Thursday, May 10, 2007

Kualitas Pendidikan Terbaik: Kita Di sini Harus Mulai dari Mana?

Saya tidak terkejut dengan tulisan sumber Fergus Bordewich dari "Top of the Class dan ulasan Bro Andri A. Saputro yang menginformasikan bahwa Finlandia berdasarkan hasil survey international oleh lembaga Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) tahun 2003, memiliki kualitas pendidikan terbaik di dunia.

Tak dapat disangkal memang, Finlandia berserta dengan negeri Nordics lainnya (Norwegia, Swedia) nyatanya bukan saja terbaik dalam kepemimpinan pendidikan dan sistem pendidikan nasionalnya, tapi juga di segi2 lainnya.

Income per capitanya USD 33,800 an per tahun (bandingkan dengan Indonesia USD 1,280 per tahun). Kita sejak lama belajar studi komparasi masalah sosial-ekonomi kerakyatan puluhan tahun lewat Perkoperasian di sana. Kita belajar soal conflict-management dan peace-building di sana. Hampir seluruh BUMN dan perusahaan swasta di sini yang bergerak di bidang industri dan teknologi (seperti PLN, Migas, teknologi komunikasi sampai IT mobile technology) belajar di sana. Studi parliament, birokrasi pemerintahan, pemilu dan demokrasi juga di sana.

Kita di sini mau mulai dari mana?

1. Reformasi birokrasi, termasuk di bidang pendidikan.

2. Tingkatkan income per capita rakyat lewat pola a.l. koperasi yang benar dan pola pendistribusian dan produktivitas ekonomi tingkat masyarakat yang benar.

3. Moral dan governance, termasuk di bidang pendidikan.

4. Menteri dan parliament pusat dan daerah, orang yang profesional di strategi pendidikan bukan saja kenyang aktivitas politik parpol.

5. Kualitas, penyebaran guru, infrastruktur sekolah merata di 33 propinsi: 20% alokasi APBN dan APBD segera direalisasi (kalau perlu 30%). Skrg masih 11.2%.

6. Depdiknas dan Dinas2 pendidikan di daerah direformasi, jangan hanya layak dan wajar audit keuangan termasuk dana BOS, karena Mendiknas (Bambang Sudibyo) memang orang ekonomi keuangan, tapi layak dan wajar dalam policy sampai implementasi di lapangan di daerah2 - sampai tingkat unit sekolah.

7. Evaluasi efektivitas sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), berjalan efektif atau tidak, efisien atau tidak.

8. Tiru habis sistem Ujian Nasional seperti sistem ujian "O Level" (untuk SMP) dan "A Level" (untuk SMA, Junior College) seperti yang dijalankan hampir 60an negara khususnya commonwealth countries. Jangan lagi tiru sistem Belanda lama dan sistem nasionalisasi pendidikan sejak Orla Orba Orref sekarang.

9. Perbaiki mendasar sistem PENGAWASAN Ujian Nasional di 33 prop, tiru cara dan sistem pengawasan ujian O Level dan A Level di negara2 yang sudah maju.

10. Kembangkan pola-pola pendidikan kepada anak-anak didik yang membangun anak didik berpikir tingkat tinggi (high order thinking, HOT), bukan berpikir tingkat rendah (low order thinking, LOT) yang hanya tau menghapal, mengingat lalu mengaplikasi doktrin pragmatis dan pasif, asal banyak materi buku2 yang di suruh telan anak2 didik. Tanpa tau mengapa, mengevaluasi, menganalisa dan mengkreasi bentuk2 soal, meski dengan sedikit materi, pelajaran dan buku2 dan relatif jumlah jam belajar.

11. Perbanyak materi2 co-curriculer dan extra-curriculer yang juga mendapat nilai kredit, sama dengan pelajaran2 wajib; yang sangat menentukan bagi perkembangan dan kehidupan anak didik di masa yad. Tidak hanya banyak berkutat di kelas, tapi juga dengan pola out-door. Tidak hanya pola doktrinasi satu arah pedagogik, tapi belajar aktif - self study, banyak kesempatan eksperimen, learning by doing, experiencial learning process.

12. Perbanyak metoda pendampingan2 (guidances), bukan saja metoda micro teaching teoritis. Konseling2 dan penumbuhan kesadaran dengan contoh2 praktis realistis.

13. Disiplin reward dan punishment diterapkan di tingkat unit2 sekolah. Aktifkan peran overseer (penilik) lebih besar, tidak hanya kepala sekolah dan dewan guru. Disiplin tanpa teror dan kekerasan. Disiplin melalui cara2 yang elegan dan beradab dengan keteladanan.

14. Bimbingan2 belajar, home-schooling, tokoh2 pembaharu dan pendidikan luar sekolah dilibatkan dan diintegrasikan dengan sistem pendidikan formal dalam bentuk UU dan regulasi, monitor pelaksanaannya di lapagan, untuk bersama2 meningkatkan bimbingan dan pendamping kepada anak2 didik.

Itu mungkin PR besar kita semua jk pendek, menengah dan jk panjang terutama untuk seluruh kita yang concern di dunia pendidikan terutama dari level TK sampai SMA. Baru kemudian ke PT dan sekolah2 profesi.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Tuesday, May 8, 2007

Integritas dan Realitas: Quo Vadis?

Integritas dan Realitas: Quo Vadis? Ini dipertanyakan Bro Samuel Djurumbatu, pimpinan LSM bernama YES Sumba.

Menarik untuk memahami integritas (khususnya integritas pribadi) terkait dengan realitas di tingkat praxis. Jika antara integritas dan realitas ada 'gap', kesenjangan. Inilah permasalahannya. Kenapa hal itu bisa terjadi? Maunya, idealnya, seseorang mau punya integritas yang mantap, tapi terkadang realitasnya seseorang integritasnya di bawah standard. Bagaimana mengatasi gap ini.

Tinjauan dari kacamata worldview Kristen. Integritas berasal kata dari "integer" yang berarti bulat, lingkaran seperti bulatan bola atau roda, berarti 'utuh'. Dalam keutuhan dan kebulatan pribadi atau personality itu ada 3 unsur vital yang tergantung di dalamnya menurut cara pandang Alkitab: satu, unsur ketulusan; dua unsur kejujuran, dan tiga unsur kebenaran. Jika ketiga unsur tersebut sudah terpenuhi, itu disebut sebagai keutuhan yang bulat padu (integer, integrated, integrity). Itu ternyata terkait dengan hubungan pribadi seseorang dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain (lingkungan) .

Kata rekonsialiasi (reconciliation) atau pendamaian dalam Alkitab sesungguhnya memuat pengertian yang dalam mengenai pemulihan hubungan seseorang dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya. Berita Pendamaian erat kaitannya makna Paskah: hanya karya penebusan Allah dalam Kristus yang memampukan kita bisa hidup berdamai dengan Allah, dengan diri kita sendiri dan dengan sesama. Peran penebusan hanya bisa direncanakan, digenapi dan dilaksanakan oleh God Trinity (Bapa, Anak dan RK). Orang yang sudah mengalami penebusan, pendamaian dengan Allah, disebut dilahirkan kembali, memiliki potensi untuk memiliki integrity tersebut. Pembinaan rohani, mindset dan seutuhnya melalui Firman Tuhan dan keteladanan hidup sehari2 selanjutnya mengarahkannya menjadi pribadi utuh, terkait ketulusan, kejujuran dan kebenaran. Itu cara pandang Kristen.

Bagaimana jika seseorang belum dilahirkan kembali? Belum atau tidak pernah memperoleh pembinaan rohani, mindset dan seutuhnya yang SEHAT sejak kecil berlandas Firman Tuhan dan keteladanan, termasuk pada masa kanak2 hingga dewasa dalam keluarga, gereja dan sekolah. Jawabnya: sangat sulit memperoleh dan memperjuangkan integritas.

Bagaimana bila seseorang tidak/belum dilahirkan kembali? Tidak mengenal Alkitab, tidak percaya Alkitab? Landasan filosofis dan keilmuannya tidak sejalan dengan Alkitab? Bisa saja, tapi hemat saya mungkin seperti Nikodemus yang dijumpai Yesus ya. Atau orang muda yang kaya yang datang pada Yesus dalam kitab Injil. Akan sulit juga punya integritas yang disempurnakan (Tuhan) lewat pembinaan (rohani dan mindset) tentunya.

Memang manusia punya 'suara hati', intuitif, hati nurani. Itu juga bisa jadi pertimbangan untuk bisa punya integritas. Tapi masalahnya suara hati, hati nurani terkadang sangat mudah dipengaruhi oleh suara lingkungan. Iya kalau lingkungannya benar dan sehat, kalau sebaliknya.. hati nurani pun bisa jadi tumpul. Itu masalahnya, apalagi di tengah situasi atau lingkungan yang tidak kondusif hati nurani, suara hati ditumbuh-kembangkan . Jadi repot dalam realitas di praxis.

Balik lagi, yang perlu bagi kita untuk memupuk dan memperjuangkan integritas pribadi, adalah back to the Scripture (Bible), terus 'masuk' dalam pembinaan2 rohani dan seutuhnya yang terarah dan sehat; dan terakhir bergaul dengan orang2, keluarga, organisasi dan lingkungan yang memang recognized memiliki integritas yang mantap dan terbina dengan baik.

Satu lagi pengawasan sosial untuk seseorang tetap bertahan dalam integritas sangat vital. Makanya perlu tatanan rumah tangga (hubungan ayah-ibu-anak), pergaulan, organisasi, society sampai penyelenggaraan regulator, pemerintahan dan negara yang konsisten menempatkan pengawasan, pembuatan system, tata kelola, governance, bukan hanya sekedar artificial atau proforma belaka, tetapi betul-betul berdasar niat yang tepat, baik dan benar. Yang salah dihukum, yang benar diberi penghargaan, tanpa pandang bulu. Tidak boleh permissive. System yang benar, penegakkan aturan dan disiplin yang baik, akan turut menghasilkan pribadi2 yang berintegritas.

Kalau sudah demikian, pasti rumah tangga keluarga, sekolah, gereja, organisasi sampai ke tingkat masyarakat bangsa dan negara akan tumbuh sehat dan maju.

Thanks and blessings,
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Apa Benar LSM Masa Kini sudah Menjadi Sebuah Industri ?

Tulisan saya ini merespons atas penelitian Bro Benny Subianto, yang menjumpai LSM dewasa ini sejak Reformasi sudah berubah "jubah" menjadi sebuah industri (kartel). Hemat saya apa yang disampaikan itu ada benarnya, tapi juga ada tidak benarnya.

Ada benarnya, bila LSM itu sudah terkait dengan kepentingan, orientasi dan pembuat policy dan directionnya sudah bisnis semata. Itu yang saya sebut dalam beberapa tulisan sebagai LSM "plat IMF-World Bank-IFC", LSM "plat merah" dan LSM "makelar". End of mind atau destinasi kegiatannya bukan bertujuan sosial, pemberdayaan mereka yang homeless, powerless, di mana the poor sebagai subject, tapi mengeduk keuntungan sendiri. Tidak ada nilai kebajikan (virtue values) di situ. Funding, profit, making money, penguasaan pasar menjadi tujuan akhir. LSM yang demikian hemat saya lebih bagus "buka kedok" beroperasi sebagai PT, corporate holding company atau limited companies saja. Lebih elegan dan fair. Sah-sah saja di era demokrasi seperti sekarang.

Ada tidak benarnya, karena berdasarkan penelitian dan pengamatan saya di lapangan, ternyta masih cukup banyak LSM lokal yang standing alone, berotonomi dan punya kedaulatan lokal mereka sendiri. Istilahnya prinsip dan nilai2 lokal mereka 'tidak bisa di beli' begitu saja. Saya masih percaya, di era kini - era Reformasi ini, masih ada LSM dan bahkan masih banyak LSM yang yang bekerja berdasarkan kepentingan grass roots communities yang diperlakukan injustice, berstatus powerless, tidak punya akses. LSM masih dijadikan kendaraan atau tools of idealism, tanpa menafikan realitas dan realisme yang ada, khususnya di bidang pendanaan (funding). Kita bisa melihat kenyataan itu di LSM2 lokal di DIY Yogya, Jateng, Kupang NTT, Sulsel, dan masih banyak daerah lain termasuk di Jabodetabek. Tidak sedemikian mudah, para 'industrialis' dan kartel2 tersebut mau masuk atau intervensi kepada mereka, dengan segala macam taktik, strategi dan tawaran fasilitasi. Ini tidak lepas dari benturan kepentingan faham2 ultra kapitalis, kapitalis, "kristen- garis tengah", sosialis dan marxis secara global-regional- nasional- provincial- lokal di dunia.

Funding dan kegiatan2 sosial ekonomi dari LSM hemat saya, semestinya ditangani secara profesional layaknya pengurus dan eksekutif menangani suatu bisnis. Sangat perlu melakukan hal tsb demi akuntabilitas, integritas dan transparency LSM itu sendiri. Namun, direction dan policy nya sejatinya harus konsisten kepada tujuan sosial, kepetingan grass roots sebagai subjects. Biasanya yang saya temui, LSM2 jenis ini memang masih mempertahankan pola kebijakan otonomi lokal (tidak mau global), standing alone meski melakukan networking kemana-mana guna memperluas penjangkauan dan program mereka di tengah komunitas basis yang membutuhkan.

Sebab itu bentuk yang dikembangkan mereka masih berpolakan LSM lokal, Lembaga Keuangan Mikro (LKM) lokal, yayasan, LPS (Lembaga Pelayanan Sosial), LPK (Lembaga Pelayanan Kristen), atau LPES (Lembaga Pelayanan Ekonomi-Sosial). Jika pun ada yang melakukan kegiatan 'bisnis' lokal yang dikelola oleh lembaga2 lokal atau LSM tsb, itu sejatinya masih merupakan bagian dari kegiatan "business for the poor" atau "profit for the poor", di mana andil dan profit yang diperoleh menjadi manfaat seutuhnya 'the poor'. Tidak heran, jika LSM2 lokal itu kini di banyak pelosok tanah air mengambil jenis kegiatan atau kelembagaan Koperasi (Kop Simpan Pinjam, Kop Serba Usaha, Kop Pengolahan, Kop Produksi) sebagai salah satu unit usaha bersamanya. Kita tau koperasi sejatinya dimiliki oleh seluruh anggota.

Moral hazard tak dapat dipungkiri masih bisa terjadi dalam pengelolaan LSM lokal berikut Koperasi2 sebagai unitnya. Tapi semua itu masih dalam lingkup persoalan kurangnya pengetahuan dan ketrampilan manajerial, supervisi, evaluasi dan sejenisnya. Sebab itu program2 seperti pelatihan, capacity building, penguatan institusional, tata-kelola yang akuntabel dan berintegritas, masih sangat diperlukan bagi mereka. Singkatnya, kedaulatan dan otonomi LSM lokal masih tetap terjaga dan bisa dijaga, dari intervensi global kartel tersebut. Meski perlu perjuangan dan konsistensi tidak mengenal lelah.

Akhirnya saya menyarankan, agar LSM2 lokal tersebut ke depan mampu membagi kegiatan misinya secara terpisah dalam 2 misi besar: Satu, misi idealisme untuk kepentingan grass root (rakyat "in needy") dan mempertahankan ciri serta kedaulatan lokal. Kedua misi usaha agar tetap bisa sustainable dengan cara merespons secara kreatif peluang2 global, tanpa harus menciptakan ketergantungan2 yang tidak perlu terhadap kepentingan2 para industrialis dan kepentingan global lainnya.

Aturan main, penegakkan hukum dan complience masih diperlukan bagi regulator untuk mampu memisahkan di mana domain industri dan di mana domain aktivitas2 pemberdayaan sosial, HAM dan demokrasi sebagaimana dilakoni oleh LSM2 terutama LSM lokal.

Terima kasih.

Salam,
HMS

Friday, May 4, 2007

Creativity & Limitation of Ourselves: Dalam Mengatasi Dilema

Menurut saya ada 2 (dua) kata kunci yang selalu menyertai dan diperlukan dalam mengatasi dilema hidup, yakni: Creativity (kreativitas) dalam arti sejatinya di satu sisi, dan Limitation of Ourselves sebagai ciptaanNya, di sisi lain.

Creativity, di satu sisi.
Dua minggu lalu saya sempat share dengan Bung Antonius Tanan, Pak Soen Siregar dan beberapa alumni Kristen di kantor Bung Anton di Jakarta. Creavity di sharing itu kami saling setujui sebagai kemampuan berpikir, kompetensi, skill, sekaligus potensi yang mesti dikembangkan menjadi resource yang sangat penting dan urgen bagi setiap orang khususnya orang Kristen. Bukankah Allah sebagaimana kita liat dalam Alkitab Kejadian 1 dan 2, adalah Allah yang kreatif.

Kreativitas dapat mengandung arti: menjadikan sesuatu yang 'tidak ada' menjadi 'ada'. Bisa juga berarti membuat sesuatu yang 'ada dan baik' menjadi 'ada dan lebih baik' bahkan kalau bisa terus diimprove, ditingkatkan menjadi 'the best', 'excellent'. Bisa juga berarti kemampuan mengubah masalah, sedilematik bagaimana pun menjadi suatu peluang atau kesempatan untuk maju. Kemampuan untuk merubah dari kondisi 'beban masalah' atau 'beban pikiran' menjadi 'solusi atas masalah'. Betul, dalam bahasa system atau logistik disebut 'Total Solution'.

Kreativitas hemat saya tidak hanya berlaku di bidang bisnis, entrepreneurship atau pekerjaan. Tapi di semua bidang dan lini kehidupan kita, apalagi sebagai anak Tuhan semestinya memiliki hal ini, karena kita adalah peta teladan Tuhan yang Maha Kreatif. Hidup dengan kreativitas menjadikan hidup ada dalam dinamika, proses berkembang yang tetap dalam keseimbangan namun tidak monoton, namun dinamis.

Mengutip Bung Antonius Tanan, kreativitas merupakan salah satu bentuk paling ultimate (paling tinggi) dari High Order Thinking (HOT). Mencapainya menurut saya mesti melalui doa, iman, ketaatan, usaha pegembangan diri, latihan, pendidikan, praktek dan pengalaman yang rata2 diperoleh bukan di bangku sekolah atau kuliah. Ada tahapan2nya, setelah tentu melalui tahapan2 yang disebut Low Order Thinking (LOT). Sayang sistem pendidikan dan pelatihan di negeri ini, kadang kasat mata lebih banyak mengacu kepada LOT dibanding mengajar yang diasuh/dibina ke arah HOT. Makanya negeri ini sulit untuk menjadi maju, dinamis dan developed progresif. Tapi jika kita mau, sebenarnya banyak peluang untuk kita bisa masuk sampai ke tahapan HOT, dan mengalami 'hal2 yang tidak pernah kita duga' sebelumnya (bisalah disebut 'mujizat') sebagai rakhmat Tuhan. Kita senang dan berbahagia kala melewati masa2 itu. Biasanya semakin situasi tidak pasti, tidak nyaman, di luar comfort zone, terjepit.., creativity justru mengambil peran vital yang mampu membawa kita pada posisi "naik kelas", 'melompat lebih tinggi'.

Limitation of Ourselves, di sini lain.,
Di samping 'kehebatan' dari power of creativity yang dapat di latih dan dimaksimalisasi/ optimalisasi, sebagai orang percaya anak Tuhan kita juga memang mesti sadar bahwa ada satu titik, ketika kita sudah berupaya "till the edge" sampai semaksimal2nya, pada kenyataannya kinerja, target dan pencapaian kita tidak sesuai dengan harapan kita, dan harapan stakeholders secara umum. Di sinilah mungkin kesadaran kita sebagai 'yang diciptakan' Tuhan (created by God) harus terpatri. Kita bukan Tuhan, bukan Creator, tapi kita ciptaan Tuhan, yang diciptakan.

Kondisi ini akan membuat kita ada penguasaan diri, sudah berkinerja rajin, kerja keras, smart, excellent tapi dapat menerima kondisi yang belum/tidak sesuai dengan harapan dengan kerendahan hati dan simplicity. Tetap punya semangat pengucapan syukur, selebrasi yang seutuhnya sebagai seorang manusia (Kristen). Mengucap syukur dalam keterbatasan juga merupakan suatu kekuatan yang luar biasa di tengah situasi yang paling jelek sekalipun.

Refleksi saya
Kebenaran Kristen menurut saya selalu berada dalam dua kutub itu: Creativity di satu sisi dan Kesadaran bahwa kita juga ada batas sebagai ciptaan Tuhan (Limitation of Ourselves), di sisi yang lain.

Nah, yang sekarang perlu kita ketahui dan pahami dari masing2 pribadi kita adalah: Sampai sejauh mana tingkat Creativity yang Tuhan ingin ijinkan kita capai, dan sampai di mana batas kapasitas kita masing2 sesuai pemberian Tuhan. Mungkin, kalau sudah megetahui dan memahami demikian, kita bisa disebut sebagai 'orang yang bijaksana', 'orang yang berbahagia'.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)