Thursday, August 2, 2007

Apakah Benar Orang Batak Toba (Masa Kini) Susah Menjadi Wirausahawan, Entrepreneur Saudagar yang 'Hebat', Berhasil ?

Pertanyaan ini terus terang sering muncul, sering ditanyakan kepada saya, terutama oleh kalangan generasi muda keturunan Batak khususnya Batak Toba.

Kalau melihat ke tradisi dan masa lalu, orang Batak Toba yang jadi pendeta theolog rohaniwan aktivis gereja pelayanan Kristen banyak dan cukup menonjol. Di bonapasogit, rata-rata dari dulu orang Batak Toba yang hidup di lahan pertanian sebagai petani, pekebun dan perikanan air tawar juga hampir rata2 demikian, selain sebagai tukang seperti tukang kayu, pandai besi, par "tambok aek", penjual makanan (lapo tuak, ombus2, warung 'sampah', pedagang lokal pedagang pengumpul hasil bumi (seperti di Siborong2 Humbang Bahalbatu), toko2 kecil, dan lain2.

Yang jadi guru (teacher) dan terjun di bidang pendidikan termasuk dosen dan professor juga banyak. Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara/advocat, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, orpol, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak.

Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak.

Di bidang media, journalis wartawan orang Batak Toba juga cukup banyak terlibat dan berperan. Begitu juga ormas-ormas, aktivis, penggiat LSM berbagai bidang (sosial, kesehatan, pemberdayaan sosial-ekonomi, demokrasi, keadilan, lingkungan dll), cukup banyak dijumpai orang Batak Toba 20 tahun terakhir. Juga di bidang agen jasa pengurusan (STNK, Kir, SIM), transportasi bus, jasa penyedia keamanan dan pengamanan, agen saham, agen rumah dan jasa2 keperantaraan (sering disebut 'calo', 'makelaar') dan lainnya.

Di perusahaan swasta baik PMA maupun PMDN dan BUMN (PLN, Telkom, Aneka Gas, Pelindo dll), cukup banyak pula ditemui orang Batak Toba, mulai dari tingkat karyawan non-manajemen sampai ke tingkat eksekutif, deputy director direktur dan top manajemen. Divisi2 dalam perusahaan yang banyak diminati oleh orang Batak Toba ditengarai yang berhubungan dengan divisi HRD, training, serikat pekerja (labor union), hukum/legal, marketing, keuangan dan investasi, operasi/produksi, bidang transportasibidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang
operasi/produksi, bidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang advis, konsultan dan kontraktor (bangunan, jalan, MK, ME dll), ditemui cukup banyak orang Batak Toba.

Di bidang olahraga, cukup lumayan banyak orang Batak Toba yang terjun di olahraga seperti olahraga catur, tinju dan sepakbola. Di bidang seni, musik, entertainment dan infotainment banyak muncul turunan2 Batak Toba terutama di bidang seni komposisi lagu, pelatih vokal, seni bangunan arsitektur juga cukup lumayan, band-band terutama sejak era 70an sampai sekarang, sutradara sinetron dan penyanyi2 festival dan hiburan.

Namun seberapa banyak orang Batak Toba masa kini yang tertarik, punya minat menjadi entrepreneur, wirausahawan atau yang lebih dikenal juga istilah pedagang, businessmen, trading atau "saudagar" (yang konon dalam bahasa sanskrit berarti "seribu akal").

Di lapangan entrepreneur masa lalu, nama2 beken businessmen saudagar pedagang industrialis turunan Batak Toba hanya bisa dihitung jari, tidak begitu banyak sebanyak bidang2 lain yang telah disebutkan.

Mengapa hanya sedikit orang Batak Toba terutama masa kini yang mau jadi wirausahawan, pedagang, saudagar? Padahal kita semua tau, producing money making money menjadi alat yang strategis dalam upaya kemandirian theologia, daya dan dana, kemandirian ilmu pengetahuan dan kemajuan menuju kesejahteraan daerah komunitas (Batak Toba) dan bangsa.

Di negeri ini, dari sekian banyak daerah yang saya tinggal dan kelilingi, etnis atau suku yang lebih dikenal sebagai wirausahawan pedagang saudagar adalah dari suku Minang (Padang), dulu Aceh, Batak Karo, Banjar, saudagar Bugis, Makassar, suku Buton, Bali (Badung & Kuta), suku Jawa Yogya, Jawa Surabaya, suku Sunda Bandung, Garut dan Tasikmalaya, dll. Di kalangan etnis2 pendatang, kita semua tahu etnis keturunan Arab, Tionghoa (Cina) dan India secara tradisionil puluhan tahun sudah sangat 'menguasai' jagad ekonomi dan perdagangan di tanah air.

Banya kali kita telah berpikir dan berdiskusi, pentingnya wirausaha entrepreneurship sebagai dasar kemajuan suatu negara. Tidak ada negara, kebupaten, desa yang bisa maju progressive tanpa peran wirausaha, pedagang trader saudagar yang excellent (berhasil, 'hebat').
Apakah bukan karena hal ini salah satunya yang penting sehingga Tapanuli dan mungkin komunitas2 Batak Toba sulit untuk progessive maju?

Namun, meski pun sudah tau bahwa wirausaha pedagang saudagar sangat vital untuk kemajuan bangsa, suatu daerah dan kemajuan komunitas (Batak Toba), mungkin mulai sekarang tidak mungkin hanya sekadar sebatas himbauan bagi orang2 Batak Toba masa kini agar lebih terarah berani mampu dan bisa berperan di bidang ekonomi jasa dan perdagangan di tanah air bahkan mancanegara.

Apakah ini juga peran penting orang tua dan keluarga2 Batak Toba untuk mengarahkan anak2nya bergerak dan punya minat yang lebih serius kepada bidang entrepreneur, pedagang dan menjadi saudagar?

Mungkinkah ini menjadi keniscayaan?

Atau.. kalau tidak merasa punya talenta, minat, kompetensi menjadi entrepreneur wirausahawan atau saudagar pebisnis, ya.. cukup jadi karyawan karyawati sajalah yang penting bisa mencintai pekerjaan.

Apakah hanya sampai di sini kiprah orang2 Batak Toba sekarang dan ke depan.

Mohon konvergensi mekar pemberdayaan (empowerment)...

Salam wirausaha,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment