Wednesday, May 17, 2006

Kemiskinan & Pemiskinan spiritual dan sosial di Tanah Batak: bagaimana mencermati penanggulangannya? (4)

Kekeliruan atau Moral-Hazard yang Sering Terjadi pada Pelaku Pembangunan termasuk di Tanah Batak

Seperti telah diuraikan pada Bagian sebelumnya, upaya pelayanan (ministry), pembangunan atau development baik di bidang spiritual maupun bidang-bidang sosial-ekonomi-politik bukannya tidak ada. Sudah banyak sekali! Dengan berbagai slogan (orang kita senang sekali punya slogan; ditulis besar-besar. Dibuat di atas spanduk. Diucapkan bersama setiap upacara. Namun, pada kenyataannya jarang sekali dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari). Bahasa filsafat-theologinya, punya semangat religiositas yang besar namun defisit dalam persoalan spiritualitas dan theologi). Dengan melibatkan cukup banyak pihak. Gubernur, bupati, elit-elit politik, mobilisator gerakan, peneliti, akademisi, pengusaha, kontraktor, leveransir, polisi, militer, tokoh koperasi dsb. Namun, toh tidak ada perubahan yang berarti di Tanah Batak.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal kan di antara pelaku pembangunan tidak kekurangan banyak orang pintar ada di sana. Punya orang yang spesialis, bahkan super-spesialisasi terlibat. Melibatkan juga orang yang punya kuasa, punya uang. Namun kenapa juga gagal. Tidak ada perubahan yang berarti. Tidak ada transformasi. Orang miskin bertambah banyak kian hari. Di Tanah Batak, yang terpuruk, menganggur dan termarjinalisasi makin menyeruak.

Ditengarai, beberapa kekeliruan mendasar, bentuk mal praktek atau moral hazard telah dilakukan berulang-ulang oleh pelaku pembangunan, pejabat eksekutif, perencana daerah, legislatif, yudikatif, BUMN, BUMD, swasta, koperasi termasuk pers dan kelompok-kelompok masyarakat yang dulu masih berstatus ”floating mass”.

Beberapa kesalahan atau kekeliruan mendasar dari pelaku yang membangun daerah termasuk Tanah Batak, antara lain, adalah :

• (1) Pendekatan pembangunan tidak pernah memakai perspektif pelayanan pembangunan yang holistik. Pendekatan yang dipakai selalu sebagian-sebagian (parsial). Meski jika ngomong, selalu mengatakan itu sudah komprehensif, sudah integratif – terpadu. Namun kenyataan di lapangan, jarang sekali pelaku pembangunan utama pernah melihat kebutuhan orang Batak di Tanah Batak itu secara utuh dalam merancang programnya. Menyangkut kebutuhan spiritual, seni, intelektual, politikal, etika-kreasi-moral, ekonomi-mental, fisik-biologikal, emosional dan emphaty-sosial. Pelaku pembangunan dalam sejarah hanya banyak bermotifkan atau berorientasi kepada motif ekonomi bermentalkan pragmatis dan ”ingin serba cepat dan instant” (mentalitas brokerage), untuk memuaskan kebutuhan ekonomi-mental. Tanggung-jawabnya bukan ditujukan kepada kepentingan publik atau rakyat sebagai customers, consumers, namun ditujukan kepada pada donor pemberi pinjaman, pemberi utang. IMF, Bank Dunia, ADB, IFC dlsb. Akuntabilitasnya ke atas, bukan ke bawah.

• (2) Inilah buah globalisasi dengan perkembangan iptek dan ilmu ekonomi-keuangan-industri yang begitu kuat sejak Rennaissance di abad 13, berlanjut di masa Enlightenment (Pencerahan) Eropa Barat abad 18 dan jaman modern sampai akhir abad ke-20 di AS dan Eropa. Cara pandang global ini, otomatis menelantarkan cara pandang lokal dengan segala kebutuhannya yang unik dan customized. Ekonomi-mental maju, intelektual maju (orang Batak cukup rasional), namun segi-segi lain seperti soal kerohanian, seni, politik yang beretika-bermoral (karakter), kondisi fisik-biologis, emosi dan rasa emphaty sosial dalam toleransi dengan sesama saudara & manusia kurang berkembang. Terasa ketinggalan! Motif ekonomi dan motif intelektual terlalu menonjol. Tidak heran bila yang dicari sejatinya hanya untuk dapat untung dan manfaat, serta kenikmatan dalam berdebat untuk saling ukur kemampuan intelektualitas !! Standardisasi, homogenitas produk, kontrol dan monev (monitoring & evaluation), good-governance menjadi tools ampuh untuk globalisasi. Hal-hal yang bernuansa kerohanian (spiritualitas, aura, taksu), arts atau seni, moral-etika-karakter kepribadian, emosi (perasaan, feel, emphaty) dan sense sosial yang menjadi ciri dari Christian Spirituality dan pola-pola agama-agama Timur macam Hindu, Budha, Kepercayaan pada Tuhan YME (Kejawen, Pangestu) yang menjadi platform kerajaan-kerajaan di Jawa (baca: Javanisasi) acap kali dianggap remeh, bukan merupakan elemen dan prioritas penting dalam hidup. Karena itulah, terjadi defisit kerohanian yang bukan main besarnya pada jaman sekarang – memasuki era abad ke-21 ini. Aura kerohanian atau spiritualias Kristen jarang lagi bisa dirasakan di masa kini. Masyarakat kini termasuk Tanah Batak sedang mengalami kelaparan rohani, kelaparan rohani yang makin tinggi. Meski dinilai belum mencapai puncak atau ”peak”nya; namun dipercaya akan datang waktunya ”tingkat kelaparan rohani” yang paling tinggi akan tiba. Jika ditelisik kitab PL, seperti jaman bani Israel di Gosen, Mesir di kitab Keluaran dan jaman Naomi dan Rut di kitab Rut misalnya, maka kelaparan jasmani (famine) seringkali mendahului terjadinya kelaparan rohani yang teramat sangat. Kelaparan ini akan sangat mempengaruhi seluruh tatanan kehidupan: alam (material lingkungan eko-system, tumbuhan, hewan, fisik jasmani manusia, mental-jiwa dan kerohanian manusia).

• (3) Kembali ke motif ekonomi - tidak lepas dari motif ini serta mentalitas ”broker” seperti diuraikan sebelumnya, pelaku pembangunan (eksekutif, birokrat, legislatif, hukum, LSM, mahasiswa, pers/media, peneliti, perencana, pengusaha, koperasi, banker dsb), selama ini selalu memaknai upaya membangun atau mentransformasi daerah sebagai ”suatu proyek”, lahan bisnis untuk ngobyek. Dari tingkat proyek besar hingga tingkat moco-moco. Dikenal lah mulai istilah ”calo proyek”, makelaar, broker, agent/consulting agent, mediator, konektor, sampai kepada istilah keren ”management services”. Namun semua itu umumnya demi tujuan2 jangka pendek – keuntungan pribadi ”aji mumpung”, jarang berpikir untuk tujuan jangka panjang 20-50 tahun ke depan. Filosofinya kurang lebih ”jika bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah...”. ”Tembak saja (maksudnya sogok saja), toh nanti dimasukkan dalam biaya proyek”. Karena filosofi dan perilaku yang seperti ini, jarang suatu proyek atau program akan membawa dampak kemajuan yang signifikan di suatu daerah. Proyek direkayasa hanya untuk wahana bagi-bagi kue. Tidak pernah dipikirkan sedikitpun, bagaimana orang-orang miskin di tingkat komunitas basis bisa ditingkatkan kemajuannya, mengalami perubahan yang transformatif sehingga memajukan komunitas dan masyarakat menuju tingkat kesejahteraan yang berarti.

• (4) Panggilan atau calling untuk mentransformasi Tanah Batak, dinilai suatu anugerah dari Tuhan, bukan sekadar efforts dari manusia. Jika itu bertolak dari kebutuhan hidup si pelaku pembangunan sendiri, maka pelaku terjebak pada persoalan tuntutan hidup, bukan panggilan hidup dari Tuhan. Persoalan tuntutan hidup ini termasuk bagi orang Batak Diaspora (di perantauan), tidak akan bisa memberi solusi pada transformasi Tanah Batak. ”Boro-boro” untuk memikirkan bona pasogit, hidup di rantau saja sudah sangat sulit. Syukur-syukur bisa hidup. Untuk mikirkan bona pasogit atau komunitas Batak, maaf dulu lah (”Emang gua pikirin”). Tingkatan kehidupan seperti ini, ditengarai tidak akan bisa mampu memprakarsai suatu langkah transformasi. Tidaklah mungkin untuk mengentaskan kemiskinan spiritual dan sosial di Tanah Batak, apabila pelaku-pelaku transformasi masih hidup dalam kondisi miskin rohani dan sosial pula. Bukan ”development for the poor” tetapi ”development from the poor”. Ini mustahil. Orang miskin mau mengentaskan kemiskinan dan pemiskinan yang dialami orang miskin. Yang hanya mungkin, adalah apabila orang yang telah mengalami transformasi kehidupan secara seutuhnya (di bidang iman-kerohanian – pola hidup bersyukur dan memuliakan Tuhan, bidang paradigma dan cara pandang, bidang keuangan, kesehatan dan emphaty pelayanan diakoni-sosial) mulai mengubahkan orang miskin baik spiritual maupun sosial di sekelilingnya sehingga yang tadinya berada pada tahap ”harus ditolong” kini bisa ”berdiri sendiri” dan kemudian ”mulai menolong orang lain pula”. Tentulah transformasi memiliki tahapan-tahapan yang jelas, sistemik dan sistematik, serta ada indikator-indikator atau ukuran-ukurannya yang bisa dilihat dan dirasakan untuk setiap fase transformasi yang terjadi.

• (5) Para pelaku umumnya tidak punya komitmen bersama yang disetujui bersama saat merencanakan pembangunan daerah atau komunitas (Tanah Batak). Tidak atau belum ”alignment” atau ”spooring”, belum sepaham, namun sudah mau keburu jalan sendiri-sendiri; walhasil upaya terlalu cepat dipublikasikan dan dijalankan; jadinya patah di tengah jalan; tidak mendapat dukungan yang optimal dari berbagai pihak. Pelaku pembangunan sejatinya jarang yang memiliki semangat komunal (berdinamika kelompok kecil) yang baik. Kurang memiliki akuntabilitas yang baik di ranah publik, sekaligus bisa diterima dengan jujur dan berintegritas pada suara hati nuraninya sendiri dalam ranah individu. Pelaku pembangunan lebih sering hanya mengikuti kata hati nya sendiri secara individual. Kata hati yang lebih cendrung kepada ”nafsu” untuk main libas, main terjang; bermotifkan ketamakan, sifat rakus dan kemaruk. Kemaruk jabatan, uang, kekuasaan termasuk seks. Akibatnya tidak mengindahkan lawan bicara dalam kaukus, kelompok kecil, rescue group dan lingkar dalam teman sendiri. Cendrung kurang menghargai orang lain, meski pun orang-orang yang menasehati sebenarnya tidak punya vested-interest apa-apa. Tetapi kecurigaan intelektualitas disertai dengan kemaruk ekonomi, membuat rasa penghargaan pada orang lain terasa sangat kurang alias defisit. Rata-rata orang yang mau terlibat membangun daerah (Tanah Batak), dinilai motivasi dasarnya untuk cari nama (agar bisa dikenang, dan disanjung dari sekarang hingga anak-cucu), cari kedudukan dan cari uang; jarang yang benar-benar punya mental agen transformasi/agen perubahan yang berasaskan motivasi melayani secara sungguh-sungguh dan serius, sehingga soal nama, kedudukan dan uang berada di prioritas paling belakang.

• (6) Faktor sejarah tidak bisa disangkal. Ia membuktikan, bahwa jarang sekali pelaku yang merupakan putera daerah sendiri sanggup membangun daerahnya sendiri. Analogi di luar Batak bisa disebut. Mana ada orang Betawi yang bisa membangun Jakarta dari tempo doeloe sampai sekarang? Yang bangun Singapura itu siapa? Kan bukan orang asli Singapura (orang Melayu)? Tapi orang Inggris, Sir Stanford Raffles. Jepang dibangun karena apa? Karena ada Restorasi Meiji, lalu hengkang besar-besaran generasi awal abad 20 ke AS untuk belajar dan meniru, kemudian ada Marshall Plan yang diprakarsai oleh AS. Jadilah Jepang sekarang. Dari thesis ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa akan punya kemungkinan kecil sekali bahkan mungkin mustahil, bila putera daerah Batak sendiri akan mampu membangun daerahnya sendiri. Sedikit menyimpang sebagai analog; Yesus sendiri berkata: ”Kamulah garam dan terang dunia” (Mat. 5: 13-15). Garam berasal dari mana? Kan dari laut. Terang berasal dari mana? Kan bukan berasal dari dunia (bumi) sendiri, tapi dari terang Matahari yang berasal dari luar bumi. Untuk menggarami dan menerangi bumi (daratan), perlu unsur-unsur meski tidak banyak yang berasal dari luar daratan (garam laut) dan luar bumi (terang Matahari).
Kalau dipikir, ekonomi bisnis dan perdagangan Indonesia selama beberapa dekade ini yang bangun siapa sich? Apa bisa dan nyata diperani oleh para pengusaha pribumi atau bumi putera. Kan tidak. Orang-orang pendatang non-pribumi seperti orang Cina, orang India dan orang Arab yang sangat berperan dalam dunia perdagangan di Indonesia. Pengusaha pribumi, sedikit sekali. Paling hanya berasal dari BBM (Bugis, Buton, Makassar), Minang atau Padang, Melayu, Madura, Jawa, Bali dan sedikit orang Batak. Jadi untuk mentransformasi suatu daerah, penting sekali peranan orang luar (outsiders) sebagai penggerak atau agent of change. Tanpa orang luar, sulit sekali suatu daerah akan mampu dibangun dan dikembangkan, spiritual dan sosial.

• (7) Tanah Batak atau Tapanuli sendiri mulai bangkit dari keterbelakangannya, secara historis adalah sejak para missionaris datang ke Tanah Batak (ditetapkan mulai 7 Oktober 1861, melalui misi RMG Jerman). Beberapa kali tim misi/ missionaris itu gagal dalam misi, terbunuh di tanah Batak. Sampai kemudian Ludwig Nommensen, yang dikenal dengan Rasul Batak berhasil dalam misinya di Tanah Batak. Sejak tiga orang Batak dibaptis pertama kali, maka Tanah Batak berhasil dijangkau oleh Injil. Dan sejak Injil masuk ke Tanah Batak, berbagai aspek kehidupan dan peradaban orang Batak mengalami kemajuan yang menonjol: kerohanian atau soal KeTuhanan, pendidikan, kesehatan serta usaha pertanian/perkebunan (agriculture, horticulture). Ia memperkenalkan groups of subjects dalam kurikulum pendidikan modern yang sangat penting kepada orang Batak, yaitu groups of Sciences, Humanity & Social Behaviour. Filosofi Nommensen cukup sederhana. Untuk membawa Tapanuli kepada kehidupan rohani yang dewasa, mestilah didirikan Gereja. Agar putera Batak memiliki jiwa yang pandai, sekolah perlu didirikan. Agar memiliki mata-percaharian yang layak, putera Batak harus bekerja/berusaha disesuaikan dengan potensi alam Tanah Batak; dibuatlah pusat pertanian. Dan untuk bekerja haruslah memiliki badan yang sehat, tidak sakit-sakitan. Maka perlu didirikan rumah sakit. Empat kombinasi program ini menjadi prioritas program Nommensen dalam menjalankan misinya: Gereja, Sekolah, Pusat Pertanian dan Rumah Sakit. Dalam waktu yang tidak lama, 3-4 dekade, sudah sangat terasa perubahan yang sangat positip, suatu terobosan yang dialami oleh Tanah Batak/Masyarakat Batak sejak kedatangan misi Nommensen. Oleh karena itu, pantaslah disebut Tanah Batak dengan kedatangan Nommenssen, mengalami apa yang disebut ”The First Batak Revival”(”Kebangkitan Tanah Batak/Komunitas Batak Pertama”) pada Tahun 1861.

• (8) Hal-hal yang bermuatan dan bernuansa rohani seperti berdoa (doa syafaat dan gerakan doa bersama), devosi-refleksi atau saat teduh, PA (bible-study), nyanyian puja dan penyembahan (praise & worship), ibadah keluarga, spirit dan komitmen memberi serta melayani (servanthood mentality) pada beberapa dekade terakhir, sangat jarang menjadi muatan penting dalam pembangunan daerah – Tanah Batak. Yang terjadi kerap kali, di dikotomikan antara aktivitas program kerohanian dengan aktivitas pembangunan (fisik, politik, pendidikan, dst). Seakan dualisme Plato masih terus dilestarikan. Masalah rohani tidak boleh terlalu dekat dikaitkan dengan masalah duniawi, masalah jasmaniah. Akibatnya, ketimpangan-ketimpangan terjadi dalam pelayanan, pembangunan dan pemberdayaan. Ketika berjalan dengan implementasi fisik, masalah kerohanian tidak diperhatikan. Segan dibilang ”terlalu rohani atau sakral”. Di saat lain, ketika berjalan dengan program spiritual (KKR, doa, pembinaan iman, dll), program pembangunan yang bersifat fisik, infrastruktur, sosial seolah berada jauh di luar sana, menjadi sekadar pelengkap tambahan saja – karena dinilai ”kurang rohani”. Padahal, jarang diingat bahwa Bapak Reformator Protestant khususnya Luther pernah berkata ”Doa adalah setengah dari keberhasilan suatu pekerjaan”. Prinsip ”Ora Et Labora” menjadi penting. Namun, pentingnya kadangkala hanya dalam khotbah dan slogan saja; tidak diimplementasikan secara serius. Doa kadangkala menjadi persoalan pribadi atau individu saja. Padahal dalam Alkitab seperti dalam konteks PL misalnya, doa seringkali dikaitkan dengan kebersamaan, unity, corporate, dilakukan secara bersama-sama dengan sehati dan sikap yang merendahkan diri secara bersama di hadapan Tuhan, tidak melulu sendiri-sendiri. Contoh 2 Tawarikh 7: 14 ”Dan umatKu ... berdoa dan merendahkan diri.... Aku akan memulihkan negeri mereka”. Doa yang dilakukan secara bersama, dalam gelombang dan kegerakan yang sama, sangat penting dilakukan untuk recovery, pemulihan suatu negeri, suatu daerah. Jika menginginkan Tanah Batak dibangun, hal pertama yang sangat penting mesti dilakukan adalah kebutuhan akan dorongan doa yang bergerak secara bersama – gerakan doa khusus untuk Tanah Batak, Komunitas Batak! Gerakan doa menjadi prasyarat mutlak akan terjadinya ”The Second Batak Revival” sesuai dengan perkenanan, waktu dan anugerah Tuhan semata. Pertanyaannya: adakah orang-orang Batak, mereka yang berasal dari etnis Batak secara bersama, dalam gelombang yang sama, sudah mulai menaikkan doa secara bersama bagi pemulihan, pengembangan dan kemajuan Tanah Batak.

Nah, Kini Tiba Saatnya – Bagaimana Kita Secara Bersama Bisa Mencermati Penanggulangan Kemiskinan & Pemiskinan Spiritual dan Sosial yang Terjadi di Tanah Batak

Dari sekian banyak uraian panjang-lebar mengenai sejumlah fenomena kemiskinan dan pemiskinan spiritual dan sosial di Tanah Batak ini, kini tentunya kita mulai bisa mendapat perspektif tentang bagaimana mencermati penanggulangannya: kini dan ke depan.

Tentunya yang kita harapkan, adalah perspektif baru yang mampu mengedepankan pendekatan-pendekatan yang transformatif, bersifat menerobos kebuntuan (”breakthrough”) dan bersifat mencerahkan. Yang bukan sekadar mampu untuk membangun, namun mampu pula mempertemukan ”hati Allah” yang merupakan titik-awal dari misi, dengan ”ragam kebutuhan yang dirasakan” dari umumnya orang Batak di Tanah Batak/komunitas Batak. Sehingga diharapkan bisa terjadi ”The Second Batak Revival” atau ”Revival Batak yang Kedua” yang mungkin bagi sebagian pihak sudah menjadi menjadi impian, doa, suatu obsesi dari wujud beban, visi, doa dan kasih-sayang bagi etnik Batak, orang Batak, Tanah Batak.. Komunitas Batak.

(Berlanjut ke Bagian V).

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment