Monday, April 23, 2007

Model, Gaya2 Kerohanian (Spiritualitas) yang Dianut oleh Orang2 Indonesia Pada Umumnya, Terkait dgn Model Gaya Kerohanian (Spiritualitas) Kristen (2)

Lanjutan (Habis).

II. Beberapa Ragam Model/Gaya2 Kerohanian (Spiritualitas) Orang2 Kristen di Tanah Air

Menurut penelusuran penulis, di internal kalangan orang2 kristen di Indonesia sendiri, ada beberapa ragam model/gaya kerohanian (spiritualitas) kristen, yang mengacu kepada referensi Alkitab, seperti tradisi kehidupan tokoh2 Alkitab di PL (a.l. tradisi kenabian) dan di PB (a.l. kehidupan para rasul dan tradisi gereja perdana).

Dalam konteks kerohanian/spiritualitas kristen di tanah air ini, faktanya bahwa di samping keberadaan kelompok model/gaya2 kerohanian kristen yang betul mengacu kepada Alkitab, nyatanya dijumpai adanya tiga (3) kelompok yang boleh dibilang tidak sepenuhnya memenuhi pengertian/pemahaman model kerohanian kristen, yaitu:

a. Kelompok kerohanian Kristen Pantheistic.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, ia merupakan orang2/kelompok2 model-gaya spiritualitas kristen pantheistic. Sejatinya banyak anggapan model ini bukan model spiritualitas kristen. Lebih pas mungkin disebut model spiritualitas kristen ‘aspal’ (fake Christian spirituality), spiritualisme ‘kristen-kristenan’, atau spiritualisme 'aspal' (asli tapi palsu), karena lebih condong bercorak pantheistic, bukan theistic, gaya ini dengan sadar atau tanpa sadar melakukan upaya sinkretis antara corak pantheistic dan corak theistic kristen. Itu yang ada pada bidah kristen: scientology ‘kristen’ (ilmu pengetahuan kristen), pada aktivitas2 kehidupan paranormal ‘kristen’ serta aktivis2 kerohanian kristen lainnya di kota2 besar (jabodetabek, medan, surabaya, makassar, manado) dan berbagai daerah pelosok tanah air.

b. Kelompok kerohanian 'Kristen' 'tidak jelas’.
Kenyataan ini cukup memprihatinkan sebetulnya. Orang2 kristen yang tidak memiliki kejelasan ‘bentuk’ atau model kerohanian (spiritualitas) kristennya seperti apa. Hal ini mungkin disebabkan tiadanya konsep pembinaan-penggembalaan yang jelas bagi mereka sejak awal/sejak kecil/sejak perjumpaan dengan Kristus. Tiadanya proses yang terarah dalam ‘spiritual formation’ (formasi kerohanian) dan proses pendisiplinan (discipleship/pemuridan) yang disebut ‘spiritual disciplines’ atau 'spiritual exercises' (latihan2 disiplin rohani) mereka. Akibatnya, kelompok ini boleh jadi disebut ‘a-spirituality’, ‘kristen tanpa spiritualitas kristen’, spiritualitas kristen semu (pseudo-christian spirituality). Disebut asli tidak, palsu pun tidak. ‘Aspal’ juga pun tidak. Ya ‘semu’. Pokoknya ‘ngga jelas’. Jumlahnya pun bukannya sedikit di tanah air. Keberadaan kelompok ini sebagai kristen adalah bisa karena keturunan semata (orang tua/nenek moyang kristen), namun tanpa tersentuh pembinaan. Pembinaan kerohanian terarah. Bahasa umum ya jadi kristen nominal. Kristen ktp. Kristen kapal selam. Kristen tidak jelas. Maka model kerohaniannya pun jadi serba tidak jelas. Ini fakta, ini kenyataan yang kita liat.

c. Kelompok kerohanian 'Kristen' model Yudas (kontra tidak frontal).
Kelompok kerohanian ini jelas ada dalam kehidupan umat Kristen secara umum. Spiritualitas yang tidak terbentuk dengan benar, sehingga menjadi "duri dalam daging", pengkhianat, musuh dalam selimut dalam kumpulan domba2 Kristus. Sepertinya menampakkan gaya kerohanian Kristen yang asli, sejati; padahal tanpa memiliki komitmen, kesetiaan, ketaatan yang sungguh2: total! Tidak ber-sungguh2 dan konsisten dalam melaksanakan tugas dan panggilan spiritualitasnya. Bukankah Yohanes dalam suratnya, pernah mengatakan bahwa para antikris dan nabi2 palsu adalah berasal dari kalangan umat Tuhan (Kristen) sendiri; namun mereka adalah orang2 yang dijumpai tidak bersungguh2 dalam Firman Tuhan dan dalam menjalankan amanat panggilan dan kehendak Tuhan.

Delapan (8) Model Gaya Kerohanian (Spiritualitas) Kristen di Tanah Air.
Dan, dengan merefer Alkitab serta referensi hasil2 penelitian seperti yang dilakukan Dr Joseph T Shao dari BSoP Manila sertga pandangan2 C.S Lewis maupun L. Pouyer, maka untuk konteks kerohanian kristen di tanah air, menurut penulis ada paling tidak 8 (delapan) ragam corak model/gaya2 kerohanian kristen yang dapat dijumpai di Indonesia , sebagai berikut:

1. Model/gaya kerohanian (spiritualitas) kristen: Komitmen, obedience.
Gaya kerohanian kristen dari tokoh/individu/komunitas kristen ini adalah komitmen, komitmen dan komitmen. Sangat anti "komat-kamit", omong doang alias NATO (No Action Talk Only). Menekankan kualitas, kualitas dan kualitas. 'Tidak sabar' terhadap mereka yang tidak taat, tidak komitmen, hanya berperilaku relijius namun tidak menjalankan apa yang diibadahkan, dikhotbahkan, diomongkan dalam perbuatan dan kesaksian sehari-hari. Penulis menengarai tokoh2/individu/kelompok komunitas ini sangat sedikit di negeri yang kita cintai ini.

Model kerohanian komitmen ini terlihat nampak jelas pada kehidupan dan pengajaran Samuel (dalam PL), dan rasul Paulus (dalam PB). Model kerohanian yang menekankan nilai2 ketaatan (obedience), taat tanpa reserve, bahkan ketaatan radikal kepada Tuhan/Kristus. Komitmen sejati, bukan komat-kamit. Mencerminkan kepemimpinan penuh keteladanan, kepemimpinan yang konsisten. Satu kata, hati dan perbuatan. Konsistensi dalam hidup dan kerohanian, dalam rentang waktu yang sangat lama. Bersemboyankan “no retreat, no regret, no reserve” (pantang mundur, pantang menyesal, ‘pantang punya cadangan’). Tokoh Maria, ibu Yesus dan Yohanes dalam PB, juga mencerminkan ketaatan, kepasrahan, kesetiaan (faithfulness) dan kebergantungan yang mutlak kepada kehendak dan rencana Tuhan.

Contoh model ini ada pada kehidupan sangat banyak tokoh sejarah gereja/kristen dari Barat. Ada pada kehidupan Dr I. L Nommensen (zending missionar Batak), Hudson Taylor (pendiri China Inland Mission), Dr John Sung (penginjil Api Asia) dan Dr John Stott (Anglican/InterVarsity UK). Di Indonesia, menurut penulis bisa dilihat pada kehidupan Dr Dorothy Marx, Keluarga Tong bersaudara (Dr Stephen Tong, Dr Kaleb Tong, dll), alm. Dr Justin Sihombing (Ephorus HKBP), alm penginjil Jeremia Rim, tokoh2 reformed injili, pendiri/pembina/pelayan perkantas, tokoh lpmi, tokoh2/pelayan abba-love, pastor2/biarawan/biarawati katolik dan pendeta2/evangelis2 yang bekerja di tanah air, tanpa lelah – tak dapat disebutkan namanya satu persatu, dll.

2. Model/gaya kerohanian kristen: Kasih dan Kekudusan.
Model ini nampak jelas pada kehidupan Yusuf, Daniel (dalam PL) dan rasul Yohanes, Petrus dan Paulus (dalam PB). Cukup banyak tokoh2 Barat yang menekankan perihal hal ini seperti J.I. Packer, A.W. Tozer, Billy Graham, dll. Tokoh2 injili/komunitas gereja Baptis dan gerakan Holiness (Keswick movement) di Indonesia dan beberapa aliran puritan, gereja2 karismatik dan beberapa lembaga2 pelayanan Kristen di negeri ini, sangat menekankan pentingnya kedua hal ini: kasih & kekudusan. Kelompok dengan gaya kerohanian kristen ini juga relatif sedikit dijumpai di negeri ini.

3. Model/gaya kerohanian kristen: Kasih dan Kesatuan/Keesaan, unity, unitarial’.
Model ini nampak jelas pada kehidupan Musa/Yosua (dalam PL) dan rasul Petrus dan Yohanes (dalam PB). Pentingnya bagi individu/tokoh2/komunitas ini peran kasih yang tercermin dalam kesatuan, keseimbangan, dialog dalam perdamaian, toleransi, dst. Gereja2 dalam naungan oikoumenical (gerakan oikoumenis) di Indonesia, terutama dalam wadah PGI (HKBP, GPIB, GKI, GBKP, dll) sangat menekankan hal ini: kasih dan keesaan. Tentunya juga gereja-gereja suku, gereja2 yang terbentuk dan dipertautkan melalui pergumulan/pengalaman historis, melalui juga kesamaan sosial (social similarities) tradisi suku atau etnis di mana mereka terlibat. Selain iman, 'kasih' yang merekatkan mereka adalah kesatuan-kesamaan etnis/suku/budaya/latar belakang zending sejak jaman kolonial.

4. Model kerohanian kristen: Mistik (mistis, mystical).
Pemahaman iman lebih ditekankan kepada segi mystical, mistis. Iman yang mistis. Sesuatu yang supranatural, adikodrati. Kurang melibatkan aspek akal budi (reasons), tapi lebih kepada aspek penglihatan, nubuatan dan sejenisnya.
Model ini banyak dinuansa oleh hidup dan tradisi kenabian nabi2 Yesaya dan Yehezkiel dalam PL. Orang2 Kristen di Indonesia (gereja2, ministry) yang diwarnai oleh pelayanan gerakan pentakosta dan karismatik dari Amerika (Pincster, Jane Seymore, Bethel Churches USA), dari Korea Selatan (David Yonggi Cho), dan dari kelompok pentakosta/karismatik tradisi Cina dan (mungkin) Jawa/lokal2 lainnya di Indonesia sebagaimana dijumpai pada pendiri Gereja Bethany Successful Families, GBI Bethany (dulu), Gereja Tiberias, Benny Hinn Ministries, dll. Banyak sekali umat Kristen yang 'mencari' opsi2 penyembuhan, kesehatan, rejeki (bekat, blessings), kebutuhan psikologis lainnya terlibat dalam pelayanan tokoh/individu/komunitas/gereja dengan gaya kerohanian seperti ini.

5. Model kerohanian kristen: Kasih, Komunitas dan Keadilan.
Banyak diwarnai oleh tradisi kenabian nabi2 Mikha dan Amos. Kedewasaan kerohaniannya tercermin dalam dedikasinya mlayani komunitas (miskin, kurang beruntung, korban ketidak-adilan): orang2 Kristen di Indonesia (gereja2, ministry) yang diwarnai oleh pelayanan tokoh2 Kristen Parpem DGI/PGI, tarekat Katolik besutan Fransiscus dari Asisi, Bunda Theresa, Canossan, dll, Romo Van Brouwer (ICCO Belanda), Romo Mangunwijaya di Kali Code Yogya, tokoh2 pendiri Tear Fund UK, Holland, NZ, Romo Sandyawan dan masih banyak lagi pionir2 dari kelompok2 pelayanan Kristen bagi orang susah dan menderita (BfdW, OI, MT, WPSS, BN, YAO, JK Bali, MCh, Japras, dll).

6. Model kerohanian kristen: Asketis.
Dinuansa oleh tradisi kenabian dari Yonadab bin Rekhab, leluhur Rekhabites: model kerohanian bernuansa asketis (model asketis). Orang2 Kristen di Indonesia (gereja2, ministry) yang diwarnai oleh pelayanan a.l: Watchman Nee, Sadhu Sundar Singh, pendiri2 pertama Gereja Bali buah pelayanan misi CMA/CAMA yang mengalami penganiayaan/pembuangan/ pengucilan dari masyarakat Hindu di Bali (era 1930-1960), dll.

7. Model kerohanian kristen: Skeptis, apatis (Sceptical).
Cendrung dinuansa oleh model gaya kerohanian Thomas, murid Yesus dalam PB. Lebih ingin percaya jika melihat, beriman jika mengetahui dan mengerti dahulu. Padahal iman kata Yesus, adalah percaya walau tidak melihat. Percaya meski belum mengerti sepenuhnya. Namun model gaya spiritualitas ini lebih cendrung mengandalkan rasio dan pertimbangan intelektualnya. Intelektual penting dan sangat perlu, namun rasio dan intelek perlu atau mesti ditundukkan kepada otoritas kehendak Tuhan sebagaimana tertulis pada Scripture (Alkitab). Thomas menerima banyak belas kasihan dan rakhmat Tuhan dalam pembentukan kerohaniannya.

8. Model kerohanian kristen: Kontemplatif
Banyak dinuansa oleh tradisi kenabian dari nabi Habakuk dalam PL. Yang mempertanyakan kebenaran, keadilan dalam meditasi perenungan yang bersifat kontemplatif.
Orang2 Kristen di Indonesia (gereja2, ministry) yang diwarnai oleh pelayanan tokoh2 misionaris Kristen/Gereja dari Korea yang dalam 10 tahun terakhir ini banyak membina/bekerjasama dengan gereja/pelayanan/STT di Indonesia .

Uraian diatas adalah contoh2 ragam model/gaya2 kerohanian kristen yang banyak ditemui di negeri kita, paling tidak dalam 10-20 tahun terakhir ini.

Model/gaya kerohanian manakah dari uraian ragam di atas, yang lebih tepat, baik dan benar? Itu terpulang dari pemahaman dan pengkajian anda sendiri.

Model, gaya kerohanian (spiritualitas) Kristus Yesus sebagai Model kerohanian (spiritualitas) Ideal.
Tentu yang kita harapkan dan rindukan sebagai orang Kristen di negeri ini sudah selayaknya adalah model, gaya kerohanian (spiritualitas) Kristus Yesus, sebagai model/gaya kerohanian kristen acuan yang ideal. Ideal sepatutnya karena telah mencakup seluruh model/gaya2 kerohanian di atas. Suatu gaya kerohani-an yang ideal, sempurna, komplit dan dewasa utuh (Yun: teleios, teleion).

Soli Deo Gloria !

Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) *)

No comments:

Post a Comment