Wednesday, August 29, 2007

Revitalisasi Gagasan Konsepsi "Connecting Group - Mission & Partnership" Era Sekarang dan Ke Depan di Tanah Air.

Pengantar.
Ini merupakan tindak lanjut revitalisasi pemikiran, 'follow up' ataupun kongkritisasi dari apa yang telah digagas khususnya rekan2 dari group milist DH, Pkts, dll a.l. dari Bro Andry, Dr Victor Silaen, Bro Walsinur Silalahi dan rekan2 lain yang tak sempat tersebutkan namanya. Ini sekaitan dengan postingan berjudul "Perlunya revitalisasi pemikiran Leimena, Simatupang dan tokoh2 lainnya smp sekarang + berfondasikan pembinaan spiritualitas, Injil", "Menjadi Terang bagi Indonesia", "Adakah panggilan/tanggung jawab sospol Kristen", "Peran Gereja" dll.

Melengkapi dari apa yang disampaikan tersebut, saya mengajukan revitalisasi gagasan konsepsi terkait "Connecting Group Mission & Partnership" kedalam 10 Focus Group,
yang dirasa telah menjadi kebutuhan sangat relevan bagi pribadi2, keluarga/gereja, komunitas, suku, masyarakat dan bangsa di negeri tercinta ini di era sekarang.

10 Tugas Kekristenan di Indonesia Masa Kini & Ke Depan, 10 Focus Group.

Pembagian ke-10 Focus Group dalam Connection Group ini saya dasarkan atas kajian "10 Tugas Kekristenan di Indonesia Masa Kini dan ke Depan" dari apa pernah dikaji beberapa tahun/dasawarsa belakangan di tanah air. Dari berbagai rujukan, group2 event yang sudah diselenggarakan dan referensi. Barangkali ini bisa relevan dengan kebutuhan pengembangan Jaringan2 yang ada: Jaringan LSM, pendidikan, gereja2 dan komunitas. Sebut saja seperti contoh: KAMG, Perkantas, HKBP, komunitas milist HKBP, KBD. Lalu KSSPM, TCF Pkts, Center-Center, Persekutuan alumni, PMK2, paguyuban Kristen lainnya seperti BAKTI NUSA, JKLPK, CMED Indonesia, dsb.

Sepuluh (10) Focus Group dalam "Connecting Group Mission & Partnership" ini, terkait atau terkonek dengan tugas2 Gereja & Kekristenan berikut di tanah air:

1. Tugas pengutusan dan kemitraan.
Focus Group I: MISSION & PARTNERSHIP.

Tugas ini membangun paradigma untuk berpikir ke luar, di samping ke dalam. Membantu akses penyaluran pendistribusian kader-kader SDM kristen yang siap diutus ke berbagai lapangan kesaksian dan kehidupan, untuk mewartakan kabar baik, baik melalui perkataan, tulisan, perbuatan, karya, hasil kajian, program terbaik, inspirasional, inovatif dan berdampak luas bagi keluarga, gereja, komunitas, masyarakat dan bangsa.

2. Tugas pelayanan (diakonia).
Focus Group II: DIAKONIA PELAYANAN POSTMODERN.

Tugas ini disebut juga 'tugas Rajani', 'tugas Kerajaan', tugas apostolik kerasulan pengutusan yang dilakukan oleh para diaken, seluruh anggota Jemaat orang Kristen terutus. Pelayanan rajani atau kerajaan ini, meliputi:

Bidang Sosial Politik (Sospol).
Tugas Diakonia era sekarang dan ke depan adalah intinya adalah menerangi, menjangkau menatalayani/kepemimpinan pelayanan berperan aktif transformatif di Bidang Sosial Politik (Sospol), Kebijakan Publik.

Bidang Dunia Usaha (Business).
Tugas Pelayanan menjangkau, menerangani mentransformasi Dunia Usaha (Bisnis), BUMN, swasta koperasi dan institusional lainnya berikut pemberdayaan aspek Sosial-Ekonomi.

Bidang Diakonia Lintas Jaman.

Meliputi:

a) Diakonia filantropik: diakonia tradisional: karitatif; pelayanan meja untuk menolong mereka yang papa, janda2 miskin, anak telantar.

Termasuk di dalamnya pelayanan2 kemanusiaan, crisis respons (emergency, disaster rescue) bagi para korban bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun buatan manusia, korban narkoba, traficcing (perdagangan wanita dan anak), korban konflik horizontal, dll.

b) Diakonia sosial: membangun prasarana infrastruktur sekolah2, sarana kesehatan, MCK, perbaikan jalan, fasilitas umum, posyandu, panti asuhan, panti jompo, dll dll.

c) Diakonia modern: pemberdayaan sosial ekonomi warga jemaat masyarakat tidak mampu, kewirausahaan kecil, micro entrepreneur development program untuk yang kurang beruntung, pertanian organik, perkebunan warga, perikanan, aplikasi teknologi tepat guna, mikro hidro, sumber energi alternatif bagi warga kurang mampu, peternakan, pedagang kaki lima (asongan), pendauran ulang sampah, dll.

d) Diakonia era postmodern: pemberdayaan perempuan, pelayanan KDRT, HIV/aids, pendidikan (pelayanan guru2, anak putus sekolah, karyawan pendidikan), HAM, demokrasi, pelayanan dunia usaha/para pengusaha, Entrepreneur Devt Program (EDP), pelayanan Microfinance kristen, pengembangan usaha mikro kecil transformatif; pelayanan bagi pegawai negeri, pelayanan bumn, pelayanan bagi para politisi, pelayanan bidang hukum dan keadilan (justice), pelayanan bagi para militer dan polisi, pelestarian lingkungan (emisi karbon, cyanida, mercuri, dampak penghangatan global/global warming, amdal perusahaan, dll), pelayanan bagi kaum profesi lainnya (pelaut/seaman, lawyers, medis, pekerja seni, sutradara, wartawan/wati, expert perminyakan, pakar teknologi, agrobis, industriawan, dsb).

Bidang Pendanaan (Fund Raising), Divisi Usaha.
Tugas pelayanan diakonia atau tugas kerajaan ini juga adalah menyangkut Fund Raising, penggalangan dana dari sumber2 terpercaya, yang digalang melalui upaya2 yang bersih, halal dan bermoral. Mencakup juga berbagai divisi Usaha dan strategi2 untuk mengkreasi sumber pendanaan bagi terlaksananya segenap tugas2 dan focus group yang ada.

3. Tugas penginjilan, kesaksian dan informasi.
Focus Group III: PI KESAKSIAN, MEDIA & MULTIMEDIA.

Tugas ini dilakukan melalui komunikasi lisan (affirmative), melalui perbuatan, sikap perilaku sehari2 (gaya hidup), perbuatan, renungan2, karya nyata terbaik dan berdampak di lapangan, profesi yang inspirasional dan memberi dampak, metoda dan model2 pengembangan program yang nyata bermanfaat bagi diri sendiri dan orang banyak dan layak dicontoh, direplikasi, dimultiplikasi dll.

Tugas ini meliputi program2 seperti KKR, home-training evangelism, small-group evangelism, penginjilan pribadi, PI melalui gaya hidup, pola2 "EE", penerbitan buku-buku, literatur, story atau cerita2 kisah2 orang2 kristen biasa (christian ordinary people), cyberspace evangelism & testimonies yang inspirasional, VCD-DVD kaset khotbah, tele conference khotbah, sms mms Firman Tuhan, 3G evangelism ministry, model2 program berdampak bagi diri, komunal dan masyarakat banyak.

Peran sangat penting di sini adalah pemanfaatan Media, pers, koran, tabloid, radio, TV, sinetron, film2 cerita cinema, DVD, multi-media, perangkat telekomunikasi, teknologi informasi, infotainment, cafe tainment, role model/christian idols, dll guna penyebaran informasi yang meluas dari tingkat lokal, nasional, global.

4. Tugas profetik (menyuarakan 'suara' kenabian).
Focus Group IV: PENDIDIKAN, HAM, HUKUM & KEADILAN.

Tugas ini meliputi perlawanan terhadap ketidak-adilan, gerakan anti korupsi, anti pembalakan liar, trafficcing, penghancuran/pencemaran lingkungan, anti penindasan opresi, perjuangan terhadap hak asasi anak2, kaum marjinal, perempuan dan kemanusiaan. Gerakan anti abuse of power terhadap penguasa pengusaha 'hitam', berbagai tindak kecurangan, pemaksaan kekerasan/violenism, pelecehan seksual, dll.
Tugas2 ini sangat urgen dan penting, agar kekuasaan, penguasa, menjalankan kebijakan dan kekuasaannya secara proporsional, baik dan benar, tidak arogan, lalim dan semena-mena terhadap yang tertindas. Kemudian, mengupayakan solusi2 agar korban2 penindasan, ketidak adilan dapat memperoleh jalan keluar dan pemecahan masalah.

5. Tugas pencerahan (pusat kajian kristen & STT).
Focus Group V: PUSAT KAJIAN KRISTEN, PEND TINGGI & STT.

Tugas ini meliputi kerja riset, penelitian, kajian theologi, aras pemikiran, worldview, filsafat dan faham-faham, disiplin ilmu, knowledge management, teknologi, TI dan dampak TI/globalisasi, spiritualitas, pendidikan tinggi (higher education), kualitas pendidikan tinggi, sosial, ekonomi, budaya, peradaban, agama dan agama-agama, beliefs, kepercayaan, perda-perda, kebijakan publik (public policy), good governance, pengentasan kemiskinan, lingkungan lokal dan global, kajian ulang terhadap pokok2 Millenium Development Goals (MDGs).

Juga pentingnya hadir sekolah2 profesi, kualitas sekolah2 kejuruan kelas dunia, masalah ketenaga kerjaan, perencanaan SDM, desentralisasi, peran Otda, pilkada, dll. Disini pentingnya sentra-sentra kajian strategis, PT Univ2 Kristen dan umum, dan STT-STT dirangkul untuk bekerjasama bermitra. Demikian juga pembinaan2 'school', seminar2 diskusi berseri (class teaching seminars) topik2 theologi, filsafat, iptek, knowledge dan berbagai integrasi dan aspek praktisnya dalam kehidupan.

6. Tugas pengembangan (inovasi).
Focus Group VI: PENGEMBANGAN INOVASI.

Tugas Kristen ini meliputi pengembangan model2, methodologi, teknologi diberbagai bidang dan tugas2 di atas yang dikembangkan dari satu ide, gagasan menjadi satu invention dan selanjutnya dapat menjadi inovasi kabar baik, inovasi terbaik. Inovasi di berbagai bidang perlu dikonsolidasikan dalam kemitraan dan partnership relevan dengan kebutuhan di tanah air, seperti: solusi2 bagi kemacetan Jakarta dan kota besar, banjir Jakarta dan banjir bandang lainnya, Early Warning System bagi antisipasi bencana, sistem pilkada, sistem pembinaan terbaik bagi TKI/TKW, security system, alternatif energi (biodiesel, biogas, tenaga angin, tenaga surya, tenaga ombak laut samudera, dll), solusi2 atas kekurangan air bersih bagi daerah2 miskin air/kering kerontang, pemberlayanan suku2 tertinggal, sistem resetlement, sistem kelistrikan urban dan desa, dll. Semua inovasi ini diharapkan berguna memberi solusi2 berarti bagi segenap daerah termasuk daerah2 yang banyak orang kristennya masih tertinggal, terbelakang dan miskin di tanah air. Memampukan dalam anugerah Tuhan membawa manfaat dampak kebaikan, kebenaran, keseimbangan, kelestarian dan kesejahteraan utuh bagi pribadi, keluarga, komunitas, masyarakat dan bangsa. Disini pentingnya partnership dengan pusat iptek, techonology centers, dll.

Ini gagasan lebih lanjut saja, dari yang telah disampaikan oleh teman-teman. Semoga ada manfaatnya. Silakan bila teman2 ingin memberi komen atau pendapat.

7. Tugas peribadahan.
Focus Group VII: IBADAH/PERIBADAHAN, Worship.

Tugas ini meliputi pemberitaan Firman, layanan Sakramen (baptisan & perjamuan), peranan lagu2 pujian nyanyian sembah, koor, peran doa/doa syafaat, pengakuan iman, ekologi liturgi (liturgi yang mampu juga membawa kristen kepada kecintaan kepada lingkungan 'hidup'), saat teduh waktu perenungan sesaat, arti persembahan (korban, derma, kolekte, persembahan korban, persembahan khusus), berkat pengutusan - benediction, dst.

8. Tugas pemuridan.
Focus Group VIII: KADERISASI KRISTEN.

Inti dari tugas ini adalah melakukan kaderisasi SDM secara lebih sistemik, sistematis dan terencana, menghasilkan murid Kristus in doing, being and becoming, memiliki framework, karakter, wawasan, ketrampilan, kompetensi, dan attitudes sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan, sesuai dengan kepribadian, talenta (talent-based) dan keunikan yang dimiliki masing2. Meliputi berbagai kategori: sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa muda, keluarga muda, pria, wanita, mahasiswa, alumni mahasiswa, karyawan, guru, pengusaha, birokrasi pegawai negeri, wartawan, unemployment, wong cilik, PKL/gelandangan/anak jalanan dari berbagai lintas lokasi, umur/usia/profesi dan bidang kehidupan sehari2.

9. Tugas persekutuan.
Focus Group IX: FELLOWSHIP & UNITY.

Tugas ini utamanya membangun unity dan kesanggupan memelihara/menciptakan kesatuan, kesehatian, jalinan persatuan, network, partnership) di antara semua murid Tuhan, baik ke dalam maupun ke luar dengan lingkungan eksternal.

Tugas unity, keharmonisan, pengayaan (enrichment) penting dilakukan mulai dari:
a. Tingkat keluarga.
b. Jemaat/gereja, berdasar kategori usia, profesi, lokasi dan kedekatan.
c. Komunitas, berdasar kategori usia, minat, talenta, profesi, lokasi dan latar belakang.
d. Masyarakat.
e. Bangsa.
f. Hubungan dengan Bangsa Lain, Bangsa2.

10. Tugas penggembalaan.
Focus Group X: PASTORSHIP & KONSELING.

Intinya adalah konseling. Membangun pola konseling yang terpadu dan holistik sesuai nilai2 Kristen. Meliputi aspek2 spiritual, psiko-spiritual: emosional, intelektual, moral, politikal, judicial, ideological, mindset/worldview, ekonomikal, fisikal jasmaniah, keluarga, profesi dan lingkungan.

Penutup.
Demikian tindak lanjut pemikiran, follow up gagasan lebih lanjut yang dapat saya sampaikan guna kongkretisasi konsepsi mengenai pentingnya 'kehadiran' "Connecting Group Mission & Partnership' di era sekarang dan ke depan di tanah air.

Semoga bermanfaat. Kiranya Injil Kerajaan Allah boleh didatangkan di bumi tercinta kita disini. Bagi Dialah segala Kemuliaan !!

Salam kasih,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:

Friday, August 24, 2007

Tugas Gereja sesungguhnya: Mengutus Jemaat. Tugas Pengutusan!

Tugas Gereja masa kini di Indonesia adalah Mengutus. Pengutusan. Mengutus siapa? Mengutus Jemaat seluruh jemaat, yang tua-muda besar kecil laki2 perempuan secara sosial kaya atau miskin, pintar atau tidak begitu pintar dst..untuk melayani dan bersaksi di mana-mana, di berbagai bidang hidup kesehariannya.

Barangkali tidak cukup bagi Pimpinan Majelis Gereja mengutus seluruh Jemaat dari mimbar. Tidak cukup hanya lewat warta gereja, lewat Berkat Pengutusan yang diucapkan lewat Liturgi Kebaktian, sebelum warga Jemaat aktif bergereja pergi beranjak pulang meninggalkan gedung gereja di hari Minggu atau hari2 kebaktian lainnya.

Gereja Pimpinan Gereja Pucuk pimpinan Gereja Majelis Gereja masa kini di tanah air, harus lebih ekstra bekerja keras di hari-hari ini.

Siapa yang mengutus, melakukan Tugas Pengutusan Gereja? Para pimpinan Gereja: Penatua/sintua, Diaken, Gembala Pelayan Tahbisan Non Tahbisan Bishop penilik overseer, Ketua Dewan Marturia, Koinonia, Diakonia Guru Sek Minggu, Parhalado Paniroi dst.

Sejatinya jemaat tidaklah diutus ke dalam, tapi ke luar 'hadir' di dan ke tengah2 masyarakat, komunitas, bangsa.. untuk melayani dan bersaksi.. sesuai dengan bidang minat, kata hati nurani, talenta, profesi karunia kompetensi sumber daya, pengetahuan.. yang dipunyai oleh masing2 anggota/keluarga jemaat tersebut.

Cara bersaksi melayani jemaat yang diutus bagaimana? Melalui kesaksian (contoh) hidup, perkataan, suara "kenabian", karya2 yang bagus baik dan benar yang bisa dibuat oleh masing2 anggota jemaat sesuai minat kata hati panggilan hati talenta keterbebanan mereka. Ada yang hadir dan terjun di bidang pelayanan sosial (filantropis, NGO community development, transformasi, perspektif global dst), pelayanan bagi para pengusaha, para mahasiswa, guru, kaum urban, di bidang politik, bidang 'pemberlayanan' ekonomi, pelayanan media koran, TV, sutradara, penyanyi, kerumah-tanggaan, HIV/flu burung, pelayanan bidang konseling/curhat dst dst.

Kira2 apa tujuan seluruh jemaat harus bersaksi dan melayani di tempat/hidupnya masing2 apa? Ya, menyatakan kebaikan Allah. Mencari yang terhilang. Membangunkan yang patah semangat patah arang. Menghibur yang dilanda kepahitan dan kesusahan. Membangun trust dan keyakinan. Membawanya dengan lembut dan benar seperti 'Andreas murid Yesus' secara bertahap/berproses kepada Sumber Penghiburan sejati. Juruselamat. Memperkenalkan dan membawanya bilamana tergerak tanpa paksa2 pada apa itu Gereja dan fungsi Gereja.

Apa tugas Gereja selanjutnya? Bukan hanya sekedar kumpul2 sosial tanpa mission statement yang jelas. Dr. Martin Luther King Jr mengatakan kalau hanya demikian, dipastikan Gereja akan hilang makna daya greget dan power spiritualitasnya. Gereja secara refleks harus membina memuridkan mengkader merekrut (rekrutmen) 'mereka' yang baru tersesat' dan ditemukan kembali oleh anggota warga jemaat terutus, 'jemaat yang sudah ada (eksis)'. Tujuannya agar mereka bisa jadi calon anggota lantas jadi anggota Gereja yang bertumbuh rohaninya, sosialnya, cara pandangnya serta pemahamannya. Bagaimana menjadi Kristen mengemban tugas bersaksi dan melayani di berbagai bidang hidup sebagai 'kristen baru', 'kristen restoratif', kristen rebirth, kristen lahir baru, kristen kupu-kupu (tidak lagi jadi ulat atau kepompong)..dst.

Hendaknya gereja tidak membiarkan kristen anggota jemaat biasa menjadi tetap "ulat" atau hanya sampai jadi "kristen kepompong". Namun harus tuntas sampai menjadi kristen kupu-kupu yang sanggup terbang di tanaman, pohon, 'ramba-rambanya' masing2 (bidang hidup panggilan hatinya masing2). Tugas pembinaan warga jemaat ini disebut Tugas Pemuridan Gereja, tugas pemuridan yang wajib dilakukan oleh seluruh Pimpinan Pengurus Ketua Dewan dan Aktivis Pelayanan Gereja.

Konklusinya, Gereja simpelnya ber tugas fungsi dua (2) saja bagi warga jemaat komunitas bangsa dan dunia, namun sangat sangat penting & urgen:

(1) Gereja harus wajib menjadi seperti Training Center (TC) jadi pusdiklat spiritualitas kristen, pusat pengembagan SDM kristen dan pusat kebudayaan dengan nilai2 kristen, dan

(2) Gereja harus wajib melakukan Tugas Pengutusan bagi warga jemaat komunitas biasa yang telah terbina terlatih dalam hal2 di atas guna bersaksi melayani di bidangnya sehari2. Menyatakan kebaikan Allah, mencari yang hilang dan menghadirkan koinonia2 (persekutuan2) organik baru di tempatnya masing2.

Tugas Pengutusan bagi Gereja masa kini adalah keharusan, it's a must. Tugas pengutusan yang erat terkait dengan tugas Training Center pusdiklat SDM kristen atau Tugas Pemuridan.

So, era kini dan ke depan Pemimpin Pengurus Majelis Pucuk Pimpinan Gereja harus melakukan tugas panggilan apa?:

1. Pemuridan (Pengkaderan, Perekrutan baru/lama) !!
2. Persekutuan (Koinonia).
3. Penggembalaan (dgn inti atau 'core' nya: Konseling !!)
4. Pengutusan !!
5. Pelayanan (Diakonia), baik yang berciri diakonia tradisional, diakonia sosial, diakonia modern, diakonia transformasional era postmodern ).
6. Penginjilan/Kesaksian (Marturia).

----- (poin 7. ....menyusul, cukup 7 saja, konsisten saja dijalankan: luar biasa, RED).

Tanpa tugas Pengutusan dan Pemuridan (sebagai Training Center, pusdiklat SDM pengkaderan spiritualitas dan transformasi masyarakat) terhadap Seluruh Anggota Jemaat biasa, maka cepat atau lambat di era kini dan ke depan, Gereja, apa pun organisasinya, akan 'memble', kehilangan peran dan daya gregetnya. Tugas pengutusan dan pemuridan adalah pilar "Sosrobahu" untuk bangunan 'rumah' eklesia atau gereja.

Bila tidak, Gereja akan jadi museum dan dimuseumkan seperti layaknya di Eropa sekarang. Maka, segeralah, mari kita bergerak fokus kepada Tugas Pengutusan dan Tugas Pemuridan.

Salam pengutusan dan pemuridan,
HMS.

Thursday, August 23, 2007

Fundamentalis dan Liberalis.

Soal fundamentalis dan liberalis sering masih mencuat. Baik dalam wacana maupun di praktis sehari-hari. Salahkah di negeri kita menjadi fundamentalis, salahkan menjadi liberalis?

'Fundamentalis' menurut saya masih sangat dibutuhkan. Diperlukan bagi kita dan bangsa ini yang masih seperti begini. Mungkin seterusnya. Ya, fundamentalis di bidang apa saja. Di bidang ekonomi, teologia, keluarga, agama, usaha, pembinaan generasi muda, dll. Bukankah jika tanpa fundamen atau fondasi, "rumah" apapun jadi gampang roboh. Bukankah karena tanpa fundamen atau dasar fondasi yang kuat ini juga, maka "rumah" bangsa ini nyaris runtuh? Terutama sejak krisis ekonomi 97/98 dan reformasi bergulir mengambil jalannya sendiri bak prinsip 'Mestakung'. Fundamen 'asli' sangat diperlukan.

Kita ingat di penghujung 1997 sampai paruh 2000 banyak praktisi dan pakar kita komentar fundamental ekonomi kita masih sangat kuat. Namun mana? Apaan? Kala krisis menerpa, negeri ini jadi sakit terkapar menggelepar sulit bisa bangun2 layaknya petinju Jepang Takemoto dihajar Chris John baru2 ini. Orang lain (negeri tetangga lain) seperti Malaysia, Thailand, Korsel, sudah pada bangun dan pulih, kita masih 'puyeng keteter' keliyeng2' ngga karuan. Ibarat orang baru bangun tidur, nyebut arah Barat Timur Selatan aja ngga sanggup. Dengkul masih loyo, geregetan lagi.

Faktanya setelah ditelisik, bukan saja fundamental ekonomi yang nyatanya keropos. Fundamen moral juga. Fundamental keagamaan dan teologi juga. Keadilan sosial (social injustice) juga. Etos hidup kedisiplinan etos kerja profesionalitas apa lagi. Yang ada saling salah-menyalahkan. Bukan 'speak the truth in love', tapi "speak the love in untruth" bahkan yang lebih memprihatinkan lagi "speak the things without love and truth".

Kita masih sangat memerlukan orang2 di bidang agama, pendidikan, lingkungan dan bangsa ini yang berbicara melatih berkarya mengkritisi mengemong di aras fundamental, kalau perlu sampai ke tingkat akar (radiks). Jangan pernah bermimpi berpikir hal yang lebih tinggi, advanced maju level unggul kreativitas, termasuk berbagai rencana 'pembangunan' , jika hal2 yang fundamental terus2an tak tersentuh, ditelantarkan.

Kreativitas, liberalis, pengkajian ulang, mindset dekonstruksi, defundamentalisasi sampai "Kristen-Lib" barangkali perlu. Namun hemat saya perlu diliat konteksnya, kita berada di mana. Kita bukan hadir di negeri, di wadah agama, di entitas gereja dll, yang segala-galanya fundamen2nya tradisi2nya sudah mapan established, seperti halnya di Barat Eropa & AS.
Di negeri ini segala2nya masih belum dapat disebut mapan fundamennya. Fundamen kita masih banyak 'cangkokan' yang belum bisa disebut orisinalitas asli kita. Kita masih mengejar mana yang disebut fundamen otentik kita. Negara Indonesia memang sudah terbentuk 62 tahun. Namun, apakah kebangsaan Indonesia juga sudah terbentuk, mapan fundamennya. Di jawab sendirilah. Itu mengenai bangsa. Bagaimana dengan agama, gereja?
Apakah fondasi agama, gereja yang betul2 telah mengindonesia telah terbentuk berproses terformat baik, dengan benar? Kita bisa jawab sendiri juga.

Nah., masalahnya sekarang fundamentalis bagaimana yang kita harapkan ada di Indonesia, di agama, di gereja, di kekristenan? Tentu bukan fundamentalis serba generik yang mengklaim sudah mentradisi padahal belum atau bukan tradisional akar yang sehat dan menyuburkan. Bukan fundamentalis yang miskin wawasan miskin worldview miskin pergaulan berbangsa (seperti seekor kodok dalam kotak sabun wangi). Bukan juga miskin love, peace & respect for others dan miskin kebijaksanaan. Bukan fundamentalis yang 'asal'. Asal mengkritisi, asal debat, asal apologet. Tapi sebaliknya. Mungkin lebih sopan dan tau aturan, lebih sabar, lebih 'open minded'. Mengkritisi, mendebat, apologet juga ada dasar fundamennya dan caranya.

Sebab itulah kita perlu saling belajar. Di balik kemegahan, mungkin kemewahan serba luks kita, kehebatan kita, glorifikasi yang sempat mampir ke kita, saya mungkin masih harus yakini bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan kita. Kita masih harus banyak belajar mendengar. Listening skills, hati dingin kepala dingin keterbukaan hati pikiran ditengarai masih banyak belum dimiliki kaum intelligence intelektual master mind politisi agamawan kita. Cermin Asia, yang juga dijumpai di Afrika dan Amerika Latin. Masih cukup banyak ditengarai yang hanya asal teriak 'gila'.. Kader2 di bawah dan massa di bawah juga jadi ikut2an teriak 'gila'. Bukan massa cair yang murni, tapi massa yang terprovokasi.

So, bagaimana? Kita punya keyakinan fundamentalis masih diperlukan di negeri ini. Masih 'diijinkan' ada di negeri ini. Termasuk oleh pemerintah. Apalagi oleh Tuhan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana memunculkan fundamentalis sejati yang mengindonesia, yang baik benar, luas pemikiran dan kebijaksanaannya. Bermoral, mencintai gereja tak memusuhi gereja; sama sekali tak chaotic. Yang liberalis pun begitu. Bukan liberalis yang asal, namun liberalis sejati yang mengindonesia, yang bukan asal jadi amplifier atau terompet. Tidak liar dan tidak jadi chaotic.

Salam fundamental,
Hans Midas Simanjuntak (:

Simpati terhadap Sdri. Felyshia dan Adik. Menyoal Upaya Keamanan Pribadi, Keluarga, Komunitas dst.

Tulisan ini terkait dengan simpati saya terhadap apa yang dialami oleh Sdri Felyshia, terutama adiknya. Sesuai dengan postingnya di berbagai milist (23/8/3007) berjudul "Mobilku Ditabrak, Aku dan Adikku Dianiaya Penabrak".

Kita memang harus tetap ambil hikmahnya. Perlu bagi kita sekalian bergandengan tangan untuk memperjuangkan keadilan di tengah banyaknya ketidak-adilan yang terjadi di sekitar kita. Keadilan, termasuk keadilan sosial, memang harus diperjuangkan. Tak bisa hanya dibayang2kan atau dimimpikan.

Lain hal dengan itu, faktor safety & security (keselamatan & keamanan) diri, keluarga, komunitas sampai tingkat bangsa harus menjadi ekstra perhatian kita. Kejadian yang menimpa Sdri Felyshia dan adik, terlalu banyak untuk disebutkan. Dari kasus kecil sepele sampai kasus2 besar yang dimuat di media nasional. Kita tau bagaimana sekarang kasus penculikan anak begitu marak, beberapa waktu yang lalu kasus penghilangan orang (seperti alm. Munir belum tuntas masalahnya), kasus KDRT, penganiayaan dalam taksi, dll.

Setiap waktu, di setiap tempat dan keadaan kebrutalan bisa saja menghadang. Maklum, jaman ini jaman kesenjangan. Ketimpangan. Kesenjangan banyak hal, tidak hanya sosial. Di satu pihak, orang pada berburu dalam lingkungan hyper-kompetisi seperti ini agar dapat 'tampil paling beda' (make most difference), tampil paling unik, 'paling lain dari yang lain', maka di seberang lain masih banyak orang masyarakat yang belum dapat menerima perbedaan, apalagi kesenjangan. Baik perbedaan kesenjangan sedikit saja, maupun perbedaan mencolok sekalipun.

Perbedaan apalagi kesenjangan dapat membuat orang sebagian kelompok komunitas sub kultur masyarakat menjadi cemburu (kecemburuan sosial), iri, geram, gerah, marah, sakit hati yang laten, tersimpan dalam hati. Yang bisa meledak sewaktu-waktu tanpa permisi. Kalau sudah marah, mata menjadi gelap, hati mendidih, kemudian menggeneralisasi orang atau keadaan. Melakukan pembalasan, revenge, yang kadang bukan kepada orang yang tepat, kelompok yang tepat. Salah alamat. Namun apa hendak dikata, tindakan violence, barbar, brutal sudah sempat dilayangkan. Berakibat korban yang betul alamatnya masih 'mending', namun yang sangat menyedihkan bila korban yang dituju salah alamat. Bukan 'dia' atau 'mereka' yang seharusnya dijadikan sasaran. Sasaran tembak.

Yang jadi masalah, soal penegakkan hukum di negeri ini, kinerja polisi dan keamanan, masih jauh dari optimal. Berapa jumlah polisi? satuan polisi pamong praja, satpam, hansip? Bagaimana juga kualitasnya? Nah, karena hal-hal itulah maka tidak heran pribadi2 keluarga2 komunitas2 tertentu mau tidak mau mempersenjatai dirinya mulai dari 'belajar bela diri', coba memiliki senjata api (dari yang sederhana sampai yang canggih), mempunyai keamanan pribadi/keluarga sendiri (satpam, sistem alarm, memakai jasa pengamanan/body guard pengawal sampai menghubungi 'orang pintar' guna praktek klenik) menjagai dirinya, rumahnya, mobilnya, anggota keluarga, dst. Di sisi lain, umat Tuhan mengandalkan doa, minta perlindungan Tuhan melalui malaikat penolongNya. Faktanya, keselamatan & keamanan 'hare gene' kini memang menjadi komoditi mahal bahkan mewah.

Nah, bagaimana dengan kita? Mungkin kita perlu mengevaluasi diri. Apakah saya selama ini faktualnya telah 'tampil beda' 'tampil paling lain' 'tampil paling unik' 'lain dari yang lain'. Yang mungkin bisa membuat potensi kesenjangan dengan orang lain pihak lain komunitas lain masyakakat sekitar, tercipta atau bertambah. Tampil beda dan 'kesenjangan' sosial kita bisa kita tampilkan melalui hal yang paling sederhana. Perhiasan yang kita pakai sehari2, tampilan pakaian kita, rumah kita, mobil kita, hand phone; singkatnya gaya hidup atau life style kita. Mungkin bisa membuat 'tebar pesona' 'minta perhatian orang (MPO)' dari khalayak sekitar. Tapi jangan salah, bisa juga membuat 'tebar cemburu' 'tebar iri' 'tebar teror' dan tebar-tebar yang lain.

Tampil beda atau terciptanya kesenjangan juga bisa dikarenakan cara pandang, selera, prinsip, doktrin, ideologi, iman percaya yang kita anut. Jika nyatanya paling beda, 'paling paling' bisa di satu pihak menebar pesona, tapi juga menebar teror, tindakan barbar, brutalisme terutama dari pihak yang dirugikan oleh prinsip, doktrin, kepercayaan kita tersebut. Brutalisme pertama melihat simbol2 dari kepercayaan, dan kemudian merusak simbol2 tersebut, sampai tidak luput kepada orang2 atau penganutnya yang dibarbar.

Ini yang disebut dengan 'keberbedaan' 'kesenjangan' dalam soal agama dalam istilah SARA. Agama atau aliran2 agama yang tampil paling-paling beda dengan yang lain, pasti akan menjadi sasaran tembak, terutama juga bagi tokohnya. Hal lain adalah kesenjangan soal etnis kesukuan. Etnis atau suku yang mau tampil serba serba lain dan paling2 beda, maka tidak mustahil akan dibarbar oleh yang lain. Demikian juga dengan golongan, komunitas, keluarga sampai pribadi yang berani tampil2 beda pasti akan mendapat hukuman sosial yang sangat kejam dari pola sosialisme bablas atau sistem komunalisme bablas yang sesungguhnya keliru dan terlampau ekstrim.

Mendidik masyarakat sosial menjadi lebih berbudaya, civilized, lebih demokratis merupakan jalan panjang yang harus diretas bersama. Masyarakat mayoritas yang lebih bisa menerima perbedaan dan kesenjangan. Meski dituntut pula bagi pribadi di sektor privat, keluarga komunitas, perusahaan, dst agar mampu melakukan 'self security' secara swadaya. Dan yang paling manjur adalah bersikap lebih bijaksana. Mengedepankan semangat kebersamaan, unity saya kira sangat penting. Tidak melulu menekan2kan perbedaan, keunikan prinsip, ajaran, cara pandang, dan berusaha paling benar sendiri, ingin menang sendiri.

Bagi kita yang cendrung memiliki karakter tabiat perangai mengandung potensi konflik yang tinggi, mungkin ke depan perlu lebih belajar menahan diri. Namun kalau percaya diri, ya silakan diteruskan. Tentu sudah dipikirkan masak2 berbagai resiko terburuk yang akan diterima. Penganiayaan, pemukulan, pemecatan, kekerasan, kebrutalan. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menekuni pekerjaan profesi yang mengandung potensi konflik tinggi, perlu memiliki sikap alert, extra hati-hati.

Bukan untuk menakut nakuti. Memang faktanya keadaan kita masih demikian. Maklum kita tinggal dan hidup, bukan di negara2 yang telah maju dalam hal survival, sehat fisik, perut tidak kosong, kesejahteraan ekonomi dan politik. Jika di negara2 seperti itu, orang mau berdebat berapologet adu konsep adu mulut masih bisa 'peaceful coexistence' berdampingan lagi bersalam2an lagi dengan damai, berpisah tanpa dendam dan sakit hati.

Namun, di negeri ini bagaimana bisa? Berdebat, berapologetika, adu pendapat adu konsep adu gagasan, adu keterampilan sekalipun (seperti liga sepakbola kita) seringkali membuahkan keadaan chaos, adu jotos, kekerasan, tawuran, pembakaran pengrusakan, brutalisme. Karena kondisi mayoritas masyarakat masih perut keroncongan, jiwa tidak sehat, banyak problem dan kesusahan keseharian; bukan hanya di rumah, tapi juga di pabrik di pergaulan komunitas atau di kantor, dll. Mayoritas yang belum bisa survived, masih 'merayap' dalam kegelapan kesulitan kemiskinan ekonomi. Berapa gelintir di negeri ini yang sudah betul2 sehat ekonomi politik? Kita bisa menjawabnya, baik untuk di kota2 besar seperti Jakarta Surabaya, dll maupun di desa dan pesisir sekalipun.

Maka bagi orang2 yang tampil ingin selalu berbeda dalam kehidupan, perlu sekali mempersiapkan mengantisipasi diri dengan self security tentu dalam batas2 kewajaran dan berlandaskan peraturan dan hukum. Self security juga jangan terlalu mencolok, karena yang mencolok itu juga akan membuahkan kesenjangan; menjadikan brutalisme semakin bereaksi lebih keras.

Salam damai dan keamanan,
Hans Midas Simanjuntak.

Istilah Kata ’PEMBANGUNAN”: Masih Cocokkah Dipergunakan dan Tetap Ingin Dipopulerkan di Era Jaman Begini ??

Informasi dari Transforma Sarana Media (TSM) edisi III Agustus 2007.

Istilah Kata ’PEMBANGUNAN”: Masih Cocokkah Dipergunakan dan Tetap Ingin Dipopulerkan di Era Jaman Begini ?? [Hubungan Antara Seni Kata Etimologis & Politik Kekuasaan di Tanah Air].

Faktanya semakin dirasa banyak kalangan masyarakat (baca: pro rakyat), adanya konotasi negatif saat mendengar istilah kata ’PEMBANGUNAN’ dalam khasanah percakapan bahasa sehari-hari kita. Kalau jaman Orba dulu, kata itu sudah seperti kata atau password sakti di kalangan elit, mirip magician ngucap ’abakadabra’. Sekali terucap kata PEMBA-NGUNAN, urusan semua nyaris jadi lancar apalagi bagi keperluan tender proyek. Mempertautkan ’pengertian yang sama’ ’tau sama tau’ para elit dari pejabat, birokrasi, konglomerat pengusaha, politisi sampai polisi preman dan tentara masuk dalam budaya sistem perilaku gaya hidup yang memper: melakukan segala sesuatu sampai menghalalkan sesuatu demi dan atas nama PEMBANGUNAN.

Maka syahdan kata ’PEMBANGUNAN’ di hari-hari ini terus dipertanyakan, digugat dan dikonotasi negatip. Masa lalu yang getir, terutama untuk lapisan masyarakat yang mengalami ketidak-adilan, termajinalkan, tersingkir, tertindas. Kata itu sungguh membuat banyak masyarakat ’unhappy’, ngga suka. Mendengar kata itu, pikiran terasosiasi dengan gembar-gembor masa lalu, ingat kerakusan dan begitu jumawanya eksploitasi abis2an resources alam, ingat gelar bapak PEMBANGUNAN yang ingin dikekalkan bagi pak Harto. Ingat konglomerat hitam, ingin keuntungan vested manfaat yields profitabilitas output yang harus dikejar abis-abisan, oleh dan demi ’limpah-ruahnya’ kocek2 pribadi oligarki penguasa, pengusaha hitam, korporatokrasi. Namun dampak langsung kata PEMBANGUNAN itu, justru devisa budget kas negara ini jatuh cekak, utang liabilities kelewat banyak, rakyat pun puluh-puluhan juta jiwa terserak cekak, kebudayaan ’indie’ sendiri tersedak cekak dan terakhir lingkungan ekologis alam biotik dan abiotik 'linglung' rusak cepat rusak cekak rusak parah.

Kata ’PEMBANGUNAN’ itu karena pengaruh manusaia itu, telah membuat produsen primer alam sakit bermasalah. Energi di ambang kritis, jaring2 makanan pupus, daur ulang daur air kacau, emisi karbon naik eksponensiil. Bumi makin ngga ogah ditanami, tanah ’tuk-tuk’ mengutuk tak beri hidup cukup. Unsur2 hidup, relung ekologis, populasi alpa di ’tatan’. Reproduksi tak berstrategi, suksesi ekologis ’mampet’, terumbu karang abis, komposisi atmosfer berubah. Efek rumah kaca, buat lapisan ozon jadi ’bolong’. Es di kutub meleleh, gelombang pasang air laut sistematis meniscayakan ribuan pulau akan tenggelam; ujungnya global warming alias ’penghangatan global’. Perubahan klimat buat period musim gak bisa lagi mudah ditebak. Di sebelah badai dan banjir ada kering kerontang. Di tengah kemarau panjang, ada kebanjiran, banjir bandang banjir laut pasang. Ujungnya menyengsarakan.

Istilah kata ’PEMBANGUNAN’ dalam percakapan sudah semakin banyak digugat. Tak bisa gampang2 lagi dipakai. Orang luar katakan apa bedanya ’development’ dan ’empowerment’, sama saja PEMBANGUNAN, pemberdayaan. Namun, faktanya di sini tidak sama. Development di sana dengan PEMBANGUNAN di sini, makna interpretasi konotasi asosiasinya sangat berbeda. Boleh-boleh saja pakai kata ’development’, tapi harus ekstra hati2 ketika memakai kata ’PEMBANGUNAN’. Juga kata ’developer’, konotasi juga sudah negatif. Langsung mencitrakan perilaku developer yang banyak nakal, menipu lihai dan membodohi rakyat pada masa lalu. ”PEMBANGUNAN Papua” juga tidak netral. Sangat dekat maknanya dengan eksploitasi Papua abis2an. ”PEMBANGUNAN PLTN di Semenanjung Muria” juga berkonotasi cari keuntungan besar2an, pragmatisme gampangan, yang kesannya tanggung-jawab serta implementa-sinya ’balik-balik’ akan merugikan rakyat, menguntungkan ’pat gulipat’ pengusaha pejabat teras.

Ternyata kata atau istilah itu, pada hari2 ini banyak yang tidak lagi bernilai netral. Kata tidak sekadar bunyi. Di dalam ’kata’ ada ’makna’. Di dalam ’makna’ ada ’pengetahuan’. Dan di dalam ’pengetahuan’ ada ’kekuatan, power, kekuasaan’. Jika kata seperti layaknya bunyi, terdistorsi, maka pengetahuan dan kekuasaan juga bisa rusak, corrupted, merusak. ’PEMBANGUNAN’ yang sudah terdistorsi, telah berpotensi dan terbukti merusak mindset dan pikiran kekuasaan bangsa ini.

Jadi jika bangsa dan seluruh elemen2 di bangsa ini (gereja, bisnis, pengusaha, birokrat, politisi, DPR/D, pendidikan, LSM/NGO, media, mahasiswa dll) ingin keluar dari distorsi sistem budaya kekuasaan yang merusak, corrupted, jangan lagi mengobral-obral kata ”PEMBANGUNAN”.

Sejatinya, hari ini dan ke depan musti ada kata baru yang dicari, dipilih, dicipta. Kata baru yang mampu menggantikan kata ”PEMBANGUNAN” dalam khasanah percakapan tulisan dan lisan kita di segala lini dan pelosok. Dari tingkat yang paling formal sampai tingkat pergaulan tidak resmi sehari-hari di pasar dan warung kopi. Kata baru yang bukan saja mampu berpadanan arti dengan kata ’PEMBANGUNAN’, tapi bisa lebih memperkaya makna, memberi persepsi menyejukkan, tidak membuat konotasi negatip dan macam-macam. Tidak membuat distorsi serta membuat kekuasaan berjalan bertindak ngawur.

Kata baru yang akhirnya bisa diterima oleh segenap lapisan suku, agama dan golongan. Lebih ’menggigit’ sekaligus melayani rakyat, rakyat setempat, budaya setempat. Keseimbangan lingkungan ekologis dapat tetap tertata/terpelihara , budaya terkait terjaga maju transformatif, pemerataan sosial ekonomi tercipta, pengangguran teratasi, pengusaha kecil survive hidup tumbuh kembang, etos kerja pengusaha pejabat dirubah. Singkatnya, membikin negara (state), rakyat, lingkungan ekologis, kelembagaan daerah menjadi ’jauh lebih kaya dan sejahtera’ dari pada pejabat pengusaha politisi yang pasti juga akan kaya sejahtera.

Kata baru apakah itu yang bisa tercipta menggantikan kata ’PEM-BANGUNAN’ untuk bisa kita pakai sejak hari ini? Mari kita cari dan pikirkan bersama. Dari khasanah ”Kepemimpinan Pelayanan” di mana Penguasa Pengusaha hakikatnya adalah Pelayan Manusia dan Bumi, mungkin kita bisa ’mengcreate’ dan memakai alternatif beberapa kata 'baru' atau diperbarui sebagai pengganti:

1) ”PEMBERLAYANAN” , paduan kata ’Pemberdayaan” (empower-ment, to empower) dan ”Pelayanan” (service, to serve).

2) ”PEMFASILAYANAN” berasal dari kata ”fasilitasi” (memperlengkapi, membuat komplit) dan ”Pelayanan” (service, to serve).

3) ’PENATALAYANAN’ , kata lain stewardship dari kata tata-layan (to steward).

4) ”PEMFASILITASIAN” berasal dari kata ”fasilitasi” (memperlengkapi, membuat komplit) dan ”Pelayanan” (service, to serve).


Perlu ahli bahasa, budayawan dan seniman/wati turut memikirkan hal ini. Mereka yang berakar dari budaya Melayu, Sumatera, Jawa, Papua, NTT, Bali, Sulawesi, Kalimantan, WNI peranakan dll perlu mengkonsensuskan ini. Juga peran media/multi media.

Beberapa kata di atas sejatinya berasal dari khasanah Kepemimpinan Pelayanan, khasanah nilai Kristiani/Alkitab/ Gerejawi, seperti kata penata-layanan (stewardship) dan pelayanan (service, to serve). Namun, jika sudah menjadi konsensus nasional maka kata2 tsb sudah akan diberlakukan menjadi khasanah umum. Seperti halnya istilah kata: Visi, Misi, paradigma "Melayani Bukan Dilayani", dll bukankah jargon2 khasanah kristiani kini telah menjadi istilah2 yang berlaku umum di mana2, universil.

Maka sebagai contoh. Ketika kita memakai kata ”PEMBERLAYANAN PAPUA” misalnya, tentu makna, sense, persepsi, konotasi dan asosiasi pikiran kita akan berbeda, dibanding saat kita memakai kata ”PEMBANGUNAN PAPUA”. Dalam kata ’PEMBERLAYANAN” mengandung makna yang lebih utuh, positip, holistik, lebih kaya aspek2nya, ketimbang kita memakai kata ”PEMBANGUNAN” yang maknanya terasa lebih sempit (ekonomi, politik dst), terasa lebih elitis, dan yang jelas sudah terstigma dalam pikiran kita: berkonotasi negatip. Ada perasaan kelam yang dibawa dari masa lalu.

Salam 'pemberlayanan' , 'pemfasilayanan' , penatalayanan, 'pemfasilitasian' Nusa Persada kita!

Hans Midas Simanjuntak.
*) Pengamat-Praktisi Seni, Kepemimpinan dan Budaya.

Tuesday, August 21, 2007

Pentingnya Revitalisasi Pemikiran Leimena & Simatupang, Dengan Tetap Berbasis Spritual Growth!

Mengapa penting revitalisasi?
Menengarai situasi bangsa hari ini sekaitan dengan peran Kekristenan dalam politik berbangsa memang cukup membuat kita prihatin. Nampaknya revitalisasi pemikiran Leimena & Simatupang sudah saatnya dilakukan. Tentunya dengan tetap memperkuat segi pertumbuhan kerohanian (spiritual growth) Kristen sebagai basisnya.

Hemat saya, jaman begini kita tak boleh lagi hanya terus terbuai dengan romantisme nostalgia dan berkanjang dengan 'hedonisme' masa lalu lagi. Kita tidak boleh kehilangan momentum! Perubahan era sekarang mengalir begitu cepat di bangsa ini, termasuk di bidang politik, keagamaan, korporatokrasi dan pendidikan dari tuntutan pendidikan dasar hingga mutu pendidikan tinggi harus cepat kita tanggapi. Sebelum menjadi betul2 terlambat dan "tertempelak", akan menimbulkan krisis baru, krisis 'lain' 'kekosongan kevakuman' dalam peran Kristen dalam tubuh bangsa ini.

Pentingnya Upaya Revitalisasi Pemikiran Leimena & Simatupang.
Revitalisasi pemikiran Leimena, Simatupang dan pendiri2 PGI, GMKI, PIKI harus segera dilaksanakan oleh segenap alumni Kristen yang masih punya "mata batin" dan 'kebenaran batin', disesuaikan dengan konteks era pasca 2000. Adaptasi terhadap konteks globalisasi, desentralisasi/otda/kemandirian lokal, teknologi informasi/multimedia, knowledge-management, transformasi spirtualitas, sosial dan lingkungan (environtment friendly).

Peran Perkantas, LPMI, Navigators dll yang diharapkan.
Peran Perkantas, LPMI, Navigators dan gereja2 kalangan injili sebagai spiritual growth dan PI, sangat sangat tidak cukup. Tidak bisa hanya ploting keteladanan pemimpin2 kekaryaan dan kesaksian pemimpin2 masa lalu. Sangat tidak cukup. Gerak refleks 'turning point' terutama dari pemimpin2 yang lebih muda dan kaum alumni muda kristen sangat diharapkan menjadi semacam gelombang revitalitasi baru.

Ranah strategis adalah tetap kampus2 (kampus2 PT negeri, swasta dan PT Kristen macam UKI Ukrida UPH UKSW Salatiga dll dll, lalu LSM, bidang media/multi media, gereja dan pelayanan2 komunitas ministry kristen yang "empowered", jaringan2 network baru, asosiasi profesional dan pengusaha/wirausaha kristen baru, ormas2 politik kristen baru dan pembentukan pusat2 kajian Kristen yang betul2 baru.

Lebih baik kita mulai menyalakan 'lilin' bahkan 'api' yang dikobarkan; dari pada kita terus memprihatinkan keadaan sekarang dan terus ingin 'mengutuki' keadaan sekitar.

Pembelajaran dari kehadiran ormas2 kristen masa lalu, Parkindo, PDKB, Partai Krisna sampai dengan PDS dengan berbagai dilemanya penting dievaluasi untuk dicarikan solusi breakthrough yang akseptabel dan berdampak luas.

Spiritual growth kristen tetap dasarnya, fondasinya. ranah2 strategis diatas adalah ekspresi dan saluran distribusi sekaligus kontribusi nyatanya kepada bangsa.

Kekristenan Serba Nanggung dan Tiga Rumpun Kekristenan Terkait Politik Berbangsa Saat Ini.
Memang postur Kekristenan kita di tanah air di masa ini jadi serba 'nanggung' dan tersekat-sekat. Terutama dalam kaitan integrasi Kekristenan dengan politik hari ini, khususnya di tingkat implementasi politik di pusat maupun di daerah.

Sedikitnya kita melihat ada 3 rumpun Kekristenan terkait kehidupan berpolitik dan berbangsa hari ini.

Satu, "Politik simbol kristen (belaka)". Ada satu rumpun Kristen yang mungkin bisa dinilai nampaknya paham sekali tentang visi Kerajaan Allah, Injil kerajaan Allah. Bahkan dalam berperilaku penuh dengan simbol2 logo2 ucapan2 gaya/style - budaya 'kristen' [katakan saja dengan 'ciri budaya kristen charismatic' , sebagaimana PDS banyak dinilai berbagai pihak sebagai partai yang identik dengan kristen charismatic] . Namun dalam implementasi di lapangan ternyata gagal dalam cara, pilihan taktik strategi, konsistensi dan mengaplikasikan nilai2 Kerajaan di dalam dunia/struktur politik yang digeluti).

Dua, "Politik dompleng kristen dalam arus besar". Sebaliknya ada rumpun Kristen yang dinilai cukup piawai berpengalaman sejak lama dalam berpolitik sejak jadi aktivis parpol sebelum Reformasi, namun di perjalanan gagal dalam memahami visi misi Kerajaan Allah. Bingung dalam mengintegrasikannya ke dunia struktur politik yang digelutinya. Sehingga terkesan jadi 'dompleng kiri' 'dompleng kanan'. Tidak punya framework, mindset, ciri visioner Kerajaan. Akhirnya 'tenggelam' tidak beda banyak dengan politisi2 lainnya, berkesan cari selamat, ikut trend, 'kagetan' menerima realitas pembalikan reformasi. Di awal reformasi pun telah menyia-nyiakan 'kesempatan' yang pernah/sempat terbuka, namun secara pandir mengambil jalan pilihan yang salah. Hulunya ditengarai karena nyata2 tidak terbina dan terlatih dalam dalam visi Kerajaan. Pembenarannya mengatakan "kita kan minoritas, kita ikut saja main stream (arus besar, partai besar)" dst.

Tiga, "Politik diam pasif Kristen". Ada pula rumpun Kristen yang bersikap belasan tahun "wait and see" terus2an. Dinilai sangat sangat memahami visi Injil Kerajaan Allah. Tapi enggan, tidak perlu lah, terjun ikut2an dalam implementasi riel Kerajaan di lapangan politik, parpol, pusat kajian politik kristen, dlsb. Doktrinnya ditengarai 'politik itu kotor', orang kristen tidak perlu terjun di politik, mengetahui memahami politik boleh, tapi tidak boleh terjun. Jadi pengamat.. pengkritisi sekali2..ya boleh. Walhasil, cara pandang ini membuat kader2 yang lebih muda jadi 'tidak terjun ikut2an' pula. Menganggap ini sebagai kebenaran.

Sampai Kapan Kita Tetap di Persimpangan?
Sekurangnya tiga rumpun Kekristenan ini saya kira yang kita sama2 saksikan dalam postur Kekristenan tanah air masa kini. Sampai kapan kita akan terus berada dalam persimpangan (cross road) seperti ini?

Sementara Kekristenan berada dalam cross-road (persimpangan) , perkembangan dunia politik berjalan terus demikian cepat. Pilkada-pilkada, pilpres terus bergulir. Konstitusi yang membolehkan calon independen dimunculkan sangat terbuka.

Apakah pola "patron-klien" dalam rumpun2 Kekristenan, persepsi ketaatan tanpa rasionalitas yang memadai, akan terus kita lestarikan? Sementara politik Injil Kerajaan yang integrated lengket dengan politik kultural dan politik struktural kristen, terus 'memanggil-manggil' dan 'menanti-nanti' the right men & women untuk memasukinya.

Memang butuh banyak dukungan. Kelas menengah (middle up) Kristen selama ini masih 'ogah' bergerak, meski pun sudah nanya2: mana, mana? Para eksekutif, professional kristen, aktivis dan tokoh pendidikan kristen, aktivis dan tokoh gereja yang masih konsisten dan tidak ingin sekadar 'politik simbol kristen' atau 'politik dompleng kristen'.

Namun, persoalannya sekarang kita sudah cukup puas dengan keadaan seperti sekarang? Tanpa ada pelopor2 kristen yang mau dan sedia untuk melakukan "passing over" dengan upaya2 dan semangat lebih kreatif dan punya kepiawaian. Satu contoh saja, kesempatan untuk mengajukan calon pemimpin independen kin sudah sangat terbuka di pusat dan di seluruh pelosok daerah by pilkada. Kata kuncinya bila sanggup 'konsisten' sampai tingkat implementasi, akan lain hasilnya. Konsisten dengan visi dan nilai2 Kerajaan itu.

Passwordnya?
Jadi passwordnya: paham sebagai mandatory Kerajaan di bumi di tanah air, serta piawai dan mau. Semua tentu untuk kemuliaan namaNya.

Salam revitalisasi,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:

Monday, August 20, 2007

Menyoal Buku TL Friedman "The World Is Flat", Implikasi bagi Gereja.

Apa yang ditulis Thomas L Friedman ini - "The World is Flat" atau lebih sederhana "The Overall Structure is Flat" mungkin sebenarnya bukan isu yang terlalu baru. Apalagi bagi orang2 yang telah terbiasa terjun di dunia IT, seperti software engineers, web designers, multimedia, telekomunikasi dan knowledge management base.

Terutama sejak computer science sangat berkembang sampai melesat ke bidang IT, telekomunikasi multimedia dan knowledge management di Barat sejak akhir 80an dan awal 90an. Seperti 'biasa' kita di Indonesia selalu terlambat ketinggalan lk. 10 tahun satu dekade.Namun bersyukur hadir juga buku Friedman itu sebagai bahan pembelajaran.

Revolusi IT multi media knowledge management bukan saja mampu mengubah mindset dan paradigma organisasi, namun terus memiliki kemampuan mengubah organ2, struktur, system pranata sampai gaya hidup suatu entitas organisasi.

Bicara organisasi, gereja yang memiliki sisi entitas organisasi sosial yang masuk/bersinggungan dengan domain publik, tidak dapat tidak harus 'segera' mengantisipasi fenomena perubahan yang cukup dahsyat ini.
Sampai kapan kita mempertahankan pola struktur organisasi yang melulu vertikal, sistem komando dan lini dari atas ke bawah. Sudah perlu dipikirkan sejak sekarang oleh Balitbang dan top pimpinan gereja suatu transformasi organisasi menuju konsep The Church Structure is Flat.

Dalam struktur 'pemerintahan' gereja selalu terjadi diskursus dikotomis mana yang lebih baik/sehat: Jemaat 'menguasai' pendeta lewat suatu institusi yang bernama Sinode, atau Pendeta yang 'menguasai' jemaat lewat institusi Penilik, Bishop atau Episkopos (strukturnya bernama Episkopal).

'"Jalan alternatif ketiga" sudah muncul sekarang dengan mindset baru The Church Structure is Flat. Memungkinkan dalam struktur gereja, antara posisi jemaat (presbiter, penatua diaken) pelayan non tahbisan, bishop episkopos (penilik, overseer) pendeta pelayan tahbisan gembala guru jemaat evangelist adalah setara, berada dalam satu bidang datar.

Lho, kalau begitu Kristus sebagai pemilik dan Tuhan gereja di mana? Kristus ada di atas semua, di atas semua posisi2 jabatan pelayanan yang equal setara berada dalam satu bidang datar tersebut.

Merupakan keniscayaan konsep The Church Structure is Flat atau Struktur Organisasi Gereja Datar akan menjadi kebutuhan bagi banyak pihak yang terlibat dalam pelayanan gerejawi. Bukan hanya untuk gereja2 di tanah air, sejak satu dekade terakhir telah menjadi wacana dan pergumulan gereja di banyak bagian dunia.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:

Thursday, August 16, 2007

Percayakah Kita Bahwa Indonesia Akan Maju? God Bless Indonesia !!

Dari informasi Transforma Sarana Media (TSM)/ edisi Agustus II 2007.

Renungan kemerdekaan.

Soal iman percaya keyakinan ini semakin relevan untuk membahas Indonesia masa sekarang dan ke depan. Percayakah kita bahwa Indonesia akan maju?

Sayup2 terdengar ada 4 orang sedang berbicara di beranda rumah. Makin lama suaranya makin keras. Rupanya mereka sedang membahas Indonesia, tentang “nasib” Indonesia sekarang dan ke depan.

Satu orang berkemeja biru mengatakan bahwa dia sama sekali ngga percaya bahwa Indonesia akan maju. Tidak akan. Dari dulu sejak dijajah Belanda sampai sekarang ya akan seperti ini, miskin dan terbelakang. Dia bilang, coba aja liat Indonesia sekarang: swalayan bencana, banjir bandang, kemacetan di mana2, kebakaran hutan, dampak pemasanasan global, kinerja polisi, ulah tentara, politisi parpol dan tokoh agama, separatisme berikut isu2 lokal regional nasional lainnya, yang ada mungkin hanya pesimisme. Pesimisme ini terkadang membuahkan rasa kecintaan dan kebanggaan terhadap Indonesia semakin pudar. Dan mungkin sudah bisa ditebak, bila cinta terhadap bangsa ini sudah makin memudar, bagaimana orang bisa ’tergerak’ untuk turut berkontribusi dan melayani bangsa ini dengan semangat berpengharapan. Sebaliknya, mungkin yang ada adalah sikap mengeluh, kesal, sedih, sewot, malu, minder, jengkel yang akhirnya tumpah menjadi pandang remeh identitas bangsa sendiri, apatis, dan mungkin ada keinginan untuk ’lari’ serta lupakan Indonesia. Kalau perlu ya pindah warga negara, jadi warga negara bangsa lain. Beres. Good bye Indonesia, forgetting Indonesia. Ada juga yang bilang: “saya bukan warga Indonesia lagi, mulai sekarang saya jadi warga dunia saja, kalau ngga ada yang mau menerima saya jadi warga negara bangsanya. Bagi saya soal warga negara mau di mana bagi saya ngga soal, asal jangan jadi warga negara Indonesia deh.. ?!

Orang kedua berpakaian oranye menanggap ‘no comment’. Tak tau mau kasih komentar apa untuk Indonesia. Yah.. just flowing aja, mengalir aja deh. Yah sekarang masih bisa makan, masih ada kerjaan, lets do it. Abis tak mengerti harus berbuat apa. Tau sih bahwa jaman lagi susah. Minyak tanah susah dicari karena program konversi. Minyak goreng curah terus naik kadang tak terkendali. Pejabat, pemimpin, tokoh agama banyak tak bisa dicontoh. Tapi toh mau buat apa? Dari tujuh turunan saya sudah di sini. Kecil di sini. Keluarga di sini. Mau ke mana lagi saya. Memang hidup di negara orang enak. Banyak yang bilang kesepian. Menjadi warga negara kelas dua, kelas tiga dst. Siapa yang mau menghiraukan. Sejelek2nya Indonesia, masih sangat enak untuk ditinggali. Makanan cocok, situasi orang2nya enak untuk diajak bergaul. Udara dan cuacanya juga sesuai untuk kulit dan fisik saya, dst. Sudah, diterima aja deh keadaan kita di sini. Mau diapa-apain pun tetap begitu. Ngga usah terlalu jauh2 berpikir. Dinikmati saja keadaan yang sudah begini. How to enjoy it!

Orang ketiga bertopi dengan pakaian jingga serta merta datang menimpali. Susah2 mikirin Indonesia. Kita jual aja Indonesia. Anggap aja dia barang. Komoditi. TKI/TKW aja bisa kita jual, tak peduli terampil atau tidak, legal atau ilegal, apalagi Indonesia. Kan banyak pulau2nya, tanah masih luas, sumber energi banyak, tambang melimpah. Mumpung orang2nya, SDMnya masih males2, bodoh pula, kita manfaatkan situasi ini untuk keruk keuntungan sebanyak2nya bagi diri kita sendiri. Ngapain mikirin negara. Ngga ada perlunya itu. Negara juga ngga mikirin kita. Apa pernah Indonesia mikirin kita? Waktu kita susah, Indonesia juga ngga pernah bantu kita. Iya sih, saya pernah sekolah di sini, pernah kerja di sini, cari makan juga pernah di sini. Bisnis juga di sini. Tapi kan itu sepenuhnya hasil kemampuan saya sendiri untuk memanfaatkan peluang. Ngga ada peran negara. Ngapain juga saya disuruh berkontribusi bagi bangsa. Bayar pajak negara. Kalau itu pajak dikelola benar. Kalau nggak? Sudahlah, kita ngga usah terlalu idealis liat Indonesia. Cari peluang apa yang bisa kita manfaatkan dari Indonesia. Biarin orang bilang saya opportunis. Yang jalanin hidup juga saya.

Orang keempat berpakaian coklat, terakhir mulai angkat bicara. Dia yakin Indonesia akan maju. Kuncinya, asumsi awalnya, adalah percaya, bahasa agamanya iman! Masih adakah keyakinan kita bahwa kita bisa maju ke depan? Apa alasan untuk percaya? Kita percaya karena masih ada orang-orang percaya !! Itu alasannya. Terlebih itu masih ada Tuhan yang kita percaya, yang sangat mampu untuk memulihkan bangsa dan ’tanah’ ini. Bukan karena melihat keadaan bangsa ini, tapi karena demi mempertahankan kedahsyatan namaNya sendiri.

Jika bangsa2 jiran seperti India, Thailand, Vietnam, Malaysia, Cina bisa maju. Masak kita ngga bisa maju? Iman atau ’trust’ menjadi sangat sangat penting di era sekarang. Tanpa trust, iman bagaimana bisa timbul rasa cinta, cinta kepada bangsa. Nonsens. Sama pacar aja, kalau sudah tidak ada iman, trust bahwa ’dia akan jadi pacar gue selamanya’, gimana hubungan percintaaan dengan dia bisa berlanjut. Pasti langsung berhenti. Begitu juga dengan Indonesia. Karena masih ada percaya itulah, trust in God, maka kita masih mau memutuskan dan melanjutkan untuk mencintai Indonesia, melayani bangsa ini. Dengan cinta apa? Dengan ’unconditional love’ dan compassion (welas asih, belas kasihan).

Memang disadari sih, masih banyak kelemahan2 yang ada di ’tubuh’ bangsa ini. Tudingan2 kelemahan harus diterima sebagai fakta di mana kita berada sekarang. Beratus beribu fakta membuktikan bahwa kita lemah. Terima itu! Mungkin ngga usah berkilah, berdalih atau ’berlagak pilon’. Tapi kan ngga sampai di situ. Percaya perlu sekali dibangkitkan, bahwa Tuhan masih mempedulikan kita. Percaya kolektip. Tidak hanya sendiri, tapi meyakinkan teman2 yang lain pula, bahwa masih ada jalan untuk keluar.

Masak orang dari bangsa lain seperti peraih Noble 2006 Prof. Muh. Yunus yakin Indonesia akan maju, akan mampu memuseumkan kemiskinan dalam 15-20 tahun ke depan, masak kita sendiri belum atau tidak yakin? Setelah melihat bahwa kita betul2 lemah, sekaranglah waktunya kita harus membangun keyakinan, percaya, bahwa Indonesia pasti akan maju. Strengths kekuatannya apa sebagai alasan kita percaya? Kekuatannya karena kita masih mempunyai orang2 yang percaya! Terlebih kita masih punya Tuhan pemilik tanah negeri bangsa Indonesia yang siap memberkati kita.

Tak perlu jauh2 menunggu 2030. Dari sekarang pun kita bisa bangkit. Asal percaya.

Setelah selesai berbicara, keempatnya pun pindah dari beranda ke ruang makan dalam.
Ternyata mereka berempat makan bersama.


God bless Indonesia!! Selamat ultah, dirgahayu ke-62 tahun.

Salam kemerdekaan,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:

Wednesday, August 15, 2007

Konseling Esensi dari Penggembalaan - Tugas Panggilan Gereja "Kelima" Masa Kini !

Tulisan ini respons terhadap posting Pdt Julianto & sister Witha di milist DH, mengenai "Ngobrol dengan Om Jakob Oetama Pemimpin Kompas-Gramedia".

Kesempatan yang baik bisa ngobrol dengan Om Jakob Oetama. Mungkin kita memang mesti belajar banyak dari Bapak yang "satu" ini, tetap mampu "eksis" dan berkibar" di berbagai era/jaman, open-minded dan sikap adaptif tetap konsisten terhadap berbagai perubahan dan tantangan lingkungan yang kerap terjadi di tengah bangsa ini bersama Kompas-Gramedia nya.

Soal Konseling? Tidak diragukan lagi manfaat dan dampaknya bila tetap konsisten dijalankan di tengah2 pergumulan gereja, masyarakat dan bangsa yang sedang "sakit" ini. Kalau boleh dibilang mungkin terlalu banyak "domba-domba" termasuk "gembalanya" juga yang luka,di jaman sekarang ini, yang membutuhkan 'pembalutan' dan 'pemulihan' atas luka2nya.

Kalau di berbagai kesempatan saya yakin menyebut Pemuridan sebagai Tugas Panggilan Gereja Keempat Masa Kini setelah Koinonia (bersekutu), Melayani (diakonia) dan Marturia. Maka Tugas Panggilan Gereja "Kelima" adalah Konseling! Konseling adalah esensi dari Penggembalaan - Tugas Panggilan Penggembalaan Gereja di masa kini, terutama dikaitkan dengan konteks Indonesia yang sikonnya seperti ini.

Saya ucapkan selamat atas rencana penerbitan buku2 Bro Pdt Julianto dan sister Witha. Semoga semakin banyak lagi buku2 kristen dan atau dengan nilai2 kristen diterbitkan, menambah yang sudah ada, tentunya dengan konteks Indonesia. Selamat berjuang!

Salam konseling & penggembalaan,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

Thursday, August 2, 2007

Apakah Benar Orang Batak Toba (Masa Kini) Susah Menjadi Wirausahawan, Entrepreneur Saudagar yang 'Hebat', Berhasil ?

Pertanyaan ini terus terang sering muncul, sering ditanyakan kepada saya, terutama oleh kalangan generasi muda keturunan Batak khususnya Batak Toba.

Kalau melihat ke tradisi dan masa lalu, orang Batak Toba yang jadi pendeta theolog rohaniwan aktivis gereja pelayanan Kristen banyak dan cukup menonjol. Di bonapasogit, rata-rata dari dulu orang Batak Toba yang hidup di lahan pertanian sebagai petani, pekebun dan perikanan air tawar juga hampir rata2 demikian, selain sebagai tukang seperti tukang kayu, pandai besi, par "tambok aek", penjual makanan (lapo tuak, ombus2, warung 'sampah', pedagang lokal pedagang pengumpul hasil bumi (seperti di Siborong2 Humbang Bahalbatu), toko2 kecil, dan lain2.

Yang jadi guru (teacher) dan terjun di bidang pendidikan termasuk dosen dan professor juga banyak. Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara/advocat, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, orpol, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak.

Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak.

Di bidang media, journalis wartawan orang Batak Toba juga cukup banyak terlibat dan berperan. Begitu juga ormas-ormas, aktivis, penggiat LSM berbagai bidang (sosial, kesehatan, pemberdayaan sosial-ekonomi, demokrasi, keadilan, lingkungan dll), cukup banyak dijumpai orang Batak Toba 20 tahun terakhir. Juga di bidang agen jasa pengurusan (STNK, Kir, SIM), transportasi bus, jasa penyedia keamanan dan pengamanan, agen saham, agen rumah dan jasa2 keperantaraan (sering disebut 'calo', 'makelaar') dan lainnya.

Di perusahaan swasta baik PMA maupun PMDN dan BUMN (PLN, Telkom, Aneka Gas, Pelindo dll), cukup banyak pula ditemui orang Batak Toba, mulai dari tingkat karyawan non-manajemen sampai ke tingkat eksekutif, deputy director direktur dan top manajemen. Divisi2 dalam perusahaan yang banyak diminati oleh orang Batak Toba ditengarai yang berhubungan dengan divisi HRD, training, serikat pekerja (labor union), hukum/legal, marketing, keuangan dan investasi, operasi/produksi, bidang transportasibidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang
operasi/produksi, bidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang advis, konsultan dan kontraktor (bangunan, jalan, MK, ME dll), ditemui cukup banyak orang Batak Toba.

Di bidang olahraga, cukup lumayan banyak orang Batak Toba yang terjun di olahraga seperti olahraga catur, tinju dan sepakbola. Di bidang seni, musik, entertainment dan infotainment banyak muncul turunan2 Batak Toba terutama di bidang seni komposisi lagu, pelatih vokal, seni bangunan arsitektur juga cukup lumayan, band-band terutama sejak era 70an sampai sekarang, sutradara sinetron dan penyanyi2 festival dan hiburan.

Namun seberapa banyak orang Batak Toba masa kini yang tertarik, punya minat menjadi entrepreneur, wirausahawan atau yang lebih dikenal juga istilah pedagang, businessmen, trading atau "saudagar" (yang konon dalam bahasa sanskrit berarti "seribu akal").

Di lapangan entrepreneur masa lalu, nama2 beken businessmen saudagar pedagang industrialis turunan Batak Toba hanya bisa dihitung jari, tidak begitu banyak sebanyak bidang2 lain yang telah disebutkan.

Mengapa hanya sedikit orang Batak Toba terutama masa kini yang mau jadi wirausahawan, pedagang, saudagar? Padahal kita semua tau, producing money making money menjadi alat yang strategis dalam upaya kemandirian theologia, daya dan dana, kemandirian ilmu pengetahuan dan kemajuan menuju kesejahteraan daerah komunitas (Batak Toba) dan bangsa.

Di negeri ini, dari sekian banyak daerah yang saya tinggal dan kelilingi, etnis atau suku yang lebih dikenal sebagai wirausahawan pedagang saudagar adalah dari suku Minang (Padang), dulu Aceh, Batak Karo, Banjar, saudagar Bugis, Makassar, suku Buton, Bali (Badung & Kuta), suku Jawa Yogya, Jawa Surabaya, suku Sunda Bandung, Garut dan Tasikmalaya, dll. Di kalangan etnis2 pendatang, kita semua tahu etnis keturunan Arab, Tionghoa (Cina) dan India secara tradisionil puluhan tahun sudah sangat 'menguasai' jagad ekonomi dan perdagangan di tanah air.

Banya kali kita telah berpikir dan berdiskusi, pentingnya wirausaha entrepreneurship sebagai dasar kemajuan suatu negara. Tidak ada negara, kebupaten, desa yang bisa maju progressive tanpa peran wirausaha, pedagang trader saudagar yang excellent (berhasil, 'hebat').
Apakah bukan karena hal ini salah satunya yang penting sehingga Tapanuli dan mungkin komunitas2 Batak Toba sulit untuk progessive maju?

Namun, meski pun sudah tau bahwa wirausaha pedagang saudagar sangat vital untuk kemajuan bangsa, suatu daerah dan kemajuan komunitas (Batak Toba), mungkin mulai sekarang tidak mungkin hanya sekadar sebatas himbauan bagi orang2 Batak Toba masa kini agar lebih terarah berani mampu dan bisa berperan di bidang ekonomi jasa dan perdagangan di tanah air bahkan mancanegara.

Apakah ini juga peran penting orang tua dan keluarga2 Batak Toba untuk mengarahkan anak2nya bergerak dan punya minat yang lebih serius kepada bidang entrepreneur, pedagang dan menjadi saudagar?

Mungkinkah ini menjadi keniscayaan?

Atau.. kalau tidak merasa punya talenta, minat, kompetensi menjadi entrepreneur wirausahawan atau saudagar pebisnis, ya.. cukup jadi karyawan karyawati sajalah yang penting bisa mencintai pekerjaan.

Apakah hanya sampai di sini kiprah orang2 Batak Toba sekarang dan ke depan.

Mohon konvergensi mekar pemberdayaan (empowerment)...

Salam wirausaha,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)