Tuesday, August 21, 2007

Pentingnya Revitalisasi Pemikiran Leimena & Simatupang, Dengan Tetap Berbasis Spritual Growth!

Mengapa penting revitalisasi?
Menengarai situasi bangsa hari ini sekaitan dengan peran Kekristenan dalam politik berbangsa memang cukup membuat kita prihatin. Nampaknya revitalisasi pemikiran Leimena & Simatupang sudah saatnya dilakukan. Tentunya dengan tetap memperkuat segi pertumbuhan kerohanian (spiritual growth) Kristen sebagai basisnya.

Hemat saya, jaman begini kita tak boleh lagi hanya terus terbuai dengan romantisme nostalgia dan berkanjang dengan 'hedonisme' masa lalu lagi. Kita tidak boleh kehilangan momentum! Perubahan era sekarang mengalir begitu cepat di bangsa ini, termasuk di bidang politik, keagamaan, korporatokrasi dan pendidikan dari tuntutan pendidikan dasar hingga mutu pendidikan tinggi harus cepat kita tanggapi. Sebelum menjadi betul2 terlambat dan "tertempelak", akan menimbulkan krisis baru, krisis 'lain' 'kekosongan kevakuman' dalam peran Kristen dalam tubuh bangsa ini.

Pentingnya Upaya Revitalisasi Pemikiran Leimena & Simatupang.
Revitalisasi pemikiran Leimena, Simatupang dan pendiri2 PGI, GMKI, PIKI harus segera dilaksanakan oleh segenap alumni Kristen yang masih punya "mata batin" dan 'kebenaran batin', disesuaikan dengan konteks era pasca 2000. Adaptasi terhadap konteks globalisasi, desentralisasi/otda/kemandirian lokal, teknologi informasi/multimedia, knowledge-management, transformasi spirtualitas, sosial dan lingkungan (environtment friendly).

Peran Perkantas, LPMI, Navigators dll yang diharapkan.
Peran Perkantas, LPMI, Navigators dan gereja2 kalangan injili sebagai spiritual growth dan PI, sangat sangat tidak cukup. Tidak bisa hanya ploting keteladanan pemimpin2 kekaryaan dan kesaksian pemimpin2 masa lalu. Sangat tidak cukup. Gerak refleks 'turning point' terutama dari pemimpin2 yang lebih muda dan kaum alumni muda kristen sangat diharapkan menjadi semacam gelombang revitalitasi baru.

Ranah strategis adalah tetap kampus2 (kampus2 PT negeri, swasta dan PT Kristen macam UKI Ukrida UPH UKSW Salatiga dll dll, lalu LSM, bidang media/multi media, gereja dan pelayanan2 komunitas ministry kristen yang "empowered", jaringan2 network baru, asosiasi profesional dan pengusaha/wirausaha kristen baru, ormas2 politik kristen baru dan pembentukan pusat2 kajian Kristen yang betul2 baru.

Lebih baik kita mulai menyalakan 'lilin' bahkan 'api' yang dikobarkan; dari pada kita terus memprihatinkan keadaan sekarang dan terus ingin 'mengutuki' keadaan sekitar.

Pembelajaran dari kehadiran ormas2 kristen masa lalu, Parkindo, PDKB, Partai Krisna sampai dengan PDS dengan berbagai dilemanya penting dievaluasi untuk dicarikan solusi breakthrough yang akseptabel dan berdampak luas.

Spiritual growth kristen tetap dasarnya, fondasinya. ranah2 strategis diatas adalah ekspresi dan saluran distribusi sekaligus kontribusi nyatanya kepada bangsa.

Kekristenan Serba Nanggung dan Tiga Rumpun Kekristenan Terkait Politik Berbangsa Saat Ini.
Memang postur Kekristenan kita di tanah air di masa ini jadi serba 'nanggung' dan tersekat-sekat. Terutama dalam kaitan integrasi Kekristenan dengan politik hari ini, khususnya di tingkat implementasi politik di pusat maupun di daerah.

Sedikitnya kita melihat ada 3 rumpun Kekristenan terkait kehidupan berpolitik dan berbangsa hari ini.

Satu, "Politik simbol kristen (belaka)". Ada satu rumpun Kristen yang mungkin bisa dinilai nampaknya paham sekali tentang visi Kerajaan Allah, Injil kerajaan Allah. Bahkan dalam berperilaku penuh dengan simbol2 logo2 ucapan2 gaya/style - budaya 'kristen' [katakan saja dengan 'ciri budaya kristen charismatic' , sebagaimana PDS banyak dinilai berbagai pihak sebagai partai yang identik dengan kristen charismatic] . Namun dalam implementasi di lapangan ternyata gagal dalam cara, pilihan taktik strategi, konsistensi dan mengaplikasikan nilai2 Kerajaan di dalam dunia/struktur politik yang digeluti).

Dua, "Politik dompleng kristen dalam arus besar". Sebaliknya ada rumpun Kristen yang dinilai cukup piawai berpengalaman sejak lama dalam berpolitik sejak jadi aktivis parpol sebelum Reformasi, namun di perjalanan gagal dalam memahami visi misi Kerajaan Allah. Bingung dalam mengintegrasikannya ke dunia struktur politik yang digelutinya. Sehingga terkesan jadi 'dompleng kiri' 'dompleng kanan'. Tidak punya framework, mindset, ciri visioner Kerajaan. Akhirnya 'tenggelam' tidak beda banyak dengan politisi2 lainnya, berkesan cari selamat, ikut trend, 'kagetan' menerima realitas pembalikan reformasi. Di awal reformasi pun telah menyia-nyiakan 'kesempatan' yang pernah/sempat terbuka, namun secara pandir mengambil jalan pilihan yang salah. Hulunya ditengarai karena nyata2 tidak terbina dan terlatih dalam dalam visi Kerajaan. Pembenarannya mengatakan "kita kan minoritas, kita ikut saja main stream (arus besar, partai besar)" dst.

Tiga, "Politik diam pasif Kristen". Ada pula rumpun Kristen yang bersikap belasan tahun "wait and see" terus2an. Dinilai sangat sangat memahami visi Injil Kerajaan Allah. Tapi enggan, tidak perlu lah, terjun ikut2an dalam implementasi riel Kerajaan di lapangan politik, parpol, pusat kajian politik kristen, dlsb. Doktrinnya ditengarai 'politik itu kotor', orang kristen tidak perlu terjun di politik, mengetahui memahami politik boleh, tapi tidak boleh terjun. Jadi pengamat.. pengkritisi sekali2..ya boleh. Walhasil, cara pandang ini membuat kader2 yang lebih muda jadi 'tidak terjun ikut2an' pula. Menganggap ini sebagai kebenaran.

Sampai Kapan Kita Tetap di Persimpangan?
Sekurangnya tiga rumpun Kekristenan ini saya kira yang kita sama2 saksikan dalam postur Kekristenan tanah air masa kini. Sampai kapan kita akan terus berada dalam persimpangan (cross road) seperti ini?

Sementara Kekristenan berada dalam cross-road (persimpangan) , perkembangan dunia politik berjalan terus demikian cepat. Pilkada-pilkada, pilpres terus bergulir. Konstitusi yang membolehkan calon independen dimunculkan sangat terbuka.

Apakah pola "patron-klien" dalam rumpun2 Kekristenan, persepsi ketaatan tanpa rasionalitas yang memadai, akan terus kita lestarikan? Sementara politik Injil Kerajaan yang integrated lengket dengan politik kultural dan politik struktural kristen, terus 'memanggil-manggil' dan 'menanti-nanti' the right men & women untuk memasukinya.

Memang butuh banyak dukungan. Kelas menengah (middle up) Kristen selama ini masih 'ogah' bergerak, meski pun sudah nanya2: mana, mana? Para eksekutif, professional kristen, aktivis dan tokoh pendidikan kristen, aktivis dan tokoh gereja yang masih konsisten dan tidak ingin sekadar 'politik simbol kristen' atau 'politik dompleng kristen'.

Namun, persoalannya sekarang kita sudah cukup puas dengan keadaan seperti sekarang? Tanpa ada pelopor2 kristen yang mau dan sedia untuk melakukan "passing over" dengan upaya2 dan semangat lebih kreatif dan punya kepiawaian. Satu contoh saja, kesempatan untuk mengajukan calon pemimpin independen kin sudah sangat terbuka di pusat dan di seluruh pelosok daerah by pilkada. Kata kuncinya bila sanggup 'konsisten' sampai tingkat implementasi, akan lain hasilnya. Konsisten dengan visi dan nilai2 Kerajaan itu.

Passwordnya?
Jadi passwordnya: paham sebagai mandatory Kerajaan di bumi di tanah air, serta piawai dan mau. Semua tentu untuk kemuliaan namaNya.

Salam revitalisasi,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:

No comments:

Post a Comment