Monday, October 2, 2006

Komentar Saya Soal: Gereja Konvensional & Karismatik; Kekristenan & Adat Batak

Sebenarnya, dari beberapa tulisan beberapa kali, secara implisit saya telah menelisik/ mempertanyakan terkait kedua topik "cukup pelik" ini. Terutama dalam hubungan dengan fenomena "kemiskinan dan pemiskinan spiritual & sosial yang telah dan sedang terjadi di Tapanuli (Tanah Batak) dewasa ini. Berikut bagaimana kira2 mencermati penanggulangannya. Tanah Batak disini bisa diperluas pengertiannya untuk seluruh komunitas orang Batak di mana pun, termasuk Batak diaspora dan generasi mudapenerus Batak Kristen.

Thesis saya mengenai ini cukup sederhana, namun tidak gampang mungkin dalam mengimplementasikannya:

1. Soal Gereja Konvensional (Protestan) vs Gereja Karismatik.

Sederhanan saja, Jika Gereja Konvensional dalam kiprahnya cukup bermutu, dalam hal:
- Keandalan doktrin Kebenaran yang sehat (apakah itu Lutheran atau Calvinist/ Reformed), serta kuat dan cakap dalam apologetika dan penyebrangan dasar2 ajaran ke lingkungannya,
- Leadership nya mulai di pucuk pimpinan termasuk pimpinan STT yang bertanggung jawab atas kurikulum dan penggemblenggan calon pemimpin jemaat/gereja dan pimpinan2/pendeta/pengurus yang ada punya cara pandang (NDH: BBB) yang seiring/selaras - terutama dalam visi-misi-strategi-policy-implementasi penjemaatan,
- Melayani dengan penuh integritas (jujur)/keteladanan, jiwa melayani dan spirit kegembalaan/pastoral yang memadai dan tidak pilih kasih, memiliki kedewasaan rohani yang cukup(bukan hanya penguasaan ilmu theologi), tidak hanya condong mengedepankan materialisme dalam melayani,
- Mau terus belajar (open-minded) dan "mendengar", cerdik-bijak, kreatif mengikuti perkembangan di luar mimbar - tidak picik dan jaga image, memiliki confidence yang benar dalam melihat perkembangan SDM, SDA, SDT, SDK internal & eksternal,
- Tidak terus kaku dalam perceiving worship-service (kebaktian jemaat) yang menjadikan pola liturgi sebagai "harga mati", namun belajar "sedikit" ilmu service serta pendekatan pola service dari ahli-ahli di bidang manajemen,
- Memahami dunia persaingan dan kemitraan (NDH: BBB),
- Memahami cara2 membangun image baru bagi organisasi,
- Mengeliminasi segala ekses2 kejadian yang "tidak enak ditelinga" seperti kejadian2 seperti contohnya kasus yang terjadi di HKBP Pd Bambu dan tempat2 lainnya,
..................
Maka saya kira kita tidak perlu merasa takut dan akan tetap mampu confidence terhadap segala bentuk "ancaman/serangan/kritik dari pihak2 atau pengikut (fans) baik yang berada di dalam maupun di luar Gereja Konvensional - ya dalam kasus ini dari Gereja Karismatik. Kuncinya, seperti yang sudah berulang2 dibahas di milist ini: Kita perbaiki dari dalam, ecclesia semper reformanda est (internal reformation all the time). Jangan mengulang kesalahan yang sama lagi, evaluasi diri lalu tetapkan satu rancangan ke depan yang lebih baik-benar-bagus, kemudian..... mulai tingkatkan kapasitas dan kemampuan profesi serta berlaku dan bersikap rendah hati (tidak usah membangga2kan diri). Dua kalimat terakhir ini, saya kutip dari buku best-seller "Good to Great" dari Jim Collins (2004).

Saya yakin, bila hal2 di atas bisa dilakukan Gereja Konvensional secara tepat dan bersama-sama, maka "domba-domba" atau "warga2 itu" akan kembali ke kandangnya tanpa perlu lagi dipaksa-paksa, diperingatkan (dimarahi), diprovokasi, "di hipnotis", atau diagitasi. Dia balik kandang dengan senang hati dan penuh "sukarela" dan gembira.

2. Soal Kekristenan dan Adat Batak.

Saya kira sudah cukup ada literatur-lituratur, seminar, bahasan yang tersedia mengenai topik ini. Termasuk dari Lae Mangapul Sagala. Walau harus diakui sosialisasinya terkadang belum seintensif yang diharapkan banyak orang Batak Kristen, agar bisa lebih dimengerti oleh seluruh komunitas/orang Batak di berbagai tempat.

- Yang mendesak adalah: Bagaimana runutan serta rincian pandangan yang tegas, jelas dan lugas dari Gereja Konvensional terhadap seluruh tatanan Adat- Batak: menerima, menerima dengan catatan, atau menolak? Yang diterima/ditolak/diterima dengan catatan, yang mana saja? Cukup banyak uraian item-itemnya dalam pilar-pilar "way of life" Adat Batak: Dasar falsafahnya (paradigmanya), Sistem-prosedur tata cara paradaton nya (untuk perkawinan, kematian, kelahiran, dll),medium2 /alat2/sipanganon/materi bahan dll yang dipakai, dan legenda/mitos/pengenaan Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari bagi orang Batak.

Jika pun diterima bagian2 dari sistem prosedur adat Batak, mesti jelas apa alasannya (theologis, filosofis, sosiologis). Begitu juga jika ditolak atau diterima dengan catatan.

Kalau sampai ditolak/diterima dengan catatan, bagaimana solusinya agar warga mendapat jalan keluar dalam item-item adat itu bisa bersama-sama maju. Tinggalkan begitu saja (ganti yang baru, pakai cara pihak luar, cara modern dari mana?), atau diubah pola2 kebiasaan melalui pola transformatif menuju item prosedur/material adat yang dibaharui.

Jika seorang Batak di era Batak Baru, Kristen, mungkin ckp "mencurigai" atau meragukan pola tata-aturan sosial paradaton Batak sejatinya pernah dibangun di atas dasar peradaban tua animisme-Hindu Kuno-Budhisme dalam waktu yang lama; Atau paling tidak merupakan upaya sinkritis, blended, dari kepercayaan Animisme-Hindu Kuno-Budha Kuno dengan ajaran Kristen yang dibawa Nommensen pertama kali, dengan unsur2 Liberal-Modernisme, ..... apakah kemudian dia/mereka harus dilarang punya sikap dan "kecurigaan/keraguan" pemikiran demikian? Tentu kan tidak. Harus ada penjelasan dari kita. Sekarang eranya penjelasana, dialog. Why why?

Nah, dalam upaya mengkaji kembali "bangunan arsitektur" tata-adat budaya Batak di era Batak Baru ini, jelas sangat membutuhkan Konsensus Bersama, yang harapannya akan bisa terbangun "Bangunan Arsitek Adat Budaya Batak Era Batak Baru" yang diterima sebagai stream besar; di mana jika mungkin bukan saja bisa melibatkan Pimpinan tertinggi Gereja Konvensional, namun juga "orang2 paling berpengaruh" dari kelompok2 non-Gereja Konvensional yang peduli terhadap Batak; juga tokoh2 politik, pemerintahan, pengusaha, LSM dan pemuka adat khususnya yang berada di dalam masyarakat internal Batak Kristen.

Jika sudah ada keputusan bersama yang lugas, jelas dan tegas dari para pimpinan seluruh pihak dalam internal Batak yang Kristen, dan/atau internal Kristen yang Batak, saya yakin warga jemaat - keluarga - anggota komunitas terutama Batak yang Kristen/Kristen yang Batak beserta generasimudapenerus nya tidak perlu kebingungan dalam menentukan keputusan/pilihannya, menyangkut imannya dalam kaitan dengan adat Batak. Karena sisi "imannya" ini, nanti juga akan berpengaruh pada keputusan/pilihan mereka dalam menentukan keberadaan di Gereja mana mereka ingin bertumbuh: Gereja Konvensional atau Non Konvensional.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment