Monday, June 25, 2007

Apakah Persoalan Bangsa Ini Hanya Terletak Di Seputar Masalah Islam, Kristen & Tionghoa (Cina) ?

Dari Info Transforma Sarana Media (TSM) Edisi Juni 2007.

Mantan Ketua PGI Dr Nathan Setiabudi, dalam salah satu halaman wawancara di harian Mitra Bangsa (kalau tidak salah edisi Mei 2007 lalu) pernah menyatakan pendapat bahwa yang permasalahan krusial di negeri ini hingga kini, adalah permasalahan di seputar Islam, Kristen dan Tionghoa (Cina). Dr Nathan berpendapat, bilamana hubungan relasional baik di dalam maupun di antara ketiganya bisa dibereskan, maka akan banyak sekali permasalahan serta konflik2 di negeri ini akan bisa diselesaikan.

Benarkah? Pendapat Dr Nathan ini boleh2 saja, sah2 saja. Namun, jika pendapat ini boleh direnungkan ulang pasti akan mengundang tanya (kembali) pada kita: 'Apa benar persoalan Islam, Kristen dan Tionghoa (Cina) betul2 menjadi persoalan 'pareto' (krusial, isu sentral) bangsa ini. Sepertinya tidak juga. Jawabnya mungkin bisa bercabang, bisa dijawab ya, bisa pula tidak. Di jawab ya, bila kita memakai kacamata atau sudut pandang politik agama dan politik disparitas etnik, terkait kepentingan politik dan ekbis. Bisa dijawab tidak, bila kita memilih memakai cara pandang yang lebih luas, bila kita meninjaunya dari sudut pandang transparansi, keadilan, transformasi pendidikan, theologi politik etika, sosial budaya, bahkan sudut pandang lingkungan & peradaban yang bersifat multi-disiplin dan lebih integratif. Pendeknya, dari pola pandang kebenaran universil jawabannya tidak.

Jika memang mau menyederhanakan permasalaan 'pareto' bangsa ini hanya di seputar gap antara Islam, Kristen dan Tionghoa, lalu bagaimana dengan isu2 lainnya yang terus muncul. Sebutlah isu2 gap antara golongan elite dan egalite, koalisi orpol dan independen (golput), kapitalis dan sosialis, pusat Jawa dan luar Jawa, IBB dan IBT, wacana negara kesatuan dan federal, gap pemimpin dan umat, ekonomi pasar dan ekonomi rakyat, kelompok orthodox-tradisional dan sosial-liberal, 'status quo' dan kelompok pembaharuan; kelompok mapan dan anti-kemapanan; pro theokrasi atau pro demokrasi, kelompok mementingkan diri sendiri & golongan (individualisme) dan pro kepentingan umum(keadilan sosial), pro pengambil kebijakan publik dan pro korban serta pro lingkungan dan tidak sadar-lingkungan?? Apakah isu2 sentral dan krusial ini lantas boleh dipandang 'sebelah mata' saja. Apakah isu2 tersebut sudah selesai, sudah beres? Pasti kita semua bisa langsung menjawabnya. Belum beres. Belum tuntas. Jadi memang agak sulit menyederhanakan, masalah bangsa ini hanya terletak di seputar persoalan Islam, Kristen dan Tionghoa (Cina). Jangan2 letak persoalan utamanya malahan bukan di seputar Islam, Kristen dan Tionghoa (Cina). Ada pada tataran yang lebih tinggi lagi.

Satu lagi, seringkali para pemimpin dan elit bangsa ini mengatakan bangsa kita adalah bangsa yang besar. Pertanyaannya, apa benar bangsa ini bangsa yang besar? Besar apanya? Jangan2 hanya karena jumlah penduduknya yang besar (235 juta) dan atau jumlah suku/etnisnya banyak (>500 suku), lalu dikatakan bangsa kita bangsa yang besar. Apa sih yang sesungguhnya menjadi indikator atau parameter, sehingga suatu bangsa dinilai dikatakan besar? Teringat ucapan Bung Karno, beliau pernah mengatakan 'bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya'. Pertanyaannya adalah apakah benar kita sudah menghargai para pahlawan kita? Yang disebut pahlawan itu apa. Apakah 'mereka' yang telah dimakamkan di TMP Kalibata saja yang disebut pahlawan. Yang menjadi veteran Seroja Timtim tidak. Pahlawan tanpa tanda jasa seperti Guru, para TKI/TKW tidak? Ini contoh sederhana saja. Pengamatan penulis berinteraksi dengan banyak elemen masyarakat, menyatakan bangsa ini bukan atau belum menjadi bangsa yang 'besar'. Bangsa yang 'sedang' atau 'ukuran medium' kayaknya juga belum. Besar skala dan kompleksitas permasalahan/krisis iya (korupsi, penyalahgunaan dana, kecurangan UN, lumpur panas, bullying, balak hutan liar, dll). Tapi menjadi bangsa yang 'besar' dalam artian memiliki dignitas, harkat dan moral, intektualitas dan inteligensia SDM, keadilan sosial, ethical business, reformasi birokrasi serta model lingkungan dan peradaban yang patut dicontoh, ya belum.

Jika dalam kalangan Islam dikatakan banyak permasalahan, mungkin ada benarnya. Begitu juga di kalangan society Kristen, kita harus mengakuinya. Juga di kalangan Tionghoa, terutama dalam kaitannya dengan isu 'pri dan non-pri' yang belum kunjung selesai di negeri ini. Tapi intuisi kita mengatakan persoalan besarnya bukan terletak di situ. Tapi terletak pada pola pikir. Aras pemikiran, yang akhirnya berhulu sekaligus bermuara pada kebenaran. Kebenaran yang universil. Bukan Islamnya yang jadi masalah, tapi apakah ia mau berpikir dan tunduk pada kebenaran universil. Bukan Kristen, dan bukan Tionghoa (Cina)nya, tapi apakah dia mau berpikir dan tunduk pada kebenaran universil.

Jika memang demikian, maka upaya pencarian solusi-solusi yang lebih menyeluruh dan mendasar bagi bangsa ini, terutama oleh para pemimpin (dulu dan sekarang), yang merasa bakal menjadi pemimpin (generasi muda), serta bagi umat juga. Tentu, pemimpin yang kita perlukan sekarang adalah pemimpin mau berpikir. Berpikir, kritis, dan tidak asal nunut dan takut. Berpikir juga bukan asal berpikir, apalagi yang 'asal' berpikir dan bertindak serba pragmatis (bahkan super pragmatis). Tidak pernah menanam, tapi mau cepat menuai hasil. Tidak terlalu banyak menanam, tapi ingin dapat 'kue' keuntungan yang paling banyak. Belum banak menanam, tapi sering ngga sabar ingin cepat hasil, dan berteriak-teriak tentang hasil. Tidak mau belajar banyak dan mendalami masalah, tapi maunya ingin bisa cepat dalam menyimpulkan, memberi kesimpulan2. Kalau kesimpulannya benar.., kalau keliru. Kan lebih berabe. Bukankah ini yang banyak banget terjadi di bangsa ini. Permasalahan yang sudah begitu banyak di tengah bangsa yang multi-kultur ini, makin diperparah dengan permasalahan baru. Merespons masalah dengan masalah, bukan dengan solusi2 alternatif kreatif yang tepat arah dan tepat hasil. Banyak planning dan dreaming, tapi tak pernah konsisten dikerjakan, dievaluasi dan ditindak-lanjuti agar lebih 'yahud' jalannya ke depan.

Evaluasi, kemauan berubah dan 'mau kerja serius' untuk kebenaran menjadi salah satu solusi. Bangsa yang tidak pernah mengevaluasi diri, tidak akan menjadi bangsa yang besar. Begitu juga, bangsa yang tidak pernah mau belajar dan mau merubah diri - merubah pola pikir, pola tindakan dan pola perilaku, tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar. Apalagi bila 'ngga mau kerja konsisten' (kerja smart dan kerja keras, dengan kompetensi) hasilnya menjadi lebih tragis dan "untung-untungan". Kita tidak boleh melawan kebenaran, memberontak kebenaran, hanya karena 'asal ingin mempertahankan gengsi dan nama baik', sementara 'rasa malu' terus menguntit dan mencubit2 kita; karena kita telah berpikir, bertindak dan berperilaku salah namun tidak mau mengakuinya: di depan orang, diri sendiri, di depan Tuhan dan di depan publik sendiri.

Rasa malu yang benar bukan mengabdi kepada kepentingan individu dan golongan sendiri, tapi malu kepada kebenaran universil. Kebenaran berdasar akal sehat, nilai2 etis dan moral, berdasar sabda Tuhan dan nurani publik yang cepat atau lambat akan mampu celik sadar dan tau pula kesalahan yang kita perbuat dengan makin ketatnya proses pengawasan di segala lini. Kebenaran yang menuntut rancang bangun yang benar, proses timing yang benar bila ingin menuntut hasil yang 'besar'.

Pemimpin2, elit, pebisnis, pelaku2 di berbagai elemen bangsa dan juga umat yang tidak punya rasa malu yang benar, yang mau tunduk menyerah kepada kebenaran, selalu ingin 'berontak' dan melawan kebenaran; tidak takluk kepada proses yang benar; hampir pasti akan menjadi racun yang mematikan. Menjadi toxic leaders, poisonous people yang menggerogoti, membusukkan tubuh keluarga, komunitas, tubuh bangsa dan tentu diri sendiri.

Jadi letak permasalahannya, hampir pasti bukan di persoalan seputar Islam, Kristen dan Tionghoa (Cina) dari bangsa ini, tapi seberapa banyak dari elemen seluruh bangsa (pemimpin, elit, umat)yang masih mau mengabdi dan menyerah kepada kebenaran. Tunduk dan tidak terus memberontak serta menyangkal kebenaran. Kebenaran universil. Kalau mau pakai contoh Islam, Kristen dan Tionghoa (Cina) ya boleh; siapa pun dia: entah Islam, Kristen atau Tioghoa (Cina) maukah dia - baik secara individu, komunal atau golongan; maukah tunduk menyerah kepada kebenaran universil, bukan kepada sifat licik dan penuh kecurangan.

Siapa pun dia di bangsa ini, mendesak punya mental evaluasi diri, mau berubah diri, benah diri; mau kerja konsisten; tidak terus merasa benar dan sudah merasa hebat (gigantic fever). Jaman seperti sekarang, berani punya mental 'turun gengsi' kalau salah; tidak terus menerus 'jageng' (jaga gengsi), 'jaim' (jaga image) atau 'jaga wibawa' padahal jelas2 keliru dalam sikap, ucapan, kebijakan ataupun perilaku. Jaman begini, sangat perlu punya 'rasa malu' yang benar dan besar, sedia tunduk dan menyerah pada kebenaran. Kebenaran universil - sepahit apapun kebenaran itu mesti dituruti.

Kebenaran universil nyatanya bisa ditemui di sabda Allah. Bisa ditemui di realitas alam. Di hati nurani. Di hati kecil. Di instuisi. Di akal sehat. Di dunia kreatif. Di dalam keluarga. Dalam tradisi lokal dan komunitas. Dalam cara pandang global. Di tengah ketidak-adilan dan keterpurukan sosial. Di domain moral, hukum dan dunia pengadilan, walau untuk yang satu terakhir ini agak sulit memperolehnya. Di dunia pendidikan dan penelitian. Dalam realitas praktis. Di tataran praksis dan pengalaman trial & error diri sendiri dan orang lain. Dengan suatu catatan:

- tanpa terus ingin menyalahkan keadaan.
- tanpa terus ingin menunjuk kesalahan (blaming) orang lain.
- tanpa terus takut kehilangan posisi.
- tanpa terus takut rugi.
- berani memikul resikonya sendiri.
- mau evaluasi dan berubah diri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang meninggikan kebenaran. Kebenaran universil. Bangsa yang memberontak terhadap kebenaran, menolak kebenaran dan tidak mengabdi kepada kebenaran universil akan dilibas bukan hanya oleh lawan, tapi akhirnya oleh kawan sendiri. Yang pasti dilibas oleh jaman.

Jika dicontohkan ke Islam, Kristen dan Tionghoa (Cina). Islam yang 'besar' adalah Islam yang mau mengabdi kepada kebenaran universil. Kristen yang 'besar' adalah Kristen yang mau tunduk dan menyerah kepada kebenaran universil. Tionghoa (Cina) pun demikian: Tionghoa (Cina) yang 'besar' adalah Tionghoa2 yang mau cinta kepada kebenaran universil. Dalam pemikiran, rancang bangun perencanaan, proses berbangsa dan menuai hasil bagi bangsa ini.

Kebenaran sangat pasti akan meninggikan derajat bangsa.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment