Monday, July 23, 2007

AJP Abdul Kalam: Sosok Pemimpin Perubahan, Pemim-pin Inspirasional India (Tidak Jauh2 Background Konteks Kulturnya dengan Kita !)

Dari informasi Transforma Sarana Media edisi Juli 2007/a4.

Mungkin AJP Abdul Kalam pantas digelari pemimpin perubahan untuk India, negeri berpenduduk 1,2 milyar di era sekarang. Pemimpin inspirasional yang layak dicontoh oleh kita. Dekat2 bayangan kepemimpinan pelayanan (servant leadership) dalam konteks umum barangkali ya. Bukan apa2. Karena kultur dan konteks peradaban beliau ini nggak jauh-jauh 'banget' keadaan-nya sama kultur kita.

Harian Kompas tgl. 24/7 Hal. 16 menurunkan tulisan rekan Sdri. Fransisca R Ninik tentang sosok pemimpin warga biasa India ini, APJ Abdul Kalam. Sangat menarik storynya. Setelah beberapa bulan lalu kita mahfum tentang model dan karya pengabdian seorang pribadi: Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh, penerima Nobel Perdamaian 2006 lalu -, kini kita sadar lagi bahwa "di sekitar kita, yang mirip2 dengan kultur kita' ada satu nama yang diangkat ke permukaan, one of 100 prominent persons from India" dari India; diangkat berkat pembuktian karya pengabdiannya yang telah berlangsung lama hingga akhirnya dia diangkat jadi Presiden dan akan segera lengser 2007 ini. (Lebih lengkap selebihnya baca Kompas 24/7 hal 16 atau ’seaching’ internet freak ”tulis AJP Abdul Kalam).

Kita paham konteks masyarakat negara seperti India, Bangladesh, etc ngga jauh2 beda dengan kultur kita. Beda tipis lah. Makanya saya pribadi terhenti sejenak membaca merenungkan ketokohan pemimpin transformasional, profesional karismatis warga biasa, namun jadi simbol pemersatu/perekat dan ada natur rendah hati seperti Abd Kalam. Sejalan lah kira2 dengan parameter mutu ’Good to Great’ seperti dibilang Jim Collins; seakan muncul inkarnatif dalam diri Abd. Kalam. Cukup lama juga sebenarnya saya telah mendengar tentang proses metamorfosis kepemimpinan yang sedang terjadi di India; proses kebangkitan 'pelan tapi pasti' yang kini sedang terjadi di India, terutama dalam 10-20 terakhir. Teringat lagi jadinya dengan ’Silk Road History’ yang sempat saya baca di teks sejarah Arnold Toynbee. Saya menelusuri dari beberapa pengamat, bukan saja di bidang theologia dan transformasi spiritualitas (Bihar) India sudah 'makin hot' menggeliat, namun juga rentetan kemajuan2 riel berhasil dicapai di bidang IT/software, knowledge management, desain dan produk computer, pendidikan higher education, pangan, pertanian, litbang pertahanan, teknologi aeroneutika, chemical engineering dan tak ketinggalan bidang microfinance/keuangan mikro dan pembinaan UMKM (ingat CGAP rating) dan.. industri cenema/film (Bollywood). George Soros masih meragukannya, namun saya tidak. Cepat atau lambat, India akan juga bangkit. Tak bedanya dengan Brazil pada masa sekarang, Korsel, Cina dan sangat2 diharapkan: Indonesia, terlebih kalau saya kabupaten2 yang ada di tanah air 'pelan tapi pasti' harus bangkit!

Balik lagi India, termausk di bidang olahraga cukup diperhitungkan, di cabang hockey, tennis perseorangan, catur mereka pernah/sering mendominasi hingga jadi jawara dunia. Hanya mungkin di olahraga supra-populer seperti sepakbola, mereka memang tidak terlalu bagus. Belum sekelas dengan kesebelasan Jepang, Korsel, Arab Saudi, Irak, Cina atau Afrika. Apalagi dengan Eropa dan Amerika Latin. Yah, barangkali satu tingkat peringkatnya dibawah Indonesia. Namun overall, pencapaian itu sangat luar biasa. Tentu itu pasti bukan kerja sesaat semalam manakala ’ada peluang ada akal’ bak main2 'petak umpet' politikus domestik kita yang acapkali despotis-oportunis yang sering ‘kurang/tidak menyajikan cerita2 episode yang menarik dan manis untuk diliat’. Bagi Abd Kalam dan India, tentu perjuangan visioner itu merupakan proses pencarian, jatuh bangun dan a long journey.

Saya pernah menulis tentang kualitas kepemimpinan. Kepemimpinan perubahan, leadership of change. Ada sekitar 28 kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan pada masa sekarang dan ke depan. (Klik http://hansmidassmjntk.blogspot.com/archieve/april 2007). Ternyata harus diakui cukup banyak dari ke-28 kualitas yang terpapar, dipenuhi kualitas2nya oleh Abd. Kalam. Segi mindset, knowledge, skills, profesionalisme dia punya. Tapi lebih lagi kekuatan pijakan kesaksian moral dia miliki (dia selibat/tidak menikah, tidak minum alkohol, pemakan sayuran, puluhan lembaga support moral menghargainya), etos hidup/kerja budaya disiplin diri, naluri keadilan sosial dan ke’seniman’an (dia pemain gitar veena loh.., musikus, penulis puisi pengagum Milton, Walt Whitman dan R. Tagore). Luar biasa!

Yang menarik APJ Abdul Kalam adalah seorang Moslem yang minoritas di India, tak ada tanda2 dia 'darah biru', kaum elitis. Lebih menonjol dia sebagai pribadi populis, egaliter. Jauh dari kesan Moslem fanatik buta. Lebih dekat kepada ciri Moslem demokratis pluralis minoritas. Latar pendidikannya Barat - Kristiani - (a.l. Schwartz High School, Sekolah Tinggi St Joseph College), dia 'tukang insinyur teknik dari ’ITB’nya India di Madras. Kalam jadi Presiden di tengah2 1,2 milyar rakyat India yang lk.80% beragama Hindu. Mindset Kalam untuk urusan ’kebhinekaan’ luar biasa; padahal seorang tukang insinyur teknik dengan background berwarna (colorful), bhineka, diverse. Seorang pemimpin multi-talent, multi-skills. Hidup populis sederhana, banyaknya hadir dan dekat dengan ’orang susah’, mendermakan 10 bulan pertama dari pendapatannya sebagai Presiden untuk sebuah organisasi kemanusiaan nirlaba. Itu jadi ’good habits’nya sejak dulu. Wow!

Kita tahu lah, semua manusia pasti punya kelemahan atau kekurangan, termasuk Kalam juga saya yakin punya. Karena dia manusia. Hanya Tuhan yang Sempurna, Maha Sempurna. Tanpa batas. Kalau sengaja dicari, pasti kita dapat kelemahannya Kalam. Secara kasat mata, sebenarnya kita bisa tau apa keterbatasannya Kalam. Tapi, disini luar biasanya Kalam. Cara pandang penilaian orang (labelisasi) yang mungkin menganggap dia ’lemah’ (ya minoritas karena dia Islam, background dari teknik insinyur yang dinilai biasanya kurang mengerti sosial-lingkungan, agak kaku dalam pandangan dan sikap, dll), nyatanya dia berhasil mengubah semua ’kelemahan’ itu menjadi faktor kekuatan. So, dia bukan saja seorang populis, technical researcher insinyur yang speak with data soal kebenaran fakta, sangat sadar lekat tentang eksistensi budaya India dengan 1,2 milyar penduduk, he is also a creative person.

Proses, hasil dan dampaknya jelas. India yang dulu sangat terasa kurang diperhitungkan, kini semua orang di dunia tau, apapun komentarnya – kini bersama Tiongkok (PRC, Chungkuo) menjadi calon-calon negara maju di planet ini.

Nah, untuk kita di Indonesia bagaimana ya? Masihkah kita atau anda terutama yang merasa jadi orang2 minoritas, seperti warga Kristen/Katolik dan non-Islam lainnya, warga bukan berasal dari suku mayoritas (Bali, Batak, Dayak, Melayu, Bali, Mandar, Mori dan non-Jawa lainya), atau bukan warga etnis mayoritas di negeri ini (keturunan Tionghoa, Arab , India , Melanesia ) - mungkinkah masih ada ’rasa malu yang keliru, yang tidak pada tempatnya (RMK), rasa takut, jeri, minder, sikap pasif keliru (pasif nyaman tapi berada dalam ’ghetto’ teralienasi – keterasingan dari dunia sekitar). Oleh karena masih ada rasa ’tidak pede’ sebagai kaum minoritas, rasa bayang2 akan mengalami trauma seram yang tidak pernah ’diputus’ akibat bayang2 tirani mayoritas masa lalu. Padahal nyatanya sebenarnya bayang2 itu ternyata tidak seseram kenyataannya. Seperti Kalam yang bukan siapa2 bisa, seyogianya kita generasi kita generasi sesudah kita bisa kan..

’Abdul Kalam Abdul Kalam’ yang lain hemat saya perlu lahir 'segera' di Indonesia. Bukan hanya untuk nempati pos jadi presiden, gubernur DKI atau pos Kabinet/Menteri nanti 2009, tapi juga menempati pos2 strategis lainnya ke depan: jadi bupati2 dan kepala2 desa di seantero tanah air. Bukan hanya di domain politik pemerintahan eksekutif, tapi juga ’Kalam-Kalam’ lain lahir di dunia pendidikan, litbang, iptek, legislatif DPR/DPRD I, II; di dewan2 regulator usaha, dunia hukum, LSM/LSM, BUMN2, UMKM/koperasi dan Perusahaan swasta besar. Satu lagi, dunia moral, agama, spiritualitas dan theologi juga keharusan sejatinya, begini ini bentengnya.

Jujur saja, kita sudah sangat merindukan ’Abd Kalam-Abd Kalam’ Indonesia, termasuk yang muda2 yang multi-skills, multi-talent leader lahir di negeri kita. Tidak hanya bisanya di satu bidang, bidang ekonomi saja. Tapi juga bisa memadu-padankan kekuatan reputasi moral dan spiritualitas misalnya dengan knowledge skills ekonomi, sosial, ke’seniman’an, naluri keadilan sosial, dst. Filsuf Plato pernah bilang, seorang yang bijaksana tidak cukup hanya punya satu cabang disiplin ilmu atau bidang minat. Paling tidak perlu 2-3 cabang ilmu/minat. Nah, ’Plato’ masa kini akan bilang, bahwa era sekarang dan ke depan, adalah era leadership dimana untuk seorang pemimpin dibutuhkan penguasaan cabang ilmu integrated, era transformasi dalam keutuhan (holistik). Itu semua untuk memimpin

Andai saja di DKI Jakarta (yang sedang pilkada dan sarat golput lk. 50-65%), Bekasi, Tangerang, Tobasa, Humbang Hasundutan, Rura Silindung, Sukoharjo, Bantul, Ponorogo, Sidoarjo, Jember, Tulang Bawang Lampung, Tembilahan Riau, Toraja Selayar Sulsel, Mamasa Sulbar, Morewali Toili Sulteng, Keerom Papua, Lease Maluku, Landak Kalbar, Karangasem Bali, Belu Manggarai Alor Waikabubak NTT, Singkil Blangkejeren Aceh, Mentawai Sumbar, dll dll punya kualitas2 leadership seperti Abd Kalam, wah betul2 menjadi suatu kemewahan dan anugerah kasih karunia bagi kita. Atau, paling tidak mendekati..’vektor’nya menunjuk ke kualitas seperti itu..... Maka tidak mustahil potret peradaban di kabupaten kita, desa kita, kota kita, negeri kita akan dipimpin oleh para pemimpin perubahan dalam satu agregat peradaban yang semakin tumbuh dan berkembang menuju kualitas hidup yang lebih baik, lebih gembira, makmur dan sejahtera.

Mungkin perlu juga sometime kita bisa jumpai beliau ke sana, atau bagaimana kita undang saja Abd Kalam ke mari ya untuk berbagi dengan kita.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment