkatkan kesadaran umat pada masalah hukum/hak asasi/keadilan (justice) dan arti kesehatan dan lingkungan. Pendeknya, berbagai bentuk aktivitas program, sosialisasi, jaringan dan improvements bagi solusi terobosan nyata perlu diiniasi dan diretas oleh pemimpin dan umat kristen indigenous di seluruh kabupaten/kota negeri ini. Berjuang lewat perbuatan dan karya nyata, selain juga lewat ide 'terobosan' dan gagasan transformasional mencerahkan.
7. Terkait budaya suku dan kebangsaan pada poin 5, Kristen indigenous di negeri ini harus mampu berupaya untuk menjaga dan merevitalisasi kekayaan sumber daya alam yang masih ada, serta warisan budaya seni talenta bangsa dan suku-suku bangsa yang sangat diapreasiasi dikagumi dan mendapat pengakuan dari bangsa-bangsa di tingkat regional dan global (seperti a.l. Batak, Dayak, Maluku, Sunda, Bali, Jawa, Toraja, Mamasa, Manado Minahasa, Sangir Talaud, Nias, Papua, Mentawai, Sumba, Timor, Alor, Flores, Luwuk, Poso, dll). Kebudayaan yang luar biasa, eksotik dan 'berwarna' (colorful) sebagai sumberdaya seni dan budaya SDM Indonesia yang inheren eksis di antero blantika negeri ini. Ini berpotensi menjadi "daya saing" yang luar biasa sebagai bagian jati diri dan modal talenta sosial budaya serta lingkungan yang memungkinkan bangsa termasuk generasi muda (genmud) negeri ini tumbuh dan berkembang; dalam penatalayanan dan pemberdayaan menuju kemajuan dan kejayaan yang lebih berarti, bermartabat, penuh confidence dan membangun respek ke depan dalam pergaulan internal dan masyarakat antar-bangsa.
8. Kristen indigenous di negeri ini harus terus mendukung secara intensif dan konsisten bagi akselarasi proses regionalisasi dan otonomi daerah (otda) dalam 'development strategic planning' dan 'sistem hukum perijinan dan anggaran' yang benar di berbagai daerah kabupaten/kota Indonesia. Mampu menggunakan konsep lokal-nasional- global dan pertumbuhan pengembangan daerah secara profesional dan qualified menuju pemerataan dan pertumbuhan. Sehingga kaderisasi dan suksesi kepemimpinan, kesejahteraan, keamanan, kemakmuran dan keadilan yang otentik dapat diraih. Sebab itu, kaderisasi pionir-pionir kepemimpinan generasi yang lebih muda, bersih, jujur, profesional dan cerdas menjadi keharusan guna menciptakan peluang pertumbuhan, keadilan dan kemajuan di berbagai lini kehidupan komunitas, masyarakat dan bangsa.
9. Sejalan dengan poin 5-8, Kristen indigenous di Indonesia bersama dengan komunitas dan elemen bangsa lainnya, sudah seharusnya mendukung aktif kepemimpinan yang bersih, berani, jujur, adil dan penuh keteladanan dalam jajaran trias politika dan jajaran daerah di seluruh antero negeri ini. Sekaligus mampu membangun tata hukum, keadilan, sistem kenegaraan, kemasyarkatan, tata kota, desa dan pesisir serta komunitas yang handal dalam menciptakan lingkungan negara, bangsa, daerah dan komunitas, teritori yang layak dan 'trustworthiness' .
10. Kristen indigenous Indonesia pada akhirnya sudah selayaknya secara konsisten memperjuangkan terjaminnya kebenaran hakiki dan sejati ditegakkan di tengah bangsa, negara dan komunitas; hak individual tetap dijamin, semangat kebersamaan kesetiakawanan sosial dan kebangsaan ditingkatkan, warisan seni dan budaya dijaga digalakkan direvitalisasi, ruang kreatifitas diberi tempat, pola pertumbuhan alam natural diperhatikan dan diatas segalanya otoritas Tuhan Pencipta Semesta Alam sejati bertakhta di tengah bangsa ini.
Semoga di tahun yang baru, 2008 para pemimpin, influencers dan umat kristen indigenous negeri ini dan di mana pun di bagian dunia ini, dapat memberikan kontribusi yang lebih nyata bagi suatu harapan baru, ekspektasi baru, bagi suku-suku bangsa di negeri ini, bagi bangsa tercinta ini. Harapan kemajuan di bidang keberagamaan, spiritualitas, lingkungan, keluarga, sosial budaya, pendidikan, hukum, politik/kenegaraan, ekonomi dan kemasyaratan; bagi tiap individu dan komunitas yang ada di dalamnya.
Kiranya Tuhan menolong dan selalu menyertai kita sekalian!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Foto udara Pulau Alor NTT
Photo, 2007