Saturday, June 16, 2007

Pentingnya Kompetensi Tingkat Tinggi untuk Sanggup Melakukan Pembenahan Mendasar serta Konstruksi Terarah bagi Dunia Pendidikan di Indonesia.

Dunia Pendidikan di Indonesia kini semakin disoroti. Kondisi dan situasinya sudah dalam titik nadir: runtuh dan amburadul !

Dengan sangat iintensnya wacana dan bentuk perjuangan nyata dari kawan2 bagi pembenahan besar2an DUNIA PENDIDIKAN di negeri ini yang sudah sedemikian kacau dan amburadulnya, hemat saya sudah saatnya sekarang kita bicarakan, siapkan dan perjuangkan mengenai adanya TIM ataupun PRIBADI yang pantas dan solid menjadi Prime-Mover sekaligus sebagai panglima di DUNIA PENDIDIKAN di negeri ini. Bisa mulai dari tingkat unit sekolah (DIRI SENDIRI), lokal, regional sampai NASIONAL, ataupun saya yakin bisa dilakukan lewat cara hampir sebaliknya dari REGIONAL-NASIONAL KE LOKAL-LOKAL dengan support INTERNASIONAL.

Paling tidak pemikiran saya, TIM atau PRIBADI ini harus memenuhi KOMPETENSI TINGKAT TINGGI untuk melakukan PEMBENAHAN FONDASIONAL/ MENDASAR serta membangun KONSTRUKSI secara TERARAH secara Bersama (BB), sebagai berikut:

1. TIM atau PRIBADI tsb mampu memahami dan menyiasati integrasi dunia PENDIDIKAN dengan paling tidak 3 domain 'utama lain yang masih sangat mendominasi/ berpengaruh sangat kuat terhadap system, struktur dan kehidupan sosio-budaya di Indonesia, yaitu: dunia POLITIK, BISNIS/EKONOMI dan AGAMA/THEOLOGI SOSIO-BUDAYA yang majemuk di Indonesia baik dalam tataran ideal dan realitasnya di lapangan.

2. Memiliki PARADIGMA, WORLDVIEW dan NILAI2 yang "TBB" dalam upaya membangun struktur FILSAFAT PENDIDIKAN yang "TBB" pula di negeri ini. Kalau paradigma/worldview yang dimilikinya keliru, maka akan dipastikan akan keliru pula bangunan filsafat pendidikan yang dipakai guna membangun DUNIA PENDIDIKAN di negeri ini. Filsafat PENDIDIKAN yang dibangunnya, akan terus-menerus didominasi oleh pengaruh nilai2 kepentingan POLITIK, BISNIS/EKONOMI serta AGAMA/SOSIO- BUDAYA yang dianutnya sebagai PANGLIMA. Ini jelas akan membuat keliru arah PENDIDIKAN kita.

3. Memiliki KONSEP PLATFORM yang jelas paling tidak pada akhirnya bisa diterima reliabilitasnya [MORAL & GOVERNANCE] oleh stakeholders DUNIA PENDIDIKAN; serta yang sangat penting MANAJEMEN STRATEGI PENDIDIKAN yang TBB dan terintegrasi, secara teks dan konteksnya sesuai dengan kondisi Indonesia paska Reformasi. Mulai dari upaya penyusunan UU PENDIDIKAN, KEBIJAKAN/POLICY MAKRO, IMPLEMENTASI dan pola PENGAWASAN dalam seluruh lini program2 di DUNIA PENDIDIKAN dan persekolahan di Indonesia menurut stratanya.

4. Kita akan lebih menyukai TIM atau PRIBADI yang telah memiliki PENGETAHUAN, SKILLS, ATTITUDES, INTEGRITAS dan PENGALAMAN yang cukup luas dalam MENGELOLA, MEMBANGUN, MEMAINTAIN DUNIA PENDIDIKAN MIKRO, baik di jalur struktural, manajerial, instruksional (sebagai guru dan/atau dosen), sebagai penilik (Overseer) dan/atau staff ahli, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Ini akan memberi TOUCH dan FEELING kepada ybs untuk pengertian dan pemahaman SWOT DUNIA PENDIDIKAN MIKRO negeri ini sampai di tingkat praxis, grass roots. Termasuk Model2 Pendidikan mana yang bisa digunakan serta dipertimbangkan sebagai Best Practices untuk Indonesia.

5. Memenuhi kriteria2 yang diperlukan (kriteria wajib dan krietia tambahan) bagi seorang PEMIMPIN dalam kepemimpinan dan kePANGLIMAan dalam DUNIA PENDIDIKAN.

Dari kriteria kompetensi di atas, kita akan lebih mudah mengevaluasi baik diri kita maupun orang lain apakah bisa diharapkan atau diandalkan atau tidak.

Strata kesarjananan (DOKTOR) atau profesi (PROFESOR) memang akan menjadi relatif bila ditinjau dari SCHOOL of THOUGT - cabang disiplin, almamater - UGM, UI, ITB, IPB, UKI, UAJ, IKIP/UNIJA, UNSRAT jebolan YALE UNIVERSITY, CHICAGO, CAMBRIDGE, OXFORD, KYOTO, MIT, MONASH... dari jalur pendidikan non-formal macam PRIMAGAMA University of Entrepreneurship, dst) dari yang bersangkutan berasal, apalagi bila dikontekstualisasi situasi di Indonesia, dalam penyebarannya di 33 propinsi IBB dan IBT.

Kita sebagai anggota masyarakat khususnya yang concern kepada Dunia Pendidikan NKRI, kemungkinan kita akan bisa/pasti bisa mengevaluasi menilai pribadi2 baik yang punya gelar recognisi KETOKOHAN ataupun BUKAN/BELUM TOKOH, apakah mereka bisa memenuhi kompetensi di atas untuk masa sekarang dan ke depan; memenuhi ekspektasi publik.

Sebut saja misalnya Incumbent Mendiknas: Prof Dr (Ekonomi Akuntansi) Bambang Sudibyo (ini sudah sepantasnya dipertanyakan) ; lalu Prof Tilaar, Prof Arief Rachman (IKIP/UNIJA) , Prof Sondakh (Unsrat), Dr Jisman S (Prasetya Mulia), Bpk J Parapak (UPH), Prof Yohanes Surya, Romo Mardi, DR Satrio Sumantri Brojonegoro .dan masih banyak nama2 lain terutama dari generasi muda usia 35-50an yang tak tersebutkan namanya dari berbagai almamater, disiplin ilmu, organisasi, perhimpunan, kalangan dll.

Kita harapkan dari KAMG, komunitas2 perjuangan di bidang pendidikan dan kepemimpinan pendidikan, termasuk TCF Pkts sanggup memenuhi harapan, ekspektasi kalangan luas yang saya amati semakin meluas saja ekspektasinya di hampir 33 propinsi di Indonesia ini.

Ayolah kita bersama merapat dalam barisan perjuangan secara bersama (BBB) dalam melakukan pembenahan2 lebih fondasional, internally serta tuntas belajar menggunakan cara pandang 'outward looking' dan 'forward looking' , serta melandaskan semua usaha dan perjuangan kita di dalam doa pada Bapa tak berkeputusan.

Salam,
HMS

No comments:

Post a Comment