Thursday, March 6, 2008

Sharing Umum Saya/Kami tentang Papua Sekarang.

Ini sharing umum saya/kami tentang Papua sekarang.

Base camp misi pelayanan saya/kami - El Trinitas Ministry Indonesia/Lembaga Pintu Gerbang Timur Indonesia (Eastern Gate, Indonesia) sejak 2005 ada di Papua. Saya kerap beberapa kali ada dan tinggal di Papua dalam rangka misi pelayanan.
Kadang tinggal di beberapa daerah Papua sampai 4 minggu-1 bulan, tiap kali kunjungan.

Dalam interaksi kami, kami berusaha "mendengar" suara (mudah2an suara hati ya) ckp banyak elemen2 pihak-pihak yang ada di Papua sekarang.

Tujuan misi pelayanan kami adalah untuk pemberdayaan gereja, lembaga, komunitas dan masyarakat Papua ("Go East Mission") -- sesungguhnya juga untuk pemberdayaan "kantong-kantong Kekristenan" lainnya spt di Maluku, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa & Bali yang kami yakini merupakan fakta yang sudah harus dijalankan.

Papua dalam pandangan kami adalah pintu gerbang timur Indonesia sebagai pijakan penting bagi pemulihan/bangkitnya negeri ini. Pertama, bagi Papua sendiri. Kedua, bagi Indonesia tercinta.

Situasi umum (menurut pandangan kami) ttg Gereja-Gereja di Papua sendiri.
Ada gereja khususnya yg non-katolik yang masih betul2 independen thd intervensi Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Tapi tak sedikit juga gereja-gereja yang katakanlah sudah "terkooptasi" dgn kepentingan Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Terkait dgn dana tentunya. Dana Otsus Papua. Karena yg menjadi majelis pimpinan gereja2 dan "penyokong" dana gereja adalah mayoritas para birokrat Pemda, kaum profesi perusahaan/pengusaha papua. Sehingga suara gereja2 demikian ini cendrung sama suaranya dgn yang disuarakan dgn Pemerintah/Pemda dan kaum profesi perusahaan/pengusaha tmsk TNC/MNC (korporasi global) di papua. Gereja keuskupan katolik spt misalnya di Agatz, Sorong, Merauke, relatif masih lebih indenpenden di banding gereja2 yang non-katolik. Ada relatif sedikit pendeta yang tidak/belum terjun praktis dalam parpol. Tapi kian hari lebih banyak jumlah pendeta kristen dari gereja-gereja di papua yang terjun praktis aktif di parpol. Paling banyak tersebar turut politik praktis di PDI-P, Golkar, Demokrat, PDS, dst.

Situasi umum Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 di PapuaDi Jayapura, Merauke, Sorong dll secara umum relatif semakin tidak banyak menurut kami yang masih yakin terhadap peran gereja di papua untuk mampu lebih signifikan dan independen menyuarakan suara Gereja, yang niscaya berbeda dgn apa yang disuarakan oleh Pemerintah/Pemda papua dan kaum profesi/perusahaan. Secara heuristik, cukup banyak dari mereka yang memilih berpandangan Sekularis, bahkan menurut kami ckp banyak juga yang mengaku kembali kepada kepercayaan tradisional mereka - kepercayaan orang Papua kpd leluhur mereka. Sebagian lagi membangun persekutuan2 (doa) kristen sendiri di luar/di samping Gereja.

Situasi umum Pemda2 Birokrasi di Papua
Relatif sangat sibuk juga dgn pengelolaan dana otsus yg diberikan Pemerintah Pusat. Sesuai amanat SBY, penyaluran dana otsus selain disalurkan melalui birokrasi pemerintah/Pemda2, disalurkan juga melalui lembaga-lembaga keagamaan. Melalui mayoritas gereja-gereja non-katolik di wilayah Papua bgn utara, dan mayoritas lewat gereja-gereja katolik di wilayah Papua bgn selatan. Ckp besar juga dana disalurkan kpd lembaga2 islam seperti yg dilakukan di Merauke, Sorong, dll.

Situasi umum perusahaan2 TMC/MNC di Papua
Umumnya kegiatan penambangan dan ekspoitasi kayu hutan (contoh: kayu gaharu papua)terus dilakukan, spt Tangguh Project/Bintuni, Freeport/Timika, Korindo kayu Korea di Merauke, dll meskipun berbagai kritikan terus bermunculan dari pelaku2 LSM/NGO lokal, nasional yg didukung oleh LSM/NGO internasional terutama yg bergerak di bidang pemberdayaan sosial, filantropis dan pelestarian lingkungan. Program2 community development coba diterapkan oleh perusahaan TMC/MNC Papua itu. Ada yg antara lain menerapkan konsep "Enterprises Resource Development Center" (EDRC) oleh perusahaan British Petroleum di Bintuni, namun konsep itu nampaknya tidak semudah yang dipikirkan atau direncanakan. Beberapa aktivis LSM sosial-ekonomi dan social workers yang cendrung mau kooperatif - LSM/NGO pro kebijakan TMC/MNC (bukan LSM/NGO independen yg boleh disebut masih memiliki idealisme sbg LSM) coba untuk terus direkrut oleh perusahaan TMC/MNC ini. Namun, apa yang telah diretas dgn konsep sejenis EDRC ini masih saja relatif belum dapat memenuhi ekspektasi ckp banyak elemen-elemen masyarakat lokal di Papua, antara lain LSM/NGO yg tidak pro kebijakan TMC/MNC dan relatif mayoritas Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 dan masyarakat lokal indigenous di Papua.

Situasi umum Masyarakat asli Papua sendiri.
Sebagian sudah bersekolah bahkan sampai PT (spt di Uncen, Univ/sekolah2 tinggi di Merauke, Manokwari, dll), namun masih relatif sangat banyak yang belum mau bersekolah. Yang hidup dengan "meramu" (hidup primitive hanya tergantung langsung dari hutan, sungai dan pantai) masih sangat banyak bersebaran. Anak-anak asli papua untuk di asrama kan, dibiasakan dgn pola hidup asrama, pun sangat sulit. Jumlah asrama pun masih minim. Lebih suka hidup "melanglang" di hutan, di pantai laut, di pinggiran sungai, dll. Ini dijumpai banyak sekali di Merauke, Boven Digul, Mappi, Pantai Kasuari, Peg Bintang, Kaymana, Nabire, dst. Kehidupan yang tidak mau sekolah, kesehatan sangat minim spt ini, menjadikan anak2 Papua juga masih sangat terikat dgn kebiasaan "ngelem", minum/mabok, makan pinang dan membuangnya sembarangan, tawuran massal/perkelahian massal, perang antar suku, hidup seks bebas ala tradisional (menyebar HIV Aids), kebiasaan mencuri juga, malas dan hanya mau minta2 sama orang, dll. Hidup dgn alat musik tifa di rumah2 adat mereka, merupakan pemandangan biasa. Sebagai contoh saja, untuk kalangan gereja katolik semisal di Asmat/Agatz belum ada satu orang pun anak asli papua yang mampu ditahbiskan jadi pastor orang asli sampai tahun 2008 ini di era abad 21 ini. Koteka masih ckp banyak ditemui di Pantai Kasuari, Wamena, Peg Bintang, Atsy, dll, yang akrab dgn kehidupan sungai2 panjang melintasi papua dan sarat dgn buaya.
Sangat banyak jumlah sub-etnis di Papua. Tahun 2008 tercatat ada sekitar 251 sub etnis/suku-suku yang berbeda bahasa, dialek dan jenis2 tari2annya di seluruh Papua. Yang menyatukan bahasa mereka, apalagi kalau bukan bahasa melayu indonesia khas papua. Seperti kata-kata: "mo pi mana", "so pi apa", dll. Secara adat dan budaya lokal, sebagian kepentingan mereka relatif terwakili lewat wadah Majelis Rakyat Papua (MRP).

Situasi umum Masyarakat Pendatang.
Paling banyak berasal dari Makassar, Jawa, Bugis, Buton, Toraja, Tual Maluku, Sulut dan akhir2 ini dari sebagian lagi Tionghoa/Cina, Bali dan Batak. Paling banyak sebagai pengusaha dari skala kecil dan sedang, birokrasi Pemda, profesional staff karyawan, polisi/tentara, aktivis LSM dan guru/pendidik. Bule2 dari Eropa dan Amerika yang datang ke papua umumnya untuk tujuan bisnis TNC/MMC, aktivis LSM dan kepentingan gereja.

Situasi umum Lingkungan.
Hutan yang menghiasi Papua, sungai pantai dan air, dari Sorong Manokwari sampai Kaymana. Dari Mimika Timika sampai Agatz. Mappi Merauke sampai Boven Digul. Jayapura sampai Keerom. Wamena sampai Peg Bintang. Nabire sampai Biak. masih boleh dikatakan lebih relatif hijau dgn seluruh garis pantai kebiru-biruan. Meski kayu gaharu semakin sulit untuk diperoleh sekarang. Hutan sedikit demi sedikit mulai tertebas. Tapi memang bila dibandingkan hutan sumatera, kalimantan dan sulawesi, papua memang belum "serusak" tiga pulau utama lainnya ini. Papua kini menjadi satu2nya pulau besar yg boleh dibilang di negeri ini yg menjadi last-ressort, benteng lingkungan terakhir, yang relatif belum terusakkan. Apakah pulau besar ini juga akan menjadi rusak lingkungan alamnya? Generasi ini yang bisa menjawabnya!

Situasi umum lainnya terkait pihak kepolisian dan TNI , yang menjaga teritorial dan keamanan dan ketertiban, tidak jauh berbeda dgn kondisi polisi dan TNI di wilayah-wilayah "luar" dan "terluar" dari Pusat Jakarta. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Mereka juga nampaknya berupaya bagaimana bisa survived. Upaya2 untuk mengcreate dan mengelola konflik baik melalui isu GPM, persoalan lintas batas semacam di wilayah Keerom dan sebelah timur Merauke (dgn Papua Nuigini) dan daerah2 konflik pedalaman lainnya, fenomena ini selalu ada. Tidak saja untuk kepentingan Pusat, kepentingan TMC/MNC, tapi terlebih juga untuk kepentingan (ekonomi) sendiri/korps sendiri.

Nah.., dari sekian informasi situasi umum yang telah saya/kami sharingkan di atas (minimal dari cara pandang kami), saya atau kami ingin sampaikan: Jika kemudian ada perbedaan pendapat, pandangan atau apa saja tentang Papua dan apa yang terjadi di Papua, -- bahkan bertolak belakang sekalipun ---, maka latar belakang situasi umum di atas ini barangkali dapat membantu sedikit dalam mengungkapkan mengapa sampai terjadi kesenjangan2 dari perbedaan tersebut.

Bisa ditelusuri apakah itu karena merosotnya faktor iman, peran signifikansi gereja yg semakin melemah, faktor pilihan kebijakan pimpinan birokrasi Pemda birokrasi pengusaha dan generasi muda, perbedaan latar belakang keilmuan, kecendrungan arah faham kapitalis atau sosialis, faktor egoisme atau kepentingan uang, faktor pelestarian lingkungan atau kesenjangan antara orang asli indegenous dan kaum pendatang.

No comments:

Post a Comment