Wednesday, December 19, 2007

Refleksi akhir tahun 2007 bagi pemimpin dan umat Kristen indigenous Indonesia.

Tahun 2007 sedikit hitungan hari lagi akan kita lalui bersama. Tahun baru, 2008, akan segera kita jelang. Banyak hal dalam titian perjalanan sepanjang 2007 dapat dijadikan 'lesson-learnt' untuk bekal memasuki tahun 2008.

Berikut beberapa petikan 'lesson-learnt' (BN-09) yang mungkin bisa menjadi bahan refleksi dari keseluruhan titian perjalanan 2007 umat Kristen indigenous Indonesia di tanah air. Semoga refleksi ini bermanfaat bagi umat kristen indigenous yang tinggal di bumi persada Nusantara, juga bagi yang kini tinggal di luar Indonesia.

1. Melihat perkembangan kehidupan keberagamaan dan spiritualitas kristen yang telah berlangsung sepanjang tahun 2007 ini, semakin dirasakan sangat perlunya umat kristen indigenous Indonesia bertambah matang tumbuh kembang dewasa dan berbuah. Hidup keberagamaan dan spiritualitas kristen yang sewajarnya makin mampu dihidupi dengan spirit, jiwa, moralitas, etika, sikap perilaku (behaviour) dan perbuatan sosial yang semakin cocok dan benar dengan inti ajaran kristen. Keberagamaan kristen dan spiritualitas yang diharap makin dapat dipertanggung- jawabkan, dengan kesanggupan melakukan refleksi introspeksi lebih dalam berikut orientasi pada kemajuan nyata dan terukur. Keberagamaan kristen yang berwawasan dan mencerah, jauh dari sikap picik, sindrom kecurigaan syak-wasangka dan berbagai perseteruan (menganggap yang lain sebagai musuh). Mampu makin seimbang dan integratif dalam memberikan penilaian terhadap berbagai fenomena kasus, peristiwa, pemikiran, aliran dan ketokohan. Tampil dengan performa dan kinerja lebih menyejukkan, kolaboratif, sehat membangun serta elegan dalam melakukan tugas perlombaan yang menghidupkan, bukan saling mematikan. Perlombaan sehat memperjuangkan tegaknya kebenaran, kemuliaan, kemandirian dan keteguhan bagi terwujudnya buah-buah kebaikan yang bisa dinikmati bersama.

2. Keberagamaan dan spiritualitas kristen indigenous bisa lebih giat diperjuangkan agar terhindar dari cara pandang kristen dikotomis, berbasiskan 'dualisme Platonis' yang serba keliru. Yang kerap melulu memisahkan kehidupan rohani (sakral, ibadah) dengan kehidupan sekuler dunia dan lingkungan. Antara kehidupan agamawi dan praksis hidup sehari-hari. Karena kehidupan sendiri sejatinya utuh dan holistik sifatnya. Kesalehan, sikap pietis dalam ibadah semestinya harus terwujud tercermin pada saat yang sama dalam kesalehan sosial dan hidup kolektif bersama lingkungan lannya di sekitar. Terekspresi nyata dalam karakker dan buah-buah kebaikan di berbagai sudut dan lapangan kehidupan. Sebab itulah peranan para pemimpin (leaders) kristen indigenous Indonesia, baik tingkat lokal nasional maupun global, semakin sangat dibutuhkan dan diharapkan pada masa sekarang dan ke depan. Guna melapangkan umat kristen indigenous berpeluang besar semakin memiliki jati diri serta wawasan kekristenan, kebangsaan, kesukuan yang lebih utuh, seimbang, matang dan dewasa di hari-hari ke depan sekaitan dengan pergaulan global yang sedang berlangsung dewasa ini.

3. Kristen indigenous di negeri ini sangat perlu lebih mengutamakan & memperjuangkan pola kesaksian dan pewartaan Injil kabar baik melalui cara dan pendekatan yang lebih natural (alamiah), mandiri dan dewasa dalam terang kasih dan kuasa Tuhan. Sanggup membagikan hidup berirama Injil kepada saudara-saudara rekan-rekan sahabat khususnya umat muslim dalam pelbagai mazhabnya sebagai umat mayoritas di negeri ini. Tentu, sebelum hal ini bisa terwujud, pola kesaksian dan persekutuan Injil secara internal di kalangan umat kristen sendiri dalam kepelbagaian denominasinya juga harus diperjuangkan dan diwujud-nyatakan. Meretas 'point of contact' baru, membangun relasi jaringan perserikatan, saling asah asih asuh disertai pemulihan hubungan kristen yang diperbarui, menjadi prasyarat requisite penting untuk Injil damai sejahtera terwartakan dengan baik dalam keseluruhan manifestasinya. Hal ini berlaku juga dalam hubungan kristen indigenous dengan umat pemercaya lainnya, baik pemercaya lokal, nasional dan global di era globalisasi ini. Sebab itulah, pola atau cara-cara persekutuan dan pewartaan Injil yang cendrung dan sering hanya melulu menekankan aspek-aspek sensasional, bombastis, hiperbolis, selebriti dan sarkastis disertai upaya-upaya provokatif dan 'black campaign' (kampanye hitam), mungkin perlu berkali-kali lagi dipertimbangkan kembali guna menjamin bertumbuhnya dan majunya iman keberagamaan wawasan sisi edukasi sosial dan kesadaran lingkungan umat dalam berbagai dinamika perubahannya kini dan ke depan.

4. Umat Kristen indigenous Indonesia di hari-hari sekarang dan ke depan mungkin perlu lebih lagi bersikap makin kritis, positip dan matang dalam menyikapi setiap fenomena, issue, informasi, ideologi, faham, ajaran-ajaran, model spiritualitas, model pembangunan, metodologi dan kemunculan tokoh-tokoh baru yang berasal dari luar sebagai konsekuensi logis dari begitu derasnya arus informasi global dan trans nasionalisasi yang bergerak demikian cepat. Sanggup mengambil yang pas, benar, seimbang dan baik, namun sekaligus mampu juga secara cerdas dan gesit membuang hal-hal yang jelas-jelas tidak cocok, tidak pas dan keliru hal-hal buruk, kotor atau 'jorok' serta absurd yang berasal dari luar (negeri ini).

Faham-faham ideologi yang justru membuat rapuh, lemah dan rusaknya iman kekristenan, spirit nasion dan kebangsaan dari luar, sangat perlu dikritisi, diwaspadai dan ditindak-lanjuti untuk mencari solusinya, seperti:

(a) Faham kesuksesan dan kemakmuran semu yang dibangun oleh berbagai konstruksi teologi, cara pandang dan filosofi keliru (a.l. teologi kemakmuran, teologi sukses). Yang berbuahkan faham materialisme, mamonisme, hedonisme dan individualisme sebagai turunannya yang berdampak sangat 'jelek' bagi kehidupan umat dan bangsa.

(b) Pada ekstrim sisi yang lain, faham asketisme, kemiskinan status-quo dan pemiskinan yang salah keliru dan sama'jelek'nya (seperti a.l. teologi kemiskinan), perlu untuk terus dikritisi dan 'dicounter' pandangan-pandangan teologis, cara pandang dan filosofinya; agar umat tidak terus-menerus berkanjang, terpuruk, tertindas dan terjepit dalam lembah kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan yang 'abadi'. Terjerembab dalam lubang dan kubangan kegelapan dan kehinaan yang sama dan klasikal, tanpa ada solusi terobosan dalam bentuk perubahan paradigma berikut penyediaan akses-akses kemajuan yang solutif, riel dan transformatif mengubahkan) .

(c) Radikalisme agama, politik agama adn politik aliran yang sempit dan picik dengan berbagai konstruksi pembenarannya yang konyol dan tidak realistis, dengan berbagai tindakan kekerasan (violenisme) serta teror massa (mob-terror) sebagai pelampiasan di luar hukum, norma dan peradaban.

(d) Pluralisme agama dengan pelbagai gerakan kepercayaan dan beliefs serba plural, serba merelatifkan dengan menafikan unsur kemutlakan dan singularitas kebenaran di era 'zaman baru' (new age) berikut sekularisme agama, pemikir bebas dan kemunculan 'super hero' 'super idol' 'tuhan-tuhan' baru yang berupaya melepaskan rasio dari iman sejati yang hidup, melepaskan eksistensi ciptaan (beings) dari Tuhan Sang Penciptanya (Being). Dan sebaliknya pula, berupaya membuktikan eksistensi Tuhan(Being)hanya sebagai manusia biasa (being) yang konon dikaji berdasar kaidah sains sejarah arkeologis yang nyatanya masih penuh kontroversi.

(e) Occultisme dan mistikisme tradisionil dengan berbagai mitosnya berkemas berversi 'campur sari' modern dan supra-modern, dalam kemasan produk ilmu teknologi dan multimedia yang masih sangat besar/kental pengaruhnya di bidang keluarga, sosial, seni budaya, masyarakat, media publikasi massa, pendidikan, bisnis usaha dan kehidupan politik negeri ini.

5. Kristen indigenous negeri ini sudah selayaknya harus bahu-membahu untuk turut berjuang bagi kemandirian kristen indigenous sendiri, pemantapan jati diri dan daya ungkit kemajuan negeri ini di bidang spiritual, theologi, lingkungan, sosial budaya, pendidikan, hukum, politik dan ekonomi. Cara yang paling efektif sejatinya adalah melalui pengayaan (enrichment) aspek kekristenan, keberagamaan dan spiritualitas umat. Meningkatkan kepekaan kesadaran umat akan lingkungan dan kekayaan warisan seni sosial budaya yang banyak diklaim sebagai buah warisan bangsa/negara lain, sambil tentunya terus melakukan adjustments transformatif. Dan yang penting lagi mengembangkan semangat kemandirian dan entrepreneurship berdasar perspektif kristen sebagai pilar kemajuan kristen indigenous sendiri secara lebih utuh.

6. Melakukan tekanan yang 'lebih keras' dan terbuka terhadap upaya pemberantasan korupsi (KKN) yang cendrung melamban dan melemah, pengentasan kemiskinan dan pengangguran, penanggulangan korban bencana alam & upaya reliefs, pengentasan kebodohan lewat jumlah, mutu strategi kurikulum pendidikan yang berdampak, penanggulangan imoralitas dan penyakit masyarakat mulai dari tingkat keluarga komunitas dan jemaat (kriminalitas, narkoba, judi, HIV/AIDs, premanisme, pungli, perceraian, free-sex, homosexual, perselingkuhan, provokasi propaganda dan keberingasan massa, tawuran, penyelundupan, pembalakan ilegal). Upaya riel mengatasi persoalan tidak terampilnya SDM dan masalah TKI dan kegagapan iptek. Terus meningkatkan kesadaran umat pada masalah hukum/hak asasi/keadilan (justice) dan arti kesehatan dan lingkungan. Pendeknya, berbagai bentuk aktivitas program, sosialisasi, jaringan dan improvements bagi solusi terobosan nyata perlu diiniasi dan diretas oleh pemimpin dan umat kristen indigenous di seluruh kabupaten/kota negeri ini. Berjuang lewat perbuatan dan karya nyata, selain juga lewat ide 'terobosan' dan gagasan transformasional mencerahkan.

7. Terkait budaya suku dan kebangsaan pada poin 5, Kristen indigenous di negeri ini harus mampu berupaya untuk menjaga dan merevitalisasi kekayaan sumber daya alam yang masih ada, serta warisan budaya seni talenta bangsa dan suku-suku bangsa yang sangat diapreasiasi dikagumi dan mendapat pengakuan dari bangsa-bangsa di tingkat regional dan global (seperti a.l. Batak, Dayak, Maluku, Sunda, Bali, Jawa, Toraja, Mamasa, Manado Minahasa, Sangir Talaud, Nias, Papua, Mentawai, Sumba, Timor, Alor, Flores, Luwuk, Poso, dll). Kebudayaan yang luar biasa, eksotik dan 'berwarna' (colorful) sebagai sumberdaya seni dan budaya SDM Indonesia yang inheren eksis di antero blantika negeri ini. Ini berpotensi menjadi "daya saing" yang luar biasa sebagai bagian jati diri dan modal talenta sosial budaya serta lingkungan yang memungkinkan bangsa termasuk generasi muda (genmud) negeri ini tumbuh dan berkembang; dalam penatalayanan dan pemberdayaan menuju kemajuan dan kejayaan yang lebih berarti, bermartabat, penuh confidence dan membangun respek ke depan dalam pergaulan internal dan masyarakat antar-bangsa.

8. Kristen indigenous di negeri ini harus terus mendukung secara intensif dan konsisten bagi akselarasi proses regionalisasi dan otonomi daerah (otda) dalam 'development strategic planning' dan 'sistem hukum perijinan dan anggaran' yang benar di berbagai daerah kabupaten/kota Indonesia. Mampu menggunakan konsep lokal-nasional- global dan pertumbuhan pengembangan daerah secara profesional dan qualified menuju pemerataan dan pertumbuhan. Sehingga kaderisasi dan suksesi kepemimpinan, kesejahteraan, keamanan, kemakmuran dan keadilan yang otentik dapat diraih. Sebab itu, kaderisasi pionir-pionir kepemimpinan generasi yang lebih muda, bersih, jujur, profesional dan cerdas menjadi keharusan guna menciptakan peluang pertumbuhan, keadilan dan kemajuan di berbagai lini kehidupan komunitas, masyarakat dan bangsa.

9. Sejalan dengan poin 5-8, Kristen indigenous di Indonesia bersama dengan komunitas dan elemen bangsa lainnya, sudah seharusnya mendukung aktif kepemimpinan yang bersih, berani, jujur, adil dan penuh keteladanan dalam jajaran trias politika dan jajaran daerah di seluruh antero negeri ini. Sekaligus mampu membangun tata hukum, keadilan, sistem kenegaraan, kemasyarkatan, tata kota, desa dan pesisir serta komunitas yang handal dalam menciptakan lingkungan negara, bangsa, daerah dan komunitas, teritori yang layak dan 'trustworthiness' .

10. Kristen indigenous Indonesia pada akhirnya sudah selayaknya secara konsisten memperjuangkan terjaminnya kebenaran hakiki dan sejati ditegakkan di tengah bangsa, negara dan komunitas; hak individual tetap dijamin, semangat kebersamaan kesetiakawanan sosial dan kebangsaan ditingkatkan, warisan seni dan budaya dijaga digalakkan direvitalisasi, ruang kreatifitas diberi tempat, pola pertumbuhan alam natural diperhatikan dan diatas segalanya otoritas Tuhan Pencipta Semesta Alam sejati bertakhta di tengah bangsa ini.

Semoga di tahun yang baru, 2008 para pemimpin, influencers dan umat kristen indigenous negeri ini dan di mana pun di bagian dunia ini, dapat memberikan kontribusi yang lebih nyata bagi suatu harapan baru, ekspektasi baru, bagi suku-suku bangsa di negeri ini, bagi bangsa tercinta ini. Harapan kemajuan di bidang keberagamaan, spiritualitas, lingkungan, keluarga, sosial budaya, pendidikan, hukum, politik/kenegaraan, ekonomi dan kemasyaratan; bagi tiap individu dan komunitas yang ada di dalamnya.

Kiranya Tuhan menolong dan selalu menyertai kita sekalian!

No comments:

Post a Comment