Monday, September 18, 2006

Bagaimana Sikap Kita atas Perang Hezbollah-Israel di Palestina (2006)

Tak dpt dipungkiri seringkali sikap Gereja/Umat Kristen, khususnya di Indonesia, terhadap Konflik Perang Israel-Arab yang sudah berlangsung lk 1 1/2 bulan ini dirasakan kurang jelas dan tegas. Sebenarnya, ini bukan kali ini saja, tapi hemat saya sejak Perang Israel-Arab di tahun 1967, kemudian perang Yom Kippur tahun 1973, Reid to Uganda tahun 1980-an sampai peristiwa anyar sekarang ini.

Masalahnya saya kira, adalah kesulitan dalam bbrp aspek yang dipertimbangkan pimpinan Gereja/umat Kristen (khususnya di Indonesia) sendiri untuk menempatkan pada posisi di mana dan bagaimana kah sebaiknya diperani oleh Kristen Indonesia. Terlalu kompleks mempertimbangkan, akhirnya terkesan jadi "diam saja seribu bahasa".

Jika dipandang dari berbagai aspek, sebenarnya kita umat Kristen/Gereja (khususnya di Indonesia), bisa memiliki sikap yang jelas dan tegas dalam masalah konflik Perang Israel-Hezbollah-Hamas (dunia Arab dan atau dunia Islam) :

1. Tidak ada yang punya hak atas kepemilikan Tanah Palestina. Yang berhak hanya Allah.

Konflik perang ini selalu berawal dan bermula dari klaim kepemilikan Tanah Palestina (Promise Land) - sudah banyak penjelasannya mengenai sejarah Tanah ini. Gereja/Umat Kristen harus tegas menyatakan bahwa yang berhak atas tanah ini hanya Allah, TUHAN. Tidak ada di antara kedua kubu, yang berhak atas tanah Perjanjian ini dengan masing2 mengklaim sebagai penduduk asli (indigenous) yang lain pendatang; masing2 berprinsip dari "apa yang dikatakan Allah" lewat firmanNya.

2. Radikalisme agama pada keduanya (Judaisme/Zionisme dan Islamisme/kebangkitan kekhalifan Islam) sama-sama tidak membawa manfaat apa2 malahan kehancuran bagi peradaban dan kemanusiaan.

Sebab itu di antara keduanya, tidak perlu ada yang dibela. Dewasa ini, radikalisasi agama, baik yang dianut oleh negara Israel sekarang dengan agama dan kepercayaan Judaisme (Yahudi-isme) atau Zionisme, serta Hezbollah-Hamas yang merepresentasikan secara umum dunia Arab/Islam, bukan membawa maslahat dan kesejahteraan bagi keduanya mereka dan dunia, tapi malahan kehancuran dan kebinasaan.

3. Gereja/Kristen Indonesia bersama2 dengan Kristen2 lainnya di dunia dan umat lainnya, harus berprakarsa tanpa takut untuk mengupayakan perdamaian, sesuai amanat Kristus, menjadi pembawa damai (peace-maker).

Menjadi prime-mover dialog antara kedua "kubu". Tidak melakukan "Tiga Jangan":
(a) Jangan hanya menggantungkan diri pada peran PBB,
(b) Jangan hanya duduk berdiam diri saja, tanpa partisipasi lokal-nasional-global,
(c) Jangan latah2an kelompok atau golongan lain, tanpa mengerti konstelasi semua aspek konflik dan untuk sekadar tujuan politik proforma belaka dengan ujung2nya cari selamat.

Pimpinan Gereja/Kristen di Indonesia, entah itu PGI, PII, PGPI, GBI, GRII harus gesit dan cekatan mengkontak koneksi dengan pimpinan Gereja seperti: Kristen Norwegia dan Nordic Countries lainnya, Swiss, Gereja Yunani, dll (yang masih relatif netral dalam soal Palestina.

Jika AS sudah pasti terlibat dalam konfilik jadi jangan-tdk perlu dihubungi; Inggris juga tidak lagi netral) untuk segera membuka forum dialog secara terbuka, kondusif dan tajam berorientasi kpd proses dan hasil)

4. Negara Israel, baik di tanah Palestina sekarang, maupun yang Diaspora sebagai umat Yahudi di berbagai negara - dengan agama Judaisme/Yahudi ismenya, beserta kelompok2 radikal yang pro Judaisme mereka (biasanya group Ultra- Kapitalisme, Neo-Liberalism, Ultra religius versi Judaisme) sangat perlu dihimbau, diberi saran jika perlu ditegur, "diajari" agar mereka belajar hidup lebih toleran.

Bersosialisasi bergaul secara beradab dengan suku2/bangsa lain, jangan terus2an arogan, merasa pintar sendiri. Jangan hidup terlalu kikir (ingat istilah "Jahudi paling pelit"), Tidak perlu kita puji2 dan bangga2kan lah pengikut radikal Judaisme ini meski mungkin mereka pintar IQ dan kaya-prosper (misal: tidak perlu dikait2kan bangsa Batak sama dan mirip dengan Yahudi/Judaisme), jangan buat mereka geer, radikalisme Judaisme dan Zionisme itu hanya impian utopis mereka saja.

Yang penting kita Gereja/umat Kristen tidak boleh minder atau rendah diri memberi masukan pada mereka; mungkin mereka pintar secara IQ, tapi mungkin tidak khan dari segi hikmat (wisdom), kewaskitaan (pandai yang bukan pintar IQ), apalagi dari segi intelegensi sosial, spiritual (kelebihan religious jadi radikal), dst. Kelemahan tokoh2 Yahudi adalah terlalu narcist, terlalu percaya diri, tegar tengkuk, pintar tapi tidak mencintai hikmat. (Raja Salomo berkali-kali menasihatkan dalam kitabnya, namun berkali-kali juga track record mayoritas tokoh2 Israel/Jahudi jatuh karena kekurangan hikmat, dengan pengecualiaan 3-4 tokoh saja dalam Alkitab: Yusuf, Daniel, Paulus dan Yohanes).

Di sisi lain, Gereja/umat Kristen di Indonesia juga harus bisa secara bijak memberi masukan instropeksional bagi kaum Hezbollah-Hamas, dunia Arab (representasi dunia Islam) agar jangan gegabah. Radikalisasi agama Judaisme tidak perlu dilawan balik dengan radikalisasi agama Islam. Violence versus violence. Teror balas teror. Hasilnya kehancuran total Palestina dan peradaban dunia.

Hezbollah-Hamas, dunia Arab (dan dunia Islam), yang dinilai Ultra Religius versi Islam
Tidak memaksakan formalistik hukum syariah harus diimplementasikan di aras publik, namun kadang bersikap munafik/hipokrit di aras komunal atau privat; Berlomba saja secara sehat dan fair-play, tidak perlu fanatik-fanatikan secara buta. Jangan juga hidup terlalu boros untuk hedonis (ingat raja2 dan sheik2 minyak dunia Arab), masyarakat Islam yang sudah distigma hidup marjinal, kechantol (tertinggal) perlu dirubah dengan usaha ketekunan dan kerja keras dan memiliki semangat entrepreneurship yang tepat, baik dan benar.

Sementara jangan lupa: Sambil mengingatkan, memberi masukan, dan mungkin "menegur" saudara2 kita dari kedua kubu tersebut, kita pun Gereja/umat Kristen harus juga berani menunjuk jari ke diri sendiri. Tetap rendah hati dan mau belajar memperbaiki diri secara internal kekurangan2 yang ada dalam Gereja/umat Kristen sendiri. Sehingga terciptalah suasana lingkungan peradaban masyarakat lokal-nasional-global yang kondusif untuk saling belajar, saling berlomba dan memberi kontribusi yang nyata pada produktivitas, keadilan dan perdamaian.

Salam perdamaian,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)

No comments:

Post a Comment