Thursday, April 12, 2007

Fenomena masa sekarang memang betul2 banyak muncul terbalik (sungsang).

Fenomena sekarang memang betul2 banyak muncul terbalik (sungsang).

Dulu kita tau ‘pemimpin’ atau ‘yang mengaku sebagai pemimpin’ lebih banyak bicara. Namun sekarang, ‘yang seharusnya dipimpin’, rakyat atau orang biasa yang lebih banyak angkat bicara. Sungsang.

Dulu konglomerat yang lebih banyak berperan dalam perekonomian. Sekarang, justru barisan pengusaha usaha mikro UMKM kini lebih banyak berperan menyangga hidup perekonomian negara dan nyatanya paling banyak menyerap tenaga kerja. Sungsang.

Jaman NKK/BKK dulu, menteri P&K, rektor atau dekan banyak bicara. Namun kini, mahasiswa yang jauh lebih galak dan banyak bicara. Juga pelajar.

Dulu hanya Menteri Penerangan dan TV tunggal TVRI bicara dan jadi corong basa-basi. Sekarang, jubir petani, jubir koalisi korban bencana, jubir korban sutet dan berbagai ragam saluran TV mewarta dan mewarnai pemirsa, mengungkap tabir investigasi dan mimpi-mimpi. Sungsang.

Dulu, hanya orang Jakarta dan orang Jawa yang bicara. Tapi sekarang, hampir semua orang daerah luar Jakarta dan luar Jawa berani bicara. Dari orang Rote sampai Sangihe, orang Balige sampai orang Bone. Orang (pulau) We sampai orang Merauke. Sungsang.

Dulu hanya ustads, pedanda, bhiksu, pendeta, pastur atau kyai yang banyak bicara. Namun sekarang, ‘kaum awam’, berani bicara lantang, speak-out.

Dulu jamannya penguasa mapan (the established rulers) bicara. Sekarang korban-korban dan cermin/simbolisasi pihak korban2 berkarakteristik sengsara, susah, miskin dll yang balik bicara dan banyak memiliki fans-fans. Sungsang.

Dulu hanya seniman yang betul-betul berlevel master boleh eksibisi, unjuk pamer. Sekarang presenter, entertainer, selebritis, pelawak, penari dan pedangdut egaliter menguasai pentas (stage).

Dulu hanya kelompok pakar dan ahli yang menjadi juri. Tapi kini publik kebanyakan yang jadi juri lewat voting sms. Sungsang.

Dulu kebanyakan laki-laki atau pria tampil bicara memberi arahan, sekarang kaum perempuan lebih banyak ‘manggung’ untuk bicara dan berkreasi. Sungsang.

Dulu organisasi formal menjadi alat dan kendaraan budaya. Sekarang komunitas adhoc . tanpa struktur baku dan kaku yang berfungsi sebagai wadah asah-asih-asuh dan sebagai kendaraan budaya.

Dulu struktur sinodal, holding, kantor terpusat dan birokrasi panjang yang dipilih untuk mencapai tujuan organisasi. Sekarang orang lebih memilih struktur otonom, konggregasi, dengan wewenang terdistribusi, dengan pola organisasi datar (flat-organization). Sungsang.

Dulu pertanggung-jawaban lebih ditekankan ke atasan dan atasan sebagai stakeholder. Sekarang orang lebih cendrung melakukan pertanggung-jawaban ‘ke bawah’ dengan istilah pertanggung-jawaban kepada publik (public accountability).

Dulu hanya pihak mayoritas dan golongan mainstream saja yang berkesempatan membentuk opini publik. Kini kelompok minoritas dan outlier (“pencilan, terpencil”) sekali pun, semakin menunjukkan eksistensinya. Sungsang.

Dulu penyeragaman satu warna, satu suku, satu etnis, satu latar belakang menjadi keharusan. Sekarang, orang cendrung memilih cara pandang multi-kulturalisme.

Dulu hanya koalisi lembaga ornop (organisasi non-pemerintah) yang berani kasih pendapat. Namun kini, individu-individu ornop pun yang disebut 'non-government individuals (NGI) bertaburan dimana-mana menyatakan wacana dan argumentasinya.

Dulu adalah jaman kejayaan state (negara), sekarang justru jaman society (masyarakat bangsa) bangkit menemukan bentuknya. Masyarakat dunia global semakin dinilai menjadi ‘satu desa’ atau ‘satu komunitas kubangan besar’ tanpa batas dengan pelbagai budaya.

Inilah fenomena demokratisasi 'sungsang' yang kini sedang berlangsung begitu cepat di negeri ini, bahkan seluruh dunia. Bukan hanya di kota-kota besar megapolitan, tapi faktanya sedang berlangsung cepat di pojok-pojok kota kecil (urban), di desa-desa dinas dan desa-desa adat (rural), serta juga di pojok2 tempat-tempat terpencil pesisir pantai (coastal). Teknologi informasi dan perkembangan multi-media turut mendukung berperan penting terhadap pesatnya arus perubahan.

Suatu demokratisasi dengan konsekuensi logis bergulir cepatnya pula proses desentralisasi, transformasi social, pergeseran otonomi dari otonomi daerah (otda) sampai otonomi komunitas, otonomi tingkat keluarga bahkan otonomi individu. Individu mendapatkan tempatnya yang otonom dan strategis, terkait dengan meningkatnya kesadaran HAM, gender, pemberdayaan (empowerment) dan justice (keadilan). Teknik2 eksploitasi, dominansi, hegemoni, 'hitch-hiking' (bonceng-membonceng) dari pihak penguasa dan calo2 kekuasaan, sudah semakin menjadi teknik usang untuk dijalankan, berhubung kesadaran orang2 biasa 'ordinary people' sudah semakin melek bahkan lebih melek dari si penguasa sendiri.

Jika dulu orang percaya, 'big is beautiful', maka sekarang orang lebih percaya ‘small is beautiful’, bahkan 'micro is beuatiful'. Di dalam ‘kecil mengandung hal yang sangat besar’, sebaliknya justru pada yang dianggap ‘besar’ justru hanya mengandung hal kecil’. Rumah, house, home tempat individu tinggal menjadi lebih relevan berperan. Bukan rumah yang ‘besar’, tapi rumah yang kecil namun besar maknanya.

Bukankah sekarang banyak muncul contoh2 fenomena: home-schooling (cukup sekolah di rumah atau lewat rumah), home-churh (bergereja di rumah-rumah, revitalisasi model gereja purba), home-care (rumah sakit atau rumah pemulihan di rumah), home-productive units (berbisnis, berwirausaha di rumah, di ruko atau di rukan)?

Jika dulu orang percaya dalam satu dunia ada banyak hal dicapai, banyak massa , kelompok dan individu dijangkau; maka sekarang orang makin percaya justru dalam satu pribadi individu lah, akan ditemui ‘satu dunia yang utuh’. Dalam satu individu justru ditemui banyak symbol dan makna komunitas, dan dalam satu komunitas ada terdapat symbol dan makna satu dunia.

Mungkin sebab itulah, di era kini, suara satu individu nyatanya bisa sangat besar gaung atau echonya, termasuk melalui milist ini. Bisa terdengar sampai ke seluruh negeri bahkan tingkat benua dan dunia. Apalagi jika individu-individu tersebut membentuk koalisi menjadi koalisi individu yang ‘spooring’ (sejalan, satu visi, satu misi) dalam satu komunitas, tentu akan menjadi sangat sangat hebat pengaruhnya. Mayoritas menjadi sejarah dan tidak cukup berkutik, minoritas menjadi antara (intermediary), kemudian justru keluarga dan individu kini mendapat tempatnya yang legitimate dan sangat strategis.

Jika kita ingat suatu doa dari Yakobus, yaitu ‘doa orang benar bila dengan yakin didoakan, besar kuasanya’. maka analogisnya adalah jika satu individu yakin dalam bersuara, dan suara itu tepat waktu, baik dan mengandung kebenaran, maka gaung pengaruhnya akan begitu besar 'kuasanya' bahkan nyaris mampu mentransformasi seluruh dunia dalam hitungan detik.

Persoalannya adalah, apakah individu atau koalisi individu dalam komunitas itu betul2 mampu menunjukkan bobotnya. Jika betul berbobot, maka jadilah perubahan yang sedemikian luar biasa itu.

Demikianlah, fenomena masa sekarang memang betul2 telah muncul terbalik (sungsang).
Sekarang, apakah makna relevansi fenomena dari tanda2 jaman ini juga berlaku bagi anda dan saya.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment