Friday, May 4, 2007

Creativity & Limitation of Ourselves: Dalam Mengatasi Dilema

Menurut saya ada 2 (dua) kata kunci yang selalu menyertai dan diperlukan dalam mengatasi dilema hidup, yakni: Creativity (kreativitas) dalam arti sejatinya di satu sisi, dan Limitation of Ourselves sebagai ciptaanNya, di sisi lain.

Creativity, di satu sisi.
Dua minggu lalu saya sempat share dengan Bung Antonius Tanan, Pak Soen Siregar dan beberapa alumni Kristen di kantor Bung Anton di Jakarta. Creavity di sharing itu kami saling setujui sebagai kemampuan berpikir, kompetensi, skill, sekaligus potensi yang mesti dikembangkan menjadi resource yang sangat penting dan urgen bagi setiap orang khususnya orang Kristen. Bukankah Allah sebagaimana kita liat dalam Alkitab Kejadian 1 dan 2, adalah Allah yang kreatif.

Kreativitas dapat mengandung arti: menjadikan sesuatu yang 'tidak ada' menjadi 'ada'. Bisa juga berarti membuat sesuatu yang 'ada dan baik' menjadi 'ada dan lebih baik' bahkan kalau bisa terus diimprove, ditingkatkan menjadi 'the best', 'excellent'. Bisa juga berarti kemampuan mengubah masalah, sedilematik bagaimana pun menjadi suatu peluang atau kesempatan untuk maju. Kemampuan untuk merubah dari kondisi 'beban masalah' atau 'beban pikiran' menjadi 'solusi atas masalah'. Betul, dalam bahasa system atau logistik disebut 'Total Solution'.

Kreativitas hemat saya tidak hanya berlaku di bidang bisnis, entrepreneurship atau pekerjaan. Tapi di semua bidang dan lini kehidupan kita, apalagi sebagai anak Tuhan semestinya memiliki hal ini, karena kita adalah peta teladan Tuhan yang Maha Kreatif. Hidup dengan kreativitas menjadikan hidup ada dalam dinamika, proses berkembang yang tetap dalam keseimbangan namun tidak monoton, namun dinamis.

Mengutip Bung Antonius Tanan, kreativitas merupakan salah satu bentuk paling ultimate (paling tinggi) dari High Order Thinking (HOT). Mencapainya menurut saya mesti melalui doa, iman, ketaatan, usaha pegembangan diri, latihan, pendidikan, praktek dan pengalaman yang rata2 diperoleh bukan di bangku sekolah atau kuliah. Ada tahapan2nya, setelah tentu melalui tahapan2 yang disebut Low Order Thinking (LOT). Sayang sistem pendidikan dan pelatihan di negeri ini, kadang kasat mata lebih banyak mengacu kepada LOT dibanding mengajar yang diasuh/dibina ke arah HOT. Makanya negeri ini sulit untuk menjadi maju, dinamis dan developed progresif. Tapi jika kita mau, sebenarnya banyak peluang untuk kita bisa masuk sampai ke tahapan HOT, dan mengalami 'hal2 yang tidak pernah kita duga' sebelumnya (bisalah disebut 'mujizat') sebagai rakhmat Tuhan. Kita senang dan berbahagia kala melewati masa2 itu. Biasanya semakin situasi tidak pasti, tidak nyaman, di luar comfort zone, terjepit.., creativity justru mengambil peran vital yang mampu membawa kita pada posisi "naik kelas", 'melompat lebih tinggi'.

Limitation of Ourselves, di sini lain.,
Di samping 'kehebatan' dari power of creativity yang dapat di latih dan dimaksimalisasi/ optimalisasi, sebagai orang percaya anak Tuhan kita juga memang mesti sadar bahwa ada satu titik, ketika kita sudah berupaya "till the edge" sampai semaksimal2nya, pada kenyataannya kinerja, target dan pencapaian kita tidak sesuai dengan harapan kita, dan harapan stakeholders secara umum. Di sinilah mungkin kesadaran kita sebagai 'yang diciptakan' Tuhan (created by God) harus terpatri. Kita bukan Tuhan, bukan Creator, tapi kita ciptaan Tuhan, yang diciptakan.

Kondisi ini akan membuat kita ada penguasaan diri, sudah berkinerja rajin, kerja keras, smart, excellent tapi dapat menerima kondisi yang belum/tidak sesuai dengan harapan dengan kerendahan hati dan simplicity. Tetap punya semangat pengucapan syukur, selebrasi yang seutuhnya sebagai seorang manusia (Kristen). Mengucap syukur dalam keterbatasan juga merupakan suatu kekuatan yang luar biasa di tengah situasi yang paling jelek sekalipun.

Refleksi saya
Kebenaran Kristen menurut saya selalu berada dalam dua kutub itu: Creativity di satu sisi dan Kesadaran bahwa kita juga ada batas sebagai ciptaan Tuhan (Limitation of Ourselves), di sisi yang lain.

Nah, yang sekarang perlu kita ketahui dan pahami dari masing2 pribadi kita adalah: Sampai sejauh mana tingkat Creativity yang Tuhan ingin ijinkan kita capai, dan sampai di mana batas kapasitas kita masing2 sesuai pemberian Tuhan. Mungkin, kalau sudah megetahui dan memahami demikian, kita bisa disebut sebagai 'orang yang bijaksana', 'orang yang berbahagia'.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment