Saturday, November 8, 2008

Seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi.

Ulasan di bawah adalah tanggapan saya seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi, dengan Bro Andry Pakan dan Sis Anne di forum milis Aliteia.


Demikian isinnya:


Menarik apa yg anda wacanakan seputar misi holistik kristen dan transformasi. Perkenankan sy ikut menanggapi, line by line khususnya quote dari bro Andry. tks.

Andry Pakan:
Tentang mengurangi wacana di sekitar misi yang holistik atau transformasi yang tidak diikuti langkah konkrit, begini : Saya menggunakan kata "menerobos (keluar dari tembok-2 Kristen)" karena dari pengamatan saya, gereja terlalu berpusat kedalam, walaupun masih berwacana tentang misi.

HMS:
Mungkin ada benarnya, apa yg anda katakan bhw umumya gereja2 dan kekristenan di Indonesia dewasa ini mash ckp banyak yg terlalu berpusat ke dalam (urusan intern belaka). Pola pandang Inward Looking. Istilah bro Harry Borneo, gereja masa kini sibuk dgn urusannya sendiri-sendiri. Ada kesan, ingin maju sendiri-sendiri (tapi apakah benar maju?). Kecendrungan hanya ini berorientasi pd kepentingan kalangan sendiri. Sibuk dgn urusan pembangunan gedung gereja, sibuk hanya dgn hal-hal spiritual sakral saja: ibadah, kebaktian dll menafikan hal-hal yg profan. Sibuk dgn masalah perbedaan2 (a.l doktrin), masalah funding, kesejahteraan pengerja gereja dan masalah "perpecahan2" internal yg sebenarnya mgkn "tidak perlu", dll. Akibatnya, tantangan dan permasalahan yg jauh lebih besar yg dihadapi Gereja dan Kekristenan dewasa ini, utamanya menyangkut eksistensi di tengah masyarakat lokal-nasional, bangsa dan negara, dari Sabang sampai Merauke jadi cendrung terabaikan.

Memang, sejatinya Kekristenan di indonesia, spt Kekristenan mula-mula, harusnya berpikir ke luar, meliat keluar, mengantisipasi keluar. Pola pandang Outward Looking. Dilakukan semustinya dgn derap bersama, alignment, spirit kebersamaan. Istilah yg srg digunakan para misionaris dari luar yg saya kenal: "Harus berpendar keluar, bersinar ke luar, memancar keluar". Ini sebenarnya makna inti Kekristenan/gereja yg misioner.

Memang kalau mau berperan lebih total, harus ada perubahan cara pandang yg mendasar. Perubahan paradigma. Perlu ada gerakan pemahaman kembali, interpretasi kembali arti Misi. Baik secara historis, spt yg disampaikan a.l. oleh David Bosch, maupun pengertian misi dalam pemaknaan lebih kontemporer, dan sesuai konteks lokal, nasional dan global.


Andry Pakan:
Melayani ke pelosok-2 yang penduduknya beragama Kristen, juga disebut misi.

HMS:
Ini menurut sy tidak mjd problem, sepanjang pemahaman kita seluruh penduduk yg telah beragama Kristen, belum sekuat yg kita perkirakan (dalam hal iman, cara pandang misioner, kepemimpinan misi, pemaknaan akan arti persembahan dan atau konsekrasi, dll). Di kalangan gereja Protestan old line churches/main line churches, dikenal istilah Reevanggelisasi. Di kalangan profan entrepreneurship, dikenal istilah Reinventing. Di bidang engineering, dikenal istilah Reengineering.

Pemaknaan Amanat Kristus "Pergilah ke Seluruh Dunia (Mrk 16), Dunia yg dimaksud tidak hanya diartikan Dunia dalam pengertian Geografis, tapi juga dpt diartikan dlm 3pengertian berikut:

(1) Dunia dalam pengertian dunia Profesi.

(2) Dunia dalam pengertian dunia Domain/Spheres Kehidupan (Spiritual, Sosial, Politik, Tradisi Budaya, Pendidikan, Ekonomi, Riset, Media, dst, dan

(3) Dunia dlm pengertian Dunia gereja Masa lalu, gereja Masa kini dan gereja Masa yg akan datang, sesuai dgn zeitgeist atau garis waktu/garis jaman.

Istilah kata Misi (Mission) di masa kini, pun pula Misi Holistik (Whollistic Mission/Holistic Mission) juga nampaknya tidak lagi mjd klaim sepenuhnya milik orang Kristen, dunia Kristen atau Gereja (walau berawal sejarah dari histori dunia Kekristenan, ingat istilah Missio-Dei). Namun, telah menjadi pemaknaan Universal. Seluruh dunia, seluruh lembaga sekuler, seluruh agama dan kepercayaan, dan organisasi (Negara, Bisnis, LSM, Parpol, lembaga Pelayanan Agama: Kristen, Hindu, Budha, dan sebagian Islam dlsb) sekarang memakai istilah Misi dan Holistic Mission ini, terutama dlm pengungkapannya Visi Misi Beliefs Platform Strategi organisasinya. Jadi kita memaknai arti Misi dan Misi Holistik itu dlm konteks sekarang, harus dlm view yg lebih luas, tidak terll sempit memaknainya.


Andry Pakan:
Sepengatahuan saya, implementasi misi holistik yang sering diwacanakan di gereja/para gereja belumlah memuaskan. Karakteristik masyarakat Nusantara yang sudah begitu banyak berubah tidak mendapat perhatian yang seyogianya patut mendapat perhatian untuk menyesuaikan pola & strategi misi yang tepat. Dulu, masyrakat/suku- 2didominisai oleh pandangan animisme & Hindu, sekarang Islam.

HMS:
Sependapat dgn hal ini. Jika memakai konteks abad 18-19 benar, dulu animisme & Hindu, sekarang Islam. Utk konteks abad ke-21, mmg tidak dpt dipukul rata demikian. Utk daerah2 mayoritas Kristen, konfigurasinya adalah Kristen yg mgkn perlu dilakukan pembangunan paradigma, cara pandang dan mindset Misi yg perlu direformasi terus menerus (Ecclesia reformata semper reformanda est secundu Verbum Dei?” (”the reformed Church must be always reforming according to the God's Words"). Berikutnya di daerah mayoritas Kristen masih ckp banyak dijumpai eksis suku2 terabaikan di dalamnya, dan kelp2 masy yg mengalami smacam "shock budaya" akibat pergeseran drastis dari budaya lokal pra modern langsung menuju budaya postmodern (tanpa sentuhan modernisasi terlalu intens), akibat perkembangan teknologi informasi dan globalisasi yg demikian cepat. Dan terakhir tantangan atau rambahan misi dakwah dan syiar Islam. Pola strategi dan misi di tempat ini mmg mjd unik dan berbeda. Lain halnya dengan pola strategi dan misi di daerah-daerah yang jelas2 mayoritas penduduknya Islam. Keduanya, spt yg telah disampaikan sis Anne, mjd sama penting utk dilakukan.

Belum lagi, utk pola dan strategi misi ke Luar Negeri, utk pemenuhan Amanat Kristus pergi ke seluruh dunia, dunia dalam pengertian geografis... Cepat atau lambat hal ini pun harus dilakukan Kekristenan dan Gereja. Melakukan tugas misi ke Afrika misalnya, Timur Tengah, Israel, Asia Tengah, Pakistan, India, RRC, Korut, Jepang, Asia Timur lainnya, Oceania, Amerika Latin bahkan ke Eropa dan Amerika. Semua mjd tugas sama penting utk dijalankan Kekristenan Indonesia, baik di masa kini maupun di masa-masa yad.


Andry Pakan:
Dulu, para misionaris sebelum datang ke Nusantara melakukan persiapan-2 yang matang dengan mempelajari karakteristik masyarakat animist, Hindu. Misal, dalam hal penguasaan bahasa, adat/budaya dan berbagai hal yang spesifik dari suatu suku. Sekarang, berapa banyak gereja dan para gereja mempelajari Islam dan karakteristik masyarakat islami? Berapa banyak gereja yang mengajak jemaatnya untuk mengenal ajaran Islam sebagai bekal untuk berinteraksi setiap hari?. Mengucapkan 'assalamualaikum' saja kita alergi bukan? Akibatnya, tidak banyak jiwa-jiwa baru yang dituai oleh gereja-2. Gereja atau para gereja yang patut dinilai melakukan misi dalam arti yang sebenarnya dapat dibuktikan oleh adanya anggota baru usia dewasa yang sebelumnya non Kristen di gereja tsb yang menjadi anggota bukan karena menikah dengan anggota gereja tsb. Tanpa kehadiran orang-orang yang demikian, pada dasarnya gereja tsb tidak melakukan misi, walaupun setiap tahun malaksanakan program 'bulan misi', 'pelatihan tenaga misi', dlsb.

HMS:
Menurut saya, bila Kekristenan warga masy Krsiten di Indonesia ingin "powerful" dalam kesaksian dan misinya, sudah harus membagi diri, menurut visi, beban, potensi, karunia, resources, natur passionate yg ada pada mereka masing-masing. Bersiap utk pergi ke Dunia, baik dlm pengertian Geografis, Profesi, Spheres maupun ekspektasi Gereja masa Kini ke prospek Gereja masa datang.

Mana dari umat Kristen yg harus diperlengkapi (to be equipped), harus menyiapkan diri di dalam pola strategi dan misi ke-3 bagian, yakni "terjun" dlm kesaksian dan pelayanan di:

(1) Daerah-daerah mayoritas Kristen utk misi perkuatan "kembali", continually reforming gereja2 kekristenan scr integratif-holistik,

(2) Daerah-daerah mayoritas Islam utk misi membangun jembatan komunikasi dan kedekatan serta Kabar Baik, dan

(3) Daerah-daerah di Luar Negeri - Misi antar Bangsa antar Negara, utk memenuhi misi pencapaian sampai ke Ujung-Ujung Bumi, sebelum Tuhan datang kembali. Ini harus menjadi "Visi Besar" dan sekaligus "Misi Besar" yg harus disiapkan semua Gereja2.. Kekristen di Indonesia sejak masa sekarang.


Andry Pakan:
Seandainya dilakukan riset yang memadai tentang urgensi misi bagi gereja-2 dan aktivitas misi gereja-2 di Indonesia, mungkin hasilnya memprihatinkan. Seorang kawan yang mengkhususkan dirinya melakukan PI pribadi ke masy. Muslim Sunda mengalami dua kali penolakan dari gereja. Yang pertama, ketika dia membawa beberapa petobat baru ke gereja dimana dia menjadi anggota, gereja tsb menolak menerima petobat-2 baru tsb. Kemudian dia ke gereja yang lain dalam wilayah yang sama, dia juga mengalami penolakan. Mengapa gereja-2 tsb menolak? Takut, takut terhadap reaksi masy. setempat, inilah tipikal gereja yang tidak peduli terhadap misi dan tipikal gereja yang cari aman.

HMS:
Seperti yg telah saya sampaikan diatas, menjadi sangat urgen upaya pembalikan paradigma, transformasi mindset. Dan ini butuh upaya memperlengkapi scr lebih seksama terutama dlm hal Pola pandang Outword Looking dan Kepemimpinan Misi. Tentu harus disertai dgn contoh-contoh dan keteladanan.


Andry Pakan:
Kemudian, lihatlah HKBP, gereja suku dan gereja terbesar di Asia (?), berapa orang sih anggota HKBP di seluruh dunia yang non Batak dan/atau yang ex non Kristen?. Demikian juga dengan gereja suku yang lain, seperti gereja Toraja. Pengaruh adat dalam kehidupan sehari-hari dari anggota-2 kedua gereja tsb masih cukup kental bahkan dominan. Sejarahwan kondang dari UI, Dr. Ong Hok Ham (salah eja?) alm, mengungkapkan keheranannya terhadap orang-orang Batak di perantauan. Dari pengamatannya dia berkesimpulan, orang-2 Batak (pria & wanita) adalah tipikal pekerja keras dalam profesi apapun. Tetapi, mengapa tidak banyak yang kaya (hidup pas-pas an), dikemanakan penghasilan yang pasti jauh melebihi kebutuhan hidup sehari-hari? . Dr. Ong menjawab : "high culture cost". Seandainya Dr. Ong melakukan riset di masyarakat Toraja yang 90% lebih penduduknya beragama Kristen, dia akan menemukan hal yang sama, ongkos budaya telah menguras harta benda yang dengan susah payah dikumpulkan.

Dari sini saya berkesimpulan, misi yang holistik yang berakibat kepada terjadinya transformasi secara utuh kehidupan orang-2 yang dilayani tidak berhasil sepenuhnya dilakukan oleh para misionaris yang ke Tapanuli dan yang ke Toraja. Walaupun tidak sedikit sekolah-2 yang dibuka oleh para misionaris sebagai implementasi misi yang holistik, dan sekolah-2 tsb telah sangat berjasa dalam mencerdaskan warga kedua suku tsb , tetapi semua pelayanan tsb belum dapat membuat orang Batak dan Toraja yang Kristen melepaskan diri dari dominasi adat istiadat. Kalau Toraja yang usia Kristennya jauh lebih muda dibanding Batak, mungkin masih bisa berdalih, "kami kan belum terlalu lama menjadi orang Kristen, beda dengan gereja-2 Batak yang sudah lebih 100 th. menerima Injil." Tapi, kalau meperhatikan apa yang ada dalam gereja Toraja sekarang, sampai Tuhan Yesus datang pun tetap saja adat mendominasi kehidupan jemaat. Mengapa? Tidak /belum ada terobosan (salah satunya semacam fatwa) dari institusi gereja yang patut diperhitungkan dapat "menggiring" jemaat hidup secara Kristen yang utuh.Ada beberapa anggota gereja Toraja yang melakukan terobosan secara pribadi dengan menititp pesan kepada anak-2nya agar supaya kalau dia meninggal pemakamannya tidak dilakukan berdasarkan aturan-2adat yang salah satunya harus mengorbankan puluhan ekor kerbau dan babi.

HMS:
Ini menjadi tugas bersama kita Warga Masy Kristen tmsk Aliteia, bukan hanya jadi tugas pengerja atau petinggi HKBP dan Gereja Toraja utk terus menerus Reforming, transformasi mindset. Kita harus melihatnya ini sbg tantangan yg positif bagi kemajuan bersama, bukan sbg aspek kelemahan yg negatif. Apa yg diungkap oleh Ong Hok Ham, mungkin ada benarnya sbg high culture cost, tapi juga saya melihat tidak sepenuhnya benar. Nilai-nilai budaya lokal, kearifan lokal, tidak seluruhnya keliru.

Ukuran nilai Kebudayaan (Culture), tidak serta merta "apple to apple" utk diperbandingkan dgn nilai cost atau high cost dalam prinsip Ekonomi. Ong meliatnya dari segi Ekonomi. Jika orang Budaya disuru meliat pola behavior komunitas Ekonomi/pebisnis, juga akan mengatakan mereka ini minim budaya, miskin nilai-nilai Keutamaan kultur. Sama saja. Lebih baik kita meliat segi positif hubungan antara Sosial-Ekonomi dan Budaya. Demikian juga sebaliknya.


Andry Pakan:
Berbicara tentang misi yang holistik, terhadap petobat-2 baru sekarang ini perlu sekali diperhatikan hidupnya. Kita ketahui bahwa kalau seorang Islam meninggalkan agamanya, dia akan dikucilkan, bahkan tidak sedikit yang dikejar-kejar dan diancam dibunuh. Misi yang holistik juga hemat saya, tidak harus dimulai dengan pemberitaan Injil secara verbal terlebih dahulu, tetapi mungkin pelayanan lain yang menyangkut kehidupan sehari-hari dari objek yang dilayani. Bisa berupa pelayanan kesehatan, pemberdayaan kehidupan ekonomi masyarakat, pendidikan , dlsb. Kemudian, pada saat yang tepat, Injil yang diberitakan harus menyentuh/mempengar uhi seluruh aspek hidup orang-orang yang dilayani, termasuk kebiasaan-2 yang dianggap baik sebagai wujud ketaatan kepada leluhur (adat istiadat yang tidak sesuai dengan prinsip-2 Alkitab). Kalau ini terjadi barulah dapat dikatakan Injil telah mentransformasi secara utuh kehidupan seseorang.

HMS:
Secara historis, apa yg bro sampaikan ini sudah mulai ckp banyak disadari dan mulai dilakukan oleh ckp banyak kalangan Kristen. Saya dan bersama-sama dengan teman-teman lain (ada sebagian di milis ini), sdh menyadari sejak kami lulus dari perguruan tinggi di masa lalu. Sebab itu kami katakan, bentuk kongkrit sangat kongkrit, holistik mission atau apapun namanya (christian resource center, dsjnsnya) ini, sbg "A Tribute for The Nation".

Di beberapa majalah, tmsk majalah DIA Pkts, di edisi-edisi tahun 1986-1987 saya sdh ungkapkan dan presentasikan panjang lebar mengenai Pola Pewartaan yang Membangun Jembatan Komunikasi dan Kedekatan trtm dgn saudara-saudara2 kita yg berlainan agama. Berikut hasil-hasil yg bisa dicapai. Spt contoh pengalaman di daerah2 pelayanan Bugis Makassar Selayar dan Mandar (mayoritas Islam dan sinkretis Mukdi Akbar), di Bali (mayoritas Hindu), di Bengkulu (mayoritas Islam), di Sulawesi bagian Timur (utk daerah2 mayoritas Islam), dll. Upaya program Entrepreneurship sosial, UKM, microfinance, Comm. Dev (kesehatan, pendidikan), Pertanian, dll boleh disebut sbg Pre Evangelism utk menyuburkan tanah-tanah bagi upaya tabur benih Kabar Baik. Membangun jembatan, membangun relasi, membangun kedekatan dgn umat yang berbeda keyakinan Agama. Hasil-hasil di beberapa daerah ini dan banyak daerah lainnya, saya kira, telah menunjukkan hasil yang ckp baik. Tentu perlu ditingkatkan lagi utk tantangan2 hari ini dan masa yad.


Maka, ini mjd tugas kita bersama, agar bilamana dari rekan2 Kristiani kita di manapun, belum menyadari akan tantangan yg sdg kita hadapi sekarang, belum menyadari akan signifikansi penting..esensi dari Misi, Misi Holistik dan Transformasi, mulai saat ini dapat lebih terbuka bagi suatu perubahan dan kemajuan bersama. Sekali lagi ini menjadi tugas kita bersama! Kiranya Tuhan akan terus menyertai dan memimpin kita menjadi Orang Kristen, warga gereja, warga Masy Kristen yang Misioner.


Salam HMS :-)

No comments:

Post a Comment