Monday, January 22, 2007

Bagaimana Sikap Kita Ketika Kita dan Pacar Kita Memutuskan Untuk Berpisah

Tulisan ini ditujukan bagi mereka generasi muda, pemuda dan pemudi yang sedang dan pernah terlibat masa berpacaran, menuju jenjang pernikahan.

Memutuskan untuk Berpisah: Kadang Tidak Mengenakkan!
Keadaan atau saat dimana kita dan pacar kita harus memutuskan untuk berpisah adalah situasi yang kadang teramat sulit untuk kita terima dan lalui. Bagaimana tidak? Situasi untuk berpisah kadang tidak mengenakkan. Apalagi kalau berpacarannya sudah relatif cukup lama. Tahunan. Tidak mudah untuk memutuskan. Kenangan baik yang pahit dan manis sudah cukup banyak dimiliki. Pasti ada yang namanya sakit, bila berpisah. Seperti ditusuk sembilu (broken-hearted). Ada rasa luka (wounded-feeling). Bagi mereka yang relatif baru berpacaran saja, missal baru beberapa minggu atau beberapa bulan, lalu kemudian putus hubungan, akan mengalami perasaan luka dan sejenis trauma, meski masih relatif kecil. Apalagi bagi yang sudah yang berpacaran lama. Luka dan traumanya pasti lebih besar. Pikiran, emosi dan hati menjadi tidak karuan, sulit terkendali. Pikiran mandeg, kusut, kalut. Emosi meluap-luap. Marah-marah, sedih, stress, larut dalam tangis dan air mata. Betul-betul suasana perasaan tidak enak, hati tak nyaman. Hancur hati. Tidak enak makan, tidak enak minum. Konsentrasi terganggu, belajar jadi kacau, sering melamun dan mengurung diri dalam kamar. Begitulah kalau orang sedang dirundung kesedihan karena putus hubungan pacar.

Keputusan Pisah: Suatu Bentuk Kehilangan
Putus hubungan pacar atau keputusan pisah adalah merupakan bentuk kehilangan. Kehilangan suatu relasi khusus atau hubungan dekat. Orang pasti tidak suka bila kehilangan. Kehilangan kecil ataupun besar. Apalagi terhadap orang yang kita kasihi atau pernah kita kasihi. Bila kehilangan atau keadaan putus hubungan pacar ini tak tertangani dengan baik, bias menyebabkan orang yang mengalaminya stress berat alias depresi. Bagi yang tidak kuat, depresi dapat membawa efek atau ekses-ekses yang negatif. Orang bisa “lari” ke hal yang tidak baik akibat keadaan hati dan jiwa terganggu. Tidak dengar orang tua, berontak, menjadi nakal dan jail, bisa nyerempet ke persoalan kriminalitas seperti minum, mabok, mencuri, mesum, obat tidur bahkan sampai mengkonsumsi narkoba (drugs). Tragis memang. Tapi kenyataan ini kerap kita jumpai di tengah masyarakat di era global sekarang ini. Namun sebaliknya, bila keadaan putus pacar dapat tertangani dengan benar, maka stress yang diakibatkannya, bisa teratasi tanpa menimbulkan efek-efek atau ekses-ekses negatif yang tidak diinginkan. Malahan pengalaman perpisahan ini dapat menjadi pelajaran berharga yang sangat indah dalam kehidupan selanjutnya. Tentu ini semua akan tergantung pada kondisi kepribadian kita dan mantan pacar kita, terkait tingkat kedewasaan emosional, mental, iman kerohanian, moral dsb.

Pentingnya Menyikapi Secara Baik & Benar
Nah, sebagai remaja atau pemuda Kristen (mis. sbg warga Gereja/HKBP, GKI, GBI, dll) sudah selayaknya kita mesti siap; tidak boleh menutup mata lagi terhadap fenomena serta kondisi yang bisa terjadi dalam kehidupan, apalagi di era sekarang. Terutama jika hal itu harus terjadi atas kita. Bagaimana sikap terbaik yang harus diambil, sehingga saat harus memutuskan untuk berpisah serta melalui masa-masa sesudah perpisahan tersebut, kita tetap dapat berdiri teguh…tidak goyah, (band. 1 Kor 15: 58), kita dapat terus bertumbuh, berakar dan semakin menjadi dewasa di dalam Kristus (band. Kol. 2: 6-7). Kita mesti tetap meyakini bahwa rancangan Tuhan atas kita, sekalipun kita mengalami hal seperti ini, adalah rancangan yang penuh damai sejahtera (Yer. 11: 29).

Sikap-sikap terbaik yang bagaimana disarankan saat kita dan pacar kita memutuskan untuk berpisah, berikut ada enam (6) langkah efektif yang bisa dilakukan :

Pertama, lakukan terlebih dahulu analisa/evaluasi bersama ke belakang, apa yang sebenarnya menjadi motif kita dan pacar kita selama ini berpacaran.
Seperti diketahui, ada beberapa motif orang memutuskan untuk berpacaran (lihat boks). Ada motif yang sehat, namun ada pula motif yang tidak sehat.


Motif-Motif dalam Berpacaran

(1)Motif ketertarikan - saling tertarik .(saling naksir) yang murni dari keduanya; merasa ada kesesuaian/ kecocokan, merasa memang sudah waktunya untuk berpacaran menurut keduanya. Ini motif yang sehat dan normal.
(2)Motif hanya ingin main-main, coba-coba. Motif seperti ini seringkali tanpa ada komitmen yang jelas (istilah sekarang HTS: hubungan tanpa status atau HTK: hubungan tanpa komitmen), tanpa hubungan dan komitmen yang jelas, hanya motif kemesraan atau orientasi seks (istilah sekarang TTM: teman tapi mesra). Ada juga karena malu dibilang single/jomblo terus, atau agar dianggap mengikut trend, dsb. Ini motif yang tidak sehat.
(3)Motif salah satu dari keduanya hanya karena rasa terpaksa saja untuk berpacaran, tanpa perasaan tertarik (naksir) apalagi karena cinta. Motif ini alasannya bermacam-macam:
(a)“Dijodoh-jodohkan” teman, padahal merasa tidak sesuai tidak mau diungkapkan.
(b)“Dijodohkan” orang tua, atau pihak lainnya, dalam kondisi yang sama dengan di atas, dan tidak mau diungkapkan
(c) Alasan hanya ingin memperoleh manfaat atau keuntungan dari yang akan dipacari (istilah sekarang: “ngelaba”), motif hanya ingin membuktikan kepada teman bahwa ybs dapat menaklukkan cinta lawan jenis pasangannya, dll. Motif ini juga tidak/kurang sehat.

Jika berpacaran kita dasarnya karena motif nomor (2) dan/atau (3), sadari dan akuilah bahwa motif tersebut tidak atau kurang sehat, apalagi untuk dijalankan sebagai remaja/pemuda Kristen anak Tuhan. Bersyukurlah jika hubungan berpacaran tidak diteruskan. Ada maksud Tuhan di balik kejadian itu. Karena jika diteruskan bukan malahan membawa berkat, tetapi justru kelak akan membawa resiko akibat yang tidak baik dan merugikan. Secara moral, kerohanian, mental, ekonomi, fisik dan masa depan masing-masing (MDS: masa depan suram). Apalagi kalau sampai masuk jenjang perkawinan, tentu akan berakibat fatal, perkawinan tidak akan berjalan lama alias mengalami perceraian dan penderitaan! Namun, jika berpacaran kita dasarnya adalah motif nomor (1), motif saling tertarik secara tulus karena merasa ada kesesuaian, ini merupakan hal yang normal, sehat. Penting sebagai pengalaman terbaik. Selanjutnya, perlu langkah evaluasi/analisa berikut pada hal kedua berikut.

Kedua, lakukan analisa/evaluasi lebih lanjut mengapa kita dan pacar kita harus memutuskan untuk berpisah (“Mengapa Harus Berpisah”). Penyebab2 keputusan berpisah atau pemutusan hubungan pacaran, umumnya disebabkan faktor berikut :

1. Faktor internal: pertidak-sesuaian (ketidak-cocokan) antar keduanya yang tidak dapat dipecahkan atau diatasi lagi (menyangkut diri pribadi masing2, masalah fondasional/mindset/life values dan masalah komunikasi).

2. Faktor eksternal: ketidak-setujuan dari orang tua atau keluarga, dan pihak ketiga lainnya/lingkungan di luar orang tua/keluarga (teman, kolega, pimpinan gereja, perusahaan, dll)

3. Kombinasi antara faktor internal dan eksternal.

Faktor internal, berupa pertidak-sesuaian pribadi biasanya terkait dengan ketidak-cocokan factor-faktor tampak luar dan factor tampak luar, yang setelah dikaji kembali, lebih banyak tidak cocoknya dan tidak menemui solusi pemecahan. Hal-hal tampak luar biasanya bisa diterima, yang masalah umumnya adalah hal-hal atau factor tampak dalam antar-keduanya. (Faktor2 tampak luar dan faktor tampak dalam bisa dilihat dalam boks).

Problem faktor tampak luar, umpamanya:
a) Keimanan (pertama dianggap tidak masalah, kemudian menjadi factor krusial).
b) Etnis/kesukuan (pacar kita berasal dari non Batak)
c) Sub kultur pergaulan (tidak menghargai perbedaan kelompok pergaulan)
d) Status pendidikan (studi tidak tamat tamat, malas belajar, dll)
e) Status pekerjaan (belum ada pekerjaan, masih menganggur terlalu lama)
f) Status latar belakang keluarga pacar (tidak sesuai dengan harapan keluarga)
Dll.

Problem faktor tampak dalam:a)
a) Paradigma hidup, mindset, life values, cara pandang fondasional mengenai
kehidupan (soal fondasi pengajaran theologis/hermeneutis, keutuhan cara pandang
wawasan hidup filosofis, orientasi hidup: orientasi kebenaran, integritas,
kekuasaan, harga diri, uang/materi atau daya tarik sensual/seksual semata).
b) Sifat emosional (pemarah, arogan, tidak baik)
b) Segi kerohanian (kurang suka pelayanan, tidak taat firman Tuhan, dll)
c) Segi intelektual (ternyata tidak intelek, dsb)
d) Aspek mental (penakut, cepat curiga, cepat putus asa)
e) Moral watak karakter (suka bohong, tidak setia, “anak mami”, egois), Dll.

Faktor-Faktor Ketertarikan dalam Berpacaran

1.Faktor2 tampak luar, yaitu faktor-faktor ketertarikan yang bisa langsung dan relatif lebih gampang dilihat, sering disebut kalau untuk wanitanya “outer beauty”:

- Segi fisik (wajah cantik/ganteng, rambut, tubuh gemuk/ kurus, warna kulit, berotot atau tidak, seksi atau tidak, fisik kondisi kuat atau lemah, dsb)

- Segi usia (remaja, muda, muda sekali/abg, dewasa muda, dst).

- Segi status keimanan (sama2 Kristen atau non Kristen)

- Etnik budaya/suku (sama2 Batak atau non-Batak)

- Sub kultur pergaulan (sama2 satu kampus, satu sekolah, satu kelompok PA, satu angkatan marguru malua, satu kegiatan musik, paduan suara, bulletin, satu kantor/pekerjaan, satu profesi, satu kampung, satu aktivitas pelayanan, dll)

- Segi sikap, gaya, gerak-gerik (gaya bicara kalem, terburu-buru, cara berjalan, humoris, kocak, biasa, seram, pemalu, gaul, mudah berteman, pendiam, eye-contact, gesture badan, cara berpakaian, gaya rambut, sepatu, parfum, bergaya “aksi” atau sederhana, senyum, serius, tebar-pesona atau biasa, dll)

- Faktor kebiasaan tampak luar (sering pakai jaket atau blaser, suka pakaian warna
putih, suka pakai topi, anti rokok atau suka merokok, suka pakai sepatu kets, sering pakai jeans, sering duduk di café/warung, suka ke swalayan, dll)

- Segi skills/ketrampilan (bisa main gitar, piano, menari, memimpin paduan suara, bisa computer, bisa bahasa Inggris, dll)

- Pendidikan (sudah lulus SMA, D1, D2, D3, S1, S2, dst)

- Pekerjaan (sudah bekerja, berprofesi insinyur, ekonom, pemusik, wartawan, penulis, penyiar, karyawan, PNS, guru, pengacara, pendeta, sekolah sambil kerja, mandiri ekonomi, dll)

- Status sosial: domisili (di mana tinggal: di kawasan biasa atau elit, di kota, desa, atau pinggiran kota, di kawasan pasar, dll)

- Status social: kekayaan (anak keluarga pengusaha, anak kontraktor, anak administrator kebun, anak pejabat, anak direktur, anak orang biasa, dll)

2. Faktor2 tampak dalam, yaitu hal-hal ketertarikan yang tidak bisa langsung diketahui kondisi yang sebenarnya, namun bisa diketahui setelah beberapa waktu bergaul, mengamati atau berpacaran, sering disebut kalau untuk wanitanya “inner- beauty”:

- Segi/sifat emosional (sifat kebaikan, suka memberi atau pelit, ramah, lembut, periang, kocak, anggun, suka menolong, bersahabat, terbuka, ramai, cerewet, tegas, jail, terus terang, rendah hati, agak arogan, dll)

- Segi latar belakang keluarga (anak keluarga baik atau broken-home, patuh orang tua atau pemberontak, keluarga intelek atau kurang intelek, keluarga yang streng atau longgar, keluarga lama di luar negeri atau tidak, keluarga Batak lama di Jakarta atau dari kampung, dll)

- Segi kesehatan (kesehatan prima atau punya penyakit termasuk yang menahun atau laten, seperti asma, jantung, bronchitis, dll)

- Segi intelektual (pintar atau “tulalit”, intelek atau kurang intelek, bijak atau berwawasan sempit, dll)

- Kerohanian (suka berdoa, suka ber-PA, persekutuan, pelayanan, takut akan Tuhan, taat firman Tuhan atau kurang taat firman Tuhan, dewasa iman atau kurang dewasa, dll)

- Soal paradigma hidup, mindset, life values, cara pandang fondasional mengenai
kehidupan (soal fondasi pengajaran theologis/hermeneutis, keutuhan cara pandang
wawasan hidup filosofis, orientasi hidup: orientasi kebenaran, integritas,
kekuasaan, harga diri, uang/materi atau daya tarik sensual/seksual semata).

- Punya bakat terpendam (ternyata punya bakat menulis, acting, dll)

- Aspek mental (berani, tidak cepat putus asa, rajin, ulet, kooperatif, dll)

- Segi moral watak karakter (setia atau kurang setia, jujur atau suka bohong, jujur faktanya single/jomblo atau mengaku jomblo namun ternyata sudah punya pacar; tulus, licik atau lihai, berpikir positif, sabar atau tidak sabar/pemarah, rajin atau pemalas, pembersih atau jorok, bertanggung-jawab atau kurang komitmen, bisa dipercaya atau tidak, stabil atau cepat panik, takut orang tua atau pemberontak, mendahului kepentingan umum atau egois, diktator atau demokratis, dll)

- Masalah lain adalah masalah komunikasi. Perbedaan lokasi tempat tinggal, lokasi sekolah, lokasi pekerjaan (lain kota, lain negara), dapat memperburuk hubungan.Sulitnya untuk bertemu secara langsung, hanya lewat telpon atau sms. Kurangnya frekuensi pertemuan, biasa melonggarkan hubungan dan miskomunikasi, yang berakibat pada terputusnya hubungan berpacaran. Masalah komunikasi ini tidak mencapai titik-temu, karena masing-masing pada akhirnya tetap pada posisinya, tidak ada yang mau untuk berkorban.

Demikian juga dengan factor ketidak-setujuan orang tua dan keluarga; atau pihak-pihak ketiga lainnya (lingkungan di luar orang tua dan keluarga). Biasanya terkait dengan problem factor tampak luar dan factor tampak dalam seperti telah diuraikan. Ini pun setelah dianalisas/dievaluasi oleh kita dan pacar kita, bisa turut menyebabkan pemutusan hubungan berpacaran tanpa ada pemecahan jalan keluar yang pas atas keberatan-keberatan yang disampaikan orang tua atau lingkungan.

Ketiga, bawalah masalah pertidak-sesuaian dan permasalahan antara kita dan pacar kita kepada Tuhan. Tidak perlu mempersalahkan siapa pun (Don’t blame the other). Mintalah pimpinan Tuhan terlebih dahulu melalui terang firman dan kasihNya, apa dan bagaimana sebaiknya dilakukan untuk pemutusan hubungan. Boleh minta advis-advis berharga misalnya dari orang tua, keluarga, pendeta atau orang-orang/teman-teman yang kita anggap dewasa dan dipercaya dalam iman dan kehidupan, untuk permasalahan serta pertidak-sesuaian yang dihadapi. Bilamana kita dan pacar kita sudah semakin yakin bahwa pertidak-sesuaian ini tidak dapat teratasi dan dilanjutkan lagi, selanjutnya bisa diteruskan kepada langkah keempat.

Keempat, lakukanlah pertemuan atau perjumpaan untuk membicarakan pertidak-sesuaian ini untuk terakhir kalinya secara baik-baik, dalam suasana yang tenang, santun dan terbuka. Tujuannya adalah agar kita dan pacar kita bisa menerima semua hal mengenai pertidak-sesuaian dan permasalahan yang dihadapi tanpa harus emosi, tanpa meledak-ledak; tapi dengan kepala dingin sehingga tidak menimbulkan luka (broken-hearted, wounded). Sebab itu penting dilakukan langkah-langkah penyiapan, antara lain:

- Cari tempat dan kesempatan waktu yang sesuai serta kondusif untuk mengkomunikasikan hal-hal ini. Jangan bersepakat memutuskan hubungan melalui telpon atau sms. Namun bertemulah dan bicaralah secara langsung.

- Bicarakan dengan kepala dingin, dan hati-hati. Bersikap jujur, santun, berani namun rendah hati. Bicara sejujur mungkin, mengatakan yang benar di dalam kasih.

- Bila ada kesalahan, bukti-bukti ketidak-setiaan (tidak setia, kebohongan, dll) yang diperbuat oleh pasangan, kemukakan keberatan, ketidak-senangan, penyesalan dengan cara yang santun elegan dan dalam kasih.

- Bangun sikap mau mendengar (willing to listen) dan berpikir positif. Hindari satu pihak saja yang bicara. Dialog yang terbuka, dalam sikap saling menghargai, saling memberi apreasiasi untuk mengemukakan argumentasi. Hindari untuk sikap menyalahkan (avoiding to blame each other).

- Beri perhatian dengan serius.

- Segala uneg-uneg harus dikeluarkan. Kembangkan dialog dan komunikasi yang baik. - -

- Hindari sikap “patah arang”. Segala perbedaan dan pertidak-sesuaian (ketidak-cocokkan) antar keduanya dibicarakan satu per satu, lalu diselesaikan di dalam kasih dan persaudaraan.

- Nyatakan dengan jelas bahwa selama ini, sudah diupayakan untuk diatasi bersama, namun ternyata tidak dapat atau gagal mencapai hasil-hasil perubahan yang diharapkan.

- Upayakan dengan sungguh2 agar keputusan untuk berpisah, bukan saja dari salah satu pihak. namun merupakan keputusan bersama-sama kedua pihak. Sehingga kedua belah pihak bisa “sama-sama enak”, masing-masing tidak ada ganjalan lagi. Bisa sepakat dalam perbedaan, bisa menerima pertidak-sesuaian secara sehat. Kalaupun nanti keduanya jalan di jalannya masing-masing, tetap masih ada rasa respek satu sama lain, masih ada sikap kasih yang tidak merendahkan, tidak saling melecehkan atau saling melukai/menyakiti.

Kelima, rancangkan hal-hal tindak lanjut (action plan) yang baik dan perlu yang disepakati bersama tentang hal-hal yang perlu dilakukan saat ingin berpisah. Misalnya:

- Bahwa kita sudah memutuskan untuk berpisah secara baik-baik, tidak ada dendam; meskipun mungkin tetap ada rasa sakit namun jangan sampai perasaan sakit (broken) terus berkepanjangan. Berusaha untuk saling menguatkan dan menghibur.

- Saling mengampunilah secara tulus dan jujur (forgiveness). Minta maaf atas segala kesalahan (bisa sebutkan contoh). Bertobat minta pengampunan Tuhan atas segala kesalahan, yang dilakukan oleh kita dan pacar kita selama berpacaran. Mohon kekuatan untuk perbaikan dari Tuhan. Semua dilakukan dalam terang FirmanNya dan Kasih Allah.

- Upayakan saling menyatakan hal-hal positif dan menjadi pelajaran yang bermakna (lesson learnt) di balik kejadian perpisahan hubungan ini.

- Berdoalah bersama secara tulus di hadapan Tuhan, agar perpisahan ini bukan menjadi akhir segalanya, namun menjadi jalan pimpinan Tuhan untuk kebaikan bersama. Hari ini dan di kemudian hari.

Keenam, saling komitmen antara kita dan mantan pacar kita, meski kelak sudah berpisah dan tidak menjadi status pacar lagi, akan tetap akan menjaga hubungan persahabatan dan komunikasi yang baik dan sehat (sebagai sahabat atau adik/kakak). Komitmen lah secara tulus, tidak ada akar pahit dalam perpisahan ini. Saling menjaga dan tetap respect satu sama lain. Berpisah dalam damai sejahtera. Dengan hati yang bersih dan lega. Berpisah secara elegan dan di dalam damai dan kasih. Ada kedamaian di hati dan pikiran masing-masing (peace ong f mind).

Demikianlah sikap-sikap terbaik yang bisa kita kembangkan saat kita dan pacar kita memutuskan untuk berpisah. Dapat kita simpulkan, bahwa dalam memutuskan saat dan sesudah berpisah dalam hubungan kita dan pacar kita, tiga (3) hal perlu diingat dan senantiasa dilakukan, yaitu:

(1)Sikap dan langkah-langkah kita waktu memutuskan, mesti tetaplah berlandaskan pada nilai2 dan prinsip2 kasih dan kebenaran Kristen.

(2)Sikap bersyukur untuk setiap keadaan dan kejadian yang kita alami, kondisi apapun yang kita alami, betapapun sulit dan menyakitkan hal tersebut. Suka maupun duka, saat bertemu dan saat berpisah, semuanya tidak lepas dari rencana dan kendali Tuhan.

(3)Harapkan terus anugerah Allah (God’s grace), akan selalu menyertai proses perpisahan kita, saat berpisah dan sesudahnya. Anugerah yang selalu akan mampu menyembuhkan setiap luka dan bekas luka yang timbul, dan memberi damai sejahtera di hati dan pikiran (peace of mind).

Bila ketiga kunci ini kita sadari dan terapkan, maka sikap terbaik dalam memutuskan untuk berpisah dari kita dan pacar kita lakukan, dapat dimiliki. Semoga anugerah, kasih dan rakhmat Tuhan Yesus Kristus selalu menyertai kita!

Soli Deo Gloria!
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

NB: Artikel ini sudah dimuat dalam Buletin Narhasem HKBP Semper Jakarta, terbitan Pebruari 2007.

Sumber Referensi:
1.Don Schmierer & Lela Gilbert. 2002. Healing Wounds of the Past. Finding Inner Peace At Last. His Servant Promise Publishing Co, Santa Ana CA 92711.
2.Walter Trobisch & Inggrid Trobisch. 1981. Jodohku. Penerbit Gandum Mas, Malang, Jawa Timur.
3.Brent Curtis & John Eldridge. 1997. The Sacred Romance: Drawing Closer to the Heart of God. Thomas Nelson Publishers, Nashville.
4.Catatan-catatan penggembalaan.

No comments:

Post a Comment