Sunday, December 13, 2009

Apa Hikmah, Makna Natal bagi Anda Tahun Ini ?

Rekan ytk,

Jika itu yang ditanya pada saya, maka saya tanggapi demikian.

Dengan merefleksi, turut menjalani sikon kekinian yg ada dlm kehidupan kita bersama sekarang. Baik bagi kita yang hidup di kota2 besar megapolitan, daerah pinggiran remote area, pedesaan dan wilayah pesisir. Barangkali sudah saatnya momentumnya, mungkin ada yang perlu diubah dari kita. Terutama menyangkut mindset memperingati merayakan Natal.

Hal yang relevan sebagai hikmah, makna Natal bagi saya adalah perlunya perubahan:
"Dari mindset kultur komersialisasi entertainment selebrasi Natal serba gemerlap dan mungkin wah.., kini makin dpt kita arahkan bersama kpd mindset baru dlm bentuk kesemarakan kesadaran spiritualitas, lingkungan, moral kebersihan hati pikiran, keadilan hukum dan kesetia-kawanan sosial".

Semuanya hemat saya adalah realitas manifestasi kasih Kristus bagi kita.
bagi umat manusia, bagi bangsa ini.

[Dan jika ada pada kita atau antara kita sdh jalani..berjalan ke arah itu , layaklah kita syukuri dan apresiasi].

tksh, Salam persaudaran kasih Natal (Minggu Adv III) .
HMS :)


Komen-komen lain:

From: Anne Paparang
Date: Sunday, November 22, 2009, 9:07 PM

Makna Natal tahun ini?
Bagi saya, hikmah Natal tahun ini adalah di sekitar pewartaan, pemberitaan.
Kita tau yang pertama kali lebih dulu tau berita kelahiran Yesus adalah kalangan khalayak warga biasa. Para gembala, para warga biasa di sekitar kandang. Bukan diberitakan oleh para kalangan intelek, kalangan the haves atau eksklusif macam imam-imam.

Namun, walau diwartakan oleh kalangan warga biasa, beritanya faktual, fakta kebenaran. Natal kali ini, sdh perlu betul2 dikembangkan pola dan gaya pewartaan oleh kalangan warga biasa. Mungkin dpt diistilahkan "civilian journalism" atau "citizen journalism".

Perlu ada wadahnya, diberi wadah yg tepat.
tksih dan salam / AP.

-------------------

From: Niken Nababan
Date: Monday, December 14, 2009, 9:07 PM

Makna Natal bagi saya??
Mengajar dan mengingatkan untuk selalu rendah hati,
sebab Yesus sendiri memulai, menjalani dan mengakhiri kehidupan-Nya di dunia ini dengan cara yang paling hina di antara manusia dalam konteks waktu itu.
Yaitu, mengosongkan diri-Nya menjadi 'hamba' bagi semua orang,
datang untuk melayani dan bukan dilayani.

Salam kasih.
nn.

-------------------

From: Debbie Sianturi
Date: Sunday, November 22, 2009, 2:26 PM

Makna Natal?
Saya setuju.... semakin sederhana dan semakin bisa prihatin dan turut merasakan penderitaan orang lain.

Catatan:
Sederhana bagi setiap orang bisa diartikan berbeda.

Debbie S.

--------------------

From: ronny ms
Date: Sunday, November 22, 2009, 3:11 PM


Rekans,
Kalau bagi saya.
Hikmah, makna Natal tahun ini, adalah harapan akan lahirnya...
sebuah gerakan kesadaran bersama di kalangan yang menyebut diri Kristen untuk hidup lebih simple/sederhana di tengah kekomplexan hidup.
Salam makna Natal.
RM

-----------------

Wednesday, December 9, 2009

Bersih dari Korupsi: tanda Pertobatan & gaya hidup Kristiani.

Rekan2 ytk,

Hari ini, 9 Desember 2009 hari Anti Korupsi Sedunia.
Mari kita rayakan bersama "Hari Raya" Anti Korupsi. Maka setiap ungkapan, ekspresi, cara dan inovasi dari kita setiap warga elemen anak bangsa dalam merayakan hari raya ini dengan aman, damai dan transformatif, kiranya patut untuk dihargai. Demi bersihnya 'udara' serta 'nafas' kita dari pengap, kotor dan tidak sehatnya lingkungan pekerjaan, usaha, pelayanan dan kehidupan sehari-hari.

Jika iman dan spiritualitas Islam (spt yang biasa kita dengar) mengajarkan "Kebersihan adalah sebagian dari Iman", maka iman dan spiritualitas Kristiani mengajarkan kita "Kebersihan adalah tanda pertobatan dan gaya hidup".


Iman dan spiritualitas Kristiani sangat mengajarkan akan pentingnya hati bersih, niat dan tindakan bersih, hidup bersih. Bersih dari tindakan, niat dan pikiran korupsi. Corruptive mind. Pertobatan, repentance is a must. Bersihkanlah aku seluruhnya.. ., kata raja Daud.
Tahirkanlah aku.. Bersihkanlah aku dengan hisop, maka aku jadi tahir.. basuhlah aku shg aku jd lebih bersih.. lebih putih dari salju!


Bukan hanya pertobatan diri sendiri, tapi pertobatan kolektif.
Pertobatan nasional. eperti yang telah dilakukan oleh bangsa bukan Israel (Niniwe) di era profetis Yunus. Ini menjadi persembahan, dedikasi, yang semestinya dilakukan terus menerus oleh tiap orang Kristiani percaya. Menjadi gaya hidup, lifestyle!


Biarlah hari ini jadi momentum baru. jaman baru.
era dimulainya, Indonesia bersih.
Generasi (baru) bersih.
gereja Bersih.
pengusaha bersih
politik negara pemerintahan bersih


Dibersihkan terus dan terus.., menjadi tahir dengan hisop!
Bersih dari Korupsi: telah mjd tanda pertobatan & gaya hidup kristiani kita.


Salam bersih dari Korupsi,
HMS :-)


Komen-komen:


Kompilasi emails tanggapan :

------------ --------- ----
From SM

Bung Daltur,kelihatannya anda atau saya salah mengartikan tulisan anda dalam menyikapi pidato RI 1 yg mengatakan Pemerintah akan menjadikan di Republik ini 0 korupsi,Dimanapun di dunia ini keadaan Ideal itu tidak akan mungkin ada dan yang penting menurut saya Tindakan yang Benar,Keras, Konsisten dan memenuhi rasa keadilan itu yang perlu dan masih mungkin diterapkan di Republik ini,harapan ini perlu didorong pertama dari diri kita dan alumni-alumni Persekutuan Kampus,Gbu

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


------------------------
From: DR
Date: Wed, 9 Dec 2009 10:47:22
>
Apa ya artinya negara bersih dari korupsi?
Apakah artinya sama sekali tak ada korupsi disegala bidang dan lapisan?
> Mungkinkah? Atau Apakah artinya selalu ada tindakan hukum yang tegas terhadap mereka yang korupsi?
>
Negara mayoritas kristen manakah yang tidak ada korupsinya? Amrik??
Inggris??
Media membuktikan ada saja orang2 yang melakukan bentuk2 tertentu dari
korupsi.
Dan mereka diadili.

Negara China sangat tegas dalam menindak koruptor. Dan hukumannya berat.
Apakah karena di China ada pertobatan nasional atau adanya penegakan hukum yang tegas?

Just a reflection.
Daltur

------------ --------- ----

From: H Sig.
Date: Thu, December 9. 2009 11:22 AM

Amin..! Saya yakin Tuhan pasti bukan jalan meskipun harus berani tampil beda dengan hidup jujur.

Mengapa harus meragukan (band. : "Kalau.... kalau...") akan berkat yang Tuhan akan limpahkan bagi setiap anak-anakNya. Ia menerbitkan matahari dan memberi hujan baik pada orang baik maupun orang jahat. Bunga di ladang saja Ia hiasi terlebih kita akan diberikan apa yang kita perlu.

Salam integritas,
^hit

------------ ----

From: DS
Thu, 10 December, 2009 14:56:27

Satu hal juga yang perlu diingat oleh para koruptor-wan dan koruptor-wati bahwa Tuhan tidak tidur dan Tuhan tidak mati. Matanya mengawasi seluruh muka bumi. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Benih korupsi ditabur, yang tumbuh mendatangkan panen malapetaka. Benih kejujuran ditabur dan mendatangkan panen damai sejahtera. Puji Tuhan kalau kita diberikan kemauan dan kemampuan untuk hidup jujur.

---------
From: Sangihe Willy
Date: Tue, December 11, 2009

Eeh bapak...kita himbau juga para saudagar, usaha, orang2 bisnis makelar dan yang punya duit:
MARI JANGAN RUSAK DIRI KITA.. MERUSAK DIRI ORANG LAIN SERTA KARIR KERJAANNYA DENGAN UANG KITA.. DENGAN DUIT KITA
ya pAK, stop korupsi
Salam merah putih
willy
------------


From: Gurman wrote:
Date: December 10, 2009

Salam hangat,
Terima kasih pak pendeta untuk tulisan ini. Kiranya gaya gereja yang terlalu mudah "mengucap syukur" semakin kritis. Jika kritis, maka waktu persidangan, tidak ada ucapan bahwa dana itu di bagi-bagi ke gereja. Lagi pula, untuk apa sih korupsi?.Â
>
> Toh, kebutuhan kita tercukupi kok. Terlalu kenyang juga kagak enak. Kalau bayak rumah dan harta lain, kita kuatir juga kena gempa. Semakin banyak harta makin tinggi kekuatiran?.
>
> Menurutku sih, kita kembali ke doa bapa kami aja.
> Terima kasih,
> Gurman
------------ ------

From: Surya
Date: Wed, December 9, 2009

Amin bang, kita bergerak, dunia pasti ikut bergerak, karena kita ada utk mengubah dunia. Amin
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-------------
From: Sangihe Willy
Date; Wed, December 9, 2009

Eeh.. Samua bisa diatur... atau kita orang bilang TAU SAMA TAU (TST) itu yg MUSTI DISTOP, BEROBAHLAH..
Itu tau sama tau, biasa antara orang bisnis makelar dengan orang2 pihak instansi yg pegang wewenang atau ijin-ijin, sertifikasi, surat rekomendasi dan laen-laen.
ADA KEBUTUHAN, ADA JUAL-BELI.
TAPI MASALAHNYA, SEMUA JUAL BELI INI ILEGAL DAN HASIL JUALAN MASUK KANTONG SENDIRI DAN SETORAN KE ATASAN ATO BOSS.

salam merah putih.


From: Indra Cool
Date: Wednesday, December 9, 2009

pagi fellas..
Heuheuheu... di kita sih pragmatisme diartikan laen. tujuan bisa diatur (kayak bank century itu tuh).. proses atawa cara juga yach.. makanya banyak makelar (makaler apa aja ada di kita.. makanya disebut "apa yang loe mau gue adain.." gitu semboyannya, heuheu.)
Nilai agama juga sukanya hanya simbol doang di tempat kerja. Ada salib, ada tasbeh, ada mukena, ada sajadah, ada langgar and so on.. tapi kinerja ya tetep aja... (memble yach..).
manajemennya? manajemen 'semua bisa diatur" kalee yach.. disingkat manajemen SBD
wakakak...

------------ --------- --------- ---

From: hosny K wrote:
Date: December 9, 2009


Komentar sebagai pertimbangan.

Di work place, memang nilai pragmatisme historisnya diwakili oleh mazhab sekuler management by objective (MBO). penganjurnya Amerika, filsofnya juga Amerika didukung oleh teknologi tinggi amerika.

Sedang, jepang dikenal dgn mazhab management by process (MBP) tercermin dalam konsep bekerja mereka, total quality control atau pengembangannya total quality management (TQM). Nilai2 religi bangsa jepang (Shinto/budha) misal yang mengedepankan nilai kesatuan kerja -- work unity, dsjensnya ) secara tidak langsung.., berikut mentalitas etika kerja mereka, terkandung dlm MBP dan TQM.

Bagaimana konsep dan filosofi manajemen bangsa Indonesia?
bgmn konsep religi islam? konsep religi kristiani?
brngkali masih agak sulit untuk memberi batasan pendefinisian dan penilaian untuk Indonesia, meski mgkn bukan brarti tdk bisa::
tkssh/

Hosny k>

------------ --------- -
From: Ingrid Permatasari
Date: December 9, 2009

pembersihan itu, spt dikatakan, selalu dimulai dari 'rumah allah' ya......

------------ --------- --

From: Harry B
Date; December 9, 2009

Kawansku, aliteias,

tertarik..., bukan hanya lembaga negara harus bersih dari korupsi.
tapi Gereja pun sdh saatnya bersih, bersih dari Korupsi.
tujuannya: pencegahan terjadinya kebocoran kerugian uang lembaga atau institusi akibattindak kecurangan, pemaksaan (halus atau kasar) atau pendeknya, korupsi !!

kalau begitu.., Gereja bersih dari Korupsi?.
itu berarti: seluruh penghasilan pendeta dan staf (sebesar apapun, atau sekecil apapun), harus dipotong pajak penghasilan sesuai aturan hukum yang berlaku. Tdk mungkin pejabat/pekerja gereja hanya taat pd Surga di atas, tapi tdk taat pada aturan pajak dan petugas pajak negara.
Bukan hanya penghasilan pendeta, tapi perpuluhan, kolekte, realisasi janji iman dlsb pastinya dikenakan potongan pajak sebagai pemasukan Gereja.

itu berarti pengeluaran layak untuk dicatat, dan terkendali pencatatan akuntansinya. dipertanggung- jawabkan secara transparan ke seluruh jemaat, demi akuntabilitas pendeta/pejabat gereja sendiri scr official di depan jemaat, selanjutnya ke publik luas (yg mendengar ttg perkembangan Gereja tsb).

Itu berarti Gereja yang punya unit-unit bisnis dan harta/aset2 baik harta bergerak maupun tidak bergerak (tanah, gedung, center, dll), pastinya mempertanggung- jawabkannya sesuai aturan UU Gereja yg berlaku; membuat laporan konsolidasi keuangan secara teratur dan bertanggung- jawab demi akuntabilitas di hadapan jemaat, selanjutnya di hadapan publik secara legal dan hukum perundang2an yang berlaku.

Itu berarti, pimpinan Gereja endorong pengawas harta gereja, akuntan publik, tim audit independen untuk melakukan verifikasi berikut penyelidikan2 bila terjadi penyimpangan2 terkait penggunaan keuangan (spt uang sidang, uang rapat, uang perjalanan pejabat gereja, dll), secara legal menyangkut pengaturan harta gereja.

salam damai dan anti-korupsi.

Harry B++

------------ --------- -----
From: HL
Date: December 10, 2009


Sepertinya susah berbisnis dengan sesama orang Kristen, kenapa ya?

Kemungkinannya:

1. Kalau main bersih, jadi nggak dapat tambahan dari vendor (supplier) yang orang kristen

2. Kalau main bersih kemungkinan besar tidak pernah dapat project, sementara biaya operasional kantor, gaji, dan kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi. Kalau tujuannya hanya bersih tetapi tidak mendapat project, siapa menanggung costnya. Tetap bertahan? pakai apa?

Kalau sesama kristen nanti jadi ketahuan nggak bersihnya... .jadi hindari saja.

Terus gimana dong jadinya?

------------ --------- --------
From: Kur Mks
Date: December 10, 2009

Yaa..., main bersih, main fair, paling enak. sperti pd permainan sepakbola saja khan.
namun mesti diakhiri dengan tercetaknya gol-gol indah.
so, sekedar main cantik saja tidak cukup.
Main bersih, fair dan gol-gol tercetak secara terencanalah yg diharapkan.

jika saja semua yg menyebut diri kristen saja di NKRI, yg tinggal di indonesia, cari rejeki di tanah nusantara, mau saja komitmen main bersih (bersih dr korupsi, suap, sogok, peras, kuras, kongkalikong, hanky panky dst..),.... mau komit main fair (baca: main scr legal, etis, tdk naive dan vulgar) maka pasti maju, sejahtera dan kayalah setiap keluarga di bangsa ini. salam fairness dan bersih. K



------------ -------

From: H.Sig
Ini komitmenku:
Mulai hari ini bersih dari korupsi waktu!
Salam perjuangan,
^hit

------
From: A. Sy
Date: December 10, 2009

ya betul Mas Hit. harus yakin, ga kalo kalo (dr dulu ya kalo terus..)
mulainya jg dr diri kita dan lingkungan terdekat kita yo.
anak2, suami, kelg besar, komunitas, lingk kerjaan smpe deh ke pejabat2
dan hartawan/ salam dr mergangsang

------------
From: DS
Date: December 10, 2009

Satu hal juga yang perlu diingat oleh para koruptor-wan dan koruptor-wati bahwa Tuhan tidak tidur dan Tuhan tidak mati. Matanya mengawasi seluruh muka bumi. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai. Benih korupsi ditabur, yang tumbuh mendatangkan panen malapetaka. Benih kejujuran ditabur dan mendatangkan panen damai sejahtera. Puji Tuhan kalau kita diberikan kemauan dan kemampuan untuk hidup jujur.


--------------------
From: Hans Midas Simanjuntak
Date: Friday, December 11, 2009, 9:20 AM


Terima kasih ya untuk tanggapan/respons rekan sekaitan topik ini.
(kompilasi mails tanggapan slngkapnya sy sertakan di bawah).


Yup, harapan saya, dan mdh2an jd harapan kita semua, bersih dari korupsi jadi tanda yg nampak d terasa dr perubahan kesadaran & mindset kita bersama. Selain melalui pendekatan 'justice for truth' lewat hukum dan upaya politik, ini jd gerakan kultural yg dinuansa dikawal oleh kesadaran bersama berbasis kepekaan spiritualitas.

Jika saja dari kita yang ada disini, dari individu kelg di rumah2 tangga, lalu media.. pengelola acara/program televisi, pembikin sinetron, film,.. kemudian guru2 pendidik rohaniawan tetua adat. tokoh sipil, para boss manajer superintenden atasan2 perusahaan.. ., mau tahu dan mampu secara bersama nyebarkan pesan2 inti :

Bahwa kekayaan harta jabatan, kemapanan kenyaman fana terbatas.. bukan (lagi) mrpk top-priority dan tujuan final untuk dikejar dlm hidup & kehidupan di planet ini!

Jika saja kita dpt menjelaskan mell sistim 'gethok tular' (word of mouth communication) bahwa top-priorities dlm kesempatan hidup di dunia yg nga boleh diabaikan, adalah pentingnya:

- Kerja keras dan berjuang (striving, surviving, fighting)
- Belajar.. jd pembelajar aktif spanjang hayat, spanjang tempat (dengar, pikir, menimbang, bicara, nulis, kasih argumen, dst)
- Kejujuran dan bersihnya hati, kepikiran
- Mindset fairness, adil di pikiran.. sportif dlm tindakan, yi dlm self development, dlm hidup kebersamaan dgn orang lain d orang banyak
- Disiplin, fokus dlm meraih standard. raih keterampilan, pengetahuan, wawasan, kompetensi dan reliance (kemandirian) .

Maka, saya sgt yakin mdh2an rekan jg begitu. bhw jagat2 spt dunia profesi, dunia usaha d jasa, politik birokrasi instansi, ranah hukum pastinya akan lebih cepat bersih dari virus bencana korupsi. Peran gereja, masy dan bangsa jd lebih baik!

Gerakan kultural bernuansa kesadaran dan spiritualitas ini, boleh jadi mjd budaya lokal terbaharui di antero pnjuru tanah air, jd suatu budaya nasional baru dr indonesia.

Tksh dan salam bg kita semua.
HMS :-)

--------------------
From: Hasudungan Limbong
Date: Friday, December 11, 2009, 11:31 AM


Terimakasih bang Hans telah mempreview.

Pikiran saya sederhana saja, kita datang dari berbagai latar belakang dan pengalaman yang berbeda, kitapun menyadari bahwa sesungguhnya karena anugerah Allah lah kita mendapat pengampunan dari kehidupan kita yang telah mati karena dosa, sebagaimana efesus 2.

Sekarang, bagaimana secara bersama-sama kita membentuk suatu kegerakan (yang tidak harus digembor-gemborkan) untuk membentuk suatu RANTAI KEJUJURAN. Dari rantai kejujuran ini kita akan bersinergi, boleh sesama pebisnis yg sama bidangnya saling membentuk rantai kejujuran, kemudian antara pebisnis yang berbeda product membentuk lagi rantai kejujuran, antara customer dan supplier membentuk rantai kejujuran. Antara pelayan publik dan sesama pelayan publik membentuk rantai kejujuran dan antara pelayan publik dan publik juga membentuk rantai kejujuran. Antara masyarakat dan polisi membentuk rantai kejujuran. Saya percaya kegerakan ini akan menjadi dahsyat dan menjadi "WINNING TOGETHER"

Mari kita mulai sekarang! Saya tawarkan, saya sebagai supplier diantaranya untuk machinary, valves, fabrikasi, dll dan distributor produk IT mencari patner maupun customer yang mau menerapkan RANTAI KEJUJURAN! Ada yang berminat? Silakan hubungi saya, untuk segera kita action daripada terus mendiskusikan tanpa konklusi...

Saya teringat kepada seorang pengkhotbah terkenal mengatakan "Konklusi tanpa Diskusi adalah otoriter, Diskusi tanpa konklusi adalah membingungkan"

Dan seorang pengkhotbah terkenal lain mengatakan banyak yang tergerak tetapi tidak bergerak.
Mudah-mudahan kita tidak sekedar hanya tergerak saja dan tidak bergerak, tetapi tergerak dan bergerak!

Salam kegerakan

HL

------------------------

Wednesday, October 28, 2009

Salam "Soempah Pemoeda" 2009

Pemuda, perannya menjadi sangat penting dan strategis pada hari-hari ini. Sama halnya dengan waktu founding-fathers bangsa dan pemimpin2 kristen indonesia senior kita eksis pada periode2 awal Indonesia.

Pemuda (dan juga remaja) menjadi suara (yang mewakili) masa depan Indonesia.
Suara yang saya boleh sebut: suara kemandirian. Suara perjuangan menuju kemandirian bangsa, gereja tubuh Kristus, society. Yang pada gilirannya benar-benar mengarahkan kita selanjutnya kepada makna kedaulatan (sovereignty) .

Pemuda, dekat dengan teknologi. Aplikasi teknologi. Dekat dengan kreativitas dan inovasi.

Dekat dengan kondisi. Kondisi kebugaran suatu bangsa (freshness of the nation).

Pemuda sehat, sehatlah bangsa. Pemuda sakit, maka sakitlah bangsa.
Pemuda, mesti diakui menjadi salah satu pihak, komunitas, society yang paling dekat dengan Demokrasi, gerak demokrasi. Maka, di tangan pemuda pula Demokrasi dapat berproses berkembang jauh lebih baik dan lebih semarak.

Pemuda juga yang diharap menjadi penerus jati diri bangsa. Pemuda sangat erat mengait dengan budaya. Budaya lokal, budaya nasional, budaya mengglobal.
Pemuda, penjaga tradisi bangsa, keindonesiaan. Pemelihara tradisi gereja, christianity traditions dalam arti luas.

Kini, hari-hari ini, Pemuda tidak dapat lagi hanya menjadi bagian marjinal dari tubuh bangsa, gereja tubuh Kristus, dari society.

Pemuda, suara pemuda wajib kita dengar!
Wajiblah pemimpin2 di sektor publik, privat maupun masyarakat sipil untuk mendengarnya!

Bila Pemuda bersatu, maka bersatulah bangsa, gereja, civil society.
Bila Pemuda bangkit mentransformasi diri dan maju, maka akan demikianlah suatu Bangsa dan Bahasa.

Pemuda. Suara yang pasti dan akan terus mewakili masa depan bangsa dan gereja.
Maka, tidak heran meski banyak kaum yang telah bertambah tahun usia
ingin tetap bersama pemuda.

Bersama Pemuda, mari segenap kita, merajut masa depan.


Salam Soempah Pemoeda 2009.

28 Oktober 2009.

Wednesday, October 14, 2009

Resensi "The Indonesian Dream": Meraih Mimpi dalam Bingkai Retak

(Tulisan dari Dr Victor Silaen, telah dimuat pada Harian Seputar Indonesia, Minggu 11/10/2009)



SEBAGIAN orang mungkin akan langsung berkata bahwa ”mimpi Indonesia” merupakan sesuatu yang asing dan jarang terdengar atau dibicarakan.


Karena itu, mereka mungkin akan bertanya: apakah Indonesia punya mimpi? Jawabannya ”punya”,dan itu tertulis di dalam Pembukaan UUD 45, yakni ”Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur” dan ”yang sejahtera, cerdas, dan yang berperan serta di tengah pergaulan internasional”.


Terkait itu mungkin kita setuju bahwa sebagian dari mimpi itu kini sudah tercapai yakni merdeka,berdaulat, bersatu,dan berperan serta secara aktif di tengah pergaulan internasional. Tetapi adil dan makmur, sejahtera, cerdas, agaknya masih jauh dari kenyataan. Inilah persoalan besar kita.Menurut Elwin Tobing, penulis buku ini, persatuan merupakan prasyarat untuk meraih mimpi itu.


Celakanya, persatuan itulah yang kini menjadi masalah karena Indonesia dewasa ini adalah Indonesia yang rapuh. Bagaimana mungkin Indonesia dapat menjadi bangsa yang unggul jika rakyatnya tidak dapat dipersatukan? Secara teritorial Indonesia mungkin akan terus bersatu, namun ikatan-ikatan sosial politik yang mempersatukan rakyatnya yang beraneka ragam selama ini perlahan kian melemah.


Kebinekaan Indonesia kini mulai retak di sana-sini. Ini bukan saja membuat Indonesia menjadi bangsa yang sulit maju, bahkan juga terancam disintegrasi (hlm 69). Kalau kita tak mau Indonesia menjadi ”negara gagal”, perubahan paradigma di tengah proses pembangunan bangsa ini ke depan diperlukan.


Untuk membangun bangsa yang kompetitif, tak bisa tidak, setiap warga di negara ini harus dibentuk menjadi individuindividu yang kompetitif pula. Untuk itu setiap orang harus memiliki pikiran yang kritis, sementara kebudayaan masyarakat juga harus mendukung terciptanya iklim yang kompetitif tersebut.


Bagaimana caranya? Ilmu pengetahuan harus dikuasai dan inovasi-inovasi harus digencarkan. Namun, hal itu hanya bisa dicapai jika ada kondisi di mana masyarakat selalu ”lapar” akan pengetahuan dan terobsesi untuk maju dalam pendidikan.


Elwin Tobing,seorang warga negara Indonesia yang kini menjadi dosen bidang ekonomi di Universitas Azusa Pasific, California, Amerika Serikat itu, juga menyoroti faktor lain yang menyebabkan Indonesia sulit maju yakni mentalitas sebagian besar rakyat Indonesia yang selalu menganggap diri sebagai korban dari negaranegara maju maupun paham neolib.


Mentalitas seperti ini jelas harus dibuang jauh-jauh, diganti dengan optimisme dan keyakinan diri bahwa kita juga bisa. Selain pada kenyataannya kita tak mungkin menghindar dari keniscayaan berinteraksi dengan negara-negara lain, maju atau mundurnya negara kita terletak di tangan kita sendiri.


Elwin menekankan perlunya kita bekerja keras membangun toleransi beragama. Bagaimanapun, menurut dia, agama tetap penting dan bahkan merupakan faktor deterministik di dalam kehidupan kita. Karena itulah tak mungkin kita mengabaikannya begitu saja atau menganggapnya tidak penting.


Apalagi Indonesia adalah bangsa yang sangat religius.Untuk itulah diperlukan perubahan paradigma dalam beragama dan dalam melakukan dialog antarumat beragama, di samping juga perlu merumuskan ulang orientasi pendidikan agama di semua lembaga pendidikan (hlm 100-124).


Terkait itu patut disyukuri bahwa Indonesia kini telah menjadi negara demokratis secara prosedural dan struktural. Hal ini tentu dapat menjadi modal untuk membangun demokrasi di ranah budaya, yang meniscayakan bukan saja diakui dan dihayatinya kebebasan, tetapi juga toleransi karena bertumbuhnya kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara wajar, juga kesetaraan dan nilai-nilai lainnya.


Selain itu,ada modal sosial yang harus dibangun. Itulah nilai ”trust” (kepercayaan) yang kian menghilang dari kehidupan kita di tengah kebersamaan (hlm 126-143). Boleh jadi menghilangnya ”trust” dikarenakan ”distrust” (kecurigaan) telah sekian lama menguasai hati dan pikiran kita.


Tak heran jika bingkai yang merekat kebersamaan kita selama ini mulai retak di sana-sini. Buku ini terdiri atas tiga bagian, yang masing-masingnya terdiri atas beberapa bab. Bagian Pertama berjudul ”A United Nation”,memaparkan fakta-fakta dan gambarangambaran tentang situasi dan kondisi bangsa Indonesia dewasa ini.


Bab Keenam,yang mengakhiri bagian ini, seakan mengajak kita untuk mengevaluasi sekaligus menyadari bahwa Indonesia kini tengah di ambang bahaya kolaps karena menguatnya intoleransi beragama. Bagian Kedua berjudul ”A Democratic Nation”, membahas tentang perkembangan yang berhasil dicapai Indonesia dalam demokrasi dan demokratisasi.


Ironisnya, politik semakin modern, namun distrustsemakin menguat di tengah kehidupan bermasyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa tingkat keanekaragaman bangsa Indonesia yang sangat tinggi juga turut menyumbang menguatnya ketidakpercayaan sosial tersebut. Bagian Ketiga berjudul ”A Confident and Competitive Nation”, menguraikan tentang hal-hal yang penting dan perlu dilakukan ke depan demi menjadikan Indonesia bangsa yang unggul dan kompetitif.


Pada intinya,buku ini menekankan perlunya perubahan-perubahan mendasar yang harus dilakukan jika Indonesia mau menjadi bangsa yang unggul dan kompetitif.Untuk itu,selain hal-hal yang telah disebut di atas, diperlukan perubahan dalam nilai-nilai yang kita hayati selama ini. Di sinilah signifikansinya membahas kebudayaan kita sebagai bangsa Indonesia.Persoalan nya, sudahkah kita memiliki ”kebudayaan nasional” yang betulbetul telah dijadikan pedoman oleh seluruh rakyat Indonesia? (*)


Victor Silaen,
Dosen Fisipol UKI



Tanggapan HMS di milis Aliteia (14 Oct 2009):


Resensi konseptualnya TID ini, bagus sekali Lae Victor.
Membawa semangat dan optimistik kita bahwa TID bukan sekedar khayalan atau The Dreaming Indonesian, tapi betul2 upaya "karsa karya dan rasa" bersama menjadikan bangsa ini, bangsa pemenang - bukan bangsa kalahan pencundang.atau selalu terpuruk dlm segala kelemahan.

Terima kasih. JBU
HMS



Tanggapan kembali VS (15 Oct 2009):


Terima kasih Lae Hans. Semoga semua kita bisa menjadi pemenang.

Salam
Victor Silaen

Tuesday, February 24, 2009

Antara Demokrasi dan Tradisi.

Rekans terkasih,

Apa yang saya tulis ini, merupakan tanggapan umum dari topik interaksi diskusi yang berkembang di milis doakan hkpb minggu ini.

Sorotan saya kali ini, adalah mengenai dua hal: Antara Demokrasi dan Tradisi.

Demokrasi sbg suatu gerak (motion) dan salah satu cara (a way) guna mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan bermasyarakat dan bernegara, tak dapat dinafikan telah berkembang di masyarakat bangsa kita, tak terkecuali pengarunya dlm kehidupan gereja, berjemaat. Pengamatan saya, demokrasi kini sdg memasuki tahap survival untuk menemukan bentuknya dan kematangannya yang pas di negeri kita.

Di pihak lain, Tradisi entah itu dlm bentuk tradisi Gereja atau tradisi Habatahon (Kebatakan) tak dapat disangkal masih, tetap menunjukkan eksistensinya yang khas.

Pertanyaannya, apakah demokrasi sbg suatu proses dan gerak (motion) di masyarakat kita harus serta merta meniadakan tradisi? Atau dlm bahasa yg lebih lugas, haruskah demokrasi bertumbuh dan kembang dgn cara melabrak tradisi yang masih eksis ada? Di pihak lain, kita juga perlu bertanya apakah tradisi juga bersikap serta merta tidak memerlukan demokrasi dan proses demokratisasi di dalamnya?

Dialog dan dialektika komunikasi mgkn masih terus berlangsung. Mungkin sulit menemukan ujungnya. Namun, barangkali ada satu pencerahan yang kita harapkan. Bahwa antara Demokrasi dan Tradisi tidak mesti harus saling melabrak atau meniadakan. Tetapi bagaimana antar keduanya dapat saling isi-mengisi, mutual respect. Demokrasi membutuhkan tradisi sbg basis atau dasar utk melangkah berkembang ke arah liberty, kemajuan, kesejahteraan. Sebaliknya, tradisi pun butuh senantiasa di democratized, sekaligus di modernized. Agar dpt mengalami transformasi secara dinamis & seimbang, dinamis serta rasional.

Salam.

Thursday, January 1, 2009

Meski banyak tantangan.., kita mengimani "Have a very blessed year 2009".











Dear saudara2 terkasih,

Secara personal dan keluarga saya ingin mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru bagi rekan2 sekalian. Have a very blessed year 2009 !

Meskipun jika kita mengamati mengikuti perkembangan sejak 2008 bahkan ke belakang faktanya tidak mudah. Berbagai tantangan kelemahan problema krisis yg sdh dan harus dihadapi oleh Dunia global khususnya Indonesia/NKRI dan Dunia kristen Indonesia, lokal-nasional, kerap menghadang. Namun, semua itu tidak menyurutkan kita utk terus melangkah dlm kuasa dan penyertaan Tuhan kita. Mengubah problema kelemahan tantangan menjadi peluang utk menciptakan kasih dan keadilan, transformasi dan kemajuan.

Terinspirasi dari pernyataan Paulus rasul Kristus di jamannya ketika berada di Efesus, meskipun pada masa itu demikian banyak tantangan dan para penentang, ia tetap memiliki iman dan pengharapan yg kokoh dengan menyatakan:

"But I will tarry in Ephesus until Pentacost. For a great and effective door has opened to me, and there are many adversaries". (Tetapi aku akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta, sebab disini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang. 1 Korintus 16: 8-9.


Mungkin ini bisa jadi resolusi kita bersama, jika berkenan, kiranya ada sesuatu atau beberapa hal berarti dan berdampak yang dapat kita buat bersama utk kita persembahkan kpd Tuhan Gembala orang percaya, Maha berkuasa atas dunia, atas indonesia. Sesuatu yg bernilai "strategis", "benar" dan "baik/besar" sbg kontribusi kita bersama, satu bagi kemaslahatan/kemajuan Indonesia NKRI yang kita cintai..., dan satu lagi bagi kemaslahatan/kemajuan dunia Kekristenan di persada indonesia ini.

Sejalan dgn amanat Ibrani 12: 1 Mari kita tinggalkan dan tanggalkan yg dibelakang, dimensi waktu masa lalu (2008 ke belakang)
"So let us lay aside every weight and the sin which so easily ensnares us, and let us run with endurance the race that is set before us".

Dan mari kita jejakkan dimensi waktu=tahun yg baru 2009 dgn mengenergisasi amanat Filipi 3: 13-14.. "Brethren, I do not count myself to have apprehended, but one thing I do, forgetting those things which are behind and reaching forward to those things which are ahead. I press towards the goal for the prize of the upward call of God in Christ Jesus".

Mari saudara2 rekan sekalian, kita sama-sama jejakkan "space and time" 2009 dlm kuasa pengharapan, iman dan kasih. Tuhan beserta kita!


Shalom.

Thursday, November 20, 2008

Gelombang PHK, Perlunya Pembalikan Paradigma Kebijakan, 10 Langkah Terobosan!

Dear readers,


Saya kutipkan tulisan, ulasan Harry mengenai antisipasi yg seharusnya dilakukan Indonesia menyikapi dampak krisis keuangan global yang sudah mulai dirasakan di negeri ini. Antara lain, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai dilakukan di bulan-bulan ini oleh sejumlah pabrik dan industri manufaktur di Jawa, Kalbar dan Sumatera.

Demikian ulasannya, silakan disimak.

Kawansku,

Sy sependapat dgn rekan robert.hizkia di salah satu milis (aliteia) dan ekonom Faisal Basri bbrp waktu lalu. Bahwa yg pastinya akan terkena imbas krisis keuangan global sangat keras di negeri ini, adalah tentu Sektor Keuangan sendiri (pasar saham, pasar uang, valas), Sektor Perbankan yg link dgn pasar internasional serta Sektor2 Riil Modern di perkotaan (sub sektor Properti, Mall, Manufaktur, Perdagangan Kendaraan dgn BBM, Hypermart dsjns) trtm kota-kota besar di pulau Jawa, sbgn Bali dan sektor2 Riil Modern di Indonesia Bag Barat.

Yang relatif tidak terkena imbas plg tidak jelas-jelas ada di 4 sektor: Kalau di pulau Jawa dan Indonesia Bag Barat. (

1) Sektor2 Tradisional di pedesaan, daerah pegunungan dan pesisir (Agro, Perikanan dll)

(2) Sektor UKM, koperasi dan microfinance yg "standing alone" tdk link internasional.

(3) Sektor Paska-Modern: spt bidang Seni Budaya Kreatif yg sgt dicari oleh internasional, Musik Indonesia kontemporer, Desain kreatif, dll.

(4) Kalau di Indonesia Bag Timur, hampir seluruh sektor (Perkebunan, Agro, Perikanan, Industri, Perdagangan dll), boleh dikatakan relatif tidak terkena imbas, bahkan utk Komoditi2 yg booming, dpt mendapt berkah dari menguatnya dollar AS serta melemahnya nilai rupiah.


So, langkah nyata yg bisa/hrs dilakukan bersama harus berdasar atas pembalikan paradigma Kebijakan politik-ekonomi scr drastis di tengah krisis.

Meliputi 10 langkah terobosan (dari hasil kajian yg selama ini dilakukan), yaitu:

1. Berantas KKN dan Suap, tidak boleh berhenti sedikitpun oleh KPK dan Tipikor dll; tdk dpt tdk kian hari harus terus galak, tanpa kompromi, termasuk bagi mereka yg sdg "tiarap" sekarang.

2. Korban puluhan ribuan PHK dan tenaga2 mandiri (profesional dan semi pro) segera disosialisasi utk beralih pekerjaan/usaha dari Sektor Modern Riil ke 4 Sektor diatas. Dengan tujuan ekspor sdh waktunya diarahkan kpd negara2 non-AS dan non-Eropa.

3. Penciptaan lapangan kerja/penyerapan TK bersifat taktis emerjensi melalui pencairan cepat dana2 APBN/APBD di bid infrastruktur, penyaluran kredit UMKM dll trtm di luar Jawa dan Indonesia Bag Timur, dgn melibatkan slrh korban PHK, generasi muda dan para lulusan sekolah/PT.

4. Spt yg dilakukan India, Thailand dan China, Pemerintah harus turun tangan melindungi ke-4 sektor diatas melalui putusan Kebijakan dan Perundang-undangan.

5. Dgn peraturan dan undang2 pula, Pemerintah "memaksa" agar dana2 para pengusaha/pedagang indonesia yg selama ini parkir di luar negeri hasil transaksi perdagangan dlm bentuk US dollar, agar dialokasikan ke dalam negeri.

6. Sosialisasi dan ketegasan setiap Warga Negara tidak memborong dollar, pengetatan semua item biaya, memakai barang2 produk dalam negeri, pengurangan seluruh pemakaian komponen produk dari LN (impor), kewajiban Pajak bagi produk booming, dst.

7. Peran LSM, LPSM, societas, asosiasi sipil, media yg akurat berimbang dan bertanggung- jawab dan peran2 sejenisnya diperkuat utk penguatan kohesivitas lokal dan nasional. Termasuk antar hubungan antar Ormas, Partai dan kelp2 politik dalam negeri.

8. Pembiayaan seluruh proses demokratisasi dan Pemilu 2009 dan pilkada2 dilakukan reduksi penghematan nyata, tanpa menghilangkan substansi. 9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu. 10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.

9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu. 10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.

10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.

Salam damai (Harry B ++).


Hal yang telah disampaikan ini, saya kira sangat mendesak menjadi fokus perhatian dan "urgent plan" Pemerintah dan seluruh elemen bangsa yang mencintai bangsa ini.


Tuhan memberkati.

Wednesday, November 12, 2008

Sharing Awal: Pendirian Sebuah Universitas Kristen di Kalabahi, NTT

Sahabat terkasih,


Seperti diketahui, ada beberapa rekan dari elemen Bakti Nusa Connections juga bergabung di forum milis yang bernama Aliteia. Namun, ada juga yang tidak bisa berkoneksi, a.l. oleh karena keterbatasan akses internet, dll. Nah.. dengan beberapa orang yang tidak bisa bergabung inilah, saya baru saja melakukan koordinasi lapangan.


Sharing awalnya begini. Sudah sejak beberapa tahun lalu sebenarnya, di NTT tepatnya di Kalabahi Alor, teman-teman ini sdh menggumuli, punya visi dan mimpi, dan mulai merencanakan lebih telaten bagi berdirinya sebuah Universitas Kristen yg diharap di kemudian hari dapat menjadi salah satu center of excellent bidang pendidikan tinggi di wilayah NTT.


Di awal 2008, visi, mimpi dan perencanaan tsb telah menunjukkan hasil yang nyata, baik di tingkat policy dan di lapangan (tingkat implementasi). Sebuah Universitas Kristen telah berhasil diretas, dan telah didesain secara bertahap untuk 5 fakultas, yang kesemuanya disesuaikan dengan kebutuhan yg dirasakan untuk kemajuan wilayah-wilayah di NTT.


Menurut desain organisasi yang telah disepakati sejak awal, Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini berada sepenuhnya di bawah naungan lembaga Gereja, dalam hal ini Gereja Klasis GMIT Timor. Berdasarkan potensi, tantangan, kekhasan, peluang dan prospek ke depan, ckp banyak penilaian bahwa Gereja Klasis ini sesungguhnya kelak dpt ditingkatkan secara bertahap menjadi Gereja bertingkat Sinode di Kalabahi NTT.


Bertalian dgn sharing saya ini, support berupa 4 D (Doa, Daya, Dana dan Dukungan moril akses knowledge skills good will dll) dari segenap members Aliteia, akaan sangat dibutuhkan bagi kehadiran Universitas Kristen ini. Support perlu diberikan bagi teman-teman dalam tim yang telah berjuang dan bekerja keras bagi berdirinya Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini.


Saya berharap rekan2 sahabat sekalian yg punya visi dan passion di bidang higher education, kiranya dpt mendukung usaha sangat nyata ini, dalam bentuk-bentuk berupa fasilitasi, support kemitraan, lecture activities atau apapun namanya yg lebih riel.


Ini menjadi sharing dan informasi awal bagi kita sekalian, sebelum saya/kami dapat mensharekan secara lebih lengkap tahap-tahap perkembangan yg sedang dilakukan baik di tingkat kebijakan/policy maupun di tingkat implementasinya.


Salam karya kasih nyata,

HMS :-)

Tuesday, November 11, 2008

Start From Reality. Dan Bukan Diri Kita Sendiri Yang Mengucapkannya.

Start from the reality.
From reality to ideal statue.


Realita yg tak dpt kita tolak, sbgmn threads yl terkait, peran DPD dan DPR, masih relatif banyak yg harus dibenahi di bid/pentas politik & state.


Bukan hanya dlm hal posisi peran DPD dalam sistem ketata-negaraan, tapi juga peran fungsi dan moralitas DPR, bahkan juga di tubuh birokrasi pemerintahan kita. Sebagai mana peran Media, TV dan multi media, sikon DPD, DPR dan birokrasi.. ini semua sebenarnya mjd cermin faktual keadaan riel negara dan masyarakat jg di tingkat praksis, yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sabang sampai merauke.


Sebab itulah ekspektasi kita bersama, baik sbg Indonesia maupun sbg kristen warga, mari kita hands-on dgn elemen bangsa lainnya, utk memberi kapasitas penguatan bersama, upaya pembenahan2 dan kritisi yg terukur, agar lembaga2 diatas makin tahun makin betul2 mjd institusi yg terhormat.


Kata "terhormat" bukan saja hanya dlm tataran ucapan atau sapaan diri sendiri, atau kalangan sendiri di lingkungan kelembagaan Terhormat disini, kita artikulasikan kembali, mengandung pengertian:

1. Tidak menjadi tempat/lahan komersialisasi.

2. Tidak menjadi "menara gading".

3. Tidak menjadi ketertutupan sbg sebuah budaya. (transparency lah yg seharusnya mjd kebudayaan baru NKRI ke depan).

4. Tidak menjadi "caucus" utk melakukan pembohongan publik, dan atau rekayasa licik atau "regulatory game" (permainan hukum/undang2/ peraturan) yg dilakukan hanya segilintir orang utk mengelabui/memperda yai kepentingan umum/banyak orang.

5. Last but not least, Tidak lagi menjadi sarang Korupsi/KKN dan suap-menyuap, yg berakhir di kursi pengadilan dan penjara.


Dari ke-5 artikulasi terhadap realita di atas, maka marilah kita di Aliteia turut memperjuangkan bersama ke arah ideal statue, sesuai harapan begitu banyak orang sekarang ini.


Kita ingin mjd bangsa yang terhormat. Masyarakat yang terhormat. Kristen terhormat. Dan bukan diri kita sendiri, bukan Indonesia sendiri, bukan orang kristen sendiri.., yang mengucapkannya.


Salam,
HMS :-)

Monday, November 10, 2008

Mari Kita Bersama "Memancar Keluar" (Garami Terangi Bidang/Pentas Politik).

Kita patut bersyukur. Ckp banyak teman-teman di masy Aliteia ini sdg meretas perjuangan baik melalui mell keaktifan di Parpol-Parpol dan sdg berjuang maju sbg Caleg DPR/D, maupun melalui jalur DPD di propinsi2.


Untuk jalur DPD, saya mendengar klu tidak salah ada sekitar 19-21 propinsi dari 33 propinsi (57-63%) terdapat ada 1 orang atau lbh dari 1 org warga masy Kristen/Katolik yang telah masuk dlm bursa pencalonan Anggota DPD (Senator Propinsi) utk Pemilu 2009.


Hal yg perlu disyukuri. Meskipun, harapannya jk boleh di seluruh 33 propinsi seyogianya ada warga masy Kristen/Katolik min. 1 orang masuk sbg calon DPD. Mudah2an mjd doa dan upaya kita, di Pemilu 2014 hal ini dpt direalisasikan! Sebab itu, sy mengencourage teman2 disini yg mgkn punya minat dan passion mjd calon DPD/anggota DPD, boleh mempersiapkan diri sejak sekarang.


Dan khusus berkenaan dgn DPD bds posting yg sy baca dan ikuti minggu ini, sy mengucapkan sekali lagi selamat berjuang kpd bro Rekan Victor Silaen (DPD Prop DKI Jakarta), rekan Hasudungan Limbong (DPD Prop Sumsel) dan rekan Gabarel Sinaga (DPD Prop Sumut). Ada satu lagi, suami dari rekanita kita Dr Indira J Simbolon, yu Bro Sumurung Samosir, juga menjadi calon DPD untuk Prop. Sumatera.


Sebagai leaders/calon Leaders di Pentas Politik, spt di postingan sy sebelumnya sekaitan dgn Pemilu di AS, sy melihat bulan-bulan ini kedepan dan jg waktu2 selanjutnya brngkali akan mjd semacam 'Examination Periods (Periode2 Pengujian)" yg harus dilampaui oleh anda-anda sekalian. Mengutip ungkapan nabi Daniel, pengujian juga berpadu-padan dgn proses purifikasi (Pemurnian) dlm banyak hal (visi, niat, pikiran hati, dll). Reformator Luther mengatakan doa 50% faktor keberhasilan. Sisanya 50% lagi tentu, harus dilakukan dgn upaya, keuletan, team-work dan kerja keras.


Demikian juga harapan sy utk teman2 yg aktif di kepengurusan Parpol dan sbgn besarnya masuk pula dlm bursa pencalonan Aleg DPR/D mendatang. Maka, mgkn tdk berlebihan bila saya berharap bilamana semua rekan2 sy yg ada di masy Aliteia ini, para leaders di berbagai daerah, di jakarta, dan di LN, with your people and networking tentunya, marilah kita dukung sepenuhnya rekan-rekan kita ini dgn apa yg mgkn ada pada kita (terliput 4 D: Doa, Daya, Dana, Dukungan moril, akses, suara, dll)


Inilah mungkin waktunya, harapannya kita scr bersama dpt memancar keluar, outword looking, utk tugas mendukung lebih serius dan lebih total teman-teman kita yg diharap bisa mampu nantinya menggarami dan menerangi pentas politik kenegaraan termasuk berharap di birokrasi juga.


Mengenai hasil finalnya, kita sadari itu mjd urusannya Tuhan. Namun dgn berbagai doa dan upaya kita, kita berharap agar terjadi kemajuan, dampak riel dan transformatif, utk kemajuan Indonesia khususnya fokus kita kali ini di bidang atau pentas politik.


Oh ya, Selamat Hari Pahlawan !!

God bless you all, God restore Indonesia.


Salam, HMS :-)

Saturday, November 8, 2008

Seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi.

Ulasan di bawah adalah tanggapan saya seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi, dengan Bro Andry Pakan dan Sis Anne di forum milis Aliteia.


Demikian isinnya:


Menarik apa yg anda wacanakan seputar misi holistik kristen dan transformasi. Perkenankan sy ikut menanggapi, line by line khususnya quote dari bro Andry. tks.

Andry Pakan:
Tentang mengurangi wacana di sekitar misi yang holistik atau transformasi yang tidak diikuti langkah konkrit, begini : Saya menggunakan kata "menerobos (keluar dari tembok-2 Kristen)" karena dari pengamatan saya, gereja terlalu berpusat kedalam, walaupun masih berwacana tentang misi.

HMS:
Mungkin ada benarnya, apa yg anda katakan bhw umumya gereja2 dan kekristenan di Indonesia dewasa ini mash ckp banyak yg terlalu berpusat ke dalam (urusan intern belaka). Pola pandang Inward Looking. Istilah bro Harry Borneo, gereja masa kini sibuk dgn urusannya sendiri-sendiri. Ada kesan, ingin maju sendiri-sendiri (tapi apakah benar maju?). Kecendrungan hanya ini berorientasi pd kepentingan kalangan sendiri. Sibuk dgn urusan pembangunan gedung gereja, sibuk hanya dgn hal-hal spiritual sakral saja: ibadah, kebaktian dll menafikan hal-hal yg profan. Sibuk dgn masalah perbedaan2 (a.l doktrin), masalah funding, kesejahteraan pengerja gereja dan masalah "perpecahan2" internal yg sebenarnya mgkn "tidak perlu", dll. Akibatnya, tantangan dan permasalahan yg jauh lebih besar yg dihadapi Gereja dan Kekristenan dewasa ini, utamanya menyangkut eksistensi di tengah masyarakat lokal-nasional, bangsa dan negara, dari Sabang sampai Merauke jadi cendrung terabaikan.

Memang, sejatinya Kekristenan di indonesia, spt Kekristenan mula-mula, harusnya berpikir ke luar, meliat keluar, mengantisipasi keluar. Pola pandang Outward Looking. Dilakukan semustinya dgn derap bersama, alignment, spirit kebersamaan. Istilah yg srg digunakan para misionaris dari luar yg saya kenal: "Harus berpendar keluar, bersinar ke luar, memancar keluar". Ini sebenarnya makna inti Kekristenan/gereja yg misioner.

Memang kalau mau berperan lebih total, harus ada perubahan cara pandang yg mendasar. Perubahan paradigma. Perlu ada gerakan pemahaman kembali, interpretasi kembali arti Misi. Baik secara historis, spt yg disampaikan a.l. oleh David Bosch, maupun pengertian misi dalam pemaknaan lebih kontemporer, dan sesuai konteks lokal, nasional dan global.


Andry Pakan:
Melayani ke pelosok-2 yang penduduknya beragama Kristen, juga disebut misi.

HMS:
Ini menurut sy tidak mjd problem, sepanjang pemahaman kita seluruh penduduk yg telah beragama Kristen, belum sekuat yg kita perkirakan (dalam hal iman, cara pandang misioner, kepemimpinan misi, pemaknaan akan arti persembahan dan atau konsekrasi, dll). Di kalangan gereja Protestan old line churches/main line churches, dikenal istilah Reevanggelisasi. Di kalangan profan entrepreneurship, dikenal istilah Reinventing. Di bidang engineering, dikenal istilah Reengineering.

Pemaknaan Amanat Kristus "Pergilah ke Seluruh Dunia (Mrk 16), Dunia yg dimaksud tidak hanya diartikan Dunia dalam pengertian Geografis, tapi juga dpt diartikan dlm 3pengertian berikut:

(1) Dunia dalam pengertian dunia Profesi.

(2) Dunia dalam pengertian dunia Domain/Spheres Kehidupan (Spiritual, Sosial, Politik, Tradisi Budaya, Pendidikan, Ekonomi, Riset, Media, dst, dan

(3) Dunia dlm pengertian Dunia gereja Masa lalu, gereja Masa kini dan gereja Masa yg akan datang, sesuai dgn zeitgeist atau garis waktu/garis jaman.

Istilah kata Misi (Mission) di masa kini, pun pula Misi Holistik (Whollistic Mission/Holistic Mission) juga nampaknya tidak lagi mjd klaim sepenuhnya milik orang Kristen, dunia Kristen atau Gereja (walau berawal sejarah dari histori dunia Kekristenan, ingat istilah Missio-Dei). Namun, telah menjadi pemaknaan Universal. Seluruh dunia, seluruh lembaga sekuler, seluruh agama dan kepercayaan, dan organisasi (Negara, Bisnis, LSM, Parpol, lembaga Pelayanan Agama: Kristen, Hindu, Budha, dan sebagian Islam dlsb) sekarang memakai istilah Misi dan Holistic Mission ini, terutama dlm pengungkapannya Visi Misi Beliefs Platform Strategi organisasinya. Jadi kita memaknai arti Misi dan Misi Holistik itu dlm konteks sekarang, harus dlm view yg lebih luas, tidak terll sempit memaknainya.


Andry Pakan:
Sepengatahuan saya, implementasi misi holistik yang sering diwacanakan di gereja/para gereja belumlah memuaskan. Karakteristik masyarakat Nusantara yang sudah begitu banyak berubah tidak mendapat perhatian yang seyogianya patut mendapat perhatian untuk menyesuaikan pola & strategi misi yang tepat. Dulu, masyrakat/suku- 2didominisai oleh pandangan animisme & Hindu, sekarang Islam.

HMS:
Sependapat dgn hal ini. Jika memakai konteks abad 18-19 benar, dulu animisme & Hindu, sekarang Islam. Utk konteks abad ke-21, mmg tidak dpt dipukul rata demikian. Utk daerah2 mayoritas Kristen, konfigurasinya adalah Kristen yg mgkn perlu dilakukan pembangunan paradigma, cara pandang dan mindset Misi yg perlu direformasi terus menerus (Ecclesia reformata semper reformanda est secundu Verbum Dei?” (”the reformed Church must be always reforming according to the God's Words"). Berikutnya di daerah mayoritas Kristen masih ckp banyak dijumpai eksis suku2 terabaikan di dalamnya, dan kelp2 masy yg mengalami smacam "shock budaya" akibat pergeseran drastis dari budaya lokal pra modern langsung menuju budaya postmodern (tanpa sentuhan modernisasi terlalu intens), akibat perkembangan teknologi informasi dan globalisasi yg demikian cepat. Dan terakhir tantangan atau rambahan misi dakwah dan syiar Islam. Pola strategi dan misi di tempat ini mmg mjd unik dan berbeda. Lain halnya dengan pola strategi dan misi di daerah-daerah yang jelas2 mayoritas penduduknya Islam. Keduanya, spt yg telah disampaikan sis Anne, mjd sama penting utk dilakukan.

Belum lagi, utk pola dan strategi misi ke Luar Negeri, utk pemenuhan Amanat Kristus pergi ke seluruh dunia, dunia dalam pengertian geografis... Cepat atau lambat hal ini pun harus dilakukan Kekristenan dan Gereja. Melakukan tugas misi ke Afrika misalnya, Timur Tengah, Israel, Asia Tengah, Pakistan, India, RRC, Korut, Jepang, Asia Timur lainnya, Oceania, Amerika Latin bahkan ke Eropa dan Amerika. Semua mjd tugas sama penting utk dijalankan Kekristenan Indonesia, baik di masa kini maupun di masa-masa yad.


Andry Pakan:
Dulu, para misionaris sebelum datang ke Nusantara melakukan persiapan-2 yang matang dengan mempelajari karakteristik masyarakat animist, Hindu. Misal, dalam hal penguasaan bahasa, adat/budaya dan berbagai hal yang spesifik dari suatu suku. Sekarang, berapa banyak gereja dan para gereja mempelajari Islam dan karakteristik masyarakat islami? Berapa banyak gereja yang mengajak jemaatnya untuk mengenal ajaran Islam sebagai bekal untuk berinteraksi setiap hari?. Mengucapkan 'assalamualaikum' saja kita alergi bukan? Akibatnya, tidak banyak jiwa-jiwa baru yang dituai oleh gereja-2. Gereja atau para gereja yang patut dinilai melakukan misi dalam arti yang sebenarnya dapat dibuktikan oleh adanya anggota baru usia dewasa yang sebelumnya non Kristen di gereja tsb yang menjadi anggota bukan karena menikah dengan anggota gereja tsb. Tanpa kehadiran orang-orang yang demikian, pada dasarnya gereja tsb tidak melakukan misi, walaupun setiap tahun malaksanakan program 'bulan misi', 'pelatihan tenaga misi', dlsb.

HMS:
Menurut saya, bila Kekristenan warga masy Krsiten di Indonesia ingin "powerful" dalam kesaksian dan misinya, sudah harus membagi diri, menurut visi, beban, potensi, karunia, resources, natur passionate yg ada pada mereka masing-masing. Bersiap utk pergi ke Dunia, baik dlm pengertian Geografis, Profesi, Spheres maupun ekspektasi Gereja masa Kini ke prospek Gereja masa datang.

Mana dari umat Kristen yg harus diperlengkapi (to be equipped), harus menyiapkan diri di dalam pola strategi dan misi ke-3 bagian, yakni "terjun" dlm kesaksian dan pelayanan di:

(1) Daerah-daerah mayoritas Kristen utk misi perkuatan "kembali", continually reforming gereja2 kekristenan scr integratif-holistik,

(2) Daerah-daerah mayoritas Islam utk misi membangun jembatan komunikasi dan kedekatan serta Kabar Baik, dan

(3) Daerah-daerah di Luar Negeri - Misi antar Bangsa antar Negara, utk memenuhi misi pencapaian sampai ke Ujung-Ujung Bumi, sebelum Tuhan datang kembali. Ini harus menjadi "Visi Besar" dan sekaligus "Misi Besar" yg harus disiapkan semua Gereja2.. Kekristen di Indonesia sejak masa sekarang.


Andry Pakan:
Seandainya dilakukan riset yang memadai tentang urgensi misi bagi gereja-2 dan aktivitas misi gereja-2 di Indonesia, mungkin hasilnya memprihatinkan. Seorang kawan yang mengkhususkan dirinya melakukan PI pribadi ke masy. Muslim Sunda mengalami dua kali penolakan dari gereja. Yang pertama, ketika dia membawa beberapa petobat baru ke gereja dimana dia menjadi anggota, gereja tsb menolak menerima petobat-2 baru tsb. Kemudian dia ke gereja yang lain dalam wilayah yang sama, dia juga mengalami penolakan. Mengapa gereja-2 tsb menolak? Takut, takut terhadap reaksi masy. setempat, inilah tipikal gereja yang tidak peduli terhadap misi dan tipikal gereja yang cari aman.

HMS:
Seperti yg telah saya sampaikan diatas, menjadi sangat urgen upaya pembalikan paradigma, transformasi mindset. Dan ini butuh upaya memperlengkapi scr lebih seksama terutama dlm hal Pola pandang Outword Looking dan Kepemimpinan Misi. Tentu harus disertai dgn contoh-contoh dan keteladanan.


Andry Pakan:
Kemudian, lihatlah HKBP, gereja suku dan gereja terbesar di Asia (?), berapa orang sih anggota HKBP di seluruh dunia yang non Batak dan/atau yang ex non Kristen?. Demikian juga dengan gereja suku yang lain, seperti gereja Toraja. Pengaruh adat dalam kehidupan sehari-hari dari anggota-2 kedua gereja tsb masih cukup kental bahkan dominan. Sejarahwan kondang dari UI, Dr. Ong Hok Ham (salah eja?) alm, mengungkapkan keheranannya terhadap orang-orang Batak di perantauan. Dari pengamatannya dia berkesimpulan, orang-2 Batak (pria & wanita) adalah tipikal pekerja keras dalam profesi apapun. Tetapi, mengapa tidak banyak yang kaya (hidup pas-pas an), dikemanakan penghasilan yang pasti jauh melebihi kebutuhan hidup sehari-hari? . Dr. Ong menjawab : "high culture cost". Seandainya Dr. Ong melakukan riset di masyarakat Toraja yang 90% lebih penduduknya beragama Kristen, dia akan menemukan hal yang sama, ongkos budaya telah menguras harta benda yang dengan susah payah dikumpulkan.

Dari sini saya berkesimpulan, misi yang holistik yang berakibat kepada terjadinya transformasi secara utuh kehidupan orang-2 yang dilayani tidak berhasil sepenuhnya dilakukan oleh para misionaris yang ke Tapanuli dan yang ke Toraja. Walaupun tidak sedikit sekolah-2 yang dibuka oleh para misionaris sebagai implementasi misi yang holistik, dan sekolah-2 tsb telah sangat berjasa dalam mencerdaskan warga kedua suku tsb , tetapi semua pelayanan tsb belum dapat membuat orang Batak dan Toraja yang Kristen melepaskan diri dari dominasi adat istiadat. Kalau Toraja yang usia Kristennya jauh lebih muda dibanding Batak, mungkin masih bisa berdalih, "kami kan belum terlalu lama menjadi orang Kristen, beda dengan gereja-2 Batak yang sudah lebih 100 th. menerima Injil." Tapi, kalau meperhatikan apa yang ada dalam gereja Toraja sekarang, sampai Tuhan Yesus datang pun tetap saja adat mendominasi kehidupan jemaat. Mengapa? Tidak /belum ada terobosan (salah satunya semacam fatwa) dari institusi gereja yang patut diperhitungkan dapat "menggiring" jemaat hidup secara Kristen yang utuh.Ada beberapa anggota gereja Toraja yang melakukan terobosan secara pribadi dengan menititp pesan kepada anak-2nya agar supaya kalau dia meninggal pemakamannya tidak dilakukan berdasarkan aturan-2adat yang salah satunya harus mengorbankan puluhan ekor kerbau dan babi.

HMS:
Ini menjadi tugas bersama kita Warga Masy Kristen tmsk Aliteia, bukan hanya jadi tugas pengerja atau petinggi HKBP dan Gereja Toraja utk terus menerus Reforming, transformasi mindset. Kita harus melihatnya ini sbg tantangan yg positif bagi kemajuan bersama, bukan sbg aspek kelemahan yg negatif. Apa yg diungkap oleh Ong Hok Ham, mungkin ada benarnya sbg high culture cost, tapi juga saya melihat tidak sepenuhnya benar. Nilai-nilai budaya lokal, kearifan lokal, tidak seluruhnya keliru.

Ukuran nilai Kebudayaan (Culture), tidak serta merta "apple to apple" utk diperbandingkan dgn nilai cost atau high cost dalam prinsip Ekonomi. Ong meliatnya dari segi Ekonomi. Jika orang Budaya disuru meliat pola behavior komunitas Ekonomi/pebisnis, juga akan mengatakan mereka ini minim budaya, miskin nilai-nilai Keutamaan kultur. Sama saja. Lebih baik kita meliat segi positif hubungan antara Sosial-Ekonomi dan Budaya. Demikian juga sebaliknya.


Andry Pakan:
Berbicara tentang misi yang holistik, terhadap petobat-2 baru sekarang ini perlu sekali diperhatikan hidupnya. Kita ketahui bahwa kalau seorang Islam meninggalkan agamanya, dia akan dikucilkan, bahkan tidak sedikit yang dikejar-kejar dan diancam dibunuh. Misi yang holistik juga hemat saya, tidak harus dimulai dengan pemberitaan Injil secara verbal terlebih dahulu, tetapi mungkin pelayanan lain yang menyangkut kehidupan sehari-hari dari objek yang dilayani. Bisa berupa pelayanan kesehatan, pemberdayaan kehidupan ekonomi masyarakat, pendidikan , dlsb. Kemudian, pada saat yang tepat, Injil yang diberitakan harus menyentuh/mempengar uhi seluruh aspek hidup orang-orang yang dilayani, termasuk kebiasaan-2 yang dianggap baik sebagai wujud ketaatan kepada leluhur (adat istiadat yang tidak sesuai dengan prinsip-2 Alkitab). Kalau ini terjadi barulah dapat dikatakan Injil telah mentransformasi secara utuh kehidupan seseorang.

HMS:
Secara historis, apa yg bro sampaikan ini sudah mulai ckp banyak disadari dan mulai dilakukan oleh ckp banyak kalangan Kristen. Saya dan bersama-sama dengan teman-teman lain (ada sebagian di milis ini), sdh menyadari sejak kami lulus dari perguruan tinggi di masa lalu. Sebab itu kami katakan, bentuk kongkrit sangat kongkrit, holistik mission atau apapun namanya (christian resource center, dsjnsnya) ini, sbg "A Tribute for The Nation".

Di beberapa majalah, tmsk majalah DIA Pkts, di edisi-edisi tahun 1986-1987 saya sdh ungkapkan dan presentasikan panjang lebar mengenai Pola Pewartaan yang Membangun Jembatan Komunikasi dan Kedekatan trtm dgn saudara-saudara2 kita yg berlainan agama. Berikut hasil-hasil yg bisa dicapai. Spt contoh pengalaman di daerah2 pelayanan Bugis Makassar Selayar dan Mandar (mayoritas Islam dan sinkretis Mukdi Akbar), di Bali (mayoritas Hindu), di Bengkulu (mayoritas Islam), di Sulawesi bagian Timur (utk daerah2 mayoritas Islam), dll. Upaya program Entrepreneurship sosial, UKM, microfinance, Comm. Dev (kesehatan, pendidikan), Pertanian, dll boleh disebut sbg Pre Evangelism utk menyuburkan tanah-tanah bagi upaya tabur benih Kabar Baik. Membangun jembatan, membangun relasi, membangun kedekatan dgn umat yang berbeda keyakinan Agama. Hasil-hasil di beberapa daerah ini dan banyak daerah lainnya, saya kira, telah menunjukkan hasil yang ckp baik. Tentu perlu ditingkatkan lagi utk tantangan2 hari ini dan masa yad.


Maka, ini mjd tugas kita bersama, agar bilamana dari rekan2 Kristiani kita di manapun, belum menyadari akan tantangan yg sdg kita hadapi sekarang, belum menyadari akan signifikansi penting..esensi dari Misi, Misi Holistik dan Transformasi, mulai saat ini dapat lebih terbuka bagi suatu perubahan dan kemajuan bersama. Sekali lagi ini menjadi tugas kita bersama! Kiranya Tuhan akan terus menyertai dan memimpin kita menjadi Orang Kristen, warga gereja, warga Masy Kristen yang Misioner.


Salam HMS :-)

Tuesday, November 4, 2008

Periode Pengujian Kepemimpinan Sedang Ditapaki.

Dear sahabat,


Saya baru pulang dua hari lalu lewat penugasan El-Trinitas Ministry dari kamp Kepemimpinan Gereja (Christian Leadership), dengan mengambil lokasi di Cibodas Bogor Jawa Barat.


Inti yg saya sampaikan, adalah Kepimpinan dlm masa sekarang, memasuki periode pengujian (examination periods) baik utk ranah Kekristenan maupun ranah Dunia.


Obama telah terpilih. McCain menanggapi kemenangan Obama dalam pidatonya, saya nilai luar biasa. Patut dicontoh oleh seluruh leaders dan calon leaders di negeri ini. Juga Obama. Tidak pongah. Dalam postingan sy sebelumnya, saya mencoba melontarkan evaluasi preferensi thd keduanya, terutama dlm 3 hal: kebenaran, etika dan manfaat kebaikan.


Bagi Amerika, bagi dunia, bagi Indonesia, apa yang dikemukakan keduanya menyangkut kebenaran dan etika, terasa masih dpt diperdebatkan. Khusus soal isu menyangkut etika, mmg sy melihat ada perbedaan evaluasi kritis.


Soal aborsi dan sex same marriage, McCain meninjaunya dari segi etika, sdg Obama lebih kepada pragmatisme politik utk menarik suara. Khusus untuk tema aborsi, spt halnya dgn isu lainnya spt hukuman mati, euthanasia dsjsnya, dari segi Etika Kristen, di kalangan Kristen tms para teolog sendiri mmg faktualnya pendapat terbelah: ada yg Pro-Life dan ada pula yang Pro-Choice. Semua sama-sama punya alasan, yg ckp panjang utk dibahas di forum ini.


Kemenangan Obama saya evaluasi bukan dlm hal 2 hal pertama, kebenaran dan etika. Tapi justru dalam aspek manfaat kebaikan. Mayoritas Americans, dan juga mgkn dunia, punya ekspektasi manfaat kebaikan yg diperoleh bila vote Obama akan lebih besar dibandingkan vote McCain. Itu saja. Mengenai ekspektasi manfaat kebaikan itu akan mampu direalisasikan oleh Obama, waktulah yang akan menilai dan mengujinya. Yg terpenting adalah periode pengujian berikutnya.


Bagaimanapun, rasa salut kita harus kita berikan kpd keduanya: Obama dan McCain, dan yg paling terutama adalah kpd bangsa Amerika, yang telah memberi pelajaran berharga bagi kita. Keputusan pilihan yg saya nilai ckp berani telah ditunjukkan bangsa Amerika dlm memilih pemimpinnya. Ya, pada masa sekarang dan ke depan ini, periode pengujian kepemimpinan (examination periods) bagi leaders dan calon2 leaders, sdg ditapaki.


Salam, HMS :-)

Tuesday, October 28, 2008

Perspektif Saya dalam Menyikapi Perdebatan yang Sangat Tajam.

Salam hangat dan damai kepada kita semua,

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan kepada kita semua warga Indonesia/NKRI: "Selamat Hari Sumpah Pemuda 80 Tahun (1928-2008).

Tema ulasan saya ini adalah menyangkut bagaimana perspektif saya dalam menyikapi suatu diskursus ataupun perbedaan yang sangat tajam.


Begini. Dalam berbagai kesempatan interaksi dan komunikasi baik di dunia maya maupun dunia riel, kadang kita bisa berbeda, terutama yg sy soroti adalah dalam hal fokus perhatian dan prioritas bahasan. Tak hanya dalam mengupas suatu topik atau isu tertentu. Khusus dlm kaitan dgn threads perdebatan, mungkin saja kita bisa beda dlm fokus perhatian dan prioritas itu dlm menyikapi subyek2 bahasan.

Kesamaan yg mungkin ada yang perlu kita pikir dan pahami adalah, kita barangkali punya hasrat yg sama agar kita beserta teman-teman kristen indonesia anak bangsa khususnya disini, bisa punya sikap kritis, cerdas, sekaligus berkesadaran thd berbagai sumber informasi yg masuk ke dalam hati, otak dan pikiran kita.

Kalau fokus perhatian dan prioritas saya dalam perdebatan yang menjurus tajam, yg bisa saya ungkapkan adalah bagaimana agar seluruh pihak yang terlibat, dapat secara bersama-sama "spooring" atau "aligned" mjd suatu movement bersama - yg lebih terarah dan terorganisir - dlm rangka melakukan transformasi bertahap bagi kemajuan bangsa dan anak bangsa di Indonesia (bahkan dimana pun).

Bidang2 fokus yg diharapkan diretas dewasa ini, adalah lewat program2 riel yg berfokus pada:

(1) Sosial, pendidikan dan media/budaya,

(2) Ekbis dan teknologi, dan

(3) Politik dan kebangsaan.


Khusus di salah satu bidang fokus (3) Politik dan kebangsaan, ada harapan saya dan mungkin teman-teman lain juga, bagi terbentuknya semacam pusat kajian, bahasan-bahasan diskusi dan publikasi. Diskusi dan perdebatan di bidang ini, tentu bisa kemungkinannya kelak menjadi cikal bakal terwujudnya harapan ini.


Namun, tak hanya bidang fokus ini. Bidang fokus lain, yi program riel di bidang (1) Sosial, pendidikan dan media, serta (2) Ekbis dan teknologi juga mjd fokus perhatian sy dan mgkn teman-teman lainnya juga.


Bilapun ada perdebatan khususnya terkait bidang 3 yi bid Politik dan kebangsaan di suatu forum, sy kira merupakan hal yang normal, lumrah dan wajar-wajar saja. Namun yg menjadi harapan saya dan fokus perhatian saya (mungkin juga sbgn teman-teman lainnya), agar semangat kesatuan (unity) utk pencapain allignment secara bersama, tetap bisa terjaga. Karena hakekatnya, kita ingin dipanggil dalam tugas transformasi dan kemajuan bangsa & anak bangsa ini, untuk bersatu, ditengah kepelbagaian perbedaan2 yg kita punya. Bukan utk bercerai, atau tercerai berai. Saya sadari memang utk mencapai atau memelihara kesatuan (rohani dan jiwani) ditengah berbagai perbedaan yg memiliki kesenjangan ckp tinggi, tidaklah mudah, namun bukan merupakan hal yang mustahil, jika kita mau berupaya bersama serta mengandalkan Dia dlm antero eksistensi kita.


Kalau dibilang kita semua mgkn banyak berbeda, ya mungkin iya ya. Misal dlm aspek latar belakang pendidikan, mgkn tingkat kedewasaan iman, sifat/karakter, ltr blakang keluarga, usia, gender, disiplin ilmu, pikiran, perasaan, kehendak, wawasan, style, cara berkomunikasi, denominasi atau aliran, school of thoughts, partisan dan non partisan, kepentingan, perspektif, preferensi, garis ideologi sekalipun, dst.


Nah, mgkn yg kita perlukan selain bisa terus berbeda, selayaknya kita juga punya upaya utk mencari kesamaan2 shg dpt terus berelasi, beraliansi dlm suatu alliance. Kita sebenarnya sudah punya kesamaan2: satu Tuhan, Kristus yg satu. Diharapkan juga memiliki kesamaan dlm visi, misi dan platform sbgmn yg telah diinfo mengenai perjuangan pelayanan, juga dlm hal Christian values yg kita anut bersama, dimana nilai2 itu sebenarnya juga bersifat universal.


Komitmen berelasi dan beraliansi dlm suatu aliansi dalm berbagai perbedaan sy kira menjadi hal utama dan penting mjd fokus perhatian. Saling mengenal secara personal, komunal dan sosial, membangun komunikasi yg positif, pemahaman dan saling pengertian mjd sangat penting disini. Utk mencapai satu maksud dan tujuan disertai upaya2 yg lebih kongkrit dan mgkn lbh terorganisir. Agar mencapai hal ini, maka spanjang kita mampu, maka kita akan berusaha seoptimal mungkin, agar tidak satupun dari para anggota yg berelasi atau beraliansi mengalami bentuk relasi dan komunikasi yg tercederai bahkan rusak.


Untuk memulihkannya, mgkn akan memakan waktu yg cukup lama. Pemikir, filsuf Barat utk era transisi Modern dan Postmodern, Jurgen Habermas menawarkan pola rasionalitas komunikasi, utk solusi menjembatani hubungan komunikasi dan relasi yg ckp sulit utk "diselamatkan". Namun, saya mungkin melihatnya tidak hanya melalui bentuk rasionalitas komunikasi, boleh dilakukan. Tapi juga melalui spiritualitas komunikasi, dan bisa juga lewat kulturalitas komunikasi. Dlm bahasa kristiani spiritualitas komunikasi srg disebut sbg Agape komunikasi. Agape atau Agapao', yg sering diterjemahkan sbg Divine Love, mengandung elemen yg sangat vital. Ada nilai kebenaran (truth, alithea) disitu, ada nilai anugerah, kasih karunia (grace), ada nilai welas asih (mercy). Agape juga meliput to give and take, to forgive, segi etika moral, dignitas dan berkeadilan dst. Menyangkut semua hal dlm diri manusia: pikiran, perasaan, will, intuisi, naluri kepekaan sosial, toleransi, kesatuan hati sekaligus niat (tmsk niat tampil beda), hati nurani, dst. Proses kedewasaan dan pendewasaaan manusia2 kristiani scr bersama akan mengarahkan kpd semua elemen2 vital ini utk dimiliki, tanpa terkecuali.


Kulturalitas komunikasi dpt ditempuh sbg contoh lewat pemahaman kesamaan kultur, termasuk identitas dan kepribadian. Seperti kesamaan sbg anak bangsa, sbg sesama pengikut Kristus, sbg indonesia. Maka karena itulah, tepat dikatakan bila aliansi ini dinamakan aliansi kristen indonesia anak bangsa, sbg dasar platform dan wawasan kulturalnya.


Demikian penjelasan umum dan mgkn ckp strategis yang dapat saya utarakan dlm kesempatan ini. Kiranya Kristus, gembala agung dan Tuhan kita senantiasa yg membimbing dan memimpin kita semua!


Salam Agape, HMS :-)

Friday, September 19, 2008

Lagu Rohani Kristen: Tujuan Glorifikasi atau Komersialisasi/Materialisasi?

Tulisan ini saya buat sekaitan dengan sharing diskusi perihal "Menyanyikan Lagu Rohani Kristen: Tujuan Glorifikasi atau Komersialisasi/Materialisasi Kebutuhan Dasar? (kasus: "Ngamen Lagu Rohani di Bis Kota") di mailing list Alumni PMK-IPB beberapa hari yang lalu.

Motif Tujuan Ideal.
Motif tujuan ideal lagu pujian rohani Kristen dilantunkan adalah utk mengagungkan nama Tuhan, tujuan GLORIFIKASI hanya kepada Dia. Sekaligus mampu membawa orang yang mendengar menjadi lebih dekat dalam hubungan dengan Tuhan. Memuji dan menyembah Tuhan secara spiritual sejatinya merupakan kebutuhan rohani dari setiap orang Kristiani utk pertumbuhan dan kedewasaan rohaninya. Idealnya pujian rohani tsb dilantunkan dalam suasana peribadahan baik pribadi, jemaat/gereja maupun acara kerohanian di aras publik. Jika kemudian pujian rohani dinyanyikan dalam bentuk kaset, CD, DVD, pertunjukan band atau vocal group, tayangan TV dll lalu disebar-luaskan scr komersial untuk mereka yang akhirnya merasa diberkati atas kehadiran lagu pujian tsb, bisa disebut sebagai segi KOMERSIALISASI dari lagu pujian tadi, itu secara ideal dpt dinilai sebagai DAMPAK yang diterima oleh si penyanyi, arranger atau produser lagu pujian tersebut.

Realita yang Sering Muncul.
Realita yang sering dihadapi adalah lagu pujian rohani Kristen dilantunkan barangkali bukan sepenuhnya yang utama (ideal) untuk tujuan GLORIFIKASI. Tapi lebih cendrung untuk tujuan KOMERSIALISASI atau bahkan MATERIALISASI memenuhi kebutuhan dasar bagi yang membawakannya. Tujuan2 seperti ini yang menjadi nomor satu. Meski yang tau motif sejati tersebut adalah hanya Tuhan dan diri si penyanyi ybs. Orang lain atau publik hanya dapat menilai dari segi fenomena yang muncul semata (sikap menghakimi sebaiknya bisa dihindari). Jika motif yang dialami dan dihadapi si penyanyi atau pemusik atau pihak lainnya lebih kepada tujuan KOMERSIALISASI atau bahkan MATERIALISASI kebutuhan (dasar), dalam melantunkan lagu pujian rohani, itu harus diteliti lagi mengapa fenomena itu muncul dan apa penyebabnya. Mungkin kebutuhan yang dirasakan oleh si penyanyi/pemusik atau pihak lainnya terkait karena sulitnya mendapat akses pekerjaan atau sumber2 dana (fund raising), dan realita itu lebih besar dihadapi ketimbang untuk memenuhi kebutuhannya secara spiritual yakni memuji serta menyembah Tuhan.

Perlunya Opsi-Opsi Alternatif.
Kalau hal ini yang dialami, maka perlu diberikan opsi-opsi atau cara2 yang lebih baik dan benar bagaimana dpt mencukupi kebutuhan material dan dana finansial yang dirasakan. Adakah cara2 yang bisa ditempuh (tentu yang lebih etis, lebih tepat dan lebih baik) agar tidak hanya sekedar bermotif atau bertujuan mengkomersialisasi atau mematerialisasi demi kebutuhan dasar atas lagu pujian rohani? Opsi-opsi ini perlu didialogkan, jika antar umat Kristiani berhasrat ingin saling bermitra dan membantu untuk mencari opsi solusi terbaik, demi menggapai tujuan ideal melantunkan lagu pujian rohani kristiani bisa tercapai yakni tujuan GLORIFIKASI hanya bagi Tuhan semata. Realita yang dihadapi oleh masyarakat sekarang pada umumnya seringkali adalah tiadanya atau kurang tersedianya opsi lebih tepat dan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan materinya sehari-hari atau dana finansial tertentu bagi satu kegiatan yang akan dijalankan. Mungkin juga itu dikarenakan masih kurangnya kreativitas ide, merasa dan berpikir hanya melalui ide atau jalan keluar seperti itu yang dimiliki utk memenuhi kebutuhan materi dan dana finansial yg dihadapi.

Hasrat, kepedulian, pencerahan ide dan aksi nyata memang sangat diperlukan waktu sekarang. Be blessed and be the channels of God's blessing for others!

Sunday, June 1, 2008

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler! (Refleksi dr suatu Pemikiran Holistis).

Informasi dari Transforma Sarana Media.
Edisi 15, 1 Mei 2008 (TSM-14).

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler! Refleksi dari Suatu Pemikiran Holistis. Oleh: Hans Midas Simanjuntak* )

Pengantar. Seringkali banyak pihak di Indonesia dan luar negeri, termasuk di kalangan politisi dan aparatus Negara masih terkesan bingung atau "gamang" untuk mengartikan serta menterjemahkan, apa sesungguhnya konsepsi yang dimaksud NKRI didefinisikan sebagai "Bukan Negara Agama" dan "Bukan Negara Sekuler".

Sementara di pihak lain, masih cukup banyak kalangan yang ingin mengupayakan agar Indonesia memutuskan saja untuk memilih salah satunya, menjadi Negara Agama sepenuhnya, atau menjadi Negara Sekuler sepenuhnya. Tentunya tujuannya agar menghindari terjadinya kebingungan atau kegamangan terus menerus, dari generasi kepada generasi.

Referensi yang dipakai seharusnya adalah sejarah historis dari negeri yang disebut Indonesia sendiri, berikut apa yang telah dikonsepsikan oleh founding fathers republik bapak ibu pendiri bangsa ini, berikut para pemikir bangsa serta pengembang keindonesiaan yang lahir sesudahnya.

Sesungguhnya, Indonesia itu Bukan Negara Agama!
(Bukan berideologi agama Islam Syariah, berideologi Barat, bahkan bukan juga berideologi Kristen dst).

Jika dewasa ini orang di Indonesia dan di LN mendengar kata atau istilah "Negara Agama", maka konotasi banyak pihak akan segera kepada pengertian Negara berlandaskan Ideologi Agama tertentu, entah itu Syariat Islam (Islam), ideologi kristen (katolik dan atau protestan) dan lain-lain. Selain para konseptor/aktor intelektual dan para pendukung Syariah'isme Islam yang terasa sangat ekspansif hari ini dan konseptor Perda Injil (kristen) di Manokwari, saya kira masih sangat banyak kalangan di negeri ini - "silent majority" - yang tidak menghendaki negara ini menjadi negara agama (baik berideologi Islam Syariah, kristen, dst).

Sesungguhnya, Indonesia itu Juga Bukan Negara Sekuler!
Di sisi lain, banyak juga kalangan di Indonesia dan LN jika mendengar kata atau istilah "Negara Sekuler", maka yang terbayang di benaknya adalah Negara yang berlandaskan ideologi Sekularisme yang umum berlaku di Barat (AS, Eropa Barat). Faham ideologi ini tidak menghendaki negara ikut campur dalam urusan agama, demikian juga sebaliknya agama tidak mengintervensi permasalahan yang menjadi persoalan negara. Ada pemisahan secara tegas. Konsekuensinya semua bentuk pendidikan, hukum, politik, moral HAM dan keadilan semuanya berlandaskan asas kebebasan atau liberalisme, yang bebas dari pengaruh agama manapun.

Cukup banyak mungkin kalangan terutama yang dipengaruhi oleh sistem pendidikan Barat, termasuk kalangan umat kristen, yang setuju jika Indonesia menjadi negara sekuler saja, sama seperti Barat. Yang bebas dari embel2 agama, bebas dari simbol2 primordial agama. Namun sesungguhnya pada sisi yang berlawanan, banyak juga kalangan di Indonesia terutama dari kalangan masyarakat yang masih kental sisi relijiusnya (baik Islam, maupun kristen), yang tidak setuju jika Indonesia dijurukan menjadi Negara Sekuler sepenuhnya, apalagi seperti di Barat yang dikenal sudah banyak meninggalkan nilai-nilai relijinya demi suatu kebebasan yang bukan lagi bermakna kebebasan yang hakiki, melainkan kebebasan yang menjuruskan umat dan warga negara kepada dekadensi moral, "kekeringan elan spiritual" serta "kegamangan sosial" baru seperti terjadi di AS negara2 Eropa dan negara industri baru (NIC's) di Asia seperti sekarang.

Kalau begitu, Indonesia yang Bukan Negara Agama dan Bukan Negara Sekuler itu, pengertian dan konsepsi jelasnya bagaimana?
Untuk menjawab ini, semua pihak sudah seharusnya tidak memakai referensi atau acuan: pertama, yang berasal dari Timur Tengah/Arab (konsepsi peradaban Islam) - meskipun selalu dan selalu diklaim Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, walaupun masih menyisakan tanya apa benar klaim sebagai yang terbesar di dunia betul-betul merepresentasikan "keumatan" Islam yang sebenarnya. Kedua, konsepsi atau acuan yang melulu berasal dari Barat (AS dan Eropa), yang mungkin masih banyak kalangan yang pro-Barat begitu percaya bahwa kemajuan yang telah diraih oleh Barat di bidang teknologi, ekonomi, pendidikan dll akan sangat cocok bila dapat diterapkan di Indonesia dengan segala kesamaan2 dan perbedaannya.

Satu hal yang penting adalah, referensi yang paling utama dipakai seharusnya adalah sejarah historis dari negeri yang disebut Indonesia sendiri, berikut apa yang telah dikonsepsikan oleh founding fathers republik bapak ibu pendiri bangsa ini, yang kemudian dilanjutkan oleh para pemikir bangsa serta gerakan pemikiran keindonesiaan yang lahir sesudahnya. Tentu dengan tidak menafikan semua referensi atau kerangka acuan yang berasal dari luar seperti konsepsi pemikiran peradaban Islam, Judaisme, pemikiran peradaban Barat, peradaban Rusia dan Eropa Timur, peradaban Timur India, Iran dan Oriental (Tiongkok/China, Taiwan, Korea) bahkan Afrika dan Amerika Latin.

Secara ringkas, dari berbagai pengamatan dan telusuran kembali nilai-nilai historis founding- fathers dan perkembangan wacana dialektis kenegaraan indonesia, kita dapat mengartikan bahwa yang disebut Indonesia "Bukan Negara Agama dan Bukan pula Negara Sekuler" paling tidak meliputi 8 Pengertian Negara dari sebuah negara yang dinamakan Indonesia -- sejak dulu, hari ini dan untuk yang akan datang, yakni sbb:

1. Indonesia adalah Negara Berfalsafah (Philosophical State), bukan negara agama dan bukan sekuler. Falsafah negara ini adalah falsafah Pancasila. Ideologinya (ideological nation) pun bukan ideologi agama (entah Islam Syariah atau kristen/katolik atau lain2) atau ideologi sekuler (dari Barat: AS/Eropa, Oriental dll), tapi ideologi Pancasila (ideology of Pancasila).

Falsafah dan ideologi Pancasila
Secara historis, sebenarnya sudah sangat jelas isi falsafah dan ideologi Pancasila. Yang dibutuhkan sekarang termasuk bagi generasi muda, adalah proses internalisasi dari falsafah dan ideologi ini, agar menjadi menjadi perdoman dalam hidup berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.
a. Ketuhanan (spiritual, bukan agama atau ideologi agama tertentu), mengakui keragaman dalam keyakinan atau berTuhan di tengah kehidupan individu, komunitas dan masyarakat.
b. Humanis/kemanusiaan berbasis lokal-nasional- global.
c. persatuan Nasionalis indonesia, bingkai nasionalisme menjadi sangat penting dan perlu untuk penyatuan visi berbangsa, bernegara dan bermasyarakat secara bersama.
d. Demokrasi yang plural dalam kerangka nasionalisme Indonesia, melalui sistem permusyawaratan (i.e. MPR) dan perwakilan (i.e. DPR/DPRD dan DPD).
e. Keadilan sosial, yang sekaligus berciri sosialis berkeadilan.

2. Indonesia adalah Negara Berbudaya (Cultural State). Negara yang memiliki kebudayaannya sendiri yang bersifat unik dan khas, ditengah ragamnya jenis kebudyaaan di dunia, yakni kebudayaan dengan kepribadian/ jati diri Nusantara. Semua cipta dan cita rasa, postulasi, peralatan dan produk-produk kebudayaan yang dihasilkan negara, adalah berbasiskan kebudayaan serta jati diri Nusantara.

3. Indonesia adalah Negara Pendidikan (Educational State), yang berupaya terus menerus untuk mencerdaskan bangsanya, seluruh warganya, sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945, dengan penerapan Sistem Pendidikan yang berasas pada kepribadian jati diri kultur bangsa Indonesia sendiri, berdasar konteks daerah, budaya dan sikon seluruh daerah di Indonesia, dengan tidak menafikan pentingnya pembelajaran hal-hal positif yang berasal dari luar (sistem pendidikan Barat/AS, Jepang, Oriental, Eropa/Belanda, sistem pendidikan Pesantren/Ponpes (Islam), pembelajaran pola Biara Katolik/Kristen, dsb.

4. Indonesia adalah Negara Sosial (Social State), yang berjuang untuk terus mempertahankan semangat solidaritas dan kesetia-kawanan sosial dan pelestarian lingkungan (alam). Upaya peningkatan kesejahteraan lahir-batin dari seluruh rakyat tanah tumpah Indonesia, terutama bagi kalangan2 marjinal spt kesejahteraan dan hak para buruh, guru, anak, kaum perempuan, nelayan, petani, kaum minoritas suku-suku terasing perlindungan budaya lokal, dan sejenisnya. Sehingga dengan demikian dapat tercipta bukan sekadar pemerataan tapi semangat kesetaraan (ekualitas) yang berdampak kepada peningkatan kemajuan secara bertahap dalam aspek kuantitas dan kualitas bangsa secara keseluruhan dan tetap terpeliharanya kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan hidup di bumi.

5. Indonesia adalah Negara Ekonomi (Economical State). Negara yang mengembangkan sendiri sistem-ekonominya sendiri, dengan prinsip berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), dengan nilai2 kerakyatan, keadilan dan kejuangan kewirausahaan, baik kewirausahaan sosial maupun ekonomi; Tidak serta merta hanya tau menadah tangan, meminta bantuan dari Luar Negeri, investor, kontraktor dan mitra asing pihak luar. Namun juga mampu mengembangkan kemampuan teknologi dan manajemen-knowledge nya sendiri guna mengelola sumber daya alam yang dimiliki menjadi sumber kesejahteraan bagi hajat hidup orang banyak

6. Indonesia adalah Negara Politik (Political State), yang bercirikan politik bebas-aktif, dimana Indonesia wajib turut-serta baik ke dalam maupun ke luar untuk menjalankan kebijakan politik yang netral, independen sekaligus aktif terutama dalam mengupayakan perdamaian dunia. Tidak memihak baik ke kutub Barat, Timur, peradaban Islam (Timur Tengah), Afrika ataupun Latin Amerika. Namun, bisa mengimpartasi hal-hal positif dari itu semua untuk peningkatan kesadaran berpolitik serta kebijakan politik yang diambil di berbagai lini kehidupan.

7. Indonesia adalah Negara Hukum (Lawful State), yang mendasari seluruh perangkat hukum dan penegakkannya berdasarkan sistem hukum Indonesia dengan ciri Indonesia. Bukan semata sistem hukum warisan kolonial Belanda, bukan sistem hukum Syariah'isme Islam dan bukan pula sistem hukum Liberalisme Barat atau yang umum berlaku di negara2 Persemakmuran (Commonwealth Laws). Indonesia harus mampu menciptakan Sistem Hukumnya sendiri secara Nasional yang sesuai dengan kebutuhan, konteks dan falsafah 5 sila dalam Pancasila (Spiritual, Humanis, Unity/Nasionalisme, Demokrasi Plural, Sosialis berkeadilan) . Secara sistem hukum, hukum Pancasila lebih condong kepada pola sistem hukum yang sebagaimana berlaku di Negara Demokrasi Sosialis guna mewujudkan Keadilan seutuhnya.

8. Indonesia adalah Negara Demokrasi (Democratical State), yang menjunjung asas sosialisme, HAM yang berkeadilan demi kemandirian, kemajuan dan kesejahteraan bangsa; yang berlandaskan demokrasi Pancasila, demokrasi sosialis dan humanis; dan prinsip serta nilai2 yang bisa berlaku lokal-nasional dan global. Tercapaikan keamanan, perdamaian, toleransi, kesetaraan dan keadilan berdasar dari falsafat dan kepribadian/ budaya bangsa, keberdikarian nasional pelaku ekonomi, dst, adalah tujuan dari proses demokratisasi yang sedang berlangsung sekarang ini.

Demikian tinjauan reflektif dari suatu pemikiran holistis dari pemahaman Indonesia sebagai satu negara yang Bukan Negara Agama, dan juga Bukan Negara Sekuler, yang kembali banyak diwacanakan dan diperdebatkan akhir-akhir ini.

BN/1 Mei 2008.

Komentar:

Anonymous said...

Tak ada kata benar lagi untuk Indonesia yang toleran. Kebencian kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas turut didukung negara sebagai alat untuk melakukan intimidasi terhadap berbagai kepentingan politik terselubung.

Indonesia telah hancur dari dalam dirinya. Hanya Indonesia negara yang menganggap dirinya demokratis yang memiliki Peraturan dalam bentuk Syariat yang tak pernah tercantum dalam kesepakatan yang telah dibangun para Founding Father.

Indonesia hanya sebuah negara yang tak mengenal dirinya sebagai negara, tetapi dia mengenal dirinya sebagai tempat para pemilik kekuatan bercokol. Ibarat "katak dalam tempurung". Jagonya di dalam, diluar seperti cacing kepanasan. Lihat saja kondisi sekarang ini. Indonesia dihempas oleh krisis global yang selalu dianggap oleh yang mengaku dirinya pakar "tidak apa-apa". Tapi apa yang terjadi? Rakyat miskin yang hancur lebur karena fundamental ekonomi mereka terpuruk, terseret oleh kepentingan elite yang tak punya moral dan otak.

Lebih baik rakyat membangun kekuatan untuk memecah negara ini, agar negara ini tidak terlalu besar untuk memikirkan dirinya.


October 13, 2008 1:57 AM