Thursday, July 26, 2007

Soal Penggalangan Dana Bagi Perjuangan (untuk Kebenaran).

Soal galang menggalang dana ini menjadi ekstra penting di kalangan aktivis yang masih punya idealisme perjuangan di berbagai komunitas perjuangan tanah air. Dari dulu hingga sekarang, ini menjadi semacam kendala, apalagi sejak diterpa krisis. Duit atau dana semakin tidak gampang diperoleh.

- Sikon ekonomi yang sulit di dalam negeri, membuat perjuangan2 yang umumnya dilakonkan oleh aktivis pejuang menjadi tidak mudah lancar bergerak, karena 'mobil saja butuh bensin', 'bensin' menjadi berperanan sangat penting.

- Kalaupun dibilang saat ini Indonesia punya pertumbuhan ekonomi cukup tinggi 6.3%, masalahnya ada benarnya yang dibilang ISEI/Burhanuddin Abdullah, tidak ada terjadi trickle down ke bawah ke komunitas2 grass roots yang kebanyakan bergerak dengan idealisme. Yang ada trickle-up effects; hanya beberapa gelintir orang di negeri ini, di Singapura dan negara lain yang punya banyak dana/duit yang berkepentingan dengan negeri ini.

- Kebanyakan beberapa gelintir yang punya banyak dana ini, disinyalir kaum neo-liberalis kapitalis malah 'keder' sangat takut dengan yang namanya eksistensi perjuangan idealis komunitas untuk kebenaran. Mereka 'mau bantu' sepanjang kepentingan bisnis dan politiknya di negeri ini yang kebanyakan "ershad capitalism' kebanyakan tidak didasari dengan moral legal politis etis, bisa didukung berkelanjutan. Bisa tetap eksis sebagai 'raja-raja' dan elit2 despot.

- Tarik menarik tarik ulur negosiasi dengan aktivis perjuangan kebenaran terjadi, mau kami bantu asal lunturkan idealisme perjuangan. Kira2 begitu bahasa terangnya. Kalau mau genderang perang dengan kami, berhadapan dengan kami, sampai kapan pun anda tidak akan kami bantu. Power uang dan idealisme menjadi terkonfrontir sering secara diametral.

- Para aktivis perjuangan, sering tiba pada persimpangan. Mau meneruskan perjuangan idealisme atau berhenti mengurangi daya gebrakan penjebolan ketidak-benaran, ketidak jujuran alias mulai melihat kepentingan "tuntutan hidup", tuntutan hidup keluarga anak isteri, perlu motor mobil, rumah dll dll.
Di sini berkonfrontasi kembali antara kepentingan "panggilan hidup panggilan perjuangan kebenaran" dengan "tuntutan hidup tuntutan perut dan uang kebutuhan sehari2 kebutuhan kesenangan kenyamanan hidup".

- Maka tidak jarang karena sulitnya mendamaikan keduanya (panggilan hidup perjuangan dan tuntutan hidup), para aktivis atau yang dulunya adalah aktivis paling jempolan, memilih jalan realistis paling realistis kata mereka, untuk diam, pasif, tidak berjuang lagi, dan penilaian yang masih committed sebagai "Pengkhianatan" , para pengkhianat2 dari yang paling keji sampai dinilai "aktivis abu-abu", hanya mementingkan perut dan keluarganya sendiri.

- Diperkirakan di negeri ini yang masih committed terhadap aktivitas perjuangan paling banyak 10% saja, sedang sisanya sudah hilang, tertelan pindah habitat ke tangan2 tidak keliatan yang memegang banyak2 uang. Reformasi sedang bergelinding, menampakkan 'kelas menengah' dan 'kelas bawah' dengan persentase sekitar 50-60% semakin celik sadar dan kritis untuk memihak yang mana.

- Perlu sekali memenangkan kaum kelas menengah (menengah atas, menengah bawah), meski pun mereka tidak begitu memiliki dana, bahkan tidak punya dana tabungan untuk masa sekarang), tapi mereka memiliki akses, networking jaringan, keahlian, dst.

- Sementara donor2 di luar negeri juga sarat kepentingan politik, ekonomi dan ideologi. Ada yang ke agama (label kristenisasi, islamisasi dll), ke pelestarian tradisi, ke ideologi kiri, dan ideologi neoliberal kapitalis. Jika tidak mau merapat, bernaung dalam ideologi mereka, agak tidak jelas, tidak kooperatif, tidak sesuai dengan syarat2 mereka yang semakin ketat di era sekarang, tidak mungkin untuk dibantu dengan dana apalagi dengan jumlah besar.

- Para pebisnis, eksekutif perusahaan, pejabat bumn, instansi dll meliat situasi ini lebih banyak diam, cerdik cari selamat sendiri, pasif. Poltik bisnis etnis, kedaerahan, ideologis, background partai sangat banyak berperan dalam pertimbangan. Walhasil pasif, tidak jelas untuk bertindak ke mana. Lebih baik masuk 'getto' cari aman, daripada nasib sama dengan Neloe, Rochmin Dahuri, dll dll.

Betul strategi penggalangan dana, perlu segera di rencanakan agar tepat, bersih dan halal, tidak 'mengotori' roh perjuangan kebenaran.

Mencari pemberian, bantuan, dana tanpa ada 'apa-apanya' tanpa ada pamrih, memang tidak mudah, tapi masih ada kesempatan untuk bisa diperoleh. Haruslah para aktivis perjuangan optimis.

Harus ada jalan alternatif. Para aktivis perjuangan kebenaran jangan sekadar bikin list untuk meminta donatur. Hanya bikin proposal, menyebarnya, untuk cari-cari dana. Mungkin salah satu usaha, harus punya divisi usaha (wirausaha) dan usaha self employed sendiri. Melakukan wirausaha di berbagai bidang: pertanian, ikan hias, perikanan, tambak, isi ulang, bimbingan les belajar, konsuntan, keagenan, mengajar, advis hukum, dll dll.

Bantuan donasi dana sekarang ini semakin penuh dengan muatan pamrih politik, cari nama popularitas, melanggengkan kekuasaan KKN dan imoral, melanggengkan bisnis imoral, against kebenaran dan kejujuran universil itu sendiri.

Sekaranglah waktunya para aktivis, kalau tidak ingin 'jatuh', tidak boleh berjalan sendiri-sendiri lagi. Jaringan tidak kelihatan ekstra kuat, mesti digalang. Termasuk upaya2 making money bukan saja fund raising yang dilakukan dengan cara bersih dan halal. Tidak mungkin menggalang dana dan kerja cari duit sendiri untuk sebagian besar mendanai perjuangan kebenaran, bila dilakukan dengan cara2 tidak benar dan imoral.

Ingat bagi aktivis perjuangan, tekanan internal endogen untuk mau hidup enak, materialisme, hidup hedonis, kenyamanan imoral (unholy motives), dalih2 menyiapkan dana untuk masa depan anak, isteri, dll sangat besar sangat nyata, sangat ekspresif, harus pandai2 menyiasati dan mencarikan solusinya agar keluarga tetap utuh, tetap harmonis, tetap mesra, tidak diracuni oleh "racun dunia" yang memabukkan, yang bisa membuat lupa akan visi, akan misi, akan idealisme perjuangan kebenaran.

Lebih jauh butuh konvergensi mekar. Aktivis.. perlu membuat prioritas dinamis rencana pemenuhan panggilan hidup perjuangan kebenaran dengan pemenuhan tuntutan hidup (gawang keluarga supaya jangan jebol) secara cerdas, bertanggung jawab dan proporsionil.

Untuk di negeri ini, di kabupaten kita, di kota kita, mana yang lebih penting: kemandirian ajaran (theologi cara pandang), daya atau dana. Semua sama penting. Tapi daya, SDM, saya kira masih tersedia cukup banyak orang2 terutama orang muda yang mau berjuang. Dana... menjadi titik alat sentral yang sangat sangat penting.

Salam perjuangan,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

(yang juga masih terus mencari solusi terbaik bagi strategi penggalangan dana yang halal dan bersih di era kemerdekaan ekspresi seperti sekarang dan ke depan).

No comments:

Post a Comment