Tuesday, September 4, 2007

Perenungan: Seputar fenomena fundamentalisme radikalisme agama, pluralisme agama: Kristen & agama2 kepercayaan.

Barangkali perenungan saya ini bisa juga menjadi perenungan kita bersama.

Perenungan terhadap Kristen.
Syahdan, semakin fundamentalis dan radikal seorang kristen umat kristen kristiani, maka yang bersangkutan akan semakin berakar dalam kasih. Kasih yang jujur dan tulus. Mengasihi sesama tanpa reserved. Mengasihi dan mengampuni musuh, yang berseberangan dalam pemikiran, doktrin, karakter, selera dan tabiat. Semakin rendah hati, tidak sombong dan tidak arogan, penuh dengan buah2 Roh.Mau berbagi, belajar menyangkal diri, tidak egois. Mencintai kejujuran, menjunjung etika, menolak tujuan menghalalkan cara. Di sisi lain fundamental dan radikalnya seorang kristen umat kristen, wawasan pengetahuan worldview pengalamannya dan kasihnya terus ditambahkan. Kasih pada saudara, kasih kepada semua orang (komunitas, anak bangsa dan bangsa2). Kasih kepada golongan yang dianggap marjinal (anak2, kaum perempuan, orang miskin, kaum tertindas tertawan, tercecer dan minoritas marjinal dll). Menjadi kristen yang semakin comprehensive, berwawasan berhikmat dan bijaksana dalam mengambil pilihan dan keputusan tindakan. Dapat membedakan mana porsi negara (state), mana porsi masyarakat (society); mana porsi agama (religion) dan mana porsi kebudayaan & bangsa (culture, nation). Dapat menerima dengan kasih dan berimbang, pluralisme agama2 tanpa menafikan keunikan kristen, keunikan Kristus, tanpa maksud dibentur2kan menjadi suatu pertentangan, kebencian dan kecemburuan.

Kesimpulannya: Semakin fundamentalis dan radikalis seorang kristen umat kristen kristiani, maka semakin baik dan sejahtera keluarganya, seluruh komunitas dan bangsanya. Sebaliknya, bila menjadi kristen tidak fundamentalis radikalis alias "nanggung2", semakin moderat bahkan semakin liberal, maka kasih menjadi kompromi terhadap kebenaran. Kasih agape tergerus menjadi kasih persaudaraan biasa (filia, storgi). Sikap menjadi "pluralisme" menyatakan bahwa semua agama sama saja. Sama2 baik dan benar. Banyak jalan ke Roma. Kasih agape niscaya menjadi pudar, berkurang. Kasih niscaya menjadi dingin. Sepertinya penuh cinta kemanusiaan, namun di sisi lain bisa terjadi sebaliknya semakin tidak peduli dengan orang di sekitar. Kreativitaspun dapat menjadi semakin bablas. Bebal. Yang ada kesombongan, aroganisme, dominasi barbar, "dunia serasa hanya miliknya sendiri", haus perang, pertengkaran, manifestasi "perbuatan2 daging", egoisme, individualisme, mementingkan hanya pribadi/keluarga/ golongan sendiri dan kehidupan berciri hedonisme, meniscayakan tindakan bumi hangus. Menghalalkan segala cara, cara kejahatan kecurangan teror violence sekalipun untuk menggapai tujuan.

Perenungan terhadap agama mayoritas. Di sisi lain. Di luar pemercaya kristen di mana Alkitab sebagai basic, sebut contoh agama mayoritas. Semakin fundamentalis dan radikal seorang penganut umat penganut agama mayoritas ini, maka yang terjadi adalah sikap yang melegalkan kekerasan. Tindakan tanpa kasih, terutama kepada kaum yang tidak sekepercayaan seagama dengan mereka; kalaupn ada kasih, hanya untuk pribadi/keluarga/ golongannya saja. Demi tujuan di "jalan Allah" semua cara boleh dihalalkan, berbohong sekalipun. Membalas musuh, baik musuh doktrin, prinsip, selera, karakter dan tabiat, membalas nyawa ganti nyawa, darah ganti daerah, kekerasan barbar ganti kekerasan barbar. Tindakan bumi hangus.
Wawasan tidak dikembangkan, yang terjadi indoktrinasi, tidak semakin comprehensive. Semakin bersikap mengawasi mencurigai pengetahuan yang adalah sumber hikmat. Mengawasi mecurigai ilmu kebijaksanaan, mencurigai sains. Semakin sama sekali tidak dapat membedakan mana porsi negara (state), mana porsi masyarakat (society), mana porsi agama (religion) dan mana porsi kebudayaan dan bangsa (culture, nation). Yang ada adalah menjadi sama2 sombong, "gila" nekat dan arogan, bertindak barbar, menyebar fitnah, provokasi dan teror, haus perang, menjadi "beringas" memancing pertikaian dan pertengkaran, manifestasi "perbuatan2 daging", egoisme, individualisme, "golonganisme" mementingkan diri sendiri/kelompok/ golongan dan kaum sendiri. Nampak luar seperti anti kemaksiatan, memerangi kemaksiatan dan kebatilan, meniscayakan tindakan bumi hangus. Namun secara ke dalam justru hidup "munafik"; hidup dalam kemaksiatan dan hedonisme "terselubung" untuk kalangan sendiri; yang dijustifikasi dan diformalisasi melalui pembenaran2 agama di tengah sempitnya wawasan pengetahuan dan akses informasi umat, kebodohan umat yang "sengaja" diciptakan melalui pola indoktrinasi. Masih sangat sulit menerima keragaman (diversity), pluralisme. Masih sangat ekstrim menerima agama mayoritas 100% unik, keragaman 0%. Karena alasannya agama dengan jumlah penduduk terbesar, mayoritas, terbesar di dunia!

Kesimpulannya: semakin fundamentalis dan radikal seorang umat penganut agama mayoritas ini, maka semakin "tidak berperasaan" , semakin berbahaya bagi kesatuan keharmonisan dan kesejahteraan keluarga, seluruh komunitas dan bangsa. Sebaliknya, bila seorang penganut umat penganut agama mayoritas ini menjadi lebih moderat bahkan lebih liberal, maka akan semakin luas dan comprehensive wawasan worldview pengetahuan akses informasinya yang dimiliki. Semakin toleran, semakin peduli orang lain. Mau berbagi. Ada tumbuh rasa kebersamaan. Memahami eksistensi kepercayaan, doktrin lain. Meski berbeda doktrin, apologet, namun tidak dendam dan tidak barbar. Lebih kooperatif dan mau bekerjasama membangun komunitas, membangun bangsa. Namun, sikap pluralisme bahwa agama dan kepercayaan di mana2 sama, niscaya muncul. Agama mayoritas sama saja dengan agama2 dan kepercayaan lainnya.

Perenungan terhadap agama kepercayaan lain: Budha, Hindu...Di sisi lain lagi. Bagaimana dengan fenomena yang ada di agama lain, di luar kepercayaan kristen dan agama mayoritas, terutama agama2 Timur? Ambil contoh saja Hindu, Budha, Kejawen atau Kebatinan? Semakin fundamentalis dan radikal seorang penganut umat penganut agama-agama dan kepercayaan ini, sama saja dengan agama mayoritas. Diberi tempat mendominasi, maka tidak membiarkan barang sejengkal pun kepercayaan agama lain untuk bertumbuh. Kekerasan demi "ajeg agama", kejayaan agama adalah jamak.

Namun ini fenomenanya bila terjadi sebaliknya. Bila semakin moderat bahkan liberalis penganut umat penganut agama2 ini, maka yang terjadi adalah semakin "pluralisme" dalam sikap dan pemahaman agama mereka. Bahwa agama dan kepercayaan di mana2 sama saja. Mau Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, Kejawen, Kebatinan, itu sama saja. Semua mengajarkan umat masing2 untuk ke Sorga. Banyak jalan ke Roma. Banyak jalan ke Yogya, ke Kuta. Bahkan sebaliknya semakin "awam" penganut umat penganut agama kepercayaan ini, maka semakin "tidak tau apa-apa". "Kosong". Ikut saja kemana angin berhembus. Menjadi pasif tanpa kata tanpa ide tanpa gagasan, menerima saja kenyataan pluralisme agama tanpa reserved, tanpa sikap kritis.

Bagaimana menurut kajian dan perenungan anda?

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:

No comments:

Post a Comment