Sunday, April 15, 2007

Sejatinya Tugas Agama (Kristen, Gereja), Agama2, Masyarakat & Peradaban.

Tanpa niat menggurui, saya ingin sharingkan kepada kita semua sejatinya mengenai tugas agama (kristen, gereja), agama-agama, masyarakat dan peradaban.

Tugas agama, dalam hal ini kita kristen (gereja) baik untuk kalangan internal gereja (mis. HKBP, GBI, GKI,dll) maupun dalam eksistensinya di masyarakat lokal, nasional, Asia dst, mempunyai dua sisi yang selalu saling terkait namun menurut pengalaman bisa bernuansa paradok (paradoks artinya nampaknya saling bertentangan, kontradiktif, namun sebenarnya tidak saling mendukung dalam asas pre-requisite/berurutan).

Sisi pertama, tugas memelihara domba2, menjaganya, membina sampai setiap umat kita mencapai kedewasaan penuh dalam Kristus. Ini bukan hanya tugas pendeta jemaat di lapangan, tapi seluruh elemen: sintua, guru jemaat, evangelis, staff fungsional dan biro sinodal, klasis/distrik, huria, pemimpin wijk, pemimpin keluarga dan individu2 yang telah dewasa dan didewasakan melalui pembinaan2. Panggilan dan tanggung-jawab koinonia, diakonia, marturia (tentunya tugas evangelia, pastoralia, kerygma, evangelia, eduacatia dst) harus terus dijalankan, dioperasionalkan dalam penjemaatannya secara konsisten, tidak boleh sedikit pun ditinggalkan tanpa dalih atau alasan apapun dalam dinamika perkembagan sekarang ini.

Sisi kedua, tugas memelihara dan menjaga peaceful-coexistence, semua umat agar umat kita dapat hidup berdampingan dengan sesama umat beragama lainnya dan dengan umat yang tidak mendasarkan hidupnya pada agama apapun (secular, liberalisme, postmo, free thinkers) dalam semangat perdamaian, respek dan toleransi. Dengan demikian, diharapkan kondisi lokal kita, negeri kita, benua kita ( Asia ) dan dunia sedapatnya bisa bertambah baik, maju (civilized), ordered dan penuh kemuliaan sesuai peta dan teladan Tuhan (imago Dei), jauh dari tindak kekerasan, perseteruan dan kebiadaban.

Fenomena pindah agama kekinian harus dilihat dari kedua sisi ini. Bagi pemimpin gereja dan umat kristen, formal dan informal, sisi yang satu harus dilakukan, namun sisi kedua tidak boleh ditinggalkan. Yang satu tidak boleh dikorbankan, demikian juga dengan sisi kedua. Tidak gampang memang, tetapi wajib dilaksanakan sebagai tugas panggilan (calling). Dengan demikian kualitas, dignitas, tanggung-jawab dan equalitas kristen bersama-sama umat lainnya dapat diwujudkan di tengah masyarakat yang plural (tanpa menafikan singularitas kita) dalam membangun peradaban yang lebih baik dan maju.

Dalam peradaban lokal dan negeri yang sudah maju, keputusan individual untuk memilih re: agama, mazhab atau denominasi memang suatu obligasi (keharusan) dan merupakan keputusan privat atau keluarga, karena diputuskan berdasarkan alasan2 otonomi pribadi/keluarga, kedewasaan perenungan dan rasionalitas serta fairness. Namun masalahnya, di tingkat praxis yang saya ikuti di berbagai lokal daerah di negeri ini yang saya alami tidak demikian. Keputusan pilihan yang diambil masih sangat sarat dengan nuansa rekayasa, pembenaran diri dan mentalitas sempit, flickle (berubah-ubah) dan berjangka sesaat untuk kepentingan taktis. Nuansa alasan sekularitas juga sangat tampak, karena makin tipisnya kepedulian terhadap agama dan ketidak-sanggupan agama memberi contoh/teladan di tingkat aplikasi dan praxis keseharian. Sehingga otentisitas pilihan boleh jadi diragukan.

Ironinya, faktanya banyak kristen dan elemen gereja menekankan hanya sisi pertama namun lupa, tak mengerti sehingga mengesampingkan sisi kedua. Lebih malang lagi, kedua sisi tidak dilaksanakan sama sekali, malas, arogan namun takut dan bodoh. Secara analogis dan kemiripan, banyak agama di negeri kita dan bagian dunia lain, yang hanya memperjuangkan mirip-mirip seperti sisi pertama tugas panggilan kristiani, tapi kasat mata mengabaikan atau meniadakan sisi kedua. Bahkan yang dilakukan secara tidak fair dan sportif justru mengupayakan bagaimana agar sisi kedua jangan sampai dapat tercipta, baik melalui statement2, aturan2 yang dilontarkan maupun berbagai tindakan terorganisir yang sengaja menimbulkan perpecahan, kericuhan, konflik, perang dan situasi chaos di berbagai tempat – di aras elit maupun di tingkat basis, yang dikelola secara berkesinambungan guna melakukan intimidasi dan pemaksaan berdasarkan kepercayaan dan agamanya.

Kaum sekuler dan liberalisme, sudah lama tidak suka dan tidak menyukai sisi pertama untuk dilaksanakan. Tidak memperdulikan agama, khususnya yang bersumber dari Timur Tengah, dianggap hanya menjadi pemicu serta sumber kekerasan dan malapetaka di dunia. Mereka hanya memperjuangkan sisi kedua, untuk memperjuangkan kehidupan dunia yang lebih baik, lebih bisa serba bebas dan beradab. Kaum postmo pun demikian. Tidak menjadikan agama atau agama-agama khususnya yang bersumber dari Timur Tengah sebagai referensi. Melainkan bentuk kepercayaan mitos2 belief lokal yang disintesiskan dengan kepercayaan2 agama Timur non Timur Tengah serta sosiologis pemikiran2 global yang berkembang di Barat.

Maka menurut saya, sudah saatnya kita dalam lingkungan internal Kristen sekarang ini, tidak perlu/tidak usah lagi mendikotomikan mana pendeta (clergy) dan mana kaum awam (laity) di belakang kepala kita. Sudah waktunya sekarang, baik itu kaum praktisi, staf biro fungsional, pengamat maupun pemikir Kristen bahu-membahu agar sisi pertama dan sisi kedua dari tugas panggilan Kristen di tengah dunia ini terlaksana dengan baik secara seimbang-dinamis, penuh tanggung-jawab dan konsisten.

Segala kekurangan dan kealpaan tidak ada salahnya untuk diakui. Kekeliruan agama, masyarakat dan peradaban baik di tingkat paradigma, konsep maupun praxis tidak perlu ditiru. Selanjutnya mari kita bangun bersama semangat ketekunan, pendewasaan, keterbukaan, pemulihan, pembelajaran berkelanjutan, keberhasilan2 pertama dari lingkungan yang menjadi area kontrol dan concern kita, kedua peaceful coexistence di tengah masyarakat dan dunia.

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment