Tuesday, May 8, 2007

Integritas dan Realitas: Quo Vadis?

Integritas dan Realitas: Quo Vadis? Ini dipertanyakan Bro Samuel Djurumbatu, pimpinan LSM bernama YES Sumba.

Menarik untuk memahami integritas (khususnya integritas pribadi) terkait dengan realitas di tingkat praxis. Jika antara integritas dan realitas ada 'gap', kesenjangan. Inilah permasalahannya. Kenapa hal itu bisa terjadi? Maunya, idealnya, seseorang mau punya integritas yang mantap, tapi terkadang realitasnya seseorang integritasnya di bawah standard. Bagaimana mengatasi gap ini.

Tinjauan dari kacamata worldview Kristen. Integritas berasal kata dari "integer" yang berarti bulat, lingkaran seperti bulatan bola atau roda, berarti 'utuh'. Dalam keutuhan dan kebulatan pribadi atau personality itu ada 3 unsur vital yang tergantung di dalamnya menurut cara pandang Alkitab: satu, unsur ketulusan; dua unsur kejujuran, dan tiga unsur kebenaran. Jika ketiga unsur tersebut sudah terpenuhi, itu disebut sebagai keutuhan yang bulat padu (integer, integrated, integrity). Itu ternyata terkait dengan hubungan pribadi seseorang dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain (lingkungan) .

Kata rekonsialiasi (reconciliation) atau pendamaian dalam Alkitab sesungguhnya memuat pengertian yang dalam mengenai pemulihan hubungan seseorang dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya. Berita Pendamaian erat kaitannya makna Paskah: hanya karya penebusan Allah dalam Kristus yang memampukan kita bisa hidup berdamai dengan Allah, dengan diri kita sendiri dan dengan sesama. Peran penebusan hanya bisa direncanakan, digenapi dan dilaksanakan oleh God Trinity (Bapa, Anak dan RK). Orang yang sudah mengalami penebusan, pendamaian dengan Allah, disebut dilahirkan kembali, memiliki potensi untuk memiliki integrity tersebut. Pembinaan rohani, mindset dan seutuhnya melalui Firman Tuhan dan keteladanan hidup sehari2 selanjutnya mengarahkannya menjadi pribadi utuh, terkait ketulusan, kejujuran dan kebenaran. Itu cara pandang Kristen.

Bagaimana jika seseorang belum dilahirkan kembali? Belum atau tidak pernah memperoleh pembinaan rohani, mindset dan seutuhnya yang SEHAT sejak kecil berlandas Firman Tuhan dan keteladanan, termasuk pada masa kanak2 hingga dewasa dalam keluarga, gereja dan sekolah. Jawabnya: sangat sulit memperoleh dan memperjuangkan integritas.

Bagaimana bila seseorang tidak/belum dilahirkan kembali? Tidak mengenal Alkitab, tidak percaya Alkitab? Landasan filosofis dan keilmuannya tidak sejalan dengan Alkitab? Bisa saja, tapi hemat saya mungkin seperti Nikodemus yang dijumpai Yesus ya. Atau orang muda yang kaya yang datang pada Yesus dalam kitab Injil. Akan sulit juga punya integritas yang disempurnakan (Tuhan) lewat pembinaan (rohani dan mindset) tentunya.

Memang manusia punya 'suara hati', intuitif, hati nurani. Itu juga bisa jadi pertimbangan untuk bisa punya integritas. Tapi masalahnya suara hati, hati nurani terkadang sangat mudah dipengaruhi oleh suara lingkungan. Iya kalau lingkungannya benar dan sehat, kalau sebaliknya.. hati nurani pun bisa jadi tumpul. Itu masalahnya, apalagi di tengah situasi atau lingkungan yang tidak kondusif hati nurani, suara hati ditumbuh-kembangkan . Jadi repot dalam realitas di praxis.

Balik lagi, yang perlu bagi kita untuk memupuk dan memperjuangkan integritas pribadi, adalah back to the Scripture (Bible), terus 'masuk' dalam pembinaan2 rohani dan seutuhnya yang terarah dan sehat; dan terakhir bergaul dengan orang2, keluarga, organisasi dan lingkungan yang memang recognized memiliki integritas yang mantap dan terbina dengan baik.

Satu lagi pengawasan sosial untuk seseorang tetap bertahan dalam integritas sangat vital. Makanya perlu tatanan rumah tangga (hubungan ayah-ibu-anak), pergaulan, organisasi, society sampai penyelenggaraan regulator, pemerintahan dan negara yang konsisten menempatkan pengawasan, pembuatan system, tata kelola, governance, bukan hanya sekedar artificial atau proforma belaka, tetapi betul-betul berdasar niat yang tepat, baik dan benar. Yang salah dihukum, yang benar diberi penghargaan, tanpa pandang bulu. Tidak boleh permissive. System yang benar, penegakkan aturan dan disiplin yang baik, akan turut menghasilkan pribadi2 yang berintegritas.

Kalau sudah demikian, pasti rumah tangga keluarga, sekolah, gereja, organisasi sampai ke tingkat masyarakat bangsa dan negara akan tumbuh sehat dan maju.

Thanks and blessings,
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment