Tugas Gereja masa kini di Indonesia adalah Mengutus. Pengutusan. Mengutus siapa? Mengutus Jemaat seluruh jemaat, yang tua-muda besar kecil laki2 perempuan secara sosial kaya atau miskin, pintar atau tidak begitu pintar dst..untuk melayani dan bersaksi di mana-mana, di berbagai bidang hidup kesehariannya.
Barangkali tidak cukup bagi Pimpinan Majelis Gereja mengutus seluruh Jemaat dari mimbar. Tidak cukup hanya lewat warta gereja, lewat Berkat Pengutusan yang diucapkan lewat Liturgi Kebaktian, sebelum warga Jemaat aktif bergereja pergi beranjak pulang meninggalkan gedung gereja di hari Minggu atau hari2 kebaktian lainnya.
Gereja Pimpinan Gereja Pucuk pimpinan Gereja Majelis Gereja masa kini di tanah air, harus lebih ekstra bekerja keras di hari-hari ini.
Siapa yang mengutus, melakukan Tugas Pengutusan Gereja? Para pimpinan Gereja: Penatua/sintua, Diaken, Gembala Pelayan Tahbisan Non Tahbisan Bishop penilik overseer, Ketua Dewan Marturia, Koinonia, Diakonia Guru Sek Minggu, Parhalado Paniroi dst.
Sejatinya jemaat tidaklah diutus ke dalam, tapi ke luar 'hadir' di dan ke tengah2 masyarakat, komunitas, bangsa.. untuk melayani dan bersaksi.. sesuai dengan bidang minat, kata hati nurani, talenta, profesi karunia kompetensi sumber daya, pengetahuan.. yang dipunyai oleh masing2 anggota/keluarga jemaat tersebut.
Cara bersaksi melayani jemaat yang diutus bagaimana? Melalui kesaksian (contoh) hidup, perkataan, suara "kenabian", karya2 yang bagus baik dan benar yang bisa dibuat oleh masing2 anggota jemaat sesuai minat kata hati panggilan hati talenta keterbebanan mereka. Ada yang hadir dan terjun di bidang pelayanan sosial (filantropis, NGO community development, transformasi, perspektif global dst), pelayanan bagi para pengusaha, para mahasiswa, guru, kaum urban, di bidang politik, bidang 'pemberlayanan' ekonomi, pelayanan media koran, TV, sutradara, penyanyi, kerumah-tanggaan, HIV/flu burung, pelayanan bidang konseling/curhat dst dst.
Kira2 apa tujuan seluruh jemaat harus bersaksi dan melayani di tempat/hidupnya masing2 apa? Ya, menyatakan kebaikan Allah. Mencari yang terhilang. Membangunkan yang patah semangat patah arang. Menghibur yang dilanda kepahitan dan kesusahan. Membangun trust dan keyakinan. Membawanya dengan lembut dan benar seperti 'Andreas murid Yesus' secara bertahap/berproses kepada Sumber Penghiburan sejati. Juruselamat. Memperkenalkan dan membawanya bilamana tergerak tanpa paksa2 pada apa itu Gereja dan fungsi Gereja.
Apa tugas Gereja selanjutnya? Bukan hanya sekedar kumpul2 sosial tanpa mission statement yang jelas. Dr. Martin Luther King Jr mengatakan kalau hanya demikian, dipastikan Gereja akan hilang makna daya greget dan power spiritualitasnya. Gereja secara refleks harus membina memuridkan mengkader merekrut (rekrutmen) 'mereka' yang baru tersesat' dan ditemukan kembali oleh anggota warga jemaat terutus, 'jemaat yang sudah ada (eksis)'. Tujuannya agar mereka bisa jadi calon anggota lantas jadi anggota Gereja yang bertumbuh rohaninya, sosialnya, cara pandangnya serta pemahamannya. Bagaimana menjadi Kristen mengemban tugas bersaksi dan melayani di berbagai bidang hidup sebagai 'kristen baru', 'kristen restoratif', kristen rebirth, kristen lahir baru, kristen kupu-kupu (tidak lagi jadi ulat atau kepompong)..dst.
Hendaknya gereja tidak membiarkan kristen anggota jemaat biasa menjadi tetap "ulat" atau hanya sampai jadi "kristen kepompong". Namun harus tuntas sampai menjadi kristen kupu-kupu yang sanggup terbang di tanaman, pohon, 'ramba-rambanya' masing2 (bidang hidup panggilan hatinya masing2). Tugas pembinaan warga jemaat ini disebut Tugas Pemuridan Gereja, tugas pemuridan yang wajib dilakukan oleh seluruh Pimpinan Pengurus Ketua Dewan dan Aktivis Pelayanan Gereja.
Konklusinya, Gereja simpelnya ber tugas fungsi dua (2) saja bagi warga jemaat komunitas bangsa dan dunia, namun sangat sangat penting & urgen:
(1) Gereja harus wajib menjadi seperti Training Center (TC) jadi pusdiklat spiritualitas kristen, pusat pengembagan SDM kristen dan pusat kebudayaan dengan nilai2 kristen, dan
(2) Gereja harus wajib melakukan Tugas Pengutusan bagi warga jemaat komunitas biasa yang telah terbina terlatih dalam hal2 di atas guna bersaksi melayani di bidangnya sehari2. Menyatakan kebaikan Allah, mencari yang hilang dan menghadirkan koinonia2 (persekutuan2) organik baru di tempatnya masing2.
Tugas Pengutusan bagi Gereja masa kini adalah keharusan, it's a must. Tugas pengutusan yang erat terkait dengan tugas Training Center pusdiklat SDM kristen atau Tugas Pemuridan.
So, era kini dan ke depan Pemimpin Pengurus Majelis Pucuk Pimpinan Gereja harus melakukan tugas panggilan apa?:
1. Pemuridan (Pengkaderan, Perekrutan baru/lama) !!
2. Persekutuan (Koinonia).
3. Penggembalaan (dgn inti atau 'core' nya: Konseling !!)
4. Pengutusan !!
5. Pelayanan (Diakonia), baik yang berciri diakonia tradisional, diakonia sosial, diakonia modern, diakonia transformasional era postmodern ).
6. Penginjilan/Kesaksian (Marturia).
----- (poin 7. ....menyusul, cukup 7 saja, konsisten saja dijalankan: luar biasa, RED).
Tanpa tugas Pengutusan dan Pemuridan (sebagai Training Center, pusdiklat SDM pengkaderan spiritualitas dan transformasi masyarakat) terhadap Seluruh Anggota Jemaat biasa, maka cepat atau lambat di era kini dan ke depan, Gereja, apa pun organisasinya, akan 'memble', kehilangan peran dan daya gregetnya. Tugas pengutusan dan pemuridan adalah pilar "Sosrobahu" untuk bangunan 'rumah' eklesia atau gereja.
Bila tidak, Gereja akan jadi museum dan dimuseumkan seperti layaknya di Eropa sekarang. Maka, segeralah, mari kita bergerak fokus kepada Tugas Pengutusan dan Tugas Pemuridan.
Salam pengutusan dan pemuridan,
HMS.
Friday, August 24, 2007
Thursday, August 23, 2007
Fundamentalis dan Liberalis.
Soal fundamentalis dan liberalis sering masih mencuat. Baik dalam wacana maupun di praktis sehari-hari. Salahkah di negeri kita menjadi fundamentalis, salahkan menjadi liberalis?
'Fundamentalis' menurut saya masih sangat dibutuhkan. Diperlukan bagi kita dan bangsa ini yang masih seperti begini. Mungkin seterusnya. Ya, fundamentalis di bidang apa saja. Di bidang ekonomi, teologia, keluarga, agama, usaha, pembinaan generasi muda, dll. Bukankah jika tanpa fundamen atau fondasi, "rumah" apapun jadi gampang roboh. Bukankah karena tanpa fundamen atau dasar fondasi yang kuat ini juga, maka "rumah" bangsa ini nyaris runtuh? Terutama sejak krisis ekonomi 97/98 dan reformasi bergulir mengambil jalannya sendiri bak prinsip 'Mestakung'. Fundamen 'asli' sangat diperlukan.
Kita ingat di penghujung 1997 sampai paruh 2000 banyak praktisi dan pakar kita komentar fundamental ekonomi kita masih sangat kuat. Namun mana? Apaan? Kala krisis menerpa, negeri ini jadi sakit terkapar menggelepar sulit bisa bangun2 layaknya petinju Jepang Takemoto dihajar Chris John baru2 ini. Orang lain (negeri tetangga lain) seperti Malaysia, Thailand, Korsel, sudah pada bangun dan pulih, kita masih 'puyeng keteter' keliyeng2' ngga karuan. Ibarat orang baru bangun tidur, nyebut arah Barat Timur Selatan aja ngga sanggup. Dengkul masih loyo, geregetan lagi.
Faktanya setelah ditelisik, bukan saja fundamental ekonomi yang nyatanya keropos. Fundamen moral juga. Fundamental keagamaan dan teologi juga. Keadilan sosial (social injustice) juga. Etos hidup kedisiplinan etos kerja profesionalitas apa lagi. Yang ada saling salah-menyalahkan. Bukan 'speak the truth in love', tapi "speak the love in untruth" bahkan yang lebih memprihatinkan lagi "speak the things without love and truth".
Kita masih sangat memerlukan orang2 di bidang agama, pendidikan, lingkungan dan bangsa ini yang berbicara melatih berkarya mengkritisi mengemong di aras fundamental, kalau perlu sampai ke tingkat akar (radiks). Jangan pernah bermimpi berpikir hal yang lebih tinggi, advanced maju level unggul kreativitas, termasuk berbagai rencana 'pembangunan' , jika hal2 yang fundamental terus2an tak tersentuh, ditelantarkan.
Kreativitas, liberalis, pengkajian ulang, mindset dekonstruksi, defundamentalisasi sampai "Kristen-Lib" barangkali perlu. Namun hemat saya perlu diliat konteksnya, kita berada di mana. Kita bukan hadir di negeri, di wadah agama, di entitas gereja dll, yang segala-galanya fundamen2nya tradisi2nya sudah mapan established, seperti halnya di Barat Eropa & AS.
Di negeri ini segala2nya masih belum dapat disebut mapan fundamennya. Fundamen kita masih banyak 'cangkokan' yang belum bisa disebut orisinalitas asli kita. Kita masih mengejar mana yang disebut fundamen otentik kita. Negara Indonesia memang sudah terbentuk 62 tahun. Namun, apakah kebangsaan Indonesia juga sudah terbentuk, mapan fundamennya. Di jawab sendirilah. Itu mengenai bangsa. Bagaimana dengan agama, gereja?
Apakah fondasi agama, gereja yang betul2 telah mengindonesia telah terbentuk berproses terformat baik, dengan benar? Kita bisa jawab sendiri juga.
Nah., masalahnya sekarang fundamentalis bagaimana yang kita harapkan ada di Indonesia, di agama, di gereja, di kekristenan? Tentu bukan fundamentalis serba generik yang mengklaim sudah mentradisi padahal belum atau bukan tradisional akar yang sehat dan menyuburkan. Bukan fundamentalis yang miskin wawasan miskin worldview miskin pergaulan berbangsa (seperti seekor kodok dalam kotak sabun wangi). Bukan juga miskin love, peace & respect for others dan miskin kebijaksanaan. Bukan fundamentalis yang 'asal'. Asal mengkritisi, asal debat, asal apologet. Tapi sebaliknya. Mungkin lebih sopan dan tau aturan, lebih sabar, lebih 'open minded'. Mengkritisi, mendebat, apologet juga ada dasar fundamennya dan caranya.
Sebab itulah kita perlu saling belajar. Di balik kemegahan, mungkin kemewahan serba luks kita, kehebatan kita, glorifikasi yang sempat mampir ke kita, saya mungkin masih harus yakini bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan kita. Kita masih harus banyak belajar mendengar. Listening skills, hati dingin kepala dingin keterbukaan hati pikiran ditengarai masih banyak belum dimiliki kaum intelligence intelektual master mind politisi agamawan kita. Cermin Asia, yang juga dijumpai di Afrika dan Amerika Latin. Masih cukup banyak ditengarai yang hanya asal teriak 'gila'.. Kader2 di bawah dan massa di bawah juga jadi ikut2an teriak 'gila'. Bukan massa cair yang murni, tapi massa yang terprovokasi.
So, bagaimana? Kita punya keyakinan fundamentalis masih diperlukan di negeri ini. Masih 'diijinkan' ada di negeri ini. Termasuk oleh pemerintah. Apalagi oleh Tuhan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana memunculkan fundamentalis sejati yang mengindonesia, yang baik benar, luas pemikiran dan kebijaksanaannya. Bermoral, mencintai gereja tak memusuhi gereja; sama sekali tak chaotic. Yang liberalis pun begitu. Bukan liberalis yang asal, namun liberalis sejati yang mengindonesia, yang bukan asal jadi amplifier atau terompet. Tidak liar dan tidak jadi chaotic.
Salam fundamental,
Hans Midas Simanjuntak (:
'Fundamentalis' menurut saya masih sangat dibutuhkan. Diperlukan bagi kita dan bangsa ini yang masih seperti begini. Mungkin seterusnya. Ya, fundamentalis di bidang apa saja. Di bidang ekonomi, teologia, keluarga, agama, usaha, pembinaan generasi muda, dll. Bukankah jika tanpa fundamen atau fondasi, "rumah" apapun jadi gampang roboh. Bukankah karena tanpa fundamen atau dasar fondasi yang kuat ini juga, maka "rumah" bangsa ini nyaris runtuh? Terutama sejak krisis ekonomi 97/98 dan reformasi bergulir mengambil jalannya sendiri bak prinsip 'Mestakung'. Fundamen 'asli' sangat diperlukan.
Kita ingat di penghujung 1997 sampai paruh 2000 banyak praktisi dan pakar kita komentar fundamental ekonomi kita masih sangat kuat. Namun mana? Apaan? Kala krisis menerpa, negeri ini jadi sakit terkapar menggelepar sulit bisa bangun2 layaknya petinju Jepang Takemoto dihajar Chris John baru2 ini. Orang lain (negeri tetangga lain) seperti Malaysia, Thailand, Korsel, sudah pada bangun dan pulih, kita masih 'puyeng keteter' keliyeng2' ngga karuan. Ibarat orang baru bangun tidur, nyebut arah Barat Timur Selatan aja ngga sanggup. Dengkul masih loyo, geregetan lagi.
Faktanya setelah ditelisik, bukan saja fundamental ekonomi yang nyatanya keropos. Fundamen moral juga. Fundamental keagamaan dan teologi juga. Keadilan sosial (social injustice) juga. Etos hidup kedisiplinan etos kerja profesionalitas apa lagi. Yang ada saling salah-menyalahkan. Bukan 'speak the truth in love', tapi "speak the love in untruth" bahkan yang lebih memprihatinkan lagi "speak the things without love and truth".
Kita masih sangat memerlukan orang2 di bidang agama, pendidikan, lingkungan dan bangsa ini yang berbicara melatih berkarya mengkritisi mengemong di aras fundamental, kalau perlu sampai ke tingkat akar (radiks). Jangan pernah bermimpi berpikir hal yang lebih tinggi, advanced maju level unggul kreativitas, termasuk berbagai rencana 'pembangunan' , jika hal2 yang fundamental terus2an tak tersentuh, ditelantarkan.
Kreativitas, liberalis, pengkajian ulang, mindset dekonstruksi, defundamentalisasi sampai "Kristen-Lib" barangkali perlu. Namun hemat saya perlu diliat konteksnya, kita berada di mana. Kita bukan hadir di negeri, di wadah agama, di entitas gereja dll, yang segala-galanya fundamen2nya tradisi2nya sudah mapan established, seperti halnya di Barat Eropa & AS.
Di negeri ini segala2nya masih belum dapat disebut mapan fundamennya. Fundamen kita masih banyak 'cangkokan' yang belum bisa disebut orisinalitas asli kita. Kita masih mengejar mana yang disebut fundamen otentik kita. Negara Indonesia memang sudah terbentuk 62 tahun. Namun, apakah kebangsaan Indonesia juga sudah terbentuk, mapan fundamennya. Di jawab sendirilah. Itu mengenai bangsa. Bagaimana dengan agama, gereja?
Apakah fondasi agama, gereja yang betul2 telah mengindonesia telah terbentuk berproses terformat baik, dengan benar? Kita bisa jawab sendiri juga.
Nah., masalahnya sekarang fundamentalis bagaimana yang kita harapkan ada di Indonesia, di agama, di gereja, di kekristenan? Tentu bukan fundamentalis serba generik yang mengklaim sudah mentradisi padahal belum atau bukan tradisional akar yang sehat dan menyuburkan. Bukan fundamentalis yang miskin wawasan miskin worldview miskin pergaulan berbangsa (seperti seekor kodok dalam kotak sabun wangi). Bukan juga miskin love, peace & respect for others dan miskin kebijaksanaan. Bukan fundamentalis yang 'asal'. Asal mengkritisi, asal debat, asal apologet. Tapi sebaliknya. Mungkin lebih sopan dan tau aturan, lebih sabar, lebih 'open minded'. Mengkritisi, mendebat, apologet juga ada dasar fundamennya dan caranya.
Sebab itulah kita perlu saling belajar. Di balik kemegahan, mungkin kemewahan serba luks kita, kehebatan kita, glorifikasi yang sempat mampir ke kita, saya mungkin masih harus yakini bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan kita. Kita masih harus banyak belajar mendengar. Listening skills, hati dingin kepala dingin keterbukaan hati pikiran ditengarai masih banyak belum dimiliki kaum intelligence intelektual master mind politisi agamawan kita. Cermin Asia, yang juga dijumpai di Afrika dan Amerika Latin. Masih cukup banyak ditengarai yang hanya asal teriak 'gila'.. Kader2 di bawah dan massa di bawah juga jadi ikut2an teriak 'gila'. Bukan massa cair yang murni, tapi massa yang terprovokasi.
So, bagaimana? Kita punya keyakinan fundamentalis masih diperlukan di negeri ini. Masih 'diijinkan' ada di negeri ini. Termasuk oleh pemerintah. Apalagi oleh Tuhan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana memunculkan fundamentalis sejati yang mengindonesia, yang baik benar, luas pemikiran dan kebijaksanaannya. Bermoral, mencintai gereja tak memusuhi gereja; sama sekali tak chaotic. Yang liberalis pun begitu. Bukan liberalis yang asal, namun liberalis sejati yang mengindonesia, yang bukan asal jadi amplifier atau terompet. Tidak liar dan tidak jadi chaotic.
Salam fundamental,
Hans Midas Simanjuntak (:
Simpati terhadap Sdri. Felyshia dan Adik. Menyoal Upaya Keamanan Pribadi, Keluarga, Komunitas dst.
Tulisan ini terkait dengan simpati saya terhadap apa yang dialami oleh Sdri Felyshia, terutama adiknya. Sesuai dengan postingnya di berbagai milist (23/8/3007) berjudul "Mobilku Ditabrak, Aku dan Adikku Dianiaya Penabrak".
Kita memang harus tetap ambil hikmahnya. Perlu bagi kita sekalian bergandengan tangan untuk memperjuangkan keadilan di tengah banyaknya ketidak-adilan yang terjadi di sekitar kita. Keadilan, termasuk keadilan sosial, memang harus diperjuangkan. Tak bisa hanya dibayang2kan atau dimimpikan.
Lain hal dengan itu, faktor safety & security (keselamatan & keamanan) diri, keluarga, komunitas sampai tingkat bangsa harus menjadi ekstra perhatian kita. Kejadian yang menimpa Sdri Felyshia dan adik, terlalu banyak untuk disebutkan. Dari kasus kecil sepele sampai kasus2 besar yang dimuat di media nasional. Kita tau bagaimana sekarang kasus penculikan anak begitu marak, beberapa waktu yang lalu kasus penghilangan orang (seperti alm. Munir belum tuntas masalahnya), kasus KDRT, penganiayaan dalam taksi, dll.
Setiap waktu, di setiap tempat dan keadaan kebrutalan bisa saja menghadang. Maklum, jaman ini jaman kesenjangan. Ketimpangan. Kesenjangan banyak hal, tidak hanya sosial. Di satu pihak, orang pada berburu dalam lingkungan hyper-kompetisi seperti ini agar dapat 'tampil paling beda' (make most difference), tampil paling unik, 'paling lain dari yang lain', maka di seberang lain masih banyak orang masyarakat yang belum dapat menerima perbedaan, apalagi kesenjangan. Baik perbedaan kesenjangan sedikit saja, maupun perbedaan mencolok sekalipun.
Perbedaan apalagi kesenjangan dapat membuat orang sebagian kelompok komunitas sub kultur masyarakat menjadi cemburu (kecemburuan sosial), iri, geram, gerah, marah, sakit hati yang laten, tersimpan dalam hati. Yang bisa meledak sewaktu-waktu tanpa permisi. Kalau sudah marah, mata menjadi gelap, hati mendidih, kemudian menggeneralisasi orang atau keadaan. Melakukan pembalasan, revenge, yang kadang bukan kepada orang yang tepat, kelompok yang tepat. Salah alamat. Namun apa hendak dikata, tindakan violence, barbar, brutal sudah sempat dilayangkan. Berakibat korban yang betul alamatnya masih 'mending', namun yang sangat menyedihkan bila korban yang dituju salah alamat. Bukan 'dia' atau 'mereka' yang seharusnya dijadikan sasaran. Sasaran tembak.
Yang jadi masalah, soal penegakkan hukum di negeri ini, kinerja polisi dan keamanan, masih jauh dari optimal. Berapa jumlah polisi? satuan polisi pamong praja, satpam, hansip? Bagaimana juga kualitasnya? Nah, karena hal-hal itulah maka tidak heran pribadi2 keluarga2 komunitas2 tertentu mau tidak mau mempersenjatai dirinya mulai dari 'belajar bela diri', coba memiliki senjata api (dari yang sederhana sampai yang canggih), mempunyai keamanan pribadi/keluarga sendiri (satpam, sistem alarm, memakai jasa pengamanan/body guard pengawal sampai menghubungi 'orang pintar' guna praktek klenik) menjagai dirinya, rumahnya, mobilnya, anggota keluarga, dst. Di sisi lain, umat Tuhan mengandalkan doa, minta perlindungan Tuhan melalui malaikat penolongNya. Faktanya, keselamatan & keamanan 'hare gene' kini memang menjadi komoditi mahal bahkan mewah.
Nah, bagaimana dengan kita? Mungkin kita perlu mengevaluasi diri. Apakah saya selama ini faktualnya telah 'tampil beda' 'tampil paling lain' 'tampil paling unik' 'lain dari yang lain'. Yang mungkin bisa membuat potensi kesenjangan dengan orang lain pihak lain komunitas lain masyakakat sekitar, tercipta atau bertambah. Tampil beda dan 'kesenjangan' sosial kita bisa kita tampilkan melalui hal yang paling sederhana. Perhiasan yang kita pakai sehari2, tampilan pakaian kita, rumah kita, mobil kita, hand phone; singkatnya gaya hidup atau life style kita. Mungkin bisa membuat 'tebar pesona' 'minta perhatian orang (MPO)' dari khalayak sekitar. Tapi jangan salah, bisa juga membuat 'tebar cemburu' 'tebar iri' 'tebar teror' dan tebar-tebar yang lain.
Tampil beda atau terciptanya kesenjangan juga bisa dikarenakan cara pandang, selera, prinsip, doktrin, ideologi, iman percaya yang kita anut. Jika nyatanya paling beda, 'paling paling' bisa di satu pihak menebar pesona, tapi juga menebar teror, tindakan barbar, brutalisme terutama dari pihak yang dirugikan oleh prinsip, doktrin, kepercayaan kita tersebut. Brutalisme pertama melihat simbol2 dari kepercayaan, dan kemudian merusak simbol2 tersebut, sampai tidak luput kepada orang2 atau penganutnya yang dibarbar.
Ini yang disebut dengan 'keberbedaan' 'kesenjangan' dalam soal agama dalam istilah SARA. Agama atau aliran2 agama yang tampil paling-paling beda dengan yang lain, pasti akan menjadi sasaran tembak, terutama juga bagi tokohnya. Hal lain adalah kesenjangan soal etnis kesukuan. Etnis atau suku yang mau tampil serba serba lain dan paling2 beda, maka tidak mustahil akan dibarbar oleh yang lain. Demikian juga dengan golongan, komunitas, keluarga sampai pribadi yang berani tampil2 beda pasti akan mendapat hukuman sosial yang sangat kejam dari pola sosialisme bablas atau sistem komunalisme bablas yang sesungguhnya keliru dan terlampau ekstrim.
Mendidik masyarakat sosial menjadi lebih berbudaya, civilized, lebih demokratis merupakan jalan panjang yang harus diretas bersama. Masyarakat mayoritas yang lebih bisa menerima perbedaan dan kesenjangan. Meski dituntut pula bagi pribadi di sektor privat, keluarga komunitas, perusahaan, dst agar mampu melakukan 'self security' secara swadaya. Dan yang paling manjur adalah bersikap lebih bijaksana. Mengedepankan semangat kebersamaan, unity saya kira sangat penting. Tidak melulu menekan2kan perbedaan, keunikan prinsip, ajaran, cara pandang, dan berusaha paling benar sendiri, ingin menang sendiri.
Bagi kita yang cendrung memiliki karakter tabiat perangai mengandung potensi konflik yang tinggi, mungkin ke depan perlu lebih belajar menahan diri. Namun kalau percaya diri, ya silakan diteruskan. Tentu sudah dipikirkan masak2 berbagai resiko terburuk yang akan diterima. Penganiayaan, pemukulan, pemecatan, kekerasan, kebrutalan. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menekuni pekerjaan profesi yang mengandung potensi konflik tinggi, perlu memiliki sikap alert, extra hati-hati.
Bukan untuk menakut nakuti. Memang faktanya keadaan kita masih demikian. Maklum kita tinggal dan hidup, bukan di negara2 yang telah maju dalam hal survival, sehat fisik, perut tidak kosong, kesejahteraan ekonomi dan politik. Jika di negara2 seperti itu, orang mau berdebat berapologet adu konsep adu mulut masih bisa 'peaceful coexistence' berdampingan lagi bersalam2an lagi dengan damai, berpisah tanpa dendam dan sakit hati.
Namun, di negeri ini bagaimana bisa? Berdebat, berapologetika, adu pendapat adu konsep adu gagasan, adu keterampilan sekalipun (seperti liga sepakbola kita) seringkali membuahkan keadaan chaos, adu jotos, kekerasan, tawuran, pembakaran pengrusakan, brutalisme. Karena kondisi mayoritas masyarakat masih perut keroncongan, jiwa tidak sehat, banyak problem dan kesusahan keseharian; bukan hanya di rumah, tapi juga di pabrik di pergaulan komunitas atau di kantor, dll. Mayoritas yang belum bisa survived, masih 'merayap' dalam kegelapan kesulitan kemiskinan ekonomi. Berapa gelintir di negeri ini yang sudah betul2 sehat ekonomi politik? Kita bisa menjawabnya, baik untuk di kota2 besar seperti Jakarta Surabaya, dll maupun di desa dan pesisir sekalipun.
Maka bagi orang2 yang tampil ingin selalu berbeda dalam kehidupan, perlu sekali mempersiapkan mengantisipasi diri dengan self security tentu dalam batas2 kewajaran dan berlandaskan peraturan dan hukum. Self security juga jangan terlalu mencolok, karena yang mencolok itu juga akan membuahkan kesenjangan; menjadikan brutalisme semakin bereaksi lebih keras.
Salam damai dan keamanan,
Hans Midas Simanjuntak.
Kita memang harus tetap ambil hikmahnya. Perlu bagi kita sekalian bergandengan tangan untuk memperjuangkan keadilan di tengah banyaknya ketidak-adilan yang terjadi di sekitar kita. Keadilan, termasuk keadilan sosial, memang harus diperjuangkan. Tak bisa hanya dibayang2kan atau dimimpikan.
Lain hal dengan itu, faktor safety & security (keselamatan & keamanan) diri, keluarga, komunitas sampai tingkat bangsa harus menjadi ekstra perhatian kita. Kejadian yang menimpa Sdri Felyshia dan adik, terlalu banyak untuk disebutkan. Dari kasus kecil sepele sampai kasus2 besar yang dimuat di media nasional. Kita tau bagaimana sekarang kasus penculikan anak begitu marak, beberapa waktu yang lalu kasus penghilangan orang (seperti alm. Munir belum tuntas masalahnya), kasus KDRT, penganiayaan dalam taksi, dll.
Setiap waktu, di setiap tempat dan keadaan kebrutalan bisa saja menghadang. Maklum, jaman ini jaman kesenjangan. Ketimpangan. Kesenjangan banyak hal, tidak hanya sosial. Di satu pihak, orang pada berburu dalam lingkungan hyper-kompetisi seperti ini agar dapat 'tampil paling beda' (make most difference), tampil paling unik, 'paling lain dari yang lain', maka di seberang lain masih banyak orang masyarakat yang belum dapat menerima perbedaan, apalagi kesenjangan. Baik perbedaan kesenjangan sedikit saja, maupun perbedaan mencolok sekalipun.
Perbedaan apalagi kesenjangan dapat membuat orang sebagian kelompok komunitas sub kultur masyarakat menjadi cemburu (kecemburuan sosial), iri, geram, gerah, marah, sakit hati yang laten, tersimpan dalam hati. Yang bisa meledak sewaktu-waktu tanpa permisi. Kalau sudah marah, mata menjadi gelap, hati mendidih, kemudian menggeneralisasi orang atau keadaan. Melakukan pembalasan, revenge, yang kadang bukan kepada orang yang tepat, kelompok yang tepat. Salah alamat. Namun apa hendak dikata, tindakan violence, barbar, brutal sudah sempat dilayangkan. Berakibat korban yang betul alamatnya masih 'mending', namun yang sangat menyedihkan bila korban yang dituju salah alamat. Bukan 'dia' atau 'mereka' yang seharusnya dijadikan sasaran. Sasaran tembak.
Yang jadi masalah, soal penegakkan hukum di negeri ini, kinerja polisi dan keamanan, masih jauh dari optimal. Berapa jumlah polisi? satuan polisi pamong praja, satpam, hansip? Bagaimana juga kualitasnya? Nah, karena hal-hal itulah maka tidak heran pribadi2 keluarga2 komunitas2 tertentu mau tidak mau mempersenjatai dirinya mulai dari 'belajar bela diri', coba memiliki senjata api (dari yang sederhana sampai yang canggih), mempunyai keamanan pribadi/keluarga sendiri (satpam, sistem alarm, memakai jasa pengamanan/body guard pengawal sampai menghubungi 'orang pintar' guna praktek klenik) menjagai dirinya, rumahnya, mobilnya, anggota keluarga, dst. Di sisi lain, umat Tuhan mengandalkan doa, minta perlindungan Tuhan melalui malaikat penolongNya. Faktanya, keselamatan & keamanan 'hare gene' kini memang menjadi komoditi mahal bahkan mewah.
Nah, bagaimana dengan kita? Mungkin kita perlu mengevaluasi diri. Apakah saya selama ini faktualnya telah 'tampil beda' 'tampil paling lain' 'tampil paling unik' 'lain dari yang lain'. Yang mungkin bisa membuat potensi kesenjangan dengan orang lain pihak lain komunitas lain masyakakat sekitar, tercipta atau bertambah. Tampil beda dan 'kesenjangan' sosial kita bisa kita tampilkan melalui hal yang paling sederhana. Perhiasan yang kita pakai sehari2, tampilan pakaian kita, rumah kita, mobil kita, hand phone; singkatnya gaya hidup atau life style kita. Mungkin bisa membuat 'tebar pesona' 'minta perhatian orang (MPO)' dari khalayak sekitar. Tapi jangan salah, bisa juga membuat 'tebar cemburu' 'tebar iri' 'tebar teror' dan tebar-tebar yang lain.
Tampil beda atau terciptanya kesenjangan juga bisa dikarenakan cara pandang, selera, prinsip, doktrin, ideologi, iman percaya yang kita anut. Jika nyatanya paling beda, 'paling paling' bisa di satu pihak menebar pesona, tapi juga menebar teror, tindakan barbar, brutalisme terutama dari pihak yang dirugikan oleh prinsip, doktrin, kepercayaan kita tersebut. Brutalisme pertama melihat simbol2 dari kepercayaan, dan kemudian merusak simbol2 tersebut, sampai tidak luput kepada orang2 atau penganutnya yang dibarbar.
Ini yang disebut dengan 'keberbedaan' 'kesenjangan' dalam soal agama dalam istilah SARA. Agama atau aliran2 agama yang tampil paling-paling beda dengan yang lain, pasti akan menjadi sasaran tembak, terutama juga bagi tokohnya. Hal lain adalah kesenjangan soal etnis kesukuan. Etnis atau suku yang mau tampil serba serba lain dan paling2 beda, maka tidak mustahil akan dibarbar oleh yang lain. Demikian juga dengan golongan, komunitas, keluarga sampai pribadi yang berani tampil2 beda pasti akan mendapat hukuman sosial yang sangat kejam dari pola sosialisme bablas atau sistem komunalisme bablas yang sesungguhnya keliru dan terlampau ekstrim.
Mendidik masyarakat sosial menjadi lebih berbudaya, civilized, lebih demokratis merupakan jalan panjang yang harus diretas bersama. Masyarakat mayoritas yang lebih bisa menerima perbedaan dan kesenjangan. Meski dituntut pula bagi pribadi di sektor privat, keluarga komunitas, perusahaan, dst agar mampu melakukan 'self security' secara swadaya. Dan yang paling manjur adalah bersikap lebih bijaksana. Mengedepankan semangat kebersamaan, unity saya kira sangat penting. Tidak melulu menekan2kan perbedaan, keunikan prinsip, ajaran, cara pandang, dan berusaha paling benar sendiri, ingin menang sendiri.
Bagi kita yang cendrung memiliki karakter tabiat perangai mengandung potensi konflik yang tinggi, mungkin ke depan perlu lebih belajar menahan diri. Namun kalau percaya diri, ya silakan diteruskan. Tentu sudah dipikirkan masak2 berbagai resiko terburuk yang akan diterima. Penganiayaan, pemukulan, pemecatan, kekerasan, kebrutalan. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menekuni pekerjaan profesi yang mengandung potensi konflik tinggi, perlu memiliki sikap alert, extra hati-hati.
Bukan untuk menakut nakuti. Memang faktanya keadaan kita masih demikian. Maklum kita tinggal dan hidup, bukan di negara2 yang telah maju dalam hal survival, sehat fisik, perut tidak kosong, kesejahteraan ekonomi dan politik. Jika di negara2 seperti itu, orang mau berdebat berapologet adu konsep adu mulut masih bisa 'peaceful coexistence' berdampingan lagi bersalam2an lagi dengan damai, berpisah tanpa dendam dan sakit hati.
Namun, di negeri ini bagaimana bisa? Berdebat, berapologetika, adu pendapat adu konsep adu gagasan, adu keterampilan sekalipun (seperti liga sepakbola kita) seringkali membuahkan keadaan chaos, adu jotos, kekerasan, tawuran, pembakaran pengrusakan, brutalisme. Karena kondisi mayoritas masyarakat masih perut keroncongan, jiwa tidak sehat, banyak problem dan kesusahan keseharian; bukan hanya di rumah, tapi juga di pabrik di pergaulan komunitas atau di kantor, dll. Mayoritas yang belum bisa survived, masih 'merayap' dalam kegelapan kesulitan kemiskinan ekonomi. Berapa gelintir di negeri ini yang sudah betul2 sehat ekonomi politik? Kita bisa menjawabnya, baik untuk di kota2 besar seperti Jakarta Surabaya, dll maupun di desa dan pesisir sekalipun.
Maka bagi orang2 yang tampil ingin selalu berbeda dalam kehidupan, perlu sekali mempersiapkan mengantisipasi diri dengan self security tentu dalam batas2 kewajaran dan berlandaskan peraturan dan hukum. Self security juga jangan terlalu mencolok, karena yang mencolok itu juga akan membuahkan kesenjangan; menjadikan brutalisme semakin bereaksi lebih keras.
Salam damai dan keamanan,
Hans Midas Simanjuntak.
Istilah Kata ’PEMBANGUNAN”: Masih Cocokkah Dipergunakan dan Tetap Ingin Dipopulerkan di Era Jaman Begini ??
Informasi dari Transforma Sarana Media (TSM) edisi III Agustus 2007.
Istilah Kata ’PEMBANGUNAN”: Masih Cocokkah Dipergunakan dan Tetap Ingin Dipopulerkan di Era Jaman Begini ?? [Hubungan Antara Seni Kata Etimologis & Politik Kekuasaan di Tanah Air].
Faktanya semakin dirasa banyak kalangan masyarakat (baca: pro rakyat), adanya konotasi negatif saat mendengar istilah kata ’PEMBANGUNAN’ dalam khasanah percakapan bahasa sehari-hari kita. Kalau jaman Orba dulu, kata itu sudah seperti kata atau password sakti di kalangan elit, mirip magician ngucap ’abakadabra’. Sekali terucap kata PEMBA-NGUNAN, urusan semua nyaris jadi lancar apalagi bagi keperluan tender proyek. Mempertautkan ’pengertian yang sama’ ’tau sama tau’ para elit dari pejabat, birokrasi, konglomerat pengusaha, politisi sampai polisi preman dan tentara masuk dalam budaya sistem perilaku gaya hidup yang memper: melakukan segala sesuatu sampai menghalalkan sesuatu demi dan atas nama PEMBANGUNAN.
Maka syahdan kata ’PEMBANGUNAN’ di hari-hari ini terus dipertanyakan, digugat dan dikonotasi negatip. Masa lalu yang getir, terutama untuk lapisan masyarakat yang mengalami ketidak-adilan, termajinalkan, tersingkir, tertindas. Kata itu sungguh membuat banyak masyarakat ’unhappy’, ngga suka. Mendengar kata itu, pikiran terasosiasi dengan gembar-gembor masa lalu, ingat kerakusan dan begitu jumawanya eksploitasi abis2an resources alam, ingat gelar bapak PEMBANGUNAN yang ingin dikekalkan bagi pak Harto. Ingat konglomerat hitam, ingin keuntungan vested manfaat yields profitabilitas output yang harus dikejar abis-abisan, oleh dan demi ’limpah-ruahnya’ kocek2 pribadi oligarki penguasa, pengusaha hitam, korporatokrasi. Namun dampak langsung kata PEMBANGUNAN itu, justru devisa budget kas negara ini jatuh cekak, utang liabilities kelewat banyak, rakyat pun puluh-puluhan juta jiwa terserak cekak, kebudayaan ’indie’ sendiri tersedak cekak dan terakhir lingkungan ekologis alam biotik dan abiotik 'linglung' rusak cepat rusak cekak rusak parah.
Kata ’PEMBANGUNAN’ itu karena pengaruh manusaia itu, telah membuat produsen primer alam sakit bermasalah. Energi di ambang kritis, jaring2 makanan pupus, daur ulang daur air kacau, emisi karbon naik eksponensiil. Bumi makin ngga ogah ditanami, tanah ’tuk-tuk’ mengutuk tak beri hidup cukup. Unsur2 hidup, relung ekologis, populasi alpa di ’tatan’. Reproduksi tak berstrategi, suksesi ekologis ’mampet’, terumbu karang abis, komposisi atmosfer berubah. Efek rumah kaca, buat lapisan ozon jadi ’bolong’. Es di kutub meleleh, gelombang pasang air laut sistematis meniscayakan ribuan pulau akan tenggelam; ujungnya global warming alias ’penghangatan global’. Perubahan klimat buat period musim gak bisa lagi mudah ditebak. Di sebelah badai dan banjir ada kering kerontang. Di tengah kemarau panjang, ada kebanjiran, banjir bandang banjir laut pasang. Ujungnya menyengsarakan.
Istilah kata ’PEMBANGUNAN’ dalam percakapan sudah semakin banyak digugat. Tak bisa gampang2 lagi dipakai. Orang luar katakan apa bedanya ’development’ dan ’empowerment’, sama saja PEMBANGUNAN, pemberdayaan. Namun, faktanya di sini tidak sama. Development di sana dengan PEMBANGUNAN di sini, makna interpretasi konotasi asosiasinya sangat berbeda. Boleh-boleh saja pakai kata ’development’, tapi harus ekstra hati2 ketika memakai kata ’PEMBANGUNAN’. Juga kata ’developer’, konotasi juga sudah negatif. Langsung mencitrakan perilaku developer yang banyak nakal, menipu lihai dan membodohi rakyat pada masa lalu. ”PEMBANGUNAN Papua” juga tidak netral. Sangat dekat maknanya dengan eksploitasi Papua abis2an. ”PEMBANGUNAN PLTN di Semenanjung Muria” juga berkonotasi cari keuntungan besar2an, pragmatisme gampangan, yang kesannya tanggung-jawab serta implementa-sinya ’balik-balik’ akan merugikan rakyat, menguntungkan ’pat gulipat’ pengusaha pejabat teras.
Ternyata kata atau istilah itu, pada hari2 ini banyak yang tidak lagi bernilai netral. Kata tidak sekadar bunyi. Di dalam ’kata’ ada ’makna’. Di dalam ’makna’ ada ’pengetahuan’. Dan di dalam ’pengetahuan’ ada ’kekuatan, power, kekuasaan’. Jika kata seperti layaknya bunyi, terdistorsi, maka pengetahuan dan kekuasaan juga bisa rusak, corrupted, merusak. ’PEMBANGUNAN’ yang sudah terdistorsi, telah berpotensi dan terbukti merusak mindset dan pikiran kekuasaan bangsa ini.
Jadi jika bangsa dan seluruh elemen2 di bangsa ini (gereja, bisnis, pengusaha, birokrat, politisi, DPR/D, pendidikan, LSM/NGO, media, mahasiswa dll) ingin keluar dari distorsi sistem budaya kekuasaan yang merusak, corrupted, jangan lagi mengobral-obral kata ”PEMBANGUNAN”.
Sejatinya, hari ini dan ke depan musti ada kata baru yang dicari, dipilih, dicipta. Kata baru yang mampu menggantikan kata ”PEMBANGUNAN” dalam khasanah percakapan tulisan dan lisan kita di segala lini dan pelosok. Dari tingkat yang paling formal sampai tingkat pergaulan tidak resmi sehari-hari di pasar dan warung kopi. Kata baru yang bukan saja mampu berpadanan arti dengan kata ’PEMBANGUNAN’, tapi bisa lebih memperkaya makna, memberi persepsi menyejukkan, tidak membuat konotasi negatip dan macam-macam. Tidak membuat distorsi serta membuat kekuasaan berjalan bertindak ngawur.
Kata baru yang akhirnya bisa diterima oleh segenap lapisan suku, agama dan golongan. Lebih ’menggigit’ sekaligus melayani rakyat, rakyat setempat, budaya setempat. Keseimbangan lingkungan ekologis dapat tetap tertata/terpelihara , budaya terkait terjaga maju transformatif, pemerataan sosial ekonomi tercipta, pengangguran teratasi, pengusaha kecil survive hidup tumbuh kembang, etos kerja pengusaha pejabat dirubah. Singkatnya, membikin negara (state), rakyat, lingkungan ekologis, kelembagaan daerah menjadi ’jauh lebih kaya dan sejahtera’ dari pada pejabat pengusaha politisi yang pasti juga akan kaya sejahtera.
Kata baru apakah itu yang bisa tercipta menggantikan kata ’PEM-BANGUNAN’ untuk bisa kita pakai sejak hari ini? Mari kita cari dan pikirkan bersama. Dari khasanah ”Kepemimpinan Pelayanan” di mana Penguasa Pengusaha hakikatnya adalah Pelayan Manusia dan Bumi, mungkin kita bisa ’mengcreate’ dan memakai alternatif beberapa kata 'baru' atau diperbarui sebagai pengganti:
1) ”PEMBERLAYANAN” , paduan kata ’Pemberdayaan” (empower-ment, to empower) dan ”Pelayanan” (service, to serve).
2) ”PEMFASILAYANAN” berasal dari kata ”fasilitasi” (memperlengkapi, membuat komplit) dan ”Pelayanan” (service, to serve).
3) ’PENATALAYANAN’ , kata lain stewardship dari kata tata-layan (to steward).
4) ”PEMFASILITASIAN” berasal dari kata ”fasilitasi” (memperlengkapi, membuat komplit) dan ”Pelayanan” (service, to serve).
Perlu ahli bahasa, budayawan dan seniman/wati turut memikirkan hal ini. Mereka yang berakar dari budaya Melayu, Sumatera, Jawa, Papua, NTT, Bali, Sulawesi, Kalimantan, WNI peranakan dll perlu mengkonsensuskan ini. Juga peran media/multi media.
Beberapa kata di atas sejatinya berasal dari khasanah Kepemimpinan Pelayanan, khasanah nilai Kristiani/Alkitab/ Gerejawi, seperti kata penata-layanan (stewardship) dan pelayanan (service, to serve). Namun, jika sudah menjadi konsensus nasional maka kata2 tsb sudah akan diberlakukan menjadi khasanah umum. Seperti halnya istilah kata: Visi, Misi, paradigma "Melayani Bukan Dilayani", dll bukankah jargon2 khasanah kristiani kini telah menjadi istilah2 yang berlaku umum di mana2, universil.
Maka sebagai contoh. Ketika kita memakai kata ”PEMBERLAYANAN PAPUA” misalnya, tentu makna, sense, persepsi, konotasi dan asosiasi pikiran kita akan berbeda, dibanding saat kita memakai kata ”PEMBANGUNAN PAPUA”. Dalam kata ’PEMBERLAYANAN” mengandung makna yang lebih utuh, positip, holistik, lebih kaya aspek2nya, ketimbang kita memakai kata ”PEMBANGUNAN” yang maknanya terasa lebih sempit (ekonomi, politik dst), terasa lebih elitis, dan yang jelas sudah terstigma dalam pikiran kita: berkonotasi negatip. Ada perasaan kelam yang dibawa dari masa lalu.
Salam 'pemberlayanan' , 'pemfasilayanan' , penatalayanan, 'pemfasilitasian' Nusa Persada kita!
Hans Midas Simanjuntak.
*) Pengamat-Praktisi Seni, Kepemimpinan dan Budaya.
Istilah Kata ’PEMBANGUNAN”: Masih Cocokkah Dipergunakan dan Tetap Ingin Dipopulerkan di Era Jaman Begini ?? [Hubungan Antara Seni Kata Etimologis & Politik Kekuasaan di Tanah Air].
Faktanya semakin dirasa banyak kalangan masyarakat (baca: pro rakyat), adanya konotasi negatif saat mendengar istilah kata ’PEMBANGUNAN’ dalam khasanah percakapan bahasa sehari-hari kita. Kalau jaman Orba dulu, kata itu sudah seperti kata atau password sakti di kalangan elit, mirip magician ngucap ’abakadabra’. Sekali terucap kata PEMBA-NGUNAN, urusan semua nyaris jadi lancar apalagi bagi keperluan tender proyek. Mempertautkan ’pengertian yang sama’ ’tau sama tau’ para elit dari pejabat, birokrasi, konglomerat pengusaha, politisi sampai polisi preman dan tentara masuk dalam budaya sistem perilaku gaya hidup yang memper: melakukan segala sesuatu sampai menghalalkan sesuatu demi dan atas nama PEMBANGUNAN.
Maka syahdan kata ’PEMBANGUNAN’ di hari-hari ini terus dipertanyakan, digugat dan dikonotasi negatip. Masa lalu yang getir, terutama untuk lapisan masyarakat yang mengalami ketidak-adilan, termajinalkan, tersingkir, tertindas. Kata itu sungguh membuat banyak masyarakat ’unhappy’, ngga suka. Mendengar kata itu, pikiran terasosiasi dengan gembar-gembor masa lalu, ingat kerakusan dan begitu jumawanya eksploitasi abis2an resources alam, ingat gelar bapak PEMBANGUNAN yang ingin dikekalkan bagi pak Harto. Ingat konglomerat hitam, ingin keuntungan vested manfaat yields profitabilitas output yang harus dikejar abis-abisan, oleh dan demi ’limpah-ruahnya’ kocek2 pribadi oligarki penguasa, pengusaha hitam, korporatokrasi. Namun dampak langsung kata PEMBANGUNAN itu, justru devisa budget kas negara ini jatuh cekak, utang liabilities kelewat banyak, rakyat pun puluh-puluhan juta jiwa terserak cekak, kebudayaan ’indie’ sendiri tersedak cekak dan terakhir lingkungan ekologis alam biotik dan abiotik 'linglung' rusak cepat rusak cekak rusak parah.
Kata ’PEMBANGUNAN’ itu karena pengaruh manusaia itu, telah membuat produsen primer alam sakit bermasalah. Energi di ambang kritis, jaring2 makanan pupus, daur ulang daur air kacau, emisi karbon naik eksponensiil. Bumi makin ngga ogah ditanami, tanah ’tuk-tuk’ mengutuk tak beri hidup cukup. Unsur2 hidup, relung ekologis, populasi alpa di ’tatan’. Reproduksi tak berstrategi, suksesi ekologis ’mampet’, terumbu karang abis, komposisi atmosfer berubah. Efek rumah kaca, buat lapisan ozon jadi ’bolong’. Es di kutub meleleh, gelombang pasang air laut sistematis meniscayakan ribuan pulau akan tenggelam; ujungnya global warming alias ’penghangatan global’. Perubahan klimat buat period musim gak bisa lagi mudah ditebak. Di sebelah badai dan banjir ada kering kerontang. Di tengah kemarau panjang, ada kebanjiran, banjir bandang banjir laut pasang. Ujungnya menyengsarakan.
Istilah kata ’PEMBANGUNAN’ dalam percakapan sudah semakin banyak digugat. Tak bisa gampang2 lagi dipakai. Orang luar katakan apa bedanya ’development’ dan ’empowerment’, sama saja PEMBANGUNAN, pemberdayaan. Namun, faktanya di sini tidak sama. Development di sana dengan PEMBANGUNAN di sini, makna interpretasi konotasi asosiasinya sangat berbeda. Boleh-boleh saja pakai kata ’development’, tapi harus ekstra hati2 ketika memakai kata ’PEMBANGUNAN’. Juga kata ’developer’, konotasi juga sudah negatif. Langsung mencitrakan perilaku developer yang banyak nakal, menipu lihai dan membodohi rakyat pada masa lalu. ”PEMBANGUNAN Papua” juga tidak netral. Sangat dekat maknanya dengan eksploitasi Papua abis2an. ”PEMBANGUNAN PLTN di Semenanjung Muria” juga berkonotasi cari keuntungan besar2an, pragmatisme gampangan, yang kesannya tanggung-jawab serta implementa-sinya ’balik-balik’ akan merugikan rakyat, menguntungkan ’pat gulipat’ pengusaha pejabat teras.
Ternyata kata atau istilah itu, pada hari2 ini banyak yang tidak lagi bernilai netral. Kata tidak sekadar bunyi. Di dalam ’kata’ ada ’makna’. Di dalam ’makna’ ada ’pengetahuan’. Dan di dalam ’pengetahuan’ ada ’kekuatan, power, kekuasaan’. Jika kata seperti layaknya bunyi, terdistorsi, maka pengetahuan dan kekuasaan juga bisa rusak, corrupted, merusak. ’PEMBANGUNAN’ yang sudah terdistorsi, telah berpotensi dan terbukti merusak mindset dan pikiran kekuasaan bangsa ini.
Jadi jika bangsa dan seluruh elemen2 di bangsa ini (gereja, bisnis, pengusaha, birokrat, politisi, DPR/D, pendidikan, LSM/NGO, media, mahasiswa dll) ingin keluar dari distorsi sistem budaya kekuasaan yang merusak, corrupted, jangan lagi mengobral-obral kata ”PEMBANGUNAN”.
Sejatinya, hari ini dan ke depan musti ada kata baru yang dicari, dipilih, dicipta. Kata baru yang mampu menggantikan kata ”PEMBANGUNAN” dalam khasanah percakapan tulisan dan lisan kita di segala lini dan pelosok. Dari tingkat yang paling formal sampai tingkat pergaulan tidak resmi sehari-hari di pasar dan warung kopi. Kata baru yang bukan saja mampu berpadanan arti dengan kata ’PEMBANGUNAN’, tapi bisa lebih memperkaya makna, memberi persepsi menyejukkan, tidak membuat konotasi negatip dan macam-macam. Tidak membuat distorsi serta membuat kekuasaan berjalan bertindak ngawur.
Kata baru yang akhirnya bisa diterima oleh segenap lapisan suku, agama dan golongan. Lebih ’menggigit’ sekaligus melayani rakyat, rakyat setempat, budaya setempat. Keseimbangan lingkungan ekologis dapat tetap tertata/terpelihara , budaya terkait terjaga maju transformatif, pemerataan sosial ekonomi tercipta, pengangguran teratasi, pengusaha kecil survive hidup tumbuh kembang, etos kerja pengusaha pejabat dirubah. Singkatnya, membikin negara (state), rakyat, lingkungan ekologis, kelembagaan daerah menjadi ’jauh lebih kaya dan sejahtera’ dari pada pejabat pengusaha politisi yang pasti juga akan kaya sejahtera.
Kata baru apakah itu yang bisa tercipta menggantikan kata ’PEM-BANGUNAN’ untuk bisa kita pakai sejak hari ini? Mari kita cari dan pikirkan bersama. Dari khasanah ”Kepemimpinan Pelayanan” di mana Penguasa Pengusaha hakikatnya adalah Pelayan Manusia dan Bumi, mungkin kita bisa ’mengcreate’ dan memakai alternatif beberapa kata 'baru' atau diperbarui sebagai pengganti:
1) ”PEMBERLAYANAN” , paduan kata ’Pemberdayaan” (empower-ment, to empower) dan ”Pelayanan” (service, to serve).
2) ”PEMFASILAYANAN” berasal dari kata ”fasilitasi” (memperlengkapi, membuat komplit) dan ”Pelayanan” (service, to serve).
3) ’PENATALAYANAN’ , kata lain stewardship dari kata tata-layan (to steward).
4) ”PEMFASILITASIAN” berasal dari kata ”fasilitasi” (memperlengkapi, membuat komplit) dan ”Pelayanan” (service, to serve).
Perlu ahli bahasa, budayawan dan seniman/wati turut memikirkan hal ini. Mereka yang berakar dari budaya Melayu, Sumatera, Jawa, Papua, NTT, Bali, Sulawesi, Kalimantan, WNI peranakan dll perlu mengkonsensuskan ini. Juga peran media/multi media.
Beberapa kata di atas sejatinya berasal dari khasanah Kepemimpinan Pelayanan, khasanah nilai Kristiani/Alkitab/ Gerejawi, seperti kata penata-layanan (stewardship) dan pelayanan (service, to serve). Namun, jika sudah menjadi konsensus nasional maka kata2 tsb sudah akan diberlakukan menjadi khasanah umum. Seperti halnya istilah kata: Visi, Misi, paradigma "Melayani Bukan Dilayani", dll bukankah jargon2 khasanah kristiani kini telah menjadi istilah2 yang berlaku umum di mana2, universil.
Maka sebagai contoh. Ketika kita memakai kata ”PEMBERLAYANAN PAPUA” misalnya, tentu makna, sense, persepsi, konotasi dan asosiasi pikiran kita akan berbeda, dibanding saat kita memakai kata ”PEMBANGUNAN PAPUA”. Dalam kata ’PEMBERLAYANAN” mengandung makna yang lebih utuh, positip, holistik, lebih kaya aspek2nya, ketimbang kita memakai kata ”PEMBANGUNAN” yang maknanya terasa lebih sempit (ekonomi, politik dst), terasa lebih elitis, dan yang jelas sudah terstigma dalam pikiran kita: berkonotasi negatip. Ada perasaan kelam yang dibawa dari masa lalu.
Salam 'pemberlayanan' , 'pemfasilayanan' , penatalayanan, 'pemfasilitasian' Nusa Persada kita!
Hans Midas Simanjuntak.
*) Pengamat-Praktisi Seni, Kepemimpinan dan Budaya.
Tuesday, August 21, 2007
Pentingnya Revitalisasi Pemikiran Leimena & Simatupang, Dengan Tetap Berbasis Spritual Growth!
Mengapa penting revitalisasi?
Menengarai situasi bangsa hari ini sekaitan dengan peran Kekristenan dalam politik berbangsa memang cukup membuat kita prihatin. Nampaknya revitalisasi pemikiran Leimena & Simatupang sudah saatnya dilakukan. Tentunya dengan tetap memperkuat segi pertumbuhan kerohanian (spiritual growth) Kristen sebagai basisnya.
Hemat saya, jaman begini kita tak boleh lagi hanya terus terbuai dengan romantisme nostalgia dan berkanjang dengan 'hedonisme' masa lalu lagi. Kita tidak boleh kehilangan momentum! Perubahan era sekarang mengalir begitu cepat di bangsa ini, termasuk di bidang politik, keagamaan, korporatokrasi dan pendidikan dari tuntutan pendidikan dasar hingga mutu pendidikan tinggi harus cepat kita tanggapi. Sebelum menjadi betul2 terlambat dan "tertempelak", akan menimbulkan krisis baru, krisis 'lain' 'kekosongan kevakuman' dalam peran Kristen dalam tubuh bangsa ini.
Pentingnya Upaya Revitalisasi Pemikiran Leimena & Simatupang.
Revitalisasi pemikiran Leimena, Simatupang dan pendiri2 PGI, GMKI, PIKI harus segera dilaksanakan oleh segenap alumni Kristen yang masih punya "mata batin" dan 'kebenaran batin', disesuaikan dengan konteks era pasca 2000. Adaptasi terhadap konteks globalisasi, desentralisasi/otda/kemandirian lokal, teknologi informasi/multimedia, knowledge-management, transformasi spirtualitas, sosial dan lingkungan (environtment friendly).
Peran Perkantas, LPMI, Navigators dll yang diharapkan.
Peran Perkantas, LPMI, Navigators dan gereja2 kalangan injili sebagai spiritual growth dan PI, sangat sangat tidak cukup. Tidak bisa hanya ploting keteladanan pemimpin2 kekaryaan dan kesaksian pemimpin2 masa lalu. Sangat tidak cukup. Gerak refleks 'turning point' terutama dari pemimpin2 yang lebih muda dan kaum alumni muda kristen sangat diharapkan menjadi semacam gelombang revitalitasi baru.
Ranah strategis adalah tetap kampus2 (kampus2 PT negeri, swasta dan PT Kristen macam UKI Ukrida UPH UKSW Salatiga dll dll, lalu LSM, bidang media/multi media, gereja dan pelayanan2 komunitas ministry kristen yang "empowered", jaringan2 network baru, asosiasi profesional dan pengusaha/wirausaha kristen baru, ormas2 politik kristen baru dan pembentukan pusat2 kajian Kristen yang betul2 baru.
Lebih baik kita mulai menyalakan 'lilin' bahkan 'api' yang dikobarkan; dari pada kita terus memprihatinkan keadaan sekarang dan terus ingin 'mengutuki' keadaan sekitar.
Pembelajaran dari kehadiran ormas2 kristen masa lalu, Parkindo, PDKB, Partai Krisna sampai dengan PDS dengan berbagai dilemanya penting dievaluasi untuk dicarikan solusi breakthrough yang akseptabel dan berdampak luas.
Spiritual growth kristen tetap dasarnya, fondasinya. ranah2 strategis diatas adalah ekspresi dan saluran distribusi sekaligus kontribusi nyatanya kepada bangsa.
Kekristenan Serba Nanggung dan Tiga Rumpun Kekristenan Terkait Politik Berbangsa Saat Ini.
Memang postur Kekristenan kita di tanah air di masa ini jadi serba 'nanggung' dan tersekat-sekat. Terutama dalam kaitan integrasi Kekristenan dengan politik hari ini, khususnya di tingkat implementasi politik di pusat maupun di daerah.
Sedikitnya kita melihat ada 3 rumpun Kekristenan terkait kehidupan berpolitik dan berbangsa hari ini.
Satu, "Politik simbol kristen (belaka)". Ada satu rumpun Kristen yang mungkin bisa dinilai nampaknya paham sekali tentang visi Kerajaan Allah, Injil kerajaan Allah. Bahkan dalam berperilaku penuh dengan simbol2 logo2 ucapan2 gaya/style - budaya 'kristen' [katakan saja dengan 'ciri budaya kristen charismatic' , sebagaimana PDS banyak dinilai berbagai pihak sebagai partai yang identik dengan kristen charismatic] . Namun dalam implementasi di lapangan ternyata gagal dalam cara, pilihan taktik strategi, konsistensi dan mengaplikasikan nilai2 Kerajaan di dalam dunia/struktur politik yang digeluti).
Dua, "Politik dompleng kristen dalam arus besar". Sebaliknya ada rumpun Kristen yang dinilai cukup piawai berpengalaman sejak lama dalam berpolitik sejak jadi aktivis parpol sebelum Reformasi, namun di perjalanan gagal dalam memahami visi misi Kerajaan Allah. Bingung dalam mengintegrasikannya ke dunia struktur politik yang digelutinya. Sehingga terkesan jadi 'dompleng kiri' 'dompleng kanan'. Tidak punya framework, mindset, ciri visioner Kerajaan. Akhirnya 'tenggelam' tidak beda banyak dengan politisi2 lainnya, berkesan cari selamat, ikut trend, 'kagetan' menerima realitas pembalikan reformasi. Di awal reformasi pun telah menyia-nyiakan 'kesempatan' yang pernah/sempat terbuka, namun secara pandir mengambil jalan pilihan yang salah. Hulunya ditengarai karena nyata2 tidak terbina dan terlatih dalam dalam visi Kerajaan. Pembenarannya mengatakan "kita kan minoritas, kita ikut saja main stream (arus besar, partai besar)" dst.
Tiga, "Politik diam pasif Kristen". Ada pula rumpun Kristen yang bersikap belasan tahun "wait and see" terus2an. Dinilai sangat sangat memahami visi Injil Kerajaan Allah. Tapi enggan, tidak perlu lah, terjun ikut2an dalam implementasi riel Kerajaan di lapangan politik, parpol, pusat kajian politik kristen, dlsb. Doktrinnya ditengarai 'politik itu kotor', orang kristen tidak perlu terjun di politik, mengetahui memahami politik boleh, tapi tidak boleh terjun. Jadi pengamat.. pengkritisi sekali2..ya boleh. Walhasil, cara pandang ini membuat kader2 yang lebih muda jadi 'tidak terjun ikut2an' pula. Menganggap ini sebagai kebenaran.
Sampai Kapan Kita Tetap di Persimpangan?
Sekurangnya tiga rumpun Kekristenan ini saya kira yang kita sama2 saksikan dalam postur Kekristenan tanah air masa kini. Sampai kapan kita akan terus berada dalam persimpangan (cross road) seperti ini?
Sementara Kekristenan berada dalam cross-road (persimpangan) , perkembangan dunia politik berjalan terus demikian cepat. Pilkada-pilkada, pilpres terus bergulir. Konstitusi yang membolehkan calon independen dimunculkan sangat terbuka.
Apakah pola "patron-klien" dalam rumpun2 Kekristenan, persepsi ketaatan tanpa rasionalitas yang memadai, akan terus kita lestarikan? Sementara politik Injil Kerajaan yang integrated lengket dengan politik kultural dan politik struktural kristen, terus 'memanggil-manggil' dan 'menanti-nanti' the right men & women untuk memasukinya.
Memang butuh banyak dukungan. Kelas menengah (middle up) Kristen selama ini masih 'ogah' bergerak, meski pun sudah nanya2: mana, mana? Para eksekutif, professional kristen, aktivis dan tokoh pendidikan kristen, aktivis dan tokoh gereja yang masih konsisten dan tidak ingin sekadar 'politik simbol kristen' atau 'politik dompleng kristen'.
Namun, persoalannya sekarang kita sudah cukup puas dengan keadaan seperti sekarang? Tanpa ada pelopor2 kristen yang mau dan sedia untuk melakukan "passing over" dengan upaya2 dan semangat lebih kreatif dan punya kepiawaian. Satu contoh saja, kesempatan untuk mengajukan calon pemimpin independen kin sudah sangat terbuka di pusat dan di seluruh pelosok daerah by pilkada. Kata kuncinya bila sanggup 'konsisten' sampai tingkat implementasi, akan lain hasilnya. Konsisten dengan visi dan nilai2 Kerajaan itu.
Passwordnya?
Jadi passwordnya: paham sebagai mandatory Kerajaan di bumi di tanah air, serta piawai dan mau. Semua tentu untuk kemuliaan namaNya.
Salam revitalisasi,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Menengarai situasi bangsa hari ini sekaitan dengan peran Kekristenan dalam politik berbangsa memang cukup membuat kita prihatin. Nampaknya revitalisasi pemikiran Leimena & Simatupang sudah saatnya dilakukan. Tentunya dengan tetap memperkuat segi pertumbuhan kerohanian (spiritual growth) Kristen sebagai basisnya.
Hemat saya, jaman begini kita tak boleh lagi hanya terus terbuai dengan romantisme nostalgia dan berkanjang dengan 'hedonisme' masa lalu lagi. Kita tidak boleh kehilangan momentum! Perubahan era sekarang mengalir begitu cepat di bangsa ini, termasuk di bidang politik, keagamaan, korporatokrasi dan pendidikan dari tuntutan pendidikan dasar hingga mutu pendidikan tinggi harus cepat kita tanggapi. Sebelum menjadi betul2 terlambat dan "tertempelak", akan menimbulkan krisis baru, krisis 'lain' 'kekosongan kevakuman' dalam peran Kristen dalam tubuh bangsa ini.
Pentingnya Upaya Revitalisasi Pemikiran Leimena & Simatupang.
Revitalisasi pemikiran Leimena, Simatupang dan pendiri2 PGI, GMKI, PIKI harus segera dilaksanakan oleh segenap alumni Kristen yang masih punya "mata batin" dan 'kebenaran batin', disesuaikan dengan konteks era pasca 2000. Adaptasi terhadap konteks globalisasi, desentralisasi/otda/kemandirian lokal, teknologi informasi/multimedia, knowledge-management, transformasi spirtualitas, sosial dan lingkungan (environtment friendly).
Peran Perkantas, LPMI, Navigators dll yang diharapkan.
Peran Perkantas, LPMI, Navigators dan gereja2 kalangan injili sebagai spiritual growth dan PI, sangat sangat tidak cukup. Tidak bisa hanya ploting keteladanan pemimpin2 kekaryaan dan kesaksian pemimpin2 masa lalu. Sangat tidak cukup. Gerak refleks 'turning point' terutama dari pemimpin2 yang lebih muda dan kaum alumni muda kristen sangat diharapkan menjadi semacam gelombang revitalitasi baru.
Ranah strategis adalah tetap kampus2 (kampus2 PT negeri, swasta dan PT Kristen macam UKI Ukrida UPH UKSW Salatiga dll dll, lalu LSM, bidang media/multi media, gereja dan pelayanan2 komunitas ministry kristen yang "empowered", jaringan2 network baru, asosiasi profesional dan pengusaha/wirausaha kristen baru, ormas2 politik kristen baru dan pembentukan pusat2 kajian Kristen yang betul2 baru.
Lebih baik kita mulai menyalakan 'lilin' bahkan 'api' yang dikobarkan; dari pada kita terus memprihatinkan keadaan sekarang dan terus ingin 'mengutuki' keadaan sekitar.
Pembelajaran dari kehadiran ormas2 kristen masa lalu, Parkindo, PDKB, Partai Krisna sampai dengan PDS dengan berbagai dilemanya penting dievaluasi untuk dicarikan solusi breakthrough yang akseptabel dan berdampak luas.
Spiritual growth kristen tetap dasarnya, fondasinya. ranah2 strategis diatas adalah ekspresi dan saluran distribusi sekaligus kontribusi nyatanya kepada bangsa.
Kekristenan Serba Nanggung dan Tiga Rumpun Kekristenan Terkait Politik Berbangsa Saat Ini.
Memang postur Kekristenan kita di tanah air di masa ini jadi serba 'nanggung' dan tersekat-sekat. Terutama dalam kaitan integrasi Kekristenan dengan politik hari ini, khususnya di tingkat implementasi politik di pusat maupun di daerah.
Sedikitnya kita melihat ada 3 rumpun Kekristenan terkait kehidupan berpolitik dan berbangsa hari ini.
Satu, "Politik simbol kristen (belaka)". Ada satu rumpun Kristen yang mungkin bisa dinilai nampaknya paham sekali tentang visi Kerajaan Allah, Injil kerajaan Allah. Bahkan dalam berperilaku penuh dengan simbol2 logo2 ucapan2 gaya/style - budaya 'kristen' [katakan saja dengan 'ciri budaya kristen charismatic' , sebagaimana PDS banyak dinilai berbagai pihak sebagai partai yang identik dengan kristen charismatic] . Namun dalam implementasi di lapangan ternyata gagal dalam cara, pilihan taktik strategi, konsistensi dan mengaplikasikan nilai2 Kerajaan di dalam dunia/struktur politik yang digeluti).
Dua, "Politik dompleng kristen dalam arus besar". Sebaliknya ada rumpun Kristen yang dinilai cukup piawai berpengalaman sejak lama dalam berpolitik sejak jadi aktivis parpol sebelum Reformasi, namun di perjalanan gagal dalam memahami visi misi Kerajaan Allah. Bingung dalam mengintegrasikannya ke dunia struktur politik yang digelutinya. Sehingga terkesan jadi 'dompleng kiri' 'dompleng kanan'. Tidak punya framework, mindset, ciri visioner Kerajaan. Akhirnya 'tenggelam' tidak beda banyak dengan politisi2 lainnya, berkesan cari selamat, ikut trend, 'kagetan' menerima realitas pembalikan reformasi. Di awal reformasi pun telah menyia-nyiakan 'kesempatan' yang pernah/sempat terbuka, namun secara pandir mengambil jalan pilihan yang salah. Hulunya ditengarai karena nyata2 tidak terbina dan terlatih dalam dalam visi Kerajaan. Pembenarannya mengatakan "kita kan minoritas, kita ikut saja main stream (arus besar, partai besar)" dst.
Tiga, "Politik diam pasif Kristen". Ada pula rumpun Kristen yang bersikap belasan tahun "wait and see" terus2an. Dinilai sangat sangat memahami visi Injil Kerajaan Allah. Tapi enggan, tidak perlu lah, terjun ikut2an dalam implementasi riel Kerajaan di lapangan politik, parpol, pusat kajian politik kristen, dlsb. Doktrinnya ditengarai 'politik itu kotor', orang kristen tidak perlu terjun di politik, mengetahui memahami politik boleh, tapi tidak boleh terjun. Jadi pengamat.. pengkritisi sekali2..ya boleh. Walhasil, cara pandang ini membuat kader2 yang lebih muda jadi 'tidak terjun ikut2an' pula. Menganggap ini sebagai kebenaran.
Sampai Kapan Kita Tetap di Persimpangan?
Sekurangnya tiga rumpun Kekristenan ini saya kira yang kita sama2 saksikan dalam postur Kekristenan tanah air masa kini. Sampai kapan kita akan terus berada dalam persimpangan (cross road) seperti ini?
Sementara Kekristenan berada dalam cross-road (persimpangan) , perkembangan dunia politik berjalan terus demikian cepat. Pilkada-pilkada, pilpres terus bergulir. Konstitusi yang membolehkan calon independen dimunculkan sangat terbuka.
Apakah pola "patron-klien" dalam rumpun2 Kekristenan, persepsi ketaatan tanpa rasionalitas yang memadai, akan terus kita lestarikan? Sementara politik Injil Kerajaan yang integrated lengket dengan politik kultural dan politik struktural kristen, terus 'memanggil-manggil' dan 'menanti-nanti' the right men & women untuk memasukinya.
Memang butuh banyak dukungan. Kelas menengah (middle up) Kristen selama ini masih 'ogah' bergerak, meski pun sudah nanya2: mana, mana? Para eksekutif, professional kristen, aktivis dan tokoh pendidikan kristen, aktivis dan tokoh gereja yang masih konsisten dan tidak ingin sekadar 'politik simbol kristen' atau 'politik dompleng kristen'.
Namun, persoalannya sekarang kita sudah cukup puas dengan keadaan seperti sekarang? Tanpa ada pelopor2 kristen yang mau dan sedia untuk melakukan "passing over" dengan upaya2 dan semangat lebih kreatif dan punya kepiawaian. Satu contoh saja, kesempatan untuk mengajukan calon pemimpin independen kin sudah sangat terbuka di pusat dan di seluruh pelosok daerah by pilkada. Kata kuncinya bila sanggup 'konsisten' sampai tingkat implementasi, akan lain hasilnya. Konsisten dengan visi dan nilai2 Kerajaan itu.
Passwordnya?
Jadi passwordnya: paham sebagai mandatory Kerajaan di bumi di tanah air, serta piawai dan mau. Semua tentu untuk kemuliaan namaNya.
Salam revitalisasi,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Monday, August 20, 2007
Menyoal Buku TL Friedman "The World Is Flat", Implikasi bagi Gereja.
Apa yang ditulis Thomas L Friedman ini - "The World is Flat" atau lebih sederhana "The Overall Structure is Flat" mungkin sebenarnya bukan isu yang terlalu baru. Apalagi bagi orang2 yang telah terbiasa terjun di dunia IT, seperti software engineers, web designers, multimedia, telekomunikasi dan knowledge management base.
Terutama sejak computer science sangat berkembang sampai melesat ke bidang IT, telekomunikasi multimedia dan knowledge management di Barat sejak akhir 80an dan awal 90an. Seperti 'biasa' kita di Indonesia selalu terlambat ketinggalan lk. 10 tahun satu dekade.Namun bersyukur hadir juga buku Friedman itu sebagai bahan pembelajaran.
Revolusi IT multi media knowledge management bukan saja mampu mengubah mindset dan paradigma organisasi, namun terus memiliki kemampuan mengubah organ2, struktur, system pranata sampai gaya hidup suatu entitas organisasi.
Bicara organisasi, gereja yang memiliki sisi entitas organisasi sosial yang masuk/bersinggungan dengan domain publik, tidak dapat tidak harus 'segera' mengantisipasi fenomena perubahan yang cukup dahsyat ini.
Sampai kapan kita mempertahankan pola struktur organisasi yang melulu vertikal, sistem komando dan lini dari atas ke bawah. Sudah perlu dipikirkan sejak sekarang oleh Balitbang dan top pimpinan gereja suatu transformasi organisasi menuju konsep The Church Structure is Flat.
Dalam struktur 'pemerintahan' gereja selalu terjadi diskursus dikotomis mana yang lebih baik/sehat: Jemaat 'menguasai' pendeta lewat suatu institusi yang bernama Sinode, atau Pendeta yang 'menguasai' jemaat lewat institusi Penilik, Bishop atau Episkopos (strukturnya bernama Episkopal).
'"Jalan alternatif ketiga" sudah muncul sekarang dengan mindset baru The Church Structure is Flat. Memungkinkan dalam struktur gereja, antara posisi jemaat (presbiter, penatua diaken) pelayan non tahbisan, bishop episkopos (penilik, overseer) pendeta pelayan tahbisan gembala guru jemaat evangelist adalah setara, berada dalam satu bidang datar.
Lho, kalau begitu Kristus sebagai pemilik dan Tuhan gereja di mana? Kristus ada di atas semua, di atas semua posisi2 jabatan pelayanan yang equal setara berada dalam satu bidang datar tersebut.
Merupakan keniscayaan konsep The Church Structure is Flat atau Struktur Organisasi Gereja Datar akan menjadi kebutuhan bagi banyak pihak yang terlibat dalam pelayanan gerejawi. Bukan hanya untuk gereja2 di tanah air, sejak satu dekade terakhir telah menjadi wacana dan pergumulan gereja di banyak bagian dunia.
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Terutama sejak computer science sangat berkembang sampai melesat ke bidang IT, telekomunikasi multimedia dan knowledge management di Barat sejak akhir 80an dan awal 90an. Seperti 'biasa' kita di Indonesia selalu terlambat ketinggalan lk. 10 tahun satu dekade.Namun bersyukur hadir juga buku Friedman itu sebagai bahan pembelajaran.
Revolusi IT multi media knowledge management bukan saja mampu mengubah mindset dan paradigma organisasi, namun terus memiliki kemampuan mengubah organ2, struktur, system pranata sampai gaya hidup suatu entitas organisasi.
Bicara organisasi, gereja yang memiliki sisi entitas organisasi sosial yang masuk/bersinggungan dengan domain publik, tidak dapat tidak harus 'segera' mengantisipasi fenomena perubahan yang cukup dahsyat ini.
Sampai kapan kita mempertahankan pola struktur organisasi yang melulu vertikal, sistem komando dan lini dari atas ke bawah. Sudah perlu dipikirkan sejak sekarang oleh Balitbang dan top pimpinan gereja suatu transformasi organisasi menuju konsep The Church Structure is Flat.
Dalam struktur 'pemerintahan' gereja selalu terjadi diskursus dikotomis mana yang lebih baik/sehat: Jemaat 'menguasai' pendeta lewat suatu institusi yang bernama Sinode, atau Pendeta yang 'menguasai' jemaat lewat institusi Penilik, Bishop atau Episkopos (strukturnya bernama Episkopal).
'"Jalan alternatif ketiga" sudah muncul sekarang dengan mindset baru The Church Structure is Flat. Memungkinkan dalam struktur gereja, antara posisi jemaat (presbiter, penatua diaken) pelayan non tahbisan, bishop episkopos (penilik, overseer) pendeta pelayan tahbisan gembala guru jemaat evangelist adalah setara, berada dalam satu bidang datar.
Lho, kalau begitu Kristus sebagai pemilik dan Tuhan gereja di mana? Kristus ada di atas semua, di atas semua posisi2 jabatan pelayanan yang equal setara berada dalam satu bidang datar tersebut.
Merupakan keniscayaan konsep The Church Structure is Flat atau Struktur Organisasi Gereja Datar akan menjadi kebutuhan bagi banyak pihak yang terlibat dalam pelayanan gerejawi. Bukan hanya untuk gereja2 di tanah air, sejak satu dekade terakhir telah menjadi wacana dan pergumulan gereja di banyak bagian dunia.
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Thursday, August 16, 2007
Percayakah Kita Bahwa Indonesia Akan Maju? God Bless Indonesia !!
Dari informasi Transforma Sarana Media (TSM)/ edisi Agustus II 2007.
Renungan kemerdekaan.
Soal iman percaya keyakinan ini semakin relevan untuk membahas Indonesia masa sekarang dan ke depan. Percayakah kita bahwa Indonesia akan maju?
Sayup2 terdengar ada 4 orang sedang berbicara di beranda rumah. Makin lama suaranya makin keras. Rupanya mereka sedang membahas Indonesia, tentang “nasib” Indonesia sekarang dan ke depan.
Satu orang berkemeja biru mengatakan bahwa dia sama sekali ngga percaya bahwa Indonesia akan maju. Tidak akan. Dari dulu sejak dijajah Belanda sampai sekarang ya akan seperti ini, miskin dan terbelakang. Dia bilang, coba aja liat Indonesia sekarang: swalayan bencana, banjir bandang, kemacetan di mana2, kebakaran hutan, dampak pemasanasan global, kinerja polisi, ulah tentara, politisi parpol dan tokoh agama, separatisme berikut isu2 lokal regional nasional lainnya, yang ada mungkin hanya pesimisme. Pesimisme ini terkadang membuahkan rasa kecintaan dan kebanggaan terhadap Indonesia semakin pudar. Dan mungkin sudah bisa ditebak, bila cinta terhadap bangsa ini sudah makin memudar, bagaimana orang bisa ’tergerak’ untuk turut berkontribusi dan melayani bangsa ini dengan semangat berpengharapan. Sebaliknya, mungkin yang ada adalah sikap mengeluh, kesal, sedih, sewot, malu, minder, jengkel yang akhirnya tumpah menjadi pandang remeh identitas bangsa sendiri, apatis, dan mungkin ada keinginan untuk ’lari’ serta lupakan Indonesia. Kalau perlu ya pindah warga negara, jadi warga negara bangsa lain. Beres. Good bye Indonesia, forgetting Indonesia. Ada juga yang bilang: “saya bukan warga Indonesia lagi, mulai sekarang saya jadi warga dunia saja, kalau ngga ada yang mau menerima saya jadi warga negara bangsanya. Bagi saya soal warga negara mau di mana bagi saya ngga soal, asal jangan jadi warga negara Indonesia deh.. ?!
Orang kedua berpakaian oranye menanggap ‘no comment’. Tak tau mau kasih komentar apa untuk Indonesia. Yah.. just flowing aja, mengalir aja deh. Yah sekarang masih bisa makan, masih ada kerjaan, lets do it. Abis tak mengerti harus berbuat apa. Tau sih bahwa jaman lagi susah. Minyak tanah susah dicari karena program konversi. Minyak goreng curah terus naik kadang tak terkendali. Pejabat, pemimpin, tokoh agama banyak tak bisa dicontoh. Tapi toh mau buat apa? Dari tujuh turunan saya sudah di sini. Kecil di sini. Keluarga di sini. Mau ke mana lagi saya. Memang hidup di negara orang enak. Banyak yang bilang kesepian. Menjadi warga negara kelas dua, kelas tiga dst. Siapa yang mau menghiraukan. Sejelek2nya Indonesia, masih sangat enak untuk ditinggali. Makanan cocok, situasi orang2nya enak untuk diajak bergaul. Udara dan cuacanya juga sesuai untuk kulit dan fisik saya, dst. Sudah, diterima aja deh keadaan kita di sini. Mau diapa-apain pun tetap begitu. Ngga usah terlalu jauh2 berpikir. Dinikmati saja keadaan yang sudah begini. How to enjoy it!
Orang ketiga bertopi dengan pakaian jingga serta merta datang menimpali. Susah2 mikirin Indonesia. Kita jual aja Indonesia. Anggap aja dia barang. Komoditi. TKI/TKW aja bisa kita jual, tak peduli terampil atau tidak, legal atau ilegal, apalagi Indonesia. Kan banyak pulau2nya, tanah masih luas, sumber energi banyak, tambang melimpah. Mumpung orang2nya, SDMnya masih males2, bodoh pula, kita manfaatkan situasi ini untuk keruk keuntungan sebanyak2nya bagi diri kita sendiri. Ngapain mikirin negara. Ngga ada perlunya itu. Negara juga ngga mikirin kita. Apa pernah Indonesia mikirin kita? Waktu kita susah, Indonesia juga ngga pernah bantu kita. Iya sih, saya pernah sekolah di sini, pernah kerja di sini, cari makan juga pernah di sini. Bisnis juga di sini. Tapi kan itu sepenuhnya hasil kemampuan saya sendiri untuk memanfaatkan peluang. Ngga ada peran negara. Ngapain juga saya disuruh berkontribusi bagi bangsa. Bayar pajak negara. Kalau itu pajak dikelola benar. Kalau nggak? Sudahlah, kita ngga usah terlalu idealis liat Indonesia. Cari peluang apa yang bisa kita manfaatkan dari Indonesia. Biarin orang bilang saya opportunis. Yang jalanin hidup juga saya.
Orang keempat berpakaian coklat, terakhir mulai angkat bicara. Dia yakin Indonesia akan maju. Kuncinya, asumsi awalnya, adalah percaya, bahasa agamanya iman! Masih adakah keyakinan kita bahwa kita bisa maju ke depan? Apa alasan untuk percaya? Kita percaya karena masih ada orang-orang percaya !! Itu alasannya. Terlebih itu masih ada Tuhan yang kita percaya, yang sangat mampu untuk memulihkan bangsa dan ’tanah’ ini. Bukan karena melihat keadaan bangsa ini, tapi karena demi mempertahankan kedahsyatan namaNya sendiri.
Jika bangsa2 jiran seperti India, Thailand, Vietnam, Malaysia, Cina bisa maju. Masak kita ngga bisa maju? Iman atau ’trust’ menjadi sangat sangat penting di era sekarang. Tanpa trust, iman bagaimana bisa timbul rasa cinta, cinta kepada bangsa. Nonsens. Sama pacar aja, kalau sudah tidak ada iman, trust bahwa ’dia akan jadi pacar gue selamanya’, gimana hubungan percintaaan dengan dia bisa berlanjut. Pasti langsung berhenti. Begitu juga dengan Indonesia. Karena masih ada percaya itulah, trust in God, maka kita masih mau memutuskan dan melanjutkan untuk mencintai Indonesia, melayani bangsa ini. Dengan cinta apa? Dengan ’unconditional love’ dan compassion (welas asih, belas kasihan).
Memang disadari sih, masih banyak kelemahan2 yang ada di ’tubuh’ bangsa ini. Tudingan2 kelemahan harus diterima sebagai fakta di mana kita berada sekarang. Beratus beribu fakta membuktikan bahwa kita lemah. Terima itu! Mungkin ngga usah berkilah, berdalih atau ’berlagak pilon’. Tapi kan ngga sampai di situ. Percaya perlu sekali dibangkitkan, bahwa Tuhan masih mempedulikan kita. Percaya kolektip. Tidak hanya sendiri, tapi meyakinkan teman2 yang lain pula, bahwa masih ada jalan untuk keluar.
Masak orang dari bangsa lain seperti peraih Noble 2006 Prof. Muh. Yunus yakin Indonesia akan maju, akan mampu memuseumkan kemiskinan dalam 15-20 tahun ke depan, masak kita sendiri belum atau tidak yakin? Setelah melihat bahwa kita betul2 lemah, sekaranglah waktunya kita harus membangun keyakinan, percaya, bahwa Indonesia pasti akan maju. Strengths kekuatannya apa sebagai alasan kita percaya? Kekuatannya karena kita masih mempunyai orang2 yang percaya! Terlebih kita masih punya Tuhan pemilik tanah negeri bangsa Indonesia yang siap memberkati kita.
Tak perlu jauh2 menunggu 2030. Dari sekarang pun kita bisa bangkit. Asal percaya.
Setelah selesai berbicara, keempatnya pun pindah dari beranda ke ruang makan dalam.
Ternyata mereka berempat makan bersama.
God bless Indonesia!! Selamat ultah, dirgahayu ke-62 tahun.
Salam kemerdekaan,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Renungan kemerdekaan.
Soal iman percaya keyakinan ini semakin relevan untuk membahas Indonesia masa sekarang dan ke depan. Percayakah kita bahwa Indonesia akan maju?
Sayup2 terdengar ada 4 orang sedang berbicara di beranda rumah. Makin lama suaranya makin keras. Rupanya mereka sedang membahas Indonesia, tentang “nasib” Indonesia sekarang dan ke depan.
Satu orang berkemeja biru mengatakan bahwa dia sama sekali ngga percaya bahwa Indonesia akan maju. Tidak akan. Dari dulu sejak dijajah Belanda sampai sekarang ya akan seperti ini, miskin dan terbelakang. Dia bilang, coba aja liat Indonesia sekarang: swalayan bencana, banjir bandang, kemacetan di mana2, kebakaran hutan, dampak pemasanasan global, kinerja polisi, ulah tentara, politisi parpol dan tokoh agama, separatisme berikut isu2 lokal regional nasional lainnya, yang ada mungkin hanya pesimisme. Pesimisme ini terkadang membuahkan rasa kecintaan dan kebanggaan terhadap Indonesia semakin pudar. Dan mungkin sudah bisa ditebak, bila cinta terhadap bangsa ini sudah makin memudar, bagaimana orang bisa ’tergerak’ untuk turut berkontribusi dan melayani bangsa ini dengan semangat berpengharapan. Sebaliknya, mungkin yang ada adalah sikap mengeluh, kesal, sedih, sewot, malu, minder, jengkel yang akhirnya tumpah menjadi pandang remeh identitas bangsa sendiri, apatis, dan mungkin ada keinginan untuk ’lari’ serta lupakan Indonesia. Kalau perlu ya pindah warga negara, jadi warga negara bangsa lain. Beres. Good bye Indonesia, forgetting Indonesia. Ada juga yang bilang: “saya bukan warga Indonesia lagi, mulai sekarang saya jadi warga dunia saja, kalau ngga ada yang mau menerima saya jadi warga negara bangsanya. Bagi saya soal warga negara mau di mana bagi saya ngga soal, asal jangan jadi warga negara Indonesia deh.. ?!
Orang kedua berpakaian oranye menanggap ‘no comment’. Tak tau mau kasih komentar apa untuk Indonesia. Yah.. just flowing aja, mengalir aja deh. Yah sekarang masih bisa makan, masih ada kerjaan, lets do it. Abis tak mengerti harus berbuat apa. Tau sih bahwa jaman lagi susah. Minyak tanah susah dicari karena program konversi. Minyak goreng curah terus naik kadang tak terkendali. Pejabat, pemimpin, tokoh agama banyak tak bisa dicontoh. Tapi toh mau buat apa? Dari tujuh turunan saya sudah di sini. Kecil di sini. Keluarga di sini. Mau ke mana lagi saya. Memang hidup di negara orang enak. Banyak yang bilang kesepian. Menjadi warga negara kelas dua, kelas tiga dst. Siapa yang mau menghiraukan. Sejelek2nya Indonesia, masih sangat enak untuk ditinggali. Makanan cocok, situasi orang2nya enak untuk diajak bergaul. Udara dan cuacanya juga sesuai untuk kulit dan fisik saya, dst. Sudah, diterima aja deh keadaan kita di sini. Mau diapa-apain pun tetap begitu. Ngga usah terlalu jauh2 berpikir. Dinikmati saja keadaan yang sudah begini. How to enjoy it!
Orang ketiga bertopi dengan pakaian jingga serta merta datang menimpali. Susah2 mikirin Indonesia. Kita jual aja Indonesia. Anggap aja dia barang. Komoditi. TKI/TKW aja bisa kita jual, tak peduli terampil atau tidak, legal atau ilegal, apalagi Indonesia. Kan banyak pulau2nya, tanah masih luas, sumber energi banyak, tambang melimpah. Mumpung orang2nya, SDMnya masih males2, bodoh pula, kita manfaatkan situasi ini untuk keruk keuntungan sebanyak2nya bagi diri kita sendiri. Ngapain mikirin negara. Ngga ada perlunya itu. Negara juga ngga mikirin kita. Apa pernah Indonesia mikirin kita? Waktu kita susah, Indonesia juga ngga pernah bantu kita. Iya sih, saya pernah sekolah di sini, pernah kerja di sini, cari makan juga pernah di sini. Bisnis juga di sini. Tapi kan itu sepenuhnya hasil kemampuan saya sendiri untuk memanfaatkan peluang. Ngga ada peran negara. Ngapain juga saya disuruh berkontribusi bagi bangsa. Bayar pajak negara. Kalau itu pajak dikelola benar. Kalau nggak? Sudahlah, kita ngga usah terlalu idealis liat Indonesia. Cari peluang apa yang bisa kita manfaatkan dari Indonesia. Biarin orang bilang saya opportunis. Yang jalanin hidup juga saya.
Orang keempat berpakaian coklat, terakhir mulai angkat bicara. Dia yakin Indonesia akan maju. Kuncinya, asumsi awalnya, adalah percaya, bahasa agamanya iman! Masih adakah keyakinan kita bahwa kita bisa maju ke depan? Apa alasan untuk percaya? Kita percaya karena masih ada orang-orang percaya !! Itu alasannya. Terlebih itu masih ada Tuhan yang kita percaya, yang sangat mampu untuk memulihkan bangsa dan ’tanah’ ini. Bukan karena melihat keadaan bangsa ini, tapi karena demi mempertahankan kedahsyatan namaNya sendiri.
Jika bangsa2 jiran seperti India, Thailand, Vietnam, Malaysia, Cina bisa maju. Masak kita ngga bisa maju? Iman atau ’trust’ menjadi sangat sangat penting di era sekarang. Tanpa trust, iman bagaimana bisa timbul rasa cinta, cinta kepada bangsa. Nonsens. Sama pacar aja, kalau sudah tidak ada iman, trust bahwa ’dia akan jadi pacar gue selamanya’, gimana hubungan percintaaan dengan dia bisa berlanjut. Pasti langsung berhenti. Begitu juga dengan Indonesia. Karena masih ada percaya itulah, trust in God, maka kita masih mau memutuskan dan melanjutkan untuk mencintai Indonesia, melayani bangsa ini. Dengan cinta apa? Dengan ’unconditional love’ dan compassion (welas asih, belas kasihan).
Memang disadari sih, masih banyak kelemahan2 yang ada di ’tubuh’ bangsa ini. Tudingan2 kelemahan harus diterima sebagai fakta di mana kita berada sekarang. Beratus beribu fakta membuktikan bahwa kita lemah. Terima itu! Mungkin ngga usah berkilah, berdalih atau ’berlagak pilon’. Tapi kan ngga sampai di situ. Percaya perlu sekali dibangkitkan, bahwa Tuhan masih mempedulikan kita. Percaya kolektip. Tidak hanya sendiri, tapi meyakinkan teman2 yang lain pula, bahwa masih ada jalan untuk keluar.
Masak orang dari bangsa lain seperti peraih Noble 2006 Prof. Muh. Yunus yakin Indonesia akan maju, akan mampu memuseumkan kemiskinan dalam 15-20 tahun ke depan, masak kita sendiri belum atau tidak yakin? Setelah melihat bahwa kita betul2 lemah, sekaranglah waktunya kita harus membangun keyakinan, percaya, bahwa Indonesia pasti akan maju. Strengths kekuatannya apa sebagai alasan kita percaya? Kekuatannya karena kita masih mempunyai orang2 yang percaya! Terlebih kita masih punya Tuhan pemilik tanah negeri bangsa Indonesia yang siap memberkati kita.
Tak perlu jauh2 menunggu 2030. Dari sekarang pun kita bisa bangkit. Asal percaya.
Setelah selesai berbicara, keempatnya pun pindah dari beranda ke ruang makan dalam.
Ternyata mereka berempat makan bersama.
God bless Indonesia!! Selamat ultah, dirgahayu ke-62 tahun.
Salam kemerdekaan,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) (:
Wednesday, August 15, 2007
Konseling Esensi dari Penggembalaan - Tugas Panggilan Gereja "Kelima" Masa Kini !
Tulisan ini respons terhadap posting Pdt Julianto & sister Witha di milist DH, mengenai "Ngobrol dengan Om Jakob Oetama Pemimpin Kompas-Gramedia".
Kesempatan yang baik bisa ngobrol dengan Om Jakob Oetama. Mungkin kita memang mesti belajar banyak dari Bapak yang "satu" ini, tetap mampu "eksis" dan berkibar" di berbagai era/jaman, open-minded dan sikap adaptif tetap konsisten terhadap berbagai perubahan dan tantangan lingkungan yang kerap terjadi di tengah bangsa ini bersama Kompas-Gramedia nya.
Soal Konseling? Tidak diragukan lagi manfaat dan dampaknya bila tetap konsisten dijalankan di tengah2 pergumulan gereja, masyarakat dan bangsa yang sedang "sakit" ini. Kalau boleh dibilang mungkin terlalu banyak "domba-domba" termasuk "gembalanya" juga yang luka,di jaman sekarang ini, yang membutuhkan 'pembalutan' dan 'pemulihan' atas luka2nya.
Kalau di berbagai kesempatan saya yakin menyebut Pemuridan sebagai Tugas Panggilan Gereja Keempat Masa Kini setelah Koinonia (bersekutu), Melayani (diakonia) dan Marturia. Maka Tugas Panggilan Gereja "Kelima" adalah Konseling! Konseling adalah esensi dari Penggembalaan - Tugas Panggilan Penggembalaan Gereja di masa kini, terutama dikaitkan dengan konteks Indonesia yang sikonnya seperti ini.
Saya ucapkan selamat atas rencana penerbitan buku2 Bro Pdt Julianto dan sister Witha. Semoga semakin banyak lagi buku2 kristen dan atau dengan nilai2 kristen diterbitkan, menambah yang sudah ada, tentunya dengan konteks Indonesia. Selamat berjuang!
Salam konseling & penggembalaan,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
Kesempatan yang baik bisa ngobrol dengan Om Jakob Oetama. Mungkin kita memang mesti belajar banyak dari Bapak yang "satu" ini, tetap mampu "eksis" dan berkibar" di berbagai era/jaman, open-minded dan sikap adaptif tetap konsisten terhadap berbagai perubahan dan tantangan lingkungan yang kerap terjadi di tengah bangsa ini bersama Kompas-Gramedia nya.
Soal Konseling? Tidak diragukan lagi manfaat dan dampaknya bila tetap konsisten dijalankan di tengah2 pergumulan gereja, masyarakat dan bangsa yang sedang "sakit" ini. Kalau boleh dibilang mungkin terlalu banyak "domba-domba" termasuk "gembalanya" juga yang luka,di jaman sekarang ini, yang membutuhkan 'pembalutan' dan 'pemulihan' atas luka2nya.
Kalau di berbagai kesempatan saya yakin menyebut Pemuridan sebagai Tugas Panggilan Gereja Keempat Masa Kini setelah Koinonia (bersekutu), Melayani (diakonia) dan Marturia. Maka Tugas Panggilan Gereja "Kelima" adalah Konseling! Konseling adalah esensi dari Penggembalaan - Tugas Panggilan Penggembalaan Gereja di masa kini, terutama dikaitkan dengan konteks Indonesia yang sikonnya seperti ini.
Saya ucapkan selamat atas rencana penerbitan buku2 Bro Pdt Julianto dan sister Witha. Semoga semakin banyak lagi buku2 kristen dan atau dengan nilai2 kristen diterbitkan, menambah yang sudah ada, tentunya dengan konteks Indonesia. Selamat berjuang!
Salam konseling & penggembalaan,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
Thursday, August 2, 2007
Apakah Benar Orang Batak Toba (Masa Kini) Susah Menjadi Wirausahawan, Entrepreneur Saudagar yang 'Hebat', Berhasil ?
Pertanyaan ini terus terang sering muncul, sering ditanyakan kepada saya, terutama oleh kalangan generasi muda keturunan Batak khususnya Batak Toba.
Kalau melihat ke tradisi dan masa lalu, orang Batak Toba yang jadi pendeta theolog rohaniwan aktivis gereja pelayanan Kristen banyak dan cukup menonjol. Di bonapasogit, rata-rata dari dulu orang Batak Toba yang hidup di lahan pertanian sebagai petani, pekebun dan perikanan air tawar juga hampir rata2 demikian, selain sebagai tukang seperti tukang kayu, pandai besi, par "tambok aek", penjual makanan (lapo tuak, ombus2, warung 'sampah', pedagang lokal pedagang pengumpul hasil bumi (seperti di Siborong2 Humbang Bahalbatu), toko2 kecil, dan lain2.
Yang jadi guru (teacher) dan terjun di bidang pendidikan termasuk dosen dan professor juga banyak. Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara/advocat, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, orpol, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak.
Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak.
Di bidang media, journalis wartawan orang Batak Toba juga cukup banyak terlibat dan berperan. Begitu juga ormas-ormas, aktivis, penggiat LSM berbagai bidang (sosial, kesehatan, pemberdayaan sosial-ekonomi, demokrasi, keadilan, lingkungan dll), cukup banyak dijumpai orang Batak Toba 20 tahun terakhir. Juga di bidang agen jasa pengurusan (STNK, Kir, SIM), transportasi bus, jasa penyedia keamanan dan pengamanan, agen saham, agen rumah dan jasa2 keperantaraan (sering disebut 'calo', 'makelaar') dan lainnya.
Di perusahaan swasta baik PMA maupun PMDN dan BUMN (PLN, Telkom, Aneka Gas, Pelindo dll), cukup banyak pula ditemui orang Batak Toba, mulai dari tingkat karyawan non-manajemen sampai ke tingkat eksekutif, deputy director direktur dan top manajemen. Divisi2 dalam perusahaan yang banyak diminati oleh orang Batak Toba ditengarai yang berhubungan dengan divisi HRD, training, serikat pekerja (labor union), hukum/legal, marketing, keuangan dan investasi, operasi/produksi, bidang transportasibidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang
operasi/produksi, bidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang advis, konsultan dan kontraktor (bangunan, jalan, MK, ME dll), ditemui cukup banyak orang Batak Toba.
Di bidang olahraga, cukup lumayan banyak orang Batak Toba yang terjun di olahraga seperti olahraga catur, tinju dan sepakbola. Di bidang seni, musik, entertainment dan infotainment banyak muncul turunan2 Batak Toba terutama di bidang seni komposisi lagu, pelatih vokal, seni bangunan arsitektur juga cukup lumayan, band-band terutama sejak era 70an sampai sekarang, sutradara sinetron dan penyanyi2 festival dan hiburan.
Namun seberapa banyak orang Batak Toba masa kini yang tertarik, punya minat menjadi entrepreneur, wirausahawan atau yang lebih dikenal juga istilah pedagang, businessmen, trading atau "saudagar" (yang konon dalam bahasa sanskrit berarti "seribu akal").
Di lapangan entrepreneur masa lalu, nama2 beken businessmen saudagar pedagang industrialis turunan Batak Toba hanya bisa dihitung jari, tidak begitu banyak sebanyak bidang2 lain yang telah disebutkan.
Mengapa hanya sedikit orang Batak Toba terutama masa kini yang mau jadi wirausahawan, pedagang, saudagar? Padahal kita semua tau, producing money making money menjadi alat yang strategis dalam upaya kemandirian theologia, daya dan dana, kemandirian ilmu pengetahuan dan kemajuan menuju kesejahteraan daerah komunitas (Batak Toba) dan bangsa.
Di negeri ini, dari sekian banyak daerah yang saya tinggal dan kelilingi, etnis atau suku yang lebih dikenal sebagai wirausahawan pedagang saudagar adalah dari suku Minang (Padang), dulu Aceh, Batak Karo, Banjar, saudagar Bugis, Makassar, suku Buton, Bali (Badung & Kuta), suku Jawa Yogya, Jawa Surabaya, suku Sunda Bandung, Garut dan Tasikmalaya, dll. Di kalangan etnis2 pendatang, kita semua tahu etnis keturunan Arab, Tionghoa (Cina) dan India secara tradisionil puluhan tahun sudah sangat 'menguasai' jagad ekonomi dan perdagangan di tanah air.
Banya kali kita telah berpikir dan berdiskusi, pentingnya wirausaha entrepreneurship sebagai dasar kemajuan suatu negara. Tidak ada negara, kebupaten, desa yang bisa maju progressive tanpa peran wirausaha, pedagang trader saudagar yang excellent (berhasil, 'hebat').
Apakah bukan karena hal ini salah satunya yang penting sehingga Tapanuli dan mungkin komunitas2 Batak Toba sulit untuk progessive maju?
Namun, meski pun sudah tau bahwa wirausaha pedagang saudagar sangat vital untuk kemajuan bangsa, suatu daerah dan kemajuan komunitas (Batak Toba), mungkin mulai sekarang tidak mungkin hanya sekadar sebatas himbauan bagi orang2 Batak Toba masa kini agar lebih terarah berani mampu dan bisa berperan di bidang ekonomi jasa dan perdagangan di tanah air bahkan mancanegara.
Apakah ini juga peran penting orang tua dan keluarga2 Batak Toba untuk mengarahkan anak2nya bergerak dan punya minat yang lebih serius kepada bidang entrepreneur, pedagang dan menjadi saudagar?
Mungkinkah ini menjadi keniscayaan?
Atau.. kalau tidak merasa punya talenta, minat, kompetensi menjadi entrepreneur wirausahawan atau saudagar pebisnis, ya.. cukup jadi karyawan karyawati sajalah yang penting bisa mencintai pekerjaan.
Apakah hanya sampai di sini kiprah orang2 Batak Toba sekarang dan ke depan.
Mohon konvergensi mekar pemberdayaan (empowerment)...
Salam wirausaha,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
Kalau melihat ke tradisi dan masa lalu, orang Batak Toba yang jadi pendeta theolog rohaniwan aktivis gereja pelayanan Kristen banyak dan cukup menonjol. Di bonapasogit, rata-rata dari dulu orang Batak Toba yang hidup di lahan pertanian sebagai petani, pekebun dan perikanan air tawar juga hampir rata2 demikian, selain sebagai tukang seperti tukang kayu, pandai besi, par "tambok aek", penjual makanan (lapo tuak, ombus2, warung 'sampah', pedagang lokal pedagang pengumpul hasil bumi (seperti di Siborong2 Humbang Bahalbatu), toko2 kecil, dan lain2.
Yang jadi guru (teacher) dan terjun di bidang pendidikan termasuk dosen dan professor juga banyak. Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara/advocat, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, orpol, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak.
Juga di bidang penegakkan hukum (jaksa, pengacara, hakim, polisi) dan militer (tentara/ABRI/TNI). Bidang politik, birokrasi dan pemerintahan (PNS) bisa dikatakan banyak, sebagai pejabat, pegawai departemen, pegawai dinas dan pegawai biasa, baik permanen maupun kontrak.
Di bidang media, journalis wartawan orang Batak Toba juga cukup banyak terlibat dan berperan. Begitu juga ormas-ormas, aktivis, penggiat LSM berbagai bidang (sosial, kesehatan, pemberdayaan sosial-ekonomi, demokrasi, keadilan, lingkungan dll), cukup banyak dijumpai orang Batak Toba 20 tahun terakhir. Juga di bidang agen jasa pengurusan (STNK, Kir, SIM), transportasi bus, jasa penyedia keamanan dan pengamanan, agen saham, agen rumah dan jasa2 keperantaraan (sering disebut 'calo', 'makelaar') dan lainnya.
Di perusahaan swasta baik PMA maupun PMDN dan BUMN (PLN, Telkom, Aneka Gas, Pelindo dll), cukup banyak pula ditemui orang Batak Toba, mulai dari tingkat karyawan non-manajemen sampai ke tingkat eksekutif, deputy director direktur dan top manajemen. Divisi2 dalam perusahaan yang banyak diminati oleh orang Batak Toba ditengarai yang berhubungan dengan divisi HRD, training, serikat pekerja (labor union), hukum/legal, marketing, keuangan dan investasi, operasi/produksi, bidang transportasibidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang
operasi/produksi, bidang transportasi, general affairs dan sejenisnya. Demikian juga di bidang advis, konsultan dan kontraktor (bangunan, jalan, MK, ME dll), ditemui cukup banyak orang Batak Toba.
Di bidang olahraga, cukup lumayan banyak orang Batak Toba yang terjun di olahraga seperti olahraga catur, tinju dan sepakbola. Di bidang seni, musik, entertainment dan infotainment banyak muncul turunan2 Batak Toba terutama di bidang seni komposisi lagu, pelatih vokal, seni bangunan arsitektur juga cukup lumayan, band-band terutama sejak era 70an sampai sekarang, sutradara sinetron dan penyanyi2 festival dan hiburan.
Namun seberapa banyak orang Batak Toba masa kini yang tertarik, punya minat menjadi entrepreneur, wirausahawan atau yang lebih dikenal juga istilah pedagang, businessmen, trading atau "saudagar" (yang konon dalam bahasa sanskrit berarti "seribu akal").
Di lapangan entrepreneur masa lalu, nama2 beken businessmen saudagar pedagang industrialis turunan Batak Toba hanya bisa dihitung jari, tidak begitu banyak sebanyak bidang2 lain yang telah disebutkan.
Mengapa hanya sedikit orang Batak Toba terutama masa kini yang mau jadi wirausahawan, pedagang, saudagar? Padahal kita semua tau, producing money making money menjadi alat yang strategis dalam upaya kemandirian theologia, daya dan dana, kemandirian ilmu pengetahuan dan kemajuan menuju kesejahteraan daerah komunitas (Batak Toba) dan bangsa.
Di negeri ini, dari sekian banyak daerah yang saya tinggal dan kelilingi, etnis atau suku yang lebih dikenal sebagai wirausahawan pedagang saudagar adalah dari suku Minang (Padang), dulu Aceh, Batak Karo, Banjar, saudagar Bugis, Makassar, suku Buton, Bali (Badung & Kuta), suku Jawa Yogya, Jawa Surabaya, suku Sunda Bandung, Garut dan Tasikmalaya, dll. Di kalangan etnis2 pendatang, kita semua tahu etnis keturunan Arab, Tionghoa (Cina) dan India secara tradisionil puluhan tahun sudah sangat 'menguasai' jagad ekonomi dan perdagangan di tanah air.
Banya kali kita telah berpikir dan berdiskusi, pentingnya wirausaha entrepreneurship sebagai dasar kemajuan suatu negara. Tidak ada negara, kebupaten, desa yang bisa maju progressive tanpa peran wirausaha, pedagang trader saudagar yang excellent (berhasil, 'hebat').
Apakah bukan karena hal ini salah satunya yang penting sehingga Tapanuli dan mungkin komunitas2 Batak Toba sulit untuk progessive maju?
Namun, meski pun sudah tau bahwa wirausaha pedagang saudagar sangat vital untuk kemajuan bangsa, suatu daerah dan kemajuan komunitas (Batak Toba), mungkin mulai sekarang tidak mungkin hanya sekadar sebatas himbauan bagi orang2 Batak Toba masa kini agar lebih terarah berani mampu dan bisa berperan di bidang ekonomi jasa dan perdagangan di tanah air bahkan mancanegara.
Apakah ini juga peran penting orang tua dan keluarga2 Batak Toba untuk mengarahkan anak2nya bergerak dan punya minat yang lebih serius kepada bidang entrepreneur, pedagang dan menjadi saudagar?
Mungkinkah ini menjadi keniscayaan?
Atau.. kalau tidak merasa punya talenta, minat, kompetensi menjadi entrepreneur wirausahawan atau saudagar pebisnis, ya.. cukup jadi karyawan karyawati sajalah yang penting bisa mencintai pekerjaan.
Apakah hanya sampai di sini kiprah orang2 Batak Toba sekarang dan ke depan.
Mohon konvergensi mekar pemberdayaan (empowerment)...
Salam wirausaha,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
Monday, July 30, 2007
Pentingnya Pendekatan Kultural & Pendidikan bagi Kemajuan melalui Peran Publikasi Cerita Sosok Keteladanan dan Peran Media.
Tulisan ini menanggapi rekan milist DH Bro. Wals Silalahi, berjudul "Kenapa Negara Kita Miskin" - To Reflect & To Act. Bro Wals menyoroti bahwa suatu negara bisa maju ternyata bukan karena soal kepemilikan sumberdaya alam melimpah, melainkan karena faktor sikap/perilaku masyarakatnya yang 'developed'.
Pembentukan sikap/perilaku masyarakat menjadi 'developed', maju, sangat perlu dilakukan sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Pendekatan kultural dan pendidikan. Tujuannya agar semakin banyak masyarakat sehari2nya makin mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sbb:
1.Etika ,sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari.
2.Kejujuran dan integritas
3.Bertanggung jawab.
4.Hormat pada aturan& hukum masyarakat.
5.Hormat pada hak orang atau warga lain.
6.Cinta kepada pekerjaan.
7.Berusaha keras untuk menabung dan investasi
8.mau bekerja keras
9.Tepat waktu.
Untuk hal ini saya sangat setuju dengan Bro Wals. Bukankah negeri ini punya comparative advantage berupa sumberdaya energi, komoditi, mineral (mining)yang melimpah, seperti yang sering diutarakan JK di mana-mana. Namun masalahnya itu menjadi kurang/tidak ada gunanya jika upaya pembentukan sikap/perilaku masyarakat terkait peran pribadi, keluarga serta peran negara masih 'melempem'. Tidak punya arah yang tepat dan benar.
Prinsip2 dasar kehidupan itu dalam bahasa perenungan saya pribadi adalah peran Injil yang 'mengubahkan' spiritualitas dan peran Kultural yang mengubahkan kebudayaan, yakni menyangkut basis moral ethos budaya disiplin seni estetik roh keadilan sosial dan profesional yang excellent. Namun itu semua butuh waktu. Peran orangtua, pembina, pelatih, pendidik, gembala, penilik, penatua, para senior..pemimpin termasuk pemimpin komunitas sangat ditunggu sekarang. Namun disamping melatih, menulis, persuasi, menghimbau, mencegah, mengobati sebagai langkah pembinaan internal keluarga, komunitas, umat... kita juga mesti concern dan prihatin dengan perkembangan media/channel2 TV dan multi media sekarang. Tiap hari anak remaja pemuda generasi per generasi disuguhi program yang "dibolehkan" negara, pebisnis, mediawan dan "sutradara" yang membuat pemirsa "tabula rasa" menjadi pemirsa "tabu boleh dirasa", semakin jauh dari prinsip2 kehidupan. Anti makna Injil damai sejahtera yang mengubahkan, dan anti peran kebudayaan yang mesti mengubahkan ke arah kemajuan, kesejahteraan, kasih dan keadilan.
Cerita2 story anak2 biography remaja pemuda senior pemimpin2 dari berbagai lintas lapangan kehidupan (tidak hanya yang dari latar belakang nyanyi menyanyi saja..) yang memiliki prinsip2 kehidupan harus semakin banyak ditulis, diangkat dan dipertontonkan ke muka publik secara massive lewat media/TV khususnya, tabloid2, koran harian pagi dan sore, kalau perlu di headline2 utama, bukan saja dipojok feature paling belakang dan paling dalam dari halaman koran dan buku2.
Sekaitan fungsi dan tugas kita sekarang, mari kita tunjukkan contoh role model standard operating procedure dan mengecek serta mengingatkannya secara berulang2 kepada lingkungan kita bagaimana prinsip2 kehidupan itu harus dijalani. Apa manfaat keuntungannya dan apa kerugiannya jika tidak diterapkan. Berulang-ulang, tidak apa2 sampai yang mendengar mungkin jadi bosan, kesal. Itulah esensi mendidik atau pendidikan. Pendidikan bukan di lagi terjadi di kelas, tapi kebun2 di halaman2 rumah beranda rumah di kamar.. di jalan dst. Mimbar pendidikan dan pengajaran bukan saja di pulpit gereja atau konsistori gereja waktu PA atau pendalaman firman, tapi pindah ke meja2 kantor.. di lapangan pembibitan palawija, di tanah perikanan, di jalan lalu lintas, di acara gaul, arisan, rekreasi dan ulang tahun. Lapangan hidup sehari2 di luar hari minggu.
Sudah perlu ada bukan saja KAMG tapi Komunitas Air Mata Sutradara Sinetron (KAMSS), Komunitas Air Mata Media (KAMM).., di mana selaku garam dan terang di masing2 komunitas2 kita punya kesempatan untuk menggarami dan menerangi semua jenis2 pembikin program tayangan TV selama 24 jam. Juga pojok2 koran harian majalah tabloid mewarnai dengan prinsip2 dan nilai2 transformatif Kabar Baik penuh sejahtera serta prinisp2 kehidupan itu. Baik tayangan TV koran showbiz entertainment bernilai kristiani, maupun tayangan TV koran media showbiz entertainment infotainment umum.
Salam penetrasi ke media2,
Hans Midas Simanjuntak (HMS):)
Pembentukan sikap/perilaku masyarakat menjadi 'developed', maju, sangat perlu dilakukan sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Pendekatan kultural dan pendidikan. Tujuannya agar semakin banyak masyarakat sehari2nya makin mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan sbb:
1.Etika ,sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari.
2.Kejujuran dan integritas
3.Bertanggung jawab.
4.Hormat pada aturan& hukum masyarakat.
5.Hormat pada hak orang atau warga lain.
6.Cinta kepada pekerjaan.
7.Berusaha keras untuk menabung dan investasi
8.mau bekerja keras
9.Tepat waktu.
Untuk hal ini saya sangat setuju dengan Bro Wals. Bukankah negeri ini punya comparative advantage berupa sumberdaya energi, komoditi, mineral (mining)yang melimpah, seperti yang sering diutarakan JK di mana-mana. Namun masalahnya itu menjadi kurang/tidak ada gunanya jika upaya pembentukan sikap/perilaku masyarakat terkait peran pribadi, keluarga serta peran negara masih 'melempem'. Tidak punya arah yang tepat dan benar.
Prinsip2 dasar kehidupan itu dalam bahasa perenungan saya pribadi adalah peran Injil yang 'mengubahkan' spiritualitas dan peran Kultural yang mengubahkan kebudayaan, yakni menyangkut basis moral ethos budaya disiplin seni estetik roh keadilan sosial dan profesional yang excellent. Namun itu semua butuh waktu. Peran orangtua, pembina, pelatih, pendidik, gembala, penilik, penatua, para senior..pemimpin termasuk pemimpin komunitas sangat ditunggu sekarang. Namun disamping melatih, menulis, persuasi, menghimbau, mencegah, mengobati sebagai langkah pembinaan internal keluarga, komunitas, umat... kita juga mesti concern dan prihatin dengan perkembangan media/channel2 TV dan multi media sekarang. Tiap hari anak remaja pemuda generasi per generasi disuguhi program yang "dibolehkan" negara, pebisnis, mediawan dan "sutradara" yang membuat pemirsa "tabula rasa" menjadi pemirsa "tabu boleh dirasa", semakin jauh dari prinsip2 kehidupan. Anti makna Injil damai sejahtera yang mengubahkan, dan anti peran kebudayaan yang mesti mengubahkan ke arah kemajuan, kesejahteraan, kasih dan keadilan.
Cerita2 story anak2 biography remaja pemuda senior pemimpin2 dari berbagai lintas lapangan kehidupan (tidak hanya yang dari latar belakang nyanyi menyanyi saja..) yang memiliki prinsip2 kehidupan harus semakin banyak ditulis, diangkat dan dipertontonkan ke muka publik secara massive lewat media/TV khususnya, tabloid2, koran harian pagi dan sore, kalau perlu di headline2 utama, bukan saja dipojok feature paling belakang dan paling dalam dari halaman koran dan buku2.
Sekaitan fungsi dan tugas kita sekarang, mari kita tunjukkan contoh role model standard operating procedure dan mengecek serta mengingatkannya secara berulang2 kepada lingkungan kita bagaimana prinsip2 kehidupan itu harus dijalani. Apa manfaat keuntungannya dan apa kerugiannya jika tidak diterapkan. Berulang-ulang, tidak apa2 sampai yang mendengar mungkin jadi bosan, kesal. Itulah esensi mendidik atau pendidikan. Pendidikan bukan di lagi terjadi di kelas, tapi kebun2 di halaman2 rumah beranda rumah di kamar.. di jalan dst. Mimbar pendidikan dan pengajaran bukan saja di pulpit gereja atau konsistori gereja waktu PA atau pendalaman firman, tapi pindah ke meja2 kantor.. di lapangan pembibitan palawija, di tanah perikanan, di jalan lalu lintas, di acara gaul, arisan, rekreasi dan ulang tahun. Lapangan hidup sehari2 di luar hari minggu.
Sudah perlu ada bukan saja KAMG tapi Komunitas Air Mata Sutradara Sinetron (KAMSS), Komunitas Air Mata Media (KAMM).., di mana selaku garam dan terang di masing2 komunitas2 kita punya kesempatan untuk menggarami dan menerangi semua jenis2 pembikin program tayangan TV selama 24 jam. Juga pojok2 koran harian majalah tabloid mewarnai dengan prinsip2 dan nilai2 transformatif Kabar Baik penuh sejahtera serta prinisp2 kehidupan itu. Baik tayangan TV koran showbiz entertainment bernilai kristiani, maupun tayangan TV koran media showbiz entertainment infotainment umum.
Salam penetrasi ke media2,
Hans Midas Simanjuntak (HMS):)
Sunday, July 29, 2007
Thinker Kristen Saya Yakin Sedang Bertumbuh Kembang Sekarang.
Thinker Kristen menurut keyakinan saya kini sedang ditumbuh-kembangkan sekarang, terutama sejak 10 tahun terakhir atau tepatnya 5 tahun terakhir. Kita terutama di tanah air, mungkin tak perlu harus 'terus-menerus' selalu berada dalam padang gurun atau 'jaman terowongan kegelapan' menanti 'sejumput pijar terang di ujung terowongan'.
KIta harus yakin dalam pergumulan demi pergumulan spiritualitas kita, bahwa akhir tapal batas 'padang gurun' akan tidak lama lagi dijumpai. Generasi2 muda telah lahir, tumbuh dan kembang! Bak pelari marathon 10k atau 20k sekarang kita dan 'anak cucu', 'sahabat' 'murid' dan 'anak2 bangsa' bukan lagi berjalan pelan tapi perlahan tapi pasti mulai berlari.
Kekristenan realitas yang masih fragmented, hemat saya bisa disiasati ke depan mulai saat ini dengan suatu solusi memulai dari diri kita, baik selaku pemimpin, pemikir atau umat untuk berpikiran untuk permasalahan yang dihadapi di dunia dan society, dengan cara pandang geosentrik, yang utuh (integrated, holistik), ketimbang hanya 'single sectoral sentrik' , 'berbasiskan hanya 'satu cabang disiplin ilmu sentrik' atau bahkan 'berbasiskan hanya etno sentrik. Ini tidak gampang, karena pemikiran modernism telah sangat merasuki banyak orang lewat cara pandang spesialisasi atau super spesialisasi penguasaan di satu bidang keahlian atau satu bidang minat saja. Alasannya karena industrialisasi, fabrikasi, pentingnya memiliki differensiasi ciri khas di tengah lingkungan yang hyper-kompetisi.
Kata kunci modernisme adalah daya saing, keunikan. Jika ini tetap dianut, sulit sekali tercapai lingkungan yang kooperatif, kolaboratif semesta, bekerjasama bersama2 bekerja dan bekerjasama (pemaknaan ulang dari 'gotong royong').
Pemikiran Kristen (Christian mind) era sekarang dan ke depan, seharusnya sudah perlu berubah, dari paradigma menilai keadaan sebagai kompetisi atau hyper-kompetisi kepada paradigma baru 'koopetisi' (koperatif bekerjasama bersama2 bekerja namun sekaligus tetap membangun suasana kompetisi dalam artian 'berlomba' dalam perlombaan yang baik, bagus dan benar).
Dalam global event transformation 66 negara yang terakhir yang saya ikuti April 2006 lalu, Christian Transform World (www.transformworld.com), dan khasanah Christian studies (worldview) telah sepakat untuk menelurkan konsep, teori Kristen atau istilah yang disebut " "Christian governance" dan atau "Marketplace" yang mengintegrasikan secara utuh 'lengket' bidang2 (spheres) theologia/gereja, pendidikan, ekonomi dan politik/pemerintahan, termasuk mencakup hukum2 publik di dalamnya. Keempat atau kelima bidang2 (spheres) ini tidak bisa jalan sendiri2, tapi 'merapat' dalam kerapatan yang kohesif. Kerapatan ini bisa bersifat 'melting pot' (membaur, tapi tidak berarti kacau balau anarkhis'), bisa bersifat 'gado-gado'; yang jelas tidak tersekat-sekat mati oleh pilar2 fanatisme bidang, keahlian, sektor yang tidak perlu.
Jika kita mulai menggunakan serta mengangkat membudayakan terminologi "Marketplace" dan "Christian governance" mulai dari sekarang di antara umat, pemikir dan pemimpin, maka fragmentasi dalam Kekristenan akan teratasi, dan untuk 10-20 tahun ke depan fragmentasi akan hilang. Gerakan2 refleks, dinamik, kelenturan dan totalitas dalam pergerakan pelayanan dari semua umat Tuhan di berbagai lapangan praktis dan praksis kehidupan akan nampak luar biasa.
Salam pelayanan dan pencerahan bersama
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
KIta harus yakin dalam pergumulan demi pergumulan spiritualitas kita, bahwa akhir tapal batas 'padang gurun' akan tidak lama lagi dijumpai. Generasi2 muda telah lahir, tumbuh dan kembang! Bak pelari marathon 10k atau 20k sekarang kita dan 'anak cucu', 'sahabat' 'murid' dan 'anak2 bangsa' bukan lagi berjalan pelan tapi perlahan tapi pasti mulai berlari.
Kekristenan realitas yang masih fragmented, hemat saya bisa disiasati ke depan mulai saat ini dengan suatu solusi memulai dari diri kita, baik selaku pemimpin, pemikir atau umat untuk berpikiran untuk permasalahan yang dihadapi di dunia dan society, dengan cara pandang geosentrik, yang utuh (integrated, holistik), ketimbang hanya 'single sectoral sentrik' , 'berbasiskan hanya 'satu cabang disiplin ilmu sentrik' atau bahkan 'berbasiskan hanya etno sentrik. Ini tidak gampang, karena pemikiran modernism telah sangat merasuki banyak orang lewat cara pandang spesialisasi atau super spesialisasi penguasaan di satu bidang keahlian atau satu bidang minat saja. Alasannya karena industrialisasi, fabrikasi, pentingnya memiliki differensiasi ciri khas di tengah lingkungan yang hyper-kompetisi.
Kata kunci modernisme adalah daya saing, keunikan. Jika ini tetap dianut, sulit sekali tercapai lingkungan yang kooperatif, kolaboratif semesta, bekerjasama bersama2 bekerja dan bekerjasama (pemaknaan ulang dari 'gotong royong').
Pemikiran Kristen (Christian mind) era sekarang dan ke depan, seharusnya sudah perlu berubah, dari paradigma menilai keadaan sebagai kompetisi atau hyper-kompetisi kepada paradigma baru 'koopetisi' (koperatif bekerjasama bersama2 bekerja namun sekaligus tetap membangun suasana kompetisi dalam artian 'berlomba' dalam perlombaan yang baik, bagus dan benar).
Dalam global event transformation 66 negara yang terakhir yang saya ikuti April 2006 lalu, Christian Transform World (www.transformworld.com), dan khasanah Christian studies (worldview) telah sepakat untuk menelurkan konsep, teori Kristen atau istilah yang disebut " "Christian governance" dan atau "Marketplace" yang mengintegrasikan secara utuh 'lengket' bidang2 (spheres) theologia/gereja, pendidikan, ekonomi dan politik/pemerintahan, termasuk mencakup hukum2 publik di dalamnya. Keempat atau kelima bidang2 (spheres) ini tidak bisa jalan sendiri2, tapi 'merapat' dalam kerapatan yang kohesif. Kerapatan ini bisa bersifat 'melting pot' (membaur, tapi tidak berarti kacau balau anarkhis'), bisa bersifat 'gado-gado'; yang jelas tidak tersekat-sekat mati oleh pilar2 fanatisme bidang, keahlian, sektor yang tidak perlu.
Jika kita mulai menggunakan serta mengangkat membudayakan terminologi "Marketplace" dan "Christian governance" mulai dari sekarang di antara umat, pemikir dan pemimpin, maka fragmentasi dalam Kekristenan akan teratasi, dan untuk 10-20 tahun ke depan fragmentasi akan hilang. Gerakan2 refleks, dinamik, kelenturan dan totalitas dalam pergerakan pelayanan dari semua umat Tuhan di berbagai lapangan praktis dan praksis kehidupan akan nampak luar biasa.
Salam pelayanan dan pencerahan bersama
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
Solusi PDS yang Terbelah: Keprihatinan Lagi.
Tulisan saya ini menanggapi artikel Bro Victor Silaen di milist DH sudah termuat di Harian Mitra Bangsa edisi Juli 2007 di bawah judul "Solusi PDS yang Terbelah".
Sekali lagi, PDS semakin terpuruk (lebih tepat mungkin juga 'diterpurukkan'). Ratingnya sudah turun jauh. Sebagai salah satu orpol, semkain tidak cukup menarik, tidak cukup atraktif untuk ditelisik dan diperbincangkan. Mereka yang dalam dunia pemasaran bilang, dari segi 'brand', 'brand image' sudah jatuh.
Bagaimana solusi untuk 'brand' yang sudah terpuruk. Perlu lama sekali untuk memperbaikinya. Secara teori, perlu 5-6 tahun untuk recover. Itu pun mungkin harus dengan berbagai upaya yang tak kunjung lelah. Secara taktis pemasaran, rubah merek, rubah brand, agar brand image naik.
Tapi lebih mendasar dari sekadar 'politik merk' atau 'brand politics' adalah menyangkut cara pandang. Apakah masih cocok untuk masa dulu hingga sekarang, menjadikan faktor agama basis agama dan primordialisme sebagai komoditas politik dan kendaraan berpolitik di tanah air? Apakah orang Kristen bahkan bangsa ini sudah siap dalam 'segala sesuatunya' untuk berpolitik melalui cara menjadikan agama dan primordialisme sebagai basisnya?
Coba saja liat PAS di Malaysia bagaimana? Lantas kita meliat PKS di sini. Apakah ada jaminan PKS akan berjaya dan melenggang lebih jauh? Akan mampu melenggang sampai sejauh mana? Kita akan liat sama-sama.
Partai Demokrat Kristen Jerman. Banyak pendeta kristen dan politisi kristen kita menyebut kenapa Jerman bisa, kita ngga bisa. Jerman itu bangsa, negara yang seperti bagaimana? Apakah sudah cukup 'worthieth' keadaan kondisi, budaya dan peradaban Jerman disamakan dengan peradaban kita yang ada di sini. Mimpi niscaya boleh.
Agama, etnik, primordialisme dst boleh boleh saja menurut saya menjadi salah satu tema bahkan 'basis' politik. Namun, agar dapat berlangsung dalam damai dan suasana fairnes dan penuh peradaban, banyak sekali mensyaratkan hal2 yang mesti dipenuhi oleh seluruh pemain yang ingin bergerak dalam kancah politik agama dan primordialisme ini.
Membangun konsensus dan unity menjadi keharusan. Seluruh sistem kepartaian dan penegakkan (compliance) hukum publik harus ada dalam tatanan demokratis. Faktor kesejahteraan juga sangat menentukan, termasuk soal aturan2 pemberlakuan pendirian partai dan transparansi penggalangan dana partai.
Keprihatinan kita dan rasa malu kita juga 'halak kita' dan 'kalangan pendeta' terlalu mudah untuk beradu dan dibuat beradu (dibuat terpuruk), ujung2nya bukan karena ingin menjalankan misi namun nyata sangat nyata karena hausnya untuk syndrom ingin berkuasa dan mencari jalan pintas yang paling pragmatis di tengah galaunya situasi sekarang.
Namun saya masih bersyukur dan masih tetap percaya, bahwa tidak atau belum semua 'halak kita' dan tidak semua 'kalangan pendeta' yang mau terlalu gampang tergoda bernafsu untuk ber-main2 dalam permainan2, cerita (story) yang sama sekali tidak menarik dan tidak indah untuk dikenang.
Lain kali saya yakin 'halak kita' dan 'kalangan pendeta' termasuk yang muda2 tidak mau asal dianggap orang pintar tapi ternyata 'tidak pandai'. Masih mudah untuk 'diojok-ojok' oleh tangan2 atau pihak2 yang tidak keliatan.
Siapa tangan2 atau pihak2 yang tidak keliatan. Dari beberapa pandangan dan parodi2 yang berhasil saya kumpulkan di lapangan, yang tidak keliatan kemungkinannya antara lain adalah dari:
- Kalangan militer yang semakin merasa post power syndrome tidak lagi banyak mendapat 'bagian kekuasaan' paska reformasi;
- Kalangan2 aktivis politisi2 dan mereka yang terjun sekarang namun lahir, tumbuh dan berkembang pada waktu yang lalu di masa2 Perang Dingin (AS-Soviet-RRC) tahun 1940-awal 1950an (habitnya mau gontok2an melulu.., dualisme kepemimpinan melulu.. he he).
- Kalangan mereka yang coba2, 'kutu loncat', bosan di satu bidang pengabdian lalu meloncat, bukan "passing over' atau proses ekstensi pengabdian secara benar, ke bidang politik..., ya kendaraannya adalah parpol seperti PDS ini.
- Kalangan kaum ambisius namun "sewot" dengan keadaan yang berlangsung di tanah air paska reformasi. Namun tidak dibarengi kemampuan, legitimasi dukungan yang luas dan pro kepada masyarakat riel di bawah yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan.
Solusinya yach.. rubah merek atau bangun Kekristenan kembali kepada semangat inti Injil damai sejahtera, bangun Kekristenan secara kultural kebangsaan moral ethos budaya disiplin seni keadilan sosial dan profesional excellent; jangan nafsu2 ikut2an arus dunia jalan pintas cari ketenaran kekuasaan pengaruh keliru bikin-bikin partai..
Jadinya partai2 dibikin partai2 kelas warungan.
Salam keprihatinan sekali lagi,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
Sekali lagi, PDS semakin terpuruk (lebih tepat mungkin juga 'diterpurukkan'). Ratingnya sudah turun jauh. Sebagai salah satu orpol, semkain tidak cukup menarik, tidak cukup atraktif untuk ditelisik dan diperbincangkan. Mereka yang dalam dunia pemasaran bilang, dari segi 'brand', 'brand image' sudah jatuh.
Bagaimana solusi untuk 'brand' yang sudah terpuruk. Perlu lama sekali untuk memperbaikinya. Secara teori, perlu 5-6 tahun untuk recover. Itu pun mungkin harus dengan berbagai upaya yang tak kunjung lelah. Secara taktis pemasaran, rubah merek, rubah brand, agar brand image naik.
Tapi lebih mendasar dari sekadar 'politik merk' atau 'brand politics' adalah menyangkut cara pandang. Apakah masih cocok untuk masa dulu hingga sekarang, menjadikan faktor agama basis agama dan primordialisme sebagai komoditas politik dan kendaraan berpolitik di tanah air? Apakah orang Kristen bahkan bangsa ini sudah siap dalam 'segala sesuatunya' untuk berpolitik melalui cara menjadikan agama dan primordialisme sebagai basisnya?
Coba saja liat PAS di Malaysia bagaimana? Lantas kita meliat PKS di sini. Apakah ada jaminan PKS akan berjaya dan melenggang lebih jauh? Akan mampu melenggang sampai sejauh mana? Kita akan liat sama-sama.
Partai Demokrat Kristen Jerman. Banyak pendeta kristen dan politisi kristen kita menyebut kenapa Jerman bisa, kita ngga bisa. Jerman itu bangsa, negara yang seperti bagaimana? Apakah sudah cukup 'worthieth' keadaan kondisi, budaya dan peradaban Jerman disamakan dengan peradaban kita yang ada di sini. Mimpi niscaya boleh.
Agama, etnik, primordialisme dst boleh boleh saja menurut saya menjadi salah satu tema bahkan 'basis' politik. Namun, agar dapat berlangsung dalam damai dan suasana fairnes dan penuh peradaban, banyak sekali mensyaratkan hal2 yang mesti dipenuhi oleh seluruh pemain yang ingin bergerak dalam kancah politik agama dan primordialisme ini.
Membangun konsensus dan unity menjadi keharusan. Seluruh sistem kepartaian dan penegakkan (compliance) hukum publik harus ada dalam tatanan demokratis. Faktor kesejahteraan juga sangat menentukan, termasuk soal aturan2 pemberlakuan pendirian partai dan transparansi penggalangan dana partai.
Keprihatinan kita dan rasa malu kita juga 'halak kita' dan 'kalangan pendeta' terlalu mudah untuk beradu dan dibuat beradu (dibuat terpuruk), ujung2nya bukan karena ingin menjalankan misi namun nyata sangat nyata karena hausnya untuk syndrom ingin berkuasa dan mencari jalan pintas yang paling pragmatis di tengah galaunya situasi sekarang.
Namun saya masih bersyukur dan masih tetap percaya, bahwa tidak atau belum semua 'halak kita' dan tidak semua 'kalangan pendeta' yang mau terlalu gampang tergoda bernafsu untuk ber-main2 dalam permainan2, cerita (story) yang sama sekali tidak menarik dan tidak indah untuk dikenang.
Lain kali saya yakin 'halak kita' dan 'kalangan pendeta' termasuk yang muda2 tidak mau asal dianggap orang pintar tapi ternyata 'tidak pandai'. Masih mudah untuk 'diojok-ojok' oleh tangan2 atau pihak2 yang tidak keliatan.
Siapa tangan2 atau pihak2 yang tidak keliatan. Dari beberapa pandangan dan parodi2 yang berhasil saya kumpulkan di lapangan, yang tidak keliatan kemungkinannya antara lain adalah dari:
- Kalangan militer yang semakin merasa post power syndrome tidak lagi banyak mendapat 'bagian kekuasaan' paska reformasi;
- Kalangan2 aktivis politisi2 dan mereka yang terjun sekarang namun lahir, tumbuh dan berkembang pada waktu yang lalu di masa2 Perang Dingin (AS-Soviet-RRC) tahun 1940-awal 1950an (habitnya mau gontok2an melulu.., dualisme kepemimpinan melulu.. he he).
- Kalangan mereka yang coba2, 'kutu loncat', bosan di satu bidang pengabdian lalu meloncat, bukan "passing over' atau proses ekstensi pengabdian secara benar, ke bidang politik..., ya kendaraannya adalah parpol seperti PDS ini.
- Kalangan kaum ambisius namun "sewot" dengan keadaan yang berlangsung di tanah air paska reformasi. Namun tidak dibarengi kemampuan, legitimasi dukungan yang luas dan pro kepada masyarakat riel di bawah yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan.
Solusinya yach.. rubah merek atau bangun Kekristenan kembali kepada semangat inti Injil damai sejahtera, bangun Kekristenan secara kultural kebangsaan moral ethos budaya disiplin seni keadilan sosial dan profesional excellent; jangan nafsu2 ikut2an arus dunia jalan pintas cari ketenaran kekuasaan pengaruh keliru bikin-bikin partai..
Jadinya partai2 dibikin partai2 kelas warungan.
Salam keprihatinan sekali lagi,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
Thursday, July 26, 2007
Soal Penggalangan Dana Bagi Perjuangan (untuk Kebenaran).
Soal galang menggalang dana ini menjadi ekstra penting di kalangan aktivis yang masih punya idealisme perjuangan di berbagai komunitas perjuangan tanah air. Dari dulu hingga sekarang, ini menjadi semacam kendala, apalagi sejak diterpa krisis. Duit atau dana semakin tidak gampang diperoleh.
- Sikon ekonomi yang sulit di dalam negeri, membuat perjuangan2 yang umumnya dilakonkan oleh aktivis pejuang menjadi tidak mudah lancar bergerak, karena 'mobil saja butuh bensin', 'bensin' menjadi berperanan sangat penting.
- Kalaupun dibilang saat ini Indonesia punya pertumbuhan ekonomi cukup tinggi 6.3%, masalahnya ada benarnya yang dibilang ISEI/Burhanuddin Abdullah, tidak ada terjadi trickle down ke bawah ke komunitas2 grass roots yang kebanyakan bergerak dengan idealisme. Yang ada trickle-up effects; hanya beberapa gelintir orang di negeri ini, di Singapura dan negara lain yang punya banyak dana/duit yang berkepentingan dengan negeri ini.
- Kebanyakan beberapa gelintir yang punya banyak dana ini, disinyalir kaum neo-liberalis kapitalis malah 'keder' sangat takut dengan yang namanya eksistensi perjuangan idealis komunitas untuk kebenaran. Mereka 'mau bantu' sepanjang kepentingan bisnis dan politiknya di negeri ini yang kebanyakan "ershad capitalism' kebanyakan tidak didasari dengan moral legal politis etis, bisa didukung berkelanjutan. Bisa tetap eksis sebagai 'raja-raja' dan elit2 despot.
- Tarik menarik tarik ulur negosiasi dengan aktivis perjuangan kebenaran terjadi, mau kami bantu asal lunturkan idealisme perjuangan. Kira2 begitu bahasa terangnya. Kalau mau genderang perang dengan kami, berhadapan dengan kami, sampai kapan pun anda tidak akan kami bantu. Power uang dan idealisme menjadi terkonfrontir sering secara diametral.
- Para aktivis perjuangan, sering tiba pada persimpangan. Mau meneruskan perjuangan idealisme atau berhenti mengurangi daya gebrakan penjebolan ketidak-benaran, ketidak jujuran alias mulai melihat kepentingan "tuntutan hidup", tuntutan hidup keluarga anak isteri, perlu motor mobil, rumah dll dll.
Di sini berkonfrontasi kembali antara kepentingan "panggilan hidup panggilan perjuangan kebenaran" dengan "tuntutan hidup tuntutan perut dan uang kebutuhan sehari2 kebutuhan kesenangan kenyamanan hidup".
- Maka tidak jarang karena sulitnya mendamaikan keduanya (panggilan hidup perjuangan dan tuntutan hidup), para aktivis atau yang dulunya adalah aktivis paling jempolan, memilih jalan realistis paling realistis kata mereka, untuk diam, pasif, tidak berjuang lagi, dan penilaian yang masih committed sebagai "Pengkhianatan" , para pengkhianat2 dari yang paling keji sampai dinilai "aktivis abu-abu", hanya mementingkan perut dan keluarganya sendiri.
- Diperkirakan di negeri ini yang masih committed terhadap aktivitas perjuangan paling banyak 10% saja, sedang sisanya sudah hilang, tertelan pindah habitat ke tangan2 tidak keliatan yang memegang banyak2 uang. Reformasi sedang bergelinding, menampakkan 'kelas menengah' dan 'kelas bawah' dengan persentase sekitar 50-60% semakin celik sadar dan kritis untuk memihak yang mana.
- Perlu sekali memenangkan kaum kelas menengah (menengah atas, menengah bawah), meski pun mereka tidak begitu memiliki dana, bahkan tidak punya dana tabungan untuk masa sekarang), tapi mereka memiliki akses, networking jaringan, keahlian, dst.
- Sementara donor2 di luar negeri juga sarat kepentingan politik, ekonomi dan ideologi. Ada yang ke agama (label kristenisasi, islamisasi dll), ke pelestarian tradisi, ke ideologi kiri, dan ideologi neoliberal kapitalis. Jika tidak mau merapat, bernaung dalam ideologi mereka, agak tidak jelas, tidak kooperatif, tidak sesuai dengan syarat2 mereka yang semakin ketat di era sekarang, tidak mungkin untuk dibantu dengan dana apalagi dengan jumlah besar.
- Para pebisnis, eksekutif perusahaan, pejabat bumn, instansi dll meliat situasi ini lebih banyak diam, cerdik cari selamat sendiri, pasif. Poltik bisnis etnis, kedaerahan, ideologis, background partai sangat banyak berperan dalam pertimbangan. Walhasil pasif, tidak jelas untuk bertindak ke mana. Lebih baik masuk 'getto' cari aman, daripada nasib sama dengan Neloe, Rochmin Dahuri, dll dll.
Betul strategi penggalangan dana, perlu segera di rencanakan agar tepat, bersih dan halal, tidak 'mengotori' roh perjuangan kebenaran.
Mencari pemberian, bantuan, dana tanpa ada 'apa-apanya' tanpa ada pamrih, memang tidak mudah, tapi masih ada kesempatan untuk bisa diperoleh. Haruslah para aktivis perjuangan optimis.
Harus ada jalan alternatif. Para aktivis perjuangan kebenaran jangan sekadar bikin list untuk meminta donatur. Hanya bikin proposal, menyebarnya, untuk cari-cari dana. Mungkin salah satu usaha, harus punya divisi usaha (wirausaha) dan usaha self employed sendiri. Melakukan wirausaha di berbagai bidang: pertanian, ikan hias, perikanan, tambak, isi ulang, bimbingan les belajar, konsuntan, keagenan, mengajar, advis hukum, dll dll.
Bantuan donasi dana sekarang ini semakin penuh dengan muatan pamrih politik, cari nama popularitas, melanggengkan kekuasaan KKN dan imoral, melanggengkan bisnis imoral, against kebenaran dan kejujuran universil itu sendiri.
Sekaranglah waktunya para aktivis, kalau tidak ingin 'jatuh', tidak boleh berjalan sendiri-sendiri lagi. Jaringan tidak kelihatan ekstra kuat, mesti digalang. Termasuk upaya2 making money bukan saja fund raising yang dilakukan dengan cara bersih dan halal. Tidak mungkin menggalang dana dan kerja cari duit sendiri untuk sebagian besar mendanai perjuangan kebenaran, bila dilakukan dengan cara2 tidak benar dan imoral.
Ingat bagi aktivis perjuangan, tekanan internal endogen untuk mau hidup enak, materialisme, hidup hedonis, kenyamanan imoral (unholy motives), dalih2 menyiapkan dana untuk masa depan anak, isteri, dll sangat besar sangat nyata, sangat ekspresif, harus pandai2 menyiasati dan mencarikan solusinya agar keluarga tetap utuh, tetap harmonis, tetap mesra, tidak diracuni oleh "racun dunia" yang memabukkan, yang bisa membuat lupa akan visi, akan misi, akan idealisme perjuangan kebenaran.
Lebih jauh butuh konvergensi mekar. Aktivis.. perlu membuat prioritas dinamis rencana pemenuhan panggilan hidup perjuangan kebenaran dengan pemenuhan tuntutan hidup (gawang keluarga supaya jangan jebol) secara cerdas, bertanggung jawab dan proporsionil.
Untuk di negeri ini, di kabupaten kita, di kota kita, mana yang lebih penting: kemandirian ajaran (theologi cara pandang), daya atau dana. Semua sama penting. Tapi daya, SDM, saya kira masih tersedia cukup banyak orang2 terutama orang muda yang mau berjuang. Dana... menjadi titik alat sentral yang sangat sangat penting.
Salam perjuangan,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
(yang juga masih terus mencari solusi terbaik bagi strategi penggalangan dana yang halal dan bersih di era kemerdekaan ekspresi seperti sekarang dan ke depan).
- Sikon ekonomi yang sulit di dalam negeri, membuat perjuangan2 yang umumnya dilakonkan oleh aktivis pejuang menjadi tidak mudah lancar bergerak, karena 'mobil saja butuh bensin', 'bensin' menjadi berperanan sangat penting.
- Kalaupun dibilang saat ini Indonesia punya pertumbuhan ekonomi cukup tinggi 6.3%, masalahnya ada benarnya yang dibilang ISEI/Burhanuddin Abdullah, tidak ada terjadi trickle down ke bawah ke komunitas2 grass roots yang kebanyakan bergerak dengan idealisme. Yang ada trickle-up effects; hanya beberapa gelintir orang di negeri ini, di Singapura dan negara lain yang punya banyak dana/duit yang berkepentingan dengan negeri ini.
- Kebanyakan beberapa gelintir yang punya banyak dana ini, disinyalir kaum neo-liberalis kapitalis malah 'keder' sangat takut dengan yang namanya eksistensi perjuangan idealis komunitas untuk kebenaran. Mereka 'mau bantu' sepanjang kepentingan bisnis dan politiknya di negeri ini yang kebanyakan "ershad capitalism' kebanyakan tidak didasari dengan moral legal politis etis, bisa didukung berkelanjutan. Bisa tetap eksis sebagai 'raja-raja' dan elit2 despot.
- Tarik menarik tarik ulur negosiasi dengan aktivis perjuangan kebenaran terjadi, mau kami bantu asal lunturkan idealisme perjuangan. Kira2 begitu bahasa terangnya. Kalau mau genderang perang dengan kami, berhadapan dengan kami, sampai kapan pun anda tidak akan kami bantu. Power uang dan idealisme menjadi terkonfrontir sering secara diametral.
- Para aktivis perjuangan, sering tiba pada persimpangan. Mau meneruskan perjuangan idealisme atau berhenti mengurangi daya gebrakan penjebolan ketidak-benaran, ketidak jujuran alias mulai melihat kepentingan "tuntutan hidup", tuntutan hidup keluarga anak isteri, perlu motor mobil, rumah dll dll.
Di sini berkonfrontasi kembali antara kepentingan "panggilan hidup panggilan perjuangan kebenaran" dengan "tuntutan hidup tuntutan perut dan uang kebutuhan sehari2 kebutuhan kesenangan kenyamanan hidup".
- Maka tidak jarang karena sulitnya mendamaikan keduanya (panggilan hidup perjuangan dan tuntutan hidup), para aktivis atau yang dulunya adalah aktivis paling jempolan, memilih jalan realistis paling realistis kata mereka, untuk diam, pasif, tidak berjuang lagi, dan penilaian yang masih committed sebagai "Pengkhianatan" , para pengkhianat2 dari yang paling keji sampai dinilai "aktivis abu-abu", hanya mementingkan perut dan keluarganya sendiri.
- Diperkirakan di negeri ini yang masih committed terhadap aktivitas perjuangan paling banyak 10% saja, sedang sisanya sudah hilang, tertelan pindah habitat ke tangan2 tidak keliatan yang memegang banyak2 uang. Reformasi sedang bergelinding, menampakkan 'kelas menengah' dan 'kelas bawah' dengan persentase sekitar 50-60% semakin celik sadar dan kritis untuk memihak yang mana.
- Perlu sekali memenangkan kaum kelas menengah (menengah atas, menengah bawah), meski pun mereka tidak begitu memiliki dana, bahkan tidak punya dana tabungan untuk masa sekarang), tapi mereka memiliki akses, networking jaringan, keahlian, dst.
- Sementara donor2 di luar negeri juga sarat kepentingan politik, ekonomi dan ideologi. Ada yang ke agama (label kristenisasi, islamisasi dll), ke pelestarian tradisi, ke ideologi kiri, dan ideologi neoliberal kapitalis. Jika tidak mau merapat, bernaung dalam ideologi mereka, agak tidak jelas, tidak kooperatif, tidak sesuai dengan syarat2 mereka yang semakin ketat di era sekarang, tidak mungkin untuk dibantu dengan dana apalagi dengan jumlah besar.
- Para pebisnis, eksekutif perusahaan, pejabat bumn, instansi dll meliat situasi ini lebih banyak diam, cerdik cari selamat sendiri, pasif. Poltik bisnis etnis, kedaerahan, ideologis, background partai sangat banyak berperan dalam pertimbangan. Walhasil pasif, tidak jelas untuk bertindak ke mana. Lebih baik masuk 'getto' cari aman, daripada nasib sama dengan Neloe, Rochmin Dahuri, dll dll.
Betul strategi penggalangan dana, perlu segera di rencanakan agar tepat, bersih dan halal, tidak 'mengotori' roh perjuangan kebenaran.
Mencari pemberian, bantuan, dana tanpa ada 'apa-apanya' tanpa ada pamrih, memang tidak mudah, tapi masih ada kesempatan untuk bisa diperoleh. Haruslah para aktivis perjuangan optimis.
Harus ada jalan alternatif. Para aktivis perjuangan kebenaran jangan sekadar bikin list untuk meminta donatur. Hanya bikin proposal, menyebarnya, untuk cari-cari dana. Mungkin salah satu usaha, harus punya divisi usaha (wirausaha) dan usaha self employed sendiri. Melakukan wirausaha di berbagai bidang: pertanian, ikan hias, perikanan, tambak, isi ulang, bimbingan les belajar, konsuntan, keagenan, mengajar, advis hukum, dll dll.
Bantuan donasi dana sekarang ini semakin penuh dengan muatan pamrih politik, cari nama popularitas, melanggengkan kekuasaan KKN dan imoral, melanggengkan bisnis imoral, against kebenaran dan kejujuran universil itu sendiri.
Sekaranglah waktunya para aktivis, kalau tidak ingin 'jatuh', tidak boleh berjalan sendiri-sendiri lagi. Jaringan tidak kelihatan ekstra kuat, mesti digalang. Termasuk upaya2 making money bukan saja fund raising yang dilakukan dengan cara bersih dan halal. Tidak mungkin menggalang dana dan kerja cari duit sendiri untuk sebagian besar mendanai perjuangan kebenaran, bila dilakukan dengan cara2 tidak benar dan imoral.
Ingat bagi aktivis perjuangan, tekanan internal endogen untuk mau hidup enak, materialisme, hidup hedonis, kenyamanan imoral (unholy motives), dalih2 menyiapkan dana untuk masa depan anak, isteri, dll sangat besar sangat nyata, sangat ekspresif, harus pandai2 menyiasati dan mencarikan solusinya agar keluarga tetap utuh, tetap harmonis, tetap mesra, tidak diracuni oleh "racun dunia" yang memabukkan, yang bisa membuat lupa akan visi, akan misi, akan idealisme perjuangan kebenaran.
Lebih jauh butuh konvergensi mekar. Aktivis.. perlu membuat prioritas dinamis rencana pemenuhan panggilan hidup perjuangan kebenaran dengan pemenuhan tuntutan hidup (gawang keluarga supaya jangan jebol) secara cerdas, bertanggung jawab dan proporsionil.
Untuk di negeri ini, di kabupaten kita, di kota kita, mana yang lebih penting: kemandirian ajaran (theologi cara pandang), daya atau dana. Semua sama penting. Tapi daya, SDM, saya kira masih tersedia cukup banyak orang2 terutama orang muda yang mau berjuang. Dana... menjadi titik alat sentral yang sangat sangat penting.
Salam perjuangan,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
(yang juga masih terus mencari solusi terbaik bagi strategi penggalangan dana yang halal dan bersih di era kemerdekaan ekspresi seperti sekarang dan ke depan).
Monday, July 23, 2007
AJP Abdul Kalam: Sosok Pemimpin Perubahan, Pemim-pin Inspirasional India (Tidak Jauh2 Background Konteks Kulturnya dengan Kita !)
Dari informasi Transforma Sarana Media edisi Juli 2007/a4.
Mungkin AJP Abdul Kalam pantas digelari pemimpin perubahan untuk India, negeri berpenduduk 1,2 milyar di era sekarang. Pemimpin inspirasional yang layak dicontoh oleh kita. Dekat2 bayangan kepemimpinan pelayanan (servant leadership) dalam konteks umum barangkali ya. Bukan apa2. Karena kultur dan konteks peradaban beliau ini nggak jauh-jauh 'banget' keadaan-nya sama kultur kita.
Harian Kompas tgl. 24/7 Hal. 16 menurunkan tulisan rekan Sdri. Fransisca R Ninik tentang sosok pemimpin warga biasa India ini, APJ Abdul Kalam. Sangat menarik storynya. Setelah beberapa bulan lalu kita mahfum tentang model dan karya pengabdian seorang pribadi: Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh, penerima Nobel Perdamaian 2006 lalu -, kini kita sadar lagi bahwa "di sekitar kita, yang mirip2 dengan kultur kita' ada satu nama yang diangkat ke permukaan, one of 100 prominent persons from India" dari India; diangkat berkat pembuktian karya pengabdiannya yang telah berlangsung lama hingga akhirnya dia diangkat jadi Presiden dan akan segera lengser 2007 ini. (Lebih lengkap selebihnya baca Kompas 24/7 hal 16 atau ’seaching’ internet freak ”tulis AJP Abdul Kalam).
Kita paham konteks masyarakat negara seperti India, Bangladesh, etc ngga jauh2 beda dengan kultur kita. Beda tipis lah. Makanya saya pribadi terhenti sejenak membaca merenungkan ketokohan pemimpin transformasional, profesional karismatis warga biasa, namun jadi simbol pemersatu/perekat dan ada natur rendah hati seperti Abd Kalam. Sejalan lah kira2 dengan parameter mutu ’Good to Great’ seperti dibilang Jim Collins; seakan muncul inkarnatif dalam diri Abd. Kalam. Cukup lama juga sebenarnya saya telah mendengar tentang proses metamorfosis kepemimpinan yang sedang terjadi di India; proses kebangkitan 'pelan tapi pasti' yang kini sedang terjadi di India, terutama dalam 10-20 terakhir. Teringat lagi jadinya dengan ’Silk Road History’ yang sempat saya baca di teks sejarah Arnold Toynbee. Saya menelusuri dari beberapa pengamat, bukan saja di bidang theologia dan transformasi spiritualitas (Bihar) India sudah 'makin hot' menggeliat, namun juga rentetan kemajuan2 riel berhasil dicapai di bidang IT/software, knowledge management, desain dan produk computer, pendidikan higher education, pangan, pertanian, litbang pertahanan, teknologi aeroneutika, chemical engineering dan tak ketinggalan bidang microfinance/keuangan mikro dan pembinaan UMKM (ingat CGAP rating) dan.. industri cenema/film (Bollywood). George Soros masih meragukannya, namun saya tidak. Cepat atau lambat, India akan juga bangkit. Tak bedanya dengan Brazil pada masa sekarang, Korsel, Cina dan sangat2 diharapkan: Indonesia, terlebih kalau saya kabupaten2 yang ada di tanah air 'pelan tapi pasti' harus bangkit!
Balik lagi India, termausk di bidang olahraga cukup diperhitungkan, di cabang hockey, tennis perseorangan, catur mereka pernah/sering mendominasi hingga jadi jawara dunia. Hanya mungkin di olahraga supra-populer seperti sepakbola, mereka memang tidak terlalu bagus. Belum sekelas dengan kesebelasan Jepang, Korsel, Arab Saudi, Irak, Cina atau Afrika. Apalagi dengan Eropa dan Amerika Latin. Yah, barangkali satu tingkat peringkatnya dibawah Indonesia. Namun overall, pencapaian itu sangat luar biasa. Tentu itu pasti bukan kerja sesaat semalam manakala ’ada peluang ada akal’ bak main2 'petak umpet' politikus domestik kita yang acapkali despotis-oportunis yang sering ‘kurang/tidak menyajikan cerita2 episode yang menarik dan manis untuk diliat’. Bagi Abd Kalam dan India, tentu perjuangan visioner itu merupakan proses pencarian, jatuh bangun dan a long journey.
Saya pernah menulis tentang kualitas kepemimpinan. Kepemimpinan perubahan, leadership of change. Ada sekitar 28 kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan pada masa sekarang dan ke depan. (Klik http://hansmidassmjntk.blogspot.com/archieve/april 2007). Ternyata harus diakui cukup banyak dari ke-28 kualitas yang terpapar, dipenuhi kualitas2nya oleh Abd. Kalam. Segi mindset, knowledge, skills, profesionalisme dia punya. Tapi lebih lagi kekuatan pijakan kesaksian moral dia miliki (dia selibat/tidak menikah, tidak minum alkohol, pemakan sayuran, puluhan lembaga support moral menghargainya), etos hidup/kerja budaya disiplin diri, naluri keadilan sosial dan ke’seniman’an (dia pemain gitar veena loh.., musikus, penulis puisi pengagum Milton, Walt Whitman dan R. Tagore). Luar biasa!
Yang menarik APJ Abdul Kalam adalah seorang Moslem yang minoritas di India, tak ada tanda2 dia 'darah biru', kaum elitis. Lebih menonjol dia sebagai pribadi populis, egaliter. Jauh dari kesan Moslem fanatik buta. Lebih dekat kepada ciri Moslem demokratis pluralis minoritas. Latar pendidikannya Barat - Kristiani - (a.l. Schwartz High School, Sekolah Tinggi St Joseph College), dia 'tukang insinyur teknik dari ’ITB’nya India di Madras. Kalam jadi Presiden di tengah2 1,2 milyar rakyat India yang lk.80% beragama Hindu. Mindset Kalam untuk urusan ’kebhinekaan’ luar biasa; padahal seorang tukang insinyur teknik dengan background berwarna (colorful), bhineka, diverse. Seorang pemimpin multi-talent, multi-skills. Hidup populis sederhana, banyaknya hadir dan dekat dengan ’orang susah’, mendermakan 10 bulan pertama dari pendapatannya sebagai Presiden untuk sebuah organisasi kemanusiaan nirlaba. Itu jadi ’good habits’nya sejak dulu. Wow!
Kita tahu lah, semua manusia pasti punya kelemahan atau kekurangan, termasuk Kalam juga saya yakin punya. Karena dia manusia. Hanya Tuhan yang Sempurna, Maha Sempurna. Tanpa batas. Kalau sengaja dicari, pasti kita dapat kelemahannya Kalam. Secara kasat mata, sebenarnya kita bisa tau apa keterbatasannya Kalam. Tapi, disini luar biasanya Kalam. Cara pandang penilaian orang (labelisasi) yang mungkin menganggap dia ’lemah’ (ya minoritas karena dia Islam, background dari teknik insinyur yang dinilai biasanya kurang mengerti sosial-lingkungan, agak kaku dalam pandangan dan sikap, dll), nyatanya dia berhasil mengubah semua ’kelemahan’ itu menjadi faktor kekuatan. So, dia bukan saja seorang populis, technical researcher insinyur yang speak with data soal kebenaran fakta, sangat sadar lekat tentang eksistensi budaya India dengan 1,2 milyar penduduk, he is also a creative person.
Proses, hasil dan dampaknya jelas. India yang dulu sangat terasa kurang diperhitungkan, kini semua orang di dunia tau, apapun komentarnya – kini bersama Tiongkok (PRC, Chungkuo) menjadi calon-calon negara maju di planet ini.
Nah, untuk kita di Indonesia bagaimana ya? Masihkah kita atau anda terutama yang merasa jadi orang2 minoritas, seperti warga Kristen/Katolik dan non-Islam lainnya, warga bukan berasal dari suku mayoritas (Bali, Batak, Dayak, Melayu, Bali, Mandar, Mori dan non-Jawa lainya), atau bukan warga etnis mayoritas di negeri ini (keturunan Tionghoa, Arab , India , Melanesia ) - mungkinkah masih ada ’rasa malu yang keliru, yang tidak pada tempatnya (RMK), rasa takut, jeri, minder, sikap pasif keliru (pasif nyaman tapi berada dalam ’ghetto’ teralienasi – keterasingan dari dunia sekitar). Oleh karena masih ada rasa ’tidak pede’ sebagai kaum minoritas, rasa bayang2 akan mengalami trauma seram yang tidak pernah ’diputus’ akibat bayang2 tirani mayoritas masa lalu. Padahal nyatanya sebenarnya bayang2 itu ternyata tidak seseram kenyataannya. Seperti Kalam yang bukan siapa2 bisa, seyogianya kita generasi kita generasi sesudah kita bisa kan..
’Abdul Kalam Abdul Kalam’ yang lain hemat saya perlu lahir 'segera' di Indonesia. Bukan hanya untuk nempati pos jadi presiden, gubernur DKI atau pos Kabinet/Menteri nanti 2009, tapi juga menempati pos2 strategis lainnya ke depan: jadi bupati2 dan kepala2 desa di seantero tanah air. Bukan hanya di domain politik pemerintahan eksekutif, tapi juga ’Kalam-Kalam’ lain lahir di dunia pendidikan, litbang, iptek, legislatif DPR/DPRD I, II; di dewan2 regulator usaha, dunia hukum, LSM/LSM, BUMN2, UMKM/koperasi dan Perusahaan swasta besar. Satu lagi, dunia moral, agama, spiritualitas dan theologi juga keharusan sejatinya, begini ini bentengnya.
Jujur saja, kita sudah sangat merindukan ’Abd Kalam-Abd Kalam’ Indonesia, termasuk yang muda2 yang multi-skills, multi-talent leader lahir di negeri kita. Tidak hanya bisanya di satu bidang, bidang ekonomi saja. Tapi juga bisa memadu-padankan kekuatan reputasi moral dan spiritualitas misalnya dengan knowledge skills ekonomi, sosial, ke’seniman’an, naluri keadilan sosial, dst. Filsuf Plato pernah bilang, seorang yang bijaksana tidak cukup hanya punya satu cabang disiplin ilmu atau bidang minat. Paling tidak perlu 2-3 cabang ilmu/minat. Nah, ’Plato’ masa kini akan bilang, bahwa era sekarang dan ke depan, adalah era leadership dimana untuk seorang pemimpin dibutuhkan penguasaan cabang ilmu integrated, era transformasi dalam keutuhan (holistik). Itu semua untuk memimpin
Andai saja di DKI Jakarta (yang sedang pilkada dan sarat golput lk. 50-65%), Bekasi, Tangerang, Tobasa, Humbang Hasundutan, Rura Silindung, Sukoharjo, Bantul, Ponorogo, Sidoarjo, Jember, Tulang Bawang Lampung, Tembilahan Riau, Toraja Selayar Sulsel, Mamasa Sulbar, Morewali Toili Sulteng, Keerom Papua, Lease Maluku, Landak Kalbar, Karangasem Bali, Belu Manggarai Alor Waikabubak NTT, Singkil Blangkejeren Aceh, Mentawai Sumbar, dll dll punya kualitas2 leadership seperti Abd Kalam, wah betul2 menjadi suatu kemewahan dan anugerah kasih karunia bagi kita. Atau, paling tidak mendekati..’vektor’nya menunjuk ke kualitas seperti itu..... Maka tidak mustahil potret peradaban di kabupaten kita, desa kita, kota kita, negeri kita akan dipimpin oleh para pemimpin perubahan dalam satu agregat peradaban yang semakin tumbuh dan berkembang menuju kualitas hidup yang lebih baik, lebih gembira, makmur dan sejahtera.
Mungkin perlu juga sometime kita bisa jumpai beliau ke sana, atau bagaimana kita undang saja Abd Kalam ke mari ya untuk berbagi dengan kita.
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
Mungkin AJP Abdul Kalam pantas digelari pemimpin perubahan untuk India, negeri berpenduduk 1,2 milyar di era sekarang. Pemimpin inspirasional yang layak dicontoh oleh kita. Dekat2 bayangan kepemimpinan pelayanan (servant leadership) dalam konteks umum barangkali ya. Bukan apa2. Karena kultur dan konteks peradaban beliau ini nggak jauh-jauh 'banget' keadaan-nya sama kultur kita.
Harian Kompas tgl. 24/7 Hal. 16 menurunkan tulisan rekan Sdri. Fransisca R Ninik tentang sosok pemimpin warga biasa India ini, APJ Abdul Kalam. Sangat menarik storynya. Setelah beberapa bulan lalu kita mahfum tentang model dan karya pengabdian seorang pribadi: Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh, penerima Nobel Perdamaian 2006 lalu -, kini kita sadar lagi bahwa "di sekitar kita, yang mirip2 dengan kultur kita' ada satu nama yang diangkat ke permukaan, one of 100 prominent persons from India" dari India; diangkat berkat pembuktian karya pengabdiannya yang telah berlangsung lama hingga akhirnya dia diangkat jadi Presiden dan akan segera lengser 2007 ini. (Lebih lengkap selebihnya baca Kompas 24/7 hal 16 atau ’seaching’ internet freak ”tulis AJP Abdul Kalam).
Kita paham konteks masyarakat negara seperti India, Bangladesh, etc ngga jauh2 beda dengan kultur kita. Beda tipis lah. Makanya saya pribadi terhenti sejenak membaca merenungkan ketokohan pemimpin transformasional, profesional karismatis warga biasa, namun jadi simbol pemersatu/perekat dan ada natur rendah hati seperti Abd Kalam. Sejalan lah kira2 dengan parameter mutu ’Good to Great’ seperti dibilang Jim Collins; seakan muncul inkarnatif dalam diri Abd. Kalam. Cukup lama juga sebenarnya saya telah mendengar tentang proses metamorfosis kepemimpinan yang sedang terjadi di India; proses kebangkitan 'pelan tapi pasti' yang kini sedang terjadi di India, terutama dalam 10-20 terakhir. Teringat lagi jadinya dengan ’Silk Road History’ yang sempat saya baca di teks sejarah Arnold Toynbee. Saya menelusuri dari beberapa pengamat, bukan saja di bidang theologia dan transformasi spiritualitas (Bihar) India sudah 'makin hot' menggeliat, namun juga rentetan kemajuan2 riel berhasil dicapai di bidang IT/software, knowledge management, desain dan produk computer, pendidikan higher education, pangan, pertanian, litbang pertahanan, teknologi aeroneutika, chemical engineering dan tak ketinggalan bidang microfinance/keuangan mikro dan pembinaan UMKM (ingat CGAP rating) dan.. industri cenema/film (Bollywood). George Soros masih meragukannya, namun saya tidak. Cepat atau lambat, India akan juga bangkit. Tak bedanya dengan Brazil pada masa sekarang, Korsel, Cina dan sangat2 diharapkan: Indonesia, terlebih kalau saya kabupaten2 yang ada di tanah air 'pelan tapi pasti' harus bangkit!
Balik lagi India, termausk di bidang olahraga cukup diperhitungkan, di cabang hockey, tennis perseorangan, catur mereka pernah/sering mendominasi hingga jadi jawara dunia. Hanya mungkin di olahraga supra-populer seperti sepakbola, mereka memang tidak terlalu bagus. Belum sekelas dengan kesebelasan Jepang, Korsel, Arab Saudi, Irak, Cina atau Afrika. Apalagi dengan Eropa dan Amerika Latin. Yah, barangkali satu tingkat peringkatnya dibawah Indonesia. Namun overall, pencapaian itu sangat luar biasa. Tentu itu pasti bukan kerja sesaat semalam manakala ’ada peluang ada akal’ bak main2 'petak umpet' politikus domestik kita yang acapkali despotis-oportunis yang sering ‘kurang/tidak menyajikan cerita2 episode yang menarik dan manis untuk diliat’. Bagi Abd Kalam dan India, tentu perjuangan visioner itu merupakan proses pencarian, jatuh bangun dan a long journey.
Saya pernah menulis tentang kualitas kepemimpinan. Kepemimpinan perubahan, leadership of change. Ada sekitar 28 kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan pada masa sekarang dan ke depan. (Klik http://hansmidassmjntk.blogspot.com/archieve/april 2007). Ternyata harus diakui cukup banyak dari ke-28 kualitas yang terpapar, dipenuhi kualitas2nya oleh Abd. Kalam. Segi mindset, knowledge, skills, profesionalisme dia punya. Tapi lebih lagi kekuatan pijakan kesaksian moral dia miliki (dia selibat/tidak menikah, tidak minum alkohol, pemakan sayuran, puluhan lembaga support moral menghargainya), etos hidup/kerja budaya disiplin diri, naluri keadilan sosial dan ke’seniman’an (dia pemain gitar veena loh.., musikus, penulis puisi pengagum Milton, Walt Whitman dan R. Tagore). Luar biasa!
Yang menarik APJ Abdul Kalam adalah seorang Moslem yang minoritas di India, tak ada tanda2 dia 'darah biru', kaum elitis. Lebih menonjol dia sebagai pribadi populis, egaliter. Jauh dari kesan Moslem fanatik buta. Lebih dekat kepada ciri Moslem demokratis pluralis minoritas. Latar pendidikannya Barat - Kristiani - (a.l. Schwartz High School, Sekolah Tinggi St Joseph College), dia 'tukang insinyur teknik dari ’ITB’nya India di Madras. Kalam jadi Presiden di tengah2 1,2 milyar rakyat India yang lk.80% beragama Hindu. Mindset Kalam untuk urusan ’kebhinekaan’ luar biasa; padahal seorang tukang insinyur teknik dengan background berwarna (colorful), bhineka, diverse. Seorang pemimpin multi-talent, multi-skills. Hidup populis sederhana, banyaknya hadir dan dekat dengan ’orang susah’, mendermakan 10 bulan pertama dari pendapatannya sebagai Presiden untuk sebuah organisasi kemanusiaan nirlaba. Itu jadi ’good habits’nya sejak dulu. Wow!
Kita tahu lah, semua manusia pasti punya kelemahan atau kekurangan, termasuk Kalam juga saya yakin punya. Karena dia manusia. Hanya Tuhan yang Sempurna, Maha Sempurna. Tanpa batas. Kalau sengaja dicari, pasti kita dapat kelemahannya Kalam. Secara kasat mata, sebenarnya kita bisa tau apa keterbatasannya Kalam. Tapi, disini luar biasanya Kalam. Cara pandang penilaian orang (labelisasi) yang mungkin menganggap dia ’lemah’ (ya minoritas karena dia Islam, background dari teknik insinyur yang dinilai biasanya kurang mengerti sosial-lingkungan, agak kaku dalam pandangan dan sikap, dll), nyatanya dia berhasil mengubah semua ’kelemahan’ itu menjadi faktor kekuatan. So, dia bukan saja seorang populis, technical researcher insinyur yang speak with data soal kebenaran fakta, sangat sadar lekat tentang eksistensi budaya India dengan 1,2 milyar penduduk, he is also a creative person.
Proses, hasil dan dampaknya jelas. India yang dulu sangat terasa kurang diperhitungkan, kini semua orang di dunia tau, apapun komentarnya – kini bersama Tiongkok (PRC, Chungkuo) menjadi calon-calon negara maju di planet ini.
Nah, untuk kita di Indonesia bagaimana ya? Masihkah kita atau anda terutama yang merasa jadi orang2 minoritas, seperti warga Kristen/Katolik dan non-Islam lainnya, warga bukan berasal dari suku mayoritas (Bali, Batak, Dayak, Melayu, Bali, Mandar, Mori dan non-Jawa lainya), atau bukan warga etnis mayoritas di negeri ini (keturunan Tionghoa, Arab , India , Melanesia ) - mungkinkah masih ada ’rasa malu yang keliru, yang tidak pada tempatnya (RMK), rasa takut, jeri, minder, sikap pasif keliru (pasif nyaman tapi berada dalam ’ghetto’ teralienasi – keterasingan dari dunia sekitar). Oleh karena masih ada rasa ’tidak pede’ sebagai kaum minoritas, rasa bayang2 akan mengalami trauma seram yang tidak pernah ’diputus’ akibat bayang2 tirani mayoritas masa lalu. Padahal nyatanya sebenarnya bayang2 itu ternyata tidak seseram kenyataannya. Seperti Kalam yang bukan siapa2 bisa, seyogianya kita generasi kita generasi sesudah kita bisa kan..
’Abdul Kalam Abdul Kalam’ yang lain hemat saya perlu lahir 'segera' di Indonesia. Bukan hanya untuk nempati pos jadi presiden, gubernur DKI atau pos Kabinet/Menteri nanti 2009, tapi juga menempati pos2 strategis lainnya ke depan: jadi bupati2 dan kepala2 desa di seantero tanah air. Bukan hanya di domain politik pemerintahan eksekutif, tapi juga ’Kalam-Kalam’ lain lahir di dunia pendidikan, litbang, iptek, legislatif DPR/DPRD I, II; di dewan2 regulator usaha, dunia hukum, LSM/LSM, BUMN2, UMKM/koperasi dan Perusahaan swasta besar. Satu lagi, dunia moral, agama, spiritualitas dan theologi juga keharusan sejatinya, begini ini bentengnya.
Jujur saja, kita sudah sangat merindukan ’Abd Kalam-Abd Kalam’ Indonesia, termasuk yang muda2 yang multi-skills, multi-talent leader lahir di negeri kita. Tidak hanya bisanya di satu bidang, bidang ekonomi saja. Tapi juga bisa memadu-padankan kekuatan reputasi moral dan spiritualitas misalnya dengan knowledge skills ekonomi, sosial, ke’seniman’an, naluri keadilan sosial, dst. Filsuf Plato pernah bilang, seorang yang bijaksana tidak cukup hanya punya satu cabang disiplin ilmu atau bidang minat. Paling tidak perlu 2-3 cabang ilmu/minat. Nah, ’Plato’ masa kini akan bilang, bahwa era sekarang dan ke depan, adalah era leadership dimana untuk seorang pemimpin dibutuhkan penguasaan cabang ilmu integrated, era transformasi dalam keutuhan (holistik). Itu semua untuk memimpin
Andai saja di DKI Jakarta (yang sedang pilkada dan sarat golput lk. 50-65%), Bekasi, Tangerang, Tobasa, Humbang Hasundutan, Rura Silindung, Sukoharjo, Bantul, Ponorogo, Sidoarjo, Jember, Tulang Bawang Lampung, Tembilahan Riau, Toraja Selayar Sulsel, Mamasa Sulbar, Morewali Toili Sulteng, Keerom Papua, Lease Maluku, Landak Kalbar, Karangasem Bali, Belu Manggarai Alor Waikabubak NTT, Singkil Blangkejeren Aceh, Mentawai Sumbar, dll dll punya kualitas2 leadership seperti Abd Kalam, wah betul2 menjadi suatu kemewahan dan anugerah kasih karunia bagi kita. Atau, paling tidak mendekati..’vektor’nya menunjuk ke kualitas seperti itu..... Maka tidak mustahil potret peradaban di kabupaten kita, desa kita, kota kita, negeri kita akan dipimpin oleh para pemimpin perubahan dalam satu agregat peradaban yang semakin tumbuh dan berkembang menuju kualitas hidup yang lebih baik, lebih gembira, makmur dan sejahtera.
Mungkin perlu juga sometime kita bisa jumpai beliau ke sana, atau bagaimana kita undang saja Abd Kalam ke mari ya untuk berbagi dengan kita.
Salam,
Hans Midas Simanjuntak (HMS) :)
Thursday, July 5, 2007
Bangsa Ini Telah Kehilangan Rasa Malu (yang Benar, yang Bermoral) & Alternatif Solusinya.
Tulisan ini saya buat menanggapai komentar Bro. Hengky dari komunitas milis "Sudara", terkait wawancara Wartawan Fajar dengan Dr Jalalludin Rakhmat, ahli tasawuf perihal topik "Bangsa Ini Kehilangan Rasa Malu".
Menurut penelusuran saya selama ini, sebenarnya bangsa kita ini masih belum kehilangan rasa malu. Masih koq punya rasa malu. Namun sayangnya, rasa malu yang dimiliki bangsa ini kini adalah Rasa Malu yang keliru, yang salah, tidak benar, tak Bermoral. Rasa malu yang tidak sesuai yang 'against' kebenaran universil. 'Against' moral kebenaran yang berlaku universil.
Rasa Malu yang Keliru (RMK)atau Tak Bermoral (RMTB)
Rasa Malu yang Keliru (RMK) atau Rasa Malu Tak Bermoral (RMTB) yang dimiliki bangsa ini kini bukan hanya dianut mayoritas oleh para generasi muda, tapi juga kini turut dianut generasi lebih senior. Yaitu rasa malu yang dipunyai jika dilihat orang atau keluarga sendiri tidak kaya materi (uang). Rasa Malu jika tidak punya kedudukan apa2 (di perusahaan, di pemerintahan/politik, di bidang agama dan di tengah keluarga). Rasa Malu jika dianggap tidak beragama, tidak relijius. Rasa Malu jika dianggap orang kurang/tidak terpelajar (intelek), tidak terkenal (ngetop). Rasa Malu karena berasal dari kalangan minoritas (bukan suku/golongan/agama mayoritas), Rasa Malu akibat gender pula; karena ada kekurangan kelemahan bawaan sejak lahir(cacat fisik, tubuh pendek, wajah kurang cantik/ganteng, dll),Rasa Malu jika dianggap orang tidak ikut perkembangan/trend jaman, tidak nge-pop, menganut pop-culture bak artis atau selebritis. Rasa Malu bila dibilang katro, ndeso, culun (istilah Tukul).
Sayangnya Mengatasi RMK/RMTB dengan Respons Cara2 yang juga Keliru, Tak Bermoral !
Jenis atau 'spesies' Rasa Malu Keliru (RMK) atau Rasa Malu Tak Bermoral (RMTB) seperti ini menyebabkan banyak orang dalam bangsa ini, - untuk mengatasi Rasa Malunya yang Keliru dan Tak Bermoral itu - PARAHNYA melakukan upaya menghalalkan segala cara -menghalalkan segala bentuk2 perilaku melalui CARA yang Keliru dan Tidak Bermoral pula - untuk gimana bisa jadi kaya, punya kedudukan (perusahaan, politis), bisa dianggap orang cukup relijius, dianggap terpelajar (intelek), bisa ngetop, dianggap termasuk kalangan mayoritas, serta mengikuti trend nge pop bak artis. Demi ini semua, benteng moral dikorbankan; di 'sepak keluar', dihancurkan !!
Akibat Cara Mengatasi Keliru RMK/RMTB di tengah Masyarakat
Akibat dari respons dan cara2 mengatasi yang keliru terhadap RMK/RMTB ini, adalah sangat banyaknya bidang2 kehidupan di tengah bangsa ini yang sudah penuh dengan berbagai 'tindak sikap perilaku2 keliru' pula(istilah Suka Harjana 'kelirumologi'), potret masyarakat tidak wajar, naive/tolol, sulit diterima oleh akal sehat (irrasional) dan tentu sikap perilaku2 tidak bermoral.
Di bidang Politik dan pemerintahan dijalankan tanpa moral, jadinya birokrasi mandeg tidak jalan "bottle neck", dibuat 'sengaja' bertele-tele, berlaku paradigma "kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah.. agar dapat keuntungan atau 'proyek sabetan', kongkalikong dengan pengusaha, korupsi (KKN) merajalela, elit tidak bersatu - persaingan tidak sehat (busuk), kecurangan Pemilu/Pilkada, terjadi pembusukan2 di mana2; tidak punya pemihakan pada rakyat banyak menderita, tapi hanya memihak pada diri sendiri, keluarga inti dan golongan.
Pendidikan tanpa moral, jadinya: kecurangan ujian nasional UN, jual beli ijazah gelar, bullying, sistim dongkrak nilai, plagiatisme, sex in campus, dll.
Bisnis tanpa moral, jadinya: korupsi, bribery suap, penipuan2, cheating, permainan2 money game ala BMA, Drezzel, dll; praktek kolusi, praktek "perusahaan di dalam perusahaan", permainan 'lihai2an' siluman, manipulasi di bidang perpajakan, pencurian, pencucian uang, penindasan karyawan/pekerja, pembalakan hutan liar, ileggal logging, traficing, penyelundupan dimana2.
Hubungan personal dan relatives (kekeluargaan) tanpa moral, jadinya: nepotisme dan perselingkuhan2 amoral, nikah 'siri-sirian', perceraian, free sex merajalela, "win-win relationship" dalam hubungan personal dan kerja yang amoral, tidak sehat.
Hukum tanpa moral, jadinya: putusan yang berat sebelah, tidak adil, tebang pilih, tidak memenuhi rasa keadilan hati nurani.
Tradisi (pemimpin) dan praktek budaya tanpa moral, jadinya: belum adanya atau tiadanya fakta tradisi (pemimpin) & praktek budaya yang membanggakan generasi muda, tradisi sejarah kepemimpinan dan budaya yang dibangun serius dan faktual guna mampu membangun role model, suri keteladanan dari para nenek moyang, leluhur, pahlawan, founding fathers kemudian elit2 pemimpin di segala lini, khususnya dalam sokoguru nilai2 moral dan 'adiluhung' kepada generasi sesudahnya. Yang disosialisasikan tradisi sejarah perang, intrik2, kebusukan2, perpecahan2 pengkhianatan pemimpin, kehancuran2, tindakan2 barbar dan kekerasan berikut cara2 primitif lainnya untuk mengatasi rasa malu dan menyelesaikan berbagai bentuk perselisihan serta konflik. Dasar alasannya bukan akal sehat dan moral kebenaran universil untuk melakukan evaluasi sebagai cermin introspeksi diri, melainkan demi 'harga diri (gengsi)', rasa kesukuan, kedaerahan, rasa nasionalisme, rasa keberagamaan, almamaterisme dan cermin2 rasa primordialisme lainnya yang keliru, namun ingin dijadikan standar ukuran moral kebenaran. Akibatnya yang terjadi tindakan kekerasan dan violenisme, saling mematikan, syndrom kepiting - saling membalas dan menjatuhkan -, 'loose-loose solutions', taktik bumi hangus penuh angkara murka dan prahara. Hasilnya bukan membuahkan semangat perdamaian dan kesentosaan, tapi warisan dendam dan iri turun-temurun yang bisa berakibat kepada resiliensi budaya dan kepunahan peradaban.
Bukankah masih banyak perkara tindakan di masa lalu, yang sampai kini masih 'dibiarkan' tanpa ada solusi penuntasan, terus dipeti-eskan, belum diselesaikan secara moral, kebijakan, sosial dan kebangsaan.
Beragama (Bergereja) tanpa moral, jadinya: kesalehan palsu, kesalehan ritualisme (hanya dalam peribadahan) tapi tidak extent menjadi kesalehan sosial dan global, kepura2an saleh dan "sholeha", pietisme palsu, puritanis palsu, kehidupan "topeng" (kamuflase) - "suci putih bersih di luar, busuk di dalam". Melayani, beribadah rukun agama rukun iman bukan menjadi tujuan tapi sekadar 'alat', payung, topeng atau legal formalisasi untuk menutupi berbagai tindak licik, serakah, nafsu dan curang, penipuan2 halus berkedok agama, kejahatan moral, perilaku2 amoral dari para pelaku atau para pemainnya - yang sulit tersentuh hukum.
LSM2 swadaya dan agen2 development tanpa moral, jadinya: eksploitasi orang2 miskin, susah, terpuruk, korban bencana, komunitas tercecer, terjepit, daerah terisolir, dll "menjual" kemiskinan lalu melakukan pengumpulan, penggalangan dana (fund-raising), namun kemudian dana/uang yang terkumpul bukan untuk para korban dan orang miskin, tapi digunakan untuk kepentingan dan kesenangan sendiri serta keluarga; atau digunakan untuk kepentingan lain yang tak ada hubungannya dengan program pengentasan kemiskinan, keterpurukan dan bencana.
Moral dan Cara benar dan bermoral Ibarat Jantung.
Moral atau benteng moral termasuk cara2 benar dan bermoral mengatasi rasa malu bisa diibaratkan dalam diri seseorang, adalah jantungnya seseorang. Jika moral dihancurkan, 'disepak keluar', akibatnya sudah jelas pembusukan seluruh tubuh, cepat atau lambat. Kematian, keterpurukan, kehancuran dan kebinasaan. Jika tubuh manusia itu adalah cerminan bangsa, maka bangsa sangat pasti akan menuju kematian, keterpurukan, kehancuran dan kebinasaan.
Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB): Ini yang Hilang, padahal Seharusnya Ada dan Konsisten Dipertahankan!
Yang tinggal sedikit dan sudah makin hilang dari tubuh bangsa ini, adalah jenis Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB). Rasa Malu Keliru atau Tak Bermoral (RMK/RMTB) semakin bertambah banyak, RMBnya ini yang sedikit sekali untuk tidak mengatakan hilang. Padahal yang harusnya dimiliki bangsa ini dalam jumlah banyak adalah Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB). Jenis rasa malu yang benar ini, committed kepada kebenaran (moral) universil. Rasa Malu yang sangat2 besar, tidak terkira, jika harus berbohong, berdusta, berbuat kesalahan, melanggar peraturan, tidak tegas (lembek, mencla-mencle) terhadap pelanggaran aturan, berbuat menipu, membunuh, mencuri, memeras, memalak, bullying, teror kekerasan, mengkotak2kan orang (membuat stigmata, labelisasi), meremehkan dan tidak menghargai orang, menyuap, tidak bisa dipercaya oleh orang, melakukan character assasination pada pihak lain, melakukan tindak brutal, memfitnah, dianggap dalam proses tidak mampu (uncapable), wanprestasi, kinerja jelek; melakukan manipulasi data proyek, menyontek, berzinah, mempraktekkan hubungan selingkuh atau 'kumpul kebo', menikah 'tidak resmi', pelecehan seks, tidak bisa diterima/dibenci oleh sesama atau publik (mungkin karena kikir), melakukan free sex, menjadi pengedar narkoba, pura-pura saleh atau 'sholeha', melakukan praktek babi ngepet, 'memelihara tuyul' atau ke dukun/paranormal santet', memakai uang korupsi dan hasil kejahatan untuk tujuan amal/derma (Robin Hood style), dst dst.
Demikianlah, RMB seperti inilah yang nyaris hilang terkikis dan terlindas dari tubuah bangsa, banyaknya digantikan oleh Rasa Malu Keliru yang Tak Bermoral (RMTB) seperti telah diuraikan sebelumnya. Maka, kalau sudah begitu sudah bisa ditebak diprediksi bagaimana 'kesudahan' dari bangsa ini, bila tidak ada perubahan arah hidup secara revolusioner ('revolusi moral'). Kebiasaan (bad habits) atau budaya tak bermoral harus secepatnya dihentikan dari tengah bangsa ini. Kalau tidak akan terlambat, kebablasan. Solusi dan mandat kebudayaan harus diemban. Mandat untuk mengupayakan terjadinya perubahan transformasi dari 'budaya tanpa moral' kepada'budaya bermoral'.
Altenatif Solusi Mengatasi Rasa Malu yang Keliru atau Tak Bermoral (RMK/RMTB)
Yang bisa jadi solusi, untuk mengatasi Rasa Malu yang keliru (RMK) atau Tak Bermoral (RMTB), salah satu yang penting PERTAMA adalah adanya kemauan untuk merubah paradigma, cara pandang dan pikir yang keliru terhadap orientasi hidup. Mau belajar untuk terus.. lebih banyak hidup bersyukur, mensyukuri terhadap apa yang ada dan dipunyai sekarang; Rasa Malu keliru tersebut tidak usah jadi 'kepikiran' dan masalah dalam batin dan jiwa. Sebenarnya, RMK ini tidak perlu ada, jika kita mampu merubah paradigma dari "paradigma sekadar ikut2an orang atau dunia' kepada "paradigma bersyukur dan hanya mau turut kepada apa yang benar". Tidak perlu dalam hidup terlalu melihat 'keluar' pada orang lain dan 'memandang ke atas'. Kenapa mesti malu kalau tidak kaya? Kalau tidak terlalu berkedudukan tinggi, tidak terkenal (orang biasa saja), tidak ngetop, tidak terlalu intelek? Belum tentu apa yang cocok, dipunyai oleh orang lain, cocok bagi hidup kita. Syukuri keadaan dan hal2 yang ada dan telah dipunyai pada kita, pada masa sekarang. Tidak perlu neko-neko. Kecukupan sehari, cukuplah untuk sehari. Jangan terus2an terlalu khawatir tentang hari esok, meski hari esok perlu diantisipasi dari sekarang. Syukuri hal2 yang telah terjadi dan telah menjadi berkat dari dulu hingga sekarang.
Perubahan Cara Pandang terhadap Diri Sendiri (Pemulihan Citra Diri).
Hal KEDUA yang sangat penting, adalah yang berhubungan dengan rasa malu akibat sifat atau bawaan sejak lahir. Kenapa mesti malu jika kita terlahir sebagai orang Kristen misalnya, yang adalah golongan minoritas di negeri ini. Kenapa mesti malu bila kita terlahir sebagai orang Cina, orang Batak, orang Papua yang kebetulan adalah golongan minoritas? Kenapa mesti malu bila tubuh perawakan kita pendek, tidak terlalu ganteng atau cantik? Kenapa mesti malu bila kita seorang perempuan? Kenapa musti malu bila kita anak bungsu atau bontot? Dst. Rasa Malu seperti itu kan tidak beralasan, karena 'kesemua-muanya' terkait sesuatu yang sudah given, yang ngga bisa kita tolak, bawaan dari lahir.
Alternatif solusi untuk RMK ini, adalah kembali perubahan pola pikir dan cara pandang atas diri sendiri(atau dalam bahasa beberapa teman "pemulihan citra diri') bahwa sebagai peta miniatur Allah (God's image) kita sudah diciptakan sungguh amat baik. Kalau ada 'kekurangan/kelemahan' dari bawaan lahir kita dari sudut pandang manusia mayoritas, bukan harusnya membuat kita merasa malu, tapi seharusnya 'yang mayoritas' itu yang seharusnya malu, karena pasti ada rencana Tuhan yang teramat baik dan agung di balik 'kekurangan/kelemahan kita', karena itu justru akan menjadi 'ciri khas dan keunikan' sekaligus 'kekuatan' kita yang tidak dipunyai oleh mayoritas, yang bisa membuat kita maju.
Maka, bila kita mempunyai respons dan paradigma cara pandang yang benar menyikapi RMK/RMTB tersebut, maka otomatis pasti RMK dan RMTB segera akan semakin lenyap dan tereliminasi dari kehidupan dan dari diri.
Alternatif Solusi untuk Mengatasi Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB)
Sedangkan solusi untuk mengatasi Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB) tidak lain dan tidak bukan cara yang paling 'cespleng' adalah bertobat, mau bertobat. Mau mengakui kesalahan dan cara2 yang tidak benar yang telah ditempuh. Tidak hanya di depan diri sendiri, dan di depan Tuhan. Tapi juga jika harus, ya di hadapan orang lain - orang2 dekat dan publik. Kalau untuk kebaikan dan kemajuan diri dan bersama, kenapa harus malu mengakui kesalahan. Itu ciri orang yang berjiwa besar, elemen bangsa yang besar. Mau mengakui kesalahan. Tunduk pada otoritas Kebenaran, kebenaran yang universil. Mau dan sedia juga terima sanksi atas segala kesalahan, dengan kelapangan dada dan jiwa besar. Baik sanksi administratif, organisasi, sanksi moral, sanksi sosial dan sanksi rohani (terkait berkat2 rohani dari Tuhan yang mungkin 'terhambat'). Dengan jiwa besar mau berubah, setelah mengevaluasi diri seluruh perilaku yang telah dijalankan dengan menengok ke belakang sejenak. Setelahnya, melakukan rencana tindak ke depan, tindakan2 korektif, melakukan perubahan2 tindakan2 perbaikan2 dan peningkatan nyta sampai menjadi kebiasaan dan gaya hidup baru yang lebih baik, bagus, benar dan berkualitas.
Demikianlah..solusi, upaya2 dan tugas mandat seperti ini yang seyogianya harus dilakukan guna memberantas jenis2 Rasa Malu (baik RMK/RMTB maupun RMB)yang telah berurat berakar dalam diri dan tubuh bangsa ini, sehingga bangsa akan mengalami perubahan menjadi bangsa yang makin maju, sejahtera dan berkualitas.
Siapa yang akan Menjadi Pelaksana Mandat Perubahan Pola Pikir dan Budaya Keliru & Tak Bermoral?
Nah, sekarang siapa yang menjadi pelaksana mandat kebudayaan dan perubahan pola pikir yan keliru ini? Pelaksana mandat kebudayaan ini adalah kita semua terutama yang telah celik masih sadar bahwa tingkat budaya immoral atau tak bermoral kita sekarang sudah semakin menyentuh titik nadir. Sangat perlu tindakan kuratif, pengobatan dan perubahan revolusioner terutama di bidang moral.
Salam perubahan (revolusi moral),
Hans Midas Simanjuntak :)
Menurut penelusuran saya selama ini, sebenarnya bangsa kita ini masih belum kehilangan rasa malu. Masih koq punya rasa malu. Namun sayangnya, rasa malu yang dimiliki bangsa ini kini adalah Rasa Malu yang keliru, yang salah, tidak benar, tak Bermoral. Rasa malu yang tidak sesuai yang 'against' kebenaran universil. 'Against' moral kebenaran yang berlaku universil.
Rasa Malu yang Keliru (RMK)atau Tak Bermoral (RMTB)
Rasa Malu yang Keliru (RMK) atau Rasa Malu Tak Bermoral (RMTB) yang dimiliki bangsa ini kini bukan hanya dianut mayoritas oleh para generasi muda, tapi juga kini turut dianut generasi lebih senior. Yaitu rasa malu yang dipunyai jika dilihat orang atau keluarga sendiri tidak kaya materi (uang). Rasa Malu jika tidak punya kedudukan apa2 (di perusahaan, di pemerintahan/politik, di bidang agama dan di tengah keluarga). Rasa Malu jika dianggap tidak beragama, tidak relijius. Rasa Malu jika dianggap orang kurang/tidak terpelajar (intelek), tidak terkenal (ngetop). Rasa Malu karena berasal dari kalangan minoritas (bukan suku/golongan/agama mayoritas), Rasa Malu akibat gender pula; karena ada kekurangan kelemahan bawaan sejak lahir(cacat fisik, tubuh pendek, wajah kurang cantik/ganteng, dll),Rasa Malu jika dianggap orang tidak ikut perkembangan/trend jaman, tidak nge-pop, menganut pop-culture bak artis atau selebritis. Rasa Malu bila dibilang katro, ndeso, culun (istilah Tukul).
Sayangnya Mengatasi RMK/RMTB dengan Respons Cara2 yang juga Keliru, Tak Bermoral !
Jenis atau 'spesies' Rasa Malu Keliru (RMK) atau Rasa Malu Tak Bermoral (RMTB) seperti ini menyebabkan banyak orang dalam bangsa ini, - untuk mengatasi Rasa Malunya yang Keliru dan Tak Bermoral itu - PARAHNYA melakukan upaya menghalalkan segala cara -menghalalkan segala bentuk2 perilaku melalui CARA yang Keliru dan Tidak Bermoral pula - untuk gimana bisa jadi kaya, punya kedudukan (perusahaan, politis), bisa dianggap orang cukup relijius, dianggap terpelajar (intelek), bisa ngetop, dianggap termasuk kalangan mayoritas, serta mengikuti trend nge pop bak artis. Demi ini semua, benteng moral dikorbankan; di 'sepak keluar', dihancurkan !!
Akibat Cara Mengatasi Keliru RMK/RMTB di tengah Masyarakat
Akibat dari respons dan cara2 mengatasi yang keliru terhadap RMK/RMTB ini, adalah sangat banyaknya bidang2 kehidupan di tengah bangsa ini yang sudah penuh dengan berbagai 'tindak sikap perilaku2 keliru' pula(istilah Suka Harjana 'kelirumologi'), potret masyarakat tidak wajar, naive/tolol, sulit diterima oleh akal sehat (irrasional) dan tentu sikap perilaku2 tidak bermoral.
Di bidang Politik dan pemerintahan dijalankan tanpa moral, jadinya birokrasi mandeg tidak jalan "bottle neck", dibuat 'sengaja' bertele-tele, berlaku paradigma "kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah.. agar dapat keuntungan atau 'proyek sabetan', kongkalikong dengan pengusaha, korupsi (KKN) merajalela, elit tidak bersatu - persaingan tidak sehat (busuk), kecurangan Pemilu/Pilkada, terjadi pembusukan2 di mana2; tidak punya pemihakan pada rakyat banyak menderita, tapi hanya memihak pada diri sendiri, keluarga inti dan golongan.
Pendidikan tanpa moral, jadinya: kecurangan ujian nasional UN, jual beli ijazah gelar, bullying, sistim dongkrak nilai, plagiatisme, sex in campus, dll.
Bisnis tanpa moral, jadinya: korupsi, bribery suap, penipuan2, cheating, permainan2 money game ala BMA, Drezzel, dll; praktek kolusi, praktek "perusahaan di dalam perusahaan", permainan 'lihai2an' siluman, manipulasi di bidang perpajakan, pencurian, pencucian uang, penindasan karyawan/pekerja, pembalakan hutan liar, ileggal logging, traficing, penyelundupan dimana2.
Hubungan personal dan relatives (kekeluargaan) tanpa moral, jadinya: nepotisme dan perselingkuhan2 amoral, nikah 'siri-sirian', perceraian, free sex merajalela, "win-win relationship" dalam hubungan personal dan kerja yang amoral, tidak sehat.
Hukum tanpa moral, jadinya: putusan yang berat sebelah, tidak adil, tebang pilih, tidak memenuhi rasa keadilan hati nurani.
Tradisi (pemimpin) dan praktek budaya tanpa moral, jadinya: belum adanya atau tiadanya fakta tradisi (pemimpin) & praktek budaya yang membanggakan generasi muda, tradisi sejarah kepemimpinan dan budaya yang dibangun serius dan faktual guna mampu membangun role model, suri keteladanan dari para nenek moyang, leluhur, pahlawan, founding fathers kemudian elit2 pemimpin di segala lini, khususnya dalam sokoguru nilai2 moral dan 'adiluhung' kepada generasi sesudahnya. Yang disosialisasikan tradisi sejarah perang, intrik2, kebusukan2, perpecahan2 pengkhianatan pemimpin, kehancuran2, tindakan2 barbar dan kekerasan berikut cara2 primitif lainnya untuk mengatasi rasa malu dan menyelesaikan berbagai bentuk perselisihan serta konflik. Dasar alasannya bukan akal sehat dan moral kebenaran universil untuk melakukan evaluasi sebagai cermin introspeksi diri, melainkan demi 'harga diri (gengsi)', rasa kesukuan, kedaerahan, rasa nasionalisme, rasa keberagamaan, almamaterisme dan cermin2 rasa primordialisme lainnya yang keliru, namun ingin dijadikan standar ukuran moral kebenaran. Akibatnya yang terjadi tindakan kekerasan dan violenisme, saling mematikan, syndrom kepiting - saling membalas dan menjatuhkan -, 'loose-loose solutions', taktik bumi hangus penuh angkara murka dan prahara. Hasilnya bukan membuahkan semangat perdamaian dan kesentosaan, tapi warisan dendam dan iri turun-temurun yang bisa berakibat kepada resiliensi budaya dan kepunahan peradaban.
Bukankah masih banyak perkara tindakan di masa lalu, yang sampai kini masih 'dibiarkan' tanpa ada solusi penuntasan, terus dipeti-eskan, belum diselesaikan secara moral, kebijakan, sosial dan kebangsaan.
Beragama (Bergereja) tanpa moral, jadinya: kesalehan palsu, kesalehan ritualisme (hanya dalam peribadahan) tapi tidak extent menjadi kesalehan sosial dan global, kepura2an saleh dan "sholeha", pietisme palsu, puritanis palsu, kehidupan "topeng" (kamuflase) - "suci putih bersih di luar, busuk di dalam". Melayani, beribadah rukun agama rukun iman bukan menjadi tujuan tapi sekadar 'alat', payung, topeng atau legal formalisasi untuk menutupi berbagai tindak licik, serakah, nafsu dan curang, penipuan2 halus berkedok agama, kejahatan moral, perilaku2 amoral dari para pelaku atau para pemainnya - yang sulit tersentuh hukum.
LSM2 swadaya dan agen2 development tanpa moral, jadinya: eksploitasi orang2 miskin, susah, terpuruk, korban bencana, komunitas tercecer, terjepit, daerah terisolir, dll "menjual" kemiskinan lalu melakukan pengumpulan, penggalangan dana (fund-raising), namun kemudian dana/uang yang terkumpul bukan untuk para korban dan orang miskin, tapi digunakan untuk kepentingan dan kesenangan sendiri serta keluarga; atau digunakan untuk kepentingan lain yang tak ada hubungannya dengan program pengentasan kemiskinan, keterpurukan dan bencana.
Moral dan Cara benar dan bermoral Ibarat Jantung.
Moral atau benteng moral termasuk cara2 benar dan bermoral mengatasi rasa malu bisa diibaratkan dalam diri seseorang, adalah jantungnya seseorang. Jika moral dihancurkan, 'disepak keluar', akibatnya sudah jelas pembusukan seluruh tubuh, cepat atau lambat. Kematian, keterpurukan, kehancuran dan kebinasaan. Jika tubuh manusia itu adalah cerminan bangsa, maka bangsa sangat pasti akan menuju kematian, keterpurukan, kehancuran dan kebinasaan.
Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB): Ini yang Hilang, padahal Seharusnya Ada dan Konsisten Dipertahankan!
Yang tinggal sedikit dan sudah makin hilang dari tubuh bangsa ini, adalah jenis Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB). Rasa Malu Keliru atau Tak Bermoral (RMK/RMTB) semakin bertambah banyak, RMBnya ini yang sedikit sekali untuk tidak mengatakan hilang. Padahal yang harusnya dimiliki bangsa ini dalam jumlah banyak adalah Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB). Jenis rasa malu yang benar ini, committed kepada kebenaran (moral) universil. Rasa Malu yang sangat2 besar, tidak terkira, jika harus berbohong, berdusta, berbuat kesalahan, melanggar peraturan, tidak tegas (lembek, mencla-mencle) terhadap pelanggaran aturan, berbuat menipu, membunuh, mencuri, memeras, memalak, bullying, teror kekerasan, mengkotak2kan orang (membuat stigmata, labelisasi), meremehkan dan tidak menghargai orang, menyuap, tidak bisa dipercaya oleh orang, melakukan character assasination pada pihak lain, melakukan tindak brutal, memfitnah, dianggap dalam proses tidak mampu (uncapable), wanprestasi, kinerja jelek; melakukan manipulasi data proyek, menyontek, berzinah, mempraktekkan hubungan selingkuh atau 'kumpul kebo', menikah 'tidak resmi', pelecehan seks, tidak bisa diterima/dibenci oleh sesama atau publik (mungkin karena kikir), melakukan free sex, menjadi pengedar narkoba, pura-pura saleh atau 'sholeha', melakukan praktek babi ngepet, 'memelihara tuyul' atau ke dukun/paranormal santet', memakai uang korupsi dan hasil kejahatan untuk tujuan amal/derma (Robin Hood style), dst dst.
Demikianlah, RMB seperti inilah yang nyaris hilang terkikis dan terlindas dari tubuah bangsa, banyaknya digantikan oleh Rasa Malu Keliru yang Tak Bermoral (RMTB) seperti telah diuraikan sebelumnya. Maka, kalau sudah begitu sudah bisa ditebak diprediksi bagaimana 'kesudahan' dari bangsa ini, bila tidak ada perubahan arah hidup secara revolusioner ('revolusi moral'). Kebiasaan (bad habits) atau budaya tak bermoral harus secepatnya dihentikan dari tengah bangsa ini. Kalau tidak akan terlambat, kebablasan. Solusi dan mandat kebudayaan harus diemban. Mandat untuk mengupayakan terjadinya perubahan transformasi dari 'budaya tanpa moral' kepada'budaya bermoral'.
Altenatif Solusi Mengatasi Rasa Malu yang Keliru atau Tak Bermoral (RMK/RMTB)
Yang bisa jadi solusi, untuk mengatasi Rasa Malu yang keliru (RMK) atau Tak Bermoral (RMTB), salah satu yang penting PERTAMA adalah adanya kemauan untuk merubah paradigma, cara pandang dan pikir yang keliru terhadap orientasi hidup. Mau belajar untuk terus.. lebih banyak hidup bersyukur, mensyukuri terhadap apa yang ada dan dipunyai sekarang; Rasa Malu keliru tersebut tidak usah jadi 'kepikiran' dan masalah dalam batin dan jiwa. Sebenarnya, RMK ini tidak perlu ada, jika kita mampu merubah paradigma dari "paradigma sekadar ikut2an orang atau dunia' kepada "paradigma bersyukur dan hanya mau turut kepada apa yang benar". Tidak perlu dalam hidup terlalu melihat 'keluar' pada orang lain dan 'memandang ke atas'. Kenapa mesti malu kalau tidak kaya? Kalau tidak terlalu berkedudukan tinggi, tidak terkenal (orang biasa saja), tidak ngetop, tidak terlalu intelek? Belum tentu apa yang cocok, dipunyai oleh orang lain, cocok bagi hidup kita. Syukuri keadaan dan hal2 yang ada dan telah dipunyai pada kita, pada masa sekarang. Tidak perlu neko-neko. Kecukupan sehari, cukuplah untuk sehari. Jangan terus2an terlalu khawatir tentang hari esok, meski hari esok perlu diantisipasi dari sekarang. Syukuri hal2 yang telah terjadi dan telah menjadi berkat dari dulu hingga sekarang.
Perubahan Cara Pandang terhadap Diri Sendiri (Pemulihan Citra Diri).
Hal KEDUA yang sangat penting, adalah yang berhubungan dengan rasa malu akibat sifat atau bawaan sejak lahir. Kenapa mesti malu jika kita terlahir sebagai orang Kristen misalnya, yang adalah golongan minoritas di negeri ini. Kenapa mesti malu bila kita terlahir sebagai orang Cina, orang Batak, orang Papua yang kebetulan adalah golongan minoritas? Kenapa mesti malu bila tubuh perawakan kita pendek, tidak terlalu ganteng atau cantik? Kenapa mesti malu bila kita seorang perempuan? Kenapa musti malu bila kita anak bungsu atau bontot? Dst. Rasa Malu seperti itu kan tidak beralasan, karena 'kesemua-muanya' terkait sesuatu yang sudah given, yang ngga bisa kita tolak, bawaan dari lahir.
Alternatif solusi untuk RMK ini, adalah kembali perubahan pola pikir dan cara pandang atas diri sendiri(atau dalam bahasa beberapa teman "pemulihan citra diri') bahwa sebagai peta miniatur Allah (God's image) kita sudah diciptakan sungguh amat baik. Kalau ada 'kekurangan/kelemahan' dari bawaan lahir kita dari sudut pandang manusia mayoritas, bukan harusnya membuat kita merasa malu, tapi seharusnya 'yang mayoritas' itu yang seharusnya malu, karena pasti ada rencana Tuhan yang teramat baik dan agung di balik 'kekurangan/kelemahan kita', karena itu justru akan menjadi 'ciri khas dan keunikan' sekaligus 'kekuatan' kita yang tidak dipunyai oleh mayoritas, yang bisa membuat kita maju.
Maka, bila kita mempunyai respons dan paradigma cara pandang yang benar menyikapi RMK/RMTB tersebut, maka otomatis pasti RMK dan RMTB segera akan semakin lenyap dan tereliminasi dari kehidupan dan dari diri.
Alternatif Solusi untuk Mengatasi Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB)
Sedangkan solusi untuk mengatasi Rasa Malu yang Benar, yang Bermoral (RMB) tidak lain dan tidak bukan cara yang paling 'cespleng' adalah bertobat, mau bertobat. Mau mengakui kesalahan dan cara2 yang tidak benar yang telah ditempuh. Tidak hanya di depan diri sendiri, dan di depan Tuhan. Tapi juga jika harus, ya di hadapan orang lain - orang2 dekat dan publik. Kalau untuk kebaikan dan kemajuan diri dan bersama, kenapa harus malu mengakui kesalahan. Itu ciri orang yang berjiwa besar, elemen bangsa yang besar. Mau mengakui kesalahan. Tunduk pada otoritas Kebenaran, kebenaran yang universil. Mau dan sedia juga terima sanksi atas segala kesalahan, dengan kelapangan dada dan jiwa besar. Baik sanksi administratif, organisasi, sanksi moral, sanksi sosial dan sanksi rohani (terkait berkat2 rohani dari Tuhan yang mungkin 'terhambat'). Dengan jiwa besar mau berubah, setelah mengevaluasi diri seluruh perilaku yang telah dijalankan dengan menengok ke belakang sejenak. Setelahnya, melakukan rencana tindak ke depan, tindakan2 korektif, melakukan perubahan2 tindakan2 perbaikan2 dan peningkatan nyta sampai menjadi kebiasaan dan gaya hidup baru yang lebih baik, bagus, benar dan berkualitas.
Demikianlah..solusi, upaya2 dan tugas mandat seperti ini yang seyogianya harus dilakukan guna memberantas jenis2 Rasa Malu (baik RMK/RMTB maupun RMB)yang telah berurat berakar dalam diri dan tubuh bangsa ini, sehingga bangsa akan mengalami perubahan menjadi bangsa yang makin maju, sejahtera dan berkualitas.
Siapa yang akan Menjadi Pelaksana Mandat Perubahan Pola Pikir dan Budaya Keliru & Tak Bermoral?
Nah, sekarang siapa yang menjadi pelaksana mandat kebudayaan dan perubahan pola pikir yan keliru ini? Pelaksana mandat kebudayaan ini adalah kita semua terutama yang telah celik masih sadar bahwa tingkat budaya immoral atau tak bermoral kita sekarang sudah semakin menyentuh titik nadir. Sangat perlu tindakan kuratif, pengobatan dan perubahan revolusioner terutama di bidang moral.
Salam perubahan (revolusi moral),
Hans Midas Simanjuntak :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Foto udara Pulau Alor NTT
Photo, 2007