(Tulisan dari Dr Victor Silaen, telah dimuat pada Harian Seputar Indonesia, Minggu 11/10/2009)
SEBAGIAN orang mungkin akan langsung berkata bahwa ”mimpi Indonesia” merupakan sesuatu yang asing dan jarang terdengar atau dibicarakan.
Karena itu, mereka mungkin akan bertanya: apakah Indonesia punya mimpi? Jawabannya ”punya”,dan itu tertulis di dalam Pembukaan UUD 45, yakni ”Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur” dan ”yang sejahtera, cerdas, dan yang berperan serta di tengah pergaulan internasional”.
Terkait itu mungkin kita setuju bahwa sebagian dari mimpi itu kini sudah tercapai yakni merdeka,berdaulat, bersatu,dan berperan serta secara aktif di tengah pergaulan internasional. Tetapi adil dan makmur, sejahtera, cerdas, agaknya masih jauh dari kenyataan. Inilah persoalan besar kita.Menurut Elwin Tobing, penulis buku ini, persatuan merupakan prasyarat untuk meraih mimpi itu.
Celakanya, persatuan itulah yang kini menjadi masalah karena Indonesia dewasa ini adalah Indonesia yang rapuh. Bagaimana mungkin Indonesia dapat menjadi bangsa yang unggul jika rakyatnya tidak dapat dipersatukan? Secara teritorial Indonesia mungkin akan terus bersatu, namun ikatan-ikatan sosial politik yang mempersatukan rakyatnya yang beraneka ragam selama ini perlahan kian melemah.
Kebinekaan Indonesia kini mulai retak di sana-sini. Ini bukan saja membuat Indonesia menjadi bangsa yang sulit maju, bahkan juga terancam disintegrasi (hlm 69). Kalau kita tak mau Indonesia menjadi ”negara gagal”, perubahan paradigma di tengah proses pembangunan bangsa ini ke depan diperlukan.
Untuk membangun bangsa yang kompetitif, tak bisa tidak, setiap warga di negara ini harus dibentuk menjadi individuindividu yang kompetitif pula. Untuk itu setiap orang harus memiliki pikiran yang kritis, sementara kebudayaan masyarakat juga harus mendukung terciptanya iklim yang kompetitif tersebut.
Bagaimana caranya? Ilmu pengetahuan harus dikuasai dan inovasi-inovasi harus digencarkan. Namun, hal itu hanya bisa dicapai jika ada kondisi di mana masyarakat selalu ”lapar” akan pengetahuan dan terobsesi untuk maju dalam pendidikan.
Elwin Tobing,seorang warga negara Indonesia yang kini menjadi dosen bidang ekonomi di Universitas Azusa Pasific, California, Amerika Serikat itu, juga menyoroti faktor lain yang menyebabkan Indonesia sulit maju yakni mentalitas sebagian besar rakyat Indonesia yang selalu menganggap diri sebagai korban dari negaranegara maju maupun paham neolib.
Mentalitas seperti ini jelas harus dibuang jauh-jauh, diganti dengan optimisme dan keyakinan diri bahwa kita juga bisa. Selain pada kenyataannya kita tak mungkin menghindar dari keniscayaan berinteraksi dengan negara-negara lain, maju atau mundurnya negara kita terletak di tangan kita sendiri.
Elwin menekankan perlunya kita bekerja keras membangun toleransi beragama. Bagaimanapun, menurut dia, agama tetap penting dan bahkan merupakan faktor deterministik di dalam kehidupan kita. Karena itulah tak mungkin kita mengabaikannya begitu saja atau menganggapnya tidak penting.
Apalagi Indonesia adalah bangsa yang sangat religius.Untuk itulah diperlukan perubahan paradigma dalam beragama dan dalam melakukan dialog antarumat beragama, di samping juga perlu merumuskan ulang orientasi pendidikan agama di semua lembaga pendidikan (hlm 100-124).
Terkait itu patut disyukuri bahwa Indonesia kini telah menjadi negara demokratis secara prosedural dan struktural. Hal ini tentu dapat menjadi modal untuk membangun demokrasi di ranah budaya, yang meniscayakan bukan saja diakui dan dihayatinya kebebasan, tetapi juga toleransi karena bertumbuhnya kemampuan untuk menyikapi perbedaan secara wajar, juga kesetaraan dan nilai-nilai lainnya.
Selain itu,ada modal sosial yang harus dibangun. Itulah nilai ”trust” (kepercayaan) yang kian menghilang dari kehidupan kita di tengah kebersamaan (hlm 126-143). Boleh jadi menghilangnya ”trust” dikarenakan ”distrust” (kecurigaan) telah sekian lama menguasai hati dan pikiran kita.
Tak heran jika bingkai yang merekat kebersamaan kita selama ini mulai retak di sana-sini. Buku ini terdiri atas tiga bagian, yang masing-masingnya terdiri atas beberapa bab. Bagian Pertama berjudul ”A United Nation”,memaparkan fakta-fakta dan gambarangambaran tentang situasi dan kondisi bangsa Indonesia dewasa ini.
Bab Keenam,yang mengakhiri bagian ini, seakan mengajak kita untuk mengevaluasi sekaligus menyadari bahwa Indonesia kini tengah di ambang bahaya kolaps karena menguatnya intoleransi beragama. Bagian Kedua berjudul ”A Democratic Nation”, membahas tentang perkembangan yang berhasil dicapai Indonesia dalam demokrasi dan demokratisasi.
Ironisnya, politik semakin modern, namun distrustsemakin menguat di tengah kehidupan bermasyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa tingkat keanekaragaman bangsa Indonesia yang sangat tinggi juga turut menyumbang menguatnya ketidakpercayaan sosial tersebut. Bagian Ketiga berjudul ”A Confident and Competitive Nation”, menguraikan tentang hal-hal yang penting dan perlu dilakukan ke depan demi menjadikan Indonesia bangsa yang unggul dan kompetitif.
Pada intinya,buku ini menekankan perlunya perubahan-perubahan mendasar yang harus dilakukan jika Indonesia mau menjadi bangsa yang unggul dan kompetitif.Untuk itu,selain hal-hal yang telah disebut di atas, diperlukan perubahan dalam nilai-nilai yang kita hayati selama ini. Di sinilah signifikansinya membahas kebudayaan kita sebagai bangsa Indonesia.Persoalan nya, sudahkah kita memiliki ”kebudayaan nasional” yang betulbetul telah dijadikan pedoman oleh seluruh rakyat Indonesia? (*)
Victor Silaen,
Dosen Fisipol UKI
Tanggapan HMS di milis Aliteia (14 Oct 2009):
Resensi konseptualnya TID ini, bagus sekali Lae Victor.
Membawa semangat dan optimistik kita bahwa TID bukan sekedar khayalan atau The Dreaming Indonesian, tapi betul2 upaya "karsa karya dan rasa" bersama menjadikan bangsa ini, bangsa pemenang - bukan bangsa kalahan pencundang.atau selalu terpuruk dlm segala kelemahan.
Terima kasih. JBU
HMS
Tanggapan kembali VS (15 Oct 2009):
Terima kasih Lae Hans. Semoga semua kita bisa menjadi pemenang.
Salam
Victor Silaen
Wednesday, October 14, 2009
Tuesday, February 24, 2009
Antara Demokrasi dan Tradisi.
Rekans terkasih,
Apa yang saya tulis ini, merupakan tanggapan umum dari topik interaksi diskusi yang berkembang di milis doakan hkpb minggu ini.
Sorotan saya kali ini, adalah mengenai dua hal: Antara Demokrasi dan Tradisi.
Demokrasi sbg suatu gerak (motion) dan salah satu cara (a way) guna mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan bermasyarakat dan bernegara, tak dapat dinafikan telah berkembang di masyarakat bangsa kita, tak terkecuali pengarunya dlm kehidupan gereja, berjemaat. Pengamatan saya, demokrasi kini sdg memasuki tahap survival untuk menemukan bentuknya dan kematangannya yang pas di negeri kita.
Di pihak lain, Tradisi entah itu dlm bentuk tradisi Gereja atau tradisi Habatahon (Kebatakan) tak dapat disangkal masih, tetap menunjukkan eksistensinya yang khas.
Pertanyaannya, apakah demokrasi sbg suatu proses dan gerak (motion) di masyarakat kita harus serta merta meniadakan tradisi? Atau dlm bahasa yg lebih lugas, haruskah demokrasi bertumbuh dan kembang dgn cara melabrak tradisi yang masih eksis ada? Di pihak lain, kita juga perlu bertanya apakah tradisi juga bersikap serta merta tidak memerlukan demokrasi dan proses demokratisasi di dalamnya?
Dialog dan dialektika komunikasi mgkn masih terus berlangsung. Mungkin sulit menemukan ujungnya. Namun, barangkali ada satu pencerahan yang kita harapkan. Bahwa antara Demokrasi dan Tradisi tidak mesti harus saling melabrak atau meniadakan. Tetapi bagaimana antar keduanya dapat saling isi-mengisi, mutual respect. Demokrasi membutuhkan tradisi sbg basis atau dasar utk melangkah berkembang ke arah liberty, kemajuan, kesejahteraan. Sebaliknya, tradisi pun butuh senantiasa di democratized, sekaligus di modernized. Agar dpt mengalami transformasi secara dinamis & seimbang, dinamis serta rasional.
Salam.
Apa yang saya tulis ini, merupakan tanggapan umum dari topik interaksi diskusi yang berkembang di milis doakan hkpb minggu ini.
Sorotan saya kali ini, adalah mengenai dua hal: Antara Demokrasi dan Tradisi.
Demokrasi sbg suatu gerak (motion) dan salah satu cara (a way) guna mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan bermasyarakat dan bernegara, tak dapat dinafikan telah berkembang di masyarakat bangsa kita, tak terkecuali pengarunya dlm kehidupan gereja, berjemaat. Pengamatan saya, demokrasi kini sdg memasuki tahap survival untuk menemukan bentuknya dan kematangannya yang pas di negeri kita.
Di pihak lain, Tradisi entah itu dlm bentuk tradisi Gereja atau tradisi Habatahon (Kebatakan) tak dapat disangkal masih, tetap menunjukkan eksistensinya yang khas.
Pertanyaannya, apakah demokrasi sbg suatu proses dan gerak (motion) di masyarakat kita harus serta merta meniadakan tradisi? Atau dlm bahasa yg lebih lugas, haruskah demokrasi bertumbuh dan kembang dgn cara melabrak tradisi yang masih eksis ada? Di pihak lain, kita juga perlu bertanya apakah tradisi juga bersikap serta merta tidak memerlukan demokrasi dan proses demokratisasi di dalamnya?
Dialog dan dialektika komunikasi mgkn masih terus berlangsung. Mungkin sulit menemukan ujungnya. Namun, barangkali ada satu pencerahan yang kita harapkan. Bahwa antara Demokrasi dan Tradisi tidak mesti harus saling melabrak atau meniadakan. Tetapi bagaimana antar keduanya dapat saling isi-mengisi, mutual respect. Demokrasi membutuhkan tradisi sbg basis atau dasar utk melangkah berkembang ke arah liberty, kemajuan, kesejahteraan. Sebaliknya, tradisi pun butuh senantiasa di democratized, sekaligus di modernized. Agar dpt mengalami transformasi secara dinamis & seimbang, dinamis serta rasional.
Salam.
Thursday, January 1, 2009
Meski banyak tantangan.., kita mengimani "Have a very blessed year!".

Dear saudara2 terkasih,
Secara personal dan keluarga saya ingin mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru bagi rekan2 sekalian. Have a very blessed year 2009 !
Meskipun jika kita mengamati mengikuti perkembangan sejak 2008 bahkan ke belakang faktanya tidak mudah. Berbagai tantangan kelemahan problema krisis yg sdh dan harus dihadapi oleh Dunia global khususnya Indonesia/NKRI dan Dunia kristen Indonesia, lokal-nasional, kerap menghadang. Namun, semua itu tidak menyurutkan kita utk terus melangkah dlm kuasa dan penyertaan Tuhan kita. Mengubah problema kelemahan tantangan menjadi peluang utk menciptakan kasih dan keadilan, transformasi dan kemajuan.
Terinspirasi dari pernyataan Paulus rasul Kristus di jamannya ketika berada di Efesus, meskipun pada masa itu demikian banyak tantangan dan para penentang, ia tetap memiliki iman dan pengharapan yg kokoh dengan menyatakan:
"But I will tarry in Ephesus until Pentacost. For a great and effective door has opened to me, and there are many adversaries". (Tetapi aku akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta, sebab disini banyak kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang. 1 Korintus 16: 8-9.
Mungkin ini bisa jadi resolusi kita bersama, jika berkenan, kiranya ada sesuatu atau beberapa hal berarti dan berdampak yang dapat kita buat bersama utk kita persembahkan kpd Tuhan Gembala orang percaya, Maha berkuasa atas dunia, atas indonesia. Sesuatu yg bernilai "strategis", "benar" dan "baik/besar" sbg kontribusi kita bersama, satu bagi kemaslahatan/kemajuan Indonesia NKRI yang kita cintai..., dan satu lagi bagi kemaslahatan/kemajuan dunia Kekristenan di persada indonesia ini.
Sejalan dgn amanat Ibrani 12: 1 Mari kita tinggalkan dan tanggalkan yg dibelakang, dimensi waktu masa lalu (2008 ke belakang)
"So let us lay aside every weight and the sin which so easily ensnares us, and let us run with endurance the race that is set before us".
Dan mari kita jejakkan dimensi waktu=tahun yg baru 2009 dgn mengenergisasi amanat Filipi 3: 13-14.. "Brethren, I do not count myself to have apprehended, but one thing I do, forgetting those things which are behind and reaching forward to those things which are ahead. I press towards the goal for the prize of the upward call of God in Christ Jesus".
Mari saudara2 rekan sekalian, kita sama-sama jejakkan "space and time" 2009 dlm kuasa pengharapan, iman dan kasih. Tuhan beserta kita!
Shalom.
Thursday, November 20, 2008
Gelombang PHK, Perlunya Pembalikan Paradigma Kebijakan, 10 Langkah Terobosan!
Dear readers,
Saya kutipkan tulisan, ulasan Harry mengenai antisipasi yg seharusnya dilakukan Indonesia menyikapi dampak krisis keuangan global yang sudah mulai dirasakan di negeri ini. Antara lain, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai dilakukan di bulan-bulan ini oleh sejumlah pabrik dan industri manufaktur di Jawa, Kalbar dan Sumatera.
Demikian ulasannya, silakan disimak.
Kawansku,
Sy sependapat dgn rekan robert.hizkia di salah satu milis (aliteia) dan ekonom Faisal Basri bbrp waktu lalu. Bahwa yg pastinya akan terkena imbas krisis keuangan global sangat keras di negeri ini, adalah tentu Sektor Keuangan sendiri (pasar saham, pasar uang, valas), Sektor Perbankan yg link dgn pasar internasional serta Sektor2 Riil Modern di perkotaan (sub sektor Properti, Mall, Manufaktur, Perdagangan Kendaraan dgn BBM, Hypermart dsjns) trtm kota-kota besar di pulau Jawa, sbgn Bali dan sektor2 Riil Modern di Indonesia Bag Barat.
Yang relatif tidak terkena imbas plg tidak jelas-jelas ada di 4 sektor: Kalau di pulau Jawa dan Indonesia Bag Barat. (
1) Sektor2 Tradisional di pedesaan, daerah pegunungan dan pesisir (Agro, Perikanan dll)
(2) Sektor UKM, koperasi dan microfinance yg "standing alone" tdk link internasional.
(3) Sektor Paska-Modern: spt bidang Seni Budaya Kreatif yg sgt dicari oleh internasional, Musik Indonesia kontemporer, Desain kreatif, dll.
(4) Kalau di Indonesia Bag Timur, hampir seluruh sektor (Perkebunan, Agro, Perikanan, Industri, Perdagangan dll), boleh dikatakan relatif tidak terkena imbas, bahkan utk Komoditi2 yg booming, dpt mendapt berkah dari menguatnya dollar AS serta melemahnya nilai rupiah.
So, langkah nyata yg bisa/hrs dilakukan bersama harus berdasar atas pembalikan paradigma Kebijakan politik-ekonomi scr drastis di tengah krisis.
Meliputi 10 langkah terobosan (dari hasil kajian yg selama ini dilakukan), yaitu:
1. Berantas KKN dan Suap, tidak boleh berhenti sedikitpun oleh KPK dan Tipikor dll; tdk dpt tdk kian hari harus terus galak, tanpa kompromi, termasuk bagi mereka yg sdg "tiarap" sekarang.
2. Korban puluhan ribuan PHK dan tenaga2 mandiri (profesional dan semi pro) segera disosialisasi utk beralih pekerjaan/usaha dari Sektor Modern Riil ke 4 Sektor diatas. Dengan tujuan ekspor sdh waktunya diarahkan kpd negara2 non-AS dan non-Eropa.
3. Penciptaan lapangan kerja/penyerapan TK bersifat taktis emerjensi melalui pencairan cepat dana2 APBN/APBD di bid infrastruktur, penyaluran kredit UMKM dll trtm di luar Jawa dan Indonesia Bag Timur, dgn melibatkan slrh korban PHK, generasi muda dan para lulusan sekolah/PT.
4. Spt yg dilakukan India, Thailand dan China, Pemerintah harus turun tangan melindungi ke-4 sektor diatas melalui putusan Kebijakan dan Perundang-undangan.
5. Dgn peraturan dan undang2 pula, Pemerintah "memaksa" agar dana2 para pengusaha/pedagang indonesia yg selama ini parkir di luar negeri hasil transaksi perdagangan dlm bentuk US dollar, agar dialokasikan ke dalam negeri.
6. Sosialisasi dan ketegasan setiap Warga Negara tidak memborong dollar, pengetatan semua item biaya, memakai barang2 produk dalam negeri, pengurangan seluruh pemakaian komponen produk dari LN (impor), kewajiban Pajak bagi produk booming, dst.
7. Peran LSM, LPSM, societas, asosiasi sipil, media yg akurat berimbang dan bertanggung- jawab dan peran2 sejenisnya diperkuat utk penguatan kohesivitas lokal dan nasional. Termasuk antar hubungan antar Ormas, Partai dan kelp2 politik dalam negeri.
8. Pembiayaan seluruh proses demokratisasi dan Pemilu 2009 dan pilkada2 dilakukan reduksi penghematan nyata, tanpa menghilangkan substansi. 9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu. 10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.
9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu. 10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.
10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.
Salam damai (Harry B ++).
Hal yang telah disampaikan ini, saya kira sangat mendesak menjadi fokus perhatian dan "urgent plan" Pemerintah dan seluruh elemen bangsa yang mencintai bangsa ini.
Tuhan memberkati.
Saya kutipkan tulisan, ulasan Harry mengenai antisipasi yg seharusnya dilakukan Indonesia menyikapi dampak krisis keuangan global yang sudah mulai dirasakan di negeri ini. Antara lain, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mulai dilakukan di bulan-bulan ini oleh sejumlah pabrik dan industri manufaktur di Jawa, Kalbar dan Sumatera.
Demikian ulasannya, silakan disimak.
Kawansku,
Sy sependapat dgn rekan robert.hizkia di salah satu milis (aliteia) dan ekonom Faisal Basri bbrp waktu lalu. Bahwa yg pastinya akan terkena imbas krisis keuangan global sangat keras di negeri ini, adalah tentu Sektor Keuangan sendiri (pasar saham, pasar uang, valas), Sektor Perbankan yg link dgn pasar internasional serta Sektor2 Riil Modern di perkotaan (sub sektor Properti, Mall, Manufaktur, Perdagangan Kendaraan dgn BBM, Hypermart dsjns) trtm kota-kota besar di pulau Jawa, sbgn Bali dan sektor2 Riil Modern di Indonesia Bag Barat.
Yang relatif tidak terkena imbas plg tidak jelas-jelas ada di 4 sektor: Kalau di pulau Jawa dan Indonesia Bag Barat. (
1) Sektor2 Tradisional di pedesaan, daerah pegunungan dan pesisir (Agro, Perikanan dll)
(2) Sektor UKM, koperasi dan microfinance yg "standing alone" tdk link internasional.
(3) Sektor Paska-Modern: spt bidang Seni Budaya Kreatif yg sgt dicari oleh internasional, Musik Indonesia kontemporer, Desain kreatif, dll.
(4) Kalau di Indonesia Bag Timur, hampir seluruh sektor (Perkebunan, Agro, Perikanan, Industri, Perdagangan dll), boleh dikatakan relatif tidak terkena imbas, bahkan utk Komoditi2 yg booming, dpt mendapt berkah dari menguatnya dollar AS serta melemahnya nilai rupiah.
So, langkah nyata yg bisa/hrs dilakukan bersama harus berdasar atas pembalikan paradigma Kebijakan politik-ekonomi scr drastis di tengah krisis.
Meliputi 10 langkah terobosan (dari hasil kajian yg selama ini dilakukan), yaitu:
1. Berantas KKN dan Suap, tidak boleh berhenti sedikitpun oleh KPK dan Tipikor dll; tdk dpt tdk kian hari harus terus galak, tanpa kompromi, termasuk bagi mereka yg sdg "tiarap" sekarang.
2. Korban puluhan ribuan PHK dan tenaga2 mandiri (profesional dan semi pro) segera disosialisasi utk beralih pekerjaan/usaha dari Sektor Modern Riil ke 4 Sektor diatas. Dengan tujuan ekspor sdh waktunya diarahkan kpd negara2 non-AS dan non-Eropa.
3. Penciptaan lapangan kerja/penyerapan TK bersifat taktis emerjensi melalui pencairan cepat dana2 APBN/APBD di bid infrastruktur, penyaluran kredit UMKM dll trtm di luar Jawa dan Indonesia Bag Timur, dgn melibatkan slrh korban PHK, generasi muda dan para lulusan sekolah/PT.
4. Spt yg dilakukan India, Thailand dan China, Pemerintah harus turun tangan melindungi ke-4 sektor diatas melalui putusan Kebijakan dan Perundang-undangan.
5. Dgn peraturan dan undang2 pula, Pemerintah "memaksa" agar dana2 para pengusaha/pedagang indonesia yg selama ini parkir di luar negeri hasil transaksi perdagangan dlm bentuk US dollar, agar dialokasikan ke dalam negeri.
6. Sosialisasi dan ketegasan setiap Warga Negara tidak memborong dollar, pengetatan semua item biaya, memakai barang2 produk dalam negeri, pengurangan seluruh pemakaian komponen produk dari LN (impor), kewajiban Pajak bagi produk booming, dst.
7. Peran LSM, LPSM, societas, asosiasi sipil, media yg akurat berimbang dan bertanggung- jawab dan peran2 sejenisnya diperkuat utk penguatan kohesivitas lokal dan nasional. Termasuk antar hubungan antar Ormas, Partai dan kelp2 politik dalam negeri.
8. Pembiayaan seluruh proses demokratisasi dan Pemilu 2009 dan pilkada2 dilakukan reduksi penghematan nyata, tanpa menghilangkan substansi. 9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu. 10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.
9. Faktor keamanan terkait upaya2 negatif provokasi, teror dan intimidasi dicegah sejak dini (preventif). Hal berhubungan dgn isu SARA dan berbagai potensi2 konflik antar sesama elemen bangsa yg tdk perlu. 10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.
10. Upaya2 penegakkan hukum thd kasus2 yg masih "menggantung" dituntaskan, utk memberi rasa keadilan dan keamanan asasi bagi seluruh elemen masyarakat.
Salam damai (Harry B ++).
Hal yang telah disampaikan ini, saya kira sangat mendesak menjadi fokus perhatian dan "urgent plan" Pemerintah dan seluruh elemen bangsa yang mencintai bangsa ini.
Tuhan memberkati.
Wednesday, November 12, 2008
Sharing Awal: Pendirian Sebuah Universitas Kristen di Kalabahi, NTT
Sahabat terkasih,
Seperti diketahui, ada beberapa rekan dari elemen Bakti Nusa Connections juga bergabung di forum milis yang bernama Aliteia. Namun, ada juga yang tidak bisa berkoneksi, a.l. oleh karena keterbatasan akses internet, dll. Nah.. dengan beberapa orang yang tidak bisa bergabung inilah, saya baru saja melakukan koordinasi lapangan.
Sharing awalnya begini. Sudah sejak beberapa tahun lalu sebenarnya, di NTT tepatnya di Kalabahi Alor, teman-teman ini sdh menggumuli, punya visi dan mimpi, dan mulai merencanakan lebih telaten bagi berdirinya sebuah Universitas Kristen yg diharap di kemudian hari dapat menjadi salah satu center of excellent bidang pendidikan tinggi di wilayah NTT.
Di awal 2008, visi, mimpi dan perencanaan tsb telah menunjukkan hasil yang nyata, baik di tingkat policy dan di lapangan (tingkat implementasi). Sebuah Universitas Kristen telah berhasil diretas, dan telah didesain secara bertahap untuk 5 fakultas, yang kesemuanya disesuaikan dengan kebutuhan yg dirasakan untuk kemajuan wilayah-wilayah di NTT.
Menurut desain organisasi yang telah disepakati sejak awal, Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini berada sepenuhnya di bawah naungan lembaga Gereja, dalam hal ini Gereja Klasis GMIT Timor. Berdasarkan potensi, tantangan, kekhasan, peluang dan prospek ke depan, ckp banyak penilaian bahwa Gereja Klasis ini sesungguhnya kelak dpt ditingkatkan secara bertahap menjadi Gereja bertingkat Sinode di Kalabahi NTT.
Bertalian dgn sharing saya ini, support berupa 4 D (Doa, Daya, Dana dan Dukungan moril akses knowledge skills good will dll) dari segenap members Aliteia, akaan sangat dibutuhkan bagi kehadiran Universitas Kristen ini. Support perlu diberikan bagi teman-teman dalam tim yang telah berjuang dan bekerja keras bagi berdirinya Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini.
Saya berharap rekan2 sahabat sekalian yg punya visi dan passion di bidang higher education, kiranya dpt mendukung usaha sangat nyata ini, dalam bentuk-bentuk berupa fasilitasi, support kemitraan, lecture activities atau apapun namanya yg lebih riel.
Ini menjadi sharing dan informasi awal bagi kita sekalian, sebelum saya/kami dapat mensharekan secara lebih lengkap tahap-tahap perkembangan yg sedang dilakukan baik di tingkat kebijakan/policy maupun di tingkat implementasinya.
Salam karya kasih nyata,
HMS :-)
Seperti diketahui, ada beberapa rekan dari elemen Bakti Nusa Connections juga bergabung di forum milis yang bernama Aliteia. Namun, ada juga yang tidak bisa berkoneksi, a.l. oleh karena keterbatasan akses internet, dll. Nah.. dengan beberapa orang yang tidak bisa bergabung inilah, saya baru saja melakukan koordinasi lapangan.
Sharing awalnya begini. Sudah sejak beberapa tahun lalu sebenarnya, di NTT tepatnya di Kalabahi Alor, teman-teman ini sdh menggumuli, punya visi dan mimpi, dan mulai merencanakan lebih telaten bagi berdirinya sebuah Universitas Kristen yg diharap di kemudian hari dapat menjadi salah satu center of excellent bidang pendidikan tinggi di wilayah NTT.
Di awal 2008, visi, mimpi dan perencanaan tsb telah menunjukkan hasil yang nyata, baik di tingkat policy dan di lapangan (tingkat implementasi). Sebuah Universitas Kristen telah berhasil diretas, dan telah didesain secara bertahap untuk 5 fakultas, yang kesemuanya disesuaikan dengan kebutuhan yg dirasakan untuk kemajuan wilayah-wilayah di NTT.
Menurut desain organisasi yang telah disepakati sejak awal, Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini berada sepenuhnya di bawah naungan lembaga Gereja, dalam hal ini Gereja Klasis GMIT Timor. Berdasarkan potensi, tantangan, kekhasan, peluang dan prospek ke depan, ckp banyak penilaian bahwa Gereja Klasis ini sesungguhnya kelak dpt ditingkatkan secara bertahap menjadi Gereja bertingkat Sinode di Kalabahi NTT.
Bertalian dgn sharing saya ini, support berupa 4 D (Doa, Daya, Dana dan Dukungan moril akses knowledge skills good will dll) dari segenap members Aliteia, akaan sangat dibutuhkan bagi kehadiran Universitas Kristen ini. Support perlu diberikan bagi teman-teman dalam tim yang telah berjuang dan bekerja keras bagi berdirinya Universitas Kristen di Kalabahi NTT ini.
Saya berharap rekan2 sahabat sekalian yg punya visi dan passion di bidang higher education, kiranya dpt mendukung usaha sangat nyata ini, dalam bentuk-bentuk berupa fasilitasi, support kemitraan, lecture activities atau apapun namanya yg lebih riel.
Ini menjadi sharing dan informasi awal bagi kita sekalian, sebelum saya/kami dapat mensharekan secara lebih lengkap tahap-tahap perkembangan yg sedang dilakukan baik di tingkat kebijakan/policy maupun di tingkat implementasinya.
Salam karya kasih nyata,
HMS :-)
Tuesday, November 11, 2008
Start From Reality. Dan Bukan Diri Kita Sendiri Yang Mengucapkannya.
Start from the reality.
From reality to ideal statue.
Realita yg tak dpt kita tolak, sbgmn threads yl terkait, peran DPD dan DPR, masih relatif banyak yg harus dibenahi di bid/pentas politik & state.
Bukan hanya dlm hal posisi peran DPD dalam sistem ketata-negaraan, tapi juga peran fungsi dan moralitas DPR, bahkan juga di tubuh birokrasi pemerintahan kita. Sebagai mana peran Media, TV dan multi media, sikon DPD, DPR dan birokrasi.. ini semua sebenarnya mjd cermin faktual keadaan riel negara dan masyarakat jg di tingkat praksis, yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sabang sampai merauke.
Sebab itulah ekspektasi kita bersama, baik sbg Indonesia maupun sbg kristen warga, mari kita hands-on dgn elemen bangsa lainnya, utk memberi kapasitas penguatan bersama, upaya pembenahan2 dan kritisi yg terukur, agar lembaga2 diatas makin tahun makin betul2 mjd institusi yg terhormat.
Kata "terhormat" bukan saja hanya dlm tataran ucapan atau sapaan diri sendiri, atau kalangan sendiri di lingkungan kelembagaan Terhormat disini, kita artikulasikan kembali, mengandung pengertian:
1. Tidak menjadi tempat/lahan komersialisasi.
2. Tidak menjadi "menara gading".
3. Tidak menjadi ketertutupan sbg sebuah budaya. (transparency lah yg seharusnya mjd kebudayaan baru NKRI ke depan).
4. Tidak menjadi "caucus" utk melakukan pembohongan publik, dan atau rekayasa licik atau "regulatory game" (permainan hukum/undang2/ peraturan) yg dilakukan hanya segilintir orang utk mengelabui/memperda yai kepentingan umum/banyak orang.
5. Last but not least, Tidak lagi menjadi sarang Korupsi/KKN dan suap-menyuap, yg berakhir di kursi pengadilan dan penjara.
Dari ke-5 artikulasi terhadap realita di atas, maka marilah kita di Aliteia turut memperjuangkan bersama ke arah ideal statue, sesuai harapan begitu banyak orang sekarang ini.
Kita ingin mjd bangsa yang terhormat. Masyarakat yang terhormat. Kristen terhormat. Dan bukan diri kita sendiri, bukan Indonesia sendiri, bukan orang kristen sendiri.., yang mengucapkannya.
Salam,
HMS :-)
From reality to ideal statue.
Realita yg tak dpt kita tolak, sbgmn threads yl terkait, peran DPD dan DPR, masih relatif banyak yg harus dibenahi di bid/pentas politik & state.
Bukan hanya dlm hal posisi peran DPD dalam sistem ketata-negaraan, tapi juga peran fungsi dan moralitas DPR, bahkan juga di tubuh birokrasi pemerintahan kita. Sebagai mana peran Media, TV dan multi media, sikon DPD, DPR dan birokrasi.. ini semua sebenarnya mjd cermin faktual keadaan riel negara dan masyarakat jg di tingkat praksis, yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sabang sampai merauke.
Sebab itulah ekspektasi kita bersama, baik sbg Indonesia maupun sbg kristen warga, mari kita hands-on dgn elemen bangsa lainnya, utk memberi kapasitas penguatan bersama, upaya pembenahan2 dan kritisi yg terukur, agar lembaga2 diatas makin tahun makin betul2 mjd institusi yg terhormat.
Kata "terhormat" bukan saja hanya dlm tataran ucapan atau sapaan diri sendiri, atau kalangan sendiri di lingkungan kelembagaan Terhormat disini, kita artikulasikan kembali, mengandung pengertian:
1. Tidak menjadi tempat/lahan komersialisasi.
2. Tidak menjadi "menara gading".
3. Tidak menjadi ketertutupan sbg sebuah budaya. (transparency lah yg seharusnya mjd kebudayaan baru NKRI ke depan).
4. Tidak menjadi "caucus" utk melakukan pembohongan publik, dan atau rekayasa licik atau "regulatory game" (permainan hukum/undang2/ peraturan) yg dilakukan hanya segilintir orang utk mengelabui/memperda yai kepentingan umum/banyak orang.
5. Last but not least, Tidak lagi menjadi sarang Korupsi/KKN dan suap-menyuap, yg berakhir di kursi pengadilan dan penjara.
Dari ke-5 artikulasi terhadap realita di atas, maka marilah kita di Aliteia turut memperjuangkan bersama ke arah ideal statue, sesuai harapan begitu banyak orang sekarang ini.
Kita ingin mjd bangsa yang terhormat. Masyarakat yang terhormat. Kristen terhormat. Dan bukan diri kita sendiri, bukan Indonesia sendiri, bukan orang kristen sendiri.., yang mengucapkannya.
Salam,
HMS :-)
Monday, November 10, 2008
Mari Kita Bersama "Memancar Keluar" (Garami Terangi Bidang/Pentas Politik).
Kita patut bersyukur. Ckp banyak teman-teman di masy Aliteia ini sdg meretas perjuangan baik melalui mell keaktifan di Parpol-Parpol dan sdg berjuang maju sbg Caleg DPR/D, maupun melalui jalur DPD di propinsi2.
Untuk jalur DPD, saya mendengar klu tidak salah ada sekitar 19-21 propinsi dari 33 propinsi (57-63%) terdapat ada 1 orang atau lbh dari 1 org warga masy Kristen/Katolik yang telah masuk dlm bursa pencalonan Anggota DPD (Senator Propinsi) utk Pemilu 2009.
Hal yg perlu disyukuri. Meskipun, harapannya jk boleh di seluruh 33 propinsi seyogianya ada warga masy Kristen/Katolik min. 1 orang masuk sbg calon DPD. Mudah2an mjd doa dan upaya kita, di Pemilu 2014 hal ini dpt direalisasikan! Sebab itu, sy mengencourage teman2 disini yg mgkn punya minat dan passion mjd calon DPD/anggota DPD, boleh mempersiapkan diri sejak sekarang.
Dan khusus berkenaan dgn DPD bds posting yg sy baca dan ikuti minggu ini, sy mengucapkan sekali lagi selamat berjuang kpd bro Rekan Victor Silaen (DPD Prop DKI Jakarta), rekan Hasudungan Limbong (DPD Prop Sumsel) dan rekan Gabarel Sinaga (DPD Prop Sumut). Ada satu lagi, suami dari rekanita kita Dr Indira J Simbolon, yu Bro Sumurung Samosir, juga menjadi calon DPD untuk Prop. Sumatera.
Sebagai leaders/calon Leaders di Pentas Politik, spt di postingan sy sebelumnya sekaitan dgn Pemilu di AS, sy melihat bulan-bulan ini kedepan dan jg waktu2 selanjutnya brngkali akan mjd semacam 'Examination Periods (Periode2 Pengujian)" yg harus dilampaui oleh anda-anda sekalian. Mengutip ungkapan nabi Daniel, pengujian juga berpadu-padan dgn proses purifikasi (Pemurnian) dlm banyak hal (visi, niat, pikiran hati, dll). Reformator Luther mengatakan doa 50% faktor keberhasilan. Sisanya 50% lagi tentu, harus dilakukan dgn upaya, keuletan, team-work dan kerja keras.
Demikian juga harapan sy utk teman2 yg aktif di kepengurusan Parpol dan sbgn besarnya masuk pula dlm bursa pencalonan Aleg DPR/D mendatang. Maka, mgkn tdk berlebihan bila saya berharap bilamana semua rekan2 sy yg ada di masy Aliteia ini, para leaders di berbagai daerah, di jakarta, dan di LN, with your people and networking tentunya, marilah kita dukung sepenuhnya rekan-rekan kita ini dgn apa yg mgkn ada pada kita (terliput 4 D: Doa, Daya, Dana, Dukungan moril, akses, suara, dll)
Inilah mungkin waktunya, harapannya kita scr bersama dpt memancar keluar, outword looking, utk tugas mendukung lebih serius dan lebih total teman-teman kita yg diharap bisa mampu nantinya menggarami dan menerangi pentas politik kenegaraan termasuk berharap di birokrasi juga.
Mengenai hasil finalnya, kita sadari itu mjd urusannya Tuhan. Namun dgn berbagai doa dan upaya kita, kita berharap agar terjadi kemajuan, dampak riel dan transformatif, utk kemajuan Indonesia khususnya fokus kita kali ini di bidang atau pentas politik.
Oh ya, Selamat Hari Pahlawan !!
God bless you all, God restore Indonesia.
Salam, HMS :-)
Untuk jalur DPD, saya mendengar klu tidak salah ada sekitar 19-21 propinsi dari 33 propinsi (57-63%) terdapat ada 1 orang atau lbh dari 1 org warga masy Kristen/Katolik yang telah masuk dlm bursa pencalonan Anggota DPD (Senator Propinsi) utk Pemilu 2009.
Hal yg perlu disyukuri. Meskipun, harapannya jk boleh di seluruh 33 propinsi seyogianya ada warga masy Kristen/Katolik min. 1 orang masuk sbg calon DPD. Mudah2an mjd doa dan upaya kita, di Pemilu 2014 hal ini dpt direalisasikan! Sebab itu, sy mengencourage teman2 disini yg mgkn punya minat dan passion mjd calon DPD/anggota DPD, boleh mempersiapkan diri sejak sekarang.
Dan khusus berkenaan dgn DPD bds posting yg sy baca dan ikuti minggu ini, sy mengucapkan sekali lagi selamat berjuang kpd bro Rekan Victor Silaen (DPD Prop DKI Jakarta), rekan Hasudungan Limbong (DPD Prop Sumsel) dan rekan Gabarel Sinaga (DPD Prop Sumut). Ada satu lagi, suami dari rekanita kita Dr Indira J Simbolon, yu Bro Sumurung Samosir, juga menjadi calon DPD untuk Prop. Sumatera.
Sebagai leaders/calon Leaders di Pentas Politik, spt di postingan sy sebelumnya sekaitan dgn Pemilu di AS, sy melihat bulan-bulan ini kedepan dan jg waktu2 selanjutnya brngkali akan mjd semacam 'Examination Periods (Periode2 Pengujian)" yg harus dilampaui oleh anda-anda sekalian. Mengutip ungkapan nabi Daniel, pengujian juga berpadu-padan dgn proses purifikasi (Pemurnian) dlm banyak hal (visi, niat, pikiran hati, dll). Reformator Luther mengatakan doa 50% faktor keberhasilan. Sisanya 50% lagi tentu, harus dilakukan dgn upaya, keuletan, team-work dan kerja keras.
Demikian juga harapan sy utk teman2 yg aktif di kepengurusan Parpol dan sbgn besarnya masuk pula dlm bursa pencalonan Aleg DPR/D mendatang. Maka, mgkn tdk berlebihan bila saya berharap bilamana semua rekan2 sy yg ada di masy Aliteia ini, para leaders di berbagai daerah, di jakarta, dan di LN, with your people and networking tentunya, marilah kita dukung sepenuhnya rekan-rekan kita ini dgn apa yg mgkn ada pada kita (terliput 4 D: Doa, Daya, Dana, Dukungan moril, akses, suara, dll)
Inilah mungkin waktunya, harapannya kita scr bersama dpt memancar keluar, outword looking, utk tugas mendukung lebih serius dan lebih total teman-teman kita yg diharap bisa mampu nantinya menggarami dan menerangi pentas politik kenegaraan termasuk berharap di birokrasi juga.
Mengenai hasil finalnya, kita sadari itu mjd urusannya Tuhan. Namun dgn berbagai doa dan upaya kita, kita berharap agar terjadi kemajuan, dampak riel dan transformatif, utk kemajuan Indonesia khususnya fokus kita kali ini di bidang atau pentas politik.
Oh ya, Selamat Hari Pahlawan !!
God bless you all, God restore Indonesia.
Salam, HMS :-)
Saturday, November 8, 2008
Seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi.
Ulasan di bawah adalah tanggapan saya seputar Pelayanan Misi Holistik dan Transformasi, dengan Bro Andry Pakan dan Sis Anne di forum milis Aliteia.
Demikian isinnya:
Menarik apa yg anda wacanakan seputar misi holistik kristen dan transformasi. Perkenankan sy ikut menanggapi, line by line khususnya quote dari bro Andry. tks.
Andry Pakan:
Tentang mengurangi wacana di sekitar misi yang holistik atau transformasi yang tidak diikuti langkah konkrit, begini : Saya menggunakan kata "menerobos (keluar dari tembok-2 Kristen)" karena dari pengamatan saya, gereja terlalu berpusat kedalam, walaupun masih berwacana tentang misi.
HMS:
Mungkin ada benarnya, apa yg anda katakan bhw umumya gereja2 dan kekristenan di Indonesia dewasa ini mash ckp banyak yg terlalu berpusat ke dalam (urusan intern belaka). Pola pandang Inward Looking. Istilah bro Harry Borneo, gereja masa kini sibuk dgn urusannya sendiri-sendiri. Ada kesan, ingin maju sendiri-sendiri (tapi apakah benar maju?). Kecendrungan hanya ini berorientasi pd kepentingan kalangan sendiri. Sibuk dgn urusan pembangunan gedung gereja, sibuk hanya dgn hal-hal spiritual sakral saja: ibadah, kebaktian dll menafikan hal-hal yg profan. Sibuk dgn masalah perbedaan2 (a.l doktrin), masalah funding, kesejahteraan pengerja gereja dan masalah "perpecahan2" internal yg sebenarnya mgkn "tidak perlu", dll. Akibatnya, tantangan dan permasalahan yg jauh lebih besar yg dihadapi Gereja dan Kekristenan dewasa ini, utamanya menyangkut eksistensi di tengah masyarakat lokal-nasional, bangsa dan negara, dari Sabang sampai Merauke jadi cendrung terabaikan.
Memang, sejatinya Kekristenan di indonesia, spt Kekristenan mula-mula, harusnya berpikir ke luar, meliat keluar, mengantisipasi keluar. Pola pandang Outward Looking. Dilakukan semustinya dgn derap bersama, alignment, spirit kebersamaan. Istilah yg srg digunakan para misionaris dari luar yg saya kenal: "Harus berpendar keluar, bersinar ke luar, memancar keluar". Ini sebenarnya makna inti Kekristenan/gereja yg misioner.
Memang kalau mau berperan lebih total, harus ada perubahan cara pandang yg mendasar. Perubahan paradigma. Perlu ada gerakan pemahaman kembali, interpretasi kembali arti Misi. Baik secara historis, spt yg disampaikan a.l. oleh David Bosch, maupun pengertian misi dalam pemaknaan lebih kontemporer, dan sesuai konteks lokal, nasional dan global.
Andry Pakan:
Melayani ke pelosok-2 yang penduduknya beragama Kristen, juga disebut misi.
HMS:
Ini menurut sy tidak mjd problem, sepanjang pemahaman kita seluruh penduduk yg telah beragama Kristen, belum sekuat yg kita perkirakan (dalam hal iman, cara pandang misioner, kepemimpinan misi, pemaknaan akan arti persembahan dan atau konsekrasi, dll). Di kalangan gereja Protestan old line churches/main line churches, dikenal istilah Reevanggelisasi. Di kalangan profan entrepreneurship, dikenal istilah Reinventing. Di bidang engineering, dikenal istilah Reengineering.
Pemaknaan Amanat Kristus "Pergilah ke Seluruh Dunia (Mrk 16), Dunia yg dimaksud tidak hanya diartikan Dunia dalam pengertian Geografis, tapi juga dpt diartikan dlm 3pengertian berikut:
(1) Dunia dalam pengertian dunia Profesi.
(2) Dunia dalam pengertian dunia Domain/Spheres Kehidupan (Spiritual, Sosial, Politik, Tradisi Budaya, Pendidikan, Ekonomi, Riset, Media, dst, dan
(3) Dunia dlm pengertian Dunia gereja Masa lalu, gereja Masa kini dan gereja Masa yg akan datang, sesuai dgn zeitgeist atau garis waktu/garis jaman.
Istilah kata Misi (Mission) di masa kini, pun pula Misi Holistik (Whollistic Mission/Holistic Mission) juga nampaknya tidak lagi mjd klaim sepenuhnya milik orang Kristen, dunia Kristen atau Gereja (walau berawal sejarah dari histori dunia Kekristenan, ingat istilah Missio-Dei). Namun, telah menjadi pemaknaan Universal. Seluruh dunia, seluruh lembaga sekuler, seluruh agama dan kepercayaan, dan organisasi (Negara, Bisnis, LSM, Parpol, lembaga Pelayanan Agama: Kristen, Hindu, Budha, dan sebagian Islam dlsb) sekarang memakai istilah Misi dan Holistic Mission ini, terutama dlm pengungkapannya Visi Misi Beliefs Platform Strategi organisasinya. Jadi kita memaknai arti Misi dan Misi Holistik itu dlm konteks sekarang, harus dlm view yg lebih luas, tidak terll sempit memaknainya.
Andry Pakan:
Sepengatahuan saya, implementasi misi holistik yang sering diwacanakan di gereja/para gereja belumlah memuaskan. Karakteristik masyarakat Nusantara yang sudah begitu banyak berubah tidak mendapat perhatian yang seyogianya patut mendapat perhatian untuk menyesuaikan pola & strategi misi yang tepat. Dulu, masyrakat/suku- 2didominisai oleh pandangan animisme & Hindu, sekarang Islam.
HMS:
Sependapat dgn hal ini. Jika memakai konteks abad 18-19 benar, dulu animisme & Hindu, sekarang Islam. Utk konteks abad ke-21, mmg tidak dpt dipukul rata demikian. Utk daerah2 mayoritas Kristen, konfigurasinya adalah Kristen yg mgkn perlu dilakukan pembangunan paradigma, cara pandang dan mindset Misi yg perlu direformasi terus menerus (Ecclesia reformata semper reformanda est secundu Verbum Dei?” (”the reformed Church must be always reforming according to the God's Words"). Berikutnya di daerah mayoritas Kristen masih ckp banyak dijumpai eksis suku2 terabaikan di dalamnya, dan kelp2 masy yg mengalami smacam "shock budaya" akibat pergeseran drastis dari budaya lokal pra modern langsung menuju budaya postmodern (tanpa sentuhan modernisasi terlalu intens), akibat perkembangan teknologi informasi dan globalisasi yg demikian cepat. Dan terakhir tantangan atau rambahan misi dakwah dan syiar Islam. Pola strategi dan misi di tempat ini mmg mjd unik dan berbeda. Lain halnya dengan pola strategi dan misi di daerah-daerah yang jelas2 mayoritas penduduknya Islam. Keduanya, spt yg telah disampaikan sis Anne, mjd sama penting utk dilakukan.
Belum lagi, utk pola dan strategi misi ke Luar Negeri, utk pemenuhan Amanat Kristus pergi ke seluruh dunia, dunia dalam pengertian geografis... Cepat atau lambat hal ini pun harus dilakukan Kekristenan dan Gereja. Melakukan tugas misi ke Afrika misalnya, Timur Tengah, Israel, Asia Tengah, Pakistan, India, RRC, Korut, Jepang, Asia Timur lainnya, Oceania, Amerika Latin bahkan ke Eropa dan Amerika. Semua mjd tugas sama penting utk dijalankan Kekristenan Indonesia, baik di masa kini maupun di masa-masa yad.
Andry Pakan:
Dulu, para misionaris sebelum datang ke Nusantara melakukan persiapan-2 yang matang dengan mempelajari karakteristik masyarakat animist, Hindu. Misal, dalam hal penguasaan bahasa, adat/budaya dan berbagai hal yang spesifik dari suatu suku. Sekarang, berapa banyak gereja dan para gereja mempelajari Islam dan karakteristik masyarakat islami? Berapa banyak gereja yang mengajak jemaatnya untuk mengenal ajaran Islam sebagai bekal untuk berinteraksi setiap hari?. Mengucapkan 'assalamualaikum' saja kita alergi bukan? Akibatnya, tidak banyak jiwa-jiwa baru yang dituai oleh gereja-2. Gereja atau para gereja yang patut dinilai melakukan misi dalam arti yang sebenarnya dapat dibuktikan oleh adanya anggota baru usia dewasa yang sebelumnya non Kristen di gereja tsb yang menjadi anggota bukan karena menikah dengan anggota gereja tsb. Tanpa kehadiran orang-orang yang demikian, pada dasarnya gereja tsb tidak melakukan misi, walaupun setiap tahun malaksanakan program 'bulan misi', 'pelatihan tenaga misi', dlsb.
HMS:
Menurut saya, bila Kekristenan warga masy Krsiten di Indonesia ingin "powerful" dalam kesaksian dan misinya, sudah harus membagi diri, menurut visi, beban, potensi, karunia, resources, natur passionate yg ada pada mereka masing-masing. Bersiap utk pergi ke Dunia, baik dlm pengertian Geografis, Profesi, Spheres maupun ekspektasi Gereja masa Kini ke prospek Gereja masa datang.
Mana dari umat Kristen yg harus diperlengkapi (to be equipped), harus menyiapkan diri di dalam pola strategi dan misi ke-3 bagian, yakni "terjun" dlm kesaksian dan pelayanan di:
(1) Daerah-daerah mayoritas Kristen utk misi perkuatan "kembali", continually reforming gereja2 kekristenan scr integratif-holistik,
(2) Daerah-daerah mayoritas Islam utk misi membangun jembatan komunikasi dan kedekatan serta Kabar Baik, dan
(3) Daerah-daerah di Luar Negeri - Misi antar Bangsa antar Negara, utk memenuhi misi pencapaian sampai ke Ujung-Ujung Bumi, sebelum Tuhan datang kembali. Ini harus menjadi "Visi Besar" dan sekaligus "Misi Besar" yg harus disiapkan semua Gereja2.. Kekristen di Indonesia sejak masa sekarang.
Andry Pakan:
Seandainya dilakukan riset yang memadai tentang urgensi misi bagi gereja-2 dan aktivitas misi gereja-2 di Indonesia, mungkin hasilnya memprihatinkan. Seorang kawan yang mengkhususkan dirinya melakukan PI pribadi ke masy. Muslim Sunda mengalami dua kali penolakan dari gereja. Yang pertama, ketika dia membawa beberapa petobat baru ke gereja dimana dia menjadi anggota, gereja tsb menolak menerima petobat-2 baru tsb. Kemudian dia ke gereja yang lain dalam wilayah yang sama, dia juga mengalami penolakan. Mengapa gereja-2 tsb menolak? Takut, takut terhadap reaksi masy. setempat, inilah tipikal gereja yang tidak peduli terhadap misi dan tipikal gereja yang cari aman.
HMS:
Seperti yg telah saya sampaikan diatas, menjadi sangat urgen upaya pembalikan paradigma, transformasi mindset. Dan ini butuh upaya memperlengkapi scr lebih seksama terutama dlm hal Pola pandang Outword Looking dan Kepemimpinan Misi. Tentu harus disertai dgn contoh-contoh dan keteladanan.
Andry Pakan:
Kemudian, lihatlah HKBP, gereja suku dan gereja terbesar di Asia (?), berapa orang sih anggota HKBP di seluruh dunia yang non Batak dan/atau yang ex non Kristen?. Demikian juga dengan gereja suku yang lain, seperti gereja Toraja. Pengaruh adat dalam kehidupan sehari-hari dari anggota-2 kedua gereja tsb masih cukup kental bahkan dominan. Sejarahwan kondang dari UI, Dr. Ong Hok Ham (salah eja?) alm, mengungkapkan keheranannya terhadap orang-orang Batak di perantauan. Dari pengamatannya dia berkesimpulan, orang-2 Batak (pria & wanita) adalah tipikal pekerja keras dalam profesi apapun. Tetapi, mengapa tidak banyak yang kaya (hidup pas-pas an), dikemanakan penghasilan yang pasti jauh melebihi kebutuhan hidup sehari-hari? . Dr. Ong menjawab : "high culture cost". Seandainya Dr. Ong melakukan riset di masyarakat Toraja yang 90% lebih penduduknya beragama Kristen, dia akan menemukan hal yang sama, ongkos budaya telah menguras harta benda yang dengan susah payah dikumpulkan.
Dari sini saya berkesimpulan, misi yang holistik yang berakibat kepada terjadinya transformasi secara utuh kehidupan orang-2 yang dilayani tidak berhasil sepenuhnya dilakukan oleh para misionaris yang ke Tapanuli dan yang ke Toraja. Walaupun tidak sedikit sekolah-2 yang dibuka oleh para misionaris sebagai implementasi misi yang holistik, dan sekolah-2 tsb telah sangat berjasa dalam mencerdaskan warga kedua suku tsb , tetapi semua pelayanan tsb belum dapat membuat orang Batak dan Toraja yang Kristen melepaskan diri dari dominasi adat istiadat. Kalau Toraja yang usia Kristennya jauh lebih muda dibanding Batak, mungkin masih bisa berdalih, "kami kan belum terlalu lama menjadi orang Kristen, beda dengan gereja-2 Batak yang sudah lebih 100 th. menerima Injil." Tapi, kalau meperhatikan apa yang ada dalam gereja Toraja sekarang, sampai Tuhan Yesus datang pun tetap saja adat mendominasi kehidupan jemaat. Mengapa? Tidak /belum ada terobosan (salah satunya semacam fatwa) dari institusi gereja yang patut diperhitungkan dapat "menggiring" jemaat hidup secara Kristen yang utuh.Ada beberapa anggota gereja Toraja yang melakukan terobosan secara pribadi dengan menititp pesan kepada anak-2nya agar supaya kalau dia meninggal pemakamannya tidak dilakukan berdasarkan aturan-2adat yang salah satunya harus mengorbankan puluhan ekor kerbau dan babi.
HMS:
Ini menjadi tugas bersama kita Warga Masy Kristen tmsk Aliteia, bukan hanya jadi tugas pengerja atau petinggi HKBP dan Gereja Toraja utk terus menerus Reforming, transformasi mindset. Kita harus melihatnya ini sbg tantangan yg positif bagi kemajuan bersama, bukan sbg aspek kelemahan yg negatif. Apa yg diungkap oleh Ong Hok Ham, mungkin ada benarnya sbg high culture cost, tapi juga saya melihat tidak sepenuhnya benar. Nilai-nilai budaya lokal, kearifan lokal, tidak seluruhnya keliru.
Ukuran nilai Kebudayaan (Culture), tidak serta merta "apple to apple" utk diperbandingkan dgn nilai cost atau high cost dalam prinsip Ekonomi. Ong meliatnya dari segi Ekonomi. Jika orang Budaya disuru meliat pola behavior komunitas Ekonomi/pebisnis, juga akan mengatakan mereka ini minim budaya, miskin nilai-nilai Keutamaan kultur. Sama saja. Lebih baik kita meliat segi positif hubungan antara Sosial-Ekonomi dan Budaya. Demikian juga sebaliknya.
Andry Pakan:
Berbicara tentang misi yang holistik, terhadap petobat-2 baru sekarang ini perlu sekali diperhatikan hidupnya. Kita ketahui bahwa kalau seorang Islam meninggalkan agamanya, dia akan dikucilkan, bahkan tidak sedikit yang dikejar-kejar dan diancam dibunuh. Misi yang holistik juga hemat saya, tidak harus dimulai dengan pemberitaan Injil secara verbal terlebih dahulu, tetapi mungkin pelayanan lain yang menyangkut kehidupan sehari-hari dari objek yang dilayani. Bisa berupa pelayanan kesehatan, pemberdayaan kehidupan ekonomi masyarakat, pendidikan , dlsb. Kemudian, pada saat yang tepat, Injil yang diberitakan harus menyentuh/mempengar uhi seluruh aspek hidup orang-orang yang dilayani, termasuk kebiasaan-2 yang dianggap baik sebagai wujud ketaatan kepada leluhur (adat istiadat yang tidak sesuai dengan prinsip-2 Alkitab). Kalau ini terjadi barulah dapat dikatakan Injil telah mentransformasi secara utuh kehidupan seseorang.
HMS:
Secara historis, apa yg bro sampaikan ini sudah mulai ckp banyak disadari dan mulai dilakukan oleh ckp banyak kalangan Kristen. Saya dan bersama-sama dengan teman-teman lain (ada sebagian di milis ini), sdh menyadari sejak kami lulus dari perguruan tinggi di masa lalu. Sebab itu kami katakan, bentuk kongkrit sangat kongkrit, holistik mission atau apapun namanya (christian resource center, dsjnsnya) ini, sbg "A Tribute for The Nation".
Di beberapa majalah, tmsk majalah DIA Pkts, di edisi-edisi tahun 1986-1987 saya sdh ungkapkan dan presentasikan panjang lebar mengenai Pola Pewartaan yang Membangun Jembatan Komunikasi dan Kedekatan trtm dgn saudara-saudara2 kita yg berlainan agama. Berikut hasil-hasil yg bisa dicapai. Spt contoh pengalaman di daerah2 pelayanan Bugis Makassar Selayar dan Mandar (mayoritas Islam dan sinkretis Mukdi Akbar), di Bali (mayoritas Hindu), di Bengkulu (mayoritas Islam), di Sulawesi bagian Timur (utk daerah2 mayoritas Islam), dll. Upaya program Entrepreneurship sosial, UKM, microfinance, Comm. Dev (kesehatan, pendidikan), Pertanian, dll boleh disebut sbg Pre Evangelism utk menyuburkan tanah-tanah bagi upaya tabur benih Kabar Baik. Membangun jembatan, membangun relasi, membangun kedekatan dgn umat yang berbeda keyakinan Agama. Hasil-hasil di beberapa daerah ini dan banyak daerah lainnya, saya kira, telah menunjukkan hasil yang ckp baik. Tentu perlu ditingkatkan lagi utk tantangan2 hari ini dan masa yad.
Maka, ini mjd tugas kita bersama, agar bilamana dari rekan2 Kristiani kita di manapun, belum menyadari akan tantangan yg sdg kita hadapi sekarang, belum menyadari akan signifikansi penting..esensi dari Misi, Misi Holistik dan Transformasi, mulai saat ini dapat lebih terbuka bagi suatu perubahan dan kemajuan bersama. Sekali lagi ini menjadi tugas kita bersama! Kiranya Tuhan akan terus menyertai dan memimpin kita menjadi Orang Kristen, warga gereja, warga Masy Kristen yang Misioner.
Salam HMS :-)
Demikian isinnya:
Menarik apa yg anda wacanakan seputar misi holistik kristen dan transformasi. Perkenankan sy ikut menanggapi, line by line khususnya quote dari bro Andry. tks.
Andry Pakan:
Tentang mengurangi wacana di sekitar misi yang holistik atau transformasi yang tidak diikuti langkah konkrit, begini : Saya menggunakan kata "menerobos (keluar dari tembok-2 Kristen)" karena dari pengamatan saya, gereja terlalu berpusat kedalam, walaupun masih berwacana tentang misi.
HMS:
Mungkin ada benarnya, apa yg anda katakan bhw umumya gereja2 dan kekristenan di Indonesia dewasa ini mash ckp banyak yg terlalu berpusat ke dalam (urusan intern belaka). Pola pandang Inward Looking. Istilah bro Harry Borneo, gereja masa kini sibuk dgn urusannya sendiri-sendiri. Ada kesan, ingin maju sendiri-sendiri (tapi apakah benar maju?). Kecendrungan hanya ini berorientasi pd kepentingan kalangan sendiri. Sibuk dgn urusan pembangunan gedung gereja, sibuk hanya dgn hal-hal spiritual sakral saja: ibadah, kebaktian dll menafikan hal-hal yg profan. Sibuk dgn masalah perbedaan2 (a.l doktrin), masalah funding, kesejahteraan pengerja gereja dan masalah "perpecahan2" internal yg sebenarnya mgkn "tidak perlu", dll. Akibatnya, tantangan dan permasalahan yg jauh lebih besar yg dihadapi Gereja dan Kekristenan dewasa ini, utamanya menyangkut eksistensi di tengah masyarakat lokal-nasional, bangsa dan negara, dari Sabang sampai Merauke jadi cendrung terabaikan.
Memang, sejatinya Kekristenan di indonesia, spt Kekristenan mula-mula, harusnya berpikir ke luar, meliat keluar, mengantisipasi keluar. Pola pandang Outward Looking. Dilakukan semustinya dgn derap bersama, alignment, spirit kebersamaan. Istilah yg srg digunakan para misionaris dari luar yg saya kenal: "Harus berpendar keluar, bersinar ke luar, memancar keluar". Ini sebenarnya makna inti Kekristenan/gereja yg misioner.
Memang kalau mau berperan lebih total, harus ada perubahan cara pandang yg mendasar. Perubahan paradigma. Perlu ada gerakan pemahaman kembali, interpretasi kembali arti Misi. Baik secara historis, spt yg disampaikan a.l. oleh David Bosch, maupun pengertian misi dalam pemaknaan lebih kontemporer, dan sesuai konteks lokal, nasional dan global.
Andry Pakan:
Melayani ke pelosok-2 yang penduduknya beragama Kristen, juga disebut misi.
HMS:
Ini menurut sy tidak mjd problem, sepanjang pemahaman kita seluruh penduduk yg telah beragama Kristen, belum sekuat yg kita perkirakan (dalam hal iman, cara pandang misioner, kepemimpinan misi, pemaknaan akan arti persembahan dan atau konsekrasi, dll). Di kalangan gereja Protestan old line churches/main line churches, dikenal istilah Reevanggelisasi. Di kalangan profan entrepreneurship, dikenal istilah Reinventing. Di bidang engineering, dikenal istilah Reengineering.
Pemaknaan Amanat Kristus "Pergilah ke Seluruh Dunia (Mrk 16), Dunia yg dimaksud tidak hanya diartikan Dunia dalam pengertian Geografis, tapi juga dpt diartikan dlm 3pengertian berikut:
(1) Dunia dalam pengertian dunia Profesi.
(2) Dunia dalam pengertian dunia Domain/Spheres Kehidupan (Spiritual, Sosial, Politik, Tradisi Budaya, Pendidikan, Ekonomi, Riset, Media, dst, dan
(3) Dunia dlm pengertian Dunia gereja Masa lalu, gereja Masa kini dan gereja Masa yg akan datang, sesuai dgn zeitgeist atau garis waktu/garis jaman.
Istilah kata Misi (Mission) di masa kini, pun pula Misi Holistik (Whollistic Mission/Holistic Mission) juga nampaknya tidak lagi mjd klaim sepenuhnya milik orang Kristen, dunia Kristen atau Gereja (walau berawal sejarah dari histori dunia Kekristenan, ingat istilah Missio-Dei). Namun, telah menjadi pemaknaan Universal. Seluruh dunia, seluruh lembaga sekuler, seluruh agama dan kepercayaan, dan organisasi (Negara, Bisnis, LSM, Parpol, lembaga Pelayanan Agama: Kristen, Hindu, Budha, dan sebagian Islam dlsb) sekarang memakai istilah Misi dan Holistic Mission ini, terutama dlm pengungkapannya Visi Misi Beliefs Platform Strategi organisasinya. Jadi kita memaknai arti Misi dan Misi Holistik itu dlm konteks sekarang, harus dlm view yg lebih luas, tidak terll sempit memaknainya.
Andry Pakan:
Sepengatahuan saya, implementasi misi holistik yang sering diwacanakan di gereja/para gereja belumlah memuaskan. Karakteristik masyarakat Nusantara yang sudah begitu banyak berubah tidak mendapat perhatian yang seyogianya patut mendapat perhatian untuk menyesuaikan pola & strategi misi yang tepat. Dulu, masyrakat/suku- 2didominisai oleh pandangan animisme & Hindu, sekarang Islam.
HMS:
Sependapat dgn hal ini. Jika memakai konteks abad 18-19 benar, dulu animisme & Hindu, sekarang Islam. Utk konteks abad ke-21, mmg tidak dpt dipukul rata demikian. Utk daerah2 mayoritas Kristen, konfigurasinya adalah Kristen yg mgkn perlu dilakukan pembangunan paradigma, cara pandang dan mindset Misi yg perlu direformasi terus menerus (Ecclesia reformata semper reformanda est secundu Verbum Dei?” (”the reformed Church must be always reforming according to the God's Words"). Berikutnya di daerah mayoritas Kristen masih ckp banyak dijumpai eksis suku2 terabaikan di dalamnya, dan kelp2 masy yg mengalami smacam "shock budaya" akibat pergeseran drastis dari budaya lokal pra modern langsung menuju budaya postmodern (tanpa sentuhan modernisasi terlalu intens), akibat perkembangan teknologi informasi dan globalisasi yg demikian cepat. Dan terakhir tantangan atau rambahan misi dakwah dan syiar Islam. Pola strategi dan misi di tempat ini mmg mjd unik dan berbeda. Lain halnya dengan pola strategi dan misi di daerah-daerah yang jelas2 mayoritas penduduknya Islam. Keduanya, spt yg telah disampaikan sis Anne, mjd sama penting utk dilakukan.
Belum lagi, utk pola dan strategi misi ke Luar Negeri, utk pemenuhan Amanat Kristus pergi ke seluruh dunia, dunia dalam pengertian geografis... Cepat atau lambat hal ini pun harus dilakukan Kekristenan dan Gereja. Melakukan tugas misi ke Afrika misalnya, Timur Tengah, Israel, Asia Tengah, Pakistan, India, RRC, Korut, Jepang, Asia Timur lainnya, Oceania, Amerika Latin bahkan ke Eropa dan Amerika. Semua mjd tugas sama penting utk dijalankan Kekristenan Indonesia, baik di masa kini maupun di masa-masa yad.
Andry Pakan:
Dulu, para misionaris sebelum datang ke Nusantara melakukan persiapan-2 yang matang dengan mempelajari karakteristik masyarakat animist, Hindu. Misal, dalam hal penguasaan bahasa, adat/budaya dan berbagai hal yang spesifik dari suatu suku. Sekarang, berapa banyak gereja dan para gereja mempelajari Islam dan karakteristik masyarakat islami? Berapa banyak gereja yang mengajak jemaatnya untuk mengenal ajaran Islam sebagai bekal untuk berinteraksi setiap hari?. Mengucapkan 'assalamualaikum' saja kita alergi bukan? Akibatnya, tidak banyak jiwa-jiwa baru yang dituai oleh gereja-2. Gereja atau para gereja yang patut dinilai melakukan misi dalam arti yang sebenarnya dapat dibuktikan oleh adanya anggota baru usia dewasa yang sebelumnya non Kristen di gereja tsb yang menjadi anggota bukan karena menikah dengan anggota gereja tsb. Tanpa kehadiran orang-orang yang demikian, pada dasarnya gereja tsb tidak melakukan misi, walaupun setiap tahun malaksanakan program 'bulan misi', 'pelatihan tenaga misi', dlsb.
HMS:
Menurut saya, bila Kekristenan warga masy Krsiten di Indonesia ingin "powerful" dalam kesaksian dan misinya, sudah harus membagi diri, menurut visi, beban, potensi, karunia, resources, natur passionate yg ada pada mereka masing-masing. Bersiap utk pergi ke Dunia, baik dlm pengertian Geografis, Profesi, Spheres maupun ekspektasi Gereja masa Kini ke prospek Gereja masa datang.
Mana dari umat Kristen yg harus diperlengkapi (to be equipped), harus menyiapkan diri di dalam pola strategi dan misi ke-3 bagian, yakni "terjun" dlm kesaksian dan pelayanan di:
(1) Daerah-daerah mayoritas Kristen utk misi perkuatan "kembali", continually reforming gereja2 kekristenan scr integratif-holistik,
(2) Daerah-daerah mayoritas Islam utk misi membangun jembatan komunikasi dan kedekatan serta Kabar Baik, dan
(3) Daerah-daerah di Luar Negeri - Misi antar Bangsa antar Negara, utk memenuhi misi pencapaian sampai ke Ujung-Ujung Bumi, sebelum Tuhan datang kembali. Ini harus menjadi "Visi Besar" dan sekaligus "Misi Besar" yg harus disiapkan semua Gereja2.. Kekristen di Indonesia sejak masa sekarang.
Andry Pakan:
Seandainya dilakukan riset yang memadai tentang urgensi misi bagi gereja-2 dan aktivitas misi gereja-2 di Indonesia, mungkin hasilnya memprihatinkan. Seorang kawan yang mengkhususkan dirinya melakukan PI pribadi ke masy. Muslim Sunda mengalami dua kali penolakan dari gereja. Yang pertama, ketika dia membawa beberapa petobat baru ke gereja dimana dia menjadi anggota, gereja tsb menolak menerima petobat-2 baru tsb. Kemudian dia ke gereja yang lain dalam wilayah yang sama, dia juga mengalami penolakan. Mengapa gereja-2 tsb menolak? Takut, takut terhadap reaksi masy. setempat, inilah tipikal gereja yang tidak peduli terhadap misi dan tipikal gereja yang cari aman.
HMS:
Seperti yg telah saya sampaikan diatas, menjadi sangat urgen upaya pembalikan paradigma, transformasi mindset. Dan ini butuh upaya memperlengkapi scr lebih seksama terutama dlm hal Pola pandang Outword Looking dan Kepemimpinan Misi. Tentu harus disertai dgn contoh-contoh dan keteladanan.
Andry Pakan:
Kemudian, lihatlah HKBP, gereja suku dan gereja terbesar di Asia (?), berapa orang sih anggota HKBP di seluruh dunia yang non Batak dan/atau yang ex non Kristen?. Demikian juga dengan gereja suku yang lain, seperti gereja Toraja. Pengaruh adat dalam kehidupan sehari-hari dari anggota-2 kedua gereja tsb masih cukup kental bahkan dominan. Sejarahwan kondang dari UI, Dr. Ong Hok Ham (salah eja?) alm, mengungkapkan keheranannya terhadap orang-orang Batak di perantauan. Dari pengamatannya dia berkesimpulan, orang-2 Batak (pria & wanita) adalah tipikal pekerja keras dalam profesi apapun. Tetapi, mengapa tidak banyak yang kaya (hidup pas-pas an), dikemanakan penghasilan yang pasti jauh melebihi kebutuhan hidup sehari-hari? . Dr. Ong menjawab : "high culture cost". Seandainya Dr. Ong melakukan riset di masyarakat Toraja yang 90% lebih penduduknya beragama Kristen, dia akan menemukan hal yang sama, ongkos budaya telah menguras harta benda yang dengan susah payah dikumpulkan.
Dari sini saya berkesimpulan, misi yang holistik yang berakibat kepada terjadinya transformasi secara utuh kehidupan orang-2 yang dilayani tidak berhasil sepenuhnya dilakukan oleh para misionaris yang ke Tapanuli dan yang ke Toraja. Walaupun tidak sedikit sekolah-2 yang dibuka oleh para misionaris sebagai implementasi misi yang holistik, dan sekolah-2 tsb telah sangat berjasa dalam mencerdaskan warga kedua suku tsb , tetapi semua pelayanan tsb belum dapat membuat orang Batak dan Toraja yang Kristen melepaskan diri dari dominasi adat istiadat. Kalau Toraja yang usia Kristennya jauh lebih muda dibanding Batak, mungkin masih bisa berdalih, "kami kan belum terlalu lama menjadi orang Kristen, beda dengan gereja-2 Batak yang sudah lebih 100 th. menerima Injil." Tapi, kalau meperhatikan apa yang ada dalam gereja Toraja sekarang, sampai Tuhan Yesus datang pun tetap saja adat mendominasi kehidupan jemaat. Mengapa? Tidak /belum ada terobosan (salah satunya semacam fatwa) dari institusi gereja yang patut diperhitungkan dapat "menggiring" jemaat hidup secara Kristen yang utuh.Ada beberapa anggota gereja Toraja yang melakukan terobosan secara pribadi dengan menititp pesan kepada anak-2nya agar supaya kalau dia meninggal pemakamannya tidak dilakukan berdasarkan aturan-2adat yang salah satunya harus mengorbankan puluhan ekor kerbau dan babi.
HMS:
Ini menjadi tugas bersama kita Warga Masy Kristen tmsk Aliteia, bukan hanya jadi tugas pengerja atau petinggi HKBP dan Gereja Toraja utk terus menerus Reforming, transformasi mindset. Kita harus melihatnya ini sbg tantangan yg positif bagi kemajuan bersama, bukan sbg aspek kelemahan yg negatif. Apa yg diungkap oleh Ong Hok Ham, mungkin ada benarnya sbg high culture cost, tapi juga saya melihat tidak sepenuhnya benar. Nilai-nilai budaya lokal, kearifan lokal, tidak seluruhnya keliru.
Ukuran nilai Kebudayaan (Culture), tidak serta merta "apple to apple" utk diperbandingkan dgn nilai cost atau high cost dalam prinsip Ekonomi. Ong meliatnya dari segi Ekonomi. Jika orang Budaya disuru meliat pola behavior komunitas Ekonomi/pebisnis, juga akan mengatakan mereka ini minim budaya, miskin nilai-nilai Keutamaan kultur. Sama saja. Lebih baik kita meliat segi positif hubungan antara Sosial-Ekonomi dan Budaya. Demikian juga sebaliknya.
Andry Pakan:
Berbicara tentang misi yang holistik, terhadap petobat-2 baru sekarang ini perlu sekali diperhatikan hidupnya. Kita ketahui bahwa kalau seorang Islam meninggalkan agamanya, dia akan dikucilkan, bahkan tidak sedikit yang dikejar-kejar dan diancam dibunuh. Misi yang holistik juga hemat saya, tidak harus dimulai dengan pemberitaan Injil secara verbal terlebih dahulu, tetapi mungkin pelayanan lain yang menyangkut kehidupan sehari-hari dari objek yang dilayani. Bisa berupa pelayanan kesehatan, pemberdayaan kehidupan ekonomi masyarakat, pendidikan , dlsb. Kemudian, pada saat yang tepat, Injil yang diberitakan harus menyentuh/mempengar uhi seluruh aspek hidup orang-orang yang dilayani, termasuk kebiasaan-2 yang dianggap baik sebagai wujud ketaatan kepada leluhur (adat istiadat yang tidak sesuai dengan prinsip-2 Alkitab). Kalau ini terjadi barulah dapat dikatakan Injil telah mentransformasi secara utuh kehidupan seseorang.
HMS:
Secara historis, apa yg bro sampaikan ini sudah mulai ckp banyak disadari dan mulai dilakukan oleh ckp banyak kalangan Kristen. Saya dan bersama-sama dengan teman-teman lain (ada sebagian di milis ini), sdh menyadari sejak kami lulus dari perguruan tinggi di masa lalu. Sebab itu kami katakan, bentuk kongkrit sangat kongkrit, holistik mission atau apapun namanya (christian resource center, dsjnsnya) ini, sbg "A Tribute for The Nation".
Di beberapa majalah, tmsk majalah DIA Pkts, di edisi-edisi tahun 1986-1987 saya sdh ungkapkan dan presentasikan panjang lebar mengenai Pola Pewartaan yang Membangun Jembatan Komunikasi dan Kedekatan trtm dgn saudara-saudara2 kita yg berlainan agama. Berikut hasil-hasil yg bisa dicapai. Spt contoh pengalaman di daerah2 pelayanan Bugis Makassar Selayar dan Mandar (mayoritas Islam dan sinkretis Mukdi Akbar), di Bali (mayoritas Hindu), di Bengkulu (mayoritas Islam), di Sulawesi bagian Timur (utk daerah2 mayoritas Islam), dll. Upaya program Entrepreneurship sosial, UKM, microfinance, Comm. Dev (kesehatan, pendidikan), Pertanian, dll boleh disebut sbg Pre Evangelism utk menyuburkan tanah-tanah bagi upaya tabur benih Kabar Baik. Membangun jembatan, membangun relasi, membangun kedekatan dgn umat yang berbeda keyakinan Agama. Hasil-hasil di beberapa daerah ini dan banyak daerah lainnya, saya kira, telah menunjukkan hasil yang ckp baik. Tentu perlu ditingkatkan lagi utk tantangan2 hari ini dan masa yad.
Maka, ini mjd tugas kita bersama, agar bilamana dari rekan2 Kristiani kita di manapun, belum menyadari akan tantangan yg sdg kita hadapi sekarang, belum menyadari akan signifikansi penting..esensi dari Misi, Misi Holistik dan Transformasi, mulai saat ini dapat lebih terbuka bagi suatu perubahan dan kemajuan bersama. Sekali lagi ini menjadi tugas kita bersama! Kiranya Tuhan akan terus menyertai dan memimpin kita menjadi Orang Kristen, warga gereja, warga Masy Kristen yang Misioner.
Salam HMS :-)
Tuesday, November 4, 2008
Periode Pengujian Kepemimpinan Sedang Ditapaki.
Dear sahabat,
Saya baru pulang dua hari lalu lewat penugasan El-Trinitas Ministry dari kamp Kepemimpinan Gereja (Christian Leadership), dengan mengambil lokasi di Cibodas Bogor Jawa Barat.
Inti yg saya sampaikan, adalah Kepimpinan dlm masa sekarang, memasuki periode pengujian (examination periods) baik utk ranah Kekristenan maupun ranah Dunia.
Obama telah terpilih. McCain menanggapi kemenangan Obama dalam pidatonya, saya nilai luar biasa. Patut dicontoh oleh seluruh leaders dan calon leaders di negeri ini. Juga Obama. Tidak pongah. Dalam postingan sy sebelumnya, saya mencoba melontarkan evaluasi preferensi thd keduanya, terutama dlm 3 hal: kebenaran, etika dan manfaat kebaikan.
Bagi Amerika, bagi dunia, bagi Indonesia, apa yang dikemukakan keduanya menyangkut kebenaran dan etika, terasa masih dpt diperdebatkan. Khusus soal isu menyangkut etika, mmg sy melihat ada perbedaan evaluasi kritis.
Soal aborsi dan sex same marriage, McCain meninjaunya dari segi etika, sdg Obama lebih kepada pragmatisme politik utk menarik suara. Khusus untuk tema aborsi, spt halnya dgn isu lainnya spt hukuman mati, euthanasia dsjsnya, dari segi Etika Kristen, di kalangan Kristen tms para teolog sendiri mmg faktualnya pendapat terbelah: ada yg Pro-Life dan ada pula yang Pro-Choice. Semua sama-sama punya alasan, yg ckp panjang utk dibahas di forum ini.
Kemenangan Obama saya evaluasi bukan dlm hal 2 hal pertama, kebenaran dan etika. Tapi justru dalam aspek manfaat kebaikan. Mayoritas Americans, dan juga mgkn dunia, punya ekspektasi manfaat kebaikan yg diperoleh bila vote Obama akan lebih besar dibandingkan vote McCain. Itu saja. Mengenai ekspektasi manfaat kebaikan itu akan mampu direalisasikan oleh Obama, waktulah yang akan menilai dan mengujinya. Yg terpenting adalah periode pengujian berikutnya.
Bagaimanapun, rasa salut kita harus kita berikan kpd keduanya: Obama dan McCain, dan yg paling terutama adalah kpd bangsa Amerika, yang telah memberi pelajaran berharga bagi kita. Keputusan pilihan yg saya nilai ckp berani telah ditunjukkan bangsa Amerika dlm memilih pemimpinnya. Ya, pada masa sekarang dan ke depan ini, periode pengujian kepemimpinan (examination periods) bagi leaders dan calon2 leaders, sdg ditapaki.
Salam, HMS :-)
Saya baru pulang dua hari lalu lewat penugasan El-Trinitas Ministry dari kamp Kepemimpinan Gereja (Christian Leadership), dengan mengambil lokasi di Cibodas Bogor Jawa Barat.
Inti yg saya sampaikan, adalah Kepimpinan dlm masa sekarang, memasuki periode pengujian (examination periods) baik utk ranah Kekristenan maupun ranah Dunia.
Obama telah terpilih. McCain menanggapi kemenangan Obama dalam pidatonya, saya nilai luar biasa. Patut dicontoh oleh seluruh leaders dan calon leaders di negeri ini. Juga Obama. Tidak pongah. Dalam postingan sy sebelumnya, saya mencoba melontarkan evaluasi preferensi thd keduanya, terutama dlm 3 hal: kebenaran, etika dan manfaat kebaikan.
Bagi Amerika, bagi dunia, bagi Indonesia, apa yang dikemukakan keduanya menyangkut kebenaran dan etika, terasa masih dpt diperdebatkan. Khusus soal isu menyangkut etika, mmg sy melihat ada perbedaan evaluasi kritis.
Soal aborsi dan sex same marriage, McCain meninjaunya dari segi etika, sdg Obama lebih kepada pragmatisme politik utk menarik suara. Khusus untuk tema aborsi, spt halnya dgn isu lainnya spt hukuman mati, euthanasia dsjsnya, dari segi Etika Kristen, di kalangan Kristen tms para teolog sendiri mmg faktualnya pendapat terbelah: ada yg Pro-Life dan ada pula yang Pro-Choice. Semua sama-sama punya alasan, yg ckp panjang utk dibahas di forum ini.
Kemenangan Obama saya evaluasi bukan dlm hal 2 hal pertama, kebenaran dan etika. Tapi justru dalam aspek manfaat kebaikan. Mayoritas Americans, dan juga mgkn dunia, punya ekspektasi manfaat kebaikan yg diperoleh bila vote Obama akan lebih besar dibandingkan vote McCain. Itu saja. Mengenai ekspektasi manfaat kebaikan itu akan mampu direalisasikan oleh Obama, waktulah yang akan menilai dan mengujinya. Yg terpenting adalah periode pengujian berikutnya.
Bagaimanapun, rasa salut kita harus kita berikan kpd keduanya: Obama dan McCain, dan yg paling terutama adalah kpd bangsa Amerika, yang telah memberi pelajaran berharga bagi kita. Keputusan pilihan yg saya nilai ckp berani telah ditunjukkan bangsa Amerika dlm memilih pemimpinnya. Ya, pada masa sekarang dan ke depan ini, periode pengujian kepemimpinan (examination periods) bagi leaders dan calon2 leaders, sdg ditapaki.
Salam, HMS :-)
Tuesday, October 28, 2008
Perspektif Saya dalam Menyikapi Perdebatan yang Sangat Tajam.
Salam hangat dan damai kepada kita semua,
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan kepada kita semua warga Indonesia/NKRI: "Selamat Hari Sumpah Pemuda 80 Tahun (1928-2008).
Tema ulasan saya ini adalah menyangkut bagaimana perspektif saya dalam menyikapi suatu diskursus ataupun perbedaan yang sangat tajam.
Begini. Dalam berbagai kesempatan interaksi dan komunikasi baik di dunia maya maupun dunia riel, kadang kita bisa berbeda, terutama yg sy soroti adalah dalam hal fokus perhatian dan prioritas bahasan. Tak hanya dalam mengupas suatu topik atau isu tertentu. Khusus dlm kaitan dgn threads perdebatan, mungkin saja kita bisa beda dlm fokus perhatian dan prioritas itu dlm menyikapi subyek2 bahasan.
Kesamaan yg mungkin ada yang perlu kita pikir dan pahami adalah, kita barangkali punya hasrat yg sama agar kita beserta teman-teman kristen indonesia anak bangsa khususnya disini, bisa punya sikap kritis, cerdas, sekaligus berkesadaran thd berbagai sumber informasi yg masuk ke dalam hati, otak dan pikiran kita.
Kalau fokus perhatian dan prioritas saya dalam perdebatan yang menjurus tajam, yg bisa saya ungkapkan adalah bagaimana agar seluruh pihak yang terlibat, dapat secara bersama-sama "spooring" atau "aligned" mjd suatu movement bersama - yg lebih terarah dan terorganisir - dlm rangka melakukan transformasi bertahap bagi kemajuan bangsa dan anak bangsa di Indonesia (bahkan dimana pun).
Bidang2 fokus yg diharapkan diretas dewasa ini, adalah lewat program2 riel yg berfokus pada:
(1) Sosial, pendidikan dan media/budaya,
(2) Ekbis dan teknologi, dan
(3) Politik dan kebangsaan.
Khusus di salah satu bidang fokus (3) Politik dan kebangsaan, ada harapan saya dan mungkin teman-teman lain juga, bagi terbentuknya semacam pusat kajian, bahasan-bahasan diskusi dan publikasi. Diskusi dan perdebatan di bidang ini, tentu bisa kemungkinannya kelak menjadi cikal bakal terwujudnya harapan ini.
Namun, tak hanya bidang fokus ini. Bidang fokus lain, yi program riel di bidang (1) Sosial, pendidikan dan media, serta (2) Ekbis dan teknologi juga mjd fokus perhatian sy dan mgkn teman-teman lainnya juga.
Bilapun ada perdebatan khususnya terkait bidang 3 yi bid Politik dan kebangsaan di suatu forum, sy kira merupakan hal yang normal, lumrah dan wajar-wajar saja. Namun yg menjadi harapan saya dan fokus perhatian saya (mungkin juga sbgn teman-teman lainnya), agar semangat kesatuan (unity) utk pencapain allignment secara bersama, tetap bisa terjaga. Karena hakekatnya, kita ingin dipanggil dalam tugas transformasi dan kemajuan bangsa & anak bangsa ini, untuk bersatu, ditengah kepelbagaian perbedaan2 yg kita punya. Bukan utk bercerai, atau tercerai berai. Saya sadari memang utk mencapai atau memelihara kesatuan (rohani dan jiwani) ditengah berbagai perbedaan yg memiliki kesenjangan ckp tinggi, tidaklah mudah, namun bukan merupakan hal yang mustahil, jika kita mau berupaya bersama serta mengandalkan Dia dlm antero eksistensi kita.
Kalau dibilang kita semua mgkn banyak berbeda, ya mungkin iya ya. Misal dlm aspek latar belakang pendidikan, mgkn tingkat kedewasaan iman, sifat/karakter, ltr blakang keluarga, usia, gender, disiplin ilmu, pikiran, perasaan, kehendak, wawasan, style, cara berkomunikasi, denominasi atau aliran, school of thoughts, partisan dan non partisan, kepentingan, perspektif, preferensi, garis ideologi sekalipun, dst.
Nah, mgkn yg kita perlukan selain bisa terus berbeda, selayaknya kita juga punya upaya utk mencari kesamaan2 shg dpt terus berelasi, beraliansi dlm suatu alliance. Kita sebenarnya sudah punya kesamaan2: satu Tuhan, Kristus yg satu. Diharapkan juga memiliki kesamaan dlm visi, misi dan platform sbgmn yg telah diinfo mengenai perjuangan pelayanan, juga dlm hal Christian values yg kita anut bersama, dimana nilai2 itu sebenarnya juga bersifat universal.
Komitmen berelasi dan beraliansi dlm suatu aliansi dalm berbagai perbedaan sy kira menjadi hal utama dan penting mjd fokus perhatian. Saling mengenal secara personal, komunal dan sosial, membangun komunikasi yg positif, pemahaman dan saling pengertian mjd sangat penting disini. Utk mencapai satu maksud dan tujuan disertai upaya2 yg lebih kongkrit dan mgkn lbh terorganisir. Agar mencapai hal ini, maka spanjang kita mampu, maka kita akan berusaha seoptimal mungkin, agar tidak satupun dari para anggota yg berelasi atau beraliansi mengalami bentuk relasi dan komunikasi yg tercederai bahkan rusak.
Untuk memulihkannya, mgkn akan memakan waktu yg cukup lama. Pemikir, filsuf Barat utk era transisi Modern dan Postmodern, Jurgen Habermas menawarkan pola rasionalitas komunikasi, utk solusi menjembatani hubungan komunikasi dan relasi yg ckp sulit utk "diselamatkan". Namun, saya mungkin melihatnya tidak hanya melalui bentuk rasionalitas komunikasi, boleh dilakukan. Tapi juga melalui spiritualitas komunikasi, dan bisa juga lewat kulturalitas komunikasi. Dlm bahasa kristiani spiritualitas komunikasi srg disebut sbg Agape komunikasi. Agape atau Agapao', yg sering diterjemahkan sbg Divine Love, mengandung elemen yg sangat vital. Ada nilai kebenaran (truth, alithea) disitu, ada nilai anugerah, kasih karunia (grace), ada nilai welas asih (mercy). Agape juga meliput to give and take, to forgive, segi etika moral, dignitas dan berkeadilan dst. Menyangkut semua hal dlm diri manusia: pikiran, perasaan, will, intuisi, naluri kepekaan sosial, toleransi, kesatuan hati sekaligus niat (tmsk niat tampil beda), hati nurani, dst. Proses kedewasaan dan pendewasaaan manusia2 kristiani scr bersama akan mengarahkan kpd semua elemen2 vital ini utk dimiliki, tanpa terkecuali.
Kulturalitas komunikasi dpt ditempuh sbg contoh lewat pemahaman kesamaan kultur, termasuk identitas dan kepribadian. Seperti kesamaan sbg anak bangsa, sbg sesama pengikut Kristus, sbg indonesia. Maka karena itulah, tepat dikatakan bila aliansi ini dinamakan aliansi kristen indonesia anak bangsa, sbg dasar platform dan wawasan kulturalnya.
Demikian penjelasan umum dan mgkn ckp strategis yang dapat saya utarakan dlm kesempatan ini. Kiranya Kristus, gembala agung dan Tuhan kita senantiasa yg membimbing dan memimpin kita semua!
Salam Agape, HMS :-)
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan kepada kita semua warga Indonesia/NKRI: "Selamat Hari Sumpah Pemuda 80 Tahun (1928-2008).
Tema ulasan saya ini adalah menyangkut bagaimana perspektif saya dalam menyikapi suatu diskursus ataupun perbedaan yang sangat tajam.
Begini. Dalam berbagai kesempatan interaksi dan komunikasi baik di dunia maya maupun dunia riel, kadang kita bisa berbeda, terutama yg sy soroti adalah dalam hal fokus perhatian dan prioritas bahasan. Tak hanya dalam mengupas suatu topik atau isu tertentu. Khusus dlm kaitan dgn threads perdebatan, mungkin saja kita bisa beda dlm fokus perhatian dan prioritas itu dlm menyikapi subyek2 bahasan.
Kesamaan yg mungkin ada yang perlu kita pikir dan pahami adalah, kita barangkali punya hasrat yg sama agar kita beserta teman-teman kristen indonesia anak bangsa khususnya disini, bisa punya sikap kritis, cerdas, sekaligus berkesadaran thd berbagai sumber informasi yg masuk ke dalam hati, otak dan pikiran kita.
Kalau fokus perhatian dan prioritas saya dalam perdebatan yang menjurus tajam, yg bisa saya ungkapkan adalah bagaimana agar seluruh pihak yang terlibat, dapat secara bersama-sama "spooring" atau "aligned" mjd suatu movement bersama - yg lebih terarah dan terorganisir - dlm rangka melakukan transformasi bertahap bagi kemajuan bangsa dan anak bangsa di Indonesia (bahkan dimana pun).
Bidang2 fokus yg diharapkan diretas dewasa ini, adalah lewat program2 riel yg berfokus pada:
(1) Sosial, pendidikan dan media/budaya,
(2) Ekbis dan teknologi, dan
(3) Politik dan kebangsaan.
Khusus di salah satu bidang fokus (3) Politik dan kebangsaan, ada harapan saya dan mungkin teman-teman lain juga, bagi terbentuknya semacam pusat kajian, bahasan-bahasan diskusi dan publikasi. Diskusi dan perdebatan di bidang ini, tentu bisa kemungkinannya kelak menjadi cikal bakal terwujudnya harapan ini.
Namun, tak hanya bidang fokus ini. Bidang fokus lain, yi program riel di bidang (1) Sosial, pendidikan dan media, serta (2) Ekbis dan teknologi juga mjd fokus perhatian sy dan mgkn teman-teman lainnya juga.
Bilapun ada perdebatan khususnya terkait bidang 3 yi bid Politik dan kebangsaan di suatu forum, sy kira merupakan hal yang normal, lumrah dan wajar-wajar saja. Namun yg menjadi harapan saya dan fokus perhatian saya (mungkin juga sbgn teman-teman lainnya), agar semangat kesatuan (unity) utk pencapain allignment secara bersama, tetap bisa terjaga. Karena hakekatnya, kita ingin dipanggil dalam tugas transformasi dan kemajuan bangsa & anak bangsa ini, untuk bersatu, ditengah kepelbagaian perbedaan2 yg kita punya. Bukan utk bercerai, atau tercerai berai. Saya sadari memang utk mencapai atau memelihara kesatuan (rohani dan jiwani) ditengah berbagai perbedaan yg memiliki kesenjangan ckp tinggi, tidaklah mudah, namun bukan merupakan hal yang mustahil, jika kita mau berupaya bersama serta mengandalkan Dia dlm antero eksistensi kita.
Kalau dibilang kita semua mgkn banyak berbeda, ya mungkin iya ya. Misal dlm aspek latar belakang pendidikan, mgkn tingkat kedewasaan iman, sifat/karakter, ltr blakang keluarga, usia, gender, disiplin ilmu, pikiran, perasaan, kehendak, wawasan, style, cara berkomunikasi, denominasi atau aliran, school of thoughts, partisan dan non partisan, kepentingan, perspektif, preferensi, garis ideologi sekalipun, dst.
Nah, mgkn yg kita perlukan selain bisa terus berbeda, selayaknya kita juga punya upaya utk mencari kesamaan2 shg dpt terus berelasi, beraliansi dlm suatu alliance. Kita sebenarnya sudah punya kesamaan2: satu Tuhan, Kristus yg satu. Diharapkan juga memiliki kesamaan dlm visi, misi dan platform sbgmn yg telah diinfo mengenai perjuangan pelayanan, juga dlm hal Christian values yg kita anut bersama, dimana nilai2 itu sebenarnya juga bersifat universal.
Komitmen berelasi dan beraliansi dlm suatu aliansi dalm berbagai perbedaan sy kira menjadi hal utama dan penting mjd fokus perhatian. Saling mengenal secara personal, komunal dan sosial, membangun komunikasi yg positif, pemahaman dan saling pengertian mjd sangat penting disini. Utk mencapai satu maksud dan tujuan disertai upaya2 yg lebih kongkrit dan mgkn lbh terorganisir. Agar mencapai hal ini, maka spanjang kita mampu, maka kita akan berusaha seoptimal mungkin, agar tidak satupun dari para anggota yg berelasi atau beraliansi mengalami bentuk relasi dan komunikasi yg tercederai bahkan rusak.
Untuk memulihkannya, mgkn akan memakan waktu yg cukup lama. Pemikir, filsuf Barat utk era transisi Modern dan Postmodern, Jurgen Habermas menawarkan pola rasionalitas komunikasi, utk solusi menjembatani hubungan komunikasi dan relasi yg ckp sulit utk "diselamatkan". Namun, saya mungkin melihatnya tidak hanya melalui bentuk rasionalitas komunikasi, boleh dilakukan. Tapi juga melalui spiritualitas komunikasi, dan bisa juga lewat kulturalitas komunikasi. Dlm bahasa kristiani spiritualitas komunikasi srg disebut sbg Agape komunikasi. Agape atau Agapao', yg sering diterjemahkan sbg Divine Love, mengandung elemen yg sangat vital. Ada nilai kebenaran (truth, alithea) disitu, ada nilai anugerah, kasih karunia (grace), ada nilai welas asih (mercy). Agape juga meliput to give and take, to forgive, segi etika moral, dignitas dan berkeadilan dst. Menyangkut semua hal dlm diri manusia: pikiran, perasaan, will, intuisi, naluri kepekaan sosial, toleransi, kesatuan hati sekaligus niat (tmsk niat tampil beda), hati nurani, dst. Proses kedewasaan dan pendewasaaan manusia2 kristiani scr bersama akan mengarahkan kpd semua elemen2 vital ini utk dimiliki, tanpa terkecuali.
Kulturalitas komunikasi dpt ditempuh sbg contoh lewat pemahaman kesamaan kultur, termasuk identitas dan kepribadian. Seperti kesamaan sbg anak bangsa, sbg sesama pengikut Kristus, sbg indonesia. Maka karena itulah, tepat dikatakan bila aliansi ini dinamakan aliansi kristen indonesia anak bangsa, sbg dasar platform dan wawasan kulturalnya.
Demikian penjelasan umum dan mgkn ckp strategis yang dapat saya utarakan dlm kesempatan ini. Kiranya Kristus, gembala agung dan Tuhan kita senantiasa yg membimbing dan memimpin kita semua!
Salam Agape, HMS :-)
Friday, September 19, 2008
Lagu Rohani Kristen: Tujuan Glorifikasi atau Komersialisasi/Materialisasi?
Tulisan ini saya buat sekaitan dengan sharing diskusi perihal "Menyanyikan Lagu Rohani Kristen: Tujuan Glorifikasi atau Komersialisasi/Materialisasi Kebutuhan Dasar? (kasus: "Ngamen Lagu Rohani di Bis Kota") di mailing list Alumni PMK-IPB beberapa hari yang lalu.
Motif Tujuan Ideal.
Motif tujuan ideal lagu pujian rohani Kristen dilantunkan adalah utk mengagungkan nama Tuhan, tujuan GLORIFIKASI hanya kepada Dia. Sekaligus mampu membawa orang yang mendengar menjadi lebih dekat dalam hubungan dengan Tuhan. Memuji dan menyembah Tuhan secara spiritual sejatinya merupakan kebutuhan rohani dari setiap orang Kristiani utk pertumbuhan dan kedewasaan rohaninya. Idealnya pujian rohani tsb dilantunkan dalam suasana peribadahan baik pribadi, jemaat/gereja maupun acara kerohanian di aras publik. Jika kemudian pujian rohani dinyanyikan dalam bentuk kaset, CD, DVD, pertunjukan band atau vocal group, tayangan TV dll lalu disebar-luaskan scr komersial untuk mereka yang akhirnya merasa diberkati atas kehadiran lagu pujian tsb, bisa disebut sebagai segi KOMERSIALISASI dari lagu pujian tadi, itu secara ideal dpt dinilai sebagai DAMPAK yang diterima oleh si penyanyi, arranger atau produser lagu pujian tersebut.
Realita yang Sering Muncul.
Realita yang sering dihadapi adalah lagu pujian rohani Kristen dilantunkan barangkali bukan sepenuhnya yang utama (ideal) untuk tujuan GLORIFIKASI. Tapi lebih cendrung untuk tujuan KOMERSIALISASI atau bahkan MATERIALISASI memenuhi kebutuhan dasar bagi yang membawakannya. Tujuan2 seperti ini yang menjadi nomor satu. Meski yang tau motif sejati tersebut adalah hanya Tuhan dan diri si penyanyi ybs. Orang lain atau publik hanya dapat menilai dari segi fenomena yang muncul semata (sikap menghakimi sebaiknya bisa dihindari). Jika motif yang dialami dan dihadapi si penyanyi atau pemusik atau pihak lainnya lebih kepada tujuan KOMERSIALISASI atau bahkan MATERIALISASI kebutuhan (dasar), dalam melantunkan lagu pujian rohani, itu harus diteliti lagi mengapa fenomena itu muncul dan apa penyebabnya. Mungkin kebutuhan yang dirasakan oleh si penyanyi/pemusik atau pihak lainnya terkait karena sulitnya mendapat akses pekerjaan atau sumber2 dana (fund raising), dan realita itu lebih besar dihadapi ketimbang untuk memenuhi kebutuhannya secara spiritual yakni memuji serta menyembah Tuhan.
Perlunya Opsi-Opsi Alternatif.
Kalau hal ini yang dialami, maka perlu diberikan opsi-opsi atau cara2 yang lebih baik dan benar bagaimana dpt mencukupi kebutuhan material dan dana finansial yang dirasakan. Adakah cara2 yang bisa ditempuh (tentu yang lebih etis, lebih tepat dan lebih baik) agar tidak hanya sekedar bermotif atau bertujuan mengkomersialisasi atau mematerialisasi demi kebutuhan dasar atas lagu pujian rohani? Opsi-opsi ini perlu didialogkan, jika antar umat Kristiani berhasrat ingin saling bermitra dan membantu untuk mencari opsi solusi terbaik, demi menggapai tujuan ideal melantunkan lagu pujian rohani kristiani bisa tercapai yakni tujuan GLORIFIKASI hanya bagi Tuhan semata. Realita yang dihadapi oleh masyarakat sekarang pada umumnya seringkali adalah tiadanya atau kurang tersedianya opsi lebih tepat dan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan materinya sehari-hari atau dana finansial tertentu bagi satu kegiatan yang akan dijalankan. Mungkin juga itu dikarenakan masih kurangnya kreativitas ide, merasa dan berpikir hanya melalui ide atau jalan keluar seperti itu yang dimiliki utk memenuhi kebutuhan materi dan dana finansial yg dihadapi.
Hasrat, kepedulian, pencerahan ide dan aksi nyata memang sangat diperlukan waktu sekarang. Be blessed and be the channels of God's blessing for others!
Motif Tujuan Ideal.
Motif tujuan ideal lagu pujian rohani Kristen dilantunkan adalah utk mengagungkan nama Tuhan, tujuan GLORIFIKASI hanya kepada Dia. Sekaligus mampu membawa orang yang mendengar menjadi lebih dekat dalam hubungan dengan Tuhan. Memuji dan menyembah Tuhan secara spiritual sejatinya merupakan kebutuhan rohani dari setiap orang Kristiani utk pertumbuhan dan kedewasaan rohaninya. Idealnya pujian rohani tsb dilantunkan dalam suasana peribadahan baik pribadi, jemaat/gereja maupun acara kerohanian di aras publik. Jika kemudian pujian rohani dinyanyikan dalam bentuk kaset, CD, DVD, pertunjukan band atau vocal group, tayangan TV dll lalu disebar-luaskan scr komersial untuk mereka yang akhirnya merasa diberkati atas kehadiran lagu pujian tsb, bisa disebut sebagai segi KOMERSIALISASI dari lagu pujian tadi, itu secara ideal dpt dinilai sebagai DAMPAK yang diterima oleh si penyanyi, arranger atau produser lagu pujian tersebut.
Realita yang Sering Muncul.
Realita yang sering dihadapi adalah lagu pujian rohani Kristen dilantunkan barangkali bukan sepenuhnya yang utama (ideal) untuk tujuan GLORIFIKASI. Tapi lebih cendrung untuk tujuan KOMERSIALISASI atau bahkan MATERIALISASI memenuhi kebutuhan dasar bagi yang membawakannya. Tujuan2 seperti ini yang menjadi nomor satu. Meski yang tau motif sejati tersebut adalah hanya Tuhan dan diri si penyanyi ybs. Orang lain atau publik hanya dapat menilai dari segi fenomena yang muncul semata (sikap menghakimi sebaiknya bisa dihindari). Jika motif yang dialami dan dihadapi si penyanyi atau pemusik atau pihak lainnya lebih kepada tujuan KOMERSIALISASI atau bahkan MATERIALISASI kebutuhan (dasar), dalam melantunkan lagu pujian rohani, itu harus diteliti lagi mengapa fenomena itu muncul dan apa penyebabnya. Mungkin kebutuhan yang dirasakan oleh si penyanyi/pemusik atau pihak lainnya terkait karena sulitnya mendapat akses pekerjaan atau sumber2 dana (fund raising), dan realita itu lebih besar dihadapi ketimbang untuk memenuhi kebutuhannya secara spiritual yakni memuji serta menyembah Tuhan.
Perlunya Opsi-Opsi Alternatif.
Kalau hal ini yang dialami, maka perlu diberikan opsi-opsi atau cara2 yang lebih baik dan benar bagaimana dpt mencukupi kebutuhan material dan dana finansial yang dirasakan. Adakah cara2 yang bisa ditempuh (tentu yang lebih etis, lebih tepat dan lebih baik) agar tidak hanya sekedar bermotif atau bertujuan mengkomersialisasi atau mematerialisasi demi kebutuhan dasar atas lagu pujian rohani? Opsi-opsi ini perlu didialogkan, jika antar umat Kristiani berhasrat ingin saling bermitra dan membantu untuk mencari opsi solusi terbaik, demi menggapai tujuan ideal melantunkan lagu pujian rohani kristiani bisa tercapai yakni tujuan GLORIFIKASI hanya bagi Tuhan semata. Realita yang dihadapi oleh masyarakat sekarang pada umumnya seringkali adalah tiadanya atau kurang tersedianya opsi lebih tepat dan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan materinya sehari-hari atau dana finansial tertentu bagi satu kegiatan yang akan dijalankan. Mungkin juga itu dikarenakan masih kurangnya kreativitas ide, merasa dan berpikir hanya melalui ide atau jalan keluar seperti itu yang dimiliki utk memenuhi kebutuhan materi dan dana finansial yg dihadapi.
Hasrat, kepedulian, pencerahan ide dan aksi nyata memang sangat diperlukan waktu sekarang. Be blessed and be the channels of God's blessing for others!
Sunday, June 1, 2008
Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler! (Refleksi dr suatu Pemikiran Holistis).
Informasi dari Transforma Sarana Media.
Edisi 15, 1 Mei 2008 (TSM-14).
Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler! Refleksi dari Suatu Pemikiran Holistis. Oleh: Hans Midas Simanjuntak* )
Pengantar. Seringkali banyak pihak di Indonesia dan luar negeri, termasuk di kalangan politisi dan aparatus Negara masih terkesan bingung atau "gamang" untuk mengartikan serta menterjemahkan, apa sesungguhnya konsepsi yang dimaksud NKRI didefinisikan sebagai "Bukan Negara Agama" dan "Bukan Negara Sekuler".
Sementara di pihak lain, masih cukup banyak kalangan yang ingin mengupayakan agar Indonesia memutuskan saja untuk memilih salah satunya, menjadi Negara Agama sepenuhnya, atau menjadi Negara Sekuler sepenuhnya. Tentunya tujuannya agar menghindari terjadinya kebingungan atau kegamangan terus menerus, dari generasi kepada generasi.
Referensi yang dipakai seharusnya adalah sejarah historis dari negeri yang disebut Indonesia sendiri, berikut apa yang telah dikonsepsikan oleh founding fathers republik bapak ibu pendiri bangsa ini, berikut para pemikir bangsa serta pengembang keindonesiaan yang lahir sesudahnya.
Sesungguhnya, Indonesia itu Bukan Negara Agama!
(Bukan berideologi agama Islam Syariah, berideologi Barat, bahkan bukan juga berideologi Kristen dst).
Jika dewasa ini orang di Indonesia dan di LN mendengar kata atau istilah "Negara Agama", maka konotasi banyak pihak akan segera kepada pengertian Negara berlandaskan Ideologi Agama tertentu, entah itu Syariat Islam (Islam), ideologi kristen (katolik dan atau protestan) dan lain-lain. Selain para konseptor/aktor intelektual dan para pendukung Syariah'isme Islam yang terasa sangat ekspansif hari ini dan konseptor Perda Injil (kristen) di Manokwari, saya kira masih sangat banyak kalangan di negeri ini - "silent majority" - yang tidak menghendaki negara ini menjadi negara agama (baik berideologi Islam Syariah, kristen, dst).
Sesungguhnya, Indonesia itu Juga Bukan Negara Sekuler!
Di sisi lain, banyak juga kalangan di Indonesia dan LN jika mendengar kata atau istilah "Negara Sekuler", maka yang terbayang di benaknya adalah Negara yang berlandaskan ideologi Sekularisme yang umum berlaku di Barat (AS, Eropa Barat). Faham ideologi ini tidak menghendaki negara ikut campur dalam urusan agama, demikian juga sebaliknya agama tidak mengintervensi permasalahan yang menjadi persoalan negara. Ada pemisahan secara tegas. Konsekuensinya semua bentuk pendidikan, hukum, politik, moral HAM dan keadilan semuanya berlandaskan asas kebebasan atau liberalisme, yang bebas dari pengaruh agama manapun.
Cukup banyak mungkin kalangan terutama yang dipengaruhi oleh sistem pendidikan Barat, termasuk kalangan umat kristen, yang setuju jika Indonesia menjadi negara sekuler saja, sama seperti Barat. Yang bebas dari embel2 agama, bebas dari simbol2 primordial agama. Namun sesungguhnya pada sisi yang berlawanan, banyak juga kalangan di Indonesia terutama dari kalangan masyarakat yang masih kental sisi relijiusnya (baik Islam, maupun kristen), yang tidak setuju jika Indonesia dijurukan menjadi Negara Sekuler sepenuhnya, apalagi seperti di Barat yang dikenal sudah banyak meninggalkan nilai-nilai relijinya demi suatu kebebasan yang bukan lagi bermakna kebebasan yang hakiki, melainkan kebebasan yang menjuruskan umat dan warga negara kepada dekadensi moral, "kekeringan elan spiritual" serta "kegamangan sosial" baru seperti terjadi di AS negara2 Eropa dan negara industri baru (NIC's) di Asia seperti sekarang.
Kalau begitu, Indonesia yang Bukan Negara Agama dan Bukan Negara Sekuler itu, pengertian dan konsepsi jelasnya bagaimana?
Untuk menjawab ini, semua pihak sudah seharusnya tidak memakai referensi atau acuan: pertama, yang berasal dari Timur Tengah/Arab (konsepsi peradaban Islam) - meskipun selalu dan selalu diklaim Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, walaupun masih menyisakan tanya apa benar klaim sebagai yang terbesar di dunia betul-betul merepresentasikan "keumatan" Islam yang sebenarnya. Kedua, konsepsi atau acuan yang melulu berasal dari Barat (AS dan Eropa), yang mungkin masih banyak kalangan yang pro-Barat begitu percaya bahwa kemajuan yang telah diraih oleh Barat di bidang teknologi, ekonomi, pendidikan dll akan sangat cocok bila dapat diterapkan di Indonesia dengan segala kesamaan2 dan perbedaannya.
Satu hal yang penting adalah, referensi yang paling utama dipakai seharusnya adalah sejarah historis dari negeri yang disebut Indonesia sendiri, berikut apa yang telah dikonsepsikan oleh founding fathers republik bapak ibu pendiri bangsa ini, yang kemudian dilanjutkan oleh para pemikir bangsa serta gerakan pemikiran keindonesiaan yang lahir sesudahnya. Tentu dengan tidak menafikan semua referensi atau kerangka acuan yang berasal dari luar seperti konsepsi pemikiran peradaban Islam, Judaisme, pemikiran peradaban Barat, peradaban Rusia dan Eropa Timur, peradaban Timur India, Iran dan Oriental (Tiongkok/China, Taiwan, Korea) bahkan Afrika dan Amerika Latin.
Secara ringkas, dari berbagai pengamatan dan telusuran kembali nilai-nilai historis founding- fathers dan perkembangan wacana dialektis kenegaraan indonesia, kita dapat mengartikan bahwa yang disebut Indonesia "Bukan Negara Agama dan Bukan pula Negara Sekuler" paling tidak meliputi 8 Pengertian Negara dari sebuah negara yang dinamakan Indonesia -- sejak dulu, hari ini dan untuk yang akan datang, yakni sbb:
1. Indonesia adalah Negara Berfalsafah (Philosophical State), bukan negara agama dan bukan sekuler. Falsafah negara ini adalah falsafah Pancasila. Ideologinya (ideological nation) pun bukan ideologi agama (entah Islam Syariah atau kristen/katolik atau lain2) atau ideologi sekuler (dari Barat: AS/Eropa, Oriental dll), tapi ideologi Pancasila (ideology of Pancasila).
Falsafah dan ideologi Pancasila
Secara historis, sebenarnya sudah sangat jelas isi falsafah dan ideologi Pancasila. Yang dibutuhkan sekarang termasuk bagi generasi muda, adalah proses internalisasi dari falsafah dan ideologi ini, agar menjadi menjadi perdoman dalam hidup berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.
a. Ketuhanan (spiritual, bukan agama atau ideologi agama tertentu), mengakui keragaman dalam keyakinan atau berTuhan di tengah kehidupan individu, komunitas dan masyarakat.
b. Humanis/kemanusiaan berbasis lokal-nasional- global.
c. persatuan Nasionalis indonesia, bingkai nasionalisme menjadi sangat penting dan perlu untuk penyatuan visi berbangsa, bernegara dan bermasyarakat secara bersama.
d. Demokrasi yang plural dalam kerangka nasionalisme Indonesia, melalui sistem permusyawaratan (i.e. MPR) dan perwakilan (i.e. DPR/DPRD dan DPD).
e. Keadilan sosial, yang sekaligus berciri sosialis berkeadilan.
2. Indonesia adalah Negara Berbudaya (Cultural State). Negara yang memiliki kebudayaannya sendiri yang bersifat unik dan khas, ditengah ragamnya jenis kebudyaaan di dunia, yakni kebudayaan dengan kepribadian/ jati diri Nusantara. Semua cipta dan cita rasa, postulasi, peralatan dan produk-produk kebudayaan yang dihasilkan negara, adalah berbasiskan kebudayaan serta jati diri Nusantara.
3. Indonesia adalah Negara Pendidikan (Educational State), yang berupaya terus menerus untuk mencerdaskan bangsanya, seluruh warganya, sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945, dengan penerapan Sistem Pendidikan yang berasas pada kepribadian jati diri kultur bangsa Indonesia sendiri, berdasar konteks daerah, budaya dan sikon seluruh daerah di Indonesia, dengan tidak menafikan pentingnya pembelajaran hal-hal positif yang berasal dari luar (sistem pendidikan Barat/AS, Jepang, Oriental, Eropa/Belanda, sistem pendidikan Pesantren/Ponpes (Islam), pembelajaran pola Biara Katolik/Kristen, dsb.
4. Indonesia adalah Negara Sosial (Social State), yang berjuang untuk terus mempertahankan semangat solidaritas dan kesetia-kawanan sosial dan pelestarian lingkungan (alam). Upaya peningkatan kesejahteraan lahir-batin dari seluruh rakyat tanah tumpah Indonesia, terutama bagi kalangan2 marjinal spt kesejahteraan dan hak para buruh, guru, anak, kaum perempuan, nelayan, petani, kaum minoritas suku-suku terasing perlindungan budaya lokal, dan sejenisnya. Sehingga dengan demikian dapat tercipta bukan sekadar pemerataan tapi semangat kesetaraan (ekualitas) yang berdampak kepada peningkatan kemajuan secara bertahap dalam aspek kuantitas dan kualitas bangsa secara keseluruhan dan tetap terpeliharanya kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan hidup di bumi.
5. Indonesia adalah Negara Ekonomi (Economical State). Negara yang mengembangkan sendiri sistem-ekonominya sendiri, dengan prinsip berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), dengan nilai2 kerakyatan, keadilan dan kejuangan kewirausahaan, baik kewirausahaan sosial maupun ekonomi; Tidak serta merta hanya tau menadah tangan, meminta bantuan dari Luar Negeri, investor, kontraktor dan mitra asing pihak luar. Namun juga mampu mengembangkan kemampuan teknologi dan manajemen-knowledge nya sendiri guna mengelola sumber daya alam yang dimiliki menjadi sumber kesejahteraan bagi hajat hidup orang banyak
6. Indonesia adalah Negara Politik (Political State), yang bercirikan politik bebas-aktif, dimana Indonesia wajib turut-serta baik ke dalam maupun ke luar untuk menjalankan kebijakan politik yang netral, independen sekaligus aktif terutama dalam mengupayakan perdamaian dunia. Tidak memihak baik ke kutub Barat, Timur, peradaban Islam (Timur Tengah), Afrika ataupun Latin Amerika. Namun, bisa mengimpartasi hal-hal positif dari itu semua untuk peningkatan kesadaran berpolitik serta kebijakan politik yang diambil di berbagai lini kehidupan.
7. Indonesia adalah Negara Hukum (Lawful State), yang mendasari seluruh perangkat hukum dan penegakkannya berdasarkan sistem hukum Indonesia dengan ciri Indonesia. Bukan semata sistem hukum warisan kolonial Belanda, bukan sistem hukum Syariah'isme Islam dan bukan pula sistem hukum Liberalisme Barat atau yang umum berlaku di negara2 Persemakmuran (Commonwealth Laws). Indonesia harus mampu menciptakan Sistem Hukumnya sendiri secara Nasional yang sesuai dengan kebutuhan, konteks dan falsafah 5 sila dalam Pancasila (Spiritual, Humanis, Unity/Nasionalisme, Demokrasi Plural, Sosialis berkeadilan) . Secara sistem hukum, hukum Pancasila lebih condong kepada pola sistem hukum yang sebagaimana berlaku di Negara Demokrasi Sosialis guna mewujudkan Keadilan seutuhnya.
8. Indonesia adalah Negara Demokrasi (Democratical State), yang menjunjung asas sosialisme, HAM yang berkeadilan demi kemandirian, kemajuan dan kesejahteraan bangsa; yang berlandaskan demokrasi Pancasila, demokrasi sosialis dan humanis; dan prinsip serta nilai2 yang bisa berlaku lokal-nasional dan global. Tercapaikan keamanan, perdamaian, toleransi, kesetaraan dan keadilan berdasar dari falsafat dan kepribadian/ budaya bangsa, keberdikarian nasional pelaku ekonomi, dst, adalah tujuan dari proses demokratisasi yang sedang berlangsung sekarang ini.
Demikian tinjauan reflektif dari suatu pemikiran holistis dari pemahaman Indonesia sebagai satu negara yang Bukan Negara Agama, dan juga Bukan Negara Sekuler, yang kembali banyak diwacanakan dan diperdebatkan akhir-akhir ini.
BN/1 Mei 2008.
Komentar:
Anonymous said...
Tak ada kata benar lagi untuk Indonesia yang toleran. Kebencian kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas turut didukung negara sebagai alat untuk melakukan intimidasi terhadap berbagai kepentingan politik terselubung.
Indonesia telah hancur dari dalam dirinya. Hanya Indonesia negara yang menganggap dirinya demokratis yang memiliki Peraturan dalam bentuk Syariat yang tak pernah tercantum dalam kesepakatan yang telah dibangun para Founding Father.
Indonesia hanya sebuah negara yang tak mengenal dirinya sebagai negara, tetapi dia mengenal dirinya sebagai tempat para pemilik kekuatan bercokol. Ibarat "katak dalam tempurung". Jagonya di dalam, diluar seperti cacing kepanasan. Lihat saja kondisi sekarang ini. Indonesia dihempas oleh krisis global yang selalu dianggap oleh yang mengaku dirinya pakar "tidak apa-apa". Tapi apa yang terjadi? Rakyat miskin yang hancur lebur karena fundamental ekonomi mereka terpuruk, terseret oleh kepentingan elite yang tak punya moral dan otak.
Lebih baik rakyat membangun kekuatan untuk memecah negara ini, agar negara ini tidak terlalu besar untuk memikirkan dirinya.
October 13, 2008 1:57 AM
Edisi 15, 1 Mei 2008 (TSM-14).
Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler! Refleksi dari Suatu Pemikiran Holistis. Oleh: Hans Midas Simanjuntak* )
Pengantar. Seringkali banyak pihak di Indonesia dan luar negeri, termasuk di kalangan politisi dan aparatus Negara masih terkesan bingung atau "gamang" untuk mengartikan serta menterjemahkan, apa sesungguhnya konsepsi yang dimaksud NKRI didefinisikan sebagai "Bukan Negara Agama" dan "Bukan Negara Sekuler".
Sementara di pihak lain, masih cukup banyak kalangan yang ingin mengupayakan agar Indonesia memutuskan saja untuk memilih salah satunya, menjadi Negara Agama sepenuhnya, atau menjadi Negara Sekuler sepenuhnya. Tentunya tujuannya agar menghindari terjadinya kebingungan atau kegamangan terus menerus, dari generasi kepada generasi.
Referensi yang dipakai seharusnya adalah sejarah historis dari negeri yang disebut Indonesia sendiri, berikut apa yang telah dikonsepsikan oleh founding fathers republik bapak ibu pendiri bangsa ini, berikut para pemikir bangsa serta pengembang keindonesiaan yang lahir sesudahnya.
Sesungguhnya, Indonesia itu Bukan Negara Agama!
(Bukan berideologi agama Islam Syariah, berideologi Barat, bahkan bukan juga berideologi Kristen dst).
Jika dewasa ini orang di Indonesia dan di LN mendengar kata atau istilah "Negara Agama", maka konotasi banyak pihak akan segera kepada pengertian Negara berlandaskan Ideologi Agama tertentu, entah itu Syariat Islam (Islam), ideologi kristen (katolik dan atau protestan) dan lain-lain. Selain para konseptor/aktor intelektual dan para pendukung Syariah'isme Islam yang terasa sangat ekspansif hari ini dan konseptor Perda Injil (kristen) di Manokwari, saya kira masih sangat banyak kalangan di negeri ini - "silent majority" - yang tidak menghendaki negara ini menjadi negara agama (baik berideologi Islam Syariah, kristen, dst).
Sesungguhnya, Indonesia itu Juga Bukan Negara Sekuler!
Di sisi lain, banyak juga kalangan di Indonesia dan LN jika mendengar kata atau istilah "Negara Sekuler", maka yang terbayang di benaknya adalah Negara yang berlandaskan ideologi Sekularisme yang umum berlaku di Barat (AS, Eropa Barat). Faham ideologi ini tidak menghendaki negara ikut campur dalam urusan agama, demikian juga sebaliknya agama tidak mengintervensi permasalahan yang menjadi persoalan negara. Ada pemisahan secara tegas. Konsekuensinya semua bentuk pendidikan, hukum, politik, moral HAM dan keadilan semuanya berlandaskan asas kebebasan atau liberalisme, yang bebas dari pengaruh agama manapun.
Cukup banyak mungkin kalangan terutama yang dipengaruhi oleh sistem pendidikan Barat, termasuk kalangan umat kristen, yang setuju jika Indonesia menjadi negara sekuler saja, sama seperti Barat. Yang bebas dari embel2 agama, bebas dari simbol2 primordial agama. Namun sesungguhnya pada sisi yang berlawanan, banyak juga kalangan di Indonesia terutama dari kalangan masyarakat yang masih kental sisi relijiusnya (baik Islam, maupun kristen), yang tidak setuju jika Indonesia dijurukan menjadi Negara Sekuler sepenuhnya, apalagi seperti di Barat yang dikenal sudah banyak meninggalkan nilai-nilai relijinya demi suatu kebebasan yang bukan lagi bermakna kebebasan yang hakiki, melainkan kebebasan yang menjuruskan umat dan warga negara kepada dekadensi moral, "kekeringan elan spiritual" serta "kegamangan sosial" baru seperti terjadi di AS negara2 Eropa dan negara industri baru (NIC's) di Asia seperti sekarang.
Kalau begitu, Indonesia yang Bukan Negara Agama dan Bukan Negara Sekuler itu, pengertian dan konsepsi jelasnya bagaimana?
Untuk menjawab ini, semua pihak sudah seharusnya tidak memakai referensi atau acuan: pertama, yang berasal dari Timur Tengah/Arab (konsepsi peradaban Islam) - meskipun selalu dan selalu diklaim Indonesia dikenal sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, walaupun masih menyisakan tanya apa benar klaim sebagai yang terbesar di dunia betul-betul merepresentasikan "keumatan" Islam yang sebenarnya. Kedua, konsepsi atau acuan yang melulu berasal dari Barat (AS dan Eropa), yang mungkin masih banyak kalangan yang pro-Barat begitu percaya bahwa kemajuan yang telah diraih oleh Barat di bidang teknologi, ekonomi, pendidikan dll akan sangat cocok bila dapat diterapkan di Indonesia dengan segala kesamaan2 dan perbedaannya.
Satu hal yang penting adalah, referensi yang paling utama dipakai seharusnya adalah sejarah historis dari negeri yang disebut Indonesia sendiri, berikut apa yang telah dikonsepsikan oleh founding fathers republik bapak ibu pendiri bangsa ini, yang kemudian dilanjutkan oleh para pemikir bangsa serta gerakan pemikiran keindonesiaan yang lahir sesudahnya. Tentu dengan tidak menafikan semua referensi atau kerangka acuan yang berasal dari luar seperti konsepsi pemikiran peradaban Islam, Judaisme, pemikiran peradaban Barat, peradaban Rusia dan Eropa Timur, peradaban Timur India, Iran dan Oriental (Tiongkok/China, Taiwan, Korea) bahkan Afrika dan Amerika Latin.
Secara ringkas, dari berbagai pengamatan dan telusuran kembali nilai-nilai historis founding- fathers dan perkembangan wacana dialektis kenegaraan indonesia, kita dapat mengartikan bahwa yang disebut Indonesia "Bukan Negara Agama dan Bukan pula Negara Sekuler" paling tidak meliputi 8 Pengertian Negara dari sebuah negara yang dinamakan Indonesia -- sejak dulu, hari ini dan untuk yang akan datang, yakni sbb:
1. Indonesia adalah Negara Berfalsafah (Philosophical State), bukan negara agama dan bukan sekuler. Falsafah negara ini adalah falsafah Pancasila. Ideologinya (ideological nation) pun bukan ideologi agama (entah Islam Syariah atau kristen/katolik atau lain2) atau ideologi sekuler (dari Barat: AS/Eropa, Oriental dll), tapi ideologi Pancasila (ideology of Pancasila).
Falsafah dan ideologi Pancasila
Secara historis, sebenarnya sudah sangat jelas isi falsafah dan ideologi Pancasila. Yang dibutuhkan sekarang termasuk bagi generasi muda, adalah proses internalisasi dari falsafah dan ideologi ini, agar menjadi menjadi perdoman dalam hidup berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.
a. Ketuhanan (spiritual, bukan agama atau ideologi agama tertentu), mengakui keragaman dalam keyakinan atau berTuhan di tengah kehidupan individu, komunitas dan masyarakat.
b. Humanis/kemanusiaan berbasis lokal-nasional- global.
c. persatuan Nasionalis indonesia, bingkai nasionalisme menjadi sangat penting dan perlu untuk penyatuan visi berbangsa, bernegara dan bermasyarakat secara bersama.
d. Demokrasi yang plural dalam kerangka nasionalisme Indonesia, melalui sistem permusyawaratan (i.e. MPR) dan perwakilan (i.e. DPR/DPRD dan DPD).
e. Keadilan sosial, yang sekaligus berciri sosialis berkeadilan.
2. Indonesia adalah Negara Berbudaya (Cultural State). Negara yang memiliki kebudayaannya sendiri yang bersifat unik dan khas, ditengah ragamnya jenis kebudyaaan di dunia, yakni kebudayaan dengan kepribadian/ jati diri Nusantara. Semua cipta dan cita rasa, postulasi, peralatan dan produk-produk kebudayaan yang dihasilkan negara, adalah berbasiskan kebudayaan serta jati diri Nusantara.
3. Indonesia adalah Negara Pendidikan (Educational State), yang berupaya terus menerus untuk mencerdaskan bangsanya, seluruh warganya, sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945, dengan penerapan Sistem Pendidikan yang berasas pada kepribadian jati diri kultur bangsa Indonesia sendiri, berdasar konteks daerah, budaya dan sikon seluruh daerah di Indonesia, dengan tidak menafikan pentingnya pembelajaran hal-hal positif yang berasal dari luar (sistem pendidikan Barat/AS, Jepang, Oriental, Eropa/Belanda, sistem pendidikan Pesantren/Ponpes (Islam), pembelajaran pola Biara Katolik/Kristen, dsb.
4. Indonesia adalah Negara Sosial (Social State), yang berjuang untuk terus mempertahankan semangat solidaritas dan kesetia-kawanan sosial dan pelestarian lingkungan (alam). Upaya peningkatan kesejahteraan lahir-batin dari seluruh rakyat tanah tumpah Indonesia, terutama bagi kalangan2 marjinal spt kesejahteraan dan hak para buruh, guru, anak, kaum perempuan, nelayan, petani, kaum minoritas suku-suku terasing perlindungan budaya lokal, dan sejenisnya. Sehingga dengan demikian dapat tercipta bukan sekadar pemerataan tapi semangat kesetaraan (ekualitas) yang berdampak kepada peningkatan kemajuan secara bertahap dalam aspek kuantitas dan kualitas bangsa secara keseluruhan dan tetap terpeliharanya kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan hidup di bumi.
5. Indonesia adalah Negara Ekonomi (Economical State). Negara yang mengembangkan sendiri sistem-ekonominya sendiri, dengan prinsip berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), dengan nilai2 kerakyatan, keadilan dan kejuangan kewirausahaan, baik kewirausahaan sosial maupun ekonomi; Tidak serta merta hanya tau menadah tangan, meminta bantuan dari Luar Negeri, investor, kontraktor dan mitra asing pihak luar. Namun juga mampu mengembangkan kemampuan teknologi dan manajemen-knowledge nya sendiri guna mengelola sumber daya alam yang dimiliki menjadi sumber kesejahteraan bagi hajat hidup orang banyak
6. Indonesia adalah Negara Politik (Political State), yang bercirikan politik bebas-aktif, dimana Indonesia wajib turut-serta baik ke dalam maupun ke luar untuk menjalankan kebijakan politik yang netral, independen sekaligus aktif terutama dalam mengupayakan perdamaian dunia. Tidak memihak baik ke kutub Barat, Timur, peradaban Islam (Timur Tengah), Afrika ataupun Latin Amerika. Namun, bisa mengimpartasi hal-hal positif dari itu semua untuk peningkatan kesadaran berpolitik serta kebijakan politik yang diambil di berbagai lini kehidupan.
7. Indonesia adalah Negara Hukum (Lawful State), yang mendasari seluruh perangkat hukum dan penegakkannya berdasarkan sistem hukum Indonesia dengan ciri Indonesia. Bukan semata sistem hukum warisan kolonial Belanda, bukan sistem hukum Syariah'isme Islam dan bukan pula sistem hukum Liberalisme Barat atau yang umum berlaku di negara2 Persemakmuran (Commonwealth Laws). Indonesia harus mampu menciptakan Sistem Hukumnya sendiri secara Nasional yang sesuai dengan kebutuhan, konteks dan falsafah 5 sila dalam Pancasila (Spiritual, Humanis, Unity/Nasionalisme, Demokrasi Plural, Sosialis berkeadilan) . Secara sistem hukum, hukum Pancasila lebih condong kepada pola sistem hukum yang sebagaimana berlaku di Negara Demokrasi Sosialis guna mewujudkan Keadilan seutuhnya.
8. Indonesia adalah Negara Demokrasi (Democratical State), yang menjunjung asas sosialisme, HAM yang berkeadilan demi kemandirian, kemajuan dan kesejahteraan bangsa; yang berlandaskan demokrasi Pancasila, demokrasi sosialis dan humanis; dan prinsip serta nilai2 yang bisa berlaku lokal-nasional dan global. Tercapaikan keamanan, perdamaian, toleransi, kesetaraan dan keadilan berdasar dari falsafat dan kepribadian/ budaya bangsa, keberdikarian nasional pelaku ekonomi, dst, adalah tujuan dari proses demokratisasi yang sedang berlangsung sekarang ini.
Demikian tinjauan reflektif dari suatu pemikiran holistis dari pemahaman Indonesia sebagai satu negara yang Bukan Negara Agama, dan juga Bukan Negara Sekuler, yang kembali banyak diwacanakan dan diperdebatkan akhir-akhir ini.
BN/1 Mei 2008.
Komentar:
Anonymous said...
Tak ada kata benar lagi untuk Indonesia yang toleran. Kebencian kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas turut didukung negara sebagai alat untuk melakukan intimidasi terhadap berbagai kepentingan politik terselubung.
Indonesia telah hancur dari dalam dirinya. Hanya Indonesia negara yang menganggap dirinya demokratis yang memiliki Peraturan dalam bentuk Syariat yang tak pernah tercantum dalam kesepakatan yang telah dibangun para Founding Father.
Indonesia hanya sebuah negara yang tak mengenal dirinya sebagai negara, tetapi dia mengenal dirinya sebagai tempat para pemilik kekuatan bercokol. Ibarat "katak dalam tempurung". Jagonya di dalam, diluar seperti cacing kepanasan. Lihat saja kondisi sekarang ini. Indonesia dihempas oleh krisis global yang selalu dianggap oleh yang mengaku dirinya pakar "tidak apa-apa". Tapi apa yang terjadi? Rakyat miskin yang hancur lebur karena fundamental ekonomi mereka terpuruk, terseret oleh kepentingan elite yang tak punya moral dan otak.
Lebih baik rakyat membangun kekuatan untuk memecah negara ini, agar negara ini tidak terlalu besar untuk memikirkan dirinya.
October 13, 2008 1:57 AM
Thursday, May 1, 2008
1 Mei 2008: Selamat hari kenaikan Tuhan Kita, Yesus Kristus!
Saudara/i yang terkasih di dalam Kristus,
Selamat hari kenaikan Tuhan Kita, Yesus Kristus!
Biarlah dengan kenaikan Tuhan kita ke Sorga, akan meningkatkan serta menaikkan pula kesadaran dan pemahaman kita akan segenap persoalan dan berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita, yang dihadapi kekristenan dan bangsa ini; disertai keyakinan bahwa akan semakin kuat pula iman, pengharapan dan kasih kita kepada Dia.
Dia, Kristus, yang telah naik ke Sorga akan datang kembali pula (ke bumi) dengan cara yang sama. Bagi Dialah segala kemuliaan.
God bless you all!
Selamat hari kenaikan Tuhan Kita, Yesus Kristus!
Biarlah dengan kenaikan Tuhan kita ke Sorga, akan meningkatkan serta menaikkan pula kesadaran dan pemahaman kita akan segenap persoalan dan berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita, yang dihadapi kekristenan dan bangsa ini; disertai keyakinan bahwa akan semakin kuat pula iman, pengharapan dan kasih kita kepada Dia.
Dia, Kristus, yang telah naik ke Sorga akan datang kembali pula (ke bumi) dengan cara yang sama. Bagi Dialah segala kemuliaan.
God bless you all!
Sunday, March 23, 2008
Paskah 2008: New Leadership for Body of Christ and New Indonesia!
Selamat Paskah 2008!
Because He lives, we can together face tomorrow!!
Untuk menyambut hari raya Paskah, hari kebangkitan Kristus Yesus Tuhan tahun ini, sengaja saya memasukkan artikel tulisan dari team Teleia Resource Center (TRC)Indonesia, yang dimuat pada group milist "Aliteia" (forum Aliansi Kristen Indonesia Anak bangsa) beberapa hari yang lalu. Barangkali ini dapat dipakai sebagai renungan kita terkait wacana dan ekspektasi "New Leadership for Body of Christ and New Indonesia". Saya sertakan juga beberapa tanggapan ataupun komentar dari rekan-rekan di milist tersebut. Menurut saya, signifikansi untuk konteks sekarang dan hari ke depan dari ekpektasi akan kebutuhan gereja2 tubuh kristus dlm kesaksian di tengah2 pergumulan masyarakat, bangsa dan negara tercinta ini, sangatlah relevan. Sangat logis, expectable dan tidak ilusif dibuat-buat utk dipersiapkan, didoakan dan diperjuangkan bersama.
Semoga berguna! Tuhan memberkati kita!
Paskah 2008: Kepemimpinan Baru di Tengah Umat Pilihan Allah Pengikut Kristus di Indonesia.
Oleh: Teleia Resource Center (TRC) Indonesia.
Berbicara mengenai makna Paskah dalam kaitan dengan perkembangan dan kehidupan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, menjadi relevan untuk didoakan, dibicarakan dan digumulkan.
Sebagai dasar perenungan, kita perlu memahami makna peristiwa Paskah dalam Alkitab baik di PL maupun di PB.
Pertama, di PL kita tidak bisa lepas dari peristiwa keluarnya umat pilihan Allah bangsa Israel kuno di bawah kepemimpinan Musa dan Harun yang betul-betul eksis, keluar hijrah dari tanah perbudakan di Mesir di bawah penindasan Firaun. Lewat kepemimpinan Musa dan Harun itulah, umat pilihan dipimpin dituntun dari tanah Mesir selama 40 tahun di padang gurun dan kemudian lewat kepemimpinan Yosua umat Israel mereka akhirnya berhasil masuk Tanah Perjanjian Kanaan, yang penuh susu dan madu.
Kedua, di PB sbg peristiwa klimaks 2000 tahun yang lalu, Kristus sbg tokoh sentral sang Messias yang telah ditunggu-tunggu, telah menderita sengsara taat sampai mati di kayu salib Golgota kemudian bangkit pada hari yang ketiga demi mengalahkan kuasa maut, dosa dan Iblis; untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya dari hukuman dosa. Kristus telah bangkit dan menang! Lahirlah gereja pertama, yaitu Umat Pilihan Allah imamat rajani, yang kudus, memberitakan Injil Tuhan, yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Allah yang ajaib. Lalu, selanjutnya lewat kepemimpinan para Rasul dan generasi pemimpin selanjutnya, umat pilihan Allah tubuh Kristus tersebut dipimpin untuk terus bertumbuh serta berkembang menjadi garam dan terang dunia, mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung-ujung bumi termasuk lewat berbagai peran zending dan misionaris, Injil dikumandangkan sampai ke Indonesia dan membuahkan orang-orang percaya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia. Sejak jaman kolonial Belanda sampai jaman kini, yang telah berlangsung ratusan tahun, untuk sejumlah generasi.
Dari kedua momen Paskah di atas (PL dan PB) yang bisa dimaknai, sesungguhnya apa relevansinya bagi kehidupan dan perkembangan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia masa sekarang dan ke depan?
(1) Berita injil telah masuk ke Indonesia/bumi Nusantara selama ratusan tahun hingga sekarang ini, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, NTT, Papua dll. Lewat utusan zending atau misi dari Eropa, Amerika maupun dari negeri sendiri. Dari generasi ke generasi, telah eksis yang boleh dinamakan Umat Pilihan Allah pengikut Kristus, tubuh Kristus, yang ada di berbagai denominasi, aliran, kelembagaan formal dan non-formal dll melewati batas suku-suku, etnis, golongan, kepercayaan, dst.
(2) Tak dapat disangkal, bahwa sejalan dengan perkembangan pasang-surut gereja, pemerintahan dan rakyat di Nusantara/Indonesia , Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Kalau tidak ingin mengatakan, di dalam kesukacitaan mengikut Kristus telah secara riel mengalami bentuk2 penjajahan, penindasan, penyesahan, kemiskinan dan keterpurukan yang belum kunjung berhenti di berbagai aspek kehidupan (spiritual, pendidikan, kesehatan/gizi buruk, kebebasan beribadah, masalah sosial, ekonomi, budaya, bencana alam, dll).
(3) Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia meyakini bahwa Allah tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya. Kristus tetap hadir sebagai Tuhan dan Juruselamat. Seperti halnya umat Israel di Mesir di jaman PL, Allah pasti mendengar keluh kesah yang dialami Umat PilihanNya di Indonesia. Allah pasti memiliki rencanaNya yang maha baik dan agung untuk Umat PilihanNya di Indonesia, yakni membawanya ke "Tanah Perjanjian Kanaan" lewat berbagai masa pembentukan dan penempaan guna menuju tempat atau posisi kehidupan yang berkualitas, penuh kemenangan, maju dalam kesatuan (seperti doa Tuhan Yesus "supaya mereka menjadi satu"), berkelimpahan dan berkesejahteraan (shalom).
(4) Namun, yang menjadi permasalahan adalah untuk membawa Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia menuju "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan", Umat PilihanNya di Indonesia belum memiliki seorang pemimpin seperti Musa di PL atau para Rasul dan generasi pemimpin pilihanNya lainnya di PB, yang dimampukan untuk mempersatukan serta mempertautkan seluruh Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia. Pemimpin yang mampu berdiri di atas semua golongan, denominasi, berbagai aliran yang ada serta suku-suku, etnis dan golongan. Tercatat kini lebih dari 900 denominasi, aliran dan kelembagaan Kristen yang ada di Indonesia. Belum yang tidak tercatat atau tidak sempat didata. Maka, sudah sangat dirasakan dibutuhkan pada masa sekarang munculnya pemimpin atau pemimpin-pemimpin seperti "Musa dan Harun di PL" dan "Para Rasul di PB" untuk membawa keluar (hijrah) Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia dari kehidupan kolektif yang terjajah, tertindas, miskin dan terpuruk dalam berbagai aspek kehidupan seperti sekarang. Yang menyiapkan Umat Pilihan Allah di Indonesia siap masuk ke "Tanah Perjanjian Kanaan".
(5) Sepanjang sejarah Injil, pelayanan dan kesaksian Umat Pilihan Allah di Nusantara atau Indonesia; sejak jaman kolonial Belanda, jaman pergerakan nasional, revolusi kemerdekaan, jaman Orla, Orba/Soeharto sampai era Reformasi sekarang, memang tercatat banyak pemimpin Kristen yang telah muncul. Sebut saja, dari era Joseph Kam di Maluku, Nommensen di Tanah Batak, lalu di aras pemerintahan dan gereja seperti Dr J Leimena, Letjen Simatupang, JI Kasimo, Pdt Justin Sihombing, Mgr Leo Sukoto, Pdt SAE Nababan, Pdt Eka Dharmaputera, Pdt Soelarso Sopater, Pdt. Petrus Octavianus, Pdt Stephen Tong, Pdt Jeremia Rim, Pdt Yakob Nahuway, Pdt Yewangoe, J Parapak, Dr Iman Santoso, Pdt Jusuf Rony, Pdt Niko Nyotorahardjo, Pdt Daniel Alexander, Pdt Ruyandi Hutasoit, Pdt Petrus Agung dst. sampai pemimpin atau menyebut diri sebagai pemimpin dalam generasi yang lebih muda. Namun, harus diakui bahwa nama-nama pemimpin seperti di atas umumnya masih terbatas atau dibatasi tembok organisasi, asosiasi persekutuan, aliran, denominasi, batas ranah gereja dan sekuler/pemerintah, dsb. Belum muncul hingga sekarang ini, pemimpin atau pemimpin-pemimpin Umat PilihanNya di Indonesia yang betul-betul diutus Allah sekaligus bisa diakui diterima keberadaannya sbg pemimpin oleh segenap warga, unsur, denominasi, aliran, suku2, golongan, etnis dan bahasa dari Umat Pilihan pengikut Kristus di seluruh persada Indonesia.
(6) Maka, munculnya pemimpin atau pemimpin2 baru dari segenap Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang diutus Allah dan diterima oleh segenap kalangan Umat PilihanNya di Indonesia, yang mampu berdiri di atas semua golongan denominasi dan aliran yang ada (Katolik, Ortodoks Timur, Lutheran, Calvinis, Injili, Baptis, Pentakosta, Bethel, Karismatik dan non-denominasional lainnya). Mampu melewati tembok-tembok organisasi atau perhimpunan macam KWI, PGI, PGLII, PGPI, GGBI, KGBI, Bala Keselamatan, GBI, dst. Pemimpin baru yang seperti inilah yang barangkali sangat dibutuhkan untuk menuntun dan memimpin Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia, dalam roh kesatuan dan kebersamaan, berhasil memasuki "Tanah Perjanjian Kanaan" dan "Ujung-ujung Bumi" sebagai gambaran Umat Pilihan yang berkemenangan berkemajuan dan berkesejahteraan bebas dari keterpurukan. Sebagai dampak positipnya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia juga berhasil menerangi dan menggarami seluruh persada Nusantara/indonesia , dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain pula di dunia.
(7) Pertanyaan berikutnya adalah kapan bilamanakah pemimpin baru seperti itu akan muncul di tengah Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia? Maka, semua memang harus didoakan dan digumulkan. Sebab, bila pemimpin yang benar-benar diutus Allah sekaligus bisa diterima oleh semua denominasi, golongan dan aliran dalam tubuh Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia saja belum ada (belum muncul), bagaimanakah Umat PilihanNya di Indonesia akan atau dapat tahu kemana arah tujuan mereka akan dibawa atau dipimpin berhijrah? Dimanakah "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" atau "Ujung-Ujung Bumi" itu?
Untuk relevansi Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, dimanakah sesungguhnya "letak" atau "posisi" Tanah Perjanjian Kanaan yang akan dituju? Di Sorgakah atau di Bumi sebagaimana dinyatakan dalam kesaksian Kisah Rasul: "Ujung-Ujung Bumi?
Jika sudah muncul Pemimpin dari Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang benar-benar diutus Allah dan legitimate dalam pemandangan Umat PilihanNya ini, tentu pertanyaan tentang "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" bagi Umat Pilihan di Indnesia bisa akan serta-merta dijawab oleh si Pemimpin Baru tersebut.
Selamat Paskah!
Teleia Resources Center (TRC)
22 Maret 2009.
Beberapa komentar atas tulisan ini:
medi Aob wrote:
saya ckp setuju tuh..
udah saatnya mmg brgkali tubuh kristus pengikut yesus as a whole
di bangsa or republik ini jaman gene en ke dpn
perlu banget didoain digumulkan munculnya
tokoh2 pemimpin tubuh kristus baru
yg sebisanya lbh acceptable secara rohani dan mgkn politis jg
bs lbh diterima oleh sgala kalangan umat agama kristen
(dari seluruh denom dr katolik, protestan, injili, pentakosta ampe karismatik)
en acceptable juga di domain negara
melebihi peran yg dulu2 mgkn udah dijalankan ama j leimena, tb simatupang,
pdt eka darmaputera, pdt petrus octavianus, dll di jaman mereka
faktanye kan, pemimpin2 (pdt maupun non-pdt, dr kalangan gereja ato
negara/non gereja) yg kt punya ampe skrg ini
brgkali blom seperti yg diharapkan oleh seluruh kalangan
tubuh kristus pengikut yesus dr slrh aliran, denom, dlsb di bangsa ini
as a whole..
Sangihe Willy wrote:
Maksudnya Bung, supaya bisa satu suara begitu Bung?
medi Aob wrote:
iya lah bung.
utk tantangan skrg slrh umat tubuh kristus pengikut yesus
nurut sy perlu skale ke luar satu suara lebeh solid
trtm dlm ngadepin pihak pemerintah or negara
ngadepin pihak2 dr luar ato dalem yg
ingin katakanlah "menyerang" kepentingan, ajaran yesus
yg ada skrg kan
misal pendeta ato tokoh bragama kristen A, B ato C
ketokohan ato kepemimpinannya msh dipertanyakan legitimasinya
di semua kalangan umat tubuh kristus pengikut kristus as a whole
kan kalo bicara lebeh condong utk kepentingan organisasinya
ato perhimpunan organisasi2nya belaka
(misal kepntingan utk PGI doank, kepentingan PLGII doang, GBI doank,
perhimpunan karismatik doank dst)
kalo begini kan gimana mao keluar satu suara mbulet
suara masih tersekat-sekat di batasi tembok kepentingan perhimpunan
organisasi2nya msg2
belum ada yg di ranah negara bisa keterima
di ranah seluruh gereja aliran dan ajaran kristiani pun diterima
coba aja cari, sdh ada or sdh muncul nggak?
Rama VD wrote:
Lho disebut saja deh tokoh-tokoh sekarang, Bung Medi
Kalau ketokohan seperti Pdt Alex Abraham, Pdt Ruyandi, Letjen HBL Mantiri apa belum atau tidak aspiratif Pak? Atau mungkin kepemimpinan seperti Pdt Dr I Wayan Mastra dari Bali pak, belum bisa jadi representasi kita semua? Pdt Gilbert Lumoindong, pendeta yang dari NTT itu.. Pdt Dr Yewangoe misalnya?
Salam,
Rama VD
medi Aob wrote:
belum lah brother rama
nama2 yg brohter sebut itu kalo nurut saya
belum 'menyuarakan' ato jd 'penyambung lidah' (pake istilah bk neh)
hati nurani (roh, rohani en kebutuhan politikal) dari seluruh kalangan
tubuh kristus universal di bangsa ini
masih berkutat pd kepentingan dhewek nya doank euy..
sorry neh
nurut saya belum lah brother...
pendapat balik TRC sendiri gimana neh...?
Trc Indonesia wrote:
Dari berbagai hasil penelusuran kami di dalam kalangan umat Kristus scr umum di banyak daerah, denominasi, etnis, suku dll, scr umum mengakui bahwa realitanya selama 10-20 tahun terakhir telah terjadi krisis kepemimpinan dalam dunia kristen sendiri di tengah bangsa ini. Ekspektasinya sebenarnya tidak muluk-muluk, bagaimana untuk era kini dan yad, baik untuk ranah spiritual-injil- agama-teologi- gereja maupun ranah pengabdian negara/politik- budaya-sosek- society-techno- creativity- lingkungan) , diharapkan boleh/bisa muncul "New Leadership for Christ's body and New Indonesia" yang takut akan Tuhan dari kalangan umat Kristus generasi pelanjut. Pemimpin-pemimpin umat Kristus yang boleh/bisa diterima (acceptabilitynya tinggi) oleh banyak kalangan yang lebih luas dibanding leaders di kalangan umat yang dulu-dulu, oleh banyak kalangan dari berbagai aliran denom sub denom etnis suku yg ada di negeri ini.
Pemimpin umat Kristus, baik scr individu maupun kolektif yg memiliki daya kohesif yg besar, tdk hanya mampu diterima di dalam kandang, tembok, kotak (box), komunitas atau streamnya sendiri.
Salam kami,
TRC.
Because He lives, we can together face tomorrow!!
Untuk menyambut hari raya Paskah, hari kebangkitan Kristus Yesus Tuhan tahun ini, sengaja saya memasukkan artikel tulisan dari team Teleia Resource Center (TRC)Indonesia, yang dimuat pada group milist "Aliteia" (forum Aliansi Kristen Indonesia Anak bangsa) beberapa hari yang lalu. Barangkali ini dapat dipakai sebagai renungan kita terkait wacana dan ekspektasi "New Leadership for Body of Christ and New Indonesia". Saya sertakan juga beberapa tanggapan ataupun komentar dari rekan-rekan di milist tersebut. Menurut saya, signifikansi untuk konteks sekarang dan hari ke depan dari ekpektasi akan kebutuhan gereja2 tubuh kristus dlm kesaksian di tengah2 pergumulan masyarakat, bangsa dan negara tercinta ini, sangatlah relevan. Sangat logis, expectable dan tidak ilusif dibuat-buat utk dipersiapkan, didoakan dan diperjuangkan bersama.
Semoga berguna! Tuhan memberkati kita!
Paskah 2008: Kepemimpinan Baru di Tengah Umat Pilihan Allah Pengikut Kristus di Indonesia.
Oleh: Teleia Resource Center (TRC) Indonesia.
Berbicara mengenai makna Paskah dalam kaitan dengan perkembangan dan kehidupan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, menjadi relevan untuk didoakan, dibicarakan dan digumulkan.
Sebagai dasar perenungan, kita perlu memahami makna peristiwa Paskah dalam Alkitab baik di PL maupun di PB.
Pertama, di PL kita tidak bisa lepas dari peristiwa keluarnya umat pilihan Allah bangsa Israel kuno di bawah kepemimpinan Musa dan Harun yang betul-betul eksis, keluar hijrah dari tanah perbudakan di Mesir di bawah penindasan Firaun. Lewat kepemimpinan Musa dan Harun itulah, umat pilihan dipimpin dituntun dari tanah Mesir selama 40 tahun di padang gurun dan kemudian lewat kepemimpinan Yosua umat Israel mereka akhirnya berhasil masuk Tanah Perjanjian Kanaan, yang penuh susu dan madu.
Kedua, di PB sbg peristiwa klimaks 2000 tahun yang lalu, Kristus sbg tokoh sentral sang Messias yang telah ditunggu-tunggu, telah menderita sengsara taat sampai mati di kayu salib Golgota kemudian bangkit pada hari yang ketiga demi mengalahkan kuasa maut, dosa dan Iblis; untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya dari hukuman dosa. Kristus telah bangkit dan menang! Lahirlah gereja pertama, yaitu Umat Pilihan Allah imamat rajani, yang kudus, memberitakan Injil Tuhan, yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Allah yang ajaib. Lalu, selanjutnya lewat kepemimpinan para Rasul dan generasi pemimpin selanjutnya, umat pilihan Allah tubuh Kristus tersebut dipimpin untuk terus bertumbuh serta berkembang menjadi garam dan terang dunia, mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung-ujung bumi termasuk lewat berbagai peran zending dan misionaris, Injil dikumandangkan sampai ke Indonesia dan membuahkan orang-orang percaya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia. Sejak jaman kolonial Belanda sampai jaman kini, yang telah berlangsung ratusan tahun, untuk sejumlah generasi.
Dari kedua momen Paskah di atas (PL dan PB) yang bisa dimaknai, sesungguhnya apa relevansinya bagi kehidupan dan perkembangan Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia masa sekarang dan ke depan?
(1) Berita injil telah masuk ke Indonesia/bumi Nusantara selama ratusan tahun hingga sekarang ini, baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, NTT, Papua dll. Lewat utusan zending atau misi dari Eropa, Amerika maupun dari negeri sendiri. Dari generasi ke generasi, telah eksis yang boleh dinamakan Umat Pilihan Allah pengikut Kristus, tubuh Kristus, yang ada di berbagai denominasi, aliran, kelembagaan formal dan non-formal dll melewati batas suku-suku, etnis, golongan, kepercayaan, dst.
(2) Tak dapat disangkal, bahwa sejalan dengan perkembangan pasang-surut gereja, pemerintahan dan rakyat di Nusantara/Indonesia , Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Kalau tidak ingin mengatakan, di dalam kesukacitaan mengikut Kristus telah secara riel mengalami bentuk2 penjajahan, penindasan, penyesahan, kemiskinan dan keterpurukan yang belum kunjung berhenti di berbagai aspek kehidupan (spiritual, pendidikan, kesehatan/gizi buruk, kebebasan beribadah, masalah sosial, ekonomi, budaya, bencana alam, dll).
(3) Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia meyakini bahwa Allah tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya. Kristus tetap hadir sebagai Tuhan dan Juruselamat. Seperti halnya umat Israel di Mesir di jaman PL, Allah pasti mendengar keluh kesah yang dialami Umat PilihanNya di Indonesia. Allah pasti memiliki rencanaNya yang maha baik dan agung untuk Umat PilihanNya di Indonesia, yakni membawanya ke "Tanah Perjanjian Kanaan" lewat berbagai masa pembentukan dan penempaan guna menuju tempat atau posisi kehidupan yang berkualitas, penuh kemenangan, maju dalam kesatuan (seperti doa Tuhan Yesus "supaya mereka menjadi satu"), berkelimpahan dan berkesejahteraan (shalom).
(4) Namun, yang menjadi permasalahan adalah untuk membawa Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia menuju "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan", Umat PilihanNya di Indonesia belum memiliki seorang pemimpin seperti Musa di PL atau para Rasul dan generasi pemimpin pilihanNya lainnya di PB, yang dimampukan untuk mempersatukan serta mempertautkan seluruh Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia. Pemimpin yang mampu berdiri di atas semua golongan, denominasi, berbagai aliran yang ada serta suku-suku, etnis dan golongan. Tercatat kini lebih dari 900 denominasi, aliran dan kelembagaan Kristen yang ada di Indonesia. Belum yang tidak tercatat atau tidak sempat didata. Maka, sudah sangat dirasakan dibutuhkan pada masa sekarang munculnya pemimpin atau pemimpin-pemimpin seperti "Musa dan Harun di PL" dan "Para Rasul di PB" untuk membawa keluar (hijrah) Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia dari kehidupan kolektif yang terjajah, tertindas, miskin dan terpuruk dalam berbagai aspek kehidupan seperti sekarang. Yang menyiapkan Umat Pilihan Allah di Indonesia siap masuk ke "Tanah Perjanjian Kanaan".
(5) Sepanjang sejarah Injil, pelayanan dan kesaksian Umat Pilihan Allah di Nusantara atau Indonesia; sejak jaman kolonial Belanda, jaman pergerakan nasional, revolusi kemerdekaan, jaman Orla, Orba/Soeharto sampai era Reformasi sekarang, memang tercatat banyak pemimpin Kristen yang telah muncul. Sebut saja, dari era Joseph Kam di Maluku, Nommensen di Tanah Batak, lalu di aras pemerintahan dan gereja seperti Dr J Leimena, Letjen Simatupang, JI Kasimo, Pdt Justin Sihombing, Mgr Leo Sukoto, Pdt SAE Nababan, Pdt Eka Dharmaputera, Pdt Soelarso Sopater, Pdt. Petrus Octavianus, Pdt Stephen Tong, Pdt Jeremia Rim, Pdt Yakob Nahuway, Pdt Yewangoe, J Parapak, Dr Iman Santoso, Pdt Jusuf Rony, Pdt Niko Nyotorahardjo, Pdt Daniel Alexander, Pdt Ruyandi Hutasoit, Pdt Petrus Agung dst. sampai pemimpin atau menyebut diri sebagai pemimpin dalam generasi yang lebih muda. Namun, harus diakui bahwa nama-nama pemimpin seperti di atas umumnya masih terbatas atau dibatasi tembok organisasi, asosiasi persekutuan, aliran, denominasi, batas ranah gereja dan sekuler/pemerintah, dsb. Belum muncul hingga sekarang ini, pemimpin atau pemimpin-pemimpin Umat PilihanNya di Indonesia yang betul-betul diutus Allah sekaligus bisa diakui diterima keberadaannya sbg pemimpin oleh segenap warga, unsur, denominasi, aliran, suku2, golongan, etnis dan bahasa dari Umat Pilihan pengikut Kristus di seluruh persada Indonesia.
(6) Maka, munculnya pemimpin atau pemimpin2 baru dari segenap Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang diutus Allah dan diterima oleh segenap kalangan Umat PilihanNya di Indonesia, yang mampu berdiri di atas semua golongan denominasi dan aliran yang ada (Katolik, Ortodoks Timur, Lutheran, Calvinis, Injili, Baptis, Pentakosta, Bethel, Karismatik dan non-denominasional lainnya). Mampu melewati tembok-tembok organisasi atau perhimpunan macam KWI, PGI, PGLII, PGPI, GGBI, KGBI, Bala Keselamatan, GBI, dst. Pemimpin baru yang seperti inilah yang barangkali sangat dibutuhkan untuk menuntun dan memimpin Umat Pilihan Allah pengikut Kristus di Indonesia, dalam roh kesatuan dan kebersamaan, berhasil memasuki "Tanah Perjanjian Kanaan" dan "Ujung-ujung Bumi" sebagai gambaran Umat Pilihan yang berkemenangan berkemajuan dan berkesejahteraan bebas dari keterpurukan. Sebagai dampak positipnya Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia juga berhasil menerangi dan menggarami seluruh persada Nusantara/indonesia , dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain pula di dunia.
(7) Pertanyaan berikutnya adalah kapan bilamanakah pemimpin baru seperti itu akan muncul di tengah Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia? Maka, semua memang harus didoakan dan digumulkan. Sebab, bila pemimpin yang benar-benar diutus Allah sekaligus bisa diterima oleh semua denominasi, golongan dan aliran dalam tubuh Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia saja belum ada (belum muncul), bagaimanakah Umat PilihanNya di Indonesia akan atau dapat tahu kemana arah tujuan mereka akan dibawa atau dipimpin berhijrah? Dimanakah "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" atau "Ujung-Ujung Bumi" itu?
Untuk relevansi Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia, dimanakah sesungguhnya "letak" atau "posisi" Tanah Perjanjian Kanaan yang akan dituju? Di Sorgakah atau di Bumi sebagaimana dinyatakan dalam kesaksian Kisah Rasul: "Ujung-Ujung Bumi?
Jika sudah muncul Pemimpin dari Umat Pilihan pengikut Kristus di Indonesia yang benar-benar diutus Allah dan legitimate dalam pemandangan Umat PilihanNya ini, tentu pertanyaan tentang "letak" atau "posisi" "Tanah Perjanjian Kanaan" bagi Umat Pilihan di Indnesia bisa akan serta-merta dijawab oleh si Pemimpin Baru tersebut.
Selamat Paskah!
Teleia Resources Center (TRC)
22 Maret 2009.
Beberapa komentar atas tulisan ini:
medi Aob
saya ckp setuju tuh..
udah saatnya mmg brgkali tubuh kristus pengikut yesus as a whole
di bangsa or republik ini jaman gene en ke dpn
perlu banget didoain digumulkan munculnya
tokoh2 pemimpin tubuh kristus baru
yg sebisanya lbh acceptable secara rohani dan mgkn politis jg
bs lbh diterima oleh sgala kalangan umat agama kristen
(dari seluruh denom dr katolik, protestan, injili, pentakosta ampe karismatik)
en acceptable juga di domain negara
melebihi peran yg dulu2 mgkn udah dijalankan ama j leimena, tb simatupang,
pdt eka darmaputera, pdt petrus octavianus, dll di jaman mereka
faktanye kan, pemimpin2 (pdt maupun non-pdt, dr kalangan gereja ato
negara/non gereja) yg kt punya ampe skrg ini
brgkali blom seperti yg diharapkan oleh seluruh kalangan
tubuh kristus pengikut yesus dr slrh aliran, denom, dlsb di bangsa ini
as a whole..
Sangihe Willy
Maksudnya Bung, supaya bisa satu suara begitu Bung?
medi Aob
iya lah bung.
utk tantangan skrg slrh umat tubuh kristus pengikut yesus
nurut sy perlu skale ke luar satu suara lebeh solid
trtm dlm ngadepin pihak pemerintah or negara
ngadepin pihak2 dr luar ato dalem yg
ingin katakanlah "menyerang" kepentingan, ajaran yesus
yg ada skrg kan
misal pendeta ato tokoh bragama kristen A, B ato C
ketokohan ato kepemimpinannya msh dipertanyakan legitimasinya
di semua kalangan umat tubuh kristus pengikut kristus as a whole
kan kalo bicara lebeh condong utk kepentingan organisasinya
ato perhimpunan organisasi2nya belaka
(misal kepntingan utk PGI doank, kepentingan PLGII doang, GBI doank,
perhimpunan karismatik doank dst)
kalo begini kan gimana mao keluar satu suara mbulet
suara masih tersekat-sekat di batasi tembok kepentingan perhimpunan
organisasi2nya msg2
belum ada yg di ranah negara bisa keterima
di ranah seluruh gereja aliran dan ajaran kristiani pun diterima
coba aja cari, sdh ada or sdh muncul nggak?
Rama VD
Lho disebut saja deh tokoh-tokoh sekarang, Bung Medi
Kalau ketokohan seperti Pdt Alex Abraham, Pdt Ruyandi, Letjen HBL Mantiri apa belum atau tidak aspiratif Pak? Atau mungkin kepemimpinan seperti Pdt Dr I Wayan Mastra dari Bali pak, belum bisa jadi representasi kita semua? Pdt Gilbert Lumoindong, pendeta yang dari NTT itu.. Pdt Dr Yewangoe misalnya?
Salam,
Rama VD
medi Aob
belum lah brother rama
nama2 yg brohter sebut itu kalo nurut saya
belum 'menyuarakan' ato jd 'penyambung lidah' (pake istilah bk neh)
hati nurani (roh, rohani en kebutuhan politikal) dari seluruh kalangan
tubuh kristus universal di bangsa ini
masih berkutat pd kepentingan dhewek nya doank euy..
sorry neh
nurut saya belum lah brother...
pendapat balik TRC sendiri gimana neh...?
Trc Indonesia
Dari berbagai hasil penelusuran kami di dalam kalangan umat Kristus scr umum di banyak daerah, denominasi, etnis, suku dll, scr umum mengakui bahwa realitanya selama 10-20 tahun terakhir telah terjadi krisis kepemimpinan dalam dunia kristen sendiri di tengah bangsa ini. Ekspektasinya sebenarnya tidak muluk-muluk, bagaimana untuk era kini dan yad, baik untuk ranah spiritual-injil- agama-teologi- gereja maupun ranah pengabdian negara/politik- budaya-sosek- society-techno- creativity- lingkungan) , diharapkan boleh/bisa muncul "New Leadership for Christ's body and New Indonesia" yang takut akan Tuhan dari kalangan umat Kristus generasi pelanjut. Pemimpin-pemimpin umat Kristus yang boleh/bisa diterima (acceptabilitynya tinggi) oleh banyak kalangan yang lebih luas dibanding leaders di kalangan umat yang dulu-dulu, oleh banyak kalangan dari berbagai aliran denom sub denom etnis suku yg ada di negeri ini.
Pemimpin umat Kristus, baik scr individu maupun kolektif yg memiliki daya kohesif yg besar, tdk hanya mampu diterima di dalam kandang, tembok, kotak (box), komunitas atau streamnya sendiri.
Salam kami,
TRC.
Thursday, March 6, 2008
Sharing Umum Saya/Kami tentang Papua Sekarang.
Ini sharing umum saya/kami tentang Papua sekarang.
Base camp misi pelayanan saya/kami - El Trinitas Ministry Indonesia/Lembaga Pintu Gerbang Timur Indonesia (Eastern Gate, Indonesia) sejak 2005 ada di Papua. Saya kerap beberapa kali ada dan tinggal di Papua dalam rangka misi pelayanan.
Kadang tinggal di beberapa daerah Papua sampai 4 minggu-1 bulan, tiap kali kunjungan.
Dalam interaksi kami, kami berusaha "mendengar" suara (mudah2an suara hati ya) ckp banyak elemen2 pihak-pihak yang ada di Papua sekarang.
Tujuan misi pelayanan kami adalah untuk pemberdayaan gereja, lembaga, komunitas dan masyarakat Papua ("Go East Mission") -- sesungguhnya juga untuk pemberdayaan "kantong-kantong Kekristenan" lainnya spt di Maluku, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa & Bali yang kami yakini merupakan fakta yang sudah harus dijalankan.
Papua dalam pandangan kami adalah pintu gerbang timur Indonesia sebagai pijakan penting bagi pemulihan/bangkitnya negeri ini. Pertama, bagi Papua sendiri. Kedua, bagi Indonesia tercinta.
Situasi umum (menurut pandangan kami) ttg Gereja-Gereja di Papua sendiri.
Ada gereja khususnya yg non-katolik yang masih betul2 independen thd intervensi Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Tapi tak sedikit juga gereja-gereja yang katakanlah sudah "terkooptasi" dgn kepentingan Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Terkait dgn dana tentunya. Dana Otsus Papua. Karena yg menjadi majelis pimpinan gereja2 dan "penyokong" dana gereja adalah mayoritas para birokrat Pemda, kaum profesi perusahaan/pengusaha papua. Sehingga suara gereja2 demikian ini cendrung sama suaranya dgn yang disuarakan dgn Pemerintah/Pemda dan kaum profesi perusahaan/pengusaha tmsk TNC/MNC (korporasi global) di papua. Gereja keuskupan katolik spt misalnya di Agatz, Sorong, Merauke, relatif masih lebih indenpenden di banding gereja2 yang non-katolik. Ada relatif sedikit pendeta yang tidak/belum terjun praktis dalam parpol. Tapi kian hari lebih banyak jumlah pendeta kristen dari gereja-gereja di papua yang terjun praktis aktif di parpol. Paling banyak tersebar turut politik praktis di PDI-P, Golkar, Demokrat, PDS, dst.
Situasi umum Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 di PapuaDi Jayapura, Merauke, Sorong dll secara umum relatif semakin tidak banyak menurut kami yang masih yakin terhadap peran gereja di papua untuk mampu lebih signifikan dan independen menyuarakan suara Gereja, yang niscaya berbeda dgn apa yang disuarakan oleh Pemerintah/Pemda papua dan kaum profesi/perusahaan. Secara heuristik, cukup banyak dari mereka yang memilih berpandangan Sekularis, bahkan menurut kami ckp banyak juga yang mengaku kembali kepada kepercayaan tradisional mereka - kepercayaan orang Papua kpd leluhur mereka. Sebagian lagi membangun persekutuan2 (doa) kristen sendiri di luar/di samping Gereja.
Situasi umum Pemda2 Birokrasi di Papua
Relatif sangat sibuk juga dgn pengelolaan dana otsus yg diberikan Pemerintah Pusat. Sesuai amanat SBY, penyaluran dana otsus selain disalurkan melalui birokrasi pemerintah/Pemda2, disalurkan juga melalui lembaga-lembaga keagamaan. Melalui mayoritas gereja-gereja non-katolik di wilayah Papua bgn utara, dan mayoritas lewat gereja-gereja katolik di wilayah Papua bgn selatan. Ckp besar juga dana disalurkan kpd lembaga2 islam seperti yg dilakukan di Merauke, Sorong, dll.
Situasi umum perusahaan2 TMC/MNC di Papua
Umumnya kegiatan penambangan dan ekspoitasi kayu hutan (contoh: kayu gaharu papua)terus dilakukan, spt Tangguh Project/Bintuni, Freeport/Timika, Korindo kayu Korea di Merauke, dll meskipun berbagai kritikan terus bermunculan dari pelaku2 LSM/NGO lokal, nasional yg didukung oleh LSM/NGO internasional terutama yg bergerak di bidang pemberdayaan sosial, filantropis dan pelestarian lingkungan. Program2 community development coba diterapkan oleh perusahaan TMC/MNC Papua itu. Ada yg antara lain menerapkan konsep "Enterprises Resource Development Center" (EDRC) oleh perusahaan British Petroleum di Bintuni, namun konsep itu nampaknya tidak semudah yang dipikirkan atau direncanakan. Beberapa aktivis LSM sosial-ekonomi dan social workers yang cendrung mau kooperatif - LSM/NGO pro kebijakan TMC/MNC (bukan LSM/NGO independen yg boleh disebut masih memiliki idealisme sbg LSM) coba untuk terus direkrut oleh perusahaan TMC/MNC ini. Namun, apa yang telah diretas dgn konsep sejenis EDRC ini masih saja relatif belum dapat memenuhi ekspektasi ckp banyak elemen-elemen masyarakat lokal di Papua, antara lain LSM/NGO yg tidak pro kebijakan TMC/MNC dan relatif mayoritas Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 dan masyarakat lokal indigenous di Papua.
Situasi umum Masyarakat asli Papua sendiri.
Sebagian sudah bersekolah bahkan sampai PT (spt di Uncen, Univ/sekolah2 tinggi di Merauke, Manokwari, dll), namun masih relatif sangat banyak yang belum mau bersekolah. Yang hidup dengan "meramu" (hidup primitive hanya tergantung langsung dari hutan, sungai dan pantai) masih sangat banyak bersebaran. Anak-anak asli papua untuk di asrama kan, dibiasakan dgn pola hidup asrama, pun sangat sulit. Jumlah asrama pun masih minim. Lebih suka hidup "melanglang" di hutan, di pantai laut, di pinggiran sungai, dll. Ini dijumpai banyak sekali di Merauke, Boven Digul, Mappi, Pantai Kasuari, Peg Bintang, Kaymana, Nabire, dst. Kehidupan yang tidak mau sekolah, kesehatan sangat minim spt ini, menjadikan anak2 Papua juga masih sangat terikat dgn kebiasaan "ngelem", minum/mabok, makan pinang dan membuangnya sembarangan, tawuran massal/perkelahian massal, perang antar suku, hidup seks bebas ala tradisional (menyebar HIV Aids), kebiasaan mencuri juga, malas dan hanya mau minta2 sama orang, dll. Hidup dgn alat musik tifa di rumah2 adat mereka, merupakan pemandangan biasa. Sebagai contoh saja, untuk kalangan gereja katolik semisal di Asmat/Agatz belum ada satu orang pun anak asli papua yang mampu ditahbiskan jadi pastor orang asli sampai tahun 2008 ini di era abad 21 ini. Koteka masih ckp banyak ditemui di Pantai Kasuari, Wamena, Peg Bintang, Atsy, dll, yang akrab dgn kehidupan sungai2 panjang melintasi papua dan sarat dgn buaya.
Sangat banyak jumlah sub-etnis di Papua. Tahun 2008 tercatat ada sekitar 251 sub etnis/suku-suku yang berbeda bahasa, dialek dan jenis2 tari2annya di seluruh Papua. Yang menyatukan bahasa mereka, apalagi kalau bukan bahasa melayu indonesia khas papua. Seperti kata-kata: "mo pi mana", "so pi apa", dll. Secara adat dan budaya lokal, sebagian kepentingan mereka relatif terwakili lewat wadah Majelis Rakyat Papua (MRP).
Situasi umum Masyarakat Pendatang.
Paling banyak berasal dari Makassar, Jawa, Bugis, Buton, Toraja, Tual Maluku, Sulut dan akhir2 ini dari sebagian lagi Tionghoa/Cina, Bali dan Batak. Paling banyak sebagai pengusaha dari skala kecil dan sedang, birokrasi Pemda, profesional staff karyawan, polisi/tentara, aktivis LSM dan guru/pendidik. Bule2 dari Eropa dan Amerika yang datang ke papua umumnya untuk tujuan bisnis TNC/MMC, aktivis LSM dan kepentingan gereja.
Situasi umum Lingkungan.
Hutan yang menghiasi Papua, sungai pantai dan air, dari Sorong Manokwari sampai Kaymana. Dari Mimika Timika sampai Agatz. Mappi Merauke sampai Boven Digul. Jayapura sampai Keerom. Wamena sampai Peg Bintang. Nabire sampai Biak. masih boleh dikatakan lebih relatif hijau dgn seluruh garis pantai kebiru-biruan. Meski kayu gaharu semakin sulit untuk diperoleh sekarang. Hutan sedikit demi sedikit mulai tertebas. Tapi memang bila dibandingkan hutan sumatera, kalimantan dan sulawesi, papua memang belum "serusak" tiga pulau utama lainnya ini. Papua kini menjadi satu2nya pulau besar yg boleh dibilang di negeri ini yg menjadi last-ressort, benteng lingkungan terakhir, yang relatif belum terusakkan. Apakah pulau besar ini juga akan menjadi rusak lingkungan alamnya? Generasi ini yang bisa menjawabnya!
Situasi umum lainnya terkait pihak kepolisian dan TNI , yang menjaga teritorial dan keamanan dan ketertiban, tidak jauh berbeda dgn kondisi polisi dan TNI di wilayah-wilayah "luar" dan "terluar" dari Pusat Jakarta. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Mereka juga nampaknya berupaya bagaimana bisa survived. Upaya2 untuk mengcreate dan mengelola konflik baik melalui isu GPM, persoalan lintas batas semacam di wilayah Keerom dan sebelah timur Merauke (dgn Papua Nuigini) dan daerah2 konflik pedalaman lainnya, fenomena ini selalu ada. Tidak saja untuk kepentingan Pusat, kepentingan TMC/MNC, tapi terlebih juga untuk kepentingan (ekonomi) sendiri/korps sendiri.
Nah.., dari sekian informasi situasi umum yang telah saya/kami sharingkan di atas (minimal dari cara pandang kami), saya atau kami ingin sampaikan: Jika kemudian ada perbedaan pendapat, pandangan atau apa saja tentang Papua dan apa yang terjadi di Papua, -- bahkan bertolak belakang sekalipun ---, maka latar belakang situasi umum di atas ini barangkali dapat membantu sedikit dalam mengungkapkan mengapa sampai terjadi kesenjangan2 dari perbedaan tersebut.
Bisa ditelusuri apakah itu karena merosotnya faktor iman, peran signifikansi gereja yg semakin melemah, faktor pilihan kebijakan pimpinan birokrasi Pemda birokrasi pengusaha dan generasi muda, perbedaan latar belakang keilmuan, kecendrungan arah faham kapitalis atau sosialis, faktor egoisme atau kepentingan uang, faktor pelestarian lingkungan atau kesenjangan antara orang asli indegenous dan kaum pendatang.
Base camp misi pelayanan saya/kami - El Trinitas Ministry Indonesia/Lembaga Pintu Gerbang Timur Indonesia (Eastern Gate, Indonesia) sejak 2005 ada di Papua. Saya kerap beberapa kali ada dan tinggal di Papua dalam rangka misi pelayanan.
Kadang tinggal di beberapa daerah Papua sampai 4 minggu-1 bulan, tiap kali kunjungan.
Dalam interaksi kami, kami berusaha "mendengar" suara (mudah2an suara hati ya) ckp banyak elemen2 pihak-pihak yang ada di Papua sekarang.
Tujuan misi pelayanan kami adalah untuk pemberdayaan gereja, lembaga, komunitas dan masyarakat Papua ("Go East Mission") -- sesungguhnya juga untuk pemberdayaan "kantong-kantong Kekristenan" lainnya spt di Maluku, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa & Bali yang kami yakini merupakan fakta yang sudah harus dijalankan.
Papua dalam pandangan kami adalah pintu gerbang timur Indonesia sebagai pijakan penting bagi pemulihan/bangkitnya negeri ini. Pertama, bagi Papua sendiri. Kedua, bagi Indonesia tercinta.
Situasi umum (menurut pandangan kami) ttg Gereja-Gereja di Papua sendiri.
Ada gereja khususnya yg non-katolik yang masih betul2 independen thd intervensi Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Tapi tak sedikit juga gereja-gereja yang katakanlah sudah "terkooptasi" dgn kepentingan Pemerintah/Pemda dan pengusaha papua. Terkait dgn dana tentunya. Dana Otsus Papua. Karena yg menjadi majelis pimpinan gereja2 dan "penyokong" dana gereja adalah mayoritas para birokrat Pemda, kaum profesi perusahaan/pengusaha papua. Sehingga suara gereja2 demikian ini cendrung sama suaranya dgn yang disuarakan dgn Pemerintah/Pemda dan kaum profesi perusahaan/pengusaha tmsk TNC/MNC (korporasi global) di papua. Gereja keuskupan katolik spt misalnya di Agatz, Sorong, Merauke, relatif masih lebih indenpenden di banding gereja2 yang non-katolik. Ada relatif sedikit pendeta yang tidak/belum terjun praktis dalam parpol. Tapi kian hari lebih banyak jumlah pendeta kristen dari gereja-gereja di papua yang terjun praktis aktif di parpol. Paling banyak tersebar turut politik praktis di PDI-P, Golkar, Demokrat, PDS, dst.
Situasi umum Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 di PapuaDi Jayapura, Merauke, Sorong dll secara umum relatif semakin tidak banyak menurut kami yang masih yakin terhadap peran gereja di papua untuk mampu lebih signifikan dan independen menyuarakan suara Gereja, yang niscaya berbeda dgn apa yang disuarakan oleh Pemerintah/Pemda papua dan kaum profesi/perusahaan. Secara heuristik, cukup banyak dari mereka yang memilih berpandangan Sekularis, bahkan menurut kami ckp banyak juga yang mengaku kembali kepada kepercayaan tradisional mereka - kepercayaan orang Papua kpd leluhur mereka. Sebagian lagi membangun persekutuan2 (doa) kristen sendiri di luar/di samping Gereja.
Situasi umum Pemda2 Birokrasi di Papua
Relatif sangat sibuk juga dgn pengelolaan dana otsus yg diberikan Pemerintah Pusat. Sesuai amanat SBY, penyaluran dana otsus selain disalurkan melalui birokrasi pemerintah/Pemda2, disalurkan juga melalui lembaga-lembaga keagamaan. Melalui mayoritas gereja-gereja non-katolik di wilayah Papua bgn utara, dan mayoritas lewat gereja-gereja katolik di wilayah Papua bgn selatan. Ckp besar juga dana disalurkan kpd lembaga2 islam seperti yg dilakukan di Merauke, Sorong, dll.
Situasi umum perusahaan2 TMC/MNC di Papua
Umumnya kegiatan penambangan dan ekspoitasi kayu hutan (contoh: kayu gaharu papua)terus dilakukan, spt Tangguh Project/Bintuni, Freeport/Timika, Korindo kayu Korea di Merauke, dll meskipun berbagai kritikan terus bermunculan dari pelaku2 LSM/NGO lokal, nasional yg didukung oleh LSM/NGO internasional terutama yg bergerak di bidang pemberdayaan sosial, filantropis dan pelestarian lingkungan. Program2 community development coba diterapkan oleh perusahaan TMC/MNC Papua itu. Ada yg antara lain menerapkan konsep "Enterprises Resource Development Center" (EDRC) oleh perusahaan British Petroleum di Bintuni, namun konsep itu nampaknya tidak semudah yang dipikirkan atau direncanakan. Beberapa aktivis LSM sosial-ekonomi dan social workers yang cendrung mau kooperatif - LSM/NGO pro kebijakan TMC/MNC (bukan LSM/NGO independen yg boleh disebut masih memiliki idealisme sbg LSM) coba untuk terus direkrut oleh perusahaan TMC/MNC ini. Namun, apa yang telah diretas dgn konsep sejenis EDRC ini masih saja relatif belum dapat memenuhi ekspektasi ckp banyak elemen-elemen masyarakat lokal di Papua, antara lain LSM/NGO yg tidak pro kebijakan TMC/MNC dan relatif mayoritas Mahasiswa, Genmud, Akademisi, Kampus2 dan masyarakat lokal indigenous di Papua.
Situasi umum Masyarakat asli Papua sendiri.
Sebagian sudah bersekolah bahkan sampai PT (spt di Uncen, Univ/sekolah2 tinggi di Merauke, Manokwari, dll), namun masih relatif sangat banyak yang belum mau bersekolah. Yang hidup dengan "meramu" (hidup primitive hanya tergantung langsung dari hutan, sungai dan pantai) masih sangat banyak bersebaran. Anak-anak asli papua untuk di asrama kan, dibiasakan dgn pola hidup asrama, pun sangat sulit. Jumlah asrama pun masih minim. Lebih suka hidup "melanglang" di hutan, di pantai laut, di pinggiran sungai, dll. Ini dijumpai banyak sekali di Merauke, Boven Digul, Mappi, Pantai Kasuari, Peg Bintang, Kaymana, Nabire, dst. Kehidupan yang tidak mau sekolah, kesehatan sangat minim spt ini, menjadikan anak2 Papua juga masih sangat terikat dgn kebiasaan "ngelem", minum/mabok, makan pinang dan membuangnya sembarangan, tawuran massal/perkelahian massal, perang antar suku, hidup seks bebas ala tradisional (menyebar HIV Aids), kebiasaan mencuri juga, malas dan hanya mau minta2 sama orang, dll. Hidup dgn alat musik tifa di rumah2 adat mereka, merupakan pemandangan biasa. Sebagai contoh saja, untuk kalangan gereja katolik semisal di Asmat/Agatz belum ada satu orang pun anak asli papua yang mampu ditahbiskan jadi pastor orang asli sampai tahun 2008 ini di era abad 21 ini. Koteka masih ckp banyak ditemui di Pantai Kasuari, Wamena, Peg Bintang, Atsy, dll, yang akrab dgn kehidupan sungai2 panjang melintasi papua dan sarat dgn buaya.
Sangat banyak jumlah sub-etnis di Papua. Tahun 2008 tercatat ada sekitar 251 sub etnis/suku-suku yang berbeda bahasa, dialek dan jenis2 tari2annya di seluruh Papua. Yang menyatukan bahasa mereka, apalagi kalau bukan bahasa melayu indonesia khas papua. Seperti kata-kata: "mo pi mana", "so pi apa", dll. Secara adat dan budaya lokal, sebagian kepentingan mereka relatif terwakili lewat wadah Majelis Rakyat Papua (MRP).
Situasi umum Masyarakat Pendatang.
Paling banyak berasal dari Makassar, Jawa, Bugis, Buton, Toraja, Tual Maluku, Sulut dan akhir2 ini dari sebagian lagi Tionghoa/Cina, Bali dan Batak. Paling banyak sebagai pengusaha dari skala kecil dan sedang, birokrasi Pemda, profesional staff karyawan, polisi/tentara, aktivis LSM dan guru/pendidik. Bule2 dari Eropa dan Amerika yang datang ke papua umumnya untuk tujuan bisnis TNC/MMC, aktivis LSM dan kepentingan gereja.
Situasi umum Lingkungan.
Hutan yang menghiasi Papua, sungai pantai dan air, dari Sorong Manokwari sampai Kaymana. Dari Mimika Timika sampai Agatz. Mappi Merauke sampai Boven Digul. Jayapura sampai Keerom. Wamena sampai Peg Bintang. Nabire sampai Biak. masih boleh dikatakan lebih relatif hijau dgn seluruh garis pantai kebiru-biruan. Meski kayu gaharu semakin sulit untuk diperoleh sekarang. Hutan sedikit demi sedikit mulai tertebas. Tapi memang bila dibandingkan hutan sumatera, kalimantan dan sulawesi, papua memang belum "serusak" tiga pulau utama lainnya ini. Papua kini menjadi satu2nya pulau besar yg boleh dibilang di negeri ini yg menjadi last-ressort, benteng lingkungan terakhir, yang relatif belum terusakkan. Apakah pulau besar ini juga akan menjadi rusak lingkungan alamnya? Generasi ini yang bisa menjawabnya!
Situasi umum lainnya terkait pihak kepolisian dan TNI , yang menjaga teritorial dan keamanan dan ketertiban, tidak jauh berbeda dgn kondisi polisi dan TNI di wilayah-wilayah "luar" dan "terluar" dari Pusat Jakarta. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Mereka juga nampaknya berupaya bagaimana bisa survived. Upaya2 untuk mengcreate dan mengelola konflik baik melalui isu GPM, persoalan lintas batas semacam di wilayah Keerom dan sebelah timur Merauke (dgn Papua Nuigini) dan daerah2 konflik pedalaman lainnya, fenomena ini selalu ada. Tidak saja untuk kepentingan Pusat, kepentingan TMC/MNC, tapi terlebih juga untuk kepentingan (ekonomi) sendiri/korps sendiri.
Nah.., dari sekian informasi situasi umum yang telah saya/kami sharingkan di atas (minimal dari cara pandang kami), saya atau kami ingin sampaikan: Jika kemudian ada perbedaan pendapat, pandangan atau apa saja tentang Papua dan apa yang terjadi di Papua, -- bahkan bertolak belakang sekalipun ---, maka latar belakang situasi umum di atas ini barangkali dapat membantu sedikit dalam mengungkapkan mengapa sampai terjadi kesenjangan2 dari perbedaan tersebut.
Bisa ditelusuri apakah itu karena merosotnya faktor iman, peran signifikansi gereja yg semakin melemah, faktor pilihan kebijakan pimpinan birokrasi Pemda birokrasi pengusaha dan generasi muda, perbedaan latar belakang keilmuan, kecendrungan arah faham kapitalis atau sosialis, faktor egoisme atau kepentingan uang, faktor pelestarian lingkungan atau kesenjangan antara orang asli indegenous dan kaum pendatang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Foto udara Pulau Alor NTT
Photo, 2007