Thursday, November 20, 2008

Gelombang PHK, Perlunya Pembalikan Paradigma Kebijakan, 10 Langkah Terobosan!

Dear readers,


Saya kutipkan tulisan, ulasan Harry mengenai antisipasi yg seharusnya dilakukan Indonesia menyikapi dampak krisis keuangan global yang sudah mulai dirasakan di negeri ini. Antara lain, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai dilakukan di bulan-bulan ini oleh sejumlah pabrik dan industri manufaktur di Jawa, Kalbar dan Sumatera.

Demikian ulasannya, silakan disimak.

Kawansku,

Sy sependapat dgn rekan robert.hizkia di salah satu milis (aliteia) dan ekonom Faisal Basri bbrp waktu lalu. Bahwa yg pastinya akan terkena imbas krisis keuangan global sangat keras di negeri ini, adalah tentu Sektor Keuangan sendiri (pasar saham, pasar uang, valas), Sektor Perbankan yg link dgn pasar internasional serta Sektor2 Riil Modern di perkotaan (sub sektor Properti, Mall, Manufaktur, Perdagangan Kendaraan dgn BBM, Hypermart dsjns) trtm kota-kota besar di pulau Jawa, sbgn Bali dan sektor2 Riil Modern di Indonesia Bag Barat.

Yang relatif tidak terkena imbas plg tidak jelas-jelas ada di 4 sektor: Kalau di pulau Jawa dan Indonesia Bag Barat. (

1) Sektor2 Tradisional di pedesaan, daerah pegunungan dan pesisir (Agro, Perikanan dll)

(2) Sektor UKM, koperasi dan microfinance yg "standing alone" tdk link internasional.

(3) Sektor Paska-Modern: spt bidang Seni Budaya Kreatif yg sgt dicari oleh internasional, Musik Indonesia kontemporer, Desain kreatif, dll.

(4) Kalau di Indonesia Bag Timur, hampir seluruh sektor (Perkebunan, Agro, Perikanan, Industri, Perdagangan dll), boleh dikatakan relatif tidak terkena imbas, bahkan utk Komoditi2 yg booming, dpt mendapt berkah dari menguatnya dollar AS serta melemahnya nilai rupiah.


So, langkah nyata yg bisa/hrs dilakukan bersama harus berdasar atas pembalikan paradigma Kebijakan politik-ekonomi scr drastis di tengah krisis.

Meliputi 10 langkah terobosan (dari hasil kajian yg selama ini dilakukan), yaitu:

1. Berantas KKN dan Suap, tidak boleh berhenti sedikitpun oleh KPK dan Tipikor dll; tdk dpt tdk kian hari harus terus galak, tanpa kompromi, termasuk bagi mereka yg sdg "tiarap" sekarang.

2. Korban puluhan ribuan PHK dan tenaga2 mandiri (profesional dan semi pro) segera disosialisasi utk beralih pekerjaan/usaha dari Sektor Modern Riil ke 4 Sektor diatas. Dengan tujuan ekspor sdh waktunya diarahkan kpd negara2 non-AS dan non-Eropa.

3. Penciptaan lapangan kerja/penyerapan TK bersifat taktis emerjensi melalui pencairan cepat dana2 APBN/APBD di bid infrastruktur, penyaluran kredit UMKM dll trtm di luar Jawa dan Indonesia Bag Timur, dgn melibatkan slrh korban PHK, generasi muda dan para lulusan sekolah/PT.

4. Spt yg dilakukan India, Thailand dan China, Pemerintah harus turun tangan melindungi ke-4 sektor diatas melalui putusan Kebijakan dan Perundang-undangan.

5. Dgn peraturan dan undang2 pula, Pemerintah "memaksa" agar dana2 para pengusaha/pedagang indonesia yg selama ini parkir di luar negeri hasil transaksi perdagangan dlm bentuk US dollar, agar dialokasikan ke dalam negeri.

6. Sosialisasi dan ketegasan setiap Warga Negara tidak memborong dollar, pengetatan semua item biaya, memakai barang2 produk dalam negeri, pengurangan seluruh pemakaian komponen produk dari LN (impor), kewajiban Pajak bagi produk booming, dst.

7. Peran LSM, LPSM, societas, asosiasi sipil, media yg akurat berimbang dan bertanggung- jawab dan peran2 sejenisnya diperkuat utk penguatan kohesivitas lokal dan nasional. Termasuk antar hubungan antar Ormas, Partai dan kelp2 politik dalam negeri.

8. Pembiayaan seluruh proses demokratisasi dan Pemilu 2009 dan pilkada2 dilakukan reduksi penghematan nyata, tanpa menghilangkan substansi. 9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu. 10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.

9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu. 10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.

10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.

Salam damai (Harry B ++).


Hal yang telah disampaikan ini, saya kira sangat mendesak menjadi fokus perhatian dan "urgent plan" Pemerintah dan seluruh elemen bangsa yang mencintai bangsa ini.


Tuhan memberkati.

Wednesday, November 12, 2008

Sharing Awal: Pendirian Sebuah Universitas Kristen di Kalabahi, NTT

Sahabat terkasih,


Seperti diketahui, ada beberapa rekan dari elemen Bakti Nusa Connections juga bergabung di forum milis yang bernama Aliteia. Namun, ada juga yang tidak bisa berkoneksi, a.l. oleh karena keterbatasan akses internet, dll. Nah.. dengan beberapa orang yang tidak bisa bergabung inilah, saya baru saja melakukan koordinasi lapangan.


Sharing awalnya begini. Sudah sejak beberapa tahun lalu sebenarnya, di NTT tepatnya di Kalabahi Alor, teman-teman ini sdh menggumuli, punya visi dan mimpi, dan mulai merencanakan lebih telaten bagi berdirinya sebuah Universitas Kristen yg diharap di kemudian hari dapat menjadi salah satu center of excellent bidang pendidikan tinggi di wilayah NTT.


Di awal 2008, visi, mimpi dan perencanaan tsb telah menunjukkan hasil yang nyata, baik di tingkat policy dan di lapangan (tingkat implementasi). Sebuah Universitas Kristen telah berhasil diretas, dan telah didesain secara bertahap untuk 5 fakultas, yang kesemuanya disesuaikan dengan kebutuhan yg dirasakan untuk kemajuan wilayah-wilayah di NTT.


Menurut desain organisasi yang telah disepakati sejak awal, Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini berada sepenuhnya di bawah naungan lembaga Gereja, dalam hal ini Gereja Klasis GMIT Timor. Berdasarkan potensi, tantangan, kekhasan, peluang dan prospek ke depan, ckp banyak penilaian bahwa Gereja Klasis ini sesungguhnya kelak dpt ditingkatkan secara bertahap menjadi Gereja bertingkat Sinode di Kalabahi NTT.


Bertalian dgn sharing saya ini, support berupa 4 D (Doa, Daya, Dana dan Dukungan moril akses knowledge skills good will dll) dari segenap members Aliteia, akaan sangat dibutuhkan bagi kehadiran Universitas Kristen ini. Support perlu diberikan bagi teman-teman dalam tim yang telah berjuang dan bekerja keras bagi berdirinya Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini.


Saya berharap rekan2 sahabat sekalian yg punya visi dan passion di bidang higher education, kiranya dpt mendukung usaha sangat nyata ini, dalam bentuk-bentuk berupa fasilitasi, support kemitraan, lecture activities atau apapun namanya yg lebih riel.


Ini menjadi sharing dan informasi awal bagi kita sekalian, sebelum saya/kami dapat mensharekan secara lebih lengkap tahap-tahap perkembangan yg sedang dilakukan baik di tingkat kebijakan/policy maupun di tingkat implementasinya.


Salam karya kasih nyata,

HMS :-)

Tuesday, November 11, 2008

Start From Reality. Dan Bukan Diri Kita Sendiri Yang Mengucapkannya.

Start from the reality.
From reality to ideal statue.


Realita yg tak dpt kita tolak, sbgmn threads yl terkait, peran DPD dan DPR, masih relatif banyak yg harus dibenahi di bid/pentas politik & state.


Bukan hanya dlm hal posisi peran DPD dalam sistem ketata-negaraan, tapi juga peran fungsi dan moralitas DPR, bahkan juga di tubuh birokrasi pemerintahan kita. Sebagai mana peran Media, TV dan multi media, sikon DPD, DPR dan birokrasi.. ini semua sebenarnya mjd cermin faktual keadaan riel negara dan masyarakat jg di tingkat praksis, yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sabang sampai merauke.


Sebab itulah ekspektasi kita bersama, baik sbg Indonesia maupun sbg kristen warga, mari kita hands-on dgn elemen bangsa lainnya, utk memberi kapasitas penguatan bersama, upaya pembenahan2 dan kritisi yg terukur, agar lembaga2 diatas makin tahun makin betul2 mjd institusi yg terhormat.


Kata "terhormat" bukan saja hanya dlm tataran ucapan atau sapaan diri sendiri, atau kalangan sendiri di lingkungan kelembagaan Terhormat disini, kita artikulasikan kembali, mengandung pengertian:

1. Tidak menjadi tempat/lahan komersialisasi.

2. Tidak menjadi "menara gading".

3. Tidak menjadi ketertutupan sbg sebuah budaya. (transparency lah yg seharusnya mjd kebudayaan baru NKRI ke depan).

4. Tidak menjadi "caucus" utk melakukan pembohongan publik, dan atau rekayasa licik atau "regulatory game" (permainan hukum/undang2/ peraturan) yg dilakukan hanya segilintir orang utk mengelabui/memperda yai kepentingan umum/banyak orang.

5. Last but not least, Tidak lagi menjadi sarang Korupsi/KKN dan suap-menyuap, yg berakhir di kursi pengadilan dan penjara.


Dari ke-5 artikulasi terhadap realita di atas, maka marilah kita di Aliteia turut memperjuangkan bersama ke arah ideal statue, sesuai harapan begitu banyak orang sekarang ini.


Kita ingin mjd bangsa yang terhormat. Masyarakat yang terhormat. Kristen terhormat. Dan bukan diri kita sendiri, bukan Indonesia sendiri, bukan orang kristen sendiri.., yang mengucapkannya.


Salam,
HMS :-)

Monday, November 10, 2008

Mari Kita Bersama "Memancar Keluar" (Garami Terangi Bidang/Pentas Politik).

Kita patut bersyukur. Ckp banyak teman-teman di masy Aliteia ini sdg meretas perjuangan baik melalui mell keaktifan di Parpol-Parpol dan sdg berjuang maju sbg Caleg DPR/D, maupun melalui jalur DPD di propinsi2.


Untuk jalur DPD, saya mendengar klu tidak salah ada sekitar 19-21 propinsi dari 33 propinsi (57-63%) terdapat ada 1 orang atau lbh dari 1 org warga masy Kristen/Katolik yang telah masuk dlm bursa pencalonan Anggota DPD (Senator Propinsi) utk Pemilu 2009.


Hal yg perlu disyukuri. Meskipun, harapannya jk boleh di seluruh 33 propinsi seyogianya ada warga masy Kristen/Katolik min. 1 orang masuk sbg calon DPD. Mudah2an mjd doa dan upaya kita, di Pemilu 2014 hal ini dpt direalisasikan! Sebab itu, sy mengencourage teman2 disini yg mgkn punya minat dan passion mjd calon DPD/anggota DPD, boleh mempersiapkan diri sejak sekarang.


Dan khusus berkenaan dgn DPD bds posting yg sy baca dan ikuti minggu ini, sy mengucapkan sekali lagi selamat berjuang kpd bro Rekan Victor Silaen (DPD Prop DKI Jakarta), rekan Hasudungan Limbong (DPD Prop Sumsel) dan rekan Gabarel Sinaga (DPD Prop Sumut). Ada satu lagi, suami dari rekanita kita Dr Indira J Simbolon, yu Bro Sumurung Samosir, juga menjadi calon DPD untuk Prop. Sumatera.


Sebagai leaders/calon Leaders di Pentas Politik, spt di postingan sy sebelumnya sekaitan dgn Pemilu di AS, sy melihat bulan-bulan ini kedepan dan jg waktu2 selanjutnya brngkali akan mjd semacam 'Examination Periods (Periode2 Pengujian)" yg harus dilampaui oleh anda-anda sekalian. Mengutip ungkapan nabi Daniel, pengujian juga berpadu-padan dgn proses purifikasi (Pemurnian) dlm banyak hal (visi, niat, pikiran hati, dll). Reformator Luther mengatakan doa 50% faktor keberhasilan. Sisanya 50% lagi tentu, harus dilakukan dgn upaya, keuletan, team-work dan kerja keras.


Demikian juga harapan sy utk teman2 yg aktif di kepengurusan Parpol dan sbgn besarnya masuk pula dlm bursa pencalonan Aleg DPR/D mendatang. Maka, mgkn tdk berlebihan bila saya berharap bilamana semua rekan2 sy yg ada di masy Aliteia ini, para leaders di berbagai daerah, di jakarta, dan di LN, with your people and networking tentunya, marilah kita dukung sepenuhnya rekan-rekan kita ini dgn apa yg mgkn ada pada kita (terliput 4 D: Doa, Daya, Dana, Dukungan moril, akses, suara, dll)


Inilah mungkin waktunya, harapannya kita scr bersama dpt memancar keluar, outword looking, utk tugas mendukung lebih serius dan lebih total teman-teman kita yg diharap bisa mampu nantinya menggarami dan menerangi pentas politik kenegaraan termasuk berharap di birokrasi juga.


Mengenai hasil finalnya, kita sadari itu mjd urusannya Tuhan. Namun dgn berbagai doa dan upaya kita, kita berharap agar terjadi kemajuan, dampak riel dan transformatif, utk kemajuan Indonesia khususnya fokus kita kali ini di bidang atau pentas politik.


Oh ya, Selamat Hari Pahlawan !!

God bless you all, God restore Indonesia.


Salam, HMS :-)

Saturday, November 8, 2008

Seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi.

Ulasan di bawah adalah tanggapan saya seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi, dengan Bro Andry Pakan dan Sis Anne di forum milis Aliteia.


Demikian isinnya:


Menarik apa yg anda wacanakan seputar misi holistik kristen dan transformasi. Perkenankan sy ikut menanggapi, line by line khususnya quote dari bro Andry. tks.

Andry Pakan:
Tentang mengurangi wacana di sekitar misi yang holistik atau transformasi yang tidak diikuti langkah konkrit, begini : Saya menggunakan kata "menerobos (keluar dari tembok-2 Kristen)" karena dari pengamatan saya, gereja terlalu berpusat kedalam, walaupun masih berwacana tentang misi.

HMS:
Mungkin ada benarnya, apa yg anda katakan bhw umumya gereja2 dan kekristenan di Indonesia dewasa ini mash ckp banyak yg terlalu berpusat ke dalam (urusan intern belaka). Pola pandang Inward Looking. Istilah bro Harry Borneo, gereja masa kini sibuk dgn urusannya sendiri-sendiri. Ada kesan, ingin maju sendiri-sendiri (tapi apakah benar maju?). Kecendrungan hanya ini berorientasi pd kepentingan kalangan sendiri. Sibuk dgn urusan pembangunan gedung gereja, sibuk hanya dgn hal-hal spiritual sakral saja: ibadah, kebaktian dll menafikan hal-hal yg profan. Sibuk dgn masalah perbedaan2 (a.l doktrin), masalah funding, kesejahteraan pengerja gereja dan masalah "perpecahan2" internal yg sebenarnya mgkn "tidak perlu", dll. Akibatnya, tantangan dan permasalahan yg jauh lebih besar yg dihadapi Gereja dan Kekristenan dewasa ini, utamanya menyangkut eksistensi di tengah masyarakat lokal-nasional, bangsa dan negara, dari Sabang sampai Merauke jadi cendrung terabaikan.

Memang, sejatinya Kekristenan di indonesia, spt Kekristenan mula-mula, harusnya berpikir ke luar, meliat keluar, mengantisipasi keluar. Pola pandang Outward Looking. Dilakukan semustinya dgn derap bersama, alignment, spirit kebersamaan. Istilah yg srg digunakan para misionaris dari luar yg saya kenal: "Harus berpendar keluar, bersinar ke luar, memancar keluar". Ini sebenarnya makna inti Kekristenan/gereja yg misioner.

Memang kalau mau berperan lebih total, harus ada perubahan cara pandang yg mendasar. Perubahan paradigma. Perlu ada gerakan pemahaman kembali, interpretasi kembali arti Misi. Baik secara historis, spt yg disampaikan a.l. oleh David Bosch, maupun pengertian misi dalam pemaknaan lebih kontemporer, dan sesuai konteks lokal, nasional dan global.


Andry Pakan:
Melayani ke pelosok-2 yang penduduknya beragama Kristen, juga disebut misi.

HMS:
Ini menurut sy tidak mjd problem, sepanjang pemahaman kita seluruh penduduk yg telah beragama Kristen, belum sekuat yg kita perkirakan (dalam hal iman, cara pandang misioner, kepemimpinan misi, pemaknaan akan arti persembahan dan atau konsekrasi, dll). Di kalangan gereja Protestan old line churches/main line churches, dikenal istilah Reevanggelisasi. Di kalangan profan entrepreneurship, dikenal istilah Reinventing. Di bidang engineering, dikenal istilah Reengineering.

Pemaknaan Amanat Kristus "Pergilah ke Seluruh Dunia (Mrk 16), Dunia yg dimaksud tidak hanya diartikan Dunia dalam pengertian Geografis, tapi juga dpt diartikan dlm 3pengertian berikut:

(1) Dunia dalam pengertian dunia Profesi.

(2) Dunia dalam pengertian dunia Domain/Spheres Kehidupan (Spiritual, Sosial, Politik, Tradisi Budaya, Pendidikan, Ekonomi, Riset, Media, dst, dan

(3) Dunia dlm pengertian Dunia gereja Masa lalu, gereja Masa kini dan gereja Masa yg akan datang, sesuai dgn zeitgeist atau garis waktu/garis jaman.

Istilah kata Misi (Mission) di masa kini, pun pula Misi Holistik (Whollistic Mission/Holistic Mission) juga nampaknya tidak lagi mjd klaim sepenuhnya milik orang Kristen, dunia Kristen atau Gereja (walau berawal sejarah dari histori dunia Kekristenan, ingat istilah Missio-Dei). Namun, telah menjadi pemaknaan Universal. Seluruh dunia, seluruh lembaga sekuler, seluruh agama dan kepercayaan, dan organisasi (Negara, Bisnis, LSM, Parpol, lembaga Pelayanan Agama: Kristen, Hindu, Budha, dan sebagian Islam dlsb) sekarang memakai istilah Misi dan Holistic Mission ini, terutama dlm pengungkapannya Visi Misi Beliefs Platform Strategi organisasinya. Jadi kita memaknai arti Misi dan Misi Holistik itu dlm konteks sekarang, harus dlm view yg lebih luas, tidak terll sempit memaknainya.


Andry Pakan:
Sepengatahuan saya, implementasi misi holistik yang sering diwacanakan di gereja/para gereja belumlah memuaskan. Karakteristik masyarakat Nusantara yang sudah begitu banyak berubah tidak mendapat perhatian yang seyogianya patut mendapat perhatian untuk menyesuaikan pola & strategi misi yang tepat. Dulu, masyrakat/suku- 2didominisai oleh pandangan animisme & Hindu, sekarang Islam.

HMS:
Sependapat dgn hal ini. Jika memakai konteks abad 18-19 benar, dulu animisme & Hindu, sekarang Islam. Utk konteks abad ke-21, mmg tidak dpt dipukul rata demikian. Utk daerah2 mayoritas Kristen, konfigurasinya adalah Kristen yg mgkn perlu dilakukan pembangunan paradigma, cara pandang dan mindset Misi yg perlu direformasi terus menerus (Ecclesia reformata semper reformanda est secundu Verbum Dei?” (”the reformed Church must be always reforming according to the God's Words"). Berikutnya di daerah mayoritas Kristen masih ckp banyak dijumpai eksis suku2 terabaikan di dalamnya, dan kelp2 masy yg mengalami smacam "shock budaya" akibat pergeseran drastis dari budaya lokal pra modern langsung menuju budaya postmodern (tanpa sentuhan modernisasi terlalu intens), akibat perkembangan teknologi informasi dan globalisasi yg demikian cepat. Dan terakhir tantangan atau rambahan misi dakwah dan syiar Islam. Pola strategi dan misi di tempat ini mmg mjd unik dan berbeda. Lain halnya dengan pola strategi dan misi di daerah-daerah yang jelas2 mayoritas penduduknya Islam. Keduanya, spt yg telah disampaikan sis Anne, mjd sama penting utk dilakukan.

Belum lagi, utk pola dan strategi misi ke Luar Negeri, utk pemenuhan Amanat Kristus pergi ke seluruh dunia, dunia dalam pengertian geografis... Cepat atau lambat hal ini pun harus dilakukan Kekristenan dan Gereja. Melakukan tugas misi ke Afrika misalnya, Timur Tengah, Israel, Asia Tengah, Pakistan, India, RRC, Korut, Jepang, Asia Timur lainnya, Oceania, Amerika Latin bahkan ke Eropa dan Amerika. Semua mjd tugas sama penting utk dijalankan Kekristenan Indonesia, baik di masa kini maupun di masa-masa yad.


Andry Pakan:
Dulu, para misionaris sebelum datang ke Nusantara melakukan persiapan-2 yang matang dengan mempelajari karakteristik masyarakat animist, Hindu. Misal, dalam hal penguasaan bahasa, adat/budaya dan berbagai hal yang spesifik dari suatu suku. Sekarang, berapa banyak gereja dan para gereja mempelajari Islam dan karakteristik masyarakat islami? Berapa banyak gereja yang mengajak jemaatnya untuk mengenal ajaran Islam sebagai bekal untuk berinteraksi setiap hari?. Mengucapkan 'assalamualaikum' saja kita alergi bukan? Akibatnya, tidak banyak jiwa-jiwa baru yang dituai oleh gereja-2. Gereja atau para gereja yang patut dinilai melakukan misi dalam arti yang sebenarnya dapat dibuktikan oleh adanya anggota baru usia dewasa yang sebelumnya non Kristen di gereja tsb yang menjadi anggota bukan karena menikah dengan anggota gereja tsb. Tanpa kehadiran orang-orang yang demikian, pada dasarnya gereja tsb tidak melakukan misi, walaupun setiap tahun malaksanakan program 'bulan misi', 'pelatihan tenaga misi', dlsb.

HMS:
Menurut saya, bila Kekristenan warga masy Krsiten di Indonesia ingin "powerful" dalam kesaksian dan misinya, sudah harus membagi diri, menurut visi, beban, potensi, karunia, resources, natur passionate yg ada pada mereka masing-masing. Bersiap utk pergi ke Dunia, baik dlm pengertian Geografis, Profesi, Spheres maupun ekspektasi Gereja masa Kini ke prospek Gereja masa datang.

Mana dari umat Kristen yg harus diperlengkapi (to be equipped), harus menyiapkan diri di dalam pola strategi dan misi ke-3 bagian, yakni "terjun" dlm kesaksian dan pelayanan di:

(1) Daerah-daerah mayoritas Kristen utk misi perkuatan "kembali", continually reforming gereja2 kekristenan scr integratif-holistik,

(2) Daerah-daerah mayoritas Islam utk misi membangun jembatan komunikasi dan kedekatan serta Kabar Baik, dan

(3) Daerah-daerah di Luar Negeri - Misi antar Bangsa antar Negara, utk memenuhi misi pencapaian sampai ke Ujung-Ujung Bumi, sebelum Tuhan datang kembali. Ini harus menjadi "Visi Besar" dan sekaligus "Misi Besar" yg harus disiapkan semua Gereja2.. Kekristen di Indonesia sejak masa sekarang.


Andry Pakan:
Seandainya dilakukan riset yang memadai tentang urgensi misi bagi gereja-2 dan aktivitas misi gereja-2 di Indonesia, mungkin hasilnya memprihatinkan. Seorang kawan yang mengkhususkan dirinya melakukan PI pribadi ke masy. Muslim Sunda mengalami dua kali penolakan dari gereja. Yang pertama, ketika dia membawa beberapa petobat baru ke gereja dimana dia menjadi anggota, gereja tsb menolak menerima petobat-2 baru tsb. Kemudian dia ke gereja yang lain dalam wilayah yang sama, dia juga mengalami penolakan. Mengapa gereja-2 tsb menolak? Takut, takut terhadap reaksi masy. setempat, inilah tipikal gereja yang tidak peduli terhadap misi dan tipikal gereja yang cari aman.

HMS:
Seperti yg telah saya sampaikan diatas, menjadi sangat urgen upaya pembalikan paradigma, transformasi mindset. Dan ini butuh upaya memperlengkapi scr lebih seksama terutama dlm hal Pola pandang Outword Looking dan Kepemimpinan Misi. Tentu harus disertai dgn contoh-contoh dan keteladanan.


Andry Pakan:
Kemudian, lihatlah HKBP, gereja suku dan gereja terbesar di Asia (?), berapa orang sih anggota HKBP di seluruh dunia yang non Batak dan/atau yang ex non Kristen?. Demikian juga dengan gereja suku yang lain, seperti gereja Toraja. Pengaruh adat dalam kehidupan sehari-hari dari anggota-2 kedua gereja tsb masih cukup kental bahkan dominan. Sejarahwan kondang dari UI, Dr. Ong Hok Ham (salah eja?) alm, mengungkapkan keheranannya terhadap orang-orang Batak di perantauan. Dari pengamatannya dia berkesimpulan, orang-2 Batak (pria & wanita) adalah tipikal pekerja keras dalam profesi apapun. Tetapi, mengapa tidak banyak yang kaya (hidup pas-pas an), dikemanakan penghasilan yang pasti jauh melebihi kebutuhan hidup sehari-hari? . Dr. Ong menjawab : "high culture cost". Seandainya Dr. Ong melakukan riset di masyarakat Toraja yang 90% lebih penduduknya beragama Kristen, dia akan menemukan hal yang sama, ongkos budaya telah menguras harta benda yang dengan susah payah dikumpulkan.

Dari sini saya berkesimpulan, misi yang holistik yang berakibat kepada terjadinya transformasi secara utuh kehidupan orang-2 yang dilayani tidak berhasil sepenuhnya dilakukan oleh para misionaris yang ke Tapanuli dan yang ke Toraja. Walaupun tidak sedikit sekolah-2 yang dibuka oleh para misionaris sebagai implementasi misi yang holistik, dan sekolah-2 tsb telah sangat berjasa dalam mencerdaskan warga kedua suku tsb , tetapi semua pelayanan tsb belum dapat membuat orang Batak dan Toraja yang Kristen melepaskan diri dari dominasi adat istiadat. Kalau Toraja yang usia Kristennya jauh lebih muda dibanding Batak, mungkin masih bisa berdalih, "kami kan belum terlalu lama menjadi orang Kristen, beda dengan gereja-2 Batak yang sudah lebih 100 th. menerima Injil." Tapi, kalau meperhatikan apa yang ada dalam gereja Toraja sekarang, sampai Tuhan Yesus datang pun tetap saja adat mendominasi kehidupan jemaat. Mengapa? Tidak /belum ada terobosan (salah satunya semacam fatwa) dari institusi gereja yang patut diperhitungkan dapat "menggiring" jemaat hidup secara Kristen yang utuh.Ada beberapa anggota gereja Toraja yang melakukan terobosan secara pribadi dengan menititp pesan kepada anak-2nya agar supaya kalau dia meninggal pemakamannya tidak dilakukan berdasarkan aturan-2adat yang salah satunya harus mengorbankan puluhan ekor kerbau dan babi.

HMS:
Ini menjadi tugas bersama kita Warga Masy Kristen tmsk Aliteia, bukan hanya jadi tugas pengerja atau petinggi HKBP dan Gereja Toraja utk terus menerus Reforming, transformasi mindset. Kita harus melihatnya ini sbg tantangan yg positif bagi kemajuan bersama, bukan sbg aspek kelemahan yg negatif. Apa yg diungkap oleh Ong Hok Ham, mungkin ada benarnya sbg high culture cost, tapi juga saya melihat tidak sepenuhnya benar. Nilai-nilai budaya lokal, kearifan lokal, tidak seluruhnya keliru.

Ukuran nilai Kebudayaan (Culture), tidak serta merta "apple to apple" utk diperbandingkan dgn nilai cost atau high cost dalam prinsip Ekonomi. Ong meliatnya dari segi Ekonomi. Jika orang Budaya disuru meliat pola behavior komunitas Ekonomi/pebisnis, juga akan mengatakan mereka ini minim budaya, miskin nilai-nilai Keutamaan kultur. Sama saja. Lebih baik kita meliat segi positif hubungan antara Sosial-Ekonomi dan Budaya. Demikian juga sebaliknya.


Andry Pakan:
Berbicara tentang misi yang holistik, terhadap petobat-2 baru sekarang ini perlu sekali diperhatikan hidupnya. Kita ketahui bahwa kalau seorang Islam meninggalkan agamanya, dia akan dikucilkan, bahkan tidak sedikit yang dikejar-kejar dan diancam dibunuh. Misi yang holistik juga hemat saya, tidak harus dimulai dengan pemberitaan Injil secara verbal terlebih dahulu, tetapi mungkin pelayanan lain yang menyangkut kehidupan sehari-hari dari objek yang dilayani. Bisa berupa pelayanan kesehatan, pemberdayaan kehidupan ekonomi masyarakat, pendidikan , dlsb. Kemudian, pada saat yang tepat, Injil yang diberitakan harus menyentuh/mempengar uhi seluruh aspek hidup orang-orang yang dilayani, termasuk kebiasaan-2 yang dianggap baik sebagai wujud ketaatan kepada leluhur (adat istiadat yang tidak sesuai dengan prinsip-2 Alkitab). Kalau ini terjadi barulah dapat dikatakan Injil telah mentransformasi secara utuh kehidupan seseorang.

HMS:
Secara historis, apa yg bro sampaikan ini sudah mulai ckp banyak disadari dan mulai dilakukan oleh ckp banyak kalangan Kristen. Saya dan bersama-sama dengan teman-teman lain (ada sebagian di milis ini), sdh menyadari sejak kami lulus dari perguruan tinggi di masa lalu. Sebab itu kami katakan, bentuk kongkrit sangat kongkrit, holistik mission atau apapun namanya (christian resource center, dsjnsnya) ini, sbg "A Tribute for The Nation".

Di beberapa majalah, tmsk majalah DIA Pkts, di edisi-edisi tahun 1986-1987 saya sdh ungkapkan dan presentasikan panjang lebar mengenai Pola Pewartaan yang Membangun Jembatan Komunikasi dan Kedekatan trtm dgn saudara-saudara2 kita yg berlainan agama. Berikut hasil-hasil yg bisa dicapai. Spt contoh pengalaman di daerah2 pelayanan Bugis Makassar Selayar dan Mandar (mayoritas Islam dan sinkretis Mukdi Akbar), di Bali (mayoritas Hindu), di Bengkulu (mayoritas Islam), di Sulawesi bagian Timur (utk daerah2 mayoritas Islam), dll. Upaya program Entrepreneurship sosial, UKM, microfinance, Comm. Dev (kesehatan, pendidikan), Pertanian, dll boleh disebut sbg Pre Evangelism utk menyuburkan tanah-tanah bagi upaya tabur benih Kabar Baik. Membangun jembatan, membangun relasi, membangun kedekatan dgn umat yang berbeda keyakinan Agama. Hasil-hasil di beberapa daerah ini dan banyak daerah lainnya, saya kira, telah menunjukkan hasil yang ckp baik. Tentu perlu ditingkatkan lagi utk tantangan2 hari ini dan masa yad.


Maka, ini mjd tugas kita bersama, agar bilamana dari rekan2 Kristiani kita di manapun, belum menyadari akan tantangan yg sdg kita hadapi sekarang, belum menyadari akan signifikansi penting..esensi dari Misi, Misi Holistik dan Transformasi, mulai saat ini dapat lebih terbuka bagi suatu perubahan dan kemajuan bersama. Sekali lagi ini menjadi tugas kita bersama! Kiranya Tuhan akan terus menyertai dan memimpin kita menjadi Orang Kristen, warga gereja, warga Masy Kristen yang Misioner.


Salam HMS :-)

Tuesday, November 4, 2008

Periode Pengujian Kepemimpinan Sedang Ditapaki.

Dear sahabat,


Saya baru pulang dua hari lalu lewat penugasan El-Trinitas Ministry dari kamp Kepemimpinan Gereja (Christian Leadership), dengan mengambil lokasi di Cibodas Bogor Jawa Barat.


Inti yg saya sampaikan, adalah Kepimpinan dlm masa sekarang, memasuki periode pengujian (examination periods) baik utk ranah Kekristenan maupun ranah Dunia.


Obama telah terpilih. McCain menanggapi kemenangan Obama dalam pidatonya, saya nilai luar biasa. Patut dicontoh oleh seluruh leaders dan calon leaders di negeri ini. Juga Obama. Tidak pongah. Dalam postingan sy sebelumnya, saya mencoba melontarkan evaluasi preferensi thd keduanya, terutama dlm 3 hal: kebenaran, etika dan manfaat kebaikan.


Bagi Amerika, bagi dunia, bagi Indonesia, apa yang dikemukakan keduanya menyangkut kebenaran dan etika, terasa masih dpt diperdebatkan. Khusus soal isu menyangkut etika, mmg sy melihat ada perbedaan evaluasi kritis.


Soal aborsi dan sex same marriage, McCain meninjaunya dari segi etika, sdg Obama lebih kepada pragmatisme politik utk menarik suara. Khusus untuk tema aborsi, spt halnya dgn isu lainnya spt hukuman mati, euthanasia dsjsnya, dari segi Etika Kristen, di kalangan Kristen tms para teolog sendiri mmg faktualnya pendapat terbelah: ada yg Pro-Life dan ada pula yang Pro-Choice. Semua sama-sama punya alasan, yg ckp panjang utk dibahas di forum ini.


Kemenangan Obama saya evaluasi bukan dlm hal 2 hal pertama, kebenaran dan etika. Tapi justru dalam aspek manfaat kebaikan. Mayoritas Americans, dan juga mgkn dunia, punya ekspektasi manfaat kebaikan yg diperoleh bila vote Obama akan lebih besar dibandingkan vote McCain. Itu saja. Mengenai ekspektasi manfaat kebaikan itu akan mampu direalisasikan oleh Obama, waktulah yang akan menilai dan mengujinya. Yg terpenting adalah periode pengujian berikutnya.


Bagaimanapun, rasa salut kita harus kita berikan kpd keduanya: Obama dan McCain, dan yg paling terutama adalah kpd bangsa Amerika, yang telah memberi pelajaran berharga bagi kita. Keputusan pilihan yg saya nilai ckp berani telah ditunjukkan bangsa Amerika dlm memilih pemimpinnya. Ya, pada masa sekarang dan ke depan ini, periode pengujian kepemimpinan (examination periods) bagi leaders dan calon2 leaders, sdg ditapaki.


Salam, HMS :-)