Thursday, December 13, 2007

Membagikan hidup berirama Injil kepada rekan-rekan sahabat umat Muslim secara alamiah dalam terang Tuhan (damai Natal).

Informasi dari Transforma Sarana Media (TSM/ed.Natal 2007 -NW.09)

Dalam beberapa kesempatan dalam pertemuan-pertemuan (encounters) kristen di dalam dan luar negeri, sering saya utarakan bahwa perhatian terhadap perkembangan serta tingkat kesejahteraan umat muslim dalam berbagai mazhabnya perlu disadari oleh segenap kalangan kristen. Ini mungkin membutuhkan perubahan cara pandang dan pendekatan kristen berikut matangnya karakter attitudes khususnya dalam cara berkomunikasi dan berelasi kristen.

Hal ini bukan saja akhirnya dapat menambah wawasan umat Kristen mengenai cara pandang Islam terhadap kekristenan dan hidup kristen, namun juga akan mampu semakin menambah khasanah kristen dalam pendekatan yang benar dalam membangun hubungan, human relationship yang pas dengan berbagai golongan umat Islam sebagai umat mayoritas di negeri ini, sekarang dan ke depan.

Beberapa kalangan kristen menyebut ini sebagai penginjilan melalui gaya hidup. Namun, saya lebih merasa pas menyatakan hal ini sebagai membagikan hidup berirama Injil pada rekan-rekan sahabat muslim secara alamiah dalam terang Tuhan. Melalui terang Roh KudusNya dalam hati dan jiwa.

Memang sejatinya kita jumpai cukup banyak pendekatan yang dapat dilakukan kristen untuk pewartaan kabar baik. Sebut saja kampanye pengabaran Injil, KKR, kelompok kecil PI, kelompok sel atau basis, siaran radio, film, milist, multimedia, dll. Namun, saya ingin katakan kembali ada hal penting yang sering terlupakan dalam pewartaan. Bahwa sejatinya pewartaan sangat perlu dilakukan secara alamiah, natural. Dan membagi hidup berirama Injil memerlukan proses atau pentahapan.

Sedikitnya ada empat tahapan yang perlu dilalui yang memungkinkan kristen membagi hidup berirama Injil secara alamiah, natural:

Tahap pertama, menciptakan 'point of contact' dalam berbagai bentuknya, sangat penting dan perlu bagi umat Kristen guna membangun hubungan yang lebih baik ke depannya dengan rekan-rekan sahabat muslim. Ini perlu saya nyatakan sekali lagi, mungkin berupa pengulangan. Kristen jangan sampai meninggalkan upaya membangun 'point of contact' yang baru dengan rekan-rekan sahabat muslim. Perbedaan-perbedaan yang mungkin cukup 'mendasar' dengan rekan-rekan sahabat ini, tidak perlu menjadi halangan bagi kristen untuk mulai meretas terus 'point of contact' baru. Hanya dalam meretas hal ini, kristen seharusnya melakukannya dengan sikap yang jauh lebih tulus, lebih rendah hati, genuine sebagai sesama manusia seturut citra dan gambar Allah. Sikap kepribadian yang semakin matang dan berwawasan semakin diperlukan di era sekarang. Semuanya adalah untuk menghadirkan tanda-tanda kasih, rasa harga-menghargai (respek), semangat positif, memperpendek gap, meningkatkan persahabatan dan keberkahan (blessings) dari Allah Maha Kuasa. Sehingga kehidupan yang dihidupi bersama mendatangkan manfaat, berkat, kebaikan, ketenteraman, kesejahteraan dan kecukupan baik lahir maupun batin di tengah keluarga, komunitas, masyarakat dan bangsa di antero negeri ini.

Sejatinya yang dikenal semua agama, termasuk Islam sebagai umat mayoritas di bangsa ini adalah buah kebaikan. Buah perbuatan yang baik. Soal kebenaran (truth), mungkin bisa saja manusia menolaknya atau mempertentangkannya dalam suatu wacana, perdebatan, konflik yang kadang tiada akhirnya. Namun, soal kebaikan (goodness), hampir tiap manusia apapun agamanya, tidak menolaknya. Tiap orang sangat membutuhkan. Kasih dan kebenaran dalam perbuatan adalah kebaikan. Tentu kebaikan yang dimaksud di sini, adalah kebaikan yang ikhlas, tulus, tanpa pamrih apapun.. tanpa niat ataupun rekayasa apapun. Dengan sengaja menghindar dari spirit atau motif kepentingan, "udang di balik batu" atau "hidden agenda". Ground motives seperti ini umumnya didrive oleh kepentingan misi agamawi, ideologis, politik aliran, sektarian, bahkan ujung-ujungnya uang atau laba.

Sesungguhnya Tuhan Maha Tahu. Tuhan tak dapat tertipu dan ditipu oleh niat hati atau rekayasa manusiawi sempit. Faktanya menurut pengalaman saya, cepat atau lambat hati tiap orang akan segera tahu bilamana suatu kebaikan, pemberian, pujian, aktivitas program dan sebagainya apakah dilakukan dengan niat ikhlas tulus tanpa pamrih atau bukan. Poin ini terus terang menjadi sangat kritikal di negeri ini, mengingat bila bisa dilalui dengan mulus, maka hal ini pasti akan memampukan kristen dan islam bisa membangun sikap percaya, saling percaya, bisa bebas lepas dari kecurigaan-kecurigaan (suspicious syndromes) dan perseteruan.

So, jika pada tahap pertama ini kristen sudah berhasil membangun point of contact, hubungan relasi yang bersih tulus ikhlas tanpa pamrih sebagai sesama manusia yang saling percaya, maka untuk ke tahap-tahap selanjutnya dalam anugerah Tuhan tentu akan dapat lebih mudah kristen melakukannya.

Tahap kedua, adalah apa yang disebut sebagai upaya membangun network, jaringan. Pada tahap ini bisa diretas upaya membangun perserikatan, memorandum of understanding (MOU), friendship dan fellowship (persekutuan) yang sangat dekat satu sama lain. Dan pada tahap ini, kembali yang dibutuhkan adalah sikap keterbukaan yang konsiten, open-minded, hati yang bersih, kesediaan untuk menjadi rendah hati dari kristen terhadap rekannya yang Islam, demikian juga sebaliknya sebagai wujud nyata implementasi 'golden rules' atau 'golden principles. Isu-isu yang bisa diangkat bersama dalam membangun network sangat banyak, misalnya mengenai isu kegiatan sosial bersama, kemandirian bersama, pendidikan, program bersama pengentasan kemiskinan, isu kebangsaan, hak asasi, pelestarian lingkungan dll, yang semuanya bermuara pada upaya peningkatan mutu kehidupan bersama yang lebih baik di negeri ini, lebih luas di bumi ini.

Selanjutnya, tahap ketiga bisa dilakukan jika tahapan kedua: membangun network jaringan sudah terlewati. Tahap yang disebut sebagai tahap saling asah, asih dan asuh. Disini kristen dan islam bisa sama-sama saling menguji, mengajar, mengedukasi perihal bagian-bagian dari kebenaran (truths). Dan kebenaran di sini bukan saja yang bersumber dari kebenaran yang bersifat rasio, teoritis atau edukatif, namun juga kebenaran yang bersumber dari kitab-kitab suci (agama), moral, pengalaman empiris, hak asasi, keadilan dan aspek iman spiritual lainnya.

Jika sudah sampai pada tahap ini, perbedaan-perbedaan doktrin kebenaran yang ada antara kristen dan islam, tetap dapat didiskusikan secara terbuka; diperdebatkan sampai setajam apapun, namun karena sudah sampai tahap ketiga maka tahap ini sudah dilandasi kebaikan, ketulusan dan kebersihan hati, persahabatan, saling percaya dan saling mengasah berdasar point of contact dan jaringan yang telah terbentuk secara natural, alamiah.

Berlanjut akhirnya pada tahap keempat secara alamiah dalam terang Tuhan. Kebenaran Injil mendapatkan kesempatan yang sangat luas untuk disampaikan kristen dengan seterang-terangnya, tentu tetap konsisten disertai sikap, matang dan bersedia dikoreksi dari kristen terhadap rekan-rekan sahabat muslim.

Penyampaian blak-blakan Injil damai sejahtera pada tahap ini, sejatinya tidak akan lagi membangun atau menciptakan benci, dendam dan sakit hati. Namun, justru membangun respek karena sudah dilandasi secara alamiah oleh tiga tahapan sebelumnya. Sehingga yang ada, adalah berita yang menyukakan hati, menyentak namun sekaligus mencerahkan, membebaskan.

Pada tahap keempat ini yang dijumpai adalah kondisi serba rela. Kerelaan hati. Tidak ada lagi pemaksaan, pemaksaan manusia. Yang ada adalah situasi unity dalam kepelbagaian perbedaan. Kerendahan hati dan pelayanan. Doktrin yang dikemas dalam kasih yang utuh. Konsisten dibangun dalam semangat respek, harga menghargai satu sama lain, ketulusan, kebersihan hati, apologia yang natural dalam terang Tuhan.

Melalui uraian empat tahapan ini, saya hanya ingin menyatakan bahwa menghidupi dan membagi hidup berirama Injil bagi seorang kristen kepada rekan-rekan sahabat Islam, menjadi sebuah pelayanan dan penyerahan diri kristen dalam keutuhan secara alamiah.
Jika ini yang bisa dilalui oleh setiap umat kristen secara natural, maka perhatian kristen terhadap perkembangan dan kesejahteraan rekan-rekan sahabat muslim, akan
menjadi jembatan paling efektif bagi kristen untuk mengubahkan. Bukan saja mampu mengubahkan rekan-rekan sahabat muslim, namun juga mengubahkan hati, wawasan cara pandang, kematangan karakter dan pengalaman kristen sendiri.

Hati dan karakter yang sekeras batu karang sekalipun akan dilembutkan melalui kesaksian alamiah dan terang Roh Kudus. Wawasan, paradigma dan cara pandang sekeliru apapun akan terkoreksi. Benteng-benteng kehormatan dan harga diri akan diruntuhkan. Nilai-nilai kepalsuan akan terbongkar diganti dengan nilai-nilai kesejatian, kebenaran dan kekekalan Sorgawi.

Jika sudah demikian, tentu kelak bukan saja kristen dan islam yang sama-sama bisa saling asah-asih dan asuh, dan mampu diubahkan. Bangsa dan negara ini pun akan diubahkan, dilepaskan Tuhan dari berbagai keterpurukan.

Dengan demikian tiada jalan pendek, jalan "shortcut". Mari kita segera tekun meretas serta membangun "point of contact" di berbagai bidang kehidupan kita. Membina relasi, network, berbagai aktivitas dan program, perserikatan dan fellowship. Lalu sambil tanpa lelah kita kerjakan proses yang mungkin saja cukup panjang untuk proses saling mengajar, diskursus, saling asah asih dan asuh dalam mengungkap berbagai inti kebenaran, kesejatian dan kekekalan. Maka Injil damai sejahtera akan terbagikan, terwartakan. Injil yang mengubahkan lewat seluruh keberadaan dan eksistensi kita secara natural, alamiah: lewat perkataan, sikap, karakter, perbuatan, wawasan cara pandang, buah karya, buah hidup, pergumulan, kesengsaraan, keberhasilan dan berbagai titian perjalanan hidup kristen dalam bimbingan RohNya.

Mengenai akhirnya, para rekan-rekan sahabat muslim mau ikhlas sudi menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tentu sekali lagi itu bukanlah otoritas kemanusiaan. Otoritas kristen. Tetapi itu merupakan wewenang Tuhan. Namun, yang mesti disyukuri adalah, akan menjadi kebahagiaan dan suatu selebrasi besar di Sorga jika ada rekan-rekan sahabat muslim yang berjumpa dengan Yesus, mengalami pertobatan yang sejati (metanoia) dalam kesadarannya yang meningkat tinggi. Hal yang sama berlaku juga, bahwa melalui kesadaran kristen, nama kita yang kristen tercatat pula di Sorga.

Namun bila pun tidak, tetap hal ini patut terus disyukuri, bahwa rekan-rekan sahabat muslim itu telah mengetahui dan mengerti kebenaran Injil, meskipun belum bisa menerima atau menolaknya. Menyadari, menerima dan memberi diri untuk tunduk pada kebenaran Injil sesuai Firman Tuhan, tetap merupakan bagian atau porsi Tuhan yang tak terjamah oleh kita, sesuai dengan rencanaNya yang Maha Agung.

Hal yang sama dan pentahapan yang sama seperti di atas, tentunya bukan saja berlaku bagi hubungan kristen yang membagi hidup berirama Injil dengan sesama rekan muslim, namun juga berlaku dalam hubungan dengan pemercaya yang lain. Para pemercaya dari berbagai aliran agama dan spiritualitas lainnya yang kini eksis dan berkembang di tengah masyarakat bangsa negeri ini.

Sudahkah kita mulai melakukannya? Jika belum, maukah kita mulai meretas untuk melakukannya dari sekarang (bersama saya)? Jangan lupa, lakukan semuanya secara alamiah, tanpa rekayasa yang tidak perlu.

Maka segala kemuliaan dan hormat, hanya bagi Tuhan saja.
Salam dan selamat damai Natal.

No comments:

Post a Comment